Anda di halaman 1dari 5

FUROSEMIDE

a. Komposisi :
Setiap tablet mengandung furosemid 40 mg
b. Indikasi
Pengobatan edema yang menyertai payah jantung kongestif, sirosis hati dan
gangguan ginjal termasuk sindrom nefrotik.
c. Farmakologi
Diuretika yang bekerja dengan cara menghambat reabsorbsi ion Na pada jerat
Henle.
d. Farmakokinetik
Onset kerja : Diuresis oral : 30 - 60 menit, I.M : 30 menit, I.V : ~ 5 menit. Durasi :
oral 6 - 8 jam, I.V : 2 jam. Absorpsi oral : 60-67 %, Ikatan protein : > 98 %.
Metabolisme : melalui hati. T1/2 eliminasi : 0.5 - 1.1 jam, sakit ginjal parah : 9
jam. Ekskresi melalui urin : (oral : 50 %, I.V : 80 %) selama 24 jam, feses
(sebagai obat yang tidak berubah) : klirens non ginjal diperpanjang pada pasien
gangguan ginjal.
e. Dosis dan Cara Pemberian
Awal tindakan setelah oral adalah dalam waktu satu jam, dan diuresis
berlangsung sekitar 6-8 jam. Dosis awal 20-80 mg oral sebagai dosis tunggal.
Dosis yang efektif dapat diberikan sekali atau duakali sehari. Beberapa pasien
mungkin memerlukan 600 mg setiap hari.
f. Kontra Indikasi
Hipersensitif terhadap furosemid, atau komponen lain dalam sediaan atau
sulfonil urea, anuria, pasien koma hepatik atau keadaan penurunan elektrolit
parah sampai keadaannya membaik
g. Peringatan dan Perhatian
Diuretik loop adalah diuretik kuat, monitor dengan ketat dan evaluasi dosis untuk
mencegah ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
h. Efek Samping

Vertigo, pusing, sakit kepala, pandangan kabur, demam, tidak bisa beristirahat,
hiperglikemia, hiperurisemia, hipokalemia.
i. Interaksi Obat
Hipokalemia yang diinduksi oleh furosemid akan menyebabkan toksisitas pada
digoksin dan dapat meningkatkan risiko aritmia dengan obat-obat yang dapat
meningkatkan interval QT, termasuk antiaritmia tipe Ia dan III.
SPIRONOLAKTON
a. Komposisi :
Setiap tablet mengandung spironolakton 100 mg
b. Indikasi
edema yang refrakter, edema yang disebabkan oleh congestive heart failure,
hepatic cirrhosis dengan ascites, nephrotic syndrome, idiopathic hypertension,
primary hyperaldosternism
c. Farmakologi
Spironolactone merupakan

potassium-sparing

diuretic

(water

pill) yang

mencegah tubuh dari penyerapan garam yang terlalu banyak dan menjaga tubuh
dari kekurangan kadar potassium, biasanya dipakai bersama diuretik lain.
d. Farmakokinetik
Durasi kerja : 2-3 hari, ;Ikatan protein : 91 98 %. Metabolisme : melalui hati
untuk membentuk banyak metabolit termasuk canrenone (metabolit aktif). T1/2
eliminasi : 78-84 menit. Waktu untuk mencapai puncak dalam serum :1 - 3 ham
(utamanya dalam bentuk metabolit aktif). Ekskresi : melalui urin dan feses.
e. Dosis dan Cara Pemberiaan
50100 mg/hari per oral dalam dosis tunggal/terbagi. Dewasa: 25200 mg/hari
Untuk aldosteronism primer: 400 mg/hari Anak-anak: 3 mg/kg BB/hari.
f. Kontraindikasi
Hiperkalemia, gagal ginjal berat Digunakan bersama diuretik hemat kalium dan
suplemen kalium
g. Peringatan dan Perhatian

Hindari pada pasien dengan hiperkalemia atau kerusakan ginjal akut. Gunakan
dengan hati-hati pada pasien yang berisiko meningkatkan kemungkinan
hiperkalemia (misalnya diabetes mellitus, pada orang yang lebih tua, pasien
dengan kerusakan hati atau ginjal). Serum K dan Cr harus diukur setelah 4-6 hari
dari dimulainya pengobatan. (Jika kadar serum K antara 5-5.5 mmol/L, kurangi
setengah dosis. Jika kadar serum K >5.5 mmol/L, hentikan pemberian
Spironolactone). Jika dosis ditingkatkan hingga 50 mg/hari, periksa serum K dan
Cr 1 minggu setelah dosis ditingkatkan. Serum K dan Cr harus diawasi terus
selama terapi.
h. Efek Samping
Gangguan GI, sakit kepala, hirsutisme, ataksia, bingung, pembesaran payudara,
hiponatremia, hiperkalemia.
i. Interaksi Obat
Penggunaan bersamaan spironolakton dengan diuretik hemat kalium lainnya,
suplemen kalium, antagonis reseptor angiotensin, kotrimoksazol (dosis besar)
dan inhibitor ACE dapat meningkatkan risiko hiperkalemia, terutama pada pasien
gangguan ginjal.
HEMAPO
a. Komposisi
Setiap 3000 IU hemapo mengandung Epoetin (recombinant human
erythropoetin).
b. Indikasi
Pengobatan anemia yang berhubungan dengan gagal ginjal kronik (renal
anemia) pada pasien dengan dialisis dan non dialisis. Terapi simptomatik anemia
ginjal pada pasien belum dialisis.
c. Dosis dan Cara Pemberian

Untuk pengobatan anemia pada pasien dengan gagal ginjal kronik yang
menjalani dialisis : dosis awal 50 iu/kg IV 3 kali/minggu, ditingkatkan sesuai
respon25 iu/kg 3 kali/minggu dengan interval sedikitnya 4 minggu. Dosis
pemeliharaan : 25-100 iu/kg 3 kali/minggu. Untuk anemia pada pasien dengan
gagal ginjal kronik yang menjalani dialisis peritonel : dosis awal 50 iu/kg IV 2
kali/minggu.
d. Kontraindikasi
Hipertensi berat yang tidak terkontrol. Hipersensitif terhadap produk yang berasal
dari sel mamalia. Hipersensitif terhadap human albumin.
e. Perhatian dan Peringatan
Reaksi anafilaktik, pemakaian pada penderita anemia dengan transformasi blast
berlebihan, epilepsi, trombositosis, gagal hati berat, Defisiensi asam folat dan
vitamin B12. Gagal ginjal. Monitor kadar serum kalium dan fosfat
f. Efek Samping
Sakit kepala, gangguan sensorimotor seperti gangguan bicara, gangguan
berjalan, reaksi kulit, artralgia, mual, edema, fatigue, diare, muntah atau reaksi
pada tempat injeksi.
g. Interaksi Obat
Tidak diketahui adanya interaksi klinis yang signifikan, tetapi efek Erythropoietin dapat
dipotensiasi oleh zat hematinik, seperti : FeSO4
HEMAPO
a. Komposisi :
Setiap tablet mengandung paracetamol 500 mg
b. Indikasi :
Sebagai antipiretik/analgesik
c. Farmakologi :
Parasetamol menunjukkan tindakan analgesik oleh penyumbatan perifer
generasi impuls nyeri. Ini menghasilkan antipyresis dengan menghambat pusat

panas mengatur hipotalamus. Aktivitas anti-inflamasi yang lemah terkait dengan


penghambatan sintesis prostaglandin di SSP. Onset: <1 jam. Durasi: 4-6 jam.
d. Kontraindikasi :
Hipersensitif

terhadap

parasetamol

dan

defisiensi

glucose-6-fosdat

dehidrogenase. Tidak boleh digunakan pada penderita dengan gangguan fungsi


hati.
e. Efek samping :
Dosis besar dapat menyebabkan kerusakan hati.
f. Peringatan dan Perhatian :
Pemberian harus hati-hati pada pasien dengan gangguan ginjal serta
penggunaan jangka panjang pada pasien anemia.
g. Dosis dan cara pemberian :
Diatas 12 tahun

: - 1 g tiap 4 jam, maksimum 4 g sehari

h. Interaksi obat :
Paracetamol diduga dapat menaikkan aktivitas koagulan dari kurmarin