Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Korteks

adrenal

diperlukan

bagi

kehidupan.

Sekresi

adrenokortikal

memungkinkan tubuh untuk beradaptasi terhadap segala jenis stres. Tanp korteks
adrenal, keadaan stres yang berat dapat mengakibatkan kegagalan sirkulasi perifer,
syok, dan kematian. Kehidupan hanya dapat dipertahankan dengan terapi nutrisi,
elektrolit serta cairan dan preparat hormon adrenokortikal.
Kelainan pada korteks adrenal terjadi akibat hiposekresi atau hipersekresi hormon
adrenokortikal. Insufiensi adrenal dapat disebabkan oleh penyakit, atrofi, hemoragik
atau operasi pengangkatan salah satu atau kedua kelenjar adrenal.
Insufiensi adrenokortikal (penyakit Addison) terjadi bila fungsi korteks adrenal
tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan pasien akan hormon-hormon korteks
adrenal.
Penyakit Addison merupakan penyakit yang jarang terjadi di dunia. Di Amerika
Serikat tercatat 0,4 per 100.000 populasi. Dari Bagian Statistik Rumah Sakit Dr.
Soetomo pada tahun 1983, masing-masing didapatkan penderita penyakit Addison.
Frekuensi pada laki-laki dan wanita hampir sama. Menurut Thom, laki-laki 56% dan
wanita 44% penyakit Addison dapat dijumpai pada semua umur, tetapi lebih banyak
ter- dapat pada umur 30 50 tahun .
1.2 Tujuan
1.2.1

Tujuan umum

Untuk mengetahui tentang asuhan keperawatan penyakit kelainan korteks


adrenal atau penyakit Addison

1.2.2

Tujuan khusus

Untuk mengetahui pengertian dari penyakit Addison


Untuk mengetahui etiologi penyakit Addison
Untuk mengetahui woc dari penyakit Addison
Untuk mengaetahui manifestasi klinis penyakit Addison
Untuk mengetahui penatalaksanaan Addison
Untuk mengetahui pemeriksaan diagnosa
Untuk mengetahui tentang konsep asuhan keperawatan penyakit Addison
1.3 Manfaat
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan kelompok tentang penyakit
Addison
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan pengetahuan bagi semua
pembaca tentang penyakit Addison.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 Konsep Dasar Teori
2.1.1 Pengertian
1.

Penyakit Addison merupakan penyakit isufisiensi


adrenal yang mengakibatkan sindrom klinik ( Asuhan Keperawatan Klien
Dengan Gangguan Sistem Endokrin, 1999 ).

2.

Penyakit Addison Merupakan suatu proses patologik


akibat dari isufiensi dikorteks adrenal. ( Patofisiologi Vol 2, 2005 )

3.

Penyakit Addison Adalah Kegagalan korteks adrenal


memproduksi hormon adrenokortikal yang disebabkan oleh atropi primer pada
korteks adrenal akibat automunitas (www.goegle.co.id)

4.

Penyakit Addison ( insufiensi adrenokortikal ) terjadi


jika adrenal yang kurang aktif menghasilkan kortikosteroid dalam jumlah yang
tidak memadai (www.Medicastore.com).

2.1.2 Etiologi
Autoimmune ( Idiopatik ).
Penyakit Addison karena proses autoimun didapatkan pada 75% dari
penderita. Secara histologik tidak didapatkan 3 lapisan korteks adrenal, tampak
bercak-bercak fibrosis dan infiltrasi limfosit korteks adrenal . Pada serum penderita
didapatkan antibodi adrenal yang dapat diperiksa dengan cara Coons test, ANA test,
serta terdapat peningkatan imunoglobulin G.
Pengangkatan Kelenjar adrenal.
Infeksi pada kelenjar adrenal.
Tuberkulosis (TB)
Kerusakan kelenjar Adrenal akibat tuberkulosis didapatkan pada 21% dari
penderita. Tampak daerah nekrosis yang dikelilingi oleh jaringan ikat dengan
serbukan sel-sel limfosit, kadang kadang dapat dijumpai tuberkel serta kalsifikasi
Seringkali didapatkan proses tuberkulosis yang aktif pada organ-organ lain, misalnya
tuberkulosis paru, tuberkulosis genito-urinari, tuberkulosis vertebrata (Pott s disease),
hati, limpa serta kelenjar limpa
Isufiensi ACTH Hipofise
( Ilmu Penyakit Dalam I edisi 3, 1996 )
Infeksi lain
Penyebab kerusakan kelenjar adrenal karena infeksi yang lebih jarang ialah
karena : histoplasmosis, koksidioid omikosis, serta septikemi karena kuman
stafilokok atau meningokok yang sering menyebabkan perdarahan dan nekrosis.
Bahan-bahan kimia

Obat-obatan yang dapat menyebabkan hipofungsi kelenjar adrenal dengan


menghalangi biosintesis yaitu metirapon; sedang yang membloking enzim misalnya
amfenon, amino- glutetimid dll.
Iskemia
Embolisasi dan trombosis dapat menyebabkan iskemia korteks adrenal,
walaupun hal ini jarang terjadi.
Infiltrasi
Hipofungsi korteks adrenal akibat infiltrasi misalnya metastasis tumor,
sarkoidosis, penyakit amiloid dan hemokromatosis
Perdarahan
Perdarahan korteks adrenal dapat terjadi pada penderita yang mendapat
pengobatan dengan antikoagulan, pasca operasi tumor adrenal.
Hiperteroid
Neoplasma
Emboli
Trombosis
2.1.3 Patofisiologi
Penyakit Addison atau insufisiensi adrenokortikal, terjadi bila fungsi korteks
adrenal tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan pasien akan hormon-hormon
korteks adrenal. Atrofi otoimun atau idiopatik pada kelenjar adrenal merupakan
penyebab pada 75% kasus penyakit Addison (Stern & Tuck, 1994). Penyebab lainnya
mencakup operasi pengangkatan kedua kelenjar adrenal atau infeksi pada kedua
kelenjar tersebut. Tuberkulosis (TB) dan histoplasmosis meupakan infeksi yang

paling sering ditemukan dan menyebabkan kerusakan pada kedua kelenjar adrenal.
Meskipun kerusakan adrenal akibat proses otoimun telah menggantikan
tuberkolsis sebagai penyebab penyakit Addison, namun peningkatan insidens
tuberkulosis yang terjadi akhir-akhir ini harus mempertimbangkan pencatuman
penyakit infeksi ini kedalam daftar diagnosis. Sekresi ACTH yang tidak adekuat dari
kelenjar hipofisis juga akan menimbulkan insufisiensi adrenal akibat penurunan
stimulasi korteks adrenal.
Gejala insufisiensi adrenokortikal dapat pula terjadi akibat penghentian
mendadak terapi hormon adrenokortikal yang akan menekan respon normal tubuh
terhadap keadaan stres dan mengganggu mekanisme umpan balik normal. Tetapi
dengan pemberian kortikosteroid setiap hari selama 2 hingga 4 minggu dapat
menekan fungsi korteks adrenal oleh sebab itu, kemungkinan penyakit Addison harus
diantisipasi pada pasien yang mendapat pengobatan kortikosteroid.

WOC

2.1.4 Manifestasi Klinis

Hiperpigmentasi
Pigmentasi pada penyakit Addison disebabkan karena timbunan melanin pada
kulit dan mukosa. Pigmentasijuga dapat terjadi pada penderita yang menggunakan
kortikosteroid jangka panjang, karena timbul insufisiensiadrenal dengan akibat
meningkatnya

hormon

adrenokortikotropik.

Hormon

adrenokortikotropik

ini

mempunyaiMSH-like effect. Pada penyakit Addison terdapat peningkatan kadar beta


MSH dan hormon adrenokortikotropik.
Tidak didapatkan hubungan antara beratnya penyakit Addison dengan luasnya
pigmentasi. Pigmentasi ini sifatnya difus, terutama pada kulit yang mendapat tekanan
(misalnya pinggang dan bahu), siku, jaringan parut, garis-garis telapak tangan dan
ketiak. Pada daerah perianal, perivulva, skrotum dan areola mamma tampak lebih
gelap. Pigmentasi pada mukosa sering tampak pada mukosa mulut yaitu pada bibir,
gusi, lidah, faring, konjungtiva, vagina dan vulva.
Pigmentasi didapatkan 100% pada penderita penyakit Addison. Thorn dan
kawan-kawan melaporkan dari 158 kasus Addison seluruhnya didapatkan pigmentasi.

Rowntree dan Snell melaporkan dari 108 kasus didapat 1 kasus tanpa
pigmentasi.

Penderita

dengan

kegagalan

adrenokortikal

sekunder

karena

hipopituitarisme tidak didapatkan gejala hiperpigmentasir.


Sistem Kardiovaskuler
1) Hipotensi
Hipotensi merupakan gejala dini dari penyakit Addison, di mana tekanan
darah sistolik biasanya antara 80100 mmHg, sedang tekanan diastolik 5060 mmHg.
Mekanisme penyebab terjadinya hipotensi ini diduga karena menurunnya salt hormon
yang mempunyai efek langsung pada tonus arteriol serta akibat gangguan elektrolit.
Reaksi tekanan darah terhadap perubahan sikap adalah abnormal, pada perubahan
posisi dari berbaring menjadi posisi tegak maka tekanan darah akan menurun
(postural hipotensi) yang menimbulkan keluhan pusing, lemah, penglihatan kabur,
berdebar-debar . Hipotensi ini juga terdapat pada penderita dengan atrofi korteks
adrenal dengan medula yang intak, sehingga diduga bahwa epinefrin bukan penyebab
dari hipotensi ini. Tekanan darah akan kembali normal setelah pemberian garam dan
desoksikortikosteron yang meningkatkan tonus vasomotor.
2) Jantung
Ukuran jantung penderita Addison biasanya mengecil pada pemeriksaan
radiologi, hal ini mungkin karena penurunan volume darah sekunder akibat
kehilangan air. Bertambah besarnya ukuran jantung merupakan petunjuk berhasilnya
pengobatan. Perubahan elektrokardiografi biasanya tampak tapi tak mempunyai nilai
diagnostik, seringkali didapatkan voltase yang rendah, PR dan QT interval
memanjang, oleh karena kelainan degeneratif organik pada otot jantung serta akibat
gangguan elektrolit. Gejala lain adalah kelemahan kontraksi otot jantung, nadi kecil
dan sinkop.

10

Akibat hiperkalemia dapat terjadi aritmia yang dapat menyebabkan kematian


mendadak.
Kelemahan Badan
Kelemahan badan ini disebabkan karena gangguan keseimbangan air dan
elektrolit serta gangguan metabolisme karbohidrat dan protein sehingga didapat
kelemahan sampai paralisis oto bergaris. Di samping itu, akibat metabolisme protein,
terutama pada sel-sel otot menyebabkan otot-otot bergaris atropi, bicaranya lemah.
Gejala kelemahan otot ini berkurang setelah pemberian cairan, garam serta
kortikosteroid.
Nicholson dan Spaeth melaporkan pada beberapa penderita Addison dapat
terjadi paralisis flasid yang bersifat periodik akibat hiperkalemia dimana
mekanismenya belum diketahui, walaupun hal ini jarang didapatkan
Penurunan berat badan
Penurunan berat badan biasanya berkisar antara 1015 kg dalam waktu 612
bulan. Penurunan berat badan ini karena adanya anoreksia, gangguan gastrointestinal
lain, dehidrasi, serta katabolisme protein yang meningkat pada jaringan ekstrahepatik,
terutama jaringan otot. Dengan pengobatan yang adekuat akan didapatkan kenaikan
berat badan.
Kelainan gastrointestinal
Kelainan gastrointestinal didapatkan pada 80% dari kasus Addison. Anoreksia
biasanya merupakan gejala yang mula-mula tampak, disertai perasaan mual dan
muntah, nyeri epigastrium, disfagia, konstipasi, kadang-kadang dapat timbul diare.
Cairan lambung biasanya menunjukkan hipoklorhidria sampai aklorhidria. Ini karena
rendahnya konsentrasi klorida dan natrium dalam darah dan jaringan, sehingga
11

produksi asam klorida lambung menurun. Hipoklorhidria biasanya kernbali normal


bila keseirnbangan elektrolit sudah diperbaiki.
Gangguan elektrolit dan air
Penurunan hormon aldosteron menyebabkan pengeluaran natrium, klorida dan
air serta retensi kalium. Sebagai akibat dari gangguan elektrolit ini terjadi dehidrasi,
hemokonsentrasi dan asidosis.
Gangguan Metabolisme Karbohidrat
Akibat proses glukoneogenesis yang menurun, penggunaan glukosa oleh
jaringan yang meningkat serta gangguan absorbsi karbohidrat pada usus halus, akan
terjadi hipoglikemi puasa, di mana kadar gula darah puasa. lebih rendah dari harga
normal. Pada tes toleransi glukosa oral didapat kenaikan kadar gula darah yang
kurang adekuat, yaitu menunjukkan kurve yang datar.
Darah Tepi
Sel-sel

darah

merah

dan

hemoglobin

sedikit

menurun

dengan

hemokonsentrasi. Jumlah sel darah putih sedikit menurun dengan relatif limfositosis,
eosinofil sedikit meningkat Perubahan gambaran darah tepi di atas karena
menurunnya hidrokortison. Gambaran hematologi ini tak mempunyai arti yang khas
untuk diagnostik.
Gangguan Neurologi dan psikiatri
Manifestasi kelainan pada saraf antara lain penglihatan kabur ngantuk, yang
mungkin berhubungan dengan kelemahan yang progresif, kadang-kadang penderita
gelisah, mudah tersinggung serta dapat timbul psikosis. Pada elektro-ensefalogram

12

didapat gelombang alfa lebih pelan terutama pada daerah frontalis, serta
menghilangnya gelombang beta.
Lain-lain
Kadang-kadang dapat terjadi gangguan menstruasi, penurunan libido, serta
hilangnya rambut ketiak dan pubis. Klasifikasi tulang rawan dari daun telinga,
sehingga menjadi kaku (Thorn ssign) .
2.1.5 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium
1) Penurunan konsentrasi glukosa darah dan natrium (hipoglikemia dan hiponatremia)
2) Peningkatan kosentrasi kalium serum (hiperkalemia)
3) Peningkatan jumlah sel darah putih (leukositosis)
4) Penurunan kadar kortisol serum
5) Kadar kortisol plasma rendah
Pemeriksaan radiografi abdominal menunjukan adanya kalsifikasi
diadrenal
CT Scan
Detektor kalsifikasi adrenal dan pembesaran adrenal yang sensitive
hubungannya dengan insufisiensi pada tuberculosis, infeksi, jamur, penyakit infiltratif
malignan dan non malignan, dan haemoragik adrenal
Gambaran EKG

13

Tegangan rendah aksis QRS vertical dan gelombang ST non spesifik abnormal
sekunder akibat adanya abnormalitas elektrolit
2.1.6 Komplikasi
Syok (akibat dari infeksi akut atau penurunan asupan garam)
Kolaps sirkulasi
Dehidrasi
Hiperkalemia
Sepsis
Krisis Addison disebabkan karena hipotensiakut (hiperkortisolisme) ditandai
dengan sianosis, panas, pucat, cemas, nadi cepat.
2.1.7 Penatalaksanaan
Terapi darurat ditujukan untuk mengatasi syok, memulihkan sirkulasi
darah, memberikan cairan, melakukan terapi penggantian kortikosteroid, memantau
tanda-tanda fital dan memempatkan pasien pada posisi setengah duduk dengan kedua
tungkai ditingggikan. Hidrokortison ( Solu-cortef) disuntikkan secara intravena yang
kemudian diikuti dengan pemberian infus dektrosa 5% dalam larutan normal salin.
Preparat vasopretor amina mungkin diperlukan jika kedaan hipotensi
bertahan. Anti biotik dapat diberikan jika infeksi memicu krisis adrenal pada
penderita insufiensi kronis adrenal. Asupan per oral dapat dimulai segera setelah
pasien dapat menerimanya, secara perlahan-lahan. Pemberian infus dikurangi ketika
asupan cairan per oral sudah adekuat, untuk mencegah hipokolemia jika kelenjar
adrenal tidak dapat berfungsi kembali. Pasien memerlukan terapi penggantian seumur
hidup untuk mencegah timbul kembali isufiensi adrenal serta krisis adisonia pada

14

keadaan stress atau sakit. Selain itu pasien mungkin akan memerlukan suplemen
makanan penembahan garam, pada saat terjadi kehilangan cairan dari saluran cerna
akibat muntah dan diare. ( Keperawatan medikal Bedah II, edisi 8.2001 ).

15

BAB III
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
1. Identitas Klien
Lakukan pengkajian pada identitas klien dan isi identitasnya yang meliputi:
nama, jenis kelamin, suku bangsa, tanggal lahir, alamat, agama, dan tanggal
pengkajian
2. Keluhan Utama
Sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan adalah
kelemahan otot anoreksia, gejala gastrointestinal, keluhan mudah lelah, emasiasi
( Tubuh kurus kering ); Pigmentasi pada kulit, bulu-bulu jari, lutut, siku serta
membran mukosa ;hipotensi, kadar glukosa darah dan natrium serum rendah; dan
kadar kalium serum yang tinggi.
3. Riwayat Kesehatan Sekarang
Penderita penyakit Addison menampakkan gejala kelemahan otot, anoreksia,
mudah lelah
4. Riwayat Kesehatan Terdahulu
Penyakit yang pernah dialami oleh pasien sebelum masuk rumah sakit,
kemungkinan pasien pernah menderita penyakit sebelumnya seperti adanya riwayat
Krisis addisional
hypertiroid
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Riwayat adanya penyakit addison pada anggota keluarga yang lain.
6. Data Dasar Pengkajian Pasien
a. Aktivitas / istirahat
16

Gejala : otot- otot klien merasa lemah


b. Sirkulasi
Tanda: Hipotensi , TD 80/40 mmHg
Takikardi 110x/mnt
c. Integritas ego
Gejala: adanya riwayat riwayat factor stress dialami, Ketidak mampuan mengatasi
stress
Tanda: Ansietas, depresi, emosi tidak stabil
e. Makanan atau cairan
Gejala: Anoreksia, mual
Kekurangan zat garam
g. Nyeri/ kenyamanan
Gejala: otot-otot melemas
h. Pernapasan
Gejala: Dipsnea
Tanda: Pernapasan meningkat, takipnea, RR=24x/mnt
i. Keamanan
Gejala: tidak toleran terhadap panas, cuaca udara panas

17

Tanda: Hiperpigmentasi kulit (coklat kehitaman karena terkena sinar


matahari) menyeluruh atau berbintik bintik
Peningkatan suhu, demam yang diikuti dengan hipotermi (keadaan krisis)
j. Seksualitas
Gejala: Adanya riwayat menopause dini, amenore
Hilangnya tanda tanda seks sekunder (berkurangnya rambut rambut pada tubuh
terutama pada wanita), Hilangnya libido
k. pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan diagnostik
Kortisol plasma menurun
ACTH meningkat (pada primer) menurun (pada sekunder)
ADH meningkat
Aldosteron menurun
Elektrolit: kadar dalam serum mungkin normal atau natrium sedikit menurun
sedangkan kalium sedikit meningkat
Glukosa; hipoglikemi
Ureum/ keratin: mungkin meningkat (karena terjadi penurunan perfusi jaringan
ginjal)

18

Analisa gas darah: asidosis metabolic


Sel darah merah (eritrosit): anemia numokronik, Ht meningkat (karena
hemokonsentrasi)jumlah limfosit mungkin rendah, eosinofil meningkat
Urin 24 jam : 17 kerosteroid, 17 hidroksikortikoid, dan 17 kelogenik steroid
menurun
Pemeriksaan EKG
3.2 Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul
1. Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan natrium dan air yang
berlebihan, skunder terhadap polyuri ditandai dengan anorexia, kelemahan
otot, natrium serum menurun, dehidrasi, pucat
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia
ditandai dengan mual, nyeri abdomen, emaslasis
3. kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolisme
4. Penurunan curah jantung berhubungan dengan hipovolemia ditandai dengan
hipotensi, hipoglikemi adanya tanda tanda shock, kelemahan otot, nadi
meningkat
5. proses pikir, perubahan, risiko tinggi terhadap berhubungan dengan penurunan
kadar natrium (hiponatremia), hipoglikemia, gangguan keseimbangan asam
basa
6. Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh
ditandai dengan cemas, emasiasis, pigmentasi kulit, jari berbuku buku
7. Resiko terhadap ketidak efektifan penatalaksanaan aturan terapeutik
berhubungan dengan ketidak cukupan pengetahuan tentang penyakit ditandai
dengan cemas, sering bertanya tentang keadaanny.

19

3.3 Rencana Asuhan Keperawatan


No

Diagnosa

Tujuan

Kriteria

.
1.

Keperawatan

Intervensi

Kurang volume

Setelah

Hasil
Menunjukka Mandiri

cairan

dilakukan

berhubungan

intervensi

perbaikan

volume

mengkaji

dengan

selama 3x 24

keseimbang

cairan pasien

jumlah

kehilangan

jam,

an

natrium dan air

diharapkan

dengan

pasien, maka

yang berlebihan,

volume cairan

kriteria:

perawat akan

skunder

dapat

pengeluaran

mengetahui

terhadap polyuri

terpenuhi

uri

besar

ditandai dengan

secara

adekuat,

kebutuhan

anorexia,

adekuat

tanda-tanda

cairan pasien

adanya

natrium

TD: 120/80,
ND:

dehidrasi, pucat

Dengan

volume cairan

yang

vital stabil,

menurun,

jumlah

cairan,

kelemahan otot,
serum

Kaji

rasional

Dengan
Pantau tanda

pemantauan

tanda vitla

yang

100x/i, RR:

pasien

berbagai

16-24x/i S:

terutama pada

posisi

36,5-37,5C

saat

diketahui

60-

baring,

duduk
berdiri

dan

dalam
dapat

penurunan
volume cairan
Dengan
menganjurkan

Anjurkan

pasien banyak

pAsien

minum

akan

banyak

dapat

minum

memenuhi
kebutuhan
cairan pasien
Dengan
menganjurkan
pasien

Anjurkan

20

mengkonsum

pasien

si

banyak

buahan akan

mengkonumsi

memperkaya

buah

asupan cairan

buah

dari elektrolit

buahan.

pasien

2.

Perubahan

Setelah

nutrisi

kurang

dilakukan

makan

kebutuhan

intervensi

betambah

dari

Nafsu

Mandiri
Auskultasi

tubuh

selama 3x 24

berhubungan

jam,

dengan anorexia

diharapkan

ditandai dengan

kebutuhan

mual,

nutrisi dapat

badan stabil

abdomen,

dipenuhi

atau

emaslasis

secara

meningkat

adekuat

sesuai

nyeri

Mual
berkurang
Menunjukka
berat

Kekurangan

bising

usus

kortisol dapat

dan

kaji

menyebabkan

apakah

ada

gejala

nyeri

perut.

Mual

atau

muntah

gastrointestin
al berat yang
mempengaruh
i pencernaan.

Catat adanya

dengan yang

kulit

yang

diharapkan

dingin

atau

basah,
perubahan
tingkat
kesadaran,
nadi

yang

cepat,

peka

rangsang,
nyeri kepala,
sempoyongan

Gedengjala
hipoglikemia
dengan
timbulnya
tanda
tersebut
mungkin
perlu
pemberian
glukosa

dan

mengindiasik
an pemberian
tambahan
glukortikoroi
d
Dengan

Kaji
kebiasaan

21

mengkaji
kebiasan

makan pasien

makan pasien
perawat dapat
mengetahui
seberapa
besar
masukan
nutrisi pasien
Dengan

Berikan

mengatur

asupan nutrisi

makanan

pasien

pasien dengan

dengan porsi

porsi sedang

sedang

tapi

tapi

sering

sering,

maka

akan

mengurangi
rasa

mual

pada

saat

makan
Dengan
memberikan
Berikan

makanan

pasien

selingan agar

makanan

ada

selingan

dalam

variasi
menu

makan pasien
Dengan
memberikan
Atur

diit

makanan

pasien

tinggi natrium

dengan

maka

makanan

kebutuhan

tinggi

natrium

natrium

pasien

akan

terpenuhi.

22

3.

kelelahan

Setelah

Menyatakan

berhubungan

dilakukan

mampu

dengan

intervensi

uuntuk

diskusian

biasanya telah

penurunan

selama 3x 24

beristirahat,

tingkat

mengalami

produksi energi

jam,

peningkatan

kelemahan

penurunan

metabolisme

diharapkan

tenaga

klien

tenaga,

rasa

penurunan

identfikasi

kelelahan otot

rasa lelah

aktifitas yang

menjadi terus

Ditunjukkan

dapat

memburuk

dengan

dilskukan

setiap

pasien

klien

karena proses

lelah

berkurang

Kaji

dan

sudah

Mandiri
atau Pasien

dan

bisa

hari

penyakit dan

beraktivitas

muncunya

seperti biasa

ketidakseimb

Mamp

angan

natrium

menunjukka

kalium

Kolapsnya

faktor
Pantau tanda-

yang

dan

berpengaruh

tanda

terhadap

sebelum dan

sebagai akibat

kelelahan

sesudah

dari

melakukan

aktivitas jika

njukkan

sktivitas.

curah jantung

peningkatan

Observasi

berkurang

kemampuan

adanya

dan

takikardia,

berpartisipas

hipotensi dan

perifer

Menu

dalam

aktivitas
Pasien tidak
mudah lelah

23

vital

sirkulasi
dapat

terjadi
sters

yang Meskipun

dingin
Diskusikan
kebutuhan

mungkin
pasien
awal

pada
merasa

lagi

aktivitas dan

terlalu lemah

rencanakan

untuk

aktivitas

melakukan

bersama-

aktivitas,

sama dengan

aktivitas yang

pasien.

berkurang

Identifikasi

selama terapi

aktivitas yang

hormon

menyebabkan

pengganti

kelela han.

untuk
memperbaiki
tonus

dan

kekuatan otot
Mengurangi
kelalahan dan
Sarankam

mencegah

pasien untuk

ketegangan

menentukan

pada jantung

masa

atau

periode
antara
istirahat

dan

melakukan
aktivitas

akan

dapat

Diskusikan
cara

Pasien

untuk

melakukan
lebih banyak

menghemat

kegiatan

tenaga

dengan
mengurangi
pengeluaran
tenaga

pada

setiap
kegiatan yang
dilakukannya.

24

Menambahka
n
Berikan

tingkat

keyakinan

kesempatan

pasien

klien

harga dirinya

untuk

dan

ikut

secara

bik

berpartisipasi

sesuai dengan

secara

tingkat

adekuat

aktivitas yang
dapat
ditoleransinya
.

4.

Penurunan curah

Setelah

Tensi

jantung

dilakukan

normal (N:

berhubungan

intervensi

120/80)

dengan

selama 3x 24

hipovolemia

jam,

ditandai dengan

Pantau tanda
dan

memantau
tanda

tanda shock

curah jantung

gejala

diharapkan

tidak

seperti

penurunan

hipotensi,

curah jantung

ditemui

peningkatan

curah jantung

hipoglikemi

normal

Nadi normal

nadi,

dapat

(N: 60-100x/i)

perningkatan

ketahui

nafas,

keadaan

hipotensi

umum pasie

tanda

shock,

kelemahan otot,
nadi meningkat

gejala

Dengan

penurunan

adanya tanda

Tanda

Mandiri

Atur

posisi

dengan

kaki

ditinggikan

dan

kita

Dengan
mengatur
posisi

kaki

ditinggakan
dapat
meningaktkan
curah jantung
Bantu pasien

25

Istirahat dapat

dengan

menurunkan

tindakan

konsumsi O2

menghemat

sehingga

energi / tirah

memperingan

barin

kerja jantung
Dengan

Bantu

klien

mengurangi

untuk

stressor dapat

mengurangi

menurunkan

stressor

kebutuhan
energi untuk
metaboslime
tubuh.

5.

proses

pikir,

perubahan,

Setelah

Mempertaha

Mandiri

dilakukan

nkan tingkat

intervensi

kesadaran

memungkink

kesempatan

terhadap

selama 3x 24

mental

an

yang

berhubungan

jam,

Pasien

dengan

diharapkan

secara normal

penurunan kadar

proses

natrium

berpikir

mengalami

tetap

adanya

(hiponatremia),

normal

cidera

mengawasi

perubahan ssp

pasien

dan

risiko

tinggi

sadar
Tidak

Bila

Memberikan
tugaskan

terbaik

satu perawat

untuk

pada

setiap

mengenali

shif

untuk

secara

dini

hipoglikemia,

Pasien

gangguan

beraktivitas

meningkatkan

keseimbangan

seperti biasa

hubungan

dapat

asam basa

untuk

saling
percaya
Pantau tanda

Memberikan

vital dan status

patokan untuk

neurologis

dasar
perbandingan
atau
pengenalan
terhadap
penemuan
abnormal

26

Panggil

Untuk

pasien dengan

menolong

namanya,

mempertahan

orientasikan

kan orientasi

pada

dan

tempat,

orang

dan

menurunkan

waktu

sesuai

kebingungan

kebutuhan
Tetapkan dan

Meningkatka

pertahankan

jadwal

dan

perawatan

mencegah

rutin

kelelahan

untuk

orientasi

memberikan

yang

waktu istirahat

berlebihan

yang teratur
Sarankan
pasien

Menolong

untuk

melakukan
perawatn
sendiri

enjaga
diri

sesuai

dan

memerikan
sentuhan

kemampuan

yang

dengan waktu

dan

yang

cukup

mempertahan

untuk menjalan

kan orientasi

seluruh

pada

tugasnya

lingkungan.

Lindungi
pasien

27

pasien dalam

nyata

Disorientasi
dari

akan

dcidera, posisi

meningkatkan

tempat

tidur

risiko

dalam

posisi

timbulnya

rendah dengan

bahaya

diberikan

trauma)

penghalang

terutama

yang terangkat.

malam hari

Kolaborasi
Pantau

Seperti

hasil

adanya

pemeriksaan

ketidakseimb

lboraturium

angan cairan,

misal,

elektrolit, dan

glukosa

asam

darah,

harus

osmolaritas

ditanggulangi

serum, Hb/Ht

basa

gangguan

proses

pikir

harus
diperbaiki

6.

Gangguan
konsep

Setelah
diri

Pasien tidak

dilakukan

cemas

Mandiri

Kaji

Dengan

berhubungan

intervensi

Pasien

dengan

selama 3x 24

beristirahat dan

konsep

perubahan

jam,

tidur

pasien

penampilan

diharapkan

dengannyenya

konsep

diri

tubuh

ditandai

konsep

pasien

maka

dengan

cemas,

emasiasis,

diri

dapat

penyebab

mengkaji
diri

penyebab
gangguan

tidak

perawat akan

terganggu

memiliki

pigmentasi kulit,

konsep kerja

jari berbuku

dalam

buku

melaksanakan
tindakan
asuhan
keperawatan

Berikan

Dengan

dorongan

memberikan

kepada pasien

dorongan
motivasi

28

kepada pasien
maka

dapat

meningkatkan
rasa

pada

pasien
Yakink

an

Dengan

pasien

meyakinkan

bahwa

pasien bahwa

keadaannya

keadaannya

dapat

dapat teratasi

diperbaiki

maka

akan

mengurangi
rasa

cemas

pasien
Dengan

Ajak

melibatkan

keluarga

keluarga

pasien dalam

dengan proses

proses

penatalaksana

penatalaksana

an

an

keperawatan

keperawatan

maka

pasien

akan

lebih

kondusif
dalam
penatalaksana
an
keperawatan.

7.

Resiko terhadap

Setelah

Pasien tidak

ketidak efektifan

dilakukan

penatalaksanaan

intervensi

Pasien tampak

pengetahuan

mengkaji

aturan terapeutik

selama 3x 24

lebih tenang

pasien

tingkat

berhubungan

jam,

Memahami

cemas lagi

29

Mandiri
Kaji tingkat

Dengan

pengetahuan

dengan

diharapkan,

tentang

pasien,

cukupan

efektifnya

keadaannya

perawat dapat

pengetahuan

penatalaksana

Pasien dapat

mengetahui

tentang penyakit

aan

menerima

bagaimana

ditandai dengan

terapeutik

penjelasan dari

respon pasien

sering

perawat, tidak

terhadap

bertanya tentang

merasa cemas

penyakitnya

keadaannya

lagi

cemas,

ketidak

aturan

Berikan

Dengan

penjelasan

memberikan

kepada pasien

penjelasan

tentang

kepada pasien

penyakitnya

mengenai
penyakitnya
dapat
menambah
tingkat
pengetahuan
pasien

Ajak pasien

Dengan

berdiskusi

mengajak

mengenai

pasien

pemberian

berdiskusi

tindakan

mengenai

keperawatan

pemberian
tindakan
keperawatan,
maka akan
terjalin rasa
saling
percaya
antara pasien
dengan
perawat.

Libatkan

30

Dengan

keluarga

melibatkan

dalam proses

keluarga

penatalaksana

dalam proses

an

penatalaksana

keperawatan.

an
keperawatan
akan
mempermuda
h perawat
dalam
memberikan
tindakan
asuhan
keperawatan.

31

BAB IV
PENUTUP
4.I. Kesimpulan
Addison adalah hipofungsi anak ginjal dengan gejala kehilangan tenaga dapat
merubah warna kulit yang menjadi tengguli. Addison adalah suatu kondisi penyakit
yang terjadi akibat gangguan penurunan fungsi kelenjar adrenal (keperawatan
medical bedah edisi vol. 1)
Addison adalah insufisiensi adrenal yang berat dengan ekserbasi yang tiba
tiba. Hal ini dapat menimbulkan kematian bila tidak segera ditangani. Keperawatan
Kritis, Vol. III)
4.2. Saran
Dalam merencanakan tindakan keperawatan dilakukan dengan prosedur
keperawatan dan kode etik keparawatan.
Perencanaan yang dirumuskan harus sesuai dengan kebutuhan utama pasien, yang
muncul agar dapat diatasi dengan kebutuhan utama pasien.
Dalam melakukan askep hendaknya perawat lebih memperhatikan kebutuhan dan
keadaan pasien
Diagnosa yang ditegakkan pada pasien hendaknya berdasarkan pada data yang
ditentukan pada saat pengkajian, tidak berfokus pada konsep teori saja tetapi
dalam perumusanya diagnosa keperawatan harus berfokus pada diagnosa teoritis

32

DAFTAR PUSTAKA
Doenges Marilynn, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, edisi 3. Jakarta: EGC
www.goegle.co.id
www.Medicastore.com
http://herrynurse.blogspot.com/2010/03/askep-penyakit-addison.html

33