Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pemahaman terhadap adaptasi dan fisiologi bayi baru lahir sangat
penting sebagai dasar dalam memberikan asuhan. Perubahan lingkungan dari
dalam uterus ke ekstrauterin dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kimiawi,
mekanik, dan termik yang menimbulkan perubahan metabolik, pernapasan dan
sirkulasi pada bayi baru lahir normal. Penatalaksanaan dan mengenali kondisi
kesehatan bayi baru lahir resiko tinggi yang mana memerlukan pelayanan
rujukan atau tindakan lanjut.
Banyak perubahan yang akan dialami oleh bayi yang semula berada
dalam lingkungan interna (dalam kandungan Ibu) yang hangat dan segala
kebutuhannya terpenuhi (O2 dan nutrisi) ke lingkungan eksterna (di luar
kandungan ibu) yang dingin dan segala kebutuhannya memerlukan bantuan
orang lain untuk memenuhinya.
Sebagai seorang tenaga kesehatan, bidan harus mampu memahami
tentang beberapa adaptasi atau perubahan fisiologi bayi baru lahir. Hal ini
sebagai dasar dalam memberikan asuhan keperawatan yang tepat. Setelah
lahir, bayi baru lahir harus mampu beradaptasi dari keadaan yang sangat
tergantung (plasenta) menjadi mandiri secara fisiologi. Setelah lahir, bayi
harus mendapatkan oksigen melalui sistem sirkulasi pernapasannya sendiri,
mendapatkan nutrisi per oral untuk mempertahankan kadar gula darah yang
cukup, mengatur suhu tubuh dan melawan setiap penyakit atau infeksi.
Dengan demikian, kami akan membahas mengenai perubahan sistem
metabolisme glukosa, sistem gastrointestinal, dan sistem kekebalan imun bayi
baru lahir.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui perubahan sistem metabolisme glukosa, sistem
gastrointestinal, dan kekebalan imun bayi baru lahir.
2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui perubahan sistem metabolisme glukosa bayi baru lahir.


b. Mengetahui perubahan sistem gastrointestinal bayi baru lahir.
c. Mengetahui perubahan kekebalan imun bayi baru lahir.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sistem Metabolisme Glukosa


Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah
tertentu. Dengan tindakan penjepitan tali pusat dengan klem pada saat lahir
seorang bayi harus mulai mempertahankan kadar glukosa darahnya sendiri.
Pada setiap baru lahir, glukosa darah akan turun dalam waktu cepat (1 sampai
2 jam) (Pusdiknakes, 2003).
Otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Pada saat kelahiran,
setelah talipusat diklem, seorang bayi harus mulai mempertahankan kadar
glukosa darahnya sendiri. Pada setiap bayi baru lahir kadar glukosa darah
akan turun dalam waktu 1-2 jam. Bayi baru lahir yang tidak dapat mencerna
makanan dalam jumlah yang cukup akan membuat glukosa dari glikogen. Hal
ini hanya terjadi jika bayi mempunyai persediaan glikogen yang cukup.
Seorang bayi yang sehat akan menyimpan glukosa sebagai glikogen, terutama
dalam hati, selama bulan-bulan terakhir kehidupan dalam rahim. Bayi yang
mengalami hipotermi saat lahir, kemudian mengakibatkan hipoksia akan
menggunakan persediaan glikogen dalam satu jam pertama kelahiran
(Rochmah, 2012. h. 9).
Koreksi penurunan gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara :

1. Melalui penggunaan ASI (bayi baru lahir sehat harus didorong untuk
menyusu ASI secepat mungkin setelah lahir)
2. Melalui penggunaan cadangan glikogen (glikogenesis)
3. Melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama

lemak

(glukoneogenesis) (Pusdiknakes, 2003).


Bayi baru lahir yang tidak dapat mencerna makanan dalam jumlah
yang cukup akan membuat glukosa dari glikogen (glikogenolisis). Hal ini
hanya terjadi jika bayi mempunyai persediaan glikogen yang cukup. Seorang
bayi yang sehat akan menyimpan glukosa sebagai glikogen, terutama dalam
hati, selama bulan-bulan terakhir kehidupan dalam rahim. Seorang bayi yang
mengalami hipotermia pada saat lahir yang mengakibatkan hipoksia akan
menggunakan persediaan glikogen dalam jam pertama kelahiran. Inilah
sebabnya mengapa sangat penting menjaga semua bayi dalam keadaan
hangat. Perhatikan bahwa keseimbangan glukosa tidak sepenuhnya tercapai
hingga 3-4 jam pertama pada bayi cukup bulan yang sehat. Jika semua

persediaan digunakan pada jam pertama maka otak bayi dalam keadaan
beresiko. Bayi baru lahir kurang bulan, lewat bulan, hambatan pertumbuhan
dalam rahim dan distress janin merupakan resiko utama, karena simpanan
energi berkurang atau digunakan sebelum lahir (Rochmah, 2012. h.9).
Gejala-gejala hipoglikemia bisa tidak jelas dan tidak khas meliputi :
kejang-kejang halus, sianosis, apnu, tangis lemah, letargis, lunglai dan
menolak makanan. Bidan harus selalu ingat bahwa hipoglikemia dapat tanpa
gejala pada awalnya. Akibat jangka panjang hipoglikemia ialah kerusakan
yang meluas di seluruh sel-sel otak (Pusdiknakes, 2003).
B. Sistem Gastrointestinal
1. Pengertian Sistem Pencernaan Neonatus
Saluran pencernaan makanan merupakan saluran yang menerima
makanan dari luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh
dengan

jalan

proses

pencernaan

(pengunyahan,

penelanan,

dan

pencampuran) dengan enzim dan zat cair yang terbentang dari mulai mulut
(oris) sampai anus. Bayi baru lahir harus memulai untuk memasukkan,
mencerna dan mengabsrobsi makanan setelah lahir, sebagaimana plasenta
telah melakukan fungsi ini (Varney, 2008).
2. Adaptasi Fisiologis Sistem Pencernaan Neonatal
a. Intrauteri
Enzim-enzim penting untuk mencerna karbohidrat, protein,
dan lemak sederhana ada pada minggu ke-36 sampai ke-38 usia
gestasi. Bayi baru lahir cukup bila mampu menelan, mencerna,
memetabolisme dan mengabsorbsi protein dan karbohidrat sederhana
serta mengemulsi lemak (Varney, 2008).
Janin mulai menunjukkan aktifitas gerakan menelan sejak usia
gestasi 14 minggu. Gerakan menghisap aktif tampak pada 26-28
minggu. Cairan empedu mulai diproduksi sejak akhir trimester
pertama, diikuti denga seluruh enzim-enzim pencernaan lainnya.
Proses pencernaan belum terjadi secara aktif (inaktif). Kebutuhan janin
akan nutrisi tidak dipenuhi dengan sistem pencernaannya tetapi
diperoleh dari plasenta. Refleks makan pada janin didalam kandungan

sudah mulai terlihat dari kegiatan menelan amnion dan menghisap.


Mekonium, isi yang utama terutama pada saluran pencernaan janin,
tampak mulai usia 16 minggu, mekonium tidak dikeluarkan selama
janin berada didalam uterus (tidak terjadi proses defekasi) hanya urin
mekonium karena peristaltik belum aktif kecuali pada fetal distres.
Pada janin yang mengalami fetal distres, terjadi penekanan pada
abdomen dan spingter anal mengalami relaksasi sehingga mekonium
yang tersimpan dalam usus keluar dan bercampur air ketuban. Enzimenzim penting untuk mencerna karbohidrat, protein, dan lemak
sederhana ada pada minggu ke-36-38 usia gestasi sudah mulai
dibentuk

untuk

mempersiapkan

kelahiran

(kehidupan

janin

ekstrauterin). Oksigenasi janin utama tetap berasal dari sirkulasi


maternal-fetal melalui plasenta dan tali pusat (Varney, 2008).
b. Ekstrauterine
1) Enzim pada Sistem Gastrointestinal
Amilase pankreas mengalami defisiensi selama 3-6 bulan
pertama setelah lahir. Sebagai akibat, bayi baru lahir tidak bisa
mencerna jenis karbohidrat yang kompleks seperti yang terdapat
pada sereal. Kolostrum terutama kaya akan amilase mamaria.
Perkembangan aktifitas laktase berlangsung relatif lambat dan
mencapai tingkat adekuat pada usia gestasi 36 minggu, namun
banyak bayi prematur dapat mencerna laktosa dengan baik karena
laktosa yang diserap dapat dicerna oleh bakteri kolon menjadi
asam lemak rantai pendek, yang kemudian dapat diserap sehingga
energi dapat diselamatkan. Selain itu bayi baru lahir juga
mengalami defisiensi lipase pankreas. Lemak yang ada di dalam
ASI lebih bisa dicerna dan lebih sesuai untuk bayi daripada lemak
yang terdapat pada susu formula (Varney, 2008).
2) Mulut, Faring, Esofagus
Secara fungsional, saluran gastrointestinal bayi belum matur
dibandingkan orang dewasa, membran mukosa pada mulut
berwarna merah jambu dan basah. Gigi tertanam didalam gusi dan
sekresi ptialin sedikit (Rochmah, 2012. h. 10).

Sejak lahir, seorang bayi normal dapat menghisap dari


puting payudara, menyalurkan air susu ke bagian belakang mulut
dan menelannya selama 5-10 menit sambil bernafas normal.
Terdapat program reflek dan perilaku bawaan, yang menjadi
semakin jelas dalam sekitar satu jam setelah persalinan, termasuk
kemampuan bergerak dari perut ibu ke payudara, aktifitas tangan
terkoordinasi, gerakan mencari puting payudara, melekat ke
payudara, dan makan secara rakus sebelum bayi tidur (Varney,
2008).
Sentuhan pada langit-langit memicu reflek menghisap.
Neonatus memperlihatkan kerja rahang ritmik, yang memicu
tekanan negatif dan kerja peristaltik lidah dan rahang memeras air
susu dari payudara dan memindahkannya kekerongkongan yang
kemudian memicu reflek menelan. Pada neonatus normal, refleks
menyusu ini kuat saat lahir dan sudah tampak pada bayi premature
sejak usia sekitar 32 minggu (sekitar 1200 g). Bayi yang sangat
prematur dan mereka yang beresiko sakit atau berat lahirnya sangat
rendah memperlihatkan penurunan yang mencolok atau tidak
adanya refleks. Bayi lain yang mengalami masalah makan
misalnya mereka mengidap gangguan fisik misalnya bibir atau
langit-langit sumbing dan mereka yang terkena sedasi atau
analgesia obstetrik atau stres berat saat persalinan (Varney, 2008).
Reflek menghisap dan menelan dibantu oleh konfigurasi
morfologis mulut neonatus yang khusus, langit-langit lunaknya
secara proporsional lebih panjang. Neonatus juga memiliki refleks
ekstrusi sebagai respon terhadap adanya bahan padat atau setengah
padat didalam mulutnya. Refleks ini hilang pada usia 4-6 bulan dan
diganti oleh suatu pola gerakan menggigit ritmik yang bersamaan
dengan tumbuhnya gigi pertama pada usia 7-9 bulan (Varney,
2008).
Refleks gumoh dan batuk yang matang sudah terbentuk
dengan baik pada saat lahir. Kemampuan neonatus cukup bulan

untuk menelan dan mencerna makanan selain susu masih terbatas,


hubungan antara esofagus bawah dan lambung masih belum
sempurna

sehingga

mengakibatkan

gumoh

pada

neonatus

(Maryanti, 2011, h. 20).


Sistem gastrointestinal pada bayi baru lahir cukup bulan
relatif matur. Sebelum lahir, janin cukup bulan mempraktikkan
perilaku menghisap dan menelan. Refleks muntah dan batuk yang
matur telah lengkap pada saat lahir. Mekonium, walaupun steril,
mengandung debris dari cairan amnion, yang menguatkan bahwa
janin meminum cairan amnion dan bahwa cairan tersebut melalui
saluran cerna (Varney, 2008).
Bagaimanapun juga, kemampuan bayi baru lahir cukup
bulan untuk menelan dan mencerna sumber makanan dari luar
terbatas. Sebagian besar keterbatasan tersebut membutuhkan
berbagai enzim dan hormon pencernaan yang terdapat di semua
bagian saluran cerna, dari mulut sampai ke usus. Bayi baru lahir
kurang mampu mencerna protein dan lemak dibandingkan orang
dewasa. Absorbsi karbohidrat relatif efisien, tetapi tetap kurang
efisien dibandingkan kemampuan orang dewasa. Kemampuan bayi
baru lahir efisien dalam mengabsorbsi monosakarida seperti
glukosa asalkan jumlah glukosa tidak terlalu banyak (Varney,
2008).

3) Lambung
Kapasitas lambung sangat terbatas, kurang dari 30 ml untuk
bayi baru lahir cukup bulan. Kapasitas lambung ini akan bertambah
secara perlahan, seiring dengan pertumbuhan bayi sampai sekitar
90 ml selama beberapa hari pertama kehidupan. Lambung akan
kosong dalam 3 jam untuk pemasukan makanan dan kosong
sempurna dalam 2 sampai 4 jam. Pengaturan makan yang sering

oleh bayi sendiri sangat penting, contohnya memberikan makan


sesuai keinginan bayi (ASI on demand) (Rochmah, 2012. h. 10).
Spingter cardiac antara esophagus dan lambung pada
neonatus masih immature, mengalami relaksasi sehingga dapat
menyebabkan regurgitasi makanan segera setelah diberikan.
Regurgitasi juga dapat terjadi karena kontrol persarafan pada
lambung belum sempurna (Varney, 2008).
4) Usus
Usus bayi baru lahir relatif tidak matur. Sistem otot yang
menyusun organ tersebut lebih tipis dan kurang efisien
dibandingkan dengan orang dewasa sehingga gelombang peristaltik
tidak dapat diprediksikan. Lipatan dan vili dinding usus belum
berkembang sempurna. Sel epitel yang melapisi usus halus bayi
baru lahir tidak berganti dengan cepat sehingga meningkatkan
absorbsi yang paling efektif. Awal pemberian makan oral
menstimulasi lapisan usus agar matur dengan meningkatkan
pergantian sel yang cepat dan produksi enzim mikrovilus seperti
amilase, lipase, dan tripsin. Dukungan bidan untuk pemberian ASI
segera pada bayi baru lahir membantu maturasi kemampuan usus
halus ini. (Varney, 2008).
Neonatus aterm mampu mencerna dan menyerap susu dari
lahir. Faktor pertumbuhan spesifik spesies di air susu penting untuk
mendorong perkembangan pencernaan pascanatal. Usus neonatus
memiliki kapasitas pencernaan dan penyerapan yang imatur tetapi
terdapat sejumlah mekanisme kompensasi, terutama untuk bayi
yang medapat air susu ibu (Varney, 2008).
Bayi baru lahir mempunyai ukuran usus yang panjang
terutama. Keadaan ini menyebabkan area permukaan untuk
absorbsi lebih luas. Bising usus pada keadaan normal dapat
didengar pada 4 kuadran abdomen dalam jam pertama setelah lahir
akibat bayi menelan udara saat menangis dan sistem saraf simpatis
merangsang peristaltik.
Saat lahir saluran cerna steril. Sekali bayi terpapar dengan
lingkungan luar dan cairan mulai masuk, bakteri masuk ke saluran

cerna. Flora normal usus akan terbentuk dalam beberapa hari


pertama kehidupan sehingga meskipun saluran cerna steril saat
lahir, pada kebanyakan bayi bakteri dapat dikultur dalam 5 jam
setelah lahir. Bakteri ini penting untuk pencernaan dan untuk
sintesa vitamin K (Varney, 2008).
Epitel usus yang tidak matur memengaruhi kemampuan
usus intuk melindungi dirinya dari zat-zat yang sangat berbahaya.
Pada manusia, keseluruhan saluran cerna berfungsi sebagai bagian
dari sistem imun alami, suatu sistem pertahanan bagi pejamu.
Pertahanan yang ada dalam saluran cerna, diantaranya barier kimia
peningkatan keasaman, enzim pencernaan yang menghancurkan
molekul besar dan IgA sekretori yang melapisi usus halus (Varney,
2008).
Selama awal masa bayi, bayi baru lahir menghadapi tugas
penting penutupan usus proses yang membuat permukaan epitel
usus menjadi tidak permeabel terhadap antigen. Sebelum
penutupan usus, bayi rentan terhadap infeksi bakteri/ virus dan juga
terhadap stimulasi alergen melalui absorbsi molekul-molekul besar
oleh usus. Semua makanan eksternal, bahkan dalam jumlah kecil
sekalipun, menyebabkan lonjakan faktor trofik saluran cerna yang
bermanfaat terutama hormon-hormon yang menyebabkan maturasi
penuh fungsi saluran cerna. Pemberian ASI, terutama mempercepat
penutupan usus karena menghasilkan sejumlah besar IgA sekretori
dan menstimulasi proliferasi enzim usus (Varney, 2008).
5) Rektum, Anus
Kolon pada bayi baru lahir kurang efisien menyimpan
cairan daripada kolon orang dewasa sehingga bayi baru lahir
cenderung mengalami komplikasi kehilangan cairan. Kondisi ini
membuat penyakit diare kemungkinan besar menjadi serius pada
bayi muda (Varney, 2008).
Feses pertama yang dieksresi oleh bayi disebut mekonium,
berwarna gelap, hitam kehijauan, kental, konsistensinya seperti
aspal, lembut, tidak berbau, dan lengket. Pengeluaran mekonium,

suatu campuran mukus, sel epitel, asam lemak, dan pigmen


empedu (yang menyebabkan warna khas hitam kehijauan).
Mekonium berasal dari:
a. Sel-sel mukosa dinding saluran cerna yang mengalami
deskuamasi dan rontok
b. Cairan/enzim yang disekresi sepanjang saluran cerna,mulai dari
saliva sampai enzim-enzim pencernaan
c. Cairan amnionyang diminum janin, yang kadang juga
mengandung lanugo dan sel-sel dari kulit janin atau membran
amnion yang rontok.
Feses mekonium pertama biasanya keluar dalam 24 jam
pertama setelah lahir. Jika tidak keluar dalam 36-48 jam, bayi harus
diperiksa patensi anus, bising usus dan distensi abdomen dan
dicurigai kemungkinan obstruksi (Gorrie, et al., 1998 & Simpson &
Creehan, 2001).
Tipe kedua feses yang dikeluarkan oleh bayi disebut feses
transisional, bewarna coklat kehijauan dan konsistensinya lebih
lepas dari pada feses mekonium. Feses ini merupakan kombinasi
dari mekonium dan feses susu. Keadaan feses selanjutnya sesuai
tipe makanan yang didapat oleh bayi. Kolon pada bayi baru lahir
kurang efisien menyimpan cairan dari pada kolon orang dewasa
sehingga bayi baru lahir cenderung mengalami komplikasi
kehilangan

cairan.

Kondisi

ini

membuat

penyakit

diare

kemungkinan besar menjadi serius pada bayi muda (Varney, 2008).


Tabel Karakteristik sistem pencernaan sebelum
dan setelah kelahiran kelahiran
Aspek
Sistem

Intrauteri
Relatif Inaktif

Ekstrauteri

Gastrointestinal

(tidak ada makanan yang (ada

Aktif

diterima melalui organ masuk


Reflek makan

makanan

yang

melalui

organ

gastrointestinal)
gastrointestinal)
Sudah ada, bayi Menelan Ada dan semakin baik,
cairan

amnion

dan Bayi

sudah

memperlihatkan gerakan mencerna

mampu
dan

menghisap
Refleks
peristaltik
Defekasi

Pada

mengeliminasi ASI atau

bagian

dan abdomen
peristaltik
sehingga

tidak
tidak

susu formula
bawah Pada
bagian

bawah

refleks abdomen

peristaltik

aktif sudak

sehingga

aktif,

terjadi bayi mengeluarkan feses.

pengeluaran mekonium. Tidak adanya feses dalam


Kecuali pada fetal distres 48

jam

pertama

(air ketuban bercampur mengidikasikan obstruksi


mekonium)
Sumber: Burrough & Leifer (2001)

isi usus

C. Sistem Kebebalan Imun


Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga
menyebabkan neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi. Sistem
imunitas yang matang akan memberikan kekebalan alami maupun yang di
dapat. Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahanan tubuh yang mencegah
atau meminimalkan infeksi (Pusdiknakes, 2003).
Berikut beberapa contoh kekebalan alami:
1.
2.
3.
4.

Perlindungan oleh kulit membran mukosa


Fungsi saringan saluran napas
Pembentukan koloni mikroba oleh kulit dan usus
Perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung (Pusdiknakes, 2003).
Sel-sel yang menyuplai imunitas bayi berkembang pada awal

kehidupan janin. Namun sel ini tidak aktif beberapa bulan. Selama tiga bulan
pertama kehidupannya, bayi dilindungi oleh kekebalan pasif yang diterima
dari ibu. Barier alami seperti keasaman lambung atau produksi pepsin dan
trinsin yang dipertahankan kesterilan usus halus (Bobak, 2005).
Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel yaitu oleh sel darah
yang membantu bayi baru lahir membunuh mikroorganisme asing. Tetapi
pada bayi baru lahir se-sel darah ini masih belum matang, artinya BBL
tersebut belum mampu melokalisasi dan memerangi infeksi secara efisien.
Kekebalan yang didapat akan muncul kemudian. Bayi baru lahir dengan
kekebalan pasif mengandung banyak virus dalam tubuh ibunya. Reaksi

antibodi keseluruhan terhadap antigen asing masih belum dapat dilakukan


sampai awal kehidupa anak. Salah satu tugas utama selama masa bayi dan
balita adalah pembentukan sistem kekebalan tubuh (Pusdiknakes, 2003).
Defisiensi kekebalan alami bayi menyebabkan bayi rentan sekali
terjadi infeksi dan reaksi bayi terhadap infeksi masih lemah. Oleh karena itu,
pencegahan terhadap mikroba (seperti pada praktek persalinan yang aman dan
menyusui ASI dini terutama kolostrum) dan deteksi dini serta pengobatan dini
infeksi menjadi sangat penting. Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat
sel yaitu oleh sel darah yang membantu BBL membunuh mikroorganisme
asing. Tetapi pada BBL se-sel darah ini masih belum matang, artinya BBL
tersebut belum mampu melokalisasi dan memerangi infeksi secara efisien
(Pusdiknakes, 2003).
Fetus mampu mensintesis imunoglobulin tertentu dalam jumlah kecil
pada usia kehamilan 20 minggu (IgM, IgG, dan IgE), dan kekebalan pasif
didapat untuk melawan berbagai penyakit bakterial dan virus dimana ibu
sudah membuat antibodi, termasuk diphteria, poliomyelitis, tetanus, measles,
dan mump. Ini dicapai dengan memasukkan IgG menyeberangi placenta pada
trimester ketiga (Varney, 2008).
Bayi memiliki imunoglobulin waktu lahir, namun keberadaannya
dalam rahim terlindung membatasi kebutuhan untuk bereaksi pada kekebalan
terhadap antigen tertentu. Ada tiga macam imunoglobulin (Ig) atau antibodi
(huruf menunjukan masing-masing golongan), yaitu IgG, IgA, dan IgM.
Hanya IgG yang cukup kecil melewati pembatas plasenta, IgG merupakan
golongan antibodi yang sangat penting dan kira-kira 75% dari seluruh
antibodi. IgG mempunyai kekebalan terhadap infeksi kuman virus tertentu.
Pada waktu lahir, tingkat IgG bayi sama dengan atau sedikit lebih banyak
daripada ibu. Tingkat Ig ini memberikan kekebalan pasif selama beberapa
bulan kehidupan (Pusdiknakes, 2003).
IgM dan IgA tidak melintasi pembatas plasenta, namun dibuat oleh
janin. Tingkat IgM pada periode kehamilan besarnya 20% dari IgM orang bisa
dan diperlukan waktu 2 tahun untuk dapat menyamai tingkat orang dewasa.
Tingkat IgM yang relative rendah membuat bayi rentan terkena infeksi. IgM

juga penting sebab sebagian besar antibodi yang terbentuk pada sewaktu
terjadi respons primer adalah golongan ini (Pusdiknakes, 2003).
IgM adalah imunoglobin yang paling banyak. Antibodi
ini tidak menembus plasenta, dan kadar yang meningkat
pada bayi baru lahir bisa menunjukkan tanggapan fetal
terhadap infeksi intrauterin seperti toxoplasmosis, rubella,
cytomegalovirus (CMV), atau herpes. Infeksi ini sering disebut
sebagai infeksi TORCH. Bayi yang lahir dengan salah satu
infeksi TORCH bisa menunjukkan tanda-tanda infeksi kronik
intrauterin (otak kecil, retadartion, dan hepatomegali) dan
terus mengidap virus selama beberapa bulan (Varney, 2008).
IgA sebagai pelindung membran lenyap dari traktus naps dan traktus
urinarius dan traktus gastrointestinal kecuali jika bayi diberi ASI. Bayi mulai
menyintea IgG dan mencapai sekitar kadar IgG orang dewasa pada usia 1
tahun, sedangkan kadar orang dewasa dicapai pada usia 9 bulan. IgA, IgD,
dan IgE diproduksi secara lebih bertahap dan kadar maksimum tidak dicapai
sampai pada masa kanak-kanak dini (Bobak, 2005).
IgA tidak bisa menembus pertahanan placenta dalam jumlah yang
cukup besar. Antibodi jenis ini tidak secara normal dihasilkan dalam uterus,
tetapi peningkatan kadar IgA ditemukan pada neonatus dengan infeksi CMV.
IgA disekresi dalam kolostrum, dan riset menunjukkan bahwa IgA memberi
kekebalan pasif pada infeksi gastrointestinal dan pernapasan tertentu pada
bayi yang menyusui (Varney, 2008).
Tingkat IgA sangat rendah dan diproduksi dalam waktu yang lama
walaupun tingkat salive sekresi mencapai tingkat oreang dewasa dalam kurun
waktu 2 bulan. IgA melindungi dari infeksi saluran pernafasan, saluran usus
lambung, dan mata. Sedangkan, imunoglobulin jenis lainnya, yaitu IgD dan
IgE, tidak begitu berkembang pada neonatus (Pusdiknakes, 2003).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapatasi bayi baru lahir (BBL) adalah penyesuaian diri individu
(BBL) darikeadaanyang sangat tergantung menjadi mandiri secara fisiologis.
Banyak perubahan yang akan dialami oleh bayi yang semula berada dalam
lingkungan interna (dalam kandungan Ibu) yang hangat dan segala
kebutuhannya terpenuhi ke lingkungan eksterna (diluar kandungan ibu) yang
dingin dan segala kebutuhannya memerlukan bantuan orang lain untuk
memenuhinya.
Periode adaptasi ini disebut sebagai periode transisi, yaitu dari
kehidupan di dalam rahimke kehidupan di luar rahim. Periode ini berlagsung
sampai 1 bulan atau lebih. Transisi yang paling nyata dan cepat terjadi adalah

pada sistem

pernafasan

dan sirkulasi,

sistem termoregulasi,dan

dalam

kemampuan mengambil serta menggunakan glukosa.


B. Saran
1. Setelah memahami tentang bayi baru lahir tentunya bisa dilakukan
penerapan yang baik untuk dapat melakukan pemeriksaan yang spesifik
pada bayi baru lahir sehingga dapat menetapkan diagnosis yang benar agar
dapat dilakukan perawatan yang lebih intensif jika ditemukan adanya
masalah.
2. Semua tenaga kesehatan dapat bekerja sama untuk dapat memberikan
perawatan yang benar terkeait dengan bayi baru lahir.

DAFTAR PUSTAKA
Bobak, dkk. 2005. Buku Ajar keperawatan maternitas Edisi 4. Jakarta: EGC.
Burroughs A & Leifer G. (2001). Maternity Nursing an Introductory Text. 8 th
Edition.
Maryanti, Dwi, dkk. 2011. Buku Ajar Neonatus, Bayi dan Balita. Jakarta: TIM.
Perry dan Potter. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Volume 2. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Pusdiknakes. 2003. Asuhan Bayi Baru Lahir. Jakarta: Pusdiknakes
Rochmah. 2012. Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita. Jakarta: EGC.
Simpson & Creehan. (2001). Perinatal Care. Edisi 2. Philadelpia: Lippincott.
Varney, H. 2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Edisi 4. Volume 2. Jakarta: EGC