Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Kanker merupakan penyakit akibat pertumbuhan tidak normal
dari sel-sel jaringan tubuh, yang dalam perkembanganya sel tersebut berubah
menjadi sel kanker. Sel-sel kanker dapat menyebar kebagian tubuh lainnya
sehingga dapat menyebabkan kematian. Penyakit kanker merupakan salah satu
penyebab kematian utama di seluruh dunia. Pada tahun 2012, sekitar 8,2 juta
kematian disebabkan oleh kanker. Lebih dari 30% dari kematian akibat kanker
disebabkan oleh lima faktor risiko perilaku dan pola makan, yaitu indeks massa
tubuh tinggi, kurang konsumsi buah dan sayur, kurang aktivitas fisik,
penggunaan rokok dan konsumsi alkohol berlebihan. Secara nasional prevalensi
penyakit kanker pada penduduk semua umur di Indonesia tahun 2013 sebesar
1,4 atau diperkirakan sekitar 347.792 orang. Provinsi D.I. Yogyakarta
memiliki prevalensi tertinggi untuk penyakit kanker, yaitu sebesar 4,1%.
Berdasarkan estimasi jumlah penderita kanker Provinsi Jawa Tengah dan
Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi dengan estimasi penderita kanker
terbanyak, yaitu sekitar 68.638 dan 61.230 orang.
Kanker memiliki berbagai macam jenis dengan berbagai akibat
dan salahsatu jenis kanker adalah kanker serviks. Kanker Serviks adalah tumor
ganas yang tumbuh di dalam leher rahim atau serviks. Kanker serviks biasanya
menyerang wanita berusia 35-55 tahun. 90% dari kanker serviks berasal dari sel
skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar
penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke dalam rahim. Penyakit
kanker serviks merupakan penyakit kanker dengan prevalensi tertinggi di
Indonesia pada tahun 2013 yakni sebesar 0,8. Provinsi Kepulauan Riau,
Provinsi Maluku Utara dan Provinsi D.I. Yogyakarta memiliki prevalensi kanker
serviks tertinggi yaitu sebesar 1,5. Berdasarkan estimasi jumlah penderita
kanker serviks terbanyak terdapat pada Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Jawa
Tengah.
Kanker serviks terjadi mulai dari dekade ke-2 kehidupan. Insidens puncak
pada usia 45 tahun untuk kanker invasif dan 30 tahun untuk lesi prekanker. Di
1

negara berkembang seperti di negara Indonesia, puncak insidens kanker serviks


terdapat pada usia 35-45 tahun. Penurunan puncak insidens kanker serviks
diperkirakan akibat adanya program skrinning aktif yang bertujuan mendeteksi
lesi prekanker sedini mungkin dari faktor risiko lain seperti perilaku seksual dan
paritas
Kanker serviks di Indonesia menjadi masalah besar dalam pelayanan
kesehatan karena kebanyakan pasien datang dalam stadiun yang lanjut. Hal itu
diperkirakan akibat program skrining yang sifatnya masih kurang. Kanker pada
stadium lanjut mempunyai tingkat proliferasi yang lebih cepat dan waktu
pembelahan yang lebih singkat. Kanker serviks yang progesif terutama terjadi
pada perempuan yang berusia lebih tua.
1.2

Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Ca Serviks ?
2. Apa etiologi dari Ca Serviks ?
3. Bagaimana anatomi dan fisiologi rahim ?
4. Bagaimana patofisiologi dari Ca Serviks ?
5. Bagaimana POC dari Ca Serviks ?
6. Bagaimana manifestasi dari Ca Serviks ?
7. Bagaimana komplikasi dari Ca Serviks ?
8. Bagaimana prognosis dari Ca Serviks
9. Bagaimana pemeriksaan diagnostik dari Ca Serviks ?
10.Bagaimana penatalaksanaan pengobatan dari Ca Serviks ?
11.Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan Ca Serviks ?

1.3

Tujuan
1. Mahasiswa mampu memahami pengertian dari Ca Serviks
2. Mahasiswa mampu memahami etiologi dari Ca Serviks
3. Mahasiswa mampu memahami anatomi dan fisiologi rahim
4. Mahasiswa mampu memahami patofisiologi dari Ca Serviks
5. Mahasiswa mampu memahami POC dari Ca Serviks
6. Mahasiswa mampu memahami manifestasi klinis dari Ca Serviks
7. Mahasiswa mampu memahami komplikasi dari Ca Serviks
8. Mahasiswa mampu memahami prognosis dari Ca Serviks
9. Mahasiswa mampu memahami pemeriksaan diagnostik dari Ca Serviks
10.Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan pengobatan dari Ca Serviks
11.Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan pada klien dengan Ca
Serviks

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi
Kanker serviks adalah tumor ganas yang tumbuh didalam leher rahim atau
serviks yang terdapat pada bagian terendah dari rahim yang menempel pada
puncak vagina. (Diananda, Rama. 2009).
Kanker serviks merupakan gangguan pertumbuhan seluler dan merupakan
kelompok penyakit yang dimanifestasikan dengan gagalnya untuk mengontrol
proliferasi dan maturasi sel pada jaringan serviks. Kanker serviks biasanya
menyerang wanita berusia 35 - 55 tahun, 90% dari kanker serviks berasal dari
sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju kedalam rahim.
(Sarjadi. 2001).

Dari beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli maka dapat
disimpulkan bahwa kanker serviks adalah pertumbuhan sel yang abnormal yang
terdapat pada organ reproduksi wanita yaitu serviks atau bagian terendah dari
rahim yang menempel pada puncak vagina.
2.2 Etiologi
Kanker serviks terjadi jika sel - sel serviks menjadi abnormal dan membelah
secara tidak terkendali, jika sel - sel serviks terus membelah, maka akan
terbentuk suatu masa jaringan yang disebut tumor yang bisa bersifat jinak atau
ganas, jika tumor tersebut ganas maka keadaannya disebut kanker serviks.
Penyebab terjadinya kelainan pada sel - sel serviks tidak diketahui secara
pasti, tetapi terdapat beberapa faktor resiko yang berpengaruh terhadap
terjadinya kanker serviks yaitu :
1. HPV ( Human Papiloma Virus )
HPV adalah DNA virus yang menimbulkan poliferasi pada permukaan
epidermal dan mukosa yang biasa disebut kutil genetalis (Kandiloma
Akuminata) yang ditularkan melalui hubungan seksual. HPV tipe 16, 18, 31,
33, 35, 45, 51, 52, 56 dan 58 sering ditemukan pada kanker dan lesi
prakanker.
2. Merokok
Tembakau mengandung bahan-bahan karsiogenik baik yang dihisap
maupun yang dikunyah. Asap rokok menghasilkan Polycylic Aromatic
Hydrocarbons Heterocyclic Amine yang sangat karsinogen dan mutagen,
sedangkan apabila dikunyah ia akan mengahasilkan Netrosamie. Pada wanita
perokok konsentrasi nikotin pada getah servik 56 kali lebih tinggi
dibandingkan di dalam serum, efek langsung bahan tersebut pada serviks
adalah menurunkan status imun lokal sehingga dapat menjadi kokarsinogen
infeksi virus.
3. Perilaku Seksual
Kanker serviks skuamosa berhubungan kuat dengan prilaku seksual,
seperti berganti-ganti pasangan dan usia melakukan hubungan seks yang
pertama terlalu dini. Resiko meningkat lebih dari sepuluh kali bila mitra seks
6 atau lebih dan jika hubungan seks pertama dilakukan dibawah umur 15
tahun. Resiko akan meningkat apabila berhubungan seks dengan pria yang

berisiko tinggi mengidap kandiloma akuminatrum, pria yang beresiko adalah


pria yang sering melakukan hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan.
4. Pemakaian Pil KB
Kontrasepsi oral yang dipakai dalam jangka panjang yaitu lebih dari lima
tahun dapat meningkatkan resiko relatif 1,53 kali. WHO melaporkan resiko
relative pada pemakaian kontrasepsi oral sebesar 1,19 kali dan meningkat
sesuai dengan lamanya pemakaian.
5. Golongan ekonomi lemah.
Dikaitkan dengan ketidakmampuan dalam melakukan tes pap smear secara
rutin dan pendidikan yang rendah.
2.3 Anatomi dan Fisiologi Rahim
Anatomi alat kandungan di bedakan menjadi 2 yaitu genetalia eksterna dan
genetalia interna (Sobatta, 2006)
Genetalia eksterna terdiri atas :
a. Monsveneris
Bagian yang menonjol bagian simfisis yang terdiri dari jaringan
lemak,daerah ini di tutup bulu pada masa pubertas.
b. Vulva
Adalah tempat bermuara sistem urogenital. Di sebelah luar vulva
dilingkari oleh labia mayora (bibir besar) yang ke belakang, menjadi satu
dan membentuk kommisura posterior dan pereniam. Di bawah kulitnya
terdapat jaringan lemak seperti yang ada di mons veneris.
c. Labia Mayora
Labia mayora (bibir besar) adalah dua lipatan besar yang membatasi
vulva, terdiri atas kulit, jaringan ikat, lemak dan kelenjar sebasca. Saat
pubertas tumbuh rambut di mons veneris dan pada sisi lateral.
d. Labia Minora
Labia minora ( bibir kecil ) adalah dua lipatan kecil diantara labia
mayora dengan banyak kelenjar sebasea. Celah diantara labia minora adalah
vestibulum.
e. Vestibulum
Vestibulum merupakan rongga yang berada diantara bibir kecil (labia
minora), maka belakang di batasi oleh klitoris dan perenium, dalam

vestibulum terdapat muara muara dari liang senggama (introetus vagina


uretra, kelenjar bartholimi dan kelenjar skene kiri dan kanan).
f. Himen (selaput dara)
Lapisan tipis yang menutupi sebagian besar liang senggama
ditengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi dapat mengalir keluar,
letaknya mulut vagina. Pada bagian ini bentuknya berbeda-beda ada yang
seperti bulan sabit, konsistensi ada yang kaku dan yang lunak, lubangnya
ada seujung jari, ada yang dapat dim lalui satu jari.
g. Perenium
Terbentuk dari korpus perinium, titik tentu otot-otot dasar panggul yang
ditutupi oleh kulit perenium.
Genitalia Interna, terdiri atas :
a. Vagina
Tabung yang di lapisi membran dari jenis-jenis epitelium bergaris,
khusus dialiri banyak pembuluh darah dan serabut saraf. Panjangnya dari
vestibulum sampai uterus 7, 5 cm Merupakan penghubung antara introitus
vagina dan uterus. Dinding depan liang senggama (vagina) 9 cm, lebih
pendek dari dinding belakang. Pada puncak vagina sebelah dalam berlipatlipat disebut rugae.
b. Uterus
Organ yang tebal,berotot berbentuk buah pir,terletak di dalam pelvis
antara rectum di belakang dan kandung kemih di depan, ototnya disebut
miometrium. Uterus terapung di dalam pelvis dengan jaringan ikat dan
ligament. Panjang uterus 7, 5 cm, lebar 5 cm, tebal 2 cm. Berat 59 gr, dan
berat 30-60 gr. Uterus terdiri dari :
1. Fundus uteri (dasar rahim )
Bagian uterus yang terletak antara pangkal saluran telur. Pada
pemeriksaan kahamilan, perabaan fundus uteri dapat memperkirakan
usia kehamilan.
2. Korpus uteri

Bagian uterus yang terbesar pada kehamilan,bagian ini berfungsi


sebagai tempat janin berkembang. Rongga yang terdapat pada korpus
uteri di sebut kavum uteri atau rongga rahim.
3. Servik uteri
Ujung servik yang menuju puncak vagina disebut porsio,hubungan
antara kavum uteri dan kanalis servikalis disebut ostium uteri internum.
Lapisan-lapisan uterus, meliputi :
1. Endometrium
2. Myometrium
3. Parametium
c. Ovarium
Merupakan kelenjar berbentuk kenari, terletak kiri dan kanan uterus di
bawah merupakan tuba uterine dan terikat di sebelah belakang oleh
ligamentum latum uterus.
d. Tuba fallopi
Tuba fallopi di lapisi oleh epitel bersilia yang tersusun dalam banyak
lipatan sehingga memperlambat perjalanan ovum ke dalam uterus. Sebagian
sel tuba mensekresikan cairan serosa yang memberikan nutrisi pada
ovum.Tuba fallopi disebut juga saluran telur terdapat 2 saluran telur kiri dan
kanan. Panjang kira-kira 12cm tetapi tidak berjalan lurus. Terus pada ujungujungnya terdapat fimbria, untuk menangkap ovum saat ovulasi agar masuk
kedalam tuba.
2.4 Patofisiologi
Karsinoma serviks timbul di batas antara epitel yang melapisi ektoserviks
(porsio) dan endoserviks kanalis serviks yang disebut sebagai squamo-columnar
junction (SCJ). Histologi antara epitel gepeng berlapis (squamous complex) dari
portio dengan epitel kuboid/silindris pendek selapis bersilia dari endoserviks
kanalis serviks. Pada wanita SCJ ini berada di luar ostius uteri eksternum,
sedangkan pada wanita umur > 35 tahun, SCJ berada di dalam kanalis serviks.
Tumor yang dapat tumbuh, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Eksofilik mulai dari SCJ ke arah lumen vagina sebagai masa yang
mengalami infeksi sekunder dan nekrosis.

2. Endofilik mulai dari SCJ tumbuh ke dalam stomaserviks dan cenderung


untuk mengadakan infiltrasi menjadi ulkus.
3. Ulseratif mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan serviks
dengan melibatkan awal fornises vagina untuk menjadi ulkus yang luas.
Serviks normal secara alami mengalami proses metaplasi/erosio akibat
saling desak-mendesak kedua jenis epitel yang melapisi. Dengan masuknya
mutagen, porsio yang erosif (metaplasia skuamosa) yang semula fisiologik dapat
berubah menjadi patologik melalui tingkatan NIS I, II, III dan KIS untuk
akhirnya menjadi karsinoma invasif. Sekali menjadi mikroinvasif atau invasif,
proses keganasan akan berjalan terus. Periode laten dari NIS I s/d KIS 0
tergantung dari daya tahan tubuh penderita. Umumnya fase pra invasif berkisar
antara 3 20 tahun (rata-rata 5 10 tahun). Perubahan epitel displastik serviks
secara kontinyu yang masih memungkinkan terjadinya regresi spontan dengan
pengobatan / tanpa diobati itu dikenal dengan Unitarian Concept dari Richard.
Hispatologik sebagian besar 95-97% berupa epidermoid atau squamos cell
carsinoma sisanya adenokarsinoma, clearcell carcinoma atau mesonephroid
carcinoma dan yang paling jarang adalah sarcoma.
2.5 WOC

2.6 Manifestasi Klinis


Pada fase prakanker (tahap displasia), sering tidak ada gejala atau tanda-tanda
yang khas. Namun, kadang bisa ditemukan gejala-gejala sebagai berikut :
1. Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina. Getah yang keluar dari vagina
ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan.
2. Perdarahan setelah senggama (post coital bleeding) yang kemudian berlanjut
menjadi perdarahan yang abnormal .
3. Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan dan berbau
4.
5.
6.
7.

busuk.
Bisa terjadi hematuria karena infiltrasi kanker pada traktus urinarius.
Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi perdarahan kronis.
Kelemahan pada ekstremitas bawah.
Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila ada radang
panggul. Bila nyeri terjadi di daerah pinggang ke bawah, kemungkinan terjadi

infiltrasi kanker pada serabut saraf lumbosakral.


8. Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang gizi, edema
kaki, timbul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah
(rektum), terbentuknya fistel vesikovaginal atau rektovaginal, atau timbul
gejala-gejala akibat metastasis jauh.
2.7 Klasifikasi
Stadium Kanker Serviks menurut FIGO 2000:
Stadium 0

Karsinoma insitu, karsinoma intra epineal

Stadium I

Karsinoma masih terbatas pada servks (penyebaran ke

korpus uteri)
Stadium Ia

Invansi kanker ke stroma hanya dapat dikenali secara


mikroskopik, lesi yang dapat dilihat secara langsung walau
dengan invansi yang sangat superficial dikelompokan
sevagai stadium Ib. kedalaman invansi ke stroma tidak lebih
dari 5 mm dan lebarnya lesi tidak lebih dari 7 mm.

Stadium Ia1

Invansi ke stroma dengan kedalaman tidak lebih dari 3 mm


dan lebar tidak lebih dari 7 mm

Stadium Ia2

Invansi ke stroma dengan kedalaman lebih dari 3 mm tapi


kurang dari 5 mm dan lebar tidak lebih dari 7 mm

Stadium Ib

Lesi terbatas di serviks atau secara mikroskopik lebih dari Ia

Stadium Ib1

Besar lesi secara klinis tidak lebih dari 4 cm

Stadium Ib2

Besar lesi secara klinis lebih dari 4 cm

Stadium II

Telah melibatkan vagina, tetapi belum sampai sepertiga


bawah atau infiltrasi ke parametrium belum mencapai
dinding panggul.

Stadium IIa

Telah melibatkan vagina tapi belum melibatkan parametrium

Stadium IIb

Infiltrasi ke parametrium, tetapi belum mencapai dinding


panggul

Stadium III

Telah melibatkan sepertiga bawah vagina atau adanya


perluasaan

sampai

dinding

panggul.

Kasus

dengan

hidroneprosis atau ganguan fungsi ginjal dimasukan dalam


stadium ini, kecuali kelainan ginjal dapat dibuktikan oleh
sebab lain
Stadium IIIa

Keterlibatan

sepertiga

bawah

vagina

dan

parametrium belum mencapai dinding panggul

10

infiltrasi

Stadium IIIb

Perluasan sampai dinding panggul atau adanya hidroneprosis


atau ganguan fungsi ginjal

Stadium IV

Perluasan ke luar organ reproduktif

Stadium Iva

Keterlibatan mukosa kandung kemih atau mukosa rectum

Stadium IVb

Metastase jauh atau telah keluar dari rongga panggul

2.8 Pemeriksaan Diagnostik


1. Sitologi
Pemeriksaan ini yang dikenal sebagai tes Papanicolaous (tes PAP)
sangat bermanfaat untuk mendeteksi lesi secara dini, tingkat ketelitiannya
melebihi 90% bila dilakukan dengan baik. Sitologi adalah cara Skrining selsel serviks yang tampak sehat dan tanpa gejala untuk kemudian diseleksi.
Kanker hanya dapat didiagnosis secara histologik.
2. Kolposkopi
Kolposkopi adalah pemeriksaan dengan menggunakan kolposkopi,
suatu alat yang dapat disamakan dengan sebuah mikroskop bertenaga rendah
dengan sumber cahaya didalamnya ( pembesaran 6 - 40 kali ). Kalau
pemeriksaan sitologi menilai perubahan morfologi sel - sel yang mengalami
eksfoliasi, maka kolposkopi menilai perubahan pola epitel dan vascular
serviks yang mencerminkan perubahan biokimia dan perubahan metabolik
yang terjadi di jaringan serviks.
3. Biopsi
Biopsi dilakukan didaerah abnormal jika SSP (sistem saraf pusat)
terlihat seluruhnya dengan kolposkopi. Jika SSP tidak terlihat seluruhnya
atau hanya terlihat sebagian kelainan didalam kanalis serviskalis tidak dapat
dinilai, maka contoh jaringan diambil secara konisasi. Biopsi harus
dilakukan dengan tepat dan alat biopsy harus tajam sehingga harus
diawetkan dalam larutan formalin 10%.
4. Konisasi

11

Konosasi serviks ialah pengeluaran sebagian jaringan serviks


sedemikian rupa sehingga yang dikeluarkan berbentuk kerucut (konus),
dengan kanalis servikalis sebagai sumbu kerucut. Untuk tujuan diagnostik,
tindakan konisasi selalu dilanjutkan dengan kuretase. Batas jaringan yang
dikeluarkan ditentukan dengan pemeriksaan kolposkopi. Jika karena suatu
hal pemeriksaan kolposkopi tidak dapat dilakukan, dapat dilakukan tes
Schiller.
Pada tes ini digunakan pewarnaan dengan larutan lugol (yodium 5g,
kalium yodida 10g dan air 100ml) dan eksisi dilakukan diluar daerah dengan
tes positif (daerah yang tidak berwarna oleh larutan lugol). Konikasi
diagnostik dilakukan pada keadaan-keadaan sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Proses dicurigai berada di endoserviks.


Lesi tidak tampak seluruhnya dengan pemeriksaan kolposkopi.
Diagnostik mikroinvasi ditegakkan atas dasar specimen biopsy.
Ada kesenjangan antara hasil sitologi dan histopatologik

2.9 Penatalaksanaan Medis


1. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan pada stadium awal, dapat dilakukan operasi sedangkan
stadium lanjut hanya dengan pengobatan dan penyinaran. Tolak ukur
keberhasilan pengobatan yang biasa digunakan adalah angka harapan hidup
5 tahun. Harapan hidup 5 tahun sangat tergantung dari stadiu atau derajatnya
beberapa peneliti menyebutkan bahwa angka harapan hidup untuk kanker
leher rahim akan menurun dengan stadium yang lebih lanjut. Pada penderita
kanker leher rahim ini juga mendapatkan sitistatika dalam ginekologi.
Penggolongan obat sitostatika antara lain :
a. Golongan yang terdiri atas obat - obatan yang mematikan semua sel
pada siklus termasuk obat - obatan non spesifik.
b. Golongan obat-obatan yang memastikan pada fase tertentu darimana
proliferasi termasuk obat fase spesifik.
c. Golongan obat yang merusak sel akan tetapi pengaruh proliferasi sel
lebih besar, termasuk obat - obatan siklus spesifik.
2. Penatalaksanaan Keperawatan
Dalam lingkar perawatan meliputi sebelum pengobatan terapi radiasi
eksternal anatara lain kuatkan penjelasan tentang perawatan yang digunakan

12

untuk prosedur. Selama terapi yaitu memilih kulit yang baik dengan
menganjurkan menghindari sabun, kosmetik, dan deodorant. Pertahankan
kedekuatan kulit dalam perawatan post pengobatan antara lain hindari
infeksi, laporkan tanda - tanda infeksi, monitor intake cairan, beri tahu efek
radiasi persisten 10-14 hari sesudah pengobatan dan melakukan perawatan
kulit dan mulut.
Dalam terapi radiasi internal yang perlu dipertimbangkan dalam
perawatan umum adalah teknik isolasi dan membatasi aktivitas, sedangkan
dalam perawatan pre insersi antara lain menurunkan kebutuhan untuk enema
atau buang air besar selama beberapa hari, memasang kateter sesuai indikasi,
latihan nafas panjan dan latihan rom dan jelaskan pada keluarga tentang
pembatasan pengunjung. Selama terapi radiasi perawatannya yaitu monior
tanda - tanda vital tiap 4 jam. Memberikan posisi semi fowler, berikan
makanan berserat dan cairan parenteral sampai 300ml dan memberikan
support mental. Perawatan post pengobatan antara lain menghindari
komplikasi post pengobatan (tromboplebitis, emboli pulmonal dan
pneumonia), monitor intake dan output cairan.

13

BAB III
Konsep Asuhan Keperawatan
3.1 Pengkajian
3.2 Diagnosa Keperawatan
3.3 Perencanaan
3.4 Penatalaksanaan
3.5 Evaluasi

14

BAB IV
PENUTUP
4.1

Kesimpulan

4.2

Saran

15

DAFTAR PUSTAKA
Rasjidi, Imam. 2007. Panduan Penatalaksanaan Kanker Ginekologi. Jakarta: EGC
2014. Laporan Pendahuluan. https://diansharing.wordpress.com Diakses pada tanggal 4
April 2016 pukul 16.00 WIB
2015. Infodiatin Kanker pdf. http://www.depkes.go.id Diakses pada tanggal 4 April 2016
pukul 16.10 WIB
2015. Makalah Kanker Serviks. https://burangasitamaymo.wordpress.com Diakses pada
tanggal 4 April 2016 pukul 16.15 WIB

16