Anda di halaman 1dari 9

Nomor Peserta : 11

No

: 1234/PAWE & Partners/VIII/2016

Lampiran

:-

Perihal

: Legal Opinon Terhadap Kasus Penggelapan Dana Nasabah Bank Surya


Abadi

Kepada YTH
PT BANK SURYA ABADI

Yang bertanda tangan di bawah ini :


MUH.SANTIAGO PAWE.,S.H
Advokat pada Kantor Hukum PAWE & Partners yang beralamat di Wisma
Negara Santana 18th Floor, Suite 1416, Jalan Jenderal Sudirman Kav,7-8 Jakarta 10220.
Bahwa dengan ini kami menyampaikan Pendapat Hukum (Legal Opinion) terhadap
Kasus Dugaan Penggelapan Dana Nasabah Bank Surya Abadi berkedudukan di jalan
Thamrin No.25 Kabupaten Siduarjo atas nama Pemerintah Kabupaten Siduarjo yang di
duga dilakukan oleh Saudara Edward Setiawan..
Adapun pendapat hukum (Legal Opinion) sebagai berikut :
A. Posisi Kasus
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo (selanjutnya disebut Nasabah) melakukan simpanan
terhadap uang milik Pemerintah Kabupaten Sidoarjo di PT Bank Surya Abadi Tbk
Kantor Cabang Sidoarjo (selanjutnya disebut Bank Surya Abadi). Secara berkala, Bank
Surya Abadi menyampaikan laporan berupa Rekening Koran (R/C) kepada Pemerintah.
Sampai Bulan Februari 2016, Bank Surya Abadi melaporkan bahwa posisi nominal
simpanan dan bunga milik Pemerintah adalah Rp. 102.869.000.000 (seratus dua juta
milyar delapan ratus enam puluh sembilan juta rupiah).
Antara pembukuan Pemerintah dengan laporan Rekening Koran tersebut sampai
periode Februari 2016 adalah bersesuaian dan tidak terdapat perbedaan. Lalu, pada
Bulan Maret 2016, Pemerintah tidak melakukan debet/penarikan ataupun pemindah

Nomor Peserta : 11

bukuan atas simpanannya, tetapi pada laporan melalui rekening koran yang dilakukan
oleh Bank Surya Abadi pada bulan Maret 2016 disebutkan bahwa saldo akhir pada
rekening Pemerintah berkurang dalam jumlah besar, yaitu menjadi Rp. 65.618.000.000
(enam puluh lima milyar enam ratus delapan belas juta rupiah).
Nasabah meminta pertanggung jawaban Bank Surya Abadi melalui surat aduan. 3
bulan kemudian yaitu pada bulan Agustus 2016 Bank Surya Abadi menjawab surat
aduan tersebut dan melampirkan Copy Nota Transaksi dan Rekening Koran Periode
Agustus 2015 sampai dengan Februari 2016. Dalam Copy Nota Transaksi disebutkan
bahwa yang menyebabkan berkurangnya simpanan nasabah dilakukan oleh Pimpinan
Bank Surya Abadi yang bernama Saudara Edward Setiawan.
Bank Surya Abadi juga melampirkan Surat Kuasa oleh Nasabah yang ditujukan
kepada Edward Setiawan selaku pimpinan Bank Surya Abadi yang didalamnya
disebutkan bahwa nasabah memberi kuasa kepada Edward Setiawan selaku Pimpinan
Bank untuk melakukan transaksi keuangan, menandatangani dokumen berkaitan
simpanan nasabah guna memberikan jasa yang lebih maksimal dan menguntungkan
Nasabah dan segala akibat dari pemberian kuasa tersebut menjadi tanggung jawab
Penerima Kuasa. Surat kuasa tersebut awalnya diminta oleh Edward Setiawan selaku
pimpinan bank dengan alasan untuk memberi kepastian bahwa Nasabah tidak
melakukan penarikan dalam jumlah besar dalam waktu dekat agar bank dapat leluasa
mengelola simpanan tersebut sesuai regulasi perbankan.
B. Pihak-Pihak Dalam Perkara
1. Pemerintah Kabupaten Siduarjo
2. PT. Bank Surya Abadi
3. Edward Setiawan (Direktur Bank Surya Abadi)

C. Dokumen-Dokumen Sehubungan Dengan Perkara


1. Buku Tabungan Rekening No.123456789 atas nama Pemerintah Kabupaten
Siduarjo
2. Copy Nota Transaksi dan Rekeing Koran No.123456789 atas nama
Pemerintah Kabupaten Siduarjo Periode Agustus 2015 sampai dengan
Februari 2016 .

Nomor Peserta : 11

3. Surat Kuasa Antara Pemerintah Kabupaten Siduarjo Kepada Edward


Setiawan
4. Akta Pendirian Perusahaan PT. Bank Surya Abadi

D. Mengenai Duduk Perkara


1. Pemerintah Kabupaten Siduarjo (Selanjutnya disebut Nasabah) meniympan uang
di Banks Surya Abadi.
2. Secara berkala, Bank Surya Abadi menyampaikan laporan berupa Rekening
Koran (R/C) kepada Pemerintah.
3. Pada bulan Februari 2016 Bank Surya Abadi melaporkan bahwa posisi nominal
simpanan dan bunga milik Pemerintah adalah Rp. 102.869.000.000 (seratus dua
juta milyar delapan ratus enam puluh sembilan juta rupiah).
4. Hingga bulan Maret 2016, Nasabah tidak melakukan debet/penarikan.
5. Laporan oleh Bank Surya Abadi pada bulan Maret 2016 disebutkan bahwa saldo
akhir pada rekening Pemerintah berkurang dalam jumlah besar, yaitu menjadi
Rp. 65.618.000.000 (enam puluh lima milyar enam ratus delapan belas juta
rupiah).
6. Nasabah meminta pertanggung jawaban Bank Surya Abadi melalui surat aduan.
7. Bulan Agustus 2016 Bank Surya Abadi menjawab surat aduan tersebut dan
melampirkan Copy Nota Transaksi dan Rekening Koran Periode Agustus 2015
sampai dengan Februari 2016.
8. Dalam

Copy

Nota

Transaksi

disebutkan

bahwa

yang

menyebabkan

berkurangnya simpanan nasabah dilakukan oleh Pimpinan Bank Surya Abadi


yang bernama Saudara Edward Setiawan.
9. Terdapat surat kuasa nasabah yang memberi kuasa kepada Edward Setiawan
selaku Pimpinan Bank untuk melakukan transaksi keuangan, menandatangani
dokumen berkaitan simpanan nasabah guna memberikan jasa yang lebih
maksimal dan menguntungkan Nasabah dan segala akibat dari pemberian kuasa
tersebut menjadi tanggung jawab Penerima Kuasa.
10. alasan untuk memberi kepastian bahwa Nasabah tidak melakukan penarikan
dalam jumlah besar dalam waktu dekat agar bank dapat leluasa mengelola
simpanan tersebut sesuai regulasi perbankan.

Nomor Peserta : 11

E. Identifikasi Perkara
Melihat dalam duduk perkara di atas, maka terjadi perbuatan melawan hukum yang
disebabkan adanya perbuatan yang dilakukan oleh Edward Setiawan yaitu
penggelapan dana Nasabah Bank Surya Abadi dimana menimbulkan :
1. Edward Setiawan melanggar hak dari Pemerintah Kabupaten Siduarjo sebagai
nasabah.
2. Edward Setiawan dalam hal ini melakukan penarikan dana nasabah yang
bertentangan dengan kewajiban hukumnya sendiri.
3. Edward Setiawan dalam hal melakukan perbuatan hukum yaitu pembuatan surat
kuasa tanpa sepengetahuan Dewan Komisaris Bank merupan tindakan yang
bertentangan dengan peraturan perseroan.

F. Analisis Perkara
Ketentuan Hukum, Teori, dan Hubungannya dengan Perkara.
Melihat beberapa hal tersebut. Maka yang dilakukan oleh Edward
Setiawan termasuk dalam kejahatan perbankan. Dimana bila kita melihat lebih
jauh lagi maka di analisis dengan hukum positif yang ada di Indonesia berkaitan
dengan Perbankan. Tindakan yang dilakukan oleh Edward Setiawan biasa
disebut dengan istilah Fraud yakni merupakan tindak pidana kejahatan dalam
hukum perbankan yang dilakukan oleh pegawai bank atau bankir. Fraud pun
diartikan sebagai suatu tindakan penyimpangan atau pembiaran yang sengaja
dilakukan untuk mengelabui, menipu atau memanipulasi bank, nasabah atau
pihak lain yang terjadi di lingkungan bank dan/atau enggunakan sarana bank
sehingga mengakibatkan bank, nasabah atau pihak lain menderita kerugian
dan/atau pelaku fraud memperoleh keuntungan keuangan baik secara langsung
maupun tidak langsung. Fraud juga bisa berarti proses pembuatan meniru suatu
benda (dokumen-dokumen) dengan maksud menipu.
Romly Atmasasmita menyatakan Tindak Pidana Perbankan sering
kali

mengandung

elemen-elemen

(misrepresentation),

penyembunyian

kecurangan
kenyataan

(deceit),

(concealment

penyesatan
of

facts),

Nomor Peserta : 11

manipulasi (manipulation), atau penggelakan peraturan (illegal circumvention)


sehingga sangat merugikan masyarakat secara luas.
Fraud dapat ditemukan dalam pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana (KUHP) tentang Pencurian. Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan dan
pasal 378 KUHP tentang perbuatan cuarng. Pengaturan akan fraud yang
termasuk dalam tindak pidana perbankan tidak dapat dilepaskan dari beberapa
prinsip hukum perbankan yang harus dijalankan oleh setiap bank agar
aktivitasnya dapat berjalan lancar dan dapat menghindari berbagai resiko,
termasuk resiko atas tindakan fraud dimana prinsip tersebut adalah Prinsip
Kepercayaan, Prinsip Kehati-hatian, Prinsip Kerahasiaan, dan Prinsip Mengenal
Nasabah.
Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 tentang Perbankan mengatur
pula mengenai perlindungan dana nasabah bank dalam hal penggelapan dana
pada rekening nasabah. Hal ini diatur dalam pasa 49 ayat (1) UU Nomor 10
tahun 1998
anggota dewan komisaris, direksi atau pegawai bank yang sengaja :
a. Membuat atau menyebabkan adanya pencatatan palsu dalam pembukuan
atau dalam laporan, maupun dalam dokumen atau laporan kegiatan usaha,
laporan transaksi atau rekening suatu bank;
b. Menghilangkan

atau

tidak

memasukkan

atau

menyebabkan

tidak

dilakukannya pencatatan dalam pembukuan atau dalam laporan, maupun


dalam dokumen atau laporan kegiatan usaha, laporan transaksi atau
rekening suatu bank.
c. Mengubah,

mengaburkan,

menyembunyikan,

menghapus,

atau

menghilangkan adanya suatu pencatatan dalam pembukuan atau dalam


laporan, maupun dalam dokumen atau kegiatan usaha, laporan transaksi
atau rekening suatu bank, atau dengan sengaja mengubah, mengaburkan,
menghilangkan, menyembunyikan atau merusak catatan pembukuan
tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun
dan denda paling banyak RP.10.000.000.000,- (sepuluh milyar rupiah).

Nomor Peserta : 11

Maka tindakan dari Edward Setiawan melakukan penarikan dana nasabah tanpa
sepengetahuan nasabah berdasarkan surat kuasa yang diberikan nasabah kepada
Edward Setiawan, telah memenuhi unsur di dalam pasal 49 ayat (1) huruf a, b
dan c.
Sedangkan berkaitan dengan surat kuasa yang dibuat antara Edward
Setiawan selaku pimpinan Bank Surya Abadi dengan Nasabah ditinjau dari segi
hukum perseroan bahwa dalam ketentuan Pasal 103 Undang-Undang (UU)
Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menyebutkan bahwa Direksi
dapat memberi kuasa tertulis kepada 1 (satu) karyawan perseroan atau lebih atau
kepada orang lain untuk dan atas nama Perseroan melakukan perbuatan hukum
tertentu sebagaimana diuraikan dalam surat kuasa. Yang dimaksud kuasa di
sini adalah kuasa khusus untuk perbuatan tertentu sebagaimana disebutkan
dalam surat kuasa.
Sedangkan dasar hukum yang mengatur mengenai surat kuasa dapat kita
temui dalam pasal 1792 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Pada dasarnya
penerima kuasa tidak diperbolehkan melakukan tindakan yang melapaui kuasa
yang diberikan kepadanya.
Bank Surya Abadi sebagai suatu Perseroan Terbatas tidak dapat dilepaskan
dari arahan dan kehendak dari organ perseroan yang terdiri, Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS), Direksi dan Dewan Komisaris. Dimana tugas yang
diemban oleh Direksi yang merupakan tugas kepercayaan (fiduciary duty)
tetap dibatasi oleh Undang-Undang Perseroan Terbatas dan Agganran Dasar dari
Perseroan Terbatas Bank Surya Abadi itu sendiri. Dimana batasan-batasan yang
telah digariskan dalam UU Perseroan Terbatas dan Anggaran Dasar sekali-kali
tidak boleh dan jangan sampai membelenggu tugas dan wewenang Direksi
dalam pengurusan perseroan, yang telah dilakukan dengan prinsip itikad baik
(good faith), kehati-hatian (prudential) Untuk memajukan usaha perseroan.
Prinsip utama dari doktrin fiduciary duty diberlakukan dalam UU Perseroan
terbatas No. 40 tahun 2007 pasal 97 ayat (2), lalu pasal 97 ayat (3) merupakan
petunjuk duty of loyality. Pasal 97 ayat (4) merupakan petunjuk duty of care
tanggungjawab menjadi tanggung renteng.

Nomor Peserta : 11

Selain itu dalam hukum perusahaan atau hukum perseroan dikenal juga
adanya doktrin pelampauan kewenangan (ultra vires). Doktrin ultra vires
menganggap batal demi hukum (null and void) atas setiap tindakan organ
Perseroan di luar kekuasaannya berdasarkan tujuan Perseroan yang termuat
dalam anggaran dasar. Ultra vires berarti tindakan yang dilakukan oleh suatu
badan hukum (Perseroan) yang berada di luar tujuan dan k arena itu di luar
kewenangan badan hukum tersebut.
Istilah ultra vires ini diterapkan tidak hanya jika perseroan melakukan
tindakan yang sebenarnya dia tidak punya kewenangan, melainkan juga terhadap
yang dia punya kewenangan, tetapi dilaksanakan secara tidak teratur (irregular).
Bahkan lebih jauh lagi, suatu tindakan digolongkan sebagai ultra vires bukan
hanya jika tindakan itu melampaui kewenangannya yang tersurat maupun
tersirat, tetapi juga tindakannya itu bertentangan dengan peraturan yang berlaku
atau bertentangan dengan ketertiban umum.
Jika

Perseroan

melakukan

tindakan

ultra

vires

atau

melampaui

kewenangannya, hal ini termasuk dalam perbuatan melawan hukum yang harus
pula diselesaikan melalui ketentuan hukum. Bila hal ini dilakukan misalnya oleh
direksi maka Perseroan dapat meminta pertanggungjawaban direksi atas
kerugian yang diderita Perseroan tersebut dan hubungannya dengan pihak
ketiga. Sesuai dengan teori fiksi, bahwa konsekuensi yuridis ultra vires yang
dilakukan direksi adalah :
a. Direksi harus mentaati transaksi yang telah dibuatnya;
b.Jika transaksi tersebut ada keuntungan, maka harus diserahkan pada
perseroan;
c. Jika pihak ketiga menderita kerugian, maka direksi harus menggantinya.
Dengan mengamati surat kuasa yang berisi kuasa untuk melakukan transaksi
keuangan, menandatangani dokumen berkaitan simpanan nasabah dan segala
akibat dari pemberian kuasa tersebut menjadi tanggung jawab Penerima Kuasa.
Dan melihat apa yang telah dilakukan oleh Edward Setiawan dengan melakukan
penggelapan terhadap dana nasabah, dapat disimpulkan bahwa apa yang
dilakukan oleh Edward Setiawan tidak bersesuaian dengan prinsip prinsip itikad

Nomor Peserta : 11

baik (good faith), kehati-hatian (prudential). Dan sesuai dengan doktri ultra
vires maka Edward Setiawan harus mengganti dan bertanggungjawab atas
kerugian yang diderita oleh pihak ketiga dalam hal ini Nasabah yakni
Pemerintah Kabupaten Siduarjo.
Dalam pasal 97 ayat 3-ayat 5 Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang
perseroan terbatas dinyatakan bahwa Direksi yang melakukan kesalahan atau
kelalaian sehingga mengakibatkan perseroan merugi harus bertanggung jawab
penuh secara pribadi dan tanggung renteng, kecuali Direksi tersebut dapat
membuktikan bahwa kerugian tersebut bukan karena kesalahan/kelalaiannya,
menjalankan pengurusan perseroan dengan itikad baik dan kehati-hatian, tidak
mempunyai benturan kepentingan dan telah mengambil tindakan untuk
mencegah kerugian tersebut.
Lalu yang menjadi pertanyaan penting, apakah tindakan Edward Setiawan
tanpa persetujuan Dewan Komisaris dan RUPS tetap sah dan mengikat
perseroan dan pihak ketiga dalam hal ini nasabah?. Dalam hal ini pasal 102 ayat
4 Undang-Undang Perseroan Terbatas telah membrikan suatu kepastian bahwa
suatu perbuatan hukum yang dilakukan Direksi untuk dan atas nama Perseroan
(dengan itikad baik dan kehati-hatian serta tanpa benturan kepentingan), yang
dilaksanakan tanpa persetujuan Dewan Komisaris dan RUPS, adalah tetap
mengikat perseroan tersebut sepanjang pihak ketiga dalam perbuatan hukum
tersebut beritikad baik yang. Dalam hal ini Edwar Setiawan tidak menerapkan
prinsip itikad baik dan tidak melakukan tindakan untuk mencegah kerugian
berlanjut. Penilaian ini didasari pada sikap Edward Setiawan yang tidak
melaporkan kepada Dewan Komisaris berkaitan surat kuasa yang dibuat oleh
Edward Setiawan dengan Nasabah. Maka perseroan dalam Hal ini PT Bank
Surya Abadi tidak terikat dalam surat kuasa tersebut.

G. Solusi atau Pendapat Hukum


Dalam kasus kejahatan perbankan yang dilakukan oleh Edward Setiawan
terhadap Nasabah Pemerintah Kabupaten Siduarjo, maka dapat diselesaikan

Nomor Peserta : 11

dengan dua cara, yaitu penyelesaian melalui jalur peradilan atau di luar jalur
peradilan.
Peneyelesaian jalur di luar pengadilan dilakukan dengan musyawarah
oleh pihak Bank Surya Abadi, Edward Setiawan dan Pemerintah Kabupaten
Siduarjo, mengingat dalam perkara ini erat kaitannya dengan prinsip itikad baik
dan kepercayaan dalam dunia perbakan. Dengan mengedepankan itikad baik dan
kepercayaan penyelesaian melalaui musyawarah oleh para pihak adalah solusi
paling tepat menyelesaikan permasalahan ini.
Namun apabila penyelesaian di luar pengadilan tidak menemui titik temu
dalam penyelesaian permasalahan tersebut maka dapat dilakukan melalui jalur
peradilan. Dimana pihak Nasabah yakni Pemerintah Kabupaten Siduarjo berhak
mengajukan perkara ini dimuka hakim terkait kasus penggelapan dana nasabah
yang dilakukan oleh Edward Setiawan. Sehingga dapat dibuktikan di muka
pengadilan bahwa pihak Edward Setiawan yang melakukan perbuatan
penggelapan merugikan Nasabah yakni Pemerintah Kabupaten Siduarjo dan
perseroan PT Bank Surya Abadi dan pihak Edward Setiawan dapat
mempertanggung jawabkan penuh secara pribadi terkait kerugian yang
ditimbulkan atas perbuatan yang dilakukannya. Pada akhirnya pihak Nasabah
dapat memperoleh hak nya dan mendapat ganti rugi secara materil serta pihak
PT Bank Surya Abadi dapat memperoleh pemulihan nama baik yang tercemar.

Hormat Kami

MUH. SANTIAGO PAWE.,S.H