Anda di halaman 1dari 41

WRAP UP SKENARIO 3

BLOK GASTROINTESTINAL
PERUT KEMBUNG

KELOMPOK A 15

Ketua

: Iriyani Dani

(1102009143)

Sekertaris

: Farida citra permatasari

(1102014094)

Anggota

: Adyzka marshalivia

(1102013011)

Alvin ariano

(1102014014)

Ananda umica ressapati

(1102014022)

Chrysza ayu agustine

(1102014062)

Hamdah

(1102014117)

Hana Nabila ulfia

(1102014118)

Iwan Sumantri

(1102012134)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI

I.

Langkah 1
SKENARIO 3
PERUT KEMBUNG

Seorang pria 40 tahun, datang ke dokter dengan keluhan perut kembung disertai dengan
muntah, nyeri perut, tidak bisa buang angin dan tidak bisa buang air besar sejak 1 hari yang lalu
Pada pemeriksaan fisik terlihat distensi abdomen, pemeriksaan colok dubur didapatkan
tonus spincter ani baik, ampula kolaps, serta tidak ditemukan feces, lendir dan darah. Untuk
memastikan diagnosis dilakukan pemeriksaan radiologi foto polos abdomen dan BNO 3 posisi.
Kemudian dokter merencanakan untuk dilakukan tindakan oerasi. Pasien bersedia dilakukan
tindakan operasi karena tidak bertentangan dengan ajaran islam.

KATA SULIT
1. Ampula Kolaps

: Bagian lebar yang membatasi dinding potensi dengan rectum


kolaps akibat penimbunan udara pada ampula

2. Tonus Spincter Ani

: Kekuatan kontraksi m. sphincter ani

3. BNO 3 Posisi

: (Blash Nier Oversicht), foto didaerah abdomen untuk mengetahui


ada tidaknya sumbatan yang terdiri dari tidur telentang (supine),
setengah duduk/berdiri dan tiduran miring kekiri (LLD)

4. Distensi Abdomen

: Peningkatan tekanan rongga abdomen yang menekan


Perut dalam.

5. Colok Dubur

: Sebuah pemeriksaan internal rektal dengan memasukan jari

dinding

kedaerah anus untuk mengetahui adanya kelainan atau tidak pada


daerah disekitarnya.

6. Foto Polos Abdomen : Pemeriksaan radiologi untuk mengetahui adanya kelainan pada
rongga abdomen(saluran cerna)dimulai dari bagian atas
diagpharma sampai dengan batas bawah yaitu symphisis pubis
PERTANYAAN
1.
2.
3.
4.

Apa hubungan perut dengan tidak bisa buang angin?


Kenapa ada distensi abdomen?
Apa penyebab dari skenario ini?
Mengapa dilakukan pemeriksaan colok dubur?
2

5. Bagimana gambaran foto polos abdomen pada pasien ini?


6. Mengapa terjadi ampula kolaps?
7. Kenapa pasien tidak bisa BAB dan buang angin?
8. Mengapa dokter menganjurkan dilakukan operasi?
9. Kenapa untuk menegakkan diagnosis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi?
10. Apa diagnosis untuk pasien ini?
11. Bagaiaman hukum islam terhadap tindakan operasi?
JAWABAN
1,2,7. Karena adanya sumbatan diusus maka makanan tertahan dan erjadi penguraian
zat- zat gas makanansehigga tidak bisa buang angin dan BABtekanan
intraabdominal meningkatperut menjadi kembungdterjadi distensi abdomen
3.
Obstruksi usus bisa disebabkan karena adanya tumr, volvulus, hernia, adesi(paling
sering penyebab ostruksi
4.
Untuk mengukur kekuatan otot spincter anidan untuk meilhat ampulnya apakah
baik atau tidak
5.
Pelebaran usus dan Radiolusen(Aie fluid level)
6.
Karena Feces tertahan diusus dan feces belum sampai ampula, ampula didapatkan
kosong sehingga ampula bisa kolaps karena terisi udara
8.
Karena sudah ada obstruksi usus dan terapi suportifnya sudah tidak memadai
9.
Karena Obstruksinya ada disaluran pencernaan dan untuk meilhat letak
obstruksinya&menentukan tindakan operasi apa yg akan dilakukan
10.
Obstruksi Ileus
11.
Tergantung dari kondisi pasiennya bagaimana
-wajib : menganjam jiwa dan dapat menular keorang lain, dan tidak ada lagi
pengobatan selain dilakukan operasi
-Sunnah :tidak menganjam jiwa dan tidak dapat menularkan keorang lain tetapi
alangkah baiknya bila dilakukan operasi dapat sembuh
-Mubah : boleh dilakukan operasi walaupun tidak terlalu membutuhkan
-Makruh : memperparah setelah dilakukan operasi
HIPOTESA
Tumor, hernia, volvulus, adesi merupakan beberapa penyebab dari obstruksi usus. Hal ini
menyebabkan makanan dan zat-zat hasil dari penguraian makanan tertahan diusus. Sehingga
tekanan intraabdominal meningkat dan menimbulkan gejala perut kembung, susah buang angin,
susah BAB. Pada pemeriksaan fisik didapatkan distensi abdomen dan ampula kolaps. Untuk
memastikan diagnosis dan menentukan letak obstruksi dilakukan foto polos abdomen dan BNO 3
posisi. Pada BNO 3 posisi didapatkan pelebaran usus dan gambarana radiolusen(air fluid level).
Setelah ditegakkan diagnosis dilakukan operasi sesuai dengan syariat islam.
.

SASARAN BELAJAR
LI 1. Memahami dan menjelaskan anatomi saluran cerna bagian bawah
LO 1. Makroskopik
LO 2. Mikroskopik
LI 2. Memahami dan Menjelaskan Ileus
LO 1. Definisi
LO 2. Etiologi
LO 3. Klasifikasi
LO 4. Patofisiologi
LO 5. Menifestasi klinis
LO 6. Diagnosis & diagnosis banding
LO 7. Tatalaksana
LO 8. Pencegahan
LO 9. Komplikasi
LO 10. Prognosis
LI 3. Memahami dan menjelaskan hukum operasi dalam islam
I.

Langkah 2

II.

(Belajar Mandiri)
Langkah 3
SASARAN BELAJAR

LI 1. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN SALURAN GASTROINTESRINAL BAWAH


LO 1.1. MAKROSKOPIK
USUS HALUS
A. DUODENUM
Panjangnya 12 jari ataun 25 cm, melengkung seperti huruf C
Dibagi menjadi 3 bagian :
- Pars superior duodeni
- Pars descendens duodeni
- Pars inferior duodeni, dapat dibedakan : pars horizontalis & ascendens
Lengkung antara pars superior dan descendens duodeni disebut flaxura duodeni
superior
Lengkung antara pars descendens dan inferior duodenia disebut flexurs duodeni
inferior
Permulaan duodenum yang melebar disebut bulbus duodeni
Akhir duodenum disebut flexura duodenojejunalis
Pada duodenum akan bermuara :
4

Ductus pancreaticus accessories/minor (Santorini, tidak selalu ada) dan


letaknya lebih ke oral. Bagiannya yang menonjol disebut papilla duodeni
minor
Ductus pancreaticus major (Wirsungi) serta ductus choledochus letaknya lebih
ke anal. Bagiannya yang menonjol disebut papilla duodeni major
Papilla yang meluas ke cranial sebagai plica longitudinalis duodeni
Di dalam dinding papilla duodeni major terdapat suatu rongga disebut ampulla
yang dindingnya terdapat suatu otot yaotu m.sphincter Oddi, yang melingkar.
Bila berkontraksi dapat menutup muara bersama dutus tersebut.

www.imaios.com

B. JEJUNUM DAN ILEUM


Terletak pada region umbilikalis
2/3 proximal usus halus merupakan jejunum, 3/5 distal merupakan ileum.
Diameter jejunum cenderung lebih besar daripada ileum
Mesentrium jejunum cenderung lebih tebal daripada ileum
Ciri ileum :
- arcade lebih banyak tingkatnya,
- vasa recta lebih banyak,
- plica sirkulares lebih jarang, dan
- ukuran lebih kecil
Ciri Jejunum :
- Arcade lebih sedikit tingkatannya
- Vasa cecta lebih banyak
- Plica sirkulares lebih padat
- Ukuran lebih besar
Arteriae : berasal dari cabang A.mesentrica superior, cabang-cabangnya
membentuk anyaman yaitu arcade jejunalis dan ilei
A.ileocolica menuju bagian bawah ileum
Vena : senama dengan arterinya
5

Inervasi : simpatis dan parasimpatis berasal dari NX dari plexus mesentericus


superior

www.studyblue.com

USUS BESAR (COLON)


Dapat dibagi menjadi :

Colon ascenden: sebelah kanan, naik dari caudal ke cranial, dimulai dari caecum
(usus buntu). Pada ujung caecum bermuara bangunan kecil berupa pipa menyerupai
cacing disebut processus (appendix) vermiformis

Colon transversum: berjalan dari kanan ke kiri. menyilang abdomen di regio


umbilicalis dari flexura coli dextra sampai flexura coli sinistra. Colon transversum
membentuk lengkungan berbentuk huruf U. Pada saat colon transversum mencapai
lien akan melengkung ke bawah membentuk flexura coli sinistra untuk menjadi colon
descendens.
Colon descenden: berjalan dari cranial ke caudal, taenia libera terletak di ventra,
taenia omentalis di lateral, dan taenia mesocolica di medial. Terbentang dari flexura
coli sinistra sampai apertura pelvis superior. Colon descendens menempati kuadran
kiri atas dan bawah. Colon descendens diperdarahi oleh arteri dan vena mesenterica
inferior dan dipersarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis nervi splanchnici pelvici
melalui plexus mesenterica inferior.

Colon sigmoideum: berbentuk seperti huruf S. Mulai dari apertura pelvis superior
dan merupaka lanjutan colon descendens. Colon ini tergantung ke bawah ke dalam
cavitas pelvis dalam bentuk sebuah lengkung. Colon sigmoideum beralih ke rectum di
depan os sacrum. Diperdarahi oleh cabang dari arteri mesenterica inferior dan disarafi
oleh saraf simpatis dan parasimpatis dari plexus hypogastricus inferior.
pada kolon terdapat taenia :
- taenia mesocolica : perlekatan alat penggantung dibelakang
6

- taenia omentalis : perlekatan omentum majus di depan


- taenia libera : dinding kaudal tidak ada alat yang melekat
taenia ini, berkas stratum longitudinal karen alebih pendek dari stratum circulare,
mengakibatkan stratum circulare berlipat-lipat. Lipatan keluar disebut haustra dan
lipatan ke dalam disebut plica semilunaris
lekuk diantara haustra disebut incisura.
Pada colon ascendens, taenia libera terletak ventral , taenia omentalis terletak lateral
dan taenia mesocolica terletak medial
Colon descendens berjalan dari cranial ke caudal. Taenia libera terletak di ventral,
taenia omentalis di lateral dan taenia mesocolica di medial

CAECUM
-

Pada region ileaca dextra


Dibagian bawah terdapat juncture ileocolica tempat bermuaranya ileum
Panjang sekitar 6 meter
Dilengkapi valvula ileocolica yang terdiri dari labium superius dan inferius. Kedua
labium dibentuk oleh lipatan stratum circular eke ventral dan dorsal bersatu
membentuk frenulum.
Disebelah oral lipatan, stratum circulare menebal dan membentuk suatu sfingter yang
mengatur masuknya isi usus ke dalam colon
Terdapat appendix vermiformis, yaitu :
Bentuk seperti cacing dengan panjang 8-13cm
Ada beberapa tipe :
Post caecalis : dibelakang caecum
Descending atau pelvic type : dibewah ileum terminalis
Subcaecalis : dibawah caecum
Ante ilei : di depan ileum terminalis
Post ilei : di belakang ileum terminalis
Terletak di region iliaca dextra
Mempunyai penutup peritoneum yang lengkap pada bagian bawah mensenterium
usus halus, disebut dengan mesoappendix
Pada orang hidup dapat ditemukan 2 tipe :
Mobile type : bisa berubah-ubah dapat ditemukan semua tipe
Fixed type : tetap dapat ditemukan bila ujung appendix pada peritoneum dan
type retrocaecal

www.aboutcancer.com

RECTUM
Menempati bagian posterior cavitas pelvis superior dan merupakan lanjutan colon
sigmoideum dan berjalan ke bawah turun di depan os sacrum, meninggalkan pelvis
dengan menembus diaphragma pelvis. Melanjutkan diri sebagai canalis analis di dalam
perineum.

id.medicine.ucsf.edu
8

PERDARAHAN

ARTERI
Aorta abdominalis bercabang menjadi :
1. A.coeliaca
a. A. gastric sinistra
b. A.lienalis
c. A. hepatica communis
o A. hepatica propria
o A. gastric dextra
o A. gastroduodenalis :
A. gastroduodenalis dextra
A. pancreaticoduodenalis superior (memperdarahi duodenum superior
dan caput pancreas bagian atas)
2. A. mesenterica superior
a. A. colica media (ke cranial di sebelah ventral pancreas masuk ke dalam
mesocolon transversum 2/3 proximal menuju ke colon transversum dan
memperdarahinya
b. A. pancreaticoduodenalis inferior (memperdarahi pancreas dan duodenum)
c. A. colica dextra (member cabang-cabang ke colon ascendens)
d. Aa. Jejenalis (masuk ked alma mesenterium member cabang-cabang ke
jejunum, jumlah 12-15, setiap arteri akan membelah menjadi dua dan bersatu
dengan arteri yang berdekatan membentuk arcade, kemudia bercabang lagi dan
bersatu membentuk arcade 2,3,4)
e. A. ileocolica (pergi ke kanan caudal member cabang ke colon ascendens dan
ileum)
- Ramus superior (beranastomosis dengan A.colica dextra)
- Ramus inferior :
A. caecalis anterior
A. caecalis posterior, bercabang lagi menjadi A. appendicularis
3. A. renalis
4. A. mesenterica inferior
a. A. colica sinistra (pergi ke kiri dan member cabang-cabang ke ramus
ascendens : 1/3 distal colon transversum, flexura coli sinistra, ramus descendens
memperdarahi bagian atas colon descendens)
b. A. sigmoidea (member cabang-cabang ke colon descendens bagian bawah dan
colon sigmoideum)
c. A. hemorrhoidalis superior (rectalis superior) (memberi cabang-cabang ke
dorsal rectum dan anus)
Cabang-cabang a. colica media, a. colica dextra, aa. Jejenalis, aa.ileae, a. colica sinistra
dan a. sigmoidea berhubungan satu sama lain menjadi A.marginalis (Drummon),
sehingga terjadi lengkung-lengkung disebut arcades

VENA
9

1) V. mesenterica inferior
2) V. mesenterica superior : menerima darah balik dari :
- V. ileocolica
- Vv. Jejenalis
- Vv. Pancreaticoduodenalis (bersatu dulu dengan v. gastroepiploica dextra
ke v. mesenterica superior)
- V. gastroepiploica dextra
- Vv. Ileae
- V. colica dextra
- V. colica media
3) V. lienalis (bersatu dengan v. mesenterica superior menjadi V.portae)
PERSARAFAN
Oleh saraf otonom, yaitu :
a. Simpatis
Dikenal sepasang n.Splachnicus major dan minor dextra dan sinistra.
Melewati crus media dan intermedia pars lumbalis diafragmatica yang
berpangkal di truncus coeliacus
Serabut postganglionnya mengikuti a.mesenterica superior serta cabangcabangnya dan dari chorda posterior membentuk plexus mesentericus
superior
Plexus mesentericus inferior di bentuk oleh neurit-neurit sel-sel yang ada di
dalam ganglion mesentericum inferius serta serabut-serabut rr.Visceralis
plexus pudenda
Sifat simpatis efferent yang membawa impuls yang menyebabkan
penghambatan sekresi kelenjar, vasokonstriksi pembuluh darah, relaksasi
pada otot-otot dinding vesica felea, ventriculus dan usus.
b. Parasimpatis
N. vagus (X) sinistra
N.Vagus (X) dextra
- Menembus diafragma di belakang esophagus (chorda posterior)
- Menuju langsung ke pangkal truncus coeliacus dan plexus coeliacus
untuk menginervasi : intestinum tenue dan crassum, gaster, 2/3 colon
transversum, lien, pancreas, hepar
- 1/3 lateral colon transversum, colon desendens, colon sigmoid
diinervasi oleh sacral 2,3,4 (pusat parasimpatis)
LO 1.2. MIKROSKOPIK
Dinding usus halus dibagi kedalam empat lapisan :
1. Tunica Serosa. Tunica serosa atau lapisan peritoneum, tak lengkap di atas duodenuma,
hampir lengkap di dalam usus halus mesenterica, kekecualian pada sebagian kecil, tempat
lembaran visera dan mesenterica peritoneum bersatu pada tepi usus.
10

2. Tunica Muscularis. Dua selubung otot polos tak bergaris membentuk tunica muscularis
usus halus. Ia paling tebal di dalam duodenum dan berkurang tebalnya ke arah distal.
Lapisan luarnya stratum longitudinale dan lapisan dalamnya stratum circulare. Yang
terakhir membentuk massa dinding usus. Plexus myentericus saraf (Auerbach) dan
saluran limfe terletak diantara kedua lapisan otot.
3. Tela Submucosa. Tela submucosa terdiri dari dari jaringan ikat longgar yang terletak
diantara tunica muskularis dan lapisan tipis lamina muskularis mukosa, yang terletak di
bawah mukosa. Dalam ruangan ini berjalan jalinan pembuluh darah halus dan pembuluh
limfe. Di samping itu, di sini ditemukan neuroplexus meissner.
4. Tunica Mucosa. Tunica mucosa usus halus, kecuali pars superior duodenum, tersusun
dalam lipatan sirkular tumpang tindih yang berinterdigitasi secara transversa. Masingmasing lipatan ini ditutup dengan tonjolan, villi.
Usus halus ditandai oleh adanya tiga struktur yang sangat menambah luas permukaan dan
membantu fungsi absorpsi yang merupakan fungsi utamanya:
1. Lapisan mukosa dan submukosa membentuk lipatan-lipatan sirkular yang dinamakan valvula
koniventes (lipatan kerckringi) yang menonjol ke dalam lumen sekitar 3 ampai 10 mm. Lipatanlipatan ini nyata pada duodenum dan jejenum dan menghilang dekat pertengahan ileum. Adanya
lipatan-lipatan ini menyerupai bulu pada radiogram.
2. Vili merupakan tonjolan-tonjolan seperti jari-jari dari mukosa yang jumlahnya sekitar 4 atau 5
juta dan terdapat di sepanjang usus halus. Villi panjangnya 0,5 sampai 1 mm (dapat dilihat
dengan mata telanjang) dan menyebabkan gambaran mukosa menyerupai beludru.
3. Mikrovili merupakan tonjolan menyerupai jari-jari dengan panjang sekitar 1 pada permukaan
luar setiap villus. Mikrovilli terlihat dengan mikroskop elektron dan tampak sebagai brush
border pada mikroskop cahaya.
Usus besar memiliki empat lapisan morfologik seperti juga bagian usus lainnya. Akan tetapi,
ada beberapa gambaran yang khas pada usus besar saja. Lapisan otot longitudinal usus besar
tidak sempurna, tetapi terkumpul dalam tiga pita yang dinamakan taenia koli. Taenia bersatu
pada sigmoid distal, dengan demikian rektum mempunyai satu lapisan otot longitudinal yang
lengkap. Panjang taenia lebih pendek daripada usus, hal ini menyebabkan usus tertarik dan
berkerut membentuk kantong-kantong kecil peritoneum yang berisi lemak dan melekat di
sepanjang taenia. Lapisan mukosa usus besar jauh lebih tebal daripada lapisan mukosa usus
halus dan tidak mengandung villi atau rugae. Kriptus lieberkn (kelenjar intestinal) terletak
lebih dalam dan mempunyai lebih banyak sel goblet daripada usus halus

USUS HALUS
DUODENUM

Usus 12 jari, panjang 25 cm


Epitel berlapis sel silindris dengan mikrovili membentuk striated borders
Kel Brunner nyata, didalam sub mukosa
11

Di lamina propria mengandung kelenjar intestinal


Lamina propria juga mengandung serat serat jaringan ikat halus dengan sel
retikulum, jaringan limfoid difus dan atau limfonoduli
Banyak tonjolan mirip jari yang disebut vili

Serosa tak sempurna, sebagian diganti adventisia


Tempat bermuara duktus empedu dan pankreas

JEJENUM-ILEUM

Tidak ada kelenjar duodenal ( brunner ) yang hanya terbatas pada bagian atas
duodenum
Dibagian akhir ileum terdapat kumpulan plaque peyeri dengan interval tertentu
Didalam lumen terdapat vilus
Epitel berlapis silindris dengan mikrovili dan sel goblet
Tampak sebuah limfonodulus meluas dari lamina propria mukosa ke dalam
submukosa , menerobos mukosa muskularis disekitarnya
Villi jari paling besar
Central lacteal berkembang sempurna, absorbsi maksimal
Sel sel ganglion parasimpatis pleksus mienterikus terlihat didalam jaringan ikat
diantara lapisan otot polos sirkular (dalam) dan longitudinal (luar) muskularis
eksterna
Di ileum terdapat sel khusus yang berfungsi untuk transport antigen dari lumen
usus ke lapisan bawah folikel limfoid, disebut Epitel asosiasi folikel (FAE)

USUS BESAR (KOLON DAN MESENTRIUM)

12

Kolon memiliki lapisan epitel,jaringan ikat, dan otot polos pada dindingnya seoerti pada usus
halus
Di mukosa terdiri atas sel epitel selapis silindris, kelenjar intestinal , lamina propria dan
muskularis mukosa.
Di submukosa dibawahnya mengandung sel dan jaringan ikat berbagai pembuluh darah dan
saraf
Tampak kedua lapisan otot polos di muskularis eksterna.
Serosa (peritoneum viseral dan mesentrium menutupi daerah kolon transversum dan kolon
sigmoid.
Kolon tidak memiliki plika sirkularis dan vili, akibatnya permukaan lumen tampak licin.
Didalam lamina propria dan submukosa dinding kolon dapat dijumpai limfonduli berbagai
ukuran.
Lapisan sirkular dalam utuh , sedangkan lapisan longitudinal luar terbagi dalam tiga untaian
besar memanjang yang disebut taenia koli
Sel ganglion parasimpatis pleksus saraf mientericus (auerbach) terdapat diantara kedua lapisan
otot muskularis eksterna
Kolon transversum dan kolon sigmoid melekat ke tubuh oleh mesentrium
Serosa merupakan bagian terluar , menutupi kolon transversum dan kolon sigmoid , tetapi kolon
ascendens dan descendens letaknya retroperitoneal dan lapisal luar permukaan posteriornya
adalah tunika adventitia

APPENDIKS
Epitel berlapis dengan banyak sel goblet
Lamina propria dibawahnya mengandung kelenjar intestinal (kripti lieberkuhn) dan mukosa
muskularis
Kelenjar intestinal pada appendiks kurang berkembang , lebih pendek dan berjauhan letaknya
Jaringan limfoid difus didalam lamina propria sangat banyak dan sering terlihat sampai ke
submukosa
13

Submukosa sangat vaskuler dan banyak pembuluh darah


Sel sel ganglion parasimpatis pleksus mienterikus terlihat didalam jaringan ikat diantara lapisan
otot polos sirkular (dalam) dan longitudinal (luar) muskularis eksterna
Lapisan terluar adalah serosa

REKTUM
Epitel permukaan lumen dilapisi sel sel silindris dengan sel goblet
Kelenjar intestinal , sel lemak dan sebaran limfonoduli didalam lamina propria serupa dengan
yang ada di kolon, namun kelenjar yang ada lebih panjang dan rapat dan terutama terdiri atas sel
goblet
Dibawah lamina propria terdapat mukosa muskularis otot polos
Sel sel ganglion parasimpatis pleksus mienterikus terlihat didalam jaringan ikat diantara lapisan
otot polos sirkular (dalam) dan longitudinal (luar) muskularis eksterna
Tunika adventitia menutupi bagian rektum dan serosa menutupi sisanya. Banyak pembuluh darah
terlihat di submukosa dan adventitia

ANAL CANAL

Mukosa berganti dengan kulit.


14

Tunika mukosa membentuk 5-10 lipatan longitudinal (columna analis Morgagni)


Columna Morgagni terbentuk dari lipatan mukosa, sub mukosa dan beberapa serat otot
polos

Ujung distal columna analis dihubungkan oleh lipatan mukosa berbentuk bulan sabit
kecil, valvula analis.

Valvula analis membentuk sejumlah resesus kecil disebut sinus analis atau Kriptus
Morgagni.

Valvula dan sinus analis membentuk garis bergelombang linea pectinata

Lapisan otot sirkular muskularis eksterna bertambah tebal di bagian atas liang anus dan
membentuk sfingter ani interna.

Dibagian bawah liang anus sfingter ani diganti oleh otot rangka yaitu sfingter ani
eksterna.

Diluar sfingter ini terdapat muskulus levator ani. Lapisan longitudinal muskularis
eksterna menipis dan hilang di jaringan ikat sfingter ani eksterna.

LI.2. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ILEUS


LO.2.1. Definisi
Ileus adalah gangguan pasase isi usus yang merupakan tanda adanya obstruksi usus
akut yang segera memerlukan pertolongan atau tindakan. Gangguan pasase usus dapat
disebabkan oleh obstruksi lumen usus yang disebut ileus mekanik atau oleh gangguan
peristaltik disebut sebagai ileus paralitik.
Ileus mekanik/ileus obstruktif adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus di mana
merupakan penyumbatan yang sama sekali menutup atau menganggu jalannya isi usus, yaitu
oleh karena kelainan dalam lumen usus, dinding usus atau luar usus yang menekan. Hambatan
pada jalan isi usus akan menyebabkan isi usus terhalang dan tertimbun di bagian proksimal
dari sumbatan, sehingga pada daerah proksimal tersebut akan terjadi distensi atau dilatasi
usus. Dapat terjadi pada usus halus maupun usus besar.
Ileus paralitik disebut juga adinamik ileus, adalah keadaan dimana usus gagal atau
tidak mampu melakukan kontraksi peristaltik untuk menyalurkan isinya.

15

LO.2.2. Etiologi
1. Adhesi (perlekatan usus halus)
merupakan penyebab tersering ileus obstruktif, sekitar 50-70% dari semua kasus.
Adhesi bisa disebabkan oleh riwayat operasi intraabdominal sebelumnya atau proses
inflamasi intraabdominal. Obstruksi yang disebabkan oleh adhesi berkembang sekitar
5% dari pasien yang mengalami operasi abdomen dalam hidupnya. Perlengketan
kongenital juga dapat menimbulkan ileus obstruktif di dalam masa anak-anak.
2. Hernia inkarserata eksternal (inguinal, femoral, umbilikal, insisional, atau parastomal)
merupakan yang terbanyak kedua sebagai penyebab ileus obstruktif , dan
merupakan penyebab tersering pada pasien yang tidak mempunyai riwayat operasi
abdomen. Hernia interna (paraduodenal, kecacatan mesentericus, dan hernia foramen
Winslow) juga bisa menyebabkan hernia.
3. Neoplasma. Tumor primer usus halus
dapat menyebabkan obstruksi intralumen, sedangkan tumor metastase atau tumor
intraabdominal dapat menyebabkan obstruksi melalui kompresi eksternal.
4. Intususepsi usus halus
menimbulkan obstruksi dan iskhemia terhadap bagian usus yang mengalami
intususepsi. Tumor, polip, atau pembesaran limphanodus mesentericus dapat sebagai
petunjuk awal adanya intususepsi.

Intususepsi

5. Penyakit Crohn
dapat menyebabkan obstruksi sekunder sampai inflamasi akut selama masa
infeksi atau karena striktur yang kronik.
6. Volvulus
sering disebabkan oleh adhesi atau kelainan kongenital, seperti malrotasi usus.
Volvulus lebih sering sebagai penyebab obstruksi usus besar.

16

Volvulus

7. Batu empedu yang masuk ke ileus.


Inflamasi yang berat dari kantong empedu menyebabkan fistul dari saluran
empedu ke duodenum atau usus halus yang menyebabkan batu empedu masuk ke
traktus gastrointestinal. Batu empedu yang besar dapat terjepit di usus halus,
umumnya pada bagian ileum terminal atau katup ileocaecal yang menyebabkan
obstruksi.
8. Striktur yang sekunder yang berhubungan dengan iskhemia, inflamasi, terapi radiasi,
atau trauma operasi.
9. Penekanan eksternal oleh tumor, abses, hematoma, intususepsi, atau penumpukan
cairan.
10. Benda asing, seperti bezoar.
11. Divertikulum Meckel, bisa menyebabkan volvulus, intususepsi, atau hernia Littre.
12. Fibrosis kistik
dapat menyebabkan obstruksi parsial kronik pada ileum distalis dan kolon kanan
sebagai akibat adanya benda seperti mekonium.
Tabel 1. Penyebab ileus obstruktif (Ansari, 2007)
Lokasi

Penyebab

17

Kolon

Tumor (umumnya dikolon kiri), diverticulitis


umumnya dikolon sigmoid, volvulus di
sigmoid atau sekum, fekalt, penyakit
Hirschprung.

Duodenum
Dewasa

Kanker di duodenum atau kanker kepala


pancreas, ulkus.
Atresia, volvulus, adhesi.

Neonatus
Jejunum dan ileum Dewasa
Neonatus

Hernia, adhesi (paling sering), tumor, benda


asing divertikulum Meckel, penyakit Crohn
(Jarang) askariasis, volvulus, intususepsi
karena tumor (Jarang).
Ileus mekonium, volvulus, atresia,
intususepsi.

Faktor Predisposisi
Penyakit ini merupakan penyakit bawaan yang disebabakan disfungsi
umum kelenjar eksokrin pancreas. Keadaan ini menyebabakan berkurangnya
enzim pancreas yang mengalir ke lumen usus halus sehingga issi usus halus
menjadi kental dan menyumbat lumen usus. Gambaran radiologist yang
ditemukan ialah pelebaran usus dan tampak bayangan udra yang granular diantara
mekonium yang kental tersebut.
LO.2.3. Klasifikasi
1. ILEUS MEKANIK
Suatu penyebab fisik menyumbat usus dan tidak dapat diatasi oleh peristaltik. Ileus
obstruktif ini dapat akut seperti pada hernia stragulata atau kronis akibat karsinoma
yang melingkari. Misalnya intusepsi, tumor polipoid dan neoplasma stenosis,
obstruksi batu empedu, striktura, perlengketan, hernia dan abses.
a.

Berdasarkan Lokasi Obstruksi

Letak Tinggi : Bila mengenai usus halus (dari gaster sampai ke ileum
terminal)

Letak Rendah : Bila mengenai usus besar (dari ileum terminal sampai
anus)

18

b.

Berdasarkan sifat sumbatan :

Partial obstruction : Terjadi sumbatan sebagian lumen.

Simple obstruction : terjadi sumbatan total yang tidak disertai


terjepitnya pembuluh darah. Biasanya terjadi pada obstruksi usus yang
disebabkan oleh tumor atau askaris.

Strangulated obstruction: Terjadi jepitan pembuluh darah sehingga


terjadi iskemia yang akan berakhir dengan nekrosis atau gangren yang
ditandai dengan gejala umum berat yang disebabkan oleh toksin dari
jaringan gangren. Biasanya terjadi pada obstruksi usus yang
disebabkan oleh hernia, invaginasi, adhesi, dan volvulus.

c. Berdasarkan kecepatan timbul (speed of onset):

Akut : dalam hitungan jam

Kronik : dalam hitungan minggu

Kronik dengan serangan akut

d. Menurut etiologinya, maka ileus obstruktif dibagi menjadi 3 :


Lesi ekstrinsik (ekstraluminal) yaitu yang disebabkan oleh adhesi
(postoperative), hernia (inguinal, femoral, umbilical), neoplasma
(karsinoma), dan abses intraabdominal.
Lesi intrinsik yaitu di dalam dinding usus, biasanya terjadi karena
kelainan kongenital (malrotasi), inflamasi (Chrons disease,
diverticulitis), neoplasma, traumatik, dan intususepsi.
Obstruksi menutup (intaluminal) yaitu penyebabnya dapat berada di
dalam usus, misalnya benda asing, batu empedu
e. Untuk keperluan klinis, ileus obstruktif dibagi dua (Stone, 2004):
Ileus obstruktif usus halus, termasuk duodenum
Ileus obstruktif usus besar

2. ILEUS NEUROGENIK/FUNGSINONAL
Obstruksi yang terjadi karena suplai saraf ototnom mengalami paralisis dan
peristaltik usus terhenti sehingga tidak mampu mendorong isi sepanjang usus.
Contohnya amiloidosis, distropi otot, gangguan endokrin seperti diabetes mellitus,
atau gangguan neurologis seperti penyakit Parkinson.
19

a. Adinamik/Ileus Paralitik : Ileus timbul karena adanya lesi saraf (terjepit,


peritonitis umum) sehingga terjadi paralisis yang berakibat ileus paralitik. 1
b. Dinamik/Ileus Spastika : Ileus terjadi karena rangsangan saraf, keracunan,
histeri, neurasteni, sehingga timbul kenaikan rangsang terlalu kuat saraf
parasimpatik di tunika muskularis yang berkontraksi bersamaan dimana
normalnya bergantian yang berakibat spasme dan makanan tidak bisa menuju
distal.

3. ILEUS VASCULAR
Ileus yang berhubungan dengan penyakit jantung, karena adanya
thrombus/embolus pada pembuluh darah sehingga timbul iskemik, gangren,
nekrosis, bisa juga perforasi.
LO.2.4. Patofisiologi
Usus di bagian distal kolaps akibat tidak adanya kimus yang sampai, sementara
bagian proksimal berdilatasi. Usus yang berdilatasi menyebabkan penumpukan cairan
dan gas, distensi yang menyeluruh menyebabkan pembuluh darah tertekan sehingga
suplai darah berkurang (iskemik), dapat terjadi perforasi. Distensi juga mengakibatkan
penekanan syaraf , sehingga menimbulkan rasa nyeri pada pasien. Dilatasi dan distensi
usus oleh karena obstruksi menyebabkan perubahan ekologi, kuman tumbuh
berlebihan sehingga potensial untuk terjadi translokasi kuman. Gangguan vaskularisasi
menyebabkan mortalitas yang tinggi, air dan elektrolit dapat lolos dari tubuh karena
muntah. Dapat terjadi syok hipovolemik, absorbsi dari toksin pada usus yang
mengalami strangulasi.
Dinding usus halus kuat dan tebal, karena itu tidak timbul distensi berlebihan
atau ruptur. Dinding usus besar tipis, sehingga mudah distensi. Dinding sekum
merupakan bagian kolon yang paling tipis, karena itu dapat terjadi ruptur bila terlalu
tegang. Gejala dan tanda obstruksi usus halus atau usus besar tergantung kompetensi
valvula Bauhini. Bila terjadi insufisiensi katup, timbul refluks dari kolon ke ileum
terminal sehingga ileum turut membesar. Pengaruh obstruksi kolon tidak sehebat
pengaruh pada obstruksi usus halus karena pada obstruksi kolon, kecuali pada
volvulus, hampir tidak pernah terjadi strangulasi. Kolon merupakan alat penyimpanan
feses sehingga secara relatif fungsi kolon sebagai alat penyerap sedikit sekali. Oleh
karena itu kehilangan cairan dan elektrolit berjalan lambat pada obstruksi kolon distal.

20

LO 2.5 MANIFESTASI KLINIS


Terdapat 4 tanda kardinal gejala ileus obstruktif (Winslet, 2002)
1. Nyeri abdomen
2. Muntah
3. Distensi
4. Kegagalan buang air besar atau gas(konstipasi).
Gejala ileus obstruktif tersebut bervariasi tergantung kepada (Winslet, 2002):
1. Lokasi obstruksi
2. Lamanya obstruksi
3. Penyebabnya
4. Ada atau tidaknya iskemia usus
1. Obstruksi sederhana
Obstruksi usus halus merupakan obstruksi saluran cerna tinggi, artinya
disertai dengan pengeluaran banyak cairan dan elektrolit baik di dalam lumen
usus bagian oral dari obstruksi, maupun oleh muntah. Gejala penyumbatan
usus meliputi nyeri kram pada perut, disertai kembung. Pada obstruksi usus
halus proksimal akan timbul gejala muntah yang banyak, yang jarang menjadi
muntah fekal walaupun obstruksi berlangsung lama. Nyeri bisa berat dan
menetap. Nyeri abdomen sering dirasakan sebagai perasaan tidak enak di
perut bagian atas. Semakin distal sumbatan, maka muntah yang dihasilkan
semakin fekulen.
Tanda vital normal pada tahap awal, namun akan berlanjut dengan
dehidrasi akibat kehilangan cairan dan elektrolit. Suhu tubuh bisa normal
sampai demam. Distensi abdomen dapat dapat minimal atau tidak ada pada
21

obstruksi proksimal dan semakin jelas pada sumbatan di daerah distal. Bising
usus yang meningkat dan metallic sound dapat didengar sesuai dengan
timbulnya nyeri pada obstruksi di daerah distal.10
2. Obstruksi disertai proses strangulasi
Gejalanya seperti obstruksi sederhana tetapi lebih nyata dan disertai
dengan nyeri hebat. Hal yang perlu diperhatikan adalah adanya skar bekas
operasi atau hernia. Bila dijumpai tanda-tanda strangulasi berupa nyeri
iskemik dimana nyeri yang sangat hebat, menetap dan tidak menyurut, maka
dilakukan tindakan operasi segera untuk mencegah terjadinya nekrosis usus.
Obstruksi mekanis di kolon timbul perlahan-lahan dengan nyeri akibat
sumbatan biasanya terasa di epigastrium. Nyeri yang hebat dan terus menerus
menunjukkan adanya iskemia atau peritonitis. Borborygmus dapat keras dan
timbul sesuai dengan nyeri. Konstipasi atau obstipasi adalah gambaran umum
obstruksi komplit. Muntah lebih sering terjadi pada penyumbatan usus besar.
Muntah timbul kemudian dan tidak terjadi bila katup ileosekal mampu
mencegah refluks. Bila akibat refluks isi kolon terdorong ke dalam usus halus,
akan tampak gangguan pada usus halus. Muntah fekal akan terjadi kemudian.
Pada keadaan valvula Bauchini yang paten, terjadi distensi hebat dan sering
mengakibatkan perforasi sekum karena tekanannya paling tinggi dan
dindingnya yang lebih tipis. Pada pemeriksaan fisis akan menunjukkan
distensi abdomen dan timpani, gerakan usus akan tampak pada pasien yang
kurus, dan akan terdengar metallic sound pada auskultasi. Nyeri yang
terlokasi, dan terabanya massa menunjukkan adanya strangulasi.

3. Obstruksi pada kolon


Obstruksi mekanis di kolon timbul perlahan-lahan dengan nyeri akibat
sumbatan biasanya terasa di epigastrium. Nyeri yang hebat dan terus menerus
menunjukkan adanya iskemia atau peritonitis. Borborygmus dapat keras dan
22

timbul sesuai dengan nyeri. Konstipasi atau obstipasi adalah gambaran umum
obstruksi komplit. Muntah lebih sering terjadi pada penyumbatan usus besar.
Muntah timbul kemudian dan tidak terjadi bila katup ileosekal mampu
mencegah refluks. Bila akibat refluks isi kolon terdorong ke dalam usus halus,
akan tampak gangguan pada usus halus. Muntah fekal akan terjadi kemudian.
Pada keadaan valvula Bauchini yang paten, terjadi distensi hebat dan sering
mengakibatkan perforasi sekum karena tekanannya paling tinggi dan
dindingnya yang lebih tipis. Pada pemeriksaan fisis akan menunjukkan
distensi abdomen dan timpani, gerakan usus akan tampak pada pasien yang
kurus, dan akan terdengar metallic sound pada auskultasi. Nyeri yang
terlokasi, dan terabanya massa menunjukkan adanya strangulasi

Manifestasi yang lain :


a. Tanda cardinal gejala ileus obstruktif :
nyeri abdomen, muntah, distensi, konstipasi
b. Manifestasi pada obstruksi sederhana :
-

nyeri kram akibat gerak peristaltic meningkat

kembung atau distensi

muntah yang banyak, cairan hijau/ kuning pada usus halus

jika muntah kental dan bau busuk, obstruksi usus besar

dehidrasi

c. obstruksi disertai strangulasi :


-

adanya sicar bekas operasi atau hernia, nyeri iskemik, distensi


abdomen, nyeri abdomen menetap.

d. Mekanisme nyeri abdomen :


-

Usus halus : muncul tiap 4-5 menit, lokasi supraumbilikus

Usus besar : 15-20 menit, lokasi intraumbilikus

e. Muntah :
-

Usus halus : warna hijau atau kuning, timbul muntah cepat

Usus besar : berbau busuk dan kental, timbul muntah lambat

f. Distensi :

23

Usus halus : < usus besar

Usus besar : > usus halus

g. Konstipasi : absolut, relative (hanya gas yang bias keluar)


h. Dehidrasi :
-

usus halus : cepat

usus besar : lambat

Macam
ileus

Nyeri Usus

Distens Muntah
i
borborig
mi

Bising usus

Keteganga
n abdomen

Obstruksi
simple
tinggi

++
(kolik)

+++

Meningkat

Obstruksi
simple
rendah

+++
(Kolik)

+++

+
Lambat,
fekal

Meningkat

Obstruksi
strangulasi

++++
(terusmenerus,
terlokalisir)

++

+++

Tak tentu
biasanya
meningkat

Paralitik

++++

Menurun

Oklusi
vaskuler

+++++

+++

+++

Menurun

LO 2.6 DIAGNOSIS DAN DIAGNOSIS BANDING


DIAGNOSIS
Anamnesis
Gejala Utama:
Nyeri-Kolik
24

Obstruksi usus halus : kolik dirasakan disekitar umbilicus


Obstruksi kolon : kolik dirasakan disekitar suprapubik
Muntah
Stenosis Pilorus : Encer dan asam
Obstruksi usus halus : Berwarna kehijauan
Obstruksi kolon : onset muntah lama.
Perut Kembung (distensi)
Konstipasi
Tidak ada defekasi
Tidak ada flatus

Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
Dapat ditemukan tanda-tanda generalisata dehidrasi, yang
mencakup kehilangan turgor kulit maupun mulut dan lidah kering.
Pada abdomen harus dilihat adanya distensi, parut abdomen, hernia dan
massa abdomen. Terkadang dapat dilihat gerakan peristaltik usus yang
bisa bekorelasi dengan mulainya nyeri kolik yang disertai mual dan
muntah. Penderita tampak gelisah dan menggeliat sewaktu serangan
kolik
2. Palpasi
Palpasi didapatkan distensi abdomen dan perkusi didapatkan
hipertimpani. Pada palpasi bertujuan mencari adanya tanda iritasi
peritoneum apapun atau nyeri tekan, yang mencakup defance
musculair involunter atau rebound dan pembengkakan atau massa
yang abnormal (Sabara, 2007).
3. Auskultasi
Pada ileus obstruktif pada auskultasi terdengar kehadiran
episodik gemerincing logam bernada tinggi dan gelora (rush) diantara
masa tenang. Tetapi setelah beberapa hari dalam perjalanan penyakit dan
usus di atas telah berdilatasi, maka aktivitas peristaltik (sehingga juga
bising usus) bisa tidak ada atau menurun parah. Tidak adanya nyeri
usus bisa juga ditemukan dalam ileus paralitikus atau ileus obstruksi
strangulate. Pada ileus paralitikus tidak didapatkan gerak peristaltic usus.
4. Rectal Touche
- Isi rektum menyemprot : Hirschprung disease
- Adanya darah dapat menyokong adanya strangulasi, neoplasma
- Feses yang mengeras : skibala
- Feses negatif : obstruksi usus letak tinggi
25

- Ampula rekti kolaps : curiga obstruksi


- Nyeri tekan : lokal atau general peritonitis
Pemeriksaan Penunjang
1. Radiologi
a. BNO/Foto Polos Abdomen
Temuan spesifik untuk obstruksi usus halus ialah dilatasi usus
halus ( diameter > 3 cm ), adanya air-fluid level pada posisi foto
abdomen tegak, dan kurangnya gambaran udara di kolon. Sensitifitas
foto abdomen untuk mendeteksi adanya obstruksi usus halus
mencapai 70-80% namun spesifisitasnya rendah. Pada foto abdomen
dapat ditemukan beberapa gambaran, antara lain:
1

Distensi usus bagian proksimal obstruksi

Kolaps pada usus bagian distal obstruksi

Posisi tegak atau dekubitus: Air-fluid levels

Posisi supine dapat ditemukan :


a

distensi usus

step-ladder sign

String of pearls sign, gambaran beberapa kantung gas kecil


yang berderet

Coffee-bean sign, gambaran gelung usus yang distensi dan


terisi udara dan gelung usus yang berbentuk U yang
dibedakan dari dinding usus yang oedem.

Pseudotumor Sign, gelung usus terisi oleh cairan


(Moses, 2008)

Ileus paralitik dan obstruksi kolon dapat memberikan gambaran serupa


dengan obstruksi usus halus. Temuan negatif palsu dapat ditemukan pada
pemeriksaan radiologis ketika letak obstruksi berada di proksimal usus halus dan
ketika lumen usus dipenuhi oleh cairan saja dengan tidak ada udara. Dengan
demikian menghalangi tampaknya air-fluid level atau distensi usus. Keadaan
selanjutnya berhubungan dengan obstruksi gelung tertutup. Meskipun terdapat
kekurangan tersebut, foto abdomen tetap merupakan pemeriksaan yang penting
pada pasien dengan obstruksi usus halus karena kegunaannya yang luas namun
memakan biaya yang sedikit.
26

Perbedaan Radiologi obstruksi intestinal dan ileus


Temuan Radiologis

Osbtruksi Mekanik

Ileus

Air-fluid Level

Present proximal to
obstruction

Prominent throughout

Gas in small intestine

Large bowel shape loops;


stepladder pattern

Gas present diffusely;


moveable

gas ini colon

Absent or diminished

Increase throughout

Thickened bowel wall

Present if chronic or
strangulation

Present with inflamation

Intraabdominal fluid

Rare

Often present

Diapraghm

Slightly elevated; normal


motion

Elevated; decrease motion

Gastrointestinal contrast
media

Rapid progression to point of


obstruction

Slow progression to colon

27

Dilatasi usus (Nobie, 2009)

Multipel air fluid level danstring of pearls sign (Nobie, 2009)

Herring bone appearance


2009)

Coffee bean appearance

Step ledder sign (Nobie,

b. Enteroclysis
Enteroclysis berfungsi untuk mendeteksi adanya obstruksi dan juga
untuk membedakan obstruksi parsial dan total. Cara ini berguna jika pada
foto polos abdomen memperlihatkan gambaran normal namun dengan
klinis menunjukkan adanya obstruksi atau jika penemuan foto polos
abdomen tidak spesifik. Pada pemeriksaan ini juga dapat membedakan
adhesi oleh karena metastase, tumor rekuren dan kerusakan akibat radiasi.
Enteroclysis memberikan nilai prediksi negative yang tinggi dan dapat
dilakukan dengan dua kontras. Barium merupakan kontras yang sering
digunakan. Barium sangat berguna dan aman untuk mendiagnosa obstruksi
dimana tidak terjadi iskemia usus maupun perforasi. Namun, penggunaan
28

barium berhubungan dengan terjadinya peritonitis dan penggunaannya


harus dihindari bila dicurigai terjadi perforasi. (Nobie, 2009)

c. CT-Scan
CT-Scan berfungsi untuk menentukan diagnosa dini atau obstruksi
strangulate dan menyingkirkan penyebab akut abdomen lain terutama jika
klinis dan temuan radiologis lain tidak jelas. CT-scan juga dapat
membedakan penyebab obstruksi intestinal, seperti adhesi, hernia karena
penyebab ekstrinsik dari neoplasma dan penyakit Chron karena penyebab
intrinsik. Obstruksi ditandai dengan diametes usus halus sekitar 2,5 cm
pada bagian proksimal menjadi bagian yang kolaps dengan diameter sekitar
1 cm. (Nobie, 2009)
Tingkat sensitifitas CT scan sekitar 80-90% sedangkan tingkat
spesifisitasnya sekitar 70-905 untuk mendeteksi adanya obstruksi intestinal.
Temuan berupa zona transisi dengan dilatasi usus proksimal, dekompresi
usus bagian distal, kontras intralumen yang tak dapat melewati bagian
obstruksi dan kolon yang mengandung sedikit cairan dan gas. CT scan juga
dapat memberikan gambaran adanya strangulasi dan obstruksi gelung
tertutup. Obstruksi Gelung tertutup diketahui melalui gambaran dilatasi
bentuk U atau bentuk C akibat distribusi radial vasa mesenteric yang
berpusat pada tempat puntiran. Strangulasi ditandai dengan penebalan
dinding usus, intestinal pneumatosis (udara didinding usus), gas pada vena
portal dan kurangnya uptake kontras intravena ke dalam dinding dari bowel
yang affected. CT scan juga digunakan untuk evaluasi menyeluruh dari
abdomen dan pada akhirnya mengetahui etiologi dari obstruksi.
Keterbatasan CT scan ini terletak pada tingkat sensitivitasnya yang
rendah (<50%) untuk mendeteksi grade ringan atau obstruksi usus halus
parsial. Zona transisi yang tipis akan sulit untuk diidentifikasi. (Nobie,
2009)

29

Ileus Obstruktif akibat tumor mesenterium

Ileus Obstruksi Akibat Intususepsi : tampak


distensi usus halus yang tidak diikuti dengan
distensi kolon (Vriesman dan Robin, 2005)

d. CT enterography (CT enteroclysis)


Pemeriksaan ini menggantikan enteroclysis pada penggunaan klinis.
Pemeriksaan ini merupakan pilihan pada ileus obstruksi intermiten atau pada
pasien dengan riwayat komplikasi pembedahan (seperti tumor, operasi besar).
Pada pemeriksaan ini memperlihatkan seluruh penebalan dinding usus dan dapat
dilakukan evaluasi pada mesenterium dan lemak perinerfon. Pemeriksaan ini
menggunakan teknologi CT-scan dan disertai dengan penggunaan kontras dalam
jumlah besar. CT enteroclysis lebih akurat disbanding dengan pemeriksaan CT
biasa dalam menentukan penyebab obstruksi (89% vs 50%), dan juga lokasi
obstruksi (100% vs 94%).(Nobie, 2009)

e. MRI
Keakuratan MRI hampir sama dengan CT-scan dalam mendeteksi adanya
obstruksi. MRI juga efektif untuk menentukan lokasi dan etiologi dari obstruksi.
Namun, MRI memiliki keterbatasan antara lain kurang terjangkau dalam hal
transport pasien dan kurang dapat menggambarkan massa dan inflamasi. (Nobie,
2009)

f. USG
Ultrasonografi dapat menberikan gambaran dan penyebab dari obstruksi
dengan melihat pergerakan dari usus halus. Pada pasien dengan ilues obtruksi,
USG dapat dengan jelas memperlihatkan usus yang distensi. USG dapat dengan
akurat menunjukkan lokasi dari usus yang distensi. Tidak seperti teknik radiologi
yang lain, USG dapat memperlihatkan peristaltic, hal ini dapat membantu
membedakan obstruksi mekanik dari ileus paralitik. Pemeriksaan USG lebih
murah dan mudah jika dibandingkan dengan CT-scan, dan spesifitasnya
dilaporkan mencapai 100%. (Nobie, 2009)

30

USG Abdomen tumor dinding epigastrium

USG Longitudinal dari abdomen bagian


bawah menunjukkan distensi multiple dari
usus halus akibat invaginasi (Hagen-Ansert,
2010)

2. Laboratorium
Leukositosis, dengan pergeseran ke kiri, biasanya terjadi bila terdapat
strangulasi, tetapi hitung darah putih yang normal tidak menyampingkan
strangulasi. Peningkatan amilase serum kadang-kadang ditemukan pada semua
bentuk ileus obstruktif, khususnya jenis strangulasi.
DIAGNOSIS BANDING

Carcinoid gastrointestinal.
Penyakit Crohn.
Intussuscepsi pada anak.
Divertikulum Meckel.
Ileus meconium.
Volvulus.
Infark Myocardial Akut.
Malignansi, Tumor Ovarium.
TBC Usus.

2.7. Tatalaksana
Pasien dengan obstruksi intestinal biasanya mengalami dehidrasi dan kekurangan
Natrium, Khlorida dan Kalium yang membutuhkan penggantian cairan intravena dengan
cairan salin isotonic seperti Ringer Laktat. Urin harus di monitor dengan pemasangan Foley
31

Kateter. Setelah urin adekuat, KCl harus ditambahkan pada cairan intravena bila
diperlukan. Pemeriksaan elektrolit serial, seperti halnya hematokrit dan leukosit, dilakukan
untuk menilai kekurangan cairan. Antibiotik spektrum luas diberikan untuk profilaksis atas
dasar temuan adanya translokasi bakteri pada ostruksi intestinal. (Evers, 2004)
Dekompresi
Pada pemberian resusitasi cairan intravena, hal lain yang juga penting untuk
dilakukan ialah pemasangan nasogastric tube. Pemasangan tube ini bertujuan untuk
mengosongkan lambung, mengurangi resiko terjadinya aspirasi pulmonal karena muntah
dan meminimalkan terjadinya distensi abdomen. Pasien dengan obstruksi parsial dapat
diterapi secara konservatif dengan resusitasi dan dekompresi saja. Penyembuhan gejala
tanpa terapi operatif dilaporkan sebesar 60 85% pada obstruksi parsial. (Evers, 2004)
Terapi Operatif
Secara umum, pasien dengan obstruksi intestinal komplit membutuhkan terapi
operatif. Pendekatan non operatif pada beberapa pasien dengan obstruksi intestinal
komplit telah diusulkan, dengan alasan bahwa pemasangan tube intubasi yang lama tak
akan menimbulkan masalah yang didukung oleh tidak adanya tanda-tanda demam,
takikardia, nyeri tekan atau leukositosis. Namun harus disadari bahwa terapi non operatif
ini dilakulkan dengan berbagai resikonya seperti resiko terjadinya strangulasi pada daerah
obstruksi dan penundaan terapi pada strangulasi hingga setelah terjadinya injury akan
menyebabkan intestinal menjadi ireversibel. Penelitian retrospektif melaporkan bahwa
penundaan operasi 12 24 jam masih dalam batas aman namun meningkatkan resiko
terjadinya strangulasi.
Pasien dengan obstruksi intestinal sekunder karena adanya adhesi dapat diterapi
dengan melepaskan adhesi tersebut. Penatalaksanaan secara hati hati dalam pelepasan
adhesi tresebut untuk mencegah terjadinya trauma pada serosa dan untuk menghindari
enterotomi yang tidak perlu. Hernia incarcerata dapat dilakukan secara manual dari segmen
hernia dan dilakukan penutupan defek.
Penatalaksanaan pasien dengan obstruksi intestinal dan adanya riwayat keganasan
akan lebih rumit. Pada keadaan terminal dimana metastase telah menyebar, terapi nonoperatif, bila berhasil, merupakan jalan yang terbaik; walaupun hanya sebagian kecil kasus
obstruksi komplit dapat berhasil di terapi dengan non-operatif. Pada kasus ini, by pass
sederhana dapat memberikan hasil yang lebih baik baik daripada by pass yang panjang
dengan operasi yang rumit yang mungkin membutuhkan reseksi usus.
Pada saat dilakukan eksplorasi, terkadang susah untuk menilai viabilitas dari
segmen usus setelah strangulasi dilepaskan. Bila viabilitas usus masih meragukan, segmen
tersebut harus dilepaskan dan ditempatkan pada kondisi hangat, salin moistened sponge
selama 15-20 menit dan kemudian dilakukan penilaian kembali. Bila warna normalnya
telah kembali dan didapatkan adanya peristaltik, berarti segmen usus tersebut aman untuk
32

dikembalikan. Ke depannya dapat digunakan Doppler atau kontras intraoperatif untuk


menilai viabilitas usus.

Pada umumnya dikenal 4 macam (cara) tindakan bedah yang dikerjakan pada obstruksi
ileus.
1. Koreksi sederhana (simple correction). Hal ini merupakan tindakan bedah
sederhana untuk membebaskan usus dari jepitan, misalnya pada hernia incarcerata
non-strangulasi, jepitan oleh streng/adhesi atau pada volvulus ringan.
2. Tindakan operatif by-pass. Membuat saluran usus baru yang "melewati" bagian
usus yang tersumbat, misalnya pada tumor intralurninal, Crohn disease, dan
sebagainya.
3. Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat obstruksi,
misalnya pada Ca stadium lanjut.
4. Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujung-ujung
usus untuk mempertahankan kontinuitas lumen usus, misalnya pada
carcinomacolon, invaginasi strangulata, dan sebagainya.
Pada beberapa obstruksi ileus, kadang-kadang dilakukan tindakan operatif bertahap, baik
oleh karena penyakitnya sendiri maupun karena keadaan penderitanya, misalnya pada Ca
sigmoid obstruktif, mula-mula dilakukan kolostomi saja, kemudian hari dilakukan reseksi
usus dan anastomosis. (Ullah et al., 2009).

Terapi umum
1.Istirahat

Dirawat di ruangan gawat darurat

Segera pasang sonde lambung (NGT)

Selang rectal

Pasang kateter

2.Diet

Pasien puasa
Nutrisi perenteral total sampai ada bising usus atau mulai flatus

3.Medikamentosa
Obat pertama :
33

Prostigmin 3 x 1 sampai IV untuk memacu mobilitas usus


Antibiotik

OBAT ANTIEMETIK
Antagonis reseptor H1
Antagonis reseptor muskarinik
Antagonis reseptor dopamin
Antagonis reseptor serotonin
Cannabinoid
Steroid
Antagonis reseptor H1
Cinnarizine, cyclizine, dimenhydrinate, promethazine
Tidak dapat digunakan utk mual-muntah krn rangsangan pada CTZ
Efektif utk mabuk kendaraan dan mual-muntah krn rangsangan pada
lambung
Diberikan sebelum timbul gejala mual-muntah
Puncak antiemetik : 4 jam, bertahan selama 24 jam
KI : wanita hamil trimester I (kec. Promethazine)
Antagonis reseptor muskarinik
Hyoscine
Untuk mual-muntah krn gangguan labirin dan rangsangan lokal di
lambung
Tidak dapat digunakan utk mual muntah krn rangsangan pada CTZ
Puncak antiemetik : 1-2 jam
ES : drowsiness, mulut kering, penglihatan kabur, retensi urin
Antagonis reseptor dopamin
Metoklopramid
Domperidone
Phenothiazine
Metoklopramid
Bekerja di CTZ
P.o., T1/2 4 jam, ekskresi via urine

34

ES : krn blokade reseptor dopamin di SSP gangguan pergerakan


pada
anak2 dan dewasa muda, mengantuk, fatigue/lemah
Stimulasi release prolaktin galaktore dan gangguan menstruasi
Efek pada motilitas usus diare
Domperidone
Antagonis reseptor D2
Antiemetik untuk vomitting postoperatif dan akibat kemoterapi kanker
ES : diare
Phenothiazine
Neuroleptik : chlorpromazine, prochlorperazine, trifluoperazine dpt
sebagai antiemetik
Triethylperazine hny sbg antiemetik
Dapat digunakan utk vomitting krn rangsangan pada CTZ
Tidak efektif utk muntah krn rangsangan di lambung
Cara kerja antagonis reseptor D2 di CTZ, menghambat reseptor
histamin dan muskarinik
Pemberian p.o., rektal, atau parenteral
Antagonis serotonin
Serotonin (5-hidroksitriptamin) a direlease oleh CNS atau lambung a
transmitter emesis
Antagonis serotonin : ondansetron, granisetron
Sangat baik utk terapi mual-muntah akibat obat sitotoksik
Pemberian p.o, injeksi IV pelan, infus
T1/2 5 jam
ES : sakit kepala, gangguan GIT
Cannabinoid
Nabilone derivat cannabinol sintetik menurunkan muntah krn
35

rangsangan pada CTZ


Pemberian : p.o, absorpsi baik
T1/2 120 menit, ekskresi via urine dan feses
ES : jarang, a. l. drowsiness, dizziness, mulut kering, perubahanmood,
hipotensi postural, halusinasi, dan reaksi psikotik
Steroid
Dosis tinggi, dpt digunakan sendiri atau kombinasi dgn obat lain
Glukokortikoid deksametason dan metilprednisolon
Mekanisme kerja blm diketahui
Sinergisme dg ondansetron
MOTILITAS GIT
1. MENINGKATKAN PERGERAKAN :
PENCAHAR
TANPA EFEK PENCAHAR
PENCAHAR
BULK LAXATIVE meningkatkan volume residu padat yg tidak diabsorpsi
OSMOTIC LAXATIVE meningkatkan jumlah air
FAECAL SOFTENER mengubah konsistensi faeces
STIMULANT PURGATIVE meningkatkan motilitas dan sekresi

Bulk Laxative
Metilselulose, sterculia, agar, bran, ispaghula husk
Polimer polisakarida a tidak dapat dipecah
Mekanisme kerja a menahan air di lumen usus merangsang peristaltis a
beberapa hari
ES : ringan
Osmotic Laxative
Pencahar salin dan laktulosa cairan yg absorpsinya jelek
36

meningkatkan volume cairan di lumen bowel mempercepat transfer


makanan ke usus halus massa yg sangat besar masuk kolon
distensi
ekspulsi faeces
Pencahar salin garam MgSO4 dan Mg(OH)2
Laktulosa disakarida semisintetik fruktosa dan galaktosa bakteri
di
kolon fermentasi asam laktat dan asam asetat osmotik laksatif
Efek baru timbul 1 2 hari
Faecal Softener
Docusate sodium
Menghasilkan feses yg lebih lumak
Efek stimulan laksatif lemah
Stimulant Purgative
Bisacodyl, sodium picosulfat, preparat senna
Meningkatkan peristaltis dengan cara stimulasi mukosa usus
ES : kram abdomen, jangka panjang atonia colon
Bisacodyl p.o. atau suppositoria efek laksan 15-30 menit
Sodium picosulfat p.o.
Preparat senna dosis tunggal efek laksan dalam 8 jam

OBAT YG MENINGKATKAN MOTILITAS GIT


DOMPERIDONE
Antagonis reseptor D2 a antiemetik
Memblok adrenoreseptor a-1 dan menurunkan efek relaksannya a
menurunkan tekanan sfingter esofagus bawah a meningkatkan motilitas
GIT
Tidak menstimulasi sekresi asam lambung
Digunakan untuk gangguan pengosongan lambung dan refluks esofagitis
kronis
37

ES : hiperprolaktinemia
METOKLOPRAMID
Efek sentral antiemetik
Efek lokal percepatan pengosongan lambung tanpa menstimulasi
sekresi asam lambung
Efeknya kecil pada motilitas usus bag. bawah
Digunakan untuk refluks gastroesofagus dan gangguan pengosongan
lambung
Tidak dapat digunakan untuk ileus paralitik
CISAPRIDE
Menstimulasi release ACh pada pleksus myenterik di GIT bag. atas
Digunakan utk refluks esofagitis dan gangguan pengosongan lambung
Tidak mempunyai efek antiemetik
ES : diare, kram abdomen, takikardi (jarang)
LO 2.8 Komplikasi
Jika pengobatan tertunda, dehidrasi dan mengakibatkan ketidakseimbangan
elektrolit dapat mempersulit pengobatan, atau dehidrasi dapat berkembang menjadi
syok hipovolemik, yang sering fatal. Pengobatan tertunda secara signifikan dapat
meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Usus dapat menjadi berlubang, kadangkadang melalui titik lemah yang sudah ada (divertikulum), yang dapat
mengakibatkan peritonitis . abses perut , luka pecah (dehiscence), sepsis , dan infeksi
pasca operasi dapat terjadi pada 5% sampai 42% dari kasus, usus kecil dapat menjadi
terjepit dan suplai darah berkurang serius (Khan). Hal ini dapat
menyebabkan gangren dan nekrosis berikutnya jaringan usus, komplikasi yang sangat
serius dengan tingkat kematian yang tinggi.

LO 2.9. Pencegehan
Pencegahan Primordial
`

Pencegahan primordial merupakan upaya pencegahan pada orang-orang


yang belum memiliki faktor risiko terhadap ileus obstruktif. Biasa dilakukan
dengan promosi kesehatan atau memberikan pendidikan kesehatan yang berkaitan
ileus obstruktif atau dengan melakukan penyuluhan untuk meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam menjaga kesehatannya oleh
kemampuan masyarakat.
38

Pencegahan Primer
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya mempertahankan orang
yang agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Pencegahan
primer berarti mencegah terjadinya ileus obstruktif. Upaya pencegahan ini
dimaksudkan untuk mengadakan pencegahan pada masyarakat. Pencegahan
primer yang dilakukan antara lain :
a) Bergaya hidup sehat dengan cara menjaga diri dan lingkungannya
b) Dengan meningkatkan asupan makanan bergizi yang meningkatkan daya
tahan tubuh
c) Diet Serat. Berbagai penelitian telah melaporkan hubungan antara
konsumsi serat dan insidens timbulnya berbagai macam penyakit. Hasil
penelitian membuktikan bahwa diet tinggi serat mempunyai efek proteksi
untuk kejadian penyakit saluran pencernaan.
d) Untuk mencegah hernia, hindari angkat berat, yang meningkatkan tekanan
didalam perut dan mungkin memaksa satu bagian dari usus untuk
menonjol melalui daerah rentan dinding perut.
Pencegahan sekunder
dilakukan terhadap ileus obstruktif adalah dengan cara mendeteksi secara
dini, dan mengadakan penatalaksanaan medik untuk mengatasi akibat fatal ileus
obstruktif
Pencegahan tertier
untuk mengurangi ketidakmampuan, mencegah kecacatan dan
menghindari komplikasi yang dapat memperparah keadaan. Tindakan perawatan
post operasi serta melakukan mobilitas/ambulasi sedini mungkin.

LO.2.10. Prognosis
Obstruksi yang tak mengakibatkan strangulasi mempunyai angka kematian sekitar
5%. Kebanyakan yang meninggal adalah pasien yang sudah lanjut usia. Obstruksi yang
disertai dengan strangulasi mempunyai angka kematian 8%. Kalau operasi dilakukan
dalam jangka waktu 36 jam sesudah timbulnya gejala yang bersangkutan.
LI.4 Memahami dan Menjelaskan Operasi dan Pembedahan Menurut Islam
Segala macam perubahan keinginan berlebihan untuk mengubah ciptaan Allah
tanpa alasan yang valid tidak dapat diterima. Sehingga operasi atau tindakan bedah
dalam rangka menghilangkan atau memperbaiki kekurangan seperti operasi plastik,
operasi perubahan jenis kelamin, mengencangkan payudara, operasi selaput dara dan hal
yang sejenisnya tidak boleh dilakukan. Hal ini dianggap melawan atau mengingkari
ciptaan Allah karena ciptaan Allah adalah terbaik dan sempurna. Masalah serius aqidat
39

yang tersirat pada manusia yang berlaku demikian adalah ketidakpuasan terhadap apa
yang Allah takdirkan atas dirinya (tidak bersyukur).

Dalam kasus operasi (rekonstruksi atau bedah restroratif) karena kepentingan


medis dapat menjadi boleh bahkan wajib dengan alasan-alasan :
a
b
c

Dilakukan unuk memperbaiki cacat alami/cacat bawaan


Cacat karena penyakit
Cacat karena komplikasi pengobatan penyakit

Hal-hal diatas bertujuan untuk mengembalikan penampilan normal untuk


mengurangi tekanan psikologis dan perasaan malu dan mengembalikan fungsi. Hal ini
merupakan yang dianjurkan dalam rangka menjaga ciptaan Allah. Tujuan tersebut tidak
mengandung perubahan fitrah tapi mengembalikan fitrah kepada keaadaan awal
sebelum kerusakan. (Omar Hasan,2008)

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa: barang
siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain,
atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah
membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang
manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan
sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa)
keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu
sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi. (Q.s. ALMaidah (5) : 32)
Bedah yang merupakan tindakan penyayatan terhadap orang hidup hanya
dibenarkan karena adanya hajat atau darurat, untuk prngobatan atau menghindarkan
bahaya yang lebih besar, dan untuk itu tidak ada cara atau metode lain. Pembolehan itu
harus didasarkan dengan keyakinan kuat akan berhasil. Dan sebisanya tidak mengubah
fitrah atau kejadian asli yang normal. (Zuhroni,2012)

40

DAFTAR PUSTAKA

Anonym. Mechanical Intestinal Obstruction. http://www.Merck.com .(Diakses 19 Mei 2016,


05.26)

Biley & Loves . Short Practice of Surgery Ed: 26th by Norman S. Williams , Christopher JK
Bulstrode (Editor), P. Ronan O'Connell(Editor)

Ganiswara, SG, Setiabudy, R, Suyatna, FD, dkk, (2006), Farmakologi Dan Terapi, Edisi 5, Gaya
Baru, Jakarta.
http://ilmubedah.info/ileus-obstruksi-definisi-etiologi-gambaran-klinik-diagnosis-terapiprognosis(Diakses 17 mei 2016 18.50)
https://www.mdguidelines.com/intestinal-obstruction (Diakses 17 Mei 2016 19.35)
http://www.suara-islam.com/index.php (Diakses 19 Mei 21,46)

Junquiera L.C., Carneiro J, (2007), Histologi Dasar, Text dan Atlas, edisi 10, Penerbit buku
kedokteran EGC

Price, SA ., Wilson, LM . 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Vol 1. Ed. 6.
Jakarta : EGC.
Robbins. 2007. Buku Ajar Patologi vol.2 . Ed. 7. Jakarta : EGC. 648-649

Siti Boedina Kresno,(2005), Imunologi, Diagnosis dan Prosedur Laboratorim ed FKUI

Sjamsuhidajat r, De Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC,2003.


Sofwan, Achmad. 2016. Tractus Digestivus. Fakultas Kedokteran YARSI

41