Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-I

DIPLOMA - III

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Farmakognosi merupakan bagian, biokimia, dan kimia sintesis
sehingga ruang lingkupnya menjadi luas seperti yang didefenisikan sebagai
fluduger, yaitu penggunaan secara serentak sebagai cabang ilmu
pengetahuan untuk memperoleh segala segi yang perlu diketahui tentang
obat.
Dalam

kehidupan

sehari-sehari,

kita

ketahui

bahwa

banyak

masyarakat didunia ini sudah kenal bahwa sebagian dari tanaman ini adalah
obat. Sering kita lihat bahwa sebagian dari masyarakat memanfaatkan
tanaman sebagai makanan, sedangkan pada bidang farmasi mengenal
bahwa sebagaian tanaman dapat dimanfaatkan sebagai obat-obatan.
Sejalan kemajuan teknologi, kita sebagai masyarakat Indonesia
khususnya seorang farmasi harus semakin mengenal tentang jaringanjaringan yang terdapat dalam tanaman khususnya simplisia yang dapat
dijadikan sebagai obat.
Akar, batang, daun, serta bagian-bagian tumbuhan lainnya merupakan
bagian-bagian yang secara langsung berguna untuk mempertahankan
kehidupan tumbuhan itu sendiri selama masa pertumbuhannya. Oleh sebab
itu, alat-alat tersebut seringkali dinamakan pula alat-alat pertumbuhan atau
alat-alat vegetatif.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-I

DIPLOMA - III

Hal ini perlu kita ketahui agar pengetahuan kita semakin berkembang,
mengenai jaringan didalam didalam suatu simplisia pada daun.
B.

Tujuan
1. Mengamati simplisia secara organoleptik, meliputi bentuk, rasa,
warna, dan bau.
2. Melakukan identifikasi simplisia dengan metode mikroskopik.
3. Dapat membedakan bagian-bagian atau fragmen-fragmen dari simplisia

C.

satu dan yang lainnya


Prinsip Dasar
1. Diambil beberapa macam

haksel

kemudian

diamati

secara

organoleptis, meliputi bentuk, warna, bau, dan rasa.


2. Dibuat preparasi sampel, kemudian ditetesi dengan medium gliserin,
lalu diamati dibawah mikroskopik.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-I

DIPLOMA - III

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Simplisi
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat
yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan
lain berupa bahan yang telah dikeringkan. Simplisia
simplisia

berupa

tananman

utuh,

bagian

nabati

adalah

atau

eksudat

tanaman

tanaman. Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari
tanaman atau isi sel dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya dan
belum berupa zat kimia murni. Simplisia hewani yaitu simplisia yang
berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh
hewan dan belum berupa zat kimia murni. Simplisia mineral atau pelican
adalah simplisia yang berupa bahan mineral atau pelican yang belum diolah
atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni (
Depkes RI, 1979).
Simplisia nabati harus bebas dari serangga, fragmen, atau kotoran
hewan, tidak boleh menyimpang
mengandung

lendir

dan

bau

cendawan

dan

warnanya,

tidak

boleh

atau menunjukkan tanda-tanda

pengotoran lain, tidak boleh mengandung bahan lain yang beracun dan
berbahaya. Simplisia hewani harus bebas dari fragmen hewan asing atau
kotoran hewan, tidak boleh menyimpang bau dan warnanya, tidak boleh
mengandung cendawan atau tanda-tanda pengotor lainnnya, tidak boleh
mengandung bahan lain yang beracun dan berbahaya. Simplisia pelican
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-I

DIPLOMA - III

harus bebas dari pengotoran oleh tanah, batu, hewan, fragmen hewan, dan
bahan asing lainnya (Depkes RI, 1995).
B. Proses Pembuatan Simplisia
Pada umumnya proses pembuatan simplisia terdiri dari sartasi atau
pemilahan, pencucian, perajangan, atau pengirisan dan pengeringan.
Penyortiran dilakukan untuk memperoleh simplisia

sesuai yang

dikehendaki

baik kemurnian maupun kebersihannya. Tahap

memerlukan

ketelitian

yang

menghilangkan kotoran kotoran

tinggi.

Pencucian

bertujuan

sortasi
untuk

yang melekat pada tanaman, yang akan

digunakan. Pencucian harus dilakukan dengan cepat untuk

menghindari

terlarutnya zat aktif. Perajangan pada simplisia bertujuan untuk


mempermudah proses berikutnya. Proses pengeringan bertujuan untuk
mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga dapat disimpan
dalam waktu yang lebih lama (Tilaar, 2009).
C. Pemeriksaan Mutu Simplisia
Pemeriksaan

mutu

simplisia

dapat

dilakukan

dengan

cara

makroskopik dan mikroskopik. Analisis mikroskopik dapat dilakukan


dengan cepat dan sederhana setelah sedikit berlatih, untuk itu diperlukan
pengetahuan tentang peralatan tersebut maupun prosedur yang harus
dilakukan. Untuk mencegah keletihan, maka diperlukan pengamatan
santai hal ini memerlukan antara lain penjagaan jarak antara mata dan
okuler. Untuk menentukan jarak ini, mata mendekati okuler dari suatu jarak
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-I

DIPLOMA - III

maksimum sekitar 1 cm. Jarak optimum dipakai saat medan tampak


sebesar-besarnya

dan

setajam-tajamnya.

Metode

mikroskopi

yang

digunakan untuk mengetahui ada tidaknya masuknya simpleks, namun


terbatas pada segi kualitatif saja. Untuk maksud ini penganalisa harus
memahami betul ciri khas dari setiap simplisia secara mikroskopi (Depkes
RI, 1979)
D. Klasifikasi, Morfologi, Manfaat, dan Kandungan Kimia Simplisia
1. Tembelekan

Regnum

: Plantae

Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Sub Kelas

: Asteridae

Ordo

: Lamiales

Famili

: Verbenaceae

Genus

: Lantana

Spesies

: Lantana camara L.

Daun tunggal, berhadapan, bundar telur, ujung runcing, pangkal


tumpul, tepi bergerigi, pertulangan menyirip, kedua permukaan
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-I

DIPLOMA - III

berambut, terasa kasar, panjang 5-8 cm, lebar 3,5-5 cm, hijau tua.
Tembelekan dimanfaatkan untuk mengobati influenza disertai demam
tinggi, TBC, rematik, bengkak terbentur (memar), keputihan, kencing
nanah, gondongan, dan sakit kulit yang berkaitan dengan gangguan
emosi (neuridermatitis) (Napitupulu dan Hidayat, 2015).
Daun tembelekan mengandung lantadene A (0,31-0,68%),
lantadene

(0,2%),

lantanolic

acid,

(mengandung minyak menguap 0,16-0,2%),

terpidene,

-pinene, dan

lantic

acid,

-caryophyllene, -

-cyinene. Sementara itu daun bersifat

pahit, sejuk, berbau, dan agak beracun (Hariana, Arief, 2013).


2. Kemangi

Regnum

: Plantae

Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Sub Kelas

: Asteridae

Ordo

: Lamiales

Famili

: Lamiaceae

humulene

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-I


Genus

: Ocimum

Spesies

: Ocimum sanctum L.

DIPLOMA - III

Daun tunggal berbentuk lonjong dengan panjang 3-5 cm dan


lebar 2-3 cm, berlawanan, tepi daun rata sampai bergerigi, dan
warnanya hijau cerah sampai ungu gelap. Bunga berwarna putih atau
ungu terletak diujung batang. Menurut tim peneliti dari Center for New
Crops and Plant Products, Purdue University, AS, daun kemangi
terbukti ampuh untuk menyembuhkan sakit kepala, pilek, diare,
sembelit, cacingan, dan gangguan ginjal. Mereka pun mengemukakan
keampuhan pengobatan menggunakan daun kemangi, yaitu dapat
mengatasi sakit maag, perut kembung, masuk angin, kejang-kejang,
dan badan lesu. Selain itu aroma kemagi dapat menolak gigitan
nyamuk (Napitupulu dan Hidayat, 2015).
Beberapa bahan kimia yang terkandung pada seluruh bagian
tanaman kemangi, di antaranya 1,8 sineol, anethol, apigenin dan boron.
Sementara pada daun kemangi terkandung arginie dan asam aspartat
(Hariana, Arief, 2013).
3. Avokad

Regnum

: Plantae

Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-I


Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Sub Kelas

: Magnoliidae

Ordo

: Laurales

Famili

: Lauraceae

Genus

: Parsea

Spesies

: Parsea americana Mill.

DIPLOMA - III

Pohon dengan tinggi bisa 20 meter. Daun berbentuk oval


sampai lonjong. Bunga tersusun dalam malai, berwarna putih
kekuningan. Buah berbentuk bola sampai bulat telur, berwarna hijau
atau hijau kekuningan. Avokad mengandung polifenol, tanin, vitamin
A, vitamin B, vitamin C, beta sitosterol, magnesium, kalium, mangan,
lemak tak jenuh, dan karbohidrat (Napitupulu dan Hidayat, 2015).
Biji buah avokad biasa dimanfaatkan untuk mengobati gigi
berlubang dan kencing manis (Hariana, Arief, 2013).
4. Manggis

Regnum

: Plantae

Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi

: Magnoliophyta

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-I


Kelas

: Magnoliopsida

Sub Kelas

: Dileniidae

Ordo

: Theales

Famili

: Clusiaceae

Genus

: Garcinia

Spesies

: Garcinia mangostana L.

DIPLOMA - III

Buah bulat berdiameter 6-8 cm dengan warna kulit coklat


keunguan. Buah manggis memiliki rasa yang lezat, buah manggis juga
memiliki kalori yang rendah. Kulit buah manggis mengandung
xanthon, mangostin, garsion, flovanoid dan tanin. Kandungan xanthon
dalam kulit buah manggis bersifat antiprofilerasi dan apoptosis.
(Napitupulu dan Hidayat, 2015).
Buah manggis biasa digunakan untuk mengatasi penyakit
jantung koroner, diabetes, rematik, kolesterol, kanker, diare, disentri
dan sariawan. Kandungan Xanthone dapat meningkatkan sistem
kekebalan (Hariana, Arief, 2013).
5. Klasifikasi Bugenvil

Regnum

: Plantae

Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-I


Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Sub Kelas

: Hamamelidae

Ordo

: Caryophyllales

Famili

: Nyctaginaceae

Genus

: Bougainvillea

Spesies

: Bougainvillea spectabilis

DIPLOMA - III

Bunga berkhasiat sebagai penyegar badan, mengatasi penyakit


bisul, keputihan, haid yang tidak teratur, darah haid yang menggumpal,
biang keringat dan gatal-gatal. Beberapa bahan kimia yang terkandung
diantaranya betanidin, isobetanidin, 6-o- -saphoroside, dan 6-orhamnosysophoroside, saponin, dan polifenol (Hariana, Arief, 2013).
Bunga yang sebenarnya berwarna putih pucat, berukuran kecil,
bertabung dan benang sarinya berwarna kuning pucat. Bunga tersusun
dalam rangkaian tiga bunga yang berbentuk payung disertai
serangkaian daun penumpu bunga (Napitupulu dan Hidayat, 2015).
6. Klasifikasi Singkong

Regnum

: Plantae

Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

10

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-I


Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Sub Kelas

: Rosidae

Ordo

: Euphorbiales

Famili

: Euphorbiaceae

Genus

: Manihot

Spesies

: Manihot esculenta Crantz

DIPLOMA - III

Umbi yang dihasilkan oleh tanaman singkong ini berbentuk


panjang dengan berat umbinya sekitar 500 gram dan bahkan lebih.
Umbi dari tanaman singkong berwarna coklat keputih-putihan dengan
kulit yang sangat tipis.
Umbi berkhasiat sebagai antikanker, antioksidan, antitumor, dan
penambah nafsu makan. Kaya akan kandungan kimia akan seperti
hidrat arang, kalsium, fosfor, lemak, protein, zat besi, vitamin B1, dan
vitamin C (Hariana, Arief, 2013).

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

11

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-I

DIPLOMA - III

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
1. Alat yang digunakan antara lain :
a. Mikroskop
b. Dek glass
c. Sendok tanduk
d. Objek glass
2. Bahan yang digunakan antara lain :
a. Gliserin
b. Simplisia Biji Avokad
c. Simplisia Bunga Bugenvil
d. Simplisia Daun Kemangi
e. Simplisia Daun Tembelekan
f. Simplisia Kulit Buah Manggis
g. Simplisia Umbi Singkong
B. Langkah Kerja
1. Disiapkan simplisia yang akan digunakan
2. Dilakukan pemeriksaan organoleptik meliputi pemeriksaan bau, warna,
dan rasa
3. Diletakkan serbuk simplisia di atas objek glass, tetesi dengan gliserin,
fiksasi, tutup dengan deg glass, amati dibawah mikroskop, catat dan
gambar bentuk fragmen dari hasil pengamatan

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

12

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-I

DIPLOMA - III

BAB IV
PEMBAHASAN
Farmakognosi merupakan cara pengenalan ciri-ciri atau karakteristik
obat yang berasal dari bahan alam. Farmakognosi mencakup seni dan
pengetahuan

pengobatan

dari

alam

yang

meliputi

tanaman,

hewan,

mikroorganisme, dan mineral. Adapun beberapa parameter yang dilakukan


sebagai standar mutu tanaman, meliputi pemeriksaan organoleptik, pengamatan
terhadap morfologi dan anatomi.
Berdasarkan hal tersebut, untuk Pengamatan morfologi dilakukan
dengan mengamati bentuk fisik dari simplisia yakni ukuran, warna dan bentuk
simplisia dan merupakan salah satu cara dalam memperkenalkan tanaman
karena mengingat tanaman yang sama belum tentu mempunyai bentuk
morfologi yang sama pula.
Identifikasi simplisia yang akan dilakukan secara:
1. Organoleptik meliputi pengujian morfologi, yaitu berdasarkan warna, bau,
rasa dari simplisia tersebut
2. Makroskopik merupakan pengujian yang dilakukan dengan mata telanjang
atau dengan bantuan kaca pembesar terhadap berbagai organ tanaman yang
digunakan untuk simplisia
3. Mikroskopik, pada umumnya

meliputi

pemeriksaan

serbuk

dan

pemeriksaan anatomi jaringan itu sendiri


Pengamatan anatomi dilakukan untuk mengamati bentuk sel dan jaringan
yang diuji berupa serbuk dari simplisia. Pemeriksaan simplisia secara
mikroskopik,

organoleptis

dan

makroskopik

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

13

pada sampel.

Pengamatan

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-I

DIPLOMA - III

dilakukan di bawah mikroskop dengan perbesaran lemah 25 kali dengan


medium gliserin. Dari hasil pengamatan berikut ini merupakan penjabaran
secara organoleptis, makroskopis, dan mikroskopis dari simplisia yang praktikan
amati
1. Lantana folium
Organoleptik

: Warna hijau agak kecoklatan,bau khas menyengat sampai

tenggorokan, rasa pahit


Makroskopik : Daun tembelekan merupaan daun tunggal yang tersusun
saling bertolak belakang. Bagian atas daun kasar dan
pinggirnya bergerigi apabila diremas mengeluarkan bau
khas aromatik
Mikroskopis

2. Ocimum folium
Organoleptik : Warna coklat,bau khas aromatik
Makroskopik : Daun tunggal berbentuk lonjong dengan panjang 3-5 cm
dan lebar 2-3 cm, berlawanan, tepi daun rata sampai
bergerigi, dan warnanya hijau cerah sampai ungu gelap

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

14

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-I


Mikroskopis

DIPLOMA - III

3. Parsea Semen
Organoleptik : Warna orange, bau khas agak menyengat, rasa pahit
Makroskopik : Biji berbentuk bulat, berwarna coklat kehijauan
Mikroskopis :

4. Garsinia cortex fructus


5. Bougainvillea flos
6. Manihot tuber

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

15

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-I

DIPLOMA - III

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Praktikum farmakognosi dilakukan pemeriksaan secara organoleptis,
makroskopik dan mikroskopik terhadap simplisia dari tanaman tertentu
2. Pemeriksaan secara organoleptik meliputi warna, bau dan rasa
3. Pemeriksaan secara makroskopik pengujian dilakukan dengan mata
telanjang
4. Pemeriksaan secara mikroskopis dilakukan dengan melihat anatomi
jaringan dari serbuk simplisia dibawah mikroskop
B. Saran
Dalam melakukan pemeriksaan secara mikroskopik, praktikan
diharapkan melakukan dengan baik dan memperhatikan prosedur kerjanya.
Terutama prosedur penggunaan mikroskop, agar tidak salah-salah dalam
mengamati simplisia yang akan diamati.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

16

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-I

DIPLOMA - III

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Depkes RI
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Depkes RI
Hariana, Arief. 2013. 262 Tumbuhan Obat. Jakarta : Penebar Swadaya
Napitupulu dan Hidayat. 2015. Kitab Tumbuhan Obat. Jakarta : AgriFlo

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

17