Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

DIPLOMA III

BAB I
PENDAHULUAN
A. latar belakang
Sistem emulsi banyak digunakan dalam farmasi. Dapat dibedakan
antara cairan, yang ditetapkan untuk pemakaian dalam (emulsi minyak ikan,
emulsi parafin) dan emulsi untuk pemakaian luar yang terakhir ini dinyatakan
sebagai linimental (latin linire = menggosok). Liniment adalah emulsi kental
(menurut aturanya berjenis M/A). Juga sediaan obat seperti salep dan
suppositoria dapat merupakan emulsi dalam pengertian fisika
Yang menarik dari daya tahan penyimpanan dan teknik pembuatannya
adalah emulsi kering dari jenis susu kering. Emulsi sero semacan itu dibuat
melalui pengering semprotan. Keunggulannya sebagai bentuk yang dapat
bertahan lama atau bentuk yang mudah dan ringan dibawa berpergian serta
dapat digunakan baik untuk preparat obat kutan atau per oral, menjadikannya
cukup penting. Susu kulit yang sangat penting artinya dalam dermatologi,
khususnya dalam kosmetika, merupakan emulsi M/A dengan sifat jenis susu.
Emulsi tersebut dapat menjadi pembawa bagai bahan obat larut air atau larut
minyak (asam salisilat, resorsinol, belerang, kamfer)
Oleh karena dari dua cairan yang dapat bercampur satu sama lain, yang
satu terdistribusi kedalam yang lain dipertahankan tetap melayang, maka garis
tengah tetesan cairan yang terdistribusi sangat penting artinya untuk
mengkarakterisasikan sebuah emulsi. Pada umumnya pada emulsi farmasi
ukuran partikael terdistribusinya terletak diantara 1 dan 20 m . Akibat dari
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

DIPLOMA III

pembiasan cahaya komponen emulsi yang berlainan maka preparat yang sejis
susu ini menunjukkan sifat tidak tembus cahaya. Hanya dalam kasus khusus,
jika kedua cairan menunjukkan indeks bias yang sama maka sinar pada saat
melintas melalui emulsi dibiaskan sama kuat, sehingga tampak sinar mampu
menembusnya atau transparan.
Emulsi mikro juga transparan, yang belakangan ini cukup memberi arti
dalam farmasetika. Dalam preparat ini, ukuran tetesan terdistribusi berada
dalam daerah koloid (10-50 hm).

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

DIPLOMA III

B. Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami hal-hal yang berperan dalam pembuatan
dan kestabilan dari suatu emulsi.
C. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah
1. Mengetahui jumlah emulgator golongan sufraktan yang digunakan
dalam pembuatan emulsi.
2.

Membuat emulsi menggunakan emulgator golongan sufraktan.

3.

Mengevaluasi ketidakstabilan suatu emulsi.

4.

Menentukan HLB butuh minyak yang digunakan dalam pembuatan


emulsi.

D. Prinsip Percobaan
Pembuatan emulsi dengan menggunakan emulgator dengan variasi
HLB butuh dan penentuan kestabilan suatu emulsi dengan nilai HLB butuh
yang bervariasi yang didasarkan pada penampilan fisik dari emulsi tersebut,
misalnya perubahan volume, perubahan warna, dan pemisahan fase terdispersi
dan pendispersi dalam jangka waktu tertentu pada kondisi yang dipaksakan.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

DIPLOMA III

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
Sistem disperse adalah suatu sistem dimana suatu substansi (fase
dispersi) terbagi dalam unit yang berlainan (tersendiri) terdispersi dalam
substansi lain (fase kontinyu atau pembawa) (Anief, 2007).
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau
bahan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat
pengemulsi atau surfaktan yang cocok (Anief, 1987).
Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, Emulsi adalah system dua
fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan lain dalam bentuk
tetesan kecil (Syamsuni, 2006).
Emulsi adalah sistem dispersi kasar yang secara termodinamika
tidak stabil, terdiri dari minimal dua atau lebih cairan yang tidak
bercampur satu sama lain, dimana cairan yang satu terdispersi didalam
cairan yang lain dan untuk memantapkannya diperlukan penambahan
emulgator. Identitas emulsi berasal dari bahasa latin (emulgere =
memerah, yang mengacu kepada susu sebagai jenis emulsi alam) (Voight,
1971).
Suatu emulsi adalah suatu sistem yang tidak stabil secara
termodinamika yang mengandung paling sedikit dua fase cair yang tidak

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

DIPLOMA III

bercampur, dimana satu diantaranya didispersikan sebagai bola-bola


dalam dalam fase cair lain, System dibuat stabil dengan adanya suatu zat
pengemulsi. Bebagai tipe zat pengemulsi akan dibicarakan kemudian
dalam bagian ini, baik fase terdispersi atau fase kontinu bisa berkisar
dalam konsistensi dari suatu cairan mobil sampai suatu massa setengah
padat (semisolid). Jadi sistem emulsi berkisar dari cairan yang mempunyai
viskositas relatif rendah sampai salep atau krim, yang merpakan semisolid.
Diameter partikel dari fase terdispersi umumnya berkisar dari 0,110 m,
walaupun partikel sekecil 0,01 m dan sebesar 100 m bukan tidak biasa
dalam beberapa sediaan (Martin, 2008).
Emulsi terdiri dari dua fase yang tidak dapat bercampur satu sama
lainnya, dimana yang satu menunjukkan karakter hidrofil, yang lain
lipofil. Fase hirofil (lipofob) umunya adalah air atau suatu cairan yang
dapat bercampur dengan air, sedangkan sebagai fase lipofil (hidrofob)
adalah minyak mineral atau minyak tumbuhan atau lemak (minyak lemak,
parafin, vaselin, lemak coklat, malam bulu domba) atau juga bahan pelarut
lipofil seperti kloroform, benzene dan sebagainya. Ada dua kemungkinan
yang dapat terjadi, apakah fase hidrofil yang terdispersi kedalam fase
hidrofob, ataukah fase hidrofob kedalam fase hidrofil. Dengan demikian
dapat dihasilkan dua sistem emulsi yang berbeda, yang dinyatakan sebagai
emulsi air dalam minyak (emulsi A/M) atau emulsi minyak dalam air
(M/A). pada dasarnya dalam memberi identitas jenis ini A digunakan
untuk fase hidrofil dan M untuk fase lipofil. Oleh karena fase lipofil tidak

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

DIPLOMA III

selalu harus M= minyak, tetapi juga bisa beridentitas L = lipida, maka


biasa juga dugunakan emulsi L/A (Voight, 1971).
Istilah HLB (HydrophillypophilBalance) diciptakan GRIFFIN
untuk tensid bukan ionik. Griffin menyusun setiap tensid kedalam harga
bilangan tanpa dimensi, yang dihitung dari perbandingan stokiosmetris
bagian lipofil dan bagian hidrofil dan tensid. Dengan demikian harga HLB
memberi informasi tentang keseimbangan hidrofillipofil, yang dihasilkan
dari ukuran atau kekuatan gugus lipofil- hidrofil. Suatu zat lipofil disusun
dalam harga HLB yang lebih rendah, zat hidrofil dalam harga yang lebih
tinggi. Dari situ diketahui bahwa perbandingan bagian lipofil terhadap
bagian hydrophil menjadi lebih menguntungkan dengan memasukkan
gugus hydrophil kedalam tensid bukan ionik sehingga dihasilkan tensid
dengan HLB yang lebih tinggi. Dengan cara ini emulgator A/M dengan
harga HLB tertentu (Voight, 1971).
Penerapan dibidang farmasi, suatu emulsi O/W merupakan suatu
cara pemberian oral yang baik untuk cairancairan yang tidak larut dalam
air, terutama jika fase terdispersi mempunyai fase yang tidak enak. Yang
lebih bermakna dalam farmasi masa kini adalah pengamatan tentang
beberapa senyawa yang larut dalam lemak, seperti vitamin, diabsorbsi
lebih sempura jika diemulsikan daripada jika diberikan per oral dalam
sutau larutan berminyak. Penggunaan emulsi intravena telah diteliti
sebagai suatu cara untuk merawat pasien lemah yang tidak menerima
obatobat yang diberikan secara oral. Emulsi radiopeque telah ditemukan

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

DIPLOMA III

untuk penggunaan sebagai zat diasnogtik dalam pengujian sianar X.


Emulsifikasi secara luas digunakan dalam produk farmasi dan kosmetik
untuk pemakaian luar. Terutama untuk lotion dermatologik dan lotion
kosmetik serta krim karena dikehendakinya suatu produk yang menyebar
dengan mudah dan sempurna pada areal dimana ia digunakan. Sekarang
produk semacam ini dapat diformulasi menjadi dapat tercuci air dan tidak
berkarat. Produk seperti itu jelas lebih dapat diterima bagi pasien dan
dokter dari pada produk berlemak yang digunakan satu atau beberapa abad
yang lalu. Emulsifikasi digunakan dalam produk aerosol untuk
menghasilkan busa. Propelan yang membentuk fase cair terdispersi dalam
wadah menguap bila emulsi tersebut dikeluarkan dari wadahnya. Ini
menghasilkan pembentukann busa (Martin, 2008).
Emulsi dikatakan tidak stabil jika mengalami halhal seperti
dibawah ini:
1. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan yaitu satu
bagian mengandung fase dispersi lebih banyak dari pada lapisan yang
lain. Creaming bersifat reversible, artinya jika dikocok berlahanlahan
akan terdispersi kembali.
2. Koalesensi dan cracking (breaking) adalah pecahnya emulsi karena film
yamg meliputi partikel rusak dan butir minyak berkoalesensi atau
menyatu menjadi fase tunggal yang memisah. Emulsi ini bersifat
irrevelsibel (tidak dapat diperbaiki kembali). Hal ini terjadi karena :
a. Peristiwa kimia : seperti penambahan alcohol, perubahan pH,
penambahan elektrolit CaO/ CaCl2 eksikatus.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

DIPLOMA III

b. Peristiwa fisika : seperti pemanasan, penyaringan, pendinginan,


dan pengadukan.
c. Peristiwa biologis : seperti fermentasi bakteri, jamur, atau ragi.
3. Infers fase adalah peristiwa berubahnya tipe emulsi O/W mejadi W/O
secara tiba-tiba atau sebaliknya, sifatnya irreversie (Syamsuni, 2006).
Perhitugan harga HLB mengguakan rumus sesuai Parrot:
(a x 15) + (5 - a) x 4,3 = HLB x emulgator
Keterangan:
a
= Banyaknya tween yang akan ditimbang
15
= Ketetapan untuk tween 80
HLB
= Hidro Lypophylic Balance
Emulgator = Konsentrasi surfaktan atau bahan pengemulsi

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

DIPLOMA III

B. URAIAN BAHAN
1. TWEEN 80 ( FI . Edisi IV, Hal. 687 )
Nama Resmi
: POLYSORBATUM-80
Sinonim
: Polisorbat-80
Pemerian
: Caiaran kental seperti

minyak,

jernih, kuning, bau asam lemak,


Kelarutan

khas.
: Mudah larut dalam air, etonal 95%
P, dalam etil asetat P, dan dalam
metanol

P,

sukar

larut

dalam

parafin cair dan dalam minyak biji


kapas.
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup rapat.
Penggunaan
: Emulgator
2. SPAN 80 ( FI. IV Edisi III, Hal. 756 )
Nama Resmi
: SORBYTOLUM
Sinonim
: Sorbital, span 80
Pemerian
: Serbuk, butiran atau kepingan putih, rasa manis,
dan
higroskopik
Kelarutan

: Sangat mudah larut dalam etanol (96 %) P, dalam


metanol P

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat

K/P

: Emulgator

3. Parafin Cair ( FI Edisi III Hal. 474 )


Nama Resmi
Sinonim
Pemerian

: PARRAFINUM LIQUIDUM
: Paraffin cair
: Cairan kenal, transparan, tidak berfluoresensi, tidak
berwarna, hampir tidak berbau, hampir tidak

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

Kelarutan

DIPLOMA III

mempunyai rasa.
: Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%)

P, larut dalam kloroform P dan dalam eter P.


Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya
K/P
: Sebagai pelarut/ fase minyak
4. AQUADEST ( FI. Edisi III , Hal. 96 )
Nama Resmi
: AQUA DESTILLATA
Sinonim
: Air suling
Pemerian
: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berasa dan
Penyimpanan
K/P

tidak berbau
: Dalam wadah tertutup baik
: Pelarut / sebagai fase air

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

DIPLOMA III

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
1. Alat yang digunakan :

2.

Nama alat (Ukuran/Berat/Volume)

Jumlah

o
1

(ml/mg/g/ml/N/%)
Batang Pengaduk

Botol Kaca 100 mL

Cawan Porselin

Cawan krus

Corong Kaca

Gelas Kimia 500 mL

Gelas Ukur 100 mL

Gelas Ukur 25 mL

Gegep kayu

10

Hot Plate

11

Lumpang dan stamper

12

Timbangan Analitik

13

Termometer

Bahan yang digunakan :


N

Nama alat (Ukuran/Berat/Volume)

o
1

(ml/mg/g/ml/N/%)
Aquadest

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

Jumlah
75 6=450 mL

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

DIPLOMA III

Aluminium Foil

Secukupnya

Kertas Perkamen

Secukupnya

Span 80

8,4114 gram

Tween 80

21,5886 gram
20 6=120

Paraffin cair
gram

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

DIPLOMA III

B. Prosedur Kerja
1. Siapakan alat dan bahan.
2. Timbang bahan sesuai perhitungan HLB butuh :
a. Paraffin cair masing-masing HLB 20 gram
b. HLB 10, untuk tween 80 sebanyak 2,6635 gram dan span 80 sebanyak
2,3365 gram
c. HLB 12, untuk tween 80 sebanyak 3,5981 gram dan span 80 sebanyak
1,4019 gram
d. HLB 14, untuk tween 80 sebanyak 4,5327 gram dan span 80 sebanyak
0,4673 gram
e. Aquadest masing-masing HLB 75 mL
3. Dimasukkan paraffin cair dan span 80 ke dalam gelas kimia, dan tween
80 dengan aqudest dimasukkan ke gelas kimia lainnya.
4. Kemudian kedua gelas kimia yang berisi campuran tersebut dipanaskan
di penangas air sampai suhu kedua campuran mencapai suhu 60C
5. Lalu kedua gelas kimia diangkat dari penangas air.
6. Kemudian kedua campuran tersebut dicampur dengan menuang Fase
minyak dan fase air kedalam lumpang secara bersamaan.
7. Digerus dengan cepat sampai diperoleh emulsi yang baik.
8. Dimasukkan ke dalam botol bening dan ditutup dengan aluminium foil.
9. Dilakukan pengamatan perubahanya selama 5 hari.

C. Perhitungan / Penimbagan Bahan / Pembuatan Reagen


Paraffin cair

20
100

x 100 = 20 gram

Emulgator

5
100

x 100 = 5 gram

Aquadest

= 100 ( 20 + 5) = 75 mL

1. HLB 10

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

DIPLOMA III

a. Tween 80 = (15 . a) + (5 - a) x 4,3 = 12 x

b. Span 80

15 a 4,3 a + 21,5
15 a 4,3 a
10,7 a
a
= (5 a )
= 5 2,6635
= 2,3365 gram

=
=
=
=

a. Tween 80 = (15 . a) + (5 - a) x 4,3 = 13 x

b. Span 80

=
=
=
=

5
100

x 100

12 x 5
70 21,5
38,5
3,591 gram

3. HLB 14
a. Tween 80 = (15 . a) + (5 - a) x 4,3 = 14 x

5
100

15 a 4,3 a + 21,5 = 14 x 5

b. Span 80

x 100

10 x 5
50 21,5
28,5
2,6635 gram

2. HLB 12

15 a 4,3 a + 21,5
15 a 4,3 a
10,7 a
a
= (5 a )
= 5 3,591
= 1,4019 gram

5
100

15 a 4,3 a

= 70 21,5

10,7 a

= 48,5

= 4,5327 gram

= (5 a )
= 5 4,5327
= 0,4672 gram

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

x 100

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

DIPLOMA III

BAB IV
HASIL PERCOBAAN
A. TABEL HASIL PENGAMATAN
N

HL

PENGAMATAN

HARI-1

HARI-2

10

Flokulasi

Flokulasi

10

12

HARI-3

HARI-4

HARI-5
Demulsifikas

Koalesen

Koalesen
i

Demulsifikas

Demulsifikas

Demulsifikas

Demulsifikas

Demulsifikas

Demulsifikas

Demulsifikas

Demulsifikas

Demulsifikas

Demulsifikas

12

Flokulasi

Flokulasi

Flokulasi

Flokulasi

Flokulasi

14

Flokulasi

Flokulasi

14

Demulsifikas
Koalesen

Koalesen
i

Demulsifikas

Demulsifikas

Demulsifikas

Demulsifikas

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

Demulsifikas

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

B. GAMBAR HASIL PENGAMATAN


Hari I

Hari II

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

DIPLOMA III

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

HARI III

HARI IV

HARI V

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

DIPLOMA III

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

DIPLOMA III

BAB V
PEMBAHASAN
Pada dasarnya dalam pembuatan emulsi menggunakan senyawa
polar dan nonpolar yang tidak dapat bercampur secara homogen. Untuk
menyatukan antara fase air dan fase minyak dibutuhkan emulgator atau
surfaktan yang cocok.
Pada keadaan dasar termodinamika, emulsi secara fisik tidak
stabil. Pengaruh tegangan antar muka dan pengumpalan mengurangi energi
sistem dan proses ini secara termodinamika disukai. Dalam pembuatan
emulsi, sering terjadi ketidakseimbangan. Keseimbangan berikatan dengan
fase minyak dan fase air dengan perbandingan jumlah bisa dihitung dengan
perhitungan HLB butuh.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

DIPLOMA III

Praktikum ini bertujuan untuk menentukan HLB yang cocok


dengan menggunakan emulgator golongan surfaktan untuk membuat suatu
sediaan emulsi yang stabil. Prosedur percobaan ini dilakukan dengan
membuat 3 macam emulsi dengan perhitungan HLB butuh 10, 12, dan 14.
Kemudian diamati perubahan yang terjadi pada emulsi selama 5 hari
menunjukan HLB 10, 12, dan 14

mengalami demulsifikasi dengan

pemisahan sempurna antara fase minyak dan fase air.


Kestabilan suatu emulsi dapat di pengaruhi oleh teknik pembuatan
penambahan garam atau elektrolit lemah dalam konsentrasi besar
mempengaruhi kestabilan emulsi, pengocokan yang keras. Apabila suatu
emulsi dikocok dengan kasar maka partikel partikel kecil akan
mengadakan kontak menjadi yang lebih besar sehingga emulsi akan pecah.
Dari percobaan yang telah kita lakukan didapatkan hasil pada HLB
10 Replikasi I, pada hari pertama dan kedua mengalami flokulasi yaitu
terjadinya kelompok-kelompok globula yang letaknya tidak beraturan di
dalam suatu emulsi, pada hari ketiga dan keempat mengalami koalesen yaitu
terjadinya penggabungan globul-globul menjadi besar, sedangkan pada hari
kelima mengalami demulsifikasi yaitu suatu proses lebih lanjut dari
koalesen dimana kedua fase terpisah kembali menjadi 2 cairan yang tidak
saling bercampur. Pada HLB 10 Replikasi II, hari pertama sampai hari
kelima mengalami demulsifikasi demulsifikasi yaitu suatu proses lebih
lanjut dari koalesen dimana kedua fase terpisah kembali menjadi 2 cairan
yang tidak saling bercampur.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

DIPLOMA III

Pada HLB 12 Replikasi I, hari pertama sampai hari kelima


mengalami demulsifikasi yaitu suatu proses lebih lanjut dari koalesen
dimana kedua fase terpisah kembali menjadi 2 cairan yang tidak saling
bercampur. sementara pada HLB 12 Replikasi II, hari pertama sampai
kelima mengalami flokulasi flokulasi yaitu terjadinya kelompok-kelompok
globula yang letaknya tidak beraturan di dalam suatu emulsi. Perbedaan
antara hasil replikasi I dan replikasi II terjadi karena pada proses pembuatan
emulsi terdapat kesalahan

pemanasan fase air dan fase minyak yang

mengalami perbedaan suhu. Dimana seharusnya kedua fase harus mencapai


suhu 60C sebelum di tuang ke dalam lumpang.
Yang terakhir adalah hasil pengamatan dari HLB 14 replikasi I,
pada hari pertama dan hari kedua mengalami flokulasi yaitu terjadinya
kelompok-kelompok globula yang letaknya tidak beraturan di dalam suatu
emulsi, pada hari ketiga dan hari keempat mengalami koalesen yaitu
terjadinya penggabungan globul-globul menjadi besar, sedangakan pada hari
kelima mengalami demulsifikasi. Pada HLB 14 Replikasi II, hari pertama
sampai hari kelima mengalami demulsifikasi yaitu suatu proses lebih lanjut
dari koalesen dimana kedua fase terpisah kembali menjadi 2 cairan yang
tidak saling bercampur.
Dari percobaan yang telah dilakukan terjadi perbedaan hasil antara
setiap replikasi yang dibuat. Hal tersebut terjadi karena pada proses
pemanasan kedua fase salah satu fase melewati suhu 60C. Sementara dalam
membuat emulsi yang baik fase minyak dan fase air suhunya harus sama

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

DIPLOMA III

yaitu 60C. Kesalahan selanjutnya yaitu pada saat pengadukan tidak konstan
dan terlalu lambat sehingga sediaan yang dibuat menjadi tidak stabil. Serta
pada saat menuang fase air dan minyak ke dalam lumpang tidak bersamaan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi
kestabilan emulsi adalah cara pembuatan, pengadukan, pemanasan, dan
nilai HLB (Hydrophylic-Lipophylic Balance). Karena HLB merupakan
angka yang menunjukkan ukuran keseimbangan dan reganngan gugus
hidrofilik dan lipofilik yaitu span 80 dan tween 80 sebagai emulgator.

BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan pada hari kelima dapat disimpulkan :
1. Untuk semua emulsi dengan HLB 10, 12 dan 14 terjadi perubahan
warna dari warna emulsi stabil (putih susu) secara keselurhan menjadi
putih buram.
2. Kestabilan suatu emulsi dipengaruhi oleh proses pembuatannya.
3. HLB 10, 12, dan 14 mengalami demulsifikasi, dimana terjadi
pemisahan secara keseluruhan antara dua fase dan tidak saling
bercampur satu sama lain.
B. Saran
Para praktikan harus berhatihati dan teliti dalam proses praktikum
untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

DIPLOMA III

DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. 1992 . Farmasetika. Yogyakarta : Gadjah Mada University


Prees
Anief, Moh. 1987. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : gadjah Mada
university Press.
Dirgen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Depkes RI.
Martin, Alfred dkk. 2008. Farmasi Fisik Jilid 2. Jakarta : UI Press.
Syamsuni, H.A. 2006. Ilmu resep. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Voight, R. 1971. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta : Gadjah
Mada University Press.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

DIPLOMA III

LAMPIRAN
Tween 80

Span 80

1. Skema Kerja
Fase Air

Fase Minyak

+ aquadest
HLB 10 = 75 mL
HLB 12 = 75 mL
HLB 14 = 75 mL

Dipanaskan sampai
60C

+ paraffin 25 mL

Dipanaskan sampai
60C

Digerus dalam lumpang, sampai terbentuk korpus emulsi

Dimasukkan ke dalam botol 100 mL

Dilakukan pengamatan selama 5 hari

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

Ditentukan kestabilan emulsi berdasarkan perubahan warna, perubahan volume, pemisahan fas

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI


2. Gambar Pengamatan

Hari pertama

Hari kedua

Hari ketiga

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

DIPLOMA III

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI


Hari keempat

Hari kelima

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA KENDARI

DIPLOMA III