Anda di halaman 1dari 3

KONSTIPASI

Alpha Fardah A., IG. M. Reza Gunadi Ranuh, Subijanto Marto Sudarmo

BATASAN
Keluarnya tinja yang sulit, keras, tidak basah dengan ukuran yang lebih besar dari biasanya
atau frekwensi buang air besar kurang dari 3 kali seminggu atau.
PATOFISIOLOGI
Konstipasi dapat terjadi apabila salah satu atau lebih faktor yang terkait dengan faktor
anatomi dan fisiologi dalam proses mekanisme berak terganggu. Gangguan dapat terjadi pada
kekuatan propulsif, sensasi rektal ataupun suatu obstruksi fungsional pengeluaran (functional
outlet). Konstipasi dikatakan idiopatik apabila tidak dapat dijelaskan adanya abnormalitas
anatomik, fisiologik, radiologik dan histopatologik sebagai penyebabnya.
Konstipasi pada masa bayi biasanya disebabkan masalah diet atau pemberian minum.
Berak yang nyeri dapat merupakan pencetus primer dari konstipasi pada awal masa anak.
Pada masa bayi dan anak, konstipasi kronik

dapat disebabkan lesi anatomis, masalah

neurologis, disfungsi neuromuskuler otot intrinsik, obat farmakologis, faktor metabolik atau
endokrin. Pada masa anak penyebab terbanyak adalah konstipasi fungsional yang biasanya
berawal dari kurangnya makanan berserat, kurang minum atau kurangya aktifitas.
GEJALA KLINIK
Selain konstipasi sendiri, juga dapat ditemukan gejala klinis lain :
-

anoreksia ringan

tenesmus

flatus berlebihan

nyeri perut

bercak garis darah yang menempel pada tinja sebagai akibat fisura ani

prolaps rekti

masa tinja pada abdomen bagian bawah

rembesan tinja pada celana dalam (soiling)

CARA PEMERIKSAAN/DIAGNOSIS

PDT Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya

65

Diagnosis konstipasi fungsional ditegakkan apabila dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan laboratorium serta radiologi tidak dapat ditemukan penyebab organik dari
konstipasi yang terjadi.

DIAGNOSA BANDING
-

Penyakit Hirschprung

Hipotiroid

Ileus

PENATALAKSANAAN
Penanganan umum :
a. Manipulasi diet
Dengan menambahkan cairan dan banyak memberikan makanan berseratt, serta dicari
apakah makanan/minuman yang tlah diterima anak mengandung bahan yang dapat
menimbulkan konstipasi
b. Pemberian obatan-obatan yang meliputi 3 tahapan yaitu :
-

Tahap Pertama untuk meniadakan pemampatan tinja (disimpaction)


Laktulosa 5-15 ml sekali sehari atau dengan enema fosfat hipertonik 3 ml/kg,
diberikan 4-6 minggu.

Tahap kedua untuk mencegah penumpukan tinja kembali, dengan diberikan laksan
yang bersifat stimulan atau osmotik seperti laktulosa. Tahap kedua ini dilakukan
selama 3 bulan.

Tahap ketiga untuk menciptakan pergerakan intestinal yang teratur, dengan toilet
training. Refleks gastrokolikdiharapkan timbul bila anak didudukkan di atas jamban
(toilet) selama 5-15 menit sesudah anak mendapat makanan (biasanya makanan pagi).

DAFTAR PUSTAKA
1. Borowitz SM, Cox DJ, Tam A, Ritter band LM Sutphem JL, Penberthy JK. Precipitant of
constipation during early childhood. The Journal of the American Board of Family
Practice, 2003; 16 : 213-218.
2. Buller HA, Heymans HSA. Diagnosis and treatment of constipation. Nutricia Scientific
Workshop, Surabaya 1997.
PDT Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya

66

3. Cleghorn G. How to investigate the child with constipation. Medical progress 1999; 26 (7)
: 33-35.
4. American Academy of Family Physicians http://familydoctor.org/222.xml
5. Croffie, J. M. and J. F. Firzgerald (2004). Idiopathic constipation. Pediatric Gastrointestinal
Disease. Walker, Goulet, Kleinman.et al. Ontario, BC Decker Inc. 1 : 1000-1012.
6. Michel, R. (1999). "Toilet training." Pediatric 20 : 240-245.
7. Hanna, A. A. and A. M. Lake (1999). "Constipation and encopresis in childhood."
Pediatric 19 : 23-31.
8. Baucke, V. L., E. Miele, et al. (2004). "Fiber (Glucomannan) is beneficial in the treatment
of childhood constipation" Pediatric 113 : 259-264.

PDT Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya

67