Anda di halaman 1dari 2

Owusu-Ansah and Yeoh (2005) menunjukkan bahwa pengungkapan mengalami

peningkatan; ukuran, umur, dan profitabilitas berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan wajib.
White et al (2007) menguji faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan pada
perusahaan bioteknologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran, konsentrasi kepemilikan,
komisaris independen, umur, dan tingkat leverage perusahaan berpengaruh signifikan terhadap
pengungkapan.
Bamber et al (2010) menguji hubungan karakteristik manajemen puncak dengan luas
pengungkapan sukarela. Karakteristik manajemen puncak diproksikan dengan umur, latar
belakang fungsional, latar belakang militer, dan latar belakang pendidikan. Hasil menunjukkan
bahwa karakteristik manajemen puncak berpengaruh terhadap pengungkapan dimana manajer
dengan latar belakang pendidikan keuangan, akuntansi, dan militer melakukan pengungkapan
yang lebih tepat.
Siregar dan Bachtiar (2010) menguji pengaruh ukuran dewan, kepemilikan asing, ukuran
perusahaan, profitabilitas, dan leverage terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial
perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran dewan dan ukuran perusahaan
berpengaruh terhadap pengungkapan. Variabel lainnya tidak memiliki pengaruh terhadap
pengungkapan. Meizaroh dan Lucyanda (2011) menguji hubungan tata kelola perusahaan,
konsentrasi kepemilikan dan pengungkapan ERM pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia. Hasil pengujian menunjukkan bahwa keberadaan risk management
committee, reputasi auditor, dan konsentrasi kepemilikan berpengaruh terhadap pengungkapan
risiko. Sebaliknya ukuran dewan komisaris dan komposisi dewan komisaris independen tidak
berpengaruh terhadap pengungkapan risiko.
Ettredge et al (2011) menyelidiki peran ukuran, kualitas tata kelola perusahaan, dan
berita terhadap kepatuhan pengungkapan. Variabel kualitas tata kelola terdiri dari dewan
komisaris (komposisi komisaris independen, jumlah rapat komisaris, chairman of board of

directors); komite audit (jumlah rapat komite audit dan keahlian komite audit), dan kepala
bagian keuangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel ukuran perusahaan dan kualitas
tata kelola perusahaan berpengaruh positif terhadap kepatuhan pengungkapan.

Oliveira et al

(2011) menilai pengungkapan risiko pada 42 perusahaan sektor nonfinansial yang terdaftar di
bursa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komisaris independen, jenis auditor, tingkat
leverage, ukuran perusahaan, dan sensitivitas lingkungan secara signifikan berhubungan dengan
pengungkapan risiko perusahaan.
Elzahar dan Hussainey (2012) menguji pengaruh karakteristik dan mekanisme tata kelola
perusahaan terhadap pengungkapan risiko pada 72 perusahaan nonkeuangan yang terdaftar di
FTSE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran, jenis sektor industri berpengaruh positif dan
signifikan; likuiditas, gearing, profitabilitas dan cross-listing tidak signifikan; kepemilikan
institusional, ukuran dewan komisaris, dualitas peran CEO, komposisi dewan komisaris, dan
ukuran komite audit tidak signifikan berpengaruh terhadap pengungkapan risiko.
Mokhtar dan Mellett (2013) menguji tingkat pengungkapan risiko secara wajib dan
sukarela pada 105 perusahaan yang terdaftar di Mesir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
peran dualitas, ukuran dewan dan ukuran auditor merupakan determinan pengungkapan risiko di
Mesir.