Anda di halaman 1dari 3

KLASIFIKASI SKELETAL

1. Klas 1 skeletal-dimana rahang berada pada hubungan antero-posterior


yang ideal pada keadaan oklusi.

Klas 2 skeletal-dimana rahang bawah pada keadaan oklusi, terletak lebih


ke belakang dalam hubungannya dengan rahang atas, dibandingkan pada
Klas 1 skeletal.

klas 3 skeletal-dimana rahang bawah pada keadaan oklusi terletak lebih


ke depan daripada kelas 1 skeletal.

Pengukuran sefalometri :
Beberapa titik kranial yang sering dipergunakan :
a) S (Sella) : titik tengah ruang sella tursika N (Nasion) : perpotongan
bidang sagital dengan sutura frontonasalis, merupakan pertemuan
kranium dan muka
Beberapa titik di maksila yang sering digunakan
b) A (Subspinale): titik paling dalam pada kontur premaksila di antara
spina nasalis anterior dan gigi insisivi
c) SNA (Spina Nasalis Anterior) : Ujung spina nasalis anterior
d) SNP (Spina Nasalis Posterior) : batas posterior palatum
Beberapa titik di mandibula yang sering digunakan
e) B (Submentale) : titik yang paling dalam pada kontur mandibula di
antara insisivi dan dagu

SNA (83,5 2) Kedudukan maksila terhadap basis kranium


normognati/prognati/retrognati. Normognati apabila hasil pengukuran
sudut memberikan nilai yang sesuai dalam rentangnya, prognati bila hasil
pengukuran lebih besar dari normal, dan retrognati bila hasil pengukuran
lebih kecil dari nilai normal.
SNB (81 2) Kedudukan mandibula terhadap basis kranium
normal/prognati/retrognati. Normal apabila hasil pengukuran sudut
memberikan nilai yang sesuai dalam rentangnya, prognati bila hasil
pengukuran lebih besar dari normal, dan retrognati bila hasil pengukuran
lebih kecil dari nilai normal.
ANB (2,5 2) Kedudukan maksila terhadap mandibula secara anguler.
Nilai yang sesuai rentang menunjukkan pola skeletal kelas I, nilai yang
lebih besar menunjukkan pola skeletal klas II, sedangkan nilai yang lebih
kecil menunjukkan pola skeletal klas III.
WITS (-1 mm 2 mm) Kedudukan maksila terhadap mandibula secara
linier. Nilai positif dapat diartikan sebagai diskrepansi rahang karakteristik
dari skeletal klas II, sementara nilai negatif menunjukkan diskrepansi
rahang karakteristik dari skeletal klas III.

Go-Gn-SN (32 3) Inklinasi bidang mandibula terhadap basis


kranium. Nilai ini menunjukkan pola pertumbuhan.
FMA (26 3) Inklinasi mandibula terhadap bidang Frankfort
horizontal. Nilai yang lebih besar dari normal menunjukkan pola fasial
hiperdivergen, sedangkan nilai yang lebih kecil dari normal menunjukkan
pola fasial hipodivergen.