Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
Semua kegiatan dapat kita lakukan dan kita nikmati karena kita memiliki sistem
indera.Sistem indera adalah Organ akhir khusus yang berfungsi menerima jenis rangsangan
tertentu. Jenis rangsangan ini diperantarai oleh sistem saraf (sensori impression)dari organ
indera menuju ke otak di mana perasaan ini ditafsirkan.Rangsangannya dapat
berupasentuhan, pengecapan, penglihatan, penciuman dan suara. Lainnya muncul sensasi dari
dalam misalnya rasa lapar, haus, sakit, panas, dingin, bising dll.
Alat indera pada manusia itu sempurna karena dilengkapi dengan bagian-bagian yang
berfungsi untuk menerima rangsangan dari luar, dan saraf-saraf pembawa rangsang ke saraf
pusat (otak ). Alat-alat indera manusia dapat berfungsi dengan sempurna bila:

Saraf-saraf yang berfungsi membawa rangsang ke sumsum saraf pusat bekerja dengan

baik
Otak sebagai pusat pengolah rangsang bekerja secara sempurna
Secara anatomi alat-alat indera tak mempunyai kelainan bentuk dan fungsinya.
Organ indera adalah sel sel tertentu yg dapat menerima stimulus dari lingkungan

luar atau dari badan sendiri untuk diteruskan menjadi impuls dari serabut saraf kesistem saraf
pusat. Setiap organ indra menerima stimulus tertentu, menghasilkan mengirimkan impuls,
dan interpretasi tertentu.
Adapun yang akan di bahas lebih lanjut mengenai indera penglihatan yaitu mata,
fungsi mata itu sendiri sebagai menerima rangsangan berkas-berkas cahaya pada retina
dengan perantaraan serabut-serabut nervus optikus, menghantarkan rangsangan ini ke pusat
penglihatan pada otak untuk ditafsirkan.
Dan fungsi berkas mata yakni bila cahaya yang jatuh diatas mata menimbulkan
bayangan yang letaknya difokuskan padaretina. Bayangan itu akan menembus dan diubah
oleh kornea lensa badan eques dan vitrous, lensa membiasakan cahaya dan memfokuskan
bayangan pada retina bersatu menangkap sebuah titik pada mata bayangan yang difokuskan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. ANATOMI MATA
Mata adalah suatu struktur sferis berisi cairan yang dibungkus oleh tiga
lapisan. Dari luar ke dalam, lapisanlapisan tersebut adalah : (1) sklera/kornea, (2)
koroid/badan siliaris/iris, dan (3) retina. Di anterior (ke arah depan), lapisan luar
terdiri atas kornea transparan tempat lewatnya berkasberkas cahaya ke interior mata.
Lapisan tengah dibawah sklera adalah koroid yang sangat berpigmen dan menga ndu
ng pembuluh-pembuluh darah untuk memberi makan retina. Lapisan paling dalam
dibawah koroid adalah retina, yang terdiri atas lapisan yang sangat berpigmen di
sebelah luar dan sebuah lapisan saraf di dalam. Retina mengandung sel batang dan sel
kerucut, fotoreseptor yang mengu bah energi cahaya menjadi impuls saraf.

Gambar 1. Bagaian mata luar


Rongga mata (orbital) bertujuan untuk melindungi bola mata. Bentuk rongga
mata adalah piramida empat sisi yang ujungnya berada di foramen optikal.6 terdapat
tujuh tulang yang ikut membentuk formasi tulang orbital ini yaitu : maksilari, zigoma,
frontal, ethmoidal, lakrima, palatin, da n sfenoid. Tulang-tulang ini membentuk soket
untuk bola mata yang memberi tempat untuk masuknya otot-otot mata dan berasosiasi
sangat dekat dengan sinus sekitarnya dan fosa kranial. Banyak saraf dan pembuluh

darah yang melewati foramina, fisura dan kanal dari tulang orbital. 6 Rongga mata
juga terdapat kelenjar air mata yang terletak
Periorbita adalah membran periosteal yang menutupi tulang orbital. Pada
ujung orbital, periorbita bersatu dengan durameter menutupi saraf optik. Pada bagian
depan, periorbita menyambung dengan septum orbital dan periosteum dari tulang
fasial. Garis persatuan dari ketiga lapisan pada lingkaran orbita disebut dengan arkus
marginalis.
Kelopak mata berfungsi juga untuk melindungi mata serta mengeluarkan
sekresi kelenjarnya yang membentuk film air mata di depan kornea. Kulit dari
kelopak mata bagian atas sangatlah tipis sedangkan pada bagian bawah lebih tebal.
Kelopak mata terdiri lempengan tarsal yang terdiri dari jaringan fibrus yang sangat
padat, serta dilapisi kulit dan dibatasi konjungtiva. Kelopak mata ditutup oleh otototot melingkar, yaitu muskulus orbikularis okuli.
Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian
belakang. Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel Goblet.
Musin bersifat membasahi bola mata terutama kornea. Selaput ini mencegah bendabenda asing di dalam mata seperti bulu mata atau lensa kontak, agar tidak tergelincir
ke belakang mata. Bersama-sama denga n ke lenjar lakrimal yang memproduksi air
mata, selaput ini turut menjaga agar kornea tidak kering.
Terdapat enam otot penggerak mata, empat diantaranya lurus sementara dua
yang lain adalah oblik. Otot lurus terdiri dari otot rektus mata superior, inferior,
medial dan lateral. Otot-otot ini menggerakkan mata ke atas, bawah, ke dalam dan ke
sisi luar bergantian. Otot-otot oblik adalah otot inferior dan superior. Otot oblik
superior menggerakkan mata ke bawah dan ke sisi luar, sementara otot oblik inferior
menggerakkan mata ke atas dan juga ke sisi luar.
Bola mata terdiri atas dinding bola mata dan isi bola mata. Dinding bola mata
terditi atas sklera dan kornea. Isi bola mata terdiri atas uvea, retina dan lensa.
Sklera membentuk putih mata dan bersambung pada bagian depan dengan
sebuah jendela membran bening yaitu kor nea. Sklera melindungi struktur mata yang
sangat halus, serta membantu mempertahankan bentuk biji mata. Kornea melindungi

struktur halus yang berada di belakangnya serta membantu memfokuskan bayangan


pada retina. Kornea tidak mengandung pembuluh darah.
Jaringan uvea merupakan jaringan vaskular. Jaringan sklera dan uvea dibatasi
oleh ruang yang potensial mudah dimasuki darah bila terjadi perdarahan pada ruda
paksa yang disebut perdarahan suprakoroid. Jaringan uvea ini terdiri atas iris, badan
siliar, dan koroid. Pada iris didapatkan pupil yang oleh 3 susunan otot dapat mengatur
jumlah sinar masuk ke dalam bola mata. Otot siliar yang terletak di badan siliar
mengatur bentuk lensa untuk kebutuhan akomodasi.
Iris

adalah jaringan berwarna yang berbentuk cincin, menggantung di

belakang kornea dan di depan lensaIris memiliki celah ditengahnya yang disebut
dengan pupil, yang berfungsi sebagai tirai yang melindungi retina serta
mengendalikan jumlah cahaya yang masuk ke mata.
Lensa merupakan badan yang bening, bikonveks 5 mm tebalnya dan
berdiameter 9 mm pada orang dewasa. Permukaan lensa bagian posterior lebih
melengkung daripada bagian anterior. Kedua permukaan tersebut bertemu pada tepi
lensa yang dinamakan ekuator. Lensa mempunyai kapsul yang bening dan pada
ekuator difiksasi oleh zonula Zinn pada badan siliar. Lensa pada orang dewasa terdiri
atas bagian inti (nukleus) dan bagian tepi (korteks). Nukleus lebih keras daripada
korteks. Dengan bertambahnya umur, nukleus makin membesar sedang korteks
makin menipis, sehingga akhirnya seluruh lensa mempunyai konsistensi nukleus.
Secara fisiologik lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu :
a. Kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi untuk
menjadi cembung
b. Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan,
c. Terletak di tempatnya.
Keadaan patologik lensa ini dapat berupa :
a. Tidak kenyal pada orang dewasa yang akan mengakibatkan presbiopia,
b. Keruh atau spa yang disebut katarak,
c. Tidak berada di tempat atau subluksasi dan dislokasi.

Lensa orang dewasa di dalam perjalanan hidupnya akan menjadi bertambah


besar dan berat.Fungsi lensa adalah untuk membias cahaya, sehingga difokuskan pada
retina. Peningkatan kekuatan pembiasan lensa disebut akomodasi.
Pupil adalah bintik tengah yang berwarna hitam yang merupakan celah dalam
iris dimana cahaya masuk melaluinya untuk mencapai retina. Pupil yang normal akan
berkonstriksi jika terkena cahaya. Pupil midriasis adalah keadaan pupil yang
berdilatasi lebih dari 5mm, biasa terjadi karena trauma tumpul pada uvea yang
mengakibatkan kelumpuhan otot sfingter pupil. Namun bila trauma mengakibatkan
radang pada uvea anterior maka pupil akan berkonstriksi lebih kecil dari 2mm atau
pupil miosis.27
Fungsi mata adalah sebagai indera penglihatan dimana mata menerima
rangsang cahaya pada retina kemudian dihantarkan ke otak dengan perantara serabutserabut nervus optikus.

Gambar 2. Struktur anatomi mata

Gambar 2. Stuktur anatomi mata

B. OTOT, SARAF, DAN PEMBULUH DARAH PADA MATA

Mata mempunyai otot, saraf serta pembuluh darah. Beberapa otot bekerja
sama menggerakkan mata. Setiap otot dirangsang oleh saraf kranial tertentu. Tulang
orbital yang melindungi mata juga mengandung berbagai saraf lainnya, yaitu :
a. Saraf optikus membawa gelombang saraf yang dihasilkan di dalam retina ke
otak
b. Saraf lakrimalis merangsang pembentukan air mata oleh kelenjar air mata
c. Saraf lainnya menghantarkan sensasi ke bagian mata yang lain dan
merangsang otot pada tulang orbita.
Arteri oftalmika dan arteri retinalis menyalurkan darah ke mata kiri dan mata
kanan, sedangkan darah dari mata dibawa oleh vena oftalmika dan vena
retinalis.Pembuluh darah ini masuk dan keluar melalui mata bagian belakang.

C. OTOT PENGGERAK MATA


Otot ini menggerakkan mata dengan fungsi ganda dan untuk pergerakkan
mata tergantung pada letak dan sumbu penglihatan sewaktu aksi otot.1 Otot
penggerak mata terdiri atas 6 otot yaitu:
1. Otot Oblik Inferior

Oblik inferior mempunyai origo pada foss lakrimal tulang lakrimal, berinsersi
pada sklera posterior 2 mm dari kedudukan makula, dipersarafi saraf okulomotor,
bekerja untuk menggerakkan matakeatas, abduksi dan eksiklotorsi.
2. Otot Oblik Superior
Oblik superior berorigo pada anulus Zinn dan ala parva tulang sfenodi di atas
foramen optik, berjalan menuju troklea dan dikatrol batik dan kemudian berjalan
di atas otot rektus superior, yang kemudian berinsersi pada sklera dibagian
temporal belakang bola mata. Oblik superior dipersarafi saraf ke IV atau saraf
troklear yang keluar dari bagian dorsal susunan saraf pusat. Mempunyai aksi
pergerakan miring dari troklea pada bola mata dengan kerja utama terjadi bila
sumbu aksi dan sumbu penglihatan search atau mata melihat ke arch nasal.
Berfungsi menggerakkan bola mata untuk depresi (primer) terutama bila mata
melihat ke nasal, abduksi dan insiklotorsi. Oblik superior merupakan otot
penggerak mata yang terpanjang dan tertipis.
3. Otot Rektus Inferior
Rektus inferior mempunyai origo pada anulus Zinn, berjalan antara oblik
inferior dan bola mata atau sklera dan insersi 6 mm di belakang limbus yang pada
persilangan dengan oblik inferior diikat kuat oleh ligamen Lockwood.
o depresi (gerak primer)
o eksoklotorsi (gerak sekunder)
o aduksi (gerak sekunder)
Rektus inferior membentuk sudut 23 derajat dengan sumbu penglihatan.
4. Otot Rektus Lateral
Rektus lateral mempunyai origo pada anulus Zinn di atas dan di bawah
foramen optik.

Rektus lateral dipersarafi oleh N. VI. Dengan pekerjaan

menggerakkan mata terutama abduksi.


5. Otot Rektus Medius
Rektus medius mempunyai origo pada anulus Zinn dan pembungkus dura
saraf optik yang sering memberikan dan rasa sakit pada pergerakkan mata bila
terdapat neuritis retrobulbar, dan berinsersi 5 mm di belakang limbus. Rektus
medius merupakan otot mata yang paling tebal dengan tendon terpendek.
Menggerakkan mata untuk aduksi (gerak primer).
6. Otot Rektus Superior
Rektus superior mempunyai origo pada anulus Zinn dekat fisura orbita
superior beserta lapis dura saraf optik yang akan memberikan rasa sakit pada
pergerakkan bola mata bila terdapat neuritis retrobulbar. Otot ini berinsersi 7 mm
di belakang limbus dan dipersarafi cabang superior.
Fungsinya menggerakkan mata-elevasi, terutama bila mata melihat ke lateral :
Aduksi, terutama bila tidak melihat ke lateral
Insiklotorsi

D. SISTEM LAKRIMAL
Sistem sekresi air mata atau lakrimal terletak di daerah temporal bola mata.
Sistem ekskresi mulai pada pungtum lakrimal, kanalikuli lakrimal, sakus
lakrimal, duktus nasolakrimal, meatus inferior.
Sistem lakrimal terdiri atas 2 bagian, yaitu :
a. Sistem produksi atau glandula lakrimal. Glandula lakrimal terletak di
temporo anterosuperior rongga orbita.
b. Sistem ekskresi, yang terdiri atas pungtum lakrimal, kanalikuli lakrimal,
sakus lakrimal dan duktus nasolakrimal. Sakus lakrimal terletak dibagian
depan rongga orbita. Air mata dari duktus lakrimal akan mengalir ke dalam
rongga hidung di dalam meatus inferior.
Film air mata sangat berguna untuk kesehatan mata. Air mata akan masuk ke
dalam sakus lakrimal melalui pungtum lakrimal. Bila pungtum lakrimal tidak
menyinggung bola mata, maka air mata akan keluar melalui margo palpebra yang
disebut epifora. Epifora juga akan terjadi akibat pengeluaran air mata yang
berlebihan dari kelenjar lakrimal.1Untuk melihat adanya sumbatan pada duktus
nasolakrimal, maka sebaiknya dilakukan penekanan pada sakus lakrimal. Bila
terdapat penyumbatan yang disertai dakriosistitis, maka cairan berlendir kental
akan keluar melalui pungtum lakrimal.Gambar 3. Sistim Saluran air mata

E.

PROSES
MELIHAT
Syarat yang harus dipenuhi agar kita dapat melihat adalah :
a. Ada cahaya yang dipantulkan dari benda ke mata.

b. Mata harus dalam keadaan sehat dan normal, yang berarti serabut-serabut
saraf dan saraf pusat pengolahan rangsang bekerja dengan baik.
Suatu benda hanya dapat dilihat jika ada cahaya. Cahaya kemudian
dipantulkan oleh benda dan pantulan cahaya ini akan masuk ke dalam mata,
melalui kornea, pupil, lensa mata yamh akhirnya menuju ke retina. Setelah sampai
di retina, rangsang cahaya diterima oleh saraf mata, kemudian dikirim ke pusat
penglihatan di otak dan kemudian diterjemahkan. Setelah itu barulah kita
mengetahui dan mengerti benda yang kita lihat. Bayangan benda yang jatuh pada
bintik buta tidak akan terlihat.
Mata kita mirip dengan kamera, karena keduanya mempunyai lensa yang
dapat diatur untuk membentuk bayangan di suatu permukaan. Permukaan
penangkap bayangan pada mata adalah retina tetapi pada kamera adalah film.
Pembentukan bayangan pada mata juga mirip dengan pembentukan bayangan
pada kamera.
Benda yang akan dilihat difokuskan oleh lensa agar bayangan tertangkap tepat
pada bintik kuning yang berada di retina. Pada kamera, benda yang akan difoto
difokuskan agar tertangkap dengan jelas di layar film.
Perbedaan mata dengan lensa, yaitu :
Pada

kamera,

belakang

lensa

dapat

digerakkan

ke

depan

maupun

ke

untuk memfokuskan benda agar bayangan jatuh tepat pada film.

Sebaliknya, lensa mata tidak dapat digerakkan ke depan dan ke belakang,


melainkan otot pemegang lensa mata yang berkontraksi mengubah bentuk lensa
mata.

F. BENTUK BENTUK SEDIAAN MATA


1. SUSPENSI OBAT MATA

Suspensi obat mata digunakan lebih sedikit daripada larutan untuk mata,
suspensi

dapat dipakai untuk meningkatkan waktu kontak obat dengan

kornea, sehingga memberikan kerja lepas lamvat yang lebih lama.

Suspensi obat mata diperlukan

bila obat

tidak larut pada larutan

pembae\wa yag diinginkan atau tidak stabil dalam bentuk larutan. Di samping
bahwa suspense obat mata harus mengandung partikel dengan karakteristik
kimiawi dan dimensi-dimensi kecil yang tidak mengganggu mata suspensi
obat mata harus bersifat tidak menggumpal jika disimpan.dasar salep harus
bertitik lebur mendekati suhu tubuh.
2. SISIPAN PADA MATA

Merupakan terobosan baru untuk obat pada mata, sisispan pada mata
adalah suatu macam alat dengan sistem OCUSERT yang telah dipersiapkan
untuk melepaskan jumlah obat yang telah ditetapkan dan diperhitungkan
sebelumnya, sehingga memungkinkan pengurangan pemakaian dosis yang
lebih sering oleh si pasien, menjamin pengobatan waktu malam, dan cara yang
lebih dapat diterima oleh sii pasien,
Dasar salep untuk suatu salep mata harus tidak mengiritasi mata dan harus
tidak mengiritasi mata dan harus memungkingkan difusi bahan obat

ke

seluruh mata yang dibasahi karena sekresi cairan mata


3. SALEP MATA

Dasar salep pilihan untuk suatu obat mata harus tidak mengiritasi mata dan
harus memungkinkan difusi obat ke seluruh mata yang dibasahi karena sekresi
air mata. Dasar salep yang digunakan harus mempunyai titik lebur mendekati
suhu tubuh. Syarat syarat salep mata juga harus menggunakan bahan yang
steril atau di sterilkan sesudah pembuatannya dan harus lulus uji sterilitas.
Keuntungan utama salep dibandingkan larutan adalah penambahan waktu
hubungan antara mata dengan obat. Pengkajian menunjukkan bahwa waktu
kontak antara obat denngan mata lebih lama yaitu 2 4X lebih lama
dibandingkan dengan

waktu kontak mata dan larutan . Kekurangan dari

penggunaan salep yaitu pandangan jadi kabur begitu dasar salep meleleh dan
menyebar melalui lensa mata.
4. LARUTAN UNTUK MATA

Dengan defenisi larutan untuk mata adalah larutan steril yang dicampur
dan dikemas untuk dimasukkan ke dalam mata.selain steril preparat tersebut
memerlukan pertimbangan yang cermat terhadap faktor faktor farmasi :
a. Viskositas
Pada pembuatn larutan untuk mata seringkali ditambahkan zat
pengental untuk menaikkan viskositas yang dapat membantu penahanan
obat pada jaringan sehingga menambah efektifitas terapinya.
b. Isotonitas
Dalam prakteknya batas batas isotonitas suatu larutan untuk mata
berupa NaCl atau ekuivalensinya dapat berkisar dari 0,6 - 2,0 % tanpa
rasa tidak nyaman pada mata. Asam borat dengan konsentrasi 1,9 %
membetuk tekanan osmotik yang sama dengan yang dibentuk 0,9 % NaCl.
c. Dapar
Dapar digunakan dalam larutan untuk mata karena salah satu atau smua
alasan berikut ini:
1. Untuk mengurangi ketidak nyamanan si pasien
2. Menjamin kestabilan obat
3. Untuk mengawasi aktivitas terapeutik bahan obat.
pH air mata normal 7,4 memiliki suatu kemampuan dapar. Pemakaian
obat mata merangsang aliran air mata yang dapat menetralkan setiap
kelebihan ion hidrogen atau hidroksil yang digunakan pada mata bersama
larutan . secara norma kerja dapar air mata mampu menetralkan larutan
untuk mata, dengan demikian ia dapat mencegah tanda tanda
ketidaknyamanan.
d. Pengemasan dan pemakaian laruatn untuk mata
Larutan untuk mata harus dikemas sehingga mudah ditata dan dijaga
sterilitasnya. Kebanyakan larutan untuk mata digunakan dengan cara
tetesan, dikemas dalam wadah gelas atau plastik yang memiliki penetes.
Larutan yang digunakan untuk mencuci mata umumnya dikemas
berikut dengan gelas mata harus dibersihkan dan dikeringkan baik baik
seesudah dan sebelum pemakainnya.
e. Kebutuhan bahan antimikroba
Semua larutan untuk mata harus dibuat steril jika diberikan dan bila
mungkin ditambahkan pengawet yang cocok untuk menjamin sterilitas
selama pemakaian. Larutan untuk mata yang digunakan selama operasi
atau pada mata yang terkena trauma umumnya tidak menganndung bahan
pengawet karena hal ini akan menyebabkan iritasi pada jaringan dalam
mata.
G. ABSORBSI PADA MATA

Absorpsi adalah proses pengambilan obat pada bagian permukaan


tubuh/saluran

pencernaan/bagian

lain

dalam

sistem

organ

ke

aliran

darah/pembuluh limfe.Absorpsi penting, karena berapa jumlah obat yang dapat di


absorpsi (diserap) berkaitan dengan berapa jumlah obta yang dapat di
distribusikan dan sampai ke tempat kerja.Dalam proses absorpsi obat, tidaklah
mudah, hal ini dikarenakan obat harus melewati barier absorpsi. Barier absorpsi
dapat merupakan epitelium di membran sel, dll.Mekanisme transpor absorpsi
adalah:
1. Difusi pasif. Difusi pasif adalah pergerakkan obat dari konsentrasi tinggi ke
konsentrasi rendah. Bersifat spontan, non selektif, bergantung pada
konsentarasi, proses ini akan berhenti pada saat konsentrasi yang dicapai telah
sama.
2. Difusi aktif: adalah pergerakkan zat yang melawan gradien konsentrasi
sehingga perlu energi. Karena adanya energi, maka pergerakkan obat dapat
bergerak dari keadaan konsentrasinya rendah ke konsentrasinya tinggi.
Pergerakkan ini akan berhenti jika energi telah habis.
3. Difusi terfasilitasi: pada proses ini terdapat carrier yang memfasilitasiproses
transpor. Bersifat spesifik, karena hanya zat yang cocok dengan carrier sajalah
yang dapat terbawa. Proses ini tidak tergantung dari konsentrasi dan berhenti
ketika carrier tidak ada lagi.
4. Pinositosis dan Fagositosis: jarang terjadi pada obat, umumnya terjadi pada
sistem imun.
5. Osmosis: termasuk difusi pasif (difusi pelarut).
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi absorpsi adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Sifat fisikokimia (kelarutan, polimorfisme, dll).


Ukuran partikel
Sediaan obat
Dosis
Waktu kontak obat dengan permukaan absorpsi. Misalnya pada obat diare,
peristaltik usus cepat, namun obat diabsorpsi cepat sehingga waktu kontak

obat dengan permukaan absorpsi rendah.


6. Luas permukaan absorpsi,. Misalnya pada lansia, organ banyak yang
mengalami degeneratif sehingga luas permukaan absorpsi turun.
7. Rute pemberian
8. pH absorpsi
9. Struktur membrane
10. Aliran darah

Absorpsi produk obat mata yang diberikan secara topikal dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu volume kapasitas mata yang terbatas untuk menahan bentuk
sediaan yang diberikan, laju sekresi dan laju aliran air mata, absorpsi oleh jaringan
vaskular konjungtiva, penetrasi obat-obat melintasi kornea dan sklera, laju kedipan
dan refleks tangisan yang disebabkan oleh pemberian obat. Cul-de-sac terendah
mempunyai kapasitas sekitar 7 l. Mata manusia dapat menerima sampai 3 l larutan
jika tidak berkedip. Beberapa obat tetes mata di pasaran dikemas dalam botol
poletilen atau polipropilen dengan lubang yang dapat meneteskan 20-60 l. Karena
kapasitas Cul-de-sac terbatas, maka sekitar 70-75% dari tetesan 50 l akan terbuang
karena luapan dan mengalir dari puncta lakrimal ke dalam saluran naso lakrimal.
Jikaterjadi kedipan, dapat dihitung bahwa 90 % dari volume yang diberikan dari 2
tetesan akan terbuang karena vlume sisa ditemukan 10 l.
Kelebihan cairan memasuki puncta lakrimal superior dan inferior turun
melalui kanalikuli dan kemudian masuk ke dalam lakrimal sac dan kemudian masuk
ke dalam salura gastro intestinal. Efek samping sistemik yang signifikan telah
dilaporkan terhadap pengobatan obat mata keras tertentu dengan mekanisme seperti
ini. Hal ini juga merupakan mekanisme dimana pasien kadang-kadang dapat
merasakan rasa pahit setelah pemberian obat tetes mata tertentu.
Absorpsi obat yang dangkal ke dalam konjungtiva dengan pembuangan cepat
dari jaringan okular oleh aliran darah perifer adalah mekanisme lain yang menyaingi
absorpsi obat ke dalam mata. Absorpsi obat trans kornea adalah lintasan paling efektif
untuk membawa obat ke bagian depan dari mata.
Selain faktor fisiologis yang telah diuraikan di atas, penetrasi obat ke dalam
mata juga dipengaruhi oleh karakteristik sifat fisiko kimia bahan aktif, formula dan
teknik pembuatan yang dapat mempengaruhi ketersediaan hayati bahan aktif. Dalam
beberapa literatur juga disebutkan bahwa tonisitas, peranan pH dan konsentrasi bahan
aktif dalam obat tetes mata juga mempengaruhi penetrasinya.
Tekanan osmotik air mata sama dengan tekanan 0,93% b/v NaCl dalam air.
Larutan NaCl tidak menyebabkan rasa sakit dan tidak mengiritasi mata, bila
konsentrasi NaCl terletak antara 0,7-1,4% b/v. Telah terbukti bahwa larutan hipertonis
lebih dapat diterima dibandingkan larutan hipotenis. Sehingga dalam kenyataan

biasanya bahan aktif dilarutkan dalam larutan NaCl 0,8-0,9% atau dalam pelarut lain
dengan tonisitas yang sama.

BAB III
KESIMPULAN
Mata adalah suatu struktur sferis berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan. Dari luar
ke dalam, lapisanlapisan tersebut adalah :
(1) sklera/kornea,
(2) koroid/badan siliaris/iris, dan
(3) retina.
Fungsi mata itu sendiri sebagai penerima rangsangan berkas-berkas cahaya pada retina
dengan perantaraan serabut-serabut nervus optikus, menghantarkan rangsangan ini ke
pusat penglihatan pada otak untuk ditafsirkan.
Bentuk-bentuk sediaan untuk mata :

Suspensi Obat mata


Sisipan pada mata
Salep mata

Larutan untuk mata

Absorpsi adalah proses pengambilan obat pada bagian permukaan tubuh/saluran


pencernaan/bagian lain dalam sistem organ ke aliran darah/pembuluh limfe.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi absorpsi adalah:
a. Sifat fisikokimia (kelarutan, polimorfisme, dll).
b. Ukuran partikel
c. Sediaan obat
d. Dosis
e. Waktu kontak obat dengan permukaan absorpsi. Misalnya pada obat diare, peristaltik
usus cepat, namun obat diabsorpsi cepat sehingga waktu kontak obat dengan
permukaan absorpsi rendah.
f. Luas permukaan absorpsi,. Misalnya pada lansia, organ banyak yang mengalami
degeneratif sehingga luas permukaan absorpsi turun.
g. Rute pemberian
h. pH absorpsi
i. Struktur membrane
j. Aliran darah