Anda di halaman 1dari 17

CRUSTACEA

A. Pengertian
Krustasea adalah suatu kelompok besar dari artropoda, terdiri dari kurang lebih
52.000 spesies yang terdeskripsikan, dan biasanya dianggap sebagai suatu subfilum.
Kelompok ini mencakup hewan-hewan dengan tubuh tersegmentasi (beruas-ruas) yang
cukup dikenal seperti lobster, kepiting, udang, kutu kayu, kutu air, udang karang,
serta teritip. Mayoritas merupakan hewan air, baik air tawar maupun laut, walaupun
beberapa kelompok telah beradaptasi dengan kehidupan darat, seperti kepiting darat dan
kutu kayu. Kebanyakan anggotanya dapat bebas bergerak, walaupun beberapa takson
bersifat parasit dan hidup dengan menumpang pada inangnya.
Hewan-hewan Crustacea bernapas dengan insang yang melekat pada anggota
tubuhnya dan sistem peredaran darah yang dimilikinya adalah sistem peredaran
darahterbuka. O2 masuk dari air ke pembuluh insang, sedangkan CO2 berdifusi dengan
arah berlawanan. O2 ini akan diedarkan ke seluruh tumbuh tanpa melalui pembuluh darah.
B. Klasifikasi
Crustacea dibagi menjadi enam kelas, yaitu Remipedia, Branchiopoda, Ostracoda,
Cephalocarida, Maxillopoda, dan Malacostraca.
1)

Remipedia, merupakan udang purba, hidup di perairan yang gelap, contohnya di

dalam gua-gua yang berhubungan dengan air laut. Air di dalam gua memiliki stratifikasi,
lapisan air tawar berada di atas lapisan air asin. Tubuh Remipedia berukuran sekitar 30
mm, terdiri atas kepala (sepal) dan badan yang memanjang (trunk) dengan 32 ruas. Ruas
tubuh yang pertama bersatu dengan kepala, sedangkan ruas terakhir bersatu dengan telson
(ruas terakhir pada tubuh Crustacea). Kepala ditutupi pelindung dan memiliki tonjolan
preantenula sebagai indra peraba. Remipedia memiliki alat sengat yang tajam dan beracun
sebagai jarum injeksi dan berenang dengan menggunakan punggung sebagai landasan.
Hanya terdapat 22 spesies Remipedia, contohnya Speleonectes atlantida (ditemukan di
terowongan

vulkanik

Atlantida,

Kepulauan

Canary), Speleoiectes tanumekes,

dan

Godzillognomus schrami.
2)

Branchiopoda, hidup di air tawar. Jumlah segmen tubuh dan appendage (bagian-

bagian tubuh luar) sangat bervariasi, maksila tereduksi atau tidak ada, dan memiliki kaki
berbentuk seperti daun. Contohnya Artemia salina, Lepidocaris rhyniensis, dan Daphnia
pulex.

3)

Ostracoda, memiliki tubuh berukuran kecil sekitar 0,2 30 mm, berbentuk bulat atau

lonjong, ruas-ruas tubuh tampak tidak jelas, dan memiliki antena yang panjang sebagai alat
gerak untuk berenang. Ostracoda memiliki karapas berkeping dua yang menyatu di bagian
dorsal dan menutupi badan serta kepala. Karapas ada yang keras karena mengandung zat
kapur dan setiap kali molting akan diganti dengan yang baru. Ada Ostracoda yang hidup
sebagai zooplankton di laut dengan kedalaman hingga 700 m, sebagai bentos atau melekat
di dasar perairan, atau membuat liang. Ostracoda merupakan herbivor, karnivor, predator,
atau pemakan detritus (sisa tumbuhan/hewan yang sudah mati). Beberapa spesies ada yang
hidup komensalisme dengan Echinodermata atau Crustacea lainnya. Terdapat sekitar
13.000 spesies Ostracoda yang masih hidup, contohnya Cypridina mediterranea,
Azygocypridina lowryi, dan Gigantocypris pellucida.
4)

Cephalocarida, merupakan kelompok udang-udangan kecil paling primitif yang

masih hidup. Panjang tubuh Cephalocarida sekitar 2-4 mm, maksila (rahang atas) tidak
berkembang, pemakan detritus (sisa tumbuhan/hewan), sebagai bentos di sedimen lumpur
atau pasir dasar laut dengan kedalaman laut hingga 1.500 m, dan bersifat hermafrodit.
Terdapat hanya empat genus Cephalocarida, contohnya Lightiella monniotae dan
Hutchinsoniella macracantha.
5)

Maxillopoda, memiliki tubuh yang berukuran kecil (kecuali teritip/barnacle). Tubuh

Maxillopoda pendek, terdiri atas bagian kepala (5 ruas), dada (6 ruas), dan perut (4 ruas),
dan sebuah telson. Kepala dan dada ada yang bersatu. Ada yang memiliki karapas, dan ada
yang tidak. Mata ada yang memiliki tiga mangkuk yang disebut naupliar eyes. Contoh
Maxillopoda antara lain Cyclops bicuspidatus, Austromegabalanus psittacus dan
Stygotantulus stocki.
6) Malacostraca, memiliki tubuh yang terdiri atas lima ruas kepala, delapan ruas dada,
dan enam ruas perut (kecuali Leptostraca yang memiliki tujuh ruas), dan sebuah telson.
Karapas menutupi toraks, atau tereduksi. Kepala dan dada bersatu membentuk
sefalotoraks. Malacostraca merupakan Crustacea dengan anggota paling banyak, terdapat
lebih dan 25.000 spesies. Malacostraca dibagi menjadi beberapa ordo, antar kelomang
(Pagurus bernhardus) lain Isopoda (berkaki seragam) contohnya Asellus sp, Amphipoda,
contohnya Alicella gigantean, Stomatopoda, contohnya Odontodactylus latirostris,
dan Decapoda (jumlah kaki sepuluh), contohnya udang windu (Penaeus monodon),
kelomang (Pagurus bernhardus), rajungan (Portunus), dan kepiting bakau (Scylla serrata).

C. Ciri-ciri
Crustacean termasuk ke dalam kategori hewan anthropoda. Adapun ciri-ciri dari
crustasea tersebut adalah :
a) Bagian kepala dan dada bersatu (chepalotorax).
b) Mempunyai rangka luar yang keras.
c) Kakinya terdapat hampir pada semua ruas tubuh.
d) Tidak memiliki sayap.
e) Sistem pencernaan : mulut > kerongkongan > lambung > usus > anus.
f) Sistem saraf crustacea merupakan susunan saraf tangga tali.
g) Sistem peredaran darah terbuka.
h) Memiliki dua pasang antena.
i) Kebanyakan julurannya bercabang dua,
j) Terbagi menjadi 2 sub-kelas, yakni entomostraka dan malakostraka.
D. Contoh
1. Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii de Man)

Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii de Man) adalah komoditas perikanan air


tawar yang merupakan salah satu kekayaan perairan Indonesia. Selain mempunyai ukuran
terbesar dibandingkan dengan udang air tawar lainnya juga mempunyai nilai ekonomis
penting karena sangat digemari konsumen baik dalam maupun luar negeri terutama di
Jepang dan beberapa negara Eropa.
a) Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man) itu yakni:
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Arthropoda
Class
: Malacostraca
Order
: Decapoda
Family
: Palaemonoidea
Genus
: Macrobrachium
Specific name : Rosenbergii
Scientific name : Macrobrachium rosenbergii
Badan udang galah terdiri ruas-ruas yang ditutup dengan kulit keras, tak elastis dan
terdiri dari zat chitin. Badan udang galah terdiri dari tiga bagian yaitu bagian kepala dada
(cephalothiorax), badan (abdomen) dan ekor (uropoda).

Bagian cephalothorax dibungkus oleh kulit keras yang disebut carapace. Pada
bagaian depan terdapat tonjolan yang bergerigi disebut rostrum. Secara taksonomi rostrum
mempunyai fungsi sebagai penunjuk jenis (species). Ciri khusus udang galah yang
membedakan dengan jenis udang lainnya adalah bentuk rostrum yang panjang dan
melengkung seperti pedang dengan jumlah gigi bagian atas 11-13 buah dan gigi bawah 814 buah. Pada bagian dada terdapat lima pasang kaki jalan (periopoda). Pada udang galah
jantan dewasa pasangan kaki jalan ke-2 tumbuh sangat panjang dan besar, panjangnya
dapat mencapai 1,5 kali panjang badannya. Sedangkan pada udang galah betina
pertumbuhan kaki jalan ke-2 tidak begitu menyolok.
Bagian abdomen terdiri dari lima ruas, tiap ruas dilengkapi sepasang kaki renang
(pleiopoda). Pada udang galah betina bagian ini agak melebar, membentuk semacam
ruangan untuk mengerami telurnya (broadchamber). Bagian uropoda merupakan ruas
terakhir dari ruas badan, yang kaki renangnya berfungsi sebagai pengayuh atau yang biasa
disebut ekor kipas. Uropoda terdiri dari bagian luar (exopoda) dan bagian dalam
(endopoda) serta bagian ujungnya meruncing disebut telson.
Udang galah hidup pada dua habitat, yakni pada stadia larva hidup di air payau dan
akan kembali ke wilayah air tawar pada stadia juvenile hingga menjadi dewasa. Pada
stadia larva perubahan metamorfosa terjadi selama 11 kali dan berlangsung selama 30-25
kali. Jenis udang ini bersifat omnifora yg cenderung aktif di malam hari.
Ciri-ciri khusus udang galag jantan dan betina antara lain ;
Udang galah jantan
- Ciri yang paling mencolok adalah pasangan kaki jalan ke-2, tumbuh sangat besar , kuat,
-

bercapit besar dan panjang.


Bagian perut lebih ramping dari udang galah betina.
Kepala udang galah jantan tampak lebih besar dari udang galah betina.
Tubuh udang galah jantan langsing dan keadaan ruang dibawah perut sempit.
Alat kelamin udang galah jantan terletak pada pangkal kaki jalan ke-5.
Udang galah betina
Pasangan kaki jalan ke-2 tumbuh kecil, capit yang ke-2 lebih pendek.
Bagian perutnya nampak lebih gemuk dan lebar.
Kepala udang galah betina lebih kecil daripada udang galah jantan.
Tubuh udang galah betina terlihat gemuk dan ruang bagian bawah perut membesar
sesuai dengan kegunaannya untuk mengerami telur.
Alat kelamin udang galah betina terletak pada pangkal kaki jalan ke-3.
b) Manfaat
Udang galah memiliki berbagai kandungan nutrisi, sehingga udang galah tersebut

dapat memberikan manfaat antara lain :

Menjaga kesehatan kardiovaskular (jantung) kerana kandungan asam lemak esensialnya


akan menurunkan kolesterol jahat dan mencegah penggumpalan kepingan darah atau
ateroskeloris.
Memenuhi keperluan protein dengan asam amino berprofil lengkap yang mudah diserap
tubuh.
Sangat sesuai untuk menu diet karena kalori energinya yang rendah.
Memaksimalkan berbagai fungsi organ-organ vital tubuh karena berbagai kandungan
vitaminnya.
Sebagai antioksidan yang mampu menjaga kesehatan fungsi kekebalan tubuh, anti radikal
bebas penyebab 50 macam penyakit degeneratif dan membantu produksi antibodi dengan
kandungan selenium yang sangat tinggi.
Membantu bekerjanya lebih dari 70 macam enzim, hormon, dan proses biosintesa dalam
tubuh lainnya dengan kandungan zinc-nya.
Sangat vital untuk kecerdasan dan pertumbuhan anak dengan tingginya vitamin D, B12
dan Omega 3.
Mencegah penyakit darah rendah (anemia) dan berperan dalam pembentukan sel darah
merah karena kandungan besi dan zinc-nya yang tinggi.
Menjaga kesehatan mata dengen kandungan vitamin A.
Menjaga kesehatan kulit dan mencegah penyakit pellagra (kulit burik dan bersisik)
dengan kandungan vitamin E (alpha tocopherol) dan niasin yang tinggi.
Menjaga kesihatan tulang, gigi dan sendi dengan kandungan vitamin D, kalsium dan
potassium yang tinggi.
c) Nilai Ekonomis
Jenis udang air tawar yang satu ini (udang galah) memang memiliki potensi yang
cukup besar, sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang berlipat. Terbukti dari
permintaan udang galah baik dalam negeri maupun dari luar negeri yang semakin
meningkat. Udang galah adalah salah satu komoditas air tawar yang cukup bagus masa
depannya karena selain harga jualnya lebih tinggi dibanding ikan air tawar lainnya juga
dapat dipasarkan untuk kebutuhan dalam dan luar negeri, hal ini ditandai dengan
permintaan ekspor ke berbagai negara seperti Jepang dan beberapa negara di
Eropa. Dengan kata lain udang galah mempunyai nilai ekonomis tinggi dan berpotensi
memperoleh keuntungan jika dikembangkan.
d) Potensi sebaran udang galah di Indonesia
Komoditas udang galah diklaim oleh berbagai negara sebagai fauna asli, antara lain
oleh India dan Indonesia. Di Indonesia, udang galah dapat ditemukan di berbagai wilayah,
dan masing-masing memiliki varietas dengan ciri-ciri tersendiri. Misalnya, dari wilayah

Sumatera dan Kalimantan, udang galah memiliki ukuran kepala besar, capit yang panjang,
dan berwarna hijau kuning. Dari wilayah Jambi, udang galah memiliki ukuran kepala yang
lebih kecil, capit kecil dan berwarna keemasan.
Peluang pasar udang galah masih terbuka luas baik di dalam maupun di luar negeri.
Untuk pasar lokal, permintaan datang terutama dari wilayah yang banyak dikunjungi turis,
seperti Bali, Jakarta, Batam dan Surabaya. Sedangkan pasar udang di luar negeri telah
terbentuk di Negara Jepang, Korea, Singapura, Amerika Serikat, Kanada, Skotlandia,
Belanda, Inggris, Selandia Baru, dan Australia dengan pasokan utama dating dari Thailand,
China dan India. Ukurannya mulai dari 100 gr hingga 200 gr per-ekor. Bahkan udang yang
tertangkap di perairan bisa mencapai hingga 300 gr per-ekor.

2.

Udang Windu (Penaeus monodon)

Giant tiger atau Penaeus monodon di Indonesia disebut udang windu. Udang windu saat
ini tidak berkembang lagi karena terserang berbagai macam penyakit udang diantaranya
yang ganas adalah white spot atau virus bintik putih . Petambak udang di Indonesia saat
ini banyak memelihara udang putih atau Pennaeus vannamei.
a) Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari itu yakni Udang Windu (Penaeus monodon) itu yakni :
Kerajaan:

Animalia

Filum:

Arthropoda

Upafilum:

Crustacea

Kelas:

Malacostraca

Ordo:

Decapoda

Upaordo:

Dendrobranchiata

Famili:

Penaeidae

Genus:

Penaeus

Spesies:

Penaeus monodon

b) Manfaat
1. Udang merupakan bahan makanan yang mengandung protein tinggi, yaitu 21%, dan
rendah kolesterol, karena kandungan lemaknya hanya 0,2%. Kandungan vitaminnya
dalam 100 gram bahan adalah vitamin A 60 SI/100; dan vitamin B1 0,01 mg.
Sedangkan kandungan mineral yang penting adalah zat kapur dan fosfor, masingmasing 136 mg dan 170 mg per 100 gram bahan.
2. Udang dapat diolah dengan beberapa cara, seperti beku, kering, kaleng, terasi, krupuk,
dll.
3. Limbah pengolahan udang yang berupa jengger (daging di pangkal kepala) dapat
dimanfaatkan untuk membuat pasta udang dan hidrolisat protein.
4. Limbah yang berupa kepala dan kaki udang dapat dibuat tepung udang, sebagai sumber
kolesterol bagi pakan udang budidaya.
5. Limbah yang berupa kulit udang mengandung chitin 25% dan di negara maju sudah
dapat dimanfaatkan dalam industri farmasi, kosmetik, bioteknologi, tekstil, kertas,
pangan, dll.
6. Chitosan yang terdapat dalam kepala udang dapat dimanfaatkan dalam industri kain,
karena tahan api dan dapat menambah kekuatan zat pewarna dengan sifatnya yang tidak
mudah larut dalam air.
c) Nilai Ekonomis
Udang windu merupakan spesies asli Indonesia yang memiliki nilai ekonomis tinggi
dan banyak digemari oleh pasar ekspor.
d) Habitat dan Penyebaran
Daerah penyebaran benih udang windu antara lain: Sulawesi Selatan (Jeneponto,
Tamanroya, Nassara, Suppa), Jawa Tengah (Sluke, Lasem), dan Jawa Timur (Banyuwangi,
Situbondo, Tuban, Bangkalan, dan Sumenep), Aceh, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan
Timur, dan lain-lain.

Binatang berkulit keras yang secara luas dibesarkan untuk makanan, terdistribusi
secara alami di Pasifik barat Indonesia, berkisar antara pantai Afrika, dari Semenanjung
Arab sampai Asia Tenggara, dan Laut Jepang. Mereka dapat juga ditemukan di Australia,
dari Austria timur, dan sejumlah kecil mempunyai koloni di Laut Tengah melalui Terusan
Suez. penyeberangan populasi lebih lanjut di Hawaii dan Lautan Atlantik termasuk
Amerika Serikat ( Florida, Georgia dan South Carolina).
3.

Rajungan (Portunus pelagicus)

Rajungan (Portunus pelagicus) memiliki bentuk tubuh yang lebih ramping dengan
capit yang lebih panjang dan memiliki berbagai warna yang menarik pada karapasnya.
Duri akhir pada kedua sisi karapas relatif lebih panjang dan lebih runcing. Rajungan hanya
hidup pada lingkungan air laut dan tidak dapat hidup pada kondisi tanpa air. Bila kepiting
hidup di perairan payau, seperti di hutan bakau atau di pematang tambak, rajungan hidup
di dalam laut. Rajungan memang tergolong hewan yang bermukim di dasar laut, tapi
malam hari suka naik ke permukaan untuk cari makan. Makanya rajungan disebut juga
swimming crab alias kepiting yang bisa berenang.
Dengan melihat warna dari karapas dan jumlah duri pada karapasnya, maka dengan
mudah dapat dibedakan dengan kepiting bakau. Rajungan (P. pelagicus) memiliki karapas
berbentuk bulat pipih, sebelah kiri-kanan mata terdapat duri sembilan buah, di mana duri
yang terakhir berukuran lebih panjang. Rajungan mempunyai 5 pasang kaki, yang terdiri
atas 1 pasang kaki (capit) berfungsi sebagai pemegang dan memasukkan makanan kedalam
mulutnya, 3 pasang kaki sebagai kaki jalan dan sepasang kaki terakhir mengalami
modifikasi menjadi alat renang yang ujungnya menjadi pipih dan membundar seperti
dayung. Oleh sebab itu rajungan digolongkan kedalam kepiting berenang (swimming
crab). Kaki jalan pertama tersusun atas daktilus yang berfungsi sebagai capit, propodos,
karpus, dan merus.

Induk rajungan mempunyai capit yang lebih panjang dari kepiting bakau, dan
karapasnya memiliki duri sebanyak 9 buah yang terdapat pada sebelah kanan kiri mata.
Bobot rajungan dapat mencapai 400 gram, dengan ukuran karapas sekitar 300 mm (12
inchi), Rajungan bisa mencapai panjang 18 cm, capitnya kokoh, panjang dan berduri-duri.
Rajungan mempunyai karapas berbentuk bulat pipih dengan warna yang sangat menarik.
Ukuran karapas lebih besar ke arah samping dengan permukaan yang tidak terlalu jelas
pembagian daerahnya. Sebelah kiri dan kanan karapasnya terdapat duri besar, jumlah duri
sisi belakang matanya sebanyak 9, 6, 5 atau 4 dan antara matanya terdapat 4 buah duri
besar.
a) Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari itu Rajungan (Portunus pelagicus) itu yakni :
Kingdom : Animalia
Sub Kingdom : Eumetazoa
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Sub Kelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Sub Ordo : Reptantia
Famili : Portunidae
Sub Famili : Portunninae
Genus : Portunus
Spesies : Portunus pelagicus
b) Manfaat
Rajungan juga memiliki beberapa keunggulan yang sangat potensial untuk
dikembangkan. Rajungan dalam dunia perdagangan termasuk dalam kelompok crab
(kepiting). Daging rajungan mempunyai nilai gizi tinggi. Rata-rata per 100 gram daging
rajungan mengandung karbohidrat sebesar 14,1 gram, kalsium 210 mg, fosfor 1,1 mg, zat

besi 200 SI, dan vitamin A dan B1 sebesar 0,05 mg/ 100 g. Keunggulan nilai gizi rajungan
adalah kandungan proteinnya yang cukup besar, yaitu sekitar 16-17 g/ 100 g daging
rajungan. Angka tersebut membuktikan bahwa rajungan dapat dimanfaatkan sebagai
sumber protein yang cukup baik dan sangat potensial. Keunggulan lain adalah kandungan
lemak rajungan yang sangat rendah. Hal ini sangat baik bagi seseorang yang memang
membatasi konsumsi pangan berlemak tinggi. Kandungan lemak rendah dapat berarti
kandungan lemak jenuh yang rendah pula, demikian halnya dengan kandungan kolestrol.
Kitin dan kitosan dalam rajungan dapat dimanfaatkan dalam proses penjernihan air.
Polimer kitinnya juga baik jika dimanfaatkan sebagai bahan lensa kontak. Lensa kontak
yang dibuat dari polimer kitin akan lebih nyaman dipakai kerena mampu menyerap
oksigen dengan baik, sehingga mata tidak cepat kering.
Beberapa spesies rajungan yang memiliki nilai ekonomis adalah Portunus
trituberculatus, P. gladiator, P. sanguinus, P. hastatoides dan P. pelagicus, sementara yang
banyak diteliti saat ini adalah P. pelagicus dan P. trituberculatus.
c) Nilai Ekonomis
Rajungan di Indonesia sampai sekarang masih merupakan komoditas perikanan yang
memiliki nilai ekonomis tinggi yang diekspor terutama ke Amerika, yaitu mencapai 60 %
dari total hasil tangkapan rajungan. Rajungan juga diekspor ke berbagai negara dalam
bentuk segar yaitu ke Singapura dan Jepang, sedangkan yang dalam bentuk olahan (dalam
kaleng) diekspor ke Belanda. Komoditas ini merupakan komoditas ekspor urutan ketiga
tertinggi setelah udang dan ikan.
d) Potensi sebaran di Indonesia
Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan kepiting laut yang banyak terdapat di
Perairan Indonesia yang biasa ditangkap di daerah Gilimanuk (pantai utara Bali),
Pengambengan (pantai selatan Bali), Muncar (pantai selatan Jawa Timur), Pasuruan
(pantai utara Jawa Timur), daerah Lampung, daerah Medan dan daerah Kalimantan Barat.
Rajungan telah lama diminati oleh masyarakat baik di dalam negeri maupun luar negeri,
oleh karena itu harganya relatif mahal. Rajungan (Portunus pelagicus) banyak ditemukan
pada daerah dengan geografi yang sama seperti kepiting bakau (Scylla serrata). P.
pelagicus dikenal dengan blue swimming crab atau kepiting pasir dan merupakan hasil
samping dari tambak tradisional pasang-surut di Asia. Sejak tahun 1973 di negara

tetangga, rajungan (Portunus pelagicus) merupakan hasil laut yang penting dalam sektor
perikanan.
Rajungan di Indonesia sampai sekarang masih merupakan komoditas perikanan
yang memiliki nilai ekonomis tinggi yang diekspor terutama ke negara Amerika, yaitu
mencapai 60% dari total hasil tangkapan rajungan. Rajungan juga diekspor ke berbagai
negara dalam bentuk segar yaitu ke Singapura dan Jepang, sedangkan yang dalam bentuk
olahan (dalam kaleng) diekspor ke Belanda. Komoditas ini merupakan komoditas ekspor
urutan ketiga dalam arti jumlah setelah udang dan ikan. Sampai saat ini seluruh kebutuhan
ekspor rajungan masih mengandalkan dari hasil tangkapan di laut, sehingga dikhawatirkan
akan mempengaruhi populasi di alam.Alternatif yang sangat bijaksana untuk menghindari
kepunahan jenis kepiting ini melalui pengembangan budi daya.
4.

Lobster (Tachypleus gigas)

Lobster bercapit membentuk sebuah keluarga (Nephropidae, kadangkala juga


Homaridae) dari crustacean besar laut. Mereka penting sebagai hewan, bisnis, dan
makanan.
a) Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari itu yakni Lobster (Tachypleus gigas) itu yakni :
Kerajaan
:
Animalia
Filum
:
Arthropoda
Upafilum
:
Crustacea
Kelas
:
Malacostraca
Ordo
:
Decapoda
Upaordo
:
Pleocyemata
Infraordo
:
Astacidea
Famili
:
Nephropidae
Genus
:
Tachypleus
Spesies
:
Tachypleus gigas
b) Manfaat
1. Protein

Lobster adalah sumber protein yang sangat baik. Protein penting bagi tubuh kita untuk
energi dan pemantapan produksi gula darah. Hal ini juga membantu menurunkan berat
badan. Kandungan protein lobster lebih tinggi dari ayam dan sapi, sedangkan kalori nya
lebih rendah daripada daging ayam dan sapi.
2. Asam lemak omega-3
Daging lobster mengandung asam lemak omeg-3 dalam jumlah tinggi. Asam lemak
omega-3 penting untuk mencegah penyakit jantung dan menjaga kesehatan jantung.
Telah terbukti bahwa orang-orang yang beresiko tinggi terhadap gangguan
jantung,mendapat manfaat dari lobster karena kandungan omega-3 di dalamnya.
3. Membantu menurunkan berat badan
Lobster adalah makanan pilihan yang sangat baik bagi orang yang ingin mengubah gaya
hidup, dan membuatnya menjadi lebih sehat dan lebih baik. Lobster sangat rendah
lemak, rendah kalori dan rendah kolesterol, tetapi masih memberikan nutrisi yang
diperlukan.
4. Daging lobster mengandung, vitamin ,seng, kalium, vitamin B12 dan selenium. Semua
itu sangat penting bagi kesehatan. Kandungan seng di dalam lobster dapat
meningkatkan vitalitas, libido menjadi lebih kuat dan tahan lama serta meningkatkan
stamina.
5. Mengkonsumsi daging lobster sama halnya dengan mengkonsumi multi vitamin tablet
atau suplemen kesehatan.
c) Nilai Ekonomis
Lobster merupakan salah satu hewan laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi selain
produk ikan. Lobster biasanya menjadi favorit bagi penggemar masakan ikan laut yang ad
di restaurant restaurant besar. Harganya yang mahal menjadikan lobster menjadi
primadona bagi para penangkapnya untuk mendapatkan keuntungan yang besar.
d) Habitat dan Penyebaran
Longhurst dan Pauly (1987) menyatakan bahwa lobster terdapat di mana-mana pada
substrat keras di laut-laut tropis dan merupakan bagian penting fauna terumbu karang,
dengan sifat ekologis mirip seperti kerabatnya yang hidup di daerah sub tropis.
Lobster hidup pada beberapa kedalaman tergantung pada jenis spesies dan lingkungan
yang cocok mulai dari daerah intertidal sampai perairan yang dalam. Banyak spesies yang
hidup pada substrat yang berbatu-batu, lumpur atau pasir dan membuat lubang. Lobster
Metanephrops sibogae hiduppada kedalaman 248 320 m dan mempunyai penyebaran

yang sangat luas dan menyukai hidup pada lubang atau celah-celah batu karang. Biasanya
mendiami tempat-tempat yang terlindung di antara batu-batu karang dan jarang ditemukan
dalam kelompok yang berjumlah besar. Banyak terdapat diperairan KepulauanKai,
Indonesia. Terlalu sedikityang diketahui tentang kebiasaan dan habitat yang sebenarnya
dari spesies ini.

5.

Ketam Kenari (Birgus latro)

Ketam kenari, Birgus latro, atau disebut Kepiting Kelapa merupakan artropoda darat
terbesar di dunia. Meskipun disebut ketam/kepiting, hewan ini bukanlah ketam/kepiting.
Ketam ini merupakan jenis umang-umang yang sangat maju dalam hal evolusi. Jadi
mungkin ia lebih tepat disebut umang-umang kenari, namun demikian penduduk
kepulauan Maluku sudah menyebutnya ketam kenari. Ketam ini dikenal karena

kemampuannya mengupas buah kelapa dengan capitnya yang kuat untuk memakan isinya.
Ia satu-satunya spesies dari genus Birgus.
a) Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari itu yakni Ketam Kenari (Birgus latro) itu yakni :
Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Upafilum

: Crustacea

Classis

: Malacostraca

Seperordo

: Eucarida

Ordo

: Decapoda

Upaordo

: Pleocyemata

Superfamilia : Paguroidea
Familia

: Coenobitidae

Genus

: Birgus

Spesies

: Birgus lastro

b) Manfaat
Ketam Kenari dapat di konsumsi sebagai makanan dan hiasan.
c) Nilai Ekonomis
Ketam kenari juga bernilai eknomis karena dapat diperjualbelikan sebagai bahan
makanan dan rangka tubuh yang dijadikan perhiasan. Namun, ketam kenari sudah
tergolong hewan langka dan wilayah distribusi yang semakin sempit. Oleh karena itu
upaya Pemerintah untuk mencegah kepunahan dikeluarkanlah Surat Keputusan melalui
Menteri kehutahan No.12/kpts/um/1987. Kendati demikian masyarakat yang bermukim di
wilayah pesisir terus-menerus melakukan aktivitas penangkapan.
d) Habitat dan Penyebaran
Ketam kenari hidup sendiri dibawah tanah atau celah-celah bebatuan, tergantung
daerah setempat. Mereka menggali tempat bersembunyi di pasir atau tanah gembur. Di
siang hari, ketam kenari bersembunyi, untuk berlindung dan mengurangi hilangnya air
karena panas. Di area dengan banyak ketam kenari, beberapa ketam juga keluar waktu
siang hari, mungkin untuk mendapat keuntungan dalam mencari makan. Ketam kenari juga
kadang-kadang keluar waktu siang jika keadaan lembap atau hujan, karena keadaan ini

memudahkan mereka untuk bernapas. Mereka hanya ditemukan di darat, dan beberapa
dapat ditemui sejauh 6 km dari lautan.
Ketam kenari hidup di areal dari samudera Hindia hingga samudera Pasifik tengah.
Pulau Christmas di samudera Hindia mempunyai populasi ketam kenari terbesar dan
paling lestari di dunia. Populasi samudera Hindia lain ada di Seychelles, terutama Aldabra,
kepulauan Glorioso, pulau Astove, pulau Assumption dan Cosmeldo, namun pada pulaupulau di tengah ketam kenari punah. Mereka juga ada di beberapa pulau di kepulauan
Andaman dan Nicobar di teluk Benggala. Dalam jumlah besar, mereka juga ada di
kepulauan Chagos milik Inggris, yang juga dikenal sebagai Teritori Samudera Hindia
Inggris. Mereka dilindungi di pulau-pulau ini dari perburuan dan dimakan, dengan denda
hingga 1500 poundsterling tiap ketam yang dikonsumsi. Di Mauritius dan Rodrigues
mereka punah.
Karena mereka tidak berenang saat dewasa, ketam kenari tiap waktu harus
mengkoloni pulau-pulau sebagai larva, yang bisa berenang. Akan tetapi, karena jarak yang
jauh antar pulau, beberapa penelit]percaya stadium larva selama 28 hari tidak cukup untuk
melalui jarak tersebut dan mereka menganggap ketam kenari muda mencapai pulau lain
melalui kayu terapung atau benda lain.
Penyebarannya terpisah-pisah, contohnya disekitar pulau Kalimantan, Indonesia
atau Irian. Pulau-pulau ini mudah dicapai oleh ketam kenari, dan merupakan habitat yang
sesuai, tetapi tidak ada populasi ketam kenari. Hal ini karena ketam kenari dikonsumsi
manusia hingga punah. Namun ketam kenari juga diketahui hidup di Taman Nasional
Wakatobi di Sulawesi, juga di Maluku, Indonesia.

TUGAS KEANEKARAGAMAN HAYATI


LAUT

CRUSTACEA

NAMA KELOMPOK 1 :

DESI SUKARTINI (G1F113007)


RIESKA PARAMITA N.P (G1F113024)
MUHAMMAD ROYYANDI (G1F113204)
RINA YULIANDRY L.W (G1F113206)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN
BANJARBARU
2015