Anda di halaman 1dari 67

BUKU PANDUAN PRAKTIKUM

KIMIA

Laboratorium Kimia Sekolah Tinggi Teknik PLN


Menara PLN, Jl. Lingkar Luar Barat, Duri Kosambi,
Cengkareng
Jakarta Barat 11759, Telp.(021)5440342-44

BUKU PANDUAN PRAKTIKUM

KIMIA

Tim Penyusun
Drs. Abdul Rahman Arigayota
Yusnita Rahayu, S.Si
Enjang Hidayat

Laboratorium Kimia Sekolah Tinggi Teknik PLN


Menara PLN, Jl. Lingkar Luar Barat, Duri Kosambi,
Cengkareng
Jakarta Barat 11759, Telp.(021)5440342-44

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

TATA TERTIB PRAKTIKUM


DI LABORATORIUM KIMIA STT-PLN
1.

Semua praktikan wajib hadir 10 menit sebelum tes awal dimulai, dan menandatangani daftar
hadir. Apabila praktikan terlambat hadir maka tidak diperkenankan mengikuti praktikum.

2.

Selama mengikuti praktikum, peserta diwajibkan memakai kelengkapan praktikum, yaitu


kemeja, jas praktikum berwarna putih lengan panjang, dan sepatu (dilarang memakai sandal
atau sepatu sendal). Tas dan jaket diletakkan di tempat yang telah disediakan.

3.

Sebelum memulai praktikum peserta praktikum harus mengumpulkan Tugas Rumah dan
Laporan Sementarayang formatnya sudah ditentukan kepada asisten. Laporan data pengamatan
dapat diminta lagi setelah mengikuti tes awal.

4.

Peserta yang tidak lulus pada tes awal tidak diperkenankan mengikuti praktikum.

5.

Semua praktikan wajib mencatat semua hasil pengamatan dari percobaan yang dilakukan di
dalam Laporan Data Pengamatan. Pada akhir percobaan semua hasil pengamatan harus di acc
dan ditandatangani asisten.

6.

Laporan Praktikum (lihat bagian contoh penulisan) harus sudah diserahkan kepada asisten
sehari setelah praktikum atau sesuai kesepakatan.

7.

Setiap peserta harus membersihkan meja kerja dan alat-alat yang telah dipakai sebelum
meninggalkan ruang praktikum, peserta harus mengembalikan botol-botol kimia yang telah
ditutup rapat ke tempat semula dan membersihkan meja praktikum yang telah selesai
digunakan.

8.

Setiap peserta harus menjaga kebersihan Laboratorium, bekerja dengan tertib, tenang, teratur
dan bersikap sopan baik saat berbicara maupun bergaul.

9.

Setiap peserta harus melaksanakan semua modul praktikum dan mematuhi budaya Kesehatan
dan Keselamatan Kerja (K3)

10. Ketidakhadiran praktikan pada waktu yang telah dijadwalkan mendapatkan sanksi dinyatakan
GUGUR.
11. Ketidakhadiran karena sakit, percobaannya dapat dilakukan di luar jadwal praktikum dengan
persetujuan sisten, Dispensasi perubahan jadwal karena sakit/ inhal hanya diperbolehkan satu
kali selama periode praktikum.
12. Butir nomor 11 tidak berlaku bagi mereka yang sakit dan diopname di rumah sakit (dengan
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

surat keterangan dari rumah sakit)


13. Peserta praktikum harus harus mengganti alat yang hilang/rusak selama praktikum berlangsung
dengan alat yang sama, sebelum mengikuti praktikum minggu berikutnya.
14. Apabila peserta praktikum melanggar hal-hal yang telah diatur di atas maka yang bersangkutan
dapat dikeluarkan dari laboratorium dan tidak diperkenankan untuk melanjutkan praktikum
pada hari itu. Kegiatan praktikum dianggap batal dan tidak diperkenankan inhal.
15. Hal-hal yang belum disebutkan di atas dan diperlukan untuk kelancaran praktikum akan diatur
kemudian.

Jakarta, September 2016


Laboratorium Kimia
STT PLN

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

DAFTAR ISI

Halaman Judul .
Tata Tertib Praktikum .
Daftar Isi ..........
Tabel Periodik Unsur .....................................................................................
Jadwal Praktikum Kimia ..................
Susunan Penulisan Laporan Praktikum Kimia

1
2
4
5
6
7

Perc. A : Pengenalan Alat Dan Budaya K3


Perc. K - 1 : Pemisahan Dan Pemurnian Reaksi Pengendapan (Dekantasi
Dan Penyaringan) ..............
Perc. K - 2 : Pemisahan Dan Pemurnian(Distilasi) ..
Perc. K - 3 : Elektrokimia I Analisis Daya Hantar Listrik
Perc. K - 4 : Elektrokimia Ii Penentuan Kemurnian Logam Cu Dalam
Kawat Tembaga Komersil Dengan Reaksi Elektrolisis ...
Perc. K - 5 : Penentuan Massa Jenis Padatan Dan Cairan
Perc. K - 6 : Pembuatan Dan Penentuan Konsentrasi Larutan
Perc. K - 7 : Penentuan Ph Larutan ...
Perc. K - 8 : Pemurnian Air Dengan Cara Penukar Ion .........
Perc. K - 9 : Adsorpsi Isotermis ..................................................

10

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

21
27
33
42
50
54
63
72
75

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

SUSUNAN PEMBUATAN LAPORAN PRAKTIKUM

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

P
P
P
P
P
P
P
P

Kel. I B

Kel. II A

Kel. II B

Kel. III A

Kel. III B

Kel. IV A

Kel. IV B

Kel. I A

Nomor
Kelompok

K-4

K-4

K-3

K-3

K-2

K-2

K-1

K-1

K-5

K-5

K-4

K-4

K-3

K-3

K-2

K-2

K-6

K-6

K-5

K-5

K-4

K-4

K-3

K-3

K-7

K-7

K-6

K-6

K-5

K-5

K-4

K-4

K-1

K-1

K-7

K-7

K-6

K-6

K-5

K-5

K-2

K-2

K-1

K-1

K-7

K-7

K-6

K-6

Acara Test Minggu Ke -

JADWAL PRAKTIKUM KIMIA

K-3

K-3

K-2

K-2

K-1

K-1

K-7

K-7

K-8

K-8

K-8

K-8

K-8

K-8

K-8

K-8

Responsi

Responsi

Responsi

Responsi

Responsi

Responsi

Responsi

Responsi

10

I.

PENULISAN LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM (ditulis tangan)

LAPORAN SEMENTARA
Percobaan K-1 : JUDUL
NAMA/ NIM

: ...................................................................................................

KEL/SHIFT

: .................................................................................................

TANGGAL

: ................................................................................................

I. TUJUAN
II. CARA KERJA (dalam bentuk diagram blok)
III. ALAT DAN BAHAN
IV. DATA PENGAMATAN
Praktikan :
Nama / NIM

Jakarta, .............2016
: 1.

Tanda tangan Asisten

: 2.
(..)

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

II.

COVER LAPORAN RESMI PRAKTIKUM (diketik/ tulis tangan)

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KIMIA


(JUDUL PERCOBAAN)

Disusun Oleh :
Nama Praktikan
Jurusan/NIM
Kelompok/ Shift
Nama Asisten
LABORATORIUM KIMIA STT-PLN
JAKARTA
2016

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

III.

PENULISAN LAPORAN RESMI PRAKTIKUM (ditulis tangan)

PERCOBAAN K-1
JUDUL PERCOBAAN
I. TUJUAN
II. DASAR TEORI
II. PENGOLAHAN DATA
III. ANALISIS HASIL PENGAMATAN
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
V. JAWABAN TUGAS DAN PERTANYAAN
VI. DAFTAR PUSTAKA
VII. LAMPIRAN *LAPORAN DATA PENGAMATAN (ASLI DAN SUDAH
DITANDATANGANI ASISTEN)

nb : di bawah daftar pustaka dituliskan :


PRAKTIKAN :
1. NIM .
2. NIM . (teman kelompok)

Tanda tangan
Asisten,
()

3. NIM . (teman kelompok)

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

PERCOBAAN A : PENGENALAN ALAT DAN BUDAYA K3


Tujuan Percobaan :
Mengenalkan beberapa alat yang sederhana penggunaannya dan mengenalkan
budaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di laboratorium. Percobaan ini sebagai
pendahulu bagi percobaan-percobaan selanjutnya.
A. Pengenalan Alat
Berikut akan diuraikan beberapa rangkaian alat yang akan digunakan pada
praktikum kimia di laboratorium kimia.
1. Beaker Glass
Alat ini digunakan sebagai tempat larutan dan dapat digunakan untuk
memanaskan larutan atau pemekatan. Alat ini tidak dapat digunakan
sebagai alat pengukur.
2. Erlenmeyer
Erlenmeyer biasanya digunakan untuk tempat larutan yang akan
dititrasi. Walaupun mempunyai skala, tapi bukan merupakan alat
pengukur. Erlenmeyer dapat digunakan untuk memanaskan larutan.
3. Tabung reaksi
Tabung reaksi digunakan untuk mereaksikan zat-zat kimia dalam
jumlah sedikit. Terbuat dari gelas dan dapat dipanaskan.

4. Corong
Corong digunakan untuk memasukkan suatu cairan ke dalam suatu
wadah dengan mulut sempit, seperti labu ukur, buret, botol, dll.
Biasanya terbuat dari gelas, tapi ada juga yang terbuat dari plastik.

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

10

5. Pipet tetes (pipet pasteur)


Pipet tetes digunakan untuk mengambil bahan berbentuk larutan
dalam jumlah kecil.

6. Gelas arloji
Gelas arloji terbuat dari gelas yang digunakan sebagai tempat zat
yang akan ditimbang.
7. Gelas ukur
Gelas ukur digunakan untuk mengukur volume zat kimia dalam
bentuk cair, tersedia dalam bermacam-macam ukuran. Gelas ukur
tidak dapat digunakan untuk mengukur larutan dalam kondisi panas.

8. Labu ukur
Labu ukur digunakan untuk mengukur volume larutan dalam bentuk
cair dengan akurat. Biasanya digunakan pada proses pengeceran
larutan dan tersedia dalam berbagai macam ukuran.

9. Spatula
Terbuat dari logam/plastik sebagai alat bantu untuk mengambil bahan padat atau
kristal.
10. Buret
Buret digunakan untuk melakukan titrasi. Terbuat dari gelas, mempunyai skala dan
kran. Zat yang digunakan untuk menitrasi ditaruh di buret.
11. Pipet ukur
Pipet ukur digunakan untuk mengambil larutan dengan volume tertentu, berskala dan
umumnya terbuat dari gelas.

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

11

12.Corong pisah
Corong pisah dapat digunakan untuk ekstraksi cair-cair. Larutan dengan berat jenis
yang lebih besar akan berada pada lapisan yang lebih bawah.
13. Kertas saring
Kertas saring digunakan untuk menyaring larutan dari partikel padat dan tersedia
dalam beberapa ukuran partikel (dalam mikron).
14. Pengaduk gelas
Pengaduk gelas terbuat dari gelas dan tersedia dalam berbagai ukuran panjang. Selain
untuk mengaduk juga digunakan untuk mendekantasi cairan dari wadahnya.
15. Termometer
Termometer digunakan untuk mengukur suhu suatu zat. Berbagai teknik dan bentuk
yang digunakan dalam termometer bergantung pada beberapa faktor seperti tingkat
ketelitian dan kisaran suhu yang diukur.
16. Pemanas (Hot Plate)
Pemanas digunakan untuk memanaskan atau mengeringkan sampel. Biasanya bagian
atasnya terbuat dari keramik.
17. Alat destilasi
Merupakan suatu peralatan pemisahan senyawa kimia yang didasarkan pada
perbedaan titik didih. Distilasi merupakan suatu proses menguapkan suatu cairan,
mengembunkan uapnya, kemudian mengumpulkannya pada tempat yang lain.

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

12

18. Timbangan
Timbangan analitis dapat digunakan untuk
menimbang sampel dengan tingkat ketelitian yang
tinggi (mg). Sebelum menimbang sampel, timbangan
perlu ditarakan. Bila ada bahan kimia yang tercecer di
timbangan, maka alat timbangan harus dibersihkan.

19. Desikator
Desikator merupakan wadah dari gelas dan dilengkapi dengan
zat penyerap air seperti silika gel atau CaCl2 anhidrous.
Desikator digunakan untuk melindungi sampel, reagen atau
endapan dari kelembaban.

B. Prosedur Umum Praktikum Kimia


1) Penanganan padatan
Gunakan spatula bersih untuk mengambil padatan dari botol reagen. Jangan
pernah gunakan spatula yang kotor. Selain itu, jangan pernah mengembalikan
padatan yang tidak digunakan ke dalam botol reagen, apabila padatan tersisa
maka dibuang. Gambar di bawah menunjukkan bagaimana cara mengambil dan
menimbang padatan dengan benar menggunakan kertas.

(Teknik mengambil padatan)


2) Penanganan Larutan
Saat memindahkan cairan dari botol reagen, mula-mula buka penutup botol dan
pegang tutuip atau letakkan di atas kertas/tisu bersih. Jangan pernah menaruh tutup
botol di tempat yang dapat mengotori/menyebabkan kontaminasi. Tuang larutan
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

13

dengan perlahan dan hati-hati agar larutan tidak tumpah. Dapat


juga digunakan batang pengaduk untuk membantu menuang
larutan, yang ditunjukkan pada gambar di samping

3) Teknik menutup gelas


Selama pelaksanaan penelitian, kadang kala botol reagen harus ditutup untuk
melindungi reaktan dari kontaminasi luar. Berikut ini ditunjukkan cara menutup
dengan tepat.

(teknik menutup gelas)


4) Mengukur Volume Larutan
Pada kebanyakan alat gelas terdapat skala untuk mengukur volume. Sebelum
menggunakan suatu alat gelas untuk mengukur volume, harus dipastikan bahwa
skala yang terdapat pada gelas sudah dikalibrasi dan perlu diketahui cara untuk
membaca skala dengan tepat. Gelas beker dan Erlenmeyer dapat digunakan untuk
mengukur volume secara kasar, gelas ukur dengan skala yang sesuai dapat
digunakan untuk mengukur volume dengan keakuratan sedang. Pipet banyak
digunakan untuk memindahkan larutan dengan volume tertentu dari satu wadah
ke wadah yang lain. Metode pemindahan larutan dengan menggunakan pipet
merupakan metode yang paling akurat.

Dalam mengukur larutan, letak larutan harus sejajar


dengan mata. Berikut gambarnya.

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

14

5) Pemanasan
Dalam memanaskan suatu larutan maupun padatan, dapat digunakan hot
plate atau pembakar Bunsen. Selalu berhati-hati pada saat memanaskan agar
tidak terbakar dan jangan memanaskan material dengan suhu terlalu tinggi agar
tidak terjadi ledakan. Gunakan pemanasa hot plate sesuai petunjuk manual.
Dalam menggunakan pemanas Bunsen, panaskan material di bagian api yang
berwarna biru. Atur perpindahan panas dengan menyesuaikan jarak anatar
pembakar dengan objek. Jarak disesuaikan dari bagian yang terpanas dari api.
6) Penyaringan (filtrasi)
Dalam praktek kimia kadang kala perlu dilakukan proses untuk memisahkan
larutan dari padatan. Pada saat dilakukan proses dekantasi sederhana, larutan
harus dituang perlahan-lahan agar padatan tertinggal. Saat melakukan
penyaringan larutan, kita harus menggunakan kertas saring dang corong gelas.
Teknik melipat kertas saring ditunjukkan pada gambar di bawah, hal ini
bertujuan untuk mempercepat proses penyaringan.

(teknik melipat kertas saring)


C. Pengenalan Budaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di
Laboratorium.
Kegiatan praktikum kimia merupakan bagian tak terpisahkan dari mata
kuliah Kimia yang diberikan pada semester 1 di jurusan Mesin, Sipil dan Elektro.
Praktikum dilakukan guna menjaga kesinambungan aspek-aspek teoritis dan
ketrampilan praktis dalam pemahan ilmu kimia, diharapkan dengan pelaksanaan
praktikum kimia dapat menambah pengetahuan mahasiswa tentang ilmu kimia
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

15

1.

2.
3.

4.

5.
6.

yang memiliki kesiambungan dengan bidang studi masing-masing.


Selain itu, ketrampilan bekerja di laboratorium dapat diperoleh mahasiswa
melalui kegiatan praktikum. Semakin sering dan serius mahasiswa bekerja di
laboratorium maka mereka akan semakin terampil. Ketrampilan ini diharapkan
dapat mendukung kelancaran penelitian tugas akhir atau bahkan penunjang
kelancaran tugas apabila terjun di dunia kerja nanti.
Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan selama mahasiswa
menjalani praktikum kimia :
Ledakan Kecil. Beberapa wadah tertutup, terutama yang terbuat dari gelas, dapat
pecah saat dipanaskan. Selain itu, beberapa jenis bahan kimia dapat bereaksi
dengan hebat secara tidak terduga.
Keracunan. Gas beracun dapat dihindari dengan langkah-langkah pencegahan
sederhana dengan menggunakan kap pada saat terbentuk gas beracun.
Terbakar. Kadang alat gelas yang panas tidak nampak panas. Jika kita
mendekatkan punggung tangan ke objek yang kemungkinan panas, kita dapat
mengukur dari radiasi panas yang dihasilkan jika alat tersebut terlalu panas untuk
dipegang. jika kulit terbakar, segera siram bagian yang terbakar dengan air
dingin, dan bertahu asisten praktikum untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Tumpahan. Asam dan basa pekat bersifat sangat larut dalam air. Jika kita
ketumpahan asam atau basa, segera bilas bagian yang terkena dengan air. Sebisa
mungkin hindari tumpahan mengenai mata, karean dapat berakibat fatal. Waktu
pencucian yang disarankan adalah 15 menit.
Bahan kimia yang mempunyai sifat mudah meledak, mudah terbakar, korosif,
karsinogenik dan beracun.
Alat-alat gelas yang mudah pecah dan dapat mengenai tubuh kita.

Hal-hal yang seharusnya kita lakukan pada saat bekerja di laboratorium antara lain
adalah :
1. Tahap Persiapan
a. Mengetahui secara pasti (tepat dan akurat) apa yang akan dikerjakan pada saat
praktikum, dengan membaca petunjuk praktikum, mengetahui tujuan dan cara
kerja serta bagaimana data percobaan akan diperoleh, mengetahui hal-hal atau
tindakan yang harus dihindarkan, misalnya menjauhkan bahan yang mudah
terbakar dengan sumber api, membuang sampah dan limbah praktikum pada
tempat yang ditentukan, dsb.
b. Mengetahui sifat-sifat bahan yang akan digunakan apakah bersifat mudah
terbakar, bersifat racun, karsinogenik atau membahayakan dan sebagainya,
sehingga dapat terhindar dari potensi bahan kimia yang digunakan.
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

16

c. Mengetahui alat dan bagaimana merangkai alat serta cara kerja alat yang akan
digunakan.
d. Mempersiapkan peralatan pelindung tubuh seperti, jas laboratorium berwarna
putih lengan panjang, sarung tangan, sepatu, masker, dsb sesuai kebutuhan
praktikum.
2. Tahap Pelaksanaan
a. Mengenakan peralatan pelindung tubuh dengan baik.
b. Mengambil dan memeriksa peralatan dan bahan yang akan digunakan.
c. Merangkai alat yang digunakan dengan tepat, dan mengambil bahan kimia
secukupnya. Penggunaan bahan kimia JANGAN SAMPAI BERLEBIHAN
karena dapat menyebabkan pencemaran lingkungan.
d. Membuang sisa percobaan pada tempatnya sesuai dengan sifat bahan yang
digunakan.
e. Bekerja dengan tertib, tenang, tekun, catat data-data yang diperlukan.
3. Tahap Pasca Pelaksanaan
a. Kembalikan peralatan dan bahan yang digunakan sesuai posisi semula.
b. Hindarkan bahaya yang mungkin terjadi dengan mematikan peralatan listrik,
kran air, menutup tempat bahan kimia dengan rapat (dengan tutupnya
semula).
c. Bersihkan meja kerja.
d. Keluar dari laboratorium dengan tertib.
Pengetahuan sifat bahan menjadi suatu keharusan sebelum bekerja di laboratorium.
Sifat-sifat bahan secara rinci dan lengkap dapat dibaca pada Material Safety Data
Sheet (MSDS) di internet. Berikut secara sederhana disampaikan sifat bahan
berdasarkan kode gambar yang ada pada kemasan bahan kimia.
Simbol Berbahaya (Hazard Simbol)
Pelabelan zat berbahaya menentukan tingkat bahaya bahan kimia (hazardous
chemicals), antara lain :
Toxic (beracun). Produk ini dapat menyebabkan kematian atau sakit
yang serius bila bahan kimia tersebut masuk ke dalam tubuh melalui
pernafasan, menghirup uap, bau atau debu, atau penyerapan melalui
kulit

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

17

Corrosive (korosif). Produk ini dapat merusak jaringan hidup,


menyebabkan iritasi pada kulit, gatal-gatal bahkan dapat
menyebabkan kulit mengelupas. Awas! Jangan sampai terpecik pada
mata.
Explosive (mudah meledak). Produk ini dapat meledak dengan
adanya panas, percikan bunga api, guncangan atau gesekan.
Beberapa senyawa membentuk garam yang eksplosif pada kontak
(singgungan dengan logam/ metal)
Oxidizing (pengoksidasi). Senyawa ini dapat menyebabkan
kebakaran. Senyawa ini menghasilkan panas pada kontak dengan
bahan organik dan agen pereduksi (reduktor)
Flammable (mudah terbakar). Senyawa ini memiliki titik nyala
rendah dan bahan yang bereaksi dengan air atau membasahi udara
(berkabut) untuk menghasilkan gas yang mudah terbakar (seperti
misalnya hidrogen) dari hidrida metal. Sumber nyala dapat dari api
bunsen, permukaan metal panas, loncatan bunga api listrik, dan lainlain.
Harmful (berbahaya). Bahan kimia irritan menyebabkan luka bakar
pada kulit, berlendir, mengganggu sistem pernapasan. Semua bahan
kimia mempunyai sifat seperti ini (harmful) khususnyabila kontak
dengan kulit, dihirup atau ditelan.

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

18

PERCOBAAN K-1 : PEMISAHAN DAN PEMURNIAN REAKSI


PENGENDAPAN(DEKANTASI DAN PENYARINGAN)
A. Tujuan Percobaan
1. Mempelajari mekanisme terbentuknya garam pada reaksi asam basa
2. Mempelajari teknik dasar pemisahan dan pemurnian suatu zat padat dari
larutannya
B. Dasar Teori
Suatu zat dengan sifat yang berlawanan, seperti asam dan basa cenderung bereaksi
satu sama lain. Reaksi asam basa merupakan pusat kimiawi sistem kehidupan,
lingkungan dan proses-proses industri yang penting. Bila larutan asam direaksikan
dengan larutan basa, maka sebagian dari ion H+ asam akan bereaksi dengan sebagian
ion OH- basa membentuk air.
H3O+(aq) + OH-(aq) 2H2O(l)
Karena air bersifat netral, maka reaksi asam dengan basa disebut reaksi
penetralan.Persamaan diatas hanya memperhitungkan sebagian ion-ion yang ada
dalam larutan. Sementara itu, ion negatif sisa asam dan ion positif sisa basa akan
bergabung membentuk garam. Bila garam tersebut sukar larut dalam air, maka ionionnya akan bergabung membentuk endapan. Jadi reaksi asam-basa juga disebut
dengan reaksi penggaraman karena :
Asam + Basa Garam + Air
Persamaan berikut menunjukkan apa yang terjadi pada semua ion-ion selama terjadi
reaksi penetralan atau reaksi penggaraman.
HCl(aq) + NaOH(aq) H+(aq) + Cl-(aq)+ Na+(aq) + OH-(aq)
Pembentukan air
:
H+(aq) + OH-(aq) H2O(l)
Pembentukan garam
:
Na+(aq) + Cl-(aq) NaCl(aq)
NaCl adalah garam yang mudah larut dalam air, jadi ion ion Na+ dan Cl- tetap
dalam larutan. Apabila larutan tersebut diuapkan, maka akan didapat Kristal natrium
klorida (NaCl). Berikut ini adalah rumus stoikiometri reaksi penggaraman
(penetralan) :
nA. MA. VA = nB. MB. VB

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

19

Dimana, A dan B menunjukkan asam basa; n adalah valensi; M adalah konsentrasi


molar; dan V adalah volume.Dengan menggunakan stokiometri kimia, dapat
ditentukan banyak garam yang terbentuk dari reaksi tersebut.

mol =

massa (gram)
Mr (g/mol)

Molaritas (M) =

mol
volume (L)

Suatu senyawa terbagi menjadi dua kelompok, murni dan campuran.Senyawa


campuran terbagi lagi menjadi campuran homogen dan heterogen.Suatu campuran
tidak terbatas pada cair-cair, melainkan juga cair-gas, cair-padat, padat-padat, gas-gas,
dll.
Berikut ini adalah beberapa metode memisahkan campuran menjadi komponennya
dengan menggunakan perbedaan sifat kimia dan fisika masing-masing komponennya.
a. Penyaringan (filtrasi)
Adalah proses pemisahan zat padat dari campuran zat cairnya melalui media kertas
berpori, dimana zat padat tidak bias melewati pori-pori kertas sedangkan zat cair bias
lolos. Penyaringan merupakan metoda pemurnian cairan dan larutan yang paling
mendasar.Penyaringan tidak hanya digunakan dalam skala kecil di laboratorium tetapi
juga di skala besar pemurnian air.

b. Dekantasi
Adalah proses pemisahan zat padat dari zat cair yang saling tidak larut (pada
temperatur tertentu) dengan cara menuangkan zat cairnya, sehingga akibatnya cairan
tersebut akan terpisah dari zat padat yang tercampur. Dekantasi ini digunakan apabila
kedua zat yang bercampur ini sudah terpisah sendiri, padat di bawah cair.
c. Rekristalisasi
Metoda ini sederhana, material padatan ini terlarut dalam pelarut yang cocok pada
suhu tinggi (pada atau dekat titik didih pelarutnya) untuk mendapatkan larutan jenuh
atau dekat jenuh. Ketika larutan panas perlahan didinginkan, Kristal akan mengendap
karena kelarutan padatan biasanya menurun bila suhu diturunkan. Pengotor hampir
tidak akan mengkristal karena konsentrasinya dalam larutan tidak terlalu tinggi untuk
mencapai jenuh.

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

20

d. Distilasi
Adalah metode pemisahan berdasarkan perbedaan titik didih komponen-komponen
yang ada di dalam campuran, biasanya campuran antara dua zat cair.Bisa juga
dilakukan untuk zat cair yang mempunyai perbedaan tekanan uap cukup besar. Ada
beberapa macam distilasi : distilasi sederhana, distilasi bertingkat, distilasi uap dan
distilasi vakum.

e. Ekstraksi
Adalah teknik yang sering digunakan bila senyawa organik (sebagian besar hidrofob)
dilarutkan atau didispersikan dalam air.Pelarut yang tepat (cukup untuk melarutkan
senyawa organik; seharusnya tidak hidrofob) ditambahkan pada fasa larutan dalam
airnya, campuran kemudian diaduk dengan baik sehingga senyawa organik diekstraksi
dengan baik. Lapisan organik dan air akan dapat dipisahkan dengan corong pisah, dan
senyawa organik dapat diambil ulang dari lapisan organik dengan menyingkirkan
pelarutnya.
C. Alat dan Bahan
Alat
neraca analitik
cawan petri
gelas beker
botol pencuci
tabung reaksi

corong
oven
labu ukur
pemanas bunsen
kompor listrik

Bahan
NaCl
AgNO3
akuades
kertas saring
CuSO4

HCl
sampel garam kotor

D. Cara Kerja
a) Reaksi pembentukan endapan
i.
Reaksi pengendapan antara NaCl dan AgNO3
Timbang 2 gram padatan NaCl, larutkan dalam 50 mL akuades.Tempatkan
dalam gelas beker, simpan (larutan garam). Ambil larutan AgNO3 sebanyak 5 mL dan
tuang ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 5 mL larutan NaCl secara bertetes-tetes.
Amati hasil reaksi apa saja yang terbentuk. Tuliskan mekanisme reaksinya.
Diamkan reaksi antara NaCl dan AgNO3 di atas selama 10 menit hingga endapan
terbentuk sempurna.Sementara itu, siapkan kertas saring dan peralatan
penyaringan.Timbang kertas saring, catat massanya. Kemudian saring hasil reaksi di
atas, hingga endapan tersaring semua. Keringkan kertas saring + endapan di oven
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

21

pada suhu 105 selama 10 menit. Timbang berat kertas saring + endapan. Hitung
berat endapan yang dihasilkan dari reaksi.
ii.

Reaksi pengendapan antara HCl dan AgNO3


Ambil 5 mL larutan AgNO3, tambahkan larutan HCl secara bertetes-tetes.Amati
reaksi yang terjadi.Apabila terbentuk endapan, saring endapan. Mula-mula timbang
kertas saring kosong, kemudian keringkan kertas saring yang telah digunakan untuk
pengendapan dalam oven suhu 105 selama 10 menit, timbang.Bandingkan hasil
reaksi yang teramati pada reaksi (i) dan (ii).

iii.
Reaksi pengendapan
Larutkan 5 gram tembaga(II)sulfat (CuSO4) ke dalam 25 mL air. Saring larutan ini
dan uapkan di atas pemanas Bunsen sehingga volumenya menjadi 10 mL.singkirkan
api dan biarkan dingin. Perhatikan apa yang akan muncul kemudian setelah larutan
dingin.
b) Pemurnian garam dapur
Pemurnian tanpa penyaringan (a)
Timbang sampel garam kotor sebanyak 2 gram, masukkan ke dalam gelas
beker.Tambahkan air sebanyak 10 mL, diamkan selama 10 menit.Dekantasi larutan
secara perlahan-lahan (jangan sampai endapan ikut terlarut). Panaskan larutan sampai
terbentuk kristal garam. Timbang kristal garam yang terbentuk.

Pemurnian dengan penyaringan (b)


Timbang sampel garam kotor sebanyak 2 gram, masukkan ke dalam gelas
beker. Tambahkan air, kemudian aduk. Saring larutan dengan menggunakan kertas
saring. Larutan hasil penyaringan kemudian dipanaskan sampai air habis menguap dan
terbentuk kristal garam. Timbang kristal garam yang terbentuk.
Bandingkan hasil pemurnian garam (a) dan (b)
E. Pengolahan Data
1. Tuliskan mekanisme reaksi masing-masing reaksi diatas
2. Jelaskan mengapa bisa terbentuk endapan pada reaksi di atas
3. Bandingkan masing metode penyaringan yang digunakan pada percobaan di
atas berdasarkan hasil yang diperoleh. Jelaskan mengapa hasil yang diperoleh
berbeda.

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

22

F. Pertanyaan/Tugas Rumah
1. Bandingkan keuntungan dan kerugian proses dekantasi dengan proses
penyaringan?
2. Sebutkan contoh larutan yang digunakan untuk proses penyaringan !
3. Sebutkan contoh larutan yang digunakan untuk proses dekantasi !
4. Untuk air minum apakah kita dapat memperolehnya dengan proses dekantasi
dan penyaringan? Jelaskan dan berikan contoh-contohnya!
G. Daftar Pustaka
Arigayota, A. R., dkk., 2008, Petunjuk Praktikum Kimia, STTPLN, Jakarta
Rosenberg, J. L., 1996, Kimia Dasar (diterjemahkan oleh E. Jasjfi), ed-6,
Erlangga, Jakarta

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

23

PERCOBAAN K 2 :PEMISAHAN DAN PEMURNIAN (DISTILASI)


A. Tujuan Percobaan
1. Mempelajari proses-proses dasar teknik cara pemisahan dan pemurnian satu atau
beberapa zat dari campurannya dengan teknik distilasi.
2. Menentukan beberapa sifat dasar materi/zat melalui sifat fisik maupun kimia
melalui beberapa reaksi kimia.
B. Dasar Teori
Titik Didih
Tekanan uap cairan meningkat dengan kenaikan suhu dan gelembung akan
terbentuk dalam cairannya. Tekanan dalam gelembung sama dengan jumlah tekanan
atmosfer dan tekanan hidrostatik akibat tinggi cairan di atas gelembung. Proses
terbentuknya gelembung di seluruh bagian larutan disebut dengan mendidih, dan
temperatur saat mendidih ini disebut dengan titik didih. Titik didih pada tekanan
atmosfer 1 atm disebut dengan titik didih normal.

Titik didih akan berubah bergantung pada tekanan atmosfer. Bila tekanan
atmosfer lebih tinggi dari 1 atm, titik didih akan lebih tinggi dari titik didih normal.
sementara bila tekanan atmosfer lebih rendah dari 1 atm, titik didihnya akan lebih
rendah dari titik didih normal.

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

24

Titik didih dan perubahannya dengan tekanan bersifat khas untuk tiap
senyawa.Jadi titik didih adalah salah satu sarana untuk mengidentifikasi zat. Titik
didih ditentukan oleh massa molekul dan kepolaran molekul. Diantara molekul
dengan jenis gugus fungsional polar yangsama, semakin besar massa molekulnya,
semakin tinggi titik didihnya. Di pihak lain, bahkan untuk massa molekul rendah,
molekul dengan kepolaran besar akan mengalami gaya intermolekul yang kuat yang
mengakibatkan titik didihnya lebih tinggi.
senyawa
pentana (C5H12)
heksana (C6H14)
oktana (C8H18)

Td (C)
36,11
68,74
125,7

senyawa
butanol (C4H9OH)
dietil eter (C2H5OC2H5)
metil propil eterpropileter
(CH3OC3H7)
(Titik didih beberapa senyawa organik)

Td (C)
108
34,5
39

Energi yang diperlukan untuk mengubah cairan menjadi gas pada STP (0, 1
atm) disebut dengan kalor penguapan. Bila gas mengembun menjadi cairan, sejumlah
sama kalor akan dilepaskan. Kalor ini disebut dengan kalor kondensasi.
Terdapat beberapa zat yang cenderung terdekomposisi secara perlahan dengan
pemanasan. Beberapa zat seperti ini sukar diuapkan, walaupun zat-zat ini berwujud
cair pada temperatur kamar, sebab akan terdekomposisi sebelum mencapai titik didih.
Jadi, tidak semua zat memiliki titik didih normal.
Proses penguapan cairan dan mengkondensasikan uapnya di wadah lain dengan
pendinginan disebut dengan distilasi. Metoda ini paling sering digunakan untuk
memurnikan cairan.Campuran cairan dapat dipisahkan menjadi cairan komponennya
menggunakan perbedaan titik didihnya.Teknik ini disebut sebagai distilasi fraksional.
a. Distilasi sederhana untuk larutan tunggal
Distilasi adalah suatu proses dimana suatu larutan diuapkan, diembunkan
kemudian dikumpulkan. Distilasi digunakan untuk memurnikan atau memisahkan
suatu senyawa dari campurannya.Tiap larutan memiliki perbedaan volatilitas,
tergantung pada mudah tidaknya molekul dari larutan lepas dari permukaan
larutan.Semakin tinggi volatilitas suatu senyawa, maka titik didihnya semakin
rendah.Tekanan uap adalah tekanan suatu uapa pada kesetimbangan dengan fase
bukan uap.
b. Distilasi untuk campuran dua larutan
Distilasi sederhana untuk campuran dua larutan tidak akan memberikan hasil yang
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

25

sempurna. Jika kedua larutan dipanaskan, maka keduanya akan menguap dan
bercampur. Larutan yang lebih volatile akan lebih cepat menguap daripada larutan
dengan volatilitas rendah, dan akan menghasilkan destilat yang lebih banyak di gelas
tampung.
Apabila kedua larutan memiliki volatilitas yang jauh berbeda, akan menyebabkan
larutan yang terlebih dahulu terdistilasi menjadi semakin murni. Bagian yang
terdistilasi terakhir adalah larutan kedua yang sifatnya lebih murni dibandingkan
larutan pertama.Sedangkan larutan yang terdistilasi di bagian pertengahan
mengandung campuran dari kedua larutan. Campuran dari kedua larutan tersebut
dapat dipisahkan dengan cara mengganti gelas tampung secara berkala dan melakukan
sejumlah proses distilasi ulang.
C. Alat dan Bahan
Alat
Gelas beker
Labu distilasi
Erlenmeyer
Neraca Analitik
Pisau

Thermometer
Kondensor
Pemanas

Bahan
Sampel air kotor
Batu didih
Etileter/air 25%
Akuades
Stopwatch

Daun/batang :
Kayu putih, cengkeh
Kulit jeruk,
Kayu manis, dll

D. Cara Kerja
a. Pemurnian Air
Ambil 25 mL sampel air kotor dengan menggunakan gelas beker.Masukkan ke dalam
labu distilasi, tambahkan batu didih.Fungsi penambahan batu didih di sini adalah
untuk mencegah bumping (letupan).Nyalakan kondensor dan pemanas.Naikkan suhu
pemanas sampai laju destilasi (cairan) ke dalam gelas tampung sekitar 2-3 tetes per
detik.Catat temperatur larutan per 5 tetes destilat dihasilkan.Lanjutkan distilasi sampai
hanya tersisa sejumlah kecil residu di labu destilasi.
b. Pemisahan campuran dua larutan
Masukkan 25 mL campuran etileter/air 25% (v/v) ke dalam labu distilasi.tambahkan1
atau 2 batu didih. Nyalakan kondensor dan pemanas. Naikkan suhu pemanas sampai
diperoleh laju tetesan 2-3 tetes per detik.Catat suhu uap setiap terkumpul 5 tetes
distilat hingga 15 kali tetesan. Lanjutkan sampai hanya tersisia 40 mL larutan dalam
labu destilasi (jangan sampai larutan habis). Ukur volume distilat dengan gelas ukur.

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

26

c. Penyulingan minyak atsiri


Timbang 2 gram daun-daunan atau kulit buah yang mengandung bahan kimia alami
dan bermanfaat, seperti pandan, kayu-putih, cengkeh, lemon, dll, bahan-bahan
tersebut kemudian dicuci bersih dan ditumbuk/dirajang halus, tambahkan 100 mL air,
disaring. Kemudian masukkan ke dalam labu destilasi dan ditambahkan batu didih.
Periksa instalasi dan semua sambungan alat destilasi dengan seksama.Pastikan tidak
ada yang salah pasang dan kendur. Nyalakan keran air untuk pendingin kondensor
(dengan bukaan kecil). Nyalakan pemanas untuk labu distilasi. Lakukan operasi
distilasi hingga diperoleh tetesan destilat. Catat suhu setiap 5 tetes sejak diperoleh
tetesan pertama. Ukur volume hasil distilat didalam gelas ukur. Catat hasilnya.

Tabel. Tumbuhan dan buah yang mengandung bahan kimia alami

No

Tumbuhan

Produk Minyak

Cengkeh (Syzygium
aromaticum)

Minyak cengkeh (85% eugenol)

Kayu putih (500 species:


Eucalyptus critriodora, E.
smithii, E. globulus, E. robusta)
Kulit buah jeruk lemon (Citrus
limon, C. medica)

minyak kayu putih (mayoritas: cineole,


piperitone)

Kayu manis (Cinnamomum


cassiavera, Cinnamomum
iners, Cinnamomum
zeylanicum)
Nilam (Pogostemoncablin
(Blanco), Pogostemon
heyneanus, Pogostemon
hortensis)

Minyak kayu manis (mayoritas


mengandung: cinnamon dan saffrol)

3
4

minyak lemon (lemon oil,


mengandung: d-limonene dan citral)

Minyak nilam (patchouli oil,


mengandung senyawaan: patchouli
alkohol, patchouli campur, eugneno,
benzaldehyde, cinnamic aldehide,
cadinene)

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

27

E. Pengolahan Data
1. Jelaskan masing-masing fungsi penggunaan dan penambahan alat dan bahan
2. Jelaskan terjadinya proses pemisahan antara etileter dengan air, pada suhu
berapa terjadi pemisahan antara 2 senyawa tersebut.
3. Jabarkan dan jelaskan masing-masing hasil reaksi yang terbentuk. Jelaskan
sifat senyawa destilat tersebut.
F. Pertanyaan / Tugas Rumah
1. Sebutkan teknik-teknik cara pemisahan dan pemurnian
2. Apa perbedaan titik didih dengan tituk uap
3. Sebutkan contoh larutan yang dapat digunakan untuk destilasi
4. Gambarkan peralatan destilasi sederhana! Terangkan pula bagaimana cara
kerja distilasi sederhana tersebut sehingga dapat diperoleh senyawa yang
murni! Tunjukkan arah aliran air pendingin pada kondensor dan apa sebabnya
arahnya harus demikian.
G. Daftar Pustaka
Anonim, Menyuling dan menepungkan minyak atsiri jeruk purut, e-book
pangan.com
Arigayota, A. R., dkk., 2008, Petunjuk Praktikum Kimia, STTPLN, Jakarta
Wheet, R., 2011, Organik Chemistry Laboratory Procedures, Departement of
Chemical Technology, Texas State Technical College
http://feriandi.student.umm.ac.id/2010/07/28/minyak-kayu-putih/

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

28

PERCOBAAN K-3 : ELEKTROKIMIA I ANALISIS DAYA HANTAR


LISTRIK
A. Tujuan Percobaan
1. Mengukur pengaruh konsentrasi terhadap daya hantar listrik berbagai
senyawa.
2. Mempelajari pengaruh konsentrasi terhadap daya hantar listrik larutan
elektrolit.
B. Dasar Teori
Elektrokimia adalah bidang ilmu kimia yang mempelajari hubungan peristiwa
kimiawi dengan arus listrik. Peristiwa ini biasa terjadi atas hubungan timbal balik,
yaitu proses reaksi kimia menimbulkan energi atau arus listrik. Peristiwa lain yaitu
dengan memberikan arus listrik ke dalam suatu senyawa kimia akan dapat
menimbulkan reaksi kimia.
Peristiwa lain yang berhubungan dengan masalah ini adalah :
1.
Kemampuan suatu senyawa untuk menghantarkan arus listrik
2.
Peristiwa reaksi kimia redoks dan perubahan potensial listrik
3.
Hubungan reaksi redoks dengan sel elektrokimia
Daya hantar listrik larutan elektrolit bergantung pada jenis dan
konsentrasinya.Beberapa larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik dengan
baik meskipun konsentrasinya kecil, larutan ini dinamakan elektrolit kuat.Sedangkan
larutan elektrolit yang mempunyai daya hantar lemah meskipun konsentrasinya tinggi
dinamakan elektrolit lemah.
Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menemukan contoh larutan elektrolit dan
larutan non elektrolit. Seperti misalnya :
Larutan elektrolit : larutan garam dapur, larutan cuka makan, larutan asam sulfat, air
laut, dll.
Larutan non elektrolit : larutan gula, larutan urea, larutan alkohol, larutan glukosa.
Larutan elektrolit dan non elektrolit
Berdasarkan sifat daya hantar listriknya, larutan dibagi menjadi dua yaitu larutan
elektrolit dan larutan non elektrolit.Sifat elektrolit dan non elektrolit didasarkan pada
keberadaan ion dalam larutan yang menghantarkan arus listrik.Jika dalam larutan
terdapat ion, larutan tersebut bersifat elektrolit.Jika dalam larutan tersebut tidak
terdapat ion, larutan tersebut bersifat non elektrolit.Larutan elektrolit adalah larutan
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

29

yang dapat menghantarkan arus listrik, sedangkan larutan non elektrolit adalah larutan
yang tidak dapat menghantarkan arus listrik.
Larutan elektrolit lemah dan larutan elektrolit kuat
Larutan elektrolit kuat adalah larutan yangdapat menghantarkan arus listrik dengan
baik. Hal ini disebabkan karena zat terlarut akan terurai sempurna (derajat ionisasi =
1) menjadi ion-ion, sehingga dalam larutan tersebut banyak mengandung ion-ion.
Sebagai contoh larutan NaCl, jika padatan NaCl dilarutkan dalam air maka NaCl akan
terurai sempurna menjadi ion Na+ dan Cl-. Perhatikan reaksi berikut :
NaCl Na+ + ClLarutan elektrolit lemah adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik
dengan lemah. Hal ini disebabkan karena zat terlarut akan terurai sebagian (derajat
ionisasi << 1) menjadi ion-ion sehingga dalam larutan tersebut sedikit mengandung
ion. Air murni merupakan penghantar listrik yang buruk. Akan tetapi jika dalam air
tersebut ditambahkan zat terlarut maka sifat daya hantarnya akan berubah sesuai
dengan jenis zat yang dilarutkan.
Contoh, jika dalam air ditambahkan garam dapur, maka larutan ini akan dapat
menghantarkan listrik dengan baik. Tetapi jika dalam air ditambahkan gula pasir,
maka daya hantar listriknya tidak berbeda dengan air murni.

Derajat Disosiasi
Disosiasi adalah penguraian suatu senyawa menjadi beberapa zat lain yang lebih
sederhana. Derajat disosisasi adalah perbandingan antara jumlah mol yang terurai
dengan jumlah mol mula-mula.Dalam larutan elektrolit kuat, zat-zat elektrolit terurai
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

30

seluruhnya menjadi ion-ionnya (terionisasi sempurna) dan dalam larutan elektrolit


lemah, zat-zat elektrolit hanya sebagian saja yang terurai menjadi ion-ionnya
(terionisasi sebagian).Sedangkan zat-zat non elektrolit dalam larutan tidak terurai
menjadi ion-ion.
Berikut ini, beberapa contoh reaksi ionisasi untuk elektrolit kuat :
HCl + H2O H3O +(aq) + Cl-(aq)
NaOH + H2O Na+(aq) + OH- (aq)
Jumlah zat elektrolit yang terionisasi dibandingkan dengan jumlah zat semula dapat
dinyatakan derajat disosiasi () dan ditulis dengan rumus berikut ini :

Berdasarkan rumus diatas, maka nilai untuk :


Elektrolit kuat, = 1
Elektrolit lemah, 0 < < 1
Non elektrolit, = 0
Suatu asam atau basa yang merupakan suatu elektrolit kuat disebut asam atau basa
kuat. Dengan demikian jika asam merupakan elektrolit lemah, maka ia merupakan
asam lemah, karena hanya mengandung sedikit ion H-, demikian juga dengan basa
lemah akan terdapat sedikit ion OH-.
Banyak senyawa dalam suhu kamar terurai secara spontan dan menjadi bagian-bagian
yang lebih sederhana, peristiwa ini dikenal dengan istilah disosiasi. Reaksi disosiasi
merupakan reaksi kesetimbangan, beberapa contoh reaksi disosiasi sebagai berikut :
N2O4 (g) 2 NO2 (g)
NH4Cl (g) NH3 (g) + HCl(g)
Harga derajat disosiasi terletak antara 0 dan 1, jika a = 0 berarti tidak terjadi
penguraian; a = 1 berarti terjadi penguraian sempurna; 0 < a < 1 berarti disosiasi pada
reaksi setimbang (disosiasi sebagian).
Daya Hantar Listrik
Daya hantar listrik (G) suatu larutan bergantung pada jenis dan konsentrasi ion di
dalam larutan. Daya hantar listrik berhubungan dengan pergerakan suatu ion di dalam
larutan.Ion yang mudah bergerak mempunyai daya hantar listrik yang besar.
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

31

Daya hantar listrik (G) merupakan kebalikan dari tahanan ( R ), sehinggga daya
hantar listrik mempunyai satuan ohm-1. Bila arus listrik dialirkan ke dalam suatu
larutan melalui dua elektroda, maka daya hantar listrik (G) berbanding lurus dengan
luas permukaan elektroda (A) dan berbanding terbalik dengan jarak kedua elektroda
(l).diketahui persamaan :

(1)
Dimana k adalah daya hantar jenis dalam satuan ohm-1.cm-1.
Daya Hantar Ekivalen
Kemampuan suatu zat terlarut untuk menghantarkan arus listrik disebut daya
hantar ekivalen yang didenifisikan sebagai daya hantar satu gram ekivalen zat terlarut
diantara dua elektroda dengan jarak kedua elektroda 1 cm. yang dimaksud dengan
berat ekivalen adalah berat molekul dibagi jumlah muatan positif atau negatif.Contoh
berat ekivalen BaCl2 adalah Mr BaCl2 dibagi dua.
Volume larutan (cm3) yang mengandung satu gram ekivalen zarut diberikan oleh :

Dimana, C adalah konsentrasi (ekivalen/cm-3), bilangan 1000 menunjukkan 1 L =


1000 cm3.Volume dapat juga dinyatakan sebagai hasil kali luas (A) dan jarak kedua
elektroda (l).

Dengan l sama dengan 1 cm,


..(2)
Subtitusikan persamaan (2) ke dalam persamaan (1), diperoleh :
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

32

Sedangkan Daya Hantar Listrik (DHL) mempunyai lambang L. disini R


berbanding terbalik dengan L, menurut rumus :

C. Alat dan Bahan


Alat

Bahan

Gelas beker
Kabel Listrik
Multimeter
Sumber tegangan AC
Lampu

Minyak tanah
Akuades
Kristal garam
Asam asetat
Ammonium hidroksida

HCl
NaOH
NaBr
NaI
NH4Cl

D. Cara Kerja
(i)
Menyiapkan Larutan Sanmpel
a. Air
b. Padatan NaCl
c. Larutkan 5 mg NaCl dalam 100 mL air
d. Larutkan 5 mg padatan NaCl dalam 200 mL air
e. Larutkan 5 mg gula dalam 100 mL air
f. Larutkan 5 mg gula dalam 200 mL air
g. Larutkan 5 mg KI dalam 100 mL air
h. Larutkan 5 mg KI dalam 200 mL air
(ii)

Menentukan daya hantar listrik berbagai senyawa

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

33

Siapkan 4 buah gelas beker, yang masing-masing diisi larutan yang telah
disiapkan. Ukurlah daya hantar setiap larutan tersebut dengan menyusun
rangkaian listrik seperti pada skema alat.Dari hasil yang diperoleh, tentukan sifat
zat terhadap arus listrik (konduktor lemah, konduktor kuat atau isolator).
Catatlah jika lampu menyala atau timbul gelembung pada elektroda.
Bersihkan elektroda dengan air dan dikeringkan dengan tisu. Ulangi cara kerja di
atas dengan larutan lain yang tersedia (larutan nonelektrolit diuji terlebih dahulu
kemudian disusul dengan larutan elektolit), hal tersebut bertujuan agar larutan
non elektrolit tidak terkontaminasi dengan larutan elektrolit.

(iii)

Mengukur Daya Hambatan Larutan


(Gunakan larutan sampel yang telah disiapkan). Siapkan dan kalibrasi alat
multimeter untuk menghindari terjadinya kesalahan pengukuran,
masukkan kedua kutub multimeter ke dalam larutan sampel (jangan
sampai ujungnya bersentuhan), nyalakan multimeter, baca hasil hambatan
yang ditunjukkan oleh multimeter. Angkat kedua ujung multimeter dari
larutan, bilas dengan air. Ulangi percobaan untuk masing-masing larutan
sampel.

(iv)

Mempelajari pengaruh konsentrasi terhadap daya hantar listrik larutan


Buatlah masing-masing konsentrasi 50 mL, larutan pada table dengan
konsentrasi 0,05; 0,1; 0,5 dan 1,0 M.

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

34

Tabel Larutan Penghantar Listrik

kelompok I
CH3COOH
NH4OH

HCl
NaOH

kelompok II
NaCl
NaBr

NaI
NH4Cl

Kemudian untuk setiap larutan diukur daya hantar listriknya.Pengukuran selalu


dimulai dari larutan terencer.Catat data yang diperoleh.
Gambarkan grafik Daya Hantar Listrik (DHL) larutan kelompok I terhadap
konsentrasinya.Tentukan senyawa mana yang merupakan elektrolit kuat dan
lemah.Terangkan perbedaan pengaruh pengenceran pada elektrolit kuat dan
elektrolit lemah.Gambarkan grafik DHL larutan kelompok II terhadap
konsentrasinya.Bandingkan DHL kation dan anion segolongan (antara Cl-, Br- dan
I-) dan (antara Na+ dan NH4+).Bagaimanakah pengaruh ukuran ion terhadap DHL?
Dalam pengukuran konduktivitas dianjurkan untuk mengukur dari konsentrasi
kecil ke konsentrasi besar. Hal ini untuk mencegah - banyaknya ion ion yang
menempel pada logam konduktivitimeter. Sehingga terkontaminasinya ion-ion
pada larutan lain juga semakin kecil.
E. Pengolahan Data
1. Buatlah kuva [konsentrasi larutan] Vs L untuk masing-masing larutan di atas
2. Jrlaskan daya hantar listrik masing-masing larutan di atas!
3. Jelaskan faktor yang mempengaruhi daya hantar listrik dalam kaitannya
dengan konsentrasi larutan, derajat disosiasi dan jari-jari anion-kation (energi
ikat anion kation)
F. Pertanyaan / Tugas Rumah
1. Jelaskan pengertian senyawa elektrolit dan non elektrolit. Berikan contohnya
masing-masing
2. Sebutkan senyawa apa saja yang merupakan sumber ion dari larutan
elektrolit? Jelaskan.
3. Bagaimana cara muatan melewati larutan?
4. Diantara larutan yang digunakan pada percobaan ini, mengapa ada zat yang
mempunyai daya hantar dan ada yang tidak.
5. Pada percobaan baru-baru ini diketahui buah-buahan memiliki kemampuan
menghantarkan arus. Jelaskan hal tersebut.
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

35

G. Daftar Pustaka
Brady, J. E., 1999, Kimia Universitas Asas dan Struktur, Binarupa Aksara, Jakarta
Hendayana, S., 1994, Kimia Analitik Instrumentasi, IKIP Semarang Press,
Semarang

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

36

PERCOBAAN K-4 : ELEKTROKIMIA II PENENTUAN KEMURNIAN


LOGAM Cu DALAM KAWAT TEMBAGA KOMERSIL DENGAN REAKSI
ELEKTROLISIS
A. Tujuan Percobaan
1. Dapat mempelajari proses-proses dasar sel elektrolisis.
2. Dapat memperoleh gambaran mengenai hubungan antara listrik dengan
perubahan kimia suatu bahan/materi
3. Dapat menguji kemurnian Cu dalam kawat tembaga.
B. Dasar Teori
Elektrokimia adalah bidang ilmu kimia yang mempelajari hubungan peristiwa
kimiawi dengan arus listrik. Peristiwa ini bisa terjadi atas hubungan timbal balik, yaitu
proses reaksi kimia menimbulkan energi atau arus listrik. Peristiwa lain yaitu dengan
memberikan arus listrik ke dalam suatu senyawa kimia akan menimbulkan reaksi
kimia.
Sebagai bagian dari elektrokimia, Elektrolisis adalah peristiwa penguraian
elektrolit oleh arus listrik searah dengan menggunakan dua macam elektroda.
Elektroda tersebut adalah katoda (elektroda negatif) dan anoda ( elektroda positif).
Beda potensial antara dua elektroda yang dicelupkan di dalam larutan dapat
dengan mudah ditentukan. Hasilnya adalah jumlah potensial dua elektroda dimana
data yang diperlukan untuk mengkarakterisasi reaksi di antara dua elektroda dapat
dilakukan. Sel elektrokimia sederhana di sebut sel galvani.
Perhatikan sel galvani berikut :
Cu | Cu2+(1 M) || Pt+(1M) | Pt

Proses ini disebut elektrolisis. Dalam suatu sel elektrolisis sebaliknya, suatu
sumber luar (dari) energi listrik digunakan untuk memaksa reaksi kimia agar
berlangsung dengan arah berlawanan arah. Dalam sel ini, katoda didefinisikan sebagai
elektroda dimana terjadi reduksi, dan anoda adalah elektroda dimana terjadi oksidasi.
Pada anoda terjadi reaksi oksidasi, yaitu anion (ion negatif) ditarik oleh anoda dan
jumlahelektronnya berkurang sehingga bilangan oksidasinya bertambah.
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

37

a. Ion OH- dioksidasi menjadi H2O dan O2. Reaksinya:

b. Ion sisa asam yang mengandung oksigen (misalnya NO3, SO42-) tidak
dioksidasi, yang dioksidasi air. Reaksinya:

c. Ion sisa asam yang lain dioksidasi menjadi molekul, contoh:

Pada katoda terjadi reaksi reduksi, yaitu kation (ion positif) ditarik oleh katoda
dan menerima tambahan elektron, sehingga bilangan oksidasinya berkurang.
a. Ion H+ direduksi menjadi H2. Reaksinya:

b. Ion logam alkali (IA) dan alkali tanah (IIA) tidak direduksi, yang direduksi
air.

c. Ion logam lain (misalnya Al3+, Ni2+, Ag+ dan lainnya) direduksi. Contoh:

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

38

Contoh elektrolisis :
a. Elektrolisis larutan HCl dengan elektroda Pt, reaksinya :

b. Elektrolisis larutan NaOH elektroda Pt, reaksinya :

Elektrolisis merupakan proses yang penting dalam industri, sebab elektrolisis


memiliki banyak kegunaan, antara lain :
- Pembentukan unsur-unsur logam yang tidak terdapat bebas di alam
- Penyepuhan atau electroplating (melapisi logam dengan logam mulia, misal
Ni, Cr, atau Au).
- Pemurnian logam (misal Ag, Cu, Au).
- Pembuatan senyawa ( misal NaOH)
- Pembuatan gas (misal O2, H2, Cl2).
Hukum Faraday
Akibat aliran arus listrik searah ke dalam larutan elektrolit, akan terjadi
perubahan kimia dalam larutan tersebut. Menurut Michael Faraday (1834) lewatnya
arus 1 F mengakibatkan oksidasi 1 massa ekivalen suatu zat pada suatu elektroda
(anoda) dan reduksi 1 massa ekivalen suatu zat pada elektroda yang lain (katoda).
Hukum Faraday I :
- Massa zat yang timbul pada elektroda karena elektrolisis berbanding lurus
dengan jumlah listrik yang mengalir melalui larutan

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

39

Dimana,
W
=
Q
=
E
=
I
=
t
=
grek =
Ar
=
n
=
F
=
Gram ekivalen

massa zat yang diendapkan (g)


jumlah arus listrik = muatan listrik (C)
tetapan = grek
kuat arus listrik (A)
waktu (s)
gram ekivalen zat
massa atom relatif
valensi ion
bilangan Faraday = 96.500 C
= massa zat sebanding dengan 1 mol elektron
= 6,02 x 1023 elektron.
1 grek ~ 1 mol elektron

Jika arus listrik 1 F dialirkan ke dalam larutan AgNO3 maka akan didapatkan 1 gram
ekivalen Ag.
Ag+(aq) + e Ag(s)
1 mol e ~ 1 mol Ag ~ 1 gram ekivalen Ag
Untuk mendapatkan 1 gram ekivalen Ag diperlukan 1 mol elektron.
1 gram ekivalen Ag = I mol elektron = 1 mol Ag = 108 gram Ag
Jika listrik 1 F dialirkan ke dalam larutan CuSO4 maka akan diendapkan 1 grek Cu.
Cu2+(aq) + 2 e Cu(s)
2 mol elektron ~ 1 mol Cu
1 mol elektron ~ mol Cu
1 grek Cu = 1 mol elktron = mol Cu = (1/2 x 64) gram Cu = 32 gram Cu
Q = banyaknya arus listrik yang dialirkan (Coulomb) = I . t (Ampere. detik)

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

40

Muatan 1 elektron
= 1,6 x 10-19C
Muatan 1 mol elektron = (6,02 x 1023) x (1,6 x 10-19) C
~ 96.500 C
=1F
C. Alat dan Bahan
Alat
Sumber tegangan DC
Magnetic Stirrer
Pinset
Oven
Neraca Analitik

Bahan
Multimeter
Elektroda platina
(anoda & katoda)
Gelas beker
Erlenmeyer

Sampel kawat Cu
HNO3
Akuades
Alkohol

D. Cara Kerja
(i)
Membersihkan elektroda Platina
Proses membersihkan elektroda platina dilakukan pada awal dan akhir reaksi.
Mula-mula, bersihkan elektroda platina dengan membenamkan dalam asam nitrat 1 : 3
selama 5 menit. Kemudian bilas dengan air suling sampai bersih. Kemudian keringkan
elektroda dalam oven pada suhu 105 oC, kemudian dinginkan dan timbang dengan
neraca analitis. Hindari menyetuh platina yang sudah bersih dengan tangan.
(ii)
Pembuatan larutan sampel kawat tembaga
Potong potong kawat tembaga, kemudian ditimbang, diperoleh berat sampel
kawat tembaga (Mo). Catat massa kawat tembaga awal. Larutkan logam tersebut ke
dalam larutan asam nitrat (gunakan larutan asam nitrat seminimal mungkin), tunggu
sampai larut dan gas yang terbentuk hilang. Kemudian tambahkan akuades hingga
volume 100 mL. diperoleh larutan sampel.
(iii)
Menentukan kadar Cu murni dalam kawat tembaga
Pasang rangkaian dan masukkan elektroda platina ke dalam larutan sampel yang
akan dianalisis seperti pada gambar di bawah.

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

41

Jalankan pengaduk dan tutup rangkaian untuk memulai elektrolisis. Kemudian


aliri dengan arus listrik sekitar 2 4 A dan voltase dibawah 4 V. larutan dielektrosis
pada range voltase tersebut sampai warna biru ion tembaga hilang (bening) (biasanya
sekitar 30-45 menit). Untuk menghentikan elektrolisis, matikan pengaduk, namun
jangan mengganggu arus (jangan dimatikan). Ambil elektroda platina kemudian cuci
dengan air suling (akuades) kemudian masukkan ke dalam alkohol dan keringkan ke
dalam oven pada suhu 105 oC selama 5 menit kemudian dinginkan dan timbang.
Hitung persentase berat tembaga yang dihasilkan selama proses elektrolisis ini.

Dimana,

Ao
At
Mo

= massa katoda sebelum elektrolisa (g)


= massa katoda setelah elektrolisa (g)
= massasampel kawat tembaga (g)

E. Pengolahan Data
1. Tuliskan mekanisme reaksi yang terjadi
2. Tentukan persentase Cu murni yang ada dalam kawat tembaga
3. Jabarkan proses elektrolisis yang terjadi sehingga terbentuk endapan Cu
4. Jelaskan fungsi penambahan bahan dan penggunaan alat dalam percobaan.
5. Apa yang terjadi bila saat reaksi tiba-tiba arus listrik dimatikan?
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

42

F. Pertanyaan/Tugas Rumah
1. Gambarkan sel volta
2. Apa yang dimaksud dengan anoda dan katoda
3. Jabarkan aplikasi pemanfaatan elektrokimia dalam kehidupan. Jabarkan salah
satunya.
G. Daftar Pustaka
A.A. Andian., 2008, Bahan Ajar Kimia Dasar, Fakultas Teknik UNY,
Yogyakarta
Rosenberg, J. L., 1996, Kimia Dasar (diterjemahkan oleh E. Jasjfi), ed-6,
Erlangga, Jakarta

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

43

PERCOBAAN K-5 : PENENTUAN MASSA JENIS PADATAN DAN


CAIRAN
A. Tujuan Percobaan
1. Menghitung dan mencari massa jenis suatu benda
2. Menentukan beberapa sifat dasar materi/zat dilihat dari massa jenisnya
B. Dasar Teori
Satuan dasar SI untuk massa adalah Kilogram (kg), setara dengan obyek buatan.
Kilogram baku internasional adalah sepotong aliase platinum-iridium yang disimpan
di Sevres, Perancis. Seperseribu bagian dari 1 kg adalah gram, g. dalam laboratorium,
satuan yang paling lazim digunakan adalah gram dan milligram.
Rapatan suatu zat didefinisikan sebagai massa persatuan volume. Satuan yang
lazim digunakan dalam laboratorium kimia adalah gram per sentimeter kubik (g/cm3).
Rapatan zat padat berbeda dengan faktor lebih dari 100. Diantara gas selisih itu juga
sangat besar, tetapi sebagai suatu kelompok, gas-gas pada kondisi biasa dapat
dianggap mempunyai rapatan sekitar seperseribu rapatan cairan dan gas. Rapatan gas
sering dinyatakan dalam gram per-liter. Gas hidrogen paling kecil rapatannya, dan zat
padat osmium dan iridium paling tinggi rapatannya.
Erat berkaitan dengan rapatan ialah bobot jenis (specific grafity). Bobot jenis
suatu zat ialah angka banding massanya dan massa air pada volume yang sama pada
temperatur tertentu. Untuk menentukan bobot jenis suatu cairan, dapat digunakan
suatu wadah dengan volume cermat, yang disebut labu volumetric (volumetric flask)/
labu ukur.
Misal, apabila suatu labu ukur 5 mL mengandung 4,99 g air pada 25 . Bila diisi
dengan bensin, diketahui berat bensin pada volume tersebut adalah 3,58 g. maka bobot
jenis bensin adalah :
massa contoh bensin
3,58 g
bobot jenis =
=
= 0,717
massa air bervolume sama
4,99 g
Perhatikan bahwa bobot jenis tak bersatuan. Besaran ini merupakan angka
banding tak berdimensi. Jika dibandingkan dengan air pada temperatur 0 30 ,
bobot jenis secara numeris sama dengan rapatan sampai 2 atau 3 angka yang
bermakna, karena rapatan air dengan tiga angka bermakna adalah 1,00 g/cm3 dalam
jangka temperatur ini. Rapatan bensin dapat dihitung dengan menggunakan volume
labu ukur yang telah diketahui:
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

44

rapatan

massa
volume

C. Alat dan Bahan


Alat
Gelas ukur 50 mL
Gelas ukur 1 L
Neraca Analitis

3,58 g
5 cm3

0,716 g/cm3

Bahan
Thermometer
Hydrometer
Gelas Beker

Sampel padatan (a, b, c)


Akuades
Minyak tanah
Minyak trafo
Minyak goreng

D. Cara Kerja
(i)
Penentuan berat jenis larutan secara gravimetric dan volumetri
Timbang gelas ukur 50 mL kosong, catat massa gelas ukur kosong (M o).
kemudian masukkan air ke dalam gelas ukur dengan variasi volume 15 mL, 25
mL dan 50 mL. Catat volumenya sampai ketelitian 0,1 mL (V). timbang kembali
gelas ukur yang telah berisi air (Mt). Hitung massa jenis air. Bandingkan ketiga
hasil massa jenis air yang diperoleh.
Ulangi langkah percobaan diatas dengan menggunakan minyak trafo, minyak
tanah, dan minyak goreng untuk menentukan masing-masing massa jenis larutan
tersebut. Ulangi langkah percobaan diatas dengan menggunakan sampel pelumas,
minyak trafo dan solar
Penentuan massa jenis larutan menggunakan rumus :
Mt - Mo
berat jenis padatan (g/mL) =
V

(ii)

Penentuan berat jenis larutan menggunakan hydrometer


Ambil larutan sampel yang sama dengan percobaan (i), kemudian masukkan
dalam gelas ukur 1 L. masukkan hydrometer (sesuaikan dengan interval berat
jenis sampel. Ukur suhu larutan. Diperoleh berat jenis larutan. Bandingkan hasil
yang diperoleh pada percobaan (i) dan percobaan (ii). Jelaskan.
(iii)

Penentuan berat jenis padatan tak larut dalam air


Ambil pelumas sebanyak 15 mL dengan menggunakan gelas ukur, catat
volume pelumas (Va). kemudian timbang massa pelumas tersebut (Ma) sampai
ketelitian 0,01 g.
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

45

Ambil sampel padatan (sampel a, b dan c), kemudian masukkan padatan ke


dalam gelas ukur yang telah berisi pelumas tersebut (jangan sampai tumpah).
Catat volume akhir setelah ditambah batu (Vb). timbang gelas ukur berisi padatan
diatas, catat massa akhir (Mb).
Penentuan berat jenis padatan dapat diperoleh dengan rumus :
Mb - Ma
berat jenis padatan =
Vb - Va
Ulangi percobaan diatas dengan mengganti air dengan minyak tanah dan
minyak kelapa. Bandingkan hasil berat jenis padatan yang diperoleh dengan
ketiga media tersebut.
E. Pengolahan Data
1. Bandingkan massa jenis yang diperoleh larutan dengan menggunakan
variasi massa dan volume masing-masing larutan. jelaskan
2. Tentukan massa jenis masing-masing sampel padatan a, b dan c yang
diperoleh dengan menggunakan tiga jenis media larutan yang berbeda.
Bandingkan hasilnya. Jelaskan.
3. Bagaimana mengukur massa jenis padatan menggunakan hydrometer.
Jelaskan.
F.

Pertanyaan/ Tugas Rumah


1. Apakah perbedaan antara rapatan dengan bobot jenis?
2. Jika tangki bensin sebuah mobil muat 20 Liter, berapakah massa bensin (kg)
bila tangki itu diiisi penuh dan diketahui berat jenis bensin adalah 0,68 g/mL.
3. Apakah berat jenis berpengaruh pada viskositas cairan?

G. Daftar Pustaka
Pudjaatmaka, A. H., Ilmu Kimia Untuk Universitas : jilid I, ed-6
Day, R. A., dan Underwood, A. L., Analisis Kimia Kuantitatif, ed-5

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

46

PERCOBAAN K-6 : PEMBUATAN DAN PENENTUAN KONSENTRASI


LARUTAN

A. Tujuan Percobaan
1. Dapat membuat larutan dengan konsentrasi tertentu (Molaritas dan Molalitas).
2. Dapat mengencerkan dan menentukan konsentrasi larutan yang telah dibuat.
B. Dasar Teori
Kata larutan (solution) sering dijumpai. Larutan merupakan suatu campuran
homogen antara dua atau lebih zat yang berbeda jenis. Ada dua komponen utama
pembentuk larutan, yaitu zat terlarut (solute) dan zat pelarut (solvent). Untuk
menyatakan komposisi larutan secara kuantitatif digunakanlah konsentrasi.
Konsentrasi adalah perbandingan jumlah zat terlarut dengan pelarut. Perbandingan ini
dapat diungkapkan dengan dua cara, yaitu perbandingan jumlah zat terlarut dengan
jumlah zat pelarut dan perbandingan jumlah zat terlarut dengan jumlah larutan.
Larutan memiliki fasa, fasa larutan dapat berupa fasa gas, cair atau padat
tergantung pada sifat kedua komponen pembentuk larutan. Apabila fasa larutan dan
fasa zat-zat pembentuknya sama, zat yang berada dalam jumlah terbanyak umumnya
disebut sebagai pelarut sedangkan zat yang lainnya sebagai zat terlarutnya. Pada
umumnya zat yang sering digunakan sebagai pelarut (solvent) adalah air, selain air
yang berfungsi sebagai pelarut ada juga pelarut yang menggunakan alkohol, ammonia,
kloroform, benzene, minyak, asam asetat, dll. Namun jika suatu larutan menggunakan
pelarut air, maka biasanya tidak disebutkan jenis pelarutnya.
Konsentrasi suatu larutan menunjukkan berapa banyak jumlah suatu zat terlarut
dalam larutan tersebut. Larutan yang menggunakan air sebagai pelarut dinamakan
larutan dalam air atau aqueous (aq). Larutan yang mengandung zat terlarut dalam
jumlah banyak dinamakan larutan pekat. Jika jumlah zat terlarut sedikit, larutan
dinamakan larutan encer.
Konsentrasi merupakan cara untuk menyatakan hubungan kuantitatif antara zat
terlarut dan zat pelarut. Untuk menyatakan konsentrasi larutan ada beberapa cara,
antara lain :
1. Fraksi Mol
Fraksi mol adalah perbandingan antara jumlah mol suatu komponen dengan
jumlah mol seluruh komponen yang terdapat dalam larutan. Fraksi mol
dinyatakan dengan X.
2. Persen Berat
Persen berat menyatakan gram berat suatu zat terlarut dalam 100 gram
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

47

larutan.
3. Molalitas (m)
Molalitas menyatakan mol zat terlarut dalam 100 gram pelarut.
4. Molaritas (M)
Molaritas menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter larutan
5. Normalitas
Normalitas menyatakan jumlah mol ekivalen zat terlarut dalam 1 liter larutan.
Untuk asam, 1 mol ekivalennya sebanding dengan 1 mol ion H+.
Untuk basa, 1 mol ekivalennya sebanding dengan 1 mol ion OH-.
Antara Normalitas dan Molaritas terdapat hubungan :
N = M x valensi
Larutan gas dibuat dengan cara mencampurkan satu gas ke dalam gas lainnya.
Karena semua gas telah bercampur dalam semua perbandingan, maka setiap campuran
gas adalah homogen dan ini disebut sebagai larutan. Larutan cair dibuat dengan
melarutkan gas, cairan atau padatan dalam suatu cairan. Jika yang berfungsi sebagai
cairan adalah air, maka larutan tersebut disebut larutan berair. Larutan padatan adalah
padatan-padatan dalam satu komponen terdistribusi tak beraturan pada atom atau
molekul dari komponen lainnya. Larutan padatan sangat penting dalam kehidupan
sehari-hari dan dikenal sebagai alloy. Alloy dapat didefinisikan sebagai campuran dua
unsur atau lebih yang mempunyai sifat-sifat logam. Baja merupakan alloy dari besi
dan karbon.
Banyak reaksi, baik di laboratorium maupun di alam lingkungan kita, satu
atau lebih pereaksi berada dalam larutan-pereaksi tersebut larut dalam bermacammacam cairan, misalnya air. Dalam badan kita misalnya, makananlarut dalam darah
dan dibawa ke dalam sel, dimana terjadi reaksi yang kompleks dan disebut
metabolisme.
Suatu reaksi kimia dalam larutan perlu dilihat dengan terbentuknya suatu
endapan. Dalam hasil reaksi terbentuk gas, seperti misalnya reaksi antara asam klorida
dan natrium karbonat. Kadang-kadang yang terjadi hanya perubahan warna dan
malahan ada yang kelihatannya tidak terjadi perubahan sama sekali, karena semua
pereaksi dan hasil reaksi larut dalam air dan tidak berwarna.
Hal yang sering terjadi adalah bahwa satu dari dua pereaksi sudah cukup
dalam bentuk larutan agar reaksi dapat terjadi. Jika larutan asam sulfat (H2SO4)
ditambahkan ke dalam seng, H2SO4 akan bereaksi dengan Zn dan membentuk
senyawa seng sulfat (ZnSO4) yang larut dalam air dan gelembung-gelembung gas
hidrogen.
Zn(aq) + H2SO4 ZnSO4(aq) + H2(g)
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

48

Merupakan hal yang sangat umum dalam membicarakan larutan


menggunakan kata-kata solute (zat terlarut) dan solvent (pelarut). Biasanya kita
menggunakan kata solvent sebagai komponen, dimana secara fisika tidak berubah jika
larutan terbentuk. Semua komponen lainnya yang larut dalam pelarut tersebut disebut
solute (zat terlarut). Larutan garam dalam air misalnya, air yang cair adalah pelarut
(solvent) dan garam yang padat dan terlarut dalam larutan disebut solute (zat terlarut).
Jika kita ingin membandingkan secara kualitatif konsentrasi relatif dari
larutan itu, kita menggunakan istilah pekat dan encer. Suatu larutan pekat adalah
solute yang relatif konsentrasinya tinggi dan larutan encer adalah solute yang
konsentrasinya kecil. Suatu hal yang perlu diingat adalah larutan pekat dan larutan
encer adalah istilah yang relatif. Larutan yang mengandung 0,001 g NaCl per liter
adalah larutan yang encer jika dibandingkan dengan larutan yang lebih pekat yang
mengandung 0,1 g NaCl per liter, tetapi larutan 0,1 g NaCl ini adalah larutan encer
jika dibandingkan dengan larutan 10 g NaCl per liter.
Sering dibutuhkan penentuan konsentrasi suatu larutan secara kuantitatif dan
hal ini dapat dilihat bahwa ada beberapa cara untuk memperoleh konsentrasi larutan
secara kuantitatif. Suatu istilah yang sangat berguna yang berkaitan dengan
stoikiometri suatu reaksi dalam larutan disebut konsentrasi molar atau molaritas
dengan simbol M, dinyatakan sebagai jumlah mol suatu solute dalam larutan dibagi
dengan volume larutan yang ditentukan dalam liter.
Molaritas (M) =

mol
liter

Alasan molaritas merupakan konsentrasi yang sangat berguna adalah karena kita
mengetahui molaritas suatu larutan, kita dapat menentukan jumlah mol solute yang
diinginkan dengan cara mengukur volumenya yang tepat.
Dalam pekerjaan sehari-hari di laboratorium, biasanya kita menggunakan
larutan yang lebih rendah konsentrasinya dengan cara menambah pelarutnya,
misalnya banyak laboratorium kimia membeli larutan senyawa kimia dalam air yang
konsentrasinya pekat, sebab cara ini adalah cara yang sangat ekonomis. Biasanya
senyawa kimia yang dibeli ini demikian pekatnya, sehingga larutan ini harus
diencerkan. Proses pengenceran adalah mencampur larutan larutan pekat (konsentrasi
tinggi) dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih
besar.
Melalui proses ini, mol solute tetap konstan dan hanya volumenya yang
bertambah. Hal ini merupakan masalah yang dihadapi dalam pekerjaan yang berkaitan
dengan pengenceran. Jika dikalikan molaritas larutan M dengan volume V, kita
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

49

dapatkan jumlah mol dari solute :


M.V =

mol
L

L =

mol

Karena jumlah mol solute tetap sama selama pengenceran, maka hasil
perkalian molaritas dengan volume senyawa yang semula digunakan (M1.V1) harus
sama dengan hasil akhir senyawa tersebut setelah pengenceran (M 2.V2). Hal ini
menghasilkan persamaan :
(M1.V1) =

(M2.V2)

Standarisai dilakukan untuk mengetahui konsentrasi sebenarnya dari larutan


yang dihasilkan. Standarisasi pada percobaan ini menggunakan metode asam basa
yaitu proses penambahan larutan standar dengan larutan asam. Titrasi adalah cara
analitis yang memungkinkan kita untuk mengukur jumlah yang pasti dari suatu larutan
dengan mereaksikan dengan suatu larutan lain yang konsentrasinya diketahui. Analisis
semacam ini yang menggunakan pengukuran volume larutan pereaksi disebut analisis
volumetric. Pada suatu titrasi, salah satu larutan yang mengandung suatu pereaksi
dimasukkan ke dalam buret, suatu lempengan gelas yang salah satu ujungnya
mempunyai kran dan diberi tanda tera dalam milliliter dan sepersepuluh milliliter.
Larutan dalam buret disebut pentitrasi dan selama titrasi, larutan ini diteteskan secara
perlahan-lahan melalui kran ke dalam labu erlenmeyer yang mengandung larutan
pereaksi yang lain. Larutan penitrasi ditambahkan sampai seluruh reaksi selesai yang
dinyatakan dengan berubahnya warna indikator. Suatu zat yang umumnya
ditambahkan ke dalam larutan dalam bejana penerima sehingga mengalami suatu
macam perubahan warna. Perubahan warna ini menandakan telah tercapainya titik
akhir titrasi, diberi nama demikian karena pada titik ini, penetesan larutan pentitrasi
dihentikan dan volumenya dicatat.
Salah satu reaksi yang sering digunakan dalam titrasi adalah netralisasi asam
basa. Biasanya, sebagai larutan asam diletakkan pada Erlenmeyer atau gelas kimia.
Indikator adalah suatu zat yang mempunyai warna dalam keadaan asam atau basa
yang berlainan. Misalnya lakmus dalam suasana asam akan berwarna merah
sedangkan dalam keadaan basa akan berwarna biru. Indikator lain yang sering
digunakan di laboratorium adalah fenolftalein. Fenolftalein dalam suasana asam tak
berwarna sedangkan dalam suasana basa berwarna merah muda.

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

50

C. Alat dan Bahan


Alat
Gelas ukur
Labu ukur 100 mL
Neraca analitik
Labu ukur 50 mL
pengaduk

Bahan
Gelas arloji
Pipet ukur
Pipet pump
Buret
Erlenmeyer

Beker glass
Statif

HClNaOH
Akuades
Indikator pp
Methyl red

D. Cara Kerja
(i)
Pembuatan dan pengenceran larutan HCl
Masukkan 2 mL asam klorida ke dalam gelas ukur 100 mL yang telah berisi
air (lakukan dalam lemari asam), masukkan ke dalam labu ukur. Di dalam labu
ukur tambahkan akuades hingga tanda batas. Labu takar ditutup dan dikocok
hingga larutan homogen. Labu takar yang telah berisi larutan ditimbang beratnya.
Larutan ini disebut larutan A.
Dengan menggunakan pipet gondok atau pipet ukur, larutan asam klorida
yang telah dibuat ( larutan A) dipindahkan ke dalam labu takar 50 mL yang baru.
Kenudian, tambahkan akuades hingga tanda batas. Larutan HCl yang telah
diencerkan ini disebut sebagai larutan B.
(ii)
Penentuan konsentrasi larutan HCl
Sebelum digunakan, buret dibilas dengan akuades, kemudian dibilas kembali
dengan larutan NaOH yang akan digunakan. Buret diisi dengan larutan Natrium
Hidroksida. Catat volume awal larutan natrium hidroksida dalam buret.
Kemudian 10 mL asam klorida encer (larutan B) dipindahkan ke dalam
Erlenmeyer dengan menggunakan pipet gondok atau piper ukur. Tambahkan indikator
pp atau methyl red ke dalam larutan tersebut.
Larutan B dalam Erlenmeyer dititrasi dengan larutan natrium hidroksida di dalam
buret hingga terjadi perubahan warna. Begitu terjadi perubahan warna yang konstan,
titrasi dihentikan. Catat volume akhir natrium hidroksida, lalu hitung volume natrium
hidroksida yang diperlukan untuk titrasi dengan cara menghitung selisih volume awal
dan volume akhir natrium hidroksida.
Titrasi dilakukan sebanyak 2 kali.
(iii)
Pembuatan larutan NaOH
Timbang 0,4 gram natrium hidroksida secara teliti dengan menggunakan neraca
analitik. Begitu penimbangan selesai dilakukan, natrium hidroksida segera
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

51

dipindahkan dari gelas arloji ke dalam gelas beker yang telah berisi 20 mL akuades
hangat. Seluruh natrium hidroksida diaduk dengan pengaduk kaca hingga seluruh
natrium hidroksida larut sempurna.
Larutan dari gelas beker dipindahkan ke dalam labu takar 50 mL. akuades
ditambahkan hingga tanda batas pada labu takar. Labu takar ditutup kemudian
dikocok hingga homogen. Larutan yang diperoleh pada tahap ini disebut sebagai
larutan C.
25 mL larutan C dipindahkan dengan menggunakan pipet gondok yang sesuai ke
dalam labu takar 100 mL yang baru. Kemudian akuades ditambahkan hingga tanda
batas. Kocok hingga homogen. Larutan yang diperoleh disebut larutan D.
(iv)
Penentuan konsentrasi larutan NaOH
Sebelum digunakan, buret dibilas dengan akuades, kemudian dibilas kembali
dengan larutan HCl 0,1 M yang akan digunakan. Buret diisi dengan larutan HCl 0,1
M. Catat volume awal larutan HCl dalam buret.
Pindahkan 10 mL larutan NaOH encer (larutan D) ke dalam Erlenmeyer dengan
menggunakan pipet gondok atau pipet ukur. Tambahkan 2-3 tetes indikator metal
merah ke dalam larutan tersebut. Larutan dalam Erlenmeyer dititrasi dengan larutan
HCl 0,1 M di dalam buret hingga terjadi perubahan warna. Begitu terjadi perubahan
warna yang konstan, titrasi dihentikan. Catat volume akhir HCl yang tersisa dalam
buret. Hitung volume HCl yang digunakan dalam reaksi titrasi dengan menghitung
selisih volume awal dan volume akhir HCl dalam buret. Titrasi dilakukan sebanyak 2
kali.
E. Pengolahan Data
1. Hitung konsentrasi NaOH dan HCl yang diperoleh dari metode titrasi.
2. Jabarkan perhitungan pembuatan NaOH? Berapa konsentrasi NaOH
seharusnya menurut perhitungan?
3. Tuliskan mekanisme reaksi yang ada dalam percobaan
4. Jabarkan fungsi penambahan bahan dalam percobaan ini
5. Jabarkan perhitungan reaksi pengenceran yang ada percobaan ini (
pengenceran HCl dan NaOH)
F. Pertanyaan/ Tugas Rumah
1. Apa yang dimaksud dengan larutan standar?
2. Apa pengertian titrasi?
3. Hitunglah molaritas suatu larutan yang dibuat dengan melarutkan 20 gram
NaCl dalam 400 mL akuades
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

52

4. Berapa gram bobot soda api (NaOH) yang diperlukan untuk membuat 300 mL
larutan NaOH 0,4 M

G. Daftar Pustaka
Brady, J., 2003, Kimia Universitas Asas dan Struktur Jilid I, Binarupa Aksara,
Jakarta
Sastrohamidjojo, H., 2001, Kimia Dasar, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

53

PERCOBAAN K-7 : PENENTUAN pH LARUTAN


A. Tujuan Percobaan
1. Memahami skala pH dan terampil melakukan berbagai pengukuran pH.
2. Mengetahui konsep kesetimbangan asam basa suatu larutan.
3. Mengenal larutan buffer.
B. Dasar Teori
Asam dan basa sudah dikenal sejak dahulu. Istilah asam (acid) berasal dari
bahasa latin acetum yang berarti cuka. Seperti diketahui, zat utama dalam cuka adalah
asam asetat. Istilah basa (alkali) berasal dari bahasa arab yang berarti abu. Juga sudah
lama diketahui bahwa asam dan basa saling menetralkan.
Sejak berabad-abad yang lalu, para pakar mendefinisikan asam dan basa
berdasarkan sifat larutan airnya. Larutan asam mempunyai rasa asam dan bersifat
korosif (merusak logam, marmer dan berbagai bahan lain). Sedangkan larutan basa
berasa agak pahit dan bersifat kaustik (licin, seperti bersabun). Namun demikian, tidak
dianjurkan mengenali asam dan basa dengan cara mencicipi karena berbahaya. Asam
dan basa dapat dikenali menggunakan indikator asam basa, misalnya lakmus merah
dan lakmus biru. Larutan asam mengubah lakmus biru menjadi merah, sebaliknya
larutan basa mengubah lakmus merah menjadi biru. Larutan yang tidak mengubah
warna lakmus, baik lakmus merah maupun lakmus biru, disebut bersifat netral. Air
murni bersifat netral.
Beberapa contoh larutan di bawah ini :
Larutan bersifat asam :
larutan cuka, air heruk, air aki
Larutan bersifat basa :
air kapur, air abu, larutan sabun, ammonia, soda
Beberapa definisi asam basa digunakan dalam ilmu kimia. Table di bawah
merangkum tiga definisi umum asam basa :
Definisi asam

Definisi basa

Arrhenius

menghasilkan ion H+ (proton)


di larutan

menghasilkan ion OH- di


dalam larutan

BronstedLowry

donor (pemberi) proton

aseptor (penerima) proton

Lewis

penerima pasangan elektron

donor pasangan elektron

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

54

Teori Arrhenius sangat terbatas dalam penggunaanya, yaitu (1) hanya dapat
diaplikasikan pada larutan, dan (2) hanya memiliki satu jenis basa. Sebagai catatan,
jangan sampai terbalik antara teori Bronsted Lowry dengan teori Lewis, yaitu bahwa
menurut teori Bronsted-Lowry asam adalah donor proton, sedangkan menurut teori
Lewis suatu asam adalah penerima pasangan elektron. Dalam percobaan ini, akan
digunakan teori asam basa paling sederhana, yaitu teori asam-basa Arrhenius.
Teori Asam-Basa Arrhenius
Dalam air, asam melepaskan ion H+ sedangkan basa melepaskan ion OHUntuk menjelaskan penyebab sifat asam dan basa, sejarah perkembangan ilmu kimia
mencatat berbagai teori. Pada tahun 1777, Lavoisier mengemukakan bahwa asam
mengandung oksigen. Unsur itu yang dianggap bertanggung jawab atas sifat-sifat
asam (nama oksigen diberikan oleh Lavoisier yang berarti pembentuk asam). Namun
pada tahun 1810, Humphrey Davy menemukan bahwa asam hidrogen klorida tidak
mengandung oksigen. Daavy kemudian menyimpulkan bahwa hidrogenlah dan bukan
oksigen yang merupakan unsur dasar dari setiap asam. Kemudian pada tahun 1814,
Gay Lussac menyimpulkan bahwa asam adalah zat yang dapat menetralkan alkali dan
kedua golongan senyawa itu hanya dapat didefinisikan kaitan satu dengan yang lain.
Konsep yang cukup memuaskan tentang asam dan basa, dan yang tetap diterima
hingga sekarang, dikemukakan oleh Arrhenius pada tahun 1884. Menurut Arrhenius,
asam adalah zat yang dalam air melepaskan ion H+ sedangkan basa melepaskan ion
OH-. Jadi, pembawa sifat asam adalah ion H+ sedangkan pembawa sifat basa adalah
OH-. Asam Arrhenius dirumuskan sebagai HxZ yang dalam air mengalami ionisasi
sebagai berikut :
Contoh : Asam klorida (HCl) dan asam sulfat (H2SO4) dalam air akan terionisasi
sebagai berikut:

Jumlah ion H+ yang dapat dihasilkan oleh 1 molekul asam disebut valensi asam.
Sedangkan ion negatif yang terbentuk dari asam setelah melepas ion H+ disebut ion
sisa asam. Nama asam sama dengan nama ion sisa asam dengan didahului kata asam.
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

55

Berikut ini beberapa contoh asam dan reaksi ionisasinya :

Basa Arrhenius adalah hidroksida logam, M(OH)x, yang dalam air terurai sebagai
berikut :
Jumlah ion OH- yang dapat dilepaskan oleh satu molekul basa disebut valensi basa.
Berikut ini beberapa contoh basa :
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

56

Indikator Asam Basa


Indikator asam basa adalah zat warna yang mempunyai warna berbeda dalam
larutan yang bersifat asam dan dalam larutan yang bersifat basa. Oleh karena itu,
indikator asam basa dapat digunakan untuk membedakan larutan asam dan larutan
basa. Contohnya adalah kertas lakmus. Lakmus berwarna merah pada larutan asam
dan berwarna biru pada lakmus basa.
Di dalam laboratorium, indikator yang sering digunakan selain kertas lakmus
adalah fenolftalein, metal merah dan metal jingga.
Beberapa indikator asam basa :

Kekuatan Asam Basa


Asam kuat dan basa kuat terionisasi seluruhnya dalam air, sedangkan
asam lemah
dan(pH)
basalarutan
lemah terionisasi sebagiandalam air.
Derajat
Keasaman
pH larutan menyatakan konsentrasi ion H+ dalam larutan

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

57

Asam cuka 2 M lebih asam daripada asam cuka 1 M. pernyataan ini mudah dipahami
dan tidak memerlukan penjelasan. Akan tetapi, untuk memahami bahwa HCl 1 M
lebih asam daripada asam cuka 1 M, diperlukan sedikit penjelasan. Pembawa sifat
asam adalah H+, oleh karena itu tingkat keasaman larutan tergantung pada konsentrasi
ion H+ dalam larutan. HCl adalah asam kuat, sedangkan asam cuka adalah asam
lemah. Jadi walaupun konsentrasi kedua asam tersebut sama, tetapi HCl mengandung
ion H+ lebih banyak, sehingga HCl 1 M lebih asam daripada asam cuka 1 M.
Konsentrasi H+ dalam larutan sangatlah kecil. Contohnya, konsentrasi H+ dalam air
adalah 1 x 10-7 M. untuk menghindari penggunaan bilangan yang kecil, maka
konsentrasi H+dinyatakan dengan :
pH = - log [H+]
dengan cara yang sama maka :
pOH = - log [OH-]
pKw = - log Kw
contoh :
jika konsentrasi ion H+ = 0,1 M, maka nilai pH = - loh 0,1 = - log 10-1 = 1
jika konsentrasi ion H+ = 0,01 M, maka nilai pH = - log 0,01
= - log 10-2
=2
Makin besar konsentrasi ion H+, makin kecil nilai pH. Larutan dengan pH = 1
adalah 10 kali lebih asam daripada larutan dengan pH = 2

Bagaimana hubungan antara pH dengan pOH? Dari persamaan (2)

diperoleh :
Kw = [H+] . [OH-]
pKw = pH + pOH
pada suhu kamar, harga Kw = 1 x 10-14, maka :
- Larutan netral ; pH = pOH = 7
- Larutan asam : pH < 7
- Larutan basa : pH > 7

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

58

C. Alat dan Bahan


Alat

Bahan

Labu ukur 100 mL


Tabung reaksi 5 buah
pH universal
pH meter
Gelas beker

HCl
Akuades
NaH2PO4
HC2H3O2
ZnSO4

Thymol blue
Methyl yellow
Congo red
Bromocressol green

NaCl
Na2CO3
NaC2H3O2
NaHSO4
Methyl violet

D. Cara Kerja
(i)
Pembuatan variasi konsentrasi larutan asam
Buatlah larutan HCldengan konsentrasi 0,05; 0,1; 0,2; 0,3; 0,4; dan 0,5M
dengan volume masing-masing 100 mL. larutan ini dibuat dari pengenceran larutan
HCl 0,5 M.
(ii)

Penggunaan indikator untuk menentukan pH larutan


Siapkan 5 buah tabung reaksi, kemudian masukkan 4-5 tetes 0,1 M HCl ke
dalam masing-masing gelas. Kedalam masing-masing gelas tersebut tambahkan 1
tetes indikator sebagai berikut:
Range pH
Indikator
Methyl Violet
Thymol Blue
Methyl Yellow

Yellow

xxx

Red

Congo Red

Violet

Bromocresol Green

Yellow

Violet
xxx

Red

Yellow
xxx

Yellow
xxx

Orange Red
xxx

Blue

Bandingkan warna yang diperoleh dengan informasi dalam tabel untuk menentukan
pH dari larutan. Misalnya, pH antara 2-3 atau 4-5

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

59

Ulangi prosedur diatas dengan larutan di bawah ini :


0,1 M NaH2PO4
0,1 M HC2H3O2
0,1 M ZnSO4
Amati warna diperoleh dan tentukan pH yang sesuai untuk larutan tersebut.
(iii)
Penggunaan pH meter untuk menentukan pH larutan
Ambil 5 mL 0,1 M larutan dari masing masing senyawa di bawah ini ke dalam gelas
beker :
NaCl
Na2CO3
NaC2H3O2
NaHSO4
Harus dipastikan bahwa elektroda pH meter telah dicuci dengan akuades dan
dikeringkan dengan menggunakan tisu (hati-hati) pada setiap pengukuran. Setelah
mengukur pH, tambahkan satu tetes bromocresol green ke dalam larutan, kemudian
catat perubahan pH yang terjadi.
Tuliskan persamaan ionik untuk masing-masing larutan yang memiliki pH kurang dari
6 dan lebih dari 8. Kemudian jelaskan apakah warna yang terjadi dengan
menggunakan bromocresol green sesuai.

E. Pengolahan Data
1. Tentukan masing-masing pH larutan HCl dengan variasi konsentrasi diatas,
menurut warna yang terbentuk setelah penambahan pH indikator.
2. Bandingkan hasil diatas dengan hasil yang diperoleh dari pH indikator, pH
universal dan pH meter. Jelaskan.
3. Apa keuntungan dan kekurangannya pengukuran pH pada masing-masing
metode.
F. Pertanyaan/ Tugas Rumah
1. Sebutkan masing-masing 5 contoh larutan yang bersifat asam lemah dan asam
kuat.
2. Sebutkan masing-masing 5 contoh larutan yang bersifat basa lemah dan basa
kuat.
3. Sebutkan 10 contoh pH indikator berikut rentang pH nya.

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

60

G. Daftar Pustaka
Rosenberg, J. L., 1996, Kimia Dasar (diterjemahkan oleh E. Jasjfi), ed-6,
Erlangga, Jakarta
Day, R. A., dan Underwood, A. L., Analisis Kimia Kuantitatif, ed-5

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

61

PERCOBAAN K-8 : PEMURNIAN AIR DENGAN CARA PENUKAR ION

A. Tujuan Percobaan
1.
Mempelajari proses pemurnian air dengan menggunakan proses penukar
ion
2.
Dapat mengetahui ion positif dari penyusun garam dapat dipisahkan oleh
resin penukar kation dan ion negatif dipisahkan oleh resin penukar anion.
B. DASAR TEORI
Penukar ion pada umumnya digunakan untuk maksud menukar ion yang sama
muatannya antar larutan (air) dan zat padat yang tidak larut (resin), bila saling
bersikontak.
Resin penukar ion terdiri dari resin kation dan resin anion. Resin kation diberi
simbol RH, dan resin anion diberi simbol ROH. Bila air melewati resin ini,
maka akan terjadi hal-hal sebagai berikut :
a. Ion positif dari garam dalam air akan diambil oleh resin kation dan
ion negatif akan diambil oleh resin anion.
Contoh garam dalam air adalah NaCl, maka akan terjadi reaksi
sebagai berikut,
NaCl + RH RNa + HCl
(air) (resin kation)
HCl yang terbentuk akan melewati resin penukar anion, sehingga
terjadi reaksi sebagai berikut,
HCl + ROH RCl + H2O
(air murni)
C. ALAT DAN BAHAN
1.
Instalasi alat penukar ion
2.
Biuret
3.
Pipet
4.
Erlenmeyer
5.
Labu ukur
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

62

6.
7.
8.
9.

Statif
KlamAlat analisa
Botol semprot
Bahan-bahan kimia terkait metode

D. CARA KERJA
1.
Tutup semua keran
2.
Masukkan contoh air ke dalam bejana A
3.
Buka keran T1, bila air dalam tabung B sampai tanda, tutup kembali
keran T1.
4.
Buka keran T3, sehingga air yang telah melewati penukar kation (tabung
B), masuk ke erlenmeyer D (untuk contoh pengujian kation) dan air
dalam erlenmeyer D samapai tanda, tutup keran T3
5.
Tentukan jumlah logam besi (Fe) dengan alat yang tersedia
6.
Buka keran T2, sehingga air mengalir ke tabung C (penukar anion), bila
air dalam tabung C telah sampai tanda, tutup keran T2.
7.
Buka keran T4, sehingga air masuk ke erlenmeyer E, bila air dalam
erlenmeyer E telah sampai tanda, tutup keran T4.
8.
Tentukan jumlah klorida (Cl) dengan alat yang tersedia.
E. TUGAS RUMAH
1.
Tulis tentang siklus kejadian air alam
2.
Tulis macam-macam kontaminan air alam
3.
Tulis akibat-akibat (kerusakan) yang timbul bila air ketel yang
dipergunakan tidak memenuhi persyaratan.

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

63

PERCOBAAN K-9 : ADSORPSI ISOTERMIS


A. Tujuan Percobaan
1. Memahami proses terjadinya reaksi adsorbsi
2. Memahami pemanfaatan reaksi adsorbsi dalam kehidupan sehari-hari
B. Dasar Teori
Adsorbsi
Adsorbsi adalah peristiwa penyerapan cairan pada permukaan zat penyerap
(adsorbsi). Zat yang diserap disebut adsorbat. Zat padat terdiri dari atom-atom atau
molekul-molekul yang saling tarik menarik dengan gaya Van Der Waals. Kalau
ditinjau molekul-molekul di dalam zat padat, maka gaya tarik menarik antara satu
molekul dengan molekul yang lain disekelilingnya adalah seimbang.
Lain halnya dengan molekul-molekul yang letaknya di permukaan, gaya tarik
kedua molekul tersebut tidak seimbang karena pada salah satu arah disekililing
molekul tersebut tidak ada molekul lain yang menariknya. Akibatnya zat tersebut akan
menarik molekul-molekul gas atau solute ke permukaannya. Fenomena ini disebut
adsorpsi.
Adsorpsi dipengaruhi :
- Macam adsorben
- Macam zat yang diadsorbsi (adsorbat)
- Konsentrasi masing-masing zat
- Luas permukaan
- Temperatur
- Tekanan
Untuk adsorben dengan luas permukaan tertentu, makin tinggi konsentrasi
adsorbat makin besar zat yang dapat diserap. Proses adsorbsi berada dalam keadaan
setimbang apabila kecepatan desorbsi sama dengan kecepatan adsorbsi. Apabila salah
satu zat ditambah atau dikurangi maka akan terjadi kesetimbangan baru.
Desorbsi adalah kebalikan adsorbsi, yaitu peristiwa terlepasnya kembali adsorbat
dari permukaan adsorben. Adsorpsi isotermis adalah adsorbsi yang terjadi pada
temperatur tetap.
Adsorbsi larutan oleh zat padat ada 3 kemungkinan :
a. Adsorbsi positif
Yaitu apabila solute realtif lebih besar daripada adsorbent.
Contoh : adsorbsi zat warna terhadap logam aluminium atau kromium

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

64

b. Adsorbsinegatif
Yaitu apabila solven relatif lebih besar teradsorbsi daripada solute dalam larutan.
Contoh : alkaloid dengan karbon aktif
c. Berdasarkan kondisi kita mengenal dua jenis adsorbsi
Adsorbsi fisika (physisorption)
Apabila adsorbsi berjalan pada temperatur rendah dan prosesnya reversible.
Jumlah asam yang hilang karena diadsorb = pengurangan konsentrasi asam dalam
larutan.
Adsorbsi kimia (chemisorption, activated adsorbsion)
Apabila adsorbsi berjalan pada temperatur tinggi disertai dengan reaksi kimia
yang irreversible.
C. Alat dan Bahan
Alat
Cawan porselin
Pemanas
Desikator
Erlenmeyer

Bahan
Kertas saring
Corong
Buret
Magnetic stirrer

Karbon
Asam asetat
NaOH
Indikator pp

D. Cara Kerja
Proses adsorbsi isotermis
Buatlah larutan asam dengan konsentrasi 0,15; 0,12; 0,09; 0,06; 0,03; dan 0,015
M dengan volume masing-masing 100 mL. larutan dibuat dari pengenceran larutan
0,15 M.
Panaskan karbon dalam cawan poselin, jaga jangan sampai membara, kemudian
didinginkan dalam desikator. Masukkan ke dalam enam buah labu erlenmeyer dengan
berat karbon masing-masing 1 gram. Kemudian ke dalam labu Erlenmeyer berisi
karbon, dimasukkan larutan asam asetat dengan variasi konsentrasi yang telah dibuat.
Satu Erlenmeyer yang tidak ada karbon aktifnya diisi 100 mL 0,03 M larutan asam
asetat, contoh ini akan dipakai sebagai control.
Tutup semua labu tersebut dan kocoklah secara periodic selama 30 menit,
kemudian biarkan diam untuk paling sedikit 1 jam agar terjadi kesetimbangan.
Saringlah masing-masing larutan memakai kertas saring halus, buang 10 mL pertama
dari filtrate untuk menghindari kesalahan akibat adsorbsi karena kertas saring.
Titrasi 25 mL larutan filtrate dengan 0,1 M NaOH baku dengan indikator pp.
lakukan dua kali untuk masing-masing larutan. Tentukan pH masing-masing larutan
yang telah diadsorbsi.
Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

65

E. Pengolahan Data
1. Buatlah grafik [konsentrasi larutan sebelum adsorbsi] Vs pH larutan ; dan
grafik [konsentrasi larutan setelah adsorbsi] Vs pH larutan
2. Jelaskan masing-masing grafik diatas dan apa kaitannya perubahan grafik
dengan adanya adsorben (karbon)
3. Hitung mol asam yang teradsorb pada masing-masing tabung
F. Pertanyaan/ Tugas Rumah
1. Jelaskan pengertian adsorbsi, adsorben dan adsorbat
2. Apakah gas dapat mengalami reaksi adsorbsi? Jelaskan.
3. Sebutkan macam-macam reaksi adsorbsi!
G. Daftar Pustaka
http://www.chemeng.ui.ac.id/~lab~dpk

Petunjuk Praktikum Kimia - Laboratorium Kimia STT-PLN

66