Anda di halaman 1dari 3

ANALISIS PERBANDINGAN

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN REVALUASI ASET TETAP


(PMK 191 TAHUN 2015)
Adhita Setya Negara
(F1315002)
Program S1 Transfer
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Sebelas Maret
Abstrak
Direktorat Jenderal Pajak memberikan fasilitas dibidang perpajakan yaitu berupa
pengurangan tarif PPh Pasal 19 bagi wajib pajak yang melakukan revaluasi aset
tetap atau penilaian kembali aset tetap. Insentif pajak ini tertuang dalam Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 191/PMK.10/2015 tentang penilaian kembali aktiva
tetap untuk tujuan perpajakan bagi pemohon yang diajukan pada tahun 2015 dan
2016. Revaluasi aset ini sendiri merupakan kebijakan pemerintah untuk
menambah setoran tunai pajak penghasilan. Peraturan ini sendiri merupakan
insentif khusus bagi wajib pajak yang melakukan revaluasi aset hanya pada tahun
2015 dan 2016. Jika tahun 2017 atau setelahnya maka tidak ada lagi insentif dan
kembali menggunakan tarif pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor
79/PMK.03/2008.
A. Latar Belakang
Anggaran pendapatan di Indonesia sebagian besar ditopang oleh penerimaan dari
pajak. Pada tahun 2016 pemerintah menganggarakan pendapatan dari pajak
sebesar Rp 1.546,7 triliun. Pajak memegang peranan yang sangat penting bagi
suatu negara, karena pajak merupakan sumber pendapatan negara. Salah satu
fungsi pajak adalah sebagai fungsi anggaran dimana pajak merupakan sumber
pemasukan keuangan negara yang menghimpun dana ke kas negara untuk
membiayai pengeluaran negara atau pembangunan nasional. Salah satu cara untuk
mendongkarak penerimaan dari pajak adalah dengan membuat kebijakan terkait
perpajakan. Melalui paket kebijakan jilid lima pemerintah mengeluarkan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 191/PMK.10/2015 tentang pemberian tarif
khusus (insentif) pada penilaian kembali aset tetap bagi pemohon yang
mengajukan pada tahun 2015 dan tahun 2016. Dengan dikeluarkanya kebiajakan
ini, potensi pajak tambahan yang diperoleh pemerintah sebesar Rp 10 triliun.
Perlu diketahui PMK 191 merupakan peraturan khusus yang tidak mencabut PMK
79 tahun 2008, sehingga penulis tertarik untuk melakukan analisis perbandingan
keduanya.
B. Pembahasan
Salah satu alasan entitas tidak melakukan revaluasi pada aset tetapnya selama ini
adalah karena tarifnya cukup tinggi. Dalam PMK No. 79/PMK.03/2008 tanggal
23 Mei 2008 tentang penilaian kembali aset tetap, selisih lebih penilaian kembali
aset tetap dikenakan pajak penghasilan (PPh) Final sebesar 10%. Pemerintah
melalui paket ekonomi jilid lima memberikan kelonggaran bagi wajib pajak yang
mau bersedia melakukan revaluasi aset tetap..Apabila pengajuan revaluasi aset
hingga 31 Desember 2015 maka besaran tarif khusus PPh final revaluasi ini dari
1
Universitas Sebelas Maret

yang normalnya 10% menjadi 3%. Apabila diajukan pada periode 1 Januari
hingga 30 Juni 2016 maka besaran tarifnya adalah 4%. Apabila pengajuannya 1
Juli hingga 31 Desember 2016 maka besaran tarif khusus PPh final revaluasi
menjadi 6%. Tarif khusus ini berlaku jika perusahaan menetapkan penilaian
kembali atas aset tetapnya melalui jasa penilai publik atau ahli penilaian kembali
aset tetap oleh kantor jasa penilai publik atau ahli penilai, yang memperoleh izin
pemerintah. Tapi dengan catatan wajib pajak harus melunasi pajak penghasilanya
maksimal 31 Desember 2016. Selain pengurangan tarif pajak final, peraturan ini
juga menambahkan kemudahan-kemudahan dalam revaluasi aset tetap antara lain:

PMK No.191/PMK.010/2015 menambahkan pihak-pihak yang sebelumnya


tidak memenuhi syarat untuk mendapat fasilitas revaluasi aset tetap ini
berdasarkan PMK No. 79/PMK.03/2008. Entitas yang melakukan pembukuan
dalam valutas asing dan entitas yang belum melewati masa lima tahun sejak
revaluasi terakhir berdasarkan peraturan sebelumnya yaitu PMK No.
79/PMK.03/2008, dapat menggunakan fasilitas insentif PPh Final
berdasarkan PMK No.191/PMK.010/2015.

Entititas dapat memilih aset tetap yang akan direvaluasi dan melakukan
revaluasi secara parsial atau keseluruhan. Hal inilah yang menguntungkan
wajib pajak, karena jika melihat peraturan sebelumnya yaitu PMK No.
79/PMK.03/2008, entitas diharuskan merevaluasi semua aset nya.
Kesempatan ini dapat digunakan oleh entitas untuk memilah aset tetap mana
yang akan direvaluasi untuk mengoptimalkan manfaat pajak.

PMK No.191/PMK.010/2015 mengijinkan entitas yang belum melakukan


penilaian aset tetap untuk mendapatkan fasilitas pengurangan tarif pajak final,
dengan tenggang waktu tertentu untuk memenuhi seluruh persyaratan.

Cukup menarik jika dilihat insentif yang diberikan pemerintah melalui PMK
No.191/PMK.010/2015 ini wajib pajak memperoleh keuntungan jika ada
revaluasi aset yaitu nilai aset nya akan naik pesat secara pajak dan ditambah
dengan adanya diskon tarif PPh menjadi lebih kecil menjadi 3%, 4%, atau 6%.
Namun yang perlu diingat perusahaan kembali mempertimbangkan dampak
akuntansi sebelum memutuskan melakukan revaluasi untuk tujuan perpajakan.
Hal yang perlu diperhatikan adalah entitas harus menentukan aset mana yang
akan direvalusi untuk mengoptimalkan perpajajakan, dampak yang muncul dari
revaluasi aset terhadap perpajakan dan akuntansi, dan dampak revaluasi aset
terhadap struktur keuangan entitas misalnya dampak terhadap rasio keuangan
mengingat investor sangat melihat rasio perusahaan. Selain itu menurut
peraturan tersebut entitas diharuskan menggunakan jasa aprisal untuk
merevaluasi aset nya sedangkan jika menurut PSAK 16 tidak perlu
menggunakannya sehingga akan menimbulkan cost baru bagi perusahaan. Untuk
itulah peru pertimbangan yang matang entitas untuk memanfaatkan insentif ini
atau tidak.
C. Kesimpulan

2
Universitas Sebelas Maret

Jika melihat data diatas banyak keuntungan jika entititas melakukan revaluasi.
Namun perlu diketahu bahwa PMK No. 191 ini sedikit bertentangan dengan
PSAK 16 tentang revaluasi aset tetap yaitu aset tetap harus direvaluasi secara
teraratur serta konsisten dan mensyaratkan seluruh item dalam kelompok tertentu
untuk direvaluasi secara bersamaan bukan sebagian atau memilih aset tertentu
untuk direvaluasi sebagaimana tertuang dalam PMK No. 191/PMK.010/2015. Jika
seperti itu, Untuk apa perusahaan atau wajib pajak melakukan revaluasi aset untuk
tujuan perpajakan semata tanpa dapat memetik manfaat membukukan hasil
revaluasi aset berdasarkan standar akuntansi yang berlaku terutama bagi
perusahaan-perusahaan besar yang go-public. Kemudian jika selisih lebih nilai
revaluasi aset menurut PSAK 16 itu adalah objek PPh final juga, maka untuk apa
dibuat prosedur sedemikian rupa dalam PMK No. 191/PMK.010/2015, sehingga
akan lebih baik jika PMK yang menyesuaikan diri dengan PSAK 16. Jadi cukup
PMK hanya mengatur tarif PPh finalnya dan jika PSAK 16 memungkinkan
perusahaan untuk memperbaiki posisi neracanya dengan model revaluasi aset
yang diperkanankan dan diatur PSAK 16, untuk perusahaan harus repot-repot
menggunakan basis prosedur yang ada pada PMK 191 Tahun 2015 selain itu biaya
untuk menggunakan jasa aprisal juga tidak murah.

Daftar Pustaka

Kementerian Keuangan, Peraturan Menteri Keuangan Nomor


191/PMK.010/2015 tentang Penilaian Kembali Aktiva Tetap Untuk Tujuan
Perpajakan Bagi Permohonan Yang Diajukan Pada Tahun 2015 Dan Tahun
2016. Jakarta: Sekertariat Negara

Jayaparna,
Andre.
Insentif
Pajak
Revaluasi
Aset
PMK
191/PMK.010/2015 Efektifkah.19 November 2015.
http://www.kompasiana.com/andre.jayaprana/insentif-pajak-revaluasi-asetpmk-191-pmk-010-2015-efektifkah_564da6b1f07a615b09846482

Dwi, Santoso. PMK 191- Revaluasi Aset Tetap, Take it or Leave it?. 25
November 2015.
http://www.jtanzilco.com/blog/detail/278/slug/pmk-191-revaluasi-asettetap-take-it-or-leave-it

3
Universitas Sebelas Maret