Anda di halaman 1dari 42

menghadirkan

***
**
*
e-Book
Terjemah Kitab
Syeikh Husain Manshur al-Hallaj
ashakimppa.blogspot.com

At Thowasin Al Azal
Hussain bin Manshur Al-Hallaj
1. Thosin Al Siroj (Pelita Nubuwah Nabi Muhammad S.A.W)
2. Thosin Al Fahm (Pemahaman)
3. Thosin Al Shofa (Kebeningan)
4. Thosin Al Dairoh (Lingkaran)
5. Thosin Al Nuqthah (Titik)
6. Thosin Al Azal wa al Iltibas (Kebahagiaan dan Derita
Eterniti / Keabadian dan Kekeliruan Pemahaman)
7. Thoasin Al Masyi-ah (Kehendak)
8. Thoasin Al Tauhid (Keesaan)
9. Thosin Al Asror fi al Tauhid (Kesadaran Diri Dalam Tauhid)
10. Thosin Al Tanzih (Kesucian, Keterbebasan)
11. Thosin Bustan Al Marifah (Taman Pengetahuan/Marifat)

Thosin Al Siraj (Pelita Nubuwah Nabi


Muhammad SAW)
1. Sang Pelita (As-Siroj) tampak dan tercerah dari Cahaya Keghaiban,ia terpancar
dan (tampak) kembali, dan melampaui pelita-pelita lain.Ia rembulan yang
cerlang, yang menampakkan kecemerlangannya lebih dari bulan-bulan lain. Ia
bintang yang graha perbintangannya di Langit Azaly. Alloh
menyebutnya ummi (awam) atas dasar keterpusatan
aspirasinya,juga harami (suci) disebabkan kelimpahan syafaatnya,
dan makki (pusat) karena kedekatannya di Hadirat-Nya.
2. Dia (Alloh) lapangkan dadanya, Dia tingkatkan kekuatannya, dan
mengangkatnya dari beban yang memberati punggungnya (Q. 94: 2-3) serta

Dia tetapkan kewenangannya. Sebagaimana Alloh membuat Badr-nya


terpancar, demikianlah purnamanya muncul dari awan Yamamah, mentarinya
terbit di bukit Tihamah [Makkah],dan pelitanya bersinar gemerlap dari sumur
Karomah (Zamzam).
3. Ia tidak menyampaikan sesuatu kecuali yang menyangkut
pandangan (bashiroh) batinnya, dan tidak mewajibkan diikuti keteladanannya
kecuali yang menyangkut kebenaran Sunnah-nya. Ia berada di Hadirat Alloh,
dan ia mengajukan yang lain ke Hadirat-Nya.Ia telah melihat (Kebenaran),
lalu ia sampaikan apa yang dilihatnya. Ia telah diutus sebagai sang Pemberi
Tunjuk, maka ia menggariskan batas (halal-haram) perilaku.
4. Tidak seorang pun mampu mengungkapkan kebenaran maknanya kecuali sang
Tulus Hati (Al-Amin) ini. Karena ia menegaskan ke-syahid-annya, serta
mengiringkannya, maka tiada lagi tersisa perbedaan di antara kaumnya.
5. Tiada seorang arif (irfan) pun yang merasa kenal padanya, yang tidak keliru
mengenali kebenaran kualitasnya. Kualitasnya hanya jelas kepada seseorang
yang Alloh bimbing untuk menyingkap (kasyf) tabirnya, Yaitu yang telah Kami
berikan kepadanya Kitab, mereka mengenalinya seperti mengenali anakanaknya. Namun, sebagian mereka menyembunyikan kebenarannya, padahal
mereka mengetahui. [Q. 2: 146]
6. Segenap cahaya nubuwah berasal dari cahayanya, dan cahayanya tercerahkan
dari Cahaya yang Gaib.Di antara cahaya-cahaya itu tidak ada yang lebih
gemerlap, lebih nyata atau lebih mutlak dari cahayanya sang Junjungan
Semesta Rahmat ini.
7. Aspirasi (himmah)-nya mendahului segenap aspirasi lain, adanya mendahului
Tiada (Adam), namanya mendahului Pena (Qolam), sebab keberadaannya
terdahulu ada sebelum apa pun.
8. Tidak pernah ada di atas semesta atau di luar semesta, tidak juga di balik
semesta, sesuatu yang lebih indah, lebih agung, lebih bijak, lebih adil, lebih
kasih, lebih taat atau lebih takwa, yang lebih dari sang Tokoh Utama
ini.Gelarnya adalah sang Junjungan Makhluk, namanya adalah Ahmad, dan
harkatnya adalah Muhammad. Perintahnya penuh kepastian, hikmahnya penuh
kebaikan, sifatnya penuh kemuliaan, dan aspirasinya penuh keunikan.

9. Maha Suci Alloh! Adakah yang lebih nyata, lebih tampak, lebih agung, lebih
masyhur, lebih kemilau, lebih perkasa ataupun cendekia, yang lebih darinya? Ia
sungguh telah dikenal sebelum penciptaan sesuatu, yang ada, juga semesta.
Ia senantiasa diingat sebelum adanya sebelum dan setelah adanya setelah,
juga sebelum ada substansi dan kualitas.
Substansinya adalah cahaya semata, ucapannya adalah nubuwah, hikmahnya
adalah wahyu, gaya bahasanya adalah Arab, kesukuannya adalah tiada Timur
dan tiada Barat [Q. 24: 35], silsilahnya adalah garis kebapakan, misinya adalah
damai, dan sebutannya adalah ummi (awam).
10. Segenap mata terbuka dengan isyaratnya, segenap rahasia dan segenap jiwa
terasa dengan kehadirannya yang ada. Adalah Alloh yang membuatnya fasih
menghafalkan rangkaian Firman-Nya, dan menjadi Bukti (Al-Hujjah) yang
meneguhkannya. Juga Alloh yang mengutusnya, dan ia adalah Bukti
senyatanya Bukti. Adalah ia yang memuaskan dahaga hati pedamba yang
kehausan, yang tidak tersentuh apa pun, tidak terkatakan lidah, tidak juga
terekayasa, yang menyatu dengan Alloh tanpa terpisahkan, bahkan jauh di
luar jangkauan pikiran. Pokoknya ia yang mengabarkan adanya akhir, dan
akhirnya akhir, serta akhir-akhirnya akhir.
11. Ia singkapkan awan, dan menunjuk ke Rumah Suci (Bayt al-Haram). Ia adalah
pembeda, bahkan ia adalah panglima perang. Adalah ia yang diperintah untuk
meluluhlantakkan berhala-berhala, juga ia yang diutus kepada ummat manusia
untuk membasmi pemujaan.
12. Di atasnya awan bergemuruh menyambarkan kilat, dan di bawahnya kilat
menyambar gemuruh, berkilatan, mencurahkan hujan, serta menyuburkan.
Segenap pengetahuan hanyalah setetes dari samuderanya, segenap kearifan
hanyalah secauk dari bengawannya, dan segenap waktu hanyalah sesaat dari
masanya.
13. Alloh (ada) bersamanya, dan bersamanya adalah hakikat. Ia yang pertama
dalam kesatuan (penciptaan) dan terakhir yang diutus sebagai Rasul, yang
hakikatnya bersifat batin, dan marifatnya bersifat lahir.
14. Tiada seorang pakar pun yang pernah mencapai hikmahnya, bahkan para filsuf
niscaya tersadar atas kearifannya.
15. Alloh tidak menyerahkan [hakikat-Nya] itu kepada makhluk-Nya, sebab ia
adalah ia, dan ia adanya bersama Dia, sedangkan Dia adalah Dia.

16. Tidak ada apa pun yang keluar dari Mim ( )-nya Muhammad ( ), dan
tidak ada yang masuk ke Ha ( )-nya. Adapun Ha ()-nya
sebagaimana Mim ()-nya yang kedua, sedangkan Dal ()-nya
seperti Mim ()-nya yang pertama. Mim ()-nya yang pertama adalah
peringkat (maqam)-nya, serta Ha ()-nya adalah keadaan (hal) spritualnya,
sebagaimana Mim ( )-nya yang kedua.
17. Alloh membuat bicaranya jelas, menambah nilainya, dan membuat
bukti (hujjah)-nya dikenal. Dia menurunkan wahyu Pembeda [AlFurqan] kepadanya. Dia membuat lidahnya fasih, dan Dia membuat hatinya
terang. Dia membuat ummat sezamannya tidak mampu [memalsu AlQuran].Dia pun mengakui kejelasannya, dan memuji kemuliaannya.
18. Andaikan kau melarikan diri dari kewenangan syariat-nya, adakah jalan (lain)
yang dapat kau tempuh, tanpa adanya pembimbing, hai orang yang malang?
Ketahuilah, segenap fatwa para filsuf berantakan, seperti gundukan pasir,
dibandingkan hikmahnya.
__________________________________________________

Thosin Al Fahm (Pemahaman)


1. Pemahaman tentang alam-makhluk tidak terkait dengan hakikat, dan hakikat
tidak juga terkait dengan alam-makhluk. Pemikiran [yang asal-terima]
adalah taqlid, dan taqlid-nya alam-makhluk tidak ada keterkaitannya dengan
hakikat. Pengertian tentang hakikat itu sulit dicapai, makanya betapa lebih
sulit lagi mencapai pengertian tentang hakikatnya-Hakikat (Alloh). Apalagi,
Alloh itu di luar hakikat, dan hakikat tidak dengan sendirinya
menyatakan 'ada'-Nya Alloh.
2. Sang laron terbang di sekeliling nyala api hingga terbit fajar. Lalu, ia kembali
ke teman-temannya, dan menceritakan keadaan (hal) spiritualnya dengan

ungkapan yang penuh kesan. Ia berpadu (hulul) dengan geliatnya nyala api
dalam hasratnya untuk mencapai Penyatuan (Tawhid) yang sempurna.
3. Cahayanya nyala api adalah Pengetahuan ('llm) hakikat, panasnya adalah
Kenyataan ('Ayn) hakikat, dan Penyatuan dengannya adalah
Kebenaran (Haqq) hakikat.
4. Ia merasa tidak puas dengan cahayanya ataupun dengan panasnya, sehingga ia
melompat ke dalam nyala api langsung. Sementara itu, teman-temannya
menantikan kedatangannya, supaya ia menceritakan kepada mereka
tentang 'penglihatan' aktualnya, karena ia merasa tidak puas dengan kabar
angin saja. Tetapi, ketika itu ia tengah tuntas sirna (fana'),
musnah dan buyar ke dalam serpihan-serpihan, yang tersisa tanpa wujud,
tanpa jasad ataupun tanda pengenal. Jadi, dalam peringkat (maqam) apa ia
dapat kembali ke teman-temannya? Dan, keadaan (hal) spiritual apa yang
tengah dicapainya sekarang? Ia yang sampai pada pandangan (bashirah) batin
niscaya sanggup terlepas dari pekabaran saja.
Juga ia yang sampai pada inti pandangan batin tidak lebih prihatin tentang
pandangan batinnya.
5. Pemaknaan (masalah) ini tidak menyangkut manusia yang alpa, tidak juga
manusia yang maya, atau manusia yang penuh dosa, ataupun manusia yang
menuruti hawa-nafsunya semata.
6. Wahai kau yang ragu-ragu! Jangan persamakan 'aku' (insani)
dengan 'Aku' Ilahi -- janganlah sekarang, janganlah di masa depan nanti,
janganlah pula di masa lampau dulu.
Bahkan, kendatipun 'aku' itu merupakan pencapaian seorang 'Arif, kendatipun
ini merupakan keadaan (hal) spiritual, namun itu bukanlah kesempurnaan.
Kendatipun 'aku' adalah milik-Nya, namun 'aku' bukanlah Dia.
7. Bila kau memahami ini, maka pahamilah juga bahwa pemaknaan (masalah) itu
bukanlah kebenaran bagi siapa pun kecuali (bagi) Muhammad (sholallohu
'alaihi wasallam), dan "Muhammad bukanlah bapak dari salah seorang
kerabatmu" (Q. 33: 40) tapi Rasululloh (Utusan Alloh) dan penutup para
nabi (khatam an-nabiyyin). Ia mem-fana'-kan dirinya dari manusia dan jin,
serta memejamkan matanya ke (arah) 'mana' pun, hingga tidak lagi tersisa
kepalsuan hati ataupun kemunafikan.

8. Ada suatu "jarak sepanjang dua busur" lebarnya (Q. 53: 9), atau lebih dekat
lagi, saat ia mencapai gurun Pengetahuan hakikat, dan "ia beritahukan hal itu
dari hati lahirnya (fu'ad)" (Q. 53: 10). Ketika sampai pada Kebenaran hakikat,
ia menanggalkan hasratnya di situ, dan mempersembahkan dirinya naik ke
Hadirat Sang Pengasih. Setelah mencapai Kebenaran (Alloh), ia pun kembali
sambil berkata: "Hati-batinku bersujud kepada-Mu, dan hati-lahirku beriman
kepada-Mu." Ketika mencapai Pohon-Batas Penghabisan, ia berkata: "Aku tidak
dapat memuji-Mu sebagaimana mestinya Engkau dipuji." Dan, ketika mencapai
Kenyataan hakikat, ia berkata: "Hanya Engkau Sendiri yang dapat memuji DiriMu." Ia menanggalkan lagi hasratnya, dan menuruti panggilan tugasnya,
"hatinya tidak berdusta tentang apa yang dilihatnya" (Q. 53:11)
di maqam dekat Pohon-Batas-Terjauh (Sidrat al-Muntaha). (Q. 53:14) Ia tidak
berpaling ke kanan, ke arah hakikat sesuatu, tidak juga ke kiri, ke arah
Kenyataan hakikat. Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak berkisar daripada
menyaksikan Dengan tepat (akan pemandangan Yang indah di situ Yang
diizinkan melihatnya), dan tidak pula melampaui batas." (Q. 53: 17)
__________________________________________________

Thasin Al Shafa (Kebeningan)


1. Hakikat itu adalah sesuatu yang sangat halus, dan sulit menguraikannya. Jalan
untuk menempuhnya sempit, dan tentang jalannya itu, seorang
penempuh (salik) harus mengarungi 'kobaran api' di tengah gurun yang dalam.
Seorang asing (gharib) telah mengikuti jalan ini, dan menyampaikan bahwa
apa yang dialaminya ada empat puluh Maqom, yaitu:
1. Kesopan santunan ['adab],
2. Kegentar hatian [rahab],

3. Kejerih payahan [nashab],


4. Penuntutan-diri [thalab],
5. Ketakjuban ['ajab],
6. Peniadaan ['athab],
7. Pemujaan [tharab],
8. Pendambaan [syarah],
9. Penjernihan [nazah],
10. Kelurusan [shidq],
11. Persahabatan [rifq],
12. Persamaan [litq],
13. Keberangkatan [taswih],
14. Penghiburan [tarwih],
15. Ketajaman [tamyiz],
16. Penyaksian [syuhud],
17. Keberadaan [wujud],
18. Penghitungan ['add],
19. Pengupayaan [kadda],
20. Pemulihan [radda],
21. Perluasan [imtidad],
22. Pengolahan [i'dad],
23. Penyendirian [infirad],
24. Pengendalian [inqiyad],
25. Kemauan [murad],
26. Kehadiran [hudur],
27. Pelatihan [riyadhah],
28. Kehati-hatian [hiyathah],
29. Penyesalan [iftiqad],
30. Kedayatahanan [istilad],
31. Pengawasan [tadabbur],
32. Keterkejutan [tahayyur],
33. Perenungan [tafaqqur],
34. Kesabaran [tashabbur],
35. Penafsiran [ta'abbur],
36. Penolakan [rafdh],
37. Pengoreksian [naqd],
38. Pengamatan [ri'ayah],
39. Pembimbingan [hidayah],
40. Permulaan-jalan [bidayah].

Maqam terakhir ini adalah maqam-nya orang-orang yang Hatinya tenang dan
suci (shufi).
2. Tiap maqam memiliki keadaan (hal) spiritualnya sendiri sebagai pahalanya,
yang sebagiannya mungkin diperoleh dan sebagian lainnya tidak.
3. Adapun sang Ghorib yang telah mengarungi gurun (hakikat) dan
menyeberanginya, telah mencakupnya serta memahaminya secara keseluruhan.
Ia tidak memperoleh sesuatu yang lazim ataupun biasa, tidak di gunung
ataupun di darat.
4. "Ketika Musa (as) menunaikan tugasnya", ia meninggalkan ummatnya karena
hakikat akan merengkuhnya sebagai 'milik'-Nya. Tapi, masih juga ia berpuas
dengan penerangan semu tanpa pandangan (bashirah) batin langsung,
sehingga ada perbedaan antara ia dan sang Insan Kamil [Muhammad saw].
Karena itu ia (Musa as) berkata: "Siapa tahu aku dapat membawa sedikit
penerangan untukmu." [Q. 20: 10]
5. Andaikan sang Pembimbing Utama puas dengan penerangan semu, bagaimana
dapat seseorang yang menempuh jalan (thariqah) tidak mencukupkan dirinya
dengan jejak semu.
6. Dari Semak yang Terbakar, di Bukit Sinai, apa yang kedengarannya
difirmankan Semak bukanlah dari Semak atau belukarnya, tetapi (firman)
Alloh.
7. Dan peranan 'aku' adalah seperti 'Semak' itu.
8. Jadi, hakikat adalah 'hakikat' dan makhluk adalah 'makhluk'. Makanya
buanglah sifat kemakhlukanmu, supaya kau sesuai dengan-Nya, beserta Dia -kau pun dalam liputan hakikat.
9. 'Aku' sejati adalah subyek, dan obyek yang terurai adalah subyek dalam
hakikatnya. Soalnya adalah bagaimana itu terurai?
10. Alloh berfirman kepada Musa (as): "Kau bimbinglah (ummatmu) pada
Bukti (al-Hujjah)," tapi bukan pada Obyeknya Bukti. Adapun bagi-Ku, Aku
adalah 'Bukti' dari setiap bukti.

11. Alloh membuatku melampaui apa adanya hakikat dengan kesepakatan,


perjanjian, dan persekutuan. Rahasiaku adalah
penyaksian (syahadah) langsung tanpa (keikutsertaan) pribadi makhlukku.
Itulah rahasiaku, dan inilah hakikat.
12. Alloh memfirmankan pengetahuanku melalui 'aku' dari hatiku. Dia menarikku
dekat pada-Nya setelah jauh dari-Nya. Dia membuat aku menjadi
Sahabat (Waly)-Nya, Dia memilih aku
_________________________________________________

Thosin Al Dairoh (Lingkaran)


1. Pintu ba ( )pertama melambangkan seseorang yang menjangkau lingkaran
Kebenaran.
Pintu ba ( )kedua melambangkan orang yang menjangkaunya, yang setelah
memasukinya, sampailah ia ke pintu yang tertutup. Pintu ba ( )ketiga
melambangkan seseorang yang tersesat di gurun Sifatnya-Kebenaran.
2. Ia yang memasuki lingkaran itu jauh dari Kebenaran, sebab jalannya terjegal
dan sang penempuh (salik) disuruh kembali. Adapun noktah di atas
melambangkan hasratnya. Noktah yang lebih bawah melambangkan
kembalinya ke titik-tolaknya, dan noktah di tengah adalah kebingungannya.
3. Lingkaran dalam tidak memiliki pintu ba (), dan titik yang ada di
dalamnya adalah pusat Kebenaran.
4. Makna tentang Kebenaran adalah yang darinya, baik lahir maupun batin,
tidak ada yang luput. Dan, ia pun tidak direkayasa.
5. Andaikan kau berhasrat memahami apa yang aku terangkan ini.ambillah
empat ekor burung, cincanglah buatmu, (QS. 2: 260) sebab AlHaqq (Alloh) tak-terbang.
6. Adalah kecemburuan-Nya yang membuat ia tampak, setelah Dia
menyembunyikannya. Adalah keterpesonaan yang menjaga keterpisahan kita.
Adalah kebingungan yang mencabut kita dari-Nya.

7. Inilah makna tentang Kebenaran. Ia lebih licin dari lingkaran Asal, ataupun
rancangan Bidang. Dan, yang lebih licin lagi adalah memfungsikan kearifan
secara batin, karena ketersembunyiannya (Kebenaran) dari khayalan.
8. Ini karena sang pengkaji hanya mengkaji lingkaran dari wilayah luar,
bukannya dari wilayah dalam.
9. Adapun tentang pengetahuannya-pengetahuan Kebenaran, sang pengkaji
tidak memahaminya, karena ia tidak mampu. Pengetahuan menunjukkan
tempat, sedang lingkaran itu tempat yang terlarang [haram].
10. Makanya mereka menamakan Sang Rasul (saw): Haramy, sebab hanya ia
seorang yang keluar dari Lingkarang Haram itu.
11. Ia penuh kegentaran dan keterpesonaan, serta mengenakan jubah Kebenaran.
Ia keluar dan menyerukan Ah!!! ( )kepada segenap makhluk.
_________________________________________________

Thosin Al Nuqtah (Titik)


1. Ada yang lebih halus dari itu, yakni penyebutan tentang Titik AzaliyAda yang
lebih halus dari itu, yakni penyebutan tentang Titik Azaliy yang berupa Asal,
dan yang (keberadaannya) tidak bertambah ataupun berkurang, tidak juga
habis sirna dirinya.
2. Orang yang mengangkal keadaan (hal) batinku telah menyangkalnya, karena
tidak mengetahui aku, malah menyebutku bidah. Dituduhnya aku dengan
sebutan Iblis, serta dianggapnya kekeramatanku sebagai praktik perdukunan,
juga demikian terhadap lingkaran suci yang berada di luarnya-luar jangkauan,
yang dicemoohkannya.
3. Orang yang menjangkau lingkaran kedua membayangkan aku menjadi sang
Pemangku Ilham.
4. Orang yang menjangkau lingkaran ketiga mengira aku berada di bawah
pengaruh nafsu.

5. Dan, orang yang menjangkau lingkaran Kebenaran melupakan aku, bahkan


perhatiannya beralih dariku.
6. Tentu saja tidak! Tidak ada seorang pelindung pun. Pada hari itu hanya Tuhan
penolongmu untuk kembali. Juga pada hari itu setiap manusia akan diberi tahu
tentang perbuatan yang didahulukannya dan yang dilalaikannya. (QS. 75: 1113)
7. Namun, umumnya manusia berpaling pada pernyataan semu, melarikan diri
pada sang pelindung, mengkhawatiri pertanda-pertanda, tujuan hidupnya
terpedaya, dan akibatnya tersesat.
8. Aku terisap ke kedalaman samudera kelanggengan (baqo). Dan, orang yang
menjangkau lingkaran Kebenaran itu sibuk di pantai samudera pengetahuan
dengan pengetahuannya sendiri, luput pandangan (bashirah) batinnya dariku.
9. Aku melihat sejenis burung khasysy dari pribadi Shufi yang terbang dengan dua
sayap Tashawuf. Ia menyangkal kekeramatanku, sebagaimana ia terus
membumbung dalam penerbangannya.
10. Ia menanyai aku tentang kesucian-batin, dan aku menjawabnya: Pangkaslah
sayapmu dengan gunting penyirnaan-diri (fana). Kalau tidak, kau tidak dapat
mengikuti aku.
11. Ia berkata kepadaku: Aku terbang dengan sayapku menuju Kekasihku. Aku
katakan kepadanya: Hati-hati buat kau! Sebab, tidak ada yang menyerupaiNya. Hanya Dia sang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Maka, seketika itu ia
jatuh ke samudera kearifan dan hilang tenggelam.
12. Orang dapat menggambarkan samudera kearifan sebagai berikut:
Aku melihat Tuhanku dengan mata hatiku, aku menyapa: Siapakah Engkau?
Dia menjawab: Kau! Namun, bagi-Mu, di mana tidak memiliki tempat. Dan,
tidak ada di mana ketika perhatian hanya menyangkut-Mu. Akal pun tidak
punya bayangan tentang keberadaan-Mu dalam (dimensi) waktu, yang
memungkinkan akal mengetahui di mana adanya Engkau. Engkau
adalah Sesuatu yang meliputi setiap di mana, mengatasi titik yang tak di
mana-mana. Jadi, di mana Engkau adanya?
13. Sebuah titik-tunggal yang unik dari lingkaran (titik-titik), menandakan
beragamnya anggapan tentang kearifan. Adalah sebuah titik-tunggal saja yang
dirinya berupa Kebenaran, sedangkan sisanya merupakan kekeliruan.

14. Ia begitu dekat saat kenaikannya (miraj) ia tampak kembali saat


kemuncakannya (transenden). Karena pencarian, ia begitu dekat. Karena
kegairahan, ia tampak kembali. Ia menanggalkan hatinya di sana, dan begitu
dekat kepada-Nya. Ia sirna (fana) ketika melihat Alloh, kendati demikian ia
tidak sampai tuntas sirna (fana ul-fana). Bagaimana mungkin ia hadir
sekaligus tak-hadir? Bagaimana mungkin pula ia tampak dan sekaligus taktampak?
15. Dari ketakjuban ia melintas ke pencerahan, dan dari pencerahan ke ketakjuban.
Dengan kesaksian Alloh, ia menyaksikan Alloh. Ia sampai dan sekaligus pisah.
Ia mencapai Pujaan-Nya, dan terputus dari hatinya. Hatinya tidak berdusta
tentang apa yang dilihatnya. (QS. 53: 11)
16. Alloh menyembunyikannya ketika membuatnya begitu dekat.
Dia mengangkatnya dan menyucikannya. Dia membuatnya dahaga dan
menyegarkannya. Dia menyucikannya dan memilihnya. Dia menyerunya dan
memerintahkannya. Dia menimpainya Cobaan dan menjenguknya untuk
membantunya. Dia mempersenjatainya dan mendudukkannya di atas pelana.
17. Ada sebuah jarak dari satu rentangan busur, dan ketika ia kembali, ia pun
mencapai sasarannya. Ketika diseru, ia menjawabnya merasa dilihat, ia
rendahkan dirinya. Karena minum, ia merasa puas. Karena mendekat, ia
dicekam keterpesonaan. Dan, karena keterpisahan dirinya dari Kota serta para
pembantunya, ia pun terpisah dari bisikan nurani, dari pandangan, juga dari
lamunan makhluk.
18. Sahabatmu tidak tersesat, (QS. 53: 2) ia tidak lemah atau bertambah sedih.
Matanya tidak goyah atau lelah oleh suatu Saat dari sejatinya masa.
19. Sahabatmu tidak tersesat dalam tafakurnya mengenai Kami. Ia tidak
menyeberang dalam kunjungannya kepada Kami, tidak juga melanggar
terhadap Risalah Kami. Ia tidak membandingkan Kami dengan yang lain kalau
membicarakan Kami. Ia tidak menyimpang di taman zikir dalam tafakurnya
mengenai Kami, tidak juga tersesat dalam pengembaraan di alam fikir.
20. Cukuplah ia mengingat Alloh (zikrulloh) dalam tarikan nafasnya, dan kerdipan
matanya. Bertawakkal kepada-Nya dalam kesusahan, dan bersyukur atas
nikmat-Nya.

21. Ini tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan, (QS. 53: 4) dari Cahaya
ke Cahaya.
22. Ubahlah bicaramu! Kosongkan dirimu dari khayalan, angkatlah kakimu tinggitinggi dari manusia serta makhluk lainnya. Bicaralah tentang Dia dengan
selaras dan sekadarnya! Jadilah berghairah, dan tenggelamlah dalam
keghairahanmu. Ketahuilah bahwa kau akan terbang melampaui gunung dan
lembah, gunung kesadaran dan lembah perlindungan, agar melihat Dia yang
kau puja-puja. Dan, puasa wajib pun berakhir dengan datang ke Rumah
Suci (Kabah).
23. Maka, ia begitu dekatnya kepada Alloh, seperti seorang asyiq yang
memasuki Masyuq. Selanjutnya ia memaklumkan bahwa itu terlarang. Itu
seperti sebuah rintangan yang lebih dari cukup untuk melemahlunglaikan. Ia
melintas dari Maqam Pembersihan ke Maqam Pencelaan, dan
dari Maqam Pencelaan ke Maqam Kedekatan. Ia begitu dekat sebagai pencari,
dan ia kembali secara berlari. Ia begitu dekat sebagai pendoa, dan ia kembali
sebagai Abdi. Ia begitu dekatnya sebagai penyeru, dan kembali
dengan baiat sebagai Qarib-Nya Ilahi. Ia begitu dekatnya sebagai seorang
saksi, dan kembalinya sebagai ahli tafakur.
24. Jarak di antara keduanya adalah dua rentangan busur. Ia membidik tanda di
mana [ayna] dengan panah di antara [bayna]. Ia menyatakan bahwa ada dua
rentangan busur untuk menetapkan ketepatan tempat-nya, baik karena tiada
terlukiskannya sifat Zat, atau karena serasa lebih akrab pada Zatnya-Zat.
25. Sang Faqir yang Luar dari Biasa (Khariq ul-Addah) Al-Husain ibn Manshur AlHallaj, berkata:
26. Aku tidak percaya bahwa ungkapan kita di sini dapat dipahami, kecuali untuk
orang yang sampai pada rentangan busur kedua, yang adanya melampaui
Lembaran yang Terjaga [Lawh ul-Mahfudz].
27. Itulah suratan yang tidak mempergunakan huruf Arab ataupun Persia.
28. Kecuali satu huruf saja, yaitu huruf mim ( ) , yang merupakan huruf pertanda
apa yang ia pancarkan.
29. Mim ( ) yang menandakan Yang Terakhir.

30. Mim ( ) yang juga merupakan untaian Yang Terawal. Rentangan busur
pertamanya adalah Alam Kegagahan (Jabarut), dan yang keduanya
adalah Alam Kerajaan (Malakut). Sedangkan Sifat-Nya adalah untaian
dua Alam itu. Serta Zat-Nya yang Khusus Beriluminasi (tajalliy khasysy) adalah
panah yang Mutlak, panahnya dua rentangan.
31. Panahnya itu dari Seseorang yang menyalakan api Iluminasi (tajalliy).
32. Dia berfirman bahwa kepantasan dari pembicaraan adalah yang
pengertiannya merupakan gambaran kedekatan. Adapun sang Firman dari
pemaknaan ini adalah Kebenaran Alloh, bukan metode ciptaan-Nya. Dan,
kedekatan ini juga hanya berlaku dalam lingkaran ketepatan yang amat sangat
tepat.
33. Kebenaran dan Kebenarannya-Kebenaran (Alloh) ini terdapat dalam halusnya
perbedaan, lewat pengalaman sebelumnya, dengan memakai penangkal yang
dibuat oleh sang pecinta, untuk membalas keterputusannya dengan segenap
kecintaan (makhluk), di pelananya yang sampai secara berbarengan, karena
bahaya terus mengancam, serta tajamnya perbedaan, yang diatasinya
dengan ayat pembebasan. Inilah jalan (shufi) yang terpilih dalam
memperhatikan Diri pribadi. Dan, kedekatannya terlihat sebagai areal luas,
agar sang arif (irfan) yang taat mengikuti jalannya tradisi nubuwah ini dapat
dipahami adanya.
34. Sang Junjungan Yatsrib (Muhammad), shalawat dan salam atasnya,
memaklumkan keagungan yang kerasukan jiwa anggun ini, yang tak-tergugat,
yang terawat dalam Kitab Tersembunyi (QS. 56: 78), sebagaimana Dia
menyatakannya dalam Kitab (alam) Terbuka, dalam Kitab Tertulis yang
menerangkan makna bahasa burung, ketika Dia mengangkatnya ke sana.
35. Apabila kau memahami ini, hai pecinta, pahamilah bahwa Tuhan tidak
berbicara kecuali dengan Diri-Nya, atau dengan Sahabat-Nya (waly).
36. Untuk menjadi Sahabat-Nya, janganlah punya Guru ataupun Murid. Jadilah
tanpa pilihan, tanpa perbedaan, tanpa kepura-puraan atau sok-nasihat, jangan
mengakui sesuatu itu miliknya atau darinya. Tapi, apa yang ada padanya
cukuplah sebagai apa yang ada padanya, tanpa merasa adanya itu padanya,
sebagaimana gurun tanpa air di suatu gurun tanpa air, juga sebagaimana
pertanda di suatu pertanda.

37. Wacana umum mengalihartikan maknanya. Makna pun mengalihartikan


maksudnya, sedangkan maksudnya terlihat dari kejauhan. Jalannya sulit,
namanya agung, tampilannya unik. Pengetahuannya adalah ketidaktahuan,
ketidaktahuannya adalah kebenaran tunggal, keawamannya adalah sumber
rahasianya. Namanya adalah Jalannya, karakter-lahirnya adalah
kehangatannya, dan perlambang-batinnya adalah kegairahannya.
38. Hukum syariat [syariy] adalah ciri-khasnya, kebenaran [haqaiq] adalah
gelanggangnya dan keagungannya. Jiwanya adalah serambinya, Syaitan adalah
pengajarnya, dan setiap musafir yang ada dijadikannya sebagai kerabatnya.
Keinsanan adalah nuraninya, kerendahhatian adalah kemuliaannya, kefanaan
adalah subyek zikir-nya, istri adalah tamansarinya, dan fananya-fana adalah
singgasananya.
39. Pelindungnya adalah perlindunganku, prinsipnya adalah peringatanku,
syafaatnya adalah permohonanku, karunianya adalah persinggahanku, dan
duka-citanya adalah kesedihanku.
40. Pewarisannya adalah kedai tempat minum-(ku), lengan bajunya bukan apaapa kecuali sekadar pengelap debu-(ku). Ajarannya adalah dasar pijakan
keadaan (hal) batinnya, sedangkan keadaan batinnya adalah kefanaan. Kendati
demikian, sembarang keadaan (ahwal) lainnya dapat menjadi obyek
kemurkaan Alloh. Makanya cukuplah ini, semoga rahmat Alloh besertamu.

Thosin Al Azal wa al Iltibas (Kebahagiaan dan


Derita Eterniti/Keabadian dan Kekeliruan
pemahaman)

[: Untuk ia yang 'arif, dalam ke'arifannya-ke'arif saat berhubungan dengan


wacana publik tentang apa yang logis dalam memperhatikan tujuan...]
1. Sang Faqir, Abu Mughits (Al-Hallaj), semoga Alloh merahmatinya, berkata:
"Tidak ada misi yang tangguh kecuali yang diemban Iblis dan Muhammad,
shalawat dan salam atasnya. Hanya, Iblis terjatuh dari Zat, dan Muhammad
merasakan Zatnya-Zat."

2. Telah dikatakan kepada Iblis: "Sujudlah!" (QS. 2: 34) dan kepada Muhammad:
"Tengoklah!" (QS. 53: 13) Namun, Iblis tidak bersujud, dan Muhammad pun
tidak menengok. Ia tidak berpaling ke kanan atau ke kiri, "Matanya tidak
celingukan, tidak juga jelalatan." (QS. 53: 17)
3. Sementara Iblis, setelah menyatakan misinya, ia tidak kembali ke kemampuan
awalnya.
4. Sedangkan Muhammad, ketika menyatakan misinya, ia kembali ke
kemampuannya.
5. Dengan pernyataan ini: "Bersama Engkau semata aku merasa bahagia, dan
kepada Engkau semata aku mengabdikan diriku." Dan: "Wahai Engkau yang
membolak-balik hati." Serta: "Aku tidak tahu bagaimana memuji-Mu
sebagaimana mestinya Engkau dipuji."
6. Di antara penghuni surga tidak ada pemuja sekaligus peng-Esa (Tawhid) yang
seperti Iblis.
7. Karena Iblis 'di situ' telah 'melihat' penampakan Zat Ilahi. Ia pun tercegah
bahkan dari mengedipkan mata kesadarannya, dan mulailah ia memuja Sang
Esa Pujaan dalam pengasingan khusyuknya.
8. Ia dikutuk ketika menjangkau pengasingan ganda, dan ia didakwa ketika
menuntut kesendirian (Alloh) mutlak.
9. Alloh berfirman kepadanya: "Sujudlah (kepada Adam as)!" Ia menjawab:
"Tidak, kepada yang selain Engkau." Dia berfirman lagi kepadanya: "Bahkan,
apabila kutuk-Ku jatuh menimpamu?" Ia menjawab lagi: "Itu tidak akan
mengazabku!"
10. "Pengingkaranku adalah untuk menegaskan Kesucian-Mu, dan alasanku
(ingkar) niscaya melanggar bagi-Mu. Tetapi, apalah Adam dibandingkan
dengan-Mu, dan siapalah aku -- Iblis, hingga dibedakan dari-Mu!"
11. Ia jatuh ke Samudera Keluasan, ia menjadi 'buta', dan berkata: "Tidak ada jalan
bagiku kepada yang lain selain dari-Mu. Aku pecinta yang 'buta'!" Dia
berfirman kepadanya: "Kau telah takabur!" Ia menjawab: "Apabila ada satu
saja kilasan pandang di antara kita, itu cukup membuatku sombong dan
takabur. Kendati begitu, aku adalah 'ia' yang mengenal-Mu sejak ke-baqa'-an

masa Terdahulu, dan "aku lebih baik daripadanya" (QS. 7: 12), sebab aku lebih
lama mengabdi kepada-Mu. Tidak ada satu pun, di antara dua jenis makhluk
(Adam dan Iblis) ini, yang mengenal-Mu secara lebih baik daripadaku!" "Ada
Kehendak-Mu bersamaku, dan ada kehendakku bersama-Mu, sedangkan
keduanya mendahului Adam. Apabila aku bersujud kepada yang selain Engkau,
ataupun tidak bersujud, niscaya harus bagiku untuk kembali ke asalku. Karena
Engkau menciptakan aku dari api, dan api kembali ke 'api', menuruti
keseimbangan (sunnah) dan pilihan yang adanya milik-Mu."
12. "Tidak ada jarak dari-Mu padaku, karena aku yakin bahwa jarak dan
kedekatan itu 'satu'!" "Bagiku, apabila aku dibiarkan, pengabaian-Mu justru
menjadi mitraku.
Jadi, seberapa pun jauhnya lagi, pengabaian dan cinta tetap 'menyatu'!"
"Terpujilah Engkau, dalam taufiq-Mu dan Zat-Mu yang tiada terjangkau, bagi
sang pemuja setia ini, yang tiada bersujud ke yang selain Engkau!"
13. Musa (as) bertemu Iblis di lereng Bukit Sinai, dan bertanya kepadanya: "Hai
Iblis, apa yang mencegahmu dari bersujud?" Ia (Iblis) menjawab: "Yang
mencegahku adalah pernyataan ikrarku mengenai Sang Pujaan yang Unik. Dan,
jika aku bersujud, aku akan menjadi sepertimu. Karena kau hanya perlu
dipanggil sekali, "Tengoklah ke gunung," kau langsung menengok. Sementara
aku, aku telah dipanggil ribuan kali untuk menyujudkan diriku kepada Adam,
aku tidak bersujud, karena aku bersiteguh dengan 'Tujuan' Ikrarku."
14. Musa (as) bertanya: "Kau membangkangi perintah?" Iblis pun menjawab: "Itu
sebuah ujian, bukannya perintah." Musa bertanya lagi: "Tanpa dosa? Kendati
wajahmu berubah begitu?" Iblis menyahut: "Hai Musa, keadaanku ini sekadar
kemenduaan dari penampilan-lahir, sementara keadaan (hal) spiritualku tidak
bergantung atasnya, bahkan tidak berubah. Ma'rifat tetaplah benar
sebagaimana pada awalnya, dan itu tidak berubah kendatipun pribadinya
berubah."
15. Musa (as) bertanya: "Adakah kau mengingat-Nya (zikir) sekarang?" "Hai Musa,
pikiran yang murni tidak membutuhkan daya-ingat, -- dengan itu aku
mengingat (Dia) dan Dia mengingat (aku). Ingatan-Nya adalah ingatanku, dan
ingatanku adalah ingatan-Nya.
Bagaimana mungkin, ketika kami saling mengingat, kami berdua berlainan
satu sama lain?" "Pengabdianku sekarang lebih murni, waktuku lebih lapang,
ingatanku lebih agung, sebab aku mengabdi kepada-Nya secara mutlak demi
keberuntunganku, bahkan sekarang aku mengabdi kepada-Nya demi Diri-Nya."

16. "Aku mencabut keserakahan dari segenap apa pun yang mencegahku atau
menahanku, baik demi kerugian ataupun keuntungan. Dia mengasingkanku,
membuatku mabuk-kepayang, melinglungkanku, mengeluarkanku, sehingga
aku tidak dapat berpadu dengan para ruh suci. Dia menjauhkanku dari yang
lain, sebab kecemburuanku (kepada-Nya) supaya Dia Sendiri saja. Dia
mengubahku, sebab Dia mengagumiku. Dia mengagumiku, sebab Dia
membuangku. Dia membuangku, sebab aku pengabdi. Dan, menempatkanku
dalam ahwal terlarang disebabkan kemitraanku. Dia mempertunjukkan
kekurangan nilaiku disebabkan aku memuji Keagungan-Nya. Dia
menyederhanakanku dengan sehelai kain ihram disebabkan kehajianku [hijya].
Dia membiarkanku disebabkan 'penemuan'-ku atas-Nya dalam zikir. Dia
menyingkapkan (kasyf) hijabku disebabkaan penyatuanku.
Dia mempenyatukanku disebabkan Dia memencilkanku. Dan, Dia
memencilkanku disebabkan Dia mencegah hasratku."
17. "Dengan Kebenaran-Nya, maka aku tidak salah dalam memperhatikan titahNya, bukannya aku menolak takdir. Aku tidak peduli sama sekali tentang
perubahan wajahku.
Aku hanya menjaga keseimbanganku (sunnah) melalui hukuman ini."
18. "Kendatipun Dia mengazabku dengan api-Nya sepanjang masa, aku tetap tidak
akan bersujud kepada sesuatu (selain-Nya). Aku tidak akan merundukkan
diriku kepada pribadi atau jasad (Adam as), sebab aku tidak mengaku
berlawanan dengan-Nya! Ikrarku khusyuk, dan aku memang seorang yang
khusyuk dalam 'cinta'!"
19. Al-Hallaj berkata: "Ada beragam teori yang berkenaan dengan keadaan (hal)
spiritualnya 'Azazyl ([ )sebutan Iblis sebelum kejatuhannya]. Seseorang
mengatakan bahwa ia ditugaskan dengan misi di surga, serta dengan suatu
misi (lainnya) di bumi. Di surga ia berkhutbah kepada malaikat, menunjukinya
tentang amalan yang baik.
Dan, di bumi ia berkhutbah kepada manusia dan jin, menunjukinya tentang
perbuatan yang jahat."
20. "Sebab, seseorang tidak akan mengenali sesuatu kecuali dengan (mengenali)
yang sebaliknya. Sebagaimana dengan sutera putih halus, yang hanya dapat
ditenun
dengan menggunakan lakan hitam di belakangnya -- makanya, malaikat
mempertunjukkan amalan baiknya, dan berkata simbolis, "Jika kau beramal,

kau akan mandapat pahala." Namun, ia yang tidak mengenal kejahatan


sebelumnya, niscaya tidak dapat mengenali kebaikan."
21. Sang Faqir, Abu Umar Al-Hallaj, berkata: "Aku bersoal dengan Iblis dan Fir'aun
tentang kehormatan Sang Pemurah." Kata Iblis: "Jika aku bersujud, aku niscaya
kehilangan gelar kehormatanku." Dan, kata Fir'aun: "Jika aku beriman kepada
Rasul (Musa as) itu, aku niscaya terjatuh dari harkat kehormatanku."
22. Al-Hallaj pun berkata: "Jika aku memungkiri pengajaranku dan pernyataanku,
aku juga niscaya jatuh dari altar kehormatanku."
23. Tatkala Iblis berkata: "Aku lebih baik daripada ia (Adam as)," maka ia tidak
melihat sesuatu pun selain dirinya. Tatkala Fir'aun berkata: "Aku tahu pun
tidak bahwa kau (Musa as) mempunyai Tuhan yang selain aku," ia tidak
mengetahui bahwa sembarang rakyatnya dapat membedakan antara
kebenaran dan kepalsuan.
24. Jadi, aku (Al-Hallaj) berkata: "Andaipun kau tidak mengenal-Nya, maka
kenalilah pertanda-Nya. Akulah pertanda-Nya [tajally], dan akulah Sang
Kebenaran (anal'-Haqq)!
Hal ini disebabkan aku tiada henti menyadari 'ada'-Nya Sang Kebenaran!"
25. Temanku adalah Iblis, dan guruku adalah Fir'aun. Iblis diancam dengan api dan
tidak mencabut pernyataannya. Fir'aun ditenggelamkan di Laut Merah tanpa
mencabut pernyataannya ataupun mengakui sembarang perantara (rasul).
kendatipun begitu ia berkata: "Aku beriman bahwa tiada Tuhan kecuali Dia
yang diimani oleh Bani Isra'il." (QS. 10: 90) Dan, bukankah kau melihat bahwa
Alloh pun menentang Jibril dalam Keagungan-Nya? Dia berfirman: "Mengapa
kau penuhi mulutmu dengan 'pasir'?"
26. Jadi, aku (akhirnya) dibunuh, digantung, tangan dan kakiku dipotong, tanpa
aku mencabut pernyataan tegasku!
27. Istilah Iblis diperoleh dari 'mutasi' nama pertamanya, 'Azazyl ().
'Ain'-nya ( )menunjukkan keluasan ikhtiarnya,
'zay'-nya ( )adalah bertambah kerapnya kunjungan (kepada-Nya),
'alif'-nya ( )sebagai jalan hidupnya dalam harkat-Nya,
'zay'-nya ( )yang kedua keasketisannya dalam derajat-Nya,

'ya'-nya ( )langkah pengembaraannya ke penderitaannya, dan


'lam'-nya ( )ketegarannya dalam kesakitannya.
28. Dia (Alloh) berfirman kepadanya: "Kau tidak bersujud, hai yang nista!" Ia
menjawab: "Sebutlah lebih baik -- 'pecinta'!" Karena pecinta dianggap rendah,
maka Engkau menyebutku nista. Aku telah membaca dalam Kitab yang Nyata,
wahai Sang Kuasa dan Setia, bahwa hal ini akan terjadi padaku. Jadi,
bagaimana mungkin aku menistakan diriku kepada Adam, padahal Engkau
menciptakannya dari tanah, sedangkan aku dari api? Dua hal yang berlawanan
tidak dapat diakurkan. Dan, aku telah mengabdi-Mu lebih lama, juga memiliki
kebajikan yang lebih luhur, pengetahuan yang lebih luas, serta aktivitas yang
lebih sempurna."
29. Alloh, yang senantiasa terpujilah Dia, berfirman kepadanya: "Pilihan adalah
milik-Ku, bukannya milikmu." Ia menjawab: "Segenap pilihan, bahkan pilihan
diriku, adalah milik-Mu. Karena Engkau telah terpilih untukku, wahai
Sang Khaliq. Jika Engkau mencegahku dari bersujud kepadaanya (Adam as),
Engkau adalah 'Sebab' pencegahan itu.
Jika aku khilaf berbicara, Engkau tidak membiarkanku, karena Engkau Sang
Maha Mendengar. Jika Engkau berkehendak aku bersujud kepadanya, aku
niscaya taat. Aku tidak mengetahui seorang pun di antara (makhluk) yang 'Arif,
yang mengenal-Mu secara lebih baik daripada aku."
30. Jangan persalahkan aku, ide kecaman jauh dariku, anugerahilah aku, wahai
Penguasaku, demi aku sendiri. Kalaupun dalam hal janji, janji-Mu itu sejatinya
Kebenaran prinsip, tentunya prinsip ikhtiarku juga kuat. Ia yang berhasrat
menulis ikrarku ini, atau membacanya, akan mengetahui bahwa aku (akhirnya)
menjadi seorang Syahid!
31. Hai saudaraku! Ia (Iblis) disebut 'Azazyl karena ia dibebastugaskan ('uzyla),
dibebastugaskan dari kesucian purbanya. Ia tidak kembali dari asalnya ke
akhirnya, sebab ia tidak keluar dari akhirnya. Ia dibiarkan, dikutuk dari
asalnya.
32. Upayanya untuk keluar pun gagal, disebabkan perasaan iba-dirinya. Ia
mendapatkan dirinya antara api tempat peristirahatannya dan cahaya posisi
ketinggiannya.
33. Sumber air di darat adalah telaga yang rendah. Ia (Iblis) terazab kehausan di
tempat yang (airnya) berlimpah-ruah. Ia menangisi kesakitannya, karena api

telah membakarnya. Kekhawatirannya tidak lain hanyalah kepura-puraan, dan


ke-'buta'-annya adalah kesia-siaan -- itulah ia adanya!
34. Hai saudaraku! Andaikan kau mengerti, kau telah mempertimbangkan jalan
sempit di kesempitannya yang teramat sangat. Kau telah menunjukkan
khayalan itu kepadamu dalam kemusykilannya yang teramat sangat. Dan, kau
akan menderita serta penuh kegelisahan.
35. Kaum shufi yang paling terjaga pun tetap bungkam tentang Iblis, dan para
'arifin tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan apa yang telah
dipelajarinya (tentang Iblis).
Iblis lebih kuat daripada mereka dalam hal pemujaan, dan lebih dekat daripada
mereka kepada Sang Zat Wujud. Ia (Iblis) mengerahkan dirinya lebih
dan 'lebih' setia pada perjanjian, serta lebih dekat daripada mereka kepada
Sang Pujaan.
36. Malaikat lain bersujud kepada Adam (as) karena dukungan (Alloh), sedangkan
Iblis menolak (bersujud) karena ia telah 'tafakur' sekian lamanya.
37. Kendati begitu, keadaannya menjadi membingungkan, dan pikirannya kesasar,
sehingga ia berkata: "Aku lebih baik daripada ia (Adam as)." (QS. 7: 12) Ia tetap
di balik tabir, tidak menghargai 'debu' (asal kejadian Adam as), dan mengusung
kutukan di atas pundaknya hingga Akhir Ke-'baqa'-an Masanya-Masa Ke'baqa'-an nanti...
_________________________________________________

Thosin Al Masyi-ah (Kehendak)


1. Inilah penggambaran tentang Taqdir Ilahi. Lingkaran ( o ) pertama adalah
Kehendak [masyiah] Alloh, dan ( o ) kedua adalah Hikmah-Nya, serta ( o )
ketiga adalah Kuasa-Nya, sedangkan ( o ) keempat adalah Ilmu-Nya
yang Azaliy.
2. Iblis berkata: Bila aku memasuki lingkaran pertama, aku akan menempuh
ujian dari (lingkaran) yang kedua. Dan, bila aku melintas ke yang kedua, aku
harus menempuh ujian dari (lingkaran) yang ketiga. Bahkan, bila aku

menyeberang ke yang ketiga, aku mesti menempuh ujian dari (lingkaran) yang
keempat.
3. Maka tidak (la), tidak (la), tidak (la), tidak (la), dan tidak (la)! Bahkan, bila
aku istirah di tidak pertamaku, aku pasti dikutuk sampai aku mengucapkan
(tidak) yang kedua, dan dibuang sampai aku mengucapkan (tidak) yang
ketiga. Jadi, apakah yang keempat berarti bagiku?
4. Kalaulah aku tahu bahwa bersujud (kepada Adam as) pasti menyelamatkan
aku, aku niscaya bersujud. Kendati demikian, aku tahu bahwa setelah lingkaran
(pertama) itu ada lingkaran-lingkaran (kedua, ketiga, dan keempat) lainnya.
Dengan pemikiran begitu, maka kukatakan kepada diriku: Kalaupun aku
selamat dari lingkaran (pertama) ini, bagaimana dapat aku keluar dari
(lingkaran) yang kedua, yang ketiga, dan yang keempat?
5. Adapun Alif ( ) dari La ( ) yang kelima adalah Dia Tuhan, Sang Hidup.
(QS. 2: 255)
_________________________________________________

Thosin Al Tauhid (Keesaan)


1.

Dia Alloh, Sang Maha Hidup (Al-Hayy).

2.

Alloh adalah Sang Esa, Unik, Sendiri, dan saksi sebagai yang Satu.

3. Sekaligus, Sang Esa dan kesaksian atas Penyatuan (Tawhid) yang Satu,
Adalah di Dia dan dari Dia.
4. Dari-Nya datang jarak pemisah (makhluk) yang lain dari Penyatuan-Nya,
dan itu dapat dilambangkan demikian ini:
[Tauhid terpisah dari Alloh, dan simbol wahdaniyah ini dilambangkan oleh
Alif ( ) panjang, dengan sejumlah dal ( ) di dalamnya. Adapun Alif-nya (
) merupakan Zat, dan dal-nya ( ) sebagai Sifat.]

5. Pengetahuan Tauhid adalah sebuah ikhtisar kesadaran yang mandiri, dan


perlambangnya demikian ini:
[Inilah Alif ( ) purba-Nya Zat (Alif panjang) dengan alif-alif ( ) lainnya,
yang merupakan wujud-wujud makhluk, dan yang hidup di atas Alif ()
utama.]
6. Tauhid adalah sifat subyek makhluk yang melafalkan ketauhidannya, dan
bukan sifat sang Obyek yang tersaksikan Satu.
7.
Apabila aku yang makhluk mengatakan aku, dapatkah aku membuatNya juga mengatakan Aku? Tauhidku datang dariku, dan bukan dari-Nya.
Dia suci [munazzah] dariku dan Tauhidku.
8. Bila aku mengatakan: Tauhid kembali ke ia yang mengatakannya,
maka aku membuatnya (Tauhid) sebagai suatu makhluk.
9. Jika aku mengatakan: Tidak, Tauhid itu datang dari sang Obyek yang
tersaksikan, maka adakah hubungan yang mengaitkan seorang peng-Esa
(Tauhid) ke pernyataannya tentang Penyatuan itu?
10. Andai kukatakan: Memang, Tauhid adalah hubungan yang mengaitkan
sang Obyek ke subyeknya, maka aku telah mengarahkan hal ini ke sebuah
ketentuan nalar!
Thasin Al Tauhid (Keesaan)
1.

Dia Alloh, Sang Maha Hidup (Al-Hayy).

2.

Alloh adalah Sang Esa, Unik, Sendiri, dan saksi sebagai yang Satu.

3. Sekaligus, Sang Esa dan kesaksian atas Penyatuan (Tawhid) yang Satu,
Adalah di Dia dan dari Dia.

4. Dari-Nya datang jarak pemisah (makhluk) yang lain dari Penyatuan-Nya,


dan itu dapat dilambangkan demikian ini:
[Tauhid terpisah dari Alloh, dan simbol wahdaniyah ini dilambangkan oleh
Alif ( ) panjang, dengan sejumlah dal ( ) di dalamnya. Adapun Alif-nya (
) merupakan Zat, dan dal-nya ( ) sebagai Sifat.]
5. Pengetahuan Tauhid adalah sebuah ikhtisar kesadaran yang mandiri, dan
perlambangnya demikian ini:
[Inilah Alif ( ) purba-Nya Zat (Alif panjang) dengan alif-alif ( ) lainnya,
yang merupakan wujud-wujud makhluk, dan yang hidup di atas Alif ()
utama.]
6. Tauhid adalah sifat subyek makhluk yang melafalkan ketauhidannya, dan
bukan sifat sang Obyek yang tersaksikan Satu.
7.
Apabila aku yang makhluk mengatakan aku, dapatkah aku membuatNya juga mengatakan Aku? Tauhidku datang dariku, dan bukan dari-Nya.
Dia suci [munazzah] dariku dan Tauhidku.
8. Bila aku mengatakan: Tauhid kembali ke ia yang mengatakannya,
maka aku membuatnya (Tauhid) sebagai suatu makhluk.
9. Jika aku mengatakan: Tidak, Tauhid itu datang dari sang Obyek yang
tersaksikan, maka adakah hubungan yang mengaitkan seorang peng-Esa
(Tauhid) ke pernyataannya tentang Penyatuan itu?
10. Andai kukatakan: Memang, Tauhid adalah hubungan yang mengaitkan
sang Obyek ke subyeknya, maka aku telah mengarahkan hal ini ke sebuah
ketentuan nalar!

Thosin Al Asrar fi al Tauhid (Kesadaran Diri


Dalam Tauhid)

1. Adapun perlambang Thasin Al Asrar fi al Tauhid : Kesadaran-Diri dalam


Tauhid adalah demikian ini:
[Alif ( ) panjang Penyatuan; Tauhid. Hamzah ( )kesadaran-diri,
beberapa di satu sisi dan beberapa lagi di sisi lainnya. Ain ( )di awal dan
akhir Zat.]
Kesadaran-diri itu berproses dari-Nya, kembali pada-Nya, dan beredar di
dalam-Nya. Kendati demikian, secara nalar semuanya tidak penting (bagiNya).
2. Subyek sejatinya Tauhid berbolak-balik melintasi keragaman subyek,
sebab Dia tidak tercakup dalam subyek atau dalam obyek ataupun dalam
kata-ganti lainnya. Akhiran kata-bendanya juga tidak terliput pada Obyeknya.
Kata-kepunyaan ha-nya ( )adalah milik Ah-nya ( ), dan bukan Ha ( )
lain, yang tidak membuat kita bertauhid.
3. Bila kukatakan tentang Ha ( )ini Wa-Ha (), yang lainnya akan
berseru padaku, Malangnya!
4. Itulah julukan, sebutan dan kiasan demonstrative yang menembus
(Tauhid) ini, sehingga kita dapat melihat Alloh melalui keadaan (hal)
senyatanya.
5. Segenap peribadi insan seperti sebuah bangunan yang tersusun rapi.
Inilah ketentuannya, dan Penyatuan Alloh (Tauhid) tidak terkecuali bagi
ketentuan ini. Kendati demikian, setiap ketentuan adalah batasan, dan sifat
batasan hanya berlaku bagi obyek-terbatas. Sebaliknya, obyek Tauhid tidak
mengakui pembatasan tersebut.
6. Kebenaran [al-Haqq] itu sendiri tidak lain dari singgasana Alloh,
bukannya Zat Alloh.

7. Dikatakan, Tauhid tidak mencapai (Kebenaran) itu, karena peran


kebahasaan dari suatu istilah dan pengertiannya yang pas, tidak berpadu satu
sama lain, ketika menyangkut sebuah imbuhan. Kalau begitu, bagaimana
dapat semua berpadu, ketika menyangkut Alloh?
8. Kalau kukatakan: Tauhid terpancar dari-Nya, maka aku menggandakan
Zat Ilahi, dan membuat pancaran dari Dirinya sendiri, ada bersama denganNya, ada ataupun tiada Zatnya secara bersamaan.
9. Andai kukatakan bahwa ada-nya tersembunyi di dalam Alloh, dan Dia
mengejawantahkannya. Bagaimana itu tersembunyinya, sedangkan di (Alloh)
sana tidak ada bagaimana atau apa ataupun ini-itu, dan di sana juga tidak
ada tempat [dimana] yang memuat Dia.
10. Sebab, di dalam ini-itu adalah ciptaan Alloh, sebagaimana adanya di
mana.
11. Adapun yang mendukung suatu aksi (aksiden) bukannya tanpa substansi.
Dan, yang tidak terpisahkan dari jasad bukannya tanpa unsur jasad. Juga yang
tidak terpisahkan dari ruh bukannya tanpa unsur ruh. Karena itu, Tauhid
merupakan sebuah perpaduan (spiritual).
12. Kita kembali dulu, di luar semua itu, ke pokok masalah [Obyek kita] dan
memisahkannya dari kalimat tambahan, pemaduan, penghitungan, peleburan
dan penyifatan.
13. Lingkaran pertama [pada diagram berikutnya] terdiri atas tindakan Alloh,
yang kedua terdiri atas tiruannya (tindakan). Dan, inilah dua lingkaran
(makhluk) ciptaan.
14. Sedangkan (lingkaran) titik-pusat melambangkan Tauhid, tetapi bukan
(sebenarnya) Tauhid. Kalau tidak, bagaimana mungkin itu terpisahkan dari
lingkaran?
____________________________________________

Thosin al Tanzih (Kesucian, keterbebasan)


1. Inilah lingkaran qiyas (alegori) Tauhid, dan inilah sosok perlambangnya:
2. Inilah kesemestaan yang dapat memperlihatkan kepada kita mengenai fatwa
dan hukum (Tauhid), juga buat para pakar, ahli ibadah dan ahli madzhab,
ahli fiqih dan ahli kalam.
3. Lingkaran pertama adalah perasaan harfiah, yang kedua adalah rasa batin,
dan yang ketiga adalah kias ruh (yang tidak terkiaskan).
4. Itulah keseluruhan segala sesuatu, yang dicipta ataupun digubah, yang dipakai,
ditapis, disaring, disangkal, yang dibuai ataupun dibius.
5. Ia beredar dalam kata-ganti kami subyek-subyek pribadi. Seperti sebatang
panah, ia menembusi sekujur mereka, melengkapinya, mengejutkannya, dan
membalikkannya. Ia juga menakjubkan mereka, meneranginya, dan ia
mempesonakannya saat menemui mereka.
6. Itulah keseluruhan substansi dan kualitas makhluk. Adapun Alloh tidak
berhubungan dengan perumpamaan ini.
7. Kalau kukatakan: Ia adalah Dia, pernyataan itu bukanlah (refleksi) Tauhid.
8. Bila kukatakan bahwa Tauhid Alloh itu shahih, orang akan menjawabku
Tidak sangsi lagi!
9. Andai kukatakan tanpa waktu, orang akan bertanya: Adakah maknanya
Tauhid itu tamsil? Padahal, tidak ada perbandingan saat menggambarkan
Alloh. Tauhidmu itu tidak ada hubungannya dengan Alloh ataupun makhluk,
sebab faktanya mengungkapkan bahwa sejumlah waktu itu mengintrodusir
kondisi terbatas. Dalam hal ini, kau telah menambahkan pengertian pada
Tauhid, seolah (Tauhid) itu bergantung. Bagaimanapun, kebergantungan

bukanlah sifat Alloh. Zat-Nya itu Unik. Dan, sekaligus, baik Kebenaran maupun
apa yang gaib, tidak mungkin terpancar (keluar) dari Zat-Nya Zat.
10. Jika kukatakan: Tauhid adalah Firman itu sendiri, Firman adalah sifatnya
Zat, bukan Zat itu sendiri.
11. Jika kukatakan: Tauhid maknanya Alloh berhasrat sebagai yang Satu,
Kehendak Ilahi adalah sifatnya Zat, sedangkan hasrat adalah makhluk.
12. Jika kukatakan: Alloh adalah Tauhidnya Zat yang dinyatakan pada dirinya
sendiri, maka aku membuat Zat bertauhid, yang bisa menjadi pergunjingan
kita.
13. Jika kukatakan: Tidak, ia (Tauhid) bukan Zat, lalu dapatkah aku menyatakan
bahwa Tauhid adalah makhluk?
14. Jika kukatakan: Nama dan obyek yang dinamai itu Satu, maka apakah
pengertian (nama) yang dikandung Tauhid?
15. Jika kukatakan: Alloh adalah Alloh, maka adakah aku mengatakan bahwa
Alloh adalah zatnya-Zat, dan ia (Tauhid) adalah Dia?
16. Inilah Tha-Sin yang membicarakan tentang penyangkalan atas alasan-alasan
sekunder, dan inilah lingkaran-lingkarannya, dengan La ( )yang tertulis di
sini sebagai sosoknya:
17. Lingkaran pertama adalah pra-Kelanggengan, yang kedua Keterangjelasannya,
yang ketiga Dimensinya, dan yang keempat Berpengetahuannya.
18. Adapun Zat bukannya tanpa sifat.
19. Sang penempuh (lingkaran) pertama membuka Gerbang Pengetahuan, dan
tidak bertemu. Yang kedua membuka Gerbang Penyucian, dan tidak bertemu.
Yang ketiga membuka Gerbang Pemahaman, dan tidak bertemu. Yang keempat
membuka Gerbang Pemaknaan, dan tidak bertemu. Tidak seorang pun ketemu
Alloh dalam Zat-nya atau dalam Kehendak-Nya, tidak dalam pembicaraan,
apalagi dalam Dia-nya Dia Sejati.
20. Maha Besar Alloh, yang Maha Suci, yang dengan kesucian-Nya tidaklah Dia
terjangkau oleh segenap cara (thariqah) sang arif, apalagi oleh segenap intuisi
orang kebatinan.

21. Inilah Tho-Sin tentang Nafi-Itsbat (Penyangkalan dan Penegasan) dan inilah
penjabarannya:
22. Rumus pertama membicarakan pikiran orang kebanyakan (amm), yang kedua
pemikiran orang terpilih (khasysy). Dan, lingkaran yang
menggambarkan Ilmu Alloh ada di antara keduanya. Adapun La ( )yang
tertutup lingkaran adalah penyangkalan atas segenap dimensi. Dua ha-nya ()
adalah perangkatnya, seperti pilar dua sisinya Tauhid, yang menopangnya ke
atas. Di luar itu berawal ketergantungan (makhluk).
23. Pikiran orang kebanyakan tercebur ke samudera khayal, dan pemikiran orang
terpilih (tercebur) ke samudera kearifan. Tetapi, dua samudera itu akan
mengering, dan jalan yang mereka tandai akan terhapus. Pikiran dan
pemikiran itu akan lenyap, dua pilarnya akan runtuh, dua alam maujudnya
akan hancur, juga pembuktiannya serta pengetahuannya akan musnah.
24. Sedangkan di hadirat Keilahian Alloh, Dia tetap Ada, mengatasi sekalian
makhluk yang bergantung. Segenap puji bagi Alloh, yang tidak terjangkau oleh
alasan sekunder. Bukti-nya sangat kuat, dan kuasa-Nya sangat agung. Dia,
Tuhan Sang Kemegahan dan Keagungan serta Kemuliaan. Maha Satu yang
Tiada-Terbilang dengan kesatuan aritmetis. Tiada patokan, hitungan, awalan
atau akhiran yang menjangkau-Nya. Wujud-Nya Tiada-Terbayang karena Dia
bebas dari maujud. Dia Sendiri saja yang mengetahui Diri-Nya, Penguasa
Keluasan dan Keluhuran (QS. 55: 27), Pencipta (Al-Khaliq) ruh dan jasad.
____________________________________________

THOSIN: Pencapaian Sang Laron "


Sang laron terbang di sekeliling nyala api hingga terbit fajar.
Lalu ia kembali ke rekan-rekannya, dan menceritakan
keadaan (hal) spiritualnya dengan ungkapan yang penuh kesan.
Ia berpadu (hulul) dengan geliatnya nyala api
dalam hasratnya untuk mencapai Penyatuan (Tawhid) yang sempurna.
Cahayanya nyala api itu adalah Pengetahuan hakikat,
panasnya adalah Kenyataan hakikat,

dan Penyatuan dengannya adalah Kebenaran hakikat.


Ia merasa tidak puas dengan cahayanya ataupun dengan panasnya,
sehingga ia melompat ke dalam nyala api langsung.
Sementara itu rekan-rekannya menantikan kedatangannya,
supaya ia menceritakan kepada mereka tentang 'penglihatan' aktualnya,
karena ia merasa tidak puas dengan kabar angin saja.
Tetapi, ketika itu ia tengah tuntas sirna (fana'),
musnah dan buyar ke dalam kepingan-kepingan,
yang tersisa tanpa wujud, tanpa jasad ataupun tanda pengenal!
Jadi, dalam peringkat (maqam) apa ia dapat kembali ke rekan-rekannya?
Dan keadaan (hal) spiritual apa yang tengah dicapainya sekarang?
Ia yang sampai pada pandangan (bashirah) batin,
niscaya sanggup terlepas dari perkabaran saja.
Juga ia yang sampai pada inti pandangan batin,
tidak lebih prihatin tentang pandangan batinnya...
(: Dari Fragmen "THAWASIN" Al-Hallaj...)

"THOSIN TITIK 'AZALI"


(Sebuah Fragmen dalam "THOWASIN"
Al-Hallaj)
... aku 'melihat' Tuhanku dengan mata hatiku,
aku menyapa: "Siapakah Engkau?"
Dia menjawab: "Kau!"
namun, bagiku, 'di mana' tak memiliki tempat,
dan tak ada 'di mana' ketika perhatian menyangkut-Mu,
akal pun tak punya bayangan
tentang keberadaan-Mu dalam (dimensi) waktu,
yang mengizinkan akal mengetahui 'di mana' Engkau adanya...
Engkau adalah 'Sesuatu' yang meliputi setiap 'di mana',
mengatasi 'Titik' yang 'tak-di mana-mana'.
jadi, 'di mana'-kah Engkau adanya...?

Diterjemahkan oleh AM Santrie dari THOWASIN edisi Arab, terbitan Beirut


dan edisi Inggris, terjemahan Aisha Abd Arhman At-Tarjumana

Tasawuf Falsafi Al-Hallaj


AL-HALLAJ
(Biografi,karya,tasawuf, dan pemikirannya)
Latar Belakang
Pada abad ke 9 Masehi, berkembang kehidupan kerohanian Islam dengan
jalan melakukan Zuhud (mengabaikan dunia) untuk mencapai kesempurnaan
marifat dan tauhid kepada Alloh. Gagasan-gagasan para ahli sufi dan syiah
pada abad tersebut telah ditemukan, baik yang berupa berupa syair ataupun
pemikiran yang menunjukkan keanekaragaman kemungkinan dalam
kehidupan mistik, seperti halnya Al Ghazali, Dzun Nun (859 M), Bayezid
Bistami (874 M), dan Al Harith al Muhasibi (857 M) dan Husein Ibn Mansur Al
hallaj (858 M).
Pemikiran dan peranan para tokoh inilah yang perlu kita ketahui sebagai
wacana keilmuan dan sejarah, sekaligus menganalisa konflik pemikiran yang
tidak pernah habis dibahaskan, kerana pihak-pihak yang berbeda pendapat
tidak pernah saling bertemu untuk memberikan klarifikasi dalam satu majlis,
kecuali hanya saling mengecam dan mengkafirkan dengan musabab bibit
konflik politik kekuasaan yang serakah dan licik sejak dahulu.
Menarik untuk dikaji kembali penyataan yang popular yang di lontarkan oleh
Husein Ibnu Al Hallaj "Ana al-Haq" dan juga tak kalah populernya yaitu paham
hulul. Peristiwa ini merubah pandangan masyarakat umum terhadap kaum
Sufi atau para Zahid yang menjalankan praktis kerohaniannya dengan
melakukan dzikir secara rutin, shalat malam dan menjauhkan diri dari
perbuatan maksiat. Sehingga pada ujungnya berpengaruh terhadap
perkembangan ilmu tafsir yang menjadi nadi.

A. Biografi Al-Hallaj
Memiliki nama lengkap Abu al-Mughits al-Husein bin Mansur bin Muhammad
al-Baidawi . Beliau dilahirkan pada tahun 244 H (858 M) di Thur bagian
distrik Baida Persia, tempat orang-orang Iran selatan yang telah terArabisasi
yang merupakan sub camp dari jund Basrah, dan kemudian menjadi pusat
militer (dengan sebuah pabrik pembuat koin uang untuk pasukan yang keluar
dari Shiraz ke Khurasan untuk memerangi Turki), sekarang berada di wilayah
Barat Daya Iran. Beliau dibesarkan di Wasit dan Tustar yang dikenal sebagai
tempat perkebunan kapas dan tempat tinggal para penyortir kapas . Ayahnya
adalah seorang penyortir wool (hallaj), oleh karena itu beliau diberi gelar alHallaj . Bersama ayahnya, al-Hallaj berimigrasi ke sebuah pusat tekstil di
Ahwaz dan Tustar. Kakeknya, Muhammad adalah seorang penyembah api,
pemeluk agama Majusi sebelum ia masuk Islam. Ada yang mengatakan bahwa
al Hallaj berasal dari keturunan Abu Ayyub, sahabat Rasulullah.
Sejak kecil al-Hallaj sudah banyak bergaul dengan orang-orang sufi terkenal.
Pada saat ia berumur 16 tahun, ia menetap di Tustar dan berguru pada Sahl
ibn Abdullah at-Tustury (wafat 896 M/ 282 H), seorang sufi terkenal yang
pernah belajar pada Sufyan at-Tsaury (Wafat 778 M/ 161 H) . Dua tahun
kemudian ia meninggalkan gurunya at-Tustury dan pindah ke Bashrah untuk
belajar kepada Sufi Amr al-Makki. Kemudian dia masuk ke kota Baghdad dan
belajar kepada al-Junaid al-Baghdadi. Al-Hallaj pernah hidup dalam pertapaan
dari tahun 873-879 M bersama-sama dengan guru sufi al-Tustury, Amr alMakki, dan Junaid al-Baghdadi.
Setelah itu al-Hallaj pergi mengembara dari satu negeri ke negeri lain,
menambah pengetahuan dalam ilmu tasawuf, sehingga tidak ada seorang
syekh ternama yang tidak pernah dimintainya nasehat. Al-Hallaj telah
menunaikan ibadah haji tiga kali selama hidupnya. Dalam perjalanan dan
pengembaraan serta pertemuannya dengan ahli- ahli sufi itulah yang
membentuk pribadi dan pandangan hidup al-Hallaj sehingga dalam usia 53
tahun ia telah menjadi pembicara ulama pada waktu itu karena paham
tasawufnya yang berbeda dengan yang lain. Sampai-sampai seorang ulama
fiqh terkemuka yang bernama Ibn Daud al-Isfahani mengeluarkan fatwa yang
mengatakan bahwa paham dan ajaran al-Hallaj sesat. Atas dasar fatwa ini Al
Hallaj dipenjarakan. Tetapi setelah satu tahun dalam penjara, dia dapat
melarikan diri dengan pertolongan dari seorang penjaga yang menaruh
simpati padanya.
Dari Baghdad ia melarikan diri ke Sus di wilayah Ahwas. Disana ia
bersembunyi selama empat tahun. Namun pada tahun 301H/903M ia
ditangkap kembali dan dimasukkan lagi ke dalam penjara sampai delapan

tahun lamanya. Akhirnya pada tahun 309/921M diadakanlah persidangaan


ulama di bawah kerajaan Bani Abbas di masa khalifah al-Muktadirbillah. Pada
tanggal 18 Dzulkaidah 309H jatuhlah hukuman kepadanya. Dia dihukum mati
dengan mula-mula dipukul dan dicambuk dengan cemeti, lalu disalib, sesudah
itu dipotong kedua tangan dan kakinya, dipenggal lehernya dan ditinggalakan
tergantung pecahan-pecahan tubunhnya itu di pintu gerbang kota Baghdad.
Kemudian dibakar tubuhnya dan abunya dihanyutkan di sungai Dajlah.
Dalam riwayat lain diceritakan secara lebih mendetail mengenai jalannya
eksekusi ekstra tragis yang diterima al-Hallaj. Al-Hallaj tengah dipecut
(disebat) seribu kali tanpa mengaduh kesakitan. Sesudah dipecut, kepalanya
dipenggal, tapi sebelum dipancung dia sempat shalat 2 rakaat. Kemudian kaki
dan tangannya dipotong. Badannya digulung ke dalam tikar bambu,
direndamkan ke naftah dan kemudian dibakar. Abu mayatnya dihanyutkan ke
sungai sedangkan kepalnya di bawa ke Khurasan untuk dipersaksikan oleh
umat Islam dan sejarahnya.
Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa ketika proses hukuman mati al-Hallaj,
algojo-algojo menaikkan al-Hallaj ke atas menara yang tinggi, kemudian
dikerumuni orang banyak yang datang dari berbagai penjuru yang
diperintahkan untuk melempari batu kepadanya. Ketika itu dia selalu
mengulang-ulang kalimat yang menyebabkan ia dijebloskan ke dalam penjara
dan hukuman mati, yaitu Ana Al Haqq (aku adalah Yang Maha benar). Dan
ketika disuruh untuk membaca syahadat, dia berteriak seraya berseru kepada
Alloh: Sesungguhnya wujud Alloh itu telah jelas, tidak membutuhkan
penguat semacam syahadat.
Ketika dipukul oleh para algojo, al-Hallaj tersenyum. Setelah selesai
memukulnya, mereka memotong tangan dan kakinya, diapun menerimanya
dengan tersenyum, bahkan dia sempat mengoleskan darah potongan
tangannya ke mukanya seakan-akan dia berwudhu dengan darah sucinya itu.
Setelah itu para algojo memotong lidah dan mencukil matanya. Pada saat itu
dia berisyarat, seakan-akan memintakan ampun bagi para algojo kepada Alloh
Mereka semua adalah hambaMu, mereka berkumpul untuk membunuhku
karena fanatik terhadap agamaMu dan untuk mendekatkan diri kepadaMu.
Maka ampunilah mereka. Andaikata Kau singkapkan kepada mereka apa yang
Kau singkapkan kepadaku, tentu mereka tidak akan melakukan apa yang
mereka lakukan sekarang ini.
Al-Hallaj adalah seorang alim dalam ilmu agama Islam. Sebagaimana
dikatakan oleh Ibn Suraij, ia adalah seorang yang hafal al-Quran beserta
pemahamannya, menguasai ilmu fiqh dan hadist serta tidak diragukan lagi
keahliannya dalam ilmu tasawuf. Beliau merupakan seorang zahid yang

terkenal pada masanya, dan masih banyak lagi sifat kesalehannya.


B. Karya Karya Al-Hallaj
Ibnu nadim seorang ahli riwayat ternama, yang banyak sekali membicarakan
al-Hallaj dan menentang pendiriannya, mencatat bahwa karya-karya al-Hallaj
tidak kurang dari 47 buah banyaknya. Diantaranya adalah:
1. Al Ahruful muhaddasah, wal azaliyah, wal asmaul kulliyah.
2. Kitab Al Ushul wal Furu.
3. Kitab Sirrul Alam wal mabuts.
4. Kitab Al Adlu wat Tauhid.
5. Kitab Ilmul Baqa dan Fana.
6. Kitab Madhun Nabi wal Masaul Alaa.
7. Kitab Hua, Hua.

8. Kitab At Thawwasin.

Kedelapan kitab ini adalah yang terpenting di antara 47 kitab itu. Menurut atTaftazani, kitab At-Thawasin merupakan kitab al-Hallaj yang paling lengkap
dalam menggambarkan paham tasawufnya. Susunan bahasanya sangat sulit
dipahami, sehingga mungkin banyak pembaca tidak mengerti apa yang
dimaksudkan penulisnya. Disamping itu, kitab tersebut berisi rumus-rumus
dan istilah-istilah yang tidak gampang dimengerti.
C. Filsafat Al-Hallaj
Inti ajaran al-Hallaj telah dinyatakan dalam bentuk syair (Tawasin) dan juga
kadang dalam prosa (Natsar), dalam susunan kata-kata yang mendalam di
sekililing tiga hal, yaitu :

1. Hulul ketuhanan (lahut) menjelma kedalam diri insan (nasut).


Secara etimologi Hulul memiliki sinonim dengan infusion yang bermakna
penyerapan yakni menyerap keseluruh obyek yang dapat menerimanya
(the infusion spreads to all part of the receptive object). Secara harfiah hulul
berarti Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu, yaitu
manusia yang telah dapat melenyapkan sifat-sifat kemanusiaannya melalui
fana. Menurut keterangan Abu Nasr al-Tusi dalam al-Luma sebagaimana
dikutip Harun Nasution, hulul adalah paham yang mengatakan bahwa Tuhan
memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat di dalamnya
setelah sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan.
Paham hulul dapat dikatakan sebagai lanjutan atau bentuk lain dari faham alittihad yang dipopulerkan oleh Abu Yazid al-Bustami (874 M/ 261 H). Tetapi

dua konsep ajaran ini berbeda. Dalam ajaran al-ittihad, diri manusia lebur dan
yang ada hanya diri Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Sedangkan dalam konsep
hulul, diri manusia tidak hancur. Dalam konsep al-ittihad yang dilihat satu
wujud, sedangkan dalam konsep ajaran hulul disana ada dua wujud tetapi
bersatu dalam satu tubuh .
Sebelum Tuhan menjadikan makhluk, Ia hanya melihat diri-Nya sendiri.
Dalam kesendirian-Nya itu terjadilah dialog antara Tuhan dengan diri-Nya
sendiri, yaitu dialog yang di dalamnya tidak terdapat kata ataupun huruf. Yang
dilihat Alloh hanyalah kemuliaan dan ketinggian zat-Nya. Alloh melihat
kepada dzat-Nya dan Ia pun cinta pada zat-Nya sendiri, cinta yang tak dapat
disifatkan, dan cinta inilah yang menjadi sebab wujud dan sebab dari yang
banyak ini. Ia pun mengeluarkan dari yang tiada bentuk copy dari diri-Nya
yang mempunyai sifat dan nama-Nya. Bentuk copy ini adalah Adam. Setelah
menjadikan Adam dengan cara itu, Ia memuliakan dan mengagungkan Adam.
Ia cinta pada Adam, dan pada diri Adam Alloh muncul dalam bentuk-Nya.
Teori ini nampak dalam syairnya:

#
#

Maha suci dzat yang sifat kemanusiaannya membuka rahasia


Ketuhanan-Nya yang gemilang
Kemudian kelihatan bagi makhluk-Nya dengan nyata
Dalam bentuk manusia yang makan dan minum
Melalui syair diatas, tampaknya al-Hallaj memperlihatkan bahwa Alloh
memiliki dua sifat dasar, yaitu sifat ketuhanan (lahut) dan sifat kemanusiaan
(nasut). Demikian pula pada diri manusia juga terdapat dua sifat dasar, yaitu
sifat ketuhanan (lahut) dan sifat kemanusiaan (nasut). Dengan demikian maka
manusia mempunyai sifat ketuhanan dalam dirinya. Yang demikian ini
merupakan bentuk pemahaman al-Hallaj dalam menafsirkan Q.S. Al-Baqarah
ayat 34 yang berbunyi :

dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah[36]


kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan
takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir.
[36] Sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan Adam, bukanlah berarti sujud memperhambakan diri,
karena sujud memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada Allah.

Alloh memberi perintah kepada malaikat agar bersujud kepada Adam. Karena
yang berhak untuk diberi sujud hanya Alloh, maka al-Hallaj memahami bahwa
dalam diri Adam (manusia) sebenarnya terdapat unsur ketuhanan. Disisi lain,
hal ini (sujud) dikarenakan pada diri Adam, Alloh menjelma sebagaimana Dia
menjelma dalam diri Isa as.
Kalau sifat-sifat kemanusian itu telah hilang dan yang tinggal hanya sifat-sifat
ketuhanan dalam dirinya, disitu baru Tuhan dapat mengambil tempat dalam
dirinya. dan ketika itu roh Tuhan dan roh manusia bersatu dalam tubuh
manusia, sebagaimana diungkapkannya dalam syair berikut :

#
#
#
#
Telah bercampur rohMu dalam rohku
Laksana bercampurnya khamar dengan air yang jernih
Bila menyentuh akan-Mu sesuatu, tersentuhlah Aku
Sebab itu, Engkau adalah Aku, dalam segala hal
Aku adalah ia yang kucintai dan ia yang ku cintai adalah aku
Kami adalah dua jiwa yang bertempat dalam satu tubuh
Jika engkau lihat aku, engkau lihat ia
Dan jika engkau lihat ia, engkau lihat kami.
Berdasarkan syair diatas, dapat diketahui bahwa persatuan antara Tuhan
dengan manusia dapat terjadi dengan mengambil bentuk hulul. Yakni dengan
terlebih dahulu menghilangkan sifat kemanusiaannya (nasut). Setelah sifatsifat kemanusiaannya hilang dan hanya tinggal sifat ketuhanan (lahut) yang
ada pada dirinya, disitulah Tuhan mengambil tempat dalam dirinya, dan
ketika itu roh Tuhan dan roh manusia bersatu dalam tubuh manusia.
Menurut al-Hallaj, pada hulul terkandung kefanaan total kehendak manusia
dalam kehendak ilahi, sehingga setiap kehendaknya adalah kehendak Tuhan,
demikian juga tindakannya. Namun disisi lain al-Hallaj mengatakan:

Keinsananku tenggelam kedalam ketuhanan-Mu, tetapi tidaklah


mungkin percampuran. Sebab ketuhanan-Mu itu senantiasa
menguasai akan keinsananku. Barangsiapa yang menyangka bahwa
ketuhanan bercampur keinsanan jadi satu, atau keinsanan masuk
kedalam ketuhanan, maka kafirlah dia. Sebab Tuhan itu bersendiri
dalam zat-Nya dan sifat-Nya daripada makhluk dan sifat-Nya pula.
Tidaklah Tuhan serupa dengan manusia dalam rupa bentuk yang
mana jua pun.
Dengan demikian, al-Hallaj sebenarnya tidak mengakui bahwa dirinya adalah
Tuhan dan juga tidak sama dengan Tuhan. Seperti yang terlihat dala syairnya:

#
Aku adalah yang Maha Benar
Dan bukanlah yang Maha benar itu aku
Aku hanya satu dari yang Maha Benar
Maka bedakanlah aku dari yang Maha Benar
Dari penjelasan-penjelasan diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa
hulul yang terjadi pada al-Hallaj tidaklah nyata karena membari pengertian
secara jelas bahwa adanya perbedaan antara hamba dengan Tuhan. Dengan
demikian, hulul yang terjadi hanya sekedar kesadaran psikis yang
berlangsung pada kondisi fana, atau sekedar terlebarnya nasut kedalam
lahut, dan diantara keduanya tetap ada perbedaan. Untuk lebih memahami
doktrin hulul ini, lebih jelasnya dapat merujuk kepada rangkaian penjelasan
al-Hallaj berikut ini : Siapa yang membiasakan dirinya dalam

ketaatan, sabar atas kenikmatan dan keinginan, maka ia akan naik


ketingkat muqarrabin. Kemudian ia senantiasa suci dan meningkat
terus hingga terbebas dari sifat-sifat kemanusiaan ini. Apabila sifatsifat kemanusiaan dalam dirinya lenyap, maka roh Tuhan akan
mengambil tempat dalam tubuhnya sebagaimana ia mengambil
tempat pada diri Isa bin Maryam. Dan ketika itu seorang sufi tidak
lagi punya kehendak kecuali apa yang dikehendak oleh ruh Tuhan
sehingga seluruh perbuatannya merupakan perbuatan Tuhan . Air
tidak dapat menjadi anggur meskipun keduanya telah bercampur
aduk .

2. Al-Haqiqah al-Muhammadiyah (Nur Muhammad)


Menurut al Hallaj Nur Muhammad merupakan asal atau sumber dari segala
sesuatu , segala kejadian, amal perbuatan dan ilmu pengetahuan . Dan dengan
perantaraan Nur Muhammad itulah alam ini dijadikan. Nur Muhammad bisa
diartika juga sebagai pusat kesatuan alam dan pusat kesatuan nubuwwat
segala Nabi. Dan nabi-nabi itu, nubuwwat-nya ataupun dirinya hanyalah
sebagian dari Nur Muhammad itu. Segala macam ilmu, hikmat dan nubuwwat
adalah pancaran dari Nur Muhammad.
Menurut Al Hallaj, kejadian Nabi Muhammad terbentuk dari dua rupa.
Pertama, rupanya yang qadim dan azali, yaitu dia telah terjadi sebelum
terjadinya segala yang ada ini. Kedua, ialah rupanya sebagai manusia, sebagai
seorang Rasul dan Nabi yang diutus Tuhan. Rupanya sebagai manusia akan
mengalami maut, tetapi rupanya yang qadim akan tetap ada meliputi alam.
Paham tentang Nur Muhammad ini berdasar pada hadis yang sangat populer
di kalangan ahli sufi, yaitu : Aku berasal dari cahaya Tuhan dan seluruh
dunia berasal dari cahayku. Dan paham ini kemudian dikembangkan dan
disebarluaskan oleh Muhyiddin Ibnu Arabai (w638H) dan Abd.al Karim bin
Ibrahim al Jili (w.811H) dalam kerangka ide Insan Kamil.
Dalam teori kejadian alam dari Nur Muhammad ini nampak adanya pengaruh
ajaran filsafat. Kalau dalam filsafat Islam, teori terjadinya alam semesta
diperkenalkan oleh al Farabi dengan mentransfer teori emanasi Neo
Platonisme Plotinus, maka dalam tasawuf teori ini mula-mula diperkenalkan
oleh al Hallaj dengan konsep barunya yang disebut Nur Muhammad atau
Haqiqah Muhammadiyah sebagai sumber dari segala yang maujud.

3. Wahdah al adyan (Kesatuan agama-agama)


Inti ajaran dari Wahdah al adyan adalah sebenranya nama agama yang
berbagai macam, seperti Islam, Nasrani, Yahudi dan yang lain-lain hanyalah
perbedaan nama dari hakikat yang satu saja. Nama berbeda, satu tujuan.
Segala agama adalah agama Alloh maksudnya ialah menuju Alloh. Orang
memilih suatu agama, atau lahir dalam satu agama, bukanlah atas
kehendaknya, tetapi dikehendaki untuknya. Cara ibadah bisa berbeda
warnanya, namun isinya hanya satu. Paham Wahdah al-Adyan ini muncul
sebagai konsekuensi logis dari pahamnya tentang Nur Muhammad. Yakni
pahamnya al-Hallaj tentang qadimnya Nur Muhammad telah mendorongnya
untuk berkesimpulan tentang kesatuan agama.
Mengenai hal ini, Abdullah bin Tahir al-Azdi mengatakan, sebagaimana

dicatatkan oleh al-Taftazani sebagai berikut:

Suatu hari aku bertengkar dengan orang yahudi di pasar baghdad.


Diapun ku maki: hai anjing. Ketika itu al-Hallaj lewat dan
memandangku dengan geram. Dan tegurnya: jangan kau maki
anjingmu. Dan diapun langsung pergi. Setelah pertengkaran itu, aku
mencari al-Hallaj. Namun ketika ku temui, dia memalingkan
wajahnya. Akupun meminta maaf kepadanya. Lalu dia berkata:
wahai sahabatku, semua agama adalah milik Alloh. Setiap golongan
menganut suatu agama tanpa adanya pilihan, bahkan dipilihkan bagi
mereka. Kerena itu, barangsiapa menyalahkan apa yang dianut
golongan itu sama saja halnya dia telah menghukumi golongan
tersebut menganut agama atas upayanya sendiri. Ketahuilah !
agama-agama yahudi, islam dan yang lain-lainya adalah sebutan
serta nama yang beraneka ragam dan berbeda. Akan tetapi tujuan
tujuan semuanya tidak berbeda .
Tidak ada faedahnya seseorang mencela orang yang berlainan agama dengan
dia, karena itu adalah takdir (ketentuan) Tuhan buat orang itu. Tidak ada
perlunya berselisih dan bertingkah. Tetapi lebih baik perdalamlah agama
masing-masing.
D. Pendapat Ulama Mengenai Pemikiran Al Hallaj
Berbagai macamlah perkataan ulama tentang al-Hallaj. Sebagian
mengkafirkan dan sebagian yang lain membela atau membenarkan. Beberapa
perkataan, terutama dari pihak masa kekuasaan pada masa itu tersiar bahwa
ajaran al-Hallaj sangat merusak ketentraman umum. Murid-muridnya sampai
ada yang menyangka bahwa al-Hallaj adalah Tuhan, sebagaimana
prasangkaan orang nasrani terhadap diri isa al-masih. Dia dianggap pandai
menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang sakit kusta. Muridnya kian
lama kian banyak. Dan setelah diselidiki oleh penyelidik kerajaan, katanya dia
mengadakan hubungan yang rapat dengan kaum karamithah, yaitu
segolongan umat di abad ketiga dan keempat yang menyerupai faham
komunis di indonesia. Sebab itu dia tidak mau mengakui kekuasaan
pemerintahan yang sah. Dia mengakui sebagian kepercayaan kaum
ismailiyyah bahwa imam yang sejati ialah imam yang ghaib.
Dan lagi menurut beritra yang tersiar itu pula beliau menfatwakan
bahwasannya naik haji yang lahir pergi ke mekkah itu tidaklah perlu
dikerjakan. Sebab itu hanya memayah-mayahkan diri saja. Itu boleh diganti

dengan haji yang lain, yaitu dengan haji rohani, dengan membersihkan diri
dan jiwa dan tafakur mengingat Tuhan dalam khalwat, sehingga kabah itu
sendirilah yang datang kedalam khalwatnya menemuinya. Disanapun dia
boleh berthawaf.
Memang, banyak di antara ulama yang tidak bisa menerima ajaran tasawuf
yang diajarkan oleh Al Hallaj ini, tetapi tidak sedikit pula para ulama yang
sependapat dan membelanya. Kebanyakan Ulama fiqih mengkafirkannya.
Dengan alasan bahwasanya mengatakan bahwa diri manusia bersatu dengan
Tuhan adalah syirik yang amat besar. Oleh karena itu Ibn at Taymiyah, Ibn al
Qayyim, Ibn an Nadim dan lain-lain berpendapat bahwa hukuman mati yang
ditimpakan kepada Al Halaj memang patut diterimanya.
Tetapi ulama-ulama fiqih yang lain seperti Ibnu Syuraih seorang ulama yang
sangat terkemuka dari mazhab Malik, memberikan komentar: "Ilmuku tidak

mendalam tentang dirinya, karena itu saya tidak bisa berkata apaapa".

Pembela-pembela Al Hallaj menjernihkan ajarannya dari apa yang dituduhkan


orang kepadanya. Syaikh Abdurrahman As Saqqaf salah seorang Syaikh
tarikat Alawiyah, mengatakan bahwa dia sebelumnya menyangka pada diri Al
Hallaj ada keretakan karena sikapnya, seperti keretakan pada kaca, tetapi
setelah sampai pada maqam al qutbiyyah dia melihat bahwa Al Hallaj telah
mencapai tingkat bila diandaikan buah dia telah matang.
Imam Al Ghazali ketika ditanyai bagaimana pendapatnya tentang perkataan
"ana al haq?". Beliau menjawab," Perkataan demikian yang keluar dari

mulutnya adalah karena sangat cintanya kepada Alloh. Apabila cinta


sudah demikian mendalamnya, tidak ada lagi rasa berpisah antara
diri seseorang dengan seseorang yang dicintainya". Sehingga beliau,
Jalaludin Rumi, dan Fariduddin al Attar memberinya julukan "Syahidul Haq"
(seorang syahid yang benar).
Beliau syekh Maftuh Basthul Birri salah satu masyayikh di ponpes Hidayatul
Mubtadiin (lirboyo) dalam bukunya yang berjudul Manaqib 50 Wali Agung
mengatakan Syekh al-Hallaj ini tinggi sekali marifat dan ilmu haqiqatnya,
jadzab dan cintanya dengan Alloh seperti imam Abu Yazid al-Bustomi,
sehingga beliau pernah berkata ANAL HAQ. Maka banyak orang yang ingkar
karena tidak sampai kefahamannya.

Kesimpulan
1. Al-Hallaj merupakan seorang ahli sufi, filsuf, dan sekaligus wali Alloh yang
hidup pada masa khalifah al-muktadir billah dan beliau wafat karena dihukum

mati untuk mempertanggung jawabkan ajarannya yang dianggap sesat oleh


beberapa ulama khususnya fuqoha pada masa itu.
2. Al-Hallaj tidak melakukan dosa terhadap kebenaran, tetapi beliau dihukum
karena tindakannya yang dipandang bertentangan dengan hukum. Beliau
membuka rahasia tentang Tuhan dengan mengemukakan segala yang
dianggap misteri tertinggi yang selayaknya hanya boleh diketahui oleh orangorang terpilih saja.
3. Ajaran al-Hallaj yang mashur adalah hulul (ketuhanan (lahut) menjelma ke
dalam diri insan (nasut)), al-haqiiqah al-muhammadiyyah (nur Muhammad),
dan wahdatul adyan (kesatuan semua agama).
4. Al-Hallaj mengatakan bahwa tidak ada pemisahan antara Tuhan dengan
makhluk-Nya sebagaimana dengan kesatuan ilahi yang melingkupi makhlukNya. Yang berbicara Ana Al-Haq bukanlah al-Hallaj pribadi, melainkan Tuhan
sendiri melalui mulut al-Hallaj.
Daftar Pustaka:
Massignon Louis, Al Hallaj, (Yogyakarta : Fajar Pustaka Baru, tt)
As Asmaran, Pengantar Studi Tasawuf, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada,
2002)
Rosihon anwar dan Mukhtar sholihin, ilmu tasawuf, (Bandung : Pustaka Setia,
tt)
Hamka, Tasauf, Perkembangan dan Pemurniannya, (Jakarta : PT. Pustaka
Panjimas)
Basthul Birri Maftuh, Manaqib 50 Wali Agung, (Kediri:Lirboyo, 1999)
Al-Hamdulillah telah selesai penyusunan e-book ini dengan rodho dan
pertolongan Alloh swt. semoga buku ini bisa kita ambil barokah dan
manfaatnya, untuk kita mendekatkan diri kepada Alloh.
Takhrij:

Al-Mahad Tanwirul Qulub


Pondok Padang Ati (PPA)
ashakimppa.blogspot.com
ashakim.ppa@gmail.com