Anda di halaman 1dari 17

BAB I

LAPORAN KASUS

1.1 IDENTITAS PASIEN


Nama

: Tn. H

Umur

: 43 tahun

Jenis kelamin

: laki-laki

Status perkawinan

: Menikah

Pekerjaan

: Swasta

Alamat

: Desa Tanjung Lengkayap

Suku bangsa

: Indonesia

Agama

: islam

Pendidikan

: S1

Tanggal masuk RS

: 7 Juli 2016

No.RM

: 22-55-14

1.2. ANAMNESIS
Diambil secara autoanamnesis dan alloanamnesis pada Selasa 7 Juli 2016
Keluhan Utama
Nyeri dan sulit menggerakkan tungkai kanan setelah kecelakaan lalu lintas.
Keluhan Tambahan
Tampak luka terbuka di sertai dengan kelainan bentuk pada tungkai kanan.
Riwayat Penyakit Sekarang
4 jam SMRS, motor yang dikendarai penderita bertabrakan dengan motor lain
dari arah berlawanan, penderita terjatuh dengan tungkai kanan membentur trotoar dan
tertimpa badan motor. Lalu penderita dibawa ke RSUD Ibnu Sutowo diantar oleh warga
sekitar. Menurut pengakuan os tidang mengalami penurunan kesadaran, mual (-), muntah
(-), perdarahan THT (-). Pada saat kejadian os tidak menggunakan alat pelindung kepala.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat batuk lama, hipertensi, diabetes mellitus, asma, sakit jantung, sakit
paru, alergi obat serta makanan, riwayat operasi, dan riwayat dirawat di rumah sakit
sebelumnya disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga
Os menyangkal adanya riwayat batuk lama, hipertensi, diabetes mellitus,
asma, sakit jantung, sakit paru, alergi obat serta makanan baik pada kedua orangtua
maupun pada saudara sekandung.
Riwayat Kebiasaan
Os merokok, tetapi menyangkal minum alkohol, os mengaku jarang
berolahraga. Os juga jarang mengonsumsi sayur dan buah-buahan. Os jarang
mengonsumsi air putih. Setiap pagi meminum kopi sebanyak 2 gelas kecil.
PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis

Keadaan umum
o Kesadaran
o GCS
Tanda vital
o Tekanan darah
o Nadi
o Suhu
o Pernapasan
Status gizi
o Berat badan
o Tinggi badan
o Kesan gizi

: compos mentis
: E4M6V5
: 90/60mmHg
: 110x/menit
: 36,5oC
: 24x/mnt
: 65kg
: 165cm
: BMI 23,44 (normal)

Habitus
Kepala

tersebar merata, tidak mudah dicabut


Mata
: CA -/-, SI -/-, oedem palpebra -/-, refleks

cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak langsung +/+


Telinga
: nyeri tekan tragus (-), liang telinga lapang +/+, refleks

: atletikus
: normocephali, deformitas (-), rambut hitam

cahaya +/+
2

Hidung

darah (-), konka hiperemis dan hipertrofi -/Mulut


: bibir normal, tidak terdapat kelainan, tidak

: deformitas (-), deviasi septum (-), secret (-),

terdapat karies, trismus (-), lidah kotor (-), sariawan (-), faring hiperemis (-),

tonsil T1-T1 tenang.


Leher
Thoraks

: KGB dan tiroid tidak teraba membesar

Bentuk simetris kanan kiri, tidak ada rongga thoraks yang tertinggal gerak
napasnya, fokal fremitus +/+ sama kuat kanan dan kiri
o Jantung
o Paru

: S1 S2 reguler, murmur (-), gallop (-)


: suara napas vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing

-/Abdomen

nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), hepar lien tidak teraba membesar
Extremitas
: hangat + +
oedem - -

: Lemas, datar, timpani, bising usus 2x/menit,

Status Lokalis

Regio cruris dextra


o Look

: tampak luka terbuka dengan ukuran 15x8cm dengan

dasar tulang, oedem(-), darah (+), deformitas (+), tepi luka tampak
tidak rata dan kotor
o Feel
: teraba hangat (+), nyeri tekan (+), pulsasi a. Dorsalis
pedis (+), akral hangat (+),
o Move
: terdapat keterbatasan gerak aktif, false movement (+)

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium Tanggal 7 Juli 2016

Pemeriksaan
Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit
Trombosit
Eritrosit
Bleeding time

Hasil
12,3
35
25.800
260.000
4,65
2

Nilai normal
14-18g/dl
40-48%
5000-10000/uL
150-400ribu/mm3
4,5-5,5juta/mm3
1-6menit
3

Clotting time
Glucotest
Golongan darah

6
201
O

10-16menit
80-125%

Radiologi tanggal 7 Juli 2016

Rongent cruris

Cruris dextra

Kesan :
o Fraktur tibia fibula dextra 1/3 distal comminuted

DIAGNOSIS KERJA
Fraktur Terbuka 1/3 Distal Os Tibia Fibula Dextra Grade IIIB
PENATALAKSANAAN
Non-operatif

dilakukan pembersihan pada area luka, luka dibalut


reposisi
dilakukan pemasangan spalk
pasien di rawat
IVFD RL kocor Taka
IVFD RL kocor Taki
Keterolac amp 3% 3x1 (IV)
4

ambacym vial 2x1 (IV) ST


asam tranexamat amp 500mg 3x1 (IV)
ranitidin amp 50mg 2x1 (IV)
tetagam 1500iu (IM)
pasang DK

Operatif
jenis operasi elektif
dilakukan debridemen pada cruris dextra pada tanggal 8 Juli 2016
Saran Rujuk Palembang untuk dilakukan ORIF
PROGNOSIS
Ad vitam

: bonam

Ad functionam

: dubia ad bonam

Ad sanationam

: dubia ad bonam

RESUME
Pada anamnesis didapatkan data bahwa penderita berusia 43 tahun beralamat di
desa Tanjung Lengkayap datang berobat ke RSMH dengan keluhan sulit dan nyeri
menggerakkan tungkai kanan yang di sertai luka terbuka setelah kecelakaan lalu lintas.
Dari anamnesis lebih lanjut diketahui bahwa 4 jam SMRS, motor yang dikendarai
penderita ditabrak motor lain dari arah berlawanan. Penderita terjatuh dengan tungkai
kanan terbentur trotoar dan tertimpa motor. Penderita kemudian langsung dibawa ke
RSUD Ibnu Sutowo Baturaja. Pada pemeriksaan fisik, status generalis didapatkan
pernafasan, nadi, tekanan darah dan suhu dalam batas normal. Dari hasil pemeriksaan
fisik, pada status lokalis didapatkan pada regio tibia-fibula dextra tampak adanya luka
terbuka dengan dasar tulang yang terexpose disertai deformitas, NVD baik dan ROM
aktif pasif terbatas, yaitu penderita kesulitan menggerakkan secara aktif dan pasif sendi
lutut. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan berupa pemeriksaan radiologis dengan hasil
rontgen tibia fibula dextra AP/Lateral didapatkan adanya fraktur tibia fibula dextra 1/3
distal displaced.
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang
telah dilakukan disimpulkan bahwa pasien ini didiagnosa dengan fraktur tibia fibula
dextra 1/3 distal terbuka. Penatalaksanaan pada pasien ini direncanakan terapi konservatif
dilanjutkan terapi operatif. Prognosis pasien ini adalah Quo ad vitam bonam dan quo ad
fungtionam bonam.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
ANATOMI OS TIBIA FIBULA
Tulang adalah suatu jaringan dan organ yang terstruktur dengan baik, tulang
terdiri atas daerah yang kompak pada bagian luar yang disebut dengan korteks dan
bagian dalam yang bersifat spongiosa berbentuk trabekula dan dilapisi oleh
periosteum pada bagian luarnya sedangkan yang membatasi tulang dari cavitas
medullaris adalah endosteum , tulang tersusun atas:
a. Komponen sel :osteocytus, osteoblastocytus dan osteoclastocytus
b. Komponen matrix ossea: serabut-serabut kolagen tipe 1 dan substantia
fundamentalis
Arsitektur jaringan tulang dikenal dengan 2 jenis yaitu:
a. Jaringan tulang dengan arsitektur serupa jala

b. Jaringan tulang yang menunjukkan gambaran lembaran-lembaran (lamella


ossea). Masing-masing memiliki deretan lacuna ossea yang pada keadaan
segar ditempati oleh osteocytus.

Os tibia merupakan os longum yang terletak di sisi medial region cruris. Ini
merupakan tulang terpanjang kedua setelah os femur. Tulang ini terbentang ke
proksimal untuk membentuk articulatio genu dan ke distal terlihat semakin mengecil.
Os fibula atau calf bone terletak sebelah lateral dan lebih kecil dari tibia. Extremitas
proximalis fibul aterletak agak posterior dari caput tibia, dibawah articulatio genu.
Fascia cruris merupakan tempat perleketan musculus dan bersatu dengan perosteum.
Ke proximal akan melanjutkan diri ke fascia lata, dan akan melekat di sekitar
articulatio genu ke os patella, ligamentum patellae, tuberositas tibiae, dan capitulum
fibulae. Ke posterior membentuk fascia poplitea yang menutupi fossa poplitea. Disini
tersusun oleh serabut-serabut transversal yang ditembus oleh vena saphena parva.
Fascia ini menerima serabut-serabut tendo m.biceps femoris femoris disebelah lateral
dan tendo m. Sartorius, m.gracilis, m.semitendinosus, dan m.semimembranosus
disebelah medial. Keanterior, fascia ini bersatu dengan perosteum tibia serta
perostenium capitulum fibulae dan malleolus fibulae. Ke distal, fascia ini melanjutkan
diri ke raetinaculum mm.extensorum superior dan retinaculum mm. flexorum. Fascia
ini menjadi tebal dan kuat dibagian proximal dan anterior cruris, untuk perlekatan
m.tibialis anterior dan m.extensor digitorum longus. Tetapi, fascia ini tipis dibagian
posterior yang menutupi m.gastrocnemeus dan m.soleus. disisi lateral cruris, fascia ini
membentuk septum intermusculare anterius dan septum intermusculare posterius.
7

Musculus di region cruris dibedakan menjadi tiga kelompok. Yaitu (a)


kelompok anterior, (b) kelompok posterior dan (c) kelompok lateralis.
Musculus di regio anterior
o
o
o
o

M. tibialis anterior
M. extensor hallucis longus
M. extensor digitorum longus dan m.peroneus tertius
Musculus regio cruris posterior kelompok superficialis
o M. Gastrocnemius
o M. Soleus
o M. Plantaris
o Musculus regio cruris posterior kelompok profunda
M. Popliteus
M. flexor hallucis longus
M. flexor digitorum longus
M. tibialis posterior
Musculus region cruris lateralis
M. peroneus longus
M. peroneus brevis

Definisi Fraktur
8

Fraktur adalah putusnya kontinuitas tulang, tulang rawan epifisis atau tulang
rawan sendi.(1)
Klasifikasi
Secara klinis, fraktur dibagi menurut ada-tidaknya hubungan patahan tulang dengan
dunia luar, yaitu fraktur tertutup dan fraktur terbuka. Fraktur terbuka memungkinkan
masuknya kuman dari luar ke dalam luka. Patah tulang terbuka dibagi menjadi tiga
derajat(Gustilo-Anderson classification), yang ditentukan oleh berat ringannya luka
dan fraktur yang terjadi.
Derajat luka terbuka:

Tipe I
o Luka kurang dari 1 cm dengan cedera jaringan lunak minimal
o Dasar luka bersih
o Fraktur biasanya melintang sederhana, fraktur oblik pendek dengan
kominusminimal
Tipe II
o Luka lebih besar dari 1 cm dengan cedera jaringan lunak moderat
o Fraktur biasanya melintang sederhana, fraktur oblik pendek dengan
kominusi minimal
Tipe III
o Fraktur yang melibatkan kerusakan parah pada jaringan lunak,
termasuk struktur otot,kulit dan neurovaskular.
o Subtipe IIIA, jaringan lunak masih adekuat tanpa memandang luas
luka.Termasuk didalamnya fraktur segmental atau fraktur kominutif.
Subtipe IIIB,hilangnya jaringan lunak disertai pengikisan jaringan
periosteal dan tulang tampak dari luar. Subtipe IIIC, fraktur dengan
cedera arteri utama yang membutuhkan perbaikan segera untuk
mempertahankan bagian distal dari fraktur.

Diagnosis fraktur
Anamnesa
Bila tidak ada riwayat trauma, berarti fraktur patologis. Trauma harus diperinci
kapanterjadinya, jenisnya, berat-ringannya trauma, arah trauma dan posisi pasien atau
ekstremitasyang bersangkutan (mekanisme trauma). Jangan lupa untuk meneliti
kembali trauma ditempat lain secara sistematik dari kepala, muka, leher, dada dan
perut.
9

Pemeriksaan Umum
Dicari kemungkinan komplikasi umum, misalnya: syok pada fraktur multiple,
fraktur pelvis atau fraktur terbuka, tanda-tanda sepsis pada fraktur terbuka terinfeksi.
Patofisiologi fraktur
Fraktur terjadi apabila ada suatu trauma yang mengenai tulang, dimana trauma
tersebut kekuatannya melebihi kekuatan tulang, ada 2 faktor yang mempengaruhi
terjadinya fraktur yaitu ekstrinsik (meliputi kecepatan, sedangkan durasi trauma yang
mengenai tulang, arah dan kekuatan), intrinsik meliputi kapasitas tulang
mengabsorbsi energi trauma, kelenturan, kekuatan adanya densitas tulang tulang.yang
dapat menyebabkan terjadinya patah pada tulang bermacam-macam antaralain trauma
(langsung dan tidak langsung), akibat keadaan patologi serta secara spontan. Trauma
langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah
tekanan. Trauma tidak langsung terjadi apabila trauma dihantarkan ke daerah yang
lebih jauh dari daerah fraktur, pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.
Tekanan pada tulang dapat berupa teknan berputar, membengkok, kompresi bahkan
tarikan. Sementara kondisi patologis disebabkan karena kelemahan tuklang
sebelumnya akibat kondisi patologis yang terjadi di dalam tulang. Akibat trauma pada
tulang tergantung pada jenis trauma, kekuatan dan arahnya.
Pemeriksaan Status Lokalis
Tanda-tanda klinis pada fraktur tulang panjang:

Look
Cari apakah terdapat:
o Deformitas, terdiri dari penonjolan yang abnormal (misalnya pada
fraktur kondilus lateralis humerus), angulasi, rotasi dan shortening.
o Functio laesa (hilangnya fungsi), misalnya pada fraktur tibia tidak
dapat berjalan.Lihat juga ukuran panjang tulang, bandingkan kiri

dan kanan.
Feel
1. Tem p e r a t u r s e t e m p a t y a n g m e n i n g k a t
2. N y e r i
tekan; n yeri
tekan
biasanya disebabkan

oleh

yang superfisisal

k e r u s a k a n jaringan lunak yang

dalam akibat fraktur pada tulang.


10

3. Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan


secara hati-hati.
4. P e m e r i k s a a n v a s k u l e r p a d a d a e r a h d i s t a l

trauma berupa

p a l p a s i a r t e r i r a d i a l i s , arteri dorsalis pedis, arteri tibialis


posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena. Refilling
(pengisian) arteri pada kuku.

Move,untuk mencari:
o Krepitasi, terasa bila fraktur digerakkan. Pemeriksaan ini sebaiknya
tidak dilakukan karena menambah trauma.
o Nyeri bila digerakkan, baik pada gerakan aktif atau pasif.
o Seberapa jauh gangguan-gangguan fungsi, gerakan-gerakan yang
tidak mampu dilakukan, range of joint movement (derajat dari ruang
lingkup gerakan sendi) dan kekuatan.

Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi dilakukan untuk menentukan jenis dan kedudukan fragmen
fraktur. Foto Rontgen harus memenuhi beberapa syarat (rule of two):
o Dua pandangan
Fraktur atau dislokasi mungkin tidak terlihat pada film sinar-X tunggal
dansekurang-kurangnya

harus

dilakukan

sudut

pandang

(AP

&

Lateral/Oblique).
o Dua sendi
Pada lengan bawah atau kaki, satu tulang dapat mengalami fraktur
atau angulasi. Tetapi angulasi tidak mungkin terjadi kecuali kalau tulang
yang lain juga patah, atau suatu sendi mengalami dislokasi. Sendi-sendi diatas
dan di bawah fraktur keduanya harus disertakan dalam foto sinar-X.
Proses penyembuhan tulang
1. Fase hematoma (dalam waktu 24 jam timbul perdarahan)
Apabila terjadi fraktur maka pembuluh darah kecil yang melewati kanalikuli
dalam sistem harvesian mengalami robekan pada daerah fraktur dan akan
membentuk hematoma diantara kedua sisi fraktur. Hematoma yang besar
diliputi oleh periosteum. Periosteum akan terdorong dan dapat mengalami
11

robekan akibat tekanan hematoma yang terjadi sehingga dapat terjadi


ekstravasasi darah kedalam jaringan lunak. Osteosit dengan lakunanya yang
terletak beberapa milimeter dari daerah fraktur akan kehilangan darah dan
mati,yang akan menimbulkan suatu daerah cicin avaskuler tulang yang mati
pada sisi-sisi fraktur segera setelah trauma.
2. Fase proliferasi/inflamasi (Terjadi 1 5 hari setelah trauma)
Terjadi reaksi

jaringan lunak

sekitar fraktur sebagai

suatu reaksi

penyembuhan. Penyembuhan terjadi karena adanya sel-sel osteogenik yang


berproliferasi dari perosteum untuk membentuk kalus eksterna serta pada
daerah endosteum membentuk kalus interna sebagai aktivitas seluler dalam
canalis medullaris. Apabila terjadi robekan hebat pada periosteum maka
penyembuhan sel berasal dari sel-sel mesenkimal yang tidak berdiferensiasi
kedalam jaringan lunak. Pada tahap awal penyembuhan fraktur terjadi
penambahan jumlah sel-sel osteogenik yang memberikan pertumbuhan yang
cepat melebihi sifat tumor ganas. Jaringan seluler tidak terbentuk dari
organisasi pembekuan hematoma suatu daerah fraktur. Setelah beberapa
minggu kalus dari fraktur akan membentuk satu massa yang meliputi jaringan
osteogenik. Pada pemeriksaan radiologi kalus belum mengandung tulang
sehingga masih merupakan suatu daerah radiolusen.
3. Fase pembentukan kalus (terjadi 6 10 hari setelah trauma)
Setelah pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari setiap fragmen
sedasar yang berasal dari osteoblas dan kemudian pada kondroblas
membentuk tulang rawan. Tempat osteoblas diduduki oleh matriks interseluler
kolagen dan perlekatan polisakarida oleh garam-garam kalsium membentuk
tulang yang imatur. Bentuk tulang ini disebut woven bone (merupakan
indikasi radiologi pertama penyembuhan fraktur).
4. Fase konsolidasi (2 3 minggu setelah fraktur sampai dengan sembuh)
Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan-lahan diubah
menjadi tulang yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang menjadi
struktur lamelar dan kelebihan kalus dapat diresorpsi secara bertahap.

12

5. Fase remodeling (waktu lebih 10 minggu)


Perlahan perlahan terjadi resorbsi secara osteoklastik dan tetap terjadi proses
osteoblastik pada kalus eksterna secara perlahan-lahan menghilang. Kalus
intermediet berubah menjadi tulang yang kompak dan berisi sistem haversian
dan kalus bagian dalam akan mengalami peronggaan untuk membentuk ruang
sum-sum.
Sementara penyembuhan fraktur tulang kanselosa pada metafisis tulang
panjang atau tulang-tulang pendek terjadi secara cepat karena beberapa faktor, yaitu :
adanya vaskularisasi yang cukup, terdapat permukaan yang lebih luas, kontak yang
baik memberikan kemudahan vaskularisasi yang cepat, hematoma memegang peranan
dalam penyembuhan fraktur. Tulang kanselosa yang berlokalisasi pada metafisis
tulang panjang, tulang pendek serta tulang pipih diliputi oleh korteks yang tipis.
Penyembuhan fraktur pada daerah tulang kanselosa melalui proses pembentukan
kalus interna dan endosteal. Proses osteogenik penyembuhan sel dari bagian endosteal
yang menutupi trabekula,
berproliferasi membentuk woven bone primer di dalam daerah fraktur yang disertai
hematoma. Pembentukan kalus interna mengisi ruangan pada daerah fraktur.
Faktor-faktor yang yang mempengaruhi penyembuhan tulang, antara lain:
a. Faktor yang mengganggu penyembuhan fraktur
1. Imobilisasi yang tidak cukup
o Imobilisasi dalam balutan gips umumnya memenuhi syarat imobilisasi,
asalkan persendian proksimal dan distal dari patah tulang turut di imobilisasi.
o Gerakan minimal pada ujung pecahan patah tulang di tengah otot dan didalam
lingkaran kulit dalam gips, yang misalnya disebabkan oleh latihan ekstremitas
yang

patah

tulang

tidak

mengganggu,

bahkan

dapat

merangsang

perkembangan kalus. Hal ini berlaku utuk patah tulang yang ditangani gips
maupun traksi.
2. Infeksi
o Infeksi di daerah patah tulang merupakan penyulit berat.
o Hematom merupakan lingkungan subur untuk kuman patologik yang dapat
menyebabkan osteomyelitis di kedua ujung patah tulang, sehingga proses
penyembuhan sama sekali tidak dapat berlangsung.
3. Ruang diantara kedua fragmen serta Interposisi oleh jaringan lunak
13

o Interposisi jaringan seperti otot atau tendo antara kedua fragmen patah tulang
dapat menjadi halangan perkembangan kalus antara ujung patahan tulang.
Penyebab yang lain, karena distraksi yang mungkin disebabkan oleh kelebihan
traksi atau karena tonus dan tarikan otot.
4. Gangguan perdarahan setempat
o Pendarahan jaringan tulang yang mencukupi untuk membentuk tulang baru
merupakan syarat mutlak penyatuan fraktur.
5. Trauma lokal ekstensif
6. Kehilangan tulang
7. Rongga atau jaringan diantara fragmen tulang
8. Keganasan lokal
9. Penyakit tulang metabolik (mis; penyakit paget)
10. Radiasi (nekrosis radiasi)
11. Nekrosis avaskuler
Apabila kedua fragmen mempunyai vaskularisasyang baik, maka
penyembuhan biasanya tanpa komplikasi akan tetapi bila salah satu sisi fraktur
vaskularisasinya jelek sehingga mengalami kematian maka akan menghambat
penyembuhannya.
12. Fraktur intra artikuler (cairan sinovial mengandung fibrolisin, yang akan melisis
bekuan darah awal dan memperlambat pembentukan jendalan)
13. Usia (lansia sembuh lebih lama)
Waktu penyembuhan tulang pada anak-anak jauh lebih cepat daripada orang
dewasa. Hal ini terutama disebabkan karena aktifitas proses osteogenesis pada
periosteum dan endosteum dan juga berhubungan dengan proses remodeling
tulang pada bayi sangat aktif dan makin berkurang apabila umur bertambah.
14. Kortikosteroid (menghambat kecepatan perbaikan)
Faktor yang mempercepat penyembuhan fraktur
1. Imobilisasi fragmen tulang
2. Kontak fragmen tulang maksimal
3. Asupan darah yang memadai (dengan syarat imobilisasi yang baik)
4. Nutrisi yang baik
5. Latihan-pembebanan berat badan untuk tulang panjang
14

6. Hormon-hormon pertumbuhan, tiroid kalsitonin, vitamain D, steroid anabolic


7. Potensial listrik pada patahan tulang
Penyembuhan fraktur berkisar antara 3 minggu sampai 4 bulan. Waktu
penyembuhan pada anak secara kasar waktu penyembuhan pada dewasa.

Penatalaksanaan
1. Konservatif
Pengobatan standar dengan cara konservatif berupa reduksi fraktur dengan
manipulasi tertutup dengan pembiusan umum. Pemasangan gips sirkuler untuk
immobilisasi,dipasang sampai diatas lutut. Prinsip reposisi adalah fraktur
tertutup, ada kontak 70% atau lebih, tidak ada angulasidan tidak ada rotasi.
Apabila ada angulasi, dapat dilakukan koreksi setelah 3 minggu(union secara
fibrosa). Pada fraktur oblik atau spiral, imobilisasi dengan gips biasanyasulit
dipertahankan,

sehingga

bracing adalah
pada tendo patella

mungkin

diperlukan

tindakan

teknik pemasangan

gips sirkuler

(gips Sarmiento)

yang biasanya

operasi

dengan

Cast

tumpuan

dipergunakan setelah

pembengkakan mereda atauterjadi union secara fibrosa.


2. Terapi operatif dilakukan pada fraktur terbuka, kegagalan dalam terapi
konservatif,fraktur tidak stabil dan adanya nonunion. Metode pengobatan
operatif adalah sama ada pemasangan plate dan screw, atau nail intrameduler,
atau pemasangan screw semata-mataatau pemasangan fiksasi eksterna.
Indikasi pemasangan fiksasi eksterna pada fraktur tibia:
o Fraktur tibia terbuka grade II dan III terutama apabila terdapat kerusakan
jaringanyang hebat atau hilangnya fragmen tulang.
o Pseudoartrosis yang mengalami infeksi (infected pseudoarthrosis)
Penatalaksanaan Fraktur dengan operasi, memiliki 2 indikasi, yaitu:
o Absolut
Fraktur terbuka yang merusak jaringan lunak, sehingga memerlukan Operasi

dalam penyembuhan dan perawatan lukanya.


Cidera vaskuler sehingga memerlukan operasi untuk memperbaikijalannya
darah ditungkai.
15

Fraktur dengan sindroma kompartemen.


Cedera multipel, yang diindikasikan untuk memperbaiki mobilitas pasien,
juga mengurangi nyeri.
o

Relatif , jika adanya:


Pemendekan
Fraktur tibia dengan fibula intak
Fraktur tibia dan fibula dengan level yang sama

Komplikasi fraktur
Komplikasi segera
o Lokal:
Kulit dan otot; berbagai vulnus, kontusio, avulsi
Vaskular; terputus, kontusio, perdarahan Organ dalam; jantung, paru-paru, hepar, limpa (pada fraktur kosta), bulibuli(pada fraktur pelvis)
Neurologis; otak, medulla spinalis, kerusakan saraf perifer
o Umum:
Trauma multiple
Syok
Komplikasi dini
o Lokal:
Nekrosis kulit,otot, sindroma kompartemen, thrombosis, infeksi sendi,
osteomyelitis.
o Umum:
ARDS, tetanus
Komplikasi lama
o Lokal:
Tulang:

malunion,

nonunion,

delayed

union;

osteomyelitis;

gangguan pertumbuhan; patah tulang rekuren.


Sendi: ankilosis, penyakit degeneratif sendi pasca trauma
Miositis osifikan
Distrofi reflex

16

DAFTAR PUSTAKA
1. Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi,cetakan ke-V. Jakarta:
Yarsif Watampone, 2008. 332-334.
2. Sjamsuhidajat R, Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. Jakarta: EGC, 2005.
840-841.
3. Mansjoer, Arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 2. Jakarta: Media
Aesculapius, 2000.346-370.
4. Price, Sylvia Anderson (1995). Phatophysiology: Clinical Concept of Disease
Process.Alih bahasa: Peter Anugerah, Patofisiologi: Konsep Klinis Prosesproses Penyakit. Edisi 4 vol. 2. Jakarta :EGC.
5. Brinker. Review Of Orthopaedic Trauma, Pennsylvania: Saunders Company,
2001. 127-135.
6. Putz R, Pabst R. Atlas Anatomi Manusia Sobotta, Jilid 2. Jakarta: EGC,
2000.284.
7. Ruedi. P. Thomas. AO Principles of Fractures Management. New York: AO
Publishing. 2000
8. Snell, Anatomi Klinik. Bagian 2. Edisi ketiga. Jakarta: EGC. 1998
9. Doherty M. Gerard. Current Diagnosis and Treatment Surgery.13th Edition.
New York: Mc Grow Hill. 2009
10. Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi ketiga. Jakarta:
Media Aesculapius. 2000.
11. Sjamsuhidajat R, Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi II. Jakarta: EGC.
2004.
12. Keany

E.

James.

Femur

Fracture.

Available

from:

http://emedicine.medscape.com/article/824856-treatment
13. Bergman, Ronald, Ph.D. Anatomy of First Aid: A Case Study Approach.
Available from: http://www.anatomyatlases.org/firstaid/ThighInjury.shtml
14. Apley AG, Solomon L. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley. Jakarta:
Widya Medika. 1995.

17

Anda mungkin juga menyukai