Anda di halaman 1dari 12

TUGAS ILMU BEDAH PLASTIK

LITERATURE TRANSLATE
Handbook of Plastic Surgery
Chapter 68 Fingertip Injuries

Perceptor:
dr. Bobby Swadharma Putra, Sp. BP-RE

Oleh :
Alyssa Fairudz Shiba, S.Ked
Andrian Rivanda, S.Ked
Jose Adelina Putri, S.Ked

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


RSUD DR H ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2016

KATA PENGANTAR

Assalammualaikum wr.wb

Alhamdulillah, puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
atas berkat dan anugerah-Nya sehingga kami dapat menyusun literatur translate
ini yang berjudul Chapter 11 Local Anesthetics
Tugas ini disusun dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan klinik di
RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung. Kepada dr. Bobby Swadharma
Putra, Sp. BP-RE sebagai pembimbing kami, kami mengucapkan terima kasih
atas segala pengarahan yang telah diberikan sehingga dapat menyusun tugas ini
dengan baik.
Kami menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dalam penulisan ini,
baik dari segi isi, bahasa, analisis, dan sebagainya. Oleh karena itu, kami mohon
maaf atas segala kekurangan tersebut. Hal ini disebabkan karena masih
terbatasnya pengetahuan, wawasan, dan keterampilan kami. Selain itu, kritik dan
saran dari pembaca sangat kami harapkan, guna kesempurnaan laporan ini dan
perbaikan bagi kita semua.
Semoga tugas ini dapat bermanfaat dan dapat menambah wawasan untuk
kita semua.

Wassalammualaikum wr.wb

Bandar Lampung, Agustus 2016


Penyusun

Cedera Ujung Jari

Rudolf F.Buntic, M.D., and Harry J.Buncke, M.D.


The Buncke Microsurgical Clinic, San Francisco, California, U.S.A.
Cedera ujung jari bisa melibatkan jaringan lunak, phalanx distal, kuku dan dasar
kuku semuanya bisa cedera sendiri atau kombinasi. Meskipun anatomi dan
perluasan cedera menentukan pilihan terapi, beberapa teknik telah dijelaskan
untuk menangani cedera ujung jari. Dokter bedah perlu memformulasikan rencana
terapi bersama dengan pasien, mempertimbangkan riwayat pasien, pekerjaan,
tangan yang mendominasi dan hasil yang diinginkan.

I.TERMINOLOGI DAN PERTIMBANGAN ANATOMI


A. Ujung jari-aspek terminal dari jari, terutama setengah distal dari phalanx
distal, permukaan taktil distal dari jari, jaringan lunak subkutan, dasar
kuku dan ujung distal dari phalanx terminal
B. Pulp-jaringan lunak subkutan pada ujung jari yang disusun dari septa
fibrosa yang memisahkan kompartemen pembuluh darah, saraf dan
jaringan ikat
C. Fraktur terbuka-pajanan dari tulang yang patah ke lingkungan luar
D. Hiponychium-area dibawah distal kuku, mengandung beberapa saluran
limfatik dan sel imun. Hiponikium adalah tempat dimana kulit dan porsi
matriks yang steril dari dasar kuku bergabung. Tmpat ini sering terpajang
E.
F.
G.
H.
I.

dengan trauma, tapi sangat resisten dengan infeksi


Paronychium-kulit dan jaringan lunak di ujung kuku
Perionychium-Paronychium dan dasar kuku
Eponychium-lapisan epitel pada akar kuku
Dasar kuku-lapisan dermal dibawah kuku
Matriks germinal-proksimal ketiga dari dasar kuku, bertanggungjawab

untuk pertumbuhan kuku (pada hubungan dengan lipatan proksimal kuku)


J. Matriks steril (dua pertiga distal dari dasar kuku, bertanggungjawab utama
untuk adhesi nail plate dengan dasar kuku dibawahnya
K. Lunula-garis putih pada dasar kuku yang menandai matriks germinal dari
matriks steril. Warna keputihan adalah karena nukleus seluler yang
berdegenerasi pada level matriks steril

.
II.DIAGNOSIS

A. Anamnesis
Faktor yang dipertimbangkan ketika mengevaluasi pilihan terapi meliputi
dominasi tangan, pekerjaan, jari yang dipengaruhi/jari yang sakit (ibu jari
versus jari lain), cedera hancur atau tajam, riwayat merokok, atau riwayat
masalah kesehatan yang bisa menyulitkan pilihan rekonstruksi
B. Pemeriksaan
1. Lihat perluasan cedera meliputi jaringan lunak. Apakah tulang, sendi
atau tendon terpajan? Apakah terdapat fraktur atau trauma dasar kuku?
2. Keseluruhan pemeriksaan tangan: Tendon bisa terputus atau ruptur
pada cedera jari, terutama cedera avulsi
3. X ray polos harus dilakukan untuk mendemonstrasikan fraktur atau
benda asing, kecuali jika hanya ada cedera terpotong yang bersih.
Cedera dasar kuku sering dikaitkan dengan fraktur phalanx distal
III. PRINSIP REKONSTRUKSI PADA PENUTUPAN LUKA UJUNG JARI
A. Teknik meticulous dan debridemen minimal pada dasar kuku
B. Penutupan yang tepat dari dasar kuku dengan suture yang mudah
diabsorbsi dibawah magnifikasi loupe (contoh 60 plain gut sutures)
C. Memaksimalkan pengembalian sensoris dan mencegah pembentukan
D.
E.
F.
G.

neuroma
Mempertahankan panjang jari dan dasar kuku
Mencegah kehilangan fungsi sendi
Mengobati fraktur atau cedera tendon terkait
Mencapai hasil estetika yang memuaskan

IV. KLASIFIKASI CEDERA JARI


A. Defek Jaringan Lunak
1. Cedera tajam: membutuhkan debridemen minimal
2. Avulsi/Terlepas: membutuhkan debridemen yang lebih dan mungkin
bisa menunda rekonstruksi jika zona cedera tidak jelas
B. Kombinasi Jaringan Lunak dengan Tulang dan atau Cedera Kuku
Kebanyakan fraktur jika kombinasi dengan cedera jaringan lunak atau
dasar kuku adalah fraktur terbuka.
V. KLASIFIKASI CEDERA DASAR KUKU AKUT
A. Laserasi sederhana

B. Laserasi stellate
C. Laserasi berat
D. Avulsi
VI. PILIHAN TERAPI PADA DEFEK JARINGAN LUNAK
A. Penutupan primer
Sulit dilakukan kecuali jika luka kecil
B. Penyembuhan dengan Intensi Sekunder
1. Teknik yang baik untuk menyembuhkan luka kecil dari jaringan lunak tanpa
tulang yang terpajan keluar
2. Secara umum digunakan pada luka 1 cm2 atau kurang, tapi bisa juga untuk
luka yang lebih besar.
3. Perhatikan tulang yang terpajan. Tulang yang terpajan membutuhkan
pemendekan tulang atau perbaikan vaskularisasi. Pemendekan tulang harus
dihindari pada ibu jari-panjang ibu jari harus dipertahankan jika
memungkinkan, karena pemendekan tulang bisa membuat deformitas kuku.
C. Replantasi
1. Sulit dilakukan pada level distal karena arteri sangatlah kecil dan vena sulit
dilihat.Biasanya, arteri bisa ditemukan, tapi aliran harus dikuatkan dengan
penerapan leech dan atau perdarahan dari dasar kuku dengan merendam
heparin dengan kombinasi terapi heparin sistemik
2. Karena perdarahan bisa sampai 5-10 hari, transfusi darah mungkin diperlukan
3. Replantasi pada tingkat ini biasanya menjadi cadangan untuk pasien anak
D. Graft Bebas untuk Bagian yang Teramputasi
1. Jika bagian yang teramputasi memiliki bentuk yang bagus, replantasi dari
bagian tersebut sebagai graft (transplantasi kulit) komposit yang bebas bisa
dipertimbangkan, terutama pada anak
2. Kedua bagian yang teramputasi dan tonggaknya harus dibersihkan dari jaringan
yang tidak layak
3. Beberapa penulis menyarankan pendinginan graft dengan es yang ditempatkan
di jari sampai muncul neovaskularisasi

4. Amputasi yang bersih sampai diameter 1-1,5 cm bisa bertahan sebagai graft
komposit
E. Split Thickness Skin Graft
1. Kulit yang gundul adalah pilihan yang baik.
2. Bagian hipothenar adalah area pendonor yang umum. Cangkok dibuat dari kulit
tak berpigmentasi, seperti permukaan palmar dari jari-jari. Jika beberapa jari
perlu dilakukan graft, area lain bisa digunakan.
3. Bagian yang teramputasi, jika pada kondisi yang baik, seringkali bisa dibuat
tipis dan kulitnya digunakan sebagai cangkok.

F. Flap Lokal
1.

Atasoy-Kleinert V-Y advancement flapadalah volar V-Y advancement flap


dengan perluasan proksimal dari insisi persis pada distal dari lipatan fleksi

sendi DIP. Menyediakan sejumlah kecil jaringan


2. Kutler V-Y advancement flap-lateral dari ulnar dan radial V-Y advancement
flap. Menyediakan sejumlah kecil jaringan lunak
3. Moberg flap-advancement flap luas dari seluruh jaringan lunak volar dari jari
dengan insisi mid-lateral pada sisi ulnar dan radial jari, dengan atau tanpa Z
plasties atau skin graft pada dasar jari. Kreasi Moberg flap adalah operasi yang
lebih besar yang menimbulkan pembengkakan jaringan lunak dari seluruh jari.
Hal ini dianggap pilihan yang lebih baik untuk jempol dibandingkan pada jari.
Kerugian primernya adalah resiko kontraktur sendi fleksi IP jempol.
G. Distant Flap
1. Flap island dorsal interosseous neurovascular diangkat dari jari telunjuk
bagian dorsal radial pada nervus radialias dan arteri interosseous pertama.
Cukup panjang untuk mencapai ujung jari ibu jari dan merasakan sensasi.
2. Crossed finger flap (Gambar 1) biasanya dielevasi dari dorsum jari tengah
phalanx yang berdekatan. Flap disisipkan pada jari penerima dan defek
pendonor kulit dicangkokkan. Flap dibagi dalam 10-14 hari.
3. Subcutaneous crossed finger flap - fasia subkutan yang berdekatan dengan jari
tengah dielevasikan dan disisipkan ke defek di ujung jari dan digunakan
sebagai alas penerima untuk cangkok kulit.

4. Thenar flap (Gambar 2)- dielevasikan dari aspek thenar permukaan telapak
tangan dan biasanya bagian proksimal, meskipun bentuk flap H sudah
digambarkan. Menyediakan cakupan yang halus dari jari telunjuk melalui
ujung jari. Desain seharusnya cukup lebar untuk penyisipan tanpa adanya
tekanan. Perawatan dibutuhkan untuk menghindari cedera saraf ibu jari. Area
donor mungkin atau mungkin tidak memerlukan cangkok kulit. Dapat dibagi
dalam 10-14 hari, dan cangkok kulit dari pendonor mungkin dipotong secara
sekunder.
5. Flap pedicle island (Gambar 3)-Flap neurovaskular dari permukaan ulnar dari
jari manis atau jari tengah, dimaksudkan untuk memberikan kemunculan
kembali sensasi pada ujung ibu jari. Secara teknik dibutuhkan Flap dengan
diseksi yang besar dan defek donor yang signifikan. Kontraktur bekas luka
donor jari itu sering terjadi.
6. Groin flap-angkat pembuluh darah iliaka sirkumflex superfisial lateral,
biasanya lebih baik pada defek besar. Mudah dielevasi. Aspek distal flap dapat
menipis sebelum penyisipan. Hal ini dilakukan dalam kisaran 14 hari.
7. Flap chest tube atau random abdominal-flap secara acak dipasang pada bagian
abdomen atau dinding dada. Harus dipasang cukup tipis agar tidak
menambahkan massa berlebihan untuk rekonstruksi jari. Hal ini dilakukan
dalam sekitar 14 hari.

Gambar 1. Flap jari tengah adalah elevasi dari permukaan dorsal tengah
phalanx dan penyisipan defek dari telunjuk. Untuk ibu jari, flap dapat di
elevasi dari proksimal jari telunjuk atau jari tengah. Area pendonor
dicangkok kulitnya dan flab dibagi saat 10-14 hari. A= defek pada jaringan
lunak sisi ulnar jari phalanx distal; B= Elevasi dari radial-based crossed
finger flap dari permukaan dorsal jari tengah barisan tengah; C=
penyisipan crossed finger flap pada defek jari telunjuk; D= Crossed finger
flap dielevasikan dari telunjuk untuk menutupi defek pada ibu jari; E=
penyisipan crossed finger flap jari telunjuk ke ibu jari.
(Dari Buncke HJ. Fingertip injuries and soft tissue reconstruction. Dalam:
Grabb WC, Smith JW, eds. Plastic Surgery. Boston: Lttle, Brown and
Company, 1973.)

Gambar 2. Flap tenar untuk avulsi ujung jari tengah. (A) Flap diangkat sebagai
dasar bawah flap. (B) Secara umum, flap diangakat sebagai dasar proksimal flap.
(C) Penyisipan dan penempatan cangkok kulit dengan bantalan pada defek. (D)
Setelah pemisahan flap pada hari 10-14 (Dari Buncke HJ. Fingertip injuries and
soft tissue reconstruction. Dalam: Grabb WC, Smith JW, eds. Plastic Surgery.
Boston: Lttle, Brown and Company, 1973.)

Gambar 3. Pulau flap neurovaskular dari jari manis dapat dipindahkan ke aspek
radial dari jari telunjuk atau ujung dari jempol. Defek donor adalah cangkok kulit.
A= insisi dan desain dari pulau flap neurovaskular dari jari manis untuk menutupi
defek distal phalang jari telunjuk. B= diseksi dari pedikel neurovaskular untuk
pulau flap neurovaskular, berdasar di gabungan neurovskular ulnar digitalis dari

jari manis; C= penyisipan dari pulau flap neurovaskular ke defek jari telunjuk;
bagian jari manis donor telah ditutupi dengan cangkok kulit dan bantalan ikat.
Pada: Grabb WC, Smith JW, eds. Plastic Surgery. Boston: Little, Brown and
Company, 1973.)

H. Transplantasi Mikrovaskular (Free Flaps)


1. Flap neurovaskular kaki-flap bebas untuk sensoris yang biasanya berfungsi
mengembalikan sensasi dan melapisi defek bagian ibu jari.
2. Flap bebas tenar-flap bebas untuk sensoris yang dinutrisikan oleh arteri radial
palmar superfisial dan sebuah vena comitan. Flap dengan ukuran 2,5 x 10 cm
dapat ditanamkan.
3. Flap vena-beberapa flap vena dapat didesain dari bagian volar lengan bawah
atau kaki dan digunakan sebagai flap bebas untuk menutupi luka jari dengan
mengarteriliasikan flap. Flap vena dapat mengalami neurotisasi jika diambil
bersamaan dengan saraf kutaneus.

VII. OPSI PENATALAKSANAAN PADA LUKA BANTALAN KUKU DAN


PATAH TUFT
A. Dapat dilakukan di ruang gawat darurat dengan blockade digital dan
penggunaan kaca pembesar.
B. Hematoma subungual-dievakuasi dengan sebuah pembakar mikro atau penjepit
kertas yang dipanaskan. Pembakar mikro lebih mudah digunakan dan lebih
dapat diandalkan.
C. Laserasi simpleks-diperbaiki dengan 5-0 atau 6-0 jahitan catgut sederhana.
Membersihkan kuku yang lepas dan menempatkan kembali kuku ke dalam
lipatan kuku sebagai bidai. Posisi kuku dapat diperbaiki dengan jahitan nilon 40.
D. Laserasi stelat dan luka ? yang berat-memperbaiki dengan cermat, sama seperti
laserasi simpleks. Jika kuku tersebut hancur, gunakan benang catgut yang
dilapisi besi sebagai bidai, atau masukkan kassa yang tidak lengket pada
lipatan eponikial.

10

E. Avulsi-pada avulsi berat, sebagian bantalan kuku menempel pada kuku. Buang
kisaran 1-2 mm bantalan kuku dari kuku dan jahit kembali dengan posisi tanpa
membebaskan secara komplit dari kuku yang rusak/terlepas. Kuku tersebut
akan membidai bantalan yang terluka parah dan memperbaiki.
F. Fraktur kuku-jika tidak berpindah atau hanya berpindah sedikit, dapat
dilakukan hanya dengan perbaikan bantalan kuku. Jika berpindah dan
membutuhkan stabilisasi, gunakan K-wire atau benang ukuran 18-20 untuk
mengimobilisasi fraktur.

VIII. KOMPLIKASI POST-OPERATIF


A. Menangani seluruh luka diujung kuku dan bantalan kuku seperti luka pada
bagian tangan lainnya dengan pembidaian yang benar, diikuti dengan latihan
ROM yang dibutuhkan untuk mengurangi pembengkakkan dan kehilangan
fungsi.
B. Infeksi- luka bantalan dan ujung kuku bisa saja kotor sehingga pemberian
antibiotik dapat dipertimbangkan.
C. Kuku terbelah dan kuku mengerut- memerlukan eksisi dengan perbaikan
primer atau transplantasi kuku, tergantung dengan ukuran luka.
D. Deformitas kuku berkait-biasanya disebabkan hilangnya dukungan tulang
phalang distal. Diperlukan pemendekan bantalan kuku atau dukungan lebih
pada bagian ujung.
E. Cangkok ujung jari dan flap dapat mengalami hilang sekunder karena nekrosis,
desain penutup tidak baik dan eksekusi, serta ketidakpatuhan pasien.
Perencanaan pra operasi merupakan pencegahan terbaik untuk komplikasi ini.
F. Intoleransi dingin-banyak pasien menderita intoleransi dingin setelah cedera
bagian ujung jari, bervariasi dengan tingkat cedera. Hal ini dapat bersifat
permanen dan pasien harus mendapat konseling mengenai hal tersebut,
meskipun intoleransi dingin cenderung meningkat sebagian selama 2 tahun
pertama setelah onset cedera.
G. Neuroma-neuroma yang menyakitkan dapat membentuk lebih banyak amputasi
proksimal ketika saraf digital tidak berfungsi secara cukup. Reseksi dan
retraksi saraf pada saat operasi kadang-kadang dapat mencegah komplikasi ini.
Reseksi neuroma mungkin diperlukan setelah operasi jika dilakukan
pengobatan konservatif dengan desensitisasi gagal.
11

12