Anda di halaman 1dari 5

Kembang Turi adalah bahan makanan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.

Kembang
Turi mengandung energi sebesar 44 kilokalori, protein 1,8 gram, karbohidrat 9,6 gram, lemak 0,6
gram, kalsium 23 miligram, fosfor 29 miligram, dan zat besi 1 miligram. Selain itu di dalam Kembang
Turi juga terkandung vitamin A sebanyak 105 IU, vitamin B1 0,13 miligram dan vitamin C 41 miligram.
Hasil tersebut didapat dari melakukan penelitian terhadap 100 gram Kembang Turi, dengan jumlah
yang dapat dimakan sebanyak 83 %.

Turi merupakan pohon yang berkayu lunak dan berumur pendek. Tingginya
dapat mencapai 5-12 m.[7] Akarnya berbintil-bintil yang gunanya untuk
menyuburkan tanah.[8] Bunganya besar dan keluar dari ketiak daun. Bunganya
besar dan apabila mekar, berbentuk seperti kupu-kupu.[7] Warna bunganya ada
yang merah dan ada juga yang putih.[9] Ada juga yang berwarna gabungan
kedua-duanya.[8] Letaknya menggantung dengan 2-4 bunga yang bertangkai,
dan kuncupnya berbentuk sabit.[7] Rantingnya menggantung, kulit luar
berwarna kelabu hingga kecoklatan. Kulit luarnya ini tidak rata dengan alur
membujur dan melintang tidak beraturan dengan lapisan gabus yang mudah
terkelupas. Pada bagian dalam, batangnya berlendir dan berair[9] yang
berwarna merah, dan rasanya pahit.[10] Percabangan baru keluar apabila sudah
panjangnya sudah 5 meter. Daunnya majemuk[9] dan tersebar.[7]
Memiliki daun penumpu sepanjang 1/2-1 cm. Anak daunnya bentuknya jorong
memanjang, rata, dan menyirip genap. Panjang daun 20-30 cm. Tangkainya
pendek, dan setiap tangkai berisi 20-40 pasang anak daun. Warna bunganya ada
yang merah dan ada juga yang putih.[9] Buahnya berbentuk polong,
meggantung, bersekat, dengan panjang 20-55 cm, sewaktu muda berwarna
hijau, dan sudah tua berwarna kuning keputih-putihan. Sedangkan bijinya
berbentuk bulat panjang, dan berwarna coklat muda.
Bunga turi selain digunakan dalam sayur untuk makanan pecel juga masih
banyak kegunaannya. Bunga turi juga bisa untuk urapan dan bahkan untuk obat
penyakit tertentu. Sebenarnya bagian keseluruhan Turi ini semuanya berguna.
Contohnya daunya buat pakan hewan ternak, batangnya yang mengandung
serat jika di pintal dapat menghasilkan benang dan dapat dibuat sebagai jala.

Manfaat Bunga Turi pada cairan daun dan batangnya sering digunakan sebagai
obat kumur pembersih mulut dan kerongkongan. Getahnya, dalam bentuk
tepung atau perasan, bersifat astrigen. Getah tersebut mengandung beberapa
zat pewarna seperti agatin, basorin, dan zantoagatin.Di India, turi dianggap
sangat berkhasiat. Semua bagian pohonnya dapat digunakan sebagai obat untuk
menyembuhkan penyakit buta senja karena mengandung banyak vitamin A.

Manfaat Bunga Turi khususnya bunga turi oleh penduduk Jawa Tengah, biasa
digunakan sebagai bahan pewarna tradisional. Bunga turi juga dimanfaatkan
untuk menyembuhkan keputihan, sakit tenggorokan, kuku jari bengkak, batuk,
dan mengatasi hidung berlendir atau sakit kepala.

Untuk meredakan demam nifas, bunga turi ditumbuk, lalu air perasannya
diminum. Bagian

akarnya dimanfaatkan untuk batuk berdahak dan pegal linu.

Bunga turi yang mengandung vitamin B memang sangat baik sekali buat untuk
sayur-mayur. Selain itu biji dari turi ini ternyata bias juga untuk pengganti
kedelai, ya walaupun rasanya tidak seperti kedelai akan tetapi bisa juga untuk
pembuat tempe. Daunya yang bersifat tonik dalam ilmu kesehatan sehingga
berguna sebagai obat kuat, diare, disentri, dan bias juga buat penyembuh perut
kembung. Dan masih banyak lagi guna dari turi ini..

Turi (Sesbania grandiflora) banyak ditemukan di daerah pedesaan. Di Indonesia


banyak dimanfaatkan sebagai paru-paru kota , pembatas pekarangan dan
sebagai lalapan. Ya, bunga turi sering digunakan sebagai sayuran pelengkap
pecel. Bunga turi dapat membantu memperlancar ASI ( Air Susu Ibu ) dan
mengatasi gangguan buang air besar. Selain itu juga dapat melembutkan kulit.
Bunga turi ada yang berwarna merah dan ada yang berwarna putih. Kandungan
senyawa bunga turi merah lebih banyak.
Turi (Sesbania grandiflora) sudah lama dikenal orang. Pohon turi biasanya
ditanam di daerah pesawahan atau ditepijalan desa. Tanaman inimasuk
kedalamsub-famili Papilionoidae(berbunga seperti kupu-kupu) dan termasuk
famili Leguminosa(kacangkacangan) dan banyak ditanamdinegara tropis seperti
diIndonesia dan negara AsiaTenggara lainnya. Jumlah produksi turi di Indonesia
kira-kira 20 ton/ha/tahun (data sampaitahun 1979). Tanaman ini mempunyai
potensi sebagai pupuk hijauan, peremajaan hutan, dan kayunya untuk
pembuatan kertas, bahan bakar dan bubur kayu disamping bijinya. (Sutikno,
Irawan. 2007. Pengolahan Biji Turi (Sesbania Grandiflora) Untuk Mengurangi
Senyawa Anti Nutrisi. Jurnal Peternakan, Vol 2, No. 3)
Potensi permintaan pasar bunga turi di dunia global sangat besar. Ini disebabkan
bunga turi memiliki banyak manfaat dan khasiat. Di india, bunga turi
dimanfaatkan sebagai obat alami. Di bombay, daun atau bunga turi dibuat jus
untuk mengobati penyakit salesma dan sakit kepala. Masyarakat Yunani
menggunakan bunga turi untuk mengobati gangguan pencernaan, demam, dan
rabun senja. Orang melayu memanfaatkan hasil tumbukan bunga turi untuk
mengobati keseleo dan memar. Bagian dari tanaman turi yang dapat dimakan
antara lain kulit batang, bunga, daun dan akar. Bunga turi biasa dimasak dan
dimakan sebagai sayur. Bunga turi ini bahkan menjadi salah satu komoditi
pangan penting di daerah Lombok. (https://seafast.ipb.ac.id/tpc-project/wpcontent/uploads/2012/03/5-sayuran-indigenus.pdf)

Pengertian packing house operation adalah persiapan yang dilakukan yang


mungkin hanya pada tanaman dalam jumlah terbatas dan dipersiapkan untuk
pasar tertentu. Setelah panen tanaman hortikultura harus dibersihkan, disortir
dan biasanya dikemas jika mereka akan dijual di pasar untuk menjaga produk
tetap segar. Biasanya prosedur ini berlangsung di rumah pengemasan dari
berbagai jenis, baik itu tempat tinggal kecil atau tempat pengemasan berukuran
besar dengan peralatan otomatis. packing house juga bertujuan untuk
menyiapkan bahan sesuai dengan kebutuhan konsumen yang menginginkan
produk yang berkualitas, pengkelasan produk yang disesuaikan dengan tuntutan
pasar dan dapat digunakan sebagai tempat penampungan produk sementara
sebelum dipasarkan agar produk terjaga kualitasnya. Untuk ekspor produk
segar, packing house merupakan bagian penting dari operasi pada saat seleksi,
penilaian dan pengendalian mutu yang disiplin.
Penanganan Pasca Panen
Periode pasca panen adalah mulai dari produk tersebut dipanen sampai produk
tersebut dikonsumsi atau diproses lebih lanjut. Cara penanganan dan perlakuan
pasca panen sangat menentukan mutu yang diterima konsumen dan juga masa
simpan atau masa pasar. Namun demikian, periode pasca panen tidak bisa
terlepas dari sistem produksi, bahkan sangat tergantung dari sistem produksi
dari produk tersebut. Cara berproduksi yang tidak baik mengakibatkan mutu
panen tidak baik pula. Sistem pascapanen hanyalah bertujuan untuk
mempertahankan mutu produk yang dipanen (kenampakan, tekstur, cita rasa,
nilai nutrisi dan keamanannya) dan memperpanjang masa simpan dan masa
pasar (Utama, 2005).
Pasca panen merupakan salah satu kegiatan penting dalam menunjang
keberhasilan agribisnis. Meskipun hasil panennya melimpah dan baik, tanpa
penanganan pasca panen yang benar maka resiko kerusakan dan menurunnya
mutu produk akan sangat besar, seperti diketahui bahwa produk terutama
holtikultura pertanian bersifat mudah rusak, mudah busuk, dan tidak tahan lama,
hal ini menyebabkan pemasarannya sangat terbatas dalam waktu maupun
jangkauan pasarnya sehingga butuh penanganan pasca panen yang baik dan
benar (Setiadi, 2006).
a. Sortasi
Penanganan pasca panen dilakukan segera setelah daun dipetik. Setelah itu
dilakukan sortasi (pemilahan), dalam sortasi ini dipilahpilah antara daun yang
masih utuh dan sehat, daun utuh tetapi abnormal, daun yang rusak sewaktu
pemanenan, dan daun yang terserang hama dan penyakit. Biasanya untuk
sortasi dilakukan dengan cara manual karena bentuk bunga turi yang kecil
sehingga sulit dilakukan dengan bantuan alat.
b. Pembersihan

Pada proses pembersihan bunga turi bertujuan untuk menghilangkan kotoran


yang menempel. Cara pembersihan dapat dilakukan dengan penyemprotan air
menggunakan spray washing atau dicuci dengan air yang mengalir .
c. Grading
Setelah melakukan pemilahan selanjutnya dilakukan grading yaitu penggolongan
bunga turi berdasarkan kualitas dan ukuran setelah itu bunga turi dimasukkan ke
dalam kemasan plastik dan langsung dijual ke pasar.
e. Pengemasan
Pengemasan dilakukan untuk melindungi atau mencegah bunga turi dari
kerusakan mekanis, menciptakan daya tarik bagi konsumen, dan memberikan
nilai tambah serta memperpanjang umur simpan produk (Azahari, 2004).
Pengemasan bunga turi dapat dilakukan dengan cara dikemas dalam karung
untuk memudahkan proses pengangkutan, dengan kardus ataupun plastik untuk
proses penyimpanan suhu rendah. Pengemasan bunga turi dalam bungkus
plastik dapat timbul udara termodifikasi yang dapat menguntungkan. Udara
yang telah mengalami perubahan itu menghambat pematangan dan
memperpanjang umur simpan hasil. Menurut Pantastico (1993), keuntungankeuntungan yang diperoleh dari pengemasan banyak sekali diantaranya adalah:
1. Merupakan unit penanganan yang efisien.
2. Merupakan unit penyimpanan yang mudah disimpan di gudang-gudang atau
rumah.
3. Melindungi mutu dan mengurangi pemborosan.
4. Memberikan perlindungan terhadap kerusakan mikanik.
5. Memberi perlidungan terhadap kehilangan air.
6. Memungkinkan penggunaan udara termodifikasi yang dapat menguntungkan.
7. Memberi barang yang bersih dan memenuhi persyaratan kesehatan.
8. Memberikan pelayanan dan motivasi penjualan.
9. Mengurangi biaya pengangkutan dan pemasaran.
10.Memungkinkan penggunaan caracara pengangkutan yang baru.
Perlakuan kemas dapat mempertahankan warna dasar dari bunga turi (putih
kehijauan). Warna bisa dipertahankan atau yang hampir sama dengan warna
setelah dipanen. Warna dikatakan indikator terhadap kesegaran, apabila
kenampakan masih terlihat aslinya atau warna dasar tidak terjadi perubahan.
Warna yang ditimbulkan pada perlakuan yang dikemas serta pada suhu
penyimpanan yang sesuai tingkat kecerahan dapat dipertahankan. Sebaliknya
perlakuan yang tidak dikemas tingkat kecerahannya semakin menurun (pudar).

Hal ini erat hubungannya dengan respirasi karena sebagian perubahan terjadi
sesudah buah cabai dipanen, perubahan warna menjadi pudar akan
menghilangkan kesegaran buah yang dan menurunkan kualitas cabai rawit.
f. Penyimpanan
Selama proses penyimpanan bunga turi terjadi perubahan kimiawi yang dapat
merubah warna dan kualitasnya. Perubahan yang disebabkan oleh kerja enzim
yang mengakibatkan perubahan semakin cepat terjadi berbeda dengan yang
dipanen dalam kondisi belum terlalu tua sehingga perubahan agak lambat
disebabkan karena mengandung gula yang rendah dan lebih tinggi zat tepung
(Sumoprastowo, 2004).
Salah satu cara menjaga agar bunga turi tetap segar dalam waktu yang agak
lama adalah dengan menekan kerja enzim. Hal itu dilakukan dengan cara
menyimpan pada suhu rendah karena dapat menghambat aktivitas
pertumbuhan mikroba.
Penyimpanan yang biasa dilakukan adalah dalam refrigerator atau ruang
pendingin. Cara ini dianggap paling efektif untuk mencegah kerusakan bunga
turi. Penyimpanan dalam suhu dingin tidak dapat meningkatkan kualitas produk.
Oleh karena itu, bunga turi yang disimpan dalam suhu dingin harus dipanen
dalam kondisi prima. Sebaiknya panen dilakukan pada pagi hari dan segera
disimpan dalam refrigerator untuk mempertahankan kualitasnya serta mencegah
hilangnya vitamin yang terkandung di dalamnya.
Tujuan utama penyimpanan adalah pengendalian laju transpirasi, respirasi,
infeksi, dan mempertahankan bunga turi dalam bentuk yang paling berguna bagi
konsumen. Umur simpan dapat diperpanjang dengan pengendalian penyakit
penyakit pasca panen, pengaturan atmosfer, perlakuan kimia, penyinaran,
pengemasan serta pendinginan (Pantastico, 1993).
Tujuan penyimpanan suhu dingin (cool storage) adalah untuk mencegah
kerusakan tanpa mengakibatkan pematangan abnormal atau perubahan yang
tidak diinginkan sehingga mempertahankan komoditas dalam kondisi yang dapat
diterima oleh konsumen selama mungkin. Pendinginan pada suhu di bawah 100
C kecuali pada waktu yang singkat tidak mempunyai pengaruh yang
menguntungkan bila komoditas itu peka terhadap cacat suhu rendah (chilling
injury).
Salah satu perubahan yang sangat mencolok selama penyimpanan adalah berat
susut dan pigmen (zat warna). Dengan turunnya kandungan klorofil, maka
pigmenpigmen lainnya dapat bertambah atau berkurang pada suhu simpan,
kemasan, dan varietasnya. (Kartasapoetra, A. 1988. Teknologi Budidaya Tanaman
Pangan Di Daerah Tropik. Bina aksara. Jakarta), (Pantastico, E. R. 1993. Fisiologi
Pasca Panen, Penanganan dan Pemanfaatan Buah-Buahan dan Sayuran Tropika
dan Subtropika. Diterjemahkan Oleh Kamariyani. Gadja Mada Universitas Press.
Yogyakarta).