Anda di halaman 1dari 21

TUGAS 1 TAP

PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
RINKASAN 1
SISTEM PEMERINTAHAN INDONESIA
A. Dasar dasar sistem Pemerintahan
Konsep Sistem dan Pemerintahan
Pemerintahan secara konsektual dapat dijumpai dalam beragam pengertian bahasa
asing. Pengertian-pengertian yang dikemukakan memberikan idikasi yang luas,
tentang apa yang disebut sebagai pemerintah dan pemerintahan. Pemerintah secara
umum adalah seluru penyelenggara Negara baik pegawai negeri, pejabat yang karena
jabatannya, maupun kelembagaan seperti jabatan, Dinas, badan-badan usaha milik
Negara dan daerah, di mana seluruhnya memiliki kewenangan melaksanakan
pemerintahan dalam suatu sistem tertentu.
Konsep Dasar Pemerintahan dan Pemerintahan
Dengan Mengunakan pendekatan dari segi bahasa terhadap kata pemerintah atau
pemerintahan kedua kata tersebut berasal dari kata perintah bearti sesuatu yang harus
dilaksanakan.
Di dalam kata perintah tersimpul beberapa unsur yang merupakan ciri khasnya,
yakni :
1. Adanya keharusan menunjukkan kewajiban untuk melaksanakan apa yang
diperintakan.
2. Adanya dua pihak yaitu yang memberi perintah dan yang menerima perintah.
3. Adanya wewenang atau kekuasaan untuk pemberi perintah.
B. Negara dan Pemerintahan
Negara Dan Kekuasaan
Negara merupakan penjelmaan keinginan kolektif yang memiliki tujuan politik.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka Negara memiliki atribut berupa pawer
(kekuasaan) dan authority (kewenangan) yang bersifat memaksa. Perbuatan untuk
menjalankan kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki suatu Negara diwujudkan
dalam aktivitas penyelanggaraan Negara oleh pemrintah.
Dari beberapa pendapat ahli, dapat dipahami secara sederhana, yang dimaksud
dengan Negara adalah suatu wilayah territorial yang rakyatnya diperintah (governed)
oleh sejumlah pejabat yang memiliki kewenangan untuk menuntut dari warganya

pada satu ketaatan atas peraturan berundangan-undangan melalui penguasaan


(control) dari kekuasaan yang sah.
C. Dinamika sistem Pemerintahan Indonesia
Sistem Pemerintahan Indonesia menurut UUD 1945 (periode 1)
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 (UUD1945) yang
ditempatkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 18 Agustus
1945 kemudian menjadi dasar pelaksanaan kekuasaan pemerintahan Negara. Pasal 1
ayat 1 UUD 1945 menyatakan bahwa Negara Indonesia adalah Negara kesatuan yang
berbentuk republic. Kedaulan untuk mengurus pemerintahan dilaksanakan oleh
pemerintahan pusat. Daerah-daerah yang ada bukanlah merupakan Negara bagian,
melainkan daerah besar dan kecil yang diberikan hak otonomi.
Didalam membahas perkembangan sistem pemerintahan Indonesia khususnya
pada fase kontitusi RIS, maka haruslah dipahami fase sebelumnya yaitu pada masa
berlakunya UUD 1945 periode 1.
Sistem cabinet menurut Konstitusi RIS adalah cabinet bertanggung jawab, salah
satu menjadi tolak ukur dalam cabinet ini bahwa sekaligus presiden merupakan pula
unsur dari pemerintah namun dia tidak dapat diganggu gugat bentuk Negara
berdasarkan konstitusi RIS ialah Negara serikat atau pederal dengan bentuk
pemrintahan republic.
Alat-alat kelengkapaan Negara yang ada menurut konstitusi RIS dapat di rinci
sebagai berikut :
1. Presiden/ wakil presiden
2. Mentri-mentri (cabinet)
3. Senat
4. Dewan Perwakilan Rakyat
5. Mahkamah Agung
D. Landasan, Tujuan, dan Asas-asas Penyelengaraan Pemerintahan RI
Landasan dan Tujuan Penyelengaraan Pemerintahan RI
Landasan Penyelengaraan Indonesia terdiri atas landasan ideal yaitu pancasila,
landasan konstitusional yaitu UUD 1945 yang telah mengalami 4 (empat) tahapan
amademen. Sedangkan landasan oprasional tidak dikenal lagi sejak GBHN dihapus
dalam amademen UUD 1945 akan tetapi untuk oprasionalisasi dalam mencapai tujuan
Negara mengacu pada UU propenas yang disepakati bersama oleh presi.
Tujuan Penyelenggaraan pemerintahan Negara Indonesia adalah untuk membantu
suatu pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluru tumpah darah Indonesia dan ikut memajukan kesejateraan umum,
mencerdaskan kehudupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang

berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Tujuan tersebut


dapat diringkus menjadi tujuan nasional dan internasional.
Asas-asas pemerintahan terdiri atas asas-asas umum pemerintahan yang baik dan
asas-asas penyelengaraan pemerintahan. Asas-asas umum pemerintahan yang baik
menurut UU administrasi pemerintahan antara lain adalah asas kepatutan hukum,
keseimbangan,

kesamaan,

kecermatan,

motifasi,

tidak

melampaui

atau

mencampuradukan kewenangan, bertidak yang wajar, keadilan, kewajaran, menggapi


pengharapan yang wajar, profesionalitas, sfesiensi, dan efektifitas.
E. Lembaga-lembaga Tinggi Negara
Lenbaga-lembaga Negara
Amademen UUD 1945 membawa perubahan dan pegeseran besar dalam struktur
ketatanegraan Indonesia. wujud peruhan dan pergeseran tersebut bersifat struktur
seperti terlihat pada susunan dan kedudukan maupun bersifat fungsional dalam hal
tugas dan wewenang Lembaga-Lembaga Tinggi Negara yang ada.
Bentuk perubahan krusial yang dialami oleh UUD 1945 hasil amademen antara
lain, Posisi MPR diturunkan kedudukannya dari Lembaga Tertinggi yang merupakan
penjelmaan kedaulatan rakyat diturunkan setingkat dengan lembaga-lembaga tinggi
Negara lainnya. Hal lain yang dihasilkan dari perubahan tersebut adalah hadirnya
lembaga baru, seperti DPD dan MK. DPD merupakan perwakilan dari daerah-daerah
otonom meski dalam kapasitas tugas dan wewenag yang dimiliki sangat terbatas. MK
merupakan lembaga

esekutor dalam menyelesaikan sengketa-sengketa

atau

perselisihan yang bersifat kontitusional. Disamping itu masih dikenal pula lembagalembaga tinggi Negara sebelumnya, seperti DPR< BPK, MA serta KPU.
F. Mentri dan Kabinet
Mentri dan Kabinet
Didalam membicarakan Mentri dan Kabinet, perlu dipahami konsep mentri dan
cabinet, tugas serta tugas dan wewenang mentri-mentri Negara.
Mentri Negara adalah pejabat eksekutif di bawah perdana Mentri untuk
pemerintahan sistem Parlementer atau di bawah Presiden (fungsi eksekutif) untuk
pemerintahan sistem Presidensial.
Kabinet adalah suatu dewan mentri yang bertugas membantu Presiden dalam
melaksanakan tugas pemerintahan sehari-hari.
G. Lembaga-lembaga Non Departemen
Lembaga-Lembaga Non Departemen RI
Lembaga Non Departemen merupakan lembaga yang membantu Presiden dalam
menjalankan kekuasaan pemeritahan (eksekutif) yang tidak berbentuk departemen.

Hal ini terjadi karena ada persoalan-persoalan khusus yang bersifat nasional yang
penanganannya tidak dilakukan oleh departemen-departemen sektoral ataupun
departemen teknis yangtelah ada.
Kedudukan, Tugas, Wewenang serta Hubungan Kerja antara Lembaga-lembaga
Non Departemen. Lembaga Non Departemen merupakan lembaga eksekutif yang
membantu melaksanakan tugas Presiden selain organisasi mentri atau departemen.
Sebagai pembantu atau pelaksana tugas pemerintah lembaga non departemen
merupakan lembaga Negara yang sangat strategis peranannya dalam pelaksanaan
kinerja pemerintahan seorang Presiden. Pembentukan lembaga non departemen
ditentukan dalam sebuah Kepres.
H. Pemerintah Daerah
Landasan, Tujuan, dan Asas-asas Penyelengaraan Pemerintahan Daerah.
Sesuai dengan amanat UUD 1945, Pemerintah Daerah yang mengatur dan
mengurus sendiri Urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuaan
bertujuan untuk mempercepat terwujudnya kesejateraan masyarakat melalui
peningkatan pelayanan pemberdayaan, serta peningkatan daya sain daerah dengan
memprhatiakan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, dan dekekhususan suatu
daerah dalam sistem Negara kesatuan Republik Indonesia.
Asas-asas yang dianut dalam penyelengaraan pemerintah daerah menurut UU No.
32/2004 adalah :
a. Asas desentralisasi yaitu, penyerahan wewenang pemerintah oleh pemerintah
kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan
dalam sistem Negara kesatuan Republik Indonesia.
b. Asas dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang

pemerintah,

oleh

pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemeritah dan/atau kepada


instansi vertical di wilayah tertentu.
c. Tugas pembantuan adalah penugasaan pemerintah kepada daerah dan/atau
desa dari pemerintah provinsi kepada Kabupaten/Kota dan/atau desa serta dari
pemerintah Kabupaten/Kota kepada desa untuk meaksanakan tugas tertentu.
Menurut UU No. 32/2004 tentang pemerintah daerah yang dimaksud Pemerintah
Daerah adalah pelaksanaan fungsi-fungsipemerintah daerah yang dilakukan oleh
lembaga pemerintahan daerah yaitu Pemerintah Daerah dan Derwan Perwakilan
Rakyat Daerah (DPRD). Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD). Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah terdiri dari kepala daerah dan
wakil kepala daerah, secara umum perangkat daerah terdiri dari ;

1. Unsur staf yang membantu penyusunan dan pelaksanaan kebijakan dan


koordinas diwadahi dalam lembaga sekretariat.
2. Unsur pendukung tugas Kepala Daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan
kebijakan daerah yang bersifat, diwadahi dalam lembaga teknis daerah.
3. Unsur pelaksanaan urusan daerah yang diwadahi dalam dinas daerah.
I. Pemerintah Desa dan Kelurahan
Pemerintahan Desa. Dalam membicarakan pemerinhan Desa maka hal-hal pokok
yang harus dipaham adalah pengertian desa, landasan pemikiran pemberian otonomi
desa, asas-asas desa penyelenggaraan pemerintah desa serta organisasi pemerintahan
desa.
Landasan pemikiran dalam pengaturan mengenai pemerintah desa adalah
keanekaragaman, partisipasi otonomi asli, demokratisasi dan pemberdayaan
masyrakat. Asas-asas penyelengaraan pemerintahan desa terdiri dari asas otonomi dan
asas tugas pembantuan.
Kelurahan merupakan wilaya kerja lurah sebagai perangkat daerah kabupaten/
kota dibawah kecamatan. Pembentukan kelurahan sekurang-kurangnya harus
memenuhi persyaratan : jumlah penduduk, luas wilayah, bagian wilayah kerja, dan
sarana prasarana pemerintahan.

RIKASAN 2
MANAJEMEN PEMERINTAHAN
A. Hubungan Antara Adminnistrasi, Organisasi, dan Manajemen
Usaha manusia untuk mempertahankan dan memenuhi kebutuhan hidupnya
adalah merupakan tujuan bagi setiap manusia. Tujuan ini akan sama bagi setiap
manusia, hanya cara untuk mencapainya berbeda-beda tergantung pada tingkat
pengetahuaan dan pengalaman yang dimiliki seseorang. Karena kompleknya cara
pencapaian tujuan tersebut maka manusia mau tidak mau harus berorganisasi karena
dengan berorganisasi akan dijumpai kemudahan-kemudahan untuk mencapai tujuan
pribadi tersebut dapat disesuaikan degan tujuan organisasi.
Perkembangan ilmu administrasi serta ilmu organisasi dan manajemen. Kalau
dikaji kehidupan manusia yang serba modern sekarang ini, tentulah kita akan
menyimpulkan bahwa semuanya itu adalah berkat keberasilan orang mengelola
organisasi.
B. Teori Organisasi Neo Klasik

Pendekatan Teori Neo-Klasik


Teori Neo-Klasik berusaha meyakinkan orang bahwa unsur kemanusiaan
merupakan faktor yang paling menentukan dalam proses organisasi. Tampa manusia
maka faktor-faktor organisasi yang lain tidak dapat berfungsi. Manusia bekerja
didorong oleh berbagai kebutuhannya.
Dinamika kelompok dalam organisasi, besar kecilnya kelompok dalam organisasi
tidak akan mempengaruhi terhadap organisasi kalau kelompok yang bersangkutan
tidak dinamis. Tetapi ada kecenderungan bahwa semakin besar jumlah kelompok
semakin sulit untuk berkomunikasi aktif di antara sesama anggotanya sehingga
kelompok tersebut tidak aktif.
Komlik kelompok, komlik dalam organisasi diartikan sebagai suatu bentuk pola
tidakan yang terjadi karena dua atau lebih saling bertentangan sehingga pihak yang
satu memandang pihak yang lain melanggar batas yurisdiksinya sumber pertentangan
ini meliputi empat macam yaitu : situasi bertolak belakang, persaingan dalam
memanfaatkan sumber-sumber, kedudukan yang tidak setaraf, perbedaan pendapat
dan kebutuhan akan perubahan.
C. Pandangan Modern dan Pasca Modern, Pendekatan Sistem, Kontigen, dan TForm
Penyumbang pemikiran terhadap pendekatan sistem dan kontingensi. Teori
modern membagun kerangka pemikirannya dengan memodifikasikan teori klasik
maupun teori neoklasik. Jadi didalam organisasi yang dipentingkan baik faktor intern
organisasi seperti struktur yang formal maupun faktor ektern organisasi seperti
lingkungan organisasi.
Lingkungan organisasi, dalam keadaan dunia yang serba tergantung sekarang ini
tidak mungkin lagi seatu organisasi mengucilkan dirinya dari lingkungan. Lingkungan
selalu berubah-ubah dengan semakin modernnya dunia, dan pengaruhnya terhadap
organisasi yang stabil karena lingkungan tidak berubah. Organisasi demikian desebut
tertutup. Tetapi bagi organisasi yang lingkungannya selalu berubah maka organisasi
harus terbuka supaya dia tidak ketinggalan zaman.
D. Menyusun Organisasi Formal
Departemen adalah suatu kegiatan yang harus didahulikan dalam menyusun
organisasi karena kegiatan yang sangat luas itu tidak mungkin dilaksanakan tampa
memerincinya ke dalam unit-unit tugas. Setelah itu disusul dengan penunjukan orangorang yang akan menduduki setiap unit tersebut. Dalam hal ini tidak boleh terbalik
yaitu orang dahulu yang dipersiapkan untuk memangku jabatan setelah itu dicari

jabatan apa yang dipangkunya. Kalau departemen ini terbalik maka tidak efesien
karena ada kemungkinan tugas yang seharusnya tidak perlu dalam suatu unit terpaksa
diadakan mengigikan orang yang telah dipesiapkan.
Pendelegasian wewenang mempunyai tiga aspek yaitu menunjuk tugas-tugas
tertentu untuk dikerjakan para bawahan, memberi izin kepada bawahan untuk
memngabil kebijakan untuk pelaksanaan tugas yang didelegasikan. Pendelegasian
wewenag itu harus jelas yaitu tugas apa yang diselegasikan siapa yang harus
mengerjakan dan sebagainya. Supaya tidak menimbulkan keragu-raguan maka
pendelegasian wewenang tersebut perlu ditulis. Dalam prakteknya ada batasanbatasan dalam pendelegasian wewenang antara lain batas peraturan undang-undang,
yang harus diperhatikan setiap mendelegasikan wewenang.
E. Funsi-fingsi Manajemen dalam Oraganisasi Pemerintahan
Penerngtian dan fungsi manajemen. Manajemen adalah suatu proses, yaitu
serangkaian tindakan, kegiatan, atau pekerjaan yang mengarah kepada beberapa
sasaran tertentu. Untuk melaksanakan serankaian tindakan tersebut maka dapat
diidentifikasikan fungsi-fungsi yang berbeda yang akan ditugaskan kepada pejabatpejabat (manajer) tertentu secara tertib. Manajemen menggerakan segenap sumber
daya organisasi sedemikian rupa secara harmonis dalam mencapai tujuan organisasi.
Karena itu manajemen mengisaratkan adanya unsur kepeminpinan, penngabilan
keputusan, hubungan antarmanusia, dan manusianya itu sendiri.
Perncanaan dan pengorganisasian organisasi pemerintah, planning dan organizing
merupakan sebagian dari fungsi-fungsi manajemen dimana planning merupakan awal
peroses manajemen yaitu dengan menyiapkan secara teratur dari setiap usaha untuk
mencapai tujuan, sedangkan organizing merupakan fungsi manajemen yang telah
disusun sebelumnya. Didalam hal ini organisasi merupakan alat administrasi untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam planning.
Sedangkan fungsi pengawasan merupakan fungsi manajemen yang didalamnya
terkandung kegiatan perbaikan dan penyempurnaan sehingga perkerjaan/kegiatan
sesuai dengan rencana atau tujuan yang telah ditetapkan. Penting diketahui bahwa
pengawasan sangat erat hungannya dengan fungsi perencanaan yaitu dengan adanya
pengawasan maka kegiatan yang telah mendapat perbaikan dan penyempurnaan ini
akan menjadi feed back bagi perencanaan berikutnya.
F. Manajemen Kinerja Pemerintahan
Manajemen kinerja pada organisasi public manajemen kinerja (performance
management) adalah suatu upaya untuk memperoleh dan meningkatkan hasil terbaik

dari tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu organisasi, kelompok dan ibdividuindividu melalui pemahaman dan penjelasan kinerja dalam suatu kerangka atau
tujuan-tujaun terencana, stadar dan pernyataan-pernyataan atribut atau kopentensi
yang disetujui besama.
Untuk menghasilkan kualitas kerja yang optimal, salah satu indikatornya akan
diprngaruhi oleh sikap dan perilaku manajemen eksekutif. sepak terjang manajemen
eksekutif aktifitasnya akan berpengaruh dalam proses implementasi kebijakan, maka
manajemen eksekutif harus mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan kebutuhan
organisasi dan lingkungan yang senantiasa selalu berubah.
G. Manajemen

Pemerintahan

Pusat,

Daerah

(Provinsi,

Kabupaten/Kota,

Kecamatan dan Desa) dalam Rangka Otonomi.


Pemerintah Republik Indonesia terdiri dari aparatur pemerintah pusat, aparatur
pemerintah daerah, dan usaha-usaha Negara.
Dalam sistem cabinet presidensial pertangungjawaban atas kebijaksanaan
pemerintah dipegang oleh presiden. Presiden merangkap jabatan pedana mentri dan
para mentri tidak bertangung jawab langsung kepada DPR, tetapi kepada presiden.
Kedudukan mentri-mentri sebagai pembantu Presiden. Karena itu Presiden
bertangung jawab membentuk departemen-departemen yang akan melaksanakan
kekusaan eksekutif.
Kepresidenan beserta aparaturnya meliputu: Presiden, Wakil Presiden, Mentrimentri, Jaksa Agung, Sekretaris Negara, Dewan-Dewan Nasional, dan Lembagalembaga non departemen.
H. Pengukuran Efektivitas Organisasi Pemerintahan
Teknik pengukuran efektifitas organisasi pemerintah. Efesiensi organisasi,
merupakan sebuah konsep yang bersipat lebih terbatas dan menyakut proses internal
yang terjadi dalam suatu organisasi, efesiensi menunjukan banyaknya input atau
sumber yang diperlukan oleh organisasi untuk menghasilkan satuan-satuan output.
Efektifitas merupakan suatu konsep yang sangat penting dalam teori organisasi,
karena mampu memberikan gambaran mengenai keberasilan organisasi dalam
mencapai sasarannya, tetapi, pengukuran efektifitas organisasi bukanlah suatuhal
yang sederhana. Bayak organisasi yang berukuran sangat besar dangan bayak bagian
yang sifatnya saling berbeda, bagian-bagian ini mempunyai sasaran sendiri yang satu
sama lain berbeda, sehingga menimbulkan kesulitan dalam melakukan pengukuran
efektivitas.

Penerapan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah telah diatur dalam berbagai


peraturan perundang-undangan, antara lain TAP MPR RI Nomor XI/MPR/1998,
kemudian disusul dengan undang-undang Nomor 28 tahun 1999. Instuksi Presiden
Nomor 7 tahun 1999, dan Keputusan Kepala LAN Nomor 589/IX/6/Y/99 tentang
Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, serta
Keputusan Kepala LAN Nomor 239/IX/6/8/2003 tentang Perbaikan Pedoman
Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Semua peraturan perudangudangan tersebut adalah payung kebijakan untuk membanggun sistem akuntabilitas di
Indonesia.
I. Manajemen Negara Maju
Lantar belakang organisasi dan manajemen jepang, bangsa jepang yang terpecapecahn bersenjatakan ajaran Konfusianisme, Bushido dan Shinto. Ajaran ini tidak lain
adalah ajaran mengenai filsafat yang dapat ditanamkan kedalam jiwa bangsa jepang
sehingga ternentuklah perasaan kolektifitas dan kebersamaan diantara sesame mereka.
Filsafa inilah yang menyatukan bangsa jepang menjadi bangsa yang kuat dan kokoh.
filsafa ini tidak hanya tertanam dalam jiwa partrionisme bangsa jepang, tetapi juga
dalam segala bidang kehidupan termasuk dalam bidang manajemennya.
Manajemen jepang berbeda degaan manajemen amerika, pada manajemen jepang
terlihat ciri-ciri sebagai berikut : sistem kerja seumur hidup, sistem evaluasi dan
promosi lambat sehingga setiap manajer akan memahami betul segala seluk beluk
perusahaannya sebelum dipromosikan. Disamping pemberian bonus bersifat fleksibel
dalam arti dapat besar kalau perusahaan mendapat untung besar dan dapat kecil kalau
perusahaan sedang krisis.
Dalam manajemen amerika berlaku sistemkerja jangka pendek. Akibatnya
seseorang berusaha untuk dipromosikan secara cepat. Kalau mereka tidak di
promosikan dalam beberapa tahun mereka pndah pekerjaan mencari keadaan yang
lebih baik. Sistem bonus diberikan berdasarkan potongan dan hal ini membuat orang
bekerja seperti robot saja sehinga kadang-kadang menimbulkan kebosanan.

RINGKASAN 3
KEBIJAKAN PUBLIK
A. Kebijakan Publik
Pengertian kebijakan public dan kebijakan public.

Kebijakan adalah terjemahan kata inggris policy yang tidak dapat dipisakan dari
pengertian politik. Kebijakan adalah serangkaian kegiatan yang dipilih oleh seseorang
dan kelompok orang yang dapat dilaksanakan serta mempunyai pengaruh yang besar
terhadap sejumlah besar orang dalam rangka mencapai suatu tujaun tertentu.
Public berbeda pengertiannya degan masyarakat. Pengertian public dalam
adminitrasi public indetik dengan Negara, sebagimana pengertian public (policy)
adalah kebijakan Negara. Sedangkan masyarakat diartikan sebagai sistem antar
hubungan sosial dimana manusia hudup dan tinggal secara bersamaan.
Ada perbedaan dan persamaan antara perubahan keputusan dan kebijakan.
Perbuatan keputusan adalah suatu pilihan terhadap sejumlah alternative yang bersaing
dan selesai, sedangkan perbutan kebijakan adalah serangkaian tindakan memilih
sejumlah alternatif secara terus-menerus dalam rangka mencapai suatu tujuan tertantu.
B. Hubungan Administrasi Negara dan Kebijakan Publik
Ada beberapa macam paradikma administrasi Negara, di mana paradigm 1
mengambarkan adanya pemisahan antara politik dan administrasi Negara. Paradikma
1 ini sangat relevan dengan kontek pembahasan modul ini karena adanya pemisahan
secara tegas antara tugas politik dan tugas administrative. Tugas politik adalah
merumuskan kebijakan public, sedangkan administrasi adalah melaksanakan
kebijakan tersebut. Dalam perkembangannya kemudian para ahli melakukan
pemisahan tersebut, bahwa proses politik itu pada hakikatnya adalah juga proses
administratif dan keduanya mempunyai kaitan yang erat sekali.
Dalam praktek penyelengaraan pemerintah, termasuk juga di Negara kita telah
bayak contoh-contoh yang mengambarkan hubungan yang erat antara politok dan
administrasi Negara.
C. Pengaruh Sistem Nilai Terhadap Proses Perumusan Kebujakan Publik
Peranan sistem nilai dalam perumusan kebijakan public.
Nilai adalah suatu yang berharga dan berbobot, fungsinya adalah sebagai
pendorong dan sekaligus pembatas tindakan manusia.
Dalam kontek kebijakan, nilai-nilai tersebut berupa kebutuhan, keinginan,
tuntutan masyarakat yang harus dipenuhi, tugas pembutan kebijakan adalah
melakukan harmonisasi, terhadap nilai-nilai yang berbeda dalam masyarakat guna
mencega masalah-masalah yang ada. Dan setiap pembuat kebijakan tidak boleh
bersikap hanpa nilai terhadap masalah yang timbul dalam masyarakat.
D. Partisipasi Dalam Proses Kebijakan
Budaya politik dan partisipasi politik.

Budaya politik dapt diartikan sebagai nilai, keyakinan, sikap, orientasi yang
memiliki anggota-anggota masyarakat tentang apa yang seharusnya dilakukan
pemerintah, bagaimana melakukannya dan hubungan atara warga masyarakat tersebut
dengan pemerintah.
Ada beberapa katagoriasasi budaya politik, mulai dari yang moralistic,
individualistic, atau parokial, subjek dan partisipan.
Peranan kelompok-kelompok dalam proses kebijakan. Kelompok kepentingan
dapat diartikan sebagai himpunan orang-orang yang mempunyai kepentingankepentingan tertentu dengan tujuan mempengaruhi kebijakan yang dibuat oleh
pemerintah. Kelompok berkempentingan klasik dengan kelompok penekan kerena
mereka seringkali memberikan tekanan-tekanan kepada pemerintah agar kebijakan
yang dibuatnya menguntungkan kepentingan-kepentingannya.
E. Proses Perumusan Kebijakan Publik
Perumusan masalah kebijakan publik.
Dalam proses kebijakan, merumuskan masalah merupakan kegitan yang pertama
kali harus dilakukan oleh pembuat kebijakan.
Masalah harus dirumuskan dengan tepat/benar kareana keasalahan dalam
merumuskan maslah akan berakibat salah pula dalam menentukan/mencari alternatifaltenatif kebijakannya.
Problema umum yang telah berubah menjadi problema kebijakan akan dapat
membangkitkan munculnya agenda kebijakan. Agenda kebijakan tidak semua dengan
tuntutan dalam sistem politik dan prioritas politik.
Agenda kebijakan menurut Cobb dan Elter dapat dibedakan menjadi dua.
1. Agenda sistemik
2. Agenda pemerintah
Agenda kebijakan dapat berini masalah-masalah lama dan baru.
F. Proses Penilaian dan Pelaksanaan Kebijakan Publik
Proses pelaksanaan kebijakan public.
Implementasi kebijakan public dapat diartikan sebagai perwujudan secara nyata
program-program pemerintah. Pelaksanaan utama kebujakan public adalah pejabatpejabat/ badan-badan pemerintah (lazim disebut birokrasi pemerintah) termasuk
sksekutif, legeslatif, yudikatif, pempinan parpol, organisasi masyarakat dan warga
Negara secara luas.
Kebijakan public yang harus diimplementasikan itu bayak ragamnya, yaitu ;
substantif, procedural, distriburif-didstributif, regulator, self regulatory materialsimbolik, kolektif privat, liberal, dan konservatif.
Proses penilaian kebijakan publik. Penilaian kebijakan adalah suatu proses
mengukur pelaksanaan dan dampak kebijakan, sebagai aktifitas fungsional penilaian

kebijakan dapat dilakukan mulai dari fase perumusan masalah sampai dengan fase
implementasinya.
Proses penilaian mencakup tiga macam kegitan uatama yaitu ;
1. Mentukan objek yang akan dinilai
2. Memilih teknik pengukuran yang tepat
3. Menganalisis informasi dan menarik kesimpulan.
G. Analisis Kebijakan Publik
Pengertian, kerakteristik, dan tujuan analisis kebijakan publik.
Analisis kebijakan merupakan upaya manusia secara kreatif dan ilmiah untuk
memberikan rekomendasi bagi peningkatan kualitas kebijakan, yaitu perumusan,
pelaksanaan dan penilaian kebijakan publik.
Analisis kebijakan berbeda dengan advokasi kebijakan. Analisis kebijakan degan
mengunakan sarana ilmiah menjelaskan sebab-sebab dan akibat-akibat kebijakan dan
kemudaian memberikan rekomendasi bagi kebaiakan mutu kebijakan sedangka
advokasi kebijakan mengambarkan tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh
pemerintah. Baik analisis maupun advokasi kebijakan penting artinya bagi perumus
kebijakan, analisis kebjakan selain bersifat evaluative, juga empiris dan normative.
H. Beberapa Model Analisis Kebijakan Publik
Model Institusional.
Model intitusional menekankan tentang peranan lembaga-lembaga pemerintah
sebai wadah untuk melaksanakan kegitan publik. Karena lembaga-lembaga
pemerintahan itu mempunyai tangguang jawab politik. Yaitu merumuskan,
mengesakan dan melaksanakan kebijakan publik.
Model Kelompok.
Menurut model kelompok, kebijakan publik itu adalah merupakan perwujudan
adanya perimbangan yang dicapai pecatuan kelompok-kelompok yang ada dalam
masyarakat.
Model Elit Massa
Model elit massa membagi masyrakat menjadi 2, yaitu golongan elit dan golongan
massa. Model ini menitik beratkan pada besarnaya peranan golongan elit dalam
proses perumusan kebijkan publik. Hal ini disebabkan karena golongan elit adalah
sekelompok kecik orang-orang yang mempunyai tingkat kekuasaan serta pengaruh
yang besar terhadap golongan massa atau rakyat.
I. Model Analisis Kebijakan Publik Dari Sudut Hasil dan Dampak
Model rasional dan komprehensif.

Model rasional komperhensif sangat menekankan proses perumusan kebijakan


publik yang rasional. Hal itu bisa dilakukan kalau ditujang dengan informasi dan
keahlian analisis pembuat kebijakan.
Oleh karena itu, model ini berorntasi pada pendekatan cara dan tujuan, di mana
pembuat kebijakan berusaha mencari cara-cara yang sebaik-baiknya untuk mencapai
tujauan yang paling rasional.
Model integrasi/ gabungan (maixed scanning)
Model integrasi/gabungan adalah suatu pendekatan pembuatan kebijakan
publik yang mengawainkan karakteristik pendekatan, rasional dan incremental. Kedua
pendekatan sebelunya (rasional dan ikremental) sebagai suatu modal yang terpisah
masih bayak kelemahan-kelemahannya disamping tentu saja kebaikan kebaikannya.
Oleh karena itu model integrasi/gabungan menawarkan penggunaan kedua model
tersebut secara kontinum, tidak terpisah-pisah atau berdiri sendiri-sendiri.

RINKASAN 4
MANAJEMEN PELAYANAN UMUM
A. Pengertian Pelayanan Umum dan Sistem Manajemen
Antara pelayanan umun dan kepentinagan umum terdapat korelasi. Dalam
perkembangan lebih lanjut pelayanan umum dapat juga timbul karena adanya
kewajiban sebagai suatu proses penyelengaraan kegiatan organisasi, baik organisasi
pemerintah maupun organisasi swasta. Manusia sebagai mahluk sosial hidup bekerja
sama dengan seksamanya membentuk keluarga, suku bangsa. Kelompok sosial yang
terkecil adalah kelurga yang terdiri atas suami istri dan anak-anak. Kelompok yang
lebih besar dari keluarga adalah suku bangsa. Himpunan dari suku-suku bangsa
kemudian membentuk bangsa, misalnaya bangsa Indonesia.
Timbulnya pelayanan umum dan sistem manajemen pelyanan. Proses pemenuhan
melalui aktifitas orang lain dinamakan pelayanan. Pengertian proses dalam konterk ini
terbatas pada kegiatan manajemen dalam rangka pencapaian tujuan organisasi.
Sistem pelayan umum terdiri dari 4 faktor, yaitu sebagai berikut.
1. Sistem, prosedur, dan metode
2. Personil, terutama ditekankan pada prilaku aparatur
3. Sarana dan Prasarana
4. Masyarakat sebagai pelanggan
Keempat Faktor itulah yang menentukan kepuasan pelanggan sebagi tujuan dari
pelayanan umum.

B. Ruang Lingkup dan Prinsip-prinsip Pelayanan Umum yang Berdaya Guna dan
Berhasil Guna
Ruang lingkup pelayan umum
Ruanglingkup pelayan umum

selalu

berubah

dan

berkembang

sesuai

perkembangan tata pemerintahan dan tututan perkembangan tata pemerintahan dan


tututan masyarakat. Tuntutan masyarakat meningkat karena pendidikan masyarakat
makin menimgkat, kemudahan mendapatkan informasi dan sebagian akibat partisipasi
masyarakat dalam proses pembangunan.
Prinsip-prinsip pelayan umum yang baerdaya guna dan berhasil guna. Untuk
mencapai pelayanan umum yang berhasil guna, berdaya guna dan berkualitas maka
perlu diterapkan prinsip-prinsip pelayanan sebagai berikut.
1. Proses dan prosedur harus ditetapkan lebih awal
2. Semua pihak harus mengetahui dan memahami proses dan prosedur
3. Disiplin bagi pelaksanaan untuk menaati proses dan prosedur
4. Perlu peninjawan proses dan prosedur oleh pimpinan, sewaktu-waktu dapat
diubah apabila perlu
5. Perlu penciptaan iklim yang kondusif bagi pengebangan budaya organisasi
untuk penciptaankualitas layanan
6. Kualitas bearti memenuhi keinginan, kebutuhan, dan selera konsumen
7. Setiap orang dalam organisasi merupakan partner dengan orang lain.
C. Pelayanan Umum, Hak Dasar, Pemerataan dan Keadilan sosial
Pelayanan umum dan hak dasar
Untuk tercapainya hak dasar dan hak asasi manusia maka pelayan umum perlu
dilaksanakan. Tampa pelayan umum sukat dibayangkan bagaimana hak dasar dan hak
asasi manusia dapat terpenuhi, dengan demikian, pelayan umum adalah hak ikatan,
hak-hak dasar warga Negara Indonesia telah dituangkan secara filosofi pada
pancasilah sebagai dasar dan falsafah dangsa indonesia, yang tercakup dalam sila II
kemanusiaan yang adil dan beradap dan sila V keadilan sosial bagi selurah rakyat
indonesia. kemudian manifentasi dari hak-hak dasar warga Negara tersebut tertuang
dalam pembukaan dan batang tubuh UUD 1945.
Khusus pasal 28 UUD 1945 merupakan hak yang sangat penting artinya bagi
kehidupan sehari-hari karena mencakup empat macam hak kebebasan, yaitu sebagai
berikut.
1. Kebebasan berserikat
2. Kebebasan berkumpil
3. Kebebasan mengeluarkan pendapat secara lisan
4. Kebebasan mengeluarkan pendapat secara tertulis
D. Aktifitas Manajemen Pelayanan Umum

Aktifitas adalah suatu usaha atau proses dengan mengunakan keahlian dan teknik
yang dapat mengubah bahan menjadi sesuatu, dilihat dari segi manajemen aktifitas
mengubah rencana menjadi kenyataan apakah produksi (barang) ataujasa.
Berdasrkan tingkat-tingkat manajemen, pengambilan keputusan, dikenal sebagai
berikut.
1. Bersifat strategi konsepsional; ditangani oleh dan dilakukan oleh manajemen
tingkat atas.
2. Bersifat taktis oprasional; ditangani dan dilakukan manajemen tingkat
menengah.
3. Bersifat teknis oprasional; ditangani dan dilakukan oleh manajemen tingkat
bawah.
Pengendalian dan evaluasi pelaksanaanpekerjaan. Hal-hal yang perlu dievaluasi
dalam penyelengaraan pelayanan umum, yaitu sebagai berikut.
1. Evaluasi pelaksanaan kegiatan dan hasilnya
2. Evaluasi sikap dan prilaku
Di dalam alam demokrasi, masyarakat berhak mendapat pelayanan prima maka
untuk memperbaiki pelayanan perlu dibuka kesempatan mengajukan keluhan dan
pengaduan.
E. Peranan SDM Strategi dalam Pelayanan Umum
Pembinaan sumberdaya manusia dan pelayan umum
Dalam rangka reformasi birokrasi maka yang menentukan adalah bagaimana
perncanaan SDM yang akan menepati posisi dalam organisasi pemerintahan dan saat
yang sama perlu penataan birokrasi yang efesien, efektif, dan rasional.
Penilaian kinerja, instrument pengukuran kinerja, kompensasi, dan diklat.
Penilaian, pengukuran kinerja dan kompensasi yang dilakukan secara rasional dan
objektif mempunyai pengaruh dalam meningkatkan baik dalam bentuk barang
maupun layanan. Dalam masyarakat dimana KKN masih bayak diperaktekan maka
upaya peningkatan produktivutassukar dapat dicapai. Oleh karenanya melakukan
reformasi birokrasi yang telah dinanti-nantikan bayak orang.
F. Birokrasi dan Pelayanan Publik Berbasis Teknologi Informasi
Netralisasi dan prilaku birakrasi
Pelayanan sosial merupakan suatu usaha yang dilkukan oleh sekelompok atau
seorang dalam institusi tertentu untuk memberikan bantuan dan kemudahan kepada
masyarakat dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu. Institusi itu dapat
dikelompokan atas dua, yaitu sebagai berikut.
1. Pemerintah : jika pemerintah maka organisasi birokrasi pemerintah merupakan
garis terdepan yang berhubungan dengan pemberian pelayanan sosial.

2. Non-pemerintah : bisa berupa macam-macam organisasi sosial, politik dan


keagamaan.
Konsep, kegunaan dan peran Electronic adminitrasion/ electronic government, serta
revitaslisasi birokrasi pelayan publik.
Ada empat mampaat E-Adm/E-Gov, yaitu sebagai berikut
1. Meningkatkan efesiensi dan cost-effectiveness.
2. Memberikan bernagai pelayanan kepada masyarakat.
3. Memberikan akses informasi kepada masyarakat.
4. Penyelengaraan pemerintahan lebih bertanggung jawab dan transparan.
G. Penyelenggaraan Manajemen Pelayanan, Bentuk dan Sasaran Layanan
Penyelenggaraan manajeman pelayanan
Manajemen pelayanan adalah manajemen proses, yaitu sisi manajemen yang
mengatur dan mengendalikan proses peayanan, agar mekanisme kigiatan pelayanan
dapat nerjalan tertib, lancer, tepat mengenai sasaran yang memuaskan bagi pihak yang
dilayani.
Dalam pelayanan sebai proses, unsur-unsurnya sebagai berikut :
1. Tugas layanan
2. Prosedur layanan
3. Kegiatan layanan
4. Pelaksanaan layanan
Penangung jawab fungsi pelayanan umum di Negara RI adalah pemerintah,
sebagai badan eksekutif menjalankan pemerintahan sehari-hari berdasarkan UUD
1945 beserta peraturan perundang-undangan yang berlaku.
H. Pengukuran Efektifitas Organisasi
Dari segi struktur efektifitas organisasi dipengaruhi oleh faktor (1) tingkat
desentrasi; (2) spesialisasi fungsi; (3) formalisasi; (4) rentang kendali; (5) ukuran;
(besarnya) dan (6) ukuran (besarnya) unit kerja.
Namun ada tujuan umum mengenai peranan teknologo dalam oraganisasi bahwa
demensi teknologi memprihatinkan proses-proses mekanis atau intelektual, lewat
mana organisasi mengubah masukan atau bahan menjadi lauaran dalam mengejar
tujuan-tujuan organisasi.
Dari segi ukuran , bentuk dan tujuannya, teknologi dapat digolongkan sebagai
berikut.
1. Teknologi operasi : yang mengutamakan teknik-teknik yang dipergunakan
dalam kaitan arus kerja sebuah organisasi.
2. Teknologi bahan : yang merumuskan perhatian pada jenis-jenis bahan yang
dipakai dalam arus kerja.
3. Teknologi pengetahuan yang memusatkan perhatian pada jumlah, kualitas,
tinkat kerumitan, dan pemecaran informasi yang relevan bagi pengambilan
keputusan dan produksi dalam organisasi.

I. Isu, Hambatan, dan Arah Kebijakan Pelayanan Umum, serta Langkah-langkah


yang perlu diambil
Berbagai isu pelayanan umum.
1. Kemampuan dan cara pendekatan dan aparatur Negara dalam penyelengaraan
pembangunan yang menjangkau kebutuhan seluruh lapisan masyarakat belum
memadai. Sebaiknya, sebagian besar masyarakat belum sepenunya menyadari
bahwa pembagunan adalah untuk mereka sehingga mereka tidak memahami hak
dan kewajibannya
2. Kondisi yang memperhatinkan masyarakat saat ini adalah peran birokrasi atau
tempatnya oknum-okmnum birokrat yang Nampaknya makin menjauh dari peran
utamanya sebagai pelayan masyarakat, bahkan cendrung berperan sebagai
pengusaha.
3. Penyakin birokrasi yang paling memperhatiakan adalah penyalagunaan kekuasaan
atau jabatan, seperti penyalagunaan dana yang lazim dikenal dengan
penggemukan pembiayaan

RINKASAN 5
PERUBAHAN SOSIAL DAN PEMBAGUNAN
A. Konsep dan Pendekatan Perubahan Sosial
Konsep dan pendekatan perubahan sosial
Perubahan sosial dialami oleh setiap masyarakat yang pada dasarnya tidak dapat
dipisakan degan perubahan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Perubahan
sosial dapat meliputi semua segi kehidupan masyarakat, yaitu perubahan dalam cara
berpikir dan interaksi sesame warga menjadi semakin rasional; perubahan tatacara
kerja kehidupan ekonomi menjadi semakin kormesial; perubahan tata cara kerja
sehari-hari yang makin ditandai degan pembagian kerja pada spesialisasi kegiatan
yang makin tajam; perubahan dalam kelembagaan dan kepemimpinan masyarakat
yang makin demokratis; perubahan dalam tata cara dan alat-alat kegiatan yang makin
modern dan efesien, dan lain-lainnya.
Pendekatan teori-teori modern terhadap perubahan sosial
Pendekatan ekulibrium menyatakan bahwa terjadinya perubahan sosial dalam suatu
masyarakat adalah karena tergaggunya keseimbangan di antara unsur-unsur dalam
sistem sosial di kalangan masyarakat yang bersangkutan, baik karena adanya
dorongan dari faktor lingkungan (ekstrem) sehingga memerlukan penyesuaian

(adaptasi) dalam sistem sosial, seperti yang dijelaskan oleh Talcott Parsons, maupun
karena terjadinya ketidak seimbangan internal seperti yang dijelaskan degan teori
kesenjangan budaya (cultural lag) oleh William orburn.
B. Bentuk dan Aspek Perubahan Sosial
Bentuk-bentuk perubahan sosial
Dilaihat dari segi bentuk-bentuk kejadiannya, maka perubahan sosial dapat
dibahas dalam tiga dimensi atau bentuk, yaitu : perubahan sosial menurut kecepatan
prosesnya, ada yang berlangsung lambat (evolusi) da nada yang cepat (revolusi).
Perubahan sosial menurut skala atau besar pengaruhnya luas dan dalam, serta ada
pengaruhnya relative kecil terhadap kehidupan masyarakat. Dan yang ketiga, adalah
perubahan sosial menurut proses terjadinya, ada yang direncanakan (planned) atau
dikehendaki, serta ada yang tidak direncanakan (unplanned).
Aspek-aspek perubahan sosial dapat dibahas dalam dua dimensi. Pertama, aspek
yang dikaitkan degan lapisan-lapisan kebudayaan yang terdiri dari aspek material,
aspek norma-norma (norms) dan aspek nilai-nilai (values). Kedua, aspek yang
dikaitkan degan bidang- bidang kehidupan sosial masyarakat, yang dalam kegiatan
belajar ini dikemukakan bidang kehidupan ekonomi, bidang kehidupan .keluarga, dan
lembaga-lembaga masyarakat
C. Faktor-Faktor Perubahan Sosial
Faktor-faktor internal yang mempengaruhi perubahan sosial adalah menyakut
faktor-faktor yang berkaitan degan kondisi atau perkembangan yang terjadi dalam
lingkungan masyarakat yang mendorong perubahan sosial. faktor-faktor ini terutama
mencakup faktor demografis (kependudukan), faktor penemuan-penemuan baru, serta
adanya komplik internal dalam masyarakat.
Berbagai faktor eksternal yang mendorong perubahan sosial meliputi kondisi
atau perkembangan yang terjadi diluar lingkungan masyarakat yang bersangkutan,
tetapi secara langsung maupun tidak langsung maupun tidak langsung mempengaruhi
perubahan sosial dalam masyarakat bersangkutan.
D. Perubahan Struktur dan Sikap Masyarakat Terhadap Perubahan
Sikap golongan-golongan masyarakat terhadap perubahan.
Dalam proses pembaharuan diperlukan adanya kerja sama antara beberapa
golongan elit dalam masyarakat. Golongan elit ini terdiri atas : pertama, elit politik
yaitu mereka yang termasuk dalam kelompok yang mengesahkan kehendak politik
bangsa. Kedua, elit administrative yaitu kelompok yang tugasnya untuk
menerjemahkan keinginan-keinginan politik, dan dapat pula memberikan input di

dalam perumusan kehendak politik. Ketiga, elit cendikiawan yaitu kelompok pemikir
yang diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadap usaha
pembaharuan.
Selain golongan-golongan elit tersebut, terdapat tiga golongan besar dalam
masyrakat luas. Pertama, golongan tradisional, yaitu golongan yang kareana
pandangan, nilai-nilai atau kepentingan tertentu, enggan menerima pembaruhan.
Kedua, golongan modernis, yaitu mereka yang berorentasi kepada masa depan,
bersedia menerima unsur-unsur kultural dari luar yang dianggap sesuai dan
mendorong usaha pembaharuan. Kitiga, golongan ambivalent, yaitu mereka yang
hanya mengikuti arus, dan pada hakikatnya enggan terhadap perubahan-perubahan
karena selalu mangandung resiko.
E. Perubahan Sosial dan Pembangunan Ekonomi
Pegeseran struktur ekonomi dan perubahan sosial
Uraian pokok bahasan ini mencakup beberapa pendekatan yang bisa digunakan
untuk menilai pergeseran strktur ekonomi dan perubahan sosial, di antaranya adalah
pegeseran

Tingkat

Partisipasi

Angktan

Kerja

(TPAK),

pergeseran

Tinkat

Pengangguran Terbuka (TPT), pergeseran tenaga kerja menurut kembaga pekerjaan,


menurut jenis pekerjaan, dan pegeseran menurut status pekerjaan.
Dinamika perubahan ketenagakerjaan dan hubungan industrial, aspek yang
berkaitan dengan dinamika perubahan ketenagakerjaan dan hibungan industrial adalah
aspek yang menyangkut kondisi normative (kewajiban) yang harus dipenuhi kedua
belah pihak yaitu tenaga kerja dan perusahaan/unit usaha tempat bekerja. Dinamika
ini bervariasi dilihat dari segi waktu, lokasi usaha, tempat usaha, dan jenis usaha.
Urbanisasi telah mengiringi begitu bayak penduduk desa berbondong-bondong
masuki kota-kota, dan telah mendorong perubahan ekonomi yang tinggi, melalui
berbagai kegiatan yang produktif. Juga telah mendorong tumbunya kehidupan
masyarakat modern yang lebih terbuka, rasional, dan demokratis.
F. Perubahan Sosial dan Pembangunan Kesejateraan Rakyat
Perubahan sosial dan pelayanan pendidikan.
Faktor pendidikan dapat merupakan faktor penyebab dan sekaligus dapat menjadi
faktor yang disebabkan oleh perubahan sosial di bidang lain, seperti dari bidang
ekonomi dan politik. Perubahan sosial dilihat dari pendekatan dalam bidang
pendidikan bukan merupakan perubahan yang berlangsung secara alamiah, tapi
didalamnya diperlukan perncanaan, kemudian dilaksanakan, dan selanjutnya
dievaluasi untuk melihat perubahan pendidikan yang terjadi dalam satu priode.

Perubahan sosial dan pelayanan kesehatan. Terdapat berbagai idikator


pembagunan dan perubahan sosial yang berkaitan degan pelayanan kesehatan,
diantaranya adalah angka kematian bayi, angka harapan hidup, persentase penduduk
yang mengalami keluhan kesehatan, persentase angka morbiditas, persentase
penduduk yang melakukan pengobatan sendiri, dan persentase kelahiran yang
ditolong tenaga medis.
G. Perubahan Sosial, Pembangunan Agama dan Budaya
Nilai-nilai tradisional masyarakat diartikan sebagai salah satu wujud sistem sosial
yang berlaku pada warga masyarakat tertentu, nilai tersebut hidup dalam alam pikiran
sebagian besar warganya,dan sekaligus berfungsi sebagai pedoman tertinggi dari
sikap mental, cara berfikir dan tingka laku.
Berkembangnya ilmu pengetahuan Negara barat secara langsung maupun tidak
langsung mempengaruhi kelestarian nilai-nilai tradisional. Untuk mengatasi hal ini
diperlukan kepekaan khusus untuk menyeleksi pengaruh barat yang relepan degan
budaya timur.
H. Perubahan Sosial dan Pembagunan Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan
Perubahan sosial dan pembagunan bidang ketertiban dan keamanan. Uraian
kegitan belajar ini diawali beberapa indikator yang berkaitan perubahan sosial dalam
bidang ketertiban dan keamanan. Secara garis besar, indikator itu meliputi pertahanan
ketertiban dan keamanan yang bersifat internal dan eksternal.
Selanjutnya diuraikan tentang pembagunan ketertiban dan keamanan dengan
mengunakan pendekatan sistem. Pendekatan sistem bermakna bahwa suatu sistem
terdiri dari berbagai subsistem untuk terciptanya ketertiban dan keamanan. Sebagai
contoh, dalam unsur masukan, maka perubahan sosial dalam pembagunan ketertiban
dan keamanan dapat dikaji melalui sumber daya yang digunakannya, seperti sumber
daya manusia (penambahan jumlah dan kualitas personil TNI dan Polri) dan sumber
daya bukan manusia, seperti mempercanggih teknologi alat perang.
I. Perubahan Sosial dalam Era Globalisasi dan Reformasi Indonesia
Dampak globalisasi terdahap perubahan sosial di indonesia.
Pengertian globalisasi lebih menekankan kepada kesamaan produk yang dapat
dibuat dan di pasarkan secara bersamaan oleh sekelompok Negara di berbagai belahan
dunia. Secara sederhana, subtansi makna dari globalisasi adalah suatu keadaan dimana
segenap aspek perekonomian (seperti pasokan dan permintaan bahan baku, informasi,
transportasi tenaga kerja, keuangan distribusi, serta kegiatan-kegiatan pemasaran)
menyatu secara terintegritas dan semakin terjadi ketergantungan satu sama lain

dengan skala internasional. Bentuk kegiatan dilakukan dengan memasarkan produk


atau menciptakan merek global seperti Coca-cola, McDonald, Kodak dan produk
internasional lainya.
Reformasi dan perubahan sosial di indonesia. reformasi dapat diartikan sebagai
proses perubahan dari arah yang kurang baik maenjadi lebih baik. Misalnya
pemerintah yang duluhnya atoriter berubah menjadi demokratis. Reformasi sendiri
telah lama berlangsung di berbagai Negara, namun di tanah air, sejak tahun 1998.
Ruang lingkup reformasi melifuti seluruh aspek pembagunan. Maisalnya dalam
bidang ekonomi, diperlukan upaya menggeser posisi Negara kita sebagai Negara
miskin, meningkatkan infrastruktur ekonomi seperti kondisi jalan dan perumahan
kebutuhan listrik di laur jawa. Pada aspek pemerintahan, diperlukan upaya
memperbaiki pelayanan public pada bidang sosial, seperti dalam aspek kesehatan dan
pendidikan yang mencerminkan indek pembangunan manusia (IPM). Aspek
keamananmengubah adanya acaman disentgrasi bangsa, seperti di Maluku, papua dan
Aceh.