Anda di halaman 1dari 16

KEGAWATDARURATAN SISTEM PERKEMIHAN

TRAUMA GINJAL

TRIGER CASE

MATA KULIAH KEGAWATDARURATAN

Oleh :
NILA KESUMAH
04111003024

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA ( DESEMBER 2014 )

KASUS :

Asuhan Keperawatan Trauma Ginjal| 1

Tn. Z, 44 tahun, klien dirawat dengan keluhan keluar darah ketika kencing
lebih kurang 2 hari yang lalu. setelah dilakukan pengkajian : didapatkan warna
darah yang keluar merah kehitaman dan disertai nyeri pinggang sebelah kanan.
Terihat tanda ekimosis dan laserasi di rongga panggul. Pasien pernah mengalami
kecelakan lalu lintas 2 minggu yang lalu darah yang keluar bersamaan dengan air
kencingnya. Pasien mengalami kecelakaan lalu lintas 3 minggu yang lalu dan
mengalami kencing berdarah juga.

TRAUMA GINJAL

Asuhan Keperawatan Trauma Ginjal| 2

A. Definisi
Trauma ginjal adalah cedera yang mengenai ginjal yang
memberikan manifestasi memar, laserasi, atau kerusakan pada struktur.
(Arif Muttaqin, 2011).
Cedera ginjal dapat terjadi secara:
a. Langsung akibat benturan yang mengenai daerah pinggang.
b. Tidak langsung yaitu merupakan cedera deselerasiakibat
pergerakan

ginjal

secara

tiba-tiba

didalam

rongga

retroperitoneum.
(Basuki B. Purnomo, 2003).
B. Etiologi
Mekanisme cedera yang dapat menyebabkan injuri pada ginjal adalah
sebagai berikut.
a. Trauma penetrasi benda tajam (misalnya: luka tembak, luka tusuk
atau tikam) menyebabkan trauma pada ginjal sehingga terjadi syok
akibat trauma multisistem.
b. Trauma tumpul (misalnya: jatuh, cedera atletik, kecelakaan lalu
lintas, akibat pukulan) menyebabkan ginjal malposisi, dan kontak
dengan iga (tulang belakang).
c. Cedera iatrogenik (misalnya: prosedur endourologi, ESWL, biopsi
ginjal, prosedur perkutaneus pada ginjal)
d. Intraoperatif (misalnya diagnostik peritoneal lavage).
e. Lainnya (misalnya: penolakan transplantassi ginjal, melahirkan
[dapat menyebabkan laserasi spontan ginjal]).
(Arif Muttaqin, 2011).

C. Patofisiologi
Ginjal terletak di rongga retroperitonium dan terlindung oleh otototot punggung di sebelah posterior dan oleh organ-organ intraperitoneal di
sebelah anteriornya. Karena itu cedera ginjal tidak jarang diikuti oleh
cedera organ-organ yang mengitarinya.

Asuhan Keperawatan Trauma Ginjal| 3

Adanya cedera traumatik, menyebabkan ginjal dapat tertusuk oleh


iga paling bawah sehingga terjadi konstitusi dan ruptur, fraktur iga atau
fraktur prosesus transversus lumbar vertebra atas dapat dihubungkan
dengan kontusi renal atau laserasi. Cedera dapat tumpul (jatuh, cedera
atletik, kecelakaan lalu lintas, akibat pukulan),dapat ditemukan jejas pada
daerah lumbal atau penetrasi (luka tembak, luka tusuk atau tikam) tampak
luka.
Kelalaian dalam menggunakan sabuk pengaman akan memberikan
reaksi

goncangan

ginjal

didalam

rongga

retroperitoneum

dan

menyebabkan regangan pedikel ginjal (batang pembuluh darah renal dan


ureter) sehingga menimbulkan robekan tunika intima arteri renalis.
Robekan ini akan memacu terbentuknya bekuan-bekuan darah yang
selanjutnya dapat menimbulkan trombosis arteri renalis beserta cabangcabangnya. Kondisi adanya penyakit pada ginjal seperti hidronefrosis,
kista ginjal, atau tumor ginjal akan memperberat suatu trauma pada
kerusakan struktur ginjal.
Klasifikasi Trauma Ginjal
a. Mekanisme dan keparahan cedera. Trauma renal dapat digolongkan
berdasarkan mekanisme cedera (tumpul versus penetrasi), lokasi
anatomis, atau keparahan cedera sebagai berikut.
a) Trauma renal minor (misalnya: contusio, hematoma, dan
beberapa laserasi minor parenkim ginjal).
b) Trauma renal mayor seperti laserasi mayor (kerusakan
pada sistem kaliks) dan fragmen parenkim ginjal, ruptur
kapsul ginjal akibat hematoma.
c) Trauma renal kritikal meliputi laserasi multiple yang parah
pada ginjal, laserasi berat, dan cedera pedikel ginjal (cedera
pada pembuluh darah ginjal).
(Brunner dan suddarth, 2001).
b. Klasifikasi trauma ginjal sebagai berikut.
a) Grade I
: Kontusio ginjal, terdapat perdarahan di
ginjal tanpa adanya kerusakan jaringan, kematian jaringan
maupun kerusakan kaliks (kapsul ginjal masih utuh).

Asuhan Keperawatan Trauma Ginjal| 4

Hematuria dapat mikroskopik atau makroskopik. Pencitraan


normal.
b) Grade II

:Hematoma subkapsular atau perirenal yang

tidak meluas, tanpa adanya kelainan parenkim.


c) Garade III
: Laserasi ginjal tidak melebihi 1 cm dan
tidak mengenai pelviokaliks dan tidak terjadi ekstravasasi.
d) Grade IV
: Laserasi lebih dari 1 cm dan tidak
mengenai pelviokaliks atau ekstravasasi urin. Laserasi yang
mengenai korteks, medulla, dan pelvio kaliks.
e) Grade V
: Cidera pembuluh darah utama, avulsi
pembuluh darah yang mengakibatkan gangguan perdarahan
ginjal, laserasi luas pada beberapa tempat atau ginjal yang
terbelah.
(R.Sjamsuhidayat, Wim de jong., 2004)

D. Manifestasi Klinis
Cedera ginjal yang paling sering adalah kontusi, laserasi, ruptur
dan cedera pedikel renal atau laserasi internal kecil pada ginjal. Secara
fisiologis, ginjal menerima setengah dari aliran darah aorta abdominal,
oleh karena itu meskipun hanya terdapat laserasi renal yang kecil, namun
hal ini dapat menyebabkan perdarahan yang banyak (perdarahan masif).

Asuhan Keperawatan Trauma Ginjal| 5

Manifestasi klinis meliputi


a. Nyeri kolik renal (akibat bekuan darah/fragmen dari sitem
duktus kolektikus yang terobstruksi).
b. Distensi abdomen.
c. Hematuria.
Hematuria makroskopik atau mikroskopik merupakan tanda
utama cedera saluran kemih. Hematuria merupakan salah
satu faktor yang perlu dipertimbangkan untuk tindakan
selanjutnya. Pada trauma tumpul, hematuria mikroskopik
tanpa adanya syok tidak mememerlukan pencitraan apapun
kecuali tedapat trauma penyerta (intra abdominal atau
trauma deselerasi cepat) yang memungkinkan terjadinya
cedera vaskuler. Pada trauma tajam semua hematuria (gross
atau

mikoskopik)

memerlukan

pencitraan.

Derajat

hematuria tidak berbanding langsung dengan tingkat


kerusakan ginjal. Perlu diperhatikan bahwa bila tidak ada
hematuria, kemungkinan cedera berat, seperti putusnya
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

pedikel dari ginjal atau ureter dari pelvis ginjal tetap ada.
Massa di rongga panggul.
Ekimosis
Nyeri pada bagian punggung.
Hematoma di daerah pinggang .
Laserasi atau luka di abdomen lateral dan rongga panggul.
Tanda dan gejala hipovolemia.
Syok menyertai hemoragi yang harus segera di atasi. Bila
syok tidak diatasi atau berulang-ulang, penderita dengan
dugaan cedera intraabdomen memerlukan laparatomi

segera.
k. Fraktur tulang iga terbawah sering menyertai cedera ginjal.
Bila hal ini ditemukan sebaiknya diperhatikan juga keadaan
paru apakah terdapat hematotoraks atau pneumotoraks dan
kemungkinan ruptur limpa.
E. Penatalaksanaan Medis
a. Konservatif

Asuhan Keperawatan Trauma Ginjal| 6

a) Tindakan ini ditujukan pada trauma minor. Pada keadaan ini


dilakukan observasi status ginjal dengan pemeriksaan kondisi
lokal (tanda-tanda vital), kemungkinan adanya penambahan
massa di pinggang, adanya pembesaran lingkar perut,
penurunan

kadar

hemoglobin

darah,

hematokrit

dan

perubahan warna urine pada pemeriksaan urine serial.


Pasien trauma minor agar dianjurkan tirah baring sampai
hematuria hilang. Infus intravena mungkin diperlukan karena
perdarahan retroperitoneal dapat menyebabkan reflek ileus
paralitik. Medikasi antimikrobial dapat diresepkan untuk
mencegah infeksi akibat hematoma perirenal atau urinoma
(sebuah kista yang mengandung urin) pasien harus dievaluasi
dengan sering selama hari-hari pertama setelah cedera untuk
mendeteksi nyeri panggul dan abdominal, spasme otot, serta
bengkak di panggul.
Jika selama observasi didapatkan adanya tanda-tanda
perdarahan atau kebocoran urine yang menimbulkan infeksi,
harus segera dilakukan tindakan operasi.
b) Pasien dengan cedera major dapat ditangani secara
konservatif, jika cedera tidak terlalu parah. Jika kondisi
pasien dan asal cederanya tidak dapat ditangani secara
konservatif maka dapat dilakukan operasi.
b. Operasi
a) Trauma ginjal major dengan tujuan untuk menghentikan
perdarahan.
debridement,

Selanjutnya
reparasi

mungkin
ginjal

perlu

(berupa

dilakukan

renorafi

atau

penyambungan vaskuler) atau tidak jarang harus dilakukan


nefrektomi parsial bahkan nefrektomi total karena kerusakan
ginjal yang sangat berat.
b) Trauma ginjal kritikal dan kebanyakan cedera penetrasi
memerlukan bedah eksplorasi akibat tingginya insidens
keterlibatan organ lain dan seriusnya komplikasi yang terjadi

Asuhan Keperawatan Trauma Ginjal| 7

jika cedera tidak ditangani. Ginjal yang rusak harus diangkat


(nefrektomi).
c) Komplikasi dini pasca operatif (dalam 6 bulan) mencakup
perdarahan ulang, abses, sepsis, ekstravasasi urin, dan
pembentukan

fistula.

Komplikasi

lain

mencakup

pembentukan batu, infeksi kista, aneurisma vaskuler, dan


hilangnya fungsi renal.
F. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian Fokus
a) Biodata klien.
b) Riwayat penyakit
(a). Keluhan utama atau alasan utama mengapa ia datang
ke dokter atau ke rumah sakit atau kemana klien
meminta pertolongan untuk mengatasi masalahnya.
(b).Kaji keluhan nyeri secara PQRST: lokasi, karakter,
durasi, dan hubungannya dengan urinasi, faktorfaktor

yang

memicu

rasa

nyeri

dan

yang

meringankannya.
(c). Riwayat infeksi trauma urinarius:
Terapi atau perawatan rumah sakit yang
pernah dialami untuk menangani infeksi

traktus urinarius.
Adanya gejala panas atau menggigil.
Sistoskopi sebelumnya, riwayat penggunaan
kateter urine dan hasil- hasil pemeriksaan

diagnostik renal atau urinarius.


(d).Gejala kelainan urinasi seperti disuria, inkontinensia.
(e). Riwayat penyakit masa lalu, misalnya batu ginjal,
Dm, hipertensi, dll.
(f). Kaji pemakaian obat-obatan, alkohol, merokok
sebelumnya.
(g).Kaji pengaruh cedera terhadap respon psikologis
klien.

Asuhan Keperawatan Trauma Ginjal| 8

c) Pemeriksaan fisik
(a). Inspeksi
Pemeriksaan secara umum, klien terlihat sangat
kesakitan oleh adanya nyeri kolik ginjal. Pada status
lokalis biasanya didapatkan adanya jejas pada
pinggang atau punggung bawah. Terihat tanda
ekimosis dan laserasi atu luka di abdomen lateral dan
rongga panggul. Pemeriksaan urine output didapatkan
adanya hematuria.
Pada trauma ruptur pedikel, klien sering kali datang
dalam keadaan syok berat dan terdapat heatoma yang
makin lama makin membesar.
(b).Palpasi
Didaptkan adanya massa pada rongga panggul. Nyeri
tekan pada regio kostovertebra.
(c). Auskultasi
Auskultasi kuadran atas abdomen dilakukan untuk
mendeteksi

bruit

(suara

vaskuler

yang

dapat

menunjukkan stenosis pembuluh arteri renal).


b. Pemeriksaan Diagnostik
a)

IVP : memberikan konfirmasi cepat trauma ginjal, guna


menilaitingkat kerusakan ginjal dan melihat keadaan ginjal
kontralateral yaitu caranyadengan menyuntikan zat kontras dosis
tinggi 2 ml/kg/bb.
Indikasi : luka tusuk atau luka tembak yang mengenai ginjal.,
cedera tumpul ginjal yang memberikan tanda-tanda hematuria
makroskopik., dan cedera tumpul ginjal yang memberikan tandatanda hematuria mikroskopik dengan disertai syok.

b) USG Ginjal : untuk menentukan lokasi cedera. Dengan


menggunakan USG diharapkan dapat menemukan adanya
kontusio parenkim ginjal atau hematoma subkapsuler dan robekan
kapsul ginjal.
c) CT scan : pemeriksaan ini dilakukan jika pemeriksaan IVP belum

Asuhan Keperawatan Trauma Ginjal| 9

bisa menerangkan keadaan ginjal (misalkan pada ginjal non


visualized). Pemeriksaan ini dapat menunjukkan adanya robekan
jaringan ginjal, ekstravasasi kontras yang luas, adanya nekrosis
jaringan ginjal dan pada organ lainnya.
c.

Diagnosa Keperawatan
a) Aktual/risiko syok hipovolemik berhubungan dengan pengeluaran
darah masif pada arteri renal.
b) Nyeri berhubungan dengan robekan pada abdomen dan ginjal.
c) Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan kerusakan pada
ginjal.

Asuhan Keperawatan Trauma Ginjal| 10

d. Perencanaan Tindakan Perawatan


DIAGNOSA
KEPERAWATAN/DATA

TUJUAN/KRITERIA

PENUNJANG
Aktual/risiko syok

Tujuan : dalam waktu 1X24

hipovolemik berhubungan

jam gangguan volume dan

dengan pengeluaran darah

syok hipovolemi teratasi.

masif pada arteri renal.

Kriteria evaluasi :

RENCANA TINDAKAN

RASIONAL

Mandiri
-

Monitoring status cairan (turgor kulit,

membran mukosa, urine output).

Jumlah dan tipe cairan pengganti


ditentukan dari keadaan status cairan.

Penurunan volume cairan

- Klien tidak mengeluh

mengakibatkan menurunnya produksi

pusing.
- Membran mukosa

urine, monitoring yang ketat pada


produksi urine <600 ml/hari karena

lembab.
- Turgor kulit normal.
- TTV dalam batas
normal.
- CRT < 3 detik.
- Urine > 600 ml/hari.
- Laboratorium : nilai

merupakan tanda-tanda terjadinya syok


hipovolemik
-

Kaji perdarahan dalam.

Perdarahan harus dikendalikan.

Auskultasi tekanan darah, bandingkan

Hipotensi dapat terjadi pada

hematokrit dan protein

kedua lengan, ukur dalam keadaan

hipovolemik yang memberikan

serum meningkat.
- BUN/kreatinin menurun.

berbaring, duduk, atau berdiri bila

manifestasi sudah terlibatnya sistem

Asuhan Keperawatan Trauma Ginjal| 11

memungkinkan.

kardiovaskuler untuk melakukan


kompensasi mempertahankan tekanan
darah.

Kaji warna kulit, suhu, sianosos, nadi

perifer, dan diaforesis secara teratur.


-

Mengetahui adanya pengaruh


peningkatan perifer.

Pantau frekuensi jantung dan irama.


-

Perubahan frekuensi dan irama jantung


menunjukkan komplikasi disritmia.

Kolaborasi
-

Pertahankan pemberian cairan


intravena.

Jalur yang paten penting untuk


pemberian cairan cepat dan
memudahkan perawat dalam melakukan
kontrol intake dan output cairan.

Pembedahan perbaikan

Asuhan Keperawatan Trauma Ginjal| 12

Pembedahan ditujukan pada trauma


ginjal major dengan tujuan untuk segera
menghentikan perdarahan. Selanjutnya
mungkin perlu dilakukan debridement,
reparasi ginjal (berupa renorafi atau
penyambungan vaskuler) atau tidak
jarang harus dilakukan nefrektomi
parsial bahkan nefrektomi total karena
kerusakan ginjal yang sangat berat.

Nyeri berhubungan dengan

Tujuan : nyeri dapat

robekan pada abdomen dan

terkontrol.

ginjal.

Kriteria hasil :

Mandiri
- Kaji intensitas nyeri, perhatikan lokasi

dan karakteristik.

derajat ketidaknyamanan dan

- Nyeri menurun sampai

ketidakefektifan analgesik atau

tingkat yang dapat


diterima oleh klien atau
sampai klien tidak
mengalami nyeri.
- Suhu tubuh normal

Hasil pengkajian membantu evaluasi

Bedrest danberikan tindakan untuk


memberikan rasa nyaman seperti posisi
yang nyaman, mengelap bagian
punggung pasien, mengganti alat tenun
yg kering setelah diaforesis, memberi

menyatakan adanya komplikasi.


posisi yang nyaman dapat membantu
meminimalkan nyeri dan tindakan
tersebut akan meningkatkan relaksasi.
Pelembab membantu mencegah
kekeringan dan pecah-pecah di mulut
dan bibir.

Asuhan Keperawatan Trauma Ginjal| 13

minim hangat, lingkungan yg tenang


dgn cahaya yg redup dan sedatif ringan
jika dianjurkan berikan pelembab pada
kulit dan bibir.
-

Kompres air hangat dapat mengurangi


rasa nyeri karena air hangat

- Kompres air hangat.

memvasodilatasi vaskuler.
Kolaborasi
-

Gangguan eliminasi urine

Tujuan : eliminasi urine

berhubungan dengan

cukup atau kembali normal.

Analgesik membantu mengontrol


nyeri dengan memblok jalan rangsang

Berikan analgesik sesuai dengan

nyeri. Nyeri pleuritik yang berat sering

resep.

kali memerlukan analgetik narkotik

- Monitor intake dan output urine.

untuk mengontrol nyeri lebih efektif.


hasil monitoring memberikan informasi
tentang

kerusakan pada ginjal

fungsi

komplikasi.
- Monitor paralisis ileus (bising usus).
- Inspeksi

dan

bandingkan

setiap

specimen urine.
- Lakukan kateterisasi bila diindikasikan.

ginjal

Contohnya

dan

adanya

infeksi

dan

perdarahan.
Gangguan dalam kembalinya bising usus
dapat

mengindikasikan

adanya

komplikasi, contoh peritonitis, obstruksi

Asuhan Keperawatan Trauma Ginjal| 14

- Pantau posisi selang drainase dan -

mekanik.
berguna untuk mengetahui aliran urine
dan hematuria
kateterisasi meminimalkan

kegiatan

kantung sehingga memungkinkan ridak

berkemih pasien yang kesulitan berkemih

terhambatnya aliran urine.

manual.
hambatan aliran urine memungkinkan

terbentuknya

tekanan

dalam

saluran

perkremihan, membuat resiko kebocoran


dan kerusakan parenkim ginjal.

Asuhan Keperawatan Trauma Ginjal| 15

e. Evaluasi Keperawatan
a) Gangguan volume dan syok hipovolemi teratasi.
b) Nyeri menurun sampai tingkat yang dapat diterima oleh klien atau sampai
klien tidak mengalami nyeri.
c) Eliminasi urine cukup atau kembali normal.