Anda di halaman 1dari 5

Materi Safety Talk

Minggu, 01 November 2015


Periode : 26 Oktober 01 November 2015
POINT A : INCIDENT YANG TERJADI
Pada periode minggu kemarin 19 - 25 Oktober 2015 telah terjadi 3 kasus
kategori Property Damage masing-masing di PT. MIP, PT. RML & PT. MKP.
Deskripsinya sebagai berikut :

1.

Pada hari senin tanggal 19 Oktober 2015 sekitar pukul 17.00 Wita,

terjadi kecelakaan dilokasi Room CPP 1. Kronologi kejadiannya ketika


unit Wheel Loader No. 310 MIP mengambil material batubara di ROM
untuk dimasukkan ke dalam hopper, sebelumnya operator loader
manuever mundur, ia melihat kebelakang dan dipastikan tidak ada
kendaraan / unit lain. Pada saat mundur operator loader mendengar
klakson dari DT Volvo No. 2010 MHA, secara spontan operator loader
menginjak rem dan melihat kebelakang ternyata ada unit DT Volvo No.
2010 MHA. Kemudian operator loader turun dari unit dan melihat
kondisi unit, ternyata terdapat kerusakan pada pintu sebelah kiri unit
DT Volvo No. 2010 MHA akibat berbenturan dengan counter weight
wheel loader No. 310 MIP. Operator DT No.2010 MHA segera
menghubungi pengawas MHA untuk menginformasikan terjadinya
kecelakaan dan operator loader menghubungi pengawas CPP MIP untuk
memberikan info yang sama.
Penyebab Kecelakaan :
Penyebab Langsung
Tindakan Tidak Aman
- Gagal mengamankan / memperkokoh :
a. Driver DT Volvo tidak memberi isyarat klakson saat masuk ke
ROM CPP 1
b. Operator loader tidak melihat posisi unit DT Volvo saat masuk
ke Room CPP
Penyebab Dasar
Faktor Personal
- Komunikasi dan koordinasi yang buruk : Tidak adanya komunikasi
lewat radio maupun isyarat klakson dari driver DT Volvo ke
operator loader saat memasuki Room CPP 1
Faktor Pekerjaan
- Penilaian resiko yang buruk : Driver DT Volvo menganggap
operator loader sudah mengetahui adanya unit DT Volvo No.
2010 MHA
2. Pada hari selasa tanggal 20 Oktober 2015 sekitar pukul 18.30 Wita,
seorang Fuel Man hendak mengambil barang yang tertinggal di unit LV
PLT No. 01 RML. Fuel Man tadi menemui Driver LV PLT No. 01 RML di
pos tyre, setelah bertemu dan berkomunikasi fuel man berniat untuk
meminta driver mengantarkan dirinya menggunakan unit LV PLT No. 01

Materi Safety Talk


Minggu, 01 November 2015
RML sekaligus membawa barang yang tertinggal di unit LV PLT No. 01
RML. Driver tidak segera mengiyakan permintaannya, karena driver LV
sedang bermain catur mengetahui hal tersebut fuel man segera masuk
kedalam unit LV PLT No. 01 RML dan menghidupkan engine LV dan
membunyikan klakson sebanyak 3x dengan maksud driver segera
datang dan mengantar dirinya, tetapi driver masih tetap bermain
catur, maka fuel man atas inisiatif sendiri mengoperasikan unit LV PLT
No. 01 RML. Saat melakukan manuever mundur 5 meter unit LV PLT
No. 01 RML yang dioperasikannya menabrak ponton yang berada tepat
dibelakang unit, akibat kejadian ini unit LV PLT No. 01 RML mengalami
penyok dibagian body belakang sebelah kanan dan reflektor lamp
kanan pecah
Penyebab Kecelakaan :
Penyebab Langsung
Tindakan Tidak Aman
- Fuel Man mengoperasikan unit LV PLT No. 01 RML tanpa memiliki
kewenangan dan tidak memiliki SIMPER.
3. Pada hari kamis tanggal 22 Oktober 2015 sekitar pukul 10.15 Wita,
terjadi incident pada unit Pc 2000 No. 223 MKP dan unit HD 785 No.
4127 MKP akibat kelongsoran material gambut di area Pit Rawa Seribu
PT. MKP. Kejadian tersebut terjadi pada saat Operator Pc 2000 No. 223
MKP sedang melakukan pekerjaan loading material gambut ke vessel
unit HD 785 No. 4127 MKP. Tanpa disadari oleh operator Pc 2000 No.
223 MKP dan operator HD 785 No. 4127 MKP terdapat material gambut
yang longsor yang mengenai kedua unit tersebut. Dari kejadian ini Pc
2000 No. 223 MKP mengalami kerusakan handrill bengkok dibagian
samping kanan dan init HD 785 No. 4127 MKP mengalami kerusakan
cover lamp pecah dibagian belakang
Penyebab Kecelakaan : masih dalam proses investigasi
POINT
B
:
KEPMEN
NO
555.K/26/M.PE/1995
TENTANG
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERTAMBANGAN UMUM
Pasal 32 Kewajiban
1. Pekerja tambang harus memenuhi Peraturan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja
2. Pekerja tambang wajib melaksanakan pekerjaan sesuai dengan
tata cara kerja yang aman
3. Pekerja tambang selama bekerja wajib untuk :
a. Memperhatikan atau menjaga keselamatan dirinya serta
orang lain yang mungkin terkena dampak perbuatannya dan
b. Segera mengambil tindakan dan atau melaporkan kepada
pengawas tentang keadaan yang menurut pertimbangannya
akan dapat menimbulkan bahaya

Materi Safety Talk


Minggu, 01 November 2015
POINT C : TOPIK UTAMA MINGGU INI
KEBISINGAN
Kebisingan adalah bunyi atau suara yang tidak dikehendaki dan dapat
mengganggu kesehatan , kenyamanan serta dapat menimbulkan ketulian.
Gangguan Pendengaran adalah perubahan pada tingkat pendengaran yang
berakibat kesulitan dalam melaksanakan kehidupan normal, biasanya dalam hal
memahami pembicaraan.
Nilai Ambang Batas Kebisingan adalah angka dB yang dianggap aman
untuk sebagian besar tenaga kerja bila bekerja 8 jam/ hari atau 40 jam/ minggu.
Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi No. SE01/MEN/1978, waktu maksimum bekerja adalah:
82 dB :16 jam/ hari
88 dB : 4 jam/ hari
97 dB : 1 jam/ hari
85 dB : 8 jam/ hari
91 dB : 2 jam/ hari
100 dB : 1/4/ hari

Berdasarkan pengaruhnya terhadap manusia, bising dapat dibagi


atas:
Bising yang mengganggu (Irritating noise) ; Intensitas tidak terlalu keras,

misalnya mendengkur
Bising yang menutupi (Masking noise) ; bunyi yang menutupi pendengaran
yang jelas, misalnya teriakan
Bising yang merusak (Damaging/ injurious noise) ; bunyi yang intensitasnya
melampaui NAB. Bunyi ini akan merusak atau menurunkan fungsi
pendengaran.
Pengaruh Bising terhadap Karyawan
Gangguan Fisiologis
Gangguan Psikologis
Gangguan Komunikasi
Gangguan Keseimbangan
Gangguan Pendengaran (Ketulian)
Jenis Ketulian
Tuli Sementara (Temporary Threshold Shift/ TTS) Diakibatkan oleh
pemaparan kebisingan dengan intensitas tinggi, biasanya waktu
pemaparannya singkat. Apabila karyawan diberikan waktu istirahat yang
cukup, daya dengarnya akan pulih kembali kepada ambang dengar semula
dengan sempurna.
Tuli Menetap (Permanent Threshold Shift/ PTS) Biasanya akibat waktu
pemaparan yang lama (kronis).

Faktor yang berpengaruh terhadap ketulian akibat kerja


(Occupational Hearing Loss)
Intensitas suara yang terlalu
tinggi
Usia karyawan
Ketulian yang sudah ada sebelum
bekerja

Tekanan dan frekuensi bising


tersebut
Lamanya bekerja
Jarak dari sumber suara
Gaya hidup pekerja diluar tempat
kerja

Cara untuk mencegah gangguan pendengaran

Materi Safety Talk


Minggu, 01 November 2015
Gunakan alat pelindung telinga (ear plug/ ear muff) saat berada diarea bising,
seperti di genset
Hindari/ kurangi penggunaan head set
Hindari terpapar bunyi bising secara langsung
STOP KEBAKARAN HUTAN
Masalah kebakaran hutan tengah mendapat perhatian khusus saat ini. Indonesia
adalah salah satu negara yang dengan kejadian kebakaran hutan tertinggi di
Asia Tenggara. Berdasarkan penelitian Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan Republik Indonesia, 90% penyebab kebakaran hutan dan lahan di
Indonesia adalah faktor manusia dan 10% disebabkan oleh faktor alam.
Pada umumnya, lahan atau hutan sengaja dibakar dengan alasan
berikut:
1) kegiatan perladangan oleh masyarakat sekitar hutan di Pulau Kalimantan dan
Sumatera;
2) pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI);
3) pembukaan lahan untuk kelapa sawit; dan
4) konflik atau pertikaian hak tanah antara pemilik Hak Pengusaha Hutan (HPH)
dengan penduduk asli sekitar hutan di Kalimantan dan Sumatera.
Sedangkan, faktor alam biasanya timbul dari kondisi cuaca yang sangat panas
akibat fenomena El Nino.
Pembakaran hutan dan lahan yang menghanguskan hutan gambut Sumatera
dan Kalimantan setiap tahun tak
hanya berdampak bagi kesehatan manusia dan sektor perekonomian, sosial, dan
budaya, namun juga berdampak pada lingkungan sekitar.
Berikut ini merupakan dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat kebakaran
hutan:
Penurunan kualitas udara Kebakaran hutan akan menyebabkan adanya kabut
asap yang menjadi salah satu penyebab menurunnya kualitas udara ambien.
Penurunan keanekaragaman hayati Kebakaran hutan menghanguskan habitat
berbagai satwa liar yang
dilindungi dan menghilangkan keanekaragaman hayati. Kabut asap akibat
pembukaan lahan baru juga berdampak pada kehidupan di perairan sekitar.
Kabut asap akibat pembakaran hutan dapat mengurangi masuknya cahaya
matahari yang memberi kehidupan bagi berbagai spesies di perairan, salah
satunya adalah menekan aktivitas fotosintesis di terumbu karang, dan juga
mangrove.
Terjadinya erosi Hutan dengan tanamannya berfungsi sebagai penahan erosi.
Ketika tanaman musnah akibat kebakaran hutan akan menyisakan lahan hutan
yang mudah terkena erosi baik oleh air hujan bahkan angin sekalipun. Limpasan
dan erosi tanah akibat kebakaran hutan dapat menyebabkan eutrofikasi di
lingkungan laut dan menyebabkan sedimentasi yang menyebabkan pemutihan
karang.
Alih fungsi hutan Kawasan hutan yang terbakar membutuhkan waktu yang
lama untuk kembali menjadi hutan. Bahkan sering kali hutan mengalami
perubahan peruntukan menjadi perkebunan atau padang ilalang.

Materi Safety Talk


Minggu, 01 November 2015
Penurunan kualitas air Salah satu fungsi ekologis hutan adalah dalam daur
hidrologis. Terbakarnya hutan memberikan dampak hilangnya kemampuan hutan
menyerap dan menyimpan air hujan.
Pemanasan global Kebakaran hutan menghasilkan asap dan gas CO2 dan gas
lainnya. Selain itu, dengan terbakarnya hutan akan menurunkan kemampuan
hutan sebagai penyimpan karbon. Keduanya berpengaruh besar pada perubahan
iklim dan pemansan global.
Sendimentasi sungai Debu dan sisa pembakaran yang terbawa erosi akan
mengendap di sungai dan menimbulkan pendangkalan.
Meningkatnya bencana alam Terganggunya fungsi ekologi hutan akibat
kebakaran hutan membuat intensitas bencana alam (banjir, tanah longsor, dan
kekeringan) meningkat. Untuk menanggulangi dan mencegah terjadinya
kebakaran hutan perlu dilakukan upaya dari berbagai pihak, baik dari
pemerintah, perusahaan perkebunan, maupun masyarakat. Pemerintah perlu
menindak tegas pelaku pembakaran hutan, sosialisasi bahaya kebakaran hutan,
serta memberikan pelatihan tanggap darurat kebakaran hutan. Selain itu,
diperlukan pengembangan sistem perkebunan sesuai dengan tata guna lahan
yang jelas dan penerapan teknik penyiapan lahan tanpa bakar (zero burning).
Sedangkan perusahaan perkebunan seharusnya memiliki teknik penyiapan lahan
yang sesuai tanpa membakar hutan saat membuka lahan, serta membuat sekat
bakar di areal yang rawan kebakaran dan tanda peringatan bahaya kebakaran.
Selain itu, diperlukan patroli pengamanan secara rutin serta pelaporan kegiatan
dan upaya yang dilakukan bila terjadi kebakaran hutan di kawasannya.
Masyarakat juga harus berperan serta dalam mencegah dan menanggulangi
kebakaran hutan dengan tidak membakar hutan saat membuka lahan, serta
turut mengawasi dan melaporkan jika terjadi kebakaran hutan kepada
pemerintah setempat. Begitu berbahayanya dampak yang ditimbulkan akibat
kebakaran hutan. Diperlukan komitmen, upaya serius, terkoordinasi, dan kontinu
dari berbagai pihak untuk bias mencegah dan menanggulangi terjadinya
kebakaran hutan yang melanda negeri ini setiap tahunnya. Jika sampai hutan
kita terbakar habis, bagaimana dengan nasib anak cucu kita?

POINT D : PEMBACAAN DOA


Ajak Karyawan untuk membaca doa, menurut agama dan kepercayaannya
masing-masing untuk keselamatan pribadi, tim, operasional, keselamatan
kerja dan diberikan rezeki yang luas. Amin.
POINT E : YEL-YEL SAFETY
Ajak Karyawan untuk menyerukan :
SAFETY FIRST ---- YES.............
SUCOFINDO ---- BISA.............
Accident ---- NO
Dipimpin oleh Pemimpin y Talk
Mengetahui,
Rismita Wulansari
QSHE

Pemateri
Suang Andi P
Prep/Sampler

Anda mungkin juga menyukai