Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
Otitis eksterna fungi atau otomikosis adalah infeksi akut, subakut, dan kronik pada
epitel skuamosa dari pinna dan kanalis auditorius eksterna oleh ragi dan filamen jamur. Jamur
adalah penyebab utamanya, namun penyakit ini juga dapat terjadi akibat infeksi bakteri
kronis pada kanalis auditorius eksternus atau telinga tengah yang menyebabkan menurunnya
imunitas lokal sehingga memudahkan terjadinya infeksi jamur sekunder. Pada kasus dengan
perforasi membran timpani, jamur juga dapat menyebabkan infeksi pada telinga tengah.1,2,3,4
Otitis eksterna fungi jarang mengancam kehidupan, tetapi merupakan penyakit yang
cukup menantang dan dapat menyebabkan frustasi baik pada pasien maupun dokter spesialis
THT-KL yang menangani. Hal ini disebabkan karena penyakit ini membutuhkan pengobatan
dan tindak lanjut jangka panjang karena mudah mengalami rekurensi atau kekambuhan
terutama bila pasien tidak kooperatif dalam mengelola penyakitnya.1
Prevalensi otitis eksterna fungi bervariasi sesuai dengan keadaan geografis dan faktor
predisposisi pasien dan merupakan 9-50% dari seluruh kasus otitis eksterna. Umumnya otitis
eksterna fungi lebih sering dijumpai pada daerah tropis dan sub tropis seperti Mesir, India,
Birma, Pakistan, Bahrain, Israel dan Indonesia. Faktor predisposisi penyakit ini diantaranya,
suhu dan kelembaban lingkungan, adanya serumen impaksi, penggunaan antibiotik topikal
dan steroid yang berlebihan, keadaan imunokompromis, penggunaan alat-alat pembersih
telinga, riwayat penyakit telinga sebelumnya, penggunaan alat bantu dengar, dan pasien yang
telah dilkukan operasi mastoidektomi terbuka.1,2,5
Sebagian besar kasus otitis eksterna fungi disebabkan oleh jamur Aspergillus spp. dan
Candida. Aspergillus niger adalah yang paling sering ditemui pada pemeriksaan kultur
karena jumlahnya yang mendominasi MAE, jenis jamur lain yang dapat menyebabkan
otomikosis adalah A. flavus, A. fumigatus, A. terreus (jamur filamentosa), Candida albicans
dan C. parapsilosis (jamur ragi). 1
Umumnya pasien akan datang dengan keluhan penurunan pendengaran pada salah
satu atau kedua telinga, telinga terasa penuh, gatal, keluarnya cairan dari telinga, hingga
telinga berdenging. Penatalaksanaan yang tepat dan cepat dapat mengurangi risiko terjadinya
komplikasi. Terapi farmakologis dapat digunakan anti fungal dengan kombinasi obat lainnya
yang tepat sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan.2

Laporan Kasus Otitis Eksterna Fungi (Otomikosis) - Megilda

BAB 2
LAPORAN KASUS
2.1 Identitas Kasus
Nama
Umur pasien
Tempat/Tanggal lahir
Jenis kelamin
Nomor registrasi
Tanggal pemeriksaan/Status
Pekerjaan
Alamat
Agama
Nomor HP

: Tn. Julius
: 62 tahun
: Maluku/ 20 Juni 1954
: Laki-laki
: 283123
: Rabu, 2016/Rawat Jalan
: PNS
: Baumata
: Kristen Protestan
: 081236567019

2.2 Anamnesis
Keluhan utama:
Telinga kiri terasa penuh dan gatal sejak 4 hari yang lalu.
Riwayat penyakit sekarang:
Pasien datang ke Poli THT-KL dengan keluhan telinga kiri terasa penuh dan
gatal yang dialami sejak 4 hari yang lalu. Menurut pasien keluhan ini awalnya rasa
gatal dan penuh ini berlangsung terus-menerus sehingga aktivitas pasien terganggu
dan ia menjadi sulit tidur. Pasien mengaku jika dirinya telah mengorek telinganya
menggunakan cotton bud sebagai usaha untuk mengurangi rasa gatal dan penuh
tersebut, namun keluhannya tidak berkurang. Keluhan ini disertai dengan keluar
cairan dari telinga kiri. Menurut pasien ia tidak mengalami penurunan pendengaran,
telinga berdenging, sakit kepala atau batuk dan pilek saat ini.
Riwayat penyakit dahulu:
Pasien pernah berobat ke Poli THT-KL tahun 2015 dengan keluhan penurunan
pendengaran pada telinga kiri kemudian diberikan pengobatan obat tetes telinga dan
membaik. Pasien tidak menderita hipertensi, diabetes mellitus dan gangguan vascular
lainnya.
Riwayat pengobatan:
Pasien belum mengalami pengobatan sebelumnya.
Riwayat alergi:
Pasien tidak memiliki riwayat alergi makanan, obat-obatan, tidak pernah
mengalami bersin-bersin saat terkena debu, perubahan suhu yang ekstrim, bau-bauan
tertentu dan sebagainya.
2

Laporan Kasus Otitis Eksterna Fungi (Otomikosis) - Megilda

Riwayat trauma:
Pasien tidak pernah mengalami kecelakaan dan trauma tajam atau tumpul di
bagian kepala, wajah, dan telinga.
2.3 Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan umum
Kesadaran
Tanda vital

: Baik
: Compos mentis
: Tekanan darah
Nadi
Respirasi
Suhu

: 120/80 mmHg
: 84x/menit
: 20x/menit
: 36,6 0C

1. Pemeriksaan Telinga
No
1
2

Pemeriksaan
telinga
Tragus
Daun telinga
(pinna)
Liang telinga

Telinga kanan

Telinga kiri

Nyeri tekan (-), edema (-)


Bentuk dan ukuran dalam
batas normal, hematoma (-),
nyeri tarik aurikula (-)
Serumen (-), hiperemis (-)
di sekitar membran timpani,
mukosa eritem (+) furunkel
(-), edema ringan, otorrhea
(-)

Nyeri tekan (-) edema (-)


Bentuk dan ukuran dalam batas
normal, hematoma (-), nyeri
tarik aurikula (-)
Serumen (-), hiperemis (-) di
sekitar membran timpani,
mukosa eritem (+) furunkel (-),
edema ringan, otorrhea (-),
jamur warna putih (+)

Terdapat sekret atau debris


berwarna putih yang menempel
pada dinding liang telinga.

Laporan Kasus Otitis Eksterna Fungi (Otomikosis) - Megilda

Membran
timpani
(dilihat
setelah
sekret/debris
dibersihkan)

Retraksi (-), bulging (-),


hiperemis (-), edema (-),
perforasi (-), refleks cahaya
(+), gambaran pulsasi (-)

Retraksi (-), bulging (-),


hiperemis (-), edema (-),
perforasi (-), refleks cahaya (+),
gambaran pulsasi (-)

Normal

Normal

2. Pemeriksaan Hidung

Pemeriksaan Hidung
Hidung luar

Vestibulum nasi
Cavum nasi

Meatus nasi media


Konka nasi inferior
Septum nasi

Hidung kanan
Bentuk normal, hiperemis (-),
nyeri tekan (-), deformitas (-)
Rinoskopi anterior
Normal, ulkus (-)
Bentuk normal, mukosa warna
merah muda, rhinorrhea (-)

Hidung kiri
Bentuk normal, hiperemis (-),
nyeri tekan (-), deformitas (-)

Normal, ulkus (-)


Bentuk normal, mukosa
warna merah muda,
rhinorrhea (-)
Mukosa normal, sekret (-)
Mukosa normal, sekret (-)
Edema (-), mukosa hiperemis (-)
Edema (-), mukosa pucat (-)
Deviasi (-), perdarahan (-), ulkus (-), mukosa warna merah muda

3. Pemeriksaan Tenggorok

Uvula
Laporan Kasus Otitis Eksterna Fungi (Otomikosis) - Megilda

Tonsila palatina
Bibir
Mulut
Geligi
Lidah
Uvula
Palatum mole
Faring
Tonsila palatina
Fossa tonsilaris
dan arkus
faringeus

Mukosa bibir basah, berwarna merah muda


Mukosa mulut basah, berwarna merah muda
Normal
Tidak ada ulkus, pseudomembran (-)
Bentuk normal, hiperemis (-), edema (-), pseudomembran (-)
Ulkus (-), hiperemis (-), edema (-)
Mukosa hiperemis (-), refleks muntah (+), pseudomembran (-),
sekret (-)
Kanan
Kiri
T1
T1
Hiperemis (-)
Hiperemis (-)

2.4 Diagnosis
Otitis eksterna fungi (H.62.2 otitis externa in mycosis)
2.5 Penatalaksanaan
a. Otoskopi dan irigasi telinga
b. Tampon telinga kiri dengan tetes telinga otopain dan salep mikonazole
2%
c. Medikamentosa
- Natrium diklofenak 50 mg 3 x 1 tablet
- Cetirizine 10 mg 1 x 1 tablet
- Tetes telinga otopain dan tetes mata fukricin 5% yang
dicampurkan.
d. Edukasi
- Tampon telinga kiri dapat dilepas sendiri 1 hari berikutnya.
- Tetes telinga yang telah dicampurkan diteteskan 5 tetes pada
telinga kiri. Selanjutnya dibiarkan selama 1 jam. Sebaiknya
-

dilakukan 2 kali sehari.


Pasien dianjurkan untuk tidak mengorek-ngorek liang telinga.
Sebaiknya kedua telinga tidak terkena air dulu. Bila mandi, kedua

telinga ditutup menggunakan kapas.


Jika pasien merasa ada cairan yang keluar dari telinga, atau telinga
kemasukan air, gunakan tisu yang telah dipotong dan dibentuk

Laporan Kasus Otitis Eksterna Fungi (Otomikosis) - Megilda

meruncing ujungnya, dimasukkan ke dalam liang telinga untuk


-

menyerap cairan.
Datang kontrol kembali 2 hari berikutnya, untuk tampon telinga
kanan dan melihat perkembangan terapi terhadap jamur.

2.6 Prognosis
Dubia et bonam
2.7 Saran
- Pasien disiplin dalam menjaga kebersihan telinga dan menjaga agar telinganya
-

tetap kering.
Pasien disiplin dalam meneteskan obat tetes telinga yang diberikan.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 DEFINISI
Otitis eksterna fungi atau otomikosis adalah infeksi akut, subakut, dan kronik pada
epitel skuamosa dari pinna dan kanalis akustikus eksterna oleh ragi dan filamen jamur. Jamur
adalah penyebab utamanya, namun penyakit ini juga dapat terjadi akibat infeksi bakteri
kronis pada kanalis auditorius eksternus atau telinga tengah yang menyebabkan menurunnya
imunitas lokal sehingga memudahkan terjadinya infeksi jamur sekunder. Pada kasus dengan
perforasi membran timpani, jamur juga dapat menyebabkan infeksi pada telinga tengah.1,2,3,4
3.2 EPIDEMIOLOGI
6

Laporan Kasus Otitis Eksterna Fungi (Otomikosis) - Megilda

Prevalensi otitis eksterna fungi bervariasi sesuai dengan keadaan geografis dan faktor
predisposisi pasien dan merupakan 9-50% dari seluruh kasus otitis eksterna. Umumnya
ototitis eksterna fungi lebih sering dijumpai pada daerah tropis dan sub tropis seperti Mesir,
India, Birma, Pakistan, Bahrain, Israel dan Indonesia berhubungan dengan faktor lingkungan
yakni suhu dan kelembaban di daerah-daerah tersebut.1,5
Lingkungan yang lembab dengan iklim tropis meningkatkan insiden otitis eksterna
fungi karena kontribusinya dalam meningkatkan produksi keringat dan mengubah permukaan
epitel kanalis akustikus eksterna sehingga menjadi media yang baik bagi pertumbuhan dan
proliferasi jamur. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa otitis eksterna fungi lebih sering
didapati pada wanita dan lebih sering terjadi pada orang dewasa dibandingkan anak-anak.
Otitis eksterna fungi unilateral dilaporkan pada 90% dari kasus dan tidak menunjukkan sisi
mana yang lebih sering terjadi.1
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa otitis eksterna fungi lebih sering ditemukan
pada pasien dengan penyakit penyerta diabetes melitus tipe 2. Hal ini dikarenakan pada
diabetes melitus tipe 2 terjadi penurunan imunitas seluler yang berdampak pada mudahnya
infeksi dan proliferasi jamur, keadaan hiperglikemia juga dapat membentuk lingkungan yang
baik bagi pertumbahan jamur. Otitis eksterna fungi pada pasien dengan diabetes melitus tipe
2 membutuhkan pengobatan dan pemantauan dalam jangka panjang karena mudah
mengalami rekurensi dan resisten oleh karena pada diabetes melitus tipe 2 terjadi gangguan
mikrovaskular yang dapat memperburuk perfusi aliran darah perifer.6

3.3 FAKTOR PREDISPOSISI2


a. Kelembaban
Saluran telinga mudah terinfeksi karena gelap dan hangat, sehingga pada keadaan
kelembaban yang tinggi dan cuaca yang panas dapat memudahkan terjadinya
pertumbuhan dan proliferasi bakteri dan jamur dalam saluran telinga. Hal ini terutama
terjadi di daerah tropis dan subtropis.
b. Pasien imunokompromis
Pada pasien dengan imunokompromis, infeksi jamur menjadi lebih mudah terjadi karena
sistem imun pasien tidak mampu melindungi tubuhnya.
c. Penggunaan jangka panjang tetes telinga antibiotik
Keadaan normal telinga dan sel epitel mukosa saluran telinga dapat mengalami
perubahan akibat penggunaan jangka panjang tetes telinga antibotik, sehingga

Laporan Kasus Otitis Eksterna Fungi (Otomikosis) - Megilda

memudahkan terjadi pertumbuhan dan proliferasi jamur. Perubahan tersebut juga dapat
mengakibatkan flora normal dalam saluran telinga berubah menjadi patologis.
d. Perenang
Jika terlalu banyak air masuk ke dalam saluran telinga, misalnya saat berenang, terutama
di air yang mengandung klorin atau membersihkan telinga dengan air pada saat mandi
akan memudahkan jamur bertumbuh dan berproliferasi karena air tersebut meningkatkan
kelembaban, meningkatkan pH dan membersihkan serumen yang melengket pada
mukosa saluran telinga yang pada keadaan normal sebenarnya berfungsi melindungi dan
mempertahankan mukosa saluran telinga. Dengan demikian, perenang sebaiknya
menggunakan ear plug atau penyumbat telinga pada saat berenang.
e. Terlalu sering membersihkan telinga
Terlalu sering membersihkan telinga menggunakan cotton bud dapat mengakibat trauma
lokal pada saluran telinga sehingga memudahkan terjadinya infeksi, pertumbuhan dan
proliferasi bakteri dan jamur.
3.4 ETIOLOGI
Sebagian besar kasus otitis eksterna fungi disebabkan oleh jamur Aspergillus spp. dan
Candida. Aspergillus niger adalah yang paling sering ditemui pada pemeriksaan kultur
karena jumlahnya yang mendominasi kanalis auditoris eksterna, jenis jamur lain yang dapat
menyebabkan otomikosis adalah A. flavus, A. fumigatus, A. terreus (jamur filamentosa),
Candida albicans dan C. parapsilosis (jamur ragi). Selain itu beberapa jamur lain yang juga
dapat menyebabkan otitis eksterna fungi namun jarang ditemukan ialah jamur jenis
Phycomycetes, Rhizopus, dan Penicillium.1
Pada penelitian yang dilakukan Kumar (2005) pada pasien otitis eksterna fungi
menunjukkan bahwa jenis jamur yang paling sering ditemui, yakni Aspergillus niger
(52,43%),

Aspergillus

fumigates

(34,14%),

Candida

albicans

(11%),

Candida

pseudotropicalis (1,21%). Beberapa peneliti juga melaporkan jamur kausatif yang lain, yakni
jenis Penicillium sp. dan jenis Candida yang lain dalam berbagai persentase. Umumnya
penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa persentase jenis jamur Aspergillus lebih
banyak dibandingankan Candida. Meskipun demikian, pada keadaan imunokompromis atau
dengan penyakit penyerta tertentu, misalnya diabetes melitus tipe 2, jenis jamur Candida
justru lebih sering ditemukan.1,6
3.5 PATOFISIOLOGI1

Laporan Kasus Otitis Eksterna Fungi (Otomikosis) - Megilda

Patofisiologi otitis eksterna fungi berkaitan dengan anatomi, fisiologi dan histologi
kanalis akustikus eksterna. Kanalis akustikus eksterna adalah sebuah saluran atau kanal
dengan panjang rata-rata 2,5 cm dan lebar rata-rata 7,9 mm pada orang dewasa. Saluran atau
kanal ini berbentuk silinder dan dilapisi dengan epitel berlapis gepeng bertanduk hingga ke
bagian luar membrana timpani. Bagian depan dari resesus membrana timpani, hingga isthmus
sering menjadi tempat akumulasi debris keratin dan serumen dan sulit dibersihkan.
Serumen memiliki suatu zat antimikotik, bakteriostatik dan insect repellent. Serumen
terdiri dari lipid (46-73%), protein, asam amino bebas, mineral, lisosim, imunoglobulin, dan
asam lemak tak jenuh. Asam lemak tak jenuh rantai panjang yang terdapat pada kanalis
akustikus eksterna yang normal dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Komposisi
hidrofobik ini memungkinkan serumen berperan dalam mengeluarkan air dari kanalis
akustikus eksterna, serta membuat permukaan kanalis tidak permeabel, dan mencegah
maserasi dan kerusakan epitel.
Flora normal atau komensal yang terdapat di dalam kanalis akustikus eksterna
diantaranya, Staphylococcus epirdemidis, Corynebacterium sp, Bacillus sp, Gram positive
cocci (Staphylococcus aureus, Streptococcus sp, non-pathogenic micrococci), Gram negative
bacilli (Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, Hemophilus influenza, Morazella
catarrhalis, etc) dan jenis jamur miselia dari genus Aspergillus dan Candida sp. Flora normal
atau komensal ini tidak bersifat patogen apabila lingkungan kanalis aksutikus eksterna dan
keseimbangan antara bakteri dan jamur tetap terjaga.
Faktor faktor yang berperan dalam perubahan lingkungan kanalis akustikus eksterna
yang kemudian mengakibatkan jamur saprofit menjadi patogen, diantaranya faktor
lingkungan (suhu dan kelembaban), perubahan pada epitel kanalis akustikus eksterna akibat
dermatitis atau trauma mikro, peningkatan pH, penurunan kualitas dan kuantitas serumen,
faktor sistemik (imunokompromis, neoplasma, diabetes melitus, penggunaan antibiotik lama,
agen sitostatik dan kortikosteroid), riwayat otitis eksterna bakteri atau otitis media supuratif,
dermatomikosis, serta kondisi sosial.
3.6 DIAGNOSIS
Gejala klinis otitis eksterna fungsi agak sulit dibedakan dengan otitis eksterna dengan
penyebab lain. Gejala yang sering menjadi keluhan utama pasien ialah rasa gatal, rasa tidak
nyaman dan nyeri pada liang telinga, rasa penuh dalam telinga, tinitus, penurunan
pendengaran, dan kadang-kadang disertai sekret atau cairan dari dalam telinga. Keluhan ini
bersifat rekuren atau hilang timbul.7
9

Laporan Kasus Otitis Eksterna Fungi (Otomikosis) - Megilda

Pada pemeriksaan menggunakan otoskopi, umumnya akan didapatkan lumen MAE


mengalami edema ringan, eritem, dan terlihat debris atau sekret jamur berwarna putih,
keabuan, atau hitam. Pasien biasanya sudah menggunakan berbagai obat tetes telinga
antibiotik maupun per oral, namun keluhan tidak berkurang.2
Karateristik pada otitis eksterna fungi ialah pada infeksi akibat Aspergillus umumnya
akan terlihat hifa halus dan spora (konidiofor) sedangkan pada infeksi akibat Candida akan
terlihat miselia yang panjang yang jika bercampur dengan serumen akan berwarna
kekuningan. Infeksi akibat Candida lebih sulit diidentifikasi secara klinis karena kurangnya
tampilan klinis seperti pada infeksi akibat Aspergillus.1
Diagnosis

dapat

dikonfirmasi

dengan

mengidentifikasi

komponen

jamur

menggunakan tes KOH atau menggunakan kultur jamur yang positif. Namun, kultur sangat
jarang dibutuhkan dan umumnya tidak mengubah terapi karena jamur yang menyebabkan
otomikosis kebanyakan adalah jamur jenis saprofit yang merupakan jenis flora
normal/komensal dalam MAE normal. Morfologi dari koloni juga dapat memudahkan untuk
membedakan yeast like fungi atu jamur ragi dan filamentous fungi atau jenis jamur
filamentosa. Koloni yang berwarna putih atau putih kekuningan, halus dan kadang-kadang
kasar, adalah jenis jamur ragi. Sedangkan jenis jamur filamentosa berbentuk seperti
kumpulan debu, kain wol, atau kain beludru yang dilipat. Koloni ini dapat menampilkan
berbagi jenis warna seperti, hitam, putih, kuning, hijau, biru, dan biru kehijauan.1
3.7 TERAPI
Meskipun berbagai penelitian telah menunjukkan beberapa obat baik topikal maupun
per oral yang dapat digunakan dalam penanganan otitis eksterna fungi, namun belum ada
konsesus yang memuat mengenai obat dan cara yang paling efektif diantara yang lain.
Penanganan yang sering dilakukan saat ini adalah dengan pemberian antifungi topikal dan
pembersihan liang telinga dari debris dan sekret jamur yang terbukti dapat memberikan hasil
yang baik, walaupun membutuhkan waktu yang cukup lama.1
Banyak peneliti meyakini bahwa hal terpenting dalam penanganan otitis eksterna
fungi adalah dengan mengidentifikasi jamur penyebab untuk memberikan terapi
medikamentosa yang adekuat. Untuk saat ini, belum ada terapi khusus yang
direkomendasikan untuk otitis eksterna fungi karena banyaknya antifungi yang dapat
digunakan klinisi secara luas yang membuktikan bahwa terapi ini juga tergantung pada pasien
sebagai individu.1
10

Laporan Kasus Otitis Eksterna Fungi (Otomikosis) - Megilda

Sediaan antifungi dapat dibagi menjadi dua bagian, yakni antifungi spesifik dan non
spesifik. Antifungi non spesifik diantaranya adalah larutan asam dan pembersih1:
-

Boric acid adalah medium asam dan sering digunakan sebagai antiseptik dan

insektisida. Dapat diberikan bila penyebabnya adalah Candida albicans.


Gentian Violet yang disediakan dalam bentuk larutan konsentrasi rendah. Misalnya
1% dalam air. Gentian violet bersifat antibakteri, antifungi, antiinflamasi dan

antiseptik. Beberapa penelitian menunjukkan efektivitas agen ini hingga 80%.


Castellanis paint (acetone, alkohol, fenol, fuchsin, resocinol)
Cresylate (merthiolate, M-cresyl acetate, propyleneglycol, bric acid, dan alkohol)
Merchurochrome yang merupakan antiseptik topikal dan antifungi. Penelitian
menunjukkan efektivitasnya hingga 93, 4%.

Antifungi spesifik, diantaranya1,4,8:


-

Nystatin adalah antibiotik makrolid polyene yang dapat menghambat sintesis sterol di
membran sitoplasma. Keuntungan dari nistatin adalah tidak diserap oleh kulit yang

intak. Dapat diresepkan dalam bentuk krim, salep, atau bedak. Efektif hingga 50-80%.
Azole adalah agen sintetis yang mengurangi konsentrasi ergosterol, sterol esensial
pada membran sitoplasma normal.
1. Clotrimoxazole digunakan secara luas sebagai topikal azole. Efektif hingga 95100%. Clotrimoxazole memiliki efek bakterial dan ini adalah keuntungan untuk
mengobati infeksi campuran bakteri-jamur. Clotrimazole tersedia dalam bentuk
bubuk, lotion, dan solusio dan telah dinyatakan bebas dari efek ototoksik.
2. Ketokonazole dan fluconazole memiliki spektrum luas. Ketokonazole (2% krim)
efektif hingga 95-100% melawan Aspergillus dan C. Albicans. Fluconazole
topikal efektif hingga 90% kasus.
3. Miconazole (2% krim) adalah imidazole yang telah dipercaya kegunaannya
selama lebih dari 30 tahun untuk pengobatan penyakit superfisial dan kulit. Agen
ini dibedakan dari azole yang lainnya dengan memiliki dua mekanisme dalam
aksinya. Mekanisme pertama adalah inhibisi dari sintesis ergosterol. Mekanisme
kedua dengan inhibisi dari peroksida, dimana dihasilkan oleh akumulasi peroksida
pada sel dan menyebabkan kematian sel. Efektif hingga 90%.
4. Bifonazole. Solusio 1% memiliki potensi sama dengan klotrimazol dan
miconazole. Efektif hingga 100%.
5. Itraconazole memiliki efek in vitro dan in vivo melawan spesies Aspergillus.
Selain itu berdasarkan penelitian yang dilakukan Venkataramanan dan Kumar
(2016) menunjukkan pemberian itrakonazole per oral pada pasien diabetes melitus
tipe 2 dengan otitis eksterna fungi rekuren selama 5 hari sangat efektif.

11

Laporan Kasus Otitis Eksterna Fungi (Otomikosis) - Megilda

Bentuk salep lebih memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan formula tetes
telinga karena dapat bertahan di kulit untuk waktu yang lama. Salep lebih aman pada kasus
perforasi membran timpani karena akses ke telinga tengah sedikit diakibatkan tingginya
viskositas.(26) Penggunaan cresylate dan gentian violet harus dihindari pada pasien dengan
perforasi membran timpani karena memiliki efek iritasi pada mukosa telinga tengah. Serta
menghentikan penggunaan antibiotik topikal bila dicurigai sebagai penyebabnya.Pada pasien
immunocompromised, pengobatan otomikosis haruslebih kuat untuk mencegah komplikasi
seperti hilangnya pendengaran dan infeksi invasif ke tulang temporal.1
Otomikosis terkadang sulit diatasi walaupun telah diobati dengan pengobatan yang
sesuai. Maka dari itu perlu ditentukan apakah kondisi ini akibat penyakit otomikosis itu
sendiri atau berhubungan dengan gangguan sistemik lainnya atau hasil dari gangguan
immunodefisiensi yang mendasari. Pengobatan lain selain medikamentosa yaitu menjaga
telinga tetap kering dan mengarahkan pada kembalinya kondisi fisiologis dengan mencegah
gangguan pada kanalis akustikus eksternus.1

3.8 KOMPLIKASI
Perforasi membran dapat terjadi sebagai komplikasi dari otomikosis yang bermula pada
telinga dengan membran timpani intak. Insidens perforasi timpani pada mikosis ditemukan
menjadi 11%. Perforasi lebih sering terjadi pada otomikosis yang disebabkan oleh Candida
albicans. Kebanyakan perforasi terjadi bagian malleus yang melekat pada membran timpani.
Mekanisme dari perforasi dihubungkan dengan trombosis mikotik dari pembuluh darah
membran timpani, menyebabkan nekrosis avaskuler dari membran timpani. Enam pasien
pada grup immunocompromised mengalami perforasi timpani. Perforasi kecil dan terjadi pada
kuadran posterior dari membran timpani. Biasanya akan sembuh secara spontan dengan
pengobatan medis. Jarang namun jamur dapat menyebabkan otitis eksterna invasif , terutama
pada pasien immunocompromised. Terapi antifungal sistemik yang adekuat sangat diperlukan
pada pasien ini.1

12

Laporan Kasus Otitis Eksterna Fungi (Otomikosis) - Megilda

BAB IV
KESIMPULAN
Diagnosis otitis eksterna fungi atau otomikosis ditegakkan melalui hasil anamnesis
dan pemeriksaan fisik telinga yang dilakukan. Pada anamnesis, pasien mengeluhkan rasa
penuh dan gatal yang merupakan salah satu gejala paling umum dari otitis eksterna fungi.
Pasien juga mengakui kebiasaan mengorek-ngorek telinga sebelumnya menunjukkan bahwa
perjalanan timbulnya otitis eksterna fungi merupakan efek dari trauma lokal akibat kebiasaan
tersebut dan berubahnya kondisi normal dari lingkungan liang telinga, terutama kelembaban
dan pH. Peningkatan pH ini berakibat pada ketidakseimbangan flora normal/komensal dalam
liang telinga yang kemudian menjadi patogen.
Selain itu, pasien juga mengatakan bahwa sebelumnya dirinya pernah berobat dengan
keluhan keluar cairan dari telinga, pada saat itu dokter mengatakan bahwa telinganya
terinfeksi bakteri. Hal ini patut dicurigai sebagai jenis otitis eksterna akibat infeksi bakteri
yang juga menjadi predisposisi otitis eksterna akibat penyebab lain.
13

Laporan Kasus Otitis Eksterna Fungi (Otomikosis) - Megilda

Pada pemeriksaan fisik telinga menggunakan otoskopi terlihat reaksi inflamasi akut
pada kanalis akustikus eksterna. Mukosa kanalis hiperemis dan mengalami edema ringan.
Tampak sekret/debris berwarna putih yang menempel di mukosa kanalis dan sedikit di dekat
membran timpani telinga kiri. Membran timpani pada telinga kiri terlihat agak keruh, refleks
cahaya baik dan tidak ada tanda-tanda inflamasi atau perforasi.
Penanganan ditujukan untuk mengeradikasi jamur penyebab dan mengembalikan
kanalis akustikus eksterna dalam kondisi normalnya serta mengurangi keluhan pasien.
Mukosa kanalis pasien mengalami tanda-tanda inflamasi seperti hiperemis dan edema ringan,
sehingga diberikan antiinflamasi per oral. Pasien juga mengeluhkan rasa gatal pada kedua
telinganya yang mengganggu sehingga diberikan antihistamin. Selanjutnya telinga pasien
ditampon menggunakan salep antifungi mikonazole yang dicampur dengan otopain. Tampon
telinga bertujuan untuk mengeradikasi jamur penyebab sekaligus melebarkan liang telinga
yang menyempit akibat akumulasi sekret/debris jamur dan edema ringan. Dalam kasus ini,
otopain dapat memberikan efek antiinflamasi dan anastesi. Untuk penanganan lanjutan pasien
diberikan obat tetes telinga campuran dari otopain dan fukricin 5% untuk mengeradikasi
jamur. Berdasarkan terapi empiris, tetes telinga campuran ini efektif dan efisien dalam
menangani otitis eksterna fungi. Tetes telinga ini dianjurkan untuk digunakan secara teratur
untuk mencegah terjadinya rekurensi dan resistensi. Tetes telinga ini juga tidak berbahaya
karena pasien tidak mengalami inflamasi atau perforasi pada membran timpani.
Pasien diedukasi untuk datang kembali 2 hari berikutnya, agar dilakukan tampon pada
telinga kanan, mengingat kedua telinga menunjukkan tanda-tanda inflamasi. Edukasi lain
yang sangat penting, yakni pasien harus menjaga agar telinganya tetap kering untuk
sementara waktu hingga keluhan ini membaik. Jika mandi, jangan membasahi kepala dan
daerah telinga, serta menutup lubang telinga menggunakan kapas atau ear plug.
Umumnya prognosis otitis eksterna fungi baik, namun penanganan dan pemantuan
penyakit ini membutuhkan waktu yang lama sehingga kadang-kadang menimbulkan rasa
frustrasi dan ketidaksabaran baik bagi dokter spesialis THT-KL yang menangani dan pasien,
terutama bila pasien memiliki faktor predisposisi tertentu, seperti penyakit penyerta diebetes
melitus tipe 2, pasien tidak kooperatif, atau keadaan imunokompromis yang memudahkan
terjadinya rekurensi.

14

Laporan Kasus Otitis Eksterna Fungi (Otomikosis) - Megilda

BAB V
PENUTUP
Telah dilaporkan suatu laporan kasus tentang otitis eksterna fungi (otomikosis). Otitis
eksterna fungi dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang bila perlu. Berdasarkan tinjauan tersebut telah dibahas mengenai otitis eksterna
fungi meliputi: definisi, epidemiologi, etiologi, patofisiologi, gejala klinis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan penunjang, diagnosis banding, penatalaksaan dan prognosis.
Diharapkan laporan kasus ini dapat dijadikan suatu pedoman dalam mengenal dan mengobati
pasien otitis eksterna fungi, serta mencegahnya agar menjadi komplikasi.

15

Laporan Kasus Otitis Eksterna Fungi (Otomikosis) - Megilda

DAFTAR PUSTAKA

1. Edward Y, Irfandy D. Otomycosis. Available at:


http://repository.unand.ac.id/17717/1/crotomycosis.pdf
2. Anwar K, Gohar MS. Otomycosis: clinical features, presdisposing factors, and treatment
implications. 2014. Available at:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4048507/pdf/pjms-30-564.pdf
3. Chaudhry A. Otomycosis. Available at: http://www.rmc.edu.pk/Otomycosis.pdf
4. Khan F, Muhammad R, Khan MR Rehman F. etc. Effifacy of Topical Clotrimazole in
Treatment of Otomycosis. 2013. Available at: http://www.ayubmed.edu.pk/JAMC/251/Farida.pdf
5. Ahmad A. Ketepatan Diagnosis Otomikosis di Bagian THT R. S. DR.
Ciptomangunkusumo Jakarta. Available at: http://lib.ui.ac.id/file?file=pdf/abstrak78798.pdf

16

Laporan Kasus Otitis Eksterna Fungi (Otomikosis) - Megilda

6. Bhat VS, Bhat SP, Rao H, Bhandary SK. External Ear Infections in Diabetics
Challenges in Management. K S Hedge Medical Academy. 2015. Available at:
http://www.alliedacademies.org/articles/external-ear-infections-in-diabetics-challengesin-management.pdf
7. Satish HS, Viswanatha B, Manjuladevi M. A Clinical Study of Otomycosis. Journal of
Dental and Medical Sciences. 2013. Available at: http://www.iosrjournals.org/iosrjdms/papers/Vol5-issue2/L0525762.pdf
8. Venkataramanan R, Kumar RS. Efficiency of 5 Day Course Oral Itraconazole in
Management of Recurrent Otomycosis in Diabetic Patients- a Randomized Control
Clinical Trial. 2016. Available at: http://www.worldwidejournals.com/paripex.pdf

17

Laporan Kasus Otitis Eksterna Fungi (Otomikosis) - Megilda