Anda di halaman 1dari 8

Pengukuran tegangan permukaan dapat dilakukan dengan beberapa metode antara lain

(Kosman dkk, 2005);


1. Metode cincin de-Nouy
Cara ini dapat digunakan untuk mengukur tegangan permukaan dan tegangan antar
permukaan zat cair. Prinsip kerja alat ini berdasarkan pada kenyataan bahwa gaya yang
dibutuhkan untuk melepaskan cincin yang tercelup pada zat cair sebanding dengan tegangan
permukaan atau tegangan antar muka. Gaya yang dibutuhkan untuk melepaskan cincin dalam hal
ini diberikan oleh kawat torsi yang dinyatakan dalam dyne.
2. Metode kenaikan kapiler
Metode ini hanya digunakan untuk menentukan tegangan suatu zat cair dan tidak dapat
digunakan untuk menentukan tegangan antar permukaan dua zat cair yang tidak bercampur. Bila
pipa kapiler dimasukkan ke dalam suatu zat cair, maka zat tersebut akan naik ke dalam pipa
sampai gaya gesek ke atas diseimbangkan oleh gaya gravitasi ke bawah akibat berat zat cair.
Komponen gaya ke atas akibat tegangan permukaan yaitu ;
Keliling penampang pipa = 2 r
Sudut kontak antar permukaan zat dengan dinding kapiler = maka gaya ke atas total = 2 r
cos .

Penentuan tegangan permukaan dan tegangan antar muka dapat dilakukan melalui 2 cara,
yaitu:
1. Metode Kenaikan Kapiler (Giancoli, 2001).
Tegangan permukaan diukur dengan melihat ketinggian air/cairan yang naik melalui
suatu kapiler. Metode kenaikan kapiler hanya dapat digunakan untuk mengukur tegangan
permukaan tidak bisa untuk mengukur tegangan antar muka.
2. Metode Tensiometer Du-Nouy (Giancoli, 2001).
Metode cincin Du-Nouy bisa digunakan untuk mengukur tegangan permukaan ataupun
tegangan antar muka. Prinsip dari alat ini adalah gaya yang diperlukan untuk melepaskan suatu
cincin platina iridium yang dicelupkan pada permukaan sebanding dengan tegangan permukaan
atau tegangan antar muka dari cairan tersebut.

Sifat antar muka atau tegangan permukaan suatu cairan penting untuk membuat emulsi,
gel atau krem. Banyak obat yang dibuat dalam bentuk emulsi dan untuk bisa mempertahankan
emulsi ini hingga saatnya dikonsumsi, tentu saja diperlukan pengetahuan tentang teori
pembuatan emulsi. Demikian pula untuk gel atau krem sehingga gel atau krem tidak mencair
pada saat dikemas dan tidak berjamur karena lembab maka diperlukan senyawa pengatur
tegangan muka atau koloid pelindung sebagai penstabil koloid (Widjajanti, Endang, 2009)

1. Metode Kenaikan Pipa Kapiler


Berdasarkan rumus: = 1 2 h gr
Dengan:
= tegangan muka

h = tinggi kenaikan zat cair


= densitas zat cair
g = tetapan gravirasi
r = jari-jari pipa kapiler
karena kadang-kadang penentuan jari-jari pipa kapiler sulit maka digunakan cairan pembanding
(biasanya air) yang sudah diketahui nilai tegangan mukanya.
2. Metode Tetes
Jika cairan tepat akan menetes maka gaya tegangnan permukaan sama dengan gaya yang
disebabkan oleh gaya berat itu sendiri, maka:
mg = 2 r
dengan :
m = massa zat cair
Harus diusahakan agar jatuhnya tetesan hanya disebabkan oleh berat tetesannyasendiri dan
bukan oleh sebab yang lain. Selain itu juga digunakan metode pembanding dengan jumlah
tetesan
untuk volume (V) tertentu Berat satu tetesan = v. /n
3. Metode Cincin
Dengan metode ini, tegangan permukaan dapat ditentukan dengan cepat dengan hanya
menggunakan sedikit cairan. Alatnya dikenal dengan nama tensiometer Duitog, yang berupa
cincin
kawat Pt yang dipasang pada salah satu lengan timbangan. Cincin ini dimasukan ke dalam cairan
yang
akan diselidiki tegangan mukanya dengan menggunakan kawat. Lengan lain dari timbangan
diberi
gayasehingga cincin terangkat di permukaan cairan.

2.8.1. Metode Cincin Du Nouy


Metode cincin du nouy merupakan metode yang paling baik digunakan karena lebih akurat dan cepat
dalam pengukuran tegangan permukaan deterjen, serum, suspensi, koloid dan lain- lain.
Gaya yang dibutuhkan untuk mengangkat cincin dari permukaan air dapat dihitung dari persamaan :

(2.2) RFF4=
R = jari- jari rata- rata cincin
F = gaya yang dibutuhkan untuk mengangkut cincin dari permukaan
= faktor koreksi yang dihitung dengan persamaan berikut :
= (2.3) ()2a()cRFRb+ 2122414
a = 0, 725
b = 0,09075 m-1det2
c = 0,04534 1,679 ( r/ R)
r = Jari- jari kawat yang digunakan untuk membuat cincin
R = jari- jari rata- rata lingkaran
P1 = massa jenis cairan yang ada di bawah
P2 = massa jenis cairan yang berada di atas
Ketika mengukur tegangan permuakaan cairan- cairan, harus diperhatikan bahwa cairan yang ada
dibawah benar- benar membasahi cincin (Bird , 1987)
2.8.2. Metode Tekanan Gelembung Maksimum
Tegangan permukaan menyebabkan adanya perbedaan tekanan pada kedua sisi permukaan cairan
yang lengkung. Tekanan pada sisi yang cembung. Ketika pertama kali tekanan dikenakan, jari- jari
gelembung sangat besar. Sementara gelembung itu mengembang, jari- jarinya akan semakin kecil
sampai nilai minimum. Pada keadaan
Universitas Sumatera Utara

ini jari- jari gelembung sama dengan jari- jari tabung gelas. Bila tekanan terus dinaikkan, jari- jari
gelembung akan membesar kembali sampai akhirnya gelembung ini lepas dari tabung gelas dan naik
ke permukaan cairan, jelas bahwa tekanan maksimum diperoleh pada saat jari- jari minimum.
Tekanan maksimum ini bukan hanya disebabkan perbedaan tekanan pada kedua sisi gelembung,
tetapi juga disebabkan oleh adanya tekanan hidrostatik ( yang bergantung pada ketinggian tabung
gelas dalam cairan ). Jadi tekanan maksimum yang terbaca pada manometer adalah :
(2.4) ()02+=ghrmaks
r = jari- jari tabung gelas
h = jarak ujung tabung gelas dari permukaan cawan
= Massa jenis cairan
=Massa jenis uap cair ( biasanya diabaikan karena << ) ( Bird, 1987) 0 0
Metode tekanan gelembung maksimum memiliki keakuratan di bawah 10 %, yang mana tidak
tergantung pada jarak kontak dan hanya merupakan sebuah pengetahuan dasar dari densitas suatu
cairan ( Jika menggunakan pipa ganda ) dan pengukurannya juga relatif cepat. Rata- rata sebuah
gelembung harganya sekitar 1/ sek (Adamson 1990).
2.8.3. Metode Kenaikan Kapiler
Metode ini didasarkan pada kenyataan bahwa bila sebatang pipa kapiler dimasukan kedalam cairan
maka permukaan cairan dalam pipa kapiler dapat mengalami kenaikan atau penurunan. Apabila
cairan membasahi bejana ( < 90 ) maka permukaan cairan akan naik. Sedangkan bila cairan tidak
membasahi bejana ( > 90 ) permukaan cairan akan turun. Peristiwa naik turunnya permukaan cairan
dalam kapiler ini disebut dengan kapilaritas.
Kenaikan atau penurunan cairan dalam kapiler disebabkan oleh adanya tegangan permukaan yang
bekerja pada permukaan cairan yang menyentuh dinding
Universitas Sumatera Utara

sepanjang keliling pipa. Akibat tegangan permukaan ini pipa akan memberikan gaya reaksi pada
permukaan cairan yang besarnya sama tapi arahnya berlawanan
( Yazid, 2005 ).
Pada peristiwa terangkatnya cairan pada kolom pipa, besarnya gaya keatas akibat tegangan
permukaan diberikan persamaan :
F1 = 2 r cos (2.5)
F1 = Gaya ke atas akibat tegangan permukaan
r = Jari- jari kapiler
= tegangan permukaan
= sudut kontak
Kenaikan cairan tidak dapat berlangsung terus, karena pada permukaan cairan juga bekerja gaya
akibat berat cairan ( F2 ) yang arahnya ke bawah sebesar :
F2 = d V g (2.6)
Karena V = r2 h, maka :
F2 = r2 h d g (2.7)
d = rapatan cairan
g = percepatan grafitasi
h = kenaikan atau penurunan cairan dalam kapiler
Pada saat setimbang berlaku F1 dan F2 , sehingga diperoleh :
2 r cos = r2 h d g (2.8)
(2.9) cos2rhgd=
Universitas Sumatera Utara

Untuk cairan yang membasahi bejana seperti air 0, sehingga cos = 1. Persamaan menjadi :
(2.10) 2rhgd=
Sedangkan untuk cairan yang tidak membasahi bejana seperti raksa = 140, sehingga cos = - 0,766
( berharga negatip). Akibatnya h memiliki harga negatip yang berarti cairan mengalami penurunan
atau ditekan dalam kapiler.
2.8.4. Metode Lempengan Wilhelmy
Metode ini didasarkan pada gaya yang diperlukan untuk menarik pelat tipis dari permukaan cairan.
Pelat digantung pada salah satu lengan neraca dan dimasukkan kedalam cairan yang akan diselidiki.
Besarnya gaya tarik pada neraca yang digunakan untuk melepas pelat dari permukaan cairan dicatat.
Pada saat pelat terlepas berlaku hubungan :
F = W + 2 l(2.11)
Sehingga tegangan permukaan dapat dihitung sebagai :
(2.12) lWF2=
Dimana : = tegangan permukaan
F = gaya tarik yang dicatat
W = berat lempeng ( pelat )
1 = lebar lempeng
2 = faktor karena ada dua permukaan pada lempeng
Dalam metode ini diandaikan sudut kontak = 0 0, dan pengaruh dari ujung- ujung lempeng dapat
diabaikan ( Yazid, 2005 ).
Pada metode ini, digunakan lempengan mika tipis atau kaca slide mikrosip yang digantung pada
neraca. Pengukuran dapat dilakukan dengan cara statistik ataupun dengan detasment yang secara
akurat diberikan pada persamaan ideal.
Universitas Sumatera Utara

Jika pengukurannya dilakukan dengan metode detasmen, prosedurnya hampir sama dengan metode
cincin Du Nouy, tetapi faktor koreksi hanya 0,1 % ( Adamson, 1990).