Anda di halaman 1dari 15

TUGAS ILMU BEDAH PLASTIK

LITERATURE TRANSLATE
Grabb and Smiths Plastic Surgery 6th Edition
Chapter 11 Local Anesthetics

Perceptor:
dr. Bobby Swadharma Putra, Sp. BP-RE

Oleh :
Alyssa Fairudz Shiba, S.Ked

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


RSUD DR H ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2016

KATA PENGANTAR

Assalammualaikum wr.wb

Alhamdulillah, puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
atas berkat dan anugerah-Nya sehingga kami dapat menyusun literatur translate
ini yang berjudul Chapter 11 Local Anesthetics
Tugas ini disusun dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan klinik di
RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung. Kepada dr. Bobby Swadharma
Putra, Sp. BP-RE sebagai pembimbing kami, kami mengucapkan terima kasih
atas segala pengarahan yang telah diberikan sehingga dapat menyusun tugas ini
dengan baik.
Kami menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dalam penulisan ini,
baik dari segi isi, bahasa, analisis, dan sebagainya. Oleh karena itu, kami mohon
maaf atas segala kekurangan tersebut. Hal ini disebabkan karena masih
terbatasnya pengetahuan, wawasan, dan keterampilan kami. Selain itu, kritik dan
saran dari pembaca sangat kami harapkan, guna kesempurnaan laporan ini dan
perbaikan bagi kita semua.
Semoga tugas ini dapat bermanfaat dan dapat menambah wawasan untuk
kita semua.

Wassalammualaikum wr.wb

Bandar Lampung, Agustus 2016


Penyusun

BAB 11
ANASTESI LOKAL

Anastesi lokal yang secara klinis berguna meliputi amino amides atau ester amino.
Agen ini efektif ketika diaplikasikan lokal, diinjeksikan subkutan, atau
diinjeksikan di area saraf tepi mayor
MEKANISME AKSI
Anastesi lokal mengakibatkan blokade pada kondisi saraf. Anastesi lokal berdifusi
secara pasif melalui membran sel saraf pada kondisi non-ionik, dicetuskan, dan
memblokir kanal natrium pada neuron. Dengan konduksi natrium dihambat,
ambang potensial tidak dicapai dan potensial aksi tidak dihasilkan
FARMAKOLOGI
Struktur molekular agen anastesi terdiri dari aromatic motety di ujung, amine
moiety di ujung satunya, dan rantai intermediate diantaranya. Yang terakhir
mengandung rantai ester atau amide, menjadikan anastesi lokal terbagi menjadi
ester atau amida. Golongan ester yang sering digunakan adalalah prokain
(Novocaine), chloroprocaine, tetracaine dan cocaine. Golongan amida yang sering
digunakan lidocaine, mepivacaine,bupivacaine dan etidocaine. Perbedaan pada
metabolisme anastesi lokal,stabilitas larutan dan perbedaan alergenitas semuanya
dikaitkan dengan aanya rantai ester atau amida

Metabolisme
Ester mengalami hidrolisis pada plasma dengan pseudocholinesterase, sedangkan
amides dimetabolisme di hepar. Tingkat metabolisme anastesi lokal dikaitkan
dengan jumlah atom karbon tambahan pada sisi aromatik atau amine dari molekul
tersebut

Stabilitas pada larutan


Ester tidak stabil pada larutan. Amides stabil pada larutan

Alergenisitas
Ester lebih menimbulkan reaksi alergenik dibandingkan amides. Reaksi alergi
sesungguhnya

pada

lidocaine

sangat

jarang,

meskipun

banyak

pasien

menyebutkan, yang sebenarnya salah, bahwa mereka memiliki alergi


Potensi dan Toksisitas
Potensi dan toksisitas ditentukan struktur grup aromatik dan amine

PROFIL ANASTETIK
Profil agen anastesi lokal partiler dikaitkan dengan kelarutannya pada lipid,
pengikatan protein, kekuatan asam (pKa) dan aktivitas vasodilator

Potensi
Potensi anastetik ditentukan secara primer dengan derajat kelarutannya pada lipid.
Molekul anastesi lokal harus berpenetrasi pada membran sel saraf untuk memiliki
efek Secara in vitro, hidropobisitasmenentukan potensi anastesi lokal. Pada
pengaturan klinis beberapa faktor seperti aktivitas vasodilator dan properti
redistribusi jaringan yang berbeda, mempengaruhi potensi
Onset Aksi
Onset aksi adalah hasil pKa, tapi dosis dan konsetrasi juga adalah faktor. Studi in
vitro mengkonfirmasi hubungan pKa dengan komponen anastesi lokal dan onset
anastesi. Lidocaine memiliki pKa senilai 7,4 dan memiliki onset aksi lebih cepat
dari tetracaine dengan pKa 8,6.

Durasi Aksi
Pada area klinis, durasi anastesi lokal dipengaruhi efek vasodilator dari obat-obat
individual. Dengan pengecualian cocaine semua anastesi menimbulkan beberapa
derajat vasodilatasi. Semakin besar derajat vasodilatasi, semakin besar anastesi
diabsorbsi sistem vaskular, meninggalkan hanya sedikit obat yang beraksi pada sel
saraf. Karena itu, derajat vasodilatasi berbanding terbalik dengan durasi aksi.
Lihat bagian Addition to Epinephrine.

Ringkasan Durasi dan Potensi


Pada ringkasan, agen dengan potensi rendah dan durasi pendek adalah procaine
(Novocaine) dan chloroprocaine; agen dengan durasi dan potensi sedang adalah
lidocaine (Xylocaine), mepivacaine dan prilocaine; agen dengan potensi tinggi
dan durasi lama adalah tetracaine, bupivacaine (Mepivacaine) dan etidocaine

Efek Dosis Total


Faktor lain menentukan aktivitas agen anastesi lokal pada kondisi klinis. Dosis
total mungkin merupakan faktor terpenting dalam menentukan kepuasan anastesi
lokal. Juga telah disebutkan sebelumnya pada Onset Aksi, bahwa semakin besar
dosis, dengan faktor lain sama/menetap, semakin cepat onset aksi.

Penambahan Epinephrine
Penambahan vasokontriktor adalah faktor lain yang mennetukan performa
anastesi lokal. Epinefrin ditandai memanjangkan durasi aksi semua anastesi
lokalketika digunakan untuk infiltrasi lokal atau bloking saraf tepi. Dengan
menurunkan tingkat absorbsi vaskular, vasokontriktor membuat konsentrasi
anastesi lokal semakin tinggi untuk bisa beraksi pada membran sel saraf.

Epinefrin sering digunakan dengan anastesi lokal pada konsentrasi 1:100,000 atau
1:200,000. Pada faktanya, epinefrin mungkin sama efektifnya dengan konsetrasi
yang jauh lebih rendah, 1:1000,000 dan mungkin dapat menurunkan bahaya dari
injeksi intravaskular.
Lokasi Injeksi
Anatomi area injeksi juga menentukan efektivitas anastesi lokal. Injeksi
intradermal memungkinkan onset aksi yang lebih cepat namun durasi paling
pendek dari semua agen, sedangkan injeksi bloking plexus brachialis memiliki
durasi paling lambat dan onset paling lambatdari aksi yang terlihat

dengan

anastesi lokal. Meskipun injeksi intradermal menyediakan onset paling cepat,


rasanya lebih menyakitkan jika dibanding injeksi subcutant.

BLOK SARAF PERIFER


Ada dua tipe blokade saraf perifer: mayor dan minor. Bloking saraf terpisah,
seperti N.radialis, dicondongkan sebagai minor dan blocking dua atau lebih saraf
atau plexus saraf dinamankan blocking total. Variasi yang banyak dari anastesi
lokal bisa digunakan unuk blocking saraf secara minor. Obat biasanya dipilih
berdasarkan dari durasi kerja obat yang dibutuhkan. Durasi tindakan blokade
nervus minor dibuat lebih lama dengan penambahan epinefrin ke larutan anastesi
lokal.
Bloking saraf yang paling banyak digunakan adalah blocking plexus brachiallis
(atau axilla). Meskipun onset aksi bloking saraf minor biasanya cepat untuk
semua anastesi, terdapat perbedaan pada onset variasi anastesi ketika blocking
saraf dilakukan. Epinefrin secara umum akan memanjangkan durasi blokade
plexus brachialis. Lokal anastesi yang beraksi lambat tidak mendemonstrasikan
pemanjangan aksi dengan epinerin seperti alnya pada lokal anastesi durasi cepat.
Tabel 11.1 dan 11.2 menunjukkan dosis, onset dan durasi aksi maksimal dari
anastesi lokal yang biasa digunakan untuk blokade sara secara mayor dan minor.

Tabel 11.1 Karakteristik Dosis dan Durasi dari Anastesi Lokal ketika Digunakan
untuk Blokade Saraf Minor (Blokade Nervus Medianus pada Pergelangan Tangan)
Konsentrasi

Larutan Murni

Larutan

biasa

Mengandung

(%)

Epinefrin

Obat

Volume Biasa

Dosis (mg)

Durasi

rerata

Durasi rerata

(ml)
(min)
Procaine
2
5-20
100-400
15-30
30-60
Chloroprocaine
Lidocaine
Mepivacaine
1
5-20
50-200
60-120
120-180
Prilocaine
Bupivacaine
0,25
5-20
12,5-50
180-360
240-480
Etidocaine
0,5
5-20
25-100
120-140
180-420
Dicetak dengan izin dari Stricthartz, G,R dan Covino, B. G Anastesi Lokal. Pada R. D Miller (ed).,
Anesthesia (Edisi ke 4), New York, Churcill Livingstone 1994

Tabel 11.2 Karakteristik Dosis dan Durasi Anastesi Lokal ketika Digunakan untuk
Blokade Saraf Mayor ( Blokade Aksila pada Plexus Brachialis)
Obat
Epinefrin

dengan

Konsentrasi Biasa

Volume

(%)

(ml)

biasa

Dosis Maksimum

Onset

(mg)

(menit)

Biasa

Durasi Biasa
(menit)

1:200.000
Lidocaine
1-1,5
30-50
500
10-20
120-240
Mepivacaine
1-1,5
30-50
500
20-20
180-300
Prilocaine
1-2
30-50
600
10-20
180-300
Bupivacaine
0,25-0,5
30-50
225
15-30
360-720
Etidocaine
0,5-1,0
30-50
400
10-20
360-720
Tetracaine
0,25-0,5
30-50
200
20-30
300-600
Dicetak dengan izin dari Stricthartz, G,R dan Covino, B. G Anastesi Lokal. Pada R. D Miller (ed).,
Anesthesia (Edisi ke 4), New York, Churcill Livingstone 1994

ANASTESI TOPIKAL
Anastesi topikal kepentingannya meningkat pada insersi intraena pediatrik dan
digunakan beberapa ali bedah untuk mengurangi ketidaknyamanan injeksi seperti
Restylane dan Botox. Agen topikal ini akan menyediakan anastesia dermal jika

diaplikasikan cukup jauh namun tidak bisa mengurangi rasa terbakar yang
dikaitkan dengan injeksi subkutan.
Campuran euctetic dari anastesi lokal (EMLA) adalah kombinasi 25 mg lidocaine
dan 50 mg prilocaine per gram EMLA. L-M-X4 mengandung 4% lidocaine
pergram. Formulasi ini mengurangi nyeri sekunder dari insersi intravena dan juga
menyediakan analgesia adekuat untuk penanaman split-thickness skin graft. L-MX4 mungkin memiliki onset yang lebih cepat namun kedua persiapan sebaiknya
diaplikasikan antara 30-60 menit sebelum prosedur dan sebaiknya dilapisi dengan
occlusive dressing seperti Tegaderm atau OpSite.
Beberapa persiapan anastesi topikal menyediakan periode anastesi yang singkat
ketika diaplikasikan pada membran mukosa atau kulit yang mengalami abrasi.
Agen anastesi topikal paling umum yang digunakan adalah lidocaine, dibucaine,
tetracaine dan benzocaine.
INFILTRASI ANASTESI LOKAL
Metode paling umum untuk memperoleh anastesi lokal untuk prosedur minor
adalah infiltrasi anastesi, dimana agen diinjeksikan ke area operasi tanpa
memblokade persarafan tertentu. Anastesi lokal apapun dapat digunakan untuk
infiltrasi kecuali cocaine. Injeksi bisa intradermal, subkutan atau keduanya. Selain
itu, durasi aksi akan bervariasi dan penambahan epinefrin akan memanjangkan
durasi analgesik. Larutan anastesi yang berdilusi direkomendasikan untuk area
yang luas untuk menghindari toksisitas. Infiltrasi anastesi lokal menyebabkan
sensasi terbakar, nyeri. Injeksi ke demis adalah yang paling nyeri dan
menyediakan onset aksi yang paling cepat. Penambahan natrium bikarbonat
mengurangi nyeri yang dikaitkan dengan infiltrasi. Tabel 11.3 menunjukkan dosis
maksimal dan durasi anastesi lokal ketika digunakan untuk anastesi infiltrasi.
Ketika dosis maksimal dilakukan, onsetnya sangat cepat tak peduli agen mana
yang dipilih.

Tabel 11.3 Karakteristik Dosis dan Durasi Anastesi Lokal ketika Digunakan untuk
Infiltrasi Anastesi (Infiltrasi di Sekitar Perifer Lesi Kulit sebelum Eksisi)
Obat

Larutan Murni
Konsentrasi

Dosis

Larutan mengandung Epinefrin


Durasi
Dosis

Durasi

(%)

Maksimum

(menit)

(menit)

Maksimum

(mg)
Durasi pendek
Procaine
Chloroprocaine
1,0-2,0
800
15-30
1,000
Durasi Menengah
Lidocaine
0,5-1,0
300
30-60
500
Mepivacaine
0,5-1,0
300
45-90
500
Prilocaine
0,5-1,0
500
30-90
600
Durasi Panjang
Bupivacaine
0,25-0,5
175
120-240
220
Etidocaine
0,5-1,0
300
120-180
400
Dicetak dengan izin dari Stricthartz, G,R dan Covino, B. G Anastesi Lokal. Pada R. D Miller (ed).,
Anesthesia (Edisi ke 4), New York, Churcill Livingstone 1994.

TOKSISITAS ANASTESI LOKAL


Untuk mengindari toksisitas, anastesi lokal harus diberikan dengan batas dosis
yang aman dan pada lokasi anatomi yang tepat. Selama anastesi lokal, ketika
reaksi toksik muncul, itu sellau adalah hasil injeksi intravena inadvertent atau
pemberiannya dalam jumlah sangat besar. Banyak pasien melaporkan timbulnya
alergi pada anastesia lokal yang kemungkinan sebenarny adalah simptom terkait
injeksi

intravaskular

dan

kemungkinan

berhubungan

dengan

epinefrin

dibandingkan dengan anastesi lokal. Setiap upaya harus dilakukan untuk


menghindari injeksi intravaskular. Syringe harus selalu diaspirasi sebelum anastesi
lokal diinjeksi, dimanapin area anatomi injeksi. Aspirasi perlu diulang setelah
menginjeksikan 2-3 ml anastesi lokal. Jika darah terlihat pada syringe, jarum
harus direposisi. Injeksi intravaskular dari epinefrin mengandung larutan yang
bisa menimbulkan respon hipertensif yang berbahaya.
Seperti telah disebutkan sebelumnya, penambahan epinferin ke larutan anastesi
menunda absorbsinya dan menghasilkan level anastesi di darah yang rendah, sama
halnya dengan durasi aksi. Epinefrin terutama berguna ketika anastesi lokal
diinjeksikan pada area vaskular yang tinggi seperti di wajah. Dipercayai
9

30-90
120-360
120-360
120-360
180-420
180-420

sebelumnya bahwa epinefrin harus dihilangkan dari larutan anastesi yang


diinjeksikan pada proksimal ujung arteri (misal jari, jempol dan penis) karena
bahaya nekrosis iskemik. Studi terbaru meragukan pernyataan ini.
Toksisitas anastesi lokal mempengaruhi sistem saraf pusat (SSP, CNS) dan sistem
kardioaskular (CVS). Toksisitas SSP muncul pada batas dosis yang lebih rendah
dibandingkan toksisistas kardiovaskular. Toksisitas SSP lebih umum, toksisitas
kardiovaskulat lebih berbahaya dan lebih menantang untuk diobati.
Anastesi lokal secara bebas melewati sawar darah otak. Hasil inisial dari level
toksik anastesi lokal adalah depresan jalur inhibitorik kortikal, yang membuat
jalur eksitatorik kortikal menjadi tak terlawan. Ketika level di darah lebih tinggi
lagi dicapai, depresi SSP muncul. Tanda awal toksisitas SSP meliputi kepala
terasa ringan, kegelisahan, tinitus rasa metalik di mulut dan baal pada bibir atau
lidah. Jika lebih banyak anastesi lokal diberikan, bisa menimbulkan kejang grand
mal. Pada level yang lebih tinggi di darah, kehilangan kesadaran dan kolaps
kardiovaskular dapat dilihat. Jika dosis anastesi lokal yang leih besar diantisipasi,
pengobatan awal dengan benzodiazepine bisa mencegah toksisitas. Diazepam
menggandakan ambang batas kejang untuk lidocaine.
Toksisitas kardiovaskular adalah hasil langsung depresi miokard dari anastesi
lokal. Efek depresan pada otot polos vakular, seperti pada sistem konduksi,
terlihat. Efek ini jaranf terobservasi pada kadaan klinis. Stimulasi jantung adalah
hasil toksisitas anastesi lokal yang umum dan merupakan hasil peningkatan
aktivitas SSP. Toksisitas kardiovaskular mungkin akan menunjukkan diri sebagai
penurunan tekanan darahm peningkatan atau penurunan denyut jantung, fibrilasi
ventrikular atau henti jantung.
Injeksi intravena yang tidak hati-hati dari bupivacaine (Marcaine) atau etidocaine
bisa menghasilkan kompromisasi dan kolaps kardiovaskular yang parah,
seringnya refrakter pada upaya dalam resusitasi. Ini karena pengikatan jaringan
yang tinggi terhadap dua anastesi lokal ini. Konsekuensinya bupivacaine
(Marcaine)

seharusnya

tidak

digunakan

ketika

injeksi

intravaskular

dimungkinkan. Sebagai contoh, seharusnya tidak digunakan untuk injeksi

10

subkutan sebelum facelift ketika volume larutan yang besar diinjeksikan pada area
vaskular. Selain itu, pasien yang hamil lebih sensitif pada toksisitas
kardiovaskular dari bupivacaine (Marcaine) dibandingkan pasien yang tidak
hamil.

TEKNIK TUMESCENT UNTUK LIPOSUCTION


Pengalaman dengan teknik tumescent dari infiltrasi anastesi lokal meragukan
fakta sevelumnya tentang dosis anastesi lokal maksimal. Teknik ini melibatkan
infiltrasi volume yang besar dari larutan berdilusi lidocaine (0,1% atau 0,05%)
dan epinefrin (1:500,000 atau 1:1,000,000) ke jaringan adiposa subkutan sebelum
prosedur liposuction. Studi menunjukkkan dosis lidocaine melebihi 35 mg/kgBB
(5 kali batas rekomendasi dosis dari pabrik) bisa dengan aman diberikan. Level
serial lidocaine pada serum post-operasi memverifikasi keamanan teknik ini, yang
telah diperluas ke prosedur lain seperti abdominoplasti (lihat Chapter 53).
Keamanan teknik ini mungkin bergantung pada anatomi area yang diinjeksi dan
sifat larutan yang encer yang diinjeksi. Area wajah tidak sama dengan badan.
Meskipun dosis lidokain tepat yang bisa gunakan pada wajah belum diklarifikasi,
jelas bahwa dosis 35 mg/kg yang aman pada jaringan subkutan pad batang badan,
terlalu besar untuk diaplikasikan ke wajah. Sampai dosis maksimum didapatkkan
batasnya, ahli bedah disarankan tidak menggunakan lebih dari 7 mg/kg yang
direkomendasikan pabrik pembuat.
PENGOBATAN TOKSISITAS ANASTESI LOKAL
Langkah pertama pada pasien yang konulsif sebagai konsekuensi toksisitas
anastesi lokal adalah hiperentilasi dengan Ambu-bag dan sungkup wajah
menggunakan oksigen 100%. Hiperkarbia bisa memperburuk toksisitas SSP. Jika
pasien memiliki perut penuh,intubasi endotrakeal harus dilakukan secepatnya
untuk mencegah aspirasi. Hiperventilasi mungkin bisa mengakhiri kejang, tapi
jika tidak bisa, diazepam 0,1 mg/kg BB atau tiopental 2 mg/kg secara intravena
biasanya efektif.

11

Pada

pasien dengan

hipotensi sebagai hasil

toksisitas

anastesi lokal,

pengobatannya adalah dengan cairan intravena, vasokontriktor perifer (contoh


phenylephrine) dan posisi Trendenlenburg. Agen inotropik juga bisa dibtuuhkan.
Pasien dengan aritmia sebagai konsekuensi toksisiyas mungkin refrakter terhadap
terapi. Jika aritmia menyebabkan cardiac output terkompromisasi secara
signifikan, atau jika henti jantung muncul, periode resusitasi yang lebih lama
mungkin penting, pada kondisi ini diketahui mengatasi redistribusi anastesi lokal
dari waktu ke waktu.

KOKAIN
Kokain disebut unik karena memiliki efek anastesi lokal dan aksi vasokontriktor.
Kokain memiliki potensi besar untuk penyalahgunaan dan ketagihan. Selama
beberapa dekade yang lewat, penggunaan ilegal kokain telah menjadi epidemi.
Kokain adalah bubuk kristal, larut air (pKa 8.6) yang mudah diserap melalui
membran mukosa. Kokain mengalami hidrolisis oleh pseudokolinesterase plasma.
Persentase kecil dari kokain dimetabolisme di hati.
Seperti anastesi lokal lainnya, mekanisme aksi dari kokain meliputi inibisi
konduksi pada serabut saraf dengan blokade kanal natrium, yang pada gilirannya
mencegah potensial aksi dihasilkan. Kokain adalah satu-satunya anastesi lokal
berdifat simpatomimetik yang poten. Kokain memblokir uptake neuroepinefrin
dan epinefrin, baik pada SSP atau sistemik. Kokain memiliki efek multipel pada
SSP, hasilnya meliputi stimulasi perilaku yang intens, euforia da bangkitan.
Ambang kejang ditingkatkan, tapi akan menjadi lebih rendah dengan dosis yang
lebih

tinggi,

dan

bisa

menimbulkan

kejang.

Efek

adrenergik

kokain

bertanggungjawab untuk peningkatan denyut jantung, hipertensi, midriasis, tremor


dan keringat berlebih pada kondisi overdosis.
Secara tradisional, penggunaan klinis paling umum dari kokain adalah pada bedah
plastik sebagai anastesi topikal dan vasokontriktor pada rhinoplasty. Tapi tidak
digunakan lagi karena agen lain lebih aman, murah dan resiko penyalahgunaan
lebih rendah. Penambahan epinefrin ke kokain topikal bisa memicu vasokontriksi

12

namun tidak aman. Kombinasi ini bisa menimbulkan aritmia yang berbahaya.
Tidak jelas mengapa penambahan epinefrin pada kokain topikal bisa
meningkatkan kondisi operasi. Studi belum menjelaskan keuntungan konsisten
dari penambahan epinefrin ke kokain 10% atau pada konsentrasi yang lebih
rendah dari kokain topikal.
Anastesi umum dan kokain topikal lebih sering digunakan bersama, dan ada studi
multipel dan laporan kasus yang menjelaskan kompleksisitas dari interaksi obat
yang muncul. Laporan ini menawarkan pandangan yang bertentangan dari efek
yang dimiliki kokain pada keperluan anastesi sama halnya dengan efek kombinasi
kokain dan anastesi yang bervariasi pada potensi aritmogenik. Studi pada
kombinasi kokain dan anastesi general mensugestikan bahwa pasien yang gelisah
dan tidak direncanakan lebih cenderung mengalami aritmia dan kokain tidak
boleh diaplikasikan sebelum atau segera sesudah induksi,sebelum level anastesi
yang dalam tercapai. Pada pasien yang menggunakan kokain topikal setelah
induksi dan setelah level anastesi yang dalam tercapai, tidak ada aritmia yang
muncul. Sebab, katekolamin endogen pasien terlibat pada interaksi obat yang
kompleks ini.
Ada juga penyetujuan yang luas bahwa ketamine meningkatkan aritmogenisitas
dari kokain. Tabahannya, pasien yang mendapat inhibitor monoamine oxidase
(MAO) beresiko mengalami bahaya dari interaksi dengan kokain. Kokain topikal
harus dihindari kecuali pasien sudah dihentikan dari MAO inhibitor 2 minggu
sebelum pembedahan. Karena efek simpatomimetiknya, kokain harus dihindari
pada pasien hipertensi. Sayangnya, respon individual terhadap kokain bervariasi.
Pada beberapa pasien, fibrilasi ventrikel dan henti jantung bisa muncul sebagai
hasil dari dosis kecil sebesar 0,4 mg/kgBB.
Dosis maksimum yang aman diberikan secara nasal dari kokain 0,4% adalah 1,5
mg/kgBB. Setiap tetes kokain 0,4% memiliki sekitar 3 gr kokain. Mengingat di
atas kerugian penggunaan kokain, meskipun begitu, mungkin sudah tidak lagi
menjadi indikasi yang baik untuk penggunaannya.

13

DAFTAR PUSTAKA

Covino BG. Pharmacology of local anesthetic agents. Ration Drug Ther


1987;21:1
De Jong RH, Heavner JE. Diazepam prevents local anesthetic seizures.
Anesthesiology. 1971;34:523
Fleming JA, Byck R, Barash PG. Pharmacology and theurapeutic applications of
cocaine. Ansthesiology. 1990: 73: 518
Hallen B, Uppfeldt M. Does lidocaine-prilocaine cream permit pain free insertion
of IV catheters in children? Anesthesiology. 1982; 57: 340
Kelton PL Jr. Local anesthetics, cocaine, and CPR. Sel Read Plast Surg. 1992;7
(5):1

14

Klein JA. Tumescent technique for regional anesthesia permits lidocaine doses of
35 mg/kg for liposuction. J Dermal Surg Oncol. 1990;16:248
Kochntop DE, Liao J-C, Van Bergen FH. Effects of pharmacologic alterations of
adrenergic mechanism by cocaine, tropolone, aminophylline, and ketamine on
epinephrine-induced arrythmias during halothane-nitrous oxide anesthesia.
Anesthesiology. 1977; 46: 83
Lynch C. Depression of myocardial contractility in vitro by bupivacaine,
etidocaine, and lidocaine. Anesth Analg. 2986; 65:55: 1
Ohlsen L, Englesson S, Eers H. An anaesthetic lidocaine/prilocaine cream
(EMLA) for epicutaneous application tested for cutting split skin grafts.
Scand J Plast Reconstr Surg. 1985;19:201
Stricthartz GR, Coino BG. Local anesthetics. In: Miller rd, ED. Anesthesia. 3rd
ed. New Yorrk: Churcill Livingstone; 1990: 437
Swerdlow M, Jones R. The duration of action by bupiacaine, prilocaine and
lignocaine. Br J Anaesth. 1970;42: 335

15