Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN KOMPREHENSIF I

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN


DASAR MANUSIA PADA PASIEN DENGAN DEMAM TYPOID PADA
ANAK DI RUANG DAHLIA DI RUMAH SAKIT DAERAH BALUNG
JEMBER

oleh:
Velinda Dewi Lutfiana
NIM 142310101004

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
JEMBER
2016

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan kasus komprehensif I yang dibuat oleh:


Nama : Velinda Dewi L
NIM

: 142310101004

Judul : Asuhan Keperawatan Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia


Pada Pasien Dengan Demam Typoid Pada Anak Di Ruang Dahlia Di Rumah Sakit
Daerah Balung Jember

telah diperiksa dan disahkan oleh pembimbing pada:


Hari

Tanggal :
Jember, ......................... 2016

TIM PEMBIMBING
Pembimbing Akademik,

Pembimbing Klinik,

__________________________

_________________________

NIP..............................................

NIP............................................

DAFTAR ISI
Lembar pengesahan....................................................................................ii

Daftar isi ....................................................................................................iii


A. ..Definisi Penyakit ..1
B. Epidemiologi.........................................................................................1
C. Etiologi..................................................................................................2
D. Tanda dan Gejala..................................................................................2
E. Patofisiologi dan Clinical Pathway......................................................5
F.

Penatalaksanaan Medis.........................................................................9

G. Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia................................................9


H. Penatalaksanaan Keperawatan.............................................................10
J.1

Diagnosa Keperawatan yang Sering Muncul (PES)...................10

J. 2 Perencanaan/Nursing Care Plan..................................................12


I.

Daftar Referensi..............................................................................15

A. Definisi Penyakit

Demam thypoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya


mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu
minggu, gangguan pada pencernaan dan gangguan kesadaran (Nursalam
dkk, 2005)
Demam thypoid merupakan penyakit sistemik bersifat akut yang
disebabkan oleh salmonella typhi. Penyakit ini ditandai oleh panas
berkepanjangan, ditopang dengan bekteremia tanpa keterlibatan struktur
endothelia atau endokardial dan invasi bakteri sekaligus multiplikasi ke
dalam sel fagosit monocular dari hati, limpa, kelenjar limfe usus dan
peyers patch dan dapat menular pada orang lain melalui makanan atau air
yang terkontaminasi (Sumarno, 2002)
Demam thypoid adalah penyakit demam akut yang disebabkan
oleh infeksi salmonella typhii (ovedoff,2002)
Dari beberapa pengertian diatas penulis menyimpulkan bahwa
demam thypoid adalah penyakit akut yang menyerang saluran pencernaan
disertai dengan gejala demam selama satu minggu atau lebih yang
disebabkan oleh salmonella typhii. Penyakit ini dapat menular ke orang
lain melalui makanan atau air yang terkontaminasi.
B. Epidemiologi
Demam thypoid masih dijumpai secara luas di berbagai negara
berkembang yang terutama didaerah tropis dan subtropis. Penyakit ini
juga merupakan maslah kesehatan masyarakat yang penting karena
penyebarannya berkaitan erat dengan urbanisasi, kepadatan penduduk,
kesehatan lingkungan, sumber air dan sanitasi yang buruk serta standar
hygiene industry pengolahan makanan yang masih rendah.
Demam thypoid merupakan penyakit infeksi menular yang dapat
terjadi pada anak maupun dewasa. Anak yang paling rentan terkena
demam thypoid, walaupun gejala yang dialami anak lebih ringan daripada
orang dewasa. Hampir semua daerah endemic, insiden demam thypoid
banyak terjadi pada anak usia 5-19 tahun.
C. Etiologi
Demam thypoid disebabkan oleh bakteri salmonella typhi. Selain itu juga
dapat disebabkan oleh salmonella paratyphi A, B, dan C namun gejalanya lebih
ringan. Bakteri salmonella typhi adalah berupa basil gram negative, bergerak
2

dengan rambut getar, tidak berspora dan mempunyai tiga macam antigen yaitu
antigen O (somatic yang terdiri atas zat kompleks lipoposakarida), antigen H
(flagela), dan antigen VI.
Dalam serum penderita, terdapat zat (antiglutinin) terhadap ketiga macam
antigen tersebut. Kuman tumbuh pada suasana aerob dan fakultatif anaerob pada
suhu 15-41 C (optimum 37 C) dan pH pertumbuhan 6-8. Factor pencetus lainnya
adalah lingkungan, system imun yang rendah, feses, urin, makanan/minuman
yang terkontaminasi, dan vomitus.
Terdapat sumber penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam
thypoid dan pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam
thypoid dan masih terus mengeksresi salmonella typhi dalam tinja dan air kemih
selama lenih dari 1 tahun.
D. Tanda dan Gejala
Demam thypoid pada anak biasanya lebih ringan daripada orang dewasa. Masa
tunas 10-20 hari, yang tersingkat 4 hari infeksi terjadi melalui makanan.
Sedangkan jika melalui minuman yang terlama 30 hari. Selama masa inkubasi
mungkin ditemukan gejala prodomal, perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri, nyeri
kepala, pusing dan tidak bersemangat, kemudian menyusul gejala klinis yang
biasanya ditemukan yaitu :
1. Demam
demam berlangsung selama 3 minggu bersifat febris remitten dan suhu
tidak terlalu tinggi. Pada minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur
naik setiap hari, menurun pada pagi hari dan naik lagi pada malam hari.
Pada minggu ketiga demam mulai turun dan suhu normal kembali.
2. Gangguan pada saluran pencernaan
Pada demam thypoid terdapat bau mulut yang tidak sedap. Bibir kering
dan pecah-pecah. Lidah tertutup selaput putih kotor, ujung dan tepinya
kemerahan. Pada abdomen dapat ditemukan keadaan perut kembung. Hati
dan limpa membesar isertai nyeri dan peradangan.
3. Gangguan kesadaran
Pada pasien dengan demam thypoid biasanya terjadi penurunan kesadaran
(stupor hingga somnolen). Gejala lain yang ditemukan yaitu pada
punggung dan anggota gerak dapat ditemukan bintik-bintik kemerahan

karena emboli basil dalam kapiler kulit, yang ditemukan pada minggu
pertama demam. Kadang juga ditemukan takikardi dan epistaksis.
4. Relaps
Relaps (kambuh)adalah berulangnya gejala penyakit demam thypoid akan
berlangsung ringan dan lebih singkat. Kambuh terjadi pada minggu kedua
setelah suhu badan normal kembali. Menurut teorikambuh terjadi karena
terdapatnya basil dalam organ-organ yang tidak dapat dimusnahkan baik
oleh obat maupun zat anti.
Periode infeksi demam thypoid, tanda dan gejala
Minggu
Minggu I

Keluhan dan gejala demam thypoid


Keluhan
Gejala
Panas
Gangguan
berlangsung
insidious,

Patologi
Bakteremia

saluran cerna
tipe

panas stepladder
yang

mencapa

39-40

C,

menggigil, nyeri
Minggu kedua

kepala
Rash,

nyeri Rose

sport, Vaskulitis,

abdomen, diare splenomegali,

hiperplasi pada

atau konstipasi, hepatomegali

peyers patches.

delirium.

Nodul

typoid

pada limpa dan


Minggu ketiga

Komplikasi:

Melena,

perdarahan

ketegangan

hati
ilius, Ulserai

pada

payers patches,

saluran

cerna, abdomen, koma nodul


tifoid
Tampak
sakit
perforasi, syok,
pada limpa dan
berat, kakeksia.
keluhan
hati
Kolelitiasis,
menurun, relaps,
carier kronik.
penurunan BB.
Sumber: Penyakit Infeksi di Indonesia hal 197
Komplikasi yang dapat timbul diantaranya :
1. komplikasi intestinal
4

a. perdarahan usus
b. perforasi usus
c. ilius paralitik
2. komplikasi extra intestinal
a. komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi, miokarditis,
thrombosis.
b. Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobusitopenia, syndrome
c.
d.
e.
f.
g.

uremia hemolitik.
Komplikasi paru : pneumonia, emfiema, pleuritis.
Komplikasi pada hepar dan kandung kemih : hepatitis, kolesistitis.
Komplikasi ginjal : glomelurus nefritis, perinefritis.
Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, dan arthritis.
Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningiusmus, meningitis,
polyneuritis, GBS.

E. Patofisiologi dan Clinical Pathway


Bakteri salmonella typhi masuk kedalam tubuh manusia melalui makanan
atau minuman yang sudah terkontaminasi. Pada saat melewati lambung dengan
suasana asam (pH<2) banyak bakteri yang mati. Bakteri yang masih hidup akan
mencapai usus halus. Di usus halus, bakteri akan melekat pada sel-sel mukosa dan
kemudian menginvasi mukosa dan menembus dinding usus, tepatnya di ileum dan
jejunum. Sel sel M, sel epitel khusus yang melapisi peyers patch, merupakan
tempat internalisasi salmonella typhi. Bakteri mencapai folikel limfe usus halus,
mengikuti aliran ke kelenjaran limfe mesenterika bahkan ada yang melewati
sirkulasi sistemik sampai ke jaringan RES di organ hati dan limpa. Salmonella
typhi mengalami multiplikasi didalam sel fagosit mononuclear didalam folikel
limfe, kelenjar limfe mesenterika, hati dan limfe.
Bakteri salmonella typhi bersarang di plaque peyeri, limpa, hati dan bagianbagian

retikuloendotelial.

Endotoksin

kuman

salmonella

berperan

pada
5

pathogenesis demam thypoid, karena membantu terjadinya proses inflamasi local


pada jaringan tempat kuman salmonella berkembangbiak. Kemudian selama
proses inflamasi akan terjadi kerusakan sel sehingga leukosit melepaskan
epirogen. Lepasnya epirogen dapat mempengaruhi pusat termoregulator di
hipotalamus. Hal ini yang menyebabkan terjadi peningkatan suhu badan.
Bakteri

yang

bersarang

dihati

akan

menyebabkan

hepatomegali.

Hepatomegali adalah pembesaran hati yang mana akan menimbulkan nyeri tekan
dan infeksi yang menyebabkan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan meradang.
Di Terdapat juga nekrosis fokal dan pembesaran limfa (splenomegali). Di organ
ini, salmonella berkembang biak dan masuk sirkulasi darah lagi, sehingga
mengakibatkan bakteremia kedua yang disertai tanda dan gejala infeksi sistemik
(demam, malaise, sakit kepala, sakit perut, dan gangguan mental koagulasi).
Perdarahan saluran cerna terjadi akibat erosi pembuluh darah disekitar plak
peyeri yang sedang mengalami nekrosis dan hyperplasia. Proses patologis ini
dapat berlangsung hingga kelapisan otot, serosa usus, dan mengakibatkan
perforasi usus. Endotoksin basil menempel direseptor sel endotel kapiler dan
dapat

mengakibatkan

komplikasi,

seperti

gangguan

neuropsikiatrik

kardiovaskuler, pernapasan, dan gangguan organ lainnya.


Pada minggu pertama timbulnya penyakit, terjadi hyperplasia plak peyeri.
Disusul terjadi nekross pada minggu kedua dan ulserasi plak peyeri pada minggu
ketiga. Selanjutnya, dalam minggu ke empat akan terjadi proses penyembuhan
ulkus dengan meninggalkan jaringan parut. Penularan salmonella typhi dapat
ditularkan melalui 5 F yaitu Food (makanan), Finger (jari tangan/kuku), Fomitus
(muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses.

Pathways
Salmonella
typhi

Food(makanan
)

Finger(jari
tangan)

Bakteri lolos dari


asam lambung

Fomitus

Fly (lalat)

Feses

Masuk kedalam
tubuh

Masuk ke usus
halus

Inflamasi

Komplikasi
intestinal :
perdarahan
usus, perforasi

Pembuluh
limfe

bakteremia

Masuk
retikuloendotelia
(RES) terutama hati

Inflamasi pada
hati dan limfa

Masuk ke aliran
darah (sekunder)

Hepatomegali

Endotoksin

Nyeri tekan

Terjadi
kerusakan sel

Nyeri akut

Merangsang
leukosit
melepaskan zat
epirogen
Mempengaruhi pusat
termoregulator di
hipotalamus

Hipertermi

F. Penatalaksanaan Medis
1) Non farmakologi
a. Bed rest
b. Diet, diberikan bubur saring kemudian bubur kasar dan akhirnya
nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan pasien. Diet berupa
makanan rendah serat.
2) Farmakologi
a. Kloramfenikol, dosis 50 mg/kgBB/hari terbagi dalam 3-4 kali
pemberian, oral atau IV selama 14 hari.
b. Bila ada kontraindikasi kloramfenikol diberikan ampisilin dengan
dosis 200 mg/kgBB/hari, terbagi dlam 3-4 kali. Pemberian,
intravena saat belum dapat minum obat, selama 21 hari, atau
amoksilin dengan dosis 100 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 3-4 kali.
Pemberian, oral/intravena selama 21 hari kotrimoksasol dengan
dosis (tpm) 8 mg/kgBB/hari terbagi dalam 2-3 kali. Pemberian,
oral selama 14 hari.
c. Pada kasus berat, dapat diberi ceftriaxon dengan dosis 50
mg/kgBB/kali dan diberikan 2 kali sehari atau 80 mg/kgBB/hari,
sekali sehari, IV, selama 5-7 hari.
G. Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia
1. Mempertahankan suhu tubuh (Termoregulasi)
Pada gangguan pemenuhan termoregulasi, masalah-masalah yang biasanya
muncul yaitu resiko ketidakseimbangan suhu tubuh, hipertermia, hipotermia,
risiko hipertermi, risiko hipotermi, dan ketidakefektifan termoregulasi. Pada
pasien dengan demam thypoid terjadi masalah hipertemi. Definisi hipertermi
sendiri adalah suhu inti tubuh diatas kisaran normal karena kegagalan
termoregulasi. Batasan karakteristik hipertemi yaitu apnea, bayi tidak dapat
mempertahankan menyusu, gelisah, hipotensi, kejang, koma, kulit kemerahan,
kulit terasa hangat, letargi, postur abnormal, stupor, takikardi, takipnea,
vasodilatasi. Factor yang berhubungan diantaranya agen farmasetika, aktifitas
berlebihan, dehidrasi, iskemia, pakaian yang tidak sesuai, peningkatan laju
metabolism, penurunan perspirasi, penyakit, sepsis, suhu lingkungan tinggi,
trauma.
10

H. Penatalaksanaan Keperawatan
J.1

Diagnosa Keperawatan yang Sering Muncul (PES)

Hipertemi berhubungan dengan demam thypoid (proses infeksi salmonella


typhi) ditandai dengan klien mengeluh sakit kepala, demam, merasa pusing,
suhu tubuh pasien meningkat, lidah terlihat kotor/berselaput didaerah tengah
dan tepi serta tremor pada ujungnya.

11

12

J. 2 Perencanaan/Nursing Care Plan


No

Diagnose

Tujuan dan criteria hasil

Hipertemi

Setelah

Intervensi

Rasional

.
dilakukan

1x24

jam, Fever treatment

Fever treatment

berhubungan dengan masalah pasien teratasi.

1. Monitor suhu minimal tiap

demam

thypoid Termoregulator

(proses

infeksi Criteria hasil :

2 jam
2. Monitor IWL
3. Anjurkan pasien

salmonella typhi)

1. Suhu tubuh dalam rentang


normal (36,5-37,5 C)
2. Nadi dan RR dalam rentang
normal

(N=

18-30x/menit,

RR= 70-120 x/menit)


3. Tidak ada perubahan warna
kulit dan tidak ada pusing

1. Mongobservasi

suhu

tubuh dapat meningkat


sering

minum tapi sedikit-sedikit


4. Berikan antipiretik
5. Berikan selimut tipis, dan
pakaian tipis pasien
6. Kolaborasi
pemberian

secara tiba-tiba.
2. Untuk
mengetahui
seberapa banyak cairan
yang hilang
3. Untuk mengganti cairan
yang hilang selama proses

cairan intravena
7. Kompres pasien pada lipat

evaporasi
4. Membantu

paha dan aksila


8. Tingkatkan sirkulasi udara

demam
5. Memberikan selimut tipis

Vital sign monitoring


1. Monitor TTV
2. Catat adanya fluktuasi
tekanan darah

menurunkan

dan pakaian tipis kepada


pasien

dapat

mempertahankan

suhu

tubuh

kembali

normal
13

3. Monitor TD, nadi, RR


sebelum, selama, setelah
aktivitas
4. Monitor frekuensi dan
irama pernapasan

karena proses evaporasi.


6. Menjaga status cairan
agar tidak dehidrasi yang
bisa menyebabkan panas
timbul
7. Mengompres dengan air
hangat

menyebabkan

dilatasi pembuluh darah


dan

pori-pori

sehingga

kulit

panas

tubuh

dapat menurun
8. Suhu
ruangan

yang

rendah dan suhu tubuh


yang

meningkat

menyebabkan

terjadinya

konveksi.
Vital sign monitoring
1. Memonitor TTV untuk
mengetahui

keadaan

umun pasien

14

2. Adanya fluktuasi tekanan


darah

menunjukkan

keadaan

pasien

stabil.
3. Untuk
keadaan

tidak

mengetahui
umum

sebelum,
setelah

pasien

selama,

dan

melakukan

aktivitas.
4. Pada demam

typoid,

biasanya RR pasien akan


meningkat.

Indikasi

adanya
penyimpangan/kelainan
dari pernapasan.

15

I.

Daftar Referensi
Nurarif. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnose Medis Dan
NANDA NIC NOC. Yogyakarta : Mediaction
Herdman, heather. 2015. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 20152017 edisi 10. Jakarta: EGC
Bulechek, Gloria. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC) 6 edition.
Mosby: elsevier inc
Moorhead, soe. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC) 5 edition. Mosby:
Elsevier inc.

16