Anda di halaman 1dari 87

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG POSYANDU

LANSIA DENGAN MOTIVASI LANSIA USIA 60-74 TAHUN DALAM


MELAKUKAN KUNJUNGAN KE POSYANDU LANSIA
(Suatu studi di posyandu lansia RW 04 Desa Ternyang Kecamatan
Sumber Pucung Kabupaten Malang)

SKRIPSI

OLEH :
EKA FATMAWATI
12.20.053

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
MALANG
2016

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG POSYANDU


LANSIA DENGAN MOTIVASI LANSIA USIA 60-74 TAHUN DALAM
MELAKUKAN KUNJUNGAN KE POSYANDU LANSIA
(Suatu studi di posyandu lansia RW 04 Desa Ternyang Kecamatan
Sumber Pucung Kabupaten Malang)

TUGAS AKHIR ILMIAH


Diajukan Untuk Menempuh Ujian Akhir/Skripsi
Pada Program S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Kepanjen

OLEH :
EKA FATMAWATI
12.20.053

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
MALANG
2016

SKRIPSI BUKAN JIPLAKAN

Sebagai bentuk pertanggungjawaban saya sebagai mahasiswa Sekolah


Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen Malang dalam rangka penyusunan SKRIPSI,
Nama

: EKA FATMAWATI

NIM

: 12.20.053

Judul

: Hubungan tingkat pengetahuan tentang posyandu lansia dengan


motivasi lansia usia 60-74 tahun dalam melakukan kunjungan ke
posyandu lansia
Menyatakan bahwa judul SKRIPSI di atas adalah bukan SKRIPSI jiplakan

milik orang lain. Dengan demikian, bila nanti ada pembuktian secara sah bahwa
SKRIPSI tersebut adalah jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi gugur dan
wajib membuat kembali dengan judul baru. Dan bila diketahui setelah saya lulus,
maka sebagaimana UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
saya siap dicabut gelar/ ijazahnya.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya agar dapat
dipergunakan sebagaimana mestinya.
Malang, 4 Agustus 2016
Yang Membuat Pernyataan

Eka Fatmawati
NIM 12.20.053

CURICULUM VITAE

Nama

: EKA FATMAWATI

NIM

: 12.20.053

Program Studi

: SI Keperawatan

Tempat / Tanggal Lahir

: Malang, 29 Juli 1993

Agama

: Islam

Alamat

: Jl. Sidomulyo RT 01 Rw 01 Desa Ngadilangkung


Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang
Email : Eka.fatmawati1416@gmail.com

Riwayat Pendidikan

Tahun 2000

: Lulus TK Nahdlatul Ulama

Tahun 2006

: Lulus SD Nahdlatul Ulama

Tahun 2009

: Lulus SMP Nahdlatul Ulama

Tahun 2012

: Lulus SMA Nahdlatul Ulama

Tahun 2012

: Terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi SI


Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Kepanjen Kab. Malang

MOTTO

Tugas kita bukanlah untuk


berhasil. Tugas kita adalah
untuk mencoba, karena
didalam mencoba itulah
kita menemukan dan
belajar membangun
kesempatan untuk berhasil

EKA 2016

LEMBAR PERSEMBAHAN

Alhamdulillah hirobbil alamin... segala puji dan syukur saya ucapkan pada Allah
SWT karena berkat Rahmat dan pertolongan-Nya tugas karya ilmiah ini selesai
tepat waktunya
Saya persembahkan goresan tinta ini kepada orang-orang yang telah membantu
saya dalam menyelesaikan tugas ini dan memberi dukungan pada saya baik secara
moril maupun vinansial
Yang pertama saya persembahkan untuk kedua orang tua saya yaitu Bapak
Khosim dan Ibu Watik yang tak pernah berhenti mendoakan saya selama saya
mengerjakan tugas akhir ini dan juga memberikan motivasi bagi saya
Kedua untuk kakak saya Khosiatul Munawaroh dan Nur Fitriani yang turut
membantu saya menyelesaikan tugas ini
Yang ketiga untuk semua teman-teman saya kelas B di STIKES Kepanjen
terimakasih atas semuanya.

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya bagi Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan
Hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini
dengan judul HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG
POSYANDU DENGAN MOTIVASI LANSIA USIA 60-74 TAHUN DALAM
MELAKUKAN KUNJUNGAN KE POSYANDU LANSIA , sebagai salah satu
persyaratan akademis dalam rangka penyelesaian tugas akhir program pendidikan
S1 Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen Malang.
Dalam penyusunan skripsi ini penulis mendapatkan bantuan, bimbingan,
dan dukungan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1

Dr. Abdurrachman, M. Kes. Sebagai ketua STIKes Kepanjen Malang

yang telah memberikan dukungan moril dalam penyusunan skripsi ini


Bapak Tri Nurhudi Sasono, M. Kep. Selaku Ketua Prodi S1

Keperawatan yang telah membantu dalam kelancaran skripsi ini.


Ibu Riza Fikriana, M. Kep sebagai pembimbing I yang telah
meluangkan waktu dan memberikan masukan-masukan yang berharga

dalam penyelesaian skripsi ini.


Ibu Nia Agustingsih, S. Kep. Ns, selaku pembimbing II yang telah
meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, pengarahan,
motivasi masukan hingga terselesainya skripsi ini.

viii
Kepala Desa dan Ibu-ibu kader yang telah memberikan ijin untuk

melakukan studi pendahuluan dan penelitian di Posyandu lansia RW 04.


Para lansia yang bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna baik dari
sudut isi maupun sistematika, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan
kritik yang membangun guna sempurnanya skripsi ini.
Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi
pembaca pada umumnya, peneliti pada khususnya serta pengembangan ilmu
prngetahuan. Peneliti menyampaikan terima kasih.

Kepanjen,16 Mei 2016


Penulis

EKA FATMAWATI

ABSTRAK

Fatmawati, Eka .2016. Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Posyandu


lansia Dengan Motivasi Lansia Usia 60-74 Tahun Dalam
Melakukan Kunjungan Ke Posyandu Lansia. Skripsi, Sekolah

Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen Kabupaten Malang.


Pembimbing I : Riza Fikriana S. Kep. Ns, M. Kep Dan
Pembimbing II : Ns, Nia Agustiningsih S. Kep
Rendahnya jumlah kunjungan ke posyandu lansia masih didominasi oleh
kurangnya motivasi lansia dalam melakukan kunjungan ke posyandu. Faktor
tersebut dapat dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki setiap individu. Tujuan
dari penelitian ini mengetahui adanya hubungan antara tingkat pengetahuan
tentang posyandu lansia dengan motivasi lansia dalam melakukan kunjungan ke
posyandu.
Desain penelitian menggunakan analitik korelasional dengan pendekatan
cross sectional, dengan melibatkan lansia usia 60-74 tahun sejumlah 27
responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan
instrumen penelitian kuesioner dan teknik analisa data menggunakan spearmen
rho. Data yang diperoleh lalu dianalisa dan disajikan dalam bentuk tabel dan
narasi.
Hasil analisa data didapatkan nilai p yaitu (0,018), dimana p < adalah
(0,05). Hal tersebut menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan
tentang posyandu lansia dengan motivasi lansia usia 60-74 tahun dalam
melakukan kunjungan ke posyandu lansia .
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi masukkan bagi para kader
posyandu untuk lebih memberikan motivasi dan meningkatkan pengetahuan lansia
tentang posyandu.
Kata Kunci : Pengetahuan, Motivasi , Posyandu Lansia

ABSTRACK
Fatmawati. Eka .2016. Knowledge Level About Relationships With Motivational
elderly Posyandu Elderly Ages 60-74 Years In IHC Conduct
visits to the elderly. Thesis, College of Health Sciences
Kepanjen Malang. Supervisor I: Riza Fikriana S. Kep. Ns,
M. Kep And Supervisor II: Ns, Nia Agustiningsih S. Kep

The low number of visits to the Posyandu is still dominated by a lack of


motivation in the elderly make a visit to Posyandu. These factor can be influenced
by the knowledge possessed by each individual. The purpose of this research to
know the relationship between the level of knowledge about Posyandu with the
motivation of elderly aged 60-74 years in a visit to the Posyandu.
The study design using analytic correlational with cross sectional
approach, involving elderly aged 60-74 years a totao of 27 respondents. The
sampling technique used purposive sampling with a questionnaire research
instruments and data analysis technique using spearmen rho. Data obtained and
analyzed and presented in tables and narrative.
The data analysis,the p value is (0,018), whwre p < was (0,05). It shows
there is a relationship between the level of knowledge about Posyandu with the
motivation of elderly aged 60-74 years in a visit to the Posyandu.
The result of the study are expected to be input for Posyandu cadres to
further motivate and increase knowledge about Posyandu elderly, so as to
increase the motivation of the elderly in a visit to the Posyandu..
Keywords: Knowledge, Motivation, Posyandu Elderly

DAFTAR ISI

HAL
HALAMAN JUDUL .......................................................................................
LEMBAR PERSETUJUAN ............................................................................

i
ii

HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................


iii
SURAT PERNYATAAN BUKAN JIPLAKAN ............................................... iv
CURICULUM VITE ............. .......................................................................... v
MOTTO ........................................................................................................... vi
HALAMAN PERSEMBAHAN....................................................................... vii
KATA PENGANTAR ...................................................................................... viii
ABSTRAK ....................................................................................................... x
ABSTRACK .................................................................................................... xi
DAFTAR ISI .................................................................................................... xii
DAFTAR TABEL ............................................................................................ xiv
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xvii
DAFTAR SINGKATAN ..................................................................................xviii
BAB 1

PENDAHULUAN..........................................................................

1.1 Latar belakang ..........................................................................


1.2 Rumusan masalah.......................................................................
1.3 Tujuan penelitian........................................................................
1.3.1 Tujuan umum...................................................................
1.3.2 Tujuan khusus..................................................................
1.4 Manfaat penelitian......................................................................
1.4.1 Bagi masyarakat...............................................................
1.4.2 Bagi instansi pelayanan (puskesmas)...............................
1.4.3 Bagi perawat yang ada di komunitas...............................
1.4.4 Bagi peneliti selanjutnya..................................................
1.5 Batasan masalah.........................................................................

1
5
5
5
5
6
6
6
6
6
6

BAB 11 TINJAUAN PUSTAKA.................................................................

2.1 Konsep pengetahuan..................................................................


1 Pengertian pengetahuan .............................................
2 Tingkat pengetahuan ..................................................
3 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan........
4 Cara mengukur tingkat pengetahuan..........................
2.2 Konsep motivasi ........................................................................
2.2.1
Pengertian motivasi.....................................................
2.2.2
Metode peningkatan motivasi.....................................
2.2.3
Cara mengukur motivasi ............................................
2.3 Konsep lansia.............................................................................
2.3.1
Pengertian lansia.........................................................
2.3.2
Batasan-batasan lansia................................................
2.3.3
Tipe-tipe lansia............................................................
2.3.4
Perubahan kognitif......................................................
2.3.5
Perubahan yang terjadi pada lansia.............................
2.4 Konsep posyandu lansia.............................................................
2.4.1
Pengertian posyandu lansia.........................................
2.4.2
Tujuan posyandu lansia...............................................

7
7
8
9
11
11
12
13
14
15
15
16
17
19
21
25
25
25

2.4.3
2.4.4
2.4.5
2.5.6

Manfaat posyandu lansia.............................................


Sasaran pada posyandu lansia.....................................
Mekanisme pelayanan posyandu lansia......................
Faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan lansia
ke posyandu.................................................................
28
2.5.7
Kegiatan kesehatan di posyandu lansia.......................
29
2.5 Konsep tingkat pengetahuan dengan motivasi lansia dalam
melakukan kunjungan ke posyandu lansia................................
30
2.6 Kerangka konsep.......................................................................
2.7 Keterangan kerangka konsep....................................................

26
26
27

32
33

BAB 111 METODE PENELITIAN............................................................... 34


3.1 Desain penelitian........................................................................
3.2 Waktu dan tempat penelitian......................................................
3.3 Kerangka kerja (frame work).....................................................
3.4 Desain sampling.........................................................................
3.4.1
Populasi.......................................................................
3.4.2
Sampel.........................................................................
3.4.3
Teknik sampling..........................................................
3.5 Identifikasi variabel....................................................................
3.5.1
Variabel independen....................................................
3.5.2
Variabel dependen.......................................................
3.6 Definisi operasional....................................................................
3.7 Teknik pengumpulan data..........................................................
3.7.1
Instrumen pengumpulan data......................................
3.7.2
Uji Validitas, Reabilitas dan Normalitas.....................
3.7.3
Proses pengumpulan data............................................
3.8 Teknik Analisa data....................................................................
3.8.1
Langkah-langkah analisa data.....................................
3.8.2
Analisa data............................................................... .
3.9 Etika Penelitian .........................................................................
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ..............................
4.1 Hasil Penelitian .........................................................................
4.1.1 Gambaran Proses Penelitian ............................................
4.1.2 Data Umum ......................................................................
4.1.3 Data Khusus .....................................................................
4.2 Pembahsan .................................................................................
BAB V PENUTUP ..........................................................................................
5.1 Kesimpulan ..................................................................................
5.2 Saran ............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................
60

34
34
35
36
36
37
36
37
37
37
38
39
39
39
41
42
42
44
47
48
48
48
49
51
53
57
57
58

DAFTAR TABEL
HAL
Tabel 3.6 Definisi Operasional Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan
Motivasi Lansia Dalam Melakukan Kunjungan Ke Posyandu
Lansia.......................................................................................

38

DAFTAR BAGAN

HAL
Bagan 2.6 Kerangka konseptual hubungan tingkat pengetahuan dengan
Motivasi lansia dalam melakukan kunjungan ke posyandu
Lansia..............................................................................................31
Bagan 3.3. Kerangka Kerja................................................................................35

DAFTAR LAMPIRAN
HAL
Lampiran 1:
Lampiran 2:
Lampiran 3:
Lampiran 4:
Lampiran 5:
Lampiran 6:
Lampiran 7:
Lampiran 8:

Lembar Informed Consent......................................................


Lembar Permohonan Melakukan Penelitian...........................
Lembar Kisi-Kisi Kuesioner Pengetahuan Tentang
Posyandu Lansia.....................................................................
Lembar Kisi-Kisi Kuesioner Motivasi Lansia dalam
Melakukan Kunjungan ke Posyandu Lansia...........................
Lembar Petunjuk Pengisian Kuesioner...................................
Lembar Kunci Jawaban Kuesioner Pengetahuan Lansia
Tentang Posyandu...................................................................
Master Tabel............................................................................
Lembar Konsultasi..................................................................

62
63
64
65
66
71
73
75

DAFTAR SINGKATAN

KMS
IQ
IMT
PMT
DM

: Kartu Menuju Sehat


: Intellegent Quocient
: Indeks Massa Tubuh
: Pemberian Makanan Tambahan
: Diabetes Melitus

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Seiring

meningkatnya

jumlah

populasi

lansia,

pemerintah

mencanangkan berbagai kebijakan pelayanan kesehatan lansia untuk


meningkatkan derajat kesehatan dan untuk mencapai masa tua yang bahagia.
Salah satunya yaitu posyandu lansia yang merupakan pos pelayanan terpadu
bagi lanjut usia yang digerakkan oleh masyarakat dan merupakan
pengembangan dari kebijakan pemerintah (Fallen dan Budi, 2011:71).
Menurut Rahayu (2008) kegiatan posyandu memberikan banyak manfaat bagi
lansia dan jika berjalan dengan baik dapat mempermudah lansia dalam
mendapatkan pelayanan kesehatan, sehingga kualitas hidup lansia tetap
terjaga dan optimal. Namun kenyataannya berbeda, posyandu lansia hanya
ramai pada awal pendirian saja dan selanjutnya lansia yang berkunjung ke
posyandu lansia semakin berkurang (Elmi, 2014:3).
Menurut WHO (2000) pada lansia secara perlahan-lahan akan terjadi
penurunan jaringan untuk memperbaiki dan mempertahankan fungsi
normalnya, sehingga pada lansia sering beresiko sakit. Kemunduran fisik
akibat proses penuaan dapat mempengaruhi ketahanan tubuh terhadap
gangguan atau infeksi dari luar (Padila, 2013).

Berdasarkan dari data di posyandu lansia diketahui dari 32 lansia yang


terdaftar di posyandu terbanyak berada pada usia (60-74 tahun) sebanyak 31
lansia dan paling sedikit yaitu berada pada rentan usia lanjut tua (75-90
tahun) hanya 1 lansia.
Posyandu lansia merupakan salah satu kegiatan masyarakat dalam
pelayanan kesehatan lansia (Lilik M, 2011:105). Menurut WHO pada tahun
2012 persentase lanjut usia dunia 9,11% rata-rata kunjungan untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan hanya 4% ini dibuktikan dari hasil
penelitian di kota Surabaya kunjungan lansia sakit hanya 17,9% dan lansia
tidak sakit 2,1% (Citra, 2014). Berdasarkan hasil analisis univariat yang
dilakukan oleh Citra (2014) di Kecamatan Sokaraja menunjukkan bahwa
tingkat pengetahuan responden tentang pemanfaatan posyandu lanjut usia
yaitu persentase 34,0% baik, 26,8% cukup, 39,2% kurang. Ini menunjukkan
adanya pengaruh tingkat pengetahuan terhadap pemanfaatan posyandu lanjut
usia.
Dari data yang diperoleh di posyandu lansia di Desa Ternyang RW 04
pada bulan Nopember 2015, jumlah lansia yang terdaftar di posyandu lansia
yaitu sebanyak 32 lansia dari jumlah 75 lansia yang berada di Desa tersebut.
Dari studi pendahuluan yang dilakukan pada 7 lansia tanggal 16
Nopember 2015 di Desa Ternyang Kecamatan Sumber Pucung Kabupaten
Malang dengan metode wawancara, didapatkan bahwa sebanyak 5 orang
(72%) lansia menyatakan tidak menghadiri posyandu lansia karena mereka
beranggapan bahwa posyandu lansia hanya untuk orang yang sakit dan 2

orang (28%) lansia menyatakan rutin melakukan kunjungan ke posyandu


karena mereka mengetahui manfaat tentang posyandu lansia.
Pengetahuan lansia yang rendah, akan menjadi kendala lansia dalam
mengikuti kegiatan posyandu lansia. Pengetahuan tentang manfaat posyandu
bisa didapatkan lansia dari pengalaman pribadi dalam kehidupan. Melalui
pengalaman ini dapat meningkatkan pengetahuan lansia tentang posyandu,
dan bisa menjadi dasar pembentukan sikap dan juga dapat mendorong minat
atau motivasi lansia (Fallen dan Budi, 2011). Untuk terwujudnya sikap agar
menjadi suatu tindakan, maka diperlukan faktor lain yaitu motivasi. Motivasi
adalah perasaan atau pikiran yang dapat mendorong seseorang untuk
melakukan sesuatu. Menurut bentuknya motivasi ada 3 yaitu, motivasi
intrinsik, motivasi ekstrinsik dan motivasi terdesak (Nursalam, 2014).
Perubahan fisik yang cenderung mengalami penurunan akan
menyebabkan berbagai gangguan secara fisik sehingga mempengaruhi
kesehatan, serta akan berdampak pada kualitas hidup lansia dan tentunya akan
di ikuti dengan peningkatan resiko untuk menderita penyakit kronis karena
seiring dengan bertambahnya usia terjadi peningkatan prevalensi penyakit
kronis (Setyoadi, 2013).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Astuti (2010) dari hasil
penelitiannya ditemukan bahwa sebagian besar lansia yang diteliti
mempunyai pengetahuan yang kurang tentang kunjungan posyandu lansia
sebanyak 45 (61,1%) dari 73 responden yang diteliti dan sebagian kecil
memiliki pengetahuan yang baik hanya 9 orang (12,3%) (Elmi, 2014).

Sebagian besar para lansia beranggapan bahwa mereka tidak


membutuhkan posyandu lansia karena mereka merasa kondisi fisiknya sehat.
Selain itu yang menjadi pendukung lansia yang sehat tidak datang ke
posyandu adalah anggapan bahwa posyandu lansia hanya untuk orang yang
sakit saja dan merupakan suatu kepercayaan yang sudah berkembang di
lingkungan lansia. Sehingga anggapan-anggapan tersebut akan menurunkan
minat lansia dalam melakukan kunjungan ke posyandu lansia (Abdurrahman,
2013).
Upaya yang dilakukan dalam mengatasi peningkatan jumlah lansia
dan masalah kesehatannya, maka diperlukan upaya yang komprehensif,
terpadu dan berkesinambungan mulai dari pemerintah pusat, maupun tingkat
daerah dan juga menyediakan fasilitas yang tentunya dapat menunjang
posyandu lansia agar tetap berfungsi dengan baik. Selain itu partisipasi aktif
dari masyarakat dan dukungan para keluarga yang memiliki lansia juga
sangat dibutuhkan dalam upaya peningkatan kegiatan tersebut, kemudian
melakukan kegiatan sosialisasi pada lansia tentang pengertian, manfaat dan
tujuan posyandu lansia oleh kader-kader agar lansia mengetahui lebih dalam
tentang posyandu lansia dan meningkatkan motivasi lansia dalam melakukan
kunjungan ke posyandu lansia (Abdurrahman, 2013)
Berdasarkan fenomena tersebut peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian tentang hubungan tingkat pengetahuan tentang posyandu lansia
dengan motivasi lansia usia 60-74 tahun dalam melakukan kunjungan ke
posyandu lansia di Desa Ternyang Kecamatan Sumber Pucung.

Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang posyandu lansia
dengan motivasi lansia usia 60-74 tahun dalam melakukan kunjungan ke
posyandu lansia di Desa Ternyang Kecamatan Sumber Pucung ?

Tujuan Penelitian
1
Tujuan umun
Mengetahui
posyandu lansia

hubungan

antara

tingkat

pengetahuan

tentang

dengan motivasi lansia usia 60-74 tahun dalam

melakukan kunjungan ke posyamdu lansia di Desa Ternyang


Kecamatan Sumber Pucung.
Tujuan khusus
1 Untuk mengetahui tingkat pengetahuan lansia di posyandu lansia di

Desa Ternyang Kecamatan Sumber Pucung.


Untuk mengetahui motivasi lansia dalam melakukan kunjungan ke

posyandu lansia di Desa Ternyang Kecamatan Sumber Pucung.


Menganalisa hubungan tingkat pengetahuan tentang posyandu
lansia dengan motivasi lansia usia 60-74 tahun dalam melakukan
kunjungan ke posyandu lansia di Desa Ternyang Kecamatan
Sumber Pucung.

Manfaat Penelitian
1
Bagi Masyarakat
Dari penelitian ini diharapkan masyarakat khususnya para lansia
lebih mengetahui dan memahami pentingnya posyandu lansia
sehingga lebih meningkatkan motivasi lansia dalam melakukan
2

kunjungan ke posyandu lansia.


Bagi instansi pelayanan kesehatan (Puskesmas)

Hasil penelitian ini diharapkan sebagai masukan petugas


kesehatan dalam komunitas untuk memberikan informasi lebih banyak
tentang posyandu.
3

Bagi Perawat yang ada di komunitas


Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan mutu
bagi pelayanan keperawatan di komunitas terkait dengan upaya
pengoptimalan kunjungan posyandu lansia dan dalam melakukan
perawatan pada lansia.

Batasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada pengetahuan tentang tingkat pengetahuan
tentang posyandu lansia usia 60-74 tahun

yaitu C1 (tahu)_C2 (paham)

tentang posyandu lansia di Desa Ternyang Kecamatan Sumber Pucung.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Pengetahuan
1
Pengertian
Pengetahuan menurut Notoatmodjo (2003: 121) merupakan hasil tahu,
dan ini terjadi setelah seseorang melakukan pengindraan terhadap objek

tertentu. Pengetahuan ini diperoleh dari aktivitas pancaindra seperti


penglihatan, penciuman, peraba dan indra perasa tetapi sebagian besar
pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan/kognitif adalah
domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang
(Nursalam, 2014).
Pengetahuan (knowledge) hasil tahu dari manusia, yang sekedar
menjawab pertanyaan what, misalnya apa air, apa manusia, apa alam, dan
sebagainya. Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah fakta-fakta dan
teori yang memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah yang
dihadapinya. Pengetahuan tersebut diperoleh baik dari pengalaman langsung
maupun melalui pengalaman orang lain (Notoatmodjo, 2012).
Menurut Fallen (2010), bahwa pengetahuan lansia yang rendah
tentang manfaat posyandu merupakan salah satu kendala lansia dalam
mengikuti kegiatan posyandu. Dimana pengetahuan lansia akan posyandu
lansia dapat diperoleh dari pengalaman pribadi sehari-hari. (Elmi, 2011).
2.1.2. Tingkat pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2010) pengetahuan kognitif merupakan
domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.
Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan,
yaitu:
1

Tahu (know)

Tahu diartikam sebagai mengingat kembali suatu materi yang telah


dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan ini adalah
mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Untuk mengetahui atau
mengukur bahwa orang tahu sesuatu dapat menggunakan pertanyaanpertanyaan.
2.

Memahami (comprehension)
Memahami suatu objek bukan hanya sekedar mengetahui terhadap objek
tersebut,

tidak

hanya

dapat

menyebutkan,

tetapi

harus

dapat

mnginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.


3.

Aplikasi (application)
Aplikasi dapat diartikan apabila seseorang yang telah memahami objek
yang dimaksut dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang
diketahui tersebut pada situasi yang lain.

4.

Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan atau
memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen
yang terdapat dalam suatu objek yang diketahui. Indikasi bahwa
pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisis adalah
apabila orang tersebut telah dapat membedakan atau memisahkan,

mengelompokkan, membuat diagram terhadap pengetahuan atas objek


tersebut.
5.

Sintesis (synthesis)
Sintesi menunjuk suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau
meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen
pengetahuan

yang

dimiliki.

Sintesis

adalah

kemampuan

untuk

menyususn formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada.


6.

Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini
dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri
atau norma-norma yang berlaku dimasyarakat.

2.1.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan


Faktor-faktor

yang

mempengaruhi

pengetahuan

menurut

(Wawan,2010) adalah sebagai berikut:


1
a

Faktor internal
Usia
Usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang.
Dengan bertambahnya usia maka tingkat pengetahuan akan
berkembang sesuai dengan pengetahuan yang didapat

Pendidikan

Pendidikan dapat menambah wawasan dan pengetahuan. Seseorang


yang memiliki pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung
untuk mendapatkan informasi. Semakin banyak informasi maka
semakin banyak pula pengetahuan yang didapat.
c

Pekerjaan
Dengan adanya pekerjaan seseorang memerlukan banyak waktu
untuk menyelesaikan pekerjaan yang dianggap penting.Masyarakat
yang sibuk akan memiliki waktu yang sedikit untuk memperoleh
informasi, sehingga tingkat pengetahuan yang mereka miliki jadi
berkurang.

Faktor eksternal
a)

Lingkungan
Lingkungan merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar
individu.

Lingkungan

berpengaruh

terhadap

masuknya

pengetahuan ke dalam individu yang berada di lingkungan tersebut.


yang akan direspon sebagai pengetahaun
b)

Sosial
Sosial budaya mempunyai pengaruh pada pengetahuan seseorang.
Seseorang memperoleh suatu kebudayaan dalam hubungannya
dalam hubungannya dengan orang lain dan mengalami proses
belajar memperoleh sesuatu pengetahuan.

2.1.4. Cara mengukur tingkat pengetahuan


Menurut Arikunto (2006) pengukuran tingkat pengetahuan dapat
dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi
materi yang diukur dari responden. Tingkat pengetahuan seseorang dapat
diketahui dengan menggunakan skala yang bersifat kualitatif, yaitu:
1.

Baik, jika nilainya 75%

2.

Cukup, jika nilanya 56% - 74%

3.

Kurang, jika nilanya < 55%


(Budiman, 2013)

2.2. Konsep Motivasi


2.2.1. Pengertian motivasi
Motivasi berasal dari

kata motif (motive)yang artinya rangsangan,

dorongan, atau pembangkit tenaga yang dimiliki seseorang sehingga orang


tersebut memperlihatkan perilaku tertentu. Motivasi juga didefinisikan
dorongan dari dalam diri individu yaitu berusaha dan berperilaku dengan cara
tertentu untuk memenuhi keinginan atau kebutuhannya (Satrianegara, 2014).
Motivasi adalah karakteristik psikologis manusia yang memberi
kontribusi pada tingkat komitmen seseorang. Dari berbagai macam definisi
motivasi ada 3 yang paling penting yaitu hubungan antara kebutuhan,
dorongan, dan tujuan. Kebutuhan muncul karena seseorang merasakan
sesuatu yang kurang, baik fisiologis maupun psikologis. Dorongan

merupakan arahan untuk memenuhi kebutuhan, sedangkan tujuan ialah hasil


akhir dari satu siklus motivasi (Nursalam, 2014).
Menurut bentuknya motivasi ada 3 yaitu:
1

Motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang datangnya dari dalam diri


individu.
2 Motivasi ekstrinsik, yaitu mo tivasi yang datangnya dari luar individu.
3 Motivasi terdesak, yaitu motivasi yang muncul dalam kondisi terjepit
secara serentak dan menghentak dengan cepat sekali
(Nursalam, 2014).

Beberapa proses motivasi (Ulfa, 2005) antara lain:


1

Motif (alasan dasar, pendorong)


Motivasi berasal dari bahsa Latin yang artinya to move. Secara umum
mengacu pada kekuatan dorongan yang menggerakkan untuk berperilaku
tertentu. Oleh sebab itu, dalam mempelajari motivasi akan berhubungan
dengan hasrat, keinginan, dorongan dan tujuan. Dalam konsep motivasi
juga akan mempelajari sekelompok fenomena yang mempengaruhi sifat,
kekuatan dan ketetapan dari tingkah laku manusia.

Perjuangan Motif
Seseorang sebelum mengambil keputusan biasanya akan perang dalam
batin, karena terdapat motif yang bersifat luhur dan rendah, sehingga perlu
memilih motif-motif tersebut.

Keputusan

Dalam keputusan ini berisi pilihan motif yang ada dan meninggalkan
kemungkinan yang lain, sebab seseorang tidak mungkin memiliki
keinginan yang macam-macam dalam waktu bersamaan dan bertindak
sesuai dengan yang diinginkan dalam waktu yang bersamaan juga.
Keputusan merupakan kemampuan untuk mengambil dan memilih
keputusan dengan ciri mempertahankan seluruh kepribadian sifatnya
irrasional bagi individu dan timbulnya berasal dari dalam hati pada kondisi
tertentu
(Ulfa, 2005).
2.2.2. Metode peningkatan motivasi
Cara peningkatan motivasi, para ahli mengelompokkan ke dalam
suatu model-model motivasi, yaitu:

Model Tradisional
Untuk memotivasi seseorang agar berperilaku sehat, perlu pemberian
insentif berupa materi bagi seseorang yang mempunyai prestasi tinggi
berperilaku sehat.
b) Model Hubungan Manusia
Model ini menekankan bahwa untuk meningkatkan motivasi berperilaku
sehat, perlu dilakukan pengakuan atau memperhatikan kebutuhan sosial

mereka, meyakinkan pada mereka bahwa setiap orang adalah penting dan
berguna bagi masyarakat.
c) Model Sumber Daya Manusia
Pada model ini mengatakan bahwa ada banyak hal untuk meningkatkan
motivasi. Di samping barang, uang, atau kepuasan, tetapi kebutuhan akan
keberhasilan (kesuksesan hidup). Menurut model ini setiap manusia
cenderung mencapai kepuasan dari prestasi yang dicapai, dan prestasi
yang baik tersebut merupakan tanggung jawabnya sebagai anggota
masyarakat
.

(Notoatmodjo, 2010).
2.2.3. Cara mengukur motivasi
Cara pengukuran motivasi lansia terhadap kunjungan ke posyandu
lansia dilakukan dengan pembagian lembar kuesioner, motivasi yang ingin
kita ukur dapat disesuaikan dengan hasil jawaban dari pernyataan yang
diberikan responden yang kemudian penilaian menggunakan skala interval.
Cara pengukuran motivasi dengan menggunakan skala interval yaitu
pengukuran dimana angka yang digunakan dalam skala interval menetapkan
posisi relative dari beberapa sub kelas.

1
2
3

Kriteria motivasi dikategorikan menjadi :


Tinggi : 76% 100%
Sedang: 51% - 75%
Rendah
: < 51%
(Hidayat, 2010).

2.3. Konsep Lansia


2.3.1. Pengertian lanjut usia
Lanjut usia adalah bagian dari proses tumbuh kembanng, manusia
tidak tiba-tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-anak, dewasa
dan akhirnya menjadi tua. Hal ini normal, sesuai dengan tahap perkembangan
kronologis tertentu, semua orang pasti akan mengalami proses penuaan dan
merupakan masa masa hidup manusia yang terakhir (Azizah, 2011).
Menutur Reimer et al (1999); Stanley and Beare (2007) , lansia
berdasarkan karakteristik sosial masyarakat yang menganggap bahwa orang
telah tua menunjukkan ciri fisik rambut beruban, kulit menjadi keriput, dan
hilannya gigi. Kriteria simbolik seseorang dianggap tua ketika cucu
pertamanya lahir (Azizah, 2011).
Proses menjadi tua di dalam perjalanan hidup manusia merupakan
suatu hal yang wajar yang akan dialami setiap orang yang dikaruniai umur
panjang, hanya cepat lambatnya proses tersebut tergantung individu masingmasing (Padila, 2013).
2.3.2 Batasan-batasan lanjut usia
Usia yang menjadi patoakan dalam menentukan lanjut usia berbedabeda, umumnya anatara 60-65 tahun.
a Menurut WHO
1 Usia pertengahan (middle age) 45-59 tahun
2 Lanjut usia (elderly) 60-74 tahun
3 Lanjut usia tua (old) 75-90 tahun
4 Usia sangat tua (very old) >90 tahun

b Menurut Hurlock (1979)


Early old age (usia 60-70 tahun)
Advance old age (usia > 70 tahun)
c Menurut Burnsie (1979)
1 Young old (usia 60-69 tahun)
2 Middle age old (usia 70-79 tahun)
3 Old-old (usia > 90 tahun)
4 Very old-old (usia > 90 tahun)
d Menurut Bee (1996)
1 Masa dewasa muda (usia 18-25 tahun)
2 Masa dewasa awal 9usia 25-40 tahun)
3 Masa dewasa tengah (usia 40-65 tahun)
4 Masa dewasa lanjut (usia 65-75 tahun)
5 Masa dewasa sangat lanjut (usia > 75 tahun)
e Menurut Prof. Dr. Koesoemanto setyonegoro
1 Usia dewasa muda (elderly adulthood) 18/20-25 tahun
2 Usia dewasa penuh (middle years) atau maturitas 25-60/65 tahun
3 Lanjt usia (geriatric age) > 65/70 tahun, terdiri atas:
- Young old (70-75 tahun)
- Old (75-80 tahun)
- Very old ( > 80 tahun)
f Menurut Sumber lain
1 Elderly (usia 60-65 tahun)
2 Junior old age (usia > 65-75 tahun)
3 Formal old age (usia > 75-90 tahun)
4 Longevity old age (usia > 90-120 tahun)
1
2

Di indonesia batasan lansia yaitu > 60 tahun terdapat dalam UU no 13


tahun 1998 tentang kesejatreaan lansia. Menurut UU diatas lanjut usia ialah
seseoran mencapai usia > 60 tahun, baik pria ataupun wanita (Padila, 2013).
2.3.3. Tipe-tipe lanjut usia
a Tipe arif bijaksana
Kaya dengan hikmhg pengalaman menyesuaikan dengan perubahan
jaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, sederhana dan menjadi
panutan.
b Tipe mandiri

Mengganti kegiatanyang hilang dengan kegiatan yang baru, selektif


dalam mencari pekerjaan dan teman pergaulan.
c Tipe tidak puas
Konflik lahir batin menentang proses ketuaan, yang menyebabkan
kehilangan daya tarik jasmaniah, kehilanagan kekuasaan, status,
pemarah, tidak sabar dan mudah tersinggung.
d Tipe pasrah
Menerima dan menunggu nasib baik, ringan kaki, pekerjaan apa saja
dilakukan.
e Tipe bingung
Kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, merasa minder, menyesal,
pasif.
Tipe kepribadian lanjut usia menurut Kuntjoro 2002 sebagai berikut:
1

Tipe kepribadian konstruktif (construction personality)


Memiliki integritas baik, menikmati hidupnya, toleransi tinggi dan
fleksibel. Lansia bisa menerima fakta proses menua dan menhadapi masa
pensiun dengan bijaksana.

Tipe kepribadian mandiri (independent personality)


Pada tipe ini ada kecenderungan mengalami post power sindrome,
apalagi jika pada masa la nsia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat
memberikan otonomi.

Tipe kepribadian tergantung (dependent personality)


Biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan
keluarga selalu harmonismaka pada lansia tidak bergejolaktipe ini lansia
suka mengalami masa pensiun, pasif tetapi masih tau diri.

Tipe kepribadian bermusuhan (hostile personality)


Pada tipe ini setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan
kehidupannya banyak keinginan yang tidak diperhitungakn sehingga
kondisi ekonomimya menurun. Mereka menganggap orang lain yang
menyebabkan kegagalan dan selalu curiga.

Tipe kepribadian defensive


Tipe ini selalu menolak bantuan, emosinya tidak terkontrol, mereka takut
menjadi tua dan tidak menyenangi masa pensiun.

Tipe kepribadian kritik diri (self hate personality)


Lansia tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena sulit dibantu orang lain
atau cenderung menyusahkan dirinya sendiri. Selalu menyalahkan diri,
tidak memiliki ambisi dan merasa korban dari keadaan
(Azizah, 2011).

2.3.4. Perubahan kognitif


1) Memory (daya ingat)

Pada lansia daya ingat merupakan salah satu fungsi kognitif yang sering
mengalami penurunan. Lansia akan mengalami kesulitan untuk
mengungkapkan kembali cerita/kejadian yang tidak terlalu menarik
perhatiannya.
2) IQ (Intellegent Quocient)
Kecepatan proses dipusat saraf menurun sesuai pertambahan usia.
Perubahan itu dialami oleh setiap orang yang mencapai usia 70-an.
Kemunduran intelektual sebelum usia 50 tahun adalah abnormal dan
patologis. Pada usia 65-75 tahun didapat kemunduran pada beberapa
kemampuan dengan variasi perbedaan individu yang luas.
3) Kemampuan belajar
Lanjut usia yang sehat dan tidak mengalami demensia masih memiliki
kemampuan belajar yang baik. Oleh krena itu sudah seyogyanya mereka
diberikan kesempatan untuk mengembangkan wawasan berdasarkan
pengalaman.
4) Kemampuan pemahaman
Pada lansia kemampuan pemahaman atau menangkap pengertian
mengalami penurunan. Hal ini karena fungsi pendengaran dan
konsentrasinya juga mengalami penurunan.dalam pelayanan terhadap
lansia

supaya

tidak

terjadi

kesalah

berkomunikasi dilakukan kontak mata.


5) Pemecahan masalah

pahaman

sebaiknya

jika

Pada lanjut usia tentunya masalah yang terjadi semakin banyak, karena
terjadi penurunan pada fungsi indranya. Hambatan lain dapat berupa
penurunan daya ingat, pemahaman dan sebagainya.
6) Pengambilan keputusan
Pengambilan keputusan pada lansia sering lambat dan seolah-olah terjadi
penundaan. Keputusan yang diambil tanpa dibicarakan dengan mereka
akan menimbulkan kekecewaan dan dapat memperburuk kondisinya.
Oleh karena itu dalam pengambilan keputusan, kaum tua tetap dalam
posisi yang dihormati.
7) Kebijaksanaan
Menurut Kuntjoro (2002), lansia akan semakin bijaksana dalam
menghadapi masalah. Kebijaksanaan tergantung dari kepribadian
seseorang dan pengalaman hidup yang dialami.
8) Kinerja
Pada lansia akan terlihat penurunan kinerja, perubahan performance yang
membutuhkan kecepatan dan waktu mengalami penurunan.penurunan itu
bersifat wajar sesuai perubahan organ-organ biologis atau yang bersifat
patologis
(Azizah, 2011).
2.3.5 Perubahn-perubahan yang terjadi pada lansia

Perubahan yang terjadi pada lansia menurut Azizah (2011) meliputi


perubahn fisik, sosial, dan psikologis :
1

Perubahan Fisik
a Fungsi pendengaran
Perubahan fungsi pendengaran karena membran timpani atrofi sehingga
terjadi gangguan pendengaran. Tulang-tulang pendengaran mengalami
b

kekakuan (Maryam, 2008).


Sistem Muskuloskeletal
Cairan tulang menurun sehingga rapuh (osteoporosis), bungkuk
(kifosis), persendian menjadi besar dan kaku (atrofi otot), kram, tremor,

tendon mengerut dan mengalami sklerosis (Maryam, 2008).


Fungsi Kardiovaskular dan Respirasi
Katup jantung menebal dan kaku, kemampuan memompa darah
menurun (menurunnya kontraksi dan volume), elastisitas pembuluh
darah menurun, serta meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer
sehingga tekanan darah meningkat. Sedangkan pada fungsi pernafasan
terjadi penurunan dan kekakuan otot-otot pernafasan, elastisitas paru
menurun, kapasitas residu meningkat sehingga menarik nafas lebih
berat, alveoli melebar dan jumlahnya menurun, kemampuan batuk

menurun, serta terjadi penyempitan pada bronkus.


Fungsi Pencernaan
Esofagus melebar, asam lambung menurun, lapar menurun, dan
peristaltik menurun sehingga daya absorpsi juga ikut menurun. Ukuran
lambung menjadi mengecil serta fungsi organ aksesori menurun
sehingga menyebabakan berkurangnya produksi hormon dan enzim

pencernaan.
Fungsi Perkemihan

Ginjal: mengecil, aliran darah ke ginjal menurun, penyaringan di


glomerulus

menurun,

dan

fungsi

tubulus

menurun

sehingga

kemampuan mengonsentrasikan urine ikut menurun.


Perubahan fungsi Saraf
Saraf panca indra mengecil sehingga fungsinya menurun serta lambat

dalam merespon dan waktu bereaksi khususnya yang berhubungan


dengan stres. Berkurang atau hilangnya lapisan mielin akson, sehingga
g

menyebabkan berkurangnya respon motorik dan reflek.


Fungsi penglihatan
Respon terhadap sinar menurun, adaptasi terhadap gelap menurun,

akomodasi menurun, lapang pndang menurun, dan katarak.


Perubahan Sosial
Selain perubahan fisik pada lansia juga terjadi perubahan sosial,
perubahan sosial yang terjadi pada lansia menurut (Maryam dkk, 2008):
a

Peran: post power syndrome, single woman

dan single parent.


Keluarga emptiness

kehampaan.
Teman
:ketika lansia lainnya meninggal

maka muncul perasaan kapan akan meninggal.


Abuse
:kekerasan
berbentuk
verbal

:kesendirian

dan

(dibentak) dan non verbal (dicubit atau tidak


e

diberi makan).
Masalah hukum

:berkaitan

dengan

perlindungan aset dan kekayaan pribadi yang


f

dikumpulkan sejak masih muda.


Pensiun
:kalau menjadi pegawai negri sipil
(PNS) akan ada tabungan (dana pensiun). Kalau

tidak ada maka anak dan cucu


g

memberi uang.
Ekonomi :kesempatan

untuk

yang akan
mendapatkan

pekerjaan yang cocok bagi lansia dan income


h
i
j

security.
Rekreasi
:untuk ketenangan batin.
Keamanan :jatuh atau terpeleset
Transportasi:kebutuhan akan sistem transportasi

yang cocok bagi lansia.


Poltik
:kesempatan

yang

sama

untuk

terlibat dan memberikan masukan dalam sistem


l

politik yang berlaku.


Pendidikan :berkaitan dengan pengentasan buta
aksara dan kesempatan untuk tetap belajar sesuai

m
n
3

dengan hak asasi manusia.


Agama
:melaksankan ibadah.
Panti jompo :merasa dibuang atau diasingkan.

Perubahan Psikologis
Perubahan psikologis pada lansia meliputi short term memory,
frustasi, kesepian , takut kehilangan kebebasan, takut menghadapi
kematian, perubahan keinginan, depresi dan kecemasan. Dalam psikologi
perkembangan, lansia dan perubahan yang dialaminya akibat proses
penuaan digambarkan oleh hal- hal berikut :
a Keadaan fisik lemah dan tak berdaya sehingga harus bergantung
b
c

pada yang lainnya.


Status ekonominya sangat terancam.
Menentukan kondisi hidup yang sesuai dengan perubahan status

ekonomi dan kondisi fisik.


Mencari teman baru untuk menggantikan suami atau istri yang

meninggal atau pergi jauh dan atau cacat.


Mengembangkan kegiatan baru untuk mengisi waktu luang yang
semakin bertambah.

Belajar untuk memperlakukan anak yang sudah besar sebagai

orang dewasa.
Mulai terlibat dalam kegiatan masyarakat yang secara khusus

direncanakan untuk orang dewasa.


Mulai merasakan kebahagiaan dari kegiatan yang sesuai untuk

lansia.
Memiliki kemauan untuk mengganti kegiatan lama yang berat
dengan yang lebih cocok.

2.4. Konsep Posyandu Lansia


2.4.1. Pengertian posyandu lansia
Posyandu adalah suatu kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan
kesehatan Posyandu lansia merupakan pusat kegiatan masyarakat dalam
upaya pelayanan kesehatan pada lanjut usia (Azizah, 2011).
Posyandu lansia merupakan pos pelayanan terpadu untuk masyarakat
usia lanjut di suatu wilayah tertentu, dan digerakkan oleh masyarakat dimana
mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Posyandu lansia merupakan
kebijakan pemerintah untuk pelayanan kesehatan bagi para lansia yang
penyelenggaraannya melalui program puskesmas (Fallen, 2011).
2.4.2. Tujuan pelayanan posyandu lansia
Tujuan pembentukan posyandu lansia menurut (Azizah, 2011) yaitu :
1) Meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku positif dari lansia.
2) Meningkatkan mutu dan derajat kesehatan lansia.

3) Meningkatkan kemampuan lanjut usia untuk mengenali masalah


kesehatan dirinya sendiri dan bertindak untuk mengatasi masalah tersebut
dan meminta pertolongan kepada keluarga atau petugas jika diperlukan.
4) Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat agar
terbentuk pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan lansia.
5) Meningkatkan

pelayanan

serta

meningkatkan

komunikasi

antara

masyarakat usia lanjut.


2.4.3. Manfaat posyandu lansia
Menurut Azizah (2011) ada beberapa manfaat dari posyandu lansia
antara lain:
1) Meningkatkan status kesehatan lansia
2) Meningkatkan kemandirian pada lansia
3) Memperlambat anging proses
4) Deteksi dini gangguan kesehatan pada lansia
5) Meningkatkan harapan hidup
2.4.4. Sasaran pada posyandu lansia
Sasaran dalam posyandu lansia menurut Fallen (2011) adalah sebagai
berikut:
1.

Sasaran langsung yaitu:


a.

Kelompok pra usia lanjut (usia 45-59 tahun)

2.

b.

Kelompok usia lanjut (usia > 60 tahun)

c.

Kelompok usia lanjut dengan resiko tinggi (usia > 70 tahun)

Sasaran tidak langsung


a.

Keluarga dimana usia lanjut berbeda

b.

Organisasi sosial yang bergerak dalam pembinaan usia lanjut


masyarakat luas.

2.4.5. Mekanisme pelayanan posyandu lansia


Berbeda dengan posyandu balita yang terdapat sistem 5 meja,
pelayanan yang diselenggarakan dalam posyandu lansia tergantung
mekanisme dan kebijakan pelayanan kesehatan di wilayah maupun kota
tertentu. Ada yang menyelenggarakan sistem 5 meja seperti posyandu balita,
ada juga yang hanya menggunakan sistem pelayanan 3 meja, dengan
kegiatannya yaitu :
1.

Meja I

: pendaftaran lansia, pengukuran dan penimbangan berat


badan dan tinggi badan

2.

Meja II

: melakukan pencatatan berat badan, tinggi badan, indeks


massa tubuh (IMT). Pelayanan keehatan seperti pengobatan
sederhana dan rujukan kasus juga dilakukan di meja II ini.

3.Meja III

: melakukan kegiatan penyuluhan atau konseling, disini juga


bisa dilakukan pelayanan pojok gizi.
(Fallen, 2011).

2.4.6. Faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan lansia ke posyandu


Beberapa faktor yang dihadapi lansia dalam melakukan kunjungan ke
posyandu (Fallen, 2011) antara lain :
1.

Pengetahuan lansia yang rendah tentang manfaat posyandu lansia


pengetahuan lansia akan manfaat posyandu ini dapat diperoleh dari
pengalaman pribadi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menghadiri
kegiatan posyandu, lansia akan mendapatkan penyuluhan tentang
bagaimana cara hidup sehat dengan segala keterbatasan atau masalah
kesehatan yang melekat pada mereka. Dengan pengalaman ini,
pengetahuan lansia menjadi meningkat, yang menjadi dasar pembentukan
sikap yang dapat mendorong minat atau motivasi mereka untuk selalu
mengikuti posyandu lansia.

2.

Jarak rumah dengan lokasi posyandu yang jauh atau sulit dijangkau.
Jarak posyandu yang dekat akan membuat lansia mudah menjangkau
posyandu tanpa harus mengalami kelelahan dan kecelakaan fisik.
Kemudahan dalam menjangkau lokasi berhubungan dengan keamanan
atau keselamatan bagi lansia. Jika lansia merasa aman, maka hal ini dapat
mendorong minat atau motivasi lansia untuk mengikuti posyandu.

3.

Kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan


lansia untuk datang ke posyandu. Dukungan keluarga sangat berperan
dalam mendorong minat atau motivasi lansia dalam kegiatan posyandu
lansia. Keluarag bisa menjadi motivator kuat untuk mendampingi atau
mengantar lansia jika lupa jadwal posyandu.

2.4.7. Kegiatan kesehatan di posyandu lansia


Beberapa kegiatan kesehatan di posyandu lansia menurut Azizah
(2011) sebagai berikut :
1)

Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari meliputi kegiatan dasar


dalam kehidupan sehari-hari seperti makan, minum, berjalan, mandi
dan sebagainya.

2)

Pemeriksaan status mental.

3)

Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan tinggi


badan, pencatatan dalam grafik IMT.

4)

Pengukuran tekanan darah dengan menggunakan tensi meter dan


stetoskop serta penghitungan nadi selama satu menit.

5)

Pemeriksaan hemoglobin dan gula darah air seni sebagai deteksi awal
adanya penyakit DM.

6)

Pemeriksaan kandungan zat putih telur (protein) sebagai deteksi awal


adanya penyakit ginjal.

7)

Pelaksanaan rujukan ke puskesmas bila ada rujukan.

8)

Penyuluhan dilakukan di luar atau di dalam posyandu atau kelompok


lanjut usia dalam rangka konseling kesehatan.

9)

Kunjungan rumah oleh kader didampingi Puskesmas bagi lansia yang


tidak hadir di posyandu.

10)

Pemberian makan tambahan (PMT) dan penyuluhan contoh makanan.

11)

Kegiatan olahraga seperti senam lansia dan jalan santai.

2.5. Konsep tingkat pengetahuan dengan motivasi lansia dalam melakukan


kunjungan ke posyandu lansia
Lansia merupakan tahap akhir dari kehidupan seseorang. Pasa tahap ini
seseorang mengalami proses menua dan merupakan proses yang alami dan
normal. Namun para lansia yang aktif berkunjung ke posyandu hanya mereka
yang mengalami gangguan kesehatan. Sedangkan lansia yang tidak aktif ke
posyandu cenderung lansia yang tidak mempunyai masalaha kesehatan (Nurhudi
dkk, 2012).
Banyak faktor yang mempengaruhi keadaan ini, kemungkinan yang bisa
terjadi karena persepsi lansia bahwa posyandu lansia digunakan hanya untuk
lansia yang mengalami gangguan kesehatan saja. Sehingga lansia yang merasa
tidak mengalami gangguan kesehatan cenderung tidak mengunjungi posyandu
lansia (Nurhudi dkk, 2012).
Lansia yang mengikuti kegiatan posyandu, akan sering mendapatkan
penyuluhan tentang bagaimana car hidup sehat. dengan pengalaman ini,
pengetahuan lansia menjadi meningkat, yang akan dapat mendorong motivasi atau
minat lansia agar selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia (Citra, 2014).

2.6

Kerangka Konsep

Perubahan kognitif :
1
2
Lansia

Memory (daya ingat)


IQ (Intellegent
Quocient)
3 Kemampuan belajar
4 Kemampuan
pemahaman
5 Pemecahan masalah
6 Pengambilan keputusan
7 Kebijaksanaan
8 Kinerja
Keterangan :

Tingkat pengetahaun :

Tahu (C1)
Memahami (C2)
Aplikasi (C3)
Analisis (C4)
Sintesis (C5)
Evaluasi (C6)

Baik

Pengetahuan
Tentang pengertian posyandu
lansia
Tentang manfaat posyandu lansia
Tentang tujuan posyandu lansia
Tentang sasaran posyandu lansia
Tentang mekanisme pelayanan
posyandu lansia
Tentang kegiatan posyandu lansia

Cukup
Kurang

Motivasi

Motif (alasan dasar atau pendorong)


untuk mengunjungi posyandu lansia
Perjuangan motif
Keputusan (perbuatan atau kemampuan
untuk melakukan tindakan)

Kunjungan ke
posyandu

= Diteliti
= Tidak diteliti

Tinggi

Sedang

Rendah

= Ada pengaruh
Bagan 2.1 Kerangka konsep penelitian Hubungan antara tingkat pengetahuan lansia dengan motivasi lansia dalam melakukan kunjuangan
ke posyandu lansia

Keterangan Keragka Konsep


Lansia merupakan proses yang terjadi pada setiap manusia, pada lansia
terjadi beberapa penurunan salah satunya penurunan fungsi kognitif yang
akan mempengaruhi tingkat pengetahuan lansia. Pada perubahan fungsi
kognitif tersebut akan menimbulkan penurunan tingkat pengetahuan lansia
sehingga mempengaruhi motivasi lansia dalam melakukan kunjungan ke
posyandu lansia. motivasi lansia dalam melakukan kunjungan ke posyandu
lansia dapat diukur dengan tinggi, sedang dan rendah. Sedangkan tingkat
pengetahuan lansia tersebut dapat diukur dengan baik, cukup, dan kurang.
Hipotesis Penelitian
Hipotesis

penelitian

adalah

suatu

anggapan

dasar

yang

kebenarannya masih perlu diuji (Arikunto, 2002)


Hipotesis dari penilitian ini adalah
Ho ditolak :

Ada hubungan antara tingkat pengetahuan lansia dengan

motivasi lansia dalam melakukan kunjungan ke posyandu lansia

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1

Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan desain
analitik korelasi dengan pendekatan cros sectional. Peneliti menganalisa
hubungan antara variabel bebas yaitu tingkat pengetahuan lansia dengan
variabel terikat yaitu motivasi lansia dalam melakukan kunjungan ke
posyandu lansia. Pengumpulan data dilakukan sesaat dengan menggunakan
data primer.

3.2

Waktu dan Tempat Penelitian


Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di Posyandu Lansia Desa
Ternyang Kecamatan Sumber Pucung pada bulan 26 Maret 2016.

3.3

Kerangka Kerja (Frame work)


Populasi
Populasi penelitian ini adalah 27 lansia

Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah lansia yang memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi
Teknik sampling
Teknik dalam pengambilan sampling penelitian ini adalah
sampling purposive yaitu peneliti mengambil lansia di RW 04
yang mengikuti posyandu lansia
Desain Penelitian
Cross Sectional

Variabel Dependent
Tingkat pengetahuan
lansia
Analisa

Variabel Independent
Motivasi lansia dalam
melakukan kunjungan ke
posyandu lansia

Univariate
Tingkat pengetahuan lansia menggunakan skala interval dengan penilaian numerik
Sedangkan untuk motivasi lansia dalam melakukan kunjungan ke posyandu lansia
menggunakan skala interval dengan penilaian numerik
Bivariate
Uji kekuatan hubungan menggunakan Spearmen Rank

Bagan 3.1 Kerangka Kerja


Penarikan Kesimpulan
3.4
JikaDesain
p valueSampling
0,05 maka Ho diterima, artinya tidak ada hubungan antara tingkat
pengetahuan tentang posyandu lansia dengan motivasi lansia usia 60-74 tahun
dalam
melakukan
3.4.1
Populasikunjungan ke posyandu lansia
Jika p value < 0,05 maka Ho ditolak, artinya ada hubungan antara tingkat
pengetahuan tentang posyandu lansia dengan motivasi lansia usia 60-74 tahun
dalam melakukan
kunjungan
ke posyandu
lansia
Populasi
adalah
wilayah generalisasi
terdiri dari obyek/subyek
yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya

(Sugiyono, 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang


bertempat tinggal di Desa Ternyang sebanyak 27 lansia.
3.4.2 Sampel
Sampel adalah bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian
jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Hidayat, 2012).
1

Kriteria Inklusi
Responden yang diambil dan dapat memenuhi syarat adalah
sebagai berikut:
a. Lansia yang memiliki kemampuan mendengar dengan baik
b. Lansia yang bersedia menjadi responden

Kriteria Eksklusi
a. Lansia yang sedang sakit parah
b. Lansia yang tidak hadir saat penelitian

3.4.3 Sampling
Sampling adalah suatu teknik tertentu yang digunakan untuk
menentukan sampel, sehingga sampel tersebut sedapat mungkin
mewakili populasinya (Notoatmodjo, 2012).

Teknik sampling yang digunakan adalah Nonprobability sampling


dengan jenis sampling purposive yaitu teknik penentuan sampelnya
dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2012).
3.5 Identifikasi Variabel
Variabel merupakan gejala yang menjadi fokus penelitian untuk
diamati (Sugiyono, 2012). Adapun dalam penelitian ini, variabel peneliti
terdiri dari dua jenis yaitu :
3.5.1 Variabel Independent
Variabel independent atau variabel bebas adalah suatu variabel
yang mempengaruhi variabel yang lain (Imron dan Munif, 2010).
Variabel independent dalam penelitian ini yaitu tingkat pengetahuan
lansia.
3.5.2 Varabel Dependent
Variabel dependent atau variabel terikat yaitu variabel penelitian
yang diukur untuk mengetahui besarnya efek atau pengaruh dari
variabel lain (Imron dan Munif, 2010). Variabel dependent dalam
penelitian ini adalah motivasi lansia dalam melakukan kunjungan ke
posyandu lansia.

3.6. Definisi Operasional


Tabel 3.1 Tabel Definisi Operasioanl hubungan tingkat pengetahuan tentang
posyandu lansia dengan motivasi lansia dalam melakukan kunjungan ke
posyandu lansia.

Variabel
Tingkat
pengetahua
n lansia
tentang
posyandu
lansia di
Desa
Ternyang
Kecamatan
Sumber
Pucung.

Definisi
Operasional

Indikator
1

Sejauh
mana lansia
memilikikei
nginan
untuk
mengikuti
posyandu
lansia

Skala

Skoring

Mengetahui
Kuesioner
pengertian
posyandu lansia
Mengetahui
manfaat
posyandu lansia
Mengetahui
tujuan posyandu
lansia
Sasaran
pada
posyandu lansia
Mengetahui
mekanisme
pelayanan
di
posyandu lansia
Mengetahui
kegiatan
kesehatan
di
posyandu lansia

Interval

Untuk jawaban
Benar : 1
Salah : 0

Motif
(alasan Kuesioner
dasar
atau
pendorong)
untuk
mengunjungi
posyandu lansia
2 Perjuangan
motif
3 Keputusan
(perbuatan atau
kemampuan
untuk
melakukan
tindakan)
3.7. Teknik Pengumpulan Data

Interval

Untuk jawaban positif


Sangat setuju : 4
Setuju
:3
Tidak setuju : 2
Sangat tidak setuju : 1

Motivasi
lnasia
dalam
melakukan
kunjungan
ke
posyandu
lansia.

Segala
sesuatu
yang
diketahui
lansia
mengenai
posyandu
tentang
pelaksanaan
posyandu
dan
kegiatankegiatan
posyandu
lansia

Alat Ukur

4
5

3.7.1 Proses Pengumpulan Data

Sedangkan jawabn negatif


Sangat setuju : 1
Setuju
:2
Tidak setuju : 3
Sangat tidak setuju : 4

Proses pengumpulan data dilakukan secara birokrasi, yaitu:


Peneliti mendapat surat pengantar dari Ketua Stikes Kepanjen
Kabupaten Malang diserahkan kepada kader posyandu di Kelurahan
Ternyang Kecamatan Sumber Pucung Kota Malang guna memperoleh
ijin lahan penelitian, setelah mendapatkan ijin dari pihak Posyandu
Kelurahan Ternyang Kota Malang, peneliti mendatangi tempat
posyandu kemudian mengumpulkan para responden kemudian
melakukan informed consent dengan responden di Posyandu yang ada
di Desa Ternyang, setelah responden menyetujui, peneliti memberi
penjelasan kepada responden tentang hal-hal yang belum dipahami
oleh responden dilanjutkan dengan peneliti mewawancarai responden
dengan teknik 1 orang lawan 1 orang, dimana peneliti mewawancarai
responden satu persatu mengenai pengetahuan lansia tentang
posyandu yang berupa pertanyaan positif dan negatif sebanyak 10
soal.

Sedangakan

untuk

mengukur

motivasi

lansia

peneliti

menggunakan lembar pernyataan yang berupa pernyataan positif dan


negatif sebanyak 10 pernyataan. Dalam pengambilan data peneliti
dibantu dengan 4 orang teman yang sebelumnya telah dilakukan
breafing bersama untuk menyamakan persepsi dalam pengambilan
data pada lansia. Waktu yang dibutuhkan diperkirakan 10-15 menit
per lansia, sehingga dalam 2 jam dapat memperoleh 8 lansia,
sehingga dalam 2 jam bisa mewawancarai 27 lansia. Jadi dengan
jumlah responden 27 lansia, maka akan dibutuhkan waktu 1 hari.

3.7.2 Instrumen Pengumpulan Data


Instrumen penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan untuk
pengumpulan data (Notoatmodjo, 2012). Untuk pengumpulan data
peneliti menggunakan alat pengumpulan data berupa pertanyaan atau
angket yang dibuat peneliti dengan mengacu pada teori dan konsep.
Isi angket berisi data pengetahuan tentang tingkat pengetahuan lansia
dengan menggunakan kuesioner dalam bentuk closed ended. Kuesiner
yang dibuat untuk mengukur pengetahuan tentang pegetahuan
posyandu lansia sejumlah 10 pertanyaan. Waktu yang diperlukan
untuk pengisian angket diperkirakan 15-20 menit, sedangkan untuk
mengukur motivasi lansia peneliti mengajukan 10 pernyataan.
3.7.3 Uji Validitas
1. Validitas
Validitas ialah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu
benar-benar mengukur apa yang diukur. Demikian juga kuesioner
sebagai alat ukur harus mengukur apa yang diukur, maka perlu
diuji dengan uji korelasi antar skors (nilai) tiap-tiap item
(pertanyaan) dengan skors total kuesioner tersebut. Apabila
kuesioner tersebut telah memiliki validitas, berarti semua item
(pertanyaan) yang ada didalam kuesioner itu mengukur konsep
yang kita ukur (Notoatmodjo, 2012). Dalam uji validitas kuesioner,
peneliti menggunakan korelasi Spearmen Sommers gamma dengan
taraf signifikansi sebesar 5% (0,05), yang jika hasilnya < 0,05

maka dapat dikatakan valid. Dan hasil uji validitas dari kuisioner
adalah (r= 0,000).
2. Reliabilitas
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu
alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti
menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten
atau tetap asas bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih
terhadap gejala yang sama, dengan menggunakan alat ukur yang
sama (Notoatmodjo, 2012). Uji reliabilitas dalam penelitian ini
dengan instrumen satu kali saja tapi ada beberapa pertanyaan yang
perlu di ubah kemudian hasil yang diperoleh dianalisis dengan
teknik tertentu untuk menguji reliabilitas instrumen digunakan
rumus koefisien reliabilitas Alpha Cronbach yang hasilnya (0,797).
3. Uji Normalitas
Uji normalitas yaitu dilakukan untuk mengetahui data setiap
variabel yang akan dianalisis berdistribusi normal. Hasil dari uji
Shapiro-Wilk dengan menggunakan SPSS didapatkan hasil yaitu
(0,000-0,159). Untuk itu sebelum peneliti menggunakan teknik
Statistik Parametris, maka kenormalan harus diuji terlebih dahulu.
Bila data tidak normal, maka statistik parametris tidak dapat
digunakan, untuk itu perlu digunakan statistik nonparametris.

3.6

Teknik Analisa Data


3.6.1 Langkah-langkah Analisa Data
1. Editing
Editing merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan
isian formulir atau kuesioner tersebut. Apabila ada yang kurang
jelas diperbaiki kalau masih ada yang belum sesuai pertanyaan
dikembalikan kepada responden untuk klasifikasi dan jika tidak
memungkinkan data yang tidak lengkap tidak diolah atau
dimasukkan dalam pengolahan data missing (Notoatmodjo,
2012).
2. Coding
Memberikan simbol-simbol tertentu untuk masing-masing data
yang sudah diklasifikasikan (Imron dan Munif, 2010). Koding atau
pemberian kode ini sangat berguna dalam memasukkan data (data
entry) (Notoatmodjo,2012).
Pada penelitian pemberian kode diberikan pada:
1.

Jenis kelamin
a. Laki-laki : L
b. Perempuan : P

2.

Pekerjaan
a. Ibu rumah tangga : 1
b. Swasta : 2

c. Wiraswasta : 3
d. PNS : 4
3.

Usia
a. 60-65 : 1
b. 66-70 : 2
c. 71-74 : 3

4.

Pendidikan
a
b
c
d

5.

SD
SMP
SMA
PT

:1
:2
:3
:4

Pernah mendapatkan pengetahuan sebelumnya tentang


posyandu lansia

a Y
b T

: ya
: tidak
3. Tabulating
a.

Skoring
Memberikan skor terhadap item-item yang perlu diberi

skor, dan memberikan kode terhadap item-item yang tidak diberi


skor (Arikunto, 2006). Pengolahan data dilakukan dengan
memberikan penilaian pada jawaban responden mengenai tingkat
pengetahuan lansia.
Untuk pertanyaan positif di berikan nilai :
a. Benar : 1

b. Salah : 0
Untuk pertanyaan negatif diberikan nilai :
a. Benar : 1
b. Salah : 0
Sedangkan

pernyataan

responden

tentang

motivasi

jika

pernyataan positif diberikan nilai


a. sangat setuju : 4
b. setuju : 3
c. tidak setuju : 2
d. sangat tidak setuju : 1
Sedangkan untuk pernyataan negatif diberikan nilai
a. sangat setuju : 1
b. setuju : 2
c. tidak setuju : 3
d. sangat tidak setuju : 4
b. Klasifikasi
Sedangkan data untuk menilai pengetahuan tentang
posyandu lansia dengan motivasi lansia usia 60-74 tahun dalam
melakukan kunjungan ke posyandu lansia . Pengklasifikasian
tersebut adalah
a

Klasifikasi pengetahuan tentang posyandu lansia :


a Tingkat pengetahuan baik dengan skor 8-10
b Tingkat pengetahuan cukup dengan skor 4-7
c Tingkat pengetahuan kurang dengan skor 1-3

b) Klasifikasi motivasi kunjungan ke posyandu lansia :

1 Tingkat motivasi tinggi dengan skor 31-40


2 Tingkat motivasi sedang dengan skor 20-30
3 Tingkat motivasi rendah dengan skor 10-19
Sedangkan data umum yang diperoleh dapat di interprestasikan dengan
menggunakan acuan hasil interpretasi data berdasarkan Arikunto
(2010) yaitu sebagai berikut :
1 0%
: Tidak ada
2 1% - 24% : Kurang dari setengah
3 50%
: Setengah
4 51% - 74%
: Sebagian besar
5 75% - 99%
: Hampir seluruh
6 100%
: Seluruh
3.6.2 Analisa Data
Analisa

data

yang

dilakukan

untuk

menilai

tingkat

pengetahuan dengan motivasi lansia dalam melakukan kunjungan ke


posyandu lansia di Desa Ternyang Kecamatan Sumber Pucung
menggunakan uji korelasi sperman rank, yaitu suatu analisa data
yang digunakan untuk mengetahui derajat hubungan dan kontribusi
variabel bebas (independent) dengan variabel terikat (dependent).
Analisa data suatu penelitian, biasanya melalui prosedur
bertahap, yaitu:
1.

Analisa Univariate (Analisa Deskriptif)


Teknik ini digunakan dalam setiap variabel hasil dari
penelitian untuk menjelaskan dan mendeskripsikan masingmasing variabel (Imron & Munif, 2010). Dalam hal ini
digunakan untuk mendeskripsikan variabel tingkat pengetahuan

lansia dengan motivasi lansia dalam melakukan kunjungan ke


posyandu lansia.
2.

Analisa Bivariate
Analisis ini digunakan untuk melihat apakah ada hubungan
antar variabel (Imron & Munif, 2010). Dalam penelitian ini
peneliti ingin menganalisis hubungan tingkat pengetahuan
dengan motivasi lansia dalam melakukan kunjungan ke
posyandu lansia. analisis yang digunakan untuk melihat
hubungan kedua variabel tersebut adalah spearman

rank

dengan taraf signifikan () 0,5% atau tingkat kepercayaan 95%


(Sugiyono, 2006).Analisis data ini akan dilakukan melalui
proses komputerisasi dengan bantuan SPSS for Windows versi
16.

3.6.3 Penarikan Kesimpulan

Kesimpulan adalah suatu hasil penelitian yang didasarkan


atas semua data yang diperoleh dari kegiatan penelitian (Arikunto,
2002). Kesimpulan dibuat dengan cara :
Jika probabilitas 0,05 maka Ho diterima atau Ha ditolak
Jika probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak atau Ha diterima
3.7. Etika Penelitian
3.7.1. Prinsip manfaat
Dengan berprinsip pada aspek manfaat, maka segala bentuk
penelitian diharapkan dapat memperoleh manfaat semaksimal
mungkin bagi manusia. Penelitian hendaknya meminimalisasi
dampak yang dapat merugikan bagi manusia dan pelaksanaan
penelitian tidak memberikan atau menimbulkan kekerasan pada
manusia (Notoatmodjo, 2012).
3.7.2. Prinsip menghormati manusia
Dalam melakukan sebuah penelitian perlu mempertimbangkan
hak-hak manusia untuk mendapatkan informasi tentang tujuan
peneliti melakukan penelitian tersebut. Di samping itu manusia juga
berhak untuk menentukan pilihan antara mau dan tidak untuk diikut
sertakan menjadi subjek penelitian. Oleh sebab itu peneliti tidak
boleh menampilkan informasi dan kerahasiaan identitas subjek,
cukup hanya menggunakan coding sebagai pengganti identitas
responden (Notoatmodjo, 2010).

3.7.3. Prinsip keadilan


Prinsip keadilan ini menjamin bahwa semua subjek penelitian
memperoleh

perlakuan

dan

keuntungan

yang

sama,

tanpa

membedakan jender, agama, etnis, dan sebagainya (Notoatmodjo,


2012).

BAB IV
HASIL PENELITIAN

Pada bab 4 ini menguraikan hasil penelitian mengenai hubungan tingkat


pengetahuan tentang posyandu lansia dengan motivasi lansia usi 60-74 tahun
dalam melakukan kunjungan ke posyandu lansia di RW 04 Desa Ternyang
Kecamatan Sumber Pucung Kabupaten Malang. Penelitain ini telah dilaksanakan
pada tanggal 26 Maret 2016 dengan jumlah responden sebanyak 27 orang.
Pada sub bab ini dibagi menjadi dua bagian meliputi data umum dan data
khusus. Data umum akan menampilkan gambaran lokasi penelitian dan
karakteristik responden berdasarkan usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan
dan pengetahuan sebelumnya tentang posyandu lansia. Sedangkan data khusus
meliputi pengetahuan tentang posyandu lansia dan motivasi lansia dalam
melakukan kunjungan ke posyandu lansia.
4.1

Hasil Penelitian

4.1.1

Gambaran Proses Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di Posyandu lansia di RW 04 Desa
Ternyang. Di RW 04 tersebut terdapat 27 lansia yang terdaftar dalam
Posyandu lansia. Posyandu tersebut biasanya di laksanakan pada minggu
pertama awal bulan. Kegiatan yang dilakukan dalam posyandu tersebut
meliputi penimbangan berat badan, pengukuran tekanan darah, konseling
dan pengobatan sederhana. Pada tiap Posyandu terdapat 3 kader dan 1
perawat puskesmas.

4.1.2 Data Umum


Data umum adalah karakteristik responden yang menguraikan
tentang karakteristik responden yang meliputi nama, usia, dan jenis
kelamin.

Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Warga


Analisa karakteristik responden berdasarkan usia disajikan dalam
bentuk tabel sebagai berikut :
Tabel 4.1 Tabel distribusi karekteristik responden berdasarkan usia lansia
di RW 04 Desa Ternyang
No
Usia (tahun)
Frekuensi
Presentase (%)
1
60-65
13
51
2
66-70
9
31
3
71-74
5
18
Total
27
100
(Sumber: Data primer lembar kuesioner penelitian, Maret 2016)
Pada tabel 4.1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang
berkunjung ke Posyandu berusia antara 60-65 tahun yang berjumlah 13

responden (51%).
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Warga
Analisa karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin disajikan
dalam bentuk tabel sebagai berikut :
Tabel 4.2 Tabel karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin di RW
04 Desa Ternyang
No
Jenis Kelamin
Frekuensi
Presentase (%)
1
Laki-laki
5
18
2
Perempuan
22
82
Total
27
100
(Sumber: Data primer lembar kuesioner penelitian, Maret 2016)
Pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa hampir seluruh responden
dengan jumlah 22 responden (82%) yang mengikuti posyandu lansia
berjenis kelamin perempuan.

Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Warga


Analisa karakteristik responden berdasarkan pendidikan disajikan
dalam bentuk tabel sebgai berikut :

Tabel 4.3 Tabel responden berdasarkan pendidikan terakhir di RW 04 Desa


Ternyang
No
Pendidikan
Frekuensi
Presentase (%)
1
SD
21
78
2
SMP
6
22
3
SMA
0
0
4
PT
0
0
Total
27
100
(Sumber: Data primer lembar kuesioner penelitian, Maret 2016)
Pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa hampir seluruh responden
4

berpendidikan SD sebanyak 21 responden (78%).


Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Warga
Analisa karakteristik responden berdasarkan pekerjaan disajikan
dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 4.4 Tabel karakteristik responden berdasarkan pekerjaan di RW 04
Desa Ternyang
No
Pekerjaan
Frekuensi
Presentase
1
Ibu Rumah Tangga
16
59
2
Wiraswasta
2
7
3
Swasta
9
34
Total
27
100
(Sumber: Data primer lembar kuesioner penelitian, Maret 2016)
Pada tabel 4.3 menunjukkan bahwa sebagian besar dari responden
adalah ibu rumah tangga 16 responden (59%).
Karakteristik Responden Berdasarkan Pengetahuan Yang Pernah
Didapat Warga
Analisa karakteristik responden berdasarkan pengetahuan yang
pernah didapat disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut :
Tabel 4.5 Tabel karakteristik responden berdasarkan pengetahuan yang
pernah di dapat di Posyandu lansia di RW 04 Desa Ternyang
No
Pengetahuan yang pernah
Frekuensi
Presentase
di dapat sebelumnya
1
Pernah
18
67
2
Tidak Pernah
9
33
Total
27
100
(Sumber: Data primer lembar kuesioner penelitian, Maret 2016)

Pada tabel 4.5 menunjukkan bahwa sebagian besar responden pernah


mendapatkan pengetahuan tentang posyandu lansia dengan jumlah 18
responden (67%).
4.1.3 Data Khusus
1.

Tingkat pengetahuan lansia


Analisa pengetahuan responden tentang posyandu lansia disajikan
dalam bentuk tabel sebagai berikut :
Tabel 4.5 Tabel tingkat pengetahuam lansia tentang posyandu lansia
Median
(Minimum-Maximum)
Pengetahuan
8 (4-10)
(Sumber: Data primer lembar kuesioner penelitian, Maret 2016)
Berdasarkan tabel 4.5 diatas didapatkan bahwa nilai median tingkat
pengetahuan lansia usia 60-74 tahun tentang posyandu lansia adalah 8,
dengan

nilai minimum 4 dan nilai maximum 10, yang dapat

diinterpretasikan bahwa tingkat pengetahuan lansia tergolong tinggi.


2.

Motivasi lansia dalam melakukan kunjungan


Analisa motivasi lansia dalam melakukan kunjungan disajikan dalam
bentuk tabel sebagai berikut :
Tabel 4.6 Tabel motivasi lansia dalam melakukan kunjungan ke posyandu
lansia di RW 04 Desa Ternyang
Median
(Minimum-Maximum)
28 ( 19-35)
Motivasi
(Sumber: Data primer lembar kuesioner penelitian, Maret 2016)

Berdasarkan tabel 4.6 diatas didapatkan bahwa nilai median motivasi


melakukan kunjungan ke posyandu lansia usia 60-74 tahun 28 dengan nilai
minimum 19 dan nilai maximum 35, yang dapat diinterpretasikan bahwa
motivasi lansia melakukan kunjungan ke posyandu tergolong sedang.
3.

Hubungan tingkat pengetahuan tentang posyandu lansia dengan


motivasi lansia usia 60-74 tahun dalam melakukan kunjungan ke
posyandu lansia di Desa Ternyang.
Tabel 4.7 Hasil uji analisa spearman rank tingkat pengetahuan lansia
dengan motivasi lansia dalam melakukan kunjungan ke
posyandu lansia di RW 04 Desa Ternyang.
Motivasi
Pengetahuan
R (koefisien korelasi)
0,453
P (nilai)
0,018
N (jumlah subjek)
27
(Sumber: Data primer lembar kuesioner penelitian, Maret 2016)
Hasil hitung uji SPSS dari tabel 4.7 menunjukkan nilai signifikansi
sebesar 0,018 dengan demikian H0 ditolak atau H1 diterima dengan kata
lain ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan tentang
posyandu lansia dan motivasi lansia usia 60-74 tahun dalam melakukan
kunjungan ke posyandu lansia. Nilai korelasi spearman menunjukkan
bahwa arah korelasi positif dengan kekuatan korelasi yang cukup.

4.2

Pembahasan
Pada bagian ini akan diuraikan pembahasan hasil penelitian mengenai
Hubungan tingkat pengetahuan tentang posyandu lansia dengan motivasi
lansia usia 60-74 tahun dalam melakukan kunjungan ke posyandu lansia di
Desa Ternyang.

4.2.1 Tingkat Pengetahuan Lansia Di RW 04 Desa Terynang


Dari hasil penelitian didapatkan data seperti pada tebel 4.5 yaitu nilai
median tingkat pengetahuan lansia usia 60-74 tahun tentang posyandu lansia
adalah 8 dengan nilai minimum 4 dan nilai maksimum 10. Hal ini
dimungkinkan karena adanya pengaruh dari faktor usia yang mempengaruhi
cara atau pola pikir mereka sehingga akan mempengaruhi tingkat
pengetahuan lansia. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.1 yaitu jumlah
responden yang berusia 60-65 tahun sebanyak 13 (49%) dan yang berusia
71-74 tahun sebanyak 5 (18%). Seiring dengan proses penuaan atau
bertambanya usia seseorang kemungkinan terjadinya perubahan atau
kemunduran kemampuan kognitif pun akan terjadi.
Pembahasan diatas sesuai dengan teori dari Padila yaitu secara umum
setelah seseorang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan fungsi
kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi belajar, persepsi,
pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan
reaksi dan perilaku lansia menjadi semakin lambat (Padila, 2013).
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting
untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). Selanjutnya
menurut pengalaman dan hasil penelitian Rogers dalam Notoatmodjo
(2003), dijelaskan bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan
bersifat lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh
pengetahuan.

Hal

ini

sesuai

dengan

Supriyatno

(2000),

yang

menggemukakan bahwa pengetahuan yang salah tentang tujuan dan manfaat


posyandu dapat menimbulkan salah persepsi yang akhirnya kunjungan

lansia keposyandu rendah. Bila pengetahuan lebih dapat dipahami, maka


timbul suatu sikap dan perilaku untuk berpartisipasi. Selain itu tingkat
pengetahuan seseorang juga mempengaruhi perilaku individu, yang mana
makin tinggi pengetahuan seseorng maka makin tinggi kesadaran untuk
berperan serta (Nurul, 2011).
Untuk mengatasi hal tersebut sebaiknya dilakukan kerjasama dengan
lintas sektoral agar para lansia dapat aktif di posyandu lansia, dalam
program posyandu ada baiknya juga diadakan kegiatan senam lansia setiap
1 bulan sekali.
4.2.2 Motivasi Lansia dalam Melakukan Kunjungan Ke Posyandu Lansia Di
RW 04 Desa Ternyang
Dari hasil penelitian didapatkan data seperti pada tebel 4.5 yaitu nilai
median tingkat pengetahuan lansia usia 60-74 tahun tentang posyandu lansia
adalah 28 dengan nilai minimum 19 dan nilai maksimum 35.
Motivasi merupakan usaha atau dorongan yang didasarkan untuk
mempengaruhi perilaku seseorang dalam meningkatkan suatu tujuan.
Motivasi sendiri datangnya bisa melalui diri sendiri yang disebut motivasi
intrinsik dan ada pula motivasi yang datangnya dari luar individu yang
disebut dengan motivasi ekstrinsik. Dan kedua motivasi ini yang
dicantumkan dalam aspek kuesioner yang akan diberikan kepada responden
(Notoadmodjo, 2010).
Berkaitan dengan perubahan, Hurlock (1990) mengemukakan
bahwa perubahan yang dialami oleh setiap orang akan mempengaruhi
motivasinya terhadap perubahan tersebut dan akhirnya mempengaruhi

pola hidupnya. Perubahan yang diminati oleh para lansia adalah perubahan
yang berkaitan dengan masalah peningkatan kesehatan, ekonomi, atau
pendapatan dan peran sosial(Azizah, 2011). Dalam mengikuti posyandu
lansia ada beberapa kendala yang dapat mempengaruhi motivasi lansia
antara lain tingkat tingkat pengetahuan, jarak posyandu, dan dukungan
dari keluarga (Fallen, 2011).
Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi lansia
melakukan kunjungan ke posyandu antara lain dengan melakukan sosialisasi
tentang keberadaan posyandu lansia di setiap desa, memperkuat dukungan
keluarga dan masyarakat dimana lnsia tinggal, meningkatkan pengetahuan
kader dan lansia akan hidup sehat, mandiri dan produktif di usia tua dalam
pelaksanaan posyandu lansia.

4.2.3 Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang posyandu lansia dengan


Motivasi Lansia Usia 60-74 Tahun Dalam Melakukan Kunjungan Ke
Posyandu Lansia Di RW 04 Desa Ternyang
Analisa data dilakukan dengan menggunakan uji statistik korelasi
Spearman Rho dengan bantuan program SPSS. Teknik tersebut digunakan
untuk menentukan adanya hubungan antar dua variabel dengan skala data
interval. Dari hasil uji spearman rho menggunakan SPSS diperoleh nilai
signifikansi < 0.05 (0,018< 0.05) yang menunjukan bahwa ada hubungan
yang signifikan antara Tingkat Pengetahuan Dengan Motivasi Lansia Usia
60-74 Tahun Dalam Melakukan Kunjungan Ke Posyandu Lansia Di RW 04
Desa Ternyang.

Pengetahuan cenderung mempengaruhi motivasi lansia untuk


melakukan kunjungan ke posyandu lansia. Semakin meningkat (baik)
pengetahuan lansia maka motivasi yang ditunjukkan lansia terhadap
kunjungan ke posyandu akan semakin meningkat. Tetapi ada kalanya
dimana pengetahuan lansia yang

baik tetapi memiliki motivasi yang

kurang baik. Hal tersebut bisa dikarenakan beberapa faktor, salah satunya
adalah jarak rumah ke posyandu, dukungan dari keluarga dan status
kesehatan yang buruk. Oleh sebab itu dibutuhkan kerjasama baik dari
keluarga ataupun kader serta kesadaran diri dari lansia itu sendiri dalam
upaya menumbuhkan motivasi dalam melakukan kunjungan ke posyandu.

BAB V
PENUTUP
5.1

Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dari hasil penelitian tentang hubungan
tingkat pengetahuan tentang posyandu lansia dengan motivasi lansia usia
60-74 tahun dalam melakukan kunjungan ke posyandu lansia di RW 04

Desa Ternyang diperoleh kesimpulan bahwa ada hubungan antara tingkat


pengetahuan tentang posyandu lansia dengan motivasi lansia usia 60-74
tahun dalam melakukan kunjungan ke posyandu lansia di Rw 04 Desa
Ternyang. Hal tersebut ditandai dengan semakin tinggi tingkat pengetahuan
lansia semakin tinggi pula motivasi lansia dalam melakukan kunjungan ke
posyandu lansia.
5.2

Saran
Dari kesimpulan hasil penelitian tentang hubungan tingkat pengetahuan

dengan motivasi lansia dalam melakukan kunjungan ke posyandu, dapat


dikemukakan beberapa saran sebagai berikut :
5.2.1 Bagi lansia
a

Di harapkan bagi para lansia agar dapat menggunakan pelayanan

kesehatan dengan baik


Bagi lansia yang sakit juga harus tetap datang di posyandu lansia dengan
cara di antar oleh seseorang yang dapat di percaya lansia atau seseorang
yang dekat dengan lansia agar lansia tetap memperoleh penanganan
tindakan dan informasi baru.

5.2.2 Bagi posyandu


a

Diadakan kegiatan penyuluhan kesehatan agar para lansia tahu dan

mengerti tentang posyandu lansia itu seperti apa.


Diadakan konseling bagi para lansia di posyandu agar kegiatan yang

c
d

dilakukan di posyandu lebih meningkatkan motivasi kunjungan lansia.


Mengadakan general checkup setiap 1 bulan sekali.
Memberikan pamflet sebelum diadakan kegiatan posyandu.

5.2.3 Bagi perawat komunitas dan tenaga kesehatan lainnya


Diharapkan bagi tenaga kesehatan yang lain dapat meningkatkan mutu
bagi pelayanan keperawatan terkait dengan upaya pengoptimalan kunjungan
posyandu lansia dan dalam melakukan perawatan pada lansia.

DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, dkk. 2012. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketidak Aktifan
Lansia Dalam Mengikuti Posyandu Lansia. Jurnal Kesehatan, 1, 2255637.
Arikunto, S. 2013. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta
Azizah, Lilik M. 2011. Keperawatan lanjut Usia. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Budiman, Riyanto A. 2013. Kapita Selekta Kuesioner: Pengetahuan dan Sikap
dalam Penelitian Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika.

Elmi, N. 2014. Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kunjungan Lansia Ke


Posyandu Lansia. Jurnal Kesehatan, 1-12.
Fallen, R & Dwi, R.B. 2011. Keperawatan Komunitas. Yogyakarta: Nuha Medika.
Hidayat Alimul Aziz, A. 2012. Metode Penelitian Kebidanan & Teknik Analisa
Data. Jakarta: Salemba Medika.
Imron, M, &Munif, A. 2010. Metode Penelitian Bidang Kesehatan. Jakarta:CV
Sagung Seto.
Kurniati, Citra H. 2014. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Rendahnya
Pemanfaatan Posyandu Lansia. Prosiding Seminar hasil Penelitian
LPMM, 53-57.
Kushariyadi. 2010. Asuhan Keperawatan pada Klien Lanjut Usia. Jakarta:
Salemba Medika.
Nursalam. 2014. Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik Keperawatan
Profesional, Edisi 4. Jakarta: Salemba Medika.
Notoatmodjo, S. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan, Edisi Revisi. Jakarta:
Rineka Cipta.
Nurhadi, T dkk. 2012. Perbedaan Perubahan Fisiologis Dan Psikologis Pada
Lansia Yang Aktif Dan Tidak Aktif Mengikuti Posyandu Lansia. Jurnal
Kesehatan, 1, 2252-5637.
Nurul, S. 2011. Kamus Lengkap Kedokteran, Surabaya: Gitamedia Press.
Padila. 2013. Buku ajar Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: Nuha Medika.
Ruslan, Rosady. 2013. Metode Penelitian: Public Relationship & Komunikasi,
Edisi 1-6. Jakarta. Rajawali Pers.
Satrianegara, M. Fais. 2014. Organisasi dan Manajemen Pelayanan Kesehatan:
Teori dan Aplikasi dalam Pelayanan Puskesmas dan Rumah sakit. Jakarta:
Salemba Medika.
Setyoadi, dkk. 2013. Hubungan Peran Kader Kesehatan Dengan Tingkat Kualitas
Hidup Lanjut Usia. Jurnal Ilmu Keperawatan, 1, 2, 28-113.
Sugiyono. 2012. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Ulfa, Maria. (2005). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Ibu Untuk
Mengunjungi Posyandu Balita. Malang:STIKes Kepanjen.

Lampiran 1
INFORMED CONSENT

Yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama

: (inisial)

Umur

: ............... tahun

Jenis Kelamin : L / P

Setelah mendapatkan penjelasan dari peneliti tentang maksud, tujuan dan


manfaat dari pelaksanaan penelitian dengan judul

Hubungan

Tingkat

Pengetahuan Dengan Motivasi Lansia Dalam Melakukan Kunjungan Ke


Posyandu Lansia, maka saya dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan dari
pihak manapun bersedia / tidak bersedia*) menjadi responden dalam penelitian ini
dengan menanda tangani surat persetujuan ini.
Demikian pernyataan ini saya buat, semoga dapat bermanfaat sebagai
bahan koreksi dalam penelitian tersebut.

Malang,

Maret 2016

Responden

(...................................)
Tanpa nama terang

Keterangan : *) Coret yang tidak perlu

Lampiran 2
PERMOHONAN MELAKUKAN PENELITIAN
Kepada :
Yth. Ibu - ibu
Di Posyandu Lansia
Dengan hormat,

Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir Program Sarjana Keperawatan


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen, maka saya :
Nama
NIM

: Eka Fatmawati
: 12.20.053

Semester

: VII ( Tujuh )

Bermaksud mengadakan penelitian yang berjudul Hubungan Tingkat


Pengetahuan Dengan Motivasi Lansia Dalam Melakukan Kunjungan Ke
Posyandu Lansia dengan tujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan pada
lansia tentang motivasi lansia dalam melakukan kunjugan ke posyandu, demi
kelancaran penelitian ini saya mengharapkan partisipasi para ibu dengan
menjawab semua pertanyaan yang diberikan sesuai pertanyaan yang ada.
Maka saya mohon kesediaan para ibu untuk menjawab secara jujur
pertanyaan yang saya berikan. Adapun hal-hal yang bersangkutan dengan diri
anda saya jamin kerahasiaannya. Oleh karena itu tidak perlu dicantumkan nama
terang demi menjaga kerahasiaannya tersebut.
Hormat Saya,

EKA FATMAWATI
NIM 09.20.137
Lampiran 3
KISI-KISI KUESIONER
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN MOTIVASI LANSIA DALAM
MELAKUKAN KUNJUNGAN KE POSYANDU LANSIA
(Suatu Study Di Posyandu Lansia Kecamatan Sumber Pucung)
No

Variabel

Sub Variabel

Jumla

Nomor dan

h Soal

Jenis Soal

Pengetahuan

1 Pengertian posyandu lansia

1 (+)

2 Tujuan posyandu lansia

2 (+)

3. Manfaat posyandu lansia

3 (-)

4. Sasaran pada posyandu

4 (+)

lansia
5. Mekanisme pelayanan

5,6,7 (+)

posyandu lansia
6. Kegiatan kesehatan di

8,9,10 (+)

tentang posyandu
lansia

posyandu lansia

Lampiran 4
KISI-KISI KUESIONER
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN MOTIVASI LANSIA DALAM
MELAKUKAN KUNJUNGAN KE POSYANDU LANSIA
(Suatu Study Di Posyandu Lansia Kecamatan Sumber Pucung)
No

Variabel

Sub Variabel

Jumla

Nomor dan

h Soal

Jenis Soal

Motivasi lansia
dalam melakukan
kunjungan

1. Motif (alasan dasar

pendorong) lansia
berkunjung ke posyandu
2. Perjuangan motif

1,3 (+)
2,4 (-)

5,7 (+)
6,8 (-)

3. Keputusan (tindakan

melakukan sesuatu sesuai

9 (+)
10 (-)

yang di inginkan)

Lampiran 5
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN MOTIVASI LANSIA
DALAM MELAKUKAN KUNJUNGAN KE POSYANDU LANSIA
(Suatu Study Di Posyandu Lansia Kecamatan Sumber Pucung)
Kode
A Petunjuk Pengisian
Isilah biodata saudara dengan sebenarnya sesuai butir pertanyaan dengan
memberi tanda silang (x) pada pilihan jawaban yang disediakan.
B Data Umum
Karateristik Responden
1 Nama
:
(diisi inisial)

Umur

:
60-65 tahun
66-70 tahun
71-74 tahun

3.
4.

Jenis kelamin
: L/P
Pendidikan terakhir :
SD
SMP
SMU
PT

5.

Pekerjaan

:
Ibu rumah tangga
Wiraswasta
Swasta
Pegawai Negri

6.

Pernah mendapatkan pengetahuan sebelumnya tentang posyandu lansia,


apabila...
Ya dari

Kader posyandu
Teman
Koran, buku
Lain-lain. Sebutkan......

Tidak

C Data Khusus
Berikanlah tanda silang ( x ) pada salah satu jawaban yang sesuai dengan
yang anda ketahui dan sesuai tindakan yang anda lakukan
Tingkat Pengetahuan Lansia
1 Apakah yang dimaksud dengan posyandu lansia ?
a Pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu
b
c
d
e

untuk mendapatkan pelayanan kesehatan


Pos pelayan terpadu untuk semua usia
Tempat berkumpulnya lansia
Tempat pengobatan gratis untuk lansia
Tempat pelayanan penyakit umum
2 Berikut ini bukan termasuk tujuan dari posyandu lansia ?
a Meningkatkan kekompakan lansia
b Meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku positif dari lansia
c Meningkatkan mutu dan derajat kesehatan lansia
d Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia
e Meningkatkan kemampuan lansia mengenali masalah kesehatan
3 Di bawah ini yang bukan manfaat dari posyandu lansia ?
a Untuk tempat perkumpulan para lansia
b Untuk meningkatkan status kesehatan lansia
c Untuk meningkatkan kemandirian pada lansia
d Untuk tempat perkumpulan para lansia
e Memperlambat proses penuaan
f Deteksi dini gangguan kesehatan pada lansia
4 Yang bukan menjadi sasaran utama dalam kegiatan posyandu lansia adalah ?
a Keluarga lansia
b Lansia yang sedang sakit
c Lansia yang pikun
d Lansia yang tidak sakit
e Kelompok usia lanjut dengan resiko tinggi
5 Ada berapa meja pelayanan di posyandu lansia di lingkungan bapak/ibu ?
a 3 meja
b 4 meja
c 5 meja

d 6 meja
e 7 meja
6 Kapan posyandu lansia di lingkungan bapak/ibu dilaksanakan ?
a Setiap bulan sekali
b Setiap 3 bulan sekali
c Setiap 2 minggu sekali
d Setiap 2 bulan sekali
e Setiap hari
7 Apa sajakah pelaksanaan pelayanan di posyandu lansia ?
a Pendaftaran lansia, pengukuran dan penimbangan berat badan dan tinggi
badan serta pelayanan kesehatan seperti pengobatan sederhana
b Pemberian vitamin tambahan
c Imunisasi
d Kegiatan olahraga
e Pemberian obat secara gratis
8 Apa saja jenis kegiatan kesehatan yang ada di posyandu lansia ?
a Pemeriksaan kesehatan, penyuluhan kesehatan, pemberian makanan tambahan
b
c
d
e

dan penyuluhan contoh makanan


Pemberian imunisasi
Pemberian obat gratis
Pemeriksaan gigi
Perawatan kulit
9.

Apakah kepanjangan dari KMS ?


a
b
c
d
e

Kartu Menuju Sehat


Kartu Menuju Sukses
Kartu Masyarakat Sehat
Kartu Masyarakat Sakit
Kartu Masyarakat Sukses

10. Siapakah yang melaksanakan kegiatan di posyandu lansia ?


a
b
c
d
e

Petugas kessehatan dan Kader posyandu


Petugas imunisasi
Petugas kebersihan
Dokter
Perawat

Lampirabn 6
KUNCI JAWABAN KUISIONER
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN MOTIVASI LANSIA
DALAM MELAKUKAN KUNJUNGAN KE POSYANDU LANSIA
(Suatu Study Di Posyandu Lansia Desa Ternyang RW 04 Kecamatan Sumber
Pucung)
N
o

Pertanyaan

Kunci

Jenis

jawaban

pertanyaa

Benar = 1
Salah = 0
Benar = 1

Apakah

dengan

n
(+)

posyandu lansia ?
Berikut ini bukan termasuk tujuan dari

(-)

posyandu lansia ?
Di bawah ini yang bukan manfaat dari

yang

dimaksud

Salah = 0
A

(-)

Yang bukan menjadi sasaran utama


dalam

kegiatan

posyandu

adalah ?
Ada berapa meja

pelayanan

posyandu

di

lansia

di

(-)

bapak/ibu dilaksanakan ?
Apa sajakah pelaksanaan pelayanan di

posyandu lansia ?
Apa saja jenis kegiatan kesehatan yang

ada di posyandu lansia ?


Apakah kepanjangan dari KMS ?
Siapakah yang melaksanakan kegiatan

Benar = 1
Salah = 0

(+)

Benar = 1
Salah = 0

lingkungan

di posyandu lansia ?

lansia

bapak/ibu ?
Kapan posyandu lansia di lingkungan

10

Benar = 1
Salah = 0

posyandu lansia ?
4

Skor

(+)

Benar = 1
Salah = 0

(+)

Benar = 1
Salah = 0

(+)

Benar = 1
Salah = 0

A
A

(+)

Benar = 1

(+)

Salah = 0
Benar = 1
Salah = 0

C. Data Khusus
Berikanlah tanda check ( ) pada salah satu jawaban yang sesuai dengan
yang anda ketahui dan sesuai tindakan yang anda lakukan
Motivasi Lansia

N
o
1

Pernyataan

Saya akan datang ke posyandu karena


posyandu merupakan tempat untuk

memeriksakan kesehatan
Jika saya sakit dan mengalami keluhan
kesehatan, maka saya akan pergi ke

posyandu lansia
Saya datag ke posyandu karena
posyandu tempat pelayanan kesehatan

bagi lansia
Jika saya tidak memerlukan posyandu

maka saya tidak perlu datang


Meskipun jarak dari rumah ke

posyandu jauh saya akan tetap datang


Jika tidak disuruh oleh kader maka

saya tidak akan datang ke posyandu


Meskipun tidak ada yang mengantar

saya akan tetap datang ke posyandu


Jika anggota keluarga tidak ada yang
menyuruh saya tidak akan datang ke

posyandu
Saya akan menghadiri posyandu lansia
meskipun saat saya sakit sudah berobat

10

ke dokter
Saya tidak perlu datang ke posyandu
setiap bulannya

Sanga
t
setuju

Setuju

Tidak
setuju

Sanga
t tidak
setuju