Anda di halaman 1dari 28

1.

Hasil kondisi hidrooseanografi di wilayah Sungai Cuka


A. Pasang Surut
Berikut ini merupakan data grafik pasang surut di perairan Sungai Cuka :
200
180
160
140
120

Tinggi Muka Air (Cm) 100


80
60
40
20
0

Gambar 1. Grafik pasang surut di perairan Sungai Cuka


Berdasarkan grafik di atas (Gambar 1.) dapat diketahui bahwa surut
terendah terjadi pada pukul 01.00 hari keempat, yaitu 30 cm, sedangkan pasang
tertinggi terjadi pada pukul 09.00 hari keempat yaitu setinggi 184 cm. Dengan
demikian tunggang pasutnya adalah 154 cm dengan MSL (muka rata-rata) air laut
1,205 m. Berdasarkan hasil analisis dari hasil data yang diperoleh dilapangan
menunjukan tipe pasang surut didaerah Perairan Sungai Cuka, Kabupaten Tanah
Bumbu dan Tanah Laut tersebut tipe pasang surut campuran condong keharian
ganda (mixed tide prevailing semidiurnal) yang merupakan pasut yang terjadi dua
kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi dan waktu yang berbeda. Hal ini
diperkuat menurut Wyrtki (1961) Indonesia bagian timur memiliki tipe pasut ini.

B. Angin
Tabel 1. Frekuensi dan persentase angin di Perairan Sungai Cuka

Gambar 2. Windrose angin di perairan Sungai Cuka


Berdasarkan data angin (Tabel 1. dan Gambar 2.) untuk wilayah perairan
Sungai Cuka yang kemudian dianalisis untuk menentukan frekuensi

dan

persentase kecepatan angin sebagaimana disajikan pada Tabel 1., sedangkan


Gambar 2. adalah wind rose . Dari hasil data dalam Tabel 1. dapat diperoleh arah
angin maksimum dominan dari arah selatan (29,4%) dan angin dalam keadaan
calm sebesar 48,48 %.

Kecepatan angin maksimum dominan berkisar pada

interval 0,3 1,6 m/s (47,1%). Kecepatan terbesar yakni 10,8 m/s hanya 2,9%.
Berdasarkan data di atas dapat kita ketahui bahwa arah angin di Perairan Sungai
Cuka lebih dominan ke arah selatan.

C. Gelombang
a. Gelombang Pengukuran
0.8

10

0.7
0.6

7.5

0.5
0.4
Tinggi Gelomabng (m)

5
Periode (s)

0.3
0.2

2.5

0.1
0

Gambar 3. Tinggi gelombang signifikan, tinggi gelombang rata-rata dan


periode gelombang signifikan
Terdapat dua stasiun pengambilan data gelombang yang berlokasi di
daerah laut dalam yakni stasiun 1 (ke-1 dan ke-2) dan stasiun 2 (ke-1 dan ke-2).
Berdasarkan Gambar 40. dapat di ketahui bahwa perhitungan gelombang yang di
dapatkan adalah sebagai berikut, tinggi gelombang signifikan tertinggi berada
pada stasiun 2 (ke-1 dan ke-2) yakni sebesar 0,51 m dan terendah berada pada
stasiun 1 (ke-1) sebesar 0,36 m. Tinggi gelombang rata-rata tertinggi berada pada
stasiun stasiun 2 (ke-1) sebesar 0,37 m dan terendah pada stasiun 1 (ke-1 dan ke2) yakni sebesar 0,27 m. Sedangkan periode gelombang signifikan yang tertinggi
terhitung dari 21 gelombang adalah 4,9 detik yakni pada stasiun 1 (ke-2) dan
terendah pada stasiun 2 (ke-1) sebesar 4,6 detik.

b. Prediksi Gelombang
Tabel 2. Data Prediksi Gelombang di perairan Sungai Cuka (1)

Tabel 3. Data Prediksi Gelombang di perairan Sungai Cuka (2)

Dari hasil prediksi gelombang (Tabel 2. dan Tabel 3.) menunjukkan bahwa
setiap arah datang gelombang terjadi perbedaan tinggi dan periode gelombang.

Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan faktor yang mempengaruhi dan
membangkitkan gelombang seperti kecepatan angin, durasi, arah angin, dan fetch
(CHL 2006). Angin yang berhembus di atas permukaan laut menimbulkan
tegangan pada permukaan laut, dimana semakin lama angin bertiup, semakin
besar pula energi yang dapat membangkitkan gelombang (Davis 1991; Triatmodjo
1999).
Perbedaan faktor tegangan angin (UA) dan panjang fetch (Feff)
mempengaruhi tinggi dan periode gelombang signifikan (Hmo dan Ts). Dari Tabel
2. dan 3. menunjukkan bahwa faktor tegangan angin yang diperoleh dari koreksi
kecepatan angin darat menjadi angin laut dari kedelapan arah angin maupun
panjang fetch perbedaanya cukup besar, terutama dari arah tenggara dan timur
yang cukup terbuka (berhadapan langsung dengan Laut Jawa). Seperti yang
terjadi pada musim timur, dari arah tenggara panjang fetch bernilai 162432 m dan
arah timur 67001 m dengan nilai tegangan angin yang hampir sama yaitu 5,15
7,72 m/s. Faktor ini membuat nilai tinggi dan periode gelombang pada arah ini
lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya yaitu pada arah tenggara tinggi dan
periode gelombangnya berkisar pada interval 1,32 m 1,78 m dan 4,87 s 5,39 s,
sedangkan arah timur berkisar pada interval 0,85 m 1,15 s dan 3,63 s 4,02 s.
Hal ini disebabkan karena faktor tegangan angin dan panjang fetch
membatasi waktu yang diperlukan gelombang untuk terbentuk akibat energi yang
ditransfer angin juga terpengaruh, sehingga faktor tegangan angin berpengaruh
terhadap tinggi, periode dan durasi pertumbuhan gelombang (CERC 1984).
D. Arus

Gambar 4. Pola arus di perairan Sungai Cuka

Berdasarkan hasil pengukuran arus (Gambar 4.) di perairan Sungai Cuka


Kabupaten Tanah Bumbu dan Tanah Laut menunjukkan bahwa kecepatan arus
maksimum mencapai 0,5 m/s dengan arah 220 0 atau barat daya dan kecepatan
terkecil bernilai 0,015 m/s yang mengarah ke barat daya (2370) yang jaraknya
masing-masing sama yaitu 5 m.
Tabel 4. Prediksi arus di perairan Sungai Cuka

Berdasarkan data prediksi arus diatas (Tabel 4.) menunjukkan bahwa


kecepatan arus maksimun mencapai 0,77 m/s dengan arah Selatan pada musim
Peralihan 2, sedangkan kecepatan arus minimum mencapai 0,056 m/s yang
mengarah ke Tenggara pada musim Peralihan 2.

E. Kedalaman
Berikut hasil dari pengukuran kedalaman atau kontur kedalaman di lokasi
studi:

A
B

Gambar 5. Kontur kedalaman diperairan Sungai Cuka


Hasil pengukuran kedalaman pada titik sampling di perairan Sungai Cuka
berkisaran antara 0,30 m sampai 10 m, dengan nilai rata-rata sebesar 5,5 m.
Kedalaman pada lokasi tersebut tidak jauh berbeda karena lokasi pengambilan
data tidak jauh dari pantai dan tipe pantai pada lokasi tersebut bisa dikatakan tipe
landai.
(A)

(B)

( C)

Gambar 6. Bentuk relief dasar perairan Sungai Cuka tampak samping dari pantai
menuju laut (Gambar (B) adalah relief dasar muara sungai).
Berdasarkan (Gambar 6.) dapat diketahui proses terjadinya sedimentasi
dimuara Sungai Cuka sangat dipengaruhi oleh adanya perbedaan kecepatan
vertikal dan kecepatan horizontal, sehingga partikel tersuspensi lebih cepat
mengendap secara gravitasi. Kecepatan proses sedimentasi dipengaruhi oleh jenis
material

pembentuk

sedimen

sedangkan

pada

proses

tranfortasinya

(pengangkutan) sedimentasi dapat disebabkan oleh media air dan angin.


Sedimentasi di muara sungai sangat tergantung dari bahan tersuspensi
yang dibawa air sungai, materi tersuspensi air laut, aktivitas gelombang, pola arus,
adanya gaya berat (gravitasi) dan juga adanya percepatan arus pertemuan air tawar
dan air laut yang akan menimbulkan semacam turbulensi (putaran) terhadap
material-material pembentuk sedimen sehingga akan mengakibatkan berat jenis
material tersebut akan lebih berat dari air.

F. Kualitas Air

a. Suhu
Berikut hasil dari pengukuran suhu atau kontur suhu di lokasi studi:

Gambar 7. Pola sebaran suhu diperairan Perairan Sungai Cuka


Berdasarkan hasil pengukuran suhu di perairan perairan Sungai Cuka
(Gambar 7.) menunjukan suhu kisaran 28-31,6 oC. Pengukuran dilakukan dengan
mengambil sebanyak 40 sampel dan memiliki suhu yang berbeda, selain
dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari saat pengambilan sampel, musim juga
mempengaruhi akan perubahan suhu. Hasil pengukuran suhu pada tiap stasiun
pengamatan menunjukkan bahwa suhu di perairan Sungai Cuka berkisar antara 28
s.d 31,6 C, dengan nilai rata-rata sebesar 30,2 C. Perbedaan suhu tersebut
diduga karena adanya selisih waktu pengukuran in situ terhadap variabel ini.
Disamping itu, dalam pengukuran suhu ini dilakukan pada tempat-tempat yang
memiliki kedalaman yang berbeda mulai dari pesisir pantai sampai di tengah laut.
b. Kecerahan
Berdasarkan Gambar 8. dapat dilihat dari pengukurannya tingkat
kecerahan tertinggi terdapat pada kedalaman yang mencapai 250 cm, di stasiun
lainnya tingkat kecerahan berkisar relatif lebih rendah yaitu pada kedalaman 80
cm sampai dengan 130 cm sedangkan tingkat kecerahan terendah terdapat pada
kedalaman mencapai 30 cm. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh adanya
masukan air sungai yang membawa sedimen-sedimen dan bahan-bahan terlarut
lainnya, yang secara otomatis akan masuk ke wilayah perairan laut dan

mengurangi tingkat kecerahan air. Kekeruhan pada perairan lebih banyak


disebabkan oleh bahan tersuspensi yang berupa koloid dan partikel-partikel halus.
Berikut hasil dari pengukuran kecerahan atau kontur kecerahan di lokasi
studi:

Gambar 8. Tingkat kecerahan diperairan Perairan Sungai Cuka


c. Salinitas
Berikut hasil dari pengukuran salinitas atau kontur salinitas di lokasi
studi:

Gambar 9. Sebaran salinitas di perairan Sungai Cuka


Berdasarkan hasil pengukuran salinitas (Gambar 9.) di perairan Sungai
Cuka berkisar 6-31 ppm tertinggi ditemukan di bagian tenggara sebaliknya nilai

terendah di temukan di bagian barat. Berdasarkan analisis surfer pada gambar 9.


menunjukkan bahwa salinitas di bagian timur perairan Sungai Cuka cenderung
lebih tinggi berkisar antara 26 - 31 ppm. Adapun salinitas yang terukur di bagian
barat di perairn Sungai Cuka berkisar hanya berkisar antara 6-25 ppm. Kondisi
demikian diduga terkait dengan pengambilan data pada saat surut, selain itu juga
dipengaruhi oleh masukan air tawar dari sungai di sepanjang di pesisir barat,
seperti sungai Kintap dan sungai Asam-asam. Besarnya volume air tawar ke laut
sangat mempengaruhi oleh curah hujan yang terjadi pada tanggal 7 dan 8 Mei
secara umum volume debit sungai di pesisir barat desa ini lebih besar dari sungaisungai di pesisir timur. Tingkat salinitas di perairan Sungai Cuka cukup rendah
bekisar antara 6 31 ppm.
d. pH
Berikut hasil dari pengukuran pH atau kontur pH di lokasi studi:

Gambar 10. Sebaran pH di perairan Sungai Cuka


Dari gambar di atas (Gambar 10.) dapat diketahui pH atau sebaran
keasaman di perairan Sungai Cuka. Sebaran pH di lokasi tersebut berkisar antara 5
8,2. Sebaran pH tertinggi berada di sekitar laut lepas dengan nilai pH sebesar
8,2 yang di tunjukkan dengan warna ungu tua, sedangkan sebaran pH terendah
terdapat di sebelah timur dan di sekitar muara sungai dengan nilai sebesar 5, yang
ditunjukkan dengan warna ungu muda. Aliran dari sungai sangat berpengaruh
terhadap naik turunnya sebaran keasaman laut, apalagi pada saat praktek lapang

tersebut terjadi hujan pada malam kedua yang menyebabkan pH di perairan


tersebut menurun.
e. Oksigen terlarut (DO)
Berikut hasil dari pengukuran Oksigen terlarut (DO) atau kontur Oksigen
terlarut (DO) di lokasi studi:

Gambar 11. Sebaran Oksigen terlarut (DO) di perairan Sungai Cuka


Berdasarkan hasil perhitungan oksigen terlarut (DO) yang terdapat di
perairan Sungai Cuka (Gambar 11.) menggambarkan bahwa perairan tersebut
cukup baik. Hasil analisis kosentrasi kandungan oksigen terlarut rata-rata
diperoleh kisaran nilai antara 4,2 ppm sampai dengan 9 ppm. Jika oksigen terlarut
nilainya kurang dari 3 ppm dan berlangsung dalam waktu lama, maka akan
terhambatnya pertumbuhan biota yang ada diperairan tersebut.
Wilayah antara timur dan tenggara DO lebih tinggi, ada perbedaan yang
mencolok antara wilayah barat dan timur pada wilayah timur lebih tinggi
kandungan DO sedang dari arah barat lebih rendah. Di timur lebih tinggi diduga
berkaitan dengan keberadaan gosong karang yang cenderung pada arah tenggara..
Pada bagian timur oksigen terlalurut cenderung lebih tinggi di bandingkan
diperairan sebelah barat. Hal ini diduga terkait dengan perbedaan kountur di
mana di sebelah timur lebih dangkal dibandingkan di peraiairan sebalah barat.

Berasarkan titik gosong karang yang diinformasikan oleh nelayan sungai cuka
membuktikan bahwa diperairan sebelah timur gosong karang lebih banyak.
f. BOD5
Berikut hasil dari pengukuran BOD5 atau kontur BOD5 di lokasi studi:

Gambar 12 . Sebaran BOD5 di Perairan Sungai Cuka


Berdasarkan hasil analisis BOD5 (Gambar 12.) dari pengukuran beberapa
stasiun diperairan Sungai Cuka berkisar antara 0,5 mg/l sampai 7,5 mg/l, kisaran
ini menunjukan bahwa perairan Sungai Cuka masih murni. Pada wilayah selatan
barat daya pada jarak 3,8 mil cendurung lebih tinggi dari perairan Sungai Cuka.
Kondisi ini diduga terkait dengan potensi gugusan karang disebelah barat daya
sungai cuka, membentuk cekungan sehingga terbentuk pola arus yan memusat di
dasar perairan kondisi demikian menytakan terakumalasinya sedimen organic
diperairan itu sehingga mempengaruhi nilai BOD.

g. COD
Berikut hasil dari pengukuran COD atau kontur COD di lokasi studi:

Gambar 13 . Sebaran COD di perairan Perairan Sungai Cuka


Berdasarkan pengukuran COD di perairan Sungai Cuka (Gambar 13.)
menunjukkan hasil analisis COD yang dilakukan di laboratorium sebanyak 9
stasiun, dengan kondisi kandungan COD tertinggi berada pada stasiun 3 dengan
nilai sebesar 42,7 mg/L sedangkan untuk kandungan COD terendah berada pada
stasiun 8 dengan nilai 36,0 mg/L.

2. Hasil kondisi bioekologi di wilayah Sungai Cuka


A. Mangrove
100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0

n2

n1

KR

FR

INP

Gambar 14. Kerapatan, Kerapatan Relatif, dan Frekuensi ekosistem Mangrove


tingkat pohon pada transek 1 di Perairan Sungai Cuka
Dari grafik diatas (Gambar 14.) pada transek 1 ditemukan jenis-jenis
mangrove sebagai berikut, Sonneratia alba, Rhizophora apiculata, Avicennia
marina. Dari grafik di atas juga dapat diketahui kerapatan tertinggi pada transek 1
yaitu untuk mangrove jenis Rhizophora apiculata dan Avicennia marina sebesar
0,045 ind/m2 sedangkan yang terendah yaitu untuk jenis Avicenia alba sebesar
0,040 ind/m2. Untuk kerapatan relatif memiliki nilai yang sama yaitu sebesar 0,5
ind/m2. Dari grafik di atas juga dapat diketahui frekuensi relatif. Frekuensi relatif
dengan nilai tertinggi yaitu jenis Sonneratia alba dengan nilai 0,4%, sedangkan
yang terendah adalah jenis Rhizophora apiculata dan Avicennia marina sebesar
0,3 %. Dari grafik di atas juga diperoleh indeks nilai penting yang memiliki nilai
yang sama dari jenis Sonneratia alba, Rhizophora apiculata, Avicennia marina
dengan nilai 0,8 %.

12
10
8
6
4
2
0

n2

n1

KR

FR

Gambar 15. Kerapatan, kerapatan relatif dan frekuensi ekosistem mangrove


tingkat
anakan pada transek 1 di Perairan Sungai Cuka
Dari grafik diatas (Gambar 15.) pada transek 1 untuk tingkat anakan
ditemukan jenis-jenis mangrove seperti : Sonneratia alba, Rhizophora apiculata,
Avicennia marina, Nypa fruticans dan Avicenna rumpiana. Dari grafik di atas juga
dapat diketahui nilai kerapatan tertinggi pada transek 1 yaitu untuk mangrove
jenis Nypa fruticans sebesar 0,28 ind/m2 sedangkan yang terendah yaitu untuk
jenis Rhizopora apiculata dan Sonneratia alba sebesar 0,04 ind/m2. Untuk nilai
kerapatan relatif, diketahui mangrove dengan nilai tertinggi yaitu jenis Nypa
fruticans sebesar 0,56 % dan nilai terendah untuk mangrove jenis Avicenna
rumpiana sebesar 0,04%. Dari grafik di atas juga dapat diketahui frekuensi
tertinggi dan yang terendah. Frekuensi dengan nilai tertinggi yaitu jenis Avicenna
rumpiana dengan nilai 2,00%, sedangkan yang terendah adalah jenis Nypa
frutican sebesar 0,14%.

16
14
12
10
8
6
4 n2

n1

KR

FR

2
0

Gambar 16. Kerapatan, kerapatan relatif dan frekuensi ekosistem mangrove


tingkat semai pada transek 1 di Perairan Sungai Cuka
Berdasarkan grafik diatas (Gambar 16.) pada transek 1 untuk tingkat
semai ditemukan mangrove dengan jenis : Avicenia marina, Rhizophora
appiculata, Sonneratia alba dan Nypa fruticans dengan nilai kerapatan tertinggi
untuk mangrove jenis Rhizophora appiculata yaitu sebesar 2,38 ind/m2, dan nilai
kerapatan terendah untuk jenis mangrove Sonneratia alba dengan nilai sebesar
0,01 ind/m2. Untuk nilai kerapatan relatif, diketahui mangrove dengan nilai
tertinggi yaitu jenis Rhizophora appiculata dengan nilai sebesar 0,69 % dan nilai
terendah untuk mangrove jenis Avicenna marina dengan nilai sebesar 0,00%. Dari
grafik di atas juga dapat diketahui frekuensi tertinggi dan yang terendah.
Frekuensi dengan nilai tertinggi yaitu jenis Soneratia alba dengan nilai 1,00%,
sedangkan yang terendah adalah jenis Rhizopora apiculata sebesar 0,11%.

25

20

15

10

n2

n1

KR

FR

INP

Gambar 17. Kerapatan, Kerapatan Relatif, dan Frekuensi ekosistem Mangrove


tingkat pohon pada transek 2 di Perairan Sungai Cuka
Berdasarkan grafik diatas (Gambar 17.) pada transek 2 ditemukan jenisjenis mangrove seperti : Excoecaria agallocha, Po. Nypa fruticans, Rhizopora
apiculata, Avicennia rumpiana, Bruguiera sexangula dan Avicennia alba. Dari
grafik di atas juga dapat diketahui nilai kerapatan tertinggi pada transek 2 yaitu
untuk jenis mangrove jenis Avicennia rumpiana sebesar 0,11 ind/m2 sedangkan
yang terendah yaitu untuk jenis Excoecaria agallocha, Po. Nypa fruticans,
Bruguiera sexangula dan Avicennia alba dengan nilai sebesar 0,01 ind/m2. Untuk
nilai kerapatan relatif,

jenis mangrove yang memiliki nilai tertinggi yaitu

mangrove jenis Avicennia rumpiana dengan nilai 0,66 % dan nilai terendah pada
mangrove jenis Excoecaria agallocha, Bruguiera sexangula dan Avicennia alba
dengan nilai sebesar 0,03 %. Dari grafik di atas juga dapat diketahui frekuensi
relatif tertinggi dan yang terendah. Frekuensi relatif dengan nilai tertinggi yaitu
jenis Excoecaria agallocha, Bruguiera sexangula dan Avicennia alba dengan nilai
0,23%, sedangkan yang terendah adalah jenis Avicennia rumpiana dengan nilai
sebesar 0,01%.

70
60
50
40
Nypa fruticans

Bruguiera sexangula

xx

Jumlah

FR

30
20
10
0

n2

n1

KR

Gambar 18. Kerapatan, kerapatan relatif dan frekuensi ekosistem mangrove


tingkat anakan pada transek 2 di Perairan Sungai Cuka
Berdasarka grafik diatas (Gambar 18.) pada transek 2 untuk tingkat
anakan ditemukan jenis-jenis mangrove seperti : Nypa fruticans, Bruguiera
sexangula dan XX. Dari grafik di atas juga dapat diketahui nilai kerapatan
tertinggi pada transek 2 yaitu untuk mangrove jenis Xx sebesar 0,30 ind/m2
sedangkan yang terendah yaitu untuk jenis Bruguiera sexangula dengan nilai
sebesar 0,02 ind/m2. Untuk nilai kerapatan relatif, diketahui mangrove dengan
nilai tertinggi yaitu jenis Xx dengan nilai sebesar 65,22% dan nilai terendah untuk
mangrove jenis Bruguiera sexangula dengan nilai sebesar 0,04%. Dari grafik di
atas juga dapat diketahui frekuensi tertinggi dan yang terendah. Frekuensi dengan
nilai tertinggi yaitu jenis Bruguiera sexangula dengan nilai 2,00%, sedangkan
yang terendah adalah jenis Xx dengan nilai sebesar 0,13%.

18
16
14
12
10

n1

KR

FR

8
6
4
2
0

xx

Jumlah

Gambar 19. Kerapatan, kerapatan relatif dan frekuensi ekosistem mangrove


tingkat semai pada transek 2 di Perairan Sungai Cuka
Berdasarkan grafik di atas ( Gambar 19.) menunjukkan nilai kerapatan,
kerapatan relatif dan frekuensi untuk mangrove dengan jenis xx (tidak diketahui)
yang ada di Desa Sungai Cuka untuk tingkat semai. Pada transek 2 untuk tingkat
semai hanya di temukan jenis xx (tidak diketahui) dengan kerapatan 2,13 ind/m2,
kerapatan relatif 1% dan frekuensi 0,12.

80
70
60
50
40
30
20
10
0

n2

n1

KR

FR

INP

Gambar 20. Kerapatan, Kerapatan Relatif, dan Frekuensi ekosistem Mangrove


tingkat pohon pada transek 3 di Perairan Sungai Cuka
Berdasarkan grafik diatas ( Gambar 20.) pada transek 3 ditemukan jenisjenis mangrove seperti : Ceriops zippeliana, Rhizopora apiculata, dan Avicennia
marina. Dari grafik di atas juga dapat diketahui nilai kerapatan tertinggi pada
transek 3 yaitu untuk jenis mangrove jenis Avicennia marina sebesar 0,02 ind/m2
sedangkan yang terendah yaitu untuk Ceriops zippeliana dan Rhizopora apiculata
dengan nilai sebesar 0,01 ind/m2. Untuk nilai kerapatan relatif, jenis mangrove
yang memiliki nilai tertinggi yaitu mangrove jenis Avicennia marina dengan nilai
60,00 % dan nilai terendah pada mangrove jenis Ceriops zippeliana dengan nilai
sebesar 0,20 %. Dari grafik di atas juga dapat diketahui frekuensi relatif tertinggi
dan yang terendah. Frekuensi relatif dengan nilai tertinggi yaitu jenis Avicennia
marina dengan nilai 14,29%, sedangkan yang terendah adalah jenis Ceriops
zippeliana dengan nilai sebesar 0,43%.

30
25
20
15
10
5
0

n2

n1

KR

FR

Gambar 21. Kerapatan, Kerapatan Relatif, dan Frekuensi ekosistem Mangrove


tingkat anakan pada transek 3 di Perairan Sungai Cuka
Berdasarkan grafik diatas ( Gambar 21.) dari gambar diatas pada transek
3 untuk tingkat anakan ditemukan jenis-jenis mangrove seperti : Ceriops
zippeliana, Avicennia officinalis, Rhizophora mangle dan Sonneratia alba. Dari
grafik di atas juga dapat diketahui nilai kerapatan tertinggi pada transek 3 yaitu
untuk mangrove jenis Rhizophora mangle dengan nilai sebesar 0,16 ind/m2
sedangkan yang terendah yaitu untuk jenis Avicennia officinalis dengan niali
sebesar 0,02 ind/m2. Untuk nilai kerapatan relatif, diketahui mangrove dengan
nilai tertinggi yaitu jenis Ceriops zippeliana dengan nilai sebesar 26,67 % dan
nilai terendah untuk mangrove jenis Sonneratia alba dengan nilai sebesar 0,13%.
Dari grafik di atas juga dapat diketahui frekuensi tertinggi dan yang terendah.
Frekuensi dengan nilai tertinggi yaitu jenis Avicennia officinalis dengan nilai
2,00%, sedangkan yang terendah adalah jenis Rhizophora mangle dengan niali
sebesar 0,25%.

Chart Title
180
160
140
120
100
80
60 n2

n1

KR

FR

40
20
0

Gambar 22. Kerapatan, Kerapatan Relatif, dan Frekuensi ekosistem Mangrove


tingkat semai pada transek 3 di Perairan Sungai Cuka
Berdasarkan grafik diatas ( Gambar 22.) pada transek 3 untuk tingkat
semai ditemukan mangrove dengan jenis : Ceriops zippeliana, Excoecaria
agallocha dan Nypa fruticans dengan nilai kerapatan tertinggi untuk mangrove
jenis Ceriops zippeliana yaitu dengan nilai sebesar 0,63 ind/m2, dan nilai
kerapatan terendah untuk jenis mangrove Excoecaria agallocha dengan nilai
sebesar 0,25 ind/m2. Untuk nilai kerapatan relatif, diketahui mangrove dengan
nilai tertinggi yaitu jenis Ceriops zippeliana dengan nilai sebesar 0,50% dan nilai
terendah untuk mangrove jenis Excoecaria agallocha dengan nilai sebesar 0,20%.
Dari grafik di atas juga dapat diketahui frekuensi tertinggi dan yang terendah.
Frekuensi dengan nilai tertinggi yaitu jenis Excoecaria dengan nilai 1,00%,
sedangkan yang terendah adalah jenis Ceriops zippeliana sebesar 0,40%.

16
14
12
10
8
6
4
2
0

n1

N2

KR

FR

INP

Gambar 23. Kerapatan, Kerapatan Relatif, dan Frekuensi ekosistem Mangrove


tingkat pohon pada transek 4 di Perairan Sungai Cuka
Berdasarkan grafik diatas ( Gambar 23.) dari gambar diatas pada transek
4 ditemukan jenis-jenis mangrove seperti : Nypa fruticans, Avicennia officinalis,
Sonneratia alba, Rhizophora apiculata dan Xx. Dari grafik di atas juga dapat
diketahui nilai kerapatan tertinggi pada transek 4 yaitu untuk jenis mangrove jenis
Nypa fruticans sebesar 0,12 ind/m2 sedangkan yang terendah yaitu untuk jenis
Avicennia officinalis, Sonneratia alba, Rhizophora apiculata dan Xx dengan nilai
sebesar 0,01 ind/m2. Untuk nilai kerapatan relatif, jenis mangrove yang memiliki
nilai tertinggi yaitu mangrove jenis Nypa fruticans dengan nilai 0,77% dan nilai
terendah pada mangrove jenis Xx dengan nilai sebesar 0,03 %. Dari grafik di atas
juga dapat diketahui frekuensi relatif tertinggi dan yang terendah. Frekuensi relatif
dengan nilai tertinggi yaitu jenis Xx dengan nilai 0,39%, sedangkan yang terendah
adalah jenis Nypa fruticans dengan nilai sebesar 0,02%.

25
20
15
10
5
0

n2

n1

KR

FR

Gambar 24. Kerapatan, Kerapatan Relatif, dan Frekuensi ekosistem Mangrove


tingkat anakan pada transek 4 di Perairan Sungai Cuka
Berdasarkan grafik diatas ( Gambar 24.) pada transek 4 untuk tingkat
anakan ditemukan jenis-jenis mangrove seperti : Sonneratia alba, Pemphis
acidula, Avicennia officinalis, Nypa fruticans dan Avicenna rumpiana. Dari grafik
di atas juga dapat diketahui nilai kerapatan tertinggi pada transek 4 yaitu untuk
mangrove jenis Pemphis acidula sebesar 0,34 ind/m2 sedangkan yang terendah
yaitu untuk jenis Avicenna rumpiana sebesar 0,02 ind/m2. Untuk nilai kerapatan
relatif, diketahui mangrove dengan nilai tertinggi yaitu jenis Pemphis acidula
sebesar 0,53 % dan nilai terendah untuk mangrove jenis Avicenna rumpiana
sebesar 0,03%. Dari grafik di atas juga dapat diketahui frekuensi tertinggi dan
yang terendah. Frekuensi dengan nilai tertinggi yaitu jenis Avicenna rumpiana
dengan nilai 2,00%, sedangkan yang terendah adalah jenis Pemphis acidula
sebesar 0,12%.

25
20
15
10
n2

n1

KR

FR

5
0

Gambar 25. Kerapatan, Kerapatan Relatif, dan Frekuensi ekosistem Mangrove


tingkat semai pada transek 4 di Perairan Sungai Cuka
Berdasarkan grafik diatas ( Gambar 25.) pada transek 1 untuk tingkat
semai ditemukan mangrove dengan jenis : Avicennia officinalis, Avicennia
rumpiana dan Sonneratia alba dengan nilai kerapatan tertinggi untuk mangrove
jenis Avicennia rumpiana yaitu sebesar 2,63 ind/m2, dan nilai kerapatan terendah
untuk jenis mangrove Avicennia officinalis dan Sonneratia alba dengan nilai
sebesar 0,38 ind/m2. Untuk nilai kerapatan relatif, diketahui mangrove dengan
nilai tertinggi yaitu jenis Avicennia rumpiana dengan nilai sebesar 0,78 % dan
nilai terendah untuk mangrove jenis Avicennia officinalis dan Sonneratia alba
dengan nilai sebesar 0,11%. Dari grafik di atas juga dapat diketahui frekuensi
tertinggi dan yang terendah. Frekuensi dengan nilai tertinggi yaitu jenis Avicennia
officinalis dan Sonneratia alba dengan nilai 0,67%, sedangkan yang terendah
adalah jenis Avicennia rumpiana sebesar 0,10%.

B. Terumbu Karang
Berikut ini hasil dan pembahasan mengenai kondisi terumbu karang di
perairan Sungai Cuka:

Persentase Tutupan Karang (%)


DCA
Hard coral
R
S

Gambar 26. Presentase Tutupan Karang


Dari data diatas (Gambar 26.) diperoleh data tutupan karang dengan 4
kategori berbeda antara lain : DCA, Hard coral, R dan S. Persentase tutupan
karang pada didominasi oleh pecahan karang R (rubble) dengan presentase
sebesar 78%, di ikuti oleh Hard Coral dengan peresentase sebesar 14%.
Sedangkan pada urutan terendah ditempati oleh S (sand) dan DCA dengan
persentase sebesar 6% dan 2%.
C. Plankton

2.50

2.15

2.23

2.38

2.00

1.55
1.19

1.50

1.11

1.16

1.04

1.00
0.50
0.00

0.17

0.13

ST1

ST2

Indeks Dominasi ( C )

0.10
ST3

0.26

ST4

Indeks Keragaman ( H' )

Indeks Keseragaman (E')

Gambar 27. Nilai Indeks Dominasi (C) ,Indeks Keaneragaman (H), Indeks
Keseragaman (E) fitoplankton di perairan Sungai Cuka.
Dari hasil pengukuran (Gambar 27.) diketahui bahwa tingkat kelimpahan
fitoplankton di Perairan Desa Sungai Cuka berdasarkan jenis yang di temukan
terdapat 26 jenis fitoplankton yang didominasi oleh jenis Paralia sulcata. Nilai
indeks keragaman fitoplankton dari semua stasiun berkisar antara 1,55 2,38.
Dimana nilai indeks keragaman terdapat pada stasiun satu yaitu dengan nilai 2,15,
sedangkan indeks keragaman tertinggi terdapat pada stasiun tiga dengan nilai
2,38, nilai indeks keragaman fitoplankton tergolong tinggi. Hal ini mencerminkan
bahwa komunitas dalam keadaan stabil.
Nilai indeks dominasi berkisar antara 0,17 0,26 dari semua stasiun. Pada
stasiun 4 terdapat nilai indeks dominasi tertinggi yaitu 0,26 sedangkan nilai
terendah diperoleh pada stasiun 2 yaitu 0.10. Berdasarkan klasifikasi Basma
(2000) bahwa secara umum nilai indeks dominasi diperairan mendekati nilai 0
(0.310) menunjukan bahwa secara umum struktur komunitas plankton dalam
keadaan stabil karena tidak dijumpai spesies yang mendominasi genera lainnya.
Hal ini menunjukan bahwa kondisi perairan Sungai Cuka cukup baik dan tidak
terjadi tekanan ekologis terhadap biota di habitat tersebut.