Anda di halaman 1dari 22

Adsorbsi Isoterm Freundlich

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Tujuan Percobaan
1. Menentukan besarnya tetapan adsorbsi isotherm freundlich.
2. Mempraktekkan konsep mol

1.2. Dasar Teori


1.2.1 Pengertian Adsorbsi
Adsorpsi adalah suatu proses penyerapan partikel suatu fluida (cairan
maupun gas) oleh suatu padatan hingga terbentuk suatu film (lapisan tipis) pada
permukaan adsorben. Padatan yang dapat menyerap partikel fluida disebut bahan
pengadsorpsi atau adsorben. Sedangkan zat yang terserap disebut adsorbat. Secara
umum Adsorpsi didefinisikan sebagai suatu proses penggumpalan substansi terlarut
(soluble) yang ada dalam larutan, oleh permukaan zat atau benda penyerap, dimana
terjadi suatu ikatan kimia fisika antara substansi dengan penyerapnya. Penyerapan
partikel atau ion oleh permukaan koloid atau yang disebut peristiwa adsorpsi ini
dapat menyebabkan koloid menjadi bermuatan listrik.
Adsorpsi secara umum adalah proses penggumpalan substansi terlarut yang
ada dalam larutan oleh permukaan benda atau zat penyerap. Adsorpsi adalah
masuknya bahan yang mengumpul dalam suatu zat padat. Keduanya sering muncul
bersamaan dengan suatu proses maka ada yang menyebutnya sorpsi. Baik adsorpsi
maupun absorpsi sebagai sorpsi terjadi pada tanah liat maupun padatan lainnya,
namun unit operasinya dikenal sebagai adsorpsi. (Giyatmi, 2008: 101).
Molekul-molekul pada permukaan zat padat atau zat cair, mempunyai gaya
tarik ke arah dalam, karena tidak ada gaya-gaya yang mengimbangi. Adanya gayagaya ini menyebabkan zat padat dan zat cair, mempunyai gaya adsorpsi. Adsorpsi
berbeda dengan absorpsi. Pada absorpsi zat yang diserap masuk ke dalam adsorben
sedang pada adsorpsi, zat yang diserap hanya pada permukaan (Sukardjo, 2002:190).
Sedangkan contoh contoh adsorbsi adalah sebaga iberikut:
a. Pengeringan udara atau gas gas lain,
b. Pemisahan bahan yang mengandung racun atau yang berbau busuk dari
udara buang,
c. Pengambilan kembali pelarut dari udara buang,
d. Penghilangan warna larutan (sebelum kristalisasi),
Laboratorium Kimia Fisika
Politeknik Negeri Samarinda

Adsorbsi Isoterm Freundlich


e. Pemisahan bahan organik dari air (bersamaan dengan pemisahan pengotor
berbentuk koloid yang sukar disaring).
1.2.2 Jenis Jenis Adsorbsi
Adsorpsi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1. Adsorpsi fisika adalah proses interaksi antara adsorben dengan adsorbat yang
disebabkan oleh gaya Van Der Waals. Adsorpsi fisika terjadi jika daya tarik
menarik antara zat terlarut dengan adsorben lebih besar dari daya tarik menarik
antara zat terlarut dengan pelarutnya. Kerena gaya tarik menarik yang lemah
tersebut maka zat yang terlarut akan diadsorpsi pada permukaan adsorben.
Adsorpsi fisika biasanya terjadi pada temperatur rendah sehingga keseimbangan
antara permukaan solid dengan molekul fluida biasanya cepat tercapai dan
bersifat reversibel.
2. Adsorpsi kimia adalah reaksi yang terjadi antara zat padat dengan zat terlarut
yang teradsorpsi. Adsorpsi ini bersifat spesifik dan melibatkan gaya dan kalor
yang sama dengan panas reaksi kimia. Menurut Langmuir, molekul teradsorpsi
ditahan pada permukaan oleh ikatan valensi yang tipenya sama dengan yang
terjadi antara atom-atom dalam molekul. Ikatan kimia tersebut menyebabkan
pada permukaan adsorbent akan terbentuk suatu lapisan film.
Adsorpsi memiliki kecepatan. Kecepatan adsorpsi adalah banyaknya zat yang
teradsorpsi per satuan waktu. Kecepatan adsorpsi mempengaruhi kinetika adsorpsi.
Kinetika adsorpsi adalah laju penyerapan suatu fluida oleh adsorben dalam jangka
waktu tertentu. Banyak sedikitnya zat yang teradsorpsi di pengaruhi oleh:
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan Adsorpsi:
a. Macam adsorben
b. Macam zat yang diadsorpsi (adsorbate)
c. Luas permukaan adsorben
d. Konsentrasi zat yang diadsorpsi (adsorbate)
e. Temperatur
Laboratorium Kimia Fisika
Politeknik Negeri Samarinda

Adsorbsi Isoterm Freundlich

1.2.3 Adsorben dan Adsorbat


Adsorben merupakan zat padat yang dapat menyerap komponen tertentu dari
suatu fase fluida (Saragih, 2008). Kebanyakan adsorben adalah bahan- bahan yang
sangat berpori dan adsorpsi berlangsung terutama pada dinding pori- pori atau pada
letak-letak tertentu di dalam partikel itu. Oleh karena pori-pori biasanya sangat kecil
maka luas permukaan dalam menjadi beberapa orde besaran lebih besar daripada
permukaan luar dan bisa mencapai 2000 m/g. Pemisahan terjadi karena perbedaan
bobot molekul atau karena perbedaan polaritas yang menyebabkan sebagian molekul
melekat pada permukaan tersebut lebih erat daripada molekul lainnya. Adsorben yang
digunakan secara komersial dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu kelompok polar
dan non polar (Saragih, 2008).
a. Adsorben Polar Adsorben polar disebut juga hydrophilic. Jenis adsorben
yang termasuk kedalam kelompok ini adalah silika gel, alumina aktif, dan
zeolit.
b. Adsorben non polar Adsorben non polar disebut juga hydrophobic. Jenis
adsorben yang termasuk kedalam kelompok ini adalah polimer adsorben dan
karbon aktif.
Menurut IUPAC (Internasional Union of Pure and Applied Chemical) ada beberapa
klasifikasi pori yaitu :
a.Mikropori : diameter < 2nm
b.Mesopori : diameter 2 50 nm
c.Makropori : diameter > 50 nm
Adsorbat adalah substansi dalam bentuk cair atau gas yang terkonsentrasi pada
permukaan adsorben. Adsorbat terdiri atas dua kelompok yaitu kelompok polar seperti
air dan kelompok non polar seperti methanol, ethanol dan kelompok hidrokarbon
(Suzuki, 1990 dalam saragih, 2008). Karbondioksida merupakan jenis adsorbat yang
sesuai

digunakan

untuk

adsorben

jenis

hidrofobic

seperti

karbon

aktif.

Karbondioksida merupakan persenyawaan antara karbon dengan oksigen. Pada


kondisi tekanan dan temperatur atmosfir, karbondioksida merupakan gas yang tidak
berwarna, tidak berbau, tidak reaktif, tidak beracun dan tidak mudah terbakar
Laboratorium Kimia Fisika
Politeknik Negeri Samarinda

Adsorbsi Isoterm Freundlich


(nonflammable). Pada kondisi triple point, karbondioksida dapat berupa padat, cair
ataupun gas bergantung pada kondisinya. Karbondioksida berada pada fase padat pada
temperature -109 F(-78,5oC) dan tekanan atmosfir akan langsung menyublimasi
tanpa melalui fase cair terlebih dahulu. Sedangkan pada tekanan dan temperatur di
atas triple point dan di bawah temperatur 87,9 F (31,1 oC) maka karbondioksida cair
dan gas akan berada pada kondisi kesetimbangan.
1.2.4 Adsorbsi Isoterm Freundlich
Persamaan isoterm adsorpsi Freundlich didasarkan atas terbentuknya lapisan
monolayer dari molekul-molekul adsorbat pada permukaan adsorben. Namun pada
adsorpsi Freundlich situs-situs aktif pada permukaan adsorben bersifat heterogen.
Persamaan isoterm adsorpsi Freundlich dapat dituliskan sebagai berikut.
log (x/m) = log k + 1/n log c

....(1),

sedangkan kurva isoterm adsorpsinya disajikan pada gambar berikut

Gambar 1 Kurva Adsorbsi Isotherm Freundlich

Bagi suatu sistem adsorbsi tertentu, hubungan antara banyaknya zat yang
teradsorpsi persatuan luas atau persatuan berat adsorben dengan konsentrasi yang

Laboratorium Kimia Fisika


Politeknik Negeri Samarinda

Adsorbsi Isoterm Freundlich


teradsorpsi pada temperatur tertentu disebut dengan isoterm adsorbsi ini dinyatakan
sebagai:
x/m = k. Cn

.(2)

dalam hal ini :


x = jumlah zat teradsorbsi (gram)
m = jumlah adsorben (gram)
C = konsentrasi zat terlarut dalam larutan, setelah tercapai kesetimbangan adsorpsi
k dan n = tetapan,
Persamaan ini mengungkapkan bahwa bila suatu proses adsorbsi menuruti
isoterm Freundlich, maka aluran log x/m terhadap log C akan merupakan garis lurus.
Dari garis dapat dievaluasi tetapan k dan n.
Dari persamaan tersebut, jika konsentrasi larutan dalam kesetimbangan diplot
sebagai ordinat dan konsentrasi adsorbat dalam adsorben sebagai absis pada koordinat
logaritmik, akan diperoleh gradien n dan intersept. Dari isoterm ini, akan diketahui
kapasitas adsorben dalam menyerap air. Isoterm ini akan digunakan dalam penelitian
yang akan dilakukan, karena dengan isoterm ini dapat ditentukan efisisensi dari suatu
adsorben.

1.2.5 Karbon Aktif

Arang adalah padatan berpori hasil pembakaran bahan yang mengandung


karbon. Arang tersusun dari atom-atom karbon yang berikatan secara kovalen
membentuk struktur heksagonal datar dengan sebuah atom C pada setiap sudutnya.
Susunan kisi-kisi heksagonal datar ini tampak seolah-olah seperti pelat-pelat datar
yang saling bertumpuk dengan sela-sela di antaranya.

Laboratorium Kimia Fisika


Politeknik Negeri Samarinda

Adsorbsi Isoterm Freundlich


Sebagian pori-pori yang terdapat dalam arang masih tertutup oleh hidrokarbon
dan senyawa organik lainnya. Komponen arang ini meliputi karbon terikat, abu, air,
nitrogen, dan sulfur (Djatmiko et al. 1985 dalam Januar Ferry 2002). yang
mempunyai luas permukaan dan jumlah pori sangat banyak (Baker 1997).
Manes (1998) mengatakan bahwa karbon aktif adalah bentuk umum dari
berbagai macam produk yang mengandung karbon yang telah diaktifkan untuk
meningkatkan luas permukaannya. Karbon aktif berbentuk kristal mikro karbon grafit
yang pori-porinya telah mengalami pengembangan kemampuan untuk mengadsorpsi
gas dan uap dari campuran gas dan zat-zat yang tidak larut atau yang terdispersi
dalam cairan (Roy 1985). Luas permukaan, dimensi, dan distribusi karbon aktif
bergantung pada bahan baku, pengarangan, dan proses aktivasi. Berdasarkan ukuran
porinya, ukuran pori karbon aktif diklasifikasikan menjadi 3, yaitu mikropori
(diameter <2 nm), mesopori (diameter 250 nm), dan makropori (diameter >50 nm)
(Baker 1997).
Setyaningsih (1995) membedakan karbon aktif menjadi 2 berdasarkan
fungsinya, yaitu Karbon adsorben gas (gas adsorbent carbon): Jenis arang ini
digunakan untuk mengadsorpsi kotoran berupa gas. Pori-pori yang terdapat pada
karbon aktif jenis ini tergolong mikropori yang menyebabkan molekul gas akan
mampu melewatinya, tetapi molekul dari cairan tidak bisa melewatinya. Karbon aktif
jenis ini dapat ditemui pada karbon tempurung kelapa. Selanjutnya adalah karbon fasa
cair (liquid-phase carbon). Karbon aktif jenis ini digunakan untuk mengadsorpai
kotoran atau zat yang tidak diinginkan dari cairan atau larutan. Jenis pori-pori dari
karbon aktif ini adalah makropori yang memungkinkan molekul berukuran besar
untuk masuk. Karbon jenis ini biasanya berasal dari batu bara, misalnya ampas tebu
dan sekam padi.
Aktivasi adalah perubahan fisik berupa peningkatan luas permukaan karbon
aktif dengan penghilangan hidrokarbon. Ada dua macam aktifasi, yaitu aktivasi fisika
dan kimia. Aktivasi kimia dilakukan dengan merendam karbon dalam H3PO4, ZnCl2,
NH4Cl, dan AlCl3 sedangkan aktivasi fisika menggunakan gas pengoksidasi seperti
udara, uap air atau CO2.

Laboratorium Kimia Fisika


Politeknik Negeri Samarinda

Adsorbsi Isoterm Freundlich


1.2.6 Titrasi Asam Basa
Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan
menggunakan zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya. Titrasi biasanya
dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai
contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi
redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri
untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya.
(disini hanya dibahas tentang titrasi asam basa)
Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai titrant dan biasanya
diletakan di dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya
disebut sebagai titer dan biasanya diletakkan di dalam buret. Baik titer maupun
titrant biasanya berupa larutan.
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titrant.
Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan
dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya.
Titrant ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan
ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan
ini disebut sebagai titik ekuivalen.
Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian kita
mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan
menggunakan data volume titrant, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa
menghitung kadar titrant.
Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa.
1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan,
kemudian membuat plot antara pH dengan volume titrant untuk memperoleh
kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah titik ekuivalent.

Laboratorium Kimia Fisika


Politeknik Negeri Samarinda

Adsorbsi Isoterm Freundlich


2. Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada titrant sebelum proses
titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi,
pada saat inilah titrasi kita hentikan.
Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan, tidak
diperlukan alat tambahan, dan sangat praktis.Indikator yang dipakai dalam titrasi
asam basa adalah indicator yang perbahan warnanya dipengaruhi oleh pH.
Penambahan indicator diusahakan sesedikit mungkin dan umumnya adalah dua
hingga tiga tetes.
Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih
sedekat mungkin dengan titik equivalent, hal ini dapat dilakukan dengan memilih
indicator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan.
Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna
indicator disebut sebagai titik akhir titrasi.
Pada saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalent asam akan sama dengan molekuivalent basa, maka hal ini dapat kita tulis sebagai berikut:
mol-ekuivalen asam = mol-ekuivalen basa

.(3)

Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil perkalian antara Normalitas dengan volume


maka rumus diatas dapat kita tulis sebagai:
NxV asam = NxV basa

.(4)

Normalitas diperoleh dari hasil perkalian antara molaritas (M) dengan jumlah
ion H+ pada asam atau jumlah ion OH pada basa, sehingga rumus diatas menjadi:
nxMxV asam = nxVxM basa
keterangan :
N = Normalitas
V = Volume
M = Molaritas

Laboratorium Kimia Fisika


Politeknik Negeri Samarinda

.(5)

Adsorbsi Isoterm Freundlich


n = Valensi yaitu jumlah ion H+ (pada asam) atau OH (pada basa)

BAB II
METODOLOGI

2.1 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan
1. Buret 50 ml

7. Kaca Arloji

2. Erlenmeyer 250 ml

8. Spatula

3. Corong

9. Shaker

4. Kertas Saring

10. Bulp

5. Pipet Volume

11. Gelas Kimia 250 ml

6. Pipet Ukur
Bahan yang digunakan
1. H2C2O4 (0,2 M; 0,1 M; 0,05 M; 0,01 M; 0,005 M)
2. NaOH 0,1 M dan 0,2 M
3. Indikator PP
4. Karbon Aktif
5. Aquadest
2.2 Prosedur kerja
2.2.1 Standarisasi H2C2O4 Sebelum Adsorbsi
1.
Menyiapkan 4 buah Erlenmeyer 250 ml.
2.
Mengisi masing-masing Erlenmeyer dengan volume sebagai berikut:
Erlenmeyer ke1
2
Laboratorium Kimia Fisika
Politeknik Negeri Samarinda

Konsentrasi H2C2O4 (M)


0,2
0,1
9

Volume (ml)
10
10

Adsorbsi Isoterm Freundlich


3
4
5

0,05
0,01
0,005

10
20
20

3. Menambahkan Indikator PP sebanyak 3 tetes kemudian menitrasi masingmasing larutan tersebut dengan menggunakan NaOH 0,2 N sampai terjadi
4.
2.2.2
1.
2.

perubahan warna dari bening menjadi merah muda.


Melakukan penetapan secara duplo.
Standarisasi H2C2O4 Setelah Adsorbsi
Menyiapkan 4 buah Erlenmeyer 250 ml.
Memasukkan masing-masing larutan H2C2O4 dengan konsentrasi yang berbeda

kedalam masing-masing Erlenmeyer sebanyak 100 ml.


3. Menimbang 5 gram arang aktif lalu memasukkannya kedalam Erlenmeyer
yang berisi larutan H2C2O4 0,1 M kemudian mengaduknya menggunakan
shaker selama 1 jam.
4. Melakukan kembali langkah 3 untuk larutan H2C2O4 dengan konsentrasi 0,2
M, 0,3 M dan 0.05 M dengan selang waktu masing-masing 15 menit.
5. Menyaring larutan H2C2O4 yang telah di shaker selama1 jam menggunakan
kertas saring.
6. Menambahkan Indikator PP sebanyak 3 tetes kemudian menitrasi larutan
H2C2O4 yang didapat dari hasil penyaringan menggunakan NaOH 0,1 N
sampai larutan berubah warna dari bening menjadi merah muda. Dengan
volume H2C2O4 yang dititrasi sebagai berikut.
Erlenmeyer ke1
2
3
4
5

Konsentrasi H2C2O4 (M)


0,2
0,1
0,05
0,01
0,005

7. Melakukan penetapan secara duplo.

2.3 Diagram Alir


Laboratorium Kimia Fisika
Politeknik Negeri Samarinda

10

Volume (ml)
10
10
10
20
20

MenambahkanMelakukan
Indikator PP
penetapan
sebanyaksecara
3 tetesduplo.
kemudian menitrasi
masing-masing larutan tersebut dengan menggunakan NaOH 0,1 N
Adsorbsi Isoterm Freundlich
sampai terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah muda.
2.3.1 Standarisasi H2C2O4 Sebelum Adsorbsi
Menyiapkan 4 buah Erlenmeyer 250 ml

Mengisi masing-masing Erlenmeyer dengan volume 10 ml, 5 ml, 5 ml, 5 ml


untuk konsentrasi asam oksalat berturut-turut 0,05 M, 0,1 M, 0,2 M, 0,3 M

Menambahkan Indikator PP sebanyak 3 tetes kemudian menitrasi


masing-masing larutan tersebut dengan menggunakan NaOH 0,1 N
sampai terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah muda.

Melakukan penetapan secara duplo.

2.3.1 Standarisasi H2C2O4 Sebelum Adsorbsi


Menyiapkan 4 buah Erlenmeyer 250 ml

Memasukkan masing-masing larutan H2C2O4 dengan konsentrasi yang


berbeda kedalam masing-masing Erlenmeyer sebanyak 100 ml.

Menimbang 5 gram arang aktif lalu memasukkannya kedalam Erlenmeyer


yang berisi larutan H2C2O4 0,1 M kemudian mengaduknya menggunakan
shaker selama 1 jam.

Melakukan kembali langkah 3 untuk larutan H2C2O4 dengan konsentrasi 0,2


M, 0,3 M dan 0,05 M dengan selang waktu masing-masing 15 menit.

Menyaring larutan H2C2O4 yang telah di shaker 1 jam menggunakan kertas


saring.

Laboratorium Kimia Fisika


Politeknik Negeri Samarinda

11

Adsorbsi Isoterm Freundlich

Menambahkan Indikator PP sebanyak 3 tetes kemudian menitrasi larutan


H2C2O4 yang didapat dari hasil penyaringan menggunakan NaOH 0,1 N
sampai larutan berubah warna dari bening menjadi merah muda dengan
volume 10 ml, 5 ml, 5 ml, 5 ml untuk konsentrasi asam oksalat berturutturut 0,05 M, 0,1 M, 0,2 M, 0,3 M

Melakukan penetapan secara duplo.


2.4 Safety Alat dan Bahan

1.

Jas Lab
Pada setiap praktikum yang dilaksanakan, dibutuhkan jas lab untuk
melindungi tubuh dari cairan asam atau larutan yang berbahaya lainnya. Selain itu jas
lab berfungsi sebagai safety yang wajib digunakan saat praktikum.

2.

Sepatu
Pada setiap praktikum yang dilaksanakan, diwajibkan untuk memakai sepatu
untuk melindungi bagian kaki dari cairan asam atau larutan yang berbahaya lainnya.
Selain itu sepatu berfungsi sebagai safety yang wajib digunakan saat praktikum.

3.

Sarung Tangan
Menggunakan sarung tangan untuk menghindari kontak langsung dengan
bahan-bahan bersifat korosif, pekat, dan sebagainya.

4.

Masker
Menggunakan masker untuk menghindari terhirup gas-gas yang bersifat racun
dan sejenisnya yang dikhawatirkan dapat mengganggu kesehatan.

Laboratorium Kimia Fisika


Politeknik Negeri Samarinda

12

Adsorbsi Isoterm Freundlich

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Data Pengamatan
Konsentrasi

Volume

Konsentra

Konsentra

No

H2C2O4

H2C2O4

NaOH

si H2C2O4

H2C2O4

NaOH

si H2C2O4

kira-kira

(ml)

(ml)

sebenarny

untuk

(ml)

setelah

a (M)

titrasi

adsorbsi

(ml)

(M)

1.

0,2 M

5,45

10

0,18

10

24,7

0,12

2.

0,1 M

10,9

10

0,09

10

10

0,05

3.

0,05 M

21,5

10

0,047

10

4,3

0,022

4.

0,01 M

9,9

0,01

20

1,5

0,0038

5.

0,005 M

25,55

0,0039

20

0,8

0,002

3.2. Hasil perhitungan


Data Variabel Persamaan Adsorbsi Isoterm Freundlich
No
.
1.
2.
3.
4.
5.

x
0,006
0,004
0,003
0,0006
0,0002

m arang

Konsentrasi H2C2O4

aktif (g)
5,0284
5,0135
5,0184
5,0167
5,0547

setelah adsorbsi
0,12 M
0,05 M
0,022 M
0,003 M
0,002 M

x/m

log x/m

Log C

1,19 x 10-3
7,98 x 10-4
5,98 x 10-4
1,20 x 10-4
3,96 x 10-5

-2,92
-3,01
-3,22
-3,92
-4,40

-0,92
-1,30
-1,66
-2,42
-2,70

Persamaan Adsorbsi Isoterm Freundlich


Persamaan Isoterm Freundlich
Laboratorium Kimia Fisika
= 0,8332 - 1,9943
Politeknik NegeriySamarinda

Nilai

Nilai

13k
0,001

n
1,2

Adsorbsi Isoterm Freundlich

3.3 Pembahasan
Pada praktikum adsorbsi isotherm freundlich ini bertujuan untuk menentukan
besarnya tetapan adsorbsi isotherm freundlich dan mempraktekan konsep mol. Adsorbsi
adalah peristiwa penjerapan suatu zat dikarenakan gaya tark-menarik molekul-molekul di
permukaan adsorban.
Prinsip percobaan adsorbsi isotherm didasarkan pada teori freundlich, yaitu
banyaknya zat yang diadsorbsi pada temperature tetap oleh suatu adsorban tergantung
dari konsentrasi dan kereaktifan adsorbat mengadsorbsi zat-zat tertentu. Percobaan ini
menggunakan adsorbsi fisika karena adanya gaya van der waals antara adsorben dan
adsorbat yang digunakan sehingga proses adsorbsi hanya terjadi pada permukaan larutan.
Adsorben yang digunakan adalah orang aktif dan adsorbatnya adalah larutan H 2C2O4
dengan konsentrasi yang divariasikan, yaitu 0,18 M; 0,09 M; 0,047 M; 0,001 M; dan
0,0039 M. Konsentrasi-konsentrasi tersebut diperoleh dari hasil standarisasi dengan
larutan standar NaOH 0,2 M.
Reaksi yang terjadi pada proses titrasi adalah sebagai berikut:
H2C2O4 + 2NaOH -> Na2C2O4 + 2H2O
Sejumlah arang aktif ditambahkan dengan larutan H2C2O4 dengan konsentrasi yang
berbeda-beda sebanyak 100 ml, kemudian campuran dikocok dengan shaker selama 30
menit. Proses pengadukan bertujuan agar proses penjerapan antara adsorben dan
adsorbatnya berjalan cepat dan sempurna. Dimana kesetimbangan akan tercapai setelah
partikel-partikel tersebut memenuhi seluruh pori-pori arang yang bertindak sebagai
adsorben. Peristiwa adsorbsi yang terjadi bersifat selektif dan spesifik, dimana asam
oksalat lebih mudah teradsorbsi dari pelarut (air) karena arang aktif (karbon) hanya
mampu mengadsorbsi senyawa-senyawa organik. Selanjutnya campuran disaring dan
filtratnya (asam oksalat yang telah diadsorbsi oleh arang aktif) dititrasi dengan larutan
NaOH 0,1 M dan digunakan indikator PP sebagai penunjuk titik akhir titrasi. Konsentrasi
asam oksalat yang diperoleh sebesar 0,12 M; 0,05 M; 0,022 M; 0,0038 M; dan 0,002 M.
Faktor yang mempengaruhi adsorbsi, yaitu macam adsorben, macam zat yang diadsorpsi
(adsorbate), luas permukaan adsorben, konsentrasi zat yang diadsorpsi (adsorbate), dan
temperature.
Laboratorium Kimia Fisika
Politeknik Negeri Samarinda

14

Adsorbsi Isoterm Freundlich


Berdasarkan data pengamatan dan hasil perhitungan, konsentrasi asam oksalat
sebelum adsorbsi lebih tinggi daripada setelah adsorbsi. Hal ini karena asam oksalat telah
diadsorbsi oleh arang aktif.
Dari hasil perhitungan dengan proses pengadukan selama 30 menit diperoleh grafik
dengan persamaan y = ax + b dimana y adalah harga dari log x/m sedangkan x adalah
harga dari log C. dari grafik fungsi log x/m melawan log C diperoleh persamaan garis y
= 0,8332x 1,9943. Dengan nilai k sebesar 0,01 dan n sebesar 1,2.

Laboratorium Kimia Fisika


Politeknik Negeri Samarinda

15

Adsorbsi Isoterm Freundlich


BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan:
a. Persamaan garis dari grafik adalah y = 0,8332x 1,9943
b. Dari percobaan yang dilakukan dengan proses pengadukan selama 30 menit
diperoleh nilai k sebesar 0,01 dan nilai n sebesar 1,2.

4.2 Saran
a. Pada saat melakukan titrasi dibutuhkan ketelitian untuk mengetahui perubahan
warna pada saat titik akhir titrasi.
b. Memahami prinsip dasar adsorbsi sebelum melakukan praktikum.
c. Dalam penimbangan karbon aktif diharapkan sesuai dengan prosedur kerja agar
hasil perhitungan yang didapat akurat.

Laboratorium Kimia Fisika


Politeknik Negeri Samarinda

16

Adsorbsi Isoterm Freundlich

DAFTAR PUSTAKA
Ambar,Dkk. 2012. Adsorbsi. http://kimia08.wordpress.com/2012/05/13/adsorpsi/ Diakses 27
Mei 2016
Atriyanti,
Y.
2012.
Adsorbsi
Isoterm
Karbon
Aktif.
http://yulia4ict.wordpress.com/kimia/Isotherm-adsorbsi-karbon-aktif-2/ Diakses 27
Mei 2016.
Azizah,
N.
2013.
Definisi
dan
Pengertian
Adsorbsi.
http://www.kamusq.com/2013/04/adsorpsi-adalah-pengertian-dan-definisi.html
Diakses 27 Mei 2016
Baker, F.S, Miller, C.E, Repik,A.J, dan Tollens,E.D. 1997. Activated Carbon. New York:
J.Wiley
Lestari,
I.
2012.
Pengertian
Titrasi
Asam
http://iinlestariblog.wordpress.com/2012/04/26 /29/ . Diakses 27 Mei 2016

Basa.

Manes, M. 1998. Activated Carbon Adsorption Fundamental. Didalam:RA.Meyer


(penyunting). Encyclopedia Of Environmental Analysis and Remediation, Volume 1.
New York: J.Wiley.
Panggabean,C.
2010.
Pengertian
Adsorben
dan
http://pestacarolgabe.blogspot.com/2010/10/pengertian-adsorbenadsorbenmerupakan.html Diakses 27 Mei 2016.

Adsorbat.

Saragih, S.A. 2008. Pembuatan dan Karekterisasi Karbon Aktif dari Batubara Riau sebagai
Adsorben . Tesis. Jakarta: Program Pascasarjana, Universitas Indonesia.
Setyaningsih H. 1995. Pengolahan Limbah Batik dengan Proses Kimia dan Adsorpsi Karbon
Aktif . Tesis. Jakarta: Program Pascasarjana, Universitas Indonesia.
Sukardjo. 2002. Kimia Fisika. Jakarta: Bineka Cipta.
Laboratorium Kimia Fisika
Politeknik Negeri Samarinda

17

Adsorbsi Isoterm Freundlich


Tim Penyusun. 2016. Penuntun Praktikum Kimia Fisika. Samarinda: Polnes

LAMPIRAN
Laboratorium Kimia Fisika
Politeknik Negeri Samarinda

18

Adsorbsi Isoterm Freundlich

PERHITUNGAN
Konsentrasi Asam Oksalat Sebenarnya (Hasil Standarisasi)
V H2C2O4 x M H2C2O4 x Valensi H2C2O4 = V NaOH x M NaOH x Val NaOH
5,45 ml x M H2C2O4 x 2 = 10 ml x 0,2 M x 1
M H2C2O4 = 0.18 M

Keterangan M NaOH =

NNaOH
ValNaOH

0.1
1

= 0.1 M

Konsentrasi H2C2O4 setelah adsorbsii.


V H2C2O4 x M H2C2O4 x Valensi H2C2O4 = V NaOH x M NaOH x Val NaOH
10 ml x M H2C2O4 x 2 = 24,7 ml x 0,1 M x 1
M H2C2O4 = 0.12 M

Penentuan jumlah mol H2C2O4 yang diserap karbon aktif.

x = (M H2C2O4 sebenarnya M H2C2O4 setelah adsorbsii) x V H2C2O4


= (0,18 mol/L 0,12 mol/L) x 0,1 L
= 0,06 mol/L x 0,1 L
= 0,006 mol

Persamaan adsorbsii isoterm freundlich


Laboratorium Kimia Fisika
Politeknik Negeri Samarinda

19

Adsorbsi Isoterm Freundlich


y = 0,8332x 1,9943
x/m = k . c 1/n
log x/m = log k + 1/n log c

Nilai n
1/n = 0,8332
n = 1,2
Nilai k
log k = -1,9943
k = log -1 (-1,9943)
k = 0,01

g
C
Grafik Lo
Lo
g

v s

Lin
o
g
e x
a
/
r
m
(
Lo g x
/m )
Lo
g
x/m

Grafik Hubungan Log C Terhadap


Log x/m Pada Adsorbsi Isoterm
Freundlich

Laboratorium Kimia Fisika


Politeknik Negeri Samarinda

20

Adsorbsi Isoterm Freundlich

GAMBAR ALAT

BOTOLSEMPROT

CORONG

BULP

GELAS KIMIA

ERLENMEYER

NERACA DIGITAL

Laboratorium Kimia Fisika


Politeknik Negeri Samarinda

21

Adsorbsi Isoterm Freundlich

BURET

Laboratorium Kimia Fisika


Politeknik Negeri Samarinda

SPATULA

22

PIPET VOLUME

Anda mungkin juga menyukai