Anda di halaman 1dari 7

Polarisasi cahaya dapat didefinisikan sebagai pengurangan intensitas karena berkurangnya

komponen-komponen gelombangnya. Cahaya termasuk gelombang transversal yang memiliki


komponen-komponen yang saling tegak lurus. Komponen-komponen inilah yang dapat hilang
saat terjadi polarisasi. Polarisasi cahaya ini dapat disebabkan oleh beberapa macam diantaranya
seperti penjelasan berikut.

Penyebab Terjadinya Polarisasi Cahaya


Polarisasi Cahaya Karena Pemantulan

Perhatikan gambar diatas menggambarkan peristiwa polarisasi yang terjadi pada cahaya yang
disebabkan oleh peristiwa pemantulan. Cahaya yang datang ke cermin dengan sudut datang
sebesar 57o, maka sinar yang terpantul akan merupakan cahaya yang terpolarisasi. Cahaya yang
berasal dari cermin I adalah cahaya terpolarisasi akan dipantulkan ke cermin. Apabila cermin II
diputar sehingga arah bidang getar antara cermin I dan cermin II saling tegak lurus, maka tidak
akan ada cahaya yang dipantulkan oleh cermin II. Peristiwa ini menunjukkan terjadinya
peristiwa polarisasi. Cermin I disebut polarisator, sedangkan cermin II disebut analisator.
Polarisator akan menyebabkan sinar yang tak terpolarisasi menjadi sinar yang terpolarisasi,
sedangkan analisator akan menganalisis sinar tersebut merupakan sinar terpolarisasi atau tidak.

Polarisasi Cahaya Karena Pemantulan Dan Pembiasan


Cahaya datang dan mengenai batas medium akan mengalami pemantulan dan pembiasan seperti
gambar (a). Perubahan sudut datang akan merubah sudut pantul ip dan sudut bias r. Pada suatu
saat sinar pantul dan sinar bias akan saling tegak lurus. Saat terjadi keadaan seperti inilah akan
terjadi pembagian intensitas pada kedua sinar itu, I untuk sinar bias dan I untuk sinar pantul
sehingga sinarnya mengalami polarisasi, lihat gambar (b).

Pada polarisasi linier ini akan berlaku hubungan-hubungan seperti di bawah.


ip + r = 90o
tg ip =
Persamaan inilah yang dikenal sebagai hukum Brewster sesuai nama ilmuwan yang pertama kali
mempelajarinya, Daved Brewter (1781-1868).

Polarisasi Cahaya Karena Bias Kembar (Pembiasan Ganda)


Polarisasi karena bias kembar dapat terjadi apabila cahaya melewati suatu bahan yang
mempunyai indeks bias ganda atau lebih dari satu, misalnya pada kristal kalsit.

Perhatikan gambar diatas, seberkas cahaya yang jatuh tegak lurus pada permukaan kristal kalsit,
maka cahaya yang keluar akan terurai menjadi dua berkas cahaya, yaitu satu berkas cahaya yang
tetap lurus dan berkas cahaya yang dibelokkan. Cahaya yang lurus disebut cahaya biasa, yang
memenuhi hukum Snellius dan cahaya ini tidak terpolarisasi. Sedangkan cahaya yang dibelokkan
disebut cahaya istimewa karena tidak memenuhi hukum Snellius dan cahaya ini adalah cahaya
yang terpolarisasi.

Polarisasi Cahaya Karena Hamburan

Polarisasi cahaya karena peristiwa hamburan dapat terjadi pada peristiwa terhamburnya cahaya
matahari oleh partikel-partikel debu di atmosfer yang menyelubungi Bumi. Cahaya matahari
yang terhambur oleh partikel debu dapat terpolarisasi. Itulah sebabnya pada hari yang cerah
langit kelihatan berwarna biru. Hal itu disebabkan oleh warna cahaya biru dihamburkan paling
efektif dibandingkan dengan cahaya-cahaya warna yang lainnya.

Polarisasi Cahaya Karena Pemutaran Bidang Polarisasi

Perhatikan gambar diatas, seberkas cahaya tak terpolarisasi melewati sebuah polarisator sehingga
cahaya yang diteruskan terpolarisasi. Cahaya terpolarisasi melewati zat optik aktif, misalnya
larutan gula pasir, maka arah polarisasinya dapat berputar. Besarnya sudut perubahan arah
polarisasi cahaya tergantung pada konsentrasi larutan c, panjang larutan l dan sudut putar
larutan . Hubungan ini dapat ditulis secara matematik sebagai:
= c.. l

Polarisasi Cahaya Karena Absorbsi Selektif


Absorbsi selektif adalah penyerapan intensitas cahaya karena penyerapan yang terseleksi yaitu
penyerapan komponen-komponen cahaya tertentu. Bahan yang dapat menyerap secara selektif
ini dinamakan polarisator.

Cahaya yang terpolarisasi intensitasnya menjadi I = I0. Bagaimana jika cahaya terpolarisasi
tersebut dilewatkan pada bahan polarisator lain dengan membentuk sudut terhadap polarisator
pertama? Secara eksperimen dapat diperoleh hubungan seperti persamaan berikut.
I = I cos2

atau

I = I0 cos2

dengan :
I0
=
Intensitas
I
=
Intensitas
I
=
Intensitas
cahaya
setelah
= sudut antara kedua polarisator

cahaya
cahaya
melalui
dua
bahan

awal
terpolarisasi
polarisator

Persamaan inilah yang kemudian dikenal sebagai hukum Mallus dalam polarisasi cahaya.

Difraksi cahaya dapat didefinisikan sebagai pelenturan cahaya yaitu saat suatu cahaya melalui
celah maka cahaya dapat terpecah-pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan memiliki
sifat seperti cahaya baru. Sifat-sifat difraksi pada cahaya ini dapat dibuktikan dengan melihat
pola interferensi yang terjadi pada layar saat dipasang dibelakang celah. Ada beberapa peristiwa
difraksi yang dapat kita pelajari.
Difraksi Cahaya Pada Celah Tunggal

Difraksi/lenturan cahaya pada celah tunggal akan menghasilkan garis terang/interferensi


maksimum pada layar yang berjarak L dari celah apabila selisih lintasan antara cahaya yang
datang dari A dan B adalah (2n + 1)

, kemudian akan terjadi garis gelap atau interferensi

minimum jika selisih lintasannya adalah (2n) .

Difraksi Cahaya Pada Celah Tunggal


Gambar diatas, menggambarkan sebuah celah sempit yang mempunyai lebar d, disinari dengan
cahaya sejajar monokromatik secara tegak lurus pada celah. Apabila di belakang celah ditaruh
layar pada jarak L dari celah maka akan tampak pada layar berupa garis terang dan gelap yang
berada di sekitar terang pusat. Celah sempit tersebut kita bagi menjadi 2 bagian yang masingmasing lebarnya d. Kelompok cahaya dari bagian atas dan bawah akan berinterferensi di titik P
yang terletak pada layar tergantung pada selisih lintasannya. Di titik O yang berada pada layar
yang juga merupakan titik tengah-tengah celah, maka semua cahaya yang berasal dari celah
bagian atas dan bagian bawah sampai ke titik O mempunyai jarak lintasan yang sama, sehingga
di titik O terjadi interferensi maksimum atau sering juga disebut dengan terang pusat. Sedangkan
hasil interferensi di titik P tergantung pada selisih lintasan yang ditempuh oleh cahaya tersebut.

Apabila celah kita bagi dua maka cahaya dari tepi celah cahaya 1 dan 5 akan berinterferensi di
titik P akan menghasilkan garis gelap jika selisih lintasannya

. Persamaannya dapat

dituliskan : d sin = atau d sin = .


Apabila celah dibagi empat, maka garis gelap akan terjadi bila d sin =
Apabila celah dibagi 6, maka garis gelap akan terjadi bila d sin =

atau d sin = 2.

atau d sin = 3.

Jadi untuk garis gelap ke-n pada layar akan terbentuk jika d sin = n ; n = 1, 2, 3, dan
seterusnya.
Untuk sudut kecil berlaku bahwa sin

, maka

dengan :
d
=
lebar
celah
p
=
jarak
garis
gelap
ke
terang
pusat
L
=
jarak
layar
ke
celah
=
panjang
gelombang
cahaya
yang
digunakan
n = orde interferensi/ menyatakan garis gelap dari terang pusat

(m)
(m)
(m)
(m)

Dengan cara yang sama di titik P akan terjadi garis terang jika :

Difraksi Cahaya pada Kisi

Kisi adalah celah sangat sempit yang dibuat dengan menggores sebuah lempengan kaca dengan
intan. Sebuah kisi dapat dibuat 300 sampai 700 celah setiap 1 mm. Pada kisi, setiap goresan
merupakan celah. Sebuah kisi memiliki konstanta yang menyatakan banyaknya goresan tiap satu
satuan panjang, yang dilambangkan dengan d, yang juga sering dikatakan menjadi lebar celah.
Dalam sebuah kisi, lebar celah dengan jarak antara dua celah sama apabila banyaknya goresan

tiap satuan panjang dinyatakan dengan N, maka d =


garis/mm maka lebar celah kisi tersebut adalah

. Misalnya sebuah kisi memiliki 500


.

Pada sebuah kisi yang disinari cahaya yang sejajar dan tegak lurus kisi, dan di belakang kisi
ditempatkan sebuah layar, maka pada layar tersebut akan terdapat garis terang dan gelap, jika
cahaya yang dipakai adalah monokromatik. Kemudian akan terbentuk deretan spektrum warna,
jika cahaya yang digunakan sinar putih (polikromatik). Garis gelap dan terang atau pembentukan
spektrum akan lebih jelas dan tajam jika celabar celahnya semakin sempit atau konstanta kisinya
semakin banyak/besar. Garis gelap dan terang dan spektrum tersebut merupakan hasil
interferensi dari cahaya yang berasal dari kisi tersebut yang jatuh pada layar titik/tempat tertentu.

Difraksi pada kisi


Gambar diatas menggambarkan cahaya monokromatik sejajar yang datang tegak lurus bidang
kisi, cahaya yang melalui kisi dilenturkan dan memiliki fase yang sama. Semua cahaya yang
melalui celah kisi akan dikumpulkan menjadi satu oleh lensa positif dan diproyeksikan pada
layar menjadi garis terang dan gelap.
Misalkan semua cahaya yang melalui celah kisi dilenturkan/didifraksikan dengan sudut dan
dikumpulkan pada satu titik P yang berjarak p dari terang pusat (O) pada layar yang berjarak L
dari kisi. Hasil interferensi cahaya di titik P tergantung pada selisih lintasan yang ditempuh
cahaya dari celah yang berdekatan yaitu d sin . Di titik P akan terjadi garis terang jika d sin
sama dengan kelipatan bilangan bulat kali panjang gelombang atau kelipatan bilangan genap kali
setengah gelombang. Sebaliknya akan terjadi garis gelap jika d sin sama dengan kelipatan
bilangan ganjil kali setengah panjang gelombang. Secara matematik dapat dinyatakan :
Di P terjadi garis terang jika :

d sin = n atau

Di P akan terjadi garis gelap jika :

d sin = (2n+1)

atau

dengan :
d
=
lebar
celah
=
sudut
difraksi
=
panjang
gelombang
n
=
orde
p
=
jarak
garis
gelap/terang
ke
L = jarak layar ke kisi (m)

kisi
cahaya
terang

(m)
(derajat)
(m)
difraksi
pusat
(m)