Anda di halaman 1dari 17

RANGKUMAN TEKNOLOGI FARMASI (III) STERIL

PERTEMUAN KE-V
SEDIAAN PARENTERAL

DIRANGKUM OLEH:
MUHAMMAD RIDWAN
NOVILIA MEGI ANNISA
RISMAWATI SIMANGUNSONG

08061281419044
08061281419045
08061381419074

DOSEN PEMBIMBING:
NAJMA ANNURIA FITHRI, S.Farm.,M.Sc.,Apt
Dr.rer.nat.MARDIYANTO,M.Si.,Apt

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016

Sediaan parenteral merupakan sediaan yang rute administrasinya langsung melalui


barrier/penghalang tubuh (kulit dan membran mukosa) menuju ke sistem sirkulasi. Sediaan
parenteral ditujukan untuk :
1. Obat-obat yang sulit diabsorpsi di saluran gastrointestinal seperti heparin, yakni obat
yang memiliki karakteristik kelarutan buruk (terlalu nonpolar) atau permeabilitas buruk
(terlalu polar).
2. Obat-obat yang tidak stabil di saluran gastrointestinal, contohnya insulin karena
merupakan hormon (berasal dari protein) maka sangat rentan terhadap asam kuat atau
basa kuat. Selain itu gugus amino dan gugus karboksil mudah terdegradasi saat terjadi
kontak dengan asam lambung.
Ada beberapa kriteria dari bentuk sediaan steril, antara lain: (1) Keamanan, harus aman
digunakan dan tidak menimbulkan toksik; (2) Sterilitas, harus bebas dari segala jenis
mikroorganisme; (3) Bebas dari substansi pirogen yang dapat menyebabkan demam; (4)
Bebas dari partikel kasat mata; (5) Stabilitas, harus stabil dalam berbagai kondisi; (6)
Kompatibilitas, antar zat aktif dengan eksipien maupun antara sediaan dengan pengemasnya
harus kompatibel; dan (7) Isotonisitas, harus sesuai dengan tekanan pada cairan tubuh.
Sediaan parenteral dapat dikategorikan menjadi:
1. Conventional Small Volume Injectable (volume kecil), yakni sediaan dengan volume
kurang dari 100 ml.
2. Conventional Large Volume Injectable / LVI (volume besar), yakni sediaan dengan
volume lebih dari 100 ml. LVI dibagi menjadi :
a. Larutan elektrolit, contohnya Ringer Laktat, Sodium Acetate Injection, Mannitol
25% Injection, Nutrilyte II, dan Hyperlyte CR.
b. Larutan karbohidrat, contohnya Dextrose 50 % Injection, Dextrose 5 % Injection,
Dextrose 70 % Injection, Glucose 20% Solution for Infusion, dan Dextrose 30 %
Injection.
c. Nutrisi protein, contohnya Clinisol (Amino Acid) Injection, Clinimix Injection,
Clinimix E Injection, Premix Parenteral Nutrition, dan FreAmine (Amino Acid 10%)
Injection.
d. Emulsi lemak, contohnya Triglycerides Lipid Emulsion Injection, Fat Emulsion
Injection, Parvoerysin Emulsion for Injection, Nutrilipid 20% Fat Emulsion, dan
Intralipid 20% Fat Emulsion.
e. Cairan dialisis peritoneal, digunakan untuk proses cuci darah contohnya Dianeal
Peritoneal Dialysis Solutions, Extraneal (Icodextrin 7.5%) Solution, Sterisol
(Dextrose 1,5%) Peritoneal Dialysis Solutions, Dialine (Dextrose 1,5%) Peritoneal
Dialysis Solutions, dan Nutrineal (Amino Acids) Peritoneal Dialysis Solutions.
f. Larutan irigasi, digunakan dalam prosedur pembedahan contohnya Sodium Chloride
for Irrigation, Sterile Water for Irrigation, Breath Ease XL Irrigation Solution, Dyna
Hex-4 Irrigation Solution, dan Glycine Irrigation USP.
3. Modified Release (depot) Injectable, dimana pelepasan obatnya dapat dimodifikasi/diatur
secara perlahan seperti implan.

Ada beberapa contoh bentuk larutan injeksi, yaitu : (1) Larutan, berupa cairan bening;
(2) Suspensi, cairannya biasanya putih; (3) Serbuk Liofilisasi, dimana serbuk jenis ini melalui
tahapan freeze drying, biasanya untuk sediaan yang rusak pada kondisi suhu yang tinggi, pada
proses liofilisasi ada penambahan ryoprotectant dan lyoprotectant untuk mencegah degradasi
senyawa-senyawa yang tidak terlalu tahan pada suhu yang dingin, contohnya penambahan
sukrosa; dan (4) Emulsi.
Ada enam klasifikasi injeksi, antara lain: (1) Solution ready (larutan siap pakai); (2)
Dry solution (larutan kering); (3)Suspension ready (suspensi siap pakai); (4) Dry suspension
(suspensi kering); (5) Emulsion (emulsi); dan (6) Concentrated liquid (cairan pekat).
Injeksi berasal dari kata injectio yang berarti memasukkan ke dalam, sedangkan infus
berasal dari kata infusio yang berarti penuangan kedalam. Dari perbedaan dua kata ini sudah
dapat dilihat dengan jelas perbedaannya, dimana injeksi berarti memasukkan cairan
(sejumlah kecil cairan) dan infus berarti menuangkan cairan (penuangan dilakukan dalam
jumlah yang besar secara perlahan).
Ada beberapa rute administrasi parenteral, yaitu : (1) intravena (i.v), yakni injeksi yang
diberikan melalui pembuluh darah vena; (2) intramuscular (i.m), yakni injeksi yang diberikan
melalui otot; (3) subcutan (s.c), yakni injeksi yang diberikan dibawah kulit; (4) intradermal,
yakni injeksi yang diberikan dibawah lapisan dermis kulit; (5) intrathecal, yakni injeksi yang
diberikan pada bagian lumbal pada sum-sum tulang belakang; (6) intracranial, yakni injeksi
yang diberikan pada bagian cranial (tengkorak) manusia; (7) intraperitoneal (i.p), diinjeksikan
melalui perut; (8) intraarticular; (9) intraatrial; (10) intravitreal, diinjeksikan di bagian mata;
dan (11) intraocular, diinjeksikan di bagian mata juga, biasanya untuk penderita glaukoma.
Berikut ini macam-macam rute pemberiaan sediaan parenteral dan keuntungannya
No
Rute Pemberian
Gambar
Keuntungan
.
Obat
1
Intravena
Cepat mencapai konsentrasi dan
dosis

tepat

mudah

mentitrasi

diperlukan

keahlian

dosis

intramuscular

Tidak

khusus, dapat dipakai untuk


pemberian

obat

larut

dalam

minyak, Absorpsi berlangsung


dengan cepat, dapat diberikan
pada pasien sadar atau tidak
sadar

subcutan

Diperlukan latihan sederhana,


absorbsi cepat obat larut dalam
air, mencegah kerusakan sekitar
saluran cerna

intradermal

Lebih

sensitive

(dapat

mendeteksi alergi dengan kadar


rendah),

lebih

reproducible

dalam satu tempat

intrathecal

Efektif

menghilangkan

nyeri

persalinan selama kala I dan II


persalinan,

memfasilitasi

kooperasi ( Kerjasama ) pasien


selama persalinan dan kelahiran,
anestesi

untuk

tindakan

episiotomi

atau

Persalinan

Pervagina

dengan

Tindakan

Operatif ( PPTO ), dapat untuk


anestesi operasi sesar ( Time
Related ), tidak menyebabkan
depresi napas baik pada janin
maupun ibu yang disebabkan
oleh opioid.

intracranial

Karena

pengukuran

intraventrikuler

tekanan

didapat

dari

rongga berisi cairan, kualitas


pencatatan sangat tinggi dan
perubahan tekanan yang cepat
dapat diketahui. Disamping itu
adanya

jalur

keventrikel

memungkinkan
mengalirkan

untuk
CSS

dalam

mengurangi TIK, paling tidak


secara temporer. Disamping itu
bisa

untuk

mengukur

compliance otak.
7

intraperitoneal

Obat

yang

disuntikkan

dalam

rongga

peritonium

akan

diabsorpsi

cepat,

sehingga reaksi obat akan


cepat terlihat.

intraarticular

Dalam

bidang

reumatologi

mempunyai manfaat yang sangat


besar dalam memulihkan keluhan
penderita

serta

penyembuhan

mempercepat

arthritis

sehingga

dapat mengurangi kecacatan sendi


akibat arthritis. Yang paling sering
digunakan
adalah

dibidang
injeksi

rematologi
intra-artikuler

kortikosteroid. Pada umumnya untuk


mengurangi efek samping terapi
kortikosteroid sistemik.
9

intraatrial

untuk tujuan diagnosis seperti


menginjeksikan bahan-bahan
radiopak untuk studi
roentgenografik dari cadangan
vaskuler pada berbagai organ
atau jaringan (seperti koroner,
serebral, pulmonari, renal,
enterik, atau arteri perifer).
Hampir semua arteri dicapai
dengan kateterisasi arterial.

10

intravitreal

Injeksi intravitreal mempunyai


keunggulan

dibandingkan

beberapa cara aplikasi obat lain,


diantaranya

adalah

kemampuannya untuk mencapai


efekteapi yang diinginkan dengan
efek toksik sistemik yang sangat
minimal.

11

intraocular

Dosis akurat, idak ada pengawet,


meningkatkan shelf life karena
tidak adanya air

Besar kecilnya ukuran jarum suntik ditentukan dengan nomor-nomor. Biasa yang
digunakan no: 18G, 19G, 20G, 21G, 22G, 23G, 24G, 25G, 26G, 27G. Makin besar
nomornya, makin kecil diameter jarum suntiknya. Berikut merupakan rincian ukuran jarum
suntik:
OUTER DIAMETER

INNER DIAMETER
WALL
NOMINA
MIN
MAX NOMINAL
L

Gaug
Type MIN NOMINAL MAX
e
0.202
6
RW
0.2030
0.2040 0.1700
0

0.1730

0.1760

0.0150

RW

0.179
0

0.1800

0.1810 0.1470

0.1500

0.1530

0.0150

RW

0.164
0

0.1650

0.1660 0.1320

0.1350

0.1380

0.0150

RW

0.147
0

0.1480

0.1490 0.1150

0.1180

0.1210

0.0150

10

RW

0.1340

0.1350 0.1040

0.1060

0.1080

0.0140

0.1340

0.1350 0.1120

0.1140

0.1160

0.0100

0.1200
0.1200

0.1210 0.0920
0.1210 0.0980

0.0940
0.1000

0.0960
0.1020

0.0130
0.0100

0.1090

0.1100 0.0830

0.0850

0.0870

0.0120

0.1090

0.1100 0.0890

0.0910

0.0930

0.0090

0.0950

0.0960 0.0690

0.0710

0.0730

0.0120

0.0950

0.0960 0.0750

0.0770

0.0790

0.0090

0.0830

0.0840 0.0610

0.0630

0.0650

0.0100

0.0830

0.0840 0.0660

0.0673

0.0685

0.0079

0.0830

0.0840 0.0710

0.0720

0.0730

0.0055

TW

0.133
0
0.133
0

11

RW 0.1190
TW 0.1190

12

RW
TW

13

RW
TW

14

0.108
0
0.108
0
0.094
0
0.094
0

0.082
0
0.082
TW
0
0.082
XTW
0
RW

UTW

15

16

17

18

19

0.082
0

0.071
5
0.071
TW
5
0.071
XTW
5
0.071
UTW
5
RW

0.064
5
0.064
TW
5
0.064
UTW
5
0.064
XTW
5
RW

0.057
5
0.057
TW
5
0.057
UTW
5
0.057
XTW
5
RW

0.049
5
0.049
TW
5
0.049
UTW
5
0.049
XTW
5
RW

0.041
5
0.041
TW
5
XTW 0.041
RW

0.0830

0.0840 0.0730

0.0745

0.0760

0.0043

0.0720

0.0725 0.0525

0.0538

0.0550

0.0091

0.0720

0.0725 0.0595

0.0605

0.0615

0.0058

0.0720

0.0725 0.0615

0.0625

0.0635

0.0048

0.0720

0.0725 0.0635

0.0645

0.0655

0.0038

0.0650

0.0655 0.0455

0.0470

0.0485

0.0090

0.0650

0.0655 0.0525

0.0535

0.0545

0.0058

0.0650

0.0655 0.0565

0.0575

0.0585

0.0038

0.0650

0.0655 0.0545

0.0555

0.0565

0.0048

0.0580

0.0585 0.0405

0.0420

0.0435

0.0080

0.0580

0.0585 0.0465

0.0475

0.0485

0.0053

0.0580

0.0585 0.0510

0.0520

0.0530

0.0030

0.0580

0.0585 0.0490

0.0500

0.0510

0.0040

0.0500

0.0505 0.0315

0.0330

0.0345

0.0085

0.0500

0.0505 0.0375

0.0385

0.0395

0.0058

0.0500

0.0505 0.0430

0.0440

0.0450

0.0030

0.0500

0.0505 0.0410

0.0420

0.0430

0.0040

0.0420

0.0425 0.0255

0.0270

0.0285

0.0075

0.0420

0.0425 0.0315

0.0325

0.0335

0.0048

0.0420

0.0425 0.0335

0.0345

0.0355

0.0038

5
20

RW
TW

21

RW
TW

22

23

0.028
0
0.028
TW
0
0.028
XTW
0
RW

RW
TW

25

RW
TW

26

27

0.032
0
0.032
0

RW

TW

24

0.035
5
0.035
5

RW

0.025
0
0.025
0
0.022
0
0.022
0
0.020
0
0.020
0
0.018
0

0.016
0
0.016
TW
0
0.016
XTW
0
RW

0.0358

0.0360 0.0230

0.0238

0.0245

0.0060

0.0358

0.0360 0.0255

0.0263

0.0270

0.0048

0.0323

0.0325 0.0195

0.0203

0.0210

0.0060

0.0323

0.0325 0.0225

0.0233

0.0240

0.0045

0.0283

0.0285 0.0155

0.0163

0.0170

0.0060

0.0283

0.0285 0.0190

0.0198

0.0205

0.0043

0.0283

0.0285 0.0215

0.0223

0.0230

0.0030

0.0253

0.0255 0.0125

0.0133

0.0140

0.0060

0.0253

0.0255 0.0165

0.0173

0.0180

0.0040

0.0223

0.0225 0.0115

0.0123

0.0130

0.0050

0.0223

0.0225 0.0135

0.0143

0.0150

0.0040

0.0203

0.0205 0.0095

0.0103

0.0110

0.0050

0.0203

0.0205 0.0115

0.0123

0.0130

0.0040

0.0183

0.0185 0.0095

0.0103

0.0110

0.0040

0.0163

0.0165 0.0075

0.0083

0.0090

0.0040

0.0163

0.0165 0.0095

0.0103

0.0110

0.0030

0.0163

0.0165 0.0105

0.0113

0.0120

0.0025

28

RW
TW

29

RW

30

RW

31

0.014
0
0.014
0
0.013
0

0.012
0
0.010
RW
0

0.0143

0.0145 0.0065

0.0073

0.0080

0.0035

0.0143

0.0145 0.0085

0.0093

0.0100

0.0025

0.0133

0.0135 0.0065

0.0073

0.0080

0.0030

0.0123

0.0125 0.0055

0.0063

0.0070

0.0030

0.0103

0.0105 0.0045

0.0053

0.0060

0.0025

Pada injeksi subkutan biasanya


menggunakan jarum 27G dilakukan
dengan sudut 45 pada kulit yang sedikit
diangkat, sedangkan untuk intramuskular
idealnya menggunakan jarum 23G. Untuk
memberikan
suntikan
intradermal
digunakan jarum 25G yang ditusukan
dengan sudut 10-15 . Rute intravena
menggunakan jarum 20G 23G. Pada
injeksi intrakutan diberikan menggunakan
jarum
26-27G.
Rute
intraocular
mengunakan jarum 20-23G. Rute
intraperitoneal
direkomendasikan
menggunakan jarum 25-27G. Rute
intraarticular menggunakan jarum 22G.

Injeksi Pelepasan Tertunda (Sustained


Release Injection)
Injeksi pelepasan tertunda dapat dilakukan menggunakan pemanfaatan teknologi
pelepasan terkontrol seperti microsphere, implant1, atau hydrogels. Pada teknologi
microsphere, obat dilindungi oleh polimer berukuran mikron yang berbentuk spheris. Pada
teknologi hydrogels, prinsipnya mengembang saat terjadi kontak dengan cairan, contohnya
pada kitosan dan karbopol. Pada teknologi pegylated2 protein formulations, biasanya
digunakan untuk stabilisasi protein menggunakan PEG dengan BM lebih dari 3000. Pada
teknologi hyperglycosilated protein formulations, terjadi proses glikolisasi. Contoh dipasaran
yang sudah memanfaatkan teknologi pelepasan tertunda yaitu NPH atau formula Lente
Insulin. Injeksi secara intravena tidak bisa menggunakan teknologi pelepasan tertunda karena
rute pemberiannya langsung masuk ke sistem sirkulasi. Rute injeksi yang bisa memanfaatkan
teknologi pelepasan tertunda yaitu injeksi intramuskular (i.m).

Proses Pembuatan Implan :


Tablet implan dapat dibuat dengan cara kompresi yang kuat atau dengan cara
peleburan . metode kempa langsung, yaitu pembuatan tablet dengan mengempa langsung
campuran zat aktif dan eksipien kering tanpamelalui perlakuan awal terlebih dahulu.
sedangkan granulasi peleburan atau hot melt granulation merupakan metode pembentukan
dispersi padat berbentuk granulat dengan bahan pengikat yang melebur di atas suhu kamar.
granulasi peleburan ini dapat digunakan untuk membentuk granul dengan bahan pengikat
hidrofob seperti lemak dan wax dengan tujuan penyalutan dan/ atau pembentukan matriks
sediaan pelepasan dimodifikasi (modified release drug). implan diberikan dengan
menyisipkan di bawah kulit (subkutan) melalui pembedahan ringan . obatnya akan dilepaskan
secara perlahan-lahan . implan diproses atau dibungkus satu persatu di dalam wadah steril .
contoh deoksikortison asetat dan implan testosteron. Efek samping implant kb atau susuk
yang paling sering dialami oleh kebanyakan wanita yaitu akan terjadi perubahan dalam
menstruasi. seperti bertambahnya pendarahan dalam satu siklus, pendarahan spotting
(bercak), siklus haid berkurang, dan amenore.
Pemasangan dan Pengangkatan Implan
Proses pemasangan akan dimulai dengan menyuntikkan anestesi lokal pada bagian
bawah lengan atas Anda. Kemudian dokter akan memasukkan KB implan dengan
menggunakan alat khusus. Setelah proses selesai, dokter akan memasangkan perban pada
lengan Anda guna meminimalisasi pembengkakan dan harus dikenakan kurang lebih satu
hari. Setelah perban tersebut dilepaskan, Anda masih perlu menggunakan perban kecil selama
3-5 hari guna menjaga kebersihan daerah bekas pemasangan implan. Proses pemasangan
akan dimulai dengan menyuntikkan anestesi lokal pada bagian bawah lengan atas Anda.
Kemudian dokter akan memasukkan KB implan dengan menggunakan alat khusus. Setelah
proses selesai, dokter akan memasangkan perban pada lengan Anda guna meminimalisasi
pembengkakan dan harus dikenakan kurang lebih satu hari. Setelah perban tersebut
dilepaskan, Anda masih perlu menggunakan perban kecil selama 3-5 hari guna menjaga
kebersihan daerah bekas pemasangan implan.

Efek Samping Implan


Pada umumnya perubahan haid tidak ada efeksamping yang dapat membahayakan
ekspektor.walaupun terjadi pendarahan lebih sering dari biasanya dan volume darah yang
menghilang tidak berubah pada sebagian ekspektor. pendarahan iregulerakanberkurang
seiring dengan berjalannya waktu dan jarang terjadi pendarahan hebat.
selain beberapa hal di atas, sebenarnya masih banyak lagi efek samping implant kb atau
susuk yang belum banyak diketahui. berikut ini adalah beberapa efek samping yang lain dari
implant kb atau susuk
1. Terjadinya efek pada system reproduksi
jarang terjadi efek samping implant kb atau susuk yang serius pada sistem reproduksi pada
pemakaian norplant. pada 10 persen ekspektor ditemukan ada kista ovarium sementara yang
berukuran ada yang 10 cm. akantetapi tidak perlu dengan proses pembedahan karena kista
akan mengalami regenerasi spontan dalam waktu sekitar 5 minggu.

2. Kehamilan ektopik
efek samping implant kb atau susuk yang selanjutnya adalah bertambahnya resiko kehamilan
ektopik, namun tidak memiliki efek samping buruk pada bayi dalam kandungan maupun bayi
yang sedang menyusui. pemakaian norplantselama kita laktasi juga dapat mempengaruhi
kadar hormone pada bayi. kemudian imoglobin serum dan kadar dari fshh, lh serta
testosterone pada urine sama juga pada bayi yang disusui ekspektornorplant dan yang disusui
akseptor dengan metode barier atau para ibu-ibu yang tidak memakai alat kontrasepsi apapun.
3. Efek samping lain
sakit kepala merupakan efek samping implant kb atau susuklain yang sering menjadi keluhan.
dengan menggunakan norplantakan menyebabkan perubahan sistematik yang sedikit. terdapat
sedikit perubahan minor dan masih dalam batas yang normal.seperti fungsi metabolism
karbohidrat, hipar, tekanan darah, pembekuan darah, imuglobin, serum cortisol, phosphate
anorganik, urea nitrogrn dan berat badan.
2

Pegilasi (pegylated) berarti mengikat serat polietilen glikol (PEG) pada sebuah
molekul. Dibuat dengan menggabungkan molekul yang larut air yang disebut "polyethylene
glycol (PEG)" dengan molekul interferon alfa. Modifikasi interferon alfa ini lebih lama ada
dalam tubuh, dan penelitian menunjukkan lebih efektif dalam membuat respon bertahan
terhadap virus dari pasien Hepatitis C kronis dibandingkan interferon alfa biasa.
Injeksi Subkutan
Injeksi ini digunakan untuk volume tidak lebih dari 1 ml karena volume daya tampung
jaringan subkutan kecil, jika volumenya terlalu besar dapat menyebabkan udema. Untuk
larutan yang sangat menyimpang isotonisnya dapat menimbulkan rasa nyeri, nekrosis
(pengerasan pembuluh darah) dan absorpsi yang tidak optimal. Onset dalam bentuk larutan
lebih baik dibanding bentuk lainnya. Faktor penentu kecepatan absorpsi adalah total luas
permukaan penyerapan. Absorpsi obat dapat diperlambat dengan penambahan adrenalin1.
Absorpsi obat dapat dipercepat dengan penambahan enzim hyaluronidase2. Bila ada infeksi,
bahanya besar karena mikroba menetap di jaringan dan menyebabkan abses3. Absorpsi lebat
lambat dari intravena karena masih harus menembus membran, tidak langsung ke sistem
sirkulasi seperti i.v.
1

Fungsi adrenalin, yakni :


a. Memacu aktivitas jantung ddan menyempitkan pembuluh darah pada kulit dan
kelenjar mukosa sehingga tekanan darah meningkat.
b. Mempercepat metabolisme tubuh seperti memecah glikogen menjadi gula
dalam darah (glikogenolisis) sehingga dapat menaikkan kadar gula darah
c. Memicu reaksi terhadap tekanan dan kecepatan gerak tubuh.
Hormon adrenalin dapat menghambat absorbsi obat dari subkutan karena adrenalin
dapat meyebabkan konsentrriksi atau pennyempitan pada pembuluh darah lokal (salah satu
fungsi adrenalin pada tubuh), sehingga difusi obat menjadi tertahan atau di perlambat.
Contohnya : injeksi Lidokain Adrenaline untuk pencabutan gigi.
2
Hyaluronidase dapat meningkatkan absorbsi obat dari subkutan karena
hyaluronidase dapat memecah mukopolisakarida yang berasal dari matriks jaringan yang

menyebabkan penyebarab obat menjadi lebih cepat. Hyaluronidase merupakan suatu enzim
yang aktif pada pH asam dan netral yang bersifat dapat merusak jembatan antar sel.
Sedangkan mukopolisakarida adalah molekul gula rantai panjang yang digunakan untuk
membangun jaringan ikat dan organ tubuh
3
Abses adalah suatu kondisi dimana terjadinya penumpukan nanah pada suatu daerah
tubuh meskipun dapat pula muncul pada daerah yang berbeda (misalnya, jerawat).
Injeksi Intramuskular
Sediaannya cukup fleksibel, dapat berupa larutan, emulsi atau suspensi. Sediaan dalam
bentuk larutan lebih cepat diabsorpsi dibandingkan bentuk suspensi. Onset bervariasi
tergantung besar kecil partikel, semakin kecil partikel semakin cepat onsetnya. Dapat terjadi
bentuk depo (ikatan antara obat dengan protein) karena pada otot banyak jaringan dan lemak,
dan mudah terakumulasi. Pada otot dada volume injeksi boleh mencapai 20 ml, sedangkan
pada otot yang lainnya harus kurang dari 5 ml.
Injeksi Intravena
Sebaiknya isotonis dan isohidris untuk volume kurang dari 5 ml, harus isotonis dan
isohidris untuk volume lebih dari 5 ml. Tidak mengalami fase absorbsi, langsung masuk ke
sirkulasi darah sehingga onsetnya cepat. Tingkat bioavailabilitasnya 100%. Jika akan dibuat
emulsi lemak, ukuran partikel tidak boleh lebih besar dari ukuran eritrosit, karena jika lebih
besar dari ukuran eritrosit maka akan dapat menyumbat pembuluh darah. Larutan hipertonis
disuntikkan secara lambat agar tidak menimbulkan rasa nyeri. Zat aktif yang digunakan tidak
boleh yang bersifat merangsang pembuluh darah, contohnya saponin, nitrit, dan nitrobenzol.
Adanya partikel dapat menyebabkan emboli (penyumbatan) di alveolus dan pembuluh darah
kecil lainnya.
Injeksi Intradermal
Larutan sebaiknya isotonis dan isohidris agar tidak menimbulkan reaksi nyeri pada saat
penyuntikkan. Volume injeksi kecil umumnya 0,1 -0,2 ml, karena jaringan dermis yang
sangat tipis tidak dapat menampung banyak cairan. Umumnya digunakan untuk tes alergi
karena penyuntikannya pada bagian dermis.

Injeksi Intrathecal
Harus isotonis dan isohidris, karena jika tidak akan menyebabkan paralysis. Bila
digunakan sebagai anestesi, umumnya larutan bersifat hipertonis agar reaksi yang
ditimbulkan lebih cepat.
Injeksi Intraperitoneal
Biasanya berupa larutan hipertonis, karena fungsinya untuk menyerap cairan didalam
tubuh sehingga cairan-cairan kotor dari dalam tubuh bisa ikut terbawa keluar, contohnya
yaitu cairan peritoneal dialysis pada proses pencucian darah. Volumenya besar, bisa 1 sampai
2 liter. Infeksi mudah terjadi jika pemakaian terus menerus dan tidak steril.
Keuntungan sediaan Parenteral

Onset (waktu yang dibutuhkan substansi obat untuk berefek) cepat terutama pada
sediaan rute intravena, respons farmakologis yang dihasilkan semakin cepat
Berikut ini merupakan 100 contoh obat dengan onset cepat (<30 Menit)
(1) Amlodipin; (2) Betablok (3) Blopress (4) Calsivask (5) Captensin (6) Captopril
(7) Cardivask (8) Carpiaton (9) Catapres (10) Clonidine (11) Comdipin (12) Dexacap
(13) Diltiazem (14) Divask (15) Farmalat (16) Farmoten (17) Fritens (18) Insaar
(19) Nifedipine (20) Norvask (21) Olmetec (22) Persantin (23).Propanolol (24).Redutens
(25) Spironolakton (26).Stamoten (27).Tanapres (28). Tensi vask (29). Tensicap
(30).Tensivask (31).Caritec (32).amiodarone (33) Bisopropol (34). Harbesser
(35). Harbesser CD (36). Cedocard (37). Cedocard retard (38). Digoxin (39). Fargoxin
(40). Farsorbid (41). ISDN (42). Sinmarc (43). Trizedon (44) Ardium (45). Ascardia
(46). Aspilets (47) Bloodcare (48) Cardio aspirin (49) Chonpro (50) Copidrel
(51) CPG (52).Farmasal Tab (53) Pladogrel (54) Plavix (55).Pletaal 100 mg (56).Bivalirudin
(57).Thrombo aspilets (58).Vaclo (59).Darsin (60).disopyramide (61).Remufit
(62).Adona AC-17 tab (63).Adona fortev(64).Kalnex caps 250 mg (65).Kalnex 500 mg
(66).Transamin caps (67).Rhodium (68).Benocetam 1200 mg (69).Brainact 500 mg 30s
(70).Neurotam 800 ng 50s (71) Nootropil 1200 mg (72) Nootropil 400 mg (73).Pirecetam
1200 mg (74).Piratrof 1200 mg (75).Carpiaton (76).Letonal (77).Spirola (78).Yekapiodenton
(79).Nebivolol (80).Warfarin (81).Heparin (82).Atenolol (83).Acebutolol (84).Bisoprolol
(85).Metoprolol (86) Nadolol (87).Isradipine (88).Nicardipine (89)Verapamil (90).Nisoldipin
(91)Lidokain (92) Quinidine (93).Sotalol (94).Tocaidine (95).Propafenon (96).Ibutilide
(97).Salbutamol (98)Flecainide (99)Dofetilide (100)Dronedarone

Efek obat lebih dapat diprediksi tanpa banyak faktor yang mempengaruhi.
Faktor-faktor yang menentukan cara transport obat lintas membran :
- Sifat fisiko-kimia obat : bentuk dan ukuran molekul, kelarutan dalam air, kelarutan
dalam lemak, derajat ionisasi
- Jumlah obat ( dalam persen terhadap dosis ) yang mencapai sirkulasi sistemik dalam
bentuk utuh / aktif (bioavaibilitas)
- Obat yang menghasilkan kadar obat sama antara kadar dalam darah dan dalam
jaringan, disebut mempunyai bioekivalensi . Bila tidak sama, disebut mempunyai
bioinekivalensi. Bila bioinekivalensinya lebih dari 10 % menimbulkan inekivalensi
terapi, terutama obat-obat yang indeks terapinya sempit ( dosis terapi hampir sama
dengan dosis toksik )
- Tidak semua jumlah obat yang diabsorpsi dari tempat pemberian akan mencapai
sirkulasi sistemik. Banyak faktor yang mempengaruhi bioavailabilitas obat, terutama
bila diberikan per oral, kemungkinan obat dirusak oleh reaksi asam lambung atau
oleh enzim-enzim dari saluran gastrointestinal

Bioavailabilitas sempurna, artinya obat langsung mengalami distribusi tanpa halangan


apapun

Kerusakan obat di GIT atau akibat first pass effect dari hati dapat dihindari
Dapat diberikan kepada pasien yang tidak mampu menelan(meminum obat secara oral),
seperti dalam keadaan koma atau keadaan darurat
Tepat untuk anestesi local
Tepat untuk obat-obat yang lepas tertarget, berkaitan dengan kebutuhan efek farmakologi
yang cepat

Kerugian Sediaan Parenteral :


Nyeri
Butuh tenaga medis (perlu pelatihan) dan peralatan yang khusus untuk diaplikasikan
Efek psikologis bagi pasien yang takut jarum suntik sulit untuk dihindari
Jika terjadi kekeliruan/overdosis sulit untuk ditangani karena seluruh obat kemungkinan
telah masuk dan beredar dalam jaringan
Harus aseptic, mikroorganisme yang mencemari sediaan dapat menyebabkan terjadinya
infeksi
Harga obat yang cenderung lebih mahal (berkaitan dengan proses pembuatan yang
menuntut untuk steril)
Potensi terjadi sepsis, emboli, extravasation dan kerusakan/cedera pada jaringan bila
terjadi kesalahan saat penggunaan.
Alasan Pemilihan Sediaan Parenteral:
Menjamin kadar obat sampai ke target (terutama untuk obat yang sulit menimbulkan
respons dengan p.o.)
Pemastian parameter farmakokinetik karena dalam pemberian oral, banyak faktor-faktor
yang dapat memengaruhi penentuan parameter farmakokinetik
Penjaminan dosis dan kepatuhan, karena penggunaannya membutuhkan bantuan orang
lain(tenaga medis/terampil)
Alternatif rute (lokal/specific targetting)
Kondisi pasien yang tidak memungkinkan menelan obat atau keadaan darurat
Cairan tubuh tidak seimbang
Persyaratan Parenteral
Sesuai dengan persyaratan kadar dan kandungan pada etiket, umunya sediaan parenteral
mewajibkan seluruh eksipien tercantum dalam kemasan

Steril (bebas pirogen)


Isotonis, tekanan osmosis dari sediaan menyerupai tekanan osmosis tubuh
Isohidris, pH yang sama antara sediaan tempat pengaplikasian
Bebas partikel melayang, ukuran partikel harus seragam. Khusus untuk sediaan
intravena, ukuran partikel sediaan harus lebih kecil dari eritrosit
Stabil

Panduan Umum Dalam Formulasi Sediaan Parenteral


Ditentukan rute pemberian yang akan digunakan pada sediaan, apakah intravena,
intramuscular, dll
Farmakokinetik obat, seperti Ka (konstanta kecepatan absorbsi), Fa (Fraksi obat
terabsorbsi), Vd (volume distribusi), ClT(klirens obat), ClH (kliren hepatik) ClR (kliren
renal) t1/2el (waktu paruh eliminasi), Kel (Konstanta kecepatan eliminasi) dan Fe (fraksi
obat yang tereksresi)
Kelarutan obat
Stabilitas obat dalam berbagai keadaan
Kompatibilitas dengan eksipien yang akan digunakan
Pengemas yang akan digunakan
Langkah-Langkah Yang Dilakukan Dalam Formulasi Sediaan Parenteral
1. Memperoleh sifat fisika dari substansi obat
- Struktur dan berat molekul
- Kelarutan dalam air pada suhu kamar
- Efek pH pada kelarutannya
- Kelarutan pada pelarut-pelarut lain
- Sifat kelarutan yang tidak biasa
- Titik isoelektrik untuk protein atau peptida
- Higroskopi
- Potensi agregasi untuk protein atau peptida
2. Memperoleh sifat kimia dari substansi obat
- Analisis data yang valid untuk potensi dan kemurnian
- Waktu untuk terdegradasi 10% pada suhu ruang dalam pelarut air pada pH yang
disesuaikan dengan aplikasi sediaan
- Waktu untuk terdegradasi pada suhu 5C
- Stabilitas pH
- Sensitivitas terhadap oksigen
- Sensitivitas terhadap cahaya
- Rute utama yang dapat mendegradasi produk
3. Formulasi awal
- Mengetahui jangka kadaluarsa obat
- Mengetahui bagaimana obat akan digunakan
i.
Dosis tunggal/ganda
ii.
Jika dosis ganda, perhatikan pemberian pengawet pada sediaan
iii.
Jangka simpan obat
iv.
Kombinasi dengan produk lainnya
- Studi stabilitas obat
i.
Penyimpanan suhu tinggi
ii.
Suhu Panas-Dingin(Heating-Cooling)

iii.
Paparan cahaya dan oksigen
iv.
Untuk bentuk serbuk, dilakukan uji kelembaban
- Mungkin diperlukan beberapa penelitian stabilitas jangka pendek dengan jenis
eksipien dan kombinasi yang tereliminasi
- Memilih pengemas utama disesuaikan dengan kompatibilitas pada bahan obat yang
digunakan
- Merancang dan menerapkan metode produksi awal produk
- Finalisasi formulasi, apakah membutuhkan tonicity adjuster dan pengawet atau tidak
- Pendekatan untuk mendapatkan produk steril, secara aseptis atau sterilisasi akhir