Anda di halaman 1dari 66

Modul 4

Etika Profesi
Sumiyana

arakteristik yang spesifik dari sebuah profesi adalah adanya standar


yang mengatur hubungan seseorang dalam profesi dengan klien,
kolega, dan publik. Standar ini tertuang dalam praktik etis dalam kode etik
profesi. Etika bukan hanya menjadi sesuatu yang mendorong adanya kondisi
ideal terhadap keberadaan moral, tetapi juga membawa tatanan moral dalam
suatu profesi atau jabatan. Perilaku individu yang beretika bukan hanya
memerlukan peraturan atau kode etik, tetapi juga suatu pertimbangan
individu. Sesuai dengan hal tersebut, pembahasan bab ini dimulai dengan
pembahasan singkat tentang etika dan moral sebelum masuk pada bahasan
etika dalam profesi akuntan. Pembahasan bab ini ditutup dengan uraian
beberapa kode etik yang berlaku di Indonesia, Internasional, dan di negara
lain.
Setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan untuk mampu
memahami dan menjelaskan konsep-konsep yang terkait dengan etika profesi
yang secara rinci adalah hal-hal sebagai berikut.
1. Menjelaskan sifat etika secara umum.
2. Membedakan perilaku etis dan tidak etis dalam konteks pribadi dan
profesional.
3. Menyelesaikan dilema etika dengan menggunakan kerangka atau
pedoman kerja yang bernilai etis.
4. Menjelaskan tentang profesi akuntan.
5. Menjelaskan pentingnya perilaku etis bagi profesi akuntan serta
ekspektasi publik terhadap profesi.
6. Menguraikan pentingnya kode etik dalam sebuah organisasi profesi.
7. Menguraikan berbagai asosiasi profesi akuntansi baik di Indonesia
maupun di dunia internasional.
8. Menguraikan komponen-komponen kode etik profesi akuntan baik di
Indonesia maupun di dunia internasional.

4.2

Auditing I

Kegiatan Belajar 1

Etika dan Moralitas


A. ETIKA SECARA UMUM
Etika (ethics) berasal dari bahasa Yunani ethos, yang berarti karakter,
sedangkan moralitas berasal dari bahasa Latin mores, yang berarti kebiasaan.
Moralitas berpusat pada benar dan salah dalam perilaku manusia (Boynton et
al., 2001). Pengertian etika kemudian berkembang dan hingga saat ini yang
memiliki pengertian yang sangat beragam. Etika dapat diartikan sebagai
suatu perangkat prinsip moral yang dipegang oleh individu atau kelompok
yang difungsikan untuk mengatur dan menentukan tingkah laku individu atau
kelompok tersebut. Dalam beberapa literatur banyak disimpulkan bahwa
etika itu sendiri tidak sama dengan moralitas. Tercermin dari arti mores yang
berarti kebiasaan, moralitas dapat didefinisikan sebagai standar seorang
individu atau kelompok tentang apa yang dikatakan benar dan salah. Moral
standar juga merupakan suatu tonggak pengukur etika bisnis dengan
menyediakan suatu dasar pengambilan keputusan suatu tindakan benar atau
salah (Fritzsche, 2005).
Sebenarnya, mengapa kita perlu untuk belajar etika? Setidaknya ada
beberapa alasan seperti dikutip dari Duska et al. (2003), yaitu sebagaimana
berikut ini.
1. Adanya kesulitan dalam menentukan apa yang harus dilakukan dalam
situasi berkonflik etis.
2. Ketidakmampuan mengatasi isu-isu atau masalah yang kompleks.
3. Individu berpegang teguh pada nilai yang tidak mencukupi.
4. Untuk memahami apa dan mengapa opini kita berharga untuk dijadikan
pegangan.
5. Untuk belajar menentukan prinsip etis dasar yang dapat diaplikasi dalam
tindakan.
Perilaku etis sangat diperlukan oleh masyarakat agar dapat berfungsi
secara teratur. Etika adalah perekat yang dapat mengikat anggota masyarakat.
Kebutuhan terhadap etika dalam masyarakat cukup penting, sehingga banyak
nilai etika umum dimasukkan dalam undang-undang. Namun, sebagian besar

 EKSI4308/MODUL 4

4.3

nilai etika tidak dapat dijadikan undang-undang karena etika tersebut tidak
dapat didefinisikan dengan baik. Akan tetapi, tidak tersirat bahwa prinsipprinsip yang tidak dapat didefinisikan dengan cukup baik tersebut kurang
penting bagi masyarakat (Arens et al., 2008).
Sebagian besar orang mendefinisikan perilaku tidak etis sebagai tindakan
yang berbeda dengan apa yang mereka anggap tepat untuk dilakukan dalam
situasi dan kondisi tertentu. Kita dapat memutuskan apakah suatu perilaku
dianggap tidak etis bagi diri sendiri maupun orang lain. Kita harus
memahami penyebab orangorang bertindak dengan cara yang kita anggap
tidak etis. Setidaknya terdapat dua alasan mengapa seseorang bertindak tidak
etis yang dikutip dari Arens et al.(2008), yaitu berikut ini.
1. Standar etika seseorang berbeda dengan masyarakat umum.
Orang-orang yang perilakunya melanggar seperti pengedar obat
terlarang, perampok bank, pencuri terkadang untuk sebagian besar
mereka melakukan tindakan tersebut tidak menunjukkan rasa penyesalan
saat tertangkap. Hal ini disebabkan adanya standar etika bagi mereka
yang berbeda dengan yang berlaku di masyarakat secara keseluruhan.
2. Orang memilih untuk bertindak mementingkan diri sendiri
Sebagian perilaku tidak etis disebabkan oleh tindakan yang
mementingkan diri sendiri. Skandal politik terjadi akibat keinginan untuk
mendapatkan kekuasaan politik; kecurangan dalam mengisi SPT Pajak
dan laporan biaya dimotivasi oleh ketamakan atas uang; bertindak di
bawah kemampuan sebenarnya dan berlaku curang dalam ujian
umumnya terjadi akibat rasa malas. Dalam setiap kasus, orang tersebut
mengetahui bahwa perilakunya tidak benar tetapi memilih untuk tetap
melakukan itu, karena diperlukan pengorbanan atau usaha pribadi yang
berat untuk hasil yang sama.
Dalam setiap pengambilan keputusan yang memiliki suatu konsekuensi
bagi diri sendiri dan orang lain terkadang menghadapi suatu dilema. Terlebih
jika terdapat dilema etika yang berasal dari pilihan-pilihan yang memberikan
kebaikan bagi satu pihak namun membawa akibat buruk bagi pihak yang
lainnya. Dilema etika dapat didefinisikan sebagai situasi yang dihadapi
seseorang yang ia harus mengambil keputusan atas tindakan yang tepat
(Arens et al., 2008). Pertimbangan etis dapat dimanfaatkan dalam mengatasi
masalah-masalah kompleks. Seseorang atau kelompok seharusnya berpikir

4.4

Auditing I

jernih dan menggunakan pertimbangan etisnya dengan bijak dalam


mengambil keputusan sesuai kondisi.
Pertimbangan etis dapat didasarkan pada akibat dan konsekuensi yang
ditimbulkan di kemudian hari ataupun dengan menelaah manfaat dan sesuatu
yang ikut dikorbankan dalam pilihan-pilihan keputusan. Dengan mempelajari
etika diharapkan dapat mengaplikasikan konsep dan pertimbangan etis dalam
mencapai suatu keputusan. Duska et al. (2003) menyajikan beberapa
pertanyaan yang dapat memberikan fokus pada apakah tindakan yang diambil
telah mendasarkan pada etika, seperti pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
1. Apakah tindakan tersebut baik untuk saya?
2. Apakah tindakan tersebut baik atau menyakiti masyarakat?
3. Apakah tindakan tersebut adil?
4. Apakah suatu tindakan tersebut melanggar hak-hak orang lain?
5. Sudahkah saya membuat komitmen, secara tersirat (implisit), atau secara
tersurat (eksplisit)?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka dibutuhkan penggunaan
alasan yang tepat. Untuk menentukan perilaku yang tepat setidaknya ada
beberapa cara alternatif untuk menyelesaikan suatu dilema etika. Namun, kita
harus berhati-hati untuk menghindari metode yang merasionalkan perilaku
tidak etis (Arens et al., 2008). Metode-metode tersebut adalah sebagai
berikut.
1. Setiap orang melakukannya
Argumen bahwa memalsukan SPT Pajak, menyontek saat ujian, atau
menjual produk yang cacat merupakan perilaku yang dapat diterima
umumnya didasarkan pada rasionalisasi bahwa setiap orang lain juga
melakukan hal yang sama dan oleh karena itu merupakan perilaku yang
dapat diterima.
2. Jika sah menurut hukum, seseorang menyimpulkan bahwa hal itu etis.
Menggunakan argumen bahwa semua perilaku yang sah menurut hukum
adalah perilaku yang etis bergantung pada kesempurnaan hukum.
Menurut filosofi ini, seseorang tidak memiliki kewajiban untuk
mengembalikan suatu barang yang hilang kecuali pihak lain dapat
membuktikan bahwa barang tersebut miliknya.
3. Kemungkinan penemuan dan konsekuensinya
Filosofi ini bergantung pada evaluasi atas kemungkinan bahwa orang
lain menemukan perilaku tersebut. Biasanya, orang itu juga menilai

 EKSI4308/MODUL 4

4.5

besarnya kerugian (konsekuensi) yang diterimanya bila hal tersebut


terbongkar. Salah satu contohnya adalah memutuskan apakah
mengoreksi kelebihan tagihan yang tak disengaja kepada seorang
pelanggan ketika pelanggan tersebut telah membayar seluruh tagihannya.
Jika si penjual yakin bahwa pelanggan itu mendeteksi kekeliruan ini dan
memutuskan tidak membeli lagi kepadanya, maka penjual segera
menginformasikan kesalahan yang terjadi sekarang; sebaliknya penjual
menunggu hingga pelanggan tersebut menyampaikan keberatan.
Boynton et al. (2001) mengemukakan bahwa tidak adanya standar yang
universal yang digunakan dalam menentukan pilihan perilaku yang tepat.
Ketiadaan ini membuat beberapa ahli etika mengembangkan suatu kerangka
kerja etika umum untuk pengambilan keputusan, yang disebut kinerja enam
langkah sebagai berikut.
1. Mendapatkan fakta yang relevan untuk pengambilan keputusan.
2. Mengidentifikasi masalah-masalah etika dari fakta yang relevan tersebut.
3. Menentukan siapa saja yang dapat dipengaruhi oleh keputusan tersebut
dan bagaimana masing-masing dipengaruhi.
4. Mengidentifikasi alternatif pengambil keputusan
5. Mengidentifikasi konsekuensi setiap alternatif.
6. Membuat pilihan yang beretika
Berikut terdapat suatu contoh kasus dilema etika dan penyelesaiannya
(Arens et al., 2008).
Kasus: Dilema Etika
Bryan Longview telah bekerja selama 6 bulan sebagai asisten staf pada
KAP Barton & Barton. Saat ini ia sedang ditugaskan untuk melakukan
audit atas Reyon Manufacturing Company di bawah supervise Charles
Dickerson, seorang auditor senior yang berpengalaman. Ada tiga orang
auditor yang ditugaskan pada audit ini, yaitu Bryan, Charles, dan
seorang auditor yunior lainnya yang lebih berpengalaman dari Bryan,
Martha Mills. Pada saat makan siang hari pertama, Charles berkata,
Kita harus bekerja lembur selama beberapa jam dengan mengambil
waktu kita sendiri untuk memastikan bahwa kita bekerja sesuai
anggaran. Audit ini sangat tidak menguntungkan, dan kita tidak ingin
memberatkan kantor kita dengan bekerja di atas anggaran yang telah
ditetapkan. Kita dapat menyelesaikan audit ini dengan mudah, yaitu
dengan datang lebih pagi setengah jam, istirahat makan siang yang
singkat, dan bekerja lebih lama satu jam atau lebih setelah waktu

Auditing I

4.6

pulang normal. Kita hanya tidak ingin mencatat waktu tersebut dalam
laporan jam kerja.
Bryan ingat pernah membaca dalam manual kebijakan perusahaan
yang membahas tentang jam kerja, dan ingat bahwa tidak mencatat
jam
kerja
merupakan
suatu
pelanggaran
atas
kebijakan
ketenagakerjaan Barton & Barton. Ia juga mengetahui bahwa para
senior menerima bonus, tapi tidak dibayar waktu lemburnya, sementara
staf dibayar waktu lemburnya tetapi tidak menerima bonus.
Selanjutnya, ketika membahas masalah ini dengan Martha, Martha
berkata Charles melakukan hal ini dalam semua penugasannya. Ia
mungkin menjadi manajer audit kantor kita dengan memberikan kita
evaluasi penugasan yang baik, khususnya dalam kategori sikap
kooperatif. Beberapa auditor senior lainnya melakukan praktik yang
sama.

B. MENYELESAIKAN DILEMA ETIKA


Kasus sebagaimana tersebut di atas dapat diselesaikan dengan
menggunakan pendekatan enam langkah. Langkah-langkahnya adalah
sebagai berikut.
1.

Fakta yang Relevan


Ada tiga fakta penting dalam situasi ini yang berkaitan dengan isu etika
dan bagaimana isu-isu tersebut diselesaikan.
a. Asisten staf itu telah diberi tahu bahwa ia bekerja lembur beberapa jam
tanpa mencatatnya sebagai jam kerja.
b. Kebijakan kantor melarang praktik tersebut.
c. Asisten staf lain menyatakan bahwa hal ini merupakan praktik yang
umum di kantor.
2.

Isu etika
Isu etika dalam situasi ini tidak sulit untuk diidentifikasi.
Apakah etis bagi Bryan untuk bekerja lembur selama berjam-jam dan tidak
mencatatnya sebagai jam kerja dalam situasi ini?
3.

Siapa yang Dipengaruhi dan Bagaimana Masing-masing


Terpengaruh?
Umumnya, ada lebih banyak orang yang terpengaruh dalam situasi di
mana dilema etika terjadi daripada yang diperkirakan. Berikut ini adalah
orang-orang penting yang terlibat dalam situasi ini.

 EKSI4308/MODUL 4

4.7

Siapa
Bryan

Bagaimana Terpengaruh
Diminta melanggar kebijakan perusahaan.
Jam kerja terpengaruh
Pembayaran gaji terpengaruh
Evaluasi kinerja mungkin terpengaruh
Sikap terhadap kantor mungkin terpengaruh
Martha
Sama seperti Bryan
Charles
Sukses dalam penugasan dan posisinya di kantor
mungkin terpengaruh
Barton & Barton
Jam kerja terpengaruh
Kebijakan yang ditetapkan sedang dilanggar
Dapat mengakibatkan kurangnya penagihan
kepada klien untuk penugasan yang sedang
berjalan maupun penugasan mendatang
Dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan
membuat anggaran penugasan dan penagihan
yang realistik kepada klien
Dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan
untuk
memotivasi
dan
mempertahankan
karyawan
Staf yang ditugaskan Dapat mengakibatkan anggaran waktu yang tidak
realistik
Dapat mengakibatkan evaluasi atas kinerja waktu
yang tidak menguntungkan
Dapat menimbulkan tekanan untuk tetap
melakukan praktik tidak membebankan jam kerja
yang sebenarnya
Staf lainnya
Mengikuti praktik dalam penugasan ini dapat
memotivasi staf lain untuk mengikuti praktik
yang sama dalam penugasan lainnya
4.
a.
b.
c.

Alternatif yang Tersedia Bagi Bryan


Menolak bekerja lembur.
Melakukannya sesuai dengan permintaan.
Memberi tahu Charles bahwa ia tidak bersedia untuk bekerja lembur atau
membebankan tambahan jam kerja tersebut dalam penugasan itu.

Auditing I

4.8

d.
e.
f.

Berbicara dengan manajer atau partner tentang permintaan Charles.


Menolak untuk bekerja dalam penugasan tersebut.
Mengundurkan diri dari kantor.
Masing-masing alternatif ini memiliki suatu konsekuensi yang potensial,
di mana kemungkinan terburuk adalah diberhentikan oleh kantor
tersebut.

5.

Konsekuensi dari Setiap Alternatif


Dalam menentukan konsekuensi dari setiap alternatif, Bryan harus
mengevaluasi pengaruh jangka pendek dan jangka panjang. Ada
kecenderungan alami untuk menekankan pada pengaruh jangka pendek
karena konsekuensinya segera terjadi, meskipun konsekuensi jangka panjang
mungkin jauh lebih besar. Sebagai contoh, mari pertimbangkan konsekuensi
yang mungkin terjadi jika Bryan memutuskan untuk bekerja lembur dan tidak
melaporkannya. Dalam jangka pendek, ia mungkin memperoleh penilaian
yang baik dalam hal kerja sama dan mungkin kenaikan gaji. Dalam jangka
panjang, apa pengaruhnya jika tidak melaporkan jam kerja ini ketika muncul
konflik etika lainnya? Pertimbangkan dilema etika yang serupa berikut ini
yang mungkin dihadapi Bryan dalam perjalanan karier selanjutnya.
a. Seorang supervisor meminta Bryan untuk bersedia bekerja selama 3 jam
per hari dan 15 jam setiap akhir minggu tanpa dicatat.
b. Seorang supervisor meminta Bryan untuk menyatakan bahwa beberapa
prosedur audit telah dilaksanakan meskipun pada kenyataannya tidak
dilaksanakan.
c. Bryan menyimpulkan bahwa ia tidak dapat dipromosikan menjadi
seorang manajer kecuali ia membujuk para asisten untuk tidak mencatat
sejumlah jam kerja mereka.
d. Manajemen klien memberi tahu Bryan, yang sekarang sudah menjadi
partner, bahwa jika klien tidak dapat memperoleh pendapat wajar tanpa
pengecualian dengan biaya audit sebesar $40,000 maka perusahaan
tersebut mencari auditor lain.
e. Manajemen klien memberi tahu Bryan bahwa biaya audit dinaikkan $
25,000 jika Bryan dapat menemukan suatu cara yang kelihatannya sah
untuk menaikkan pendapatan sebesar $ 1,000,000.
6.

Tindakan yang Tepat

 EKSI4308/MODUL 4

4.9

Hanya Bryan yang dapat memutuskan alternatif mana yang tepat pada
situasi yang ada, setelah ia mempertimbangkan nilai-nilai etikanya sendiri
dan kemungkinan konsekuensi dari setiap alternatif. Pada satu ekstrem,
Bryan dapat memutuskan bahwa konsekuensi yang relevan hanyalah dampak
potensial bagi kariernya. Sebagian besar dari kita percaya bahwa Bryan
adalah seseorang yang tidak etis jika ia mengikuti praktik tersebut. Pada sisi
ekstrem lainnya, Bryan dapat memutuskan untuk menolak bekerja pada
kantor yang memperbolehkan dilanggarnya kebijakan perusahaan, walaupun
hanya oleh satu supervisor. Sebagian besar masyarakat menganggap bahwa
reaksi ekstrem seperti itu merupakan kenaifan.
Sebagai suatu prinsip moral dan perbuatan yang menjadi dasar tindakan
seseorang, etika dapat digunakan untuk memberikan penilaian tidak
berwujud dalam masyarakat. Masyarakat menilai ketika seseorang
memberikan pertimbangan etisnya dalam menentukan pilihan keputusan
maka tindakan ini merupakan tindakan yang terpuji. Suatu penilaian yang
abstrak dan membawa konsekuensi penilaian martabat dan kehormatan
seseorang di mata masyarakat. Harapan suatu kondisi yang ideal ketika etika
itu sendiri dihubungkan dengan tatanan moral dalam suatu profesi atau
jabatan. Sebuah istilah profesional memiliki pengertian yang khusus di
masyarakat. Ketika kata ini melekat pada profesi atau jabatan seseorang,
masyarakat memandang dengan lebih hormat. Seseorang profesional
diharapkan dapat berperilaku pada tingkat yang lebih tinggi dari yang
dilakukan sebagian anggota masyarakat yang lainnya. Sebagai contoh ketika
media memberitakan seorang dokter, pengacara, diplomat, akuntan publik,
konsultan pajak menjadi tersangka suatu kejahatan, sebagian besar
masyarakat merasa lebih kecewa ketimbang jika peristiwa yang sama terjadi
pada yang bukan profesional.
Istilah profesional yang melekat memberi karakteristik adanya suatu
tanggung jawab untuk bertindak lebih dari sekedar memenuhi tanggung
jawab diri sendiri maupun ketentuan hukum dan peraturan masyarakat (Arens
et al., 2008). Sebagai sebuah profesi yang menuntut orang-orang di dalamnya
bersikap profesional, akuntan publik mengakui adanya tanggung jawab
terhadap masyarakat, klien, dan rekan praktisi. Alasan utama dibutuhkannya
sikap profesional lebih kepada kebutuhan kepercayaan publik atas kualitas
jasa yang diberikan profesi. Kepercayaan masyarakat terhadap jasa

Auditing I

4.10

profesional semakin besar jika profesi itu memberikan kinerja dan perilaku
yang baik serta dedikasi tinggi terhadap masyarakat.

L AT IH AN
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,
kerjakanlah latihan berikut!
1) Sebutkan dan jelaskan alasan mengapa seseorang bertindak tidak etis
yang menurut Arens et al.(2008)!
2) Jelaskan mengapa perilaku etis sangat diperlukan di masyarakat! Apakah
nilai etika dapat dimasukkan dalam undang-undang!
3) Sebutkan dan jelaskan metode rasionalisasi perilaku tidak etis!
4) Sebutkan kinerja enam langkah kerangka kerja etika umum dalam
pengambilan keputusan?
5) Sebutkan apa saja karakteristik sebuah profesi menurut Commission on
Standards of Education and Experience for Certified Public Accountants
(CPA)?
6) Apakah yang harus dilakukan seseorang untuk mendapatkan izin
menjadi akuntan publik dari Menteri Keuangan RI?
7) Sebutkan bidang jasa yang dapat diberikan oleh akuntan publik sesuai
Peraturan Pemerintah Nomor 17/PMK.01/2008?
8) Apakah yang dimaksud kode etik profesi? Jelaskan!
9) Sebutkan manfaat adanya kode etik menurut Duska et al. (2003)?
10) Sebutkan beberapa ekspektasi publik yang ingin dicapai berkaitan
dengan profesi akuntan di pasar modal?
Petunjuk Jawaban Latihan
1) Terdapat dua alasan mengapa seseorang bertindak tidak etis yang
menurut Arens et al. (2008)? Berikan penjelasan sebagaimana pada
modul.
a. Standar etika seseorang berbeda dengan masyarakat umum.
Orang-orang yang perilakunya melanggar seperti pengedar obat
terlarang, perampok bank, pencuri terkadang untuk sebagian besar
mereka melakukan tindakan tersebut tidak menunjukkan rasa

 EKSI4308/MODUL 4

4.11

penyesalan saat tertangkap. Hal ini disebabkan standar etika mereka


berbeda dengan yang berlaku di masyarakat secara keseluruhan.
b.

Orang memilih untuk bertindak mementingkan diri sendiri.


Sebagian perilaku tidak etis disebabkan oleh tindakan yang
mementingkan diri sendiri. Skandal politik terjadi akibat keinginan
untuk mendapatkan kekuasaan politik; kecurangan dalam mengisi
SPT Pajak dan laporan biaya dimotivasi oleh ketamakan atas uang;
bertindak di bawah kemampuan sebenarnya dan berlaku curang
dalam ujian umumnya terjadi akibat rasa malas. Dalam setiap kasus,
orang tersebut mengetahui bahwa perilakunya tidak benar tetapi
memilih untuk tetap melakukan itu karena diperlukan pengorbanan
pribadi untuk bertindak secara etis.

2) Perilaku etis sangat diperlukan oleh masyarakat agar dapat berfungsi


secara teratur. Etika adalah perekat yang dapat mengikat anggota
masyarakat. Ketika warga masyarakat memperhatikan etika dalam
tindakannya umumnya mengarah pada suatu tindakan yang memberi
manfaat dan perhatian bagi orang lain. Kebutuhan etika dalam
masyarakat cukup penting, sehingga banyak nilai etika umum
dimasukkan dalam undang-undang. Nilai etika umum dapat dimasukkan
dalam undang-undang, namun sebagian besar nilai etika tidak dapat
dijadikan undang-undang karena etika tersebut tidak dapat didefinisikan
dengan baik. Prinsip-prinsip yang tidak dapat didefinisikan dengan
cukup baik tersebut kemudian tetap dianggap penting bagi masyarakat.
3) Menurut Arens et al., terdapat tiga metode yang digunakan untuk
menghindari metode yang merasionalkan perilaku tidak etis, yaitu
berikut ini.
a. Setiap orang melakukannya.
Argumen bahwa memalsukan SPT Pajak, menyontek saat ujian, atau
menjual produk yang cacat merupakan perilaku yang dapat diterima
umumnya didasarkan pada rasionalisasi bahwa setiap orang lain
juga melakukan hal yang sama dan karena itu merupakan perilaku
yang dapat diterima.
b. Jika sah menurut hukum, hal itu etis.

Auditing I

4.12

c.

Menggunakan argumen bahwa semua perilaku yang sah menurut


hukum adalah perilaku yang etis bergantung pada kesempurnaan
hukum. Menurut filosofi ini, seseorang tidak memiliki kewajiban
untuk mengembalikan suatu barang yang hilang kecuali pihak lain
dapat membuktikan bahwa barang tersebut miliknya.
Kemungkinan penemuan dan konsekuensinya.
Filosofi ini bergantung pada evaluasi atas kemungkinan bahwa
orang lain menemukan perilaku tersebut. Biasanya, orang itu juga
menilai besarnya kerugian (konsekuensi) yang diterimanya bila hal
tersebut terbongkar. Salah satu contohnya adalah memutuskan
apakah mengoreksi kelebihan tagihan yang tak disengaja kepada
seorang pelanggan ketika pelanggan tersebut telah membayar
seluruh tagihannya. Jika si penjual yakin bahwa pelanggan itu
mendeteksi kekeliruan ini dan memutuskan tidak membeli lagi
kepadanya, maka penjual segera menginformasikan kesalahan yang
terjadi sekarang; sebaliknya penjual menunggu hingga pelanggan
tersebut menyampaikan keberatan.

4) Kinerja enam langkah dalam kerangka kerja etika umum dalam


pengambilan keputusan, yaitu:
a. mendapatkan fakta yang relevan untuk pengambilan keputusan;
b. mengidentifikasi masalah-masalah etika dari fakta yang relevan
tersebut;
c. menentukan siapa saja yang dapat dipengaruhi oleh keputusan
tersebut dan bagaimana masing-masing dipengaruhi;
d. mengidentifikasi alternatif pengambil keputusan;
e. mengidentifikasi konsekuensi setiap alternatif;
f. membuat pilihan yang beretika.
5) Karakteristik profesi menurut Commission on Standards of Education
and Experience for Certified Public Accountants (CPA):
a. sebuah bentuk pengetahuan khusus;
b. sebuah proses pendidikan formal yang diakui untuk syarat
memperoleh pengetahuan khusus;
c. standar kualifikasi profesional yang menentukan penerimaan
profesi;

 EKSI4308/MODUL 4

d.
e.
f.
g.

4.13

standar yang mengatur hubungan praktisi dengan klien, kolega dan


publik;
adanya pengakuan status;
melekatkan tanggung jawab sosial yang berkaitan dengan pekerjaan
yang mendukung kepentingan publik;
sebuah organisasi yang mengabdikan diri demi kemajuan kelompok.

6) Untuk mendapatkan izin menjadi Akuntan Publik dari Menteri


Keuangan, Akuntan mengajukan permohonan tertulis kepada Sekretaris
Jenderal u.p. Kepala Pusat dengan memenuhi persyaratan sebagai
berikut.
a. Memiliki nomor Register Negara untuk Akuntan.
b. Memiliki Sertifikat Tanda Lulus Ujian Sertifikasi Akuntan Publik
(USAP) yang diselenggarakan oleh IAPI.
c. Dalam hal tanggal kelulusan USAP sebagaimana dimaksud pada
huruf (b) telah melewati masa 2 (dua) tahun, maka wajib
menyerahkan bukti telah mengikuti Pendidikan Profesional
Berkelanjutan (PPL) paling sedikit 60 (enam puluh) Satuan Kredit
PPL (SKP) dalam 2 (dua) tahun terakhir.
d. Berpengalaman praktik di bidang audit umum atas laporan keuangan
paling sedikit 1000 (seribu) jam dalam 5 (lima) tahun terakhir dan
paling sedikit 500 (lima ratus) jam di antaranya memimpin dan/atau
mensupervisi perikatan audit umum, yang disahkan oleh
Pemimpin/Pemimpin Rekan KAP.
e. Berdomisili di wilayah Republik Indonesia yang dibuktikan dengan
Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau bukti lainnya sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
f. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
g. Tidak pernah dikenakan sanksi pencabutan izin Akuntan Publik; dan
h. Membuat Surat Permohonan, melengkapi formulir Permohonan Izin
Akuntan Publik, membuat surat pernyataan tidak merangkap jabatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46, dan membuat surat
pernyataan bermeterai cukup yang menyatakan bahwa data
persyaratan yang disampaikan adalah benar dengan menggunakan
Lampiran I sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri
Keuangan ini.

4.14

Auditing I

7) Bidang jasa akuntan publik dan KAP adalah atestasi dan hanya
diberikan oleh akuntan publik yang meliputi:
a. jasa audit umum atas laporan keuangan;
b. jasa pemeriksaan atas laporan keuangan prospektif;
c. jasa pemeriksaan atas pelaporan informasi keuangan proforma;
d. jasa review atas laporan keuangan;
e. jasa atestasi lainnya sebagaimana tercantum dalam SPAP
Selain jasa tersebut, Akuntan Publik dan KAP dapat memberikan jasa
audit lainnya dan jasa yang berkaitan dengan akuntansi, keuangan,
manajemen, kompilasi, perpajakan, dan konsultasi sesuai dengan
kompetensi Akuntan Publik dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
8) Kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang
secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik dan apa yang tidak
benar dan tidak baik bagi profesional dan merupakan seperangkat alat
yang berfungsi memberi pedoman para praktisi dalam melaksanakan tugas
profesionalnya. Tujuan kode etik adalah agar profesional memberikan
jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau nasabahnya. Adanya kode etik
melindungi perbuatan yang tidak profesional. Dengan demikian, tenaga
profesional merasa bila dia melanggar kode etiknya sendiri maka
profesinya rusak dan yang rugi adalah dia sendiri. Implementasi kode
etik dapat berjalan optimal jika kode etik itu disusun oleh organisasi
profesi sendiri.
9) Beberapa manfaat kode etik menurut Duska et al. (2003), yaitu:
a. suatu kode dapat memotivasi, digunakan sebagai panutan, dengan
harapan dapat mengatur tingkah laku akuntan dan harus
dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan;
b. suatu kode dapat menjadi panduan yang stabil untuk mengatur benar
atau salah atau kesinambungan pembuatan keputusan;
c. suatu kode dapat menjadi panduan terutama dalam keadaan yang
rancu;
d. suatu kode tidak hanya memandu yang tingkah laku karyawan tapi
dapat juga mengendalikan kuasa-kuasa karyawan yang otokratis;
e. suatu kode dapat membantu menetapkan tanggung jawab sosial;

 EKSI4308/MODUL 4

f.

4.15

suatu kode dengan jelas dalam kepentingan bisnisnya sendiri, untuk


menjaga ketertiban bisnis secara etis.

10) Menurut Brooks (2003), beberapa ekspektasi publik yang ingin dicapai
terkait dengan profesi akuntansi di pasar modal, yaitu
a. klarifikasi peran, tanggung jawab, dan akuntabilitas dewan direksi,
komite, direksi itu sendiri, dan auditor;
b. reduksi konflik kepentingan yang mempengaruhi direksi, eksekutif,
dan auditor sehingga mereka harus memperhatikan loyalitas,
pertimbangan independen, dan objektivitas pada kepentingan terbaik
pemegang saham, dan untuk auditor pada kepentingan publik;
c. memastikan bahwa direksi cukup menjalankan rencana dan kegiatan
perusahaan, kebijakan perusahaan dan pengendalian internal yang
cukup untuk menjamin kepatuhan, serta perhatian terhadap whistle
blower;
d. memastikan bahwa direksi memiliki kompetensi finansial yang
cukup serta keahlian lain yang dibutuhkan;
e. menjamin bahwa laporan keuangan akurat, lengkap, dapat dipahami,
dan transparan;
f. memastikan standar akuntansi cukup melindungi kepentingan
investor;
g. menjamin regulasi dan pengawasan auditor perusahaan publik sesuai
dengan parameter pelaksanaannya, cukup dan sesuai dalam
melayani kepentingan publik.
T ES FO R M AT IF 1
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
1) Pernyataan berikut adalah etika secara umum, kecuali ....
A. etika dapat diartikan sebagai suatu perangkat prinsip moral yang
dipegang oleh individu atau kelompok dan menentukan tingkah laku
individu atau kelompok tersebut
B. moralitas berpusat pada benar dan salah dalam perilaku manusia
C. mores yang berarti kebiasaan

4.16

Auditing I

D. etika bisnis merupakan suatu tonggak pengukur moral standar


dengan menyediakan suatu dasar pengambilan keputusan suatu
tindakan benar atau salah
2) Setidaknya ada beberapa alasan mengapa etik harus dipelajari,
kecuali ....
A. ketidakmampuan mengatasi isu-isu/masalah yang kompleks
B. individu berpegang teguh pada nilai yang mencukupi
C. adanya kesulitan dalam menentukan apa yang harus dilakukan
dalam situasi berkonflik etis
D. untuk belajar menentukan prinsip etis dasar yang dapat diaplikasi
dalam tindakan.
3) Manakah pertanyaan yang salah tentang beberapa pertanyaan yang dapat
memberikan fokus apakah suatu tindakan berbasis etika?
A. Apakah tindakan tersebut tidak baik untuk saya?
B. Apakah tindakan tersebut adil?
C. Apakah suatu tindakan melanggar hak orang lain?
D. Apakah tindakan tersebut baik atau menyakiti masyarakat?
4) Berikut adalah metode rasionalisasi perilaku yang tidak etis, kecuali ....
A. setiap orang melakukannya
B. jika sah menurut hukum, hal itu etis
C. hanya saya saja yang melakukannya
D. kemungkinan penemuan dan konsekuensinya
5) Berikut merupakan syarat yang harus diajukan oleh seseorang yang ingin
mendapatkan izin akuntan publik dari Menteri Keuangan, kecuali ....
A. nomor Register Negara untuk Akuntan
B. Sertifikat Tanda Lulus Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP)
yang diselenggarakan oleh IAPI
C. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
D. berpengalaman praktik di bidang audit umum atas laporan keuangan
paling sedikit 2000 jam dalam 5 (lima) tahun terakhir
6) Manakah jasa yang diberikan akuntan publik berikut yang bukan
termasuk jasa atestasi?
A. Jasa audit umum atas laporan keuangan.
B. Jasa review atas laporan keuangan.
C. Jasa kompilasi dan perpajakan.
D. Jasa pemeriksaan atas laporan keuangan prospektif.

4.17

 EKSI4308/MODUL 4

7) Kode Etik memberikan banyak manfaat bagi profesi di antaranya adalah


sebagai berikut, kecuali ....
A. suatu kode dapat menjadi panduan yang stabil untuk mengatur benar
atau salah atau kesinambungan pembuatan keputusan
B. suatu kode dapat menjadi panduan terutama dalam keadaan normal
C. suatu kode tidak hanya memandu yang tingkah laku karyawan tapi
dapat juga mengendalikan kuasa-kuasa karyawan yang otokratis.
D. suatu kode dengan jelas dalam kepentingan bisnisnya sendiri, untuk
menjaga ketertiban bisnis secara etis
8) Manakah yang bukan merupakan ekspektasi publik atas profesi akuntan
di pasar modal?
A. Reduksi konflik kepentingan yang mempengaruhi direksi, eksekutif,
dan auditor sehingga mereka harus memperhatikan loyalitas,
pertimbangan independen, dan objektivitas pada kepentingan terbaik
pemegang saham, dan untuk auditor pada kepentingan publik.
B. Menjamin bahwa laporan keuangan akurat, lengkap, dapat
dipahami, dan transparan.
C. Memastikan standar akuntansi cukup melindungi kepentingan
perusahaan dan karyawan.
D. Menjamin regulasi dan pengawasan auditor perusahaan publik
sesuai dengan parameter pelaksanaannya, cukup dan sesuai dalam
melayani kepentingan publik.
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang
terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.

Tingkat penguasaan =

Jumlah Jawaban yang Benar


Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang

100%

4.18

Auditing I

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.

4.19

 EKSI4308/MODUL 4

Kegiatan Belajar 2

Profesi Akuntan dan Kode Etik


A. PROFESI AKUNTAN
Etika bukan hanya menjadi sesuatu yang mendorong adanya kondisi
ideal keberadaan moral tetapi juga membawa tatanan moral dalam suatu
profesi atau jabatan. Etika dalam suatu profesi umumnya tertuang dalam
kode etik profesi. Profesi itu sendiri memiliki karakteristik. Karakteristik
profesi dalam Duska et al. (2003) menurut Commission on Standards of
Education and Experience for Certified Public Accountants (CPA), yaitu
sebagai berikut.
1. Sebuah bentuk pengetahuan khusus.
Para akuntan publik (CPA) dikenal sebagai ahli di bidang akuntansi,
auditing, dan perpajakan. Selanjutnya reputasi ini ditingkatkan oleh
keahlian CPA dalam menunjang keberhasilan bisnis dan organisasi.
2. Sebuah proses pendidikan formal yang diakui untuk syarat memperoleh
pengetahuan khusus.
Pada kebanyakan negara bagian di negara lain, mahasiswa harus
menyelesaikan 150 jam semester pendidikan minimum dalam bidang
studi akuntansi , bisnis dan subjek lainnya agar dapat mengikuti ujian
CPA. Di Indonesia telah banyak universitas baik negeri maupun swasta
yang membuka program pendidikan profesi akuntan untuk selanjutnya
dapat mengikuti ujian sertifikasi akuntan publik.
3. Standar kualifikasi profesional yang menentukan penerimaan profesi.
Untuk menjadi akuntan publik, para calon biasanya harus memenuhi
persyaratan pendidikan, termasuk studi akuntansi, lulus ujian sertifikasi
akuntan publik (CPA) serta memenuhi persyaratan pengalaman
(biasanya 1 tahun pengalaman) dan di berbagai negara persyaratan
pengalaman bisa saja berbeda.
4. Standar yang mengatur hubungan praktisi dengan klien, kolega dan
publik.
AICPA telah mengesahkan suatu kode etik profesional yang mengatur
perilaku para CPA di Amerika Serikat. Begitu juga IAPI sebagai asosiasi
akuntan publik di Indonesia telah mengatur tentang kode etik profesi

4.20

5.

6.

7.

Auditing I

yang harus dipatuhi tiap anggotanya. Kode etik ini penting untuk
membentuk reputasi profesi CPA yang anggotanya dikenal sebagai
pribadi yang bertindak penuh integritas dan obyektif. Selain itu, banyak
negara telah menulis kode etik serupa ke dalam undang-undang
akuntansi negara mereka masing-masing.
Pengakuan status.
Pengakuan status akuntan publik (CPA) ditandai dengan adanya lisensi
atau penugasan khusus yang telah umumnya disetujui oleh regulator
pemerintah yang bersangkutan.
Melekatkan tanggung jawab sosial yang berkaitan dengan pekerjaan
yang mendukung kepentingan publik.
Akuntan publik atau CPA yang berpraktek sebagai auditor, memainkan
peran penting dalam memberikan keyakinan tentang keandalan informasi
keuangan yang tercantum dalam laporan keuangan auditan. Dalam
mendukung kepentingan publik, auditor dipercaya untuk memberikan
pendapatnya atas informasi keuangan yang tercantum dalam laporan
keuangan.
Sebuah organisasi yang mengabdikan diri demi kemajuan kelompok.
Poin pentingnya adalah adanya sebuah organisasi yang terdiri atas orangorang dengan profesi yang sama sehingga dapat memberikan pengaturan,
standar yang mengatur pekerjaan dilakukan sesuai aturan profesi
tersebut.

Lalu, bagaimana profesi akuntan di Indonesia? Menurut Peraturan


Pemerintah Nomor 17/PMK.01/2008 tentang Jasa Akuntan Publik pasal 4
bahwa Menteri Keuangan berwenang memberikan izin kepada Akuntan
untuk menjadi Akuntan Publik dan pemberian izin ditetapkan oleh Sekretaris
Jenderal atas nama Menteri. Pada Pasal 5 Peraturan Pemerintah tersebut
dijelaskan untuk mendapatkan izin menjadi Akuntan Publik dari Menteri
Keuangan, Akuntan mengajukan permohonan tertulis kepada Sekretaris
Jenderal u.p. Kepala Pusat dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut.
1. Memiliki nomor Register Negara untuk Akuntan.
2. Memiliki Sertifikat Tanda Lulus Ujian Sertifikasi Akuntan Publik
(USAP) yang diselenggarakan oleh IAPI.
3. Dalam hal tanggal kelulusan USAP sebagaimana dimaksud pada huruf
(b) telah melewati masa 2 (dua) tahun, maka wajib menyerahkan bukti
telah mengikuti Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL) paling

 EKSI4308/MODUL 4

4.

5.

6.
7.
8.

4.21

sedikit 60 (enam puluh) Satuan Kredit PPL (SKP) dalam 2 (dua) tahun
terakhir.
Berpengalaman praktik di bidang audit umum atas laporan keuangan
paling sedikit 1000 (seribu) jam dalam 5 (lima) tahun terakhir dan paling
sedikit 500 (lima ratus) jam di antaranya memimpin dan/atau
mensupervisi perikatan audit umum, yang disahkan oleh
Pemimpin/Pemimpin Rekan KAP.
Berdomisili di wilayah Republik Indonesia yang dibuktikan dengan
Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau bukti lainnya sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
Tidak pernah dikenakan sanksi pencabutan izin Akuntan Publik.
Membuat Surat Permohonan, melengkapi formulir Permohonan Izin
Akuntan Publik, membuat surat pernyataan tidak merangkap jabatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46, dan membuat surat pernyataan
bermeterai cukup yang menyatakan bahwa data persyaratan yang
disampaikan adalah benar dengan menggunakan Lampiran I
sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri Keuangan ini.

Bidang jasa akuntan publik dan KAP adalah atestasi dan hanya
diberikan oleh akuntan publik yang meliputi:
1. jasa audit umum atas laporan keuangan;
2. jasa pemeriksaan atas laporan keuangan prospektif;
3. jasa pemeriksaan atas pelaporan informasi keuangan proforma;
4. jasa review atas laporan keuangan; dan
5. jasa atestasi lainnya sebagaimana tercantum dalam SPAP.
Selain jasa tersebut, Akuntan Publik dan KAP dapat memberikan jasa
audit lainnya dan jasa yang berkaitan dengan akuntansi, keuangan,
manajemen, kompilasi, perpajakan, dan konsultasi sesuai dengan kompetensi
Akuntan Publik dan peraturan perundang-undangan yang berlaku (pasal 2
Peraturan Pemerintah Nomor 17/PMK.01/2008). Asosiasi Profesi Akuntan
Publik yang diakui pemerintah di Indonesia adalah IAPI atau Institut
Akuntan Publik Indonesia.
IAPI wajib melaporkan rencana penyelenggaraan Pendidikan Profesional
Berkelanjutan (PPL) kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat yang
paling sedikit mencakup silabus dan metode PPL yang dilaksanakan dalam 1

4.22

Auditing I

(satu) tahun pada setiap akhir bulan Oktober sebelum periode


penyelenggaraan PPL. Kewajiban IAPI lain adalah melaporkan daftar nama
peserta PPL dan jumlah satuan kredit PPL untuk periode 1 (satu) tahun
paling lambat pada setiap akhir bulan Februari tahun berikutnya kepada
Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat. IAPI juga wajib melaporkan
pengakuan dan penyetaraan jumlah SKP terhadap PPL yang diselenggarakan
oleh selain IAPI kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat.
B. KODE ETIK PROFESI
Akuntan sebagai profesi memiliki tiga kewajiban penting yaitu
kompeten dan mengetahui tentang seni dan ilmu akuntansi, melayani
kepentingan publik, mengutamakan kepentingan terbaik klien, menghindari
godaan mengambil keuntungan dari klien (Duska et al., 2003). Seperti telah
disebutkan sebelumnya bahwa suatu profesi memiliki kode etik masingmasing termasuk akuntan publik. Kode etik dapat menjadi pedoman dalam
menyelesaikan konflik etis ataupun mencegah munculnya potensi konflik
etis.
Kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang
secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik dan apa yang tidak benar
dan tidak baik bagi profesional dan merupakan seperangkat alat yang berfungsi
membimbing para praktisi dalam melaksanakan tugas profesionalnya (Duska
et al., 2003). Tujuan kode etik adalah agar profesional memberikan jasa
sebaik-baiknya kepada pemakai atau nasabahnya. Adanya kode etik
melindungi perbuatan yang tidak profesional. Dengan demikian, tenaga
profesional merasa bila dia melanggar kode etiknya sendiri maka profesinya
rusak dan yang rugi adalah dia sendiri. Implementasi kode etik dapat berjalan
optimal jika kode etik itu disusun oleh organisasi profesi sendiri. Selain itu,
perlu adanya pengawasan terus menerus dalam pelaksanaannya. Jika terjadi
pelanggaran oleh siapa pun yang terlibat dengan kode etik maka dapat
dilakukan evaluasi dan ditindak sesuai Badan Peradilan khusus yang
menanganinya.
Beberapa manfaat kode etik menurut Duska et al. (2003), sebagai
berikut.
1. Suatu kode dapat memotivasi, digunakan sebagai panutan, dengan
harapan dapat mengatur tingkah laku akuntan dan harus
dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.

 EKSI4308/MODUL 4

2.
3.
4.
5.
6.

4.23

Suatu kode dapat menjadi panduan yang stabil untuk mengatur benar
atau salah atau kesinambungan pembuatan keputusan.
Suatu kode dapat menjadi panduan terutama dalam keadaan yang rancu.
Suatu kode tidak hanya memandu yang tingkah laku karyawan tapi dapat
juga mengendalikan kuasa-kuasa karyawan yang otokratis.
Suatu kode dapat membantu menetapkan tanggung jawab sosial .
Suatu kode dengan jelas dalam kepentingan bisnisnya sendiri, untuk
menjaga ketertiban bisnis secara etis.

Akuntan publik memiliki tanggung jawab etis terhadap dirinya, keluarga,


profesi, klien, perusahaan tempatnya bekerja. Akuntan publik harus
mengerjakan tugas secara etis sesuai dengan janji ketika masuk profesi atau
memperoleh pekerjaan. Pekerjaan seorang akuntan publik jelas melibatkan
ekspektasi publik terhadap kepercayaan informasi keuangan perusahaan.
Ekspektasi publik pada kinerja perusahaan juga tidak terlepas dari profesi
akuntan.
Sebagai akuntan profesional sudah seharusnya fokus pada loyalitas
kepentingan publik dan menjalankan prinsip independensi dalam penilaian,
objektivitas, dan integritas. Tanggung jawab kepercayaan seorang akuntan
profesional seharusnya pada publik atau berdasarkan kepentingan publik.
Akuntan profesional harus menjamin suatu nilai etis, perilaku terbaik dalam
menjalankan perannya, menjaga kredibilitas, dan mendukung profesinya.
Perilaku etis sebuah organisasi seharusnya dilandasi pada budaya etis
organisasi itu dan dengan norma dan kode etik profesional. Berbagai skandal
keuangan yang terjadi seperti Enron, Worldcom, dan lainnya yang
melibatkan profesi akuntan memberikan berbagai pelajaran berharga bagi
profesi akuntan saat ini dan yang datang, seperti ketidakmampuan atau
ketidakcakapan profesi akuntan (incompetence), kesalahan penilaian pada
temuan yang signifikan kurangnya informasi yang berasal dari internal
manajemen dan kegagalan auditor untuk mengungkapnya.
Skandal keuangan yang banyak terjadi menimbulkan dampak yang besar
bagi perusahaan, perekonomian, dan tentunya profesi akuntansi. Munculnya
SOX (Sarbanes-Oxley Act) memberikan kerangka tata kelola baru bagi
perusahaan dan profesi akuntansi. Menurut Brooks (2003), setidaknya profesi
akuntan harus memulihkan kepercayaan publik terkait dalam sistem pasar
modal dan beberapa ekspektasi publik yang ingin dicapai, yaitu

4.24

1.
2.

3.

4.
5.
6.
7.

1.

Auditing I

klarifikasi peran, tanggung jawab, dan akuntabilitas dewan direksi,


komite, direksi itu sendiri, dan auditor;
reduksi konflik kepentingan yang mempengaruhi direksi, eksekutif, dan
auditor sehingga mereka harus memperhatikan loyalitas, pertimbangan
independen, dan objektivitas pada kepentingan terbaik pemegang saham,
dan untuk auditor pada kepentingan publik;
memastikan bahwa direksi cukup menjalankan rencana dan kegiatan
perusahaan, kebijakan perusahaan dan pengendalian internal yang cukup
untuk menjamin kepatuhan, serta perhatian terhadap whistle blower;
memastikan bahwa direksi memiliki kompetensi finansial yang cukup
serta keahlian lain yang dibutuhkan;
menjamin bahwa laporan keuangan akurat, lengkap, dapat dipahami, dan
transparan;
memastikan standar akuntansi cukup melindungi kepentingan investor;
menjamin regulasi dan pengawasan auditor perusahaan publik sesuai
dengan parameter pelaksanaannya, cukup dan sesuai dalam melayani
kepentingan publik.

Kode Etik Profesi IAI


Seperti
dikutip
dari
situs
Ikatan
Akuntan
Indonesia
(www.iaiglobal.or.id), dalam Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia disebutkan
bahwa Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia dimaksudkan sebagai panduan
dan aturan bagi seluruh anggota baik yang berpraktik sebagai akuntan publik,
bekerja di lingkungan dunia usaha, instansi pemerintah maupun lingkungan
dunia pendidikan dalam pemenuhan tanggung jawab profesionalnya. Prinsip
Etika memberikan kerangka dasar bagi Aturan Etika, yang mengatur
pelaksanaan pemberian jasa profesional oleh anggota. Prinsip Etika disahkan
oleh Kongres dan berlaku bagi seluruh anggota, sedangkan Aturan Etika
disahkan oleh Rapat Anggota Himpunan dan hanya mengikat anggota
Himpunan yang bersangkutan. Interpretasi Aturan Etika merupakan
interpretasi yang dikeluarkan oleh Badan yang dibentuk oleh Himpunan
setelah memperhatikan tanggapan dari anggota, dan pihak-pihak
berkepentingan lainnya, sebagai panduan dalam penerapan Aturan Etika,
tanpa dimaksudkan untuk membatasi lingkup dan penerapannya.
Kepatuhan terhadap Kode Etik, seperti juga dengan semua standar dalam
masyarakat terbuka, tergantung terutama sekali pada pemahaman dan
tindakan sukarela anggota. Di samping itu, kepatuhan anggota juga

 EKSI4308/MODUL 4

4.25

ditentukan oleh adanya pemaksaan oleh sesama anggota dan oleh opini
publik, dan pada akhirnya oleh adanya mekanisme pemrosesan pelanggaran
kode etik oleh organisasi, apabila diperlukan, terhadap anggota yang tidak
menaatinya. Jika perlu, anggota juga harus memperhatikan standar etik yang
ditetapkan oleh badan pemerintahan yang mengatur bisnis klien atau
menggunakan laporannya untuk mengevaluasi kepatuhan klien terhadap
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Prinsip Etika Profesi dalam Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia
menyatakan pengakuan tanggung jawab profesinya kepada publik, pemakai
jasa akuntan, dan rekan. Prinsip ini memandu anggota dalam memenuhi
tanggung jawab profesionalnya dan merupakan landasan dasar perilaku etika
dan perilaku profesionalnya. Prinsip ini meminta komitmen untuk
berperilaku terhormat, bahkan dengan pengorbanan keuntungan pribadi.
Dalam kode etik IAI terdapat tiga bagian, yaitu prinsip etika, aturan
etika, dan interpretasi etika. Di dalam Prinsip Etika IAI dimuat beberapa
prinsip, antara lain berikut ini.
1. Prinsip pertama, Tanggung jawab Profesi. Dalam melaksanakan
tanggung jawabnya sebagai profesional setiap anggota harus senantiasa
menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua
kegiatan yang dilakukannya.
Sebagai profesional, anggota mempunyai peran penting dalam
masyarakat. Sejalan dengan peranan tersebut, anggota mempunyai
tanggung jawab kepada semua pemakai jasa profesional mereka. Anggota
juga harus selalu bertanggung jawab untuk bekerja sama dengan sesama
anggota untuk mengembangkan profesi akuntansi, memelihara
kepercayaan masyarakat, dan menjalankan tanggung jawab profesi dalam
mengatur dirinya sendiri. Usaha kolektif semua anggota diperlukan untuk
memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.
2.

Prinsip kedua, Kepentingan Publik. Setiap anggota berkewajiban


untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik,
menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan komitmen atas
profesionalisme.
Satu ciri utama dari suatu profesi adalah penerimaan tanggung jawab
kepada publik. Profesi akuntan memegang peranan yang penting di
masyarakat, di mana publik dari profesi akuntan yang terdiri dari klien,
pemberi kredit, pemerintah, pemberi kerja, pegawai, investor, dunia

4.26

Auditing I

bisnis dan keuangan, dan pihak lainnya bergantung kepada objektivitas


dan integritas akuntan dalam memelihara berjalannya fungsi bisnis
secara tertib. Ketergantungan ini menimbulkan tanggung jawab akuntan
terhadap kepentingan publik. Kepentingan publik didefinisikan sebagai
kepentingan masyarakat dan institusi yang dilayani anggota secara
keseluruhan. Ketergantungan ini menyebabkan sikap dan tingkah laku
akuntan dalam menyediakan jasanya mempengaruhi kesejahteraan
ekonomi masyarakat dan negara.
Semua anggota mengikat dirinya untuk menghormati kepercayaan
publik. Atas kepercayaan yang diberikan publik kepadanya, anggota
harus secara terus-menerus menunjukkan dedikasi mereka untuk
mencapai profesionalisme yang tinggi.
Tanggung jawab seorang akuntan tidak semata-mata untuk memenuhi
kebutuhan klien individual atau pemberi kerja. Dalam melaksanakan
tugasnya seorang akuntan harus mengikuti standar profesi yang
dititikberatkan pada kepentingan publik, misalnya:
a. auditor independen membantu memelihara integritas dan efisiensi
dari laporan keuangan yang disajikan kepada lembaga keuangan
untuk mendukung pemberian pinjaman dan kepada pemegang
saham untuk memperoleh modal;
b. eksekutif keuangan bekerja di berbagai bidang akuntansi manajemen
dalam organisasi dan memberikan kontribusi terhadap efisiensi dan
efektivitas dari penggunaan sumber daya organisasi;
c. auditor intern memberikan keyakinan tentang sistem pengendalian
internal yang baik untuk meningkatkan keandalan informasi
keuangan dari pemberi kerja kepada pihak luar;
d. ahli pajak membantu membangun kepercayaan dan efisiensi serta
penerapan yang adil dari sistem pajak; dan
e. konsultan manajemen mempunyai tanggung jawab terhadap
kepentingan umum dalam membantu pembuatan keputusan
manajemen yang baik.
3.

Prinsip ketiga, Integritas. Untuk memelihara dan meningkatkan


kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab
profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.
Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya
pengakuan profesional. Integritas merupakan kualitas yang melandasi

 EKSI4308/MODUL 4

4.27

kepercayaan publik dan merupakan patokan (benchmark) bagi anggota


dalam menguji semua keputusan yang diambilnya.
Integritas mengharuskan seorang anggota untuk, antara lain, bersikap
jujur dan berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima
jasa. Pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh
keuntungan pribadi. Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak
disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak dapat
menerima kecurangan atau peniadaan prinsip.
Integritas diukur dalam bentuk apa yang benar dan adil. Dalam hal tidak
terdapat aturan, standar, panduan khusus atau dalam menghadapi
pendapat yang bertentangan, anggota harus menguji keputusan atau
perbuatannya dengan bertanya apakah anggota telah melakukan apa
yang seorang berintegritas lakukan dan apakah anggota telah menjaga
integritas dirinya. Integritas mengharuskan anggota untuk menaati baik
bentuk maupun jiwa standar teknis dan etika. Integritas juga
mengharuskan anggota untuk mengikuti prinsip objektivitas dan kehatihatian profesional.
4.

Prinsip keempat, Objektivitas. Setiap anggota harus menjaga


objektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan
kewajiban profesionalnya.
Objektivitas adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang
diberikan anggota. Prinsip objektivitas mengharuskan anggota bersikap
adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka atau
bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau berada di bawah
pengaruh pihak lain.
Anggota bekerja dalam berbagai kapasitas yang berbeda dan harus
menunjukkan objektivitas mereka dalam berbagai situasi. Anggota
dalam praktik publik memberikan jasa atestasi, perpajakan, serta
konsultasi manajemen. Anggota yang lain menyiapkan laporan keuangan
sebagai seorang bawahan, melakukan jasa audit internal dan bekerja
dalam kapasitas keuangan dan manajemennya di industri, pendidikan
dan pemerintahan. Mereka juga mendidik dan melatih orang-orang yang
ingin masuk ke dalam profesi. Apapun jasa atau kapasitasnya, anggota
harus melindungi integritas pekerjaannya dan memelihara objektivitas.

4.28

Auditing I

Dalam menghadapi situasi dan praktik yang secara spesifik berhubungan


dengan aturan etika sehubungan dengan objektivitas, pertimbangan yang
cukup harus diberikan terhadap faktor-faktor berikut.
a. Adakalanya
anggota
dihadapkan
kepada
situasi
yang
memungkinkan mereka menerima tekanan-tekanan yang diberikan
kepadanya. Tekanan ini dapat mengganggu objektivitasnya.
b. Adalah tidak praktis untuk menyatakan dan menggambarkan semua
situasi di mana tekanan-tekanan ini mungkin terjadi. Ukuran
kewajaran (reasonableness) harus digunakan dalam menentukan
standar untuk mengidentifikasi hubungan yang mungkin atau
kelihatan dapat merusak objektivitas anggota.
c. Hubungan-hubungan yang memungkinkan prasangka, bias atau
pengaruh lainnya untuk melanggar objektivitas harus dihindari.
d. Anggota memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa orang-orang
yang terlibat dalam pemberian jasa profesional mematuhi prinsip
objektivitas.
e. Anggota tidak boleh menerima atau menawarkan hadiah atau
entertainment yang dipercaya dapat menimbulkan pengaruh yang
tidak pantas terhadap pertimbangan profesional mereka atau
terhadap orang-orang yang berhubungan dengan mereka. Anggota
harus menghindari situasi-situasi yang dapat membuat posisi
profesional mereka ternoda
5.

Prinsip kelima, Kompetensi dan kehati-hatian profesional. Setiap


anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan kehati-hatian,
kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk
mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesional pada tingkat
yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja
memperoleh manfaat dari jasa profesional yang kompeten berdasarkan
perkembangan praktik, legislasi dan teknik yang paling mutakhir.
Kehati-hatian profesional mengharuskan anggota untuk memenuhi
tanggung jawab profesionalnya dengan kompetensi dan ketekunan. Hal
ini mengandung arti bahwa anggota mempunyai kewajiban untuk
melaksanakan jasa profesional dengan sebaik-baiknya sesuai dengan
kemampuannya, demi kepentingan pengguna jasa dan konsisten dengan
tanggung jawab profesi kepada publik.

 EKSI4308/MODUL 4

4.29

Kompetensi diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman. Anggota


seyogianya tidak menggambarkan dirinya memiliki keahlian atau
pengalaman yang tidak mereka punyai. Dalam semua penugasan dan
dalam semua tanggung jawabnya, setiap anggota harus melakukan upaya
untuk mencapai tingkatan kompetensi yang meyakinkan bahwa kualitas
jasa yang diberikan memenuhi tingkatan profesionalisme tinggi seperti
disyaratkan oleh Prinsip Etika. Kompetensi profesional dapat dibagi
menjadi 2 (dua) fase yang terpisah.
a. Pencapaian Kompetensi Profesional. Pencapaian kompetensi
profesional pada awalnya memerlukan standar pendidikan umum
yang tinggi, diikuti oleh pendidikan khusus, pelatihan dan ujian
profesional dalam subyek-subyek yang relevan, dan pengalaman
kerja. Hal ini harus menjadi pola pengembangan yang normal untuk
anggota.
b. Pemeliharaan Kompetensi Profesional.
1) Kompetensi harus dipelihara dan dijaga melalui komitmen
untuk belajar dan melakukan peningkatan profesional secara
berkesinambungan selama kehidupan profesional anggota.
2) Pemeliharaan kompetensi profesional memerlukan kesadaran
untuk terus mengikuti perkembangan profesi akuntansi,
termasuk di antaranya pernyataan-pernyataan akuntansi,
auditing dan peraturan lainnya, baik nasional maupun
internasional yang relevan.
3) Anggota harus menerapkan suatu program yang dirancang
untuk memastikan terdapatnya kendali mutu atas pelaksanaan
jasa profesional yang konsisten dengan standar nasional dan
internasional.
Kompetensi menunjukkan terdapatnya pencapaian dan pemeliharaan
suatu tingkatan pemahaman dan pengetahuan yang memungkinkan
seorang anggota untuk memberikan jasa dengan kemudahan dan
kecerdikan. Dalam hal penugasan profesional melebihi kompetensi
anggota atau perusahaan, anggota wajib melakukan konsultasi atau
menyerahkan klien kepada pihak lain yang lebih kompeten. Setiap
anggota bertanggung jawab untuk menentukan kompetensi masingmasing atau menilai apakah pendidikan, pengalaman dan pertimbangan
yang diperlukan memadai untuk tanggung jawab yang harus
dipenuhinya.

4.30

Auditing I

Anggota harus tekun dalam memenuhi tanggung jawabnya kepada


penerima jasa dan publik. Ketekunan mengandung arti pemenuhan
tanggung jawab untuk memberikan jasa dengan segera dan berhati-hati,
sempurna dan mematuhi standar teknis dan etika yang berlaku. Kehatihatian profesional mengharuskan anggota untuk merencanakan dan
mengawasi secara seksama setiap kegiatan profesional yang menjadi
tanggung jawabnya.
6.

Prinsip keenam, Kerahasiaan. Setiap anggota harus, menghormati


kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional
dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa
persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum
untuk mengungkapkannya.
Anggota mempunyai kewajiban untuk menghormati kerahasiaan
informasi tentang klien atau pemberi kerja yang diperoleh melalui jasa
profesional yang diberikannya. Kewajiban kerahasiaan berlanjut bahkan
setelah hubungan antara anggota dan klien atau pemberi kerja berakhir.
Kerahasiaan harus dijaga oleh anggota kecuali jika persetujuan khusus
telah diberikan atau terdapat kewajiban legal atau profesional untuk
mengungkapkan informasi.
Anggota mempunyai kewajiban untuk memastikan bahwa staf di bawah
pengawasannya dan orang-orang yang diminta nasihat dan bantuannya
menghormati prinsip kerahasiaan. Kerahasiaan tidaklah semata-mata
masalah pengungkapan informasi. Kerahasiaan juga mengharuskan
anggota yang memperoleh informasi selama melakukan jasa profesional
tidak menggunakan atau terlihat menggunakan informasi tersebut untuk
keuntungan pribadi atau keuntungan pihak ketiga.
Anggota yang mempunyai akses terhadap informasi rahasia tentang
penerima jasa tidak boleh mengungkapkannya ke publik. Karena itu,
anggota tidak boleh membuat pengungkapan yang tidak disetujui
(unauthorized disclosure) kepada orang lain. Hal ini tidak berlaku untuk
pengungkapan informasi dengan tujuan memenuhi tanggung jawab
anggota berdasarkan standar profesional.
Kepentingan umum dan profesi menuntut bahwa standar profesi yang
berhubungan dengan kerahasiaan didefinisikan dan bahwa terdapat
panduan terhadap sifat dan luas kewajiban kerahasiaan serta terhadap

 EKSI4308/MODUL 4

4.31

berbagai keadaan di mana informasi yang diperoleh selama melakukan


jasa profesional dapat atau perlu diungkapkan. Berikut ini adalah contoh
hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan sejauh mana
informasi rahasia dapat diungkapkan.
a. Apabila pengungkapan diizinkan. Jika persetujuan untuk
mengungkapkan diberikan oleh penerima jasa, kepentingan semua
pihak termasuk pihak ketiga yang kepentingannya dapat terpengaruh
harus dipertimbangkan.
b. Pengungkapan diharuskan oleh hukum. Beberapa contoh di mana
anggota diharuskan oleh hukum untuk mengungkapkan informasi
rahasia adalah:
1) untuk menghasilkan dokumen atau memberikan bukti dalam
proses hukum;
2) untuk mengungkapkan adanya pelanggaran hukum kepada
publik.
c. Ketika ada kewajiban atau hak profesional untuk mengungkapkan:
1) untuk mematuhi standar teknis dan aturan etika; pengungkapan
seperti itu tidak bertentangan dengan prinsip etika ini;
2) untuk melindungi kepentingan profesional anggota dalam
sidang pengadilan; untuk menaati penelaahan mutu (atau
penelaahan sejawat) IAI atau badan profesional lainnya; dan
3) untuk menanggapi permintaan atau investigasi oleh IAI atau
badan pengatur.
7.

Prinsip ketujuh, Perilaku Profesional. Setiap anggota harus berperilaku


yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan
yang dapat mendiskreditkan profesi.
Kewajiban untuk menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan
profesi harus dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan tanggung
jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staf,
pemberi kerja dan masyarakat umum.

8.

Prinsip kedelapan, Standar Teknis. Setiap anggota harus melaksanakan


jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar profesional
yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati,
anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari

Auditing I

4.32

penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip


integritas dan objektivitas.
Standar teknis dan standar profesional yang harus ditaati anggota adalah
standar yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia, International
Federation of Accountants, badan pengatur, dan peraturan perundangundangan yang relevan. Keanggotaan dalam Ikatan Akuntan Indonesia
bersifat sukarela. Dengan menjadi anggota, seorang akuntan mempunyai
kewajiban untuk menjaga disiplin diri di atas dan melebihi yang
disyaratkan oleh hukum dan peraturan. IAI juga bertindak sebagai dewan
penyusun standar akuntansi keuangan di Indonesia. Informasi tentang
kode etik Akuntan Indonesia dikutip dari sumber situs resmi Ikatan
Akuntan Indonesia ( www.iaiglobal.or.id , Maret 2010).
2.

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan Institut Akuntan Publik


Indonesia (IAPI)
Menurut Sejarah Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) dalam website
IAPI (www.akuntanpublikindonesia.com, Maret 2010), IAPI atau Indonesian
Institute of Certified Public Accountants (IICPA) mempunyai latar belakang
sejarah yang cukup panjang, dimulai dari didirikannya Ikatan Akuntan
Indonesia di Tahun 1957 yang merupakan perkumpulan akuntan Indonesia
yang pertama. Perkembangan profesi dan organisasi Akuntan Publik di
Indonesia tidak bisa dipisahkan dari perkembangan perekonomian, dunia
usaha dan investasi baik asing maupun domestik, pasar modal serta pengaruh
global. Secara garis besar tonggak sejarah perkembangan profesi dan
organisasi akuntan publik di Indonesia memang sangat dipengaruhi oleh
perubahan perekonomian negara pada khususnya dan perekonomian dunia
pada umumnya.
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI): 23 Desember 1957
Di awal masa kemerdekaan Indonesia, warisan dari penjajah Belanda
masih dirasakan dengan tidak adanya satu pun akuntan yang dimiliki
atau dipimpin oleh bangsa Indonesia. Pada masa ini masih mengikuti
pola Belanda, di mana akuntan didaftarkan dalam suatu register negara.
Di negeri Belanda sendiri ada dua organisasi profesi, yaitu Vereniging
van Academisch Gevormde Accountans (VAGA), yaitu ikatan akuntan
lulusan perguruan tinggi dan Nederlands Instituut van Accountants
(NIvA) yang anggotanya terdiri dari lulusan berbagai program sertifikasi
akuntan dan memiliki pengalaman kerja. Akuntan-akuntan Indonesia

 EKSI4308/MODUL 4

4.33

pertama lulusan periode sesudah kemerdekaan tidak dapat menjadi


anggota VAGA atau NIvA.
Situasi ini mendorong Prof. R. Soemardjo Tjitrosidojo dan empat lulusan
pertama FE Universitas Indonesia, yaitu Drs. Basuki T. Siddharta, Drs.
Hendra Darmawan, Drs. Tan Tong Joe dan Drs. Go Tie Siem
memprakarsai berdirinya perkumpulan akuntan Indonesia yang
dinamakan Ikatan Akuntan Indonesia yang disingkat IAI pada tanggal 23
Desember 1957, di Aula Universitas Indonesia.
Ikatan Akuntan Indonesia Seksi Akuntan Publik (IAI-SAP): 7 April
1977
Di masa pemerintahan orde baru, terjadi banyak perubahan signifikan
dalam perekonomian Indonesia, antara lain seperti terbitnya UndangUndang Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam
negeri (PMDN) serta berdirinya pasar modal. Perubahan perekonomian
ini membawa dampak terhadap kebutuhan profesi akuntan publik, di
mana pada masa itu telah berdiri banyak kantor akuntan Indonesia dan
masuknya kantor akuntan asing yang bekerja sama dengan kantor
akuntan Indonesia. 30 tahun setelah berdirinya IAI, atas gagasan Drs.
Theodorus M. Tuanakotta , pada tanggal 7 April 1977 IAI membentuk
Seksi Akuntan Publik sebagai wadah para akuntan publik di Indonesia
untuk melaksanakan program-program pengembangan akuntan publik.
Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Publik (IAI-KAP):
1994
Dalam kurun waktu 17 tahun sejak dibentuknya Seksi Akuntan Publik,
profesi akuntan publik berkembang dengan pesat. Seiring dengan
perkembangan pasar modal dan perbankan di Indonesia, diperlukan
perubahan standar akuntansi keuangan dan standar profesional akuntan
publik yang setara dengan standar internasional. Dalam Kongres IAI ke
VII Tahun 1994, anggota IAI sepakat untuk memberikan hak otonomi
kepada akuntan publik dengan merubah Seksi Akuntan Publik menjadi
Kompartemen Akuntan Publik.
Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI): 24 Mei 2007
Setelah hampir 50 tahun sejak berdirinya perkumpulan akuntan
Indonesia, tepatnya pada tanggal 24 Mei 2007 berdirilah Institut
Akuntan Publik Indonesia (IAPI) sebagai organisasi akuntan publik yang
independen dan mandiri dengan berbadan hukum yang diputuskan
melalui Rapat Umum Anggota Luar Biasa IAI Kompartemen Akuntan
Publik.

Berdirinya Institut Akuntan Publik Indonesia adalah respons terhadap


dampak globalisasi, di mana Drs. Ahmadi Hadibroto sebagai Ketua Dewan
Pengurus Nasional IAI mengusulkan perluasan keanggotaan IAI selain

4.34

Auditing I

individu. Hal ini telah diputuskan dalam Kongres IAI X pada tanggal 23
November 2006. Keputusan inilah yang menjadi dasar untuk merubah IAI
Kompartemen Akuntan Publik menjadi asosiasi yang independen yang
mampu secara mandiri mengembangkan profesi akuntan publik. IAPI
diharapkan dapat memenuhi seluruh persyaratan International Federation of
Accountants (IFAC) yang berhubungan dengan profesi dan etika akuntan
publik, sekaligus untuk memenuhi persyaratan yang diminta oleh IFAC
sebagaimana tercantum dalam Statement of Member Obligation (SMO).
Pada tanggal 4 Juni 2007, secara resmi IAPI diterima sebagai anggota
asosiasi yang pertama oleh IAI. Pada tanggal 5 Februari 2008, Pemerintah
Republik Indonesia melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor
17/PMK.01/2008 mengakui IAPI sebagai organisasi profesi akuntan publik
yang berwenang melaksanakan ujian sertifikasi akuntan publik, penyusunan
dan penerbitan standar profesional dan etika akuntan publik, serta
menyelenggarakan program pendidikan berkelanjutan bagi seluruh akuntan
publik di Indonesia. Perjalanan panjang keberhasilan organisasi akuntan
publik dalam programnya meningkatkan profesi ini di Indonesia adalah
berkat jasa para akuntan publik di Indonesia.
a.

Kode etik profesi IAPI


Sebagai Asosiasi Profesi Akuntan Publik yang diakui pemerintah di
Indonesia, IAPI wajib menyusun kode etik yang dipatuhi para anggotanya
seperti tercantum dalam Pendahuluan Kode Etik Akuntan Publik yang
disusun oleh IAPI adalah sebagai berikut.
Salah satu misi Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) adalah untuk
menyusun dan mengembangkan standar profesi dan kode etik profesi akuntan
publik yang berkualitas dengan mengacu pada standar internasional.
Sehubungan dengan hal tersebut, IAPI telah memberikan tanggung jawab
kepada Dewan Standar Profesional Akuntan Publik IAPI untuk
mengembangkan dan menetapkan suatu standar profesi dan kode etik profesi
yang berkualitas yang berlaku bagi profesi akuntan publik di Indonesia.
Kode Etik Profesi Akuntan Publik (Kode Etik) terdiri dari dua bagian,
yaitu Bagian A dan Bagian B. Bagian A dari Kode Etik ini menetapkan
prinsip dasar etika profesi dan memberikan kerangka konseptual untuk
penerapan prinsip tersebut. Bagian B dari Kode Etik ini memberikan ilustrasi
tentang penerapan kerangka konseptual tersebut pada situasi tertentu.

 EKSI4308/MODUL 4

4.35

Kode Etik ini menetapkan prinsip dasar dan aturan etika profesi yang
harus diterapkan oleh setiap individu dalam kantor akuntan publik (KAP)
atau Jaringan KAP, baik yang merupakan anggota IAPI maupun yang bukan
merupakan anggota IAPI, yang memberikan jasa profesional yang meliputi
jasa assurance dan jasa selain assurance seperti yang tercantum dalam
standar profesi dan kode etik profesi. Untuk tujuan Kode Etik ini, individu
tersebut di atas selanjutnya disebut Praktisi. Anggota IAPI yang tidak
berada dalam KAP atau Jaringan KAP dan tidak memberikan jasa profesional
seperti tersebut di atas tetap harus mematuhi dan menerapkan Bagian A dari
Kode Etik ini. Suatu KAP atau Jaringan KAP tidak boleh menetapkan kode
etik profesi dengan ketentuan yang lebih ringan daripada ketentuan yang
diatur dalam Kode Etik ini.
Setiap Praktisi wajib mematuhi dan menerapkan seluruh prinsip dasar
dan aturan etika profesi yang diatur dalam Kode Etik ini, kecuali bila prinsip
dasar dan aturan etika profesi yang diatur oleh perundang-undangan,
ketentuan hukum, atau peraturan lainnya yang berlaku ternyata berbeda dari
Kode Etik ini. Dalam kondisi tersebut, seluruh prinsip dasar dan aturan etika
profesi yang diatur dalam perundang-undangan, ketentuan hukum, atau
peraturan lainnya yang berlaku tersebut wajib dipatuhi, selain tetap mematuhi
prinsip dasar dan aturan etika profesi lainnya yang diatur dalam Kode Etik
ini. Kode Etik ini berlaku efektif sejak Tanggal 1 Januari 2010.
Setiap profesi memiliki perbedaan tugas dan tanggung jawabnya. Sama
halnya dengan profesi akuntan. Dalam Kode Etik Seksi 100.1 dijelaskan
bahwa salah satu hal yang membedakan profesi akuntan publik dengan
profesi lainnya adalah tanggung jawab profesi akuntan publik dalam
melindungi kepentingan publik. Oleh karena itu, tanggung jawab profesi
akuntan publik tidak hanya terbatas pada kepentingan klien atau pemberi
kerja. Ketika bertindak untuk kepentingan publik, setiap Praktisi harus
mematuhi dan menerapkan seluruh prinsip dasar dan aturan etika profesi
yang diatur dalam Kode Etik.
Prinsip-prinsip dasar yang dimuat pada Kode Etik Seksi 100.4 bahwa
setiap praktisi wajib mematuhi prinsip dasar berikut ini.
1) Prinsip integritas.
Setiap Praktisi harus tegas dan jujur dalam menjalin hubungan
profesional dan hubungan bisnis dalam melaksanakan pekerjaannya.

4.36

Auditing I

2) Prinsip objektivitas.
Setiap Praktisi tidak boleh membiarkan subjektivitas, benturan
kepentingan, atau pengaruh yang tidak layak (undue influence) dari
pihak-pihak lain memengaruhi pertimbangan profesional atau
pertimbangan bisnisnya.
3) Prinsip kompetensi serta sikap kecermatan dan kehati-hatian profesional
(professional competence and due care).
Setiap Praktisi wajib memelihara pengetahuan dan keahlian
profesionalnya pada suatu tingkatan yang dipersyaratkan secara
berkesinambungan, sehingga klien atau pemberi kerja dapat menerima
jasa profesional yang diberikan secara kompeten berdasarkan
perkembangan terkini dalam praktik, perundang-undangan, dan metode
pelaksanaan pekerjaan. Setiap Praktisi harus bertindak secara profesional
dan sesuai dengan standar profesi dan kode etik profesi yang berlaku
dalam memberikan jasa profesionalnya.
4) Prinsip kerahasiaan.
Setiap Praktisi wajib menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh
sebagai hasil dari hubungan profesional dan hubungan bisnisnya, serta
tidak boleh mengungkapkan informasi tersebut kepada pihak ketiga
tanpa persetujuan dari klien atau pemberi kerja, kecuali jika terdapat
kewajiban untuk mengungkapkan sesuai dengan ketentuan hukum atau
peraturan lainnya yang berlaku. Informasi rahasia yang diperoleh dari
hubungan profesional dan hubungan bisnis tidak boleh digunakan oleh
praktisi untuk keuntungan pribadinya atau pihak ketiga.
5) Prinsip perilaku profesional.
Setiap Praktisi wajib mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku dan
harus menghindari semua tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.
Kode Etik Profesi Akuntan Publik juga merinci kewajiban yang harus
dilakukan oleh setiap praktisi dan dimuat dalam beberapa seksi, yaitu berikut
ini.

 EKSI4308/MODUL 4

4.37

Prinsip Integritas (Seksi 110)


110.1 Prinsip integritas mewajibkan setiap Praktisi untuk tegas, jujur, dan
adil dalam hubungan profesional dan hubungan bisnisnya
110.2 Praktisi tidak boleh terkait dengan laporan, komunikasi, atau
informasi lainnya yang diyakininya terdapat:
(a) Kesalahan yang material atau pernyataan yang menyesatkan;
(b) Pernyataan atau informasi yang diberikan secara tidak hati-hati;
atau
(c) Penghilangan atau penyembunyian yang dapat menyesatkan
atas informasi yang seharusnya diungkapkan.
110.3 Praktisi tidak melanggar paragraf 110.2 dari Kode Etik ini jika ia
memberikan laporan yang dimodifikasi atas hal-hal yang diatur
dalam paragraf 110.2 tersebut.
Prinsip Objektivitas (Seksi 120)
120.1 Prinsip objektivitas mengharuskan Praktisi untuk tidak membiarkan
subjektivitas, benturan kepentingan, atau pengaruh yang tidak layak
dari pihak-pihak lain memengaruhi pertimbangan profesional atau
pertimbangan bisnisnya.
120.2 Praktisi mungkin dihadapkan pada situasi yang dapat mengurangi
objektivitasnya. Karena beragamnya situasi tersebut, tidak mungkin
untuk mendefinisikan setiap situasi tersebut. Setiap Praktisi harus
menghindari setiap hubungan yang bersifat subjektif atau yang dapat
mengakibatkan pengaruh yang tidak layak terhadap pertimbangan
profesionalnya.
Prinsip Kompetensi Serta Sikap Kecermatan dan Kehati-hatian
Profesional (Seksi 130)
130.1 Prinsip kompetensi serta sikap kecermatan dan kehati-hatian
profesional mewajibkan setiap Praktisi untuk:
(a) memelihara pengetahuan dan keahlian profesional yang
dibutuhkan untuk menjamin pemberian jasa profesional yang
kompeten kepada klien atau pemberi kerja; dan
(b) menggunakan kemahiran profesionalnya dengan saksama sesuai
dengan standar profesi dan kode etik profesi yang berlaku
dalam memberikan jasa profesionalnya.

4.38

130.2

130.3

130.4

130.5

130.6

Auditing I

Pemberian jasa profesional yang kompeten membutuhkan


pertimbangan yang cermat dalam menerapkan pengetahuan dan
keahlian profesional. Kompetensi profesional dapat dibagi menjadi
dua tahap yang terpisah sebagai berikut.
(a) Pencapaian kompetensi profesional.
(b) Pemeliharaan kompetensi profesional.
Pemeliharaan kompetensi profesional membutuhkan kesadaran dan
pemahaman yang berkelanjutan terhadap perkembangan teknis
profesi dan perkembangan bisnis yang relevan. Pengembangan dan
pendidikan profesional yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk
meningkatkan dan memelihara kemampuan Praktisi agar dapat
melaksanakan pekerjaannya secara kompeten dalam lingkungan
profesional.
Sikap kecermatan dan kehati-hatian profesional mengharuskan
setiap Praktisi untuk bersikap dan bertindak secara hati-hati,
menyeluruh, dan tepat waktu, sesuai dengan persyaratan penugasan.
Setiap Praktisi harus memastikan tersedianya pelatihan dan
penyeliaan yang tepat bagi mereka yang bekerja di bawah
wewenangnya dalam kapasitas profesional.
Bila dipandang perlu, Praktisi harus menjelaskan keterbatasan jasa
profesional yang diberikan kepada klien, pemberi kerja, atau
pengguna jasa profesional lainnya untuk menghindari terjadinya
kesalahtafsiran atas pernyataan pendapat yang terkait dengan jasa
profesional yang diberikan.

Prinsip Kerahasiaan (Seksi 140)


140.1 Prinsip kerahasiaan mewajibkan setiap Praktisi untuk tidak
melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut.
(a) Mengungkapkan informasi yang bersifat rahasia yang diperoleh
dari hubungan profesional dan hubungan bisnis kepada pihak di
luar KAP atau Jaringan KAP tempatnya bekerja tanpa adanya
wewenang khusus, kecuali jika terdapat kewajiban untuk
mengungkapkannya sesuai dengan ketentuan hukum atau
peraturan lainnya yang berlaku.
(b) Menggunakan informasi yang bersifat rahasia yang diperoleh
dari hubungan profesional dan hubungan bisnis untuk
keuntungan pribadi atau pihak ketiga.

 EKSI4308/MODUL 4

140.2

140.3
140.4
140.5

140.6

140.7

4.39

Setiap Praktisi harus tetap menjaga prinsip kerahasiaan, termasuk


dalam lingkungan sosialnya. Setiap Praktisi harus waspada terhadap
kemungkinan pengungkapan yang tidak disengaja, terutama dalam
situasi yang melibatkan hubungan jangka panjang dengan rekan
bisnis maupun anggota keluarga langsung atau anggota keluarga
dekatnya.
Setiap Praktisi harus menjaga kerahasiaan informasi yang
diungkapkan oleh calon klien atau pemberi kerja.
Setiap Praktisi harus mempertimbangkan pentingnya kerahasiaan
informasi terjaga dalam KAP atau Jaringan KAP tempatnya bekerja.
Setiap Praktisi harus menerapkan semua prosedur yang dianggap
perlu untuk memastikan terlaksananya prinsip kerahasiaan oleh
mereka yang bekerja di bawah wewenangnya, serta pihak lain yang
memberikan saran dan bantuan profesionalnya.
Kebutuhan untuk mematuhi prinsip kerahasiaan terus berlanjut,
bahkan setelah berakhirnya hubungan antara Praktisi dengan klien
atau pemberi kerja. Ketika berpindah kerja atau memperoleh klien
baru, Praktisi berhak untuk menggunakan pengalaman yang
diperoleh sebelumnya. Namun demikian, Praktisi tetap tidak boleh
menggunakan atau mengungkapkan setiap informasi yang bersifat
rahasia yang diperoleh sebelumnya dari hubungan profesional atau
hubungan bisnis.
Di bawah ini merupakan situasi-situasi yang mungkin
mengharuskan Praktisi untuk mengungkapkan informasi yang
bersifat rahasia atau ketika pengungkapan tersebut dianggap tepat.
(a) Pengungkapan yang diperbolehkan oleh hukum dan disetujui
oleh klien atau pemberi kerja.
(b) Pengungkapan yang diharuskan oleh hukum, sebagai contoh:
i. pengungkapan dokumen atau bukti lainnya dalam sidang
pengadilan;
ii. pengungkapan kepada otoritas publik yang tepat atas suatu
pelanggaran hukum; dan
(c) Pengungkapan yang terkait dengan kewajiban profesional untuk
mengungkapkan, selama tidak dilarang oleh ketentuan hukum:
i. dalam mematuhi pelaksanaan penelaahan mutu yang
dilakukan oleh organisasi profesi atau regulator;

4.40

140.8

Auditing I

ii. dalam menjawab pertanyaan atau investigasi yang


dilakukan oleh organisasi profesi atau regulator;
iii. dalam melindungi kepentingan profesional Praktisi dalam
sidang pengadilan; atau
iv. dalam mematuhi standar profesi dan kode etik profesi yang
berlaku.
Dalam memutuskan untuk mengungkapkan informasi yang bersifat
rahasia, setiap Praktisi harus mempertimbangkan hal-hal sebagai
berikut.
(a) Dirugikan tidaknya kepentingan semua pihak, termasuk pihak
ketiga, jika klien atau pemberi kerja mengizinkan
pengungkapan informasi oleh Praktisi.
(b) Diketahui tidaknya dan didukung tidaknya semua informasi
yang relevan. Ketika fakta atau kesimpulan tidak didukung
bukti, atau ketika informasi tidak lengkap, pertimbangan
profesional harus digunakan untuk menentukan jenis
pengungkapan yang harus dilakukan.
(c) Jenis komunikasi yang diharapkan dan pihak yang dituju.
Setiap Praktisi harus memastikan tepat tidaknya pihak yang dituju
dalam komunikasi tersebut.

Prinsip Perilaku Profesional (Seksi 150)


150.1 Prinsip perilaku profesional mewajibkan setiap praktisi untuk
mematuhi setiap ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku, serta
menghindari setiap tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.
Hal ini mencakup setiap tindakan yang dapat mengakibatkan
terciptanya kesimpulan yang negatif oleh pihak ketiga yang rasional
dan memiliki pengetahuan tentang semua informasi yang relevan,
yang dapat menurunkan reputasi profesi.
150.2 Dalam memasarkan dan mempromosikan diri dan pekerjaannya,
setiap Praktisi tidak boleh merendahkan martabat profesi. Setiap
Praktisi harus bersikap jujur dan tidak boleh bersikap atau
melakukan tindakan sebagai berikut.
(a) Membuat pernyataan yang berlebihan atas jasa profesional yang
dapat diberikan, kualifikasi yang dimiliki, atau pengalaman
yang telah diperoleh.

 EKSI4308/MODUL 4

4.41

(b) Membuat pernyataan yang merendahkan atau melakukan


perbandingan yang tidak didukung bukti terhadap hasil
pekerjaan Praktisi lain.
Kode Etik juga memaparkan pendekatan kerangka konseptual dalam atas
ancaman terhadap kepatuhan Praktisi pada prinsip dasar etika profesi.
100.5 Ancaman terhadap kepatuhan Praktisi pada prinsip dasar etika
profesi dapat terjadi dalam situasi tertentu ketika Praktisi
melaksanakan pekerjaannya. Karena beragamnya situasi tersebut,
tidak mungkin untuk menjelaskan setiap situasi yang dapat
menimbulkan ancaman tersebut beserta pencegahan yang tepat
dalam Kode Etik ini. Selain itu, karena berbedanya sifat perikatan
dan penugasan pekerjaan, pencegahan yang diterapkan untuk
menghadapi ancaman terhadap kepatuhan pada prinsip dasar etika
profesi dapat berbeda untuk situasi yang berbeda. Kerangka
konseptual mengharuskan Praktisi untuk mengidentifikasi,
mengevaluasi, dan menangani setiap ancaman terhadap kepatuhan
pada prinsip dasar etika profesi dengan tujuan untuk melindungi
kepentingan publik, serta tidak hanya mematuhi seperangkat
peraturan khusus yang dapat bersifat subjektif.
Kode Etik ini memberikan suatu kerangka untuk membantu Praktisi
dalam mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menanggapi ancaman
terhadap kepatuhan pada prinsip dasar etika profesi. Jika ancaman
tersebut merupakan ancaman selain ancaman yang secara jelas tidak
signifikan, maka pencegahan yang tepat harus dipertimbangkan dan
diterapkan untuk menghilangkan ancaman tersebut atau
menguranginya ke tingkat yang dapat diterima, sehingga kepatuhan
terhadap prinsip dasar etika profesi tetap terjaga.
100.6 Setiap Praktisi harus mengevaluasi setiap ancaman terhadap
kepatuhan pada prinsip dasar etika profesi ketika ia mengetahui,
atau seharusnya dapat mengetahui, keadaan atau hubungan yang
dapat mengakibatkan pelanggaran terhadap prinsip dasar etika
profesi.
100.7 Setiap Praktisi harus memperhatikan faktor-faktor kualitatif dan
kuantitatif dalam mempertimbangkan signifikansi suatu ancaman.
Jika Praktisi tidak dapat menerapkan pencegahan yang tepat, maka
ia harus menolak untuk menerima perikatan tersebut atau

4.42

100.8

Auditing I

menghentikan jasa profesional yang diberikannya, atau bahkan


mengundurkan diri dari perikatan tersebut.
Praktisi mungkin saja melanggar suatu ketentuan dalam Kode Etik
ini secara tidak sengaja. Tergantung dari sifat dan signifikansinya,
pelanggaran tersebut mungkin saja tidak mengurangi kepatuhan
pada prinsip dasar etika profesi jika pelanggaran tersebut dapat
dikoreksi sesegera mungkin ketika ditemukan dan pencegahan yang
tepat telah diterapkan.

Setiap Praktisi tidak boleh terlibat dalam setiap bisnis, pekerjaan, atau
aktivitas yang dapat mengurangi integritas, objektivitas, atau reputasi
profesinya, yang dapat mengakibatkan pertentangan dengan jasa profesional
yang diberikannya. Keterlibatan praktisi dalam pekerjaan atau aktivitas yang
mengurangi kepatuhan etika dapat menjadi ancaman bagi profesi akuntan
publik. Ancaman terhadap kepatuhan akuntan publik yang dimaksud adalah:
100.10 Kepatuhan pada prinsip dasar etika profesi dapat terancam oleh
berbagai situasi. Ancaman tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
1) Ancaman kepentingan pribadi, yaitu ancaman yang terjadi sebagai akibat
dari kepentingan keuangan maupun kepentingan lainnya dari Praktisi
maupun anggota keluarga langsung atau anggota keluarga dekat dari
Praktisi.
2) Ancaman telaah pribadi, yaitu ancaman yang terjadi ketika pertimbangan
yang diberikan sebelumnya harus dievaluasi kembali oleh Praktisi yang
bertanggung jawab atas pertimbangan tersebut.
3) Ancaman advokasi, yaitu ancaman yang terjadi ketika Praktisi
menyatakan sikap atau pendapat atas suatu hal yang dapat mengurangi
objektivitas selanjutnya dari Praktisi tersebut.
4) Ancaman kedekatan, yaitu ancaman yang terjadi ketika Praktisi terlalu
bersimpati terhadap kepentingan pihak lain sebagai akibat dari kedekatan
hubungannya.
5) Ancaman intimidasi, yaitu ancaman yang terjadi ketika Praktisi dihalangi
untuk bersikap objektif.
Kepentingan keuangan yang dimaksud adalah suatu penyertaan dalam
saham atau efek ekuitas lainnya, atau suatu pemerolehan hutang, pinjaman,
atau instrumen hutang lainnya, dari suatu entitas, termasuk hak dan
kewajiban untuk mendapatkan penyertaan atau pemerolehan tersebut serta

 EKSI4308/MODUL 4

4.43

hasil yang terkait secara langsung dengannya. Keluarga langsung yang


dimaksud adalah suami atau istri atau orang yang menjadi tanggungan.
Sedangkan keluarga dekat yang dimaksud yaitu orang tua, anak, atau saudara
kandung yang bukan merupakan anggota keluarga langsung. Antisipasi atas
ancaman terhadap kepatuhan Kode Etik Akuntan Publik bukan hanya pada
kode etik profesi, tetapi juga diatur dalam Peraturan Pemerintah sebagai
berikut.
Pasal (1) Akuntan Publik dilarang memiliki atau menjadi rekan pada lebih
dari 1 (satu) KAP; pasal (2) Akuntan Publik dilarang merangkap jabatan
sebagai:
1) pejabat negara;
2) pimpinan, anggota, atau pegawai pada lembaga pemerintahan, lembaga
negara, atau lembaga lainnya yang dibentuk dengan peraturan
perundang-undangan;
3) pimpinan, pengurus, atau pegawai pada badan usaha milik negara,
daerah, swasta, atau rekan pada badan usaha lainnya;
4) pimpinan, pengurus, atau pegawai pada badan hukum lainnya;
5) pimpinan atau pengurus pada partai politik;
6) pimpinan, pengurus, atau pegawai pada lembaga pendidikan; atau
7) komisaris, komite yang bertanggung jawab kepada komisaris, atau
jabatan lain yang menjalankan fungsi yang sama dengan komisaris atau
komite dimaksud pada lebih dari 2 (dua) badan usaha milik negara,
daerah, swasta, atau badan hukum lainnya.
Berbagai pencegahan atas ancaman kepatuhan kode etik profesi juga
disarankan dalam Kode Etik ini dalam beberapa seksi:
100.11 Pencegahan yang dapat menghilangkan ancaman tersebut atau
menguranginya ke tingkat yang dapat diterima dapat
diklasifikasikan sebagai berikut.
(a) Pencegahan yang dibuat oleh profesi, perundang-undangan,
atau peraturan.
(b) Pencegahan dalam lingkungan kerja.
100.12 Pencegahan yang dibuat oleh profesi, perundang-undangan, atau
peraturan mencakup, antara lain:
(a) persyaratan pendidikan, pelatihan, dan pengalaman untuk
memasuki profesi;

4.44

Auditing I

(b) persyaratan pengembangan dan pendidikan profesional


berkelanjutan;
(c) peraturan tata kelola perusahaan;
(d) standar profesi;
(e) prosedur pengawasan dan pendisiplinan dari organisasi profesi/
regulator;
(f) penelaahan eksternal oleh pihak ketiga yang diberikan
kewenangan hukum atas laporan, komunikasi, atau informasi
yang dihasilkan oleh Praktisi.
100.14 Pencegahan tertentu dapat meningkatkan kemungkinan untuk
mengidentifikasi atau menghalangi perilaku yang tidak sesuai
dengan etika profesi. Pencegahan tersebut dapat dibuat oleh profesi,
perundang-undangan, peraturan, atau pemberi kerja, yang
mencakup, antara lain:
(a) sistem pengaduan yang efektif dan diketahui secara umum yang
dikelola oleh pemberi kerja, profesi, atau regulator, yang
memungkinkan kolega, pemberi kerja, dan anggota masyarakat
untuk melaporkan perilaku Praktisi yang tidak profesional atau
yang tidak sesuai dengan etika profesi;
(b) kewajiban yang dinyatakan secara tertulis dan eksplisit untuk
melaporkan pelanggaran etika profesi yang terjadi.
100.15 Sifat pencegahan yang diterapkan sangat beragam, tergantung dari
situasinya. Dalam memberikan pertimbangan profesionalnya
terhadap pencegahan tersebut, setiap Praktisi harus mempertimbangkan hal-hal yang dapat menyebabkan tidak dapat
diterimanya pertimbangan tersebut oleh pihak ketiga yang rasional
dan memiliki pengetahuan tentang semua informasi yang relevan,
termasuk pengetahuan tentang signifikansi ancaman dan pencegahan
yang diterapkan.
Dalam mengevaluasi kepatuhan pada prinsip dasar etika profesi, Praktisi
mungkin diharuskan untuk menyelesaikan masalah dalam penerapan prinsip
dasar etika profesi. Ketika memulai proses penyelesaian masalah yang terkait
dengan etika profesi, baik secara formal maupun informal, setiap Praktisi
baik secara individu maupun bersama-sama dengan koleganya, harus
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut.
1) Fakta yang relevan.

 EKSI4308/MODUL 4

4.45

2) Masalah etika profesi yang terkait.


3) Prinsip dasar etika profesi yang terkait dengan masalah etika profesi
yang dihadapi.
4) Prosedur internal yang berlaku.
5) Tindakan alternatif.
Setelah mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, Praktisi harus
menentukan tindakan yang sesuai dengan prinsip dasar etika profesi yang
diidentifikasi. Praktisi harus mempertimbangkan juga akibat dari setiap
tindakan yang dilakukan. Jika masalah etika profesi tersebut tetap tidak dapat
diselesaikan, maka Praktisi harus berkonsultasi dengan pihak yang tepat pada
KAP atau Jaringan KAP tempatnya bekerja untuk membantu menyelesaikan
masalah etika profesi tersebut.
Jika masalah etika profesi melibatkan konflik dengan, atau dalam,
organisasi klien atau pemberi kerja, maka Praktisi harus mempertimbangkan
untuk melakukan konsultasi dengan pihak yang bertanggung jawab atas tata
kelola perusahaan, seperti komite audit. Praktisi sangat dianjurkan untuk
mendokumentasikan substansi permasalahan dan rincian pembahasan yang
dilakukan atau keputusan yang diambil yang terkait dengan permasalahan
tersebut.
Jika masalah etika profesi yang signifikan tidak dapat diselesaikan maka
Praktisi dapat meminta nasihat profesional dari organisasi profesi yang
relevan atau penasihat hukum untuk memperoleh pedoman tentang
penyelesaian masalah etika profesi yang terjadi tanpa melanggar prinsip
kerahasiaan. Sebagai contoh, ketika menemukan kecurangan (fraud), Praktisi
harus mempertimbangkan untuk memperoleh nasihat hukum dalam
menentukan ada tidaknya keharusan untuk melaporkan tanpa melanggar
prinsip kerahasiaan.
Jika setelah mendalami semua kemungkinan yang relevan, masalah etika
profesi tetap tidak dapat diselesaikan maka Praktisi harus menolak untuk
dikaitkan dengan hal yang menimbulkan masalah etika profesi tersebut.
Dalam situasi tertentu, merupakan suatu langkah yang tepat bagi Praktisi
untuk tidak melibatkan dirinya dalam tim perikatan atau penugasan tertentu,
atau bahkan mengundurkan diri dari perikatan tersebut atau dari KAP atau
Jaringan KAP tempatnya bekerja.
Kode Etik IAPI bagian B berisi aturan etika profesi yang terdiri atas
beberapa seksi, yaitu berikut ini.

4.46

Auditing I

Seksi 200 Ancaman dan Pencegahan.


Seksi 210 Penunjukan Praktisi, KAP, atau Jaringan KAP.
Seksi 220 Benturan Kepentingan.
Seksi 230 Pendapat Kedua.
Seksi 240 Imbalan Jasa Profesional dan Bentuk Remunerasi Lainnya.
Seksi 250 Pemasaran Jasa Profesional.
Seksi 260 Penerimaan Hadiah atau Bentuk Keramah-Tamahan Lainnya.
Seksi 270 Penyimpanan Aset Milik Klien.
Seksi 280 Objektivitas Semua Jasa Profesional.
Seksi 290 Independensi dalam Perikatan Assurance.
Kode Etik Akuntan Publik yang dikeluarkan IAPI dapat diakses melalui
website IAPI http://www.akuntanpublikindonesia.com.
3.

Kode Etik Profesi IFAC


International Federation of Accountants (IFAC) merupakan organisasi
profesi akuntansi seluruh dunia. Organisasi ini didirikan Tahun 1977 dengan
misi untuk melayani kepentingan publik dengan memperkuat profesi
akuntansi seluruh dunia dan memberi kontribusi bagi pengembangan
perekonomian internasional yang kuat dengan membangun dan
meningkatkan kepatuhan terhadap standar profesional yang berkualitas
tinggi, lebih lanjut pada konvergensi standar internasional, dan
mendengungkan isu kepentingan publik lebih keras dalam hal keahlian
profesi yang lebih relevan.
IFAC terdiri dari 159 anggota dan membentuk hubungan pada 124
negara seluruh dunia, mewakili sekitar 2,5 juta akuntan pada praktik publik,
industri, dan komersial, sektor publik, dan pendidikan. Tidak ada lembaga
akuntansi di dunia dan beberapa organisasi lainnya yang memiliki dukungan
internasional luas seperti karakter IFAC.
Lembaga kuasa IFAC, staf dan relawan berkomitmen pada nilai
integritas, transparansi, dan keahlian. IFAC juga berusaha untuk memperkuat
kepatuhan akuntan profesional terhadap nilai-nilai melalui kode etik untuk
akuntan profesional (Code of Ethics for Professional Accountants) yang
dikeluarkan oleh International Ethics Standards Board for Accountants
(IESBA). Kode Etik Akuntan Profesional (Code of Ethics for Professional
Accountants) atau IESBA Code edisi 2010 dikeluarkan oleh International

 EKSI4308/MODUL 4

4.47

Ethics Standards Board of Accountants (IESBA). IESBA Code revision


berlaku efektif pada 1 Januari 2011.
Prinsip dasar Kode etik IAPI tampaknya mengadopsi IESBA Code
begitu pula dengan aturan etika profesinya. IESBA Code terdiri atas 3
bagian, yaitu
PART A - GENERAL APPLICATION OF THE IESBA CODE
100 Introduction and Fundamental Principles
110 Integrity
120 Objectivity
130 Professional Competence and Due Care
140 Confidentiality
150 Professional Behavior
PART B - PROFESSIONAL ACCOUNTANTS IN PUBLIC PRACTICE
200 Introduction
210 Professional Appointment
220 Conflicts of Interest
230 Second Opinions
240 Fees and Other Types of Remuneration
250 Marketing Professional Services
260 Gifts and Hospitality
270 Custody of Client Assets
280 Objectivity-All Services
290 Independence-Audit and Review Engagements
291 Independence-Other Assurance Engagements
Interpretation 2005-01
PART CPROFESSIONAL ACCOUNTANTS IN BUSINESS
300 Introduction
310 Potential Conflicts
320 Preparation and Reporting of Information
330 Acting with Sufficient Expertise
340 Financial Interests
350 Inducements

4.48

Auditing I

Konten General Application of the IESBA Code atau Aplikasi umum


IESBA Code sama dengan konten Bagian A: Prinsip Dasar Etika Profesi
pada Kode Etik Profesi Akuntan Publik yang dikeluarkan oleh IAPI. Untuk
konten Professional Accountants In Public Practice hampir sama dengan
Bagian B: Aturan Etika Profesi. Dalam IESBA Code mencakup bagian akhir
tentang Professional Accountants In Business sedangkan pada Kode Etik
Akuntan Publik yang dikeluarkan IAPI tidak terdapat penjelasan bagian
tersebut. Hal ini sangat wajar jika menilik hubungan IFAC dengan IAPI.
IFAC merupakan organisasi profesi akuntansi seluruh dunia dan mewakili
profesi akuntan di berbagai sektor. Sangatlah wajar jika Kode Etik yang
disusun IAPI mengadopsi Kode Etik yang dikeluarkan IFAC dengan
berbagai pertimbangan adaptasi praktik di Indonesia. IESBA Code dapat
diakses melalui website IFAC pada http://www.ifac.org.
4.

Kode Etik Profesi AICPA


Prinsip-prinsip dalam Kode Etika perilaku profesional yang dikeluarkan
oleh AICPA (American Institute of Certified Public Accountants)
menyatakan bahwa profesi mengakui tanggung jawabnya kepada masyarakat,
klien, dan kolega. AICPA merupakan asosiasi profesi akuntan publik di
Amerika Serikat. Prinsip-prinsip ini menjadi pedoman bagi para anggota
untuk melaksanakan tanggung jawab profesionalnya serta menyatakan ajaran
dasar etika dan perilaku profesional. Untuk menjalankan prinsip-prinsip ini
diperlukan komitmen yang teguh agar menjadi perilaku yang terhormat,
bahkan dengan mengorbankan keuntungan pribadi (Boynton et al., 2001).
Sebenarnya siapa yang dimaksud dengan CPA (anggota atau anggota
kantor akuntan publik)? Interpretasi 101-9 Peraturan Perilaku AICPA
menjelaskan CPA (anggota atau anggota kantor akuntan publik) meliputi
semua dari berikut ini.
a. Semua orang (dari setiap tingkatan) yang berpartisipasi dalam perikatan,
kecuali mereka yang hanya melaksanakan fungsi clerk rutin seperti juru
ketik atau operator mesin fotokopi.
b. Semua orang yang memiliki posisi manajerial dan berlokasi dalam
kantor yang berpartisipasi signifikan dalam perikatan (misalnya direktur
sumber daya manusia).
c. Semua pemilik, partner, dan pemegang saham dari kantor akuntan
publik.

 EKSI4308/MODUL 4

d.

4.49

Sebuah entitas (misalnya kemitraan, korporasi, perwalian, atau kerja


sama) yang kebijakan usaha, keuangan, atau akuntansinya dapat
dikendalikan oleh seseorang atau lebih dari orang-orang yang telah
disebutkan di atas atau oleh dua orang atau lebih yang dipilih dan
ditunjuk untuk bertindak bersama-sama.

Pengaturan sendiri dan etika profesional demikian penting bagi profesi


akuntan, sehingga peraturan AICPA menetapkan perlunya dibentuk Divisi
atau Tim Etika profesional. Misi dari tim ini adalah untuk (a)
mengembangkan dan menjaga standar etika dan secara efektif menegakkan
standar-standar tersebut sehingga dapat dipastikan bahwa kepentingan
masyarakat terlindungi; (b) meningkatkan kesadaran masyarakat atas nilainilai CPA; (c) menyediakan pedoman yang mutakhir dan berkualitas
sehingga para anggota mampu menjadi penyedia nilai utama dalam
bidangnya. Tim ini melaksanakan tiga fungsi utama untuk menyelesaikan
misinya, yaitu berikut ini.
a. Menetapkan standar: Komite eksekutif Etika Profesional melakukan
interpretasi atas Kode Perilaku Profesional AICPA serta mengusulkan
perubahan pada kode etik perilaku.
b. Penegakan etika: Tim Etika Profesional melakukan investigasi atas
potensi masalah-masalah disiplin yang melibatkan anggota AICPA serta
masyarakat CPA negara bagian dan Program Penegakan Etika Bersama.
c. Jasa Permintaan Bantuan Teknis (ethics hotline): Tim Etika Profesional
melakukan pendidikan bagi anggota serta mempromosikan pemahaman
atas standar etika yang ada dalam Kode Perilaku Profesional AICPA
pada bidang praktik yang spesifik. (Boynton et al., 2001)
Adapun komposisi Kode Perilaku Profesional AICPA (Code of
Professional Conduct AICPA) yang telah direvisi Tahun 1988 sebagai
berikut.
a. Prinsip-prinsip (principles) yang menyatakan ajaran dasar perilaku etika
dan memberikan rerangka kerja bagi peraturan-peraturan.
b. Peraturan Perilaku (Rules of Conduct) yang menetapkan standar
minimum perilaku yang dapat diterima dalam pelaksanaan layanan
profesional.

4.50

Auditing I

Sebagai tambahan atas kedua seksi dari Kode tersebut, maka Komite
Eksekutif Divisi Etika Profesional mengeluarkan pengumuman sebagai
berikut.
a. Interpretasi Peraturan Perilaku (interpretations of The Rules of Conduct)
yang menyediakan pedoman tentang lingkup dan penerapan peraturanperaturan spesifik.
b. Ketetapan Etika (Ethics Rullings) yang menunjukkan penerapan
Peraturan Perilaku dan Interpretasi pada kondisi nyata tertentu.
Jika terdapat penyimpangan yang dilakukan anggota untuk beberapa
pengumuman tersebut maka CPA harus memberikan alasan atas setiap
penyimpangan.
Bagian-bagian Kode Perilaku Profesional AICPA disusun dalam urutan
spesifisitas yang semakin meningkat; prinsip-prinsip menyediakan standar
perilaku yang ideal, sementara ketetapan etika atau kaidah etika bersifat
sangat spesifik. Beberapa definisi yang diambil dari Kode Perilaku
Profesional AICPA, harus dipahami agar dapat menginterpretasikan aturanaturannya (Arens et al., 2008).
a. Klien. Setiap orang atau entitas, selain dari atasan anggota, yang
menugaskan anggota atau kantornya untuk melaksanakan jasa
profesional.
b. Kantor Akuntan. Bentuk organisasi yang diizinkan oleh hukum atau
peraturan yang karakteristiknya sesuai dengan resolusi Dewan American
Institute of Certified Public Accountants yang bertugas dalam praktik
akuntansi publik, kecuali untuk tujuan menerapkan Rule 101,
Independensi, kantor mencakup setiap partner.
c. Institute, American Institute of Certified Public Accountants.
d. Anggota. Seorang anggota, anggota asosiasi, atau asosiasi internasional
dari American Institute of Certified Public Accountants.
e. Praktik akuntansi publik. Praktik akuntansi publik terdiri dari
pelaksanaan kerja untuk klien oleh seorang anggota atau kantor akuntan
anggota, yang bertindak sebagai akuntan publik, atas jasa profesional
akuntansi, perpajakan, perencanaan keuangan pribadi, jasa pendukung
litigasi, dan jasa-jasa profesional di mana standar telah ditetapkan oleh
lembaga yang ditunjuk oleh Dewan.

 EKSI4308/MODUL 4

4.51

C. PENUTUP
Pada dasarnya, konsep dalam modul ini menengarai bahwa kode etik
harus tertanam dalam jiwa profesi Akuntan Publik. Enam prinsip etika yang
terdapat dalam kode etik adalah sebagai berikut.
1. Tanggung jawab. Dalam melaksanakan tanggung jawabnya secara
profesional, anggota harus melatih sensitive professional dan moral
judgments dalam setiap aktivitas. Kode berada dalam tiga area yaitu:
untuk meningkatkan art of accounting, untuk menjaga kepercayaan
publik, dan untuk membawa tanggung jawab profesional dalam
pelaksanaan.
2. Melayani kepentingan publik. Anggota harus menerima kewajiban untuk
melayani kepentingan publik, menghormati kepercayaan publik, dan
menunjukkan komitmen pada profesionalisme.
3. Integritas. Untuk menjaga dan memperluas kepercayaan publik setiap
anggota harus menunjukkan tanggung jawab profesional dengan
integritas yang tinggi.
4. Objektivitas dan Independensi. Anggota harus menjaga objektivitas dan
bebas dari konflik kepentingan dalam melaksanakan tanggung jawabnya.
Akuntan dalam praktiknya harus independence in fact dan independence
in appereance ketika memberikan jasa audit dan jasa atestasi lainnya.
5. Kecermatan (due care). Anggota harus mengamati teknikal profesi dan
standar etik, bekerja keras secara terus menerus untuk meningkatkan
kompetensi dan kualitas pelayanan, dan menunjukkan tanggung jawab
sebagai kemampuan anggota yang terbaik.
6. Lingkup dan sifat jasa. Anggota dalam praktiknya harus mengikuti
prinsip code of conduct profesional dalam menentukan lingkup dan
bentuk jasa yang diberikan.
Dalam beberapa literatur banyak disimpulkan bahwa etika tidak sama
dengan moralitas. Etika lebih diartikan sebagai suatu perangkat prinsip moral
yang dipegang oleh individu atau kelompok dan menentukan tingkah laku
individu atau kelompok tersebut. Moral merupakan suatu dasar pengambilan
keputusan berdasarkan standar benar dan salah. Individu dan kelompok juga
dapat berlaku tidak etis yang dapat didorong oleh standar etika yang berbeda
dengan etika secara umum dan tindak mementingkan diri sendiri. Dalam
setiap pengambilan keputusan yang memiliki suatu konsekuensi bagi diri

Auditing I

4.52

sendiri dan orang lain terkadang menghadapi suatu dilema. Terlebih jika
keputusan memberi dampak baik pada satu pihak namun sekaligus dampak
yang buruk bagi pihak lain. Untuk mengatasi hal tersebut, seseorang dapat
menggunakan suatu kerangka kerja etika umum untuk pengambilan
keputusan.
Etika bukan hanya menjadi sesuatu yang mendorong adanya kondisi
ideal terhadap keberadaan moral tetapi juga membawa tatanan moral dalam
suatu profesi atau jabatan. Profesi itu sendiri memiliki karakteristik dan salah
satunya adalah adanya standar yang mengatur hubungan praktisi dengan
klien, kolega, dan publik. Standar etika dalam suatu profesi umumnya
tertuang dalam kode etik profesi.
Berbagai kode etik yang dikeluarkan asosiasi profesi akuntan baik di
Indonesia dan Internasional umumnya meliputi prinsip-prinsip dasar yang
harus dijunjung dan diterapkan praktisi akuntan publik. Selain prinsipprinsip, juga terdapat aturan etika yang merupakan pelaksanaan pemberian
jasa profesional yang masih dalam kerangka prinsip dasar etika.
L AT IH AN
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,
kerjakanlah latihan berikut!
1) Sebutkan seluruh Prinsip Etika IAI!
2) Sebutkan seluruh Prinsip Dasar Kode Etik Akuntan Publik yang
dikeluarkan IAPI!
3) Apa saja kewajiban praktisi akuntan publik dalam hal memegang prinsip
perilaku profesional menurut Kode Etik Akuntan Publik?
4) Apa sajakah ancaman terhadap kepatuhan praktisi pada prinsip dasar
etika profesi?
5) Sebutkan larangan rangkap jabatan apa saja yang tidak boleh dijabat oleh
seorang akuntan publik?
6) Jelaskan yang dimaksud dengan kompetensi dan pembagian fasenya!
7) Sebutkan apa saja yang termasuk pencegahan yang dibuat oleh profesi,
perundang-undangan, atau peraturan!
8) Jelaskan tentang organisasi IFAC!
9) Sebutkan komposisi Kode Perilaku Profesional AICPA!
10) Sebutkan dan jelaskan prinsip etika AICPA!

 EKSI4308/MODUL 4

4.53

Petunjuk Jawaban Latihan


1) Prinsip Etika IAI terdiri atas 8 prinsip, yaitu berikut ini.
a. Prinsip pertama, tanggung jawab profesi. Dalam melaksanakan
tanggung jawabnya sebagai profesional setiap anggota harus
senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam
semua kegiatan yang dilakukannya.
b. Prinsip kedua, kepentingan publik. Setiap anggota berkewajiban
untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada
publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan
komitmen atas profesionalisme.
c. Prinsip ketiga, integritas. Untuk memelihara dan meningkatkan
kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab
profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.
d. Prinsip keempat, objektivitas. Setiap anggota harus menjaga
objektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam
pemenuhan kewajiban profesionalnya.
e. Prinsip kelima, kompetensi dan kehati-hatian profesional. Setiap
anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan kehatihatian, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban
untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesional
pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau
pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional yang
kompeten berdasarkan perkembangan praktik, legislasi dan teknik
yang paling mutakhir.
f. Prinsip keenam, kerahasiaan. Setiap anggota harus, menghormati
kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa
profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan
informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau
kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.
g. Prinsip ketujuh, Perilaku Profesional. Setiap anggota harus
berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan
menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.
h. Prinsip kedelapan, standar teknis. Setiap anggota harus
melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan
standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan
dengan berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk

4.54

Auditing I

melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan


tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan objektivitas.
2) Prinsip dasar Kode Etika Akuntan Publik (IAPI), yaitu sebagai berikut.
a. Prinsip integritas.
Setiap Praktisi harus tegas dan jujur dalam menjalin hubungan
profesional dan hubungan bisnis dalam melaksanakan pekerjaannya.
b. Prinsip objektivitas.
Setiap Praktisi tidak boleh membiarkan subjektivitas, benturan
kepentingan, atau pengaruh yang tidak layak (undue influence) dari
pihak-pihak lain memengaruhi pertimbangan profesional atau
pertimbangan bisnisnya.
c. Prinsip kompetensi serta sikap kecermatan dan kehati-hatian
profesional (professional competence and due care).
Setiap Praktisi wajib memelihara pengetahuan dan keahlian
profesionalnya pada suatu tingkatan yang dipersyaratkan secara
berkesinambungan, sehingga klien atau pemberi kerja dapat
menerima jasa profesional yang diberikan secara kompeten
berdasarkan perkembangan terkini dalam praktik, perundangundangan, dan metode pelaksanaan pekerjaan. Setiap Praktisi harus
bertindak secara profesional dan sesuai dengan standar profesi dan
kode etik profesi yang berlaku dalam memberikan jasa
profesionalnya.
d. Prinsip kerahasiaan.
Setiap Praktisi wajib menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh
sebagai hasil dari hubungan profesional dan hubungan bisnisnya,
serta tidak boleh mengungkapkan informasi tersebut kepada pihak
ketiga tanpa persetujuan dari klien atau pemberi kerja, kecuali jika
terdapat kewajiban untuk mengungkapkan sesuai dengan ketentuan
hukum atau peraturan lainnya yang berlaku. Informasi rahasia yang
diperoleh dari hubungan profesional dan hubungan bisnis tidak
boleh digunakan oleh praktisi untuk keuntungan pribadinya atau
pihak ketiga.
e. Prinsip perilaku profesional.
Setiap Praktisi wajib mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku
dan harus menghindari semua tindakan yang dapat mendiskreditkan
profesi.

 EKSI4308/MODUL 4

4.55

3) Dalam prinsip perilaku profesional, kewajiban praktisi, yaitu (seksi


150.1 dan 150.2)
(150.1) Prinsip perilaku profesional mewajibkan setiap Praktisi untuk
mematuhi setiap ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku,
serta menghindari setiap tindakan yang dapat mendiskreditkan
profesi. Hal ini mencakup setiap tindakan yang dapat
mengakibatkan terciptanya kesimpulan yang negatif oleh pihak
ketiga yang rasional dan memiliki pengetahuan tentang semua
informasi yang relevan, yang dapat menurunkan reputasi
profesi.
(150.2) Dalam memasarkan dan mempromosikan diri dan
pekerjaannya, setiap Praktisi tidak boleh merendahkan martabat
profesi. Setiap Praktisi harus bersikap jujur dan tidak boleh
bersikap atau melakukan tindakan sebagai berikut.
(a) Membuat pernyataan yang berlebihan atas jasa profesional
yang dapat diberikan, kualifikasi yang dimiliki, atau
pengalaman yang telah diperoleh.
(b) Membuat pernyataan yang merendahkan atau melakukan
perbandingan yang tidak didukung bukti terhadap hasil
pekerjaan Praktisi lain.
4) Klasifikasi ancaman terhadap kepatuhan seorang praktisi pada prinsip
dasar etika profesi, yaitu berikut ini.
a. Ancaman kepentingan pribadi, yaitu ancaman yang terjadi sebagai
akibat dari kepentingan keuangan maupun kepentingan lainnya dari
Praktisi maupun anggota keluarga langsung atau anggota keluarga
dekat dari Praktisi.
b. Ancaman telaah pribadi, yaitu ancaman yang terjadi ketika
pertimbangan yang diberikan sebelumnya harus dievaluasi kembali
oleh Praktisi yang bertanggung jawab atas pertimbangan tersebut.
c. Ancaman advokasi, yaitu ancaman yang terjadi ketika Praktisi
menyatakan sikap atau pendapat atas suatu hal yang dapat
mengurangi objektivitas selanjutnya dari Praktisi tersebut.
d. Ancaman kedekatan, yaitu ancaman yang terjadi ketika Praktisi
terlalu bersimpati terhadap kepentingan pihak lain sebagai akibat
dari kedekatan hubungannya.
e. Ancaman intimidasi, yaitu ancaman yang terjadi ketika Praktisi
dihalangi untuk bersikap objektif.

4.56

Auditing I

5) Akuntan Publik dilarang memiliki atau menjadi rekan pada lebih dari 1
(satu) KAP; dan Akuntan Publik dilarang merangkap jabatan sebagai:
a. pejabat negara;
b. pimpinan, anggota, atau pegawai pada lembaga pemerintahan,
lembaga negara, atau lembaga lainnya yang dibentuk dengan
peraturan perundang-undangan;
c. pimpinan, pengurus, atau pegawai pada badan usaha milik negara,
daerah, swasta, atau rekan pada badan usaha lainnya;
d. pimpinan, pengurus, atau pegawai pada badan hukum lainnya;
e. pimpinan atau pengurus pada partai politik;
f. pimpinan, pengurus, atau pegawai pada lembaga pendidikan; atau
g. komisaris, komite yang bertanggung jawab kepada komisaris, atau
jabatan lain yang menjalankan fungsi yang sama dengan komisaris
atau komite dimaksud pada lebih dari 2 (dua) badan usaha milik
negara, daerah, swasta, atau badan hukum lainnya.
6) Kompetensi diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman. Anggota
seyoganya tidak menggambarkan dirinya memiliki keahlian atau
pengalaman yang tidak mereka punyai. Dalam semua penugasan dan
dalam semua tanggung jawabnya, setiap anggota harus melakukan upaya
untuk mencapai tingkatan kompetensi yang meyakinkan bahwa kualitas
jasa yang diberikan memenuhi tingkatan profesionalisme tinggi seperti
disyaratkan oleh Prinsip Etika. Kompetensi profesional dapat dibagi
menjadi 2 (dua) fase yang terpisah.
a. Pencapaian Kompetensi Profesional. Pencapaian kompetensi
profesional pada awalnya memerlukan standar pendidikan umum
yang tinggi, diikuti oleh pendidikan khusus, pelatihan dan ujian
profesional dalam subyek-subyek yang relevan, dan pengalaman
kerja. Hal ini harus menjadi pola pengembangan yang normal untuk
anggota.
b. Pemeliharaan Kompetensi Profesional.
(1) Kompetensi harus dipelihara dan dijaga melalui komitmen
untuk belajar dan melakukan peningkatan profesional secara
berkesinambungan selama kehidupan profesional anggota.
(2) Pemeliharaan kompetensi profesional memerlukan kesadaran
untuk terus mengikuti perkembangan profesi akuntansi,
termasuk di antaranya pernyataan-pernyataan akuntansi,

 EKSI4308/MODUL 4

4.57

auditing dan peraturan lainnya, baik nasional maupun


internasional yang relevan.
(3) Anggota harus menerapkan suatu program yang dirancang
untuk memastikan terdapatnya kendali mutu atas pelaksanaan
jasa profesional yang konsisten dengan standar nasional dan
internasional.
Kompetensi menunjukkan terdapatnya pencapaian dan pemeliharaan
suatu tingkatan pemahaman dan pengetahuan yang memungkinkan
seorang anggota untuk memberikan jasa dengan kemudahan dan
kecerdikan. Dalam hal penugasan profesional melebihi kompetensi
anggota atau perusahaan, anggota wajib melakukan konsultasi atau
menyerahkan klien kepada pihak lain yang lebih kompeten. Setiap
anggota bertanggung jawab untuk menentukan kompetensi masingmasing atau menilai apakah pendidikan, pengalaman dan pertimbangan
yang diperlukan memadai untuk tanggung jawab yang harus
dipenuhinya.
7) Pencegahan yang dibuat oleh profesi, perundang-undangan, atau
peraturan mencakup, antara lain:
a. persyaratan pendidikan, pelatihan, dan pengalaman untuk memasuki
profesi;
b. persyaratan
pengembangan
dan
pendidikan
profesional
berkelanjutan;
c. peraturan tata kelola perusahaan;
d. standar profesi;
e. prosedur pengawasan dan pendisiplinan dari organisasi profesi/
regulator;
f. penelaahan eksternal oleh pihak ketiga yang diberikan kewenangan
hukum atas laporan, komunikasi, atau informasi yang dihasilkan
oleh praktisi.
8) International Federation of Accountants (IFAC) merupakan organisasi
profesi akuntansi seluruh dunia. Organisasi ini didirikan Tahun 1977
dengan misi untuk melayani kepentingan publik dengan memperkuat
profesi akuntansi seluruh dunia dan memberi kontribusi bagi
pengembangan perekonomian internasional yang kuat dengan
membangun dan meningkatkan kepatuhan terhadap standar profesional

4.58

Auditing I

yang berkualitas tinggi, lebih lanjut pada konvergensi standar


internasional, dan mendengungkan isu kepentingan publik lebih keras
dalam hal keahlian profesi yang lebih relevan. IFAC terdiri dari 159
anggota dan membentuk hubungan pada 124 negara seluruh dunia,
mewakili sekitar 2,5 juta akuntan pada praktik publik, industri, dan
komersial, sektor publik, dan pendidikan. Tidak ada lembaga akuntansi
di dunia dan beberapa organisasi lainnya yang memiliki dukungan
internasional luas seperti karakter IFAC.
9) Adapun komposisi Kode Perilaku Profesional AICPA (Code of
Professional Conduct) AICPA yang telah direvisi Tahun 1988 sebagai
berikut.
a. Prinsip-prinsip (principles) yang menyatakan ajaran dasar perilaku
etika dan memberikan rerangka kerja bagi peraturan-peraturan.
b. Peraturan Perilaku (Rules of Conduct) yang menetapkan standar
minimum perilaku yang dapat diterima dalam pelaksanaan layanan
profesional.
Sebagai tambahan atas kedua seksi dari Kode tersebut, maka Komite
Eksekutif Divisi Etika Profesional mengeluarkan pengumuman sebagai
berikut.
a. Interpretasi Peraturan Perilaku (Interpretations of The Rules of
Conduct) yang menyediakan pedoman tentang lingkup dan
penerapan peraturan-peraturan spesifik.
b. Ketetapan Etika (Ethics Rullings) yang menunjukkan penerapan
Peraturan Perilaku dan Interpretasi pada kondisi nyata tertentu.
Jika terdapat penyimpangan yang dilakukan anggota untuk beberapa
pengumuman tersebut maka CPA harus memberikan alasan atas setiap
penyimpangan.
10) Enam prinsip etika yang terdapat dalam kode etik adalah sebagai berikut.
a. Tanggung jawab. Dalam melaksanakan tanggung jawabnya secara
profesional, anggota harus melatih sensitive professional dan moral
judgments dalam setiap aktivitas. Kode berada dalam tiga area, yaitu
untuk meningkatkan art of accounting, untuk menjaga kepercayaan
publik, dan untuk membawa tanggung jawab profesional dalam
pelaksanaan.

 EKSI4308/MODUL 4

b.

c.

d.

e.

f.

4.59

Melayani kepentingan publik. Anggota harus menerima kewajiban


untuk melayani kepentingan publik, menghormati kepercayaan
publik, dan menunjukkan komitmen pada profesionalisme.
Integritas. Untuk menjaga dan memperluas kepercayaan publik
setiap anggota harus menunjukkan tanggung jawab profesional
dengan integritas yang tinggi.
Objektivitas dan Independensi. Anggota harus menjaga objektivitas
dan bebas dari konflik kepentingan dalam melaksanakan tanggung
jawabnya. Akuntan dalam praktiknya harus independence in fact
dan independence in appereance ketika memberikan jasa audit dan
jasa atestasi lainnya
Kecermatan (Due care) Anggota harus mengamati teknikal profesi
dan standar etik,bekerja keras secara terus menerus untuk
meningkatkan kompetensi dan kualitas pelayanan, dan menunjukkan
tanggung jawab sebagai kemampuan anggota yang terbaik.
Lingkup dan sifat jasa. Anggota dalam praktiknya harus mengikuti
prinsip code of conduct profesional dalam menentukan lingkup dan
bentuk jasa yang diberikan.
T ES FO R M AT IF 2
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1) Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional setiap


anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan
profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya. Penjelasan ini
sesuai dengan prinsip Etika IAI, yaitu ....
A. tanggung jawab profesi
B. kepentingan publik
C. integritas
D. objektivitas
2) Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka
pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan
menunjukkan komitmen atas profesionalisme. Prinsip Etika IAI ini
merupakan prinsip ....
A. tanggung jawab profesi
B. kepentingan publik
C. integritas
D. objektivitas

4.60

Auditing I

3) Setiap Praktisi harus tegas dan jujur dalam menjalin hubungan


profesional dan hubungan bisnis dalam melaksanakan pekerjaannya.
Pernyataan ini sesuai dengan Prinsip dasar Kode Etika Akuntan Publik,
yaitu ....
A. integritas
B. kerahasiaan
C. perilaku profesional
D. objektivitas
4) Berikut adalah kewajiban praktisi dalam memegang prinsip
objektivitas........
A. praktisi harus menjelaskan keterbatasan jasa profesional yang
diberikan kepada klien, pemberi kerja, atau pengguna jasa
profesional lainnya untuk menghindari terjadinya kesalahtafsiran
atas pernyataan pendapat yang terkait dengan jasa profesional yang
diberikan.
B. setiap praktisi harus menerapkan semua prosedur yang dianggap
perlu untuk memastikan terlaksananya prinsip kerahasiaan oleh
mereka yang bekerja di bawah wewenangnya, serta pihak lain yang
memberikan saran dan bantuan profesionalnya.
C. setiap praktisi mematuhi setiap ketentuan hukum dan peraturan yang
berlaku, serta menghindari setiap tindakan yang dapat
mendiskreditkan profesi.
D. setiap praktisi wajib untuk tidak membiarkan subjektivitas, benturan
kepentingan, atau pengaruh yang tidak layak dari pihak-pihak lain
memengaruhi pertimbangan profesional atau pertimbangan
bisnisnya
5) Salah satu kewajiban praktisi akuntan publik dalam prinsip Perilaku
Profesional ....
A. praktisi harus menjelaskan keterbatasan jasa profesional yang
diberikan kepada klien, pemberi kerja, atau pengguna jasa
profesional lainnya untuk menghindari terjadinya kesalahtafsiran
atas pernyataan pendapat yang terkait dengan jasa profesional yang
diberikan
B. setiap praktisi harus menerapkan semua prosedur yang dianggap
perlu untuk memastikan terlaksananya prinsip kerahasiaan oleh
mereka yang bekerja di bawah wewenangnya, serta pihak lain yang
memberikan saran dan bantuan profesionalnya
C. setiap praktisi mematuhi setiap ketentuan hukum dan peraturan yang
berlaku, serta menghindari setiap tindakan yang dapat
mendiskreditkan profesi

 EKSI4308/MODUL 4

4.61

D. setiap praktisi wajib untuk tidak membiarkan subjektivitas, benturan


kepentingan, atau pengaruh yang tidak layak dari pihak-pihak lain
memengaruhi pertimbangan profesional atau pertimbangan
bisnisnya
6) Salah satu kewajiban praktisi akuntan publik dalam prinsip Perilaku
Kompetensi Serta Sikap Kecermatan dan Kehati-hatian Profesional ....
A. praktisi harus menjelaskan keterbatasan jasa profesional yang
diberikan kepada klien, pemberi kerja, atau pengguna jasa
profesional lainnya untuk menghindari terjadinya kesalahtafsiran
atas pernyataan pendapat yang terkait dengan jasa profesional yang
diberikan
B. setiap praktisi harus menerapkan semua prosedur yang dianggap
perlu untuk memastikan terlaksananya prinsip kerahasiaan oleh
mereka yang bekerja di bawah wewenangnya, serta pihak lain yang
memberikan saran dan bantuan profesionalnya
C. setiap praktisi mematuhi setiap ketentuan hukum dan peraturan yang
berlaku, serta menghindari setiap tindakan yang dapat
mendiskreditkan profesi
D. setiap praktisi wajib untuk tidak membiarkan subjektivitas, benturan
kepentingan, atau pengaruh yang tidak layak dari pihak-pihak lain
memengaruhi pertimbangan profesional atau pertimbangan
bisnisnya
7) Ancaman yang terjadi ketika pertimbangan yang diberikan sebelumnya
harus dievaluasi kembali oleh Praktisi yang bertanggung jawab atas
pertimbangan tersebut merupakan ancaman....
A. telaah pribadi
B. kepentingan pribadi
C. advokasi
D. kedekatan
8) Ancaman yang terjadi ketika Praktisi menyatakan sikap atau pendapat
tentang suatu hal yang dapat mengurangi objektivitas selanjutnya dari
Praktisi tersebut merupakan ancaman....
A. telaah pribadi
B. kepentingan pribadi
C. advokasi
D. kedekatan
9) Berikut ini adalah konten Kode Etik Akuntan Publik bagian B yang
dikeluarkan IAPI, kecuali ....

Auditing I

4.62

A.
B.
C.
D.

ancaman dan pencegahan


prinsip kerahasiaan
penunjukan praktisi, KAP, atau jaringan KAP
pendapat kedua

10) Berikut merupakan konten Part B: Professional Accountants in Public


Practice yaitu ....
A. Potential Conflicts
B. Financial Interest
C. Conflicts of Interest
D. Preparation and Reporting of Information
11) Berikut ini adalah merupakan prinsip etika Kecermatan (Due Care)
AICPA ....
A. dalam melaksanakan tanggung jawabnya secara profesional, anggota
harus melatih sensitive professional dan moral judgments dalam
setiap aktivitas
B. anggota harus menerima kewajiban untuk melayani kepentingan
publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan
komitmen pada profesionalisme
C. untuk menjaga dan memperluas kepercayaan publik setiap anggota
harus menunjukkan tanggung jawab profesional dengan integritas
yang tinggi
D. anggota harus mengamati teknikal profesi dan standar etik,bekerja
keras secara terus menerus untuk meningkatkan kompetensi dan
kualitas pelayanan, dan menunjukkan tanggung jawab sebagai
kemampuan anggota yang terbaik
12) Berikut ini adalah merupakan prinsip etika Tanggung Jawab AICPA ....
A. dalam melaksanakan tanggung jawabnya secara profesional,
anggota harus melatih sensitive professional dan moral judgments
dalam setiap aktivitas
B. anggota harus menerima kewajiban untuk melayani kepentingan
publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan
komitmen pada profesionalisme
C. untuk menjaga dan memperluas kepercayaan publik setiap anggota
harus menunjukkan tanggung jawab profesional dengan integritas
yang tinggi
D. anggota harus mengamati teknikal profesi dan standar etik,bekerja
keras secara terus menerus untuk meningkatkan kompetensi dan
kualitas pelayanan, dan menunjukkan tanggung jawab sebagai
kemampuan anggota yang terbaik

4.63

 EKSI4308/MODUL 4

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.

Tingkat penguasaan =

Jumlah Jawaban yang Benar


Jumlah Soal

100%

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.

Auditing I

4.64

Kunci Jawaban Tes Formatif


Tes Formatif 1
1) D
2) B
3) A
4) C
5) D
6) C
7) B
8) C
9) A
10) B

Tes Formatif 2
1) A
2) D
3) C
4) A
5) A
6) C
7) B
8) C
9) D
10) A

4.65

 EKSI4308/MODUL 4

Glosarium
Dilema etika

Independence in fact

Independence in
appereance

IFAC (International
Federation of
Accountants)

Komite audit

sebuah situasi dalam hal keputusan harus


diambil terhadap tindakan atau perilaku yang
tepat.
kemampuan auditor untuk mengambil sudut
pandang yang tidak bias dalam pelaksanaan
jasa profesional.
kemampuan auditor untuk mempertahankan
sudut pandang yang tidak bias di mata orang
lain.
organisasi profesi yang dibentuk pada Kongres
Akuntan Internasional ke-2 Tahun 1977
dengan tujuan bagi pengembangan profesi
akuntan di seluruh dunia dengan standar
teknis, etis, dan pendidikan yang disepakati.
beberapa anggota terpilih dari dewan direksi
klien yang tanggung jawabnya meliputi
membantu auditor agar tetap independen
terhadap manajemen.

4.66

Auditing I

Daftar Pustaka
Arens, A. Alvin, and Elder, Beasley (2008). Auditing and Assurance
Services, 12th Edition. Pearson Education.
Boyton, W.C., R.N.Johnson, and W.G. Kell (2001). Modern Auditing, 7th
Edition. John Wiley & Sons.
Brooks, Leonard J. (2004). Business & Professional Ethics for Accountants.
South-Western College Publishing.
Duska, Ronald F., and Duska, B.S. (2003). Accounting Ethics. Blackwell
Publishing.
Fritzsche, David J. (2005). Business Ethics: A Global and Managerial
Perspective, 2nd Edition. McGraw-Hill Irwin.
IFAC (2010). Handbook Of The Code of Ethics For Professional
Accountants, 2010 Edition. http://www.ifac.org
Kode Etik Akuntan Publik IAPI http://www.akuntanpublikindonesia.com
diakses pada 29 Maret 2010
Kode Etik IAI http://www.iaiglobal.or.id diakses pada 29 Maret 2010
Peraturan Pemerintah, Nomor: 17/PMK.01/2008 tentang Jasa Akuntan
Publik