Anda di halaman 1dari 25

METODE GEOMAGNET

Akuisisi dan Reduksi Data


Geomagnetik

Dalam melakukan pengukuran geomagnetik, peralatan paling


utama yang digunakan adalah magnetometer. Peralatan ini
digunakan untuk mengukur kuat medan magnetik di lokasi survei.
Salah satu jenisnya adalah Proton Precission Magnetometer (PPM)
yang digunakan untuk mengukur nilai kuat medan magnetik total.
Peralatan lain yang bersifat pendukung di dalam survei magnetik
adalah Global Positioning System (GPS). Peralatan ini digunaka
untuk mengukur posisi titik pengukuran yang meliputi bujur,
lintang, ketinggian, dan waktu. GPS ini dalam penentuan posisi
suatu titik lokasi menggunakan bantuan satelit. Penggunaan sinyal
satelit karena sinyal satelit menjangkau daerah yang sangat luas dan
tidak terganggu oleh gunung, bukit, lembah dan jurang.

Dalam survei dengan metode magnetik yang menjadi target dari


pengukuran adalah variasi medan magnetik yang terukur di
permukaan (anomali magnetik). Secara garis besar anomali medan
magnetik disebabkan oleh medan magnetik remanen dan medan
magnetik induksi.
Medan magnet remanen mempunyai peranan yang besar terhadap
magnetisasi batuan yaitu pada besar dan arah medan magnetiknya
serta berkaitan dengan peristiwa kemagnetan sebelumnya sehingga
sangat rumit untuk diamati.
Anomali yang diperoleh dari survei merupakan hasil gabungan medan
magnetik remanen dan induksi, bila arah medan magnet remanen
sama dengan arah medan magnet induksi maka anomalinya
bertambah besar. Demikian pula sebaliknya. Dalam survei magnetik,
efek medan remanen akan diabaikan apabila anomali medan
magnetik kurang dari 25 % medan magnet utama bumi (Telford,
1976),

Peralatan
Magnetometer
Tabel Data
Kamera digital
Software Map Source
peralatan bantu :
(GPS, peta
peta,, kompas
kompas))

Pengukuran
Sistem grid atau acak
Pengikatan Base Station
Sistem looping
Proton Magnetometer (GSM-19T V.07)

Penentuan Titik Pengamatan :


Penentuan titik-titik pengamatan pada daerah yang akan
disurvey didasarkan pada kemudahan dalam pembuatan
peta anomaly magnetiknya. Oleh karena itu, titik-titik
diusahakan membentuk grid dengan interval tertentu
sesuai kebutuhan dan sasaran interpretasi yang akan
dicapai (tujuan penelitian)
Dalam pengukuran magnetic, harus ada Station basis SB
(sebagai pengontrol), sehingga untuk mempercepat
pengukuran sebaiknya menggunakan lebih dari satu alat,
(1 di SB dan selebihnya alat tersebut dipakai untuk station
pengukuran yang bergerak dari titik ke titik).

Tata Cara Pengukuran


Cara
pengukuran
didasarkan
pada
kemudahan dalam membuat koreksi diurnal.
Cara pengukuran bisa dilakukan dengan
satu alat atau lebih. Diaman data yang
harus dicatat adalah : harga bacaan alat
dan waktu saat alat mengukur.

Pengukuran dengan satu alat :


Pola pengukuran harus membentuk looping,
cara pengukurannya adalah sebagai berikut :
1. Lakukan pengukuran di SB (pada saat awal mau
berangkat ke lokasi pengukuran titik grid)
2. Lakukan pengukuran pada titik-titik yang sudah digrid
sampai beberapa titik.
3. Kembali lagi mengukur di SB saat pengukuran akan di
akhiri pada hari tersebut
4. Demikian seterusnya dilakukan tiap hari pengukuran
yang diawali dan diakhiri di pengukuran SB

Pengukuran magnetik memiliki dua target yang akan dicapai


yaitu untuk penyelidikan sumber potensi sumberdaya mineral,
panas bumi maupun pemetaan magnetik sistematik (skala 1:
50.000 atau 1: 100.000 ), kegiatan diatas dapat dibedakan dari
luas lokasi maupun objeknya.

Sebelum dilakukan pengukuran magnetik maka harus


dilakukan penyiapan peta topografi, mempelajari
kesampaian lokasi titik amat, tingkat kesulitan medan
(lapangan) maupun pengaruh selama pengukuran.
Pengukuran magnetik dimulai dengan menentukan titik
base station yang bebas dari pengaruh magnit disekitarnya
misalnya tegangan listrik, bangunan beton atau kantor.

Hasil pengukuran di base station digunakan koreksi


variasi harian dan nilai IGRF. Selanjutnya melakukan
pembacaan dititik pengamatan lapangan yang telah
diplot pada peta topografi dengan jarak tertentu
misalnya 100 meter.
Pada pengambilan data ini melakukan pengukuran
dengan interval diantara titik amat. Pembacaan
dilakukan secara looping artinya pembacaan dimulai
dari base station dan kembali ke base stasion setelah
melalui titik amat yang telah diplot tersebut.

Prosedur Pengamatan
1. Menentukan nilai magnet acuan misalnya 45000 nT dari
peta IGRF
2. Menentukan arah utara sensor magnit malalui kompass
3. Pembacaan dilakukan secara looping mulai dari Base
Station (BS), selanjutnya dilakukan pada titik amat
yang telah ditentukan pada lintasan dengan interval titik
amat 1 meter dan kembali paada titik base station.
4. Dilakukan pembacaan sebanyak tiga kali serta
mencatat waktu pembacaan.

Metoda Pengukuran
6
BS

BS

14

15

20

27

21

Contoh Tabel
TABEL PENGUKURAN GEOMAGNETIK
Lokasi

Operator

Hari/Tgl

Cuaca

No. Sta.

East

waktu

North
jam

Base
Awal
1
2
3

54
55
56
57
..
Base
Akhir

menit

PEMBAC
AAN
(nT)

VH
nT

TOTAL
MAGNETIK
nT

IGRF

AM

nT

nT

METODE GEOMAGNET
PENGOLAHAN DATA
DAN INTERPRETASI
GEOMAGNETIK

Proton Magnetometer

I.1

I.1

I.1

I.1

I.1

I.1

Bentuk Anomali Magnetik :


1. Inklinasi medan magnet bumi di sekitar benda
penyebab
2. Geometri (dimensi) dari benda penyebab
3. Kecenderungan arah dipol-dipol magnet di dalam
benda penyebab (suseptibilitas batuan)
4. Orientasi arah dipol-dipol magnet benda penyebab
terhadap arah medan bumi (medan magnet total
bumi)
5. Jarak pengukuran dari benda anomali.

I.1

I.1

I.1

Anomali Magnetik Total

I.1

Anda mungkin juga menyukai