Anda di halaman 1dari 6

BAB IV

PEMBAHASAN
Laboratorium kesehatan adalah sarana kesehatan yang melaksanakan pengukuran,
penetapan dan pengujian terhadap bahan yang berasal dari manusia atau bahan yang bukan
berasal dari manusia untuk penentuan jenis penyakit, penyebab penyakit, kondisi kesehatan
dan faktor yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan perorangan dan masyarakat.
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan komponen yang melindungi
pekerja saat menjalankan pekerjaannya. Pelaksanaan K3 juga didukung dengan penciptaan
lingkungan yang sesuai dengan standar kesehatan pekerja. Komponen perlindungan yang
kedua adalah perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh
perusahaan. K3 bertujuan mencegah dan mengurangi resiko kecelakaan kerja. Penerapan
K3 dianggap sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan pencegahan penyakit akibat
menjalankan pekerjaaan. Konsep K3 dan implementasi yang dijalankan merupakan
investasi dalam jangka panjang untuk meningkatkan kinerja dan daya saing perusahaan
dimasa yang akan datang. Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah segala daya upaya
dan pemikiran yang dilakukan dalam rangka mencegah, menanggulangi dan mengurangi
terjadinya kecelakaan dan dampaknya melalui langkah-langkah identifikasi, analisa dan
pengendalian bahaya dengan menerapkan sistem pengendalian
dan

melaksanakan

perundang-undangan tentang

bahaya

secara

tepat

keselamatan dan kesehatan kerja.

(Undang-undang Ketenagakerjaan). Oleh karena itu penerapan budaya aman dan sehat
dalam bekerja hendaknya dilaksanakan pada semua Institusi di Sektor Kesehatan
termasuk Laboratorium Kesehatan.
Berdasarkan hasil kunjungan yang telah dilakukan pada Laboratorium Kesehatan yang
berada di daerah Pontianak, terdapat beberapa hal yang dinilai dalam penerapan K3
(Keamanan dan Kesehatan Kerja) selama kegiatan berlangsung yaitu sebagai berikut:
1. FASILITAS LABORATORIUM
Berdasarkan hasil kunjungan yang telah dilakukan, fasilitas Laboratorium Kesehatan
Provinsi Kalimantan Barat telah baik dan memenuhi standar, hal ini dapat dilihat dari
ruangan yang cukup luas untuk melakukan pemeriksaan, lantai tidak licin, terdapat
pencahayaan cukup, terdapat ventilasi dan AC pada setiap ruangan tersedianya alat
pelindungan diri (masker, google, sarung tangan/handscoon, sepatu karet berpenutup
depan, baju jas lab, dan penutup kepala) yang sangat memadai bagi petugas kesehatan.
Selain itu, terdapat pula alat-alat pemeriksaan agen-agen/bahan infeksius yang
memenuhi standar dan aman bagi petugas kesehatan dalam melakukan pekerjaan,
tersedianya satu alat pemadam kebakaran, tersedianya tong sampah dan tempat

mencuci tangan pada setiap ruangan, sehingga dapat menimimalisir agen-agen


infeksius berbahaya untuk dapat terkontaminasi agen infeksius dari bahan pemeriksaan.
Selain itu, tempat pembuangan bahan-bahan sisa pemeriksaan juga telah terintegrasi
dengan baik. Adanya tempat pembakaran sampah untuk sampah kering dan tempat
pengolahan zat cair sebelum dibuang merupakan indikator penting dalam pengolahan
bahan sisa pemeriksaan.
Namun masih terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam fasilitas tata
ruang yang belum tersedia yaitu harus tersedia alat Pertolongan Pertama Pada
Kecelakaam (P3K), dua buah jalan keluar sebagai jalan alternatif bila terjadi hal
yang tidak diinginkan, seperti kebakaran dan lain-lain.
2.

MASALAH KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA


Kinerja (performen) setiap petugas kesehatan dan non kesehatan merupakan
resultante dari tiga komponen kesehatan kerja yaitu kapasitas kerja, beban kerja dan
lingkungan kerja yang dapat merupakan beban tambahan pada pekerja. Bila ketiga
komponen tersebut serasi maka bisa dicapai suatu derajat kesehatan kerja yang optimal
dan peningkatan produktivitas. Sebaliknya bila terdapat ketidak serasian dapat
menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa penyakit ataupun kecelakaan akibat
kerja yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja.
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan terdapat beberapa aspek yang
telah dinilai pada tenaga kesehatan yang berada pada laboratorium kesehatan yaitu:

1.

Kapasitas Kerja
Status kesehatan masyarakat pekerja di Indonesia pada umumnya belum
memuaskan. Dari beberapa hasil penelitian didapat gambaran bahwa 3040%
masyarakat pekerja kurang kalori protein, 30% menderita anemia gizi dan 35%
kekurangan zat besi tanpa anemia. Kondisi kesehatan seperti ini tidak
memungkinkan bagi para pekerja untuk bekerja dengan produktivitas yang optimal.
Hal ini diperberat lagi dengan kenyataan bahwa angkatan kerja yang ada
sebagian besar masih di isi oleh petugas kesehatan dan non kesehatan yang
mempunyai banyak keterbatasan, sehingga untuk dalam melakukan tugasnya
mungkin sering mendapat kendala terutama menyangkut masalah PAHK dan
kecelakaan kerja.
Namun kapasitas kerja tenaga kesehatan pada laboratorium kesehatan tidak bisa
dinilai hanya dengan pengamatan tetapi diperlukan pemeriksaan khusus pada tenaga
kesehatan. Berdasarkan hasil pengamatan dapat dilihat bahwa performa tenaga
kesehatan yang berada dilaboratorium kesehatan sangat baik dan dapat melakukan
tugas dengan sangat baik, hal ini juga ditunjang dengan adanya pemeriksaan foto x-

ray 1x dalam setahun, tapi untuk pemeriksaan sputum, pemberian imunisasi ataupun
vaksin, dan pemeriksaan khusus lainnya hanya dilakukan saat sudah adanya gejala
pada petugas kesehatan. Hal ini sebenarnya tidaklah sesuai karena sesungguhnya
untuk menciptakan kualitas kerja yang baik, pemeriksaan berkala yang rutin
dilakukan sangatlah penting untuk dilakukan guna mencegah karyawan untuk
terjangkit penyakit akibat kerja.
2.

Beban Kerja
Sebagai pemberi jasa pelayanan kesehatan maupun yang bersifat teknis
beroperasi 8 - 24 jam sehari, dengan demikian kegiatan pelayanan kesehatan pada
laboratorium menuntut adanya pola kerja bergilir dan tugas/jaga malam. Pola
kerja yang berubah-ubah dapat menyebabkan kelelahan yang meningkat, akibat
terjadinya perubahan pada bioritmik (irama tubuh). Faktor lain yang turut
memperberat beban kerja antara lain tingkat gaji dan jaminan sosial bagi pekerja
yang masih relatif rendah, yang berdampak pekerja terpaksa melakukan kerja
tambahan secara berlebihan. Beban psikis ini dalam jangka waktu lama dapat
menimbulkan stres.
Berdasarkan hasil pengamatan laboratorium kesehatan Pontianak telah menerapkan
sistem kerja bergilir yang dapat meringankan beban kerja sehingga petugas
kesehatan dapat bekerja secara optimal.

3. Lingkungan Kerja
Berdasarkan hasil pengamatan lingkungan kerja di Labotatorium kesehatan telah
memenuhi persyaratan sehingga dapat meminimalisir resiko kecelakaan kerja
(Occupational Accident), Penyakit Akibat Kerja dan Penyakit Akibat Hubungan Kerja
(Occupational Disease & Work Related Diseases).

4. IDENTIFIKASI

MASALAH

KESEHATAN

DAN

KESELAMATAN

KERJA

LABORATORIUM KESEHATAN DAN PENCEGAHANNYA


A. Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan. Biasanya
kecelakaan menyebabkan kerugian material dan penderitaan dari yang paling ringan
sampai kepada yang paling berat.
Kecelakaan di laboratorium dapat berbentuk 2 jenis yaitu :
1. Kecelakaan medis, jika yang menjadi korban pasien
2. Kecelakaan kerja, jika yang menjadi korban petugas laboratorium itu sendiri.
Penyebab kecelakaan kerja dapat dibagi dalam kelompok :
1. Kondisi berbahaya (unsafe condition), yaitu yang tidak aman dari:
a) Mesin, peralatan, bahan dan lain-lain
b) Lingkungan kerja
c) Proses kerja
d) Sifat pekerjaan
e) Cara kerja
2. Perbuatan berbahaya (unsafe act), yaitu perbuatan berbahaya dari manusia, yang
dapat terjadi antara lain karena:
a) Kurangnya pengetahuan dan keterampilan pelaksana
b) Cacat tubuh yang tidak kentara (bodily defect)
c) Keletihanan dan kelemahan daya tahan tubuh.
d) Sikap dan perilaku kerja yang tidak baik
Beberapa contoh kecelakaan yang banyak terjadi di laboratorium yang
berhubungan dengan penyakit infeksi adalah sebagai berikut:
1. Mengambil sampel darah/cairan tubuh lainnya
Hal ini merupakan pekerjaan sehari-hari di laboratorium
a) Akibat :
- Tertusuk jarum suntik.
- Tertular virus AIDS, Hepatitis B atau yang lainnya.
- Tertular BTA dari pemeriksaan sputum.
- Bakteri lain yang mungkin menginfeksi pada saat melakukan
pemeriksaan.

B. Penyakit Akibat Kerja & Penyakit Akibat Hubungan Kerja di laboratorium


kesehatan
Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik
atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan, pada umumnya terdiri dari satu

agen

penyebab, harus ada hubungan sebab akibat antara proses penyakit dan hazard di
tempat kerja. Faktor Lingkungan kerja

sangat berpengaruh dan berperan sebagai

penyebab timbulnya Penyakit Akibat Kerja. Sebagai contoh antara lain debu silika
dan Silikosis, uap timah dan keracunan timah. Akan tetapi penyebab terjadinya akibat
kesalahan faktor manusia juga (WHO).
Berbeda dengan Penyakit Akibat Kerja, Penyakit Akibat Hubungan Kerja (PAHK)
sangat luas ruang lingkupnya. Menurut Komite Ahli WHO (1973), Penyakit Akibat
Hubungan Kerja adalah penyakit dengan penyebab multifaktorial,

dengan

kemungkinan besar berhubungan dengan pekerjaan dan kondisi tempat kerja.


Pajanan di tempat kerja tersebut memperberat, mempercepat terjadinya serta
menyebabkan kekambuhan penyakit.
Penyakit akibat kerja di laboratorium kesehatan umumnya berkaitan dengan faktor
biologis (kuman patogen yang berasal umumnya dari pasien); faktor kimia (pemaparan
berulang dalam dosis kecil seperti antiseptik pada kulit, zat kimia/solvent yang
menyebabkan kerusakan hati); faktor ergonomi (cara duduk salah, cara mengangkat
pasien salah); faktor fisik dalam dosis kecil yang terus menerus (panas pada kulit,
tegangan tinggi, radiasi dll.); faktor psikologis (ketegangan di kamar penerimaan
pasien, gawat darurat, karantina dll.)

1) Faktor Biologis
Lingkungan kerja pada Pelayanan Kesehatan favorable bagi berkembang biaknya
strain kuman yang resisten, terutama kuman-kuman pyogenic, coli, bacilli dan
staphylococci, yang bersumber dari pasien, benda-benda yang terkontaminasi dan
udara. Virus yang menyebar melalui kontak dengan darah dan sekreta (misalnya HIV
dan Hep. B) dapat menginfeksi pekerja hanya akibat kecelakaan kecil dipekerjaan,
misalnya karena tergores atau tertusuk jarum yang terkontaminasi virus. Bagi petugas

Kebersihan menangani limbah yang infeksius senantiasa kontak dengan bahan yang
tercemar kuman patogen, debu beracun mempunyai peluang terkena infeksi.
Berdasarkan hasil pengamatan pada petugas laboratorium kesehatan telah
menjalankan K3 dengan baik, hal ini dapat dilihat dari sikap petugas kesehatan yang
selalu menggunakan alat pelindung diri (APD) yang lengkap pada saat akan melakukan
pemeriksaan. Namun, masih ada beberapa petugas yang masih tidak menggunakan
APD dengan lengkap pada saat melakukan pemeriksaan. Alangkah lebih baik bila
petinggi di laboratorium kesehatan tersebut dapat membuat suatu SOP dalam
melakukan pemeriksaan. Di SOP tersebut tercantum bahwa karyawan harus
menggunakan APD yang lengkap bila ingin melakukan pemeriksaan.
2) Faktor Ergonomi
Ergonomi sebagai ilmu, teknologi dan seni berupaya menyerasikan alat, cara,
proses dan lingkungan kerja terhadap kemampuan, kebolehan dan batasan manusia
untuk terwujudnya kondisi dan lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman dan
tercapai efisiensi yang setinggi-tingginya. Pendekatan ergonomi bersifat konseptual
dan kuratif.
Berdasarkan hasil pengamatan, Laboratorium kesehatan telah memenuhi standar
dalam faktor ergonomik hal ini disebabkan peralatan yang digunakan adalah peralatan
yang dapat meminimalisir adanya penularan agen infeksius sehingga kepada petugas
kesehatan.