Anda di halaman 1dari 11

Filsafat Hukum dalam Pembangunan

Hukum Nasional - NegaraHukum.com


by Damang Averroes Al-Khawarizmi January 9, 2012

Konsep pembangunan hukum nasional, ide


hukum pembangunan. Hukum bukan sebagai alat, melainkan sarana untuk pembaharuan hukum.
Tepatnya pembangunan hukum nasional sulit dilepaskan dari tulisan Kusumaatmadja. Hampir
semua Penulis yang mengkaji teori hukum pembangunan mengutip pendapat Kusumaatmadja.
Oleh karena itu dalam tulisan ini akan dikutip kembali beberapa ulasan Kusumaatmadja dalam
teori hukum pembangunannya.
Kusumaatmadja secara cemerlang mengubah pengertian hukum sebagai alat (tool) menjadi
hukum sebagai sarana (instrument) untuk membangunan masyarakat. Pokok-pokok pikiran yang
melandasi konsep tersebut adalah bahwa ketertiban dan keteraturan dalam usaha pembangunan
dan pembaharuan memang diinginkan, bahkan mutlak perlu, dan bahwa hukum dalam arti norma
diharapkan dapat mengarahkan kegiatan manusia ke arah yang dikehendaki oleh pembangunan
dan pembaharuan itu. Oleh karena itu, maka diperlukan sarana berupa peraturan hukum yang
berbentuk tidak tertulis itu harus sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat.[1]
Menurut Kusumaatmaadja bahwa pengertian hukum sebagai sarana lebih luas dari hukum
sebagai alat karena:
1. Di Indonesia peranan perundang-undangan dalam proses pembaharuan hukum lebih
menonjol, misalnya jika dibandingkan dengan Amerika Serikat yang menempatkan
yurisprudensi (khususnya putusan the Supreme Court) pada tempat lebih penting.
2. Konsep hukum sebagai alat akan mengakibatkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan
penerapan legisme sebagaimana pernah diadakan pada zaman Hindia Belanda, dan di
Indonesia ada sikap yang menunjukkan kepekaan masyarakat untuk menolak penerapan
konsep seperti itu.

3. Apabila hukum di sini termasuk juga hukum internasional, maka konsep hukum
sebagai sarana pembaharuan masyarakat sudah diterapkan jauh sebelum konsep ini
diterima secara resmi sebagai landasan kebijakan hukum nasional.
Lebih detail lagi, Kusumaatmadja mengemukakan bahwa: Hukum merupakan suatu alat untuk
memelihara ketertiban dalam masyarakat. Mengingat fungsinya sifat hukum, pada dasarnya
adalah konservatif artinya, hukum bersifat memelihara dan mempertahankan yang telah tercapai.
Fungsi demikian diperlukan dalam setiap masyarakat, termasuk masyarakat yang sedang
membangun, karena di sini pun ada hasil-hasil yang harus dipelihara, dilindungi dan diamankan.
Akan tetapi, masyarakat yang sedang membangun, yang dalam definisi kita berarti masyarakat
yang sedang berubah cepat, hukum tidak cukup memiliki fungsi demikian saja. Ia juga harus
dapat membantu proses perubahan masyarakat itu. Pandangan yang kolot tentang hukum yang
menitikberatkan fungsi pemeliharaan ketertiban dalam arti statis, dan menekankan sifat
konservatif dari hukum, menganggap bahwa hukum tidak dapat memainkan suatu peranan yang
berarti dalam proses pembaharuan.[2]
Antara filsafat hukum dan pembangunan hukum nasional bagai dua sisi mata uang yang berbeda.
Oleh karena filsafat hukum sebagai suatu disiplin keilmuan, sementara pembangunan hukum
merupakan suatu kebijaksanaan yang bersifat nasional dalam bentuk pembangunan di bidang
hukum, namun memiliki titik temu yang sama pada objek pembahasannya yaitu hukum.
Pembangunan hukum nasional merupakan keniscayaan yang mesti diterima oleh bangsa
Indonesia, karena kondisinya sebagai negara yang memiliki tingkat kemajemukan masyarakat
yang sangat tinggi dan pluralitas sosial yang kompleks.
Komposisi masyarakat Indonesia terdiri atas suku, agama, dan identitas kedaerahan yang sangat
majemuk. Sehingga oleh Nurcholis Madjid, kondisi bangsa Indonesia yang dianggap pluralis
tersebut, maka pokok pangkal kebenaran yang universal adalah Ketuhanan Yang Maha Esa atau
tawhid (secara harfia berarti me-Maha esakan Tuhan).[3]
Kondisi kemajemukan, dan masyarakat yang pluralis (beraneka ragam) tersubtitusi dalam
ideology kenegaraan, atau filsafat hukum bangsa Indonesia yakni pancasila. Sementara teori
hukummya berada pada pembukaan UUD NRI Tahun 1945 terutama pada 5 program pokok
pembangunan nasionalnya.
Teori hukum pembangunan yang dikemukakan oleh Kusumaatmadja adalah memperkenalkan
tujuan hukum bukan hanya pada kepastian dan keadilannya. Melainkan pada kedayagunaan dari
hukum itu sebagai sarana pembaru hukum (predictability) di tengah masyarakat yang majemuk.
Pembangunan hukum nasional diusahakan mengakomodasi segala kepentingan dari masyarakat
yang multi-etnik. Dengan demikian dimensi filsafat hukum yang hendak dicapai dalam teori
hukum pembangunan menunjukkan ada 2 (dua) dimensi sebagai inti Teori Hukum Pembangunan
yang diciptakan oleh Kusumaatmadja, yaitu :
1. Ketertiban atau keteraturan dalam rangka pembaharuan atau pembangunan merupakan
sesuatu yang diinginkan, bahkan dipandang mutlak adanya;

2. Hukum dalam arti kaidah atau peraturan hukum memang dapat berfungsi sebagai alat
pengatur atau sarana pembangunan dalam arti penyalur arah kegiatan manusia yang
dikehendaki ke arah pembaharuan.
Dimensi filsafat hukum yang dimaksud dari hukum pembangunan sebagai yang dikemukakan di
atas adalah dimensi ketertiban, keteraturan, dan kaidah hukum yang dapat menciptakan
pembangunan disegala aspek kehidupan.
Disamping itu, dimensi filsafat hukum yang ditarik dari hukum pembangunan oleh
Kusumaatmadja telah menambahkan defenisi hukum tidak hanya seperangkat kaidah, asas
hukum atau peraturan-peraturan saja, namun dibalik itu adalah bagaimana institusi hukum itu
bergerak atukah berjalan sebagai aturan yang memiliki daya mengikat dan daya keberlakuan.
Lengkapnya Kusumaatmadja memberikan pengertian hukum adalah suatu perangkat kaidah
dan asas-asas yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat, mencakup pula lembaga
(institution) dan proses (processes) yang diperlukan untuk mewujudkan hukum itu dalam
kenyataan.[4]
Pengertian hukum oleh Kusumaatmadja yang kemudan disinyalir sebagai salah satu pengertian
hukum berasal dari teori mazhab hukum Unpar adalah mengakomodasi ketiga landasan hukum
sebagaimana muatan, yang juga mutlak dicantumkan dalam peraturan perundang-undangan
yakni landasan yuridis, sosiologis dan filsufis. Artinya, kalau begitu, hingga kapanpun teori
hukum pembangunan tidak akan pernah berhenti sebagai konsep hukum (legal concept: Peter
Mahmud Marzuki[5]) yang akan menjadi asas ataukah prinsip hukum dalam setiap pembentukan
kaidah-kaidah hukum.
Sementara dalam pembangunan hukum nasional (tidak dikaitkan dengan filsafat hukum) juga
dapat ditemukan beberapa dimensi diantararanya dimensi pemeliharaan, dimensi pembaharuan,
dimensi penciptaan dan dimensi pelaksanaan. [6]
Dimensi pemeliharaan merupakan upaya untuk memelihara tatanan hukum yang ada, walaupun
sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Dimensi ini bertujuan untuk mencegah
kekosongan hukum yang sesungguhnya sebagai konsekuensi logis dari Pasal II Aturan Peralihan
Undang-Undang Dasar 1945, namun dalam pelaksanaannya harus disesuaikan dengan situasi dan
keadaan dengan tetap berlandaskan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. [7]
Dimensi pembaharuan merupakan upaya untuk meningkatkan dan menyempurnakan hukum
nasional. Usaha tersebut dilakukan dengan mengadakan pembahasan kodifikasi dan unifikasi
hukum.
Dimensi penciptaan yaitu suatu dinamika dan kreatifitas berupa penciptaan suatu hukum yang
sebelumnya tidak ada tetapi diperlukan untuk kesejahteraan bangsa dan negara. Dimensi
pelaksanaan yaitu upaya melaksanakan undang-undang agar undang-undang tersebut berlaku di
masyarakat baik secara filsufis, juridis, sosiologis maupun politis.[8]

Berdasarkan ulasan diatas, dimensi filsafat hukum dalam pembanguan hukum nasional dan
dimensi yang juga terdapat dalam pembangunan hukum nasional sebagai salah satu bentuk
kebijaksanaan bersifat nasional, maka hukum tetap memilki kekuatan yang perskriptif, tanpa
mengabaikan dimensi sosiologi dan filsufisnya. Hal ini sejalan dengan kesimpulan akhir dari
Sidharta dalam disertasi Krakteristik Penalaran Hukum Dalam Kontek Indonesia bahwa
penalaran hukum yang ideal dalam pembangunan hukum nasional adalah aspek ontologisnya
tetap mengartikan hukum sebagai norma-norma positif dalam sistem perundang-undangan;
aspek epistemologisnya memfokuskan tidak saja pada penerapan norma-norma positif terhadap
kasus konkret, melainkan juga pada proses pembentukannya; aspek aksiologisnya adalah
mengarah kepada pencapaian nilai-nilai keadilan dan kemanfaatan secara simultan, yang
kemudian diikuti dengan kepastian hukum.[9]
Salah satu tawaran yang menarik dari Sidharta adalah akuntabilitas, dan transparansi penegakan
hukum. Terbukti dengan tawarannya dalam penalaran hukum untuk konteks keindonesiaan yakni
hakim harus dikondisikan untuk siap mempertanggungjawabkan setiap argumentasi yang
diutamakannya.
Hukum yang senantiasa diciptakan dalam ruang-ruang institusi hukum dengan pengutamaan
keadilan, maka dituntut asas trasparansi_(lih, juga AAUPB) yang melibatkan publik dalam
setiap pembentukan dan penerapan hukum.
Konsep negara hukum_nomokrasi, telah menjamin prinsip kesamaan hak (equity) di hadapan
hukum (before the law), maka konsep hukum pembangunan yang mengutamakan keterbukaan
(transparansi) sepadan dengan tawaran pembentukan hukum sebagai consensus yang melibatkan
ruang publik (public sphere) komonikasi yang partisipatoris_Habermas atau konsepsi negara
hukum yang mengutamakan demokrasi deliberatif (Budi Hardiman).[10]

[1] Lilk Mulyadi, ibid.


[2] ibid
[3] Nurcholis Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, Paramadina, Jakarta, 2008, hal. 156.
[4] Lilik Mulyadi, opcit.
[5] Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Raja Wali Pers, Jakarta, 2008.
[6] M Fahmi AL- Amruzi, Pembanguna Hukum Nasional Dalam Perspektif Hukum, Vol. V.
No. 06 November-Desember 2006 ^ KHAZANAH, hal 706
[7] ibid
[8] Ibid.

[9] Sidharta, opcit,


[10] Budi Hardiman, Demokrasi Deliberatif, Kanisisus, Yogyakarta, 2009, hal. 128 s/d 130.

ARAH PEMBANGUNAN HUKUM NASIONAL YANG MENGHARMONISKAN TUNTUTAN


GLOBAL DAN NILAI-NILAI KEBANGSAN INDONESIA
http://www.bphn.go.id
ARAH PEMBANGUNAN HUKUM NASIONAL YANG MENGHARMONISKAN
TUNTUTAN GLOBAL DAN NILAI-NILAI KEBANGSAN INDONESIA
Senin , 29 Juni 2015

Jakarta, WARTA-bphn

Akhir Tahun 2015 merupakan momentum diberlakukan pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean
(MEA). Kehadiran MEA MEA sebagai salah satu momentum era keterbukaan pasar di ASEAN,
merupakan kelanjutan dari kesepakatan Visi ASEAN 2020 pada bulan Desember 1997 di Kuala

Lumpur. Dalam deklarasi tersebut, pemimpin negara-negara ASEAN sepakat untuk


mentransformasikan kawasan Asia Tenggara menjadi sebuah kawasan yang stabil, sejahtera dan
kompetitif, didukung oleh pembangunan ekonomi yang seimbang, pengurangan angka
kemiskinan dan kesenjangan sosio-ekonomi di antara negara-negara anggotanya, demikian
Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN), Enny Nurbaningsih, sampaikan di depan
peserta DIKLAT Lemhanas, Selasa (23/6) di Jakarta.
Untuk menyongsong MEA. Maka ASEAN sudah menyiapkan Kerangka mekanisme pasar bebas
ASEAN tidak hanya mengacu pada konsep ASEAN sebagai single market, tetapi juga sebagai
single production base yang akan membutuhkan liberalisasi capital dan tenaga kerja terampil.
Konsekwensi atau Dampak lain pemberlakuan MEA, adanya lisensi persaingan (license to
competition) antara mereka di dalam kawasan. Kebijakan ini diambil dalam rangka terjadinya
persaingan di tingkat global. Salah satu karakteristik kunci MEA adalah tercapainya Competitive
Economic Region.
Di akhir tahun 2015, transaksi perdagangan dan jasa akan menyatu dan
berintegrasi dalam satu pasar bersama. Hal ini berarti bahwa pelaku usaha di
Indonesia, harus memahami hukum usaha/investasi yang berlaku di negara-negara
anggota, termasuk hukum persaingan usaha. Dalam konteks inilah dituntut
kesiapan bangsa Indonesia, agar kita tidak sekedar menjadi pasar, tetapi hadirnya
era tersebut justru akan mendorong dinamika laju pertumbuhan ekonomi dan
mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Salah satu point penting yang
dituntut kesiapannya adalah sejauhmana ketersediaan produk hukum yang koheren
dengan produk-produk hukum negara-negara Asean, tandas beliau.
Hal lain yang disampaikan oleh Enny Nurbaningsih adalah Arah Pembangunan
Hukum Nasional, dikatakan bahwa globalisasi merupakan kondisi inherent dalam
kehidupan bangsa Indonesia ke depan, maka tatanan hukum harus dilakukan
sedemikian rupa, sehingga tercipta kepastian hukum, agar kita tidak karam di
tengah jalan, atau menjadi bangsa yang tergagap-gagap. Dari 10 negara Asean
berdasarkan laporan Good Regulatory Practices (2014), Indonesia masuk dalam
urutan yang perlu diberi injeksi yang luar biasa, agar tidak digolongkan sebagai
negara yang memproduksi hukum dengan kondisi yang masih tumpang tindih,
kurang memberikan jaminan kepastian hukum dan kepastian berusaha.
Bangsa Indonesia saat ini sudah menapaki kaki di tahun Ketiga pembangunan
jangka panjang. Apakah kita akan berhasil menuju visi Bangsa 20 tahun yaitu
Indonesia Yang Mandiri, Maju, Adil Dan Makmur?. Untuk mencapai visi tersebut
pembangunan hukum diarahkan untuk mendukung terwujudnya sistem hukum
nasional yang mantap bersumber pada Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara
Republik Indonesia 1945, yang mencakup pembangunan materi hukum, struktur
hukum termasuk aparat hukum, sarana dan prasarana hukum; perwujudan
masyarakat yang mempunyai kesadaran dan budaya hukum yang tinggi dalam

rangka mewujudkan negara hukum; serta penciptaan kehidupan masyarakat yang


adil dan demokratis. Pembangunan hukum dilaksanakan melalui pembaruan hukum
dengan tetap memerhatikan kemajemukan tatanan hukum yang berlaku dan
pengaruh globalisasi sebagai upaya untuk meningkatkan kepastian dan
perlindungan hukum, penegakan hukum dan HAM. Terkait dengan pembangunan
materi hukum diarahkan untuk melanjutkan pembaruan produk hukum dalam
rangka menggantikan peraturan perundangundangan warisan kolonial agar dapat
mencerminkan nilai-nilai sosial dan kepentingan masyarakat Indonesia serta
mampu mendorong tumbuhnya kreativitas. Sebagai sebuah negara yang merdeka
dan berdaulat hampir 70 tahun, hingga saat ini di Indonesia masih terdapat ratusan
produk hukum kolonial Belanda termasuk prinsip-prinsip hukumnya, sementara di
negeri asalnya. produk hukum tersebut sudah tidak diberlakukan.
Selanjutnya, terhadap produk hukum existing sejak Indonesia merdeka hingga saat
ini dilakukan evaluasi bertahap untuk menghilangkan berbagai bentuk hambatan
berupa tumpang tindih, inkonsisten, multitafsir. Selama ini banyak keluhan yang
muncul terkait dengan hukum yang tidak kondusif dalam mendukung iklim usaha.
Dalam era global hal ini tidak dapat dibiarkan terus terjadi, proses analisis dan
evaluasi terhadap produk hukum existing ini harus diselesaikan agar negara kita
dapat menjadi destinasi bisnis yang memakmurkan rakyat.
Dalam rangka mewujudkan dan menuntaskan tuntutan reformasi hukum dan
peraturan perundang-undangan, Perpres No. 44 Tahun 2015 tentang Kementerian
Hukum dan HAM yang baru saja diberlakukan menetapkan salah fungsi
Kemenkumham adalah perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di
bidang peraturan perundang-undangan. Untuk melaksanakan fungsi ini diperlukan
suatu strategic plan yang tepat, yakni dengan penyusunan Program Legislasi
Nasional (Prolegnas) yang terarah, terpadu dan sistematis. Prolegnas bukan sebagai
instrumen koleksi keinginan, tetapi sarana untuk mengarahkan agar tujuan
pembangunan dapat diwujudkan. Oleh karena itu dalam Prolegnas tahun 2015
-2019, jumlah RUU yang diusulkan tidak lagi sebanyak Prolegnas sebelumnya tetapi
pencapaiannya jauh dari target. Usulan saat ini terpangkas hampir setengahnya,
yaitu hanya 160 RUU untuk 5 tahun.
Munculnya kesadaran bersama antara DPR dan Pemerintah perlu diapresiasi
bersama sebagai langkah permulaan yang baik karena berpijak pada kondisi
kemampuan riil terhadap proses penyelesaian sebuah RUU. Pengusulan 160 RUU ini
sebagian ada yang merupakan luncuran Prolegnas sebelumnya, selain itu untuk
melaksanakan perintah UUD dan Tap MPR yang masih berlaku, untuk pelaksanaan
RPJMN termasuk agenda Nawacita, serta perintah UU, dan untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat. Proses pengusulannya diawali dengan kajian yang
komprehensif sehingga dari awal dapat terdeteksi urgensi dan implikasinya, serta
ruang lingkup yang akan diatur, dan jangkauan pengaturannya. Artinya, tantangan
dan tuntutan arus global menjadi salah satu indicator yang sangat diperhatikan.

Arahan mengenai hal ini sangat jelas dalam RPJMN, bahwa Pemerintah
menghendaki kesiapan Indonesia di segala bidang secara menyeluruh, baik di
tingkat pusat maupun di tingkat daerah. Kesiapan bidang hukum dilakukan dengan
cara mengkaji seluruh ketentuan hukum agar tidak muncul kembali penyakit
inkonsistensi hukum. Dengan demikian, pembentukan peraturan perundangundangan harus dipersepsikan sebagai salah satu upaya pembaharuan hukum agar
mampu mengarahkan dan menampung kebutuhan-kebutuhan hukum sesuai
dengan kesadaran hukum rakyat yang berkembang ke arah modernisasi menurut
tingkattingkat kemajuan pembangunan di segala bidang. Diharapkan akan tercapai
ketertiban dan kepastian hukum sebagai prasarana yang harus ditunjukkan ke arah
peningkatan terwujudnya kesatuan bangsa sekaligus berfungsi sebagai sarana
menunjang kemajuan dan reformasi yang menyeluruh. Walaupun demikian, tidak
dipungkiri bahwa seringkali implementasi dan penegakan peraturan perundangundangan tidak berjalan secara efektif dan efisien. Dengan kata lain daya guna
peraturan perundang-undangan tidak maksimal untuk mengatur atau
menyelesaikan permasalahan yang ada. Setidaknya ada 3 permasalahan yang
terkait dengan peraturan perundang-undangan, yaitu: pertama permasalahan
materiil/substansi yang terkait dengan dasar hukum yang mendasari peraturan
perundang-undangan, keinginan vs kebutuhan dalam pembentukan peraturan
perundang-undangan, disharmoni substansi antara peraturan yang satu dengan
yang lain dan perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat yang seringkali
terlalu cepat berubah. Kedua, permasalahan formil/proses pembentukan peraturan
perundang-undangan yang terkait dengan proses pra legislasi (kualitas
penelitian/pengkajian, naskah akademik, penentuan prioritas Prolegnas,
pelaksanaan rapat antarkementerian dan harmonisasi), legislasi (mekanisme
pembahasan di DPR) dan pasca legislasi (diseminasi/sosialisasi). Ketiga,
permasalahan kelembagaan baik yang terkait dengan kelembagaan pembentuk
udang-undang maupun ego sektoral lembaga. Oleh karenanya perlu persiapan yang
matang dalam pembentukan peraturan perundang-undangan agar produk hukum
yang dihasilkan dapat memenuhi tiga kualitas: Pertama, hukum harus
menciptakan stabilitas dengan mengakomodir atau menyeimbangkan kepentingan
yang saling bersaing di lingkungan masyarakat. Kedua, menciptakan kepastian,
sehingga setiap orang dapat memperkirakan akibat dari langkah-langkah atau
perbuatan yang diambilnya. Dan ketiga, hukum harus menciptakan rasa adil dalam
bentuk persamaan di depan hukum, perlakuan yang sama dan adanya standar yang
tertentu. Globalisasi dengan segala dimensinya akan banyak mempengaruhi sistem
hukum di setiap negara tidak terkecuali Indonesia. Globalisasi hukum akan
menyebabkan aturan-aturan negara-negara makin berkembang antara lain
mengenai investasi, perdagangan, jasa-jasa dan bidang ekonomi lainnya mendekati
negara maju (convergency).
Sehingga setiap negara dituntut untuk memiliki produk hukum yang mengatur
tentang hukum-hukum batas kedaulatan negara. Bagi Indonesia sendiri, pengaruh
globalisasi selain menuntut penyesuaian sistem hukum nasional yang dapat

fleksibel terhadap aturan-aturan negara lain, sekaligus juga menghadapkan


Indonesia pada berbagai penuntasan permasalahan hukum yang mendesak untuk
segera diselesaikan. Meski demikian, pengaruh globalisasi tersebut sudah
seharusnya tidak mengubah cita-cita bangsa dan negara yang termuat dalam
konstitusi, yaitu melindungi segenap tumpah darah Indonesia, mencerdaskan
kehidupan bangsa serta memajukan kesejahteraan umum. Pembangunan hukum
nasional Indonesia haruslah berpijak pada nilai-nilai yang berasal dari budaya
Indonesia sendiri. Tidak serta merta nilai-nilai dari luar dicaplok begitu rupa. Perlu
kiranya belajar perkembangan hukum di Negeri Sakura, sekalipun arus globalisasi
bergerak, tetapi Jepang tetap menerapkan prinsip voluminous, systematic,
comprehensive and meticulously detailed. Nilai-nilai hukum nasional tetap
dipertahankan, namun tidak menjadikan Jepang inferioritas di mata dunia, justru
menjadi negara maju tanpa tercerabut dari akar budayanya. Oleh karena itu,
landasan terpenting yang dipergunakan untuk menjelaskan nilai-nilai dasar bagi
pembentukan hukum Nasional tidak lain adalah Pancasila yang mengandung lima
sila atau nilai dasar. Lima nilai dasar ini dianggap sebagai cerminan sejati dari
budaya bangsa Indonesia yang plural. Artinya, lima nilai dasar itu menjadi sumber
asas-asas hukum nasional, sekaligus basis ideal (spiritual) untuk menentukan suatu
norma hukum. Pembangunan hukum pun harus bersifat menyeluruh, terarah,
terpadu, bertahap dan berkelanjutan. Arah pembangunan hukum bukanlah sesuatu
yang dapat berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan arah pembangunan
dibidang lainnya dan memerlukan penyelarasan dengan garis-garis besar gagasan
dalam UUD NRI Tahun 1945. Pembentukan undang-undang adalah bagian dari
pembangunan hukum yang mencakup pembangunan sistem hukum nasional.
Pembangunan hukum harus harmonis dengan tuntutan global seperti saat ini,
namun tidak boleh meninggalkan nilai-nilai kebangsaan Indonesia. Pembangunan
hukum Nasional harus dilakukan dari dalam Indonesia sendiri (development from
within). Untuk itu hukum Nasional Indonesia harus dikuatkan baik substansi maupun
proses agar mampu menghadapi arus globalisasi. Untuk itu perlu selalu diingat
bahwa politik hukum nasional harus berpijak pada kerangka dasar, yaitu
6 : pertama, politik hukum nasional harus selalu mengarah pada cita-cita bangsa
yaitu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila; kedua, politik hukum
harus ditujukan untuk mencapai tujuan negara; ketiga, politik hukum harus
dipandu oleh nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara, yaitu: berbasis moral
agama, menghargai dan melindungi hak asasi manusia tanpa diskriminasi,
mempersatukan seluruh unsur bangsa, meletakkan kekuasaan di bawah kekuasaan
rakyat, dan membangun keadilan sosial; keempat, apabila dikaitkan dengan cita
hukum negara Indonesia, maka politik hukum harus melindungi semua unsur
bangsa demi integrasi atau keutuhan bangsa, mewujudkan keadilan sosial dalam
ekonomi dan kemasyarakatan, mewujudkan demokrasi (kedaulatan rakyat) dan
nomokrasi (kedaulatan hukum) serta menciptakan toleransi hidup beragama
berdasar keadaban dan kemanusiaan. Pada konteks inilah Mahkamah Konstitusi
dihadirkan sebagai the guardiain of the constitution. Pembentuk UU harus
senantiasa cermat dengan memperhatikan pijakan arah politik hukum, agar produk

yang dihasilkannya tidak dibatalkan. Politik hukum yang demikian akan menjadikan
Indonesia sebagai negara yang bukan saja maju, sejahtera dan adil, tetapi juga
mandiri. Hanya bangsa mandiri yang bisa tampil dalam kancah pergaulan
internasional dengan posisi terhormat. Kemandirian adalah hakikat dari
kemerdekaan, yaitu hak setiap bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri dan
menentukan apa yang terbaik bagi diri bangsanya. Kemandirian bukanlah
kemandirian dalam keterisolasian. Kemandirian mengenal adanya kondisi saling
ketergantungan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bermasyarakat, baik
dalam suatu negara maupun bangsa. Terlebih lagi dalam era globalisasi dan
perdagangan bebas ketergantungan antarbangsa semakin kuat. Kemandirian yang
demikian adalah paham yang proaktif dan bukan reaktif atau defensif. Kemandirian
merupakan konsep yang dinamis karena mengenali bahwa kehidupan dan kondisi
saling ketergantungan senantiasa berubah, baik konstelasinya, perimbangannya,
maupun nilai-nilai yang mendasari dan mempengaruhinya.
Diakhir paparannya Kepala BPHN, Enny Nurbaningsih menekankan bahwa
Pembangunan hukum dapat tercapai jika seluruh cakupan yang terkait dengannya
dapat difungsikan sebagai sarana untuk memperbarui masyarakat (social
engineering). Namun, perekayasaan sosial perlu didukung kajian yang mendalam
tentang hukum yang hidup di masyarakat (living law) dan tingkat kesiapan
masyarakat dalam menyikapi pembaruan yang akan dilakukan. Sejak era reformasi
bergulir tuntutan perbaikan sistem hukum nasional terus bergerak, dalam rangka
menghadirkan dan membangun negara yang membahagiakan rakyatnya.
*tatungoneal