Anda di halaman 1dari 29

TUMOR ODONTOGENIK

Disusun Oleh :

Lira Masri
NPM 160121130003

Dosen Pembimbing :
Agung Dinasti Permana,dr.,M.Kes.,Sp.THT -KL

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER GIGI SPESIALIS


BEDAH MULUT DAN MAKSILOFASIAL
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS PADJAJARAN
2015

Daftar Isi
I . Pendahuluan 2
II. Pembahasan 4
2.1 Tahap Pembentukan Gigi . 4
2.2 Tumor Odontogenik 8
2.2.1 Odontoma 8
2.2 2 Keratocystic Odontogenic Tumor . 10
2.2.3 Nevoid Basal Cell Carcinoma Syndrome ( Basal Cell Nevus Syndrome, Gorlin
Syndrome) .. 14
2.2.4 Ameloblastoma

14

2.2.5 Tumor Adenomatoid Odontogenik .. 19


2.2.6 Calcifyng Epithalial Odontogenik Tumor . 21
2.2.7 Odontogenic Myxoma ..

22

2.2.8 Ameloblastic Fibroma 24


III. Kesimpulan 27

IV. Daftar Pustaka 28

BAB I
PENDAHULUAN

Tumor odontogenik merupakan suatu kelainan yang terjadi pada rongga mulut dan asalnya
berhubungan dengan jaringan yang berasal dari

perkembangan gigi. Jaringan abnormal dari

masing-masing tumor sering dihubungkan dengan jaringan yang sama pada odontogen normal
dari pembentukan hingga erupsi gigi. 1,2
Tumor odontogenik merupakan neoplasma pada rahang yang berdiferensiasi dari struktur
gigi. Lesi ini sering ditemukan pada mandibula dan maksila sedangkan pada gingiva jarang.
Etiologi dan

patogenesisnya tidak jelas. Secara klinis, tumor odontogenik merupakan tipe

asimptomatik, namun dapat menyebabkan ekspansi rahang, bergesernya gigi, dan resorbsi
tulang.2
Seperti neoplasma lain di dalam tubuh, tumor odontogenik cenderung untuk mirip secara
mikroskopik dengan sel atau jaringan asalnya. Secara histologis, tumor odontogenik ini dapat
mirip dengan jaringan lunak enamel organ atau pulpa gigi atau mengandung jaringan keras
seperti enamel, dentin, cementum atau campuran bahan bahan tersebut. Lesi odontogenik ini
dapat berproliferasi secara jinak sampai ganas dengan kemampuan metastase. 3
Tumor odontogenik adalah kelompok tumor yang jarang terjadi tapi termasuk kelompok
yang berbeda dan kompleks dari kelompok tumor yang ada. Jenis tumor ini berasal dari dari
jaringan

epitel

atau

mesenkim,

atau

keduanya,dan

berhubungan

dengan

struktur

gigi.

Kebanyakan dari tumor odontogenik adalah tumor ganas, tapi beberapa ada juga yang tumbuh
sebagai hamartomatous. Tumor odontogenik biasanya muncul sebagai suatu pembengkakan
tanpa nyeri,

yang dapat mengakibatkan hilangnya struktur tulang, pergeseran gigi dan

pembesaran rahang. Tumor ini jarang menyebabkan disfungsi saraf sensoris. Dengan memahami

latar belakang biologis dari kelompok lesi ini akan membantu kita menentukan perawatan yang
tepat dengan hasil yang memuaskan.8

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Tahap Pembentukan Gigi
Pembentukan gigi sejak proses embriogenesis, berasal dari epitel rongga mulut
menutup

yang

prosesus alveolar maksila dan mandibula. Berawal sebagai suatu penonjolan dari

lapisan sel basal

pada maing-masing lokasi dimana gigi tersebut tumbuh. Penonjolan tersebut

membentuk suatu struktur yang solid seperti pipa yang kemudian berpenetrasi ke jaringan
koneksi (invagination).

Pemanjangan dari epitel tersebut disebut sebagai suatu lamina dental

dan ini merupakan sumber dari difrensiasi dan pembentukan dari gigi. Ketika kedalaman tepat
telah tercapai , lapisan basal sel pada ujung lamina dental membentuk suatu konkafitas (cup
stage). Selama prosedur odontogenesis, struktur yeng berbentuk mangkuk (cap) meluas dan
lapisan terdalam dari epitelium memisah dari lapisan atasnya (terluar). Daerah yang terpisah
tersebut tersusun atas sel epitel berbentuk bintang (retikulum stellate).

Bersamaan dengan

pemanjangan dari keseluruhan sel epitel yang nantinya akan membentuk mahkota gigi. Kejadian
ini disebut sebagai early bell stage.1
Epitel tertentu merangsang jaringan konektif yang berdekatan untuk berubah menjadi suatu
daerah embrionik yang terbatas dan jaringan konektif mixomatous yang mungkin ke depannya
akan membentuk jaringan pulpa dan dentin. Perubahan jaringan konektif disekitar daerah yang
nantinya akan membentuk akar gigi disebut sebagai papilla dental. Pembentukan jaringan
konektif pada daerah bagian dalam dari struktur embrio gigi juga terjadi pada tahap
odontogenesis ini. Daerah terluar jaringan konektif yang membungkus perkembangan dari gigi
tebal dan fibrous (dental follicle). Dental folikel ini yang tersisa pada saat gigi erupsi, folikel
pada bagian mahkota akan menjadi jaringan konektif dari free margin gingiva dan pada bagian
akar menjadi ligamentum periodontal yang memisahkan sementum dari tulang.

Gambar 1 Tahap awal odontogenesis A. Invaginasi B. Cap Stage C. Early Bell Stage D. Late Bell Stage 1

Sejak tahap late bell stage, sel epitel bagian dalam menjadi panjang dan berderet.
Bersamaan dengan terjadinya migrasi dari nukleus menjauhi membrane basalis, proses ini
disebut sebagai reverse polarization. Kejadian ini mengindikasikan perubahan sel menjadi
presecretory ameloblast. Reverse polarization menyebabkan sel yang tidak berdifrensiasi pada
papila dental

berdifrensiasi menjadi presecretory odontoblas. Pada saat ameloblas matang

(mature). Odontoblas terstimulasi untuk menghsilkan matriks dentin yang memulai deposit dari
matriks email yang berlawanan dengan membran dasar. Sejak tahap ini pada proses
odontogenesis, dental lamina memutuskan dan membentuk suatu tonjolan kecil pada jaringan
konektif. Penonjolam dari sisa epitel menjadi tidak aktif sehingga disebut

rest of the dental

lamina rest of Serres.1


Setelah bentuk spesifik dari mahkota gigi selesai, epitel tersebut membentuk lingkaran luar
dari organ email bell-shaped memanjang membentuk akar gigi. Epitel ini membentuk suatu
lapisan membran yang tipis disebut hartwigh root sheath.

Pada daerah ini odontoblast

menghasilkan dentin untuk pembentukan akar. Selanjutnya sel jaringan konektif dari folikel
dental yang berbatasan dengan akar bertemu dan membentuk suatu dentin baru. Dentin tersebut
menstimulasi sel untuk berdifrensiasi menjadi sementoblas yang akan membrntuk sementum.

Setelah pembentukan sementum selesai, epitel Hertwigh root sheath yang tersisa

pada

ligamentum periodontal disebut sebagai rest of Malassez.

Gambar 2 Later Stages of Odontogenesis A. Pembentukan mahkota dan lamina dental B. Pembentukan Akar
C. Pembentukan lengkap gigi preerupsi dan rests of Malassez (titik-titik merah)1

Tumor odontogenik terjadi akibat adanya gangguan (interupsi) pada sekuens normal
odontogenesis atau adanya reaktifasi jaringan yang terlibat dalam sekuens normal odontogenesis.
Neoplasma apa yang terjadi tergantung pada tahap perkembangan apa gangguan itu terjadi.

Gambar 3 Rest of malassez

2.1.2 Klasifikasi Tumor Odontogenik


Tumor odontogenik merupakan kelompok lesi yang komplek dan berbeda dalam tipe
histopatologi dan sifat klinisnya. Sebagian merupakan neoplasma sebenarnya dan terkadang
bersifat ganas. Lainnya dapat merupakan malformasi serupa tumor (hamartoma). Tumor
odontogenik, seperti halnya odontogenesis normas, menampakkan vairasi induktif interaksi
antara epitel odontogenik dan ecromesenkim odontogenik. Ektomesenkim sebelumnya disebut
mesenkim karena diduga merupakan lapisan embrio mesodermal. Namun saat ini diketahui
bahwa jaringan ini berdiferensiasi dari lapisan ektodermal pada porsio sephalic embrio. Tumor
odontogenik epitel terdiri dari epitel odontogenik tanpa adanya ectomesenkim.
Neoplasma odontogenik lain terkadang menunjukkan tumor odontogenik campuran, terdiri
dari elemen epitel dan ektomesenkim odontogenik.
Berdasarkan klasifikasi WHO 1992, tumor odontogenik diklasifikasikan sebagai berikut :
Klasifikasi tumor odontogenik didasarkan pada gejala klinis dan gambaran histologisnya,
oleh Pinborg dan Clausen. Klasifikasi itu mengklasifikasikan tumor odontogenik menjadi :2,3
1. Tumor Jinak
a. Adenomatoid odontogenik tumor (adenoameloblastoma)
b. Calcifying epitelial odontogenik tumor (Pindborgs tumor)
c. Squamous odontogenik tumor
d. Ameloblastik fibroma
e. Odontoma
f.

Cementoblastoma

g. Odontogenik myxoma, fibroma dan myxofibroma

2. Tumor Intermediate
a. Ameloblastoma folikular
b. Ameloblastoma pleksiform
c. Ameloblastoma akantomatous
d. Ameloblastoma sel granular
e. Ameloblastoma desmoplastik
f.

Ameloblastoma sel bas

3. Tumor Ganas
Ameloblastik carsinoma
Ameloblastik fibrosarcoma
Clear cell odontogenic carcinoma

2.2 Tumor Odontogenik


2.2.1 Odontoma
Odontoma bukan tumor ganas, tapi tumbuhnya mengarah pada hamartoma karena
terbentuk dari pertumbuhan gigi yang normal dan kemudian mencapai ukuran yang tetap. Lesi
ini terdiri dari elemen enamel, dentin, sementum dan jaringan pulpa. Tergantung dari derajat
perubahan secara morfologinya, odontoma dapat diklasifikasikan menjadi compound jika lesi
memiliki struktur seperti struktur gigi atau kompleks jika lesi memperlihatkan gambaran massa
yang berkilat seperti gelas atau kristal. 8

Gambaran Klinis dan Radiografis


Odontoma merupakan tumor odontogenik yang sering terjadi. Sifat dari lesi ini
asimptomatik,

secara radiografi baik odontoma tipe kompon dan kompleks adalah massa yang

radioopak dan memiliki batas yang jelas. Pada tipe kompon memperlihatkan struktur gigi kecil
kecil dan banyak, sementara tipe kompleks memperlihatkan massa padat yang irregular.

Gambar 4: Gambaran radiografi kompon odontoma

Gambar 5 Gambaran Kompleks odontoma

Gambaran Histopatologis
Walaupun terjadi gambaran pengurangan dari epitel enamel, odontoma pada prinsipnya
tetap tersusun atas enamel, dentin, sementum dan jaringan pulpa. Jaringan fibrosa yang sedikit.

Gambar 6 gambaran histopatologis kompleks odontoma

Penatalaksanaan dan Prognosis


Pengangkatan lesi merupakan penataaksanaan yang utama. Enukleasi dan kuretase bisa
menjadi pertimbangan dan lesi diketahui tidak muncul kembali. 8
2.2.2 Keratocystic Odontogenic Tumor
Keratocystic Odontogenik Tumor merupakan tumor dengan lobus tunggal atau lebih, lesi
yang berasal dari tulang maupun gigi. Berasal dari sisa sisa lamina dental dan dapat terjadi pada
semua daerah di rahang. Sebelumnya dikenal sebagai odontogenic keratocyst (OKC), yang lebih
menekankan sifat-sifat jinak pada lesi ini. Pada tahun 2005 WHO merekomendasikan istilah baru
KCOT karena lebih akurat menerangkan tentang sifat-sifat yang berhubungan dengan keganasan,
pada gambaran radiografinya lesi ini tidak terlalu jelas menggambarkan mengenai kista
odontogenik dan beberapa tumor odontogenik. Lokasi tersering terkenanya tumor ini adalah pada
ramus dan corpus mandibula bagian posterior. Pada maksila terjadi di bagian posterior atau
region kaninus.

Gambaran Klinis dan Radiografis


KCOT
pertumbuhannya

berasal
dan

dari

lesi

odontogenik

kemampuannya

untuk

lainnya

dengan

rekuren,tumor

ini

perhatian
dapat

khusus

pada

memperlihatkan

pertumbuhan yang agresif, meyebabkan keterlibatan tulang dan destruksi, suatu laporan kasus
memperlihatkan angka rekurensi antara 5%-60%. KCOT terjadi pada semua kelompok umur,
puncak insidensi terjadi pada dekade kedua dan ketiga. Jika terjadi multiple KCOT pada pasien
maka kita harus pertimbangkan apakah itu termasuk dalam Nevoid Basal Cell Carcinoma
(NBCCS). Umur rata-rata pasien dengan multiple KCOT dengan atau tanpa NBCCS lebih
rendah dari pada yang

tunggal, KCOT yang tidak rekuren. Secara radiografi KCOT

memperlihatkan gambaran radiolusen yang mengelilingi massa dengan batas jelas, dan beberapa
menyebabkan kerusakan tulang atau erosi dari korteks, tapi jarang terjadi resorbsi akar. 8

Gambar 7 gambaran panoramik dari Keratocystic Odontogenik Tumor laki-laki usia 18 tahun,
tumor mengenai mandibular bilateral dan maksila dengan NBCCS

Gambar 8 gambaran CT scan dari pasien yang sama

Gambaran Histopatologi
KCOT memiliki gambaran mikroskopis yang tidak sama, ada yang dengan lapisan
parakeratosis, epitel squamosal berlapis, dengan lapisan

6-8 sel yang tebal, permukaan yang

terang yang diselubungi oleh lapisan parakeratin yang bergelombang, lapisan basal yang seperti
pagar dan kuboid dengan tonjolan,dengan inti yang hiperkromatik dan berkurangnya papilla
epidermis. Hubungan epitel gepeng

dengan jaringan ikat meghasilkan batas dari epitel.

Pengelupasan dari parakeratin biasanya mengisi lumen kista dan terlihat pada saat operasi seperti
krim. Pulau-pulau epitel yang lainnya dan kista dapat terlihat mengelilingi jaringan ikat dan
dapat menjadi indicator dari adanya NBCCS. 8

Penatalaksanaan dan Prognosis


Penatalaksanaan KCOT adalah enukleasi dan kuretase tulang. Penatalaksanaan dari sisasisa kavitas tulang yang tidak diangkat dengan bersih dan tertinggal secara mikroskopis dapat
menyebabkan rekurensi.
menghindari rekurensi.
tekanan udara

Beberapa ahli meyarankan untuk dilakukan reseksi marginal untuk


Jika lesi besar maka marsupialisasi dapat dilakukan untuk mengurangi

dari KCOT dan memudahkan untuk pengangkatan tumor pada operasi

selanjutnya. Infeksi sekunder, pasien dengan kebutuhan khusus dan beberapa kekurangan lainnya
menyebabkan marsupialisasi digunakan secara terbatas. Banyak terjadi rekurensi dalam 5 tahun,
tetapi beberapa laporan menyebutkan rekurensi dapat terjadi sepnajang 10 tahun setelah operasi.
Dengan demikian, kontrol perawatan dilakukan dengan rutin. Tingkat kekambuhan dari KCOT
telah menjadi perdebatan pada beberapa teori, yaitu: pada pembuangan tumor yang tidak lengkap
disebabkan oleh membrane yang tipis dan rapuh dan melekat pada jaringan disekitarnya, sisa
kista berikutnya dengan enukleasi, dan sisa-sisa lamina dental tidak berhubungan dengan KCOT
dalam menyebabkan pembentukan kista de novo. Kista odontogenik ortokeratosis merupakan
kista yang unik dan merupakan jenis yang lain dari KCOT. Kista jenis ini jarang terjadi daripada
KCOT dan memiliki tingkat kekambuhan yang kebih rendah. Tidak seperti KCOT kista
odontogenik ortokeratosis dikelilingi oleh lapisan epitel squamous ortokeratosis.

Terdapat

lapisan penonjolan granular dibawah permukaan yang tidak bergelombang, dan lapisan basal
yang sedikit mengalami penonjolan.8

2.2.3 Nevoid Basal Cell Carcinoma Syndrome ( Basal Cell Nevus Syndrome, Gorlin
Syndrome)
NBCCS merupakan kondisi autosomal dominan yang diwariskan . Tumor ini merupakan
hasil dari mutasi dari PTCH gen penghambat tumor yang terletak di kromosom

9q22.3-q31.

Pada pasien dapat terlihat berbagai kombinasi dari gambaran klinis dan radiogrfis barikut :
multiple KCOT di rahang, multiple carcinoma sell bsal pada daerah yang terkena sinar matahari
maupun yang tidak terkena, frontal bossing, prognati mandibula, palmar and plantar pitting,
bifid ribs, dan kalsifikasi dari falk cerebri. KCOT yang berhubungan dengan NBCCS
penatalaksanaannya sama dengan KCOT yang terisolasi. Bagaimanapun juga, meningkatkan
kewaspadaan dengan kontrol setiap 6 bulan atau 1 tahun dan melakukan foto panoramik atau CT
scan dapat membantu kita untuk mendeteksi dini adanya lesi baru yang muncul. Baik pada anakanak maupun dewasa. Jika mencapai usia dewasa maka kemungkinan

KCOT menjadi

berkurang, tapi resiko terjadinya basal sel karsinoma menjadi meningkat. Dibandingkan dengan
lesi kulit dan beberapa kondisi yang dapat diterapi, beberapa dari kelainan ini tidak
membutuhkan intervensi bedah. Konseling dapat direkomendasikan kepada pasien dan keluarga
sehubungan dengan kelainan autosomal dominan ini.
2.2.4 Ameloblastoma
Ameloblastoma merupakan tumor odontogenik yamg sering terjadi. Tumor ini berasal
dari beberapa sisa-sisa elemen epitel dari pertumbuhan gigi : epitel enamel yang berkurang, sisasisa dari Serres, sisa-sisa Malassez, atau lapisan basal dari mukosa oral. Lesi ini juga bisa
tumbuh dan berasal folikel dental atau kista dentigerous. Banyak referensi memberikan kategori
pembagian dari ameloblastoma kedalam satu atau tiga kelompok : unikistik, solid atau

multikistik atau peripheral ameloblastoma. Pengertian yang tidak tepat dan tumpang tindih dapat
menyebabkan ketidaktepatan pengambilan keputusan untuk perawatan, sehingga menyebabkan
kekambuhan.

Salah

satu

contoh

adalah

unicystic

ameloblastoma.

Penatalaksanaan

ameloblastoma secara umum adalah enukleasi dan kuretase. Ameloblastoma yang invasif dapat
berupa unicystic, mempunyai hanya satu ruang kista.

Gambaran Klinis dan Radiografis


Tumor jinak, tumor agresif yang menekan secara local dngan sifat pola pertumbuhan
yang lambat dan dapat tumbuh dengan berbagai perbedaan yang nyata, memyebabkan perubahan
bentuk wajah. Biasanya asimptomatik dan tidak menyebabkan kelainan pada saraf sensoris.
Bangian posterior dari mandibular terlihat berbeda. Lesi bisa menjadi sangat besar dengan pucak
insidensi terjadi pada dekade kedua dan ketiga, dan tidak ada hubungannya dengan jenis
kelamin. Pada gambaran radiografis, lesi dapat terlihat gambaran radiolusen

unilokuler atau

multilokular berbatas tidak tegas sehingga sulit untuk menentukan ukuran tepatnya. Bisa
menyebabkan ekspansi tulang kortikal bukal dan lingual, bahkan bisa menyebabkan perforasi
tulang kortikal. Bisa terjadi pergeseran gigi dan resorsbsi akar meskipun jarang. Jenis
ameloblastoma yang desmoplastik ameloblastoma dapat ditemukan di anterior maksila atau
mandibular. Lesi ini berisi jaringan ikat yang padat, yang terlihat lebih opak. Jenis yang lain
yaitu peripheral ameloblastoma, biasanya pada gingiva dan tidak terlihat pada foto rontgen,
kecuali bila terdapat kehilangan tulang alveolar. 8

Gambar 9 gambaran foto panoramik dari pasien perempuan 17 tahun dengan unilokular
ameloblastoma pada mandibular kanan. Terlihat adanya resorpsi akar pada mandibula kanan.

Gambar 10 gambaran CT scan dari pasien yang sama terlihat adanya perluasan tulang kortikal
bukal dan lingual pada mandibula kanan.

Gambaran Histopatologis
Gambaran

histopatologis

ameloblastoma

bermacam-macam,

sehinggga

pengambilan

sampel jaringan yang adekuat sangat diperlukan. Ameloblastoma yang tidak berkapsul biasanya

memperlihatkan pertumbuhan yang infiltratuf ke jaringan disekitarnya. Sel basal di epitel terdiri
dari sel kolumnar dan hiperkromatik. Inti sel terletak menjauh dari membrane basalis. Dua jenis
ameloblastoma yang sering ditemukan adalah folikular dan plexiform. 8

Gambar 11 gambaran dari ameloblastoma tipe folikular.

Gambar 12 gambaran dari ameloblastoma tipe folikular.

Penatalaksanaan dan Prognosis


Pada prinsipnya penatalaksanaan ameloblastoma adalah pengangkatan tumor secara
total,tanpa
merusak

melupakan
tulang

dan

tekhnik,

penatalaksanaannya

terjadinya

kekambuhan.

tergantung
Untuk

jenis

pada

kemungkinan

unikistik

untuk

ameloblastoma

penatalaksanaan yang dianjurkan adalah enukleasi dan kuretase. Tetapi, kuretase pada tulang
yang terkena ameloblastoma saat ini tidak dianjurkan karena resiko untuk menemukan benih
ameloblastoma yang lebih dalam didalam tulang atau dalam jaringan didekatnya.

Sementara

enukleasi saja juga harus dihindari untuk lesi yang sangat besar karena fraktur patologis dapat
terjadi. Tingkat kekambuhan antara 15%-35% telah dilaporkan untuk ameblastoma tipe unikistik
yang diterapi dengan enukleasi dan kuretase saja. Lebar tepi tulang yang ditinggalkan yang
direkomendasikan adalah antara 1.0-1.5 cm untuk tipe unikistik ameblastoma. Pada saat
ameloblastoma tumbuh melewati atau tumbuh didalam jaringan ikat yang mengelilingi lesi,
maka penatalaksanaan yang radikal dibutuhkan. 8

Gambar 13 gambaran klinis intra oral ameloblastoma

Gambar 14 gambaran hasl pemotongan mandibula


2.2.5 Adenomatoid Odontogenik Tumor
Merupakan tumor yang tidak umum. Timbul pada dekade kedua dan ketiga (12-20 tahun).
Dua pertiga kasus terjadi pada anterior maksila, sepertiga muncul pada anterior mandibula dan
jarang ditemukan pada bagian posterior dari premolar, lebih sering terjadi pada wanita. Tumor
ini timbul dari epitelium enamel yang berkurang

pada dental folikel. Umumnya asimptomatik

tetapi dapat timbul dengan pembengkakan ringan atau berhubungan dengan gigi yang tidak
erupsi.
Gambaran Radiologis
Lesi ini secara umum timbul sebagai gambaran radiolusen yang berbatas jelas. Unilokular
radilousensi biasanya melibatkan mahkota atau suatu gigi yang tidak erupsi, kira-kira 75 %
(terutama gigi kaninus). Dapat memberikan gambaran bercak radiopak yang menunjukkan
material yang terkalsifikasi. Jika berhubungan dengan gigi, umumnya mengenai bagian yang
lebih jauh dari apikal gigi.

Gambar 15 Gambaran radiografi adenomatoid odontogenik tumor

Gambaran Histopatologi
Secara teknis, lebih menunjukkan kepada hemartoma daripada neoplasma yang sebenarnya
karena memiliki kapsul fibrosa yang tebal dengan proliferasi elemen epitel yang membentuk
nodul dan struktur seperti duktus (nodul organoid dari dalam atau sel kolumnar rendah yang
dipisahkan oleh epitelium spindle.) Karena jaringan penghubung yang membentuk email tidak
ada, maka produksi dari sel yaitu matriks preenamel, berdegenarasi dan meninggalkan daerah
kalsifikasi distrofi dan amyloid.

Gambar 16 Gambaran histopatologi adenomatoid odontogenik tumor

Penatalaksanaan dan Prognosa


Tumor ini merupakan tumor jinak, perawatan yang dikombinasikan untuk lesi ini adalah
pengambilan sederhana, atau konservatif (enukleasi) pada seluruh daerah lesi. Karena adanya

kapsul sehingga memudahkan untuk mengangkat tumor dari tulang. Perkembangan yang agresife
tidak di pernah dilaporkan dan rekurensi setelah enukleasi jarang ditemukan.

2.2.6

Calcifying Epitelial Odontogenik Tumor


Tumor ini biasanya juga disebut Pindborg tumor. Lesi ini sangat jarang ditemukan

dibandingkan semua jenis tumor odontogenik.


Gambaran Klinis
Tumor ini ditemukan pada pasien dengan usia sekitar 30 dan 50 tahun, tidak dipengaruhi
oleh jenis kelamin, sekitar

2/3 ditemukan pada mandibula pada bagian posterior, tidak sakit,

pembengkakan yang tidak sakit dan pertumbuhan yang lambat merupakan gejala yang peling
sering.
Gambaran Radiologi
Tumor tampak unilokular tapi lebih sering multilokular radiolusen. Tepi yang mengalami
kerusakan akibat lisis sering berlekuk-lekuk. Lesi mungkin menjadi radiolusen di bagian
dalamnya, tetapi mungkin terdapat struktur yang terkalsifikasi dengan bentuk dan densitas
bervariasi. Lesi ini biasanya dihubungkan dengan gigi impaksi terutama molar tiga. Daerah yang
mengalami kalsifikasi biasanya di sekeliling mahkota dari gigi.

Gambar 17. Gambaran radiografi calcifying epitelial odontogenik tumor

Gambaran Histopatologi
Tumor ini memiliki gambaran pulau dengan ciri tersendiri, tampak sel epitel polihedral
pada stroma fibrous. Nukleus memperlihatkan berbagai macam variasi dan biasanya tampak
nukleus raksasa. Daerah amarphous, eosinophylik, material ekstraseluler terhyalinasi juga sering
tampak. Tumor ini sering tertutup massa dari material hyalin ini. Kalsifikasi tertentu yang
ditemukan pada tumor, berkembang di dalam material seperti amyloid dan membentuk cincin
konsentrik (Liesegang ring calcification).

Gambar 18. Gambaran histopatologi calcifying epithelial odontogenik tumor

Penatalaksanaan dan Prognosa


Reseksi lokal konservatif pada daerah tertentu disekeliling tulang yang tampak. Tingkatan
rekurensi telah dilaporkan kira-kira 15%. Tumor yang dirawat dengan kuretase memliki tingkat
rekurensi yang lebih tinggi.

2.2.7 Odontogenik Myxoma


Merupakan lesi jinak infiltratif yang secara klinis sulit dibedakan dengan ameloblastoma.
Ditemukan pada daerah penyangga dari gigi dan lebih sering ditemukan pada mandibula.

Umumnya ditemukan pada awal dekade ketiga dan keempat sebagai lesi yang pertumbuhannya
lambat. Jika tidak dirawat maka dapat menjadi invasif dan destruktif. Berasal dari dental
masenkim (papila) dan folikel.
Gambaran Radiografi
Secara radiografi tumor ini tampak radiolusen unilokuler atau multilokular yang dapat
menggeser atau menyebabkan resorpsi dari gigi. Tepi dari daerah radiolusen sering tidak teratur
dan bergelombang.

Gambar 19. Gambaran radiografi odontogenik myxoma

Gambaran Histopatologi
Secara mikroskopik tumor tersusun atas sel stellate, bentuk spindle, sel bulat, stroma
myxoid yang bertebaran tersusun atas beberapa fibrilis kolagen.

Gambar 20. Gambaran histopatologi myxoma odontogenic

Penatalaksanaan dan Prognosis


Mixoma dengan ukuran kecil dirawat dengan kuretase tetapi perlu dievaluasi secara
periodik. Untuk lesi yang besar reseksi yang ekstensif mungkin diperlukan karena tumor ini tidak
berkapsul dan cenderung berinfiltrasi ke tulang. Rekurensi rata rata ditemukan sekitar 25 %
dari beberapa kasus dan prognosis keseluruhannya baik.

2.2.8

Ameloblastik Fibroma
Tumor ini merupakan gabungan dari dua macam jaringan yaitu epitel dan mesenkim, yang

keduanya merupakan neoplasma. Ini merupakan tumor yang tidak umum ditemukan.

Gambaran Klinis
Merupakan tumor yang jarang ditemukan pada usia muda ( usia 5 20 tahun). Tumor ini
sedikit lebih sering ditemukan pada laki laiki dibandingkan perempuan. Sekitar 75 %
ditemukan pada mandibula bagian posterior. Asimptomatik, pembesaran tumor dihubungkan
dengan pembengkakan rahang. Bersifat jinak dan ekspansif.

Gambaran Radiologis
Lesi ini tampak sebagai gambaran radiolusent unilokular dan multilokular, dengan lesi
yang lebih kecil cenderung unilokular. Radigrafi margin tampak jelas

dan mungkin sklerotik.

Lesi ini dihubungkan dengan gigi yang tidak erupsi sekitar 75%.

Gambar 21. Gambaran radiografi Ameloblastik fibroma

Gambaran Histopatologi
Tumor ini tampak sebagai massa jaringan lunak dengan permukaan luar yang halus dan
tampak solid. Kapsul definitif dapat tampak dan tidak. Secara mikroskopi lesi initampak
tersususn sel yang memiliki banyak jaringan mesenkimal mirip dengan papilla dental primitif
bercampur dengan epitel odontogenik proliferatif.

Gambar 22. Gambaran histopatologi ameloblastik fibroma

Perawatan dan Prognosa


Hal ini masih diperdebatkan karena kadang ditemukan lesi ini dirawat dengan eksisi
sederhana dan kuretase tidak rekuren lagi, kadang juga terjadi rekurensi setelah tindakan eksisi
konservatif seperti yang dilaporkan oleh Armed institut of Patology sekitar 43,5 %. Pada
beberapa kasus tingkat rekurensinya sekitar 0 18 % setelah perawatan konservatif dan follow
up yang adekuat. Pembedahan eksisi yang agresif kemungkinan dapat dilakukan untuk lesi yang
rekuren.

BAB III
KESIMPULAN
Tumor odontogenik merupakan suatu kelainan yang terjadi pada rongga mulut dan asalnya
berhubungan dengan jaringan yang berasal dari

perkembangan gigi. Jaringan abnormal dari

masing masing tumor sering dihubungkan dengan jaringan yang sama pada odontogen normal
dari pembentukan hingga erupsi gigi.
Klasifikasi tumor odontogenik berdasarkan gejala klinis dan histogenesisnya, terdiri dari
kelompok tumor jinak, tumor borderline, dan kelompok tumor ganas.
Pengetahuan dan keterampilan dokter gigi spesialis bedah mulut dalam mendeteksi dan
mendiagnosis awal tumor odontogenik sangat diperlukan dalam praktek sehari hari, sehingga
dapat dilakukan terapi yang dini dan adekuat untuk mencegah perluasan penyakit yang
memperburuk prognosis.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sapp, Eversole, Wysocki. Contemporary Oral and Maxilofasial pathology.

Second Edition.

Mosby. 2004.
2. Smith, R.M, Turner J, Robbins LM, Atlas Oral Pathology. C.V Mosby. St. Louis. 1981.
3. Neville, Damm, Allen, Bouquot. Oral and Maxilofacial Pathology. Second Edition. Saunders
Elsevier.2002
4. http//www.oralmaxillofacialpatology.com/pdf. Diakses tanggl 17 maret 2009
5. http//www.ameloblastoma.html./elsivier/ diakses tanggal 17 maret 2009
6. Regezi. J. A, Sciubba. J .J, 1999, Oral pathology clinical phatologic correlation, 3ed,
Philadelphia: Saunders.
7. Rosai, Juan MD., 2004, Rosai and Ackermans : Surgical Pathology, 9th ed, New York :
Mosby.
8. Johnson Jonas T et Rosen Clark A. Baileys Head & Neck Surgery Otolaryngology ., fifth
edition. Wolters Kluwer.

Anda mungkin juga menyukai