Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

EPILEPSI
A. Pengertian
Epilepsi adalah penyakit serebral kronik dengan karekteristik kejang berulang
akibat lepasnya muatan listrik otak yang berlebihan dan bersifat reversibel (Tarwoto,
2007).
Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala
yang datang dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan
listrik abnormal sel-sel saraf otak, yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi
(Arif, 2000).
Epilepsi adalah sindroma otak kronis dengan berbagai macam etiologi dengan
ciri-ciri timbulnya serangan paroksismal dan berkala akibat lepas muatan listrik
neuron-neuron otak secara berlebihan dengan berbagai manifestasi klinik dan
laboratorik (anonim, 2008).
B. Etiologi
Penyebab pada kejang epilepsi sebagian besar belum diketahui (Idiopatik)
Sering terjadi pada:
1. Trauma lahir, Asphyxia neonatorum
2. Cedera Kepala, Infeksi sistem syaraf
3. Keracunan CO, intoksikasi obat/alkohol
4. Demam, ganguan metabolik (hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia)
5. Tumor Otak
6. Kelainan pembuluh darah
Faktor etiologi berpengaruh terhadap penentuan prognosis. Penyebab utama,
ialah epilepsi idopatik, remote symptomatic epilepsy (RSE), epilepsi simtomatik akut,
dan epilepsi pada anak-anak yang didasari oleh kerusakan otak pada saat peri- atau
antenatal. Dalam klasifikasi tersebut ada dua jenis epilepsi menonjol, ialah epilepsi
idiopatik dan RSE. Dari kedua tersebut terdapat banyak etiologi dan sindrom yang
berbeda,

masing-masing

dengan

prognosis

yang

baik

dan

yang

buruk.

Epilepsi simtomatik yang didasari oleh kerusakan jaringan otak yang tampak jelas
pada CT scan atau magnetic resonance imaging (MRI) maupun kerusakan otak yang
tak jelas tetapi dilatarbelakangi oleh masalah antenatal atau perinatal dengan defisit
neurologik yang jelas. Sementara itu, dipandang dari kemungkinan terjadinya
bangkitan ulang pasca-awitan, definisi neurologik dalam kaitannya dengan umur saat
awitan mempunyai nilai prediksi sebagai berikut:
Apabila pada saat lahir telah terjadi defisit neurologik maka dalam waktu 12 bulan
pertama seluruh kasus akan mengalami bangkitan ulang, Apabila defisit neurologik

terjadi pada saat pascalahir maka resiko terjadinya bangkitan ulang adalah 75% pada
12 bulan pertama dan 85% dalam 36 bulan pertama. Kecuali itu, bangkitan pertama
yang terjadi pada saat terkena gangguan otak akut akan mempunyai resiko 40% dalam
12 bulan pertama dan 36 bulan pertama untuk terjadinya bangkitan ulang. Secara
keseluruhan resiko untuk terjadinya bangkitan ulang tidak konstan. Sebagian besar
kasus menunjukan bangkitan ulang dalam waktu 6 bulan pertama.
Epilepsi dapat dibagi dalam tiga golongan utama antara lain:
a. Epilepsi Grand Mal
Epilepsi grand mal ditandai dengan timbulnya lepas muatan listrik yang
berlebihan dari neuron diseluruh area otak-di korteks, di bagian dalam serebrum,
dan bahkan di batang otak dan talamus. Kejang grand mal berlangsung selama 3
atau 4 menit.
b. Epilepsi Petit Mal
Epilepsi ini biasanya ditandai dengan timbulnya keadaan tidak sadar atau
penurunan kesadaran selama 3 sampai 30 detik, di mana selama waktu serangan
ini penderita merasakan beberapa kontraksi otot seperti sentakan (twitchlike),biasanya di daerah kepala, terutama pengedipan mata.
c. Epilepsi Fokal
Epilepsi fokal dapat melibatkan hampir setiap bagian otak, baik regio setempat
pada korteks serebri atau struktur-struktur yang lebih dalam pada serebrum dan
batang otak. Epilepsi fokal disebabkan oleh resi organik setempat atau adanya
kelainan fungsional.
C. PATOFISIOLOGI.
Menurut para penyelidik bahwa sebagian besar bangkitan epilepsi berasal dari
sekumpulan sel neuron yang abnormal di otak, yang melepas muatan secara
berlebihan dan hypersinkron. Kelompok sel neuron yang abnormal ini, yang disebut
juga sebagai fokus epileptik mendasari semua jenis epilepsi, baik yang umum maupun
yang fokal (parsial). Lepas muatan listrik ini kemudian dapat menyebar melalui jalurjalur fisiologis-anatomis dan melibatkan daerah disekitarnya atau daerah yang lebih
jauh letaknya di otak. Tidak semua sel neuron di susunan saraf pusat dapat
mencetuskan bangkitan epilepsi klinik, walaupun ia melepas muatan listrik
berlebihan. Sel neuron diserebellum di bagian bawah batang otak dan di medulla
spinalis, walaupun mereka dapat melepaskan muatan listrik berlebihan, namun posisi
mereka menyebabkan tidak mampu mencetuskan bangkitan epilepsi. Sampai saat ini
belum terungkap dengan pasti mekanisme apa yang mencetuskan sel-sel neuron untuk
melepas muatan secara sinkron dan berlebihan (mekanisme terjadinya epilepsi).
Secara Patologi fenomena biokimia sel saraf yang menandai epilepsi :

1. Ketidakstabilan membran sel saraf.


2. Neuron hypersensitif dengan ambang menurun.
3. Polarisasi abnormal.
4. Ketidakseimbangan ion.
D. Pathways

E. Manifestasi klinik
1. Gejala kejang yang spesifik akan tergantung pada macam kejangnya. Jenis kejang
dapat bervariasi antar pasien, namun cendenrung serupa.
2. Kejang komplek parsial dpat termasuk gambaran somatosensori atau motor fokal.
3. Kejang komplek parsial dikaitkan dengan perubahan kesadaran.
4. Ketiadaan kejang dapat tampak relative ringan, dengan periode perubahan
kesadaran sangat singkat (detik).
5. Kejang tonik klonik umum merupakan episode konvulsif utama dan selalu
dikaitkan dengan kehilangan kesadaran.
F. Klasifikasi kejang

1. Kejang Parsial
a. Parsial Sederhana
Gejala dasar, umumnya tanpa gangguan kesadaran. Misal: hanya satu jari atau
tangan yang bergetar, mulut tersentak dengan gejala sensorik khusus atau
somatosensorik seperti: mengalami sinar, bunyi, bau atau rasa yang tidak
umum/tdk nyaman
b. Parsial Kompleks
Dengan gejala kompleks, umumnya dengan ganguan kesadaran. Dengan gejala
kognitif, afektif, psiko sensori, psikomotor. Misalnya: individu terdiam tidak
bergerak atau bergerak secara automatik, tetapi individu tidak ingat kejadian
tersebut setelah episode epileptikus tersebut lewat
2. Kejang Umum (grandmal)
Melibatkan kedua hemisfer otak yang menyebabkan kedua sisi tubuh bereaksi
Terjadi kekauan intens pada seluruh tubuh (tonik) yang diikuti dengan kejang yang
bergantian dengan relaksasi dan kontraksi otot (Klonik) Disertai dengan penurunan
kesadaran, kejang umum terdiri dari:
a. Kejang Tonik-Klonik
b. Kejang Tonik : keadaan kontinyu
c. Kejang Klonik : Kontraksi otot mengejang
d. Kejang Atonik : Tidak adanya tegangan otot
e. Kejang Myoklonik : kejang otot yang klonik
f. Spasme kelumpuhan
g. Tidak ada kejang
h. Kejang Tidak Diklasifikasikan/ digolongkan karena datanya tidak lengkap.
G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pungsi Lumbal
Pungsi lumbal adalah pemeriksaan cairan serebrospinal (cairan yang ada di otak
dan kanal tulang belakang) untuk meneliti kecurigaan meningitis. Pemeriksaan ini
dilakukan setelah kejang demam pertama pada bayi.
a. Memiliki tanda peradangan selaput otak (contoh : kaku leher)
b. Mengalami complex partial seizure
c. Kunjungan ke dokter dalam 48 jam sebelumnya (sudah sakit dalam 48 jam
sebelumnya)
d. Kejang saat tiba di IGD (instalasi gawat darurat)
e. Keadaan post-ictal (pasca kejang) yang berkelanjutan. Mengantuk hingga
sekitar 1 jam setelah kejang demam adalah normal.
f. Kejang pertama setelah usia 3 tahun
Pada anak dengan usia > 18 bulan, pungsi lumbar dilakukan jika tampak tanda
peradangan selaput otak, atau ada riwayat yang menimbulkan kecurigaan infeksi
sistem saraf pusat. Pada anak dengan kejang demam yang telah menerima terapi
antibiotik sebelumnya, gejala meningitis dapat tertutupi, karena itu pada kasus
seperti itu pungsi lumbar sangat dianjurkan untuk dilakukan.

2. EEG (electroencephalogram)
EEG adalah pemeriksaan gelombang otak untuk meneliti ketidaknormalan
gelombang. Pemeriksaan ini tidak dianjurkan untuk dilakukan pada kejang demam
yang baru terjadi sekali tanpa adanya defisit (kelainan) neurologis. Tidak ada
penelitian yang menunjukkan bahwa EEG yang dilakukan saat kejang demam atau
segera setelahnya atau sebulan setelahnya dapat memprediksi akan timbulnya
kejang tanpa demam di masa yang akan datang. Walaupun dapat diperoleh
gambaran gelombang yang abnormal setelah kejang demam, gambaran tersebut
tidak bersifat prediktif terhadap risiko berulangnya kejang demam atau risiko
epilepsi.
3. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan seperti pemeriksaan darah rutin, kadar elektrolit, kalsium, fosfor,
magnsium, atau gula darah tidak rutin dilakukan pada kejang demam pertama.
Pemeriksaan laboratorium harus ditujukan untuk mencari sumber demam, bukan
sekedar sebagai pemeriksaan rutin.
4. Neuroimaging
Yang termasuk dalam pemeriksaan neuroimaging antara lain adalah CT-scan dan
MRI kepala. Pemeriksaan ini tidak dianjurkan pada kejang demam yang baru
terjadi untuk pertama kalinya.
H. Pencegahan
Upaya sosial luas yang menggabungkan tindakan luas harus ditingkatkan untuk
pencegahan epilepsi. Resiko epilepsi muncul pada bayi dari ibu yang menggunakan
obat antikonvulsi yang digunakan sepanjang kehamilan. Cedera kepala merupakan
salah satu penyebab utama yang dapat dicegah. Melalui program yang memberi
keamanan yang tinggi dan tindakan pencegahan yang aman, yaitu tidak hanya dapat
hidup aman, tetapi juga mengembangkan pencegahan epilepsi akibat cedera kepala.
Ibu-ibu yang mempunyai resiko tinggi (tenaga kerja, wanita dengan latar belakang
sukar melahirkan, pengguna obat-obatan, diabetes, atau hipertensi) harus di
identifikasi dan dipantau ketat selama hamil karena lesi pada otak atau cedera
akhirnya menyebabkan kejang yang sering terjadi pada janin selama kehamilan dan
persalinan.
Program skrining untuk mengidentifikasi anak gangguan kejang pada usia dini, dan
program pencegahan kejang dilakukan dengan penggunaan obat-obat anti konvulsan
secara bijaksana dan memodifikasi gaya hidup merupakan bagian dari rencana
pencegahan ini.

I. Pengobatan
Pengobatan epilepsi adalah pengobatan jangka panjang. Penderita akan diberikan obat
antikonvulsan untuk mengatasi kejang sesuai dengan jenis serangan. Penggunaan obat
dalam waktu yang lama biasanya akan menyebabkan masalah dalam kepatuhan
minum obat (compliance) seta beberapa efek samping yang mungkin timbul seperti
pertumbuhan gusi, mengantuk, hiperaktif, sakit kepala, dll. Penyembuhan akan terjadi
pada 30-40% anak dengan epilepsi. Lama pengobatan tergantung jenis epilepsi dan
etiologinya. Pada serangan ringan selama 2-3th sudah cukup, sedang yang berat
pengobatan bisa lebih dari 5th. Penghentian pengobatan selalu harus dilakukan secara
bertahap. Tindakan pembedahan sering dipertimbangkan bila pengobatan tidak
memberikan efek sama sekali. Penanganan terhadap anak kejang akan berpengaruh
terhadap kecerdasannya. Jika terlambat mengatasi kejang pada anak, ada
kemungkinan

penyakit

epilepsi,

atau

bahkan

keterbalakangan

mental.

Keterbelakangan mental di kemudian hari. Kondisi yang menyedihkan ini bisa


berlangsung seumur hidupnya.
J. KOMPLIKASI
1. Kerusakan otak akibat hipeksia dan retardasi mental dapat timbul akibat kejang
yang berulang
2. Dapat timbul depresi dan keadaan cemas ( Elizabeth, 2001 : 174 )
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Biodata : Nama ,umur, seks, alamat, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan, dan
penanggungjawabnya.
Usia: Penyakit epilepsi dapat menyerang segala umur
Pekerjaan: Seseorang dengan pekerjaan yang sering kali menimbulkan stress dapat
memicu terjadinya epilepsi.
Kebiasaan yang mempengaruhi: peminum alcohol (alcoholic)
b. Keluhan utama: Untuk keluhan utama, pasien atau keluarga biasanya ketempat
pelayanan kesehatan karena klien yang mengalami penurunan kesadaran secara
tiba-tiba disertai mulut berbuih. Kadang-kadang klien / keluarga mengeluh anaknya
prestasinya tidak baik dan sering tidak mencatat. Klien atau keluarga mengeluh
anaknya atau anggota keluarganya sering berhenti mendadak bila diajak bicara.
c. Riwayat penyakit sekarang: kejang, terjadi aura, dan tidak sadarkan diri.
d. Riwayat penyakit dahulu:

Trauma lahir, Asphyxia neonatorum

Cedera Kepala, Infeksi sistem syaraf

Ganguan metabolik (hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia)

Tumor Otak

Kelainan pembuluh darah

demam,

stroke

gangguan tidur

penggunaan obat

hiperventilasi

stress emosional

e. Riwayat penyakit keluarga: Pandangan yang mengatakan penyakit ayan merupakan


penyakit keturunan memang tidak semuanya keliru, sebab terdapat dugaan terdapat
4-8% penyandang ayan diakibatkan oleh faktor keturunan.
f. Riwayat psikososial
-

Intrapersonal : klien merasa cemas dengan kondisi penyakit yang diderita.

Interpersonal : gangguan konsep diri dan hambatan interaksi sosial yang


berhubungan dengan penyakit epilepsi (atau ayan yang lebih umum di
masyarakat).

g. Pemeriksaan fisik (ROS)


1) B1 (breath): RR biasanya meningkat (takipnea) atau dapat terjadi apnea,
aspirasi
2) B2 (blood): Terjadi takikardia, cianosis
3) B3 (brain): penurunan kesadaran
4) B4 (bladder): oliguria atau dapat terjadi inkontinensia urine
5) B5 (bowel): nafsu makan menurun, berat badan turun, inkontinensia alfi
6) B6 (bone): klien terlihat lemas, dapat terjadi tremor saat menggerakkan
anggota tubuh, mengeluh meriang
h. Analisis Data
Data
DS:
DO:

Etiologi
Masalah Keperawatan
perubahan aktivitas listrik di Resiko cedera
pasien

menendang-

kejang

(kaki otak

nendang, Keseimbangan terganggu

ekstrimitas atas fleksi), gigi gerakan tidak terkontrol


geligi terkunci, lidah menjulur
DS: sesak,

gangguan nervus V, IX, X

Bersihan

DO:apnea, cianosis

lidah melemah

efektif

jalan

napas

menutup saluran trakea


Adanya obstruksi
DS: terjadi aura (mendengar Terjadi depolarisasi berlebih
bunyi

yang

melengking

Gangguan persepsi sensori

di Bangkitan listrik di bagian otak

telinga, bau- bauan, melihat serebrum


sesuatu), halusinasi, perasaan Menyebar ke nervus- nervus
bingung, melayang2.

Mempengaruhi aktivitas organ

DO: penurunan respon terhadap sensori persepsi


stimulus, terjadi salah persepsi
DS: klien terlihat rendah diri Stigma masyarakat yang buruk Isolasi sosial
saat berinteraksi dengan orang tentang penyakit epilepsi atau
lain

ayan

DO:menarik diri

Klien merasa rendah diri

DS:

klien

terlihat

Menarik diri
cemas, Terjadi kejang epilepsi

gelisah.

Kurang

pengetahuan

Ansietas
tentang

DO: takikardi, frekuensi napas kondisi penyakit


cepat atau tidak teratur
DS: pasien mengeluh sesak

Bingung
Terjadi bangkitan listrik di otak Ketidakefektifan pola napas

DO: RR meningkat dan tidak Menyebar ke daerah medula


teratur,

oblongata
Mengganggu pusat respiratori

Mempengaruhi pola napas


DS: klien merasa lemas, klien terjadi bangkitan listrik di otak Intoleransi aktivitas
mengeluh

cepat

lelah

saat menyebar ke MO

melakukan aktivitas

mengganggu

DO:takikardi, takipnea,

kardiovaskular

pusat

takikardia
CO menurun
Suplai darah (O2) ke jaringan

tidak

menurun
metabolisme

aerob

menjadi

anaerob
ATP dari 38 menjadi 2
kelelahan
DS:

pasien

intoleransi aktifitas
menunjukkan
CO menurun

Resiko

penurunan

perfusi

kelelahan, diam, tidak banyak Suplai darah ke otak berkurang serebral


bergerak
DO:

Iskemia jaringan serebral (O2

penurunan

kesadaran, tidak adekuat)

penurunan kemampuan persepsi


sensori, tidak ada reflek
2. Diagnosa Keperawatan
1) Resiko

cedera

b.d

aktivitas

kejang

yang

tidak

terkontrol

(gangguan

keseimbangan).
2) Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sumbatan lidah di
endotrakea, peningkatan sekresi saliva
3) Isolasi sosial b.d rendah diri terhadap keadaan penyakit dan stigma buruk
penyakit epilepsi dalam masyarakat
4) Ketidakefektifan pola napas b.d dispnea dan apnea
5) Intoleransi aktivitas b.d penurunan kardiac output, takikardia
6) Gangguan persepsi sensori b.d gangguan pada nervus organ sensori persepsi
7) Ansietas b.d kurang pengetahuan mengenai penyakit
8) Resiko penurunan perfusi serebral b.d penurunan suplai oksigen ke otak
3. Intervensi dan rasional
1) Resiko

cedera

b.d

aktivitas

kejang

yang

tidak

terkontrol

(gangguan

keseimbangan).
Tujuan : Klien dapat mengidentifikasi faktor presipitasi serangan dan dapat
meminimalkan/menghindarinya, menciptakan keadaan yang aman untuk klien,
menghindari adanya cedera fisik, menghindari jatuh
Kriteria hasil : tidak terjadi cedera fisik pada klien, klien dalam kondisi aman,
tidak ada memar, tidak jatuh
Intervensi

Rasional

Observasi:
Identivikasi factor lingkungan yang Barangmemungkinkan

resiko

barang

di

sekitar

pasien

dapat

terjadinya membahayakan saat terjadi kejang

cedera
Pantau status neurologis setiap 8 jam

Mengidentifikasi

perkembangan

atau

penyimpangan hasil yang diharapkan


Mandiri
Jauhkan benda- benda yang dapat

Mengurangi terjadinya cedera seperti akibat

mengakibatkan terjadinya cedera pada aktivitas kejang yang tidak terkontrol


pasien saat terjadi kejang
Pasang penghalang tempat

tidur Penjagaan untuk keamanan, untuk mencegah

pasien
cidera atau jatuh
Letakkan pasien di tempat yang Area yang rendah dan datar dapat mencegah
rendah dan datar
terjadinya cedera pada pasien
Tinggal bersama pasien dalam waktu Memberi penjagaan untuk keamanan pasien untuk
beberapa lama setelah kejang
Menyiapkan kain lunak

kemungkinan terjadi kejang kembali


untuk Lidah berpotensi tergigit saat kejang karena

mencegah terjadinya tergigitnya lidah menjulur keluar


saat terjadi kejang
Tanyakan pasien bila ada perasaan Untuk mengidentifikasi manifestasi awal sebelum
yang

tidak

biasa

yang

dialami terjadinya kejang pada pasien

beberapa saat sebelum kejang


Kolaborasi:
Berikan obat anti konvulsan sesuai

Mengurangi

aktivitas

kejang

yang

advice dokter

berkepanjangan, yang dapat mengurangi suplai


oksigen ke otak

Edukasi:
Anjurkan pasien untuk memberi tahu

Sebagai informasi pada perawat untuk segera

jika merasa ada sesuatu yang tidak melakukan tindakan sebelum terjadinya kejang
nyaman, atau mengalami sesuatu yang berkelanjutan
tidak

biasa

sebagai

terjadinya kejang.
Berikan informasi

pada

permulaan
keluarga Melibatkan keluarga untuk mengurangi resiko

tentang tindakan yang harus dilakukan cedera


selama pasien kejang

2) Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sumbatan lidah di


endotrakea, peningkatan sekresi saliva
Tujuan : jalan nafas menjadi efektif
Kriteria hasil : nafas normal (16-20 kali/ menit), tidak terjadi aspirasi, tidak ada
dispnea
Intervensi
Mandiri

Rasional

Anjurkan klien untuk mengosongkan mulut menurunkan resiko aspirasi atau masuknya
dari benda / zat tertentu / gigi palsu atau alat sesuatu benda asing ke faring.
yang lain jika fase aura terjadi dan untuk
menghindari rahang mengatup jika kejang
terjadi tanpa ditandai gejala awal.
Letakkan pasien dalam posisi miring, meningkatkan
permukaan datar

aliran

(drainase)

sekret,

mencegah lidah jatuh dan menyumbat jalan

nafas
Tanggalkan pakaian pada daerah leher / untuk

memfasilitasi

dada dan abdomen

ekspansi dada

Melakukan suction sesuai indikasi

Mengeluarkan

usaha

mukus

bernafas

yang

berlebih,

menurunkan resiko aspirasi atau asfiksia.

Kolaborasi

Membantu memenuhi kebutuhan oksigen

Berikan oksigen sesuai program terapi

agar tetap adekuat, dapat menurunkan


hipoksia

serebral

sirkulasi

yang

sebagai

menurun

akibat
atau

dari

oksigen

sekunder terhadap spasme vaskuler selama


serangan kejang.

3) Isolasi sosial b.d rendah diri terhadap keadaan penyakit dan stigma buruk
penyakit epilepsi dalam masyarakat
Tujuan: mengurangi rendah diri pasien
Kriteria hasil:
-

adanya interaksi pasien dengan lingkungan sekitar

menunjukkan adanya partisipasi pasien dalam lingkungan masyarakat

Intervensi
Observasi:

Rasional

Identifikasi dengan pasien, factor- factor

Memberi informasi pada perawat tentang

yang berpengaruh pada perasaan isolasi factor yang menyebabkan isolasi sosial pasien
sosial pasien
Mandiri
Memberikan dukungan psikologis dan

Dukungan psikologis dan motivasi dapat

motivasi pada pasien


Kolaborasi:

membuat pasien lebih percaya diri

Kolaborasi dengan tim psikiater

Konseling

Rujuk

pasien/

orang

terdekat

dapat

membantu

mengatasi

perasaan terhadap kesadaran diri sendiri.


pada Memberikan kesempatan untuk mendapatkan

kelompok penyokong, seperti yayasan informasi, dukungan ide-ide untuk mengatasi


epilepsi dan sebagainya.

masalah

dari

orang

lain

yang

telah

mempunyai pengalaman yang sama.


Edukasi:
Anjurkan

keluarga

untuk

motivasi kepada pasien

memberi

Keluarga sebagai orang terdekat pasien,


sangat mempunyai pengaruh besar dalam
keadaan psikologis pasien

Memberi informasi pada keluarga dan Menghilangkan


teman

dekat

pasien

epilepsi tidak menular

bahwa

stigma

buruk

terhadap

penyakit penderita epilepsi (bahwa penyakit epilepsi


dapat menular).

4) Ketidakefektifan pola napas b.d dispnea dan apnea


Tujuan
: sesak napas berkurang
Kriteria Hasil: Bebas sianosis dan tanda/ gejala hipoksia
Intervensi :
1. Awasi kesesuaian pola pernapasan bila menggunakan ventilasi mekanik, catat
perubahan tekanan udara.
R/ Kesulitan bernafas dengan ventilator atau peningkatan tekanan jalan nafas
diduga terjadi komplikasi.
2. Auskultasi bunyi nafas
R/ Area atelektasis tak ada bunyi nafas dan sebagian area kolaps menurun
bunyinya. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui pertukaran gas dan memberi
data evaluasi perbaikan pneumothoraks.
3. Kaji pasien adanya area nyeri, nyeri tekan bila batuk.

R/ Sokongan terhadap dada dan otot abdominal membuat batuk lebih efektif
atau mengurangi trauma.
4. Evaluasi fungsi pernapasan, catat kecepatan/ pernapasan sesak, dispnea,
terjadinya sianosis, perubahan tanda vital.
R/ Distres pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai
akibat stres fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syok
sehubungan dengan hipoksia / perdarahan.
5. Catat pengembangan dada dan posisi trakea
R/ Pengembangan dada sama dengan ekspansi paru. Deviasi trakea dari area
sisi yang sakit pada tension pneumotoraks.
6. Bila dipasang selang dada pada pasien, evaluasi ketidaknormalan atau
kontinuitas gelembung botol penampung.
R/ Tak adanya gelembung udara dapat menunjukkan ekspansi paru lengkap
(normal) atau tidak adanya komplikasi.
Kolaborasi
a. Kaji hasil foto thoraks
R/ Mengidentifikasi kesalahan posisi selang endotrakeal, mempengaruhi
inflamasi paru.
b. Awasi hasil Gas Darah
R/ Mengkaji status pertukaran gas dan ventilasi
c. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.
R/ Untuk menurunkan kerja nafas dan menghilangkan distres respirasi dan
sianosis
5) Intoleransi aktivitas b.d penurunan kardiac output, takikardia
Tujuan :
Terjadi peningkatan toleransi pada klien setelah dilaksanakan tindakan
keperawatan selama di RS.
Kriteria Hasil :
- klien berpartisipasi dalam aktifitas sesuai kemampuan klien
- frekuensi jantung 60-100 x/ menit
- TD 120-80 mmHg
Intervensi :
1. Catat frekuensi jantung, irama, dan perubahan TD selama dan sesudah
aktifitas
2. Tingkatkan istirahat ( di tempat tidur )
3. Batasi aktifitas pada dasar nyeri dan berikan aktifitas sensori yang tidak
berat.
4. Jelaskan pola peningkatan bertahap dari tingkat aktifitas, contoh bengun
dari kursi bila tidak ada nyeri, ambulasi dan istirahat selam 1 jam setelah
mkan.
5. Kaji ulang tanda gangguan yang menunjukan tidak toleran terhadap
aktifitas atau memerlukan pelaporan pada dokter.

4. Evaluasi
a. Pasien tidak mengalami cedera, tidak jatuh, tidak ada memar
b. Tidak ada obstruksi lidah, pasien tidak mengalami apnea dan aspirasi
c. Pasien dapat berinteraksi kembali dengan lingkungan sekitar, pasien tidak
menarik diri (minder)
d. Pola napas normal, TTV dalam batas normal
e. Pasien toleran dengan aktifitasnya, pasien dapat melakukan aktifitas sehari- hari
secara normal
f. Organ sensori dapat menerima stimulus dan menginterpretasikan dengan normal
g. Ansietas pasien dan keluarga berkurang, pasien tampak tenang
h. Status kesadaran pasien membaik

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. 2006. Buku saku Diagnosa Keperawatan Edisi 10. Jakarta : EGC.
Doenges, Marilyn. E. 2000, Rencana Asuhan Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran :
EGC, Jakarta.
Smeltzer. 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Vol 3. EGC, Jakarta.
Sri D, Bambang. 2007. Epilepsi. Buku Ajar Ilmu Penyakit Syaraf PSIK UNSOED
Tarwoto. 2007. Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem Persarafan, Jakarta : CV.
Sagung Seto.
http://anajem.blogspot.co.id/2013/05/askep-epilepsi.html diakses pada tanggal 29 Februari
2016 pukul 11:22