Anda di halaman 1dari 18

Journal of PharmaSciTech

2012; 1(2):20-26
Review Article

Epilepsi dan Penatalaksanaannya


Hirak Kumar Mukhopadhyay Chandi Charan Kandar , Sanjay Kumar Das , Lakshmikanta Ghosh ,
Bijan Kumar Gupta
1Institute of Pharmacy, Jalpaiguri, Jalpaiguri-735 101, W.B., India
2Department of Pharmaceutical Technology, Jadavpur University, Kolkata-700 032, W.B., India
*Address for correspondence: E-mail: hirakju@yahoo.com

Abstrak
Saat ini, orang - orang menghadapi berbagai jenis stres dalam kehidupan seharihari dengan cepat dan sebagian besar penduduk dunia menderita berbagai
gangguan neurologis. Epilepsi adalah salah satu gangguan neurologis otak yang
paling umum terjadi, mempengaruhi sekitar 50 juta orang di seluruh dunia dan
90% dari angka kejadian tersebut berasal dari negara-negara berkembang. Faktor
genetik serta infeksi pada otak, stroke, tumor dan demam tinggi dapat
menyebabkan epilepsi. Hal ini memberikan beban ekonomi yang besar pada
sistem kesehatan negara-negara yang terkena, serta memberikan stigma dan
diskriminasi terhadap pasien dan bahkan keluarganya di masyarakat, tempat kerja,
sekolah dan rumah. Banyak pasien epilepsi menderita gangguan emosi berat,
gangguan perilaku dan anti sosial berat. Ada banyak tipe kejang dan mekanisme
di otak yang menghasilkan kejang juga berbeda. Ada dua tanda yang
menggambarkan kejang secara umum yaitu hipereksitabilitas neuron dan
hipersinkronisasi sirkuit neuron. Berbagai variasi mekanisme mengubah
keseimbangan antara eksitasi dan inhibisi untuk mempengaruhi regio otak baik
secara lokal ataupun secara luas sehingga terjadi hipereksitabilitas dan
hipersinkronisasi. Tujuan dari ulasan (review) ini adalah untuk mendiskusikan
tentang sejarah, epidemiologi, etiologi, patofisiologi, klasifikasi epilepsi, gejala,
diagnosis, manajemen epilepsi dan trend yang dapat terjadi dimasa depan.

Kata

Kunci

hipersinkronisasi

Pendahuluan

Obat

anti-epilepsi,

patofisiologi,

kejang,

epidemiologi,

Epilepsi mempengaruhi hingga 1% dari populasi, sehingga epilepsi menjadi


gangguan neorologis serius kedua setelah stroke yang sering terjadi.1 Sekitar 50
juta orang di seluruh dunia menderita epilepsi dan 90% dari mereka berasal dari
negara-negara berkembang.2 Dalam beberapa tahun terakhir, pemahaman kami
tentang epilepsi telah meningkat dalam beberapa hal. Epilepsi ini adalah suatu
gangguan neurologis kronis umum yang terjadi karena proses eksitasi yang tidak
terkontrol sehingga terjadi gangguan keseimbangan antara eksitasi dan inhibisi
cerebral, yang ditandai dengan kejang berulang tanpa faktor pencetus. 3-5 Saat ini,
ada suatu bukti yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan antara otak yang
imatur dan matur berhubungan dengan patofisiologi dan konsekuensi dari kejang.
Bukti ini juga menyatakan adanya berbagai jenis kejang yang bervariasi
dalam

tingkat

keparahan,

penampilan,

penyebab,

konsekuensi

serta

manajemennya.6 Kejang berhubungan dengan tanda dan atau gejala karakteristik


abnormal, akibat aktivitas neuron yang berlebihan dan tidak sinkron di otak.7
Kejang epilepsi sering menyebabkan gangguan transien pada kesadaran, yang
dapat meninggalkan risiko membahayakan bagi penderita dan sering mengganggu
pendidikan dan pekerjaan. Hal ini dapat terjadi secara universal, tanpa
memandang usia, jenis kelamin, geografis, kelas sosial atau batasan ras. 8 Epilepsi
lebih mungkin terjadi pada anak-anak atau orang di atas 65 tahun ; namun epilepsi
juga dapat terjadi pada usia berapapun.9 Epilepsi bukan merupakan satu gangguan,
tetapi merupakan suatu sindrom dengan gejala jauh berbeda, yang melibatkan
aktivitas listrik abnormal secara episodik pada otak. Semua bentuk sindrom
epilepsi tidak terjadi seumur hidup, beberapa bentuk terbatas, khususnya pada
masa kanak-kanak. Pengobatan konvensional epilepsi terutama terdiri atas obat
antikonvulsan. Namun, lebih dari 30% orang dengan epilepsi, kejangnya tidak
dapat dikontrol bahkan dengan pengobatan terbaik yang ada.10-11 Meskipun obat
antikonvulsan dapat mengendalikan atau mengurangi frekuensi kejang, ada
beberapa pasien yang menunjukkan sedikit atau tidak ada perbaikan terhadap
pemberian obat. Oleh karena itu, operasi mungkin dapat dipertimbangkan dalam
kasus kasus yang sulit. Terapi hanyalah pengobatan simptomatis untuk
menghambat kejang, tapi tidak efektif digunakan untuk profilaksis atau
penyembuhan. Kepatuhan pasien terhadap pengobatan adalah masalah besar

karena terapi diberikan dalam jangka panjang dan adanya efek samping yang tidak
diinginkan dari banyak obat.12 Tujuan dari overview ini adalah untuk memberikan
pertimbangan umum dan manajemen epilepsi.
Sejarah Epilepsi
Kata epilepsi berasal dari kata Yunani 'epilepsia' yang berarti 'untuk
memegang'13, merupakan bentuk kombinasi dari kata 'epi' yang berarti setelah dan
'lambanein' yang berarti untuk mengambil. Dahulu kala, epilepsi dihubungkan
dengan kemasukan setan. Epilepsi dianggap sebagai penyakit suci, sejumlah
orang-orang percaya bahwa epilepsi mengenai orang-orang yang dipegang oleh
setan atau keadaan yang terjadi pada orang-orang epilepsi merupakan kiriman dari
dewa. Bahkan di antara generasi Hmong animisme, epilepsi dianggap sebagai
serangan oleh roh jahat, tetapi orang yang terkena tersebut justru dihormati
sebagai dukun karena pengalaman eksplisit yang dialaminya.
Referensi yang ada menyatakan bahwa dalam kebanyakan budaya bangsa,
orang yang memiliki epilepsi dipandang rendah dan bahkan mereka terus
diasingkan. Di Salpetriere, tempat awal munculnya neurologi modern, JeanMartin Charcot mengamati bahwa orang-orang epilepsi itu semuanya tidak ada,
melainkan hanya keterbelakangan mental, karena mereka dipengaruhi oleh
penyakit sifilis kronis atau criminally insane. Selain itu, di bagian lain yaitu di
Afrika, tepatnya di Tanzania, sampai hari ini orang percaya bahwa epilepsi
terhubung dengan roh-roh jahat, sihir atau keracunan atau keadaan yang
menular.14 Orang Romawi percaya bahwa epilepsi adalah kutukan yang diberikan
dewa dan dikenal sebagai Morbus comitialis (penyakit aula pertemuan).
Sampai hari ini, dengan berjalannya waktu, orang-orang mulai memahami
dan stigma yang terjadi tersebut secara bertahap mulai menurun terutama di
negara-negara maju. Hippocrates mengatakan bahwa tidak butuh waktu lama
untuk membasmi ancaman epilepsi karena itu bukan penyakit yang bersifat
ketuhanan atau gaib. 15

Epidemiologi

Epilepsi merupakan salah satu penyakit neurologis serius yang paling sering
terjadi.16 Diperkirakan ada 55 orang dengan epilepsi di India, 20 orang di USA
dan 3 orang di UK. Setiap tahun 120 per 100.000 orang di Amerika Serikat datang
ke pusat kesehatan karena kejang yang baru terjadi. Setidaknya 8% dari populasi
umum memiliki satu kali kejang, namun tidak menderita epilepsi. Tingkat
kekambuhan kejang tanpa faktor pencetus dari kejang pertama kali dalam 5 tahun
terjadi pada 23% dampai 80%.6 Usia kejadian epilepsi adalah 44 per 100.000
orang dalam setahun. Setiap tahun sekitar 125.000 kasus epilepsi baru terjadi. Hal
ini terjadi pada 30% orang dengan usia lebih muda dari 18 tahun pada saat
didiagnosis. Disisi lain, frekuensi epilepsi yang relatif tinggi pada orangtua juga
sudah terjadi. Setidaknya 10% dari pasien di fasilitas perawatan jangka panjang
menggunakan satu obat antiepilepsi (AED)6
National Sentinel Audit of Epilepsy-Related Deaths dipimpin oleh Epilepsy
Bereaved menarik perhatian untuk masalah penting ini. Auditor mengungkapkan;
"1.000 kematian terjadi setiap tahun di U.K karena epilepsi" dan sebagian besar
dari mereka disertai kejang dan 42% dari kematian sebenarnya berpotensi untuk
dihindari.18
Penyebab Epilepsi
Penyebab epilepsi belum diketahui. Kata epilepsi tidak menunjukkan
tentang penyebab atau tingkat keparahan kejang seseorang. Beberapa kasus
epilepsi disebabkan oleh faktor genetik, tetapi juga dapat diakibatkan karena
trauma otak yang disebabkan oleh pukulan pada kepala, stroke, infeksi, demam
tinggi atau tumor. Selain itu, telah diamati bahwa faktor keturunan (genetik)
memegang peran penting sebagai penyebab epilepsi pada anak-anak yang sangat
muda. Namun, faktor genetik juga bisa menjadi faktor untuk semua orang dari
berbagai usia. Sebagai contoh, tidak semua orang dengan trauma kepala berat
akan berkembang menjadi epilepsi.
Sindrom epilepsi tertentu disebut sebagai refleks epilepsi yang memerlukan
faktor pemicu khusus untuk terjadinya kejang seperti membaca, berkedip karena
cahaya lampu dan pemicu seperti stres emosional, tidur karena kurang tidur itu
sendiri, stres panas, alkohol dan penyakit demam. Pengaruh berbagai pencetus

bervariasi terhadap sindrom epilepsi. Siklus menstruasi pada wanita dengan


epilepsi dapat mempengaruhi pola kejang yang berulang, epilepsi katamenial pada
kejang berhubungan dengan siklus menstruasi.21 Ada berbagai penyebab epilepsi
yang biasa terjadi pada kelompok umur yang berbeda, yaitu :
1. Pada masa neonatus dan awal masa bayi, penyebab yang paling sering adalah
ensefalopati iskemia-hipoksik, infeksi CNS, trauma, abnormalitas CNS
kongenital dan gangguan metabolik.
2. Pada akhir masa bayi dan awal masa anak-anak, penyebab paling sering adalah
kejang demam bisa disebabkan oleh infeksi CNS dan trauma.
3. Pada masa kanak-kanak, sindrom epilepsi secara umum dapat ditemukan.
4. Pada masa remaja dan dewasa, penyebab lebih sering karena akibat sekunder
dari lesi CNS.
5. Pada orang dewasa, penyakit cerebrovaskular adalah penyebab paling sering,
penyebab lainnya terdiri atas tumor CNS, trauma kepala dan penyakit
degeneratif lain seperti demensia.22

Patofisiologi Epilepsi
Kejang merupakan manifestasi paroksismal dari korteks serebral. Kejang
terjadi karena ketidakseimbangan yang terjadi secara tiba-tiba antara eksitasi dan
inhibisi di jaras neuron kortikal. Fisiologi dasar dari episode kejang terdeteksi
pada membran sel yang tidak stabil atau daerah sekitarnya / sel pendukung yang
berdekatan dengan membran sel. Kejang berasal dari substansia nigra area
kortikal atau subkortikal. Awalnya, terjadi sejumlah kecil arus neuron yang
abnormal. Selanjutnya, konduktansi membran normal, namun inhibisi sinaps
menurun sehingga proses eksitasi menyebar berlebihan baik secara lokal sehingga
menyebabkan terjadinya kejang fokal atau menyebar lebih luas sehingga
menyebabkan terjadinya kejang umum. Onset ini menyebar melalui jaras
fisiologis melibatkan area yang berdekatan sampai ke area yang terpencil.
Kelainan konduktansi kalium, kelainan pada aktivitas voltase kanal ion,
defisiensi di membran ATPase yang berhubungan untuk transpor ion dapat
menyebabkan membran neuron tidak stabil dan menyebabkan kejang.
Neurotransmitter tertentu (seperti glutamat, aspartat, asetil kolin, norepinefrin,
histamin, corticotropin releasing factor, purin, peptida, sitokin dan hormon

steroid) juga dapat meningkatkan eksitasi dan penyebaran aktivitas neuron.


Sebaliknya, -amino butyric acid (GABA) dan dopamin menghambat penyebaran
dan aktivitas neuron.
Selama kejang, permintaan aliran darah ke otak meningkat untuk
mengurangi CO2 dan membawa substrat untuk aktivitas metabolisme neuron. Jika
kejang semakin lama, otak akan lebih lama mengalami iskemia yang dapat
menyebabkan destruksi neuron dan kerusakan otak.8
Mutasi dalam beberapa gen mungkin berhubungan dengan beberapa jenis
epilepsi. Gen yang mengkode subunit protein voltage-sensitive dan ligandactivated ion channels telah diketahui berhubungan dengan epilepsi umum dan
sindrom kejang pada bayi. 23
Salah satu mekanisme yang berspekulasi untuk beberapa bentuk epilepsi
yang diturunkan adalah mutasi gen pada kode protein kanal sodium. Kelainan
kanal sodium ini terbuka untuk waktu yang lama sehingga menyebabkan hiper
eksitasi neruron yang menyebabkan neurotransmiter eksitasi glutamat
dilepaskan dalam jumlah besar, melalui ikatan dengan neuron glutamanergik
terdekat sehingga memicu pelepasan kalsium yang berlebihan di post sinaps sel.
Hal ini menjadi neurotoksin bagi sel yang terkena.16
Kejang
Tabel 1. Klasifikasi Internasional Kejang Epilepsi
Tipe
Deskripsi
1. Kejang partial
A. Sederhana (tanpa penurunan kesadaran)
(Kejang yang berasal dari
1. Dengan gejala motorik.
2. Dengan sensorik khusus atau soma
bagian tertentu dari korteks
sampai gejala sensorik.
serebri)
3. Dengan gejala psikis.
B. Kompleks (dengan penurunan kesadaran)
1. Onset parsial sederhana yang diikuti oleh
penurunan kesadaran dengan atau tanpa
automatisme.
2. Penurunan kesadaran dengan atau tanpa
automatisme.
C. Umum

sekunder

(kejang

yang

awal

onsetnya

bersifat

parsial,

kemudian

berkembang menjadi kejang tonik klonik


umum.
II. Kejang Umum
(kejang yang bersifat simetris
bilateral dan tanpa onset lokal)
III.Kejang
yang
tidak
terklasifikasi
IV. Status Epileptikus
Perbedaan tipe kejang terlihat pada Tabel 1 dan ini merupakan deskripsi singkat
dari kejang.
I.

Kejang Partial
Dalam kejang parsial sederhana (epilepsi fokal kortikal) fokus kejang pada
konteks motorik menghasilkan serangan berupa kejang yang berulang dari
kelompok otot tertentu. Pasien kehilangan kontrol gerakan volunter tubuh, tanpa
disertai penurunan kesadaran.
Dalam kejang parsial kompleks, kejang dimulai secara lokal dan sering tetap
bersifat lokal. Gejala terdiri atas kontraksi otot involunter, pengalaman sensorik
yang abnormal atau kelainan otonom, dan efek pada mood dan perilaku, sering
disebut sebagai epilepsi psikomotorik. Fokus kejang terletak di lobus temporal. 26
Serangan kejang umum sekunder, yaitu diawali dengan kejang parsial kemudian
berubah menjadi kejang tonik klonik umum (grandmal).

Ii. Kejang Umum


Kejang umum melibatkan seluruh otak, termasuk sistem reticular dan
sehingga menghasilkan aktivitas listrik abnormal di kedua hemisfer otak. Adanya
penurunan kesadaran menjadi karakteristik kejang umum. Kejang Absense
(petitmal) lazim terjadi pada anak-anak terkait dengan hilangnya kesadaran sesaat,
tapi tidak ada komponen otot yang terlibat atau sedikit gerakan menyentak
bilateral (dimulai dari kelopak mata yang berkedip sampai gerakan klonik yang
7

lebih kuat.28 Gejala petitmal biasanya ditandai dengan keadaan tidak sadar 3
sampai 30 detik atau penurunan kesadaran. Kejang mioklonik yaitu kejang
epilepsi yang ditandai dengan manifestasi motorik berupa mioklonus. Selain itu,
kejang klonik ditandai dengan hilangnya kesadaran, gejala otonom dan karakter
klonik yang berirama pada semua otot. Selanjutnya, kejang tonik berhubungan
dengan hilangnya kesadaran dan adanya gejala otonom yang disertai dengan
kontraksi tonik pada ekstremitas. Kejang tonik-klonik (grandmal) ditandai dengan
kontraksi awal yang kuat dari seluruh otot otot tubuh sehinga menyebabkan
spasme tonik. Respirasi berhenti dan defekasi, mikturisi, dan salivasi sering
terjadi pada saat fase ini berlangsung, hal ini terjadi selama satu menit dan diikuti
oleh serangkaian gerakan, dan kejang yang sinkron. Pasien tetap tidak sadar
selama beberapa menit dan kemudian berangsur-angsur pulih, merasa sakit dan
bingung.27 Kejang atonik (akinetik) berhubungan dengan keadaan tidak sadar
disertai relaksasi semua otot karena inibisi yang berlebihan, sehingga pasien dapat
terjatuh.30 Infantile spasm (hypsarhythmia) berhubungan dengan spasme otot
intermiten dan penurunan mental yang progresif.
III.

Kategori Yang Tidak Terklasifikasi


Pada epilepsi dan sindrom epilepsi terdapat kategori yang tidak

terklasifikasi. Sindrom khusus seperti kejang demam dimana kejang berhubungan


dengan situasi yang spesifik. Sekitar 2 sampai 4% anak-anak mengalami kejang
terkait dengan penyakit lain. Hanya 2 sampai 3% kejang pada anak-anak ini yang
berubah menjadi epilepsi di tahun berikutnya. Keadaan ini enam kali lipat lebih
berisiko dibandingkan dengan anak yang tidak menderita kejang demam. Ada
beberapa faktor yang berhubungan dengan peningkatan risiko untuk berkembang
menjadi gangguan neurologi epilepsi atau keterlambatan perkembangan, yaitu
adanya riwayat keluarga epilepsi atau pernah mengalami kejang demam
kompleks. Untuk anak-anak yang berisiko tinggi untuk terjadinya kejang demam
dan epilepsi, diazepam rectal pada saat demam dapat mencegah kejang yang
berulang dan menghindari efek samping dari pengobatan jangka panjang.12
IV.

Status Epileptikus

Status epileptikus dapat didefinisikan sebagai kejang yang lama yang terjadi
lebih dari 30 menit, atau periode kejang yang berulang dengan adanya penurunan
kesadaran di antara kejang, walaupun kejang berulang terjadi hanya lebih dari 5
10 menit tetap dapat dipertimbangkan sebagai status epileptikus sehingga
membutuhkan pengobatan. Setiap jenis kejang dapat menyebabkan status
epileptikus tapi status epileptikus tonik klonik umum merupakan tipe yang paling
sering terjadi dan berbahaya.
Pengobatan awal terdiri atas tatalaksana mempertahankan respirasi dan
tekanan darah. Kemudian, pemberian obat antiepilepsi berupa diazepam I.V atau
rektal diikuti fenitoin (atau alternatif lain seperti phenobarbiton klometearat atau
paraldehid) untuk mencegah kejang berulang. Setelah kejang dikendalikan,
fenitoin natrium I.V dapat diberikan dengan melakukan pemantauan pada tekanan
darah dan EKG. Jika tindakan ini tidak dapat mengontrol kejang, obat anestesi
berupa barbiturat aktivitas singkat seperti tiofental dapat diberikan dan pasien
seharusnya diberikan tatalaksana ventilasi.
Anak-anak dapat menunjukkan perilaku mirip dengan kejang epilepsi ,
namun ternyata bukan disebabkan oleh epilepsi. Seperti pada kondisi :
1. Dalam menatap penuh perhatian (attentive staring).
2. Benign shudders (anak di bawah usia 2 tahun, biasanya ketika mereka lelah
atau bersemangat).
3. Self gratification behaviors (mengangguk, goyang, membenturkan kepala).
4. Gangguan Konversi (memukul-mukul dan menyentak kepala). Gangguan
konversi dapat dibedakan dari epilepsi karena episodenya tidak pernah
terjadi selama tidur dan tidak melibatkan inkontinensia atau trauma mental.
Gejala Kejang
Kejang adalah karakteristik pada epilepsi yang berhubungan dengan
gangguan episodik impuls saraf frekuensi tinggi di otak. Gejala dan tanda-tanda
klinis kejang bergantung pada lokasi lesi epilepsi di korteks dan tingkat serta pola
penyebaran lesi epilepsi di otak. Misalnya, lesi di korteks motorik menyebabkan
kejang, lesi di hipotalamus menyebabkan gangguan otonomik perifer dan
keterlibatan formasi reticularis medulla oblongata bagian atas dapat menyebabkan
hilangnya kesadaran.27
Diagnosis

Sejumlah tes yang berbeda telah dikembangkan untuk menentukan ada


tidaknya epilepsi pada individu dan jenis epilepsinya.
Pemantauan EEG
Elektroensefalogram

sangat

berguna

dalam

mendiagnosis

berbagai

gangguan kejang. EEG mungkin normal pada beberapa pasien yang memiliki
diagnosis klinis epilepsi bahkan banyak orang yang tidak menderita epilepsi
menunjukkan beberapa aktivitas otak yang tidak biasa pada EEG, hal ini sering
tidak sengaja ditemukan ketika EEG digunakan untuk menentukan sifat kejang
seseorang.
Brain Scan
Ini merupakan alat diagnostik yang penting, yang berguna untuk
mengidentifikasi tumor otak, kista, dan kelainan struktural lainnya di otak. Scan
otak yang paling sering digunakan yaitu CT (computed tomography), PET
(positron emission tomography) dan MRI (Magnetic Resonance Imagine), SPECT
(Single Photon Emission Computed Tomography), MRS (Magnetic Resonance
Spectroscopy). CT & MRI scan dapat menunjukkan struktur otak. PET dan MRI
dapat digunakan untuk memonitor aktivitas otak dan mendeteksi adanya kelainan.
SPECT digunakan untuk menentukan fokus kejang di otak. MEG (magneto
encephalogram) mendeteksi sinyal magnetik yang dihasilkan oleh neuron. MRS
dapat mendeteksi kelainan pada proses biokimia otak.
Riwayat Kesehatan
Riwayat kesehatan termasuk gejala dan durasi kejang membantu dalam
menentukan epilepsi dan jenis kejang pada pasien.

Tes Darah
Kejang kadang-kadang disebabkan oleh racun atau gangguan metabolik,
dalam terapinya yang tepat harus diarahkan pada kelainan tertentu misalnya
adanya hipokalsemia. Pemeriksaan sampel darah sering dilakukan untuk
mengetahui adanya gangguan metabolik atau genetik yang mungkin berhubungan
dengan kejang. Sampel darah juga diperiksa untuk kasus seperti infeksi,
keracunan timbal, anemia dan diabetes yang dapat menyebabkan atau memicu
kejang.31
10

Manajemen Epilepsi
Istilah antikonvulsan dan antiepilepsi sering tertukar dalam penggunaannya.
Antikonvulsan adalah obat yang menghambat pencetus kejang pada hewan
laboratorium, sedangkan obat antiepilepsi adalah obat yang digunakan untuk
mengontrol epilepsi.32
Prinsip Manajemen33
1. Pengobatan terhadap faktor penyebab epilepsi, misalnya neoplasma cerbral.
2. Pasien harus diberikan edukasi tentang penyakitnya, lama pengobatan dan
dibutuhkan kepatuhan dalam minum obat.
3. Hindari faktor pencetus seperti alkohol, kurang tidur, dan stres emosional.
4. Keadaan alami harus diantisipasi, misalnya serangan yang terjadi disekitar
periode alami (menstruasi) wanita.
5. Obat antiepilepsi diberikan jika tipe dan frekuensi kejang membutuhkan obat
tersebut. Misalnya, serangan lebih dari satu kali dalam 6-12 bulan.

Obat antiepilepsi dikelompokkan pada Tabel 2 dan Tabel 3 dan parameter


farmakokinetiknya dijabarkan dalam Tabel 4.
Tabel 2. Klasifikasi Obat Yang Digunakan Untuk Terapi Epilepsi 34
Tipe Kejang
Obat
anti
kejang Obat anti kejang yang

Kejang Parsial

konvensional

baru-baru

Carbamazepin

dikembangkan
Gabapentin

Fenitoin

Lamotrigine

Fenobarbital
Primidone
a. Parsial kompleks

Valproate
Carbamazepine

Gabapentin

Fenobarbital

Lamotrigin

Fenitoin
Primidone
b. Parsial

Valproate
dengan Carbamazepine
11

Gabapentin

ini

kejang tonik klonik Fenobarbital


umum sekunder

Lamotrigine

Fenitoin
Primidone
Valproate

II. Kejang Umum


a. Kejang Absense

Klonazepam
Ethosuximide

Valproate
b. Kejang Mioklonik Valproat
c. Kejang Tonik Carbamazepin
klonik

Fenobarbital
Fenitoin
Primidon
Valproat

Barbiturat

Tabel 3. Klasifikasi Kimia Obat Antiepilepsi 28


Kelas Kimia
Contoh Obat antiepilepsi
Fenobarbiton, Mefobarbiton, Primidon

Hydantoins

Fonation, Mefenitoin

Iminostilben

Carbamazepin

Oxazolodinedion

Trimethadion (Troxidone)

Succinimide

Asam Valproat (Sodium Valproat)

Benzodiazepin

Klonazepam, Diazepam

Acetyl Urea

Fenacemide

Newer drugs

Progabide,

Vigabatrin,

Gabapentin,

Lamotrigin,

Felbamate,

Topiramate,

Tiagabine
Miscellaneous

Acetazolamide, Dexamphetamine

12

Mekanisme Kerja Obat Antiepilepsi 27,33


Obat antiepilepsi dapat bekerja melalui salah satu dari tiga mekanisme
utama berikut ini :
a. Mengurangi eksitasi listrik dari membran sel, khususnya dengan menghambat
voltase terkait dengan kanal sodium yang bertanggung jawab atas arus yang
menyebabkan terjadinya potensial aksi.
b. Meningkatkan GABA yang menginhibisi sinaptik, dengan inhibiting GABA
transaminase atau obat direct GABA agonist. Hasilnya meningkatkan
permeabilitas membran ion klorida, yang menurunkan eksitasi sel.
c. Menghambat kanal kalsium (hal ini penting untuk mengontrol kejang absense)
atau menghambat neurotransmitter eksitasi, misalnya glutama. Beberapa
kontraindikasi yang sering terjadi adalah sebagai berikut :
Epilepsi dan Kontrasepsi Oral 33
Beberapa obat antiepilepsi (Karbamazepin, fenitoin, barbiturat, topiramate,
Oxcarbazipine) menginduksi enzim yang memetabolisme steroid sehingga dapat

13

menyebabkan kegagalan penggunaan kontrasepsi hormonal. Oleh karena itu,


pasien yang menggunakan obat antiepilepsi memerlukan kontrasepsi estrogen oral
dengan dosis yang lebih tinggi (50mg / hari).
Kehamilan dan Epilepsi 33
Tatalaksana epilepsi selama kehamilan dapat menjadi masalah bagi ibu dan
janin. Insiden aborsi spontan dan bayi lahir mati (still birth) meningkat pada
wanita dengan epilepsi. Oleh karena itu, pasien harus benar benar
memperhatikan gangguan kejang mereka dan diobati sebelum kehamilan dengan
dosis terendah karena dapat menyebabkan anoksia dan gangguan metabolik.
Kejang ringan mungkin tidak berbahaya, oleh karena itu tidak perlu diobati.
Pasien disarankan untuk memakan suplemen asam folat dan vitamin K. Karena
beberapa obat antiepileptik mempengaruhi metabolisme asam folat dan
kekurangan asam folat merupakan faktor risiko untuk terjadinya neural tube
defect. Enzim hati menginduksi obat antiepilepsi sehingga mengurangi
konsentrasi vitamin K ibu hamil, yang dapat memperburuk perdarahan post
partum.
Menyusui 30
Antiepilepsi umumnya didistribusikan ke dalam ASI, dalam konsentrasi
yang rendah, sehingga menyusui dianggap aman bila obat diberikan dalam dosis
standar, dengan pengecualian pada barbiturat dan ethosuximide. Sedasi neonatus
dapat terjadi pada penggunaan benzodiazepine dan barbiturat serta ethosuximide.
Obat-obat ini didistribusikan dalam jumlah yang signifikan pada air susu ibu, oleh
karena itu menyusui harus dihindari.
Epilepsi Pada Anak-Anak 33
Epilepsi pada anak-anak ditatalaksana seperti pada orang dewasa, tetapi
anak-anak mungkin memiliki respon yang berbeda dan karena dapat
menyebabkan iritasi seperti pada penggunaan sodium valproat atau fenobarbiton.
Jika kejang demam terjadi, obat untuk epilepsi berat dapat diberikan secara
kontinyu (misalnya fenobarbiton 3-4 mg/ kg / hari) sampai anak berumur 5 tahun.

14

Tapi penggunaan fenitoin atau fenobarbiton secara berkepanjangan dapat


mengganggu perkembangan kognitif, sehingga obat ini ditarik.
Kesimpulan
Dengan demikian, pemilihan obat antikonvulsan didasarkan pada efikasi
obat pada setiap tipe kejang dan epilepsi. Walaupun, kontrol terhadap kejang
umumnya baik pada sebagian besar pasien, masih ada pasien epilepsi yang sulit
untuk ditangani atau sudah resisten terhadap obat epilepsi, meskipun pengobatan
dini dan dosis optimum harian obat antikonvulsan telah diberikan dengan
memadai. Oleh karena itu, dibutuhkan obat baru yang memiliki manfaat yang
lebih besar, yang berhubungan dengan efek samping, toleransi, dan efikasi obat
dibandingkan obat antiepilepsi yang ada sekarang.
Meskipun banyak pengobatan yang tersedia, banyak usaha dan penelitian
yang sedang dilakukan untuk menemukan pengobatan terbaru. Banyak dari pusat
penelitian ini yang menjelaskan mekanisme molekular dan selular genetik dari
hipereksitabilitas, pengetahuan ini menjanjikan suatu target khusus untuk terapi
terbaru.

15

REFERENSI
1. Carl E S. Epilepsy: a review of selected clinical syndromes and advances in
basic science. Journal of Cerebral Blood Flow & Metabolism 2006;26:983-04.
2.
Epilepsy: aetiogy (Sic), epidemiology and prognosis, World Health
organization. 2001; Archieved form the original on 2007-05-18. A v a i l a b l e
a t : http://web.archieve.org/web/20070518073641/http://www.who.int
/mediacentre/facsheets/fs165/en/Retrieved 2007-06-14.
3. Commission on Epidemiology and prognosis. International League Against
Epilepsy. Guidelines for epidemiologic studies on epilepsy. Epilepsia 1993;
34(4):592-96.
4. Blume W, Luders H, Mizrahi E, Tassinary C, Van Emde Boas W, Enjel J.
Glossary of descriptive terminology for ictal semiology; report of the ILAE
taskforce on classification and terminology. Epilepsia 2001;42(9):1212-18.
5. Gregory L H, Yehezkiel Ben-A. The Neurobiology and Consequences of
Epilepsy in the Developing Brain. Pediatric Research 2001; 49(3):320-25.
6. Gidal BE, Garnett WR. Epilepsy. In: Dipiro J T, Talbert RL, Yee GC, Matzke
GR, Wells BG, Posey LM, eds. Pharmacotherapy: a pathophysiologic
approach. USA: McGraw-Hill Companies Inc, 6th ed. 2005:1023-46.
7. Fisher RS, Van Emde B, Blume W et al. Epileptic seizures and epilepsy:
definition proposed by the International League Against Epilepsy (ILAE) and
the International Bureau for Epilepsy (IBE). Epilepsia 2005;46(4):470-72.
8. Epilepsy: A Manual for Physicians. Word Health Organization. New Delhi:
Regional Office for South-East Asia, 2004:1

16

9. The National Society for Epilepsy. what is epilepsy? 2009. Available at:
http: //www.epilepsynse.org.kk/ about epilepsy/what is epilepsy (Accessed on
15 February 2009)
10. Cascino GD. Epilepsy: contemporary perspectives on evaluation and treatment.
Mayo Clinic Proceedings 1994;69:1199-11.
11. Engel J. Jr. Surgery for seizures. New England Journal of Medicine
1996;334(10):
647-652.
Available
at:
doi:
10,
1056/NEJM
199603073341008.PMID 8592530.
12. McNamara J O. Drugs effective in the therapy of the epilepsies. In : Hardman
JG, Limbird LE, Goodman Gilman A, 10th ed. Goodman and Gilman's the
pharmacological basis of therapeutics. New York:McGraw-Hill Companies Inc,
2001: 521-48.
13. Oxford English Dictionary. Retrieved 8 September 2009.
14. Jilek-Aall L. Morbus Sacer in Africa; some religious aspects of epilepsy in
traditional cultures. Epilepsia 1999;40(3):382-86.
15. Rho JM, Sankar R, Cavazos. JE. Epilepsy: Scientific foundations of clinical
practice. New York : Marcel Dekker, 2004.
16. Hirtz D, Thurman DJ, Gwinn-Hardy K, Mohamed M, Chaudhury AR, Zalutsky
R. How common are the 'Common' neurologic disorders? Neurology 2007;68
(5):326-37.
17. Sridharan R. Epidemiology of epilepsy. Current Science 2002;82(6):664-70.
18. Hanna NJ, Black M, Sander J W et al. The national sentinel audit of epilepsy
related death. The Stationary Office, London. 2002:1-135.
19. Marieb EN. Human anatomy and physiology. New Delhi Pearson Education
Inc and Dorling Kindersley Publishing Inc, 6th ed. 2006:430- 88.
20. Frucht MM, Quigg M, Schwaner C, Fountain NB. Distribution of seizure
precipitants among epilepsy syndromes. Epilepsia 2000;41(12):1534-39.
21. Herzog AG, Harden CL, Liporace J, Pennell P, Schomer DL, Sperling M.
Frequency of catamenial seizure exacerbation in women with localizationrelated epilepsy. Annals Neurology 2004;56(3):431-34.
22. Lowenstein DH. Seizures and epilepsy. In: Kasper DL, Braunwald E, Fauci
AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, 16th ed Vol. 2. Harrison's principles of
internal medicine. USA :McGraw-Hill Companies Inc, 2005:2357-72.
23. Meisler MH, Kearney JA. Sodium channel mutations in epilepsy and other
neurological disorders. Journal of Clinical Investigation 2005;115(8):2010-17
24. Commission on classification and Terminology of the International League
Against Epilepsy. Proposal for revised clinical and electroencephalographic
classification of epileptic seizures. Epilepsia 1981;22: 489-01.
25. Commission on Classification and Terminology of the International League
Against Epilepsy. Proposal for revised classification of epilepsies and epileptic
syndromes. Epilepsia 1989;30:389-99.
26. Porter RJ, Meldrum BS. Antiseizure drugs. In: Katzung BG, ed. Basic and
clinical pharmacology. New York : Mc Graw-Hill Companies Inc, 10th edition.
2006: 378.
27. Rang HP, Dale MM, Ritter JM, Moore PK. Pharmacology. New Delhi:
Churchill Livingstone Reed Elsevier India (P) Ltd, 5th ed. 2006:550-60.
28. Tripathi KD. Essential of medical pharmacology. New Delhi: Jaypee Brothers
Medical publishers (P) Ltd, 5th ed. 2003:369-80.

17

29. Guyton AC, Hall JE. Text book of medical physiology.; Elsevier a division of
Reed Elsevier India (P) Ltd, 11th ed. 2007:743-47.
30. Sweetman S C. Martindale the complete drug reference. London :
Pharmaceutical Press, 33rd ed. 2002:338-69.
31. Wolf P of Cabbages and kings: Some consideration on classifications,
diagnostic schemes, semiology and concepts. Epilepsia. 2003; 44(1): 1-4.
32. Block JH, Beale JM. Wilson and Gisvold's text book of organic medicinal and
pharmaceutical chemistry. 11th ed. Lippincott Williams and Wilkins, 2010:503.
33. Bennett PN, Brown MJ. Clinical pharmacology. New Delhi: Elsevier a division
of Read Elsevier India (P) Ltd, 9th ed. 2006: 413-22.
34. Rall TW, Schleifer LS. Drugs effective in the therapy of the epilepsies. In:
Goodman Gilman A, Goodman LS, Rall TW, Murad F, eds. Goodman &
Gilman's the pharmacological basis of therapeutics. New York: Macmillan
Publishing Company, 7th ed. 1985: 446-72.

18