Anda di halaman 1dari 7

Masalah 471

Pada contoh 20.1 perubahannya sangat rendah dan tidak memuaskan. Sebuah sugesti untuk
peningkatan adalah dengan menambahkan baffle ke dalam unggun dan kemudian mengurangi
ukuran gelembung efektif. Temukan XA jika
20.3. . . . . db = 16 cm
20.4. . . . . db = 8 cm

Pada contoh 20.1 sugesti lainnya untuk memperbaiki kinerja adalah dengan menggunakan
unggun yang lebih pendek, menjaga agar W tidak berubah, kemudian mengurangi percepatan
gas luar. Temukan XA jika kita menggandakan area melintang unggun (sehingga u0= 15 cm/s)
dan
20.5. . . . . menjaga agar db tidak berubah menjadi db = 32 cm
20.6. . . . . menjadikan db = 8 cm dengan baffle yang cocok

20.7. Pada contoh 20.1 sugesti yang lainnya adalah dengan menggunakan unggun yang lebih sempit
dan lebih tinggi, sehingga W tidak berubah. Dengan cara ini temukan XA jika kita membelah
area melintang unggun (sehingga menjadikan u0 = 60 cm/s) dan menjaga agar db = 32 cm.
20.8. Contoh 20.1 menunjukkan bahwa sebuah unggun seberat 7 ton dengan gelembung setebal 32
cm memberikan 32% perubahan. Jika kita mencairkan bahan katalis pada 1 : 1 dengan
kepadatan yang halus sehingga menjadi sebuah unggun seberat 14 ton. Bagaimana hal ini bisa
mempengaruhi perubahan reaktan? Akankah perubahan tersebut lebih tinggi atau lebih rendah
dari 32%?
20.9. Mathis dan Watson dalam AlChE J., 2, 528 (1956) menulis laporan mengenai perubahan
bahan katalis cumene baik pada unggun berbahan katalis yang difluidasi dan dipadatkan.

Dalam percampuran cumene dan udara yang sangat cair, kinetiknya yang pertama dapat
dibalikkan dan berkaitan dengan cumene dengan perubahan equilibrium sebesar 94%.
Dalam eksperimen unggun yang dipadatkan (Hm = 76,2 mm) dengan menggunakan aliran
gas ke bawah (u0 = 64 mm/s) perubahan cumene ditemukan sebesar 60%. Namun, dengan
aliran gas ke atas pada kecepatan aliran yang sama di unggun yang sama, zat padat terfluidasi
(umf = 6,1 mm/s) dan gelembung gas diamati kurang lebih memiliki diameter sebesar 13,5
mm. Perubahan apakah yang akan Anda temukan dalam kondisi seperti ini?
Nilai taksiran:

472 Bab 20 Fluidasi Reaktor dari Berbagai Tipe


20.10. Hitung perubahan dalam reaktor unggun yang difluidasi untuk hidrogenasi bahan katalis dari
nitrobenzena ke analine.

Kami berencana untuk menggunakan hidrogen berlebih dalam kasus dimana kami tidak perlu
menghiraukan perluasan, dan dapat menganggap kinetik utama yang sederhana:

20.11. Dalam sebuah laboratorium reaktor unggun yang dipadatkan (Hm= 10 cm dan u0 = 2 cm/s)
perubahannya adalah sebesar 97% untuk reaksi utama A R.
(a) Tentukan konstan percepatan k''' untuk reaksi ini
(b) Apa yang akan menjadi perubahan dalam sistem industrial kecil unggun terfluidasi yang
lebih besar (Hm= 100 cm dan u0 = 20 cm/s) diimana ukuran gelembung yang diperkirakan
adalah 8 cm?
(c) Apa yang akan menajadi perubahan dalam unggun yang dipadatkan dengan kondisi
seperti bagian (b)?
Data: Dari eksperimen,
Dari literatur,

Bab

21

Menonaktifkan Bahan Katalis


Bab sebelumnya menganggap bahwa efektifitas bahan katalis dalam menaikkan reaksi tetap tidak
berubah seiring dengan berjalannya waktu. Namun seringkali tidaklah demikian, dalam sebuah kasus
dimana aktifitas biasanya berkurang ketika bahan katalis digunakan. Terkadang titik ini terjadi
sangat cepat, dalam hitungan detik; terkadang sangat lambat sehingga regenerasi atau penggantian
dibutuhkan hanya setelah digunakan selama berbulan-bulan. Pada kasus manapun, dengan
menonaktifkan bahan katalis regenerasi atau penggantian sangat dibutuhkan dari waktu ke waktu.
Jika penonaktifkan berjalan dengan cepat dan disebabkan oleh pengendapan dan penghalang
permukaan fisik, proses ini seringkali disebut sebagai penyumbatan. Mengangkat benda padat ini
disebut sebagai regenerasi. Pengendapan karbon ketika bahan katalis retak adalah contoh umum
penyumbatan.

Jika permukaan bahan katalis lambat laun dimodifikasi dengan penyerapan kimia pada titik-titik
aktif oleh bahan yang tidak bisa diambil dengan mudah, maka proses ini seringkali disebut sebagai
peracunan. Pengembalian aktifitas, jika memungkinkan, disebut sebagai reaktifasi. Jika penyerapan
dapat dipulihkan maka sebuah perubahan dalam kondisi operasi bisa cukup untuk mengaktifkan
kembali bahan katalis. Jika penyerapannya tidak dapat dipulihkan, maka kita mengalami peracunan
permanen. Hal ini bisa membutuhkan penanganan ulang kimia terhadap permukaan atau
penggantian secara keseluruhan atas bahan katalis yang sudah dipakai.
Penonaktifan juga bisa seragam untuk seluruh titik, atau bisa juga dipilih, dimana kasusnya
terjadi di titik yang lebih aktif, mereka yang menopang kebanyakan dari aktifitas katalis, lebih baik
diserang dan dinonaktifkan.
Kami menggunakan istilah penonaktifan untuk segala tipe kerusakan bahan katalis, baik cepat
maupun lambat; dan kami akan menyebut bahan apapun yang mengendap di permukaan hingga
bagian bawah dari aktifitas sebagai sebuah racun.
Bab ini adalah pengenalan singkat mengenai operasi dengan penonaktifan bahan katalis. Kami
akan memperhatikan secara bergantian poin-poin di bawah ini:

Mekanisme kerusakan bahan katalis


Bentuk persamaan percepatan kerusakan bahan katalis
Bagaimana mengembangkan sebuah persamaan percepatan yang cocok dari eksperimen
Bagaimana menemukan mekanisme dari eksperimen
Beberapa konsekuensi untuk rancangan

474 Bab 21 Menonaktifkan Bahan Katalis


Meskipun hal ini pada dasarnya adalah subyek yang tidak seberapa terlibat, namun sangat
pentingnya subyek ini dari sudut pandang praktis membutuhkan setidaknya penanganan pengenalan.
21.1 MEKANISME PENONAKTIFAN BAHAN KATALIS
Penonaktifan butiran bahan katalis berpori yang diamati bergantung pada sejumlah faktor: reaksi
kerusakan aktual, ada atau tidak adanya perlambatan penyebaran pori, cara racun beraksi di
permukaan, dan sebagainya. Kami memperhatikan hal-hal tersebut secara bergantian.
Reaksi kerusakan. Umumnya, kerusakan bisa terjadi dalam empat cara. Pertama, reaktan bisa
memproduksi sebuah produk sampingan yang mengendap dan menonaktifkan permukaan. Hal ini
disebut dengan penonaktifan paralel. Kedua, produk reaksi bisa terurai atau bereaksi lebih jauh
untuk memproduksi sebuah bahan yang kemudian mengendap dan menonaktifkan permukaan. Hal
ini disebut dengan penonaktifan serangkai. Ketiga, ketidakmurnian dalam makanan bisa mengendap
dan menonaktifkan permukaan. Hal ini disebut sebagai penonaktifan bersamaan.
Jika kita menyebut P sebagai bahan yang mengendap dan menonaktifkan permukaan, kita bisa
menggambarkan reaksi ini seperti:
Penonaktifan paralel:

(1)
Penonaktian serangkai:
(2)
Penonaktifan bersamaan:

(3)
Perbedaan utama dari ketiga bentuk reaksi kerusakan ini adalah pengendapan yang bergantung,
secara berurutan, pada konsentrasi reaktan, produk, dan beberapa zat lainnya dalam makanan.
Karena distribusi dari zat-zat ini akan beragam dalam posisinya pada butir, lokasi penonaktifan akan
bergantung pada reaksi kerusakan mana yang sedang terjadi.
Proses kerusakan bahan katalis yang keempat melibatkan modifikasi atau pelengketan
permukaan bahan katalis yang disebakan oleh keterpaparan bahan katalis terhadap kondisi ekstrim.
Tipe kerusakan ini bergantung pada waktu yang dihabiskan oleh bahan katalis pada lingkungan
bersuhu tinggi, dan karena ia tidak dipengaruhi oleh bahan-bahan pada aliran gas kita menyebutnya
penonaktifan bebas.
Penyebaran pori-pori. Untuk sebuah butir, penyebaran pori bisa sangat mempengaruhi
perkembangan kerusakan bahan katalis. Pertama, perhatikan penonaktifan paralel. Dari Bab 18 kita
ketahui bahwa reaktan bisa terdistribusi secara merata di seluruh butiran (MT< 0,4

21.2

Percepatan dan Cara Kerja Persamaan 475

dan
= 1) atau bisa ditemukan dekat dengan permukaan luar (MT> 4 dan < 1). Maka dari itu,
racun akan mengendap dengan cara yang serupa - sama dengan ketahanan tidak berpori, dan pada
bagian luar untuk ketahanan dengan pori yang kuat. Pada perbedaan besar dari ketahanan
penyebaran yang sangat kuat, sebuah kerangka yang tipis di luar butiran menjadi terkena racun.
Kerangka ini menjadi tebal seiring dengan berjalannya waktu dan penonaktifan bagian depan
menjadi ke arah dalam. Kami menyebutnya sebagai model kerangka untuk peracunan.
Sebaliknya, perhatikan penonaktifan serangkai. Pada rezim ketahanan berpori kuat, konsentrasi
produk R lebih tinggi di dalam butiran dibandingkan di luar. Karena R adalah sumber dari racun,
maka yang terakhir mengendap di konsentrasi tinggi di bagian dalam butiran. Maka dari itu, kita bisa
mengalami keracunan dari dalam ke luar untuk penonaktifan serangkai.
Yang terakhir, perhatikan penonaktifan bersamaan. Apapun konsentrasi reaktan dan produk yang
ada, percepatan dimana racun dari makanan bereaksi dengan permukaan menentukan dimana ia
mengendap. Untuk konstan percepatan racun kecil, racun tersebut memasuki butiran secara
bersamaan dan menonaktifkan seluruh elemen permukaan bahan katalis dengan cara yang sama.
Untuk konstan percepatan yang besar, peracunan terjadi di bagian luar butiran, segera setelah racun
tersebut sampai ke permukaan.
Pembahasan di atas menunjukkan bahwa perkembangan penonaktifan bisa tejadi dengan cara
yang berbeda bergantung pada tipe reaksi kerusakan yang terajadi dan pada nilai faktor persebaran
pori-pori. Untuk peracunan paralel dan serangkai, modul Thiele untuk reaksi utama adalah parameter
penyebaran pori yang tepat. Untuk reaksi bersamaan, modul Thiele untuk penonaktifan adalah
parameter utama.
Efek non isotermal dalam butiran bisa menyebabkan variasi dalam penonaktifan dalam segi
lokasi, khususnya ketika penonaktifan disebabkan oleh modifikasi permukaan yang dikarenakan
suhu tinggi.
Faktor Tambahan yang Mempengaruhi Kerusakan. Banyak faktor lainnya yang bisa
mempengaruhi perubahan aktifitas bahan katalis yang diamati. Mereka meliputi penyumbatan poripori mulut yang disebabkan oleh benda padat yang mengendap, equilibrium, atau peracunan yang
dapat dibalik ketik beberapa aktifitas selalu tetap, dan aksi regenerasi (hal ini sering membiarkan
bahan katalis dengan bagian luar yang aktif namun intinya tidak aktif).
Yang terpenting, penonaktifan yang diamati bisa dihasilkan oleh sejumlah proses saat bekerja
secara bersamaan; contohnya, imobilisasi cepat pada kebanyakan titik yang paling aktif dikarenakan
oleh racun P1, dan kemudian serangan yang lebih lambat pada sisa dari titik oleh racun P2.
Meskipun pengaruh yang memungkinkan mengenai faktor-faktor ini harus diperiksa dalam kasus
yang nyata, di penanganan pengenalan ini kami akan berkonsentrasi pada kedua faktor pertama:
reaksi kerusakan dan penyebaran pori. Ada pelajaran yang cukup di sini untuk menggambarkan cara
bagaimana menangani masalah yang lebih komplit.
21.2

PERCEPATAN DAN CARA KERJA PERSAMAAN


Aktifitas butiran berbahan katalis di waktu kapanpun diartikan sebagai

(4)

476 Menonaktifkan Bahan Katalis


dan dalam pelumuran butiran dengan fluida, percepatan reaksi A harus menggunakan bentuk
berikut:

(5)
Demikian juga, percepatan dimana butiran bahan katalis dinonaktifkan bisa ditulis dengan

(6)
Dalam hal kintik ke - n, ketergantungan suhu Arrhenius, dan kondisi isotermal, Persamaan 5
menjadi, untuk reaksi utama:
(7)
dan untuk deaktifasi dimana pada umumnya bergantung pada konsentrasi spesies fase gas,
Persamaan 6 menjadi:

(8)
dimana d disebut dengan urutan penonaktifan, m mengukur konsentrasi ketergantungan dan Ed
adalah energi aktifasi atau ketergantungan suhu pada penonaktifan.
Untuk reaksi kerusakan yang berbeda, kita bisa menaksir bentuk yang berbeda dari persamaan
di atas. Oleh karena itu
Penonaktifan paralel
(A R; A P)
(9)
Penonaktifan serangkai
(A R P)
(10)

21.2
Penonaktifan bersamaan
(A R; P P)

Percepatan dan Cara Kerja Persamaan 477

(11)

Penonaktifan bebas
(konsentrasi bebas)
(12)
Pada reaksi tertentu, seperti isomerisasi dan keretakan, penonaktifan bisa disebabkan baik oleh
reaktan atau produk, atau
dan

(13)

Karena CA + CR tetap konstan untuk makanan khusus, tipe penonaktifan ini berkurang hingga
penonaktifan mandiri yang mudah ditangani pada Persamaan 12.
Meskipun ekspresi ke-n di atas cukup sederhana, mereka cukup umum untuk mencakup banyak
dari persamaan kerusakan yang digunakan hingga saat ini [lihat Szepe dan Levenspiel (1968)].
Percepatan Persamaan dari Eksperimen
Alat eksperimen untuk meneliti bahan katalis yang sedang dinonaktifkan dikelompokkan ke dalam
dua kelas: mereka yang menggunakan setumpuk bahan padat, dan mereka yang menggunakan aliran
bahan padat.
Gambar 21.1 menunjukkan beberapa peralatan tersebut.

Gambar 21.1 Penonaktifan lambat bisa menggunakan setumpuk bahan padat pada eksperimentasi;
penonaktifan cepat membutuhkan aliran bahan padat.