Anda di halaman 1dari 19

Berikut ini, saya mengutarakn konsep-konsep pokok dalam ilmu politik

untuk memancing lahirnya diskusi. Dengan konsep ini, kita bisa mengerti bahwa
politik tidak hanya dipahami sebagai sebuah kajian strategis yang praktis
(misalnya sistem kepartaian atau politik praktis), melainkan sebuah ilmu.
Ada lima konsep pokok dalam ilmu politik, yaitu:
1. Negara (state); menurut Miriam Budiarjo Negara adalah suatu organisasi
dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan yang
ditaati moleh rakyatnya. Menurut Thomas Aquinas: Negara merupakan
lembaga sosial manusia yang paling tinggi dan luas yang berfungsi menjamin
manusia memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisiknya yang melampaui kemampuan
lingkungan sosial lebih kecil seperti desa dan kota.
2. Kekuasaan (power); menurut Miriam Budiarjo kekuasan adalah kemampuan
seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau
kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku.
3. Pengambilan Keputusan (decision making); menurut Miriam Budiarjo
keputusan adalah membuat pilihan diantara beberapa alternatif, sedangkan
istilah pengambilan keputusan menunjukkan pada proses yang terjadi sampai
keputusan itu tercapai. Pengambilan keputusan sebagai konsep pokok dari politik
menyangkut keputusan-keputusan yang diambil secara kolektif dan yang
mengikat seluruh masyarakat.
4. Kebijakan (policy); menurut Miriam Budiarjo kebijakan adalah suatu
kumpulan keputusan yang diambil oleh seorang pelaku atau oleh kelompok
politik dalam usaha memilih tujuan-tujuan dan cara-cara untuk mencapai tujuantujuan itu. Pada prinsipnya pihak yang membuat kebijakan itu mempunyai
kekuasaan untuk melaksanakannya.
5. Pembagian (distribution); yang dimaksud dengan pembagian adalah
pembagian dan penjatahan niali-nilai dalam masyarakat.

Terdapat banyak sekali konsep-konsep yang dapat kita gunakan dalam kajian tentang
politik, antara lain: negara, kekuasaan, kedaulatan, kelas sosial, partai, kemerdekaan, dan
sebagainya. Namun demikian dalam pembahasan ini kita hanya membahas konsep-konsep
pokok yang sering digunakan untuk menelaah politik.
1. Negara
Negara, menurut Mirriam Budiarjo (1992:9) merupakan suatu organisasi dalasm
suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yangs ah dan ditaati oleh rakyatnya.

Sebagai sebuah organisasi masyarakat, negara memiliki kewenangan untuk mengatur dan
menyelenggarakan hubungan manusia dalam masyarakat dan menertibkan gejala-gejala yang
timbul dalam masyarakat.
Dalam sisi lain, negara dapat disebut sebagai sebuah integrasi kekuatan politik yang ada
dalam masyarakat. Pada posisi itulah, maka peran negara adalah menjadi agency bagi proses
pelaksanaan kepentingan politik, atau aspirasi masyarakat. Negara menjadi sebuah kekuatan
politik yang sah untuk memobilisasi kepentingan menjadi sebuah kenyataan. Dalam rangkan
seperti inilah, Budiarjo (1992:39) mengatakan bahwa negara mempunyai dua tugas :
1. Mengendalikan dan mengatur gejala-gejala kekuasaan yang sosial, yakni yang
bertentangan satu sama lain, supaya tidak menjadi antagonisme yang
membahayakan.
2. Mengorganisasri dan mengintegrasikan kegiatan manusia dan golongangolongan ke arah tercapainya tujuan-tujuan dari masyrakat seluruhnya. Negara
menentukan bagaimana kegiatan asosiasi-asosiasi kemasyarakatan disesuaikan
satu sama lain dan diarahkan kepada tujuan nasional.
Sampai pada konteks ini, sejalan dengan pemikiran Aristoteles bahwa negara itu
adalah persekutuan dari keluarga dan desa guna memperoleh hidup yang sebaik-baiknya.
Sementara Jean Bodin mengatakan bahwa negara adalah persekutuan dari keluarga-keluarag
dengan segala kepentingannya yang dipimpin oleh akal dari suatu kuasa yang berdaulat.
Setelah terbentuknya sebuah negara, maka tindakan balikannya adalah negara
memiliki kewenangan tertentu untuk mengarahkan tujuan pencapaian tujuan bersama
tersebut. Bahkan negara memiliki kemampuan untuk memaksa masyarakat. Sejalan dengan
masalah ini, H. J. Lasky, menyatakan bahwa negara adalah suatu masyarakat yang
diintegrasikan karena mempunyai wewenang yang bersifat memaksa dan yang secara syah
lebih agung individu atau kelompok yang merupakan bagian dari masyarakat tersebut.
Sedangakan pendapat Robert Morrison Mac Iver (1955:22) dalam bukunya The Modern State
menyatakan:

The state is an association which, acting thougt law as promulgated by a


government endowed to this end with coersive power, maintains with a community
territorially demacated the external conditions of orders.

Konsepsi negara ini, dalam perkembangan selanjutnya dipahami sebagai sebuah


relasi antar kepentingan. Dalam hubungannya antara negara dan masyarakat, setidaknya ada
tiga pandangan yang berbeda dalam memandang negara.
1. Negara di pandang secara legalistiik, yaitu yang terdiri dari lembagalembaga pemerintahan yang terdiri dari eksekutif, legislative, yudikatif dan
alat-alat negara. Kelompok yang menjadi alat negara itu, adalah tentara,
kepolisian dan birokrasi. Sementara masyarakat adalah kelompok nonpemerintahan, yang berada di luar kekuasaan.
2. Negara yang ditinjau dari sudut pandang Marxiani. Dari sudut pandang ini,
negara diposisikan sebagai alat borjuasi untuk menguasai entra-sentra
produksi. Negara adalah pemegang kedaulatan kapitalisme. Kendatipun tidak
dijelaskan posisi dan pengertian masyarakat, namun sudah sangat jelas bahwa
dalam perspektif Marxian ini negara menjadi alat penghisap, eksploitasi
kepada kelas bawah. Dalam konteks relasi kekuasaan ekonomi seperti inilah,
posisi masyarakat menjadi sangat lemah.
3. Negara dipandang sebagai hegemoni. Pandangan ini dikemukakan oleh
Anthoni Gramsci. Dalam pandangan ini, negara bukan hanya dialamatkan
pada lembaga pemerintahan, tetapi kepada pemegang kekuasaan secara lebih
luas. Kelompok pemegang modal, kekuatan atau penguasa sumber-sumber
hegemonic, dikategorikan sebagai negara. sedangkan rakyat adalah kelompok
yang tidak memiliki akses terhadap sumber hegemonic itu sendiri.
Sebuah negara, dalam kajian ilmu politik atau ilmu negara, memiliki unsure pokok
sebagai sebuah negara. Unsur-unsur pokok tersebut, ada empat hal yaitu :
1. Wilayah, artinya sebuah sebuah negara sah bila memiliki suatu lokasi geografik yang
jelas batas dan luasnya.

2. Penduduk, yaitu sejumlah orang-orang yang bertempat tinggal pada wilayah negara
tersebut.
3. Pemerintahan, yaitu organisasi yang berwenang merencanakan, merumuskan,
mendokumentasikan, melaksanakan dan mengevaluasi keputusan-keputusan yang
mengikat bagi seluruh penduduk di wilayah negara yang bersangkutan.
3. Kedaulatan, yaitu kekuasaan tertinggi untuk membuat dan melaksanakan
Undang-Undang Dasar, termasuk didalamnya kekuasaan untuk memaksa
semua warga negara yang berada di negaranya untuk mentaati
peraturan/undang-undang yang berlaku.
Selain keempat hal tersebut di atas, kelayakannnya sebuah negara dipengaruhi pula oleh
adanya pengakuan dari negara lain. Syarat kelima ini, menjadi penting bagi sebuah negara
(baru), khususnya bila dikaitkan ke dalam dua hal, yaitu (a) fungsi untuk komunikasi dan
interaksi nasional, dan (b) kepentingan politis ke luar. Sebuah negara yang diakui oleh negara
lain, akan memiliki kekuatan politik yang kuat, baik ke internal maupun ke eksternal negara
itu sendiri.
Merujuk pada pengertian-pengertian tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa negara
memiliki sifat yang khusus dibandingkan dengan organisasi yang lainnya. Miriam Budiardjo
(1992:40) dalam hal ini menjelaskan ada 3 sifat negara, Yaitu
1. Sifat memaksa. Negara mempunyai kekuasaan untuk menggunakan berbagai
paksaan atau kekerasan secara legal.
2. Sifat monopoli. Negara adalah satu-satunya organisasi kekuasaan yang
memiliki monopoli dalam mengatur kehidupan kenegaraan, termasuk
menetapkan tujuan bersama dari masyarakat.
3. Sifat mencakup semua (all encompassing, all embracing). Dalam kehidupan
kenegaraan semua peraturan dan kebijakan negara berlaku untuk semua warga
negaranya.
Khusus untuk konteks Indonesia, maka negara diposisikan sebagai alat untuk
mewujudkan, menjalankan kebajikan bagi seluruh rakyat Indonesia. Pembukaan UUD 1945

alinea keempat yang menyatakan bahwa negara melindungi segenap bangsa Indonesia,
memajukan kesejahtraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta memelihara
perdamaian dunia.

2. Kekuasaan
Kekuasaan (Budiardjo, 1992:35) adalah kemampuan seseorang atau sekelompok
manusia untuk mempengaruhi tingkat lakunya seseorang atau kelompok lain sedemikian rupa
sehingga tingkah lakunya itu sesuai dengan keinginan dan tujuan dari orang yang mempunyai
kekuasaan itu sendiri. Sumber-sumber kekuasaan itu sendiri, sangat beranekaragam. Bertrand
Russel (1988) diantaranya menyebutkan bahwa kekuasaan itu bersumber dari sumber ilahiah
(Tuhan), ekonomi, pemikiran, dan nilai budaya. bahkan, untuk jaman modern ini, teknologi
dan kekuatan militer pun menjadi salah satu sumber kekuasaan yang bisa membantu manusia
untuk menguasai orang atau kelompok lain. Dengan variasi sumber kekuasaan ini,
melahirkan adanya sejumlah teori tentang kekuasaan dalam ilmu politik.
Bailusy (2001:6.1) menyebutkan ada empat teori besar mengenai teori kekuasaan,
yaitu teori kekuasaan Tuhan, teori kekuasaan hukum, teori kekuasaan negara dan teori
kekuasaan rakyat. Apapun teorinya, namun dengan teori kekuasaan tersebut, seorang
penguasa memiliki kemampuan untuk (a) memaksa kepada warga negara, (b) memonopoli
sumber-sumber kebutuhan publik, dan (c) menetapkan sebuah peraturan atau kebijakan
publik yang mengatur seluruh aspek kehidupan negara tanpa kecuali.
Kekuasaan yang bersumber pada Tuhan, memposisikan sumber-sumber normatif
keagamaan sebagai acuan utama. Manusia atau penguasa, posisinya hanya pelaku atas semua
perintah yang di suratkan (disiratkan) oleh sumber otoritatif keagamaan. Misalnya saja, Islam
menyandarkan aturan hidup berbangsa dan bernegaranya pada Al-Quran dan Sunnah. Dalam
lingkungan agama Kristen, Agustinus dikenal sebagai pemikiran teokrasi yang menggagas
teori kekuasaan Tuhan dalam konteks politik.
Kekuasaan berdasarkan hukum, artinya bahwa setiap penguasa,a parat pelaksaan
kekuasaan, masyarakat wajin tunduk dan taat pada hukum negara. dalam teori ini, diharapkan
setiap warga negara memiliki kesadaran hukum atau kemelekkan hukum yang tinggi,
sehingga negara dapat berjalan dengan baik. Ada tiga prinsip dasar dalam negara hukum,

yaitu (a) pengakuan supremacy of law/hukum yang tertinggi, (b) equality of before
law/persamaan di depan hukum, dan (c) protection of human right/perlindungan terhadap hak
asasi manusia.
Teori kekuasaan ketiga yaitu kekuasaan negara. Sebagaimana dikemukakan
sebelumnya, bahwa negara memiliki kemampuan memaksa, memonopoli dan menguasai
semua hal. Kewenangan yang sangat luas ini, sudah merupakan indikasi utama bahwa negara
memiliki kekuasaan.
Kritik pemikiran terhadap kekuasaan negara, memunculkan adanya teori kekuasaan
rakyat. Artinya, kekuasaan negara yang ada dan dimilikinya saat itu, pada dasarnya bukan
sebuah identitas natural dari negara itu sendiri. kewenangan dan kekuasaan yang dimiliki
negara pada saat itu adalah kekuasaan yang bermula dari kontrak sosial individu atau
masyarakat. Dengan kata lain, pemiliki kekuasaan itu sendiri adalah rakyat, bukan negara.
Teori-teori kekuasaan tersebut, secara akademik dapat ditemukakan sejumlah
kelemahan dan keunggulannya masing-masing. Namun demikian, dalam konteks wacana
modul ini, hanya ingin ditegaskan bahwa kajian mengenai politik, maka konsep kekuasaan itu
memiliki variasi makna, variasi rujukan dan juga variasi implikasi. Oleh karena itu,
membutuhkan adanya kajian yang intensif dan menyeluruh, sehingga setiap pengkaji
memahami lebih mendalam mengenai konsep kekuasaan ini dengan baik.

3. Kebijakan dan Pengambilan Keputusan


Ilmu politik bukanlah ilmu pasti. Berpolitik adalah bertindak sesuai dengan kondisi
dan situasi tertentu dalam mengarahkan tindakan pada sebuah tujuan. Tanpa harus
menghalalkan segala cara sebagaimana Machieveli, berpolitik itu sendiri tetap memiliki
makna adalah memilih alternatif keputusan yang dapat mencapi sebuah tujuan. Dalam
konteks inilah, sejalan dengan pemikiran Mirriam Budiardjo (1992:11) yang mengatakan
bahwa keputusan (decision) adalah membuat pilihan di antara beberapa aklterntif, dan politik
Joys Micthel- adalah collective decision making or the making of public policies for entire
society. Pendapat ini sejalan dengan Karl W. Deutsch dalam bukunya Politics and
Government, How people decide their Fate menyatakan: Politics is the making of decisions
by publics means.

Dengan demikian, maka yang konsep kebijakan dapat diartikan sebagai suatu
tindakan yang dibuat oleh seseorang atau sekelompok orang dalam menentukan tujuan, serta
sarana dan metode yang akan digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Yang dimaksud
dengan sarana adalah fasilitas serta alat yang dapat digunakan, sedangkan metode adalah
cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki.
Kajian ilmu politik yang menjadikan kebijakan sebagai bidang kajiannya berasumsi
bahwa setiap orang, masyarakat ataupun negara mempunyai tujuan bersama dan untuk
melaksanakan tujuan tersebut dibutuhkan suatu aturan yang mengikat. Aturan tersebut dibuat
dalam bentuk kebijakan-kebijakan.
Beberapa contoh yang termasuk dalam kebijakan negara, antara lain memelihara
ketertiban umum, memajukan perkembangan masyarakat dalam berbagai hal, mengorganisir
berbagai aktivitas dan menyelenggarakan kesejahtraan rakyat.
Untuk lebih memahaminya di bawah ini disajikanbeberapa pernyataan para ahli ilmu
politik yang menjadikan kebijakan sebagai kajian ilmu politik, seperti dikutip A. Hoogerwerf
(1985:46) dalam bukunya Politikologi antara lain:
o

Kehidupan politik menurut pendirian yang lazim, meliputi semua aktifitas


yang berpengaruh terhadap kebijakan yang diterima baik bagi suatu
masyarakat dan terhadap cara pelaksanaan kebijakn tersebut. (David Easton)

Politik adalah aspek dari semua perbuatan yang berkenaan dengan usaha
kolektif bagi tujuan-tujuan kolektif. (Talcott Parson 1966:71-72)

Yang diartikan dengan proses politik adalah sustu proses pembentukan


kebijakan, pelaksanaan kebijakan atau pembentukan kekuasaan dalam suatu
sistem politik baik yang terorganisir maupun tidak. (G. Kuypers 1973:164)

Pengambilan keputusan adalah suatu proses menentukan pilihan berdasarkan


alternatif-alternatif yang disusun. Kajian ilmu politik yang menempatkan pengambilan
keputusan sebagai obyek studinya berpendapat bahwa pengambilan keputusan merupakan
pusat dari proses politik, hal ini terutama didasarkan suatu kenyataan bahwa suatu kebijakan
adalah sebagai pengejawantahan kekuasan merupakan hasil dari pengambilan keputusan.

Adapun proses pengambilan keputusan itu sendiri dilakukan melalui beberapa


tahapan. Tahap pertama, mengetahui atau mempelajari persoalan-persoalan yang perlu
diambil keputusannya. Tahap kedua, merumuskan persoalan/masalah dengan jelas. Tahap
ketiga, membuat daftar tujuan yang mungkin dicapai berdasarkan urutan kebutuhankebutuhan yang lebih penting. Tahap keempat adalah mengetahui semua sarana yang
mungkin dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang disusun serta merencanakan biaya
yang dibutuhkan untuk tiap alternatif yang diharapkan akan dapat mencapai tujuan.
Sedangkan tahap terakhir adalah membuat seleksi tentang tujuan mana yang akan dicapai
dengan biaya seminimal mungkin dan hasil yang semaksimal mungkin.
Richard C. Snyder (1985:19) dalam bukunya Approach to the Study of Politics
mengungkapkan konsepsi/pengertian tentang pengambilan keputusan: Decision-making
diperoleh dari alternatif-alteranatip urutan tindakan yang diseleksi dari sejumlah masalah
yang terbatas yang ditetapkan secara sosial. Hal ini dapat dilihat dari tahapan-tahapan dalam
proses pengambilan keputusan seperti diuraikan di atas.

4. Konflik dan Kerjasama


Dalam sebuah negara atau masyarakat terdapat lebih dari satu orang, atau lebih dari
satu kelompok. Variasi kelompok ini, berpotensi dan adalah alamiah, memiliki sejumlah
kepentingan, sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Relasi antar kepentingan
kelompok itulah yang kemudian akan melahirkan dua kemungkinan, yaitu kerjasama atau
konflik.
Pemaknaan terhadap dua kedua konsep ini, kerap kurang berimbang. Kerjasama
dianggap sebagai sebuah hal yang positif, sementara konsep konflik diposisikan sebagai
konsep negatif. Padahal, dalam konteks politik dan ilmu sosial, pemaknaan tersebut sangat
tidak empirik. Sebab, kerjasama pun dapat bermakna negatif (ingat KKN), dan konflik pun
dapat melahirkan hal yang positif (contoh kasus saling kritik dan mengingatkan). Dengan
demikian, konsep konflik dan kerjasama, merupakan konsep politik yang sangat universal
dan menjadi pisau analisis politik yang strategis dalam memetakan perilaku politik
masyarakat.

Suatu konflik politik terjadi apabila seseorang atau sekelompok orang berusaha
mencegah orang atau sekelompok orang lain mencapai tujuan atau tujuan-tujuan politiknya.
Misalnya, suatu organisasi partai bertujuan untuk mendapat suara terbanyak dalam pemilu,
namun organisasi politik yang lain pun memiliki keinginan untuk itu. Adanya perbedaan
tujuan tersebut dapat menimbulkan konflik politik. Dan konflik tersebut berupa saling
menghalangi atau mencegah yang lain.
Sedangkan yang dimaksud dengan kerjasama politik adalah usaha bersama dua
orang atau lebih untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu berkenaan dengan kebijakankebijakan pemerintah dan perwujudannya. Kerjasama sering terjadi apabila tujuan-tujuan
akhir dari pelaku politik adalah sama atau pun berbeda-beda tetapi memiliki tujuan antara
yang sama. Misalnya, suatu organisasi politik (orpol) memiliki tujuan yang berbeda (seperti
contoh di atas). Namun demikian adakalanya satu orpol memiliki tujuan yang antara sama,
seperti meningkatkan partisipasi warga negara dalam politik. Hal ini dapat memungkinkan
adanya suatu kerjasama, seperti mengadakan penyuluhan, seminar, dan sebagainya.
Khusus yang terkait dengan analisis gejala konflik dan kerjasama ini, terdapat
sejumlah pendapat para ahli yang langsung mengkaitkannya dengan identitas atau hakikat
politik itu sendiri. Seperti dikutip A. Hoogerwerf, (1985:46) dalam bukunya Politikologi
antara lain:

Carl Schmitt (1932:26): Perbedaan politik yang menjadi ciri-ciri, yang menjadi
sumber dari tindakan-tindakan dan tema-tema politik, adalah perbedaan antarakawan
dan lawan.

Gerhard Lehmbruch (1967:17): Politik adalah perbuatan kemasyarakatan (yaitu


perbuatan yang diarahkan kepada kelakuan orang lain) yang bertujuan untuk
mengatur secara mengingkat konflik-konflik kemasyarakatan mengenai nilai-nilai
(termasuk barang jasmaniah).

Vernon Van Dyke (1966:2): Politik terdiri dari pertarungan antara aktor-aktor yang
mempunyai keinginan-keinginan yang saling bertentangan mengenai pokok-pokok
pertentangan masyarakat.

Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, maka dapat dikemukakan bahwa dalam


membincangkan masalah politik, masalah konflik dan kerjasama akan menjadi identitas
perilaku politik dan gejala sosial yang kerap berdampingan dan menyertainya. Keberadaan
sebuah hukum pun, pada dasarnya adalah sebuah upaya untuk mengelola konflik dan
kerjasama yang tumbuh di masyarakat.

5. Penyaluran (Distribution) dan Penempatan (Allocation)


Ada dua asumsi dasar yang menghantarkan pentingnya konsep distribusi dan alokasi
sebagai bagian dari konsep ilmu politik. Pertama, terkait dengan kewajiban pemerintah.
Misalnya salam ekonomi, pemerintah memiliki kewajiban untuk distribusi bahan bakar,
distribusi hasil pertanian, alokasi dana pembangunan dan sebagainya. Dalam bidang poltik,
ada distribusi kekuasaan antara rakyat, dan pejabat publik. Dalam birokrasi dan administrasi
ada kewajiban untuk menjelaskan distribusi kekuasaan antar lembaga politik yang ada dalam
struktur pemerintahan.
Pada sisi kedua, yaitu terkait dengan hakikat politik dan negara itu sendiri. sebagai
sebuah organisasi sosial yang terdiri dari berbagai kepentingan, maka masalah distribusi
kekuasaaan dan alokasi menjadi hal yang sangat penting. Bukan hanya dalam sisi ekonomi,
tetapi juga dari sisi kekuasaan politik itu sendiri.
Mirriam Budiardjo (1992:13) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan distibusi
dan alokasi dalam ilmu politik adalah penyaluran dan penjatahan dari nilai-nilai dalam
masyarakat. Seperti, distribusi dan alokasi dana pembangunan terhadap sektor-sektor
pembangunan atau daerah-daerah, dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan nilai
adalah sesuatu yang dianggap berharga, dianggap baik/buruk. Nilai ini dapat bersifat abstrak
(misalnya kejujuran, kebebasan) juga dapat bersifat kongkrit/kebendaan (misalnya gaji,
bantuan dana, dan sebagainya). Sejalan dengan kajian ini, dapat kita kutip pendapat Easton
dalam masalah sistem politik. Dalam pemikiran Easton, sistem politik adalah keseluruhan
dari interaksi yang mengakibatkan pembagian oleh yang berkuasa dari nilai-nilai untuk dan
atas nama suatu masyarakat. (David Easton, 1958)

Ketimpangan dalam melakukan distribusi dan alokasi ini, akan menyebabkan


konflik kepentingan terjadi di masyarakat. implikasi lebih lanjutnya adalah adanya ancaman
disintegrasi sosial dan disintegrasi politik dalam negara. Jika hal ini dikaitkan dengan
masalah politik yang lebih luas, maka bisa dikatakan bahwa konflik kepentingan itu sendiri,
pada hakikatnya adalah konflik tentang distribusi dan alokasi (baik materi maupun nilai)
antar kelompok dalam negara itu sendiri. Tidak mengherkan bila dikatakan bahwa politik itu
sendiri adalah ilmu yang mempelajari tentang siapa memperoleh apa, bilamana, dan dengan
cara apa? ( Harold D Lasswell, 1958).
Sarjana ilmu politik yang menekankan penyaluran dan penempatan sebagai kajian
politik menganggap bahwa politik adalah penyaluran dan pengalokasian nilai-nilai secara
mengikat. Masalah-masalah penyaluran dan pengalokasian berhubungan dengan kekuasaan
dan kebijakan pemerintah.
RUANG LINGKUP ILMU POLITIK Dalam contemporary political science, terbitan
UNESCO 1950, ilmu politik di bagi dalam empat bidang:
I. Teori politik.
1.Teori plitik
2.Sejarah perkembangan ide-ide politik
II. Lembaga-lembaga politik:
1. Undang-undang Dasar
2. Pemerintah Nasional
3. Pemerintah local dan daerah
4. fungsi ekonomi dan social dari pemerintah
5. Perbandingan lembaga-lembaga politik
III. Partai-partai,golongan (groups),dan pendapatan umum
1. Partai-partai politik
2. Golongan-golongan dan asosiasi-asosiasi
3. partisipasi warga Negara dalam pemerintah dan administrasi

4. pendapatan umum
IV. Hubungan Internasional
1. Politik Internasional
2. Organisasi-organisasi dan administrasi internasional
3. Hukum Internasional.[2]

Hubungan Ekonomi Dengan Ilmu Politik


Ekonomi jelas memilik pengaruh penting terhadap Ilmu Politik,kehidupan manusia
tidak lepas dari kehidupan berpolitik. Berikut akan saya bahas tentang hubungan tersebut.
Di mulai terlebih dahulu dari pengertian Ilmu Ekonomi
A. Ilmu Ekonomi
Ilmu ekonomi adalah ilmu tentang usaha-usaha manusia kearah kemakmuran. Jadi
tujuan nya adalah untuk mencapai kemakmuran. Ekonomi akan erat kaitanya dalam
pemberdayaan sumberdaya alam, manusia ataupun energy. Ekonomi berasal dari perkataan
Yunani Oikonomia secara etimologis berasal dari oikos bearti rumah dan Nomos bearti
peraturan. Lapangannya terbatas hanya pada soal-soal yang berhubungan langsung dengan
perbuatan manusia dalam usaha mencapai kemakmuran jasmani (material wealth). Tetapi
karena kebutuhan manusia sedemikian luasnya, sehingga bukan hanya menyangkut jasmani
saja, tetapi juga menyangkutpersoalan rohani. Jadi disini persoalanya menjadi lebih luas yaitu
menyelidiki keinginan manusia untuk memperkecil kekurangan kemakmuran.
Semula ilmu ekonomi dikatakan kurang eksak karena memiliki kendala-kendala antara lain
a. Dimasuki factor perasaan
b. Memiliki kebersamaan istilah
c. Sulit dilakukan percobaan
d. Sulit Diukur
B. Ilmu Politik
Dikaji dari segi asal kata politik dalam bahasa Arab di sebut siayasyah dalam bahasa
inggrisnya politics. Politik itu bearti cerdik atau bijak sana. Memang dalam pembicaraan
sehari-hari kita seakan-akan mengartikan politik sebagai suatu cara untuk mewujudkan
tujuan, namun sebenarnya para ahli sulit memberikan pengertian ilmu politi yang pasti.
Ilmu politik adalah salah satu Ilmu politik adalah cabang ilmu sosial yang membahas teori
dan praktik politik serta deskripsi dan analisa sistem politik dan perilaku politik. Dalam
praktek kesehariannya ilmu politik memiliki berbagai kajian khusus yang akan menjadi focus
utama dalam perkembangan dan aplikasinya di masyarakat. Konsep mendasar yang menjadi
Power (Kekuasaan), Authority (Kewenangan ), Influence (Pengaruh), Persuasion (Ajakan),
Coercion (Paksaan), dan juga Acquiescence (Perjanjian). Setelah mengetahui hal tersebut
maka dapat kita ketahui bahwa ilmu politik sebenarnya bororientasi khusus kepada suatu hal
yang kita kenal dengan kekuasaan baik itu cara mencari atau mendapatkan, cara
memepertahankan, dan berbagai hal lain tentang kekuasaan tersebut.
C. Hubungan Ekonomi terhadap Ilmu Politik

Jika ditinjau dari segi kehidupan masyarakat pengaruh ilmu politik dan ekonomi jelas
saling bergantung, keduanya saling membutuhkan, bisa dikatakan salah satu diantara
keduanya tidak bisa berjalan tampa iringan satu sama lain. Maka lazimya untuk mempelajari
kedua pelajaran ini amat terkait dan terhubung. Para pemikir terdahulu menganggap ilmu
ekonomi sebagai cabang dari ilmu politik, dari sinilah muncul nama atau gelar ilmu ekonomi
politik. Karena dimasa itu pokok urusan ketertiban finansial dilihat atau diambil dari sumber
penghasilan Negara, Sedangkan sekarang pemikiran tersebut telah berubah. Ilmu ekonomi
dinyatakan independent dan terpisah dari pelajaran politik, dimana pelajaran ini mengajarkan
masyarakat untuk berusaha, bagaimana,dimana, apa dan gimana mengatur dan memperoleh
kekayaan. Singkatnya ekonomi adalah ilmu kekayaan.
Ekonomi berpengaruh dalam politik hanya dibeberapa titik saja, dimana titik penghasilan dan
penyaluran dari kekayaan sangatlah besar pengaruhnya didalam pemerintahan. Bahkan juga
disebabkan dari berbagai penyelesaian permasahan yang memang lazim timbul didalam
Bernegara. Di berbagai Negara pemerintahan pengaruh yang terbesar terletak pada
pertumbuhan ekonominya. Bertambahnya lapangan ekonomi didalam pemerintahan terjadi
tiada henti- hentinya. Pajak, UU bea, Hak milik Negara dan pertolongan Negara terhadap
lahan pertanian, industri dan perdagangan semuanya bukanlah salah satu hal dimana
pemerintah berkuasa atas penghasilannya.
Kesejahteraan Negara yang baik dan sosialisme telah merombak keadaan fungsi Negara.
Negara dewasa ini diartikan atau disangka langsung turut campur dalam bermacam
lingkungan, dari aktifitas masyarakat menentukan perintah dalam hal kwalitas distribusi
kekayaan dan juga materi barang milik masyarakat.
Tentu saja banyak permasalahan yang timbul dalam pemerintahan modern yang lahir dari
dasar ekonomi, tuntutan terhadap lapangan kerja, modal hak milik tanah, ketidakrataan
penurunan dan penaikan ekonomi, bahkan pesatnya kemajuan teknologi yang mempengaruh
nasionalisasi. Perlu kita ketahui dalam Negara Komunis, Negara mengontrol secara
keseluruhan kesatuan kehidupan ekonomi masyarakat.
Golongan dan grup ekonomi disetiap Negara terlaksana terus menerus dimana tertekan dalam
administrasi untuk perlindungan dan kekayaan. Demikian pula, penggunaan kondisi ilmu
ekonomi memiliki pengaruh besar dalam cita- cita perpolitikan dan institusi, Contohnya:
adanya revolusi yang menimbulkan cita- cita kemerdekaan perseorangan, demokrasi,
sosialisme
dan
komunis.
Dengan demikian eratnya hubungan antara ilmu politik dan juga ilmu ekonomi maka
muncullah suatu ilmu baru yang kita kenal dengan sebutan ilmu ekonomi politik.
Pembelajaran Ilmu Ekonomi Politik merupakan pembelajaran ilmu yang bersifat
interdisiplin,yakni terdiri atas gabungan dua disiplin ilmu dan dapat digunakan untuk
menganalisis ilmu sosial lainnya dengan isu-isu yang relevan dengan isu ekonomi politik.
Ilmu ini mengkaji dua jenis ilmu yakni ilmu politik dan ilmu ekonomi yang digabungkan
menjadi satu kajian ilmu ekonomi politik. Dalam penggunaannya secara tradisional, istilah
ekonomi politik dipakai sebagai sinonim atau nama lain dari istilah ilmu ekonomi
(Rothschild, 1989).
Di Negara-negara-negara liberal yang mengidolakan demokrasi bukannya tidak ada dominasi
ekonomi. Di amerika serikat misalnya, walaupun terjadi free fight tetapi perekonomiannya
yang kuat tampak sangat mempengaruhi pemilihan umum, bahakan mereka yang berdarah
yahudi dapat berkiblat di Israel. Sehingga ada momok dalam kongres bahwa siapa yang
menentang akan disingkirkan. Di Negara-negara yang berkembang, Negara mempunyai tugas
yang relative lebih banyak dan berat dalam semua sector kehidupan, terutama dalam sector
perekonomian. Tugas Negara menciptakan kesejahteraan tidak terbatas pada suatu golongan
tertentu dalam masyarakat dan terbatas dengan waktu.

Hubungan yang lebih jelasnya, dalam mengajukan kebijakan atau siasat ekonomi tertentu,
seorang sarjana ekonomi dapat bertanya kepada seorang ilmu politik, tentang politik manakah
kiranya yang paling baik di susun guna mencapai tujuan secara ekonomi. Dalam mengajukan
kebijakan untuk memperbesar produksi nasional misalnya, sarjana ilmu politik pasti ditanya
tentang bagaimana cara-cara menanggulangi hambatan politis menuju arah tujuan ekonomi
tersebut. Contohkan saja pembangunan lima tahun di Indonesia dulu memperhitungkan pula
perkembangan social dan politik yang mungkin terjadi akibat pergeseran ekonomis yang
timbul dari berhasil dan gagalnya kebijakan tertentu. Sebaliknya seorang sarjana ilmu politik
dapat meminta bantuan juga kepada sarjana ekonomi tentang syarat-syarat ekonomis yang
harus di penuhi guna mencapai tujuan politis tertentu, khususnya yang berkaitan dengan
pembinaan kehidupan demokrasi.
Dengan pesatnya berkembangnya ilmu ekonomi modern, khususnya ekonomi internasional,
kerjasama ilmu politik dan ilmu ekonomi makin di butuhkan untuk menganalisis siasat-siasat
pembangunan nasional. Semua orang tidak akan bisa mengabaikan lagi pengaruh dan peran
perdagangan luar negeri, bantuan luar negeri serta hubungan ekonomi luar negeri pada
umumnya terhadap usaha-usaha pembangunan luar negeri. Menurut (Miriam Budiardjo 2009)
ilmu ekonomi malahan telah menghasilkan suatu bidang ilmu politik yang baru. ini
dinamakan pendekatan perilaku rasional (rational choice) yang lebih cenderung melihat
manusia sebagai mahluk ekonomi (economic creature). Dianggap manusia dalam mengambil
keputusan selalu memperhitungkan untung rugi baginya.

Metodologi Ekonomi
Sering disebut sebagai The queen of social sciences, ilmu ekonomi telah
mengembangkan serangkaian metode kuantitatif untuk menganalisis fenomena
ekonomi. Jan Tinbergen pada masa setelah Perang Dunia II merupakan salah satu
pelopor utama ilmu ekonometri, yang mengkombinasikan matematika, statistik, dan
teori ekonomi. Kubu lain dari metode kuantitatif dalam ilmu ekonomi adalah model
General equilibrium (keseimbangan umum), yang menggunakan konsep aliran uang
dalam masyarakat, dari satu agen ekonomi ke agen yang lain. Dua metode
kuantitatif ini kemudian berkembang pesat hingga hampir semua makalah ekonomi
sekarang menggunakan salah satu dari keduanya dalam analisisnya. Di lain pihak,
metode kualitatif juga sama berkembangnya terutama didorong oleh keterbatasan
metode kuantitatif dalam menjelaskan perilaku agen yang berubah-ubah.

Pendekatan dalam ilmu politik


Terdapat banyak sekali pendekatan dalam ilmu politik. Di sini hanya akan dibahas
tentang tiga pendekatan saja, yakni pendekatan institusionalisme (the old
institutionalism), pendekatan perilaku (behavioralism) dan pilihan rasional (rational
choice), serta pendekatan kelembagaan baru atau the new institutionalism. Ketiga
pendekatan ini memiliki cara pandangnya tersendiri dalam mengkaji ilmu politik dan
memiliki kritik terhadap pendekatan yang lain.

Hubungan ilmu politik Dan Ekonomi


jika ditinjau dari segi kehidupan masyarakat pengaruh ilmu politik dan ekonomi jelas
saling bergantung, keduanya saling membutuhkan, bisa dikatakan salah satu
diantara keduanya tidak bisa berjalan tampa iringan satu sama lain. Maka lazimya
untuk mempelajari kedua pelajaran ini amat terkait dan terhubung.

Ekonomi berpengaruh dalam politik hanya dibeberapa titik saja, dimana titik
penghasilan dan penyaluran dari kekayaan sangatlah besar pengaruhnya didalam
pemerintahan. Bahkan juga disebabkan dari berbagai penyelesaian permasahan
yang memang lazim timbul didalam Bernegara.
Diberbagai Negara pemerintahan pengaruh yang terbesar terletak pada
pertumbuhan ekonominya. Bertambahnya lapangan ekonomi didalam pemerintahan
terjadi tiada henti- hentinya. Pajak, UU bea, Hak milik Negara dan pertolongan
Negara terhadap lahan pertanian, industri dan perdagangan semuanya bukanlah
salah satu hal dimana pemerintah berkuasa atas penghasilannya.
Kesejahteraan Negara yang baik dan sosialisme telah merombak keadaan fungsi
Negara. Negara dewasa ini diartikan atau disangka langsung turut campur dalam
bermacam lingkungan, dari aktifitas masyarakat menentukan perintah dalam hal
kwalitas distribusi kekayaan dan juga materi barang milik masyarakat.
Tentu saja banyak permasalahan yang timbul dalam pemerintahan modern yang
lahir dari dasar ekonomi, tuntutan terhadap lapangan kerja, modal hak milik tanah,
ketidakrataan penurunan dan penaikan ekonomi, bahkan pesatnya kemajuan
teknologi yang mempengaruh nasionalisasi. Perlu kita ketahui dalam Negara
Komunis, Negara mengontrol secara keseluruhan kesatuan kehidupan ekonomi
masyarakat.
Golongan dan grup ekonomi disetiap Negara terlaksana terus menerus dimana
tertekan dalam administrasi untuk perlindungan dan kekayaan. Demikian pula,
penggunaan kondisi ilmu ekonomi memiliki pengaruh besar dalam cita- cita
perpolitikan dan institusi, Contohnya: adanya revolusi yang menimbulkan cita- cita
kemerdekaan perseorangan, demokrasi, sosialisme dan komunis.

Pengertian Sosiologi, Politik dan Ekonomi


A. Sosiologi
Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan, teman sedangkan Logos
berarti ilmu pengetahuan. Ungkapan ini dipublikasikan diungkapkan pertama kalinya dalam
buku yang berjudul Cours De Philosophie Positive karangan August Comte (1798-1857).
Menurut Roucek dan Warren, Sosiologi adalah ilmu yang mempalajari hubungan antara
manusia dengan kelompok-kelompok.
Sifat-Sifat Sosiologi :
1. Sosiologi adalah ilmu sosial karena yang dipelajari adalah gejala-gejala
kemasyarakatan.
2. Sosiologi termasuk disiplin ilmu normatif, bukan merupakan disiplin ilmu kategori
yang membatasi diri pada kejadian saat ini dan bukan apa yang terjadi atau
seharusnya terjadi.
3. Sosiologi termasuk ilmu pengetahuan murni (pure science) dan ilmu pengetahuan
terapan.

4. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan abstrak dan bukan ilmu pengetahuan konkret.
Artinya yang menjadi perhatian adalah bentuk dan pola peristiwa dalam masyarakat
secara menyeluruh, bukan hanya peristiwa itu sendiri.
5. Sosiologi bertujuan menghasilkan pengertian dan pola-pola umum, serta mencari
prinsip-prinsip dan hukum-hukum umum dari interaksi manusia, sifat, hakikat,
bentuk, isi, dan struktur masyarakat manusia.
6. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional. Hal ini
menyangkut metode yang digunakan.
7. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan umum, artinya sosiologi mempunyai gejalagejala umum yang ada pada interaksi antara manusia.
B. Politik
Politik (politics) adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik (negara) yang
menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan
tujuan itu, sehingga perlu ditentukan kebijaksanaan-kebijaksanaan umum (public polities)
yang menyangkut pengaturan dan pembagian atau alokasi dari sumber-sumber dan resources
yang ada.
Di samping itu politik juga dapat dilihat dari sudut pandang berbeda, yaitu antara lain:

Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan
bersama (teori klasik Aristoteles)

Politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara

Politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan


kekuasaan di masyarakat

Politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan
publik.

C. Ekonomi

Ekonomi merupakan salah satu ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang
berhubungan dengan produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi barang dan jasa. Istilah

ekonomi sendiri berasal dari kata Yunani yaitu (oikos) yang berarti keluarga, rumah
tangga dan (nomos), atau peraturan, aturan, hukum, dan secara garis besar diartikan
sebagai aturan rumah tangga atau manajemen rumah tangga.
Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan
menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi adalah adanya ketidakseimbangan antara
kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya
terbatas. Permasalahan itu kemudian menyebabkan timbulnya kelangkaan
Ekonomi difungsikan sebagai ilmu terapan dalam manajemen keluarga, bisnis, dan
pemerintah. Teori ekonomi juga dapat digunakan dalam bidang-bidang selain bidang
moneter, seperti misalnya penelitian perilaku kriminal, politik, pendidikan, keluarga dan
lainnya. Hal ini dimungkinkan karena pada dasarnya ekonomi seperti yang telah disebutkan
di atas adalah ilmu yang mempelajari pilihan manusia
Bidang yang dipelajari oleh ilmu ekonomi sangat luas, yaitu tentang tingkah laku manusia
dalam masyarakat, dalam usahanya mencari nafkah dan segala apa yang berhubungan dengan
itu.

2.2 Objek-objek Sosiologi, Politik dan Ekonomi


A. Objek-objek Sosiologi :
Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan mempunyai beberapa objek.

Objek Material

Objek material sosiologi adalah kehidupan sosial, gejala-gejala dan proses hubungan antara
manusia yang memengaruhi kesatuan manusia itu sendiri.

Objek Formal

Objek formal sosiologi lebih ditekankan pada manusia sebagai makhluk sosial atau
masyarakat. Dengan demikian objek formal sosiologi adalah hubungan manusia antara
manusia serta proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat.

B. Objek-objek Politik
Politik atau ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari kekuasaan sebagai konsep inti.
Konsep-konsep lain sebagai objek studi politik adalah negara, pengambilan keputusan,
kebijaksanaan, distribusi dan alokasi.

Sedangkan objek orientasi politik dapat digolongkan dalam beberapa objek. Pertama adalah
sistem politik secara umum. Kedua adalah pribadi sebagai aktor politik. Ketiga bagian-bagian
dari sistem politik yang dibedakan atas tiga golongan objek, yakni struktur khusus yang
meliputi lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif; pemegang jabatan; dan proses input dan
outut politik. Secara sederhana objek-objek politik ini dibagi atas empat objek, yakni sistem
sebagai objek umum; objek-objek input; objek-objek output; dan pribadi sebagai objek.

C. Objek-objek Ekonomi
Manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk ekonomi yang pada hakekatnya selalu
menghadapi masalah ekonomi . Inti masalah ekonomi yang dihadapi manusia adalah bahwa
kebutuhan manusia jumlahnya tidak terbatas, sedangkan alat pemuas kebutuhan manusia
jumlahnya terbatas.

2.3 KETERKAITAN ILMU SOSIOLOGI, EKONOMI DAN POLITIK


Ketiga ilmu tersebut saling berhubungan satu sama lain, dimana :
1. Ketiganya membicarakan dan menelaah objek yang sama yaitu manusia sebagai
individu maupun kelompok masyarakat. Membicarakan tingkah laku dan gejala sosial
akibat dari interaksi serta status dan peran dalam masyarakat.
2. Walaupun objek sama namun sudut pandang berbeda tentang tingkah laku manusia
beserta gejala sosial yang ditimbulkannya, diantaranya ada kepentingan tertentu
atau alasan yang saling berkaitan.
3. Hubungan ketiganya menghasilkan cabang ilmu baru. Hubungan sosiologi dan politik
menghasilkan cabang ilmu sosiologi politik, hubungan sosiologi dan ekonomi
menghasilkan cabang ilmu sosiologi ekonomi, dan hubungan antara ekonomi dan
politik menghasilkan cabang ilmu ekonomi politik.

Keterkaitan ketiga ilmu sosial juga menghasilkan ilmu baru dengan spesifikasi menelaah
ilmu sosiologi, politik dan ekonomi, yang populer dengan sebutan Sosiologi dan Politik.
Sosiologi politik merupakan ilmu yang mempelajari mata rantai antara politik dan
masyarakat, antara struktur-struktur sosial dan struktur-struktur politik, antara tingkah laku
sosial dengan tingkah laku politik. Sementara Sosiologi ekonomi sebagaimana yang
dikemukakan Damsar (2002) adalah sebgai studi tentang bagaimana cara orang atau
msayarakat memenuhi kebutuhan hidup mereka terhadap jasa dan barang langka dengan
menggunakan pendekatan sosiologi.
Pelaku ekonomi secara garis besar dibagi menjadi dua sektor yaitu publik dan swasta.
Dalam perencanaan pembangunan, sektor publik memperhatikan beberapa faktor yaitu faktor
ekonomi umum dan faktor non ekonomi.

1. Faktor ekonomi umum, yang meliputi : sektor ekonomi yang dominan di suatu
wilayah, sumber daya alam yang tersedia, kualitas sumber daya manusia yang ada dan
kemungkinan adanya teknologi baru.
2. Faktor non ekonomi, meliputi : sikap masyarakat suatu wilayah terhadap
pembangunan, keseimbangan kekuatan membangun antara pemerintah dan penduduk
setempat, pola kepemimpinan suatu wilayah, dan ketersediaan infrastruktur fisik dan
sosial. Di dalamnya meliputi aspek politik yaitu sistem politik nasional, golongan
yang berkuasa, stabilitas politik, kekuasaan birokrasi, hubungan sipil dan militer.
Aspek lainnya adalah hukum, yang terkait dengan peraturan devisa, hukum tanah,
keseimbangn legislatif, eksekutif dan yudikatif, perlindungan hukum terhadap perusahaan,
korupsi dan kolusi. Aspek sosial yang terangkum menjadi faktor non ekonomi yaitu
keseimbangan antara rural dan urban, keseimbangan antara golongan etnis, keseimbangan
antara golongan agama, kualitas pendidikan dan kesehatan, kekuatan organisasi buruh,
kesinambungan sosial antara pria dan wanita.
Terkait dengan aspek budaya maka di dalamnya termasuk ethos kerja, kesimbangan antara
rasionalitas dan non rasionalitas, keseimbangn antara sikap kolektif dan individualistas,
kekuatan adat terhadap modernisasi, dan kemungkinan teknologi baru.
Pada sektor swasta yang memulai kegiatannya dengan mengadakan studi kelayakan, maka
faktor yang mendapatkan perhatian adalah :
1. Faktor ekonomi, meliputi: sistem ekonomi nasional, peraturan moneter, kekuatan
pesaing, potensi pasar dan sistem perpajakan yang berlaku

2. Faktor non ekonomi :


a) Politik yang berkaitan dengan sistem politik nasional, golongan yang berkuasa, stabilitas
politik, kekuasaan birokrasi dan hubungan sipil dan militer,
b) Hukum, berkaitan dengan peraturan devisa, hukum tanah (agraria), keseimbangan
legeslatif, eksekutif dan yudikatif, perlindungan hukum terhadap perusahaan swasta, korupsi
dan kolusi,
c) Sosial, meliputi keseimbangan antara rural dan urban (lokasi usaha), kesimbangan antara
golongan etnis, keseimbangan atara golongan agama, kualitas pendidikan dan kesehatan,
kekuatan organisasi buruh (serikat pekerja), dan kesinambungan sosial antara laki-laki dan
perempuan (gender),
d) Kultur masyarakat, antara lain meliputi: ethos kerja, keseimbangan antara rasionalitas dan
non rasionalitas, keseimbangan antara sikap kolektif dan individualitas, kekuatan adat
terhadap modernisasi dan kemungkinan adanya teknologi baru.

Anda mungkin juga menyukai