Anda di halaman 1dari 6

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah

Di negeri yang subur makmur, terdiri dari puluhan ribu pulau, dengan mayoritas
penduduknya beragama Islam. Masjid-masjidnya indah bertebaran di seluruh pelosok negeri,
pesantren dan perguruan tinggi Islam ribuan jumlahnya. Ulama, kyai, muballigh bergelar
profesor, doktor, bahkan santri penghafal Quran begitu banyak, jauh lebih banyak dari artis
sinetron atau penyanyi dangdut. Mereka berdakwah melalui TV, media massa. Para kyai dan
ulama yang tadinya hanya mengelola pesantren, kini banyak yang menjadi anggota legislatif,
eksekutif, dan yudikatif.
Mengapa segala fasilitas kebaikan ini tidak memberi pengaruh positif bagi bangsa
Indonesia? Laju kemungkaran, narkoba, pornoaksi di satu sisi; kemiskinan, bencana alam,
penyakit epidemi, seakan telah menjadi kekayaan bangsa ini. Kriminalitas dan dekadensi moral
terus saja menghantui kehidupan generasi muda. Tindak pidana korupsi, sekalipun ada UU anti
korupsi dan ada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tapi koruptor seakan tak habis-habisnya
diberantas. Subhanallah!
Apa sesungguhnya yang terjadi pada masyarakat kita? Setiap tahun tidak kurang dari 200
ribu orang berangkat naik haji ke Baitullah, Makkah al-Mukarramah. Mereka yang masih
memiliki akal sehat tentu bertanya-tanya, mengapa semakin banyak manusia Indonesia pergi
menunaikan ibadah Haji, baik rakyat maupun kalangan pejabat, ternyata belum berpengaruh
positif bagi perbaikan dan peningkatan kehidupan sosial rakyat negeri ini?
Al-Quranul Karim memberikan jawaban yang mencengangkan atas pertanyaan di atas,
dengan mengungkapkan karakter masing-masing jamaah haji. Terdapat dua golongan manusia
yang menunaikan ibadah haji. Satu golongan yang hanya mementingkan kehidupan dunia.
Ibadah Haji dimaksudkan hanya sebagai kebanggaan, ajang mencari popularitas dan kemegahan
dunia. Mereka sibuk hanya dengan urusan dunia, hingga terpancar dalam doanya kepada Allah.
(200)

Ada orang-orang yang ketika wukuf di Arafah berdoa: Wahai Tuhan kami, berilah kami
kesenangan di dunia. Orang semacam ini kelak di akhirat tidak akan mendapatkan pahala
sedikitpun. [Al-Baqarah, 2: 200]

Inilah contoh manusia yang selalu ada pada semua generasi dan semua tempat. Persepsi sebagian
besar umat Islam tentang haji, hingga sekarang masih seperti orang-orang jahiliyah dahulu.
Banyak para pejabat, tokoh politik, anggota DPR, MPR berulangkali pergi haji atau umrah
dengan maksud sekadar wisata rohani. Ada juga artis, penyanyi atau hartawan muda pergi haji
guna memohon kesuksesan usaha, naik pangkat, mencari jodoh, dll. Karena tujuannya hanya
duniawi, maka seringkali mereka tidak peduli darimana mereka mendapatkan harta untuk pergi
haji. Apakah dari harta yang halal atau haram, apakah dari usaha maksiat ataukah usaha yang
benar, apakah hasil korupsi dan dari jual beli barang haram, tidak dipedulikan lagi.
Golongan kedua, adalah orang yang beribadah haji untuk mencari keridhaan Allah, sehingga
lebih luas cakrawala pandangannya dan lebih besar jiwanya. Mereka berdoa kepada Allah untuk
kebaikan nasibnya di dua negeri (dunia dan akhirat):
(201)

Ada juga orang yang ketika wukuf di Arafah berdoa: Wahai Tuhan kami, berilah kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka. [AlBaqarah, 2: 201]
Orientasi ibadah golongan kedua ini lebih jauh jangkauannya. Ia menginginkan kebaikan di
dunia tanpa melupakan nasibnya di akhirat. Apabila seseorang melakukan ibadah haji hanya
untuk tujuan yang bersifat duniawiyah belaka, dan melupakan nasib akhiratnya, maka tidak ada
bedanya dengan hajinya kaum jahiliah.
Ibadah haji yang tidak mendorong seseorang untuk berubah supaya lebih taat kepada Allah,
tidak meningkat amal kebajikannya berarti belum memenuhi fungsi ibadah untuk taqarrub
ilallah. Ibarat pepatah: Ontanya Nabi Musa naik Haji, pulangnya tetap saja seekor onta. Tidak
ada perubahan ke arah yang lebih baik.
Maka, penting bagi kita untuk mengingatkan kaum Muslimin yang memiliki kelebihan harta dan
berkesempatan untuk haji agar meluruskan niat, akan menjadi golongan yang mana diantara dua
golongan jamaah haji itu? Dan terutama mereka yang sudah bergelar Haji dan Hajjah, agar
mereka menjadi pelopor kebajikan di wilayah tempat tinggal mereka masing-masing, untuk
membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Introspeksi
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah

Kini, saat kita bersimpuh di haribaan Ilahy, dan beberapa bulan lagi kita akan memasuki tahun
baru dan bersiap-siap menghadapi Pilpres 2014. Negara kita menghadapi begitu banyak
persoalan hidup, dengan berbagai kejadian serta pengalaman yang memedihkan, seakan kita
sedang berdiri di tepian jurang, pada malam gelap gulita. Bangsa Indonesia, tengah menuai
akibat dari kelakuan manusia-manusia tidak bermoral, ingkar dan tidak tunduk pada aturan Allah
dalam menyuburkan bumi dan mengelola pemerintahan negara.
Kualitas sebuah negeri ditentukan oleh kualitas mayoritas penduduknya, bukan oleh kondisi
golongan minoritasnya. Nagara-negara asing masih menilai Indonesia sebagai negeri
terbelakang karena mayoritas penduduknya umumnya masih miskin, menjadi TKI dan TKW,
sedang pendidikan rata-rata setingkat SD, dan kesehatan masyarakatnya rendah.
Sungguh memperihatinkan. Dalam pengelolaan bangsa dan negara, posisi umat Islam kian
lemah, terpinggirkan, dan panggung kekuasaan berpindah-pindah dari tangan penguasa yang satu
kepada penguasa lainnya, semuanya menolak Syariat Islam. Memang benar, pejabat negara,
menteri, termasuk anggota partai berbasis agama, nasionalis maupun sekuler, mayoritas
beragama Islam. Akan tetapi keadaan mereka seperti firman Allah:
( 204)

(205)

Wahai Muhammad, ada orang-orang yang jika berbicara tentang kehidupan dunia ini
mempesona kamu. Orang itu bersumpah dengan nama Allah bahwa dia mencintai Islam, padahal
sebenarnya dia sangat keras mengingkari kebenaran Islam. Wahai Muhammad, apabila orang itu
berpisah dari kamu, dia melakukan perbuatan-perbuatan dosa, merusak pertanian dan
peternakan. Allah tidak menyukai perbuatan-perbuatan dosa semacam itu. [Al-Baqarah, 2: 204205]
Ayat ini membongkar identitas dan jiwa aportunis manusia. Banyak di antara tokoh Islam yang
lihai berbicara tentang ajaran Islam dan mempesona pendengarnya, seolah-olah dia pembela
Islam. Mereka meyakinkan masyarakat tentang ketulusan dan kebaikannya, padahal hatinya
penuh dengan kedengkian, culas dan menentang Islam. Mereka merajut dusta, sehingga berbeda
omongan dan fakta. Padahal mereka punya kesempatan dan otoritas di pemerintahan untuk
meninggikan Islam, tapi tidak dilakukan. Bahkan mereka menjadi penentang berlakunya syariah
Islam di lembaga negara.
Kaum munafik pandai memoles diri dengan kata-kata. Di depan orang Islam nampak lebih
Islami dari orang Islam lainnya. Sebaliknya di depan orang kafir, dia lebih berani memusuhi
Islam daripada orang kafir. Mereka memuji kebaikan Islam, tapi diajak memperjuangkan Islam
tidak mau. Mereka mengkritik kebobrokan sistem komunis dan kapitalis, tapi diajak

melaksanakan sistem Islam mereka menolak. Inilah hasil bimbingan setan, mereka kehilangan
akal sehat dan terjauh dari rahmat Ilahi.
Sejak awal kemerdekaan para ulama dan politisi muslim menawarkan jalan selamat dengan
menerapkan Syariat Islam, tapi selalu diabaikan. Kaum nasionalis sekuler malah menerima
petunjuk orang kafir dalam segala urusan. Akibatnya, negeri ini terjerumus pada kesesatan,
syirik dan berbagai kejahatan yang hanya merisaukan kehidupan dan merusak pergaulan.
Keadaan mereka seperti firman Allah:

(206)

Jika ada orang yang mengingatkannya: Takutlah kamu kepada Allah maka orang itu dengan
congkak meneruskan perbuatan dosanya. Cukuplah baginya neraka Jahanam. Adapun neraka
Jahanam adalah tempat tinggal yang sangat buruk. [Al-Baqarah, 2: 206]
Bila mereka diminta untuk beragama Islam secara kaffah, mereka berdalih negeri kita adalah
negeri pluralis, menghormati semua keyakinan agama. Tapi giliran diminta supaya hukum di
Indonesia juga diberlakukan prinsip pluralis, mereka menentang dengan keras. Jika konsekuen
dengan paham pluralisme, maka di Indonesia seharusnya tidak hanya berlaku satu macam
hukum, tapi semua macam hukum berhak untuk dijalankan sesuai aspirasi kelompok masyarakat
yang menuntutnya. Tapi, bila kita menuntut hal semacam ini, kelompok nasionalis yang bangga
dengan bhinneka tunggal ika menuduh lawannya sebagai anti NKRI, memaksakan kehendak,
politisasi SARA dan sebagainya.
Namun demikian, menghadapi penolakan pengamalan syariat Islam, harus dilakukan secara
cerdas. Jangan bereaksi menggunakan filsafat korek api. Punya kepala tetapi tidak punya otak.
Setiap kali terjadi gesekan kecil, korek api itu langsung terbakar dan membakar. Kita memiliki
kepala dan otak, karena itu jangan bereaksi seperti korek api, mudah dibakar dan diadu domba
oleh orang kafir. Umat Islam jangan disibukkan dengan fanatisme sektarian, lebih senang
berkelahi dengan sesama Muslim dan membiarkan musuhnya menghancurkan rumah Islam.
Marilah kita muhasabah, meluruskan aqidah dan memperbaiki akhlak, sekaligus koreksi total
atas dosa serta kesalahan yang selama ini kita lakukan. Momentum Idul Adha kita jadikan
kesempatan untuk instrospeksi. Jadikan segala tantangan sebagai saksi atas segala ikhtiar
perjuangan yang kita lakukan.
Kita memang tidak dapat mengubah arah angin, tetapi bukankah kita dapat mengatur layar
perahu ke arah tujuan kita berlayar? Mari kita ber-Islam tidak dengan retorika, tetapi dengan
mengamalkan tuntunan Islam secara kaffah, baik dimensi pribadi, keluarga, bangsa dan negara,
demi terwujudnya Indonesia yang sejahtera dalam bingkai kemanusiaan yang adil dan beradab.
Untuk itu renungkan, perhatikan, dan laksanakan firman Allah ini:

(208)

Wahai kaum mukmin, ikutilah syariat Islam itu seluruhnya. Janganlah kalian mengikuti
bujukan-bujukan setan. Sungguh setan itu adalah musuh kalian yang nyata-nyata merugikan
kalian. [Al-Baqarah, 2: 208]
Munajat

Mengakhiri khutbah ini marilah kita berdoa dengan meluruskan niat, membersihkan hati dan
menjernihkan fikiran, semoga Allah memperkenankan doa hamba-Nya yang ikhlas:
.




.


.

.
.

Ya Allah, ya Tuhan kami, bagi-bagikanlah kepada kami demi takut kepada-Mu apa yangdapat
kiranya menghalangi antara kami dan masiat kepada-Mu; dan (bagi-bagikan juga kepada kami)
demi taat kepada-Mu apa yang sekiranya dapat menyampaikan kami ke surga-Mu; dan (bagibagikan juga kepada kami) demi taat kepada-Mu dan demi suatu keyakinan yang kiranya
meringankan beban musibah dunia kami.
Ya Allah, ya Tuhan kami senangkanlah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan-penglihatan
kami dan kekuatan kami pada apa yang Engkau telah menghidupkan kami, dan jadikanlah ia
sebagai warisan dari kami, dan jadikanlah pembela kami terhadap orang-orang yang menzhalimi
kami serta bantulah kami dari menghadapi orang-orang yang memusuhi kami; dan jangan
kiranya Engkau jadikan musibah kami mengenai agama kami, jangan pula Engkau jadikan dunia
ini sebagai cita-cita kami yang paling besar, juga sebagai tujuan akhir dari ilmu pengetahuan
kami; dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menaruh sayang kepada
kami.
Ya Allah, laknatilah orang-orang kafir ahli kitab dan orang-orang musyrik yang menghalanghalangi jalan-Mu, mendustakan Rasul-rasulMu, dan membunuh kekasih-kekasih-Mu
Ya Allah, persatukanlah hati-hati kami dan perbaikilah keadaan kami dan tunjukilah kami jalanjalan keselamatan dan entaskanlah kami dari kegelapan menuju cahaya yang terang. Jauhkanlah
kami dari kejahatan yang tampak maupun tersembunyi dan berkatilah pendengaran-pendengaran

kami, penglihatan-penglihatan kami, hati-hati kami dan isteri-isteri serta anak keturunan kami
dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkaulah yang maha pengampun lagi Maha Penyayang.
Shalawat atas Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan ahli keluarga serta sahabatsahabat beliau semuanya. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.
. .
.