Anda di halaman 1dari 27

FAKULTAS KEDOKTERAN

REFERAT

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

MEI 2016

BAGIAN PSIKIATRI

OBAT ANTI DEPRESI

DISUSUN OLEH:
Fadhilah Ramadhani Anwar
(111 2015 0160)

PEMBIMBING SUPERVISOR:
dr. Theodorus Singara, Sp.KJ

PEMBIMBING RESIDEN:
dr. Hutomo Judhi Christiantowibowo

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN PSIKIATRI, FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2016

1 | Page

DAFTAR ISI
Halaman judul

Daftar isi

Bab I. Pendahuluan

Bab II. Pembahasan

Pengertian Gangguan Depresi

Patofisiologi Gangguan Depresi

Tanda dan Gejala

Pedoman Diagnosis

Bab III. Obat Anti depresi

12

Ktiteria Pemilihan Obat

12

Penggolongan Antidepresi

14

a.
b.
c.
d.
e.
f.

14
15
18
19
21
22

SSRI
Trisiklik
Tetrasiklik
MAOI
SNRI
Antagonis 5-HT2

Kesimpulan

25

Daftar Pustaka

26

BAB I
Pendahuluan
2 | Page

Gangguan depresi adalah gangguan psikiatri yang menonjolkan mood


sebagai masalahnya, dengan berbagai gambaran klinis yakni gannguan episode
depresif, gangguan distimik, gangguan depresif mayor dan gangguan depresif
unipolar serta bipolar. The Oxford University Dictionary mendefinisikan depresi
sebagai keadaan low spirits or vitality (lemah jiwa atau semngat hidup). Dalam
kenyataannya, kebanayakan orang mengalami keadaan ini pada beberapa tahap
kehidupan mereka. Namun, psikiater jarang mengartikan perubahan mood dengan
depresi hanya jika hal itu berlangsung dalam jangka waktu yang lama yang
menyebabkan ketidakmampuan seseorang. Mood depresi dapat berhubungan
dengan perasaan bersalah , kecenderungan bunuh diri dan terganggunya fungsi
tubuh (seperti kehilangan berat badan, hilangnya libido atau gangguan pola tidur
yang ditandai dengan terbangun lebih awal) dan berlangsung beberapa minggu
atau beberapa bulan, seringkali tanpa faktor pencetus, gangguan ini hampir selalu
menghasilkan fungsi interpersonal, sosial dan pekerjaan terganggu.(1-3)
Farmakoterapi atau terapi obat merupakan komponen penting dalam
pengobatan gangguan depresif. Ada banyak faktor yang ahrus dipertimbangkan,
misalnya target symptom, kerja obat, farmakokinetik, cara pemberian, efek
samping, interaksi obat, sampai pada harga obat.(2)
Transmitter utama yang terlibat dalam depresi adalah dopamine,
norepinefrin dan serotonin. Penelitian telah menunjukkan bahwa proses transduksi
sinyal neuronal yang telah melampaui tingakat reseptor adalah target potensial
untuk antidepresan (Nestler, 1989; Racagni, 1992). Pemikiran terakhir adalah
beberapa mekanisme reseptor yang berbeda memicu kaskade sinyal interseluler
yang berbeda yang dapat mengaktifkan faktor transkripsi, yang pada akhirnya,
meningkatkan ekspresi gen yang mengkode protein, yang berperan penting dalam
pemulihan fungsi saraf yang terlibat dalam pengaturan mood.(4)

3 | Page

BAB II
Pembahasan
2.1. Pengertian Gangguan Depresi (2, 5)
Gangguan depresif adalah gangguan psikiatri yang menonjolkan mood
sebagai masalahnya, dengan berbagai gambaran klinis yakni gangguan episode

4 | Page

depresif, gangguan distimik, gangguan depresif mayor dan gangguan depresif


unipolar serta bipolar.
Gangguan depresif merupakan gangguan medik serius menyangkut kerja
otak, bukan sekedar perasaan murung atau sedih dalam beberapa hari. Gangguan
ini menetap selama beberapa waktu dan mengganggu fungsi keseharian
seseorang. Gangguan depresif masuk dalam kategori gangguan mood, merupakan
periode terganggunya aktivitas sehari-hari, yang ditandai dengan suasana perasaan
murung dan gejala lainnya termasuk perubahan pola tidur dan makan, perubahan
berat badan, gangguan konsentrasi, anhedonia (kehilangan minat apapun), lelah,
perasaan putus asa dan tak berdaya serta pikiran bunuh diri. Jika gangguan
depresif berjalan dalam waktu yang panjang (distimia) maka orang tersebut
dikesankan sebagai pemurung, pemalas, menarik diri dari pergaulan, karena ia
kehilangan minat hampir disemua aspek kehidupannya.
2.2. Patofisiologi Depresi (6, 7)
Depresi adalah salah satu gangguan mental yang berkaitan dengan yang
berkaitan dengan defek neurotransmitter di sistem limbik. Defisiensi fungsional
monoamine (serotonin, norepinefrin dan dopamine) diperkirakan berperan dalam
depresi, suatu penyakit yang ditandai dengan suasana hati yang negatif yang
berlangsung terus menerus dan disertai oleh hilangnya minat, ketidakmampuan
merasakan kesenangan dan kecenderungan bunuh diri. Serotonin dan norepinefrin
adalah pembawa pesan di daerah limbic otak yang terlibat dalam kesenangan dan
motivasi.
Studi-studi pada pasien depresi kadang menunjukkan perubahan pada
monoamine. Beberapa penelitian mendapatkan bukti perubahan pada jumlah
reseptor serotonin (5-HT1A dan 5-HT2C) atau reseptor norepinefrin pada pasien
yang depresi atau ingin bunuh diri. Bukti paling meyakinkan dari teori ini adalah
adalah bahwa kenyataan semua antidepresi yang tersedia nampaknya berpengaruh
signifikan pada sistem monoamine. Semua golongan antidepresan tampaknya
meningkatkan ketersediaan serotonin (5-HT), norepinefrin dan dopamine di
sinaps.
2.3. Tanda dan Gejala Gangguan Depresif(2, 8)

5 | Page

Keluhan
Keluhan utama untuk menegakkan gangguan depresi adalah:
1. Afek depresif
2. Kehilangan minat dan kegembiraan, dan
3. Berkurangnya energi yang merujuk pada keadaan mudah lelah dan
menuunnya aktifitas
Allo dan Auto Anamnesis tambahan:
a. Adanya gejala seperti minat dalam melakukan aktivitas/semangat yang
menurun, merasa sedih/murung, nafsu makan berkurang, sulit berkonsentrasi,
kepercayaan diri yang menurun, pesimistis.
b. Keluhan biasanya sering terjadi, atau berlangsung lama, dan terdapat stresor
kehidupan.
c. Menyingkirkan riwayat penyakit fisik dan penggunaan zat (alkohol, tembakau,
stimulan, dan lain-lain)
Diagnosis Klinis
Diagnosis klinis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Kriteria diagnosis berdasarkan ICD 10, yaitu: adanya gejala-gejala kecemasan dan
depresi yang timbul bersama-sama, dan masing-masing gejala tidak menunjukkan
rangkaian gejala yang cukup berat untuk dapat ditegakkannya suatu diagnosis
tersendiri.

Gejala-gejala depresi antara lain:


1. Suasana perasaan sedih/murung.
2.Kehilangan minat/kesenangan (menurunnya semangat dalam melakukan
aktivitas)
3. Mudah lelah
4. Gangguan tidur
5. Konsentrasi menurun
6. Gangguan pola makan
7. Kepercayaan diri yang berkurang
6 | Page

8. Pesimistis
9. Rasa tidak berguna/rasa bersalah
2.3 Pedoman Diagnostik(9)
F.32.0 Episode depresi ringan

Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama gangguan

depresif seperti tersebut di atas


Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari 3 gejala lainnya (a) sampai

(g)
Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya

Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya

sekitar 2 minggu
Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang
dilakukannya

F 32.1 Episode depresi sedang

Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama

gangguan depresif seperti tersebut diatas


Ditambah sekurang-kurangnya 3 gejala lainnya (a) sampai

(g)
Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya

Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya


sekitar 2 minggu

7 | Page

Menghadapi kesulitan nyata dalam meneruskan kegiatan dan


kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga

F32.2 EPISODE DEPRESI BERAT TANPA GEJALA PSIKOTIK


Pedoman Diagnostik

Semua 3 gejala utama gangguan depresif harus ada

Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan beberapa


diantaranya harus berintensitas berat

Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikometer)


yang mencolok, maka penderita mungkin tidak mau atau tidak
mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara rinci.
Dalam hal demikian, penilaian secara menyeluruh terhadap episode
gangguan depresif berat masih dapat dibenarkan

Episode depresi biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya 2


minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat
cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam
kurun waktu kurang dari 2 minggu

Sangat tidak mungkin penderita akan mampu meneruskan kegiatan


sosial, pekerjaan atau rumah tangga kecuali pada tarif yang sangat
terbatas.

F32.3 EPISODE DEPRESI BERAT DENGAN GEJALA PSIKOTIK


Pedoman Diagnostik

Episode depresi berat yang memenuhi kriteria menurut F32.2


tersebut diatas Disertai waham, halusinasi atau stupor. Waham
biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka
8 | Page

yang mengancam, dan penderita merasa bertanggung jawab atas hal


itu. Halusinasi auditorik atau olfatorik biasanya berupa suara yang
menghina atau menuduh, atau bau kotoran atau daging membusuk.
Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor

Jika diperlukan, waham atau halusisnasi dapat ditentukan sebagai


serasi atau tidak serasi dengan afek (mood congruent)

F.33 GANGGUAN DEPRESIF BERULANG


Pedoman Diagnostik

Gangguan ini bersifat dengan episode berulang dari :


o Episode depresif ringan (F32.0) o Episode
depresif sedang (F32.1 o Episode depresif
berat(F32.2 dan F32.3)
Episode masing-masing rata-rata lamanya sekitar 6 bulan akan tetapi

frekuensinya lebih jarang dibandingkan dengan gangguan bipolar


Tanpa riwayat adanya episode tersendiri dari peninggian afek dan
hiperaktivitas yang memenuhi kriteria mania (F30.1 dan F30.2)
Namun kategori ini tetap harus digunakan jika ternyata ada episode
singkat dari peninggian afek dan hiperaktivitas ringan yang memenuhi
kriteria hipomania (F30.0) segera sesudah suatu episode depresi (kadangkadang tampaknya dicetuskan oleh tindakan pengobatan depresi)

Pemulihan keadaan biasanya sempurna di antara episode, namun


sebagian kecil penderita mungkin mendapat depresi yang akhirnya
menetap, terutama pada lanjut usia (untuk keadaan ini, kategori ini harus

tetap digunakan)
Episode masing-masing, dalam berbagai tingkat keparahan, seringkali
dicetuskan oleh peristiwa kehidupan yang penuh stres atau trauma
mental lain (adanya stres tidak esensial untuk penegakkan diagnosisi)

9 | Page

Diagnosis banding : Episode depresi singkat berulang (F38.1)


F33.0 GANGGUAN GANGGUAN DEPRESIF BERULANG, EPISODE
KINI RINGAN.

Pedoman Diagnostik

Untuk Diagnosis pasti :


a. Kriteria untuk gangguan depresif berulang (F33) harus dipenuhi dan
episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresi
ringan (F32.0), dan sekurang-kurangnya dua episode telah
berlangsung masing-masing selama minimal 2 minggu dengan sela
waktu beberapa bulan tanpa gangguan afektif yang bermakna.

Kelima

F.33.00 = Tanpa gejala somatik


F.33.01 = Dengan gejala somatik

F33.1 GANGGUAN DEPRESIF BERULANG, EPISODE KINI SEDANG


Pedoman Diagnostik

Untuk Diagnosis pasti :


a. Kriteria untuk gangguan depresif berulang (F33) harus dipenuhi dan
episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresi sedang
(F32.0) , dan
b. Sekurang-kurangnya dua episode telah berlangsung masing-masing selama
minimal 2 minggu dengan sela waktu beberapa bulan tanpa gangguan
afektif yang bermakna

10 | P a g e

F33.2 GANGGUAN DEPRESIF BERULANG, EPISODE KINI BERAT


TANPA GEJALA PSIKOTIK
Pedoman Diagnostik

Untuk Diagnosis pasti :


a. Kriteria untuk gangguan depresif berulang (F33,-) harus dipenuhi
dan episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresi
berat tanpa gejala psikotik (F32.2 ) dan
b. Sekurang-kurangnya dua episode telah berlangsung masing-masing
selama minimal 2 minggu dengan sela waktu beberapa bulan tanpa
gangguan afektif yang bermakna.

F33.3 GANGGUAN DEPRESIF BERULANG, EPISODE KINI BERAT


DENGAN GEJALA PSIKOTIK
Pedoman Diagnostik

Untuk Diagnosis pasti :


a. Kriteria untuk gangguan depresif berulang (F33,-) harus dipenuhi dan
episode sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif
berat dengan gejala psikotik (F32.3) dan
b. Sekurang-kurangnya dua episode telah berlangsung masing-masing
selama minimal 2 minggu dengan sela waktu beberapa bulan tanpa
gangguan afektif yang bermakna.

11 | P a g e

F33.4 GANGGUAN DEPRESIF BERULANG, KINI DALAM


REMISI Pedoman Diagnostik

Untuk Diagnosis pasti :

a. Kriteria untuk gangguan depresif berulang (F33,-) harus dipenuhi dan


episode sekarang seharusnya tidak memenuhi kriteria untuk episode depresi
dengan derajat keparahan apapun atau gangguan lain apapun dalam F30
F39. dan
b. Sekurang-kurangnya dua episode telah berlangsung masing-masing selama
minimal 2 minggu dengan sela waktu beberapa bulan tanpa gangguan afektif
yang bermakna.
c. Kriteria untuk gangguan depresi berulang (F33,-) harus dipenuhi
dan episode sekarang seharusnya tidak memenuhi kriteria untuk
episode depresi dengan derajat keparahan apapun atau gangguan
lain apapun dalam F30 F39 dan
Sekurang-kurangnya dua episode telah berlangsung masing-masing selama
minimal 2 minggu dengan sela waktu beberapa bulan tanpa gangguan afektif yang
bermakna.

12 | P a g e

BAB III
Obat Antidepresan

Saat merencanakan intervensi pengobatan, penting untuk menekankan


kepada penderita bahwa ada beberapa fase pengobatan sesuai dengan perjalanan
gangguan depresi:

Fase akut bertujuan untuk meredakan gejala

Fase kelanjutan untuk mencegah relaps

Fase pemeliharaan/rumatan untuk mencegah rekuren

Dikutip dari Kupfer, 1991

Di pelayanan kesehatan primer, obat anti depresan yang tersedia biasanya


golongan trisiklik. Meskipun antidepresan trisiklik sampai saat ini merupakan
obat antidepresan yang paling banyak digunakan, tetapi penggunaannya masih
belum optimal karena kemampuan diagnostik dari pelayanan kesehatan primer
13 | P a g e

belum ditingkatkan juga belum berperannya konselor apoteker. Dari hasil


penelitian ternyata dosis yang digunakan masih terlalu rendah. Akibatnya, efek
terapi yang ingin dihasilkan tidak tercapai.
Efek samping antidepresan trisiklik cukup banyak, tetapi hal ini tidak
menghalangi penggunaannya, karena obat ini telah terbukti efektif dalam
mengobati depresi. Dengan memberikan obat ini sebagai dosis tunggal pada
malam hari, dan melakukan titrasi peningkatan dosis, maka efek samping yang
mengganggu sedikit banyak akan dapat diatasi.
3.1. Kriteria pemilihan obat(2)
Pertimbangan untuk pemilihan obat ada di tangan dokter yang akan
membicarakannya

pada

penderita.

Konseling

diperkuat

oleh

apoteker.

Pertimbangan tersebut meliputi:


-

Efek samping dan respon tubuh terhadap obat

Penyakit dan terapi lain yang dialami penderita

Kerja obat dalam tubuh ketika dibarengi obat lain. Penderita perlu
mengatakan pada dokter bahwa ia sedang menelan obat tertentu. Dokter akan
memperhatikan interaksi obat yang diketahuinya.

Lanjut usia, dimana fungsi absorbsi obat melambat.

Efektivitas obat atas penderita. Seringkali pengobatan awal memberi hasil


baik. Jika ini tak terjadi beritahu dokter agar dipikirkan obat lain atau
kombinasi.

Obat harus dipertahankan selama 7-15 bulan atau lebih panjang untuk
menghadang episode gangguan depresif berikutnya

Beberapa orang memerlukan terapi rumatan antidepresan, terutama mereka


yang seringkali mengalami pengulangan gejala episode gangguan depresif
atau gangguan depresif mayor.
Antidepresan baru terlihat efeknya dalam 4 sampai 12 minggu, sebelum ia

mengurangi atau menghapus gejala-gejala gangguan depresif meski hasilnya


dirasakan sudah membuat perbaikan dalam 2 sampai 3 minggu. Selama masa ini.
Efek samping akan terasa. Banyak efek samping bersifat sementara dan akan

14 | P a g e

menghilang ketika obat diteruskan, dan beberapa efek samping menetap seperti
mulut kering, konstipasi dan efek seksual.
Orang berusia lanjut perlu mendapatkan perhatian atas daya absorbsi dan
kepekaannya terhadap efek obat. Monitor obat dan gejala perlu lebih cerma
3.2. Penggolongan Antidepresan(2, 7, 10)
A. Selective Serotonin Reuptake Inhibitors
Obat golongan ini adalah inhibitor selektif penyerapan ulang serotonin.
Farmakodinamik: pengangkut serotonin (SERT) adalah suatu glikoprotein dengan
12 regio transmembran terbenam di membrane ujung akson dan badan sel sel
neuron serotonergic. Ketika serotonin ekstrasel berikatan dengan reseptor
pengangkut, terjadi perubahan konformasi di pengangkut dan serotonin, Na+ dan
Cl- dipindahkan ke dalam sel. Pengikatan K+ intrasel kemudian menyebabkan
kembalinya pengangkut ke konformasi aslinya dan pelepasan serotonin ke dalam
sel. SSRI secara alosentris menghambat pengangkut dengan mengikat reseptor di
luar tempat pengikatan aktif untuk serotonin. Pengikatan ke pengangkut serotonin
menyebabkan inhibisi tonik sistem dopamine, meskipun efek ini memperlihatkan
variabilitas antar individu yang substansial. SSRI tidak berikatan secara agresif
dengan reseptor histamine, muskarinik, atau yang lain.

Fluoxetin
Dosis lazim: 20 mg sehari pada pagi hari, maksimum 80 mg/hari dalam dosis
tunggal atau terbagi.
Kontra Indikasi: hipersensitif terhadap fluoxetin, gagal ginjal yang berat,
penggunaan bersama MAO.
Interaksi Obat: MAO, Lithium, obat yang merangsang aktivitas SSP, anti
depresan, triptofan, karbamazepin, obat yang terkait dengan protein plasma.
Perhatian: penderita epilepsi yang terkendali, penderita kerusakan hati dan
ginjal, gagal jantung, jangan mengemudi / menjalankan mesin.

Sertralin
Dosis lazim: 50 mg/hari bila perlu dinaikkan maksimum 200 mg/hr.
Kontra Indikasi: Hipersensitif terhadap sertralin.

15 | P a g e

Interaksi Obat: MAO, Alkohol, Lithium, obat seretogenik.


Perhatian: pada gangguan hati, terapi elektrokonvulsi, hamil, menyusui,
mengurangi kemampuan mengemudi dan mengoperasikan mesin.

Citalopram
Dosis lazim: 20 mg/hari, maksimum 60 mg /hari.
Kontra indikasi: hipersensitif terhadap obat ini.
Interaksi Obat: MAO, sumatripan, simetidin.
Perhatian: kehamilan, menyusui, gangguan mania, kecenderungan bunuh
diri.

Fluvoxamine
Dosis lazim: 50mg dapat diberikan 1x/hari sebaiknya pada malam hari,
maksimum dosis 300 mg.
Interaksi Obat: warfarin, fenitoin, teofilin, propanolol, litium.
Perhatian: Tidak untuk digunakan dalam 2 minggu penghentian terapi MAO,
insufiensi hati, tidak direkomendasikan untuk anak dan epilepsi, hamil dan
laktasi.
Efek samping penggunaan SSRI adalah karena meningkatnya serotonergic,

tidak hanya di otak, tetapi juga di seluruh tubuh. Menignkatnya aktivitas


serotonergic di usus sering menyebabkan mual, gangguan pencernaan, diare dan
gejalan saluran cerna lainnya, yang muncul biasanya pada awal pengobatan dan
menghilang pada minggu pertama pengobatan. Di tingkat korda spinalis dan di
atasnya menyebabkan penurunan fungsi dan minat seksual, sehingga sekitar 3040% pasien yang diterapi dengan SSRI melaporkan mengalami penurunan libido,
orgasme yang tertunda atau pengurangan gairah.
Efek samping lain yang dapat muncul adalah peningkatan nyeri kepala,
insomnia atau hypersomnia. Sebagian pasien yang diterapi mengalami
peningkatan berat badan, teruatama paroksetin. Penghentian mendadak SSRI
waktu paruh singkat (paroksetin dan sertraline) dapat menyebabkan sindrom
diskontinuasi yang ditandai dengan pusing bergoyang, paresthesia dan gejala lain
yang muncul 1-2 hari setelah penghentian dan menetap 1 minggu atau lebih.

16 | P a g e

B. Antidepresan Trisiklik
Farmakokinetik, golongan TCA cenderung diserap balik dan memiliki
waktu paruh panjang. Karenanya, sebagian besar diberikan sekali sehari karena
efek mengantuk. TCA mengalami metabolisme ekstensif melalui demetilasi,
hidroksilasi aromatic dan konjugasi glukuronida. Berbagai TCA memiliki jendela
terapuetik yang lebar dan kadar serum dapat digunakan untuk memperkirakan
respon dan toksisitas. Farmakodinamiknya, TCA berfungsi mirip dengan SNRI
(serotonin-noreinefrin

reuptake

inhibitor),

dan

aktifitas

antidepresannya

diperkirakan berkaitan terutama dengan inhibisi terhadap penyerapan ulang


norepinefrin dan serotonin (5-HT). Dalam golongan TCA, terdapat variabilitas
yang cukup besar dalam afinitas terhadap SERT versus NET. Sebagai contoh,
klomipramin memiliki afinitas yang relative rendah terhadap NET, tetapi
berikatan kuat dengan SERT. Selektifitas ini berperan dalam efektifitas
klomopramin dalam mengobati gangguan obsesif-kompulsif. Efek samping umu
TCA, termasuk mulut kering dan kosntipasi berkaitan dengan efek antimuskarinik
kuatnya. TCA juga juga cenderung merupakan antagonis kuat reseptor histamine
H1. Blockade adenoreseptor alpha dapat menyebabkan hipotensi ortostatik.
Mekanisme kerja: Obatobat ini menghambat resorpsi dari serotonin dan
noradrenalin dari sela sinaps di ujung-ujung saraf.
Efek samping:
-

Efek jantung; dapat menimbulkan gangguan penerusan impuls jantung


dengan perubahan ECG, pada overdosis dapat terjadi aritmia berbahaya.

Efek antikolinergik; akibat blokade reseptor muskarin dengan menimbulkan


antara lain mulut kering, obstipasi, retensi urin, tachycardia, serta gangguan
potensi dan akomodasi, keringat berlebihan.

Sedasi

Hipotensi ortostatis dan pusing serta mudah jatuh merupakan akibat efek
antinoradrenalin, hal ini sering terjadi pada penderita lansia, mengakibatkan
gangguan fungsi seksual.

Efek antiserotonin; akibat blokade reseptor 5HT postsinaptis dengan


bertambahnya nafsu makan dan berat badan.

17 | P a g e

Kelainan darah; seperti agranulactose dan leucopenia, gangguan kulit.

Gejala penarikan; pada penghentian terapi dengan mendadak dapat timbul


antara lain gangguan lambung-usus, agitasi, sukar tidur, serta nyeri kepala
dan otot.

Imipramin

Dosis lazim: 25-50 mg 3x sehari bila perlu dinaikkan sampai maksimum 250300 mg sehari.
Kontra Indikasi: Infark miokard akut
Interaksi Obat: anti hipertensi, obat simpatomimetik, alkohol, obat penekan
SSP.
Perhatian: kombinasi dengan MAO, gangguan kardiovaskular, hipotensi,
gangguan untuk mengemudi, ibu hamil dan menyusui.

Klomipramin

Dosis lazim: 10 mg dapat ditingkatkan sampai dengan maksimum dosis 250


mg sehari.
Kontra Indikasi: Infark miokard, pemberian bersamaan dengan MAO, gagal
jantung, kerusakan hati yang berat, glaukoma sudut sempit.
Interaksi Obat: dapat menurunkan efek antihipertensi penghambat neuro
adrenergik, dapat meningkatkan efek kardiovaskular dari noradrenalin atau
adrenalin, meningkatkan aktivitas dari obat penekan SSP, alkohol.
Perhatian: Terapi bersama dengan preparat tiroid, konstipasi kronik,
kombinasi dengan beberapa obat antihipertensi, simpatomimetik, penekan
SSP, anti kolinergik, penghambat reseptor serotonin selektif, antikoagulan,
simetidin.
Monitoring hitung darah dan fungsi hati, gangguan untuk mengemudi.

Amitriptilin

Dosis lazim: 25 mg dapat dinaikan secara bertahap sampai dosis maksimum


150-300 mg sehari.
Kontra Indikasi: penderita koma, diskrasia darah, gangguan depresif
sumsum tulang, kerusakan hati, penggunaan bersama dengan MAO.

18 | P a g e

Interaksi Obat: bersama guanetidin meniadakan efek antihipertensi, bersama


depresan SSP seperti alkohol, barbiturate, hipnotik atau analgetik opiate
mempotensiasi efek gangguan depresif SSP termasuk gangguan depresif
saluran napas, bersama reserpin meniadakan efek antihipertensi.
Perhatian: ganguan kardiovaskular, kanker payudara, fungsi ginjal
menurun, glakuoma, kecenderungan untuk bunuh diri, kehamilan, menyusui,
epilepsi.
C. Antidepresan Tetrasiklik
Farmakokinetik, Efek bupropion masih belum diketahui pasti. Dalam
penelitian, bupropion dan metabolitnya merupakan inhibitor lemah sampai sedang
reuptake norepinefrin dan dopamine. Namun efek ini tidak terlalu berefek sebagai
antidepresan. Efek bupropion yang lebih signifikan adalah pelesapan katekolamin
prasinaps. Pada penelitian, bupropion tampaknya meningkatkan secara bermakna
ketersediaan norepinefrin prasinaps, dan dopamine dengan tingkat yang lebih
rendah, dan obat ini hampir tidak memiliki efek langsung terhadap serotonin.
Farmakodinamiknya, Mirtazapine memiliki farmakologi yang kompleks.
Obat ini adalah antagonis autoreseptor alpha2 prasinaps dan meningkatkan
pelepasan norepinefrin dan 5-HT. selain itu, mirtazapine merupakan antagonis
reseptor 5-HT2 dan 5-HT3. Terakhir, mirtazapine adalah antagonis kuat H1.
Efek amoksapin dan maprotilin mirip dengan yang ditimbulkan oleh TCA
seperti despiramin. Keduanya adalah inhibitor poten NET dan inhibitor, yang
lebih lemah, SERT. Selain itu, keduanya memiliki antikolinergik. Tidak seperti
antidepresan lain, amoksapin merupakan inhibitor moderat reseptor D2
pascasinaps, karenanya amoksapin memiliki beberapa sifat antipsikotik.

Mirtazapin
Dosis lazim: 15-45 mg / hari menjelang tidur.
Kontra Indikasi: Hipersensitif terhadap mitrazapin.
Interaksi Obat: dapat memperkuat aksi pengurangan SSP dari alkohol,
memperkuat efek sedatif dari benzodiazepine, MAO.

19 | P a g e

Perhatian: pada epilepsi sindroma otak organic, insufiensi hati, ginjal,


jantung, tekanan darah rendah, penderita skizofrenia atau gangguan psikotik
lain, penghentian terapi secara mendadak, lansia, hamil, laktasi, mengganggu
kemampuan mengemudi atau menjalankan mesin.
Efek samping: memiliki efek sedative yang signifikan
Amoksapin
Dosis: 150-400 mg/hari
Efek samping: kadang menyebabkan sindrom parkinsonian karena efeknya
menghambat reseptor D2.
Interaksi obat: obat ini berinteraksi dengan obat-obat lain seperti umumnya
golongan TCA. Perlu digunakan secara hati-hati jika dikombinasikan dengan
inhibitor seperti fluoksentin. Obat ini memiliki sifat antikolinergik dan
antihistamin yang mungkin aditif dengan obat-obatan yang memiliki profil
serupa.
Bupropion
Dosis: 200-400 mg/hari
Efek samping: bupropion kadang menyebabkan agitasi, insomnia, dan
anoreksia
Interaksi obat: bupropion dimetabolisme terutama oleh CYP2B6 dan
metabolisme dapat dipengaruhi oleh obat seperti siklosfopamid, yang
merupakan substrat 2B6. Metabolit utama bupropion, adalah inhibitor
moderat CYP2D6 sehingga dapat meningkatkan kadar despiramin. Bupropion
sebaiknya jangan diberikan kepada pasien yang mendapat MAOI.
D. Monoamin Oksidase Inhibitor
Farmakokinetik, Terdapat 3 jenis MAOI yang dimetabolisme melalui jalurjalur yang berbeda, tetepi cenderung memiliki efek first past yang ekstensif yang
dapap menurunkan ketersediaan hayati secara substansial. MAOI diserap baik dari
saluran cerna. Karena efek-efek first past yang menonjol dan kecenderungan
mereka menghambat MAOI di usus (menyebabkan efek presor tiramin), kini
dikembangkan berbagai rute pemberian alternative. Sebagai contoh, selegilin
tersedia dalam bentuk transdermis dan sublingual yang melewatkan usus dan hati.
Rute-rute ini mengurangi risiko interaksi obat dan secara substansial
meningkatkan ketersediaan hayati obat.

20 | P a g e

Farmakodinamik, obat ini berdampak dengan cara mengurangi kerja


monoamine oksidase di neuron dan meningkatkan kandungan monoamine.
MAO-A terdapat di neuron dopamine dan norepinefrin serta terutama ditemukan
di otak, usus, plasenta dan hati. Substrat utamanya adalah norepinefrin, epinefrin
dan serotonin. MAO-B ditemukan terutama di neuron serotonergic

dan

histaminergik serta tersebar di otak, hati dan trombosit. MAO-B terutama bekerja
pada tiramin, feniletilamin dan benzilamin. Baik MAO-A dan MAO-B
memetabolisme triptamin dan dopamine.
Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap senyawa ini; feokromositoma; gagal jantung
kongestif; riwayat penyakit liver atau fungsi liver abnormal; gangguan ginjal
parah; gangguan serebrovaskular; penyakit kardiovaskular; hipertensi; riwayat
sakit kepala; pemberian bersama dengan MAOI lainnya; senyawa yang terkait
dibenzazepin termasuk antidepresan trisiklik, karbamazepin, dan siklobenzaprin;
bupropion; SRRI; buspiron; simpatomimetik; meperidin; dekstrometorfan;
senyawa anestetik; depresan SSP; antihipertensif; kafein; keju atau makanan lain
dengan kandungan tiramin tinggi.

Maclobemide
Dosis: dosis anjuran 300-600 mg/hari. sediaan tablet 150 mg.
Isokarboksazid
Dosis: 30-60 mg/hari
Fenelzin
Dosis: 45-90 mg/hari
Tranilsipromin
Dosis: 30-60 mg/hari

Efek Samping
Efek samping tersering MAOI yang menyebabkan penghentian terapi
adalah hipotensi ortostatik dan penambahan berat badan. Selain itu, MAOI nonseletif ireversibel memiliki angka efek samping seksual paling tinggi diantara
semua antidepresan. Anorgasmia cukup sering terjadi pada pemberian MAOI
dosis terapeutik. Sifat sebagian MAOI yang mirip dengan amfetamin ikut
berperan menyebabkan insomnia dan kegelisahan pada sebagian pasien. MAOI
dosis tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan pikiran. Karena menghambat

21 | P a g e

metabolisme tiramin dan amin lain dalam makanan, MAOI dapat berinteraksi
dengan makanan tertentu dan dengan obat serotonergic. Terakhir, MAOI
dilaporkan dapat menyebabkan sindrom diskontinuitas yang bermanifestasi
sebagai keadaan mirip delirium disertai psikosis, eksitasi dan kekacauan pikiran.
Interaksi Obat
MAOI berkaitan dengan dua golongan interaksi obat serius. Pertama adalah
interaksi farmakodinamik MAOI dengan obat serotonergic, seperti SSRI, SNRI
dan sebagian besar TCA dan beberapa obat analgesic misalnya meperidin.
Kombinasi suatu MAOI dengan obat serotonergic ini dapat menyebabkan sindrom
serotonin yang mengancam nyawa. Sindrom serotonin diperkirakan disebabkan
oleh stimulasi berlebihan reseptor 5 HT di nucleus griseus sentral dan medulla.
Gejala berkisar dari ringan sampai mematikan dan mencakup trias efek kognitif
(delirium, koma), otonom (hipertensi, takikardi, diaphoresis) dan somatic
(mioklonus, hiperrefleksia, tremor). Sebagia besar antidepresan serotonergic perlu
diperhatikan paling sedikit 2 minggu sebelum MAOI mulai diberikan. Sebaliknya,
MAOI harus dihentikan 2 minggu sebelum obat serotonergic dimulai.
Interaksi
dikombinasikan

serius

kedua

dengan

dengan

tiramin

MAOI

dalam

terjadi

makanan

jika

atau

suatu

dengan

MAOI
substrat

simpatomimetik MAOI. Obat ini mencegah penguraian tiramin di usus, dan hal
ini menyebabkan kadar serum yang tinggi yang meningkatkan efek noradrenergic
perifer, termasuk peningkatan drastis tekanan darah, sehingga dapat mengalami
hipertensi maligna lalu stroke atau infark miokardium.
E. Serotinin-Norepinefrin Reuptake Inhibitor
Farmakodinamiknya adalah bahwa obat golongan SNRI berikatan baik
dengan pengangkut serotonin maupun norepinefrin. NET secara struktur sangat
mirip dengan reseptor pengangkut 5-HT. NET adalah suatu kompleks 12 ranah
transmembran yang secara alosentris mengikat norepinefrin. NET juga memiliki
afinitas rendah terhadap dopamine.
Farmakokinetik, Venlafaksin dimetabolisme secara ekstensif di hati melalui
isoenzim CYP2D6 menjadi O-desmetilvenlafaksin. Keduanya memiliki paruh
serupa sekitan 11 jam. Meskipun waktu paruh relative singkat, kedua obat tersedia

22 | P a g e

dalam bentuk yang memungkinkan dosis sekali sehari. Dibandingkan anti


depresan lain, venlafaksin dan desvenlafaksin paling sedikit terikat protein. Tidak
seperti kebanyakan antidepresan, desvenlafaksin mengalamali konjugasi dan tidak
mengalami metabolisme oksidatif yang ekstensif.

Venlafaxine
Dosis lazim: 75 mg/hari bila perlu dapat ditingkatkan menjadi 150-250 mg
1x/hari.
Kontra Indikasi: penggunaan bersama MAO, hamil dan laktasi, anak < 18
tahun.
Interaksi Obat: MAO, obat yang mengaktivasi SSP lain.

Perhatian: riwayat kejang dan penyalahgunaan obat, gangguan ginjal atau sirosis
hati, penyakit jantung tidak stabil, monitor tekanan darah jika penderita mendapat
dosis harian > 200 mg.
F. Antagonis 5-HT2
Dua antidepresan diduga terutama bekerja sebagai antagonisdi reseptor 5HT2 yaitu trazodone dan nefazodone. Farmakokinetik obat ini cepat diserap dan
dimetabolisme ekstensif di hati. Keduaobat ini banyak terikat ke protein dan
memiliki ketersediaan hayati terbatas karena metabolismenya yang ekstensif.
Waktu paruh yang singkat mengharuskan mereka digunakan dalam dosis terpisah
jika dipakai sebagai antidepresan. Namun, trazodone sering kali diresepkan
sebagai dosis tunggal pada malam hari sebagai hipnotik pada dosis yang lebih
rendah daripada digunakan untuk mengobati antidepresi.
Farmakodinamik, efek utama obat ini adalah blockade reseptor 5-HT2.
Inhibisi reseptor ini pada penelitian berkaitan dengan dengan efek antianxietas,
antipsikotik dan antidepresan yang signifikan. Sebaliknya, agonis reseptor 5-HT2A,
misalnya asam lisergat dan meskalin, sering bersifat halusinogenik dan
ansiogenik. Reseptor 5-HT2 adalah reseptor yang terhubung dengan protein G dan
tersebar di seluruh neurokorteks. Nefazodone adalah inhibitor lemah SERT dan
NET, tetapi antagonis kuat reseptor 5-HT2A pascasinaps, demikian pula metabolitmetabolitnya. Trazodon juga merupakan inhibitor lemah, tetapi selektif untuk
SERT dengan efek minimal pada NET. Metabolit utamanya, m-cpp, merupakan

23 | P a g e

antagonis poten 5-HT2 dan banyak dari manfaat trazodon sebagai antidepresan
mungkin berkaitan dengan efek ini. Trazodon juga memiliki efek menghambat
reseptor alpha-adrenergik prasinaps lemah sampai sedang dan antagonis ringan
reseptor H1. Dosis terapeutik trazodon adalah 150-300 mg/hari sedangkan
nefazodone adalah 300-500 mg/hari.
Efek Samping
Efek samping tersering penggunaan obat ini adalah mengantuk dan
gangguan pencernaan. Efek sedative, terutama trazodone dapat cukup berat.
Karena itu, tidak jarang pengobatan insomnia menggunakan trazodone. Efek
samping pada pencernaan tampaknya berkaitan dengan dosis dan lebih ringan
daipada yang disebabkan SNRI atau SSRI. Nefazodon dan trazodon adalah obat
penghambat alpha serta dapat menyebabkan hipotensi ortostatik yang bergantung
dosis pada sebagian pasien.
Interaksi Obat
Nefazodon adalah inhibitor isoenzim CYP3A4 sehingga obat iini dapat
meningkatkan kadar dan karenanya memperparah efek samping banyak obat yang
dependen CYP3A4. Sebagai contoh kadar triazolam meningkat oleh pemberian
bersamaan dengan nefazodon sehingga dianjurkan penurunan dosis triazolam
sebesar 75%. Demikian juga, pemberian nefazodon bersama simvastatin
dilaporkan menyebabkan peningkatan 20 kali lipat kadar simvastatin plasma.
Trazodon adalah substrat, tetapi bukan inhibitor poten CYP3A4. Karenanya,
kombinasi trazodon dengan inhibitor poten CYP3A4, misalnya ritonavir atau
ketokonazol dapat menyebabkan peningkatan substansial kadar trazodon.

24 | P a g e

Sediaan Obat Antidepresi dan Dosis Anjuran


(yang beredar di Indonesia menurut MIMS Vol. 7 tahun, 2006)
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

14
15
16
17

Nama Generik
Amitriptyline
Amoxapine
Tianeptine
Clomipramine
Imipramine
Maclobemide
Maprotiline
Mianserin
Sertraline
Trazodone
Paroxetine
Fluvoxamine
Fluoxetine

Citolopram
Mintazapin
Duloxentine
Venlafaxine

Nama Dagang
Amitriptyiline
Asendin
Stablon
Anafranil
Tafronil
Aurorix
Ludiomil
Tovlon
Zoloft
Trazone
Seroxat
Luvox
Nopres

Sediaan
Drag 25 mg
Tab. 100 mg
Tab. 12,5 mg
Tab. 25 mg
Tab. 25 mg
Tab. 150 mg
Tab. 10-25 mg
Tab. 10, 30 mg
Tab. 50 mg
Tab. 50, 100 mg
Tab. 20 mg
Tab. 50 mg
Caplet 20 mg

Prozac

Cap. 25 mg

Antiprestin

Cap. 10-20 mg

Courage

Tab. 25 mg

Kalxetine

Cap. 10-20 mg

Zactin
Cipram
Remeron
Cymbalta
Efexor-XR

Cap. 20 mg
Tab. 20 mg
Tab. 30 mg
Caplet 30-60 mg
Cap. 75 mg

Dosis Anjuran
75-100 mg/h
200-300 mg/h
25-50 mg/h
75-150 mg/h
75-150 mg/h
300-600 mg/hr
75-150 mg/h
30-60 mg/h
50-100 mg/h
100-200 mg/h
20-40 mg/h
50-100 mg/h
20-40 mg/h

20-60 mg/h
15-45 mg/h
30-60 mg/h
75-150 mg/h

BAB IV

25 | P a g e

Kesimpulan
Depresi merupakan gangguan mood yang disebabkan adanya abnormalitas
biologis, terutama adanya defisiensi relative salah satu atau beberapa aminergic
neurotransmitter (noradrenaline, serotonin dan dopamine) pada celah sinaps di
neuron Sistem Saraf Pusat (khususnya pada sistem Limbik) sehingga aktifitas
reseptor serotonin menurun(10).
Kebanyakan antidepresan melakukan kerja penting terhadap metabolisme
neurotransmitter monoamine dan reseptornya, terutama serotonin dan norepinefrin
(Buckley and Waddington, 2000; Owens et.al, 1997). Keefektifan dan kerja
terapeutik antidepresan, serta bukti kuat kecenderungan genetiknya, memunculkan
dugaan bahwa dasar biologis gangguan mood yang parah kemungkinan
melibatkan fungsi abnormal neurotransmisi monoamine.
Antidepresan yang digunakan saat ini memiliki prinsip kerja yang hampir
sama yaitu menghambat pengambilan kembali serotonin ataupun norepinefrin
serta dopamine. Sehingga memungkinkan semakin banyaknya neurotransmitter di
celah sinaps. Penggolongan secara garis besar yaitu antidepresan trisiklik,
tetrasiklik, MAO inhibitor, SSRI, serta antidepresan atipikal (SNRI dan Antagonis
5-HT2)

26 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA
1. Sadock BJ. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry. Behavioral
Science/Clinical Psychiatry. 2007;10th Edition. Lippincott Williams & Wilkins.
2.

Abdul Muchid D. Pharmaeutical Care untuk Penderita Gangguan Depresif.

Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2007. 9, 20 p.


3.

Leonard BE. Fundamentals of Psycopharmacology. England: John Wiley

& Sons Ltd.; 2003. p. 153.


4.

Rip. Mechanism of Action of Atypical Antidepressants. 2006 [cited 2015

August 20th]; Available from: http://tribes.tribe.net/.


5.

Marina Marcus MTY. Depression, A global Public Health Concern. 2012

[cited 2015 23]; Available from: www.who.int/jounal/depression/who_paper/pdf.


6.

Sherwood L. Susunan Saraf Pusat. Fisiologi Manusia, dari Sel ke Sistem.

Jakarta: EGC; 2012. p. 171.


7.

Katzung BG. Obat Antidepresan. Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta:

EGC; 2012. p. 589.


8.

Tim Penulis Kementrian Kesehatan . Gangguan Depresi dan Cemas.

Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Layanan Kesehatan Primer.


Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia; 2014. p. 280-3.
9.

Maslim, Rusdi, dr. Sp. KJ. Diagnosis Gangguan Jiwa.

Buku Saku

Rujukan Ringkas dari PPDGJ III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FKUnika Atma Jaya; 2007.
10.

Maslim, Rusdi, dr. Sp. KJ . Obat Anti Depresi. Penggunaan Klinis Obat

Psikotropik. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa, FK-Unika Atma Jaya; 2007.
p. 23-35.

27 | P a g e