Anda di halaman 1dari 23

PAPER KATALIS

BIOMASS TO LIQUID
PEMBUATAN BIO-OIL dari PELEPAH SAWIT
MENGGUNAKAN KATALIS CO/LEMPUNG dengan METODE
PIROLISIS

OLEH :
VIVI NOVRIYANI

1407122431

KELAS B

JURUSAN TEKNIK KIMIAS-1


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2016
1

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan paper ini sebagai tugas kuliah
Katalis .
Paper ini telah saya susun dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Namun
tentunya sebagai manusia biasa tidak akan luput dari kesalahan dan kekurangan. Harapan
saya, semoga bisa menjadi koreksi di masa mendatang agar lebih baik dari sebelumnya.
Pada dasarnya paper ini saya sajikan khusus untuk membahas tentang Biomass to
liquid. Untuk lebih jelas simak pembahasan dalam paper ini. Mudah-mudahan paper ini bisa
memberikan pengetahuan yang mendalam tentang biomass to liquid.
Paper ini masih banyak memiliki kekurangan. Oleh karena itu, saya mengharapkan
kritik dan saran untuk memperbaiki paper saya selanjutnya. Sebelum dan sesudahnya saya
ucapkan terimakasih.

Pekanbaru, 22 Mei 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1

Latar Belakang
Minyak bumi adalah sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui dan merupakan

sumber energi yang banyak digunakan sebagai bahan bakar. Cadangan minyak bumi saat ini
di Indonesia diprediksi sekitar 9 miliar barel, dengan tingkat produksi rata-rata 0,5 miliar
barel/tahun dan diprediksi akan habis dalam waktu 18 tahun mendatang (Kementerian Energi
dan Sumber Daya Mineral, 2012).
Di Indonesia, perkebunan dan industri sawit semakin berkembang dan mengalami
peningkatan produksi, TBS menjadi CPO dan disamping itu juga terjadi peningkatan limbah
yang dihasilkan. Provinsi Riau memiliki luas areal perkebunan sawit 2.399.170 ha (BPTPM
Kota Pekanbaru, 2015). Data limbah padat sawit yang dihasilkan oleh pabrik sawit di Riau
dapat dilihat pada Tabel 1.1.
Tabel 1.1 Data limbah padat sawit di pabrik sawit Riau
Limbah PadatSawit
Cangkang, ton/hari
Tandan kosong, jumlah panen
Pelepah, juta ton/tahun
(Sumber: Arief, 2013)

H a s i l K e g u n a a n
7 0 5 9 , 3 Bahan baku arang
2 0 % - 2 3 % Pupuk organik
3 0 , 8 7 Pakan ternak

Salah satu metode konversi biomassa menjadi bahan bakar yaitu pirolisis. Pirolisis
adalah dekomposisi senyawa organik secara termal tanpa kehadiran oksigen. Produk utama
pirolisis adalah bio-oil. Dengan melalui beberapa proses, bio-oil dapat dijadikan bio-fuel.
Cara untuk meningkatkan katalis bio-oil adalah dengan metode catalytic pyrolysis. Katalis
berperan penting dalam hal selektivitas komposisi kimia dalam bio-oil, dimana diharapkan
penggunaan katalis dapat menurunkan pembentukan komponen-komponen teroksigenasi
yang tidak diinginkan, seperti alkohol, keton, asam, dan gugus karbonil. Salah satu katalis
yang dapat dimanfaatkan dalam konversi limbah padat sawit yaitu katalis berbasis lempung.
Mineral lempung merupakan salah satu kekayaan Indonesia yang berlimpah dan
belum dimanfatkan secara optimal. Tanah lempung secara geologis adalah mineral alam dari
keluarga silikat yang berbentuk kristal dengan struktur berlapis .Menurut penelitian terdahulu
menunjukkan bahwa lempung alam desa Cengar merupakan lempung golongan kaolinit.
Lempung alam telah dimanfaatkan menjadi material baru yang lebih berguna, salah satunya
sebagai katalis Kualitas lempung sebagai katalis dapat ditingkatkan dengan cara
mendistribusikan logam ke dalam pori lempung, salah satu logam yang dapat digunakan
3

adalah molibdenum yang diketahui mempunyai aktivitas hidrorengkah yang baik serta
berperan pada reaksi deoksigenasi bio-oil.
2

Tujuan
1. Mengembangkan teknologi pemanfaatan limbah padat sawit dalam pembuatan bio-oil
dengan katalis berbasis lempung.
2. Mempelajari tentang konversi biomassa limbah padat sawit berupa pelepah sawit
menjadi bio oil dengan metode pirolisis

BAB II
ISI
2.1 Biomassa
Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui proses fotosintetik, baik
berupa produk maupun buangan. Contoh biomassa antara lain adalah tanaman, pepohonan,
rumput, ubi, limbah pertanian, limbah hutan, tinja dan kotoran ternak. Selain digunakan
untuk tujuan primer serat, bahan pangan, pakan ternak, miyak nabati, bahan bangunan dan
sebagainya, biomassa juga digunakan sebagai sumber energi (bahan bakar). Umumnya yang
digunakan sebagai bahan bakar adalah biomassa yang nilai ekonomisnya rendah atau
merupakan limbah setelah diambil produk primernya. Kandungan biomassa yang terdiri dari
karbon dan hidrogen dapat dijadikan dasar sebagai kandungan yang terdapat dalam bahan
bakar. Sumber energi biomassa mempunyai beberapa kelebihan antara lain merupakan
sumber energi yang dapat diperbaharui (renewable) sehingga dapat menyediakan sumber
energi secara berkesinambungan (suistainable). Komponen dari biomassa adalah ekstraktuf,
dinding sel, dan abu. Dinding sel merupakan struktur penguat pada tanaman. Komponen
utama penyusun dinding sel adalah lignoselulosa yang tersusun oleh selulosa, hemiselulosa,
dan lignin [Basu,2013].
Selulosa (C6H10O5)n merupkan polimer rantai pnjng yang terdiri dari ribuan unit
glukosa. Selulosa berbentuk kristal, memiliki struktur yang kuat, dan dapat dihidrolisis .
selulosa terdiri dari 8 gugus unit selulosa. Struktur kimia selulosa ditampilkan pada gambar
2.1
Hemiselulosa (C5H804)n disusun oleh monomer gula yang merupakan polisakarida
rantai bercabang. Struktur monomer gula pembentuk hemiselulosa yaitu galaktuglokoman,
arabinoglukuronosilan, arabino galaktan, dan glukomanan ditampilkan pada Gambar 2.2.
Hemiselulosa cenderung menghasilkan lebih banyak gas dan ter yang lebih sedikit dibanding
selulosa [Basu,2013].
Lignin merupakan polimer bercabang yang kompleks. Lignin berfungsi sebagai
perekat alami antar jaringan selulosa [Basu,2013]. Lignin memiliki polimer aromatik dari
fenolpropan. Polimer tiga dimensi pada lignin terbentuk dari ikatan C-O-C dan C-C.
Pembentuk lignin biosintesis adalah p-komaril alkohol, koniferil alkohol, dan sinapil alkohol.
P-komaril alkohol adalah komponen minor pada lignin softwood dan hardwood. Koniferil
5

alkohol merupakan komponen utama pada lignin softwood. Struktur lignin ditampilkan pada
Gambar 2.3
Energi terbarukan merupakan hal yang penting untuk dikembangkan sebagai tuntutan
akan ketersediaan energi yang berkesinambungan dan ramah lingkungan. Secara khusus,
sumber bahan baku energi terbarukan pada biomassa tersebut berupakan karbon yang
merupakan unsur utama penyusun bahan bakar. Kayu dan limbah pertanian serta perkebunan
merupakan beberapa sumber bahan baku energi terbarukan yang tersedia dalam jumlah cukup
banyak di dunia. Bahkan, komponen-komponen biodegradable dari limbah industri dari
komerseial juga dapat dijadikan biomassa, walaupun untuk bahan tersebut diperlukan
pemrosesan yang lebih ekstensif sebelum dikonversi menjadi bio-oil [Contained Energy
Indonesia,2011].

2.2 Sumber-sumber Energi Biomassa


Sejumlah pakar berpendapat, penggunaan biomassa sebagai sumber energi terbarukan
merupakan jalan keluar dari ketergantungan manusia pada bahan bakar fosil. Apa yang
sebenarnya dimaksud dengan biomassa? Dalam sektor energi, biomassa merujuk pada bahan
biologis yang hidup atau baru mati yang dapat digunakan sebagai sumber bahan bakar atau
untuk produksi industrial. Umumnya biomassa merujuk pada materi tumbuhan yang
6

dipelihara untuk digunakan sebagai biofuel, tapi dapat juga mencakup materi tumbuhan atau
hewan yang digunakan untuk produksi serat, bahan kimia, atau panas. Biomassa dapat pula
meliputi limbah terbiodegradasi yang dapat dibakar sebagai bahan bakar. Biomassa tidak
mencakup materi organik yang telah tertransformasi oleh proses geologis menjadi zat seperti
batu bara atau minyak bumi. Biomassa biasanya diukur dengan berat kering. Sumber lain
menyebutkan biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui proses fotosintetik,
baik berupa produk maupun buangan. Contoh biomassa antara lain adalah tanaman,
pepohonan, rumput, ubi, limbah pertanian, limbah hutan, limbah perkotaan, tinja dan kotoran
ternak. Selain digunakan untuk tujuan primer serat, bahan pangan, pakan ternak, miyak
nabati, bahan bangunan dan sebagainya, biomassa juga digunakan sebagai sumber energi
(bahan bakar). Umum yang digunakan sebagai bahan bakar adalah biomassa yang nilai
ekonomisnya rendah atau merupakan limbah setelah diambil produk primernya. Sumber
energi biomassa mempunyai beberapa kelebihan antara lain merupakan sumber energi yang
dapat diperbaharui (renewable) sehingga dapat menyediakan sumber energi secara
berkesinambungan (suistainable). Di Indonesia, biomassa merupakan sumber daya alam
yang sangat penting dengan berbagai produk primer sebagai serat, kayu, minyak, bahan
pangan dan lain-lain yang selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik juga
diekspor dan menjadi tulang punggung penghasil devisa negara.
2.3

Potensi Biomassa di Indonesia


Potensi biomassa di Indonesia yang bisa digunakan sebagai sumber energi jumlahnya

sangat melimpah. Limbah yang berasal dari hewan maupun tumbuhan semuanya potensial
untuk dikembangkan. Tanaman pangan dan perkebunan menghasilkan limbah yang cukup
besar, yang dapat dipergunakan untuk keperluan lain seperti bahan bakar nabati. Pemanfaatan
limbah sebagai bahan bakar nabati memberi tiga keuntungan langsung. Pertama, peningkatan
efisiensi energi secara keseluruhan karena kandungan energi yang terdapat pada limbah
cukup besar dan akan terbuang percuma jika tidak dimanfaatkan. Kedua, penghematan biaya,
karena seringkali membuang limbah bisa lebih mahal dari pada memanfaatkannya. Ketiga,
mengurangi keperluan akan tempat penimbunan sampah karena penyediaan tempat
penimbunan akan menjadi lebih sulit dan mahal, khususnya di daerah perkotaan.
Selain pemanfaatan limbah, biomassa sebagai produk utama untuk sumber energi juga
akhir-akhir ini dikembangkan secara pesat. Kelapa sawit, jarak, kedelai merupakan beberapa
jenis tanaman yang produk utamanya sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Sedangkan
ubi kayu, jagung, sorghum, sago merupakan tanaman-tanaman yang produknya sering
7

ditujukan sebagai bahan pembuatan bioethanol. Potensi biomassa yang besar di negara,
hingga mencapai 49.81 GW tidak sebanding dengan kapasitas terpasang sebesar 302.4 MW.
Bila kita maksimalkan potensi yang ada dengan menambah jumlah kapasitas terpasang, maka
akan membantu bahan bakar fosil yang selama ini menjadi tumpuan dari penggunaan energi.
Hal ini akan membantu perekonomian yang selama ini menjadi boros akibat dari anggaran
subsidi bahan bakar minyak yang jumlahnya melebihi anggaran sektor lainnya.
Energi biomassa menjadi penting bila dibandingkan dengan energi terbaharukan
karena proses konversi menjadi energi listrik memiliki investasi yang lebih murah bila di
bandingkan dengan jenis sumber energi terbaharukan lainnya. Hal inilah yang menjadi
kelebihan biomassa dibandingkan dengan energi lainnya. Proses energi biomassa sendiri
memanfaatkan energi matahari untuk merubah energi panas menjadi karbohidrat melalui
proses fotosintesis yang selanjutnya diubah kembali menjadi energi panas.
Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk menghasilkan biofuel
mengingat begitu besarnya sumber daya hayati yang ada baik di darat maupun di perairan.
Menurut hasil riset Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Indonesia memiliki
banyak jenis tanaman yang berpotensi menjadi energi bahan bakar alternatif, antara lain :
Kelapa sawit, kelapa, jarak pagar, sirsak, srikaya, kapuk : sebagai sumber bahan bakar
alternatif pengganti solar (minyak diesel)
Tebu, jagung, sagu, jambu mete, singkong, ubi jalar, dan ubi-ubian yang lain : sebagai
sumber bahan bakar alternatif pengganti premium.
Nyamplung, algae, azolla : kemungkinan besar dapat dijadikan sebagai sumber pengganti
kerosene, minyak bakar atau bensin penerbangan.
Beberapa diantara tumbuhan penghasil energi dengan potensi produksi minyak dalam
liter per hektar dan ekivalen energi yang dihasilkan adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1. Jenis Tumbuhan Penghasil Energi
Jenis Tumbuhan

Elaeis guineensis (kelapa sawit)

Produksi
Minyak
(Liter
per Ha)
3.600-4.000

Ekivalen
Energi
(kWh
per Ha)
33.900-37.700

Jatropha curcas (jarak pagar)


Aleurites fordii (biji kemiri)

2.100-2.800
1.800-2.700

19.800-26.400
17.000-25.500

Saccharum officinarum (tebu)


Ricinus communis (jarak kepyar)

2.450
1.200-2.000

16.000
11.300-18.900

Manihot esculenta (ubi kayu)

1.020

6.600
8

2.4 Konversi Biomassa


Penggunaan biomassa untuk menghasilkan panas secara sederhana sebenarnya telah
dilakukan oleh nenek moyang kita beberapa abad yang lalu. Penerapannya masih sangat
sederhana, biomassa langsung dibakar dan menghasilkan panas. Di zaman modern sekarang
ini panas hasil pembakaran akan dikonversi menjadi energi listrik melali turbin dan generator.
Panas hasil pembakaran biomassa akan menghasilkan uap dalam boiler. Uap akan ditransfer
kedalam turbin sehingga akan menghasilkan putaran dan menggerakan generator. Putaran
dari turbin dikonversi menjadi energi listrik melalui magnet-magnet dalam generator.
Pembakaran langsung terhadap biomassa memiliki kelemahan, sehingga pada penerapan saat
ini mulai menerapkan beberapa teknologi untuk meningkatkan manfaat biomassa sebagai
bahan bakar. Beberapa biomassa perlu dikeringkan terlebih dahulu dan didensifikasi untuk
kepraktisan dalam penggunaan.

Konversi termokimiawi merupakan teknologi yang

memerlukan perlakuan termal untuk memicu terjadinya reaksi kimia dalam menghasilkan
bahan bakar.

Sedangkan konversi biokimiawi merupakan teknologi konversi yang

menggunakan bantuan mikroba dalam menghasilkan bahan bakar.


Beberapa penerapan teknologi konversi biomassa yaitu :
a.

Biobriket

Briket adalah salah satu cara yang digunakan untuk mengkonversi sumber energi biomassa ke
bentuk biomassa lain dengan cara dimampatkan sehingga bentuknya menjadi lebih teratur.
Briket yang terkenal adalah briket batubara namun tidak hanya batubara saja yang bisa di
bikin briket. Biomassa lain seperti sekam, arang sekam, serbuk gergaji, serbuk kayu, dan
limbah-limbah biomassa yang lainnya. Pembuatan briket tidak terlalu sulit, alat yang
digunakan juga tidak terlalu rumit. Di IPB terdapat banyak jenis-jenis mesin pengempa briket
mulai dari yang manual, semi mekanis, dan yang memakai mesin.
b.

Pirolisis

Pirolisis adalah penguraian biomassa (lysis) karena panas (pyro) pada suhu yang lebih dari
150oC. Pada proses pirolisa terdapat beberapa tingkatan proses, yaitu pirolisa primer dan
pirolisa sekunder.
Pirolisa primer adalah pirolisa yang terjadi pada bahan baku (umpan), sedangkan pirolisa
sekunder adalah pirolisa yang terjadi atas partikel dan gas/uap hasil pirolisa primer. Penting
diingat bahwa pirolisa adalah penguraian karena panas, sehingga keberadaan O2 dihindari
pada proses tersebut karena akan memicu reaksi pembakaran Proses ini sebenarnya bagian
9

dari proses karbonisasi yaitu proses untuk memperoleh karbon atau arang, tetapi sebagian
menyebut pada proses pirolisis merupakan high temperature carbonization (HTC), lebih dari
500 oC. Proses pirolisis menghasilkan produk berupa bahan bakar padat yaitu karbon, cairan
berupa campuran tar dan beberapa zat lainnya. Produk lainn adalah gas berupa karbon
dioksida (CO2), metana (CH4) dan beberapa gas yang memiliki kandungan kecil
c.

Liquification

Liquification merupakan proses perubahan wujud dari gas ke cairan dengan proses
kondensasi, biasanya melalui pendinginan, atau perubahan dari padat ke cairan dengan
peleburan, bisa juga dengan pemanasan atau penggilingan dan pencampuran dengan cairan
lain untuk memutuskan ikatan. Pada bidang energi liquification tejadi pada batubara dan gas
menjadi bentuk cairan untuk menghemat transportasi dan memudahkan dalam pemanfaatan.
d.

Transesterifikasi

Transesterifikasi adalah proses kimiawi yang mempertukarkan grup alkoksi pada senyawa
ester dengan alkohol
e.

Densifikasi

Praktek yang mudah untuk meningkatkan manfaat biomassa adalah membentuk menjadi
briket atau pellet. Briket atau pellet akan memudahkan dalam penanganan biomassa.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan densitas dan memudahkan penyimpanan dan
pengangkutan. Secara umum densifikasi (pembentukan briket atau pellet) mempunyai
beberapa keuntungan (bhattacharya dkk, 1996) yaitu : menaikan nilai kalor per unit volume,
mudah disimpan dan diangkut, mempunyai ukuran dan kualitas yang seragam.
f.

Karbonisasi

Karbonisasi merupakan suatu proses untuk mengkonversi bahan orgranik menjadi arang .
pada proses karbonisasi akan melepaskan zat yang mudah terbakar seperti CO, CH4, H2,
formaldehid, methana, formik dan acetil acid serta zat yang tidak terbakar seperti seperti
CO2, H2O dan tar cair. Gas-gas yang dilepaskan pada proses ini mempunyai nilai kalor yang
tinggi dan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan kalor pada proses karbonisasi.
g.

Anaerobic digestion

Proses anaerobic digestion yaitu proses dengan melibatkan mikroorganisme tanpa kehadiran
oksigen dalam suatu digester. Proses ini menghasilkan gas produk berupa metana (CH4) dan
karbon dioksida (CO2) serta beberapa gas yang jumlahnya kecil, seperti H2, N2, dan H2S.
Proses ini bisa diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu anaerobic digestion kering dan
basah. Perbedaan dari kedua proses anaerobik ini adalah kandungan biomassa dalam

10

campuran air. pada anaerobik kering memiliki kandungan biomassa 25 30 % sedangkan


untuk jenis basah memiliki kandungan biomassa kurang dari 15 % (Sing dan Misra, 2005).
h.

Gasifikasi

Secara sederhana, gasifikasi biomassa dapat didefinisikan sebagai proses konversi bahan
selulosa dalam suatu reaktor gasifikasi (gasifier) menjadi bahan bakar. Gas tersebut
dipergunakan sebagai bahan bakar motor untuk menggerakan generator pembangkit listrik.
Gasifikasi merupakan salah satu alternatif dalam rangka program penghematan dan
diversifikasi energi. Selain itu gasifikasi akan membantu mengatasi masalah penanganan dan
pemanfaatan limbah pertanian, perkebunan dan kehutanan. Ada tiga bagian utama perangkat
gasifikasi, yaitu : (a) unit pengkonversi bahan baku (umpan) menjadi gas, disebut reaktor
gasifikasi atau gasifier, (b) unit pemurnian gas, (c) unit pemanfaatan gas.
i.

Biokimia

Pemanfaatan energi biomassa yang lain adalah dengan cara proses biokimia. Contoh proses
yang termasuk ke dalam proses biokimia adalah hidrolisis, fermentasi dan an-aerobic
digestion. An-aerobic digestion adalah penguraian bahan organik atau selulosa menjadi CH4
dan gas lain melalui proses biokimia. Adapun tahapan proses anaerobik digestion adalah
diperlihatkan pada Gambar .
Selain anaerobic digestion, proses pembuatan etanol dari biomassa tergolong dalam konversi
biokimiawi. Biomassa yang kaya dengan karbohidrat atau glukosa dapat difermentasi
sehingga terurai menjadi etanol dan CO2. Akan tetapi, karbohidrat harus mengalami
penguraian (hidrolisa) terlebih dahulu menjadi glukosa. Etanol hasil fermentasi pada
umumnya mempunyai kadar air yang tinggi dan tidak sesuai untuk pemanfaatannya sebagai
bahan bakar pengganti bensin. Etanol ini harus didistilasi sedemikian rupa mencapai kadar
etanol di atas 99.5%.

11

2.5 Pelepah Sawit


Di Indonesia, perkebunan dan industri kelapa sawit semakin berkembang dan
mengalami peningkatan dari tahun ketahun. Dengan adanya peningkatan ini akan terjadi
peningkatan limbah yang dihasilkan. Salah satunya adalah pelepah sawit. Provinsi Riau
mempunyai luas areal perkebunan sawit 1.911.113 ha pada tahun 2010 (BPS Riau, 2011).
Diperkirakan jumlah limbah pelepah sawit yang dihasilkan adalah sebesar 30,87 juta
ton/tahun. Limbah pelepah sawit ini hanya dibiarkan menumpuk atau dibakar pada lahan.
Pembakaran secara langsung ini dapat menyebabkan pencemaran udara.
Diantara limbah padat sawit yang banyak mengandung lignoselulosa adalah pelepah
sawit. Kandungan lignoselulosa akan berpengaruh pada kecepatan pembentukan produk biooil , semakin besar kandungan lignoselulosa, maka laju pembentukan produk akan lebih
tinggi. Oleh karena itu, pelepah sawit sangat berpotensi digunakan sebagai biomassa
penghasil bio-oil. Kandungan pelepah sawit yang telah dilakukan analisis dapat dilihat pada
tabel 2.2
Tabel 2.2 Komposisi Lignoselulosa Pelepah Sawit
Biomassa
Batang Sawit
Pelepah Sawit
Serabut Sawit
Sumber: (Sukiran,2008)

Selulosa
59
42
21

Hemiselulosa
10
21
16

Lignin
11
23
43

Selama ini pelepah sawit hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak, pupuk kompos,
dan dibiarkan di area perkebunan [Hidayanto,2013]. Pemanfaatan in tidak menambah nilai
ekonomi pelepah sawit. Oleh karena itu, pelepah sawit dapat dimanfaatkan sebagai sumber
energi alternatif yaitu bahan bakar padat. Nilai kalor pelepah sawit 17.200 kj/kg [Chavalparit
dkk,2013]

12

Gambar 2.2 Pelepah sawit


2.6

Katalis Lempung
Katalis merupakan suatu zat yang dapat meningkatkan kecepatan reaksi, tetapi tidak

memengaruhi produk. Katalis biasanya mengubah laju reaksi dengan mencari jalur reaksi
lain. Katalis dapat memungkinkan untuk mendapatkan produk akhir dengan jalur reaksi
berbeda dengan energi aktivasi yang lebih rendah, yang dapat memengaruhi yield dan
selektivitas (Fogler,2006).
Secara geologis, lempung adalah mineral alam dari keluarga silikat yang berbentuk
kristal dengan struktur berlapis (struktur dua dimensional) dan mempunyai ukuran partikel 2
m, bersifat liat jika basah dan keras jika kering (Rofik dan Taufiyanti, 2002).
Daerah Riau mempunyai cadangan lempung alam yang cukup besar. Lempung
Cengar adalah sumber daya alam yang banyak terdapat di daerah Desa Cengar, Kecamatan
Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau dan lempung ini mempunyai cadangan
kira-kira 4.313.700 m3 yang terbesar di beberapa lokasi yaitu Desa Toar, hulu sungai Batang
Salo (Desa Cengar), kawasan hutan lindung Bukit Batabuh, Desa Kasang, Desa Teluk
Beringin, dan Desa Air Buluh. Data hasil difraksi sinar X menunjukkan bahwa lempung yang
berasal dari Riau merupakan jenis lempung kaolinit. Karakteristik fisik lempung adalah
lengket danmudah dibentuk saat lembab, tetapi keras dan kohesif saat kering (Armay, 2014).

Gambar 2.4 Lempung


13

Struktur kristal lempung terbentuk dari dua struktur lapisan dasar, yaitu silika dan
alumina (Armay, 2014). Contoh mineral lempung, yaitu smectite, illit, kaolinit, dan lain-lain.
Lempung dibagi menjadi tiga golongan utama, yaitu:
1. Golongan Kaolinit
Kaolin merupakan masa bantuan yang tersusun dari material lempung dengan
kandungan besi yang rendah dan umumnya berwarna putih atau agak keputihan (Bakri dkk,
2008). Golongan kaolinit berbentuk keping, dibangun dari kesatuan kristal pipih. Kaolinit
terdiri atas 39% oksida alumina, 47% oksida silika, dan 14% air (Sukamta dkk, 2009). Kaolin
termasuk jenis mineral clay dengan rumus kimia (Al2O3.2SiO2.2H2O).
2. Golongan Illit
Golongan illit ini menyerupai monmorillonit dan memiliki kristal tipe 2:1. Rumus
molekul illit adalah (OH)4Ky(Si8.Aly)(Al4.Mg6.Fe4.Fe6)O20. Komposisi kimia adalah 60%
SiO2 dan 18-31% AlO3. Lempung illit ini mempunyai kalium berlapis dan butir-butir pada
illit juga besar. Struktur illit terdiri lapisanlapisan unit silica-aluminium-silica yang
dipisahkan oleh ion K+ yang mempunyai sifat mengembang.
3. Golongan Monmorillonit
Monmorillonit merupakan anggota kelompok smektit yang paling banyak ditemukan
di alam. Kristal monmorillonit seperti keping. Rumus molekulnya dapat dinyatakan sebagai
Al4SiO2(OH)4.nH2O. Komposisi kimianya adalah 66,7% SiO2; 28,3% Al2O3; dan 5% H2O.
Mineral ini mempunyai sistem kristal triklin. Kristal monmorillonit tersusun dari dua
lembaran silika dan satu lembaran alumina yang terikat oleh atom oksigen membentuk kisi
kristal tipe 2:1.
2.7

Pirolisis
Pirolisis merupakan dekomposisi termokimia untuk menghasilkan produk, dimana

proses berlangsung tanpa oksigen. Untuk mempercepat terjadinya pirolisisdiperlukan adanya


katalis. Dimana, katalis yang banyak digunakan secara umum adalah katalis dalam bentuk
logam teremban, karena logam dapat terdispersi secara merata pada permukaan pengemban
(Sukma, 2014).
Pirolisis merupakan suatu bentuk insinerasi yang menguraikan bahan organik secara
kimia melalui pemanasan dengan mengalirkan nitrogen sebagai gas inert. Proses ini
menghasilkan uap organik, gas pirolisis, dan arang. Uap organik yang dihasilkan
mengandung karbon monoksida, metana, karbon dioksida, tar yang mudah menguap, dan air.
Uap organik kemudian dikondensasikan menjadi cairan. Cairan hasil pirolisis dikenal sebagai
bio-oil (Anugra, 2011).
14

Proses pirolisis bahan organik berlangsung beberapa tahap yaitu pemanasan sampai
dengan suhu 170oC terjadi kehilangan air dan pengeringan, dekomposisi hemiselulosa pada
suhu 200-260oC, dilanjutkan dengan dekomposisi selulosa pada suhu 260-300 oC, dan terakhir
dekomposisi lignin terjadi pada suhu di atas 300oC (Irfan, 2010). Hasil dari pirolisis selalu
dalam bentuk gas, cair (minyak), arang, dan gas sintetik atau syngas. Dari hasil pirolisis ini
kemudian dapat dilakukan konversi produk, salah satunya untuk kepentingan sintesis bahan
pengganti minyak bumi atau bahan-bahan kimia (Armay, 2014).
Pirolisis berasal dari kata Pyro (Fire/api) dan Lyo (Loosening/Pelepasan) untuk
dekomposisi termal dari suatu bahan organik. Jadi pirolisis adalah konversi dari suatu bahan
organik pada suhu tinggi dan terurai menjadi ikatan molekul yang lebih kecil atau
pendegredasian panas pada biomassa tanpa oksigen [Anugra, 2011].
2.8

BIOOIL
Biooil adalah cairan kental berwarna kehitaman yang memiliki unsur penyusun yang

sama seperti biomassa. Biooil tidak seperti persepsi minyak yang kita pahami pada
umumnya, tetapi biooil terbuat dari berbagai senyawa oksigenat organik yang berbeda-beda
dan tidak bercampur dengan bahan bakar minyak. Hal ini karena tingginya kadar air sekitar
15-20% yang berfungsi juga sebagai pengikat rausan molekul yang berbeda yang oleh para
ilmuwan disebut sebagai emulsi mikro. Crude bio-oil dapat digunakan pemanas rumah tangga
dan pembangkit listrik untuk skala besar ataupun dimurnikan untuk menjadi bahan bakar
yang lebih efisien dan berbagai kebutuhan industri kimia. Seperti halnya petroleum fuel, biooil dapat dimurnikan dan dibentuk menjadi berbagai bahan bakar dan bahan kimia.
Bio-oil diproduksi dari reaksi yang yang disebut pirolisis, yang mendekomposisi
suatu bahan dengan aplikasi panas dan hampa udara. Untuk membuat bio-oil, biomassa
dikenai proses pirolisis cepat (fast pyrolisis) yakni dipanaskan pada suhu tinggi dengan waktu
sangat singkat. Selama pirolisis biomassa tersebut akan terdekomposisi menjadi arang,
aerosol dan uap air. Setelah didinginkan dan diembunkan segera, maka akan tampak adanya
bahan bakar bio-oil tersebut. Jika proses ini dilakukan dengan sukses maka akan dihasilkan
tiga fase produk yakni padat, cair dan gas. Tidak ada hal yang baru dalam pirolisis. Pirolisis
lambat dengan suhu rendah telah dilakukan selama berabad-abad dan dikenal pada proses
pembuatan arang. Sedangkan pirolisis cepat (fast pyrolisis) baru dikenal dan dijalankan oleh
sejumlah scientist sekitar tigapukuh tahun yang lalu dan dipelajari mekanismenya dan untuk
15

menemukan proporsi yang sesuai antara produk cair, padat dan gas. Dengan mempercepat
pemanasan dan mencapai suhu 500 C dalam beberapa detik, kita dapat memaksimalkan phase
cairannya bahkan sampai dengan 75% biooil dibandingkan dengan bahan baku yang
diumpankan.
Bio-oil adalah sumber energi alternatif yang menarik untuk sejumlah alasan tertentu.
Khususnya bahan bakar ini merupakan energi terbarukan dan diproduksi dari bahan baku
yang dikategorikan sebagai limbah. Penggunaan sederhana crude biooil adalah untuk bahan
bakar rumah tangga di tungku dan boiler dengan sedikit modifikasi. Penggunaan lebih lanjut
dari biooil untuk berbagai aplikasi terbuka lebar. Sebagai contoh biooil dapat diupgrade dan
menggantikan bahan bakar diesel melalui hidrogenasi dan memecah senyawa speesifiknya
untuk dijual ke sejumlah industri. Penambah citarasa, pupuk organik dan aditif bahan bakar
dapar diproduksi dari bio-oil. Energi yang dihasilkan dari biooil juga lebih bersih dari bahan
bakar fossil. Hal ini antara lain selama pembakaran dalam turbin gas, biooil mengeluarkan 50
persen nitrogen oksida lebih sedikit. Baik sebagai energi maupun sebagai sumber bahan
kimia, bio-oil adalah bahan bakar terbarukan paling serbaguna dari biomassa.

16

METODE PENELITIAN

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah lempung dari daerah Desa Cengar,
Kecamatan

Kuantan

Mudik,

Kabupaten

Kuantan

Singingi,

H2SO4

1,2

M,

(Co(NO3)2.6H2O), BaCl2, aquades, gas N2, O2, dan H2, pelepah sawit dan silinap 280 M
(thermo oil). Sedangkan alat yang digunakan berupa lumpang porselin, pengayak 40, 60, 100
dan 200 mesh, reaktor alas datar ukuran 1 L, satu set motor pengaduk, oven, furnace tube,
timbangan analitik, tabung serta regulator gas N2, O2 dan H2, reaktor pirolisis, condenser,
magnetic stirrer, thermocouple thermometer (Barnant), piknometer, viskometer Oswald, gelas
piala, pengaduk listrik (Heidolph) dan Gas kromatografi- Spektroskopi Massa (GC-MS).
Tahapan penelitian terdiri dari pembuatan katalis Co/lempung dan pembuatan bio-oil dari 4
tahap yaitu:
a. Perlakuan Awal Lempung
Lempung yang sudah membatu ditumbuk dan diayak dengan ukuran ayakan 100+200 mesh dengan ketentuan ukuran partikel yang diambil merupakan partikelpartikel
yang lolos pada pengayak 100 mesh dan tertahan pada pengayak 200 mesh.
b. Aktivasi Lempung dengan Perlakuan H2SO4
Aktivasi lempung dengan cara refluks lempung cengar sebanyak 50 gram dalam
larutan H2SO4 1,2 M sebanyak 600 ml selama 6 jam pada suhu 50oC sambil diaduk dengan
motor pengaduk pada reaktor alas datar volume 1 liter, kemudian sampel tersebut
didiamankan selama 16 jam yang selanjutnya disaring dan dicuci menggunakan akuades
berulang kali sampai tidak ada ion SO4

17

-2 yang terdeteksi oleh larutan BaCl2, cake dikeringkan pada suhu 120oC selama 4 jam
dalam oven.
c. Pengembanan (Impregnasi) Logam Co
Pengembanan (impregnasi) logam Co dengan cara sampel lempung yang telah
diaktivasi dilarutkan dalam 500 ml (Co(NO3)2.6H2O) dan direfluks pada suhu 60oC selama
6 jam sambil diaduk pada reaktor alas datar ukuran 1 L, kemudian disaring dan dicuci. Cake
kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 120oC selama 3 jam (diperoleh sampel
Co/lempung).
d. Kalsinasi, Oksidasi dan Reduksi
Sampel katalis dimasukkan ke dalam tube sebanyak 10 gram. Sebelumnya ke dalam
tube telah diisi dengan porcelain bed sebagai heat carrier dan penyeimbang unggun katalis,
di antara porcelain bed dengan unggun katalis diselipkan glass woll. Tube ditempatkan dalam
tube furnace secara vertikal, dikalsinasi pada suhu 500oC selama 7 jam sambil dialirkan gas
nitrogen sebesar 400 ml/menit, dilanjutkan dengan oksidasi pada suhu 400 oC
menggunakan gas oksigen sebesar 400 ml/menit selama 2 jam dan reduksi pada suhu 400
oC menggunakan gas hidrogen sebesar 400 ml/menit selama 2 jam.
2) Pembuatan Bio-oil

a. Tahap Persiapan Biomassa


Pada tahap ini, biomassa berupa pelepah sawit yang diambil dari perkebunan sawit disekitar
Kubang-Panam, dicuci kemudian dijemur sampai kering di bawah terik matahari setelah itu
dikeringkan dalam oven untuk menghilangkan kadar airnya sampai beratnya konstan. Biomassa
tersebut kemudian dihaluskan dan diayak (screening) untuk memperoleh ukuran -40+60 mesh.

b. Tahap Penelitian
Biomassa yang telah dihaluskan sebanyak 50 gram dan 500 ml thermal oil (silinap) beserta
katalis Co/lempung dimasukkan ke dalam reaktor pirolisis. Pirolisis dilakukan pada suhu 330 oC tanpa
kehadiran oksigen dengan mengalirkan gas nitrogen 1,3 mL/detik. Diaduk dengan pengaduk
listrik(Heidolph) pada kecepatan pengadukan 300 rpm selama waktu tertentu hingga tidak ada bio-oil
yang menetes lagi, dan aliran air dengan menggunakan kondensor.Bio-oil yang dihasilkan ditampung
dalam gelas piala.

18

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Pengaruh Presentasi Katalis Co/Lempung Cengar Terhadap Yield
Bio-oil yang Dihasilkan

Pengaruh persentase katalis diharapkan dapat mempengaruhi yield biooil yang


dihasilkan. Bio-oil dihasilkan dengan menggunakan proses pirolisis pada suhu 330 oC dan
massa bio-oil yang diperoleh dihitung setiap 10 menit secara berkala. Proses pirolisis
membutuhkan waktu 120 menit sampai bio-oil tidak menetes lagi. Variasi katalis
Co/Lempung Cengar yang digunakan yaitu 0%; 1%; 3%; dan 5% b/b terhadap pelepah sawit.
Perolehan yield bio-oil setiap variaskatalis dapat dilihat pada Gambar 3.1

Pada proses pirolisis Gambar 3.1 menunjukkan pengaruh presentasi katalis Co/Lempung
Cengar terhadap bio-oil yang dihasilkan pada suhu 330 oC. Pada penelitian ini, yield biooil yang dihasilkan tanpa menggunakan katalis adalah sebesar 47,3%. Sedangkan denga
yield bio-oil menggunakan variasi katalis secara berurutan adalah 1% Co/Lempung
19

dihasilkan yield bio-oil (50%); 3% Co/Lempung dihasilkan yield bio-oil (49,3%), 5%


Co/Lempung dihasilkan yield bio-oil (45,7%). Yield bio-oil maksimum didapatkan pada
katalis 1% Co/Lempung sebesar 50%. Dari yield bio-oil yang dihasilkan dari keempat
katalis ini menunjukkan tidak ada perbedaan hasil yang signifikan baik tanpa menggunakan
katalis dan menggunakan katalis Co/Lempung Cengar 1%. Peningkatan kadar katalis
Co/Lempung berlebih menunjukkan penurunan yield bio-oil yang dihasilkan. Terjadi
kecenderungan yang sama terhadap penelitian lain antara lain penelitian Gapurman (2013)
yaitu pirolisis cangkang sawit menggunakan katalis Co/lempung didapatkan yield bio-oil
terbaik pada katalis Co/lempung 1% sebanyak 56,4% dan penelitian Amelisa (2013) juga
melakukan pirolisis pelepah sawit menggunakan katalis lempung didapatkan yield bio-oil
terbaik pada katalis lempung 1% sebanyak 72%. Pada penggunaan katalis Co/Lempung
Cengar 3% dan 5% terjadi penurunan yield bio-oil yaitu sebesar 49,3% dan 45,7%. Hal ini
dapat terjadi karena semakin banyak terbentuknya produk gas yang tidak terkondensasi (Gan,
2012). Pada penelitian Trisunaryanti dkk (2005) diperoleh data XRD dari preparasi,
modifikasi dan karakterisasi katalis logam terhadap zeolit, kenaikan pengembanan logam Co
akan memberikan persentase jumlah di rongga lempung akan semakin kecil. Hal ini
disebabkan oleh semakin banyak logam yang di impregnasikan maka semakin banyak pula
yang tidak tertampung ke dalam lempung, karena melebihi kapasitas lempung yang terbatas
atau terjadinya akumulasi logam aktif pada pori-pori lempung sehingga menyebabkan
dispersi logam-logam yang kurang baik yang akan berpengaruh pada keasaman dan
kristalitasnya.

3.2 Hasil Karakteristik Sifat Bio-Oil


Hasil uji karakteristik sifat fisika bio-oil dari pelepah sawit menggunakan katalis
Co/Lempung Cengar sebanyak 0%, 1%, 3%, 5% b/b terhadap biomassa pelepah sawit secara
keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Hasil Uji Karakteristik Bio-oil

20

Dari Tabel 3.1 menunjukkan bahwa parameter yang digunakan untuk menentukan
standar mutu bio-oil adalah densitas, viskositas, titik nyala, dan angka keasamaan. Untuk
hasil uji fisika berdasarkan yield bio-oil maksimum yaitu pada penggunaan katalis
Co/Lempung Cengar 1% terhadap pelepah sawit diperoleh densitas 1,0042 gr/ml, viskositas
10,493 cSt, titik nyala 52C dan angka asam 0,42976 gr NaOH/gr sampel. Adapun nilai
densitas bio-oil terendah diperoleh pada penggunaan katalis Co/Lempung Cengar 1%
sebesar 1,0042 gr/ml sedangkan nilai densitas tertinggi yaitu tanpa penggunaan katalis
sebesar 1,0196 gr/ml. Nilai densitas dipengaruhi oleh kandungan air yang terkandung
didalam bio-oil. Dengan densitas yang lebih kecil, penggunaan bio-oil sebagai bahan bakar
akan menguntungkan karena lebih ringan. Pengujian viskositas bio-oil dilakukan dengan
viskometer Ostwald. Viskositas bio-oil yang paling rendah yaitu pada penggunaan katalis
Co/Lempung Cengar 1% sebesar 10,493 cSt, sedangkan viskositas yang paling tinggi yaitu
pada penggunaan tanpa katalis sebesar 11,103 cSt. Dengan viskositas yang lebih rendah akan
lebih memudahkan proses pemindahan bio-oil dari suatu tempat ke tempat yang lain. Titik
nyala bio-oil yang paling rendah yaitu pada penggunaan tanpa katalis Co/Lempung Cengar
sebesar 50C, sedangkan titik nyala yang paling tinggi yaitu pada pengunaan katalis 5% b/b
sebesar 60C. Dengan titik nyala yang terlalu rendah dikhawatirkan dapat menyebabkan biooil mudah terbakar pada suhu lingkungan.

21

BAB IV
Kesimpulan
1. Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui proses fotosintetik, baik
berupa produk maupun buangan. Biomassa yng digunakan adalah pelepah sawit
2. Pirolisis merupakan salah satu teknologi konversi biomassa untuk menghasilkan bahan
bakar alternatif berupa bio-oil yang mana produk tersebut merupakan salah satu energi
alternatif yang terbarukan, sangat ramah lingkungan karena dapat didaur ulang,
mampu mengurangi penimbunan, serta mampu mencegah pencemaran tanah.
3. Pada penggunaan katalis Co/Lempung Cengar 1% b/b terhadap pelepah sawit
dihasilkan yield bio-oil maksimal sebesar 50%.

22

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, S.S., Yusup, S., Ahmad, M.M., Ramli, A., dan Ismail, L. 2010. Thermogravimetry
Study on Pyrolysis of Various Lignocellulosic Biomass for Potential Hydrogen
Production.International Journal of Chemical, Molecular, Nuclear, Materials and
Metallurgical Engineering. 4(12), 750-754.
Amelisa, T. 2013. Pirolisis Limbah Pelepah Kelapa Sawit menjadi Bio-Oil menggunakan
Katalis Lempung Cengar. Skripsi Sarjana, Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik
Universitas Riau.
Anugra, R.D.2011.Efek Kandungan Logam Ni/NZA pada Proses Pencairan Langsung
Biomassa menjadi Bio-oil.Skripsi Sarjana, Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik
Universitas Riau.
Arief, F. 2013. Tinjauan Fungsi Fisik Aplikasi Tandan Kosong Kelapa Sawit.
http://bgimesin.wordpress.com/pengolahan-serat-tandan-kosong-kelapa-sawit.
Diakses tanggal 6 April 2016.
Armay, E.O. 2014. Produksi Bio-Oil dari Biomassa Pelepah Sawit menjadi Bio-Oil
menggunakan Katalis Co/Lempung dengan Metode Pirolisis. Skripsi Sarjana, Jurusan
Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau.
Atnaw, S.M., Sulaiman, S.A., dan Yusup, S. 2011. Downdraft Gasification of Oil Palm
Frond. Trends in Applied Sciences Research. 6(9), 1006.
.
Basu, P. 2010. Biomass Gasification and Pyrolysis Practical Design and Theory.Elsevier.
New York.
Gapurman. 2013. Konversi Cangkang Sawit menjadi Bio-Oil dengan Metode Pyrolisis
menggunakan Katalis Co/Lempung. Skripsi Sarjana, Jurusan Teknik Kimia Fakultas
Teknik Universitas Riau.

23