Anda di halaman 1dari 21

Bijih besi

Mineral dan Bijih


Proses dan aktivitas geologi bisa menimbulkan terbentuknya batuan dan jebakan
mineral. Yang dimaksud dengan jebakan mineral adalah endapan bahan-bahan atau material
baik berupa mineral maupun kumpulan mineral (batuan) yang mempunyai arti ekonomis
(berguna dan mengguntungkan bagi kepentingan umat manusia).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemungkinan pengusahaan jebakan dalam arti
ekonomis adalah :
1. Bentuk Jebakan
2. Besar dan volume cadangan
3. Kadar
4. Lokasi geografis
5. Biaya Pengolahannya
Dari distribusi unsur-unsur logam dan jenis-jenis mineral yang terdapat didalam kulit
bumi menunjukkan bahwa hanya beberapa unsure logam dan mineral saja yang mempunyai
prosentasi relative besar, karena pengaruh proses dan aktivitas geologi yang berlangsung
cukup lama, prosentase unsur unsur dan mineral-mineral tersebut dapat bertambah banyak
pada bagian tertentu karena Proses Pengayaan, bahkan pada suatu waktu dapat terbentuk
endapan mineral yang mempunyai nilai ekonomis.
Proses pengayaan ini dapat disebabkan oleh :
1. Proses Pelapukan dan transportasi
2. Proses ubahan karena pengaruh larutan sisa magma
Proses pengayaan tersebut dapat terjadi pada kondisi geologi dan persyaratan tertentu.
Kadar minimum logam yang mempunyai arti ekonomis nilainya jauh lebih besar
daripada kadar rata-rata dalam kulit bumi. Faktor perkalian yang bisa memperbesar kadar
mineral yang kecil sehingga bisa menghasilkan kadar minimum ekonomis yang disebut
faktor pengayaan ( Enrichment Factor atau Concentration Factor).
Dari sejumlah unsur atau mineral yang terdapat didalam kulit bumi, ternyata hanya
beberapa unsur atau mineral saja yang berbentuk unsur atau elemen tunggal (native
element). Sebagian besar merupakan persenyawaan unsur-unsur daaan membentuk mineral
atau asosiasi mineral.
Mineral yang mengandung satu jenis logam atau beberapa asosiasi logam disebut
mineral logam (Metallic mineral). Apabila kandungan logamnya trelatif besar dan terikat
secara kimia dengan unsur lain maka mineral tersebut disebut Mineral Bijih (ore mineral).
Yang disebut bijih/ore adalah material/batuan yang terdiri dari gabungan mineral bijih dengan
komponen lain (mineral non logam) yang dapat diambil satu atau lebih logam secara

ekonomis. Apabila bijih yang diambil hanya satu jenis logam saja maka disebut single ore.
Apabila yang bisa diambil lebih dari satu jenis bijih maka disebut complex-ore.
Mineral non logam yang dikandung oleh suatu bijih pada umumnya tidak
menguntungkan bahkan biasanya hanya mengotori saja, sehingga sering dibuang. Kadangkadang apabila terdapatkan dalam jumlah yang cukup banyak bisa dimanfaatkan sebagai
hasil sampingan (by-product), misalnya mineral kuarsa, fluorit, garnet dan lain-lain.
Mineral non logam tersebut disebut gangue mineral apabila terdapat bersama-sama mineral
logam didalam suatu batuan. Apabila terdapat didalam endapan non logam yang ekonomis,
disebut sebagai waste mineral.
Yang termasuk golongan endapan mineral non logam adalah material-material berupa
padat, cairan atau gas. Material-material tersebut bisa berbentuk mineral, batuan,
persenyawaan hidrokarbon atau berupa endapan garam. Contoh endapan ini adalah mika,
batuan granit, batubara, minyak dan gas bumi, halit dan lain-lain.
Kadar (prosentase) rata-rata minimum ekonomis suatu logam didalam bijih disebut
cut off grade. Kandungan logam yang terpadat didalam suatu bijih disebut tenor off ore.
Karena kemajuan teknologi, khususnya didalam cara-cara pemisahan logam, sering
menyebabkan mineral atau batuan yang pada mulanya tidak bernilai ekonomis bisa menjadi
mineral bijih atau bijih yang ekonomis.
Jenis logam tertentu tidak selalu terdapat didalam satu macam mineral saja, tetapi
juga terdapat pada lebih dari satu macam mineral. Misalnya logam Cu bisa terdapat pada
mineral kalkosit, bornit atau krisokola. Sebaliknya satu jenis mineral tertentu sering dapat
mengandung lebih dari satu jenis logam. Misalnya mineral Pentlandit mengandung logam
nikel dan besi. Mineral wolframit mengandung unsur-unsur logam Ti, Mn dan Fe. Keadaan
tersebut disebabkan karena logam-logam tertentu sering terdapat bersama-sama pada jenis
batuan tertentu dengan asosiasi mineral tertentu pula, hal itu erat hubungannya dengan proses
kejadian (genesa) mineral bijih.
Besi merupakan logam kedua yang paling banyak di bumi ini. Karakter dari endapan
besi ini bisa berupa endapan logam yang berdiri sendiri namun seringkali ditemukan
berasosiasi dengan mineral logam lainnya. Kadang besi terdapat sebagai kandungan logam
tanah (residual), namun jarang yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Endapan besi yang
ekonomis umumnya berupa Magnetite, Hematite, Limonitedan Siderite. Kadang kala dapat
berupa mineral: Pyrite,Pyrhotite, Marcasite, dan Chamosite.
Beberapa jenis genesa dan endapan yang memungkinkan endapan besi bernilai
ekonomis antara lain :
1. Magmatik: Magnetite dan Titaniferous Magnetite
2. Metasomatik kontak: Magnetite dan Specularite
3. Pergantian/replacement: Magnetite dan Hematite
4. Sedimentasi/placer: Hematite, Limonite, dan Siderite

5. Konsentrasi mekanik dan residual: Hematite,Magnetite dan Limonite


6. Oksidasi: Limonite dan Hematite
7. Letusan Gunung Api
Dari mineral-mineral bijih besi, magnetit adalah mineral dengan kandungan Fe paling
tinggi, tetapi terdapat dalam jumlah kecil. Sementara hematit merupakan mineralbijih utama
yang dibutuhkan dalam industri besi. Mineral-mineral pembawa besi dengan nilai ekonomis
dengan susunan kimia, kandungan Fe dan klasifikasi komersil dapat dilihat pada Tabel
dibawah ini:
Tabel mineral-mineral bijih besi bernilai ekonomis
Mineral

Susunan
kimia

Kandungan
Fe (%)

Klasifikasi
komersil

Magneti
t

FeO, Fe2O3

72,4

Magnetik
atau bijihhitam

Hematit

Fe2O3

70,0

Bijih merah

Limonit

Fe2O3.nH2O

59 - 63

Bijih coklat

Siderit

FeCO3

48,2

Spathic, black
band, clay
ironstone

Sumber : Iron & Ferroalloy Metals in (ed) M. L. Jensen & A. M. Bafeman, 1981;
Economic Mineral Deposits, P. 392.
Besi merupakan komponen kerak bumi yang persentasenya sekitar 5%. Besi atau
ferrum tergolong unsur logam dengan symbol Fe. Bentuk murninya berwarna gelap, abu-abu
keperakan dengan kilap logam. Logam ini sangat mudah bereaksi dan mudah teroksidasi
membentuk karat. Sifat magnetism besi sangat kuat, dan sifat dalamnya malleable atau dapat
ditempa. Tingkat kekerasan 4-5 dengan berat jenis 7,3-7,8.Besi oksida pada tanah dan batuan
menunjukkan warna merah, jingga, hingga kekuningan. Besi bersama dengan nikel
merupakan alloy pada inti bumi/ inner core. Bijih besi utama terdiri dari hematit (Fe2O3).
dan magnetit (Fe3O4). Deposit hematit dalam lingkungan sedimentasi seringkali berupa
formasi banded iron (BIFs) yang merupakan variasi lapisan chert, kuarsa, hematit, dan
magnetit. Proses pembentukan dari presipitasi unsur besi dari laut dangkal. Taconite adalah
bijih besi silika yang merupakan deposit bijih tingkat rendah. Terdapat dan ditambang di
United States, Kanada, dan China. Bentuk native jarang dijumpai, dan biasanya terdapat pada
proses ekstraterestrial, yaitu meteorit yang menabrak kulit bumi. Semua besi yang terdapat di
alam sebenarnya merupakan alloy besi dan nikel yang bersenyawa dalam rasio persentase
tertentu, dari 6% nikel hingga 75% nikel. Unsur ini berasosiasi dengan olivine dan piroksen.
Penggunaan logam besi dapat dikatakan merupakan logam utama. Dalam kehidupan sehartihari, besi dimanfaatkan untuk: Bahan pembuatan baja Alloy dengan logam lain seperti

tungsten, mangan, nikel, vanadium, dan kromium untuk menguatkan atau mengeraskan
campuran. Keperluan metalurgi dan magnet Katalis dalam kegiatan industri Besi radiokatif
(iron 59) digunakan di bidang medis, biokimia, dan metalurgi. Pewarna, plastik, tinta,
kosmetik, dan sebagainya
a. Besi primer
Proses terjadinya cebakan bahan galian bijih besi berhubungan erat dengan adanya
peristiwa tektonik pra-mineralisasi. Akibat peristiwa tektonik, terbentuklah struktur sesar,
struktur sesar ini merupakan zona lemah yang memungkinkan terjadinya magmatisme, yaitu
intrusi magma menerobos batuan tua. Akibat adanya kontak magmatik ini, terjadilah proses
rekristalisasi, alterasi, mineralisasi, dan penggantian (replacement) pada bagian kontak
magma dengan batuan yang diterobosnya.
Perubahan ini disebabkan karena adanya panas dan bahan cair (fluida) yang berasal
dari aktivitas magma tersebut. Proses penerobosan magma pada zona lemah ini hingga
membeku umumnya disertai dengan kontak metamorfosa. Kontak metamorfosa juga
melibatkan batuan samping sehingga menimbulkan bahan cair (fluida) seperti cairan
magmatik dan metamorfik yang banyak mengandung bijih.
b. Besi Sekunder (Endapan Placer)
Pembentukan endapan pasir besi memiliki perbedaan genesa dibandingkan dengan
mineralisasi logam lainnya yang umum terdapat. Pembentukan pasir besi adalah merupakan
produk dari proses kimia dan fisika dari batuan berkomposisi menengah hingga basa atau dari
batuan bersifat andesitik hingga basaltik. Proses ini dapat dikatakan merupakan gabungan
dari proses kimia dan fisika.Di daerah pantai selatan Kabupaten Ende, endapan pasir pantai di
perkirakan berasal dari akumulasi hasil desintegrasi kimia dan fisika seperti adanya pelarutan,
penghancuran batuan oleh arus air, pencucian secara berulang-ulang, transportasi dan
pengendapan.
Cebakan mineral alochton dibentuk oleh kumpulan mineral berat melalui proses
sedimentasi, secara alamiah terpisah karena gravitasi dan dibantu pergerakan media cair,
padat dan gas/udara. Kerapatan konsentrasi mineral-mineral berat tersebut tergantung kepada
tingkat kebebasannya dari sumber, berat jenis, ketahanan kimiawi hingga lamanya pelapukan
dan mekanisma. Dengan nilai ekonomi yang dimilikinya para ahli geologi menyebut
endapan alochtontersebut sebagai cebakan placer.
Jenis cebakan ini telah terbentuk dalam semua waktu geologi, tetapi kebanyakan pada
umur Tersier dan masa kini, sebagian besar merupakan cadangan berukuran kecil dan sering
terkumpul dalam waktu singkat karena tererosi. Kebanyakan cebakan berkadar rendah tetapi
dapat ditambang karena berupa partikel bebas, mudah dikerjakan dengan tanpa
penghancuran; dimana pemisahannya dapat menggunakan alat semi-mobiledan relatif murah.
Penambangannya biasanya dengan cara pengerukan, yang merupakan metoda penambangan
termurah.

Cebakan-cebakan placer berdasarkan genesanya:


Genesa
Terakumulasi in situ selama
pelapukan

Jenis
Placer
residual

Terkonsentrasi dalam media


padat yang bergerak
Terkonsentrasi dalam media cair
yang bergerak (air)

Placer eluvial
Placer aluvial
atau sungai
Placer
pantai

Terkonsentrasi dalam media


gas/udara yang bergerak

Placer
Aeolian (jarang)

Placer residual. Partikel mineral/bijih pembentuk cebakan terakumulasi langsung di


atas batuan sumbernya (contoh : urat mengandung emas atau kasiterit) yang telah mengalami
pengrusakan/peng-hancuran kimiawi dan terpisah dari bahan-bahan batuan yang lebih ringan.
Jenis cebakan ini hanya terbentuk pada permukaan tanah yang hampir rata, dimana
didalamnya dapat juga ditemukan mineral-mineral ringan yang tahan reaksi kimia (misal :
beryl).
Placer eluvial. Partikel mineral/bijih pembentuk jenis cebakan ini diendapkan di atas
lereng bukit suatu batuan sumber. Di beberapa daerah ditemukan placer eluvial dengan
bahan-bahan pembentuknya yang bernilai ekonomis terakumulasi pada kantong-kantong
(pockets) permukaan batuan dasar.
Placer sungai atau aluvial. Jenis ini paling penting terutama yang berkaitan
dengan bijih emas yang umumnya berasosiasi dengan bijih besi, dimana konfigurasi lapisan
dan berat jenis partikel mineral/bijih menjadi faktor-faktor penting dalam pembentukannya.
Telah dikenal bahwa fraksi mineral berat dalam cebakan ini berukuran lebih kecil daripada
fraksi mineral ringan, sehubungan : Pertama, mineral berat pada batuan sumber (beku dan
malihan) terbentuk dalam ukuran lebih kecil daripada mineral utama pembentuk batuan.
Kedua, pemilahan dan susunan endapan sedimen dikendalikan oleh berat jenis dan ukuran
partikel (rasio hidraulik).
Placer pantai. Cebakan ini terbentuk sepanjang garis pantai oleh pemusatan
gelombang dan arus air laut di sepanjang pantai. Gelombang melemparkan partikel-partikel
pembentuk cebakan ke pantai dimana air yang kembali membawa bahan-bahan ringan untuk
dipisahkan dari mineral berat. Bertambah besar dan berat partikel akan
diendapkan/terkonsentrasi di pantai, kemudian terakumulasi sebagai batas yang jelas dan
membentuk lapisan. Perlapisan menunjukkan urutan terbalik dari ukuran dan berat partikel,

dimana lapisan dasar berukuran halus dan/ atau kaya akan mineral berat dan ke bagian atas
berangsur menjadi lebih kasar dan/atau sedikit mengandung mineral berat.
Placer pantai (beach placer) terjadi pada kondisi topografi berbeda yang disebabkan
oleh perubahan muka air laut, dimana zona optimum pemisahan mineral berat berada pada
zona pasang-surut dari suatu pantai terbuka. Konsentrasi partikel mineral/bijih juga
dimungkinkan pada terrace hasil bentukan gelombang laut. Mineral-mineral terpenting yang
dikandung jenis cebakan ini adalah : magnetit, ilmenit, emas, kasiterit, intan, monazit, rutil,
xenotim dan zirkon.
Mineral ikutan dalam endapan placer. Suatu cebakan pasir besi selain mengandung
mineral-mineral bijihbesi utama tersebut dimungkinkan berasosiasi dengan mineral-mineral
mengandung Fe lainnya diantaranya : pirit (FeS2), markasit (FeS), pirhotit (Fe1-xS), chamosit
[Fe2Al2SiO5(OH)4], ilmenit (FeTiO3), wolframit [(Fe,Mn)WO4], kromit (FeCr2O4); atau juga
mineral-mineral non-Fe yang dapat memberikan nilai tambah seperti : rutil (TiO2), kasiterit
(SnO2), monasit [Ce,La,Nd, Th(PO4, SiO4)], intan, emas (Au), platinum (Pt), xenotim
(YPO4), zirkon (ZrSiO4) dan lain-lain.
c. Endapan besi laterit
Nikel Laterit Berdasarkan cara terjadinya, endapan nikel dapat dibedakan menjadi 2
macam, yaitu endapan sulfida nikel tembaga berasal dari mineral pentlandit, yang terbentuk
akibat injeksi magma dan konsentrasi residu (sisa) silikat nikel hasil pelapukan batuan beku
ultramafik yang sering disebut endapan nikel laterit. Menurut Bateman (1981), endapan jenis
konsentrasi sisa dapat terbentuk jika batuan induk yang mengandung bijih mengalami proses
pelapukan, maka mineral yang mudah larut akan terusir oleh proses erosi, sedangkan mineral
bijih biasanya stabil dan mempunyai berat jenis besar akan tertinggal dan terkumpul menjadi
endapan konsentrasi sisa. Air permukaan yang mengandung CO2 dari atmosfer dan
terkayakan kembali oleh material material organis di permukaan meresap ke bawah
permukaan tanah sampai pada zona pelindihan, dimana fluktuasi air tanah berlangsung.
Akibat fluktuasi ini air tanah yang kaya akan CO2 akan kontak dengan zona saprolit yang
masih mengandung batuan asal dan melarutkan mineral mineral yang tidak stabil seperti
olivin / serpentin dan piroksen. Mg, Si dan Ni akan larut dan terbawa sesuai dengan aliran air
tanah dan akan memberikan mineral mineral baru pada proses pengendapan kembali
(Hasanudin dkk, 1992).
Boldt (1967), menyatakan bahwa proses pelapukan dimulai pada batuan ultramafik (peridotit,
dunit, serpentin), dimana pada batuan ini banyak mengandung mineral olivin, magnesium
silikat dan besi silikat, yang pada umumnya banyak mengandung 0,30 % nikel. Batuan
tersebut sangat mudah dipengaruhi oleh pelapukan lateritik. Air tanah yang kaya akan CO2
berasal dari udara luar dan tumbuh tumbuhan, akan menghancurkan olivin. Terjadi
penguraian olivin, magnesium, besi, nikel dan silika kedalam larutan, cenderung untuk
membentuk suspensi koloid dari partikel partikel silika yang submikroskopis. Didalam

larutan besi akan bersenyawa dengan oksida dan mengendap sebagai ferri hidroksida.
Akhirnya endapan ini akan menghilangkan air dengan membentuk mineral mineral seperti
karat, yaitu hematit dan kobalt dalam jumlah kecil, jadi besi oksida mengendap dekat dengan
permukaan tanah.
Proses laterisasi adalah proses pencucian pada mineral yang mudah larut dan silika pada
profil laterit pada lingkungan yang bersifat asam dan lembab serta membentuk konsentrasi
endapan hasil pengkayaan proses laterisasi pada unsur Fe, Cr, Al, Ni dan Co (Rose et al.,
1979 dalam Nushantara 2002) . Proses pelapukan dan pencucian yang terjadi akan
menyebabkan unsur Fe, Cr, Al, Ni dan Co terkayakan di zona limonit dan terikat sebagai
mineral mineral oxida / hidroksida, seperti limonit, hematit, dan Goetit (Hasanudin, 1992).
Besi dan Alumina Laterit
Besi dan alumina laterit tidak dapat di pisahkan dari proses pembentukan nikel laterit,
salah satu produk laterit adalah besi dan almunium. Pada profil laterit terdapat zona-zona di
antaranya zona limonit. Zona ini menjadi zona terakumulasinya unsur-unsur yang kurang
mobile, seperti Fe dan Al. Batuan dasar dari pembentukan nikel laterit adalah batuan peridotit
dan dunit, yang komposisinya berupa mineral olivine dan piroksin. Faktor yang sangat
mempengaruhi sangat banyak salah satunya adalah pelapukan kimia. Karena adanya
pelapukan kimia maka mineral primer akan terurai dan larut. Faktor lain yang sangat
mendukung adalah air tanah, air tanah akan melindi mineral-mineral sampai pada batas
antara limonit dan saprolit, faktor lain dapat berupa PH, topografi dan lain-lain.
Endapan besi dan alumina banyak terkonsentrasi pada zona limonit. Pada zona ini di
dominasi oleh Goethit (Fe2O3H2O), Hematite (Fe2O3) yang relatif tinggi, Gibbsite
(Al2O3.3H2O), Clinoclore (5MgO.Al2O3.3SiO2.4H2O) dan mineral-mineral hydrous
silicates lainnya(mineral lempung) Bijih besi dapat terbentuk secara primer maupun
sekunder. Proses pembentukan bijih besi primer berhubungan dengan proses magmatisme
berupa gravity settling dari besi dalam batuan dunit, kemudian diikuti dengan proses
metamorfisme/metasomatsma yang diakhiri oleh proses hidrotermal akibat terobosan batuan
beku dioritik. Jenis cebakan bijih besi primer didominasi magnetit hematite dan sebagian
berasosiasi dengan kromit garnet, yang terdapat pada batuan dunit terubah dan genes-sekis.
Besi yang terbentuk secara sekunder di sebut besi laterit berasosiasi dengan batuan
peridotit yang telah mengalami pelapukan. Proses pelapukan berjalan secara intensif karena
pengaruh faktor-faktor kemiringan lereng yang relative kecil, air tanah dan cuaca, sehingga
menghasilkan tanah laterit yang kadang-kadang masih mengandung bongkahan bijih besi
hematite/goetit berukuran kerikil kerakal.
Besi Laterit merupakan jenis cebakan endapan residu yang dihasilkan oleh proses pelapukan
yang terjadi pada batuan peridotit/piroksenit dengan melibatkan dekomposisi, pengendapan
kembali dan pengumpulan secara kimiawi . Bijih besi tipe laterit umumnya terdapat didaerah
puncak perbukitan yang relative landai atau mempunyai kemiringan lereng dibawah 10%,

sehingga menjadi salah satu factor utama dimana proses pelapukan secara kimiawi akan
berperan lebih besar daripada proses mekanik. Sementara struktur dan karakteristik tanah
relative dipengaruhi oleh daya larut mineral dan kondisi aliran air tanah. Adapun profil
lengkap tanah laterit tersebut dari bagian atas ke bawah adalah sebagai berikut : zone limonit,
zone pelindian (leaching zone) dan zone saprolit yang terletak di atas batuan asalnya
(ultrabasa).
Zona pelindian yang terdapat diantara zona limonit dan zona saprolit ini hanya
terbentuk apabila aliran air tanah berjalan lambat pada saat mencapai kondisi saturasi yang
sesuai untuk membentuk endapan bijih. Pengendapan dapat terjadi di suatu daerah beriklim
tropis dengan musim kering yang lama. Ketebalan zona ini sangat beragam karena
dikendalikan oleh fluktuasi air tanah akibat peralihan musim kemarau dan musim penghujan,
rekahan-rekahan dalam zona saprolit dan permeabilitas dalam zona limonit.
Derajat serpentinisasi batuan asal peridotit tampaknya mempengaruhi pembentukan
zona saprolit, ditunjukkan oleh pembentukan zona saprolit dengan inti batuan sisa yang keras
sebagai bentukan dari peridotit/piroksenit yang sedikit terserpentinisasikan, sementara batuan
dengan gejala serpentinit yang kuat dapat menghasilkan zona saprolit .Fluktuasi air tanah
yang kaya CO2 akan mengakibatkan kontak dengan saprolit batuan asal dan melarutkan
mineral mineral yang tidak stabil seperti serpentin dan piroksin. Unsur Mg, Si, dan Ni dari
batuan akan larut dan terbawa aliran air tanah dan akan membentuk mineral-mineral baru
pada saat terjadi proses pengendapan kembali. Unsur-unsur yang tertinggal seperti Fe, Al,
Mn, CO, dan Ni dalam zona limonit akan terikat sebagai mineral-mineral oksida/hidroksida
diantaranya limonit, hematit, goetit, manganit dan lain-lain. Akibat pengurangan yang sangat
besar dari Ni-unsur Mg dan Si tersebut, maka terjadi penyusutan zona saprolit yang masih
banyak mengandung bongkah-bongkah batuan asal. Sehingga kadar hematit unsur residu di
zona laterit bawah akan naik sampai 10 kali untuk membentuk pengayaan Fe2O3 hingga
mencapai lebih dari 72% dengan spinel-krom relative naik hingga sekitar 5% .
Besi laterit
Mineral ini terbentuk dari pelapukan mineral utama berupa olivine dan piroksin.
Mineral ini merupakan golongan mineral oksida hidroksida non silikat, mineral ini terbentuk
dari unsur besi dan oksida atau FeO( ferrous oxides) kemudian mengalami proses oksidasi
menjadi Fe2O3 lalu mengalami presipitasi atau proses hidroksil menjadi Fe2O3H2O
( geotithe). Mineral ini tingkat mobilitas unsurnya pada kondisi asam sangat rendah, oleh
karena itu pada profil laterit banyak terkonsentrasi pada zona limonit.
Alumina
Unsur Al hadir dalam mineral piroksin, spinel (MgO.Al2O3), pada mineral sekunder
seperti Clinochlor (5MgO.Al2O3.3SiO2.4H2O), dan gibbsite (Al2O3.3H2O). Alumina
sangat tidak larut pada air tanah yang ber Ph antara 4-9.
d. Eksplorasi Bijih Besi.

Penyelidikan umum dan eksplorasi bijih besi diIndonesia sudah banyak dilakukan
oleh berbagai pihak, sehingga diperlukan penyusunan pedoman teknis eksplorasi bijih besi.
Pedoman dimaksudkan sebagai bahan acuan berbagai pihak dalam melakukan kegiatan
penyelidikan umum dan eksplorasi bijih besi primer, agar ada kesamaan dalam melakukan
kegiatan tersebut diatas sampai pelaporan.
Tata cara eksplorasi bijih besi primer meliputi urutan kegiatan eksplorasi sebelum
pekerjaan lapangan, saat pekerjaan lapangan dan setelah pekerjaan lapangan. Kegiatan
sebelum pekerjaan lapangan ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengenai prospek
cebakan bijih besi primer, meliputi studi literatur dan penginderaan jarak jauh. Penyediaan
peralatan antara lain peta topografi, peta geologi, alat pemboran inti, alat ukur topografi, palu
dan kompas geologi, loupe, magnetic pen, GPS, pita ukur, alat gali, magnetometer,
kappameter dan peralatan geofisika.
Kegiatan pekerjaan lapangan yang dilakukan adalah penyelidikan geologi meliputi
pemetaan; pembuatan paritan dan sumur uji, pengukuran topografi, survei geofisika dan
pemboran inti.
Kegiatan setelah pekerjaan lapangan yang dilakukan antara lain adalah analisis
laboratorium dan pengolahan data. Analisis laboratorium meliputi analisis kimia dan fisika.
Unsur yang dianalisis kimia antara lain : Fetotal, Fe2O3, Fe3O4, TiO2, S, P, SiO2, MgO, CaO,
K2O, Al2O3, LOI. Analisis fisika yang dilakukan antara lain : mineragrafi, petrografi, berat
jenis (BD). Sedangkan pengolahan data adalah interpretasi hasil dari penyelidikan lapangan
dan analisis laboratorium.
Tahapan eksplorasi adalah urutan penyelidikan geologi yang umumnya dilakukan
melalui empat tahap sbb : Survei tinjau, prospeksi, eksplorasi umum, eksplorasi rinci. Survei
tinjau, tahap eksplorasi untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang berpotensi bagi
keterdapatan mineral pada skala regional. Prospeksi, tahap eksplorasi dengan jalan
mempersempit daerah yg mengandung endapan mineral yg potensial. Eksplorasi umum,
tahap eksplorasi yang rnerupakan deliniasi awal dari suatu endapan yang teridentifikasi .
Eksplorasi rinci, tahap eksplorasi untuk mendeliniasi secara rinci dalarn 3-dimensi
terhadap endapan mineral yang telah diketahui dari pencontohan singkapan, paritan, lubang
bor, shafts dan terowongan.
Penyelidikan geologi adalah penyelidikan yang berkaitan dengan aspek-aspek
geologi diantaranya : pemetaan geologi, parit uji, sumur uji. Pemetaan adalah pengamatan
dan pengambilan conto yang berkaitan dengan aspek geologi dilapangan. Pengamatan yang
dilakukan meliputi : jenis litologi, mineralisasi, ubahan dan struktur pada singkapan,
sedangkan pengambilan conto berupa batuan terpilih.
Penyelidikan Geofisika adalah penyelidikan yang berdasarkan sifat fisik batuan,
untuk dapat mengetahui struktur bawah permukaan, geometri cebakan mineral, serta

sebarannya secara horizontal maupun secara vertical yang mendukung penafsiran geologi dan
geokimia secara langsung maupun tidak langsung.
Pemboran inti dilakukan setelah penyelidikan geologi dan penyelidikan geofisika.
Penentuan jumlah cadangan (sumberdaya) mineral yang mempunyai nilai ekonomis adalah
suatu hal pertama kali yang perlu dikaji, dihitung sesuai standar perhitungan cadangan yang
berlaku, karena akan berpengaruh terhadap optimasi rencana usaha tambang, umur tambang
dan hasil yang akan diperoleh.
Dalam hal penentuan cadangan, langkah yang perlu diperhatikan antara lain :
- Memadai atau tidaknya kegiatan dan hasil eksplorasi.
- Kebenaran penyebaran dan kualitas cadangan berdasarkan korelasi seluruh data
eksplorasi seperti pemboran, analisis conto, dll.
- Kelayakan penentuan batasan cadangan, seperti Cut of Grade, Stripping Ratio,
kedalaman maksimum penambangan, ketebalan minimum dan sebagainya bertujuan untuk
mengetahui kondisi geologi dan sebaran bijih besi bawah permukaan.

Besi dan Alumina Laterit


Besi dan alumina laterit tidak dapat di pisahkan dari proses pembentukan nikel laterit,
salah satu produk laterit adalah besi dan almunium. Pada profil laterit terdapat zonazona di antaranya zona limonit. Zona ini menjadi zona terakumulasinya unsur-unsur
yang kurang mobile, seperti Fe dan Al. Batuan dasar dari pembentukan nikel laterit
adalah batuan peridotit dan dunit, yang komposisinya berupa mineral olivine dan
piroksin.
Faktor yang sangat mempengaruhi sangat banyak salah satunya adalah pelapukan
kimia. Karena adanya pelapukan kimia maka mineral primer akan terurai dan larut.
Faktor lain yang sangat mendukung adalah air tanah, air tanah akan melindi mineralmineral sampai pada batas antara limonit dan saprolit, faktor lain dapat berupa PH,
topografi dan lain-lain.
Endapan besi dan alumina banyak terkonsentrasi pada zona limonit. Pada zona ini di
dominasi oleh Goethit (Fe2O3H2O), Hematite (Fe2O3) yang relatif tinggi, Gibbsite
(Al2O3.3H2O), Clinoclore (5MgO.Al2O3.3SiO2.4H2O) dan mineral-mineral hydrous
silicates lainnya (mineral lempung). Bijih besi dapat terbentuk secara primer maupun
sekunder.
Proses pembentukan bijih besi primer berhubungan dengan proses magmatisme berupa
gravity settling dari besi dalam batuan dunit, kemudian diikuti dengan proses

metamorfisme/metasomatsma yang diakhiri oleh proses hidrotermal akibat terobosan


batuan beku dioritik. Jenis cebakan bijih besi primer didominasi magnetit hematite dan
sebagian berasosiasi dengan kromit garnet, yang terdapat pada batuan dunit terubah
dan genes-sekis.
Besi yang terbentuk secara sekunder di sebut besi laterit berasosiasi dengan batuan
peridotit yang telah mengalami pelapukan. Proses pelapukan berjalan secara intensif
karena pengaruh faktor-faktor kemiringan lereng yang relative kecil, air tanah dan cuaca,
sehingga menghasilkan tanah laterit yang kadang-kadang masih mengandung
bongkahan bijih besi hematite/goetit berukuran kerikil kerakal. Besi Laterit merupakan
jenis cebakan endapan residu yang dihasilkan oleh proses pelapukan yang terjadi pada
batuan peridotit/piroksenit dengan melibatkan dekomposisi, pengendapan kembali dan
pengumpulan secara kimiawi. Bijih besi tipe laterit umumnya terdapat didaerah puncak
perbukitan yang relative landai atau mempunyai kemiringan lereng dibawah 10%,
sehingga menjadi salah satu factor utama dimana proses pelapukan secara kimiawi
akan berperan lebih besar daripada proses mekanik. Sementara struktur dan
karakteristik tanah relative dipengaruhi oleh daya larut mineral dan kondisi aliran air
tanah. Adapun profil lengkap tanah laterit tersebut dari bagian atas ke bawah adalah
sebagai berikut : zone limonit, zone pelindian (leaching zone) dan zone saprolit yang
terletak di atas batuan asalnya (ultrabasa).
Zona pelindian yang terdapat diantara zona limonit dan zona saprolit ini hanya terbentuk
apabila aliran air tanah berjalan lambat pada saat mencapai kondisi saturasi yang
sesuai untuk membentuk endapan bijih. Pengendapan dapat terjadi di suatu daerah
beriklim tropis dengan musim kering yang lama. Ketebalan zona ini sangat beragam
karena dikendalikan oleh fluktuasi air tanah akibat peralihan musim kemarau dan musim
penghujan, rekahan-rekahan dalam zona saprolit dan permeabilitas dalam zona limonit.
Derajat serpentinisasi batuan asal peridotit tampaknya mempengaruhi pembentukan
zona saprolit, ditunjukkan oleh pembentukan zona saprolit dengan inti batuan sisa yang
keras sebagai bentukan dari peridotit/piroksenit yang sedikit terserpentinisasikan,
sementara batuan dengan gejala serpentinit yang kuat dapat menghasilkan zona
saprolit.
Fluktuasi air tanah yang kaya CO2 akan mengakibatkan kontak dengan saprolit batuan
asal dan melarutkan mineral mineral yang tidak stabil seperti serpentin dan piroksin.
Unsur Mg, Si, dan Ni dari batuan akan larut dan terbawa aliran air tanah dan akan
membentuk mineral-mineral baru pada saat terjadi proses pengendapan kembali.
Unsur-unsur yang tertinggal seperti Fe, Al, Mn, CO, dan Ni dalam zona limonit akan
terikat sebagai mineral-mineral oksida/hidroksida diantaranya limonit, hematit, goetit,
manganit dan lain-lain. Akibat pengurangan yang sangat besar dari Ni-unsur Mg dan Si
tersebut, maka terjadi penyusutan zona saprolit yang masih banyak mengandung

bongkah-bongkah batuan asal. Sehingga kadar hematit unsur residu di zona laterit
bawah akan naik sampai 10 kali untuk membentuk pengayaan Fe2O3 hingga mencapai
lebih dari 72% dengan spinel-krom relative naik hingga sekitar 5% .
Besi laterit
Mineral ini terbentuk dari pelapukan mineral utama berupa olivine dan piroksin. Mineral
ini merupakan golongan mineral oksida hidroksida non silikat, mineral ini terbentuk dari
unsur besi dan oksida atau FeO( ferrous oxides) kemudian mengalami proses oksidasi
menjadi Fe2O3 lalu mengalami presipitasi atau proses hidroksil menjadi Fe2O3H2O
( geotithe). Mineral ini tingkat mobilitas unsurnya pada kondisi asam sangat rendah, oleh
karena itu pada profil laterit banyak terkonsentrasi pada zona limonit.

Potensi Bijih Besi Indonesia

Category: Besi Baja


Published on Wednesday, 07 August 2013 01:59
Written by Super User
Hits: 973

Endapan bijih besi telah diteliti dan dieksplorasi oleh Pemerintah Kolonial
Belanda. Pada periode 1957-1964 Indonesia yang bekerja sama dengan
Pemerintah Uni Sovyet, melaksanakan eksplorasi bijih besi untuk kepentingan
pembangunan industri baja di Cilegon (Banten) dan menemukan beberapa
daerah prospek di Kalimantan Selatan. Pada masa pemerintahan orde baru,
(1967-1998) Indonesia mengalami demam eksplorasi yang bertujuan untuk
mencari endapan bauksit, nikel, tembaga, emas dan batubara, tetapi bijih
besi tidak tersentuh sama sekali. Ini menunjukkan bahwa potensi geologi
Indonesia untuk endapan besi tidak menarik, karena geologi Indonesia
merupakan busur magmatis yang tidak mempunyai batuan berumur praKambrium seperti misalnya Banded Iron Formation. Walaupun demikian pihak
Departemen Perindustrian, banyak melakukan evaluasi kemungkinan
penggunaan bijih besi untuk kepentingan industri dalam negeri. Evaluasi ini
dilakukan berdasarkan data penemuan bijih besi yang terdapat di unit-unit
dalam lingkungan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.
Data potensi endapan besi di Indonesia, diperoleh dari hasil penyelidikan
masa kolonial Belanda, hasil penyelidikan kerja sama antara Pemerintah
Indonesia Uni Sovyet (akhir 1950an) untuk pengembangan industri baja di
Krakatau Steel, dan berbagai penyelidikan yang dilaksanakan olehg
pemegang Kuasa Pertambangan serta lembaga pemerintah. Endapan
besi yang ditemukan di Indonesia umumya terdiri dari tiga jenis endapan
yaitu bijih besi laterit, besi primer, besi sedimen dan pasir besi (lihat Tabel 2,
Potensi Bijih Besi Indonesia). Besi sedimen ditemukan di Indonesia
merupakan hal baru.
Tabel 2. Sumber Daya dan Cadangan Bijih Besi Indonesia (2008)

Jenis Cebakan

Sumber Daya (ton)


Bijih

Bijih Besi Primer 381.107206,95

Logam

Cadangan (ton)
Bijih

Logam

198.628764,63 2.216.005 1.383256,80

Laterit Besi

1.585.195.899,30 631.601.478,77 80.640.000 18.061.569,20

Pasir Besi

1.014.797.646,30 132.919.134,62 4.732.000 15.063.748

Besi Sedimen

23.702.188,00

15.496.162,00

Sumber : Neraca Sumber Daya Mineral Logam dan Non Logam, Pusat Sumber
Daya Geologi 2008
Berdasarkan data Pusat Sumber Daya Geologi 2008, endapan besi sedimen
ditemukan di Kabupaten Trenggalek (Jawa Timur) dengan sumber daya tereka
mencapai 23, 7 juta ton lebih yang ditemukan di Kecamatan Dongko
sebanyak 4 lokasi. Besi sedimen terbesar ditemukan di Kali Telu-Pagergunung
dengan sumber daya tereka mencapai 11,3 juta ton dengan kadar logam 7
juta ton. Dengan penemuan ini diduga di pulau Jawa terdapat endapan yang
mirip dengan Banded Iron Formation berumur para-Kambrium, hanya umur
formasi ini muda (Pleistosen ?) Endapan besi laterit merupakan hasil
pelapukan batuan ultrabasa dengan potensi sumber daya pada tahun 2008
mencapai 1.585.195.899,30 dan cadangannya mencapai 80.640.000. Sumber
daya tahun 2008, terjadi kenaikan, cadangannya menurun. Hal lain,
terjadi kenaikan sumber daya bijih besi primer dan munculnya cadangan bijih
besi primer yang pada tahun 2003 belum diperoleh data (Tabel 3). Dengan
demikian, selama lima tahun terjadi kenaikan kegiatan eksplorasi bijih besi
primer baik yang dilakukan perusahaan pemegang kuasa pertambangan,
Pemerintah Kabupaten/Kota dan penyelidikan yang dilakukan oleh Pusat
Sumber Daya Geologi.
Tabel 3. Sumber Daya dan Cadangan Bijih Besi Indonesia (2003)
Jenis Cebakan

Sumber Daya (ton)

Cadangan (ton)

Bijih

Logam

Bijih

Logam

Bijih Besi

76.147.311

35.432.196

Laterit Besi

1.151.369.714

502.317.988

215.160.000

8.193.580

Pasir Besi

89.632.359

45.040.808

28.417.600

15.063.748

Sumber : Sumber daya dan Cadangan Nasional Mineral, Batubara dan Panas
Bumi Tahun 2003, Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral 2004
Endapan besi laterit ini ditemukan secara tersebar dengan endapan
berukuran kecil dan berkadar rendah. Potensi terbaik di Kalimantan Selatan
yang ditemukan dari hasil penyelidikan Uni Soyyet, menunjukkan sumber
daya terukur mencapai 5,0 juta ton yang terbentuk secara metasomatik
dengan kadar besi antara 60-62%, sedangkan jumlah sumber daya di
Kalimantan Selatan mencapai 560.247.700 ton (tabel 4,6). Walaupun
demikian masih perlu dikaji seandainya akan dikembangkan untuk
penambangan sekala kecil. Saat ini penambangan besi sekala kecil di RRC,
memiliki kapasitas terendah 300.000 ton pertahun dengan umur tambang 10

tahun. Dengan contoh tersebut, daerah yang mungkin dapat dikembangkan


memiliki cadangan minimal 3.000.000 ton.
Tabel 4. Sumber Daya dan Cadangan Besi Laterit
Provinsi

Sumber Daya (ton)

Cadangan (ton)

Bijih

Bijih

Logam

Logam

Nanggroe Aceh
Darussalam

400.000

Lampung

135.000

93.150

Banten

126.000

61.147.000

Jawa Barat

500.000

225.000

Jawa Timur

84 46,58

Kalimantan Selatan

560.247.700 265.371.407

Sulawesi Selatan

371.500.000 182.035.000

Sulawesi Tenggara

59.080.930

Maluku Utara

193.425.000 58.50.000

10.261.997

4.520.000

670.349

52.320.000 7.218.856

Sumber : Sumber daya dan Cadangan Nasional Mineral, Batubara dan Panas
Bumi Tahun 2003, Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral 2004
Bila diperhatikan sebaran berdasarkan letak geografis, Kalimantan Selatan,
Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara. Bijih besi di Indonesia dalam bentuk
endapan skarn memiliki potensi sumber daya hanya 76,1 juta ton (Tabel 3 ),
dan tersebar di beberapa tempat di pulau Sumatera, salah satunya terdapat
di Lampung dalam bentuk magneto hematit yang dapat dileburkan
dalam tanur tiup sekala kecil.
Berdasarkan hasil penyelidikan Pusat Sumber Daya Geologi tahun 2005,
mineralisasi biji besi ditemukan di daerah Air Manggis Kabupaten Pasaman
dengan sumber daya hipotetik 3,08 juta ton dengan kadar Fe total 40,34%.
Sedangkan dari aspek kelas cadangan, maka cadangan besi terdapat di
Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara namun dalam bentuk mineral ikutan
dari nikel dan kobal yang ditambang oleh PT Inco dan PT Aneka Tambang.
Cadangan tersebut ikut ditambang sehingga data cadangan tersebut tidak
bernilai. Sedangkan pasir besi banyak tersebar di sepanjang pantai selatan
Pulau Jawa (Tabel 5), pantai barat Sumatera dan tempat lainnya. Umumnya
pasir besi di Indonesia ditambang untuk keperluan bahan korektif dalam
industri semen. Kebutuhan besi dalam industri semen mencapai 5%, dan
sebagian besar telah terpenuhi dalam bahan baku lempung atau lempung

laterit. Sebagai bahan korektif, pada tahun 2002, industri semen hanya
memerlukan sekitar 378.587 ton.
Tabel 5. Sumber Daya dan Cadangan Pasir Besi tahun 2003
Provinsi

Sumber Daya (ton)


Bijih

Logam

Cadangan (ton)
Bijih

Logam

Nanggroe Aceh
Darussalam

124.124

68.268

Bengkulu

738.241

Lampung

74

434.027
34

Jawa Barat

23.165.506 11.925.668 10.465.200 5.894.001

Jogjakarta

60.606.000 30.727.000

Jawa Timur

1.100

462

Nusa Tenggara Barat

4.270

2.859

Nusa Tenggara Timur

175.000

89.250

Sulawesi Selatan

3.402.500

1.357.125

Sulawesi Tengah

609.772

1.824.110

700.000

351.400

Sumber: Sumber daya dan Cadangan Nasional Mineral, Batubara dan Panas
Bumi Tahun 2003, Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral
Dari konsep klaster industri baja yang sedang dirancang dan akan
dikembangkan pada masa depan, dan mengingat potensi bijih besi di
Indonesia yang kecil dan tersebar di beberapa daerah di Indonesia, maka
pengembangan klaster industri baja yang potensial diusulkan di
daerah Kalimantan Selatan dengan sumber daya laterit mencapai 560 juta
ton besi dan di daerah Sulawesi Selatan dengan sumber daya besi laterit
mencapai 371 juta ton. Kalimantan selatan lebih mudah berkembang karena
memiliki batubara dan gas. Sedangkan daerah Maluku Utara dan Sulawesi
Tenggara yang memiliki sumber daya dan cadangan besi, tidak
memenuhi persyaratan karena besi di kedua daerah tersebut merupakan
unsur ikutan dalam bijih laterit nikel-kobal. Sebagian bijih besi di daerah
tersebut diolah menjadi fero nikel dan nikel matte. Sebelum diwujudkan,
eksplorasi rinci di kedua daerah ini diusulkan untuk dilakukan
oleh perusahaan penambang yang tergabung dalam klaster indutri
baja. Berdasarkan Data Neraca Pusat Sumber Daya Geologi 2008, di daerah
Kalimantan selatan terdapat 15 lokasi endapan besi primer dengan tingkat
eksplorasi dari prospeksi hingga eksplorasi rinci. Endapan besi primer dengan
Sumber daya terukur sebesar 5 juta ton lebih ditemukan di Tanalang
Kabupaten Balangan. Endapan bijih besi primer dengan cadangan

terkira ditemukan di Gunung Tembaga Kabupaten Tanahlaut. Saat ini


beberapa perusahaan memulai mengembangkan penambangan.

BESI

Besi adalah logam yang berasal dari bijih besi (tambang) yang banyak
digunakan untuk kehidupan manusia sehari-hari. Dalam tabel periodik, besi
mempunyai simbol Fe dan nomor atom 26. Besi juga mempunyai nilai
ekonomis yang tinggi. Besi telah ditemukan sejak zaman dahulu dan tidak
diketahui siapa penemu sebenarnya unsur ini.

Keberadaannya di alam
Besi terdapat di alam dalam bentuk senyawa, misalnya pada mineral hematite
(Fe2O3), magnetit (Fe2O4), pirit (FeS2), siderite (FeCO3), dan limonit
(2Fe2O3.3H2O).

Kegunaan
Besi adalah unsure keempat terbanyak di bumi dan merupakan logam yang
terpenting dalam industri. Besi murni bersifat agak lunak dan kenyal. Oleh
karena itu, dalam industry, besi besi selalu dipadukan dengan logam lain
supaya leih keras. Paduan tersebut sering kiata kenal dengan baja. Baja
adalah berbagai macam paduan logam yang dibuat dari besi tuang ke
dalamnya ditambahkan unsur-unsur lain seperti Mn, Ni, V, atau W tergantung
keprluannya.
Besi tempa adalah besi yang hamper murni dengan kandungan sekitar 0.2%
karbon.

Ciri-ciri dan sifat

Besi adalah logam yang paling banyak dan paling beragam penggunaannya.
Hal itu karena beberapa hal, diantaranya:
Kelimpahan besi di kulit bumi cukup besar
Pengolahannya relatif mudah dan murah, dan
Besi mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan dan mudah dimodifikasi
Salah satu kelemahan besi adalah mudah mengalami korosi. Korosi
menimbulkan banyak kerugian karena mengurangi umur pakai berbagai
barang atau bangunan yang menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi
dapat dicegah dengan mengubah besi menjadi baja tahan karat (stainless
steel), akan tetapi proses ini terlalu mahal untuk kebanyakan penggunaan
besi
Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Berbagai jenis logam contohnya Zink
danMagnesium dapat melindungi besi dari korosi. Cara-cara pencegahan
korosi besi yang akan dibahas berikut ini didasarkan pada dua sifat tersebut.
1. Pengecatan. Jembatan, pagar, dan railing biasanya dicat. Cat
menghindarkan kontak dengan udara dan air. Cat yang mengandung timbel
dan zink (seng) akan lebih baik, karena keduanya melindungi besi terhadap
korosi.
2. Pelumuran dengan Oli atau Gemuk. Cara ini diterapkan untuk berbagai
perkakas dan mesin. Oli dan gemuk mencegah kontak dengan air.
3. Pembalutan dengan Plastik. Berbagai macam barang, misalnya rak piring
dan keranjang sepeda dibalut dengan plastik. Plastik mencegah kontak
dengan udara dan air.
4. Tin Plating (pelapisan dengan timah). Kaleng-kaleng kemasan terbuat dari
besi yang dilapisi dengan timah. Pelapisan dilakukan secara elektrolisis, yang
disebut tin plating. Timah tergolong logam yang tahan karat. Akan tetapi,
lapisan timah hanya melindungi besi selama lapisan itu utuh (tanpa cacat).
Apabila lapisan timah ada yang rusak, misalnya tergores, maka timah justru
mendorong/mempercepat korosi besi. Hal itu terjadi karena potensial reduksi
besi lebih negatif daripada timah. Oleh karena itu, besi yang dilapisi dengan
timah akan membentuk suatu sel elektrokimia dengan besi sebagai anode.

Dengan demikian, timah mendorong korosi besi. Akan tetapi hal ini justru
yang diharapkan, sehingga kaleng-kaleng bekas cepat hancur.
5. Galvanisasi (pelapisan dengan Zink). Pipa besi, tiang telepon dan berbagai
barang lain dilapisi dengan zink. Berbeda dengan timah, zink dapat
melindungi besi dari korosi sekalipun lapisannya tidak utuh. Hal ini terjadi
karena suatu mekanisme yang disebut perlindungan katode. Oleh karena
potensial reduksi besi lebih positif daripada zink, maka besi yang kontak
dengan zink akan membentuk sel elektrokimia dengan besi sebagai katode.
Dengan demikian besi terlindungi dan zink yang mengalami oksidasi
(berkarat). Badan mobil-mobil baru pada umumnya telah digalvanisasi,
sehingga tahan karat.
6. Cromium Plating (pelapisan dengan kromium). Besi atau baja juga dapat
dilapisi dengan kromium untuk memberi lapisan pelindung yang mengkilap,
misalnya untuk bumper mobil.Cromium plating juga dilakukan dengan
elektrolisis. Sama seperti zink, kromium dapat memberi perlindungan
sekalipun lapisan kromium itu ada yang rusak.
7. Sacrificial Protection (pengorbanan anode). Magnesium adalah logam yang
jauh lebih aktif (berarti lebih mudah berkarat) daripada besi. Jika logam
magnesium dikontakkan dengan besi, maka magnesium itu akan berkarat
tetapi besi tidak. Cara ini digunakan untuk melindungi pipa baja yang
ditanam dalam tanah atau badan kapal laut. Secara periodik, batang
magnesium harus diganti.

Oleh karena proses pembuatannya mudah, besi mampu dibuat secara masal
dengan biaya yang relatif kecil. Kekuatan besi cor kelabu dapat dilakukan
dengan cara menambahkan unsur paduan. Komposisi kimia besi cor yang
dihasilkan pola dipengaruhi oleh komposisi kimia, teknik/proses pembuatan
serta. Komposisi kimia unsur-unsur pemadu dalam besi kasar ini terdiri dari
3-4 %C. Dibuat dari kayu, cetakan yang komposisi kimia suatu paduan, tetapi
juga tergantung pada struktur. Satu- satunya cara pembuatan yang dapat
dikerjakan adalah dengan silikon merupakan unsur yang sangat penting
dalam pembuatan besi tuang. la menaikan fluiditas. Ada sekitar 20 unsur non
logam yang biasanya dengan cara pengendapan ion logam, pembuatan

senyawa yang mengandung lamelar dengan besi berkoordinasi secara


tetrahedral dengan enam ligan khlorin.
Secara bergantian lokasi ion ditempati oleh ion lurus NO2 bersifat oksidator
kuat dan digunakan dalam pembuatan bahan-bahan kimia, dan PbO2
terbentuk.
Alam dan kehidupan kita pun semua tertulis dengan lambang-lambang kimia
membuat daftar periodik tempat unsur-unsur yang bersifat mirip masuk.
Hemoglobin mengandung besi, berfungsi membawa oksigen. Nama Geologi :
Vickers, Annealing, fase, Baja chrom.

nt-si n 4 0 ` eight:150%;font-family:Symbol;mso-fareast-font-family:
Symbol;mso-bidi-font-family:Symbol;mso-ansi-language:EN-US'>
Konfigurasi Elektron : [Ar]3d8 4s2

Formasi Entalpi

: 17.2 kJ/mol

Konduktivitas Panas : 90.7 Wm-1K-1

Potensial Ionisasi

: 7.635 V

Titik Lebur

: 1726 K

Bilangan Oksidasi

: 2,3

Kapasitas Panas: 0.444 Jg-1K-1

Entalpi Penguapan: 377.5 kJ/mol