Anda di halaman 1dari 8

EKONOMI PANGAN

(PERMASALAHAN PANGAN DAN GIZI DITINGKAT KONSUMSI)

Disusun oleh :
Kelompok 3
Lintang Aprilla Adistari
Milhannah
Monica Esabilita
Muhammad Iqbal
Muklah Habibah R.H
Nana Chairunnisa
NoorKhalwati Afdhaliya
Norhafifah
Noor Mina wati
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN BANJARMASIN
JURUSAN GIZI
2015/2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara umum di Indonesia terdapat dua masalah gizi utama yaitu kurang gizi makro dan
kurang gizi mikro. Kurang gizi makro pada dasarnya merupakan gangguan kesehatan yang
disebabkan oleh kekurangan asupan energi dan protein. Masalaha gizi makro adalah masalah
gizi yang utamanya disebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan asupan energi dan
protein. Kekurangan zat gizi makro (kekurangan atau ketidak seimbangan asupan energi dan
protein) umumnya disertai dengan kekurangan zat gizi mikro (vitamin dan mineral).
Permasalahan pangan didefinisikan sebagai suatu kondisi ketidakmampuan untuk
memperoleh pangan yang cukup dan sesuai untuk hidup sehat dan beraktivitas dengan baik
untuk sementara waktu dalam jangka panjang. Ada dua jenis permasalahan pangan, yaitu
yang bersifat kronis dan bersifat sementara.
Permasalahan pangan kronis merupakan kondisi kurang pangan (untuk tingkat rumah
tangga berarti kepemilikan pangan lebih sedikit daripada kebutuhan dan untuk tingkat
individu konsumsi pangan lebih rendah dari pada kebutuhan biologis) yang terjadi sepanjang
waktu.
Sedangkan permasalahan pangan kronis mencakup permasalahan pangan musiman.
Permasalahan ini terjadi karena adanya keterbatasan ketersediaan pangan oleh rumah tangga,
terutama masyarakat yang berada di pedesaan.
Peningkatan produksi pangan haruslah dikaitkan dengan program kecukupan pangan dan
gizi bukan saja untuk memenuhi kecukupan Nasional tetapi juga bagi seluruh golongan
rawan pangan dan gizi di Indonesia. Masalah ini perlu mendapat perhatian dan diharapkan
ada pemikiran mengenai bagaimana cara pemerataan pangan dan gizi tersebut ke lapisan
masyarakat yang sangat memerlukan. Membicaran masalah Pangan dan Gizi selalu menarik
karena ia menyangkut yang paling asasi. Untuk mempertahankan eksistensinya (kesehatan,
kegiatan, dan martabat) manusia berusaha untuk mencukupi kebutuhan pangan dan gizi baik
secara langsung maupun tidak langsung. Manusia cenderung berusaha untuk mencukupi
kebutuhan pangan dan gizi dari sumber dayanya sendiri dan mengurangi ketergantungan dari
pihak lain.
1.2 Tujuan Penulisan
Mengetahui permasalahan pangan dan gizi di tingkat konsumsi berdasarkan :
a. Faktor ekonomi dan harga ( Pendapatan )

b. Faktor sosio-budaya dan religi


c. Jumlah Anggota keluarga

BAB II
ISI
Keadaan gizi yang baik merupakan faktor penting dalam upaya mencapai derajat kesehatan
yang optimal. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam menentukan status gizi seseorang dapat

dibagi menjadi dua yaitu faktor yang berpengaruh langsung dan tidak langsung. Faktor yang
berpengaruh tidak langsung yaitu pengeluaran pangan, jumlah anggota keluarga dan
pengetahuan gizi, sedangkan faktor-faktor yang berpengaruh langsung adalah tingkat
konsumsi. Faktor-Faktor Pengaruh Konsumsi pangan merupakan informasi tentang jenis dan
jumlah pangan yang dikonsumsi (dimakan) oleh seseorang atau kelompok orang pada waktu
tertentu. Faktor faktor tersebut dijelaskan sebagai berikut.
2.1 Pengaruh Permasalahan Pangan dan Gizi di tingkat konsumsi berdasarkan Faktor
ekonomi dan harga ( Pendapatan )
Dua perubah ekonomi yang cukup dominan sebagai determinan konsumsi pangan
adalah pendapatan keluarga dan harga (baik harga pangan maupun harga komoditas
kebutuhan dasar). Pertambahan pendapatan secara langsung dapat mempengaruhi perubahan
konsumsi pangan keluarga. Meningkatnya pendapatan berarti memperbesar peluang untuk
membeli pangan dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik. Sebaliknya penurunan
pendapatan akan menyebabkan penurunan dalam hal kualitas dan kuantitas pangan yang
dibeli. Elastisitas pendapatan (pengeluaran) menunjukkan perubahan jumlah pangan yang
diminta yang disebabkan oleh perubahan pendapatan (pengeluaran) yang terjadi pada
tingkat harga yang elaktisitasnya maka pangan dapat dikelompokkan dalam tiga golongan
yaitu :
1. Pangan inferior : misalnya ikan asin, singkong dan lain-lain.
2. Pangan normal : misalnya pangan pokok.
3. Pangan superior : misalnya bahan pangan mewah, seperti daging, ayam, susu dan
lain-lain.
Selain factor pendapatan, factor ekonomi yang mempengaruhi konsumsi pangan
adalah harga pangan dan harga barang non pangan. Harga pangan yang tinggi
menyebabkan berkurangnya daya beli yang berarti pendapatan rill berkurang. Keadaan
ini mengakibatkan konsumsi pangan berkurang. Elastisitas harga menggambarkan
perubahan jumlah pangan yang diminta sebagai akibat terjadinya perbahan harga pangan.

Elatisitas harga terbagi menjadi dua bagian, yaitu :


1.

Elastisitas harga sendiri : adalah persentase perubahan jumlah pangan yang diminta

2.

terhadap perubahan harga pangan tersebut, dengan asumsi harg pangan lain tetap.
Elastisitas harga silang : adalah persentase bernilai positif bagi barang subtitusi
seperti daging ayam dan daging sapi, sedangkan yang bernilai negative berlaku bagi
barang komplementer, seperti gula dan kopi.

Contoh Pangan sebagai lambang status ekonomi :


Roti tawar putih biasanya dikonsumsi oleh seseeorang yang status ekonominya
tinggi, roti tawar berwarna biasanya dikonsumsi oleh pegawai (buruh) dengan
status ekonomi sedang atau rendah. Orang kaya Asia mengkonsumsi nasi pulen.
Semakin kaya biasanya mengkonsumsi gula maupun pangan hewani sebagai
sumber protein dan lemak semakin tinggi. Akan tetapi seringkali orang kaya lebih
mementingkn symbol/status pangan daripada nilai gizi dan cenderung makan
lebih banyak daripada yang dibutuhkan.

2.2 Pengaruh Permasalahan Pangan dan Gizi di tingkat konsumsi berdasarkan Faktor
sosio-budaya dan religi
Aspek sosio-budaya pangan adalah fungsi pangan dalam masyarakat yang berkembang
sesuai keadaan lingkungan, agama, adat, kebiasaan, dan pendidikan masyarakat tersebut.
Kebudayaan mempengaruhi seseorang dalam konsumsi pangan yang menyangkut pemilihan
jenis pangan, pengolahan, serta persiapan penyajiannya. Kebiasaan makan keluarga dan
susunan hidangannya merupakan salah satu manifestasi kebudayaan keluarga yang disebut
life style (gaya hidup).
Ada 3 kelompok masyarakat yang biasanya mempunyai pantangan makan, yaitu anak
kecil, ibu hamil dan ibu menyusui. Keterkaitan beragam factor dengan konsumsi pangan
antara lain :
1.
Model multi-dimensional : dikemukakan oleh Sanjur dan Scoma (1977), yang
menggambarkan bahwa konsumsi pangan merupakan funsi dari kebiasaan makan,
2.

preferenci, ideology dan social budaya.


Childrens food consumption behavior moddel : dikemukakan oleh Lund dan
Burk (1969) bahwa konsumsi p-angan anak tergantung pada adanya sikap,

pengetahuan, dan tiga motivasi utama terhadap pangan yaitu kebutuhan biologis,
psikologis, dan social yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan
3.

sekolah.
Model welkam : dirancang pada tahun 1969, yang menekankan pada factor
ekologi, terutama faktor fisik dan budaya terhadap konsumsi pangan. Factor fisik
meliputi produksi, pengawetan, distribusi, persiapan dan peralatan yang berkaitan
dengan pangan. Faktor budaya mencakup status sosial, peranan sosial/upacara,
etika, pembagian tugas. Kedua factor ini berpengaruh terhadap struktur ekonomi

4.

yang pada gilirannya mempengaaruhi konsumsi pangan.


Keterkaitan antara komponen ekosistem/lingkungan dan penggunaan pangan :
dikemukakan oleh Hartog (1995). Lingkungan budaya, lingkungan alam, dan

5.

penduduk mempengaruhi konsumsi pangan suatu masyarakat.


Levins motivational model atau disebut dengan channel Theory/teori alur :
mengemukakan bahwa konsumsi pangan merupakan unsur pemuasan kebutuhan
social. Asumsi pertama adalah : bahwa semua pangan yng akan dikonsumsi
seseorang bergerak selangkah demi selangkah melalui alur, yang sifat dan
jumlahnya bervariasi antar budaya. Jumlah langkah berbeda-beda untuk setiap
alur untuk setiap jenis pangan. Setiap alur dalam setiap budaya diawasi oleh
orang yang disebut gatekeepers (penjaga pintu). Apa dan bagaimana pangan
masuk ke suatu alur sangat ditentukan oleh gatekeepers tersebut. Asumsi kedua :
bahwa terdapat beragam kekuatan yang menggerakkan pangan dalam alur. Pada
setiap alur terdapat kekuatan yang mendorong pangan masuk ke dalam alur yang
bersangkutan, tetapi juga ada tetapi juga ada kekuatan yang menghadang
masuknya pangan ke dalam alur. Kekuatan yang mendorong atau mengahadang
pangan dalam suatu alur adalah rasa, nilai social, manfaat bagi kesehatan dan

harga
2.3 Pengaruh Permasalahan Pangan dan Gizi di tingkat konsumsi berdasarkan Jumlah
Anggota keluarga
Hubungan antar laju kelahiran yang tinggi dan kurang gizi sangat nyata pada masingmasing keluarga .sumber pangan keluarga terutama mereka yang memiliki anggota keluarga
yang sedikit akan lebih mudah memenuhi kebutuhan makanan nya Karena yang harus diberi
makanan jumlah na sedikit.Pangan yang tersedia untuk suatu keluarga yang besar mungkin

cukup untuk anggota keluarga yang besarnya setengah dari keluarga tersebut ,tetapi cukup
untuk mencegah gangguan gizi pada keluarga yang besar tersebut.
Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga miskin dalam jumlah anggotakeluarga yang
besar adalah paling rawan terhadap kurang gizi diantara seluruh anggota keluarga dan anak
yang

paling

kecil

biasanya

terpengaruh

oleh

kekurangan

pangan.hal

ini

bias

terjadi,karenajika besar keluarga bertambah ,maka pangan untuk setiap anak berkurang dan
banyak orangtua yang tidak menyadari akan hal ini,sehingga anak-anak yang muda mungkin
tidak di beri cukup makan.

BAB III
PENUTUP
Permasalahan pangan dan gizi di tingkat konsumsi dipengaruhi oleh berbagai faktor
penting dalam upaya mencapai derajat kesehatan yang optimal. Faktor-faktor yang
berpengaruh dalam menentukan status gizi seseorang dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor
yang berpengaruh langsung dan tidak langsung. Faktor yang berpengaruh tidak langsung
yaitu pengeluaran pangan, jumlah anggota keluarga dan pengetahuan gizi, sedangkan faktorfaktor yang berpengaruh langsung adalah tingkat konsumsi. Faktor-Faktor Pengaruh
Konsumsi pangan merupakan informasi tentang jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi
(dimakan) oleh seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu.

DAFTAR PUSTAKA
Aningsih, Fitria. 2012. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Masalah Gizi Masyarakat.
http://www.fitria1705.files.wordpress.com/2012/06/7-faktor-yg-mempengaruhi-masalahgizi-masyarakat.ppt. Diakses pada tanggal 09 September 2016. Diposkan oleh Winda
Mulia Ningsih di 06.37
Ema, nurhalimah pangan. Academia.edu. Diakses pada tanggal 09 September 2016
Soemarno, Prof.Dr. Ir. MS. 2012. Ketahanan Pangan Food Security.
http://marno.lecture.ub.ac.id/files/2012/04/KOMPENDIUM-KETAHANAN-PANGAN.ppt
Diakses pada tanggal 09 September 2016