Anda di halaman 1dari 71

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS EKONOMI
MEDAN

SKRIPSI
ANALISIS PERKEMBANGAN RETRIBUSI DAERAH
PADA PEMERINTAHAN KABUPATEN LANGKAT

OLEH :

NAMA

: MELISA

NIM

: 040503081

DEPARTEMEN

: AKUNTANSI S-1

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat


Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Ekonomi
2009

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

PERNYATAAN

Dengan ini Saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:


Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten
Langkat.
Adalah benar hasil karya sendiri dan judul dimaksud belum pernah dimuat,
dipublikasikan, atau diteliti oleh mahasiswa lain dalam konteks penulisan skripsi
level Program S1 Reguler Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas
Sumatera Utara.
Semua sumber data dan informasi yang diperoleh, telah dinyatakan dengan jelas,
benar apa adanya, dan apabila dikemudian hari pernyataan ini tidak benar, Saya
bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh Universitas.

Medan, 21 Desember 2009


Yang membuat pernyataan

Melisa
Nim 040503081

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbilalamiin, segala puli penulis haturkan kepada Allah


SWT yang telah memberikan pertolongan yang tiada terhingga, sehingga
penyusunan skripsi ini selesai dengan baik. Skripsi ini disusun untuk memenuhi
salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada Fakultas

Ekonomi Universitas Sumatera Utara.


Adapun judul skripsi ini yaitu: Analisis Perkembangan Retribusi
Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten langkat. Dalam menyelesaikan
penyusunan skripsi ini, penulis dibantu oleh berbagai pihak yang telah bersedia
meluangkan waktu dan tenaga, pikiran serta dukungannya baik secara moril dan
materil. Terutama buat kedua orang tua yang terkasih dan tercinta Ayahanda
Nover Azli dan Ibunda Humaida yang telah memberikan dukungan moril dan
materil, nasehat, serta doanya kepada penulis. Beserta kepada abang, dan kakakkakak

saya yang saya cintai dan sayangi. Dalam kesempatan ini penulis

menyampaikan rasa terima kasih yang tiada terhingga kepada beberapa pihak
antara lain :
1. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M.Ec, selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs. Hasan Sakti Siregar M.Si, Ak dan Ibu Mutia Ismail MM, Ak
Selaku Ketua Departemen dan Sekretaris Departemen Akuntansi Fakultas
Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

3. Ibu Dra. Narumondang Bulan Siregar Ak, MM selaku Dosen Pembimbing


yang telah banyak membantu dan memberikan pengarahan kepada penulis
dalam proses penyusunan dan penyelesaian skripsi ini.
4. Bapak Drs.Idhar Yahya MBA Ak dan Bapak Sambas Ade Kesuma SE,
M.Si, Ak selaku Penguji I dan Penguji II yang telah membantu penulis
melalui saran dan kritik yang diberikan demi kesempurnaan skripsi ini.
5. Pemerintah Kabupaten Langkat Khususnya Dinas Pendapatan Daerah
yang telah membantu penulisan skripsi ini, semoga skiripsi saya ini dapat
bermanfaat bagi Pemda Setempat.
6. Dosen-dosen FE serta pegawai dan staf karyawan FE USU Khususnya
Departemen Akuntansi.
7. Kepada seseorang yang sangat saya sayangi Abdillah Fahdi yang
senantiasa memberikan semangat dan selalu menemani saya.
8. Kepada sahabat-sahabat saya anatara lain : Dede, Dewi, anak-anak GASU,
serta teman-teman di FE USU khususnya anak-anak Akuntansi angkatan
2004.
Penulis menyadari masih terdapat kekurangan dalam penyusunan skripsi
ini. penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun bagi kesempurnaan
skripsi ini.,semoga skripsi ini bermanfaat
Medan, 21 Desember 2009
Penulis

Melisa
Nim 040503081

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis perkembangan retribusi
daerah. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Langkat dengan mengambil periode
waktu yang diteliti selama 10 tahun yakni tahun 1999.-2008. Metode penelitian
yang digunakan adalah
penelitian deskriptif dengan analisis datanya
mennghitung besar kontribusi retribusi daerah terhadap pendapatan asli daerah,
Tingkat Pencapaian Target (TPT), serta elastisitas.
Hasil penelitian menunjukkan sebagai berikut : pertama, hasil perhitungan
besar kontribusi retribusi daerah terhadap PAD Kabupaten Langkat dengan total
rata-rata kontribusinya selama 10 tahun adalah sebesar 23,98%. Kedua, Tingkat
Pencapaian Target (TPT) selama 10 tahun dari tahun anggaran 1999 sampai
dengan 2008 total rata-rata TPT adalah 85,84%. Ketiga, tingkat elastisitas
retribusi daerah Kabupaten Langkat total rata-ratanya adalah 0,24%. Ini
menunjukkan bahwa kontribusi retribusi daerah yang dihasilkan belum optimal,
serta perkembangan retribusi daerah di Kabupaten Langkat belum optimal pada
sisi pendapatan retribusi daerah. Maka ditinjau dari aspek kemampuan keuangan
daerah, Kabupaten Langkat belum dapat menjalanka otonomi secara maksimal.
Kata kunci : Retribusi Daerah,Kontribusi, Tingkat Pencapaian Target,
Elastisitas, Pendapatan Asli Daerah

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

ABSTRACT
This research has a purpose to know the analize development of the local
retribution. This research were done in Langkat Regency with periode during 10
years from 1999 until 2008. The anallyzing methode that used is the deskriptif
analyzing with the encode analyzing to count the big contribution of the local
retribution about the local own revenue, the level of target reach, and also
elasticity.
The result of the researched show, as follows : first, the rate contribution
of the local retribution with Langkat regency on the local own revenue with total
rate of contribution during ten years is 23,98%. Second, the level of target reach
during 10 years from 1999 until 2008 total rate is 85,84%. Third, the level of the
the local retribution elasticity of the Langkat regency with total rate is 0,24%. Its
show that the local contribution retribution result is not optimal, and also the local
retribution development in Langkat regency is not maximal and optimal yet at the
local own revenue retribution. So that look at from the aspect of the capacity
region finance, Langkat regency is not able to avtuated the autonomy in a
maximal.

Keywoard : The Local Retribution, Contribution, The level Of Target Reach,


Elasticity,The Local Own Revenue

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

DAFTAR ISI

PERNYATAAN

KATA PENGANTAR

ii

ABSTRAK

iv

ABSTRACT

...

DAFTAR ISI

...

vi

DAFTAR TABEL

ix

DAFTAR GAMBAR

...

BAB I

PENDAHULUAN..

A. Latar Belakang Masalah

B. Perumusan Masalah ..

C. Batasan masalah....................................................................

D. Tujuan Dan manfaat Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD)...

B. Keuangan Daerah..

C. Pendapatan Asli Daerah (PAD)................................

12

1. Defenisi Pendapatan Asli Daerah....................................

12

2. Klasifikasi Pendapatan Asli Daerah..................................

13

D. Retribusi Daerah.....................................................................

15

1. Defenisi Retribusi Daerah

15

2. Ciri-ciri Retribusi Daerah

16

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

3. Tujuan Retribusi Daerah..

16

4. Sifat-sifat Retribusi Daerah

17

5. Objek Retribusi Daerah...

17

6. Subjek Retribusi Daerah.

19

7. Jenis-Jenis Retribusi Daerah

20

8. Tata Cara Pemungutan Retribusi Daerah

23

9. Perhitungan Retribusi Daerah..

25

10. Peraturan Pemerintah Tentang retribusi Daerah..

27

E. Kerangka Konseptual....

29

BAB III METODE PENELITIAN..............................................................

30

A. Jenis Penelitian......

30

B. Jenis Data..

30

C. Teknik Pengumpulan Data....

30

D. Defenisi Operasional................................................................

31

E. Analisis Data......

31

1. Kontribusi Retribusi Daerah Terhadap PAD......................

31

2. Tingkat Pencapaian Target (TPT)......................................

32

3. Elastisitas............................................................................

32

F. Jadwal dan Lokasi penelitian................................................

34

BAB IV HASIL PENELITIAN

35

A. Data Penelitian.

35

1. Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Langkat

35

a. Kondisi Geografis

35

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

b. Iklim.

36

c. Topografi.

36

d. Ekonomi

36

2. Retribusi Daerah..................................................................

37

3. Pendapatan Asli Daerah......................................................

40

B. Analisis Hasil Penelitian........................................................

41

1. Kontribusi Retribusi Daerah Terhadap PAD

41

2. Tingkat Pencapaian Target (TPT)

48

3. Elastisitas.

50

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan ..

56

B. Keterbatasan Penelitian.

57

B. Saran .

57

DAFTAR PUSTAKA ..

59

LAMPIRAN

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

DAFTAR TABEL

Nomor
Tabel 4.1

Judul
Realisasi Retribusi Daerah Pemerintah
Kabupaten Langkat Tahun 1999-2008..

Tabel 4.2

42

TPT Penerimaan Retribusi Daerah Kabupaten Langkat


Tahun Anggaran 1999-2008

Tabel 4.6

40

Kontribusi Retribusi Daerah Terhadap PAD


Kabupaten Langkat Tahun 1999-2008

Tabel 4.5

39

Realisasi PAD Pemerintah Kabupaten Langkat


Tahun 1999-2008

Tabel 4.3

Halaman

49

Elastisitas retribusi Daerah Kabupaten Langkat Tahun


Anggaran 1999-2008..

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

51

DAFTAR GAMBAR
Nomor
Gambar 4.4

Judul

Halaman

Grafik Kontribusi Retribusi Terhadap PAD


Kabupaten Langkat Tahun 1999-2008.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

48

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang masalah


Sebagai negara berkembang, Indonesia terus berupaya melakukan

pembangunan disegala sektor, baik pembangunan yang berupa fisik maupun


mental. Hal tersebut ditujukan guna meningkatkan taraf hidup rakyat sekaligus
mendukung tercapainya suatu tujuan nasional. Pembangunan nasional mempunyai
tujuan umum untuk meningkatkan dan mewujudkan kesejahteraan rakyat maupun
kemakmuran yang adil dan merata.
Menurut Arsyad (2002:13), Pembangunan adalah suatu proses perubahan
secara terus-menerus guna meningkatkan pendapatan perkapita yang terus
berlangsung dalam jangka panjang, sehingga taraf kehidupan masyarakat akan
meningkat.
Pelaksanaan pembangunan daerah diarahkan untuk memacu pemerataan
pembangunan dalam rangka meningkatkan potensi-potensi yang dimiliki secara
optimal. Dalam melaksanakan berbagai macam kegiatan yang berkaitan dengan
pelaksanaan daerah tentu memerlukan biaya yang cukup besar agar pemerintah
daerah dapat mengurus rumah tangganya sendiri dengan sebaik-baiknya, maka
perlu diberikan sumber-sumber pembiayaan yang cukup besar. Tetapi tidak semua
sumber-sumber pembiayaan dapat diberikan kepada daerah, maka pemerintah
daerah diwajibkan untuk menggali segala sumber-sumber keuangannya sendiri
berdasarkan peraturan yang berlaku.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

Saat terjadinya krisis ekonomi di Indonesia memberikan pengaruh bagi


sektor swasta dan juga sektor publik (pemerintah). Adapun pengaruh negatif yang
terjadi seperti pengangguran dan peningkatan kemiskinan serta menghambat
pembangunan baik pada pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pengaruh
negatif krisis moneter tersebut memberikan dampak negatif terhadap APBN yang
secara keseluruhan juga berpengaruh pada APBD. Sektor pendapatan sangat labil
atau faktor ketidakpastian akan penerimaan dari pemerintah pusat menjadi lebih
tinggi. Kondisi tersebut memperihatinkan pada daerah yang pendapatan asli
daerahnya rendah. Jika PAD rendah, berarti ketergantungan kepada pemerintah
pusat lebih tinggi.
Kebijakan Otonomi Daerah sudah berlangsung sejak tahun 2001 yakni
tepatnya pada 1 Januari 2001 yang merupakan proses untuk mendorong
pemulihan ekonomi. Diberlakukannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang pemerintahan daerah. Sejalan dengan diberlakukannya Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah serta Undang-Undang
Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan keuangan antara pemerintah pusat
dan daerah, maka penyelenggaraan pemerintah daerah dilakukan dengan
memberikan wewenang untuk mengolah keuangan yang lebih luas, nyata dan
bertanggung jawab kepada daerah yang bertujuan untuk mencermati menghadapi
perubahan pengelolaan pemerintah daerah dengan cara menata manajemen
pemerintahan yang dapat bekerja secara lebih efisien, efektif serta ekonomis.
Penyelenggaran otonomi daerah didasarkan pada otonomi yang luas, nyata
dan bertanggungjawab, serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

Peran otonomi daerah yang nyata dan bertanggung jawab ini diharapkan mampu
untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerahnya.
Adanya otonomi daerah ini, daerah diberikan tanggung jawab untuk
mengatur serta mengurus rumah tangganya sendiri yang bertujuan untuk
memudahkan masyarakat dalam mengawasi penggunaan dana yang berasal dari
Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), serta dapat meningkatkan
persaingan yang sehat antar daerah, mulai dari perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan, pengendalian serta evaluasi. Pemerintah daerah juga mempunyai
kewajiban untuk meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan masyarakatnya
secara adil, merata, serta berkesinambungan. Pengelolaan keuangan daerah terdiri
dari pengurusan umum dan pengurusan khusus, pengurusan umum berkenaan
dengan APBD sedangkan pengurusan khusus berkenaan dengan barang-barang
inventaris dan kekayaan daerah yang lainnya.
Peningkatan penerimaan daerah yakni Pendapatan Asli Daerah (PAD),
yang berasal dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengolahan kekayaan
daerah yang dipisahkan, serta yang berasal dari lain-lain PAD yang sah.
Menurunnya aktivitas ekonomi masyarakat akibat adanya krisis ekonomi tersebut
mempengaruhi penerimaan pendapatan daerah yang mengakibatkan pendapatan
daerah menjadi lebih rendah dan tidak menentu.
Untuk merealisasikan pelaksanaan otonomi daerah maka sumber
pembiayaan pemerintah daerah tergantung pada peranan PAD. Hal ini diharapkan
dan diupayakan dapat menjadi penyangga utama dalam membiayai kegiatan
pembangunan di daerah. Oleh karena itu pemerintah daerah harus dapat

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

mengupayakan peningkatan penerimaan yang berasal dari daerah sendiri sehingga


akan memperbesar tersedianya keuangan daerah yang dapat digunakan untuk
berbagai kegiatan pembangunan. Hal ini akan semakin memperbesar keleluasaan
daerah untuk mengarahkan penggunaan keuangan daerah sesuai dengan rencana.
Kemampuan keuangan daerah di dalam membiayai kegiatan pembangunan
didaerah merupakan pencerminan dari pelaksanaan otonomi di daerah. Untuk
melihat kemampuan pemeritah daerah dalam menghimpun penerimaan daerah
baik penerimaan yang berasal dari sumbangan dan bantuan pemerintah pusat
maupun penerimaan yang berasal dari daerah sendiri. dapat dilihat dalam APBD
yang biayanya bersumber dari dana perimbangan dan PAD dengan tingkat
kesesuaian yang mencukupi pengeluaran pemerintah daerah. Upaya untuk
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tentunya tidak terlepas dari peranan
masing-masing komponen PAD. Komponen yang ada seperti penerimaan pajak
daerah, retribusi daerah, bagian laba usaha milik daerah, serta lain-lain
penerimaan yang sah.
Kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah (APBD) kenyataan masih kecil. Selama ini sumbangan dan
bantuan pemerintah pusat masih menjadi sumber terbesar dalam penerimaan
daerah. Keadaan ini menunjukkan bahwa ketergantungan pemerintah daerah
masih cukup besar. Untuk mengurangi ketergantungan tersebut maka PAD perlu
ditingkatkan, salah satunya yaitu dengan usaha meningkatkan retribusi daerah.
Dalam perkembangannya, retribusi daerah memberikan kontribusi yang
cukup besar selain komponen PAD yang lain yaitu pajak daerah sehingga perlu

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

digali secara optimal kebutuhan daerah yang bersangkutan. Untuk itu diperlukan
upaya intensifikasi penerimaan retribusi dearah guna optimalisasi pendapatan asli
daerah mengingat penerimaan retribusi daerah dalam perkembangannya selalu
mengalami perubahan dari tahun ke tahun, sehingga dilakukan analisis terhadap
sistem pemungutan yang diterapkan.
Pada pemerintahan kabupaten Langkat, penerimaan PAD yang berasal dari
retribusi daerah merupakan salah satu penerimaan PAD yang memberikan
kontribusi besar, akan tetapi realisasi pemungutannya masih belum terlaksana
secara optimal, hal ini dapat dilihat dari besarnya pendapatan yang diperoleh
pemerintah daerah Kabupaten Langkat yang berasal dari retribusi daerah yang
realisasinya jauh dibawah target yang direncanakan seperti pada tahun 2006
dengan persentase realisasi yang tercapai sebesar 84,65%, tahun 2007 persentase
realisasinya sebesar 80,74%, serta ditahun 2008 dengan besar persentasenya
sebesar 94,50%. Berdasarkan penjelasan tersebut maka penulis tertarik membuat
skripsi dan melakukan penelitian tentang Analisis Perkembangan Retribusi
Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat.

B.

Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka penulis merumuskan

apa yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini yaitu :


1. Apakah Kontribusi retribusi daerah sebagai sumber PAD di Kabupaten
Langkat sudah potensial ?

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

2. Apakah tingkat pencapaian target penerimaan retribusi daerah di


Kabupaten Langkat sudah tercapai ?
3. Berapa besar tingkat elastisitas retribusi daerah terhadap PAD di
Kabupaten Langkat ?

C.

Batasan Masalah
Komponen Pendapatan Asli Daerah terdiri dari pajak daerah, retribusi

daerah, hasil kekayaan daerah yang dipisahkan, lain-lain PAD yang sah, tetapi
yang menjadi fokus pada penelitian ini adalah retribusi daerah.
Agar lingkup permassalahan pada penelitian ini tidak meluas, maka
masalah dibatasi sebagai berikut :
1. Penelitian ini dilakukan di pemerintahan kabupaten Langkat
2. Data yang digunakan antara tahun 1999-2008 berdasarkan realisasi
pendapatan retribusi daerah.

D.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.

Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dilakukan penelitian ini adalah :
a. Untuk

mengetahui kontribusi retribusi daerah terhadap PAD

Kabupaten Langkat
b. Untuk mengetahui tingkat pencapaian target dalam penerimaan
retribusi daerah di Kabupaten Langkat

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

c. Untuk mengetahui besarnya elastisitas retribusi terhadap perubahan


realisasi penerimaan PAD di Kabupaten Langkat.

2.

Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian tentang retribusi daerah ini adalah

sebagai berikut :
a.

Bagi

Penulis,

Penelitian

ini

untuk

menambah

wawasan

tentang

perkembangan retribusi dikabupaten Langkat serta sejauh mana pengaruh


retribusi daerah terhadap PAD
b.

Bagi pemerintah Kabupaten Langkat, penelitian ini diharapkan dapat


digunakan sebagai masukan informasi dalam mengambil kebijaksanaan
untuk

meningkatkan

Pendapatan

Asli

Daerah

guna

membiayai

pembangunan daerah, khususnya penerimaan yang berasal dari retribusi


daerah serta untuk menyusun kebijakan pembangunan dalam pelaksanaan
otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab.
c.

Bagi pembaca dan pihak lainnya dapat dijadikan bahan dan informasi bagi
peneliti selanjutnya terhadap topik yang sama dengan kajian yang lebih
mendalam untuk lebih meningkatkan penerimaan retribusi daerah.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.

Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD)


Menurut Halim (2004:15-16) APBD adalah suatu anggaran daerah,

dimana memiliki unsur-unsur sebagai berikut :


1. Rencana kegiatan suatu daerah, beserta uraiannya secara rinci
2. Adanya sumber penerimaan yang merupakan target minimal untuk
menutupi biaya-biaya sehubungan dengan aktivitas-aktivitas
tersebut, dan adanya biaya yang akan dilaksanakan.
3. Jenis kegiatan dan proyek yang dituangkan dalam bentuk angka.
4. Periode anggaran, yaitu biasanya 1 tahun.

Menurut Halim dan Nasir (2006:44) APBD adalah Rencana keuangan


tahunan pemerintah daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah
daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan ditetapkan dengan
peraturan daerah.
Menurut Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002, APBD
terdiri atas 3 bagian, yakni : Pendapatan, Belanja, dan Pembiayaan.
Siklus APBD terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan
pemeriksaan, serta penyusunan dan penetapan perhitungan APBD. Penyusunan
dan penetapan perhitungan APBD merupakan pertanggung jawaban APBD.
Pertanggung jawaban itu dilakukan dengan menyampaikan perhitungan APBD
kepada menteri dalam negeri untuk pemerintah daerah tingkat I dan kepada
Gubernur untuk Pemerintah Daerah Tingkat II, jadi pertanggungjawaban bersifat
vertikal.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

B.

Keuangan Daerah
Ketentuan mengenai keuangan daerah diatur dalam UU Nomor 33 Tahun

2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah


Daerah. Dalam Bab III Pasal 4 ayat (1), UU Nomor 33 Tahun 2004, ditegaskan
bahwa Penyelenggaraan urusan Pemerintahan Daerah dalam rangka pelaksanaan
desentralisasi didanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Artinya, dana
APBD diperuntukkan bagi pelaksanaan tugas pemerintahan daerah, termasuk
tugas dan wewenang penyelenggaraan pemerinta yang sudah dilimpahkan atau
yang sudah didesentralisasikan pusat ke daerah. Penambahan wewenang daerah
jelas akan membutuhkan dana tambahan bagi daerah. Sebaiknya, pengurangan
wewenang akan mengurangi anggaran untuk itu. Selama ini pelaksanaan
pemerintah didaerah sebagian besar dibiayai oleh pusat melalui bantuan pusat atau
subsidi daerah otonom.
Sehubungan dengan pentingnya posisi keuangan, pemerintah daerah tidak
akan dapat melaksanakan fungsinya dengan efektif dan efisien tanpa biaya yang
cukup untuk memberikan pelayanan dalam pembangunan. Keuangan inilah yang
merupakan salah satu dasar kriteria untuk mengetahui secara nyata kemampuan
daerah dalam mengurus rumah tangganya sendiri. Dengan demikian untuk
mengatur dan mengurus urusan rumah tangganya, daerah membutuhkan biaya.
Tanpa adanya biaya yang cukup, maka bukan saja tidak mungkin bagi daerah
untuk menyelenggrakan tugas dan kewajiban serta kewenangan yang ada padanya
dalam mengatur dan mengurus rumah tangganya, tetapi juga cirri pokok dan
mendasar dari suatu daerah otonom menjadi hilang. Untuk dapat memiliki

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

keuangan yang memadai dengan sendirinya daerah membutuhkan sumber


keuangan yang cukup pula.
Menurut Mamesh dalam Halim (2004:18), Keuangan daerah adalah
semua hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang, demikian pula segala
sesuatu baik berupa uang maupun barang yang dapat dijadikan kekayaan daerah
sepanjang belum dimiliki atau dikuasai oleh negara atau daerah yang lebih tinggi
serta pihak-pihak lain sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Keuangan daerah memiliki lingkup yang terdiri atas keuangan daerah yang
dikelola langsung dan kekayaan daerah yang dipisahkan. Keuangan daerah yang
dikelola langsung adalah Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dan
barang-barang inventaris milik daerah.

Keuangan daerah yang dipisahkan

meliputi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).


Keuangan daerah dikelola melalui manajemen keuangan daerah. Jadi
manajemen keuangan daerah adalah pengorganisasian dan pengelolaan sumbersumber daya atau kekayaan yang ada pada suatau daerah untuk mencapai tujuan
yang dikehendaki daerah tersebut. Manajemen keuangan daerah pengelolaannya
terdiri atas pengurusan umum dan pengurusan khusus. Pengurusan umum
berkaitan dengan APBD, dan kepengurusan khusus berkaitan dengan barangbarang inventaris kekayaan daerah. Manajemen keuangan daerah juga dapat pula
dilihat dari segi tata usaha atau administrasi keuangan daerah.
Keuangan daerah mempunyai hak dan kewajiban. Hak-hak dari keuangan
daerah yang bersumber dari penerimaan daerah seperti pajak daerah, retribusi

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

daerah, hasil perusahan milik daerah, dan lain-lain, ataupun hak untuk menerima
sumber-sumber penerimaan lain.
Hak-hak tersebut akan meningkatkan keuangan daerah. Kewajiban dari
keuangan daerah yakni semua kewajiban mengeluarkan uang untuk membayar
tagihan-tagihan

kepada

daerah

dalam

rangka

penyelenggaraan

fungsi

pemerintahan, infrastruktur, pelayanan umum, dan pengembangan ekonomi.


Adapun sumber-sumber penerimaan daerah yang lain terdiri dari :

a. Dana Perimbangan
Dana perimbangan merupakan sumber Pendapatan Daerah yang berasal
dari APBN untuk mendukung pelaksanan kewenangan pemerintah daerah dalam
menacapai tujuan pemberian otonom kepada daerah. Dana Perimbangan
merupakan kelompok sumber pembiayaan pelaksanaan desentralisasi yang
dialokasinya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.
Dalam Pasal 10 UU Nomor 33 Tahun 2004, Dana perimbangan terdiri
dari:
1) Dana Bagi Hasil
2) Dana Alokasi Umum
3) Dana Alokasi Khusus

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

b. Pinjaman Daerah
Selama tiga dekade lebih pemerintahan orde baru, sumber utama pinjaman
daerah berasal dari pinjaman dalam negeri. Jumlah pinjaman daerah selama ini
rata-rata dibawah satu persen ( 1% ) dari APBD, itu pun pinjaman yang dilakukan
sebagian besar untuk mendukung kegiatan atau operasional perusahan daerah
(Badan Usaha Milik Daerah). Pemerintah daerah pada masa lalu tidak dibenarkan
melakukan pinjaman luar negeri.

c. Lain-lain penerimaan yang sah


Pendapatan lain-lain yang sah merupakan pendapatan yang didapat
berdasarkan undang-undang yang telah ditentukan.

C.

Pendapatan Asli Daerah


1. Defenisi Pendapatan Asli Daerah
Pendapatan asli daerah adalah penerimaan yang diperoleh daerah dari

sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan peraturan


daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pendapatan
Asli Daerah merupakan tulang punggung pembiayaan daerah, oleh karenanya
kemampuan melaksanakan ekonomi diukur dari besarnya kontribusi yang
diberikan oleh Pendapatan Asli Daerah terhadap APBD, semakin besar kontribusi
yang dapat diberikan oleh Pendapatan Asli Daerah terhadap APBD berarti
semakin kecil ketergantungan pemerintah daerah terhadap bantuan pemerintah
pusat.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

Pendapatan Asli Daerah merupakan salah satu komponen sumber


penerimaan keuangan Negara disamping penerimaan lainnya berupa dana
perimbangan, pinjaman daerah dan lain-lain penerimaan yang sah juga
sisaanggaran tahun sebelumnya yang dapat ditambahkan sebagai sumber
pendanaan penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Keseluruhan bagian
penerimaan tersebut stiap tahun tercermin dalam APBD, meskipun PAD tidak
seluruhnya dapat membiayai APBD.
Menurut

Mardiasmo

(2002:132) Pendapatan asli daerah adalah

penerimaan yang diperoleh dari sektor pajak daerah, retribusi daerah hasil
perusahaan milik daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan
lain-lain pendapatan asli daerah.
Undang-undang Nomor 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan
antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah disebutkan bahwa sumber-sumber
pendapatan daerah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah, Bagi Hasil Pajak dan
Bukan Pajak.

2. Klasifikasi Pendapatan Asli Daerah


Pendapatan Asli Daerah terdiri dari :
a. Pajak Daerah
Pajak daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau
badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat
dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan


pembangunan daerah.
b. Retribusi Daerah
Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa
atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan
oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
c. Hasil Pengolahan Daerah Yang Sah
Selain pajak daerah dan retribusi daerah, bagian laba perusahaan milik
daerah (BUMD) merupakan salah satu sumber yang cukup potensial untuk
dikembangkan.
Perusahaan milik daerah adalah badan usaha yang dimiliki oleh
pemerintah daerah dimana pembentukan, penggabungan, pelepasan
kepemilikan, dan atau pembubarannya ditetapkan dengan peraturan daerah
yang berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Hasil pengelolaan
daerah yang sah merupakan pendapatan daerah dari keuntungan/laba
bersih perusahaan daerah untuk anggaran belanja daerah yang disetor ke
kas daerah baik perusahaan daerah yang modalnya sebagian terdiri dari
kekayaan daerah yang dipisahkan. Perusahaan daerah seperti perusahaan
air minum bersih (PDAM), Bank Pembangunan Daerah (BPD), hotel,
bioskop, percetakan, perusahaan bis kota dan pasar adalah jenis-jenis
BUMD yang memiliki potensi sebagai sumber-sumber PAD.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

d. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah


Penerimaan lain-lain yang sah yang merupakan Pendapatan Asli Daerah
antara lain hasil penjualan aset tetap daerah dan jasa giro.

D.

Retribusi Daerah
Retribusi daerah merupakan salah satu PAD yang diharapkan menjadi

salah satu sumber pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan


daerah untuk meningkatkan dan memeratakan kesejahteraan masyarakat. Daerah
kabupaten/ kota diberi peluang dalam menggali potensi sumber-sumber
keuangannya dengan menetapkan jenis retribusi selain yang telah ditetapkan,
sepanjang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dan sesuai dengan aspirasi
masyarakat.

1. Defenisi Retribusi Daerah


Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa
atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh
pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
Menurut Ahmad Yani (2002:55) Daerah provinsi, kabupaten/kota diberi
peluang

dalam

menggali

potensi

sumber-sumber

keuangannya

dengan

menetapkan jenis retribusi selain yang telah ditetapkan, sepanjang memenuhi


kriteria yang telah ditetapkan dan sesuai dengan aspirasi masyarakat.
Menurut Marihot P. Siahaan (2005:6), Retribusi Daerah adalah pungutan
daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

disediakan dan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang
pribadi atau badan.

2. Ciri-Ciri Retribusi Daerah


Adapun ciri-ciri retribusi daerah :
a. Retribusi dipungut oleh pemerintah daerah
b. Dalam pemungutan terdapat paksaan secara ekonomis
c. Adanya kontraprestasi yang secara langsung dapat ditunjuk
d. Retribusi dikenakan pada setiap orang/ badan yang menggunakan jasa-jasa
yang disiapkan negara.

3. Tujuan Retribusi Daerah


Tujuan Retribusi daerah pada dasarnya memiliki persamaan pokok dengan
tujuan pemungutan pajak yang dilakukan oleh negara atau pemerintah daerah.
Adapun tujuan pemungutan tersebut adalah:
a. Tujuan utama adalah untuk mengisi kas negara atau kas daerah guna
memenuhi kebutuhan rutinnya.
b. Tujuan tambahan adalah untuk mengatur kemakmuran masyarakat
melalui jasa yang diberikan secara langsung kepada masayarakat.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

4. Sifat-sifat Retribusi Daerah


Retribusi daerah dalam pelaksanaannya mempunyai dua sifat yaitu :
a. Retribusi yang sifatnya umum
Maksudnya bahwa pungutan tersebut mempunyai sifat berlaku secara
umum bagi mereka yang ingin menikmati kegunaan dari suatu jasa yang
diberikan oleh pemerintah daerah. Misalnya bagi mereka yang masuk ke
dalam pasar untuk berjualan, walaupun hanya sehari tetap dikenakan
pungutan retribusi.
b. Retribusi yang pungutannya bertujuan
Maksudnya adalah retribusi yang dilihat dari segi pemakaiannya, pungutan
tersebut bertujuan untuk memperoleh jasa, manfaat dan kegunaan dari
fasilitas yang disediakan oleh pemerintah daerah. Misalnya kewajiban
retribusi yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan akte kelahiran.

5. Objek Retribusi Daerah


Objek Retribusi adalah retribusi atas jasa yang disediakan atau diberikan
oleh pemerintah daerah. Tidak semua yang diberikan pemerintah daerah dapat
dipungut retribusinya, tetapi hanya jenisjenis jasa tertentu yang menurut
pertimbangan sosial ekonomi layak dijadikan sebagai objek retribusi.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

Adapun yang menjadi objek dari retribusi daerah adalah berbentuk jasa
yang dihasilkan, yang terdiri dari :
a. Jasa Umum
Jasa umum adalah jasa yang disediakan atau diberikan oleh pemerintah
daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat
dinikmati oleh orang pribadi atau badan. Jasa umum meliputi pelayanan
kesehatan, dan pelayanan persampahan. Jasa yang tidak termasuk jasa
umum adalah jasa urusan umum pemerintah.
b. Jasa Usaha
Jasa usaha adalah yang disediakan oeh pemerintah daerah dengan
menganut prinsip-prinsip komersial karena pada dasarnya dapat pula
disediakan oleh sektor swasta.
c. Perizinan Tertentu
Perizinan tertentu pada dasarnya pemberian izin oleh pemerintah tidak
dipungut retribusi, akan tetapi dalam melaksanakan fungsi tersebut,
pemerintah daerah mungkin masih mengalami kekurangan biaya yang
tidak selalu dapat dicukupi oleh sumber-sumber penerimaan daerah yang
telah ditentukan sehingga perizinan tertentu masih dipungut retribusi.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

6. Subjek Retribusi Daerah


Subjek retribusi daerah terdiri dari :
a. Subjek Retribusi Jasa Umum
Subjek retribusi jasa umum adalalah orang pribadi atau badan yang
menggunakan atau menikmati pelayanan jasa umum yang bersangkutan.
Subjek Retribusi jasa umum ini dapat ditetapkan menjadi wajib retribusi
jasa umum, yaitu orang pribadi atau badan yang diwajibkan untuk
melakukan pembayaran retribusi jasa umum.
b. Subjek Retribusi Jasa Usaha
Subjek retribusi jasa usaha adalah orang pribadi atau badan usaha yang
menggunakan atau menikmati pelayanan jasa usaha yang bersangkutan.
Subjek ini dapat merupakan wajib retribusi jasa usaha, yaitu orang pribadi
atau badan yang diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi jasa
usaha.
c. Subjek Retribusi Perizinan Tertentu
Subjek retribusi perizinan tertentu adalah orang pribadi atau badan yang
memperoleh izin tertentu dari pemerintah daerah. Subjek ini dapat
merupakan wajib retribusi jasa perizinan tertentu, yaitu orang pribadi atau
badan yang diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi perizinan
tertentu.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

7. Jenis-jenis Retribusi Daerah


Retribusi daerah menurut UU No 18 Tahun 1997 tentang pajak daeah dan
retribusi daerah yang telah diubah terakhir dengan UU No 34 tahun 2000 dan
Peraturan Pemerintah No 66 tahun 2001 tentang retribusi daerah dikelompokkan
menjadi 3 yaitu :
a. Retribusi Jasa Umum
Retribusi Jasa Umum adalah retribusi atas jasa yang disediakan atau
diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan
umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan.
Sesuai dengan UU No 34 tahun 2000 pasal 18 ayat 3 huruf a, retribusi jasa
umum ditentukan beradasarkan kriteria berikut ini :
1)
2)
3)

4)
5)
6)
7)

Jasa tersebut dengan Retribusi jasa umum bersifat bukan pajak dan
bersifat bukan retribusi jasa usaha atau perizinan tertentu.
Jasa yang bersangkutan merupakan kewenangan daerah dalam
rangka pelaksanaan asas desentralisasi.
Jasa tersebut memberikan manfaat khusus bagi orang pribadi atau
badan yang diharuskan membayar retribusi, disamping untuk
melayani kepentingan dan kemanfaatan umum.
Jasa tersebut layak untuk dikenakan retribusi.
Retribusi tersebut tidak bertentangan dengan kebijakan nasional
mengenai penyelenggaraannya.
Retribusi tersebut dapat dipungut secara efektif dan efisien serta
merupakan satu sumber pendapatan daerah yang potensial.
Pemungutan retribusi memungkinkan penyediaan tingkat dan atau
kualitas pelayanan yang lebih baik.

Jenis-jenis retribusi jasa umum terdiri dari :


1)

Retribusi pelayanan kesehatan

2)

Retribusi pelayanan persampahan/kebersihan

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

3)

Retribusi penggantian biaya cetak kartu tanda penduduk dan akte catatan
sipil

4)

Retribusi pelayanan pemakaman dan pengabuan mayat

5)

Retribusi pelayanan parkir di tepi jalan umum.

6)

Retribusi pelayanan pasar

7)

Retribusi pengujian kendaraan bermotor

8)

Retribusi pemeriksaan alat Pemadam kebakaran

9)

Retribusi penggantian biaya cetak peta

10) Retribusi pengujian kapal perikanan

b. Retribusi Jasa Usaha


Retribusi Jasa Usaha adalah retribusi atas jasa yang disediakan oleh
Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip komersial karena pada dasarnya
dapat pula disediakan oleh sektor swasta.
Sesuai dengan UU No 34 Tahun 2000 Pasal 18 ayat 3 huruf b, retribusi
jasa usaha ditentukan berdasarkan kriteria berikut ini :
1)
2)

Retribusi jasa usaha bersifat bukan pajak dan bersifat bukan


retribusi jasa umum atau retribusi perizinan tertentu
Jasa yang bersangkutan adalah jasa yang bersifat komersial yang
seyogianya disediakan oleh sektor swasta, tetapi belum memadai atau
terdapatnya harta yang dimiliki/ dikuasai daerah yang belum
dimanfaatkan secara penuh oleh pemerintah daerah.

Jenis-jenis retribus jasa usaha terdiri dari :


1)

Retribusi pemakaian kekayaan daerah

2)

Retribusi pasar grosir dan/atau pertokoan

3)

Retribusi tempat pelelangan

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

4)

Retribusi terminal

5)

Retribusi tempat khusus parkir

6)

Retribusi tempat penginapan/pesanggrahan/villa

7)

Retribusi penyedotan kakus

8)

Retribusi rumah potong hewan

9)

Retribusi pelayanan pelabuhan kapal

10) Retribusi tempat rekreasi dan olah raga


11) Retribusi penyeberangan di atas air
12) Retribusi pengolahan limbah cair
13) Retribusi penjualan produksi usaha daerah.

c. Retribusi Perizinan Tertentu


Retribusi Perizinan Tertentu adalah retribusi atas kegiatan tertentu
Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan
yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan
atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang,
prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan
menjaga kelestarian lingkungan.
Sesuai dengan UU No 34 Tahun 2000 Pasal 18 ayat 3 huruf c, retribusi
perizinan tertentu ditentukan berdasarkan kriteria berikut ini :
1)
2)
3)

Perizinan tersebut termasuk kewenangan pemerintahan yang


diserahkan kepada daerah dalam rangka asas desentralisasi.
Perizinan tersebut benar-benar diperlukan guna melindungi
kepentingan umum.
Biaya yang menjadi beban daerah dalam penyelenggaraan izin
tersebut dan biaya untuk menanggulangi dampak negatif dari

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

pemberian izin tersebut cukup besar sehingga layak dibiayai dari


retribusi perizinan.

Jenis- jenis retribusi perizinan tertentu, terdiri dari :


1)

Retribusi izin mendirikan bangunan

2)

Retribusi izin tempat penjualan minuman beralkohol

3)

Retribusi izin gangguan

4)

Retribusi izin trayek.


Selain jenis-jenis retribusi daerah yang ditetapkan dalam UU No 34 Tahun

2000, yaitu retribusi jasa umum, jasa usaha, dan perizinan tertentu, kepada daerah
diberikan kewenangan untuk menetapkan jenis retribusi daerah lainnya yang
dipandang sesuai untuk daerahnya. UU No 34 Tahun 2000 Pasal 18 ayat 4
menentukan bahwa dengan peraturan daerah dapat ditetapkan jenis retribusi
daerah lainnya sesuai dengan kewenangan otonominya dan memenuhi kriteria
yang telah ditetapkan. Ketentuan ini dimaksudkan untuk memberikan keleluasaan
kepada daerah dalam mengantisipasi situasi dan kondisi serta perkembangan
perekonomian daerah pada masa mendatang yang mengakibatkan meningkatnya
kebutuhan

masyarakat

atas

pelayanan

pemerintah

daerah,

tetapi tetap

memperhatikan kesederhanaan jenis retribusi daerah dan aspirasi masyarakat serta


memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.

8. Tata Cara Pemungutan Retribusi Daerah


Sesuai dengan UU No 18 tahun 1997 Pasal 26, pemungutan retribusi tidak
dapat diborongkan, artinya seluruh proses kegiatan pemungutan retribusi tidak

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

dapat diserahkan kepada pihak ketiga. Dalam pengertian ini bukan berarti bahwa
pemerintah daerah tidak boleh bekerja sama dengan pihak ketiga. Proses
pemungutan retribusi daerah dilakukan dengan sangat selektif, Pemerintah daerah
dapat

mengajak

bekerja

sama

badan-badan

tertentu

yang

karena

profesionalismenya layak dipercaya untuk ikut melaksanakan sebagian tugas


pemungutan jenis retribusi tertentu secar lebih efisien. Kegiatan pemungutan
retribusi yang tidak dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga adalah kegiatan
perhitungan besarnya retribusi yang terutang, pengawasan penyetoran retribusi,
dan penagihan retribusi.
Retribusi dipungut dengan menggunakan Surat Ketetapan Retribusi
Daerah (SKRD) atau dokumen lain yang dipersamakan. SKRD adalah surat
ketetapan retribusi yang menentukan besarnya pokok retribusi. Dokumen lain
yang dipersamakan antara lain, berupa karcis masuk, kupon dan kartu langganan.
Jika wajib retribusi tertentu tidak membayar, maka ia dikenakan sanksi
administrasi berupa bunga sebesar 2 % setiap bulan dari retribusi terutang yang
tidak atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan Surat Tagihan
Retribusi Daerah (STRD). STRD adalah surat untuk melakukan tagihan retribusi
dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda. Tata cara pelaksanaan
pemungutan retribusi daerah ditetapkan oleh kepala daerah.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

9. Perhitungan Retribusi Daerah


Besarnya retribusi yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang
menggunakan jasa atau perizinan tertentu dihitung dengan cara mengalihkan tarif
retribusi dengan tingkat penggunaan jasa. Dengan demikian, besarnya retribusi
yang terutang dihitung berdasarkan tarif retribusi dan tingkat pengguna jasa.

a. Tingkat Penggunaan Jasa


Tingkat pengguna jasa dapat dinyatakan sebagai kuantitas pengguna jasa
sebagai dasar alokasi beban biaya yang dipikul daerah untuk penyelenggaraan jasa
yang bersangkutan, misalnya berapa kali masuk tempat rekreasi, berapa kali/
berapa jam parkir kendaraan, dan sebagainya. Tetapi ada pula pengguna jasa yang
tidak dapat dengan mudah diukur. Dalam hal ini tingkat pengguna jasa mungkin
perlu ditaksir berdasarkan rumus tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah daerah.
Misalnya mengenai izin bangunan, tingkat penggunaan jasa dapat ditaksir dengan
rumus yang didasarkan atas luas tanah, luas lantai bangunan, jumlah tingkat
bangunan, dan rencana penggunaan bangunan.

b. Tarif Retribusi Daerah


Tarif retribusi daerah adalah nilai rupiah atau persentase tertentu yang
ditetapkan untuk menghitung besarnya retribusi yang terutang. Tarif dapat
ditentukan seragam atau dapat diadakan pembedaan mengenai golongan tarif
sesuai dengan prinsip dan sasaran tarif tertentu, misalnya pembedaan retribusi
tempat rekreasi antara anak-anak dan dewasa, retribusi parkir antara sepeda motor

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

dan mobil. Besarnya tarif dapat dinyatakan dalam rupiah per unit tingkat
pengguna jasa.
Tarif Retribusi ditinjau kembali secara berkala dengan memperhatikan
prinsip dan sasaran penetapan tarif. Daerah memiliki kewenangan untuk meninjau
kembali tarif secara berkala dan berjangka waktu, hal ini dimaksudkan untuk
mengantisipasi perkembangan perekonomian daerah dari objek retribusi yang
bersangkutan. Hal ini diatur dalam Pasal 23 Undang-undang Nomor 34 Tahun
2000.

c. Prinsip dan Sasaran Penetapan tarif Retribusi Daerah


Tarif retribusi daerah ditetapkan oleh pemerintah daerah dengan
memperhatikan prinsip dan sasaran penetapan tarif yang berbeda antar golongan
retribusi daerah.
Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif retribusi jasa umum didasarkan
pada kebijakasanaan daerah dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa yang
bersangkutan, kemampuan masyarakat dan aspek keadilan, dan didasarkan juga
dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak sebagaimana
keuntungan yang pantas diterima oleh pengusaha swasta sejenis yang beroperasi
secara efisien dan berorientasi pada harga pasar. Dimana prinsip dan sasaran
dalam penetapan tarif diatur dalam Pasal 21 Undang-undang Nomor 34 Tahun
2000.
Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif retribusi jasa usaha ditetapkan
berdasarkan pada tujuan utama untuk memperoleh keuntungan yang layak, seperti

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

keuntungan yang pantas diterima oleh pengusaha swasta sejenis yang beroperasi
secara efisien dan berorientasi pada harga pasar. Tarif retribusi jasa usaha
ditetapkan oleh pemrintah daerah sehingga dapat tercapai keuntungan yang layak,
yaitu keuntungan yang dapat dianggap memadai jika jasa yang bersangkutan
diselenggarakan oleh swasta.
Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif retribusi perizinan tertentu
didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau seluruh biaya pemberian izin
yang bersangkutan. Biaya penyelenggaraan izin ini meliputi penerbitan dokumen
izin, pengawasan dilapangan, penengahan hukum, penata usahaan dan biaya
dampak negatif dari pemberian izin tersebut.

d. Cara Perhitungan Retribusi


Besarnya retribusi daerah yang harus dibayar oleh orang pribadi atau
badan yang menggunakan jasa yang bersangkutan dihitung dari perkalian antara
tarif dan tingkat penggunaan jasa dengan rumus sebagai berikut :

Retribusi Terutang = Tarif Retribusi x Tingkat Penggunaan Jasa

10. Peraturan Pemerintah Tentang Retribusi Daerah


UU No 34 Tahun 2000 yang merupakan revisi dari UU No 18 Tahun 1997
tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, serta Peraturan Pemerintah RI No 66
Tahun 2001 tentang Retribusi daerah, dalam peraturan ini diatur hal-hal yang
berkaitan dengan ketentuan retribusi daerah. Seperti jenis-jenis retribusi daerah,

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

tata cara dan sarana pemungutan retribusi, perhitungan besarnya retribusi terutang
serta beberapa ketentuan lainnya.
UU Nomor 34 Tahun 2000 mengatur dengan jelas bahwa untuk dapat
dipungut pada suatu daerah, setiap jenis retribusi daerah harus ditetapkan dengan
peraturan daerah. Hal ini berarti untuk dapat diterapkan dan dipungut pada suatu
daerah provinsi, kabupaten, atau kota, harus terlebih dahulu ditetapkan peraturan
daerah tentang retribusi daerah tersebut. Peraturan daerah tentang suatu retribusi
daerah tidak dapat berlaku surut dan tidak boleh bertentangan dengan kepentingan
umum dan atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

E. Kerangka Konseptual
Berdasarkan uraian diatas maka penelitian ini dapat dirumuskan dalam
sebuah kerangka konseptual :

Kabupaten Langkat

Dinas Pendapatan
Daerah

Laporan Realisasi Penerimaan Asli


Daerah :
- Pajak Daerah
- Retribusi Daerah
- Hasil kekayaan daerah yang di
pisahkan
- Lain-lain PAD Yang Sah

- Kontribusi Retribusi
daerah
- Tingkat Pencapaian
Target (TPT)
- Elastisitas

Kerangka konseptual diatas menunjukkan bahwa pada pemerintah


Kabupaten Langkat terdapat Dinas Pendapatan Daerah yang bertugas untuk
melaporkan laporan realisasi penerimaan asli daerah yang mana

didalam

pelaporan realisasi tersebut terdiri atas laporan realisasi pajak daerah, retribusi
daerah, hasil pengolahan daerah yang sah, serta lain-lain PAD yang sah, kemudian
laporan realisasi penerimaan asli daerah tersebut dilakukan analisis rertribusi
daerahnya yang terdiri dari analisis kontribusi daerah, Tingkat Pencapaian Target
( TPT), serta tingkat elastisitasnya.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.

Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif yaitu

penelitian yang menyajikan data hasil observasi yang dipaparkan secara sistematis
dan sesuai dengan kenyataan yang ada dilapangan.

B.

Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu

data yang diperoleh secara langsung dari keterangan pihak-pihak yang


berkompeten atau terkait dengan masalah yang ada dalam penelitian ini. Pihak
yang berkaitan dalam penelitian ini yaitu Dinas Pendapatan Daerah dan data yang
diambil yaitu data PAD tahun 1999-2008.

C.

Teknik Pengumpulan Data


Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi yaitu

pengumpulan data yang dilakukan dengan mencatat data yang ada pada daerah
penelitian atau berdasarkan pada dokumen yang ada di Dinas Pendapaatan Daerah
Kabupaten Langkat.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

D.

Defenisi Operasional
Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa

atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh
pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
Pendapatan asli daerah adalah penerimaan yang diperoleh daerah dari
sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan peraturan
daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

E.

Analisis Data

1. Kontribusi Retribusi Daerah Terhadap PAD


Kontribusi retribusi adalah indikator yang digunakan untuk mengetahui
seberapa besar sumbangan retribusi terhadap total PAD. Rumusnya adalah
sebagai berikut:

Kontribusi =

Penerimaan Re tribusi tahun ke n


x 100%
Penerimaan PAD tahun ke n

Semakin besar nilai retribusi daerah berarti semakin besar pula tingkat
kontribusi retribusi terhadap PAD. Dimana bila kontribusi retribusi daerah
semakin tinggi maka PAD akan meningkat dan sebaliknya. Apabila terjadi hal
sebaliknya dimana kontribusi retribusi daerah turun maka perlu usaha-usaha untuk
meningkatkan penerimaan daerah melalui retribusi daerah.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

2. Tingkat Pencapaian Target (TPT)


Tingkat pencapaian target retribusi daerah adalah hubungan antara hasil
penerimaan retribusi dari retribusi terhadap potensi retribusi. Perhitungan TPT ini
bertujuan untuk mengetahui apakah potensi yang ditetapkan pada awal tahun
anggaran dapat dicapai pada akhir periode tahun anggaran. Selain itu juga berguna
untuk mengetahui apakah kinerja dalam pelaksanaan pemungutan retribusi telah
efektif. Adapun rumus TPT adalah :

TPT =

Re alisasi Penerimaan Re tribusi tahun ke n


x 100%
T arg et Penerimaan Re tribusi tahun ke n

Untuk perhitungan TPT retribusi daerah dapat ditunjukkan dengan nilai


100 % atau sama antara jumlah penerimaan dengan jumlah yang ditargetkan.
Semakin besar nilai TPT berarti semakin besar tingkat pencapaian target
penerimaan dari retribusi.

3. Elastisitas

Elastisitas bertujuan untuk mengetahui kepekaan perubahan retribusi yang


menyebabkan perubahan PAD. Untuk menghitung elastisitas digunakan rumus
sebagai berikut:

Elastisitas =

Y
X
x
X
Y

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

Dimana:
X : Perubahan penerimaan PAD
Y : Perubahan penerimaan retribusi
X : Penerimaan PAD
Y : Penerimaan retribusi

Kriteria pengujian:
a. < 1 bersifat inelastis, berarti menunjukkan bahwa penerimaan dari
retribusi relatif tidak peka terhadap penerimaan PAD (artinya bahwa
apabila retribusi mengalami peningkatan sebesar 1%, PAD mengalami
perubahan lebih kecil dari 1%).
b. = 1 bersifat unitary elastis, berarti menunjukkan bahwa penerimaan
apabila retribusi tidak mengalami perubahan maka PAD tidak berubah).
c. . > 1 bersifat elastis, berarti menunjukkan bahwa penerimaan dari retribusi
relatif peka terhadap penerimaan PAD (artinya apabila retribusi berubah
sebesar 1 % maka penerimaan PAD akan mengalami perubahan lebih
besar dari 1%).

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

F.

Jadwal dan Lokasi Penelitian

Jadwal penelitian dilaksanakan sebagai berikut :


Kegiatan

Jan

Pengajuan
Judul

Pengumpulan
Data

Feb

Mar

Apr

Penyelesaian
Proposal
Seminar
Proposal
Penulisan
proposal

Mei

Jun

Jul

Agu

Sep

Okt

Nov

Penyelesaian
Laporan

Lokasi Penelitian yang dilakukan penulis adalah di Dinas Pendapatan


Daerah Kabupaten Langkat

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

BAB IV
HASILPENELITIAN

A. Data Penelitian
1. Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Langkat
a. Kondisi Geografis
Kabupaten Langkat merupakan salah satu kabupaten yang terdapat diwilayah
Propinsi

Sumatera Utara, dengan ibukotanya Stabat. Dinas pendapatan daerah

kabupaten Langkat terletak 314 - 413 Lintang Utara 9752 9845 Bujur Timur
dan mempunmyai luas 6263,29 km yang terdiri dari 20 Kecamatan dan 226 Desa
serta 34 Kelurahan. Batas-batas wilayah kabupaten Langkat sebagai berikut :
Sebelah Utara berbatasan dengan Aceh Timur dan Selat Sumatera
Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli serdang
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Karo
Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Aceh Tenggara / Tanah Alas

Berdasarkan luas daerah menurut kecamatan di Kabupaten Langkat, luas


daerah terbesar adalah kecamatan Bahorok dengan luas 955,10 km2 atau 12,25%
diikuti kecamatan Batang Serangan dengan luas 934,90 km2 atau 14,93 %.
Sedangkan luas daerah terkecil adalah kecamatan Binjai dengan luas 49,55 km2 atau
0,79 % dari total luas wilayah Kabupaten Langkat.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

b. Iklim
Seperti umumnya daerah-daerah lain yang berada di kawasan Sumatera Utara,
Kabupaten Langkat termasuk daerah yang beriklim tropis, sehingga daerah ini
memiliki 2 musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau dan
musim hujan biasanya ditandai dengan sedikit banyaknya hari hujan dan volume
curah hujan pada bulan terjadinya musim. Informasi tentang hari dan volume curah
hujan bersumber dari Dinas Pertanian Kabupaten Langkat yang berada di 14 daerah
pengamatan.

c. Topografi
Daerah Tingkat II Langkat dibedakan atas 3 bagian, yaitu :
- Pesisir Pantai dengan ketinggian 0 - 4 m diatas permukaan laut
- Dataran rendah dengan ketinggian 0 - 30 m diatas permukaan laut
- Dataran Tinggi dengan ketinggian 30 - 1200 m diatas permukaan laut

d. Ekonomi
Laju pertumbuhan ekonomi merupakan indikator ekonomi makro yang
menggambarkan sampai seberapa jauh keberhasilan pembangunan yang melibatkan
seluruh sektor ekonomi (aktifitas ekonomi) suatu daerah dalam periode waktu
tertentu.
Dari hasil pengukuran, dengan perhitungan PDRB atas dasar konstan Tahun
2000, Perekonomian Kabupaten Langkat didominasi oleh sektor Pertanian,

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

Perdagangan dan industri Pengolahan dengan kontribusi terhadap perekonomian


Kabupaten Langkat sebanyak 79,81 .
2. Retribusi Daerah
Adapun jenis-jenis retribusi yang ada dipemerintah kabupaten langkat yaitu
terdiri dari :
1. Pelayanan kesehatan (Dinas Kesehatan)
2. Pelayanan kesehatan (RSU Tanjung Pura)
3. Pemakaian Kualitas air
4. Retribusi dan pelayanan kesehatan swasta
5. Pelayanan persampahan
6. Peng. Biaya cetak KTP
7. Peng. Biaya cetak akte CATPIL
8. Pelayanan parkir
9. Retribusi Bongkar muat barang
10. Retribusi pelayanan pasar
11. Retribusi pengadaan kendaraan bermotor
12. Pemakaian alat pemadam kebakaran
13. Retribusi sewa rumah dinas
14. Retribusi sewa gedung/ ruangan/ aula
15. Retribusi jasa usaha terminal
16. Jasa usaha Pelayanan pelayaran dan angkutan laut
17. Izin usaha warung Telkom
18. Surat izin tempat usaha

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

19. Retribusi pengolahan hasil hutan


20. Izin usaha perkebunan
21. Pengolahan hotel / tanda melati
22. Jasa usaha rumah potong hewan
23. Pemakaian mutu hasil perikanan
24. Jasa usaha pengelolahan limbah cair
25. Retribusi gangguan / sarang burung Walet
26. Izin mendirikan bangunan
27. Izin gangguan pertambangan
28. Izin gangguan / Ho
29. Izin trayek
30. Izin usaha Penggunaan Angkutan Kendaraan Baru Umum
31. Izin pelayanan pelabuhan kapal
32. Izin penggunaan jalan kabupaten
33. Izin P. Padi, Huller (Izin tempat usaha)
34. Izin usaha perdagangan
35. Izin usaha industri
36. Izin usaha pengelolaan ABT/ APU
37. Izin usaha pengusahaan migas
38. Dokumen pekerjaan
39. Tanda daftar gudang
40. Pengaturan usaha rumah makan
41. Izin Rekreasi dan hiburan umum

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

42. Izin listrik non PLN/ Genset


43. Produksi Usaha peternakan
44. Mutasi hasil peternakan
45. Retribusi pendidikan/ Kursus pendidikan
46. retribusi Izin Usaha jasa konstruksi
47. Retribusi izin bengkel

Pada tahun 2008, retribusi daerah merupakan penyumbang terbesar bagi


kabupaten langkat yakni sebesar 4.892.789.469,00, dan untuk penyumbangan terkecil
terjadi tahun 1999 yaitu sebesar 933.591.633,00.
Data realisasi retribusi daerah pada tahun 1999-2008 pemerintah Kabupaten
Langkat dapat dilihat pada tabel berikut ini :

TABEL 4.1
REALISASI RETRIBUSI DAERAH
PEMERINTAH KABUPATEN LANGKAT
TAHUN 1999-2008

Tahun

Realisasi Penerimaan
Retribusi

1999

933,591,633.00

2000

1,209,290,565.00

2001

2,809,567,859.00

2002

3,428,838,473.00

2003

4,037,916,820.50

2004

4,339,469,564.00

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

2005

4,284,075,162.00

2006

4,344,634,675.00

2007

3,750,162,701.50

2008

4,892,789,469.00

Total Rata-rata

34,030,336,922.00

Data Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Langkat

3. Pendapatan Asli Daerah


Data realisasi Pendapatan Asli Daerah pada tahun 1999-2008 di pemerintah
Kabupaten Langkat dapat dilihat dalam tabel berikut ini :
TABEL 4.2
REALISASI PENDAPATAN ASLI DAERAH
PEMERINTAH KABUPATEN LANGKAT
TAHUN 1999-2008
Tahun

PAD

1999

4,765,986,816.90

2000

4,525,224,572.35

2001

9,408,381,710.00

2002

13,053,435,849.65

2003

15,309,393,840.34

2004

16,506,106,889.76

2005

17,687,314,750.03

2006

18,640,503,288.44

2007

21,685,941,749.52

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

2008

830,444,431,749.28

Total Rata-rata

952,026,721,216.27

Data Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Langkat


Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa total realisasi yang diterima oleh
pemerintah Kabupaten Langkat setiap tahunnya mengalami kenaikan setiap tahun.

B. Analisis Hasil Penelitian


Permasalahan retribusi daerah diatur dalam Peraturan Pemerintah No 66 tahun
2001 dimana yang dimaksud dengan retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai
pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau
diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
Sedangkan retribusi jasa umum adalah pekayanan yang disediakan atau diberikan
pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat
dinikmati oleh orang pribadi atau badan.

1. Kontribusi Retribusi Daerah Terhadap PAD Kabupaten Langkat


Retribusi daerah merupakan salah satu indikator ekonomi yang digunakan
untuk mengetahui peranan retribusi daerah terhadap peningkatan PAD. Kontribusi
merupakan rasio antara penerimaan retribusi daerah dengan PAD. Semakin besar
nilai

kontribusinya

menunjukkan

semakin

besar

peranan

retribusi

meningkatkan PAD.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

dalam

TABEL 4.3
KONTRIBUSI RETRIBUSI DAERAH TERHADAP PAD
KABUPATEN LANGKAT TAHUN 1999-2008
Tahun

Penerimaan Retribusi

PAD

Kontribusi (%)

1999

933,591,633.00

4,765,986,816.90

19.59

2000

1,209,290,565.00

4,525,224,572.35

26.72

2001

2,809,567,859.00

9,408,381,710.00

29.86

2002

3,428,838,473.00

13,053,435,849.65

26.27

2003

4,037,916,820.50

15,309,393,840.34

26.38

2004

4,339,469,564.00

16,506,106,889.76

26.29

2005

4,284,075,162.00

17,687,314,750.03

24.22

2006

4,344,634,675.00

18,640,503,288.44

23.31

2007

3,750,162,701.50

21,685,941,749.52

17.29

2008

4,892,789,469.00

24,616,169,797.84

19.88

Total Rata-rata

34,030,336,922.00

952,026,721,216.27

23,98

Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Langkat, 1999-2008 (data diolah)

Dari tabel 4.3 dapat diketahui bahwa kontribusi daerah terhadapPAD dari
tahun 1999-2008 masing-masing sebesar 19,59% untuk tahun 1999, 26,72% tahun
2000, 29,86% tahun 2001, 26,27% tahun 2002, 26,38% tahun 2003, 26,29% tahun
2004, 24,22% tahun 2005, 23,31% tahun 2006, 17,29% tahun 2007, dan 19,88%
untuk tahun 2008. Kontribusi tersebut bervariasi, ada yang mengalami penurunan dan
peningkatan. Kontribusi terendah terjadi tahun 2007 yakni sebesar 17,29%.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

Pada tahun anggaran 2000, mengalami kenaikan yakni sebesar 7,13% dari
tahun angaran 1999/2000, hal ini disebabkan oleh beberapa jenis retribusi yang
melampaui target antara lain retribusi sewa rumah potong hewan dan retribusi izin
trayek. Adanya kesadaran masyarakat dan swasta dalam rangka mendukung PAD
yang menyebabkan terjadinya peningkatan pada pendapatan retribusi daerah tahun
anggaran 2000.
Untuk periode tahun anggaran 2001 kontribusinya mengalami kenaikan
sebesar 3,14% dari tahun anggaran 2000, hal ini disebabkan oleh beberapa jenis
retribusi yang melebihi target yaitu antara lain retribusi pelayanan kesehatan, pasarpasar gerosir, pemakaian kekayaan daerah, retribusi hasil produksi usaha daerah, izin
mendirikan bangunan, izin trayek, dokumen pekerjaan, pemakaian jalan kabuapten,
izin penggilingan padi dan Huller, pemeriksaan mutasi dan hasil ikutan TNK,
pembinaan usaha peternakan, izin usaha perdagangan. Selain itu juga disebabkan
adanya penambahan baru pada dokumen pekerjaan, pemakaian jalan kabupaten, izin
penggilingan padi, pemeriksaan mutasi dan hasil ikutan TNK, pengaturan usaha
rumah makan, pembinaan usaha peternakan, izin usaha industri, izin usaha
perdagangan..
Pada tahun anggaran 2002 kontribusinya mengalami penurunan yakni sebesar
3,59% dari tahun anggaran 2001. Hal ini dapat dilihat dari target retribusi daerah
yang kurang tercapai pada pos-pos retribusi yakni pemakaian kekayaan daerah, sewa
rumah potong hewan, tempat rekreasi dan olah raga, izin gangguan, pemakaian jalan
kabupaten,

pembinaan usaha peternakan. Selain itu tahun anggaran 2002 juga

mengalami penambahan pos-pos retribusi baru yakni tanda pendaftran gudang, izin

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

usaha pengelolaan migas, mutasi hasil perikanan, izin listrik non PLN/ Genset, izin
usaha pengelolaan ABT/ APU, izin usaha warung telkom, izin usaha burung wallet,
izin usaha penggunaan kendaraan baru umum, izin pelayanan pelabuhan kapal, izin
tempat usaha, uang patok/ izin peruntukan pemilikan tanah, izin usaha perikanan dan
izin usaha penggunanan kekayaan laut, izin usaha pertanian umum, pengawasan
kualitas air, pengawasan hotel tanda melati.
Tahun anggaran 2003 kontribusi daerahnya mengalami kenaikan sebesar
0,11% dari tahun anggaran 2002. Hal ini dapat dilihat dari target retribusi daerah
yang melebihi target yaitu terdiri dari pelayanan persampahan/ kebersihan,
pemakaian kekayaan daerah, izin mendirikan bangunan, pemakaian jalan kabupaten,
pemeriksaan mutasi dan hasil ikutan TNK, pembinaan usaha peternakan, izin usaha
perdagangan, izin tempat usaha, izin usaha peternakan umum, pengawasan kualitas
air. Selain itu ada juga penambahan pos-pos retribusi yang menyebabkan kenaikan
kontribusi dari tahun 2002, yakni terdiri dari izin pemotongan kayu pada tanah milik,
penggunaan usaha perhutanan/perkebunan, tanda daftar perusahaan, retribusi izin
penggunaan pembuangan limbah cair, izin racun api, retribusi pelayanan kesehatan
swasta, retribusi izin pendidikan / kursus pendidikan sekolah yang diselenggarakan
masyarakat, retribusi bongkar muat barang.
Pada periode tahun anggaran 2004 kontribusinya mengalami penurunan
sebesar 0,09% dari tahun anggaran 2003. Hal ini dapat dilihat dari target yang yang
tidak tercapai yakni berasal dari pos-pos retribusi daerah yang terdiri dari retribusi
pemanfaatan hasil hutan dan perkebunan, jasa usaha penjualan produksi usaha
daerah, pengaturan usaha rumah makan, izin rekreasi dan hiburan umum, retribusi

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

izin pendidikan/ kursus pendidikan sekolah yang diselnggarakan oleh masyarakat.


Selain itu retribusi daerah juga mengalami penambahan pos-pos retribusi baru yakni
retribusi pemakaian alat pemadam kebakaran, retribusi sewa rumah dinas, retribusi
sewa gedung/ruangan/ aula, izin usaha jasa konstruksi. Akan tetapi pada tahun 2004
retribusi izin usaha burung walet serta uang patok/ izin peruntukan pemilikan tanah
ditiadakan lagi.
Tahun anggaran 2005 kontribusi daerahnya mengalami penurunan sebesar
2,07% dari tahun anggaran 2004. Hal ini dapat dilihat dari kurang tercapainya target
retribusi daerah pada pos-pos retribusi yang terdiri dari pelayanan kesehatan (Diskes),
pelayanan parkir, retribusi bongkar muat barang, retribusi pelayanan pasar, retribusi
sewa rumah dinas, retribusi sewa gedung/ruangan/ aula, retribusi jasa usaha terminal,
jasa usaha pelayanan perikanan dan air laut, izin usaha warung telkom, surat izin
tempat usaha, izin usaha perkebunan, pemakaian mutasi hasil perikanan, jasa usaha
pengelolaan limbah cair, izin mendirikan bangunan, izin gangguan pertambangan,
izin gangguan / HO, izin trayek, izin usaha penggunaan angkutan kendaraan baru
umum, izin pelayanan pelabuhan kapal, izin penggunaan jalan kabupaten, izin usaha
pengusahaan migas, dokumen pekerjaan, izin rekreasi dan hiburan umum, izin listrik
non PLN/ Genset, produksi usaha peternakan, retribusi izin pendidikan / kursus
pendidikan sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat. Pada tahun 2005
ditambah pos-pos retribusi yang lain seperti penggunaan kendaraan bermotor, izin
gangguan/ sarang burung wallet, serta izin bengkel. Akan tetapi ada juga pos-pos
yang ditiadakan ditahun 2005 tetapi ada ditahun 2004, yakni pos-pos retribusi jasa

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

usaha penjualan produksi usaha daerah, izin gangguan (Dipenda), izin penerbitan
TDP.
Tahun anggaran 2006 kontribusi daerahnya juga mengalami penurunan
sebesar 0,91% dari tahun anggaran 2005. Hal

ini dapat dilihat dari kurang

tercapainya target retribusi daerah pada pos-pos retribusi tertentu seperti pemakaian
kualitas air, biaya cetak KTP, retribusi pelayanan pasar, retribusi sewa rumah dinas,
retribusi sewa gedung/ ruangan / aula, retribusi jasa usaha terminal, izin usaha
warung telkom, retribusi izin pengelolaan hasil hutan, pengelolaan hotel/ tanda
melati, mutasi hasil perikanan, izin mendirikan bangunan, izin pelayanan pelabuhan
kapal, izin penggunaan jalan kabupaten, , pengaturan usaha rumah makan, izin
rekreasi, retribusi izin usaha jasa konstruksi, retribusi izin bengkel. Pada tahun
anggaran 2006 ini ada pos retribusi yang ditiadakan yaitu retribusi izin listrik non
PLN/ Genset.
Tahun anggaran 2007 kontribusi daerahnya juga mengalami penurunan
sebesar 6,01% dari tahun anggaran 2006. Hal ini dapat dilihat adanya target yang
tidak tercapai yakni terdapat penurunan pos-pos retribusi daerah yang terdiri dari
pelayanan kesehatan (Diskes), pelayanan parkir, retribusi pelayanan pasar, retribusi
penggunaan kendaraan bermotor, sewa rumah dinas, jasa usaha terminal, jasa usaha
pelayanan laut, izin pengelolaan hasil hutan, izin usaha perkebunan, jasa usaha rumah
potong hewan, jasa usaha pengelolaan limbah cair, izin gangguan pertambangan, izin
gangguan /Ho, izin trayek, izin usaha PAKB umum, izin usaha perdagangan, izin
usaha pengelolaan ABT/ APU, tanda daftar gudang. Tahun anggaran 2007 ini, ada
pos-pos retribusi baru yakni retribusi penjualan retribusi daerah, retribusi penggunaan

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

kelebihan muatan barang, retribusi tanda daftar perusahaan, retribusi hasil tera ulang,
retribusi sewa alat berat.
Tahun anggaran 2008 kontribusi daerahnya mengalami peningkatan yakni
sebesar 2,58% dari tahun anggaran 2007. hal ini dapat dilihat dari pencapaian target
yang melampaui yakni ditandai kenaikan pada pos-pos retribusi yang terdiri dari
pelayanan kesehatan (RSU Tanjung Pura), biaya cetak KTP, Biaya cetak akte
CATPIL, retribusi penggunaan kendaraan bermotor, izin pelayanan pelabuhan kapal,
retribusi pengangkutan kelebihan muatan barang, izin penggilingan padi/ Huller, izin
usaha perdagangan, izin rekreasi dan hiburan umum, retribusi tanda daftar
perusahaan, mutasi hasil usaha peternakan, retribusi izin pendidikan/ kursus
pendidikan sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat, retribusi izin bengkel,
retribusi hasil tera ulang.
Secara

umum

dapat

kita

amati

bahwa

sebenarnya

masih

belum

dioptimalkannya pada sisi pendapatan retribusi, karena masih banyaknya unsur


pendapatan retribusi lainnya yang masih belum mencapai target yang sudah ada, ini
sangat disayangkan sekali karena retribusi merupakan komponen penting bagi
pembiayaan daerah, artinya semakin besar kontribusinya maka bisa dikatakan daerah
tersebut mampu membiaya pengeluaran pembangunan dari hasil pendapatan
daerahnya atau mandiri dalam hal pembiayaan pembangunan daerah.
Untuk mengetahui seberapa besar kontribusi yang dihasilkan dapat dilihat
pada grafik berikut ini :

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

GRAFIK 4.4
KONTRIBUSI RETRIBUSI TERHADAP PAD
KABUPATEN LANGKAT TAHUN 1999-2008
35
30
25

Kontribusi
(%)

20
15
10
5
0
1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008

Sumber : Data Tabel 4.3

2. Tingkat Pencapaian Target Retribusi (TPT)


Tingkat pencapaian target retribusi adalah hubungan antara hasil penerimaan
retribusi dari retribusi terhadap potensi retribusi. Perhitungan TPT ini bertujuan untuk
mengetahui apakah potensi yang ditetapkan pada awal tahun anggaran dapat dicapai
pada akhir periode tahun anggaran. Untuk perhitungan TPT retribusi daerah dapat
ditunjukkan dengan nilai 100% atau sama antara jumlah penerimaan dengan jumlah
yang ditargetkan.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

TABEL 4.5
TPT PENERIMAAN RETRIBUSI DAERAH
KABUPATEN LANGKAT TAHUN ANGGARAN 1999-2008

Tahun

Realisasi
Penerimaan Retribusi

Target
Penerimaan Retribusi

TPT (%)

1999

933,591,633.00

1,232,700,000.00

75.74

2000

1,209,290,565.00

2,760,409,000.00

43.81

2001

2,809,567,859.00

2,838,675,000.00

98.97

2002

3,428,838,473.00

3,605,895,000.00

95.09

2003

4,037,916,820.50

4,467,487,000.00

90.38

2004

4,339,469,564.00

4,367,450,000.00

99.36

2005

4,284,075,162.00

4,503,168,000.00

95.13

2006

4,344,634,675.00

5,132,290,000.00

84.65

2007

3,750,162,701.50

4,644,949,000.00

80.74

2008

4,892,789,469.00

5,177,612,500.00

94.50

Total Rata-rata

34,030,336,922.00

38,730,635,500.00

85,84

Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Langkat 1999-2008 (Data Diolah)

Dari tabel 4.5 dapat diketahui bahwa TPT retribusi daerah kabupaten Langkat
selam sepuluh tahun dari tahun anggaran 1999 sampai dengan tahun anggaran 2008
dikatakan kurang mencapai target. Tahun anggaran 1999 TPT sebesar 75,74%, tahun
anggaran 2000 TPT sebesar 43,81%, tahun anggaran 2001 TPT sebesar 98,97%,
tahun anggaran 2002 TPT sebesar 95,09%,

tahun anggaran 2003 TPT sebesar

90,38%, tahun anggaran 2004 TPT sebesar 99,36%, tahun anggaran 2005 TPT
95,13%, tahun anggaran 2006 TPT sebesar 84,65%, tahun anggaran 2007 TPT
Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

sebesar 80,74%, tahun anggaran 2008 sebesar 94,50%. Total rata-rata TPT retribusi
daerah tahun anggaran 1999-2008 adalah sebesar 85,84%. Dari total rata-rata TPT
tersebut, maka dapat dikatakan TPT retribusi daerah di kabupaten Langkat tahun
anggaran 1999-2008 kurang mencapai target, karena TPT tahun anggaran 19992008tidak ada yang mencapai nilai 100%.

3. Elastisitas
Perhitungan elastisitas ini bertujuan untuk mengetahui kepekaan perubahan
reribusi yang menyebabkan perubahan PAD.

Adapun hasil perhitungan dari

elastisitasnya terdapat dalam tabel 4.6 sebagai berikut :

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

TABEL 4.6
ELASTISITAS RETRIBUSI DAERAHKABUPATEN LANGKAT TAHUN
ANGGARAN 1999-2008

Tahun

Realisasi
Penerimaan
Retribusi

Perubahan
Penerimaan
Retribusi

1999

933,591,633.00

2000

1,209,290,565.00

275,698,932.00

4,525,224,572.35

(240,762,244.55)

-0.23

2001

2,809,567,859.00 1,600,277,294.00

9,408,381,710.00

4,883,157,137.65

0.91

2002

3,428,838,473.00

619,270,614.00

13,053,435,849.65

3,645,054,139.65

1.55

2003

4,037,916,820.50

609,078,347.50

15,309,393,840.34

2,255,957,990.69

0.98

2004

4,339,469,564.00

301,552,743.50

16,506,106,889.76

1,196,713,049.42

1.04

2005

4,284,075,162.00 (55,394,402.00)

17,687,314,750.03

1,181,207,860.27

-5,16

2006

4,344,634,675.00

60,559,513.00

18,640,503,288.44

953,188,538.41

3.67

2007

3,750,162,701.50 (594,471,973.50)

21,685,941,749.52

3,045,438,461.08

-0.89

2008

4,892,789,469.00 1,142,626,767.50

24,616,169,797.84

3,930,228,048.32

0.51

Total
Rata-rata 34,030,336,922.00 3,959,197,836.00 146,198,459,264.83 19,850,182,980.94

0.24

PAD

Perubahan
Penerimaan PAD

Elastisitas
(%)

4,765,986,816.90

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

Dilihat dari tabel 4.6 diatas dapat diketahui bahwa elastisitas retribusi daerah
terhadap PAD di kabupaten Langkat tahun anggaran 1999-2008 berbeda-beda. Tahun
anggaran 2000 elastisitasnya adalah -0,23 yang berarti setiap perubahan retribusi
sebesar 1% menyebabkan penurunan PAD sebesar 0,23% (inelastis).
Pada periode tahun anggaran 2001 elastisitasnya adalah sebesar 0,91 yang
berarti setiap perubahan retribusi 1% menyebabkan kenaikan PAD sebesar 0,91%
atau tidak banyak terjadi perubahan pada PAD atau retribusinya relatif tidak peka
terhadap PAD (inelastis).
Periode tahun anggaran 2002 elastisitasnya adalah sebesar 1,55 yang berarti
setiap kenaikan retribusi sebesar 1% menyebabkan kenaikan PAD sebesar 1,55%
atau terjadi perubahan yang cukup besar pada PAD atau retribusinya relatif peka
terhadap PAD (elastis).
Periode tahun anggaran 2003 elastisitasnya adalah sebesar 0,98 yang berarti
setiap kenaikan retribusi sebesar 1% menyebabkan kenaikan PAD sebesar 0,98%
atau retribusinya relatif tidak peka terhadap PAD (inelastis).
Periode tahun anggaran 2004 elastisitasnya adalah sebesar 1,04 yang berarti
setiap kenaikan retribusi sebesar 1% menyebabkan kenaikan PAD sebesar 1,04%
atau retribusinya relatif peka terhadap PAD (elastis).
Periode tahun anggaran 2005 elastisitasnya adalah sebesar -5,16 yang berarti
setiap kenaikan retribusi sebesar 1% menyebabkan penurunan PAD sebesar 5,16%
(inelastis).

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

Periode tahun anggaran 2006 elastisitasnya adalah sebesar 3,67 yang berarti
setiap kenaikan retribusi 1% menyebabkan kenaikan PAD sebesar 3,67% atau
retribusinya relatif peka terhadap PAD (elastis).
Periode tahun angaran 2007 elastisitasnya adalah sebesar -0,89 yang berarti
setiap kenaikan retribusi sebesar 1% menyebabkan penurunan PAD sebesar 0,89%
(inelastis).
Periode tahun anggaran 2008 elastisitasnya adalah sebesar 0,51 yang berarti
setiap kenaikan retribusi 1% menyebabkan kenaikan PAD sebesar 0,51% atau
retribusinya relatif tidak peka terhadap PAD (elastis). Adapun faktor-faktor yang
menyebabkan belum optimalnya PAD khususnya retribusi daerah di kabupaten
Langkat dapt diklasifikasikan menjadi 2 yaitu :
1. Faktor Penyebab Langsung
Faktor penyebab langsung adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
secara langsung terhadap pencapaian sasaran. Oleh karena itu apabila faktor ini dapat
diatasi maka akan berpengaruh langsung terhadap keberhasilan pencapaian sasaran.
Faktor-faktor ini meliputi :
a. Masih belum realistisnya didalam penentuan target PAD khususnya retribusi
daerah
b. Masih kurangnya tingkat pengawasan
c. Berkurangnya objek penerimaan

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

2. Faktor Penyebab Tidak Langsung


Faktor

penyebab

tidak

langsung

adalah

faktor-faktor

yang

dapat

mempengaruhi secara tidak langsung terhadap pencapaian sasaran.


Faktor ini meliputi :
a. Belum efektifnya pemberlakuan sanksi
b. Pelayanan optimal dilapangan masih belum dilakukan secara optimal
c. Terbatasnya sumber daya atau petugas pelaksanaan operasional dilapangan
d. Banyaknya birokrasi dalam pelayanan pemungutan retribusi daerah
e. Kurangnya sarana dan prasarana untuk operasi di lapangan
f. Belum efektifnya sistem pengendalian dan pengawasan di lapangan
Sesuai dengan faktor penyebab langsung dan tidak langsung tersebut, maka
usaha yang dapat dilakukan untuk dapat mengoptimalkan penerimaan PAD
khususnya retribusi daerah adalah :
a. Lebih realistis dalam mentargetkan PAD khususnya retribusi daerah
b. Meningkatkan pengawasan yang lebih efektif
c. Meningkatkan kembali objek penerimaan retribusi daerah
d. Mengefektifkan sanksi
e. Mengupayakan pelayanan yang optimal terhadap masyarakat
f. Menyediakan sarana dan prasarana yang memadai
g. Mengefektifkan sistem pengendalian dan pengawasan
h. Melakukan pemungutan lebih giat, ketat, dan teliti
i.

Memperbaiki dan menyesuaikan perangkat yang terkait sesuai kebutuhan

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

j.

Memperbaiki administrasi maupun operasional seperti penyesuaian dan


penyempurnaan administrasi pungutan, penyesuaian tarif, penyesuaian sistem
pelaksanaan pungutan

k. Pengawasan dan pengendalian terhadap teknis dan penatausahaan


l.

Peningkatan sumber daya manusia pengelola, meliputi pelatihan, kursus, dan


program pendidikan

m. Meningkatkan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat

Selain itu usaha yang dilakukan adalah dengan cara menggali sumber-sumber
PAD khususnya retribusi daerah yang baru, namun tidak bertentangan dengan
kebijakan pokok nasional., yaitu pungutan retribusi daerah yang dilaksanakan tidak
semata-mata untuk menggali pendapatan daerah berupa sumber yang memadai, tetapi
juga melaksanakan fungsi lainnya agar tidak memberatkan masyarakat.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian yang telah dilakukan

antara lain sebagai berikut :


1.

Kontribusi retribusi daerah Kabupaten Langkat terhadap PAD pada periode


tahun anggaran 1999 sampai dengan 2008 mengalami kenaikan dari 19,59%
pada tahun 1999 menjadi 19,88% pada tahun 2008. Dimana kontribusi retribusi
daerah terhadap PAD total rata-ratanya sebesar 23,98% dengan nilai persentase
terendah pada tahun anggaran 2007 dengan persentase sebesar 17,29% dan
persentase nilai tertinggi terjadi pada periode tahun anggaran 2001 dengan
persentase sebesar 29,86%.

2.

Tingkat pencapaian target pengelolaan retribusi terhadap PAD di Kabupaten


Langkat selama sepuluh tahun dari tahun anggaran 1999 sampai dengan tahun
anggaran 2008 bisa dikatakan belum berjalan efektif karena total rata-rata TPT
selama sepuluh tahun dari tahun 1999sampai dengan tahun 2008 adalah sebesar
85,84%. Adapun TPT terendah terjadi pada periode tahun anggaran 2000 yakni
sebesar 43,81%.

3.

Elastisitas retribusi daerah terhadap PAD di Kabupaten Langkat menunjukkan


nilai koefisien elastisitasnya rata-rata 0,24%. Hal ini berarti retribusi daerah
bersifat inelastis karena retribusi daerah relatif tidak peka terhadap PAD hal ini
dapat dilihat dari hasil perhitungannya dari tahun 1999 sampai dengan 2008.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

B.

Keterbatasan Penelitian
Adapun yang menjadi keterbatasan dalam penelitian ini adala :
1. Penelitian ini hanya menggunakan data jangka waktu 10 tahun yang
diperolehdari Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Langkat.
2. Penelitian ini hanya dilakukan di satu kabupaten saja yaitu di Kabupaten
Langkat.
3. Penelitian ini hanya menganalisis Retribusi daerah secara total Keselutuhan
tidak menurut jenis masing-masing Retribusi Daerah.

C.

Saran
Adapun saran yang diberikan agar hal-hal yang terkait diatas terpenuhi yakni :
1.

Untuk lebih meningkatkan kontribusi retribusi daerah terhadap penerimaan


PAD maka pemerintah daerah harus menggali potensi yang ada dimiliki oleh
daerah yang dapat memberikan sumbangan bagi peningkatan retribusi. Seperti
pada kontribusi retribusi parkir ditepi jalan umum yang banyak mengalami
penurunan, dapat dilakukan dengan menetapkan retribusi parkir untuk pemilik
mobil yang hanya memarkir mobilnya dipinggir jalan dimana mereka tidak
mempunyai tempat parkir dengan tarif permalam.

2.

Agar tingkat pencapaian target retribusi daerah lebih efektif, maka pemerintah
daerah diwajibkan untuk melakukan pemungutan terhadap seluruh potensi
yang ada agar realisasi yang diterima sesuai dengan target yang direncanakan.

3.

Pemerintah daerah dituntut untuk selalu memperhatikan setiap pemungutan


potensi serta mempertahankan pos-pos retribusi yang sudah ada dan

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

mengembangkan pos-pos retribusi yang baru. Sehingga elastisitas retribusi


daerah yang menunjukkan nilai elastis dapat tetap dipertahankan dan yang
bersifat inelastis diupayakan menjadi elastis. Misalnya jangan mengabaikan
wajib retribusi yang hanya memberikan masukan yang kecil, karena hal ini
akan berpengaruh pada penerimaan PAD. Jadi semakin besar penerimaan
retribusi daerah maka semakin besar pula PAD yang akan diterimanya,
Sehingga peningkatan retribusi daerah sangat besar pengaruhnya terhadap
penerimaan PAD atau dapat dikatakan retribusi daerah bersifat elastis
terhadap PAD.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

DAFTAR PUSTAKA

Bastian, Indra, 2006. Sistem Akuntansi Sektor Publik,edisi 2, Salemba Empat,


Jakarta.
Erlina, Sri Mulyani, 2007. Metode Penelitian Bisinis, USU Press, Medan.
Halim, Abdul, 2002. Akuntansi Keuangan Daerah, Edisi Pertama, Salemba Empat,
Jakarta.
Mardiasmo, 1999. Otonomi Daerah Yang Berorientasi Pada Kepentingan Publik
National Seminar Promoting Good Governance.
Mardiasmo, 2004. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah, Penerbit ANDI,
Yogyakarta.
Nordiawan, Deddi, 2006. Akuntansi Sektor Publik, Salemba Empat, Jakarta.
Reksoho Diprojo, Sukanto, 2001. Ekonomi Publik, Edisi pertama, Cetakan Pertama,
BPFE, Yogyakarta.
Saragih, Juli Panglima, 2003. Desentralisasi Fiskal Dan Keuangan Daerah Dalam
Otonomi, Ghalia Indonesia, Jakarta.
Sedarmayanti, 2003. Good Governance (Kepemerintahan Yang Baik) Dalam Rangka
Otonomi Daerah, Cetakan I, Mandar Maju, Bandung.
Siahaan, P, Marihot, 2005. Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah, PT Raja Grafindo
Persada, Jakarta.
Suparmoko, M, 2002. Ekonomi Publik Untuk Keuangan dan Pembangunan Daerah,
Edisi 1, ANDI, Yogyakarta.
Widjaja, haw, 2004,. Otonomi Derah dan Daerah Otonomi, Cetakan Ketiga, PT. Raja
Grafindo Persada, jakarta.
Yani, Ahmad, 2002. Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah di
Indonesia, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Jurusan Akuntansi fakultas Ekonomi, 2004. Buku Petunjuk teknis Penulisan Proposal
Penelitian dan Skripsi Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi USU, Medan.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan


Keuangan Daerah.
________, Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 29 Tahun 2002 Tentang APBD.

Melisa : Analisis Perkembangan Retribusi Daerah Pada Pemerintahan Kabupaten Langkat, 2010.

Anda mungkin juga menyukai