Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH

BIOLOGI UMUM
KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP
DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 3
FERDY RONTOS
SAFRUDIN ABD. R. UMAR
ADELIA R. ALIMULLAH
FIRDAWATI THALIB
HARDIANTI KIAYMODJO
NUN N. UI
PUTRI PAKAYA
RIZKY AMALIA HUSAIN
RISKA MANTANG
SRI WAHYUNING LUAWO
TIYANTI IYABU
YULIA FANYABDULWAHID

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam


Jurusan Pendidikan Matematika
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2016/2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan
nikmat yang telah dilimpahkan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul Klasifikasi Makhluk Hidup
Terselesaikannya makalah ini tidak lepas dari dukungan beberapa pihak yang telah
memberikan kepada penulis berupa motivasi, baik materi maupun moril. Oleh karena itu,
penulis bermaksud mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang tak dapat
saya sebutkan satu persatu, semua yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini belum mencapai kesempurnaan,
sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan dari berbagai
pihak demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.

Gorontalo. September 2016

Kelompok 2

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Alam semesta terdiri dari komponen biotik dan abiotik. Komponen biotik (makhluk
hidup) jumlahnya sangat banyak dan sangat beraneka ragam. Mulai dari laut, dataran rendah,
sampai di pegunungan, terdapat makhluk hidup yang jumlahnya banyak dan sangat beraneka
ragam. Karena jumlahnya banyak dan beraneka ragam, maka kita akan mengalami kesulitan
dalam mengenali dan mempelajari makhluk hidup. Untuk mempermudah dalam mengenali
dan mempelajari makhluk hidup maka kita perlu cara. Cara untuk mempermudah kita dalam
mengenali dan mempelajari makhluk hidup disebut Sistem Klasifikasi (penggolongan /
pengelompokan).
Adapun ilmu yang secara khusus mempelajari tentang klasifikasi makhluk hidup
dinamakan ilmu taksonomi. Ilmu taksonomi ini bertujuan untuk mempermudah pengenalan
dan

pembelajaran

terhadap

makhluk

hidup

serta

mempermudah

dalam

mengkomunikasikannya kepada orang lain. Ilmu taksonomi ini senantiasa berkembang dari
masa ke masa, sehingga muncul tokoh tokoh baru dalam taksonomi dan pendapat
pendapat serta teori teori tentang taksonomi. Ilmu taksonomi ini melahirkan berbagai
sistem klasifikasi yang berbeda beda sesuai dengan dasar yang digunakan dalam kegiatan
tersebut.
Hal inilah yang kemudian menarik untuk diketahui lebih lanjut tentang bagaimana
sistem klasifikasi makhluk hidup. Oleh karena itu penulis berusaha untuk memberikan
pemahaman tentang pertanyaan tersebut dalam makalah yang berjudul Sistem Klasifikasi
Makhluk Hidup. Semoga makalah ini dapat menjadi jawaban dan memberikan pemahaman
terkait pertanyaan yang dikaji.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat diambil suatu rumusan permasalahan yaitu :
a

Apakah yang dimaksud dengan sistem klasifikasi makhluk hidup?

Apakah tujuan dari klasifikasi makhluk hidup?

Apakah manfaat dari klasifikasi makhluk hidup?

Bagaimanakah proses klasifikasi makhluk hidup?

Bagaimanakah tingkatan klasifikasi/takson?

Bagaimanakah sistem klasifikasi makhluk hidup?

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas,maka tujuan penulisan makalah ini adalah :
a

Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan sistem klasifikasi makhluk hidup

Untuk mengetahui tujuan dari klasifikasi makhluk hidup

Untuk mengetahui manfaat klasifikasi makhluk hidup.

Untuk mengetahui proses klasifikasi makhluk hidup?

Untuk mengetahui tingkatan klasifikasi/takson?

Untuk mengetahui sistem klasifikasi makhluk hidup.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Klasifikasi
Klasifikasi adalah penyusunan makhluk hidup secara teratur ke dalam suatu herarki.
Sistem penyusunan ini berasal dari kumpulan informasi makhluk hidup secara individual
yang menggambarkan kekerabatan. Menurut Rideng (1989) klasifikasi adalah pembentukan
takson-takson dengan tujuan mencari materi keseragaman dalam keanekaragaman. Dikatakan
pula bahwa klasifikasi adalah penempatan organisme secara berurutan pada kelompok
tertentu

(takson)

yang

didasarkan

pada

perbedaan

dan

persamaan.

Sedangkan

(Tjitrosoepomo, 1993) mengatakan bahwa dasar pengadaan klasifikasi adalah keseragaman


kesamaan-kesamaan itulah yang dijadikan dasar klasifikasi. Semua ahli biologi menggunakan
suatu sistem klasifikasi untuk mengelompokkan tumbuhan ataupun hewan yang memiliki
persamaan struktur. Kemudian setiap kelompok tumbuhan ataupu hewan tersebut dipasangpasangkan dengan kelompok tumbuhan atau hewan lainnya yang memiliki persamaan dalam
kategori lain. Hal itu pertama kali diusulkan oleh John Ray yang berasal dari Inggris. Namun
ide itu disempurnakan oleh Carl Von Linne (1707-1778), seorang ahli botani berkebangsaan
Swedia yang dikenal pada masa sekarang dengan Carolus Linnaeus.
Sistem klasifikasi Linnaeus tetap digunakan sampai sekarang karena sifatnya yang
sederhana dan fleksibel sehingga suatu organism baru tetap dapat dimasukkan dalam sistem
klasifikasi dengan mudah. Nama-nama yang digunakan dalam sistem klasifikasi Linnaeus
ditulis dalam bahasa Latin karena pada zaman Linnaeus bahasa Latin adalah bahasa yang
dipakai untuk pendidikan resmi.
B. Tujuan Klasifikasi
Adapun tujuan Klasifikasi makhluk hidup adalah :
1

Mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri-ciri yang dimiliki

Mengetahui ciri-ciri suatu jenis makhluk hidup untuk membedakannya dengan makhluk
hidup dari jenis lain

Mengetahui hubungan kekerabatan makhluk hidup

Memberi nama makhluk hidup yang belum diketahui namanya atau belum memiliki nama

C. Manfaat Klasifikasi
Selain memiliki tujuan, klasifikasi memiliki manfaat bagi manusia, antara lain :
1

Klasifikasi memudahkan kita dalam mmpelajari makhluk hidup yang sangat beraneka
ragam

Klasifikasi membuat kita mengetahui hubungan kekerabatan antarjenis makhluk hidup

Klasifikasi memudahkan komunikasi


D. Proses Klasifikasi
Para biologiawan masih menggunakan buku Linnaeus yang berjudul Systema Naturae

(sistem Alam) yang diterbitkan tahun 1758 sebagai dasar untuk klasifikasi ilmiah. Ada tiga
tahap yang harus dilakukan untuk mengklasifikasikan makhluk hidup, yaitu:
1

Pencandraan (identifikasi), Pencandraan adalah proses mengidentifikasi atau mendeskripsi


ciri-ciri suatu makhluk hidup yang akan diklasifikasi.

Pengelompokan, setelah dilakukan pencandraan, makhluk hidup kemudian dikelompokkan


dengan makhluk hidup lain yang memiliki ciri-ciri serupa. Makhluk hidup yang memiliki
ciri serupa dikelompokkan dalam unit-unit yang disebut takson.

Pemberian nama takson, selanjutnya kelompok-kelompok ini diberi nama untuk


memudahkan kita dalam mengenal ciri-ciri suatu kelompok makhluk hidup.
E. Tingkatan Klasifikasi/Takson
Dalam sistem klasifikasi, makhluk hidup dikelompokkan menjadi suatu kelompok

besar kemudian kelompok besar ini dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Kelompokkelompok kecil ini kemudian dibagi lagi menjadi kelompok yang lebih kecil lagi sehingga
pada akhirnya terbentuk kelompok- kelompok kecil yang beranggotakan hanya satu jenis
makhluk hidup. Tingkatan-tingkatan pengelompokan ini disebut takson. Taksa (takson) telah
distandarisasi di seluruh dunia berdasarkan International Code of Botanical Nomenclature
dan International Committee on Zoological Nomenclature.
Tingkat takson sangat penting karena tanpa adanya tingkat-tingkat takson maka
faedah dari sistem klasifikasi tidak dapat dihasilkan. Takson dinyatakan sebagai unit
taksonomi tingkat yang manapun. Bila setiap bagian yang lebih kecil pada takson itu disebut
dengan istilah yang sama dan diberi awalan anak (sub), kita dapat memilah 25 takson
termasuk yang terkecil yaitu individu.
Adapun tingkatan takson utama yang sering kita kenal sehari-hari yaitu :

Kingdom, merupakan tingkatan takson tertinggi makhluk hidup. Kebanyakan ahli Biologi
sependapat bahwa makhluk hidup di dunia ni dikelompokkan menjadi 5 kingdom
(diusulkan oleh Robert Whittaker tahun 1969). Kelima kingdom tersebut antara lain :
Monera, Proista, Fungi, Plantae, dan Animalia

Filum/divisio (keluarga besar). Nama filum digunakan pada dunia hewan, dan nama
division digunakan pada tumbuhan. Filum atau division terdiri atas organism-organisme
yang memiliki satu atau dua persamaan ciri. Nama filum tidak memiliki akhiran yang khas
sedangkan nama division umumnya memiliki akhiran khas, antara lain phyta dan mycota.

Kelas (classis). Kelompok takson yang satu tingkat lebih rendah dari filum atau divisio

Ordo (bangsa). Setiap kelas terdiri dari beberapa ordo. Pada dunia tumbuhan, nama ordo
umumnya diberi akhiran ales.

Famili. Family merupakan tingkatan takson di bawah ordo. Nama family tumbuhan
biasanya diberi akhiran aceae, sedangkan untuk hewan biasanya diberi nama idea.

Genus (marga). Genus adalah takson yang lebih rendah dariada family. Nama genus terdiri
atas satu kata, huruf pertama ditulis dengan huruf capital, dan seluruh huruf dalam kata itu
ditulis dengan huruf miring atau dibedakan dari huruf lainnya.

Species (jenis). Species adalah suatu kelompok organism yang dapat melakukan
perkawinan antar sesamanya untuk menghasilkan keturunan yang fertile (subur)
F. Sistem Klasifikasi Mahluk Hidup

Sistem Klasifikasi Makhluk Hidup Berdasarkan Cara Pemilihan Sifat


Sistem klasifkasi dibedakan menjadi 6 sistem berdasarkan cara pemilihan sifat dalam

penyusunan klasifikasi, adapun pembagian tersebut antara lain :


1

Klasifikasi Sistem Manfaat/ Periode tertua


Dalam periode ini secara formal belum dikenal adanya system klasifikasi yang diakui

(sejak ada kegiatan dalam taksonomi sampai kira-kira abad ke-4 sebelum masehi). Sejak awal
kehidupan manusia bergantung pada bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan, manusia sejak
dahulu telah melakukan kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam lingkup taksonomi, seperti
mengenali dan memilah-milah tumbuhan mana yang berguna baginya dan yang mana yang
tidak, termasuk pemberian nama, sehingga apa yang ditemukan dapat dikomunikasikan
kapada pihak lain.
Dalam zaman prasejarah orang telah mengenal tumbuh-tumbuhan penghasil bahan
pangan yang penting seperti yang kita kenal sampai saat ini. Jenis-jenis tumbuhan ini

diperkirakan telah diperkenal sejak 7 sampai 10 ribu tahun yang telah lalu, telah
dibudidayakan oleh bangsa Mesir, China, Asiria dan Tigris Di Timur Tengah serta bangsabangsa Indian di Amerika Utara dan Selatan, sejak beberapa ribu tahun yang lalu telah
dikenal berbagai jenis tumbuhan yang merupakan penghasil bahan pangan, sandang, dan
bahan obat yang berarti bahwa sebenarnya merekapun telah menerapkan suatu sistem
klasifikasi, dalam hal ini suatu system klasifikasi yang didasarkan atas manfaat tumbuhan,
sehingga tidak dapat dianggap sebagai system buatan yang tertua.
Jelaslah bahwa sejak berpuluh puluh abad yang lalu orang telah terjun dalam
kegiatan kegiatan taksonomi tumbuhan, walaupun pengetahuan yang telah mereka
kumpulkan belum begitu berarti, juga belum ditata, belum menunjukan hubungan sebab dan
akibat, sehingga belum dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan (science) menurut ukuran
sekarang.
Sekalipun tidak ada bukti-bukti konkrit yang berwujud peninggalan-peninggalan yang
berupa dokumen-dokumen atau bentuk karya tulis lainnya, tidak perlu diragukan lagi bahwa
sesuai dengan pernyataan Bloembergen, permulaan taksonomi tumbuhan harus digali dari
kedalaman sejarah peradaban manusia di bumi ini.
2

Periode system Habitus/ Bentuk


Taksonomi tumbuhan sebagai ilmu pengetahuan baru di anggap pada abad ke-4

sebelum Masehi oleh orang-orang Yunani yang dipelopori oleh Theophrastes (370-285 SM)
murid seorang filsuf Yunani bernama Aristoteles. Aristoteles sendiri adalah murid filsuf
Yunani yang semashur yaitu plato. Sistem klasifikasi yang diusulkan bangsa Yunani dengan
Theophrastes sebagai pelopornya juga diikuti oleh kaum herbalis serta ahli-ahli botani dan
nama itu terus dipakai sampai selama lebih 10 abad.
Pengklasifikasian tumbuhan terutama didasarkan atas perawakan (habitus) yang
golongan-golongan utamanya disebut dengan nama pohon, perdu, semak, tumbuhan
memanjat, dan terna. System klasifikasi ini bersifat dominan dari kira-kira abad ke-4 sebelum
masehi sampai melewati abad pertengahan, dan selama periode-periode ini ahli-ahli botani,
herbalis, dan filsuf telah menciptakan sistem-sistem klasifikasi yang pada umumnya masih
bersifat kasar, namun sering dinyatakan telah mencerminkan adanya hubungan kekerabatan
antara golongan yang terbentuk.
Theophrastes sendiri yang dianggap sebagai bapaknya ilmu tumbuhan, dalam
karyanya yang berjudul Historia Plantarum telah memperkenalkandan memberikan
deskripsinya untuk sekitar 480 jenis tumbuhan. Dalam karya ini system klasifikasi yang

diterapkan oleh Theoprastes telah mencerminkan falsafah guru dan dari eyang gurunya
(Aristoteles dan Plato), yaitu suatu suatu system klasifikasi tumbuhan berdasarkan bentuk dan
tekstur. Selain golongan-golongan pohon, perdu, semak seperti yang disebut di atas, ia juga
mengadakan pengelompokan menurut umur dan membedakan tumbuhan berumur pendek
(annual), tumbuhan berumur 2 tahun (biennial), serta tumbuhan berumur panjang (perennial).
Theophrastes juga telah dapat membedakan bunga majemuk yang berbatas
(centrifugal) dan yang tidak berbatas (centripetal), juga telah dapat membedakan bunga
dengan daun mahkota yang bebas (polipetal atau dialipetal) dan yang berlekatan (gamopetal
atau simpetal) bahkan ia telah dapat mengenali perbedaan letak bakal daun yang tenggelam
dan yang menumpang. Adapun yang telah dilakukan oleh theoprastes hasil klasifikasi
tumbuhan yang telah diciptakan masih dianggap nyata-nyata merupakan suatu sistem
artifisial.
3

Periode Sistem Buatan/ Artificial


Periode ini terjadi pada permulaan abad ke 18, yang ditandai dengan sifat sistem yang

murni artifisial, yang sengaja dibuat sebagai sarana pembantu dalam identifikas tumbuhan.
Sistem ini tidak menggunakan bentuk dan tekstur tumbuhan sebagai dasar utama
pengklasifikasian. Tetapi pengambilan kesimpulan mengenai kekerabatan antara tumbuhan.
Dalam periode ini tokoh yang paling menonjol adalah Karl Linne (Carolus Linneaus)
Dibawah bimbingan Dr. Rudbeck ia menerbitkan karyanya yang pertama kali mengenai
seksualitas tumbuhan. Setelah menjadi dosen ia menerbitkan karyanya yang berjudul Hortus
Uplandikus yang memuat nama-nama semua tumbuhan yang terdapat dikebunraya di Upsala,
yang susunannya mengikuti sistem de Tournefort. karena jumlah tumbuhan dikebun raya tadi
makin besr jumlahnya maka linneaus menerbitkaan Hortus Uplandikus edisi baru yang
disusun menurut ciptaannya sendiri yang dikenal sebagai Sistema Sexsuale atau sistem
seksual. Doktor Gronovius seorang dokter dan naturalis, begitu oleh Linneaus, dan Lawson
menawarkan kepada Linneaus untuk membiayai penerbitan naskahnya yaitu Sistema Naturae
yang memuat dasar-dasar pengklasifikasian tumbuhan hewan dan mineral. Selama tahun
1737 sewaktu dinegeri Belanda karya Linneaus yang diterbitkan berjudul Genera Plantarum
dan Flora Lavonica sambil menunggu pencetakan naskah-naskah itu Linneaus diberi
kesempatan oleh Clifford untuk berkunjung ke Inggris, dan sekembalinya dari Inggris selama
sembilan bulan ia menyiapkan naskah Hortus Cliffortianus yang berisi jenis-jenis tumbuhan
yang dipelihara dalam kebunnya Clifford selama tiga tahun di Belanda dari tahun 1737
sampai 1739 merupakan masa yang paling produktif bagi Linneaus. Kurang lebih ada 14

judul tulisannya terbit waktu itu, yang sebagian besar telah dipersiapkan ketika ia masih di
Swedia.
Setelah kembali lagi ke Swedia tidak lagi terbit karyanya yang berarti dari linneaus
selain spesies plantarum yang terbit 1 mei 1753. Pada tahun 1775 ia mengundurkan diri
sebagai guru besar dan tiga tahun kemudian meninggal dunia setelah menderita sakit selama
kurang lebih 2 tahun (10 januari 1778).
Sistem klasifikasi tumbuhan yang diciptakan oleh Linnaeus masih dikategorikan
sebagai sistem artivisial. Nama Sistema Sexsuale untuk sistem yang diciptakan sebenarnya
tidak begitu tepat karena pada dasarnya sistem ini tidak ditekankan pada masalah jenis
kelamin, tetapi pada kesamaan jumlah alat-alat kelamin seperti jumlah benangsari. Namanama golongan tumbuhan yang diciptakan oleh linnaeus seperti monandria (berbenang sari
tunggal), diandria (berbenangsari dua), triandria berbenangsari tiga dan seterusnya. Itulah
sebabnya sistem klasifikasi tumbuhan ciptaan Linnaeus dikenal pula sebagai sistem numerik.
Ciptaan Linnaeus ini meupakan sistem yang dinilai revolusioner untuk masa itu, dan
memberikan pengaruh yang lebih besar dari pada sumbangan linnaeus yang lain,dan sistem
ini sengaja dirancang sebagai alat bantu dalam mengidentifikasi tumbuhan dan ia juga
dianggap sebagai pencipta sistem tatanama ganda yang ia terapkan dalam bukunya Species
plantarum yang diterbitkan pada tanggal 1 mei 1753 yang menjadi pangkal tolak berlakunya
tatanama tumbuhan yang diakui.
Sesungguhnya linnaeus dianggap tidak tepat bila ia sebagai pencipta tatanama ganda.
Sebelum linnaeus, sistem tatanama ganda telah dirintis oleh caspar bauhin, yang dalam tahun
1623 dalam bukunya pinax theatri botanici telah menerapkan sistem tatanama ganda pada
tumbuhan. Karena besar jasa-jasa yang diberikan oleh linnaeus bagi perkembangan
taksonomi umumnya dan taksonomi tumbuhan khususnya bagi dunia ilmu hayat linnaeus
mendapatkan gelar sebagai Bapak Taksonomi baik hewan maupun tumbuhan dan juga
mendapat pengakuan dari negara yang diberikan oleh raja swedia yang mengangkat linnaeus
ke jenjang bangsawan, sehingga nama karl linne diubah menjadi karl von linne.
4

Periode Sistem Alamiah


Menjelang berakhirnya abad ke-18 terjadi perubahan-perubahan yang revolusioner

dalam pengklasifikasiaan tumbuhan. Sistem klasifikasi yang baru ini disebut sistem alam
yaitu golongan yang terbentuk merupakan unit-unit ynag wajar (natural) bila terdiri dari
anggota-anggota itu,dan dengan demikian dapat tercermin pengertian manusia mengenai
yang disebut yang dikehendaki oleh alam. Secara harfiah istilah sistem alam untuk aliran
baru dalam klasifikasi ini tidak begitu tepat karena pada hakekatnya semua sistem klasifikasi

adalah sistem buatan. Untuk sitem klasifikasi yang digunakan dalam periode ini, digunakan
nama sistem alam (natural system) dengan maksud untuk memenuhi keinginan manusia
akan adanya penataan yang tepat yang lebih baik dari sistem-sistem sebelumnya.
5

Periode Sistem Filogenetik


Teori evolusi, teori desendensd atau teori keturunan seperti yang diciptakan oleh

darwin merupakan suatru teori hingga sekarang oleh sebagian orang terutama tokoh agama
masih dianggap kontroversial dan tetap ditentang kendati ajaran itu tetap diterima dan cepat
tersebar luas dikalangan kaum ilmuan yang begitu fanatik terhadap teori ini sampai ada yang
menyatakan, bahwa evolusi bukannya teori lagi, tetapi adalah suatu aksioma yang tidak
perlu diragukan kebenarannya, dan oleh karenanya tidak perlu diperdebatkan lagi .
Sistem klasifikasi dalam periode ini berupaya untuk mengadakan penggolongan
tumbuhan yang sekaligus mencerminkan urutan urutan golongan itu dalam sejarah
perkembangan filogenetiknya dan demikian juga menunjukan jauh dekatnya hubungan
kekerabatan yang satu dengan yang lain. Jadi dalam klasifikasi ini dasar yang digunakan
adalah filogeni dan dari sini lahirlah nama sistem filogenetik kenyataanya, bahwa
kemudian muncul sistem klasifikasi yang berbeda, membuktikan bahwa persepsi dan
interpretasi para ahli biologi mengenai yang disebut filogeni itu masih berbeda beda.
6

Sistem Klasifikasi Kontemporer


Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat dalam abad ke-20 ini pasti

akan berpengaruh pula terhadap perkembangan ilmu taksonomi tumbuhan. Kecenderungan


untuk mengkuantitatifkan data penelitian dan penerapan matematika dalam pengolahan data
yang diperoleh telah menyusup pula ke dalam ilmu-ilmu sosial yang semula tak pernah atau
belum memanfaatkan matematika serta belum mempertimbangkan pula kemungkinankemungkinan yang dapat di capai dengan penerapan pendekatan kuantitatif matematik.
Perkembangan teknologi, khususnya di bidang elektronika yang dalam abad nuklir
maju dengan pesat ini, telah pula menjamah bidang taksonomi tumbuhan, yang sejak
beberapa dasawarsa belakangan ini juga sudah di jalari penyakit penerapan metode
penelitian kuantitatif yang pengelohan datanya memanfaatkan jasa-jasa komputer pula.
Komputer telah digunakan secara luas dalam pengembangan metode kuantitatif dalam
klasifikasi tumbuhan, yang melahirkan bidang baru dalam taksonomi tumbuhan yang dikenal
sebagai taksonomi numerik,taksometri atau taksonometri.

Pengolahan data secara elektronik (EDPElektronic Data Processing), juga sudah


diterapkan untuk berbagai prosedur dalam penelitian taksonomi antara lain dalam
penyimpanan dan pengambilan laporan-laporan atau informasi.
b

Klasifikasi Makhluk Hidup Berdasarkan Pembagian Kingdom

Semula para ahli hanya mengelompokkan makhluk hidup menjadi 2 kerajaan, yaitu
kerajaan tumbuhan dan kerajaan hewan. Namun ternyata setelah dipelajari lebih lanjut
terdapat jenis makhluk tertentu yang umumnya memiliki sifat antara hewan dan tumbuhan.
Hal ini yang kemudian membuat para ahli taksonomi mengelompokkan makhluk hidup
kedalam 3 kelompok yaitu: protista, plantae dan animalia.
Setelah para ahli mengetahui struktur sel (susunan sel) secara pasti, makhluk hidup
dikelompokkan menjadi empat kerajaan, yaitu Monera, protista, Plantae, dan Animalia. Pada
tahun 1969 Robert H. Whittaker mengelompokkan makhluk hidup menjadi lima kingdom,
yaitu Monera, Protista, Fungi, Plantae, dan Animalia. Pengelompokan ini berdasarkan pada
susunan sel, cara makhluk hidup memenuhi makanannya, dan tingkatan makhluk hidup.
Namun sistem ini kemudian diubah dengan dipecahnya kingdom monera menjadi
kingdom Eubacteria dan Archaebacteria, sehingga melahirkan sistem baru yang dikenal
sistem klasifikasi 6 kingdom. Adapun sistem klasifikasi berdasarkan atas pembagian kingdom
secara garis besar dibedakan atas beberapa sistem, yaitu :
1

Sistem dua kingdom : Kelompok tumbuhan dan kelompok hewan

Sistem tiga kingdom : Protista, plantae, dan animalia

Sistem empat kingdom : Monera, protista, plantae, dan animalia

Sistem lima kingdom : Monera, protista, fungi, plantae, animalia

Sistem enam kingdom : Eubacteria, Archaebacteria, protista, fungi, plantae, dan animalia
Adapun pemabahasan jenis kingdom tersebut secara lengkap dapat diterangkan

sebagai berikut:
1

KINGDOM PLANTAE
Pada mulanya beberapa ahli menggolongkan dunia tumbuhan (kingdom Plantae)

kedalam lima divisio yaitu :


a) Tumbuhan belah (Schizophyta), meliputi kurang lebih 35.000 jenis tumbuhan

Divisi Tumbuhan belah merupakan tumbuhan yang paling primtif hal ini karena
tumbuhan tersebut membelah diri dengan membelah diri,tubuh hanya dengan sebuah sel,
protoplas belum terdiferensiasi dengan jelas sehingga inti belum nampak jelas/nyata,
demikian pula dengan plastidanya. Secara garis besar Schyzophyta dibedakan menjadi 2 kelas
yaitu: bakteri (Bacteria/schyzomycetes)dan Ganggang biru,ganggang belah, atau ganggang
lender (Cyanophyceae,Schizophyceace atau Myxophyceae) (Gembong,1981:3)
Secara spesifikasi tumbuhan belah dibagi menjadi 7 ordo yaitu:
Pseudomonales,
Chlamydobacteriales,
Eubacteriales,
Actinomycetes,
Beggiatoales,
Myxobacteriales dan Spirochaetales.
b) Tumbuhan lumut (Bryophyta), meliputi kurang lebih 25.000 jenis tumbuhan
Lumut mempunyai bagian-bagian tubuh yang menyerupai akar, batang, dan daun.
Akar tetapi, bagian-bagian itu sebenarnya bukan akar, batang, dan daun sejati. Bagian yang
menyerupai akar disebut rizoid. Rizoid berupa benang-benang halus. Bagian ini berguna
untuk menganbil air dan mineral. Tumbuhan lumut mempunyai klorofil sehingga berwarna
hijau. Lumut biasanya hidup di tempat lembab yang tidak terkena cahaya secara langsung.
Ada juga lumut yang hidup di tempat kering dan juga di air. Lumut berkembang biak dengan
spora dan mengalami pergiliran keturunan.
Perkembangan vegetatif lumut dilakuakan dengan pembentukan spora. Perkembangan
generatif lumut dilakukan dengan pembentukan sel-sel kelamin (gamet). Tumbuhan lumut
dapat dapat disebut sporofit dan gametofit karena dapat menghasilkan spora dan sel gamet.
Apabila spora jatuh di tempat yang lembab, spora akan tumbuh menjadi benang-benang yang
halus dan berkuncup pada beberapa tempat. Benang-benang itu disebut protonema.
Selanjutnya protonema tumbuh menjadi lumut yang bersifat gametofit. Lumut dewasa
membentuk arkegonium dan anteridium. Arkegonium menghasilkan sel kelamin betina (sel
telur), sedangkan anteridium menghasilkan sel kelamin jantan (spermatozoid).
Apabila sel kelamin jantan membuahi sel telur terbentuklah zigot. Zigot tumbuh
menjadi tumbuhan baru yang berupa tangkai dengan kotak spora di ujungnya yang disebut
sporagonium. Sporagonium ini menyatu dengan tubuh tumbuhan lumut induk. Sporagonium
menghasilkan spora. Bila spora jatuh di tempat lembab akan tumbuh menjadi protonema.
Demikianlah siklus tersebut terulang kembali seperti di atas. Berdasarkan bentuk tubuhnya,

tumbuhan lumut debedakan menjadi dua kelas, yaitu lumut daun (Musci) dan lumut hati
(Hepaticea).
a

Lumut Daun (Musci)


Lumut daun selalu tumbuh berkelompok di tempat-tempat yang lembab atau tempat

dengan sedikit air. Lumut daun mempunyai batang dan daun. Letak daun tersusun teratur
mengelilingi tangkainya seperti spiral. Contoh lumut daun adalah Sphagnum dan
Polytrichum. Klasifikasi lumut daun :
Regnum

Plantae

Division

Bryophyta

Class

Bryopsida

Ordo

Bryoceales

Family

Bryopceae

Genus

Bryopsida

Species

Bryopsida

b. Lumut Hati (Hepaticea)


Tubuh lumut hati terdiri atas lembaran yang ujung-ujungnya terbelah. Lumut hati
tumbuh di tempat-tempat basah atau di hutan yang terdapat di pegunungan. Contoh lumut
hati adalah Marchantia, Riccia, dan Pellia. Adapun klasifikasi lumut hati :
Regnum : Plantae
Division : Hepaticohyta
Class : Hepaticosida
Ordo : Hepaticoccales
Family : Hepaticoceae
Genus : Hepaticopsida
Species : Hepaticiopsida sp

c. Lumut Tanduk (Anthoceratopsida)


Bentuk tubuhnya seperti lumut hati yaitu berupa talus, tetapi sporifitnya berupa kapsul
memanjang. Sel lumut tanduk hanya mempunyai satu kloroplas. Hidup di tepi sungai,
danau, atau sepanjang selokan. Reproduksi seperti lumut hati. Contohnya Anthocerros sp.
c) Tumbuhan talus (Thallophyta), meliputi kurang lebih 60.000 jenis tumbuhan

Thalus dipakai untuk menyatakan jaringan yang tidak berdiferensiasi (masih belum
bisa dibedakan bagian-bagiannya) yang membentuk tubuh sekelompok vegetasi tingkat
rendah. Istilah Thallophyta ("tumbuhan talus") dipakai untuk menggolongkan alga
("ganggang") dan lumut kerak. Ganggang memiliki pigmen hijau daun yang disebut klorofil
sehingga dapat melakukan fotosintesis. Selain itu juga memiliki pigmen pigmen tambahan
lain yang dominan. Ganggang memiliki ukuran yang beraneka ragam ada yang mikroskopis,
bersel satu, berbentuk benang atau pita , atau bersel banyak berbentuk lembaran. Dalam
perairan ganggang merupakan penyusun vitoplankton yang biasanya melayang layang
didalam air, tetapi juga dapat hidup melekat didasar perairan disebut neustonik. Berdasarkan
sifatnya ganggang digolongkan menjadi;
a

Epilitik ( hidup diatas batu)

Epipalik (melekat pada lumpur atau pasir)

Epipitik ( melekat pada tanaman )

Epizoik ( melekat pada hewan).


Berdasarkan habitat yang ditempatinya diperairan , dibedakan atas:

Ganggang Subbaerial yaitu ganggang yang hidup didaerah permukaan,

Ganggang Intertidal, yaitu ganggan secara periodic muncul kepermukaan karena naik
turun air akibat pasang susrut.

Ganggang Subritorsal, yaitu ganggang yang berada dibawah permukaan air,

Ganggang Edafik, yaitu ganggang yang hidup diddalam tanah pada dasar perairan.
Jenis jenis ganggang, misalnya Chlorella sp, bersimbiosis dengan organism lainnya

yaitu hidup bersama paramecium, hydra atau molusca; ganggang platimonas sp, hidup
bersama cacing pipih convolutta roscofencis.
Macam bentuk tubuh ganggang yaitu berselsatu atau uniseluler , membentuk koloni
berupa filament atau kolini yang tidak membentuk filament. Sebagian ganggang yang
uniseluler dapat bergerak atas kekuatan sendiri (motil), dan yang tidak dapat bergerak sendiri
yaitu nonmotil. Perbedaan dengan tubuh uniseluler yang mikroskosis, pada ganggang yang
membentuk koloni berupa filament berukuran cukup besar, sehingga dapat dilihat dengan
mata telanjang, sel yang terletak paling bawah pada filament membentuk alat khusus untuk
menempel pada batu, batang pohon, atau lumpur. Alat tersebut dinamakan pelekat. Koloni
ganggang yang tidak membentuk filamnen umumnya berbentuk pola atau pipih tanpa pelekat.
Cara ganggang bereproduksi dengan dua macam, yaitu seksual dan aseksual.
Reproduksi secara aseksual terjadi melalui pembelahansel, fragmentasi, dan pembentukan

zoozpora, sedangkan reproduksi secara aseksual terjadi melalui isogami dan oogami. Adapun
beberapa ciri ciri talus yaitu:
1

ukuran talus mulai dari mikroskopis sampai dengan maksoskopis, ada yang berbentuk
tegak, bercabang, filament tidak bercabang, dan filament dasar.

Ganggang ini melalui kloroplas tunggal, ada beberapa yang berbentuk lempengan
discoid (cakram) dan ada pula yang seperti benang.

Mempunyai pirenoid yang terdapat didalam kloroplas.

Bagian dalam dinding selnya tersusun dari lapisan selulosa sedangkan bagian luar
tersusun dari gumi. Pada dinding sel dan ruang antar sel terdapat asam alginate atau
algin.

Merupakan jaringan transportasi air dan zat makanan yang analog dengan jaringan
tranzportasi pada tumbuhan darat.

d) Tumbuhan paku (Pteridophyta), meliputi kurang lebih 10.000 jenis tumbuhan


Tumbuhan paku merupakan tumbuhan berkormus dan berpembuluh yang paling
sederhana. Terdapat lapisan pelindung sel (jaket steril) di sekeliling organ reproduksi, sistem
transpor internal, hidup di tempat yang lembap. Akar serabut berupa rizoma, ujung akar
dilindungi kaliptra. Sel-sel akar membentuk epidermis, korteks, dan silinder pusat (terdapat
xilem dan fleom).
Batang tumbuhan paku tidak tampak karena terdapat di dalam tanah berupa rimpang,
sangat pendek, ada juga yang dapat mencapai 5 meter seperti pada paku pohon atau paku
tiang. Daun ketika masih muda melingkar dan menggulung. Beradasarkan bentuk dan
ukurandan susunannya daun tumbuhan paku dibedakan menjadi mikrofil dan makrofil.
Mikrofil bentuk kecil atau bersisik, tidak bertangkai, tidak bertulang daun, belum
memperlihatkan diferensiasi sel. Makrofil daun besar, bertangkai, bertulang daun, bercabangcabang, sel telah terdiferensiasi. Berdasarkan fungsinya daun tumbuhan paku dibedakan
menjadi tropofil dan sporofil. Tropofil merupakan daun yang khusus untuk asimilasi atau
fotosintesis. Sporofil berfungsi untuk menghasilkan spora.
Spora tumbuhan paku dibentuk dalam kotak spora . Kumpulan sporangium disebut
sorus. Sorus muda sering dilindungi oleh selaput yang disebut indusium. Berdasarkan macam
spora yang dihasilkan tumbuhan paku dibedakan menjadi tiga yaitu paku homospora
(isospora), paku heterospora dan paku peralihan. Paku homospora menghasilkan satu jenis
spora (ex Lycopodium/paku kawat). Paku heterospora menghasilkan dua jenis spora yang
berlainan

yaitu

megaspora

(ukuran

besar)

dan

mikrospora

(ukuran

kecil)

(ex

Marsilea/semanggi dan Selaginella/paku rane). Paku peralihan merupakan peralihan antara


homospora dan heterospora menghasilkan spora pembentuk dan ukurannya sama tetapi
berbeda jenis kelamin contoh : paku
ekor kuda.
Tumbuhan paku bereproduksi secara aseksual (vegetatif) dengan stolon yang
menghasilkan gemma (tunas).Gemma adalah anakan pada tulang daun atau kaki daun yang
mengandung spora. Reproduksi seksual (generatif) melalui pembentukan sel kelamin
jantan/spermatozoid (gametangium jantan/anteridium) dan sel kelamin betina/ovum
(gametangium betina/arkegonium). Seperti pada lumut tumbuhan paku juga mengalami
pergiliran keturunan/metagenesis. Metagenesis tersebut dibedakan antara paku homospora
dan heterospora. Tumbuhan paku dibedakan menjadi empat kelompok yaitu :
I.Psilotophyta,
Psilotophyta mempunyai dua genera (ex Psilotum sp). Psilotum sp tersebar luas di
daerah tropik dan subtropik, mempunyai ranting dikotom, tidak memiliki akar dan daun,
pengganti akar berupa rizoma diselubungi rambut-rambut yang dikenal rizoid.
II.Lycophyta,
Lycophyta contohnya Lycopodium sp dan Selaginella sp. Lycopodium sp sporanya
dalam sporofit daun khusus untuk reproduksi dan dapat bertahan dalam tanah selama 9 tahun,
dapat menghasilkan spora tunggal yang berkembang menjadi gametofit biseksual (memiliki
baik organ jantan dan betina), jenis homospora. Selaginella sp merupakan tanaman
heterospora, menghasilkan dua jenis spora (megaspora/gamet betina dan mikrospora/gamet
jantan).
III.Sphenophyta,
Sphenophyta sering disebut paku ekor kuda, bersifat homospora, mempunyai akar;
batang; daun sejati, batangnya keras karena dinding sel mengandung silika. Contohnya
Equisetum debile (paku ekor kuda).
IV.Pterophyta
Pterophyta (paku sejati) umumnya tumbuh di darat pada daerah tropis dan subtropis.
Daunnya besar, daun muda menggulung. Sporangium terdapat pada sporofil (daun penghasil
spora). Contohnya: Adiantum cuncatum (paku suplir untuk hiasan), Marsilea crenata
(semanggi untuk sayuran), Asplenium nidus (paku sarang burung), Pletycerium bifurcatum
(paku tanduk rusa).
e) Tumbuhan biji(Spermathopyta), meliputi kurang lebih 170.000 jenis tumbuhan

Tumbuhan biji terbagi atas 2, yaitu:


A. Tumbuhan Biji Terbuka (Gymnospermae)
Gymnospermae atau tumbuhan biji terbuka adalah tumbuhan biji yang bijinya tidak
tertdapat dalam buah., tetapi bijinya terletak di daun buah sehingga bijinya tampak dari luar.
Daun buah adalah daun biasa yang berubah bentuk dan fungsinya, yaitu bentuknya
memanjang dan tepinya berlekuk-lekuk. Di tempat lekukannya terdapat bakal biji. Karena
bakal bijinya tidak diliputi daun buah, tumbuhan biji terbuka disebut tumbuhan biji telanjang.
Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut ada beberapa ciri tumbuhan biji terbuka
(Gymnospermae).
1. Akar
Akar kebanyakan berupa sistem perakaran tunggang. Akar ini memiliki jaringan
pengangkut yang terdiri atas sel-sel trakheid. Pada ujung akar terdapat kelompok sel pemula
(inisial) yang membentuk plerome (ke dalam) dan kaliptra (ke luar).
2. Batang
Batang berkayu, berbentuk perdu atau pohon. Pada batang terdapat jaringan
pengangkut xylem dan floem. Batang dan akar berkambium sehingga selalu mengadakan
pertumbuhan sekunder. Batang tumbuhan biji terbuka, ada yang lurus, misalnya pada pakis
haji, serta ada yang bercabang, misalnya pada Ginkgo dan belinjo.
3. Daun
Daun berbentuk jarum (misalnya pada pinus dan cemara), seperti pita bertulang daun
sejajar (misalnya pada pakis haji), atau berdaun lebar dengan tulang daun menyirip (misalnya
pada belinjo). Daun berwarna hijau karena mengandung klorofil yang berguna dalam
fotosintesis, yaitu proses mengubah CO2 dan H2O menjadi zat gula dan O2 dengan bantuan
ebergi cahaya.
4. Bunga
Bunga Gymnospermae bukan bunga sebenarnya. Jika mempunyai mahkota bunga, mahkota
berwarna tidak mencolok.
5

Biji
Biji tidak terlindung oleh daun buah. Daun buah merupakan organ reproduksi

tumbuhan biji terbuka. Ada dua macam daun buah, yaitu daun buah jantan yang akan
menghasilkan sel-sel kelamin jantan dan daun buah betina yang akan menghasilkan sel-sel
kelamin betina.

Pada beberapa tumbuhan, misalnya pinus, daun buahnya berkumpul dalam satu
kelompok seperti kerucut. Kumpulan tersebut disebut strobilus atau runjung. Alat kelamin
jantan disebut mikrosporofil yang terdapat pada strobilus jantan. Alat kelamin ini
menghasilakan mikrospora (serbuk sari). Alat kelamin betina disebut megasporofil yang
terdapat pada strobilus betina. Alat ini menghasilkan megaspora.
Strobilus jantan dan betina tidak selalu dalam satu pohon. Ada beberapa tumbuhan
yang strobilus jantan dan betina terdapat pada pohon yang berbeda, misal pada pakis haji.
Tumbuhan seperti ini disebut berumah dua, sedangkan tumbuhan yang strobilus jantan dan
betinanya terdapat dalam satu pohon disebut berumah satu.
Gymnospermae digolongkan menjdai lima kelas sebagai berikut :
1

Pteridospermae (Paku Biji)


Kelas Pteridospermae merupakan peralihan dari tumbuhan paku (Pteridophyta) ke

Gymnospermae. Tumbuhan kelas ini sudah punah.


2

Cycadinae
Cycadinae meliputi kira-kira 100 spesies yang sebagian besar menyerupai pohon

palma, agak berkayu, tidak bercabang, akar tunggang, batang memanjang, serta berdaun
majemuk dan terdapat di ujung batang. Tumbuhan ini berbungan uniseksual (berkelamin
tunggal), misalnya pakis haji (Cycas rumphii).
Kebanyakan kelas Cycadinae merupakan tumbuhan tropis dan subtropics. Tumbuhan
ini banyak dibudidayakan sebagai tanaman hias atau diambil getahnya. Anggota Cycadinae
yang lain adalah Encephalartos lehmannii. Tanaman yang berasal dari afrika ini, merupakan
tanaman berumah dua yang dapat digunakan untuk tanaman hias.
3

Ginkgoinae
Anggota kelas ini tinggal satu spesies yaitu Ginkgo biloba (pohon rambut dara cina).

Ketinggian pohon ini dapat mencapai 28-30m. pohon ini dapat digunakan sebagai tanaman
hias dan biasa ditanam di tengah kota karena tanaman ini tahan terhadap udara tercemar.
Daun Ginkgo biloba seperti kipas, kulit buahnya tebal dan lunak. Tumbuhan jenis ini banyak
tumbuh di negara Amerika Serikat dan Inggris.
4

Gnetinae
Kelas ini dianggap memiliki perkembangan evolusi paling tinggi karena memiliki

bunga sederhana. Tumbuhan ini ada yang berumah satu dan ada yang berumah dua, serta
berdaun tunggal dengan tulang menyirip. Contoh tumbuhan kelas Gnetinae adalah belinjo
(Gnetum gnemon). Selain Gnetum gnemon terdapat tumbuhan Welwitschia mirabilis yang
termasuk anggota kelas Gnetinae.

Welwitschia mirabilis tumbuh di gurun pasir Afrika. Tidak seperti halnya tumbuhan
lain yang mempunyai banyak daun, tumbuhan Welwitschia mirabilis mempunyai satu pasang
daun yang liat seperti kulit. Letak daun berhadapan dan terbentang di atas tanah yang
berbatu-batu. Pada waktu tumbuh dari pangkalnya, daun-daun ini terbelah-belah membujur
dan mati pada ujungnya. Batangnya terpendam di dalam tanah dan berbentuk cawan. Bagian
ini

muncul

di

atas

tanah.

5. Coniferinae
Kelas ini meliputi kira-kira 600 spesies dan didominasi pinus yang meliputi lebih dari
80 spesies. Kebanyakan memiliki daun yang selalu hijau (evergreen). Tumbuhan ini tersebar
luas, tetapi terutama di daerah dingin dan dataran tinggi. Tumbuhan ini berumah satu
(biseksual). Bagian tumbuhan yang bermanfaat, misalnya kayu pinus (Pinus merkusii)
berguna untuk pembuatan kertas serta korek api dan getah dammar (Agathis alba) untuk
pembuatan cat. Selain itu, tanaman Abies balsamea dapat digunakan sebagian bahan balsam.
B. Tumbuhan Biji Tertutup (Angiospermae)
Tumbuhan biji tertutup (Angiospermae) adalah tumbuhan biji yang letak bijinya
tertutup oleh daun buah. Angiospermae sudah memiliki organ yang berkembang sempurna
sehingga dianggap sebagai golongan tumbuhan dengan tingkat perkembangan evolusi tinggi,
dan angiospermae merupakan tumbuhan berbunga sejati. Tumbuhan biji tertutup
(Angiospermae) mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
1

Akar
Angiospermae mempunyai system perakaran tunggang dan serabut. Jaringan

pengangkutnya terdiri atas floem dan xylem.


2

Batang
Batang tumbuhan biji tertutup berbentuk pohon, perdu, dan semak. Batang sebagai

pendukung ranting, daun, buah, dan bunga. Pada batang terdapat jaringan pengangkut berupa
xylem dan floem. Pembuluh xylem berfungsi untuk mengangkut air dan garam mineral dari
akar menuju daun, sedangkan pembuluh floem berfungsi untuk mengangkut zat makanan
hasil fotosintesis dari daun menuju seluruh bagian tumbuhan.
Batang dapat dijadikan pembeda pengelompokan tumbuhan Angiospermae berdasarkan
umurnya, adalah sebagai berikut:
a

Tumbuhan anual adalah tumbuhan yang berumur pendek, biasanya kurang dari setahun,
misalnya padi jagung dan kedelai.

Tumbuhan bineal adalah tumbuhan yang berumur dua tahun, misalnya sawi, wortel, dan
seledri.

Tumbuhan pareneal (menahun) adalah tumbuhan yang hidup menahun, misalnya kelapa,
karet, durian, dan jati.

Daun
Angiospermae kebanyakan mempunyai daun tipis dan lebar, ada yang berbentuk

lurus, sejajar, menjari, dan menyirip. Pada umumya daun berwarna hijau karena mengandung
klorofil.
4

Bunga
Pada Angiospermae bunga merupakan alat perkembangbiakan seksual. Bunga

berdasar kelengkapan bagian bunga (kelopak, mahkota, dan kelamin bunga) dibedakan
menjadi bunga lengkap dan bunga tidak lengkap. Bunga lengkap adalah bunga yang memiliki
kelopak, mahkota dan alat kelamin secara lengkap. Kalau tidak ada salah satunya bagian
disebut bunga tidak lengkap. Berdasarkan ada tidaknya alat kelamin (benang sari dan putik),
bunga dibedakan menjadi bunga sempurna dan bunga tidak sempurna. Bunga sempurna
adalah bunga yang mempunyai benang sari dan putik dalam satu bunga, sedangkan bunga
tidak sempurna hanya memiliki salah satu alat kelamin (benang sari atau putik saja)
5

Biji
Biji terbentuk melalui peristiwa penyerbukan, yaitu melekatnya serbuk sari diatas

kepala putik dan pembuahan yaitu bersatunya sel kelamin jantan dan sel telur. Hasil
pembuahan adalah zigot yang kemudian berkembang menjadi biji. Biji terlindung oleh daun.
Biji ada yang berkeping satu dan ada yang berkeping dua.
Berdasarkan keping bijinya (kotiledon), tumbuhan Angiospermae dibedakan menjadi
dua, yaitu Dicotyledoneae (dikotil), yaitu tumbuhan yang bijinya mempunyai dua kotiledon
dan monocotyledoneae (monokotil), yaitu tumbuhan yang bijinya mempunyai satu kotiledon
dapat dijelaskan sebagai berikut:
1

Tumbuhan Berkeping Satu (Monokotil)


Monokotil adalah tumbuhan yang hanya mempunyai satu kotiledon. Tumbuhan

monokotil pada saat berkecambah bijinya tidak membelah karena hanya mempunyai satu
keeping biji. Kelas monokotil memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a

Susunan akarnya berupa akar serabut.

Batangnya beruas-ruas yang tampak jelas.

Urat-urat daun sejajar dan melengkung.

Bagian bunga, misalnya mahkota dan kelopak berjumlah tiga atau kelipatannya.

Jika biji berkecambah, kotiledonnya (keping biji) tetap utuh atau tudak terbelah.

Batang dan akarnya tidak dapat tumbuh membesar karena tidak mempunyai cambium,

kecuali pada beberapa jenis ada yang batangnya membesar, misalnya nanas seberang dan
palem raja.
Kelas monokotil dikelompokkan menjadi beberapa ordo (bangsa) dan setiap bangsa
dikelompokkan menjadi beberapa suku. Adapun beberapa suku tumbuhan monokotil yang
penting adalah sebagai berikut:
a

Gramineae (Poaceae)
Tumbuhan ini biasanya mempunyai akar rimpang, batang bulat beruas-ruas dan

berongga, serta daun tunggal berbentuk pita dan susunan tulang daunnya sejajar. Daun
melekat langsung pada batang. Bunga berukuran kecil dan tersusun oleh bulir. Beberapa bulir
mrembentuk bulir majemuk. Penyerbukannya biasanya dibantu oleh angin. Contonya adalah
jagung, tebu, padi dan alang-alang.
b

Cyperaceae
Ciri-ciri tumbuhan anggota famili ini antara lain mempunyai akar rimpang, batang

segitiga dan tidak berongga, serta daun tunggal berbentuk pita dan terletak di pangkal batang.
Contohnya: rumput teki.
c

Liliaceae
Tumbuhan ini biasanya mempunyai akar rimpang. Secara umum tumbuhan ini

merupakan tumbuhan basah berupa tanaman merambat. Pada jenis tertentu tepi daum berduri
dan berlendir, contohnya lidah buaya yang banyak dimanfaatkan untuk bahan kecantikan.
Dan contoh lain yaitu bawang putih dan bawang merah yang dimanfaatkan untuk bumbu
masakan.
d

Palmae
Tumbuhan ini biasanya mempunyai akar serabut, batang tidak bercabang, daun menyirip

berbentuk kipas, dan tangkai daun atau pelepah melebar. Contohnya: kelapa, aren, dan salak.
e

Zingiberaceae
Tumbuhan ini mempunyai akar rimpang dan telah mengalami penambahan fungsi

sebagai alat perkembangbiakan vegetatif. Anggota tumbuhan ini bermanfaat sebagai bahan
rempah, obat dan makanan. Contohnya: jahe, kunyit, dan temulawak.
f

Cannaceae

Tumbuhan ini banyak yang berupa semak menahun, berakar rimpang, tebal dan
berumbi, serta daun bertulang menyirip. Tumbuhan ini banyak dimanfaatkan sebagai tanaman
hias. Contohnya: bunga tasbih.
g

Orchidaceae
Tumbuhan ini hidup secara saprofit dsn epifit, berakar rimpang serta daun berubah

menjadi upih dan memeluk batang. Contohnya: anggrek dan vanili.


h

Pandanaceae
Tumbuhan ini berupa semak, perdu, atau pohon yang tumbuh tegak, batang

bercabang, serta daun sempit memanjang dan kadang tepi daun berduri. Tumbuhan ini
kadang memiliki akar tunjung pada batang atau cabang yang menjulur di atas tanah.
Contohny: pandan wangi.
iMusaceae
Tumbuhan ini berakar serabut dan berdaun sempurna. Batang berupa batang semu,
yang berdiri di permukaan tanah adalah tumpukan pelepah daunnya. Batang aslinya berada di
dalam tanah. Buahnya adalah buah buni atau kotak dan banyak dimanfaatkan sebagai buah
segar. Contohnya: pisang
2

Tumbuhan Berkeping Dua (Dikotil)


Dikotil adalah tumbuhan yang mempunyai dua kotiledon. Pada saat biji tumbuhan

dikotil berkecambah mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:


a

Biji berkeping dua.

Dua daun lembaga terangkat keatas.

Tulang daun menjari.

Berakar tunggang yang bercabang-cabang.

Tulang daun menyirip atau menjari, daun tunggal atau majemuk danjarang berpelepah.

Batang bercabang dan memiliki cambium di antara berkas pengangkutnya.

Ikatan pembuluh angkut pada batang letaknya teratur.

Bunga memiliki bagian-bagian bunga, misalnya kelopak, mahkota, benangsari dengan


jumlah dua, 4,5 atau kelipatannya, sedangkan putik biasanya satu buah.
Tumbuhan dikotil mempunyai beberapa famili, adalah sebagai berikut:

aPapilionaceae (suku kacang-kacangan)

Tanaman semak berbatang tegak atau merambat. Bunga berbentuk seperti kupu-kupu.
Pada akar terdapat bintil yang merupakan simbiosis dengan bakteri. Contoh: kacang tanah,
kacang hijau, dan kacang panjang
bEuphorbiaceae(suku getah-getahan)
Merupakan tumbuhan herba, berkayu, dan bergetah. Batangnya menjalar atau
membelit. Contoh: ketela pohon dan karet.
cMimmosaceae
Tumbuhan berkayu, semak dan pohon. Daun majemuk, karangan bunga berbentuk
bongkol, benang sari panjan. Biji di dalam buah polong. Contoh: Mimmosa pudika (si kejut),
Leucaena glauca (petai cina).
d Caesalpiniaceae (suku jo

har)

Batang dan akar berkayu. Bunga mencolok, daunnya bias dipakai sebagai obat.
Contoh: kembang merak, asam, johar.
eLabiatae
Meliputi tumbuhan perdu, bunga bilateral simetris, bunga memiliki mahkota dan
kelopak, benang sari 2 atau 4 dan putuik 1. Contoh: kemangi, kumis kucing.
f Convolvulaceae
Merupakan tumbuhan herba dan berkayu, batangnya menjalar, melilit dan bergetah.
Bunga simetris radial. Contah: ketela rambat dan kangkung.
gMyrtaceae
Daun berbintik-bintik dan menghasilkan kelenjar minyak. Contoh: jambu air dan
jambu biji.
hMoraceae
Habitus pohon, daun tunggal, duduk daun menyebar terlindung oleh daun penumpu
yang memeluk ranting. Seluruh bagian tubuhnya bila terlika akan mengeluarkan getah.
Contoh: nangka dan beringin.
i Rutaceae (jeruk)
Daunnya mengeluarkan orama yang sangat khas. Contohnya: jeruk bali, dan jeruk
nipis.
j Rubiaceae
Daunnya tunggal dengan duduk daun berhadapan pada setiap ruas. Contoh: kopi.
kMalvaceae (suku kapas-kapasan)
Tumbuhan berdaun tunggal, kulit batang dan buah dapat menghasilkan benang.
Contoh: kapas dan rosela.

l Bombaceae
Tumbuhan berdaun tunggal, duduk daun tersebar, dan bunga berwarna menarik.
Contoh: durian.
m Apocynaceae (suku kamboja)
Tumbuhan berkayu, bunga mencolok dan bergetah. Contohnya: kamboja, dan
alamanda.
nVerbenaceae
Contahnya tanaman jati.
oAnnonaceae
Contahnya srikaya dan sirsak.
pCucurbitaceae
Tumbuhan yang menjalar dipermukaan tanah dan sering dikenal sebagai timuntimunan. Contohnya: mentimun, dan labu.
qAsteraceae
Tumbuhan yang mempunyai bunga majemuk bentuk cawan (memiliki bunga
tengah dan bunga tepi). Conthnya: bunga matahari dan kenikir.

2. KINGDOM ANIMALIA
Animalia atau hewan merupakan organisme multiseluler, bersifat heterotrof,
organisme yang aktif. Kingdom animalia dibagi ke dalam dua kelompok berdasarkan ada
tidaknya tulang belakang, yaitu:

Avertebrata
Avertebrata merupakan kelompok hewan yang tidak memiliki tulang belakang.

Avertebrata terdiri dari 8 filum, yaitu:


a

Porifera (hewan berpori)

Porifera merupakan kelompok hewan multiseluler yang paling sederhana, tubuh


berpori-pori, sebagian besar hidup di air laut, tapi ada juga yang hidup di air tawar.
Tubuhnya berbentuk seperti bunga pada umumnya. Contoh: Niphates digitalis, Clathrina.
b

Coelenterata (Hewan berongga)


Struktur tubuh Coelenterata lebih kompleks dibanding porifera. Dalam daur hidupnya
mempunyai bentuk tubuh sebagai polip dan medusa. Mulut memiliki tentakel, pada tentakel
terdapat alat penyengat. Contoh: Chrysaora fruttescena (ubur-ubur).

Plathyhelminthes (cacing pipih)


Berbentuk pipih, lunak dan simetris bilateral. Dapat hidup bebas di air tawar dan air
laut. Misalnya, planaria dan sebagai parasit pada hewan atau manusia seperti cacing hati

Nemathelminthes (Cacing gilig)


Bentuk tubuh gilig/silindris, memiliki rongga tubuh tapi tidak sejati. Permukaan tubuh
dilapisi kutikula, memiliki sistem pencernaan ya ng lengkap. Hidup bebas atau sebagai
parasit. Contoh: Ascaris lumbricoides (cacing perut).

Annelida (Cacing gelang)


Tubuh bersegmen dan bulat, sistem pencernaan sudah lengkap. Sebagian besar hidup
bebas, ada yang sebagai parasit. Contoh: Lumbricus terrestris (cacing tanah).

Mollusca (Hewan bertubuh lunak)


Mollusca merupakan kelompok hewan yang bertubuh lunak, tubuh di lindungi
cangkang, ada pula yang tidak bercangkang. Ukuran bervariasi. Hidup di perairan laut, air
tawar, ataupun darat. Contoh: Achatina fulica (bekicot).

Arthropoda (Hewan berbuku-buku)


Memiliki kaki beruas-ruas, tubuh dapat dibedakan antara kepala, dada, da n perut.
Mempunyai rangka luar yang keras (kutikula). Hidup bebas, parasit, simbiosis. Contoh:
Pardosa amenata (jenis laba-laba).

Echinodermata (Hewan berkulit duri)


Struktur tubuh simetri radial, seperti bintang, bulat, pipih. Permukaan tubuh umumnya
berkulit duri. Bergerak menggunakan kaki ambulakral. Hidup bebas atau di perairan laut.
Contoh: Acanthaster sp (bintang laut).

Vertebrata
Kelompok hewan ini memiliki tulang belakang, rangka dalam, rongga tubuh, sistem

pernapasan, pencernaan, peredaran darah, ekskren, saraf, alat reproduksi terdiri dari kelamin
jantan dan betina. Vertebrata terdiri atas:
a

Pisces (ikan) yaitu jenis hewan yang hidup di air, bernafas dengan insang, contoh: ikan
louhan.

Amphibia, yaitu hewan yang dapat hidup di darat dan di air, bernafas dengan kulit. Contoh
: katak.

Reptilia yaitu hewan yang dapat hidup di darat dan di air, bernafas dengan paru- paru,
contoh: komodo.

Aves (burung) yaitu hewan yang memiliki bulu, ekor, badan, leher dan kepala,
berkembang biak dengan cara bertelur, contoh: penguin.

Mamalia, jenis hewan yang menyusui anaknya. Bernafas dengan paru- paru. Contoh: kera.

3 KINGDOM PROTISTA
Protista adalah mikroorganisme eukariota yang bukan hewan, tumbuhan,
atau fungus. Mereka pernah dikelompokkan ke dalam satu kerajaan bernama Protista,
namun sekarang tidak dipertahankan lagi. Penggunaannya masih digunakan untuk
kepentingan kajian ekologi dan morfologi bagi semua organisme eukariotik bersel
tunggal yang hidup secara mandiri atau, jika membentuk koloni, bersama-sama namun tidak
menunjukkan diferensiasi menjadi jaringan yang berbeda-beda. Dari sudut pandang
taksonomi, pengelompokan ini ditinggalkan karena bersifat parafiletik. Organisme dalam
Protista tidak memiliki kesamaan, kecuali pengelompokan yang mudah, baik yang bersel
satu atau bersel banyak tanpa memiliki jaringan. Protista hidup di hampir semua
lingkungan yang mengandung air. Banyak protista, seperti algae, adalah fotosintetik dan
produsen primer vital dalam ekosistem, khususnya di laut sebagai bagian dari
plankton. Protista lain, seperti Kinetoplastid dan Apicomplexa, adalah penyakit
berbahaya bagi manusia, seperti malaria dan tripanosomiasis.
Protista pertama kali diusulkan oleh Ernst Haeckel. Secara tradisional, protista
digolongkan menjadi beberapa kelompok berdasarkan kesamaannya dengan kerajaan yang
lebih tinggi yaitu meliputi Protozoa yang menyerupai hewan bersel satu, Protophyta
yang menyerupai tumbuhan (mayoritas algae bersel satu), serta jamur lendir dan
jamur air yang menyerupai jamur. Dulu, bakteri juga dianggap sebagai protista dalam
sistem tiga kerajaan (Animalia, Plantae termasuk jamur, dan Protista). Namun kemudian
bakteri dipisah dari protista setelah diketahui bahwa ia adalah prokariotik.
4

KINGDOM MONERA
Monera adalah salah satu kingdom dalam klasifikasi biologi sistem lima-kingdom,

yang sekarang sudah tidak dipakai lagi. Monera meliputi sebagian besar prokariotik (yaitu
tidak punya inti sel. Oleh sebab itu, nama lainnya adalah Prokaryota atau Prokaryotae.
Kingdom ini dibagi menjadi dua divisi yaitu Bacteria (atau Schizomycetes) dan Cyanophyta
atau alga hijau-biru.
Pengelompokan ini sekarang tidak digunakan lagi, setelah berbagai temuan
menunjukkan bahwa Cyanophyta sekarang ini lebih tepat dianggap sebagai bakteria dan
dinamakan sebagai Cyanobacteria.

KINGDOM FUNGI
Fungi adalah nama regnum dari sekelompok besar makhluk hidup eukariotik

heterotrof yang mencerna makanannya di luar tubuh lalu menyerap molekul nutrisi ke
dalam sel-selnya. Fungi memiliki bermacam-macam bentuk. Awam mengenal sebagian besar
anggota Fungi sebagai jamur, kapang, khamir, atau ragi, meskipun seringkali yang
dimaksud adalah penampilan luar yang tampak, bukan spesiesnya sendiri.
Fungi memperbanyak diri secara seksual dan aseksual. Perbanyakan seksual
dengan cara :dua hifa dari jamur berbeda melebur lalu membentuk zigot lalu zigot tumbuh
menjadi tubuh buah, sedangkan perbanyakan aseksual dengan cara membentuk spora,
bertunas atau fragmentasi hifa. Jamur memiliki kotak spora yang disebut sporangium. Di
dalam sporangium terdapat spora. Contoh jamur yang membentuk spora adalah Rhizopus.
Contoh jamur yang membentuk tunas adalah Saccharomyces. Fungi diklasifikasikan menjadi
6 klasifikasi, yaitu:
a

Zygomycota

Ascomycota

Basidiomycota

Deuteromycota

Mikoriza

Lumut Kerak

6 KINGDOM EUBACTERIA
Para makhluk hidup di Kingdom Eubacteria berupa makhluk hidup sel tunggal
(uniseluler). Makhluk hidup yang dimasukkan dalam kerajaan Eubacteria memiliki sel
prokariotik (sel sederhana yang tidak mempunyai kapsul sebagai lapisan terluarnya dan
dinding sel didalamnya). Eubacteria juga dikenal dengan istilah bakteria.

7 KINGDOM ARCHAEBACTERIA
Pada tahun 1977 seorang mikrobiolog bernama Carl Woese dan peneliti lain dari
university of Illinois menemukan suatu kelompok bakteri yang memiliki ciri unik dan
berbeda

dari

anggota

kingdom

Monera

lainnya.

Kelompok

tersebut

dinamakan

Archaebacteria. Archaebacteria lebih mendekati makhluk hidup eukariot dibandingkan


bakteri lain yang merupakan prokraiot. Hal itu menyebabkan terciptanya sistem klasifikasi 6
kingdom pemisah kingdom Archaebacteria dari anggota kingdom Monera lain yang
kemudaian disebut Eubacteria.
Namun hingga sekarang yang diakui sebagai sistem klasifikasi standar adalah sistem
Lima Kingdom yang ditemukan oleh Whittaker. Makhluk hidup di Kingdom Archaebacteria
tidak jauh berbeda dengan yang ada di Kingdom Eubacteria karena mereka dulunya satu
Kingdom. Namun Archaebacteria umumnya tahan di lingkungan yang lebih ekstrem.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah ada, penulis dapat menarik kesimpulan yaitu:
1

Klasifikasi adalah penyusunan makhluk hidup secara teratur ke dalam suatu herarki.
Sistem penyusunan ini berasal dari kumpulan informasi makhluk hidup secara individual
yang menggambarkan kekerabatan.

Adapun tujuan klasifikasi makhluk hidup yaitu untuk mengelompokkan makhluk hidup
berdasarkan persamaan ciri-ciri yang dimiliki, mengetahui ciri-ciri untuk mengetahui
hubungan kekerabatan makhluk hidup tersebut

Sistem klasifikasi makhluk hidup dapat dibedakan menjadi 2, yaitu berdasarkan dari segi
sifatnya dan dari segi pembagian kingdomnya. Yaitu secara pembagiannya makhluk hidup
dibagi kedalam 6 kingdom yaitu Eubacteria, Archaebacteria, protista, fungi, plantae, dan
animalia

3.2 Saran
Adapun Saran penulis sehubungan dengan bahasan makalah ini, kepada rekan-rekan
mahasiswa agar lebih meningkatkan, menggali dan mengkaji lebih dalam tentang bagaimana
sistem klasifikasi makhluk hidup.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, A. 1984. Ringkasan Biologi. Ganeca Exact. Bandung.


Dwidjoseputro. 1986. Biologi. Erlangga. Jakarta.
Kimball, J. W. 1993. Biologi Umum. Erlangga. Jakarta.
Lumowa, sonja V.T. 2012 . Bahan Ajar Botani Tingkat Tinggi. Universitas Mulawarman:
Samarinda
Dwidjoseputro. 1994. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia pustaka Utama
Fried, dkk. 2005. Biologi. Jakarta: Erlangga
Karmana Oman. 2007. Cerdas Belajar Biologi Untuk Kelas XII SMA/MA program IPA.
Bandung : Grafindo
Kimball, John W. 1992. Biologi. Jakarta: Erlangga
Kimball, dkk. 2002. Biology Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Lehninger. 2005. Dasar-Dasar Biokimia Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Nisrina.
2009. Katabolisme. http://www.scribd.com/doc/36876038/katabolisme diaks
es tanggal 04 Oktober 2012, pukul 19.34
Rahmawati Diah. 2001. Pelajaran Biologi SMU 3. Surakarta : PT. Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri
Salisbury, dkk. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 1. Bandung: ITB