Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki iklim tropis dengan
potensi sumber daya alam yang melimpah. Salah satu potensi tersebut adalah
areal tanah gambut. Menurut Sulistyono (1999), Indonesia merupakan negara
keempat yang memiliki tanah gambut terluas di dunia setelah Kanada (170
juta Ha), Rusia (150 juta Ha), Amerika Serikat (40 juta Ha) dan Indonesia
(27 juta Ha). Tanah gambut itu sendiri terletak di pulau Sumatera,
Kalimantan, dan Papua. Dari data tersebut, lahan gambut yang tersebar di
Indonesia merupakan sebuah potensi yang sangat besar guna perluasan area
pertanian, budidaya tanaman, pengembangan industri, pengolahan bahan
energi dan kimia. Namun selama ini pemanfaatan lahan gambut untuk
pertanian dan budidaya tanaman belum optimal, bahkan boleh dikatakan
masih sangat terbatas. Hal ini disebabkan karena karakteristik tanah gambut
yang sangat berbeda dari tanah pertanian pada umumnya. Pada lahan gambut,
kandungan bahan organiknya diatas 50 % sedangkan komposisi tanah yang
seimbang adalah mengandung bahan organik 1 6 % (Tan, 1995). Oleh
karena itu, pemanfaatan tanah gambut harus memperhatikan sifat-sifat dan
karakter yang terdapat dalam tanah gambut.
Bahan organik dalam tanah gambut terdiri dari bahan terhumifikasi dan
tidak terhumufikasi. Bagian terhumifikasi dikenal sebagai humus, yang
memberikan warna hitam pada tanah (Gusnidar, dkk, 2000). Menurut Bohn,
dkk (1985), ekstraksi humus dari tanah gambut menghasilkan senyawa humat
yaitu asam himatomelanat, asam humin, asam humat dan asam fulvat. Asam
humat memiliki kemampuan yang kuat untuk berinteraksi dengan ion-ion
logam seperti Fe3+, Cu2+, Zn2+ dan kation polivalen yang lain termasuk ionion logam toksik seperti Cd2+ dan Hg2+ melalui suatu pembentukan kompleks
(khelat) yang stabil (Bohn,et.al,1985).

Salah satu pencemaran yang dapat terjadi di lingkungan perairan adalah


adanya kandungan ion kadmium (II) pada lingkungan tersebut. Pada
umumnya ion kadmium (II) merupakan salah satu jenis logam berat yang
berbahaya, karena elemen ini memiliki dampak negatif pada pembuluh darah.
Logam kadmium dikatakan berbahaya karena dapat merusak lingkungan
serta merusak kesehatan manusia seperti paru-paru kronis, hati dan ginjal
manusia dalam jangka waktu panjang. Kation kadmium (II) memiliki tingkat
toksisitas paling tinggi kedua setelah kation Hg (II), sehingga keberadaannya
di lingkungan dapat membahayakan kehidupan organisme yang ada
disekitarnya (Darmono, 2001). Oleh karena itu, upaya untuk meredam
pencemaran oleh ion cadmium (II) di lingkungan perlu ditingkatkan. Salah
satu cara yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan hasil ekstraksi tanah
gambut yang mengandung asam humat untuk menurunkan kadar ion
kadmium (II) di lingkungan terutama lingkungan perairan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat disusun rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Apakah hasil ekstraksi tanah gambut Kalimantan yang mengandung asam
humat dapat menurunkan kadar ion logam kadmium (II) ?
2. Bagaimanakah kondisi optimum interaksi antara asam humat dan ion
kadmium (II) ?

1.3 Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk menentukan secara kuantitatif penurunan
kadar ion kadmium (II) menggunakan asam humat hasil ekstraksi tanah
gambut Kalimantan serta menentukan kondisi optimum interaksi yang terjadi
antara asam humat dan ion kadmium (II).

1.4 Manfaat Penelitian


Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu bentuk sumbangan bagi
khasanah

pengembangan

ilmu

pengetahuan,

khususnya

di

bidang

pengelolaan lingkungan hidup. Selain itu juga sebagai salah satu upaya
pemanfaatan potensi lahan gambut yang melimpah di Indonesia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanah Gambut


Tanah Gambut adalah tanah yang memiliki lapisan tanah kaya bahan
organik (C-organik >18%) dengan ketebalan 50 cm atau lebih. Bahan organik
penyusun tanah gambut terbentuk dari sisa-sisa tanaman yang belum melapuk
sempurna karena kondisi lingkungan jenuh air dan miskin hara. Oleh
karenanya, lahan gambut banyak dijumpai di daerah rawa belakang atau
daerah cekungan yang drainasenya buruk. Di Indonesia istilah gambut telah
umum dipakai untuk padanan peat. Sebagian petani menyebut tanah gambut
dengan istilah tanah hitam, karena warnanya hitam dan berbeda dengan jenis
tanah lainnya (Andriesse, 1992).
Gambut umumnya mempunyai tingkat kemasaman yang relatif tinggi
dengan kisaran pH 3-5. Gambut yang banyak ditemukan di Kalimantan,
mempunyai kandungan kation basa seperti Ca, Mg, K, dan Na sangat rendah
terutama pada gambut tebal. Semakin tebal gambut, basa-basa yang
dikandungnya semakin rendah dan reaksi tanah menjadi semakin masam
(Driessen dan Suhardjo, 1976). Di sisi lain kapasitas tukar kation (KTK)
gambut tergolong tinggi, sehingga kejenuhan basa (KB) menjadi sangat
rendah. Selanjutnya, Tan (1998) menyatakan bahwa pada tanah yang
mengandung bahan organik tinggi, ketersediaan unsur hara mikro seperti Cu,
Fe, Mn, dan Zn sangat rendah karena diikat oleh senyawa-senyawa organik.

2.2

Jenis Tanah Gambut di Indonesia


Areal gambut di Indonesia cukup luas yaitu sekitar 27 juta Ha dan
sebagian besar berada di daerah Sumatera dan Kalimantan. Setyanto yang
meneliti tanah gambut di daerah Kalimantan menyimpulkan bahwa tanah
gambut di daerah Kalimantan jenis fibrous peat, dengan kadar 53%-61%.
Selain itu juga telah diteliti bahwa jenis tanah gambut di daerah Pekan
Heran dan Pulau Padang banyak mengandung serat dan kayu-kayuan.
Menurut Driessen, gambut Indonesia mengandung lignin yang sangat tinggi

dibandingkan dengan kandungan selulosa dan hemiselulosa. Hasil penelitian


Salampak

(1999)

menunjukkan

bahwa

kandungan

lignin

gambut

Kalimantan Tengah berkisar dari 82,78% - 92,75%.


Gambut di Indonesia tergolong gambut tropikal yang terbentuk atau
terakumulasi kira-kira 5000 tahun lampau. Gambut tropika ini terbentuk
dari sisa-sisa bahan organik yang terdekomposisi pada kondisi anaerob.
Pada tahap pertama yang terbentuk adalah gambut topogen ini termasuk
gambut yang kaya akan nutrisi tanaman. Bentuk gambut yang lain adalah
gambut obrogen, yang merupakan kelanjutan dari gambut topogen yang
pembentukannya sudah tidak dipengaruhi oleh air sungai, dan lokasinya
lebih ke dalam dari tepi sungai. Gambut obrogen dicirikan dengan
kandungan nutrisi tanaman yang rendah (Setyanto, 1995).

2.3

Senyawa Humat dalam Tanah Gambut


Senyawa humat secara umum didefinisikan sebagai senyawa
polikondensat yang mempunyai ciri berwarna kuning sampai hitam
tergantung pada jenis tanahnya (Sucipto, 1995). Menurut Tan (1995),
senyawa humat dapat dibedakan berdasarkan sifat pemisahan dengan
metode klasik sebagai berikut :
a. Asam humat (AH), larut dalam larutan basa, tetapi mengendap dengan
pengasaman dari ekstrak basa.
b. Asam sulfat (AF), larut di dalam larutan asam maupun basa.

2.3.1

Struktur Senyawa Humat


Senyawa humat memiliki struktur yang kompleks. Strukturnya
merupakan hasil dari polikondensasi sejumlah besar senyawa-senyawa yang
sesuai dan bereaksi satu dengan yang lainnya. Secara skematik senyawa
tersebut mempunyai bentuk dengan satu inti aromatic polisiklis yang diikat
oleh ranti lateral yang berisi asam-asam fenolik, hidrat dari karbon dan
polipeptida.
Menurut Stevenson (1982), model molekul asam humat merupakan
makro molekul dari polimer cincin aromatik yang melibatkan asam amino,

gula amino, peptida, dan senyawa alifatik dalam sistem rantai antar gugus
aromatik.

Gambar 2.1 Struktur asam humat menurut Stevenson (1982)

2.3.2 Asam Humat Sebagai Adsorben


Upaya untuk mengatasi pencemaran yang disebabkan oleh industri
adalah dengan cara menurunkan konsentrasi pencemar hingga di bawah
ambang batas baku mutu lingkungan sebelum dibuang ke lingkungan dan
metode yang umum digunakan adalah metode reduksi, pertukaran ion,
osmosis balik, koagulasi, adsorpsi, ekstraksi pelarut, elactrolytic recovery,
pengendapan, atau kombinasi dari beberapa metode tersebut. Metode
adsorpsi merupakan metode alternatif yang sangat sesuai dengan kondinisi
negara berkembang karena lebih murah dan praktis, terutama dengan
menggunakan low cost adsorbents seperti material lempung, limbah
pertanian, gambut, dan limbah pengolahan makanan dari laut (seafood).
Berbagai upaya untuk mengembangkan, memodifikasi atau meningkatan
kinerja adsorben dimaksud adalah stabilitas adsorben, kapasitas adsorpsi,
atau kinetika adsorpsinya terhadap beberapa logam berat. Asam humat (AH)
dari tanah gambut berpotensi tinggi untuk digunakan sebagai adsorben,
karena AH memiliki kemampuan yang tinggi dalam mengikat ion logam
berat Pb(II), Cd(II) dan Cr(III).

2.4

Logam Kadmium
Logam berat adalah unsur-unsur kimia dengan bobot jenis lebih besar
dari 5 gr/cm3, terletak di sudut kanan bawah sistem periodik, biasanya
bernomor atom 22 sampai 92 dari periode 4 sampai 7. Menurut Vries et al
(2002) dalam Rangkuti (2009), logam berat termasuk ke dalam logam
transisi dan umumnya bersifat trace element. Sifat toksisitas logam berat
dapat dikelompokkan ke dalam 3 kelompok, yaitu bersifat toksik tinggi,
sedang dan rendah. Logam berat yang bersifat toksik tinggi terdiri dari
unsur-unsur Hg, Cd, Pb, Cu, dan Zn. Bersifat toksik sedang terdiri unsurunsur Cr, Ni, dan Com sedangkan bersifat toksik rendah terdiri atas Mn dan
Fe. Adanya logam berat di perairan berbahaya baik secara langsung
terhadap kehidupan organisme maupun efeknya secara tidak langsung
terhadap kesehatan manusia.
Kadmium disingkat dengan Cd, Kadmium pada tabel periodik
terdapat pada golongan IIB, periode 5, memiliki nomor atom 48 dengan
berat atom 112,40 g/mol. Sifat-sifat kadmium berdasarkan Friedrich
Strohmeyer (1817), antara lain:
1. Memiliki titik cair tinggi yaitu 765C.
2. Merupakan logam yang lunak sehingga mudah diubah menjadi berbagai
bentuk.
3. Dalam udara terbuka, jika dipanaskan akan membentuk asap coklat,
CdO.
4. Tidak larut dalam basa.
5. Memiliki ketahanan korosi yang tinggi
Kadmium (Cd) merupakan logam berat yang paling banyak ditemukan
pada lingkungan, khususnya lingkungan perairan, serta memiliki efek toksik
yang tinggi, bahkan pada konsentrasi yang rendah (Almeida, 2009).

2.4.1 Dampak Negatif Kadmium


Dampak dari kadmium sangat buruk dan berbahaya bagi manusia,
terutama bagi anak-anak. Kadmium dapat mengakumulasi tubuh khususnya
hati dan ginjal. Kadmium pada konsentrasi rendah berefek terhadap

gangguan pada paru-paru, emphysema dan renal terbular disease yang


kronis. Menurut Palar (2004), keracunan akibat kontraminasi kadmium
dapat menimbulkan berbagai hal seperti:
1. Kelemahan dan kerapuhan pada tulang.
2. Komplikasi batuk, kanker, anemia, dan gagal ginjal yang kemudian
menyebabkan kematian pada kebanyakan wanita pasca menopause.
3. Menyebabkan kerusakan mitokondria sel ginjal.

2.5

Pengukuran Konsentrasi Ion Logam Kadmium (II)


Konsentrasi logam cadmium (II) yang telah diinteraksikan dengan asam
humat hasil ekstraksi tanah gambut Kalimantan, diukur dengan alat yang
bernama Atomic Absorbtion Spectrofotometer (AAS). Prinsip kerja AAS
ialah ketika atom diberi energi yaitu energi termal (2300 C) atau nyala,
elektron terluar dari atom tersebut akan tereksitasi (terjadi perpindahan
energi rendah menuju energi tinggi) dan selanjutnya teremisi (perpindahan
dari energi tinggi menuju rendah). Pada saat elektron tereksitasi secara
bersamaan, sumber cahaya dipancarkan dari lampu katoda. Elektron yang
tereksitasi tersebut akan mengabsorpsi energi yang berasal dari sumber
cahaya (lampu katoda). Besarnya energi yang diabsorpsi sebanding dengan
jumlah atom tersebut (Basset, J.et.al, 1994).
Keuntungan dalam menggunakan AAS ialah alat tersebut memiliki
selektivitas dan sensitifitas yang baik, akurasi yang cukup tinggi, cepat,
murah, mudah, hasil analisa dapat dipertanggung jawabkan, serta lebih
bagus hasilnya dibandingkan dengan spectrophotometer biasa.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada tanggal 25 Januari 28 Februari 2014 di
Laboraturium Kimia SMA Al Hikmah Surabaya dan Balai Besar
Laboratorium Kesehatan (BBLK) di Jl. Karangmenjangan Surabaya .

3.2

Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Alat-alat yang digunakan untuk ekstraksi tanah gambut dalam
penelitian ini adalah baskom, ayakan plastik, gelas ukur, mixer, saringan,
neraca digital, erlenmeyer, labu takar,

penumbuk, pipet, kertas saring,

cawan petri, spatula, tabung reaksi. Sedangkan pengukuran konsentrasi ion


cadmium (II) menggunakan AAS merek Techcomp AA6000.

3.2.2 Bahan
Bahan yang diperlukan dalam penelitian ini adalah tanah gambut yang
berasal dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Bahan-bahan kimia yang
digunakan adalah padatan NaOH, larutan NaOH 1 M, larutan NaOH 0,1 M,
larutan HCl 1 M, HCl 6 M, HCl 7 M, padatan Cd(NO3)2 4H2O, larutan
induk Cd(II) dan indikator universal.

3.3

Variabel-Variabel Penelitian
3.3.1 Variabel Bebas
Massa asam humat dan waktu interaksi asam humat dan ion Cd (II).
3.3.2 Variabel Terikat
Konsentrasi ion Cd (II) yang tidak berinteraksi dengan asam humat
dalam satuan ppm.
3.3.3 Variabel Kontrol
Jenis tanah gambut , massa tanah gambut yang diekstraksi dan massa
asam humat yang diinteraksikan.

3.4

Definisi Operasional Variabel


3.4.1 Definisi Operasional Variabel Bebas
Waktu interaksi yang dilakukan adalah 1 jam ; 24 jam dan 27 jam.
3.4.2 Definisi Operasional Variabel Terikat
Konsentrasi ion Cd(II) yang berinteraksi dengan asam humat dihitung
dengan mengurangi konsentrasi awal ion Cd(II) dengan konsentrasi ion
Cd(II) yang terukur dengan alat AAS.
3.4.3 Definisi Operasional Variabel Kontrol
Tanah gambut yang berasal dari Palangkaraya, Kalimantan , massa
tanah yang diekstrak adalah 100 gram dan massa asam humat yang
diinteraksikan sebanyak 200 mg.

3.5

Prosedur Penelitian
3.5.1 Menyiapkan Sampel Tanah
Tanah gambut dibersihkan dari sisa-sisa akar, kemudian ditumbuk dan
dijemur. Setelah kering, tanah diayak hingga terkumpul 100 gram tanah
gambut yang siap diekstraksi
3.5.2 Membuat Larutan
Penelitian ini menggunakan beberapa larutan, diantaranya adalah :
1.

Larutan HCl 6 M dibuat dengan memasukkan 857 mL HCl 7 M ke


dalam labu takar 1000 mL, selanjutnya ditambahkan akuades hingga
volume larutan mencapai 1000 mL.

2.

Larutan HCl 1 M dibuat dengan cara mengencerkan larutan HCl 6 M.

3.

Larutan NaOH 1 M dibuat dengan melarutkan 40 gram NaOH padat


lalu dicampur dengan akuades hingga volume mencapai 1000 mL.

4.

Larutan NaOH 0,1 M dibuat dengan mengencerkan larutan NaOH 1 M.

5.

Larutan induk Cd (II) dibuat dengan cara memasukkan 1 gram padatan


Cd(NO3)2 4H2O ke dalam labu takar berisi akuades hingga larutan
mencapai tepat 1000 mL .

10

3.5.3 Ekstraksi Tanah Gambut


Ekstraksi tanah gambut untuk mendapatkan asam humat, dilakukan
dengan metode IHSS (International Humic Substance Society). Tanah
gambut yang telah diayak sebanyak 100 gram dicampur dengan HCl 1 M
1000 mL. Di aduk dan didiamkan selama 24 jam hingga terpisah antara
filtrat (F1) dan residu (R1). Keduanya dipisahkan kemudian R1 dinetralkan
dengan larutan NaOH 1 M dan diamkan lagi selama 24 jam sehingga
terbentuk filtrat (F2) dan residu (R2). Filtrat (F2) dipisahkan dan dilakukan
pengasaman dengan penambahan larutan HCl 6 M hingga muncul koloid
yang keruh dan pada akhirnya terbentuk endapan asam humat (AH). Filtrat
dan endapan dipisahkan dengan cara sentrifugasi sehingga pada akhir
ekstraksi diperoleh filtrat yang merupakan fraksi asam fulvat (AF) dan
endapan yang merupakan asam humat (AH).
Asam humat yang diperoleh kemudian dikeringkan dalam cawan petri
dengan cara diangin-anginkan selama beberapa hari.
3.5.4 Interaksi Asam Humat dengan Larutan Cd (II)
1.

Optimasi waktu perendaman.


Setelah didapatkan massa asam humat yang optimum, selanjutnya
dilakukan interaksi antara asam humat dan larutan Cd(II) dengan variasi
waktu 1 jam, 24 jam dan 27 jam. Konsentrasi Cd(II) yang tidak
berinteraksi dengan asam humat ditentukan dengan AAS.

11

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Ekstraksi Asam Humat dari Tanah Gambut


Ekstraksi tanah gambut Kalimantan dengan menggunakan metode
IHSS, menghasilkan asam humat sebanyak 20,7 gram untuk setiap 100 gram
tanah gambut, sehingga kadar asam humat dalam tanah gambut yang
diperoleh adalah 20,7 % (b/b).

4.2

Interaksi Asam Humat dengan Ion Kadmium (II)

4.2.1 Optimasi Waktu perendaman


Pada penelitian ini dilakukan penentuan waktu optimum interaksi asam
humat dan ion Cd (II). Hasil optimasi waktu interaksi disajikan dalam Tabel
4.1.
Tabel 4.1 Data pengaruh waktu perendaman terhadap penurunan konsentrasi ion
Cd(II)
Waktu

Cd yang teradsorb (ppm)

% Cd yang teradsorb

1 jam

1000 609,4 = 390,6

390,6
x100% 39,06%
1000

24 jam

1000 312,6 = 687,4

687,4
x100% 68,74%
500

27 jam

1000 383,8 = 616,2

616,2
x100% 61,62
1000

Berdasarkan Tabel 4.1 diatas, dapat dianalisis bahwa lamanya perendaman


mempengaruhi kadar ion Cd (II) yang teradsorp pada asam humat. Waktu
optimum perendaman adalah 24 jam, hal ini ditunjukkan dengan prosentase
konsentrasi ion Cd (II) yang teradsorp paling banyak yaitu sebesar 68,74%.
Sedangkan semakin lama waktu perendaman, konsentrasi ion Cd(II) yang
teradsorb menurun, hal ini dimungkinkan bahwa logam Cd (II) terlepas
kembali. Sebagaimana yang telah dilaporkan oleh Terbouche, et.all (2011),
adsorpsi ion logam pada permukaan asam humat dipengaruhi oleh lamanya

12

waktu kontak. Hal ini disebabkan karena ukuran molekul asam humat yang
relatif besar sehingga terjadi kesulitan bagi ion logam untuk dapat masuk ke
dalam molekul asam humat melalui ikatan yang terjadi antara ion logam dan
gugus fungsi aktif pada asam humat.

4.3

Analisis Hasil Penelitian


Asam humat merupakan fraksi senyawa humat yang larut dalam basa
tetapi tidak larut dalam asam. Berdasarkan strukturnya, menurut Senesi
1992, asam humat mempunyai gugus fungsional utama yaitu gugus
karboksilat ( COOH), OH fenolat, OH alkoholat dan karbonil (C=O)
yang mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dengan ion logam
membentuk kompleks khelat. Adapun gugus yang memegang peranan
penting dalam pembentukan khelat tersebut adalah COOH , OH fenolat
dan OH alkohol. Hal ini digambarkan oleh Kostic, et.all, 2011, dalam
penelitiannya sebagaimana yang tercantum dalam Gambar 4.1.

Gambar 4.1 (a) Struktur asam humat dengan gugus fungsi yang dapat
mengikat ion logam (b) kemungkinan pola ikatan antara
asam humat dan logam Pb (Kostic, et.all, 2011)

13

BAB V
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, tanah gambut yang
diekstraksi mengandung asam humat. Kandungan asam humat dalam tanah
gambut pada penelitian ini adalah 20,7 %(b/b).
Hasil interaksi antara asam humat dan ion Cd(II) menunjukkan bahwa,
asam humat mampu menurunkan konsentrasi ion Cd (II). Pada waktu optimum
perendaman selama 24 jam, penurunan konsentrasi ion Cd (II) sebesar 68,74%.
Hal ini dikarenakan antara molekul asam humat dan ion Cd (II) dapat membentuk
kompleks khelat melalui gugus fungsi COOH dan OH. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa ekstrak tanah gambut yang mengandung asam humat dapat
dimanfaatkan untuk menurunkan kadar pencemaran di lingkungan perairan akibat
ion Cd(II) pada khususnya dan logam berat pada umumnya.

14

DAFTAR PUSTAKA
Basset, J., 1994, Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorgik (alih bahasa
Dr. A. Hadyana Pudjaatmaka dan Ir. L. Soetiono), edisi Keempat, cetakan
pertama, Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Bohn L. Hinrich, McNeal L. Brian, OConnor A. George, 1985, Soil Chemistry,
Second Edition, A. Wiley-Interscience Publication, New York.
Darmono, (2001), Logam dalam Sistem Biologi Makhluk Hidup, UI Press,
Jakarta.
Gusnidar, Herviyanti, Saidi Amrizal, 2000, Analisis Asam Humat dan Fulvat
dari Tiga Macam Bahan Gambut, Jurnal Andalas Vol.12 no.32,
Universitas Andalas, Padang.
Kostic, et.all, (2011), Cooper (II) and Lead (II) Complexation by Humic Acid
and Humid-like Ligands, Journal of the Serbian Chemical Society,
Vol 76, page 1325-1336.
Salampak, D., (1999), Kandungan Beberapa Derivat Asam Fenolat dalam
Tanah Gambut Kalimantan Tengah Berdasarkan Lingkungan
Pembentukannya, Jurnal Agrivita vol 23 no 3, Universitas Brawijaya
Malang.
Setyanto, 1995, Studi Daya Dukung Tanah Gambut sebagai Dasar
Perencanaan

Pondasi Bangunan Pemukiman Transmigrasi di

Sumatera bagian Selatan, Jurnal Seri Monografi Lemlit no.3 : Hal. 5168.
Sulistyono, (1999), Briket Gambut Dengan Serbuk Kayu Kemungkinan
Sebagai Energi Alternatif, Forum IPTEK, Vol.13, No.03.
Stevenson, F.J., 1982, Humus Chemistry : Genesis, Composition, Reactions,
second edition, John Wiley and Sons, New York.
Tan, K.H (Terjemahan Didiek, H.G, dkk), (1995), Dasar-dasar Kimia Tanah,
Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

15

LAMPIRAN

Menetralkan larutan NaOH 0,1 M dengan HCl


1M

Mendiamkan tanah gambut dengan larutan


HCl 1 M selama 24 jam

Menyaring larutan dan residu agar terpisah


Mendiamkan larutan NaOH yang
telah netral selama 24 jam

16

Mencampur kadmium nitrat dengan asam humat

Pengukuran kadar kadmium dengan


AAS

Hasil perendaman kadmium dengan asam


humat

17

BIODATA PENULIS

1. Ketua Kelompok
Nama

: Masyitha Putri Ayu Rosalba

Alamat

: Jl. Kebonsari Baru Selatan 4 No.2

Sekolah

: SMA Al Hikmah Surabaya

TTL

: Makassar, 10 Oktober 1997

E-mail

: puputsukamancing@yahoo.com

HP

: 081 235 699 383

2. Anggota 1
Nama Anggota 1 : Sheila Amalia Balamash
Alamat

: Jl. KHM Mansyur No. 189, Surabaya

Sekolah

: SMA Al Hikmah Surabaya

TTL

: Surabaya, 04 Januari 1997

E-mail

: amalia_blmsh@ymail.com

HP

: 081 249 359 153

18