Anda di halaman 1dari 19

AKUNTANSI SYARIAH

Disusun Oleh :

1. Elvia Rozak (8335154651)


2. Nurul Rachmawati (8335154469)
3. Sabrina Satriavi (

PROGRAM STUDI AKUNTANSI ALIH PROGRAM (S1)


JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2015

AKUNTANSI TRANSAKSI IJARAH

A. DEFINISI DAN PENGGUNAAN


Ijarah dan ijarah Muntahiyah Bit tamlik (IMBT) merupakan transaksi sewa menyewa yang
diperbolehkan oleh syariah. Akad ijarah merupakan akad yang memfasilitasi transaksi
pemindahan hak guna (maanfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui
pembayaran sewa/upah tanpa diikuti pemindahan kepemilikan barang.
Bagi bank syariah, transaksi ini memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan
jenis akad lainnya yaitu:
1. Dibandingkan dengan akad murabahah, akad ijarah lebih fleksibel dalam hal objek
transaksi.
2. Dibandingkan dengan investasi, akad ijarah mengandung resiko usaha yang lebih rendah,
yaitu adanya pendapatan sewa yang relatif tetap
Rukun Ijarah adalah :
1. Mustajir / penyewa
2. Muajjir / pemilik barang
3. Majur / barang atau obyek sewaan
4. Ajran atau Ujrah / harga sewa atau manfaat sewa
5. Ijab Qabul
Syarat-syarat Ijarah adalah :
1. Pihak yang terlibat harus saling ridha
2. Majur (barang/obyek sewa) ada manfaatnya :
a. manfaat tersebut dibenarkan agama / halal
b. manfaat tersebut dapat dinilai dan diukur / diperhitungkan
c. manfaatnya dapat diberian kepada pihak yang menyewa
d. Majur wajib dibeli Mustajir
Jenis barang / jasa yang dapat disewakan
1. Barang modal; aset teap, misalnya bangunan, gedung, kantor, ruko, dan lain-lain.
2. Barang produksi : mesin, alat-alat berat, dan lain-lain

3. Barang kendaraan transportasil darat, laut dan udara.


4. Jasa untuk membayar ongkos :

a. Uang sekolah / kuliah


b. Tenaga kerja
c. Hotel
d. Angkut dan transportasi, dan sebagainya
Dewan Syariah Nasional menetapkan aturan tentang ijarah sebagaimana tercantum dalam fatwa
Dewan Syariah Nasional nomor 09/DSN-MUI/IV/2000 tertanggal 13 April 2000Himpunan
fatwa, Edisi kedua, hal 62-64):

B. KETENTUAN SYARII, RUKUN TRANSAKSI DAN PENGAWASAN SYARIAH


RANSAKSI IJARAH DAN TRANSAKSI IMBT
1. Ketentuan syarI Transaksi Ijarah dan Transaksi IMBT
Berdasarkan terminologi, Ijarah adalah pemindahkan kepemilikan fasilitas dengan
imbalan. Penyewaan dalam sudut pandang islam meliputi dua hal yaitu;
1. Penyewaan terhadap potensi atau sumber daya manusia
2. Penyewaan terhadap suatu fasilitas
Ketentuan syarI transaksi ijarah diatur dalam fatwa DSN no 09 tahun 2000.
Adapun ketentuan syari transaksi ijarah untuk penggunaan jasa diatur dalam fatwa DSN
no 44 tahun 2004. Sedangkan ketentuan syari IMBT diatur dalam fatwa DSN no 27
tahun 2000.
2. Rukun Transaksi Ijarah
Rukun transaksi ijarah meliputi (a) transaktor yakni penyewa dan pemberi sewa,
(b) objek ijarah, yakni fasilitas dan uang sewa; dan (3) ijab dan kabul menunjukkan
searah terima, baik berupa ucapan atau perbuatan.
a. Transaktor
Transaktor terdiri atas penyewa (nasabah) dan pemberi sewa (bank syariah).
Kedua transaktor disyaratkan memiliki kompetensi berupa akil baligh dan
kemampuan memilih yang optimal seperti tidak gila, tidak sedang dipaksa dan yang
lain yang sejenis. Impilikasi perjanjian sewa kepada bank syariah sebagai penyewa
adalah sebagai berikut:

Menyediakan aset yang disewakan


Menanggung biaya pemeliharaan aset

Menjamin bila terdapat cacat pada aset yang disewakan

Adapun kewajiban nasabah sebagai penyewa adalah:

Membayar sewa dan bertanggungjawab untuk menjaga keutuhan aset yang


disewa serta menggunakannya sesuai kontrak.
Menanggung biaya pemeliharaan yang sifatnya ringan (tidak materiil).
Jika aset yang disewa rusak, bukan karena pelanggaran dari penggunaan yang
dibolehkan, juga bukan karena kelalaian pihak penyewa dalam menjaganya, ia
tidak bertanggung jawab atas kerusakan tersebut.

b. Objek ijarah
Objek kontrak ijarah meliputi pembayaran sewa dan manfaat dari penggunaan
aset. Adapun ketentuan objek ijarah adalah sebagai berikut:

Objek ijarah adalah maanfaat dari penggunaaan barang dan jasa.


Mafaat barang harus bisa dinilai dan dapat dilaksanakan dalam kontrak.

Fasilitasnya mubah (dibolehkan).

Kesanggupan memenuhi maanfaat harus nyata dan sesuai dengan syariah.

Manfaat harus dikenali secara spesifit sedemikian rupa untuk


menghilangkan ketidaktahuan yang akan mengakibatkan sengketa.

Spesifikasi manfaat harus dinyatakan dengan jelas termasuk jangka waktunya.

Sewa adalah sesuatu yang dijanjikan dan dibayar kepada LKS sebagai
pembayaran manfaat.

Ketentuan dalam menentukan sewa dapat diwujudkan dalam ukuran waktu,


tempat dan jarak.

c. Ijab dan Kabul


Ijab dan kabul dalam akad ijarah merupakan peryataan dari kedua belah pihak
yang berkontrak, dengan cara penawaran dari pemilik aset (bank syariah) dan
penerimaan yang dinyatakan oleh penyewa (nasabah).
3. Rukun Transaksi IMBT

Berdasarkan fatwa DSN no 27 tahun 2002, disebutkan bahwa pihak yang


melakukan transaksi IMBT harus melaksanakan akad ijarah terlebih dahulu. Dengan
demikian pada akad IMBT, juga berlaku semua rukun dan syarat transaksi ijarah. Adapun
akad perjanjian IMBT harus disepakati ketika akad ijarah ditandatangani. Selanjutnya
pelaksanaan akad pemindahaan kepemilikan, baik dengan jual beli atau pemberian hanya
dapat dilakukan setelah masa ijarah selesai.
4. Rukun Transaksi Ijarah Untuk Pembiayaan Multijasa
Pembiayaan multijasa dengan skema ijarah adalah pembiayaan yang diberikan
oleh Lembaga Keuangan Syariah (LKS) kepada nasabah dalam memperoleh manfaat atas
suatu jasa dengan menggunakan akad ijarah, pembiayaan multijasa hukumnya boleh
(jaiz) dengan menggunakan akad ijarah atau kafalah.
5. Pengawasan Syariah Transaksi Ijarah dan IMBT
Untuk menguji kesesuaian transaksi ijrah dan IMBT yang dilakukan bank dengan
fatwa dewan DSN, DPS suatu bank syariah akan melakukan pengawasan syariah.
Menurut bank Indonesia, pengawasan tersebut antara lain berupa:
a. Memastikan penyaluran dana beredasarkan prinsip ijarah tidak dipergunakan untuk
kegiatan yang bertentangan dengan prinsip syariah;
b. Memastikan bahwa akad pengalihan kepemilikan dalam IMBT dilakukan setelah
akad ijarah selesai, dan dalam akad ijarah, janji (waad) untuk pengalihan
kepemilikan harus dilakukan pada saat berakhirnya akad ijarah;
c. Meneliti pembiayaan berdasarkan prinsip ijarah untuk multijasa menggunakan
perjanjian sebagaimana diatur dalam fawa yang berlaku tentang multijasa dan
ketentuan lainnya antara lain ketentuan standard akad;
d. Memastikan besar ujrah atau fee multijasa dengan menggunakan akad ijarah telah
disepakati di awal dan diyatakan dalam bentuk nominal bukan dalam bentuk
persentase.
C. ALUR TRANSAKSI IJARAH DAN IMBT
Transaksi dilakukan dengan alur sebagai berikut:
Pertama, nasabah mengajukan permohonan ijarah dengan mengisi formulir permohonan.
Berbagai informasi yang diberikan selanjutnya deverifikasi kebenarannya dan dianalisis
kelayakannya oleh bank syariah.
Kedua, sebagaimana difatwakan oleh DSN, bank selanjutnya menyediakan objek sewa
yang akan digunakan nasabah.
Ketiga, nasabah menggunakan barang atau jasa yang disewakan sebagaimana yang
disepakati dalam kontrak.

Keempat, nasabah menyewa membayar fee sewa kepada bank syariah sesuai dengan
kesepakatan akad sewa.
Kelima, pada transaksi IMBT, setelah masa ijarh selesai, bank sebagai pemilik barang
dapat melakukan pengalihan hak milik kepada penyewa.

ALUR TRANSAKSI IJARAH DAN IMBT

4. membayar sewa pada


bank

3. menggunakan objek
ijarah

2. membeli
barang/jasa
dari
pemasok

5. mengalihkan hak
milik barang
ijarah pada akhir
masa sewa (khusus

D. CAKUPAN STANDAR
BITTAMLIK

AKUNTANSI

IJARAH

DAN

IJARAH

MUNTAHIYA

Standar akuntansi untuk ijarah masih menggunakan PSAK no 59 bagian ijarah


dan IMBT paragraf 105 sampai paragaf 133. Standar ini memuat tentang mekanisme
transaksi dan ketentuan tentang pengakuan dan pengukuran transaksi dalam yang terdapat
dalam skema ijarah dan IMBT. Beberapa hal dicakup dalam standar ini adalah pengakuan
dan pengukuran perolehan objek ijarah, pendapatan ijarah dan IMBT, piutang pendapatan

ijarah dan IMBT, biaya perbaikan yang dikeluarkan, perpindahan hal milik objek sewa,
terjadinya penurunan nilai objek sewa secara permanen.
E. TEKNIS PERHITUNGAN DAN PENJURNALAN TRANSAKSI IJARAH BAGI BANK
SYARIAH.
Pembahasan teknis perhitungan dan penjurnalan transaksi ijarah akan mengacu
pada kasus 12.1 berikut.

Kasus 12.1.: Transaksi ijarah


PT. Namira membutuhkan sebuah mobil untuk keperluan usahanya. Pada bulan januari 20XA,
PT Namira mengajukan permohonan ijarah kepada bank syariah. Adapun informasi tentang
penyewaan tersebut adalah sebagai berikut:
Harga perolehan barang
: Rp 125.000.000
Umur ekonomis barang
: 5 tahun (60 bulan)
Masa Sewa
: 24 bulan
Nilai sisa umur ekonomis
: Rp 5.000.000
Sewa per bulan
: Rp 2.400.000
Uang muka sewa
: Rp 7.200.000
Biaya administrasi
: Rp 480.000

1. Teknis Perhitungan Transaksi Ijarah


Beberapa hal yang perlu dilakukan perhitungan terkait transaksi ijarah adalah
perhitungan penentuan keuntungan dan fee ijarah, perhitungan uang muka sewa, dan
biaya administrasi ijarah.
2. Perhitungan biaya administrasi ijarah
Biaya administrasi bisa diterapkan dengan menggunakan persentase tertentu dari
modal yang digunakan untuk persewaan. Misalkan dalam kasus di atas, bank syariah
menggunakan kebijakan 1% dari modal persewaan. Maka biaya administrasinya adalah
sebagai berikut:
Biaya administrasi ijarah

= n% x modal persewaan per bulan x jumlah bulan


= 1% x Rp 2.000.000 x 24
= 1% x Rp 48.000.000
= Rp 480.000

3. Perjurnalan transaksi ijarah

a.

Transaksi pengadaan aset ijarah


Sebelum akad ijarah dilakukan, bank syariah terlebih dahulu melakukan
pengadaan aset ijarah. Berdasarkan PSAK no 59 paragraf 108 disebutkan bahwa
objek sewa diakui sebesar biaya perolehan pada saat perolehan.
Misalkan untuk keperluan transaksi ijarah PT Namira di atas, pada tanggal 5
juni 20XA bank syariah membeli aset pada perusahaan yang mensuplai barang
yang diperlukan. Pembelian dilakukan via rekening pemasok tersebut adalah
sebagai berikut:
tanggal Rekening

Debet (Rp)

5/6/XA

120.000.000

Db Persediaan ijarah
Kr. Kas/Rekening supplir

b.

Kredit (Rp)

120.000.000

Transaksi pada saat akad disepakati


Pada saat akad disepakati, terdapat beberapa transaksi yang harus diakui oleh bank
syariah. Transaksi tersebut adalah (1) konversi persediaan untuk ijarah menjadi aset
ijarah, sebagai bentuk pengakuan atas adanya pengalihan hak guna kepada penyewa
(2) Penerimaan biaya administrasi.
Misalkan pada tanggal 10 Juni, PT. Namira menandatangani akad ijarah untuk
sebuah mesin. Maka jurnal yang diperlukan pada waktu itu adalah:

Tanggal

Rekening

Debit (Rp)

Kredit(Rp)

10/6/XA Db. Aset yang diperoleh untuk ijarah 120.000.000


Kr. Persediaan ijarah

120.000.000

10/6/XA Db. Rekening nasabah PT. Namira 480.000


Kr. Pendapatan administrasi

480.000

Sebelum akad ijarah dilakukan, bank syariah terlebih dahulu melakukan pengadaan
aset ijarah. Berdasarkan PSAK no 59 paragraf 108 disebutkan bahwa objek sewa
diakui sebesar biaya perolehan pada saat perolehan.
Misalkan untuk keperluan transaksi ijarah PT Namira di atas, pada tanggal 5
juni 20XA bank syariah membeli aset pada perusahaan yang mensuplai barang
yang diperlukan. Pembelian dilakukan via rekening pemasok tersebut adalah
sebagai berikut:

c.

Transaksi Pengakuan Pendapatan Ijarah


Misalkan rencana dan realisasi pembayaran sewa oleh PT. Namira adalah sebagai
berikut:
No.

Tanggal Jatuh Sewa per bulan


Tempo
(Rp)

Tanggal
Pembayar
an

Jumlah yang
dibayar

1.

10 Juli XA

2.400.000

10 Juli XA

2.400.000

2.

10 Agt XA

2.400.000

10 Agt XA

2.400.000

3.

10 Sept XA

2.400.000

10 Sept XA

2.400.000

4.

10 Okt XA

2.400.000

10 Okt XA

2.400.000

5.

10 Nov XA

2.400.000

5 Des XA

2.400.000

6.

10 Des XA

2.400.000

10 Des XA

1.400.000

3 Jan XA

1.000.000

(1) Pembayaran sewa oleh nasabah dilakukan saat jatuh tempo


Tanggal

Rekening

10/7/XA

Db. Kas/rekening nasabah


Kr. Pendapatan sewa

Debet (Rp) Kredit (Rp)


2.400.000
2.400.000

10/8/XA

Db. Kas/rekening nasabah


Kr. Pendapatan sewa

2.400.000
2.400.000

10/9/XA

Db. Kas/rekening nasabah


2.400.000
Kr. Pendapatan sewa
2.400.000
(2) Pembayaran sewa oleh nasabah dilakukan setelah tanggal jatuh tempo
Misalkan untuk pembayaran sewa bulan Nopember, pada tanggal 10 Nopember 20XA,
nasabah belum membayar sewa kepada bank. Pembayaran baru dilakukan pada tanggal 5
Desember 20XA. Maka jurnal atas transaksi tanggal 10 Nopember dan 5 Desember
tersebut adalah:

Tanggal
Rekening
10/11/XA Db. Piutang pendapatan sewa
Kr. Pendapatan sewa akrual
5/12/XA

Db. Kas/rekening nasabah


Kr. Piutang pendapatan sewa
Db. Pendapatan sewa akrual
Kr. Pendapatan sewa

Debet (Rp)
Kredit (Rp)
2.400.000
2.400.000
2.400.000
2.400.000
2.400.000
2.400.000

(3) Pembayaran sewa oleh nasabah dilakukan sebagian pada saat jatuh tempo dan
sebagian lagi setelah tanggal jatuh tempo
Misalkan tanggal 10 Desember 20XA, nasabah membayar sebesar Rp 1.400.000. Sisanya
dibayar kemudian pada tanggal 3 Januari 20XB. Maka jurnal atas transaksi tanggal 10
Desember 20XA dan 3 Januari 20XB tersebut adalah sebagai berikut:
Tanggal
Rekening
10/12/XA Db. Kas/rekening nasabah
Db. Piutang pendapatan sewa
Kr. Pendapatan sewa
Kr. Pendapatan sewa akrual

Debet (Rp) Kredit (Rp)


1.400.000
1.000.000
1.400.000
1.000.000

03/01/XB Db. Kas/rekening nasabah


1.000.000
Kr. Piutang pendapatan sewa
Db. Pendapatan sewa akrual
1.000.000
Kr. Pendapatan sewa
d. Pengakuan penyusutan aset yang diperoleh untuk ijarah

1.000.000
1.000.000

Dengan menggunakan teknik perhitungan penyusutan yang telah dibahas pada sub bab
12.5.1a, jurnal untuk pengakuan penyusutan aset yang diperoleh ijarah untuk enam bulan
pertama adalah sebagai berikut.

Tanggal
10/7/XA

Rekening
Debet (Rp) Kredit (Rp)
Db. Beban penyusutan aset ijarah
2.000.000
Kr. Akumulasi penyusutan aset
2.000.000
ijarah

10/8/XA

Db. Beban penyusutan aset ijarah


Kr. Akumulasi penyusutan aset
ijarah

2.000.000

Db. Beban penyusutan aset ijarah


Kr. Akumulasi penyusutan aset
ijarah

2.000.000

10/10/XA Db. Beban penyusutan aset ijarah


Kr. Akumulasi penyusutan aset
ijarah

2.000.000

10/11/XA Db. Beban penyusutan aset ijarah


Kr. Akumulasi penyusutan aset
ijarah

2.000.000

10/12/XA Db. Beban penyusutan aset ijarah


Kr. Akumulasi penyusutan aset
ijarah

2.000.000

10/9/XA

e.

2.000.000

2.000.000

2.000.000

2.000.000

2.000.000

Perlakuan akuntansi beban perbaikan dan pemeliharaan


Biaya perbaikan dan pemeliharaan, jika tidak material berdasarkan PSAK no 59
paragraf 112, dibebankan pada periode terjadinya. Akan tetapi jika biaya perbaikan
diperkirakan material dan berbeda jumlahnya dati thun ke tahun, maka sisitem
pencadangan perbaikan harus ditetapkan.
Misalkan pada tanggal 23 Desember 20XA dilakukan perbaikan aset ijarah
sebesar Rp500.000. Perbaikan tersebut dilakukan atas tanggungan Bank
Syariah sebagai pemilik objek sewa dengan sistem pembayaran langsung pada
perusahaan jasa ruko maka jurnal atas transaksi tersebut adalah:

Tanggal

Rekening

23/12/XA Db. Beban perbaikan aset ijarah


Kr. Kas/rekening
f.

Debit (Rp)

Kredit (Rp)

500.000
500.000

Penyajian pada laporan laba rugi dan laporan perhitungan bagi hasil
Pendapatan sewa, dilaporkan baik pada laporan laba rugi maupun laporan
perhitungan bagi hasil. Pada kedua laporan, pendapatan yang disajikan adalah
pendapatan bersih yaitu pendapatan sewa dikurangi beban-beban yang terkait dengan
ijarah antara lain beban penyusutan dan beban perbaikan dan pemeliharaan. Pada
laperan laba rugi biasanya dibuat pada akhir tahun, sedangkan laporan perhitungan
bagi hasil biasanya disajikan setiap bulan untuk keperluan perhitungan bagi hasil
dengan pemilik dana pihak ketiga.
(i). Laporan Laba Rugi
Pendapatan sewa, dilaporkan baik pada laporan laba rugi maupun laporan
perhitungan bagi hasil. Pada kedua laporan, pendapatan yang disajikan adalah
pendapatan bersih yaitu pendapatan sewa dikurangi beban-beban yang terkait
dengan ijarah antara lain beban penyusutan dan beban perbaikan dan
pemeliharaan. Pada laperan laba rugi biasanya dibuat pada akhir tahun, sedangkan
laporan perhitungan bagi hasil biasanya disajikan setiap bulan untuk keperluan
perhitungan bagi hasil dengan pemilik dana pihak ketiga.
(ii). Laporan perhitungan bagi hasil

F.

TEKNIK PERHITUNGAN DAN PENJURNALAN TRANSAKSI IMBT BAGI BANK


SYARIAH
Pembahasan teknis perhitungan dan penjurnalan transaksi IMBT akan dilakukan dengan
mengacu pada kasus 12.2 berikut.
Kasus 12.2.: Tansaksi IMBT

Dengan mengacu pada transaksi kasus 12.1. PT Namira yang telah dibahas pada bagian
terdahulu, misalkan akad yang disepakati adalah IMBT dengan informasi tentang
penyewaan sebagai berikut:
Biaya perolehan barang : Rp 120.000.000
Umur barang
: 5 tahun (60 bulan)
Masa Sewa (umur ekonomis) : 24 bulan
Waktu Pembelian barang : Setelah bulan ke-24
1. Teknis perhitungan transaksi IMBT
Teknis perhitungan transaksi IMBT pada dasarnya sama dengan transaksi ijarah.
Perbedaan teknis perhitungan terletak pada penentuan penyusutan aset ijarah.
a. Perhitungan penyusutan aset IMBT
Berdasarkan PSAK no 59 paragraf 108b, objek sewa disusutkan sesuai dengan masa
sewa jika merupakan transaksi ijarah muntahiya bittamlik.

Berdasarkan kasus diatas maka beban penyusutan perbulan barang IMBT adalah:
Penyusutan IMBT per bln =

Biaya perolehan
Jumlah bulan masa sewa

Penyusutan IMBT per bln =

Rp 120.000.000
24

= Rp 5.000.000

b. Penentuan Pendapatan IMBT


Selanjutnya dengan kebijakan keuntungan sewa 20% dari modal barang yang disewakan,
pendapatan IMBT per bulan adalah sebagai berikut:
Pdptn IMBT perbulan = modal penyewaan + n% modal penyewaan
= Rp 5.000.000 + (20% x 5.000.000)
= Rp 5.000.000 + 1.000.000
= Rp 6.000.000
Ttl pdptn IMBT selama masa sewa = 24 x Rp 6.000.000
= Rp 144.000.000
2. Penjurnalan transaksi IMBT
a.

Penjurnalan transaksi IMBT pada dasarnya sama dengan penjurnalan pada transaksi
ijarah.

b.

Perbedaan mendasar hanya terdapat pada konsep perhitungan penyusutan yang tidak
dikaitkan dengan umur ekonomis melainkan dikaitkan dengan masa sewa
sebagaimana telah dibahas pada sub bab 12.6.1.

c.

Perpindahan hak milik IMBT dapat dilakukan dengan beberapa alternatif, yaitu
melalui (1) hadiah, (2) pembayaran sisa sewa sebelum berakhirnya masa sewa dan
(3) pembayaran sekedarnya.

Pelepasan sebagai hadiah


Berdasarkan PSAK no 107, perpindahan kepemilikan objek ijarah dari pemilik kepada penyewa
dalam ijarah muntahiya bittamlik dengan cara:
1. hibah,
2. penjualan sebelum berakhirnya masa, sebesar sisa cicilan sewa atau jumlah yang
disepakati,
3. penjualan setelah selesai masa akad

Pelepasan melalui penjualan objek sewa sebelum berakhirnya masa sewa


Berdasarkan PSAK no 107 disebutkan bahwa pada penjualan objek ijarah sebelum berakhirnya
masa sewa, sebesar sisa cicilan sewa atau jumlah yang disepakati, maka selisih antara harga
jual dan jumlah tercatat objek ijarah diakui sebagai keuntungan atau kerugian
(i) Jika harga jual di atas nilai buku aset ijarah
Misalkan setelah penerimaan pendapatan sewa bulan ke 20, bank syariah menjual mesin
yang menjadi aset ijarah tersebut sebesar sisa cicilan sewa kepada nasabah penyewa
yaitu Rp 24.000.000 (4 x Rp 6.000.000), Adapun nilai buku aset di neraca pada bulan ke
20 adalah:
penyajian di neraca (bulan ke 20)
Aset Ijarah

120.000.000
(100.000.00
0)
20.000.000

Akumulasi penyusutan
Nilai bersih
Rekening
Db. Kas
Db. Akumulasi penyusutan aset ijarah
Kr. Aset ijarah
Kr. Keuntungan penjualan aset ijarah

Debet (Rp)
24.000.000
100.000.000

Pelepasan melalui penjualan objek sewa sebelum berakhirnya masa sewa


(ii) jika harga jual dibawah nilai buku aset ijarah

Kredit (Rp)

120.000.000
4.000.000

Misalkan setelah penerimaan pendapatan sewa bulan ke 20, bank syariah menjual mesin
yang menjadi aset ijarah tersebut sebesar Rp 15.000.000. Adapun nilai buku aset di
neraca pada bulan ke 20 adalah:
penyajian di neraca (bulan ke 20)
Aset Ijarah
Akumulasi penyusutan
Nilai bersih

120.000.000
(100.000.000)
20.000.000

Jurnal untuk transaksi tersebut adalah:


Rekening
Db. Kas
Db. Akumulasi penyusutan aset ijarah
Db. Kerugian penjualan aset ijarah
Kr. Aset ijarah

Debet (Rp)
15.000.000
100.000.000
5.000.000

Kredit (Rp)

120.000.000

Pelepasan melalui penjualan objek sewa setelah berakhirnya masa sewa


Berdasarkan PSAK no 107 disebutkan bahwa pada penjualan setelah selesai masa akad, maka
selisih antara harga jual dan jumlah tercatat objek ijarah diakui sebagai keuntungan atau
kerugian.
Pelepasan melalui penjualan objek sewa setelah berakhirnya masa sewa
penyajian di neraca (bulan ke 24)
Aset Ijarah
Akumulasi penyusutan
Nilai bersih

120.000.000
(120.000.000)
0

maka jurnal untuk transaksi tersebut adalah:

Rekening
Db. Kas
Db. Akumulasi penyusutan aset ijarah
Kr. Aset ijarah
Kr. Keuntungan penjualan aset ijarah

Debet (Rp)
2.000.000
120.000.000

Kredit (Rp)

120.000.000
2.000.000

Pelepasan melalui penjualan objek sewa secara bertahap


Berdasarkan PSAK no 107, disebutkan bahwa penjualan objek ijarah secara bertahap, maka: (i)
selisih antara harga jual dan jumlah tercatat sebagian objek ijarah yang telah dijual diakui

sebagai keuntungan atau kerugian; sedangkan (ii) bagian objek ijarah yang tidak dibeli penyewa
diakui sebagai aset tidak lancar atau aset lancar sesuai dengan tujuan penggunaan aset tersebut.
G. TEKNIS PERHITUNGAN DAN PENJURNALAN TRANSAKSI IJARAH UNTUK
MULTIJASA
Praktik perhitungan dan penjurnalan transaksi ijarah untuk jasa pada dasarnya sama
dengan perhitungan dan penjurnalan transaksi ijarah untuk barang
Kasus 12.3. : Transaksi Ijarah untuk multijasa
Ibu Ulli melakukan transaksi ijarah dengan BPRS Anugerah Sejahtera untuk keperluan
biaya sekolah anaknya selama 1 semester di Universitas Gadjah Mada (UGM). Adapun
informasi tentang transaksi untuk penyediaan jasa tersebut adalah sebagai berikut:
Biaya perolehan jasa
: Rp 9.000.000 (dibayar ke UGM tanggal 1 feb 20XA
Masa Sewa
:6 bulan (mulai 1 feb 20XA s/d 1 Agustus 20XA)
Sewa per bulan
: Rp 1.700.000 (setiap tanggal 1 mulai bulan Maret)
Penyusutan per bulan
: Rp 1.500.000 (setiap tanggal 1 mulai bulan Maret)
Biaya administrasi 0,5% : Rp 45.000 (diterima tanggal 1 Feb 20XA)
Jurnal untuk transaksi di atas meliputi jurnal pengadaan aset ijarah, jurnal pada saat akad, jurnal
penyusutan aset ijarah dan jurnal penerimaan pendapatan sewa ijarah.
a) Pengadaan aset ijarah
Jurnal pengadaan aset ijarah jasa adalah sebagai berikut:
Tanggal

Rekening

Debet (Rp)

1/2/XA

Db. Aset ijarah

9.000.000

Kr. Rekening UGM

Kredit (Rp)

9.000.000

Ket: Pengadaan aset ijarah


b) Saat akad disepakati
Jurnal pada saat akad adalah sebagai berikut:
Tanggal

Rekening

Debet (Rp)

1/2/XA

Db. Rekening Nasabah/Kas

45.000

Kr. Pendapatan administrasi


Ket: Penerimaan biaya administrasi pembiayaan

Kredit (Rp)

45.000

c) Saat pengakuan penyusutan aset ijarah dan pembayaran sewa ijarah

Berikut adalah tabel penyusutan aset ijarah dan pembayaran sewa ijarah
No
1
2
3
4
5
6

Biaya penyusutan (Rp)

Pembayaran Sewa (Rp)

1.500.000
1.500.000
1.500.000
1.500.000
1.500.000
1.500.000

1.700.000
1.700.000
1.700.000
1.700.000
1.700.000
1.700.000

Keterangan Tanggal
penyusutan dan pembayaran
1 Maret 20XA
1 April 20XA
1 Mei 20XA
1 Juni 20XA
1 Juli 20XA
1 Agustus 20XA

Tanggal Rekening

Debet (Rp)

1/3/XA

1.500.000

Db. Beban penyusutan aset ijarah


Kr. Akumulasi penyusutan aset ijarah

1/3/XA

Db. Rekening Nasabah/Kas

Kredit (Rp)

1.500.000

1.700.000

Kr. Pendapatan sewa

1.700.000

Ket. Pengakuan penerimaan pendapatan sewa


1/4/XA

Db. Beban penyusutan aset ijarah

1.500.000

Kr. Akumulasi penyusutan aset ijarah

1/4/XA

Db. Rekening nasabah/kas

1.500.000

1.700.000

Kr. Pendapatan sewa

1/5/XA

Db. Beban penyusutan aset ijarah


Kr. Akumulasi penyusutan aset ijarah

1.700.000

1.500.000
1.500.000

1/5/XA

Db. Rekening nasabah/kas

1.700.000

Kr. Pendapatan sewa

1/6/XA

Db. Beban penyusutan aset ijarah

1.700.000

1.500.000

Kr. Akumulasi penyusutan aset ijarah

1/6/XA

Db. Rekening nasabah

1.500.000

1.700.000

Kr. Pendapatan sewa

1/7/XA

Db. Beban penyusutan aset ijarah

1.700.000

1.500.000

Kr. Akumulasi penyusutan aset ijarah

1/7/XA

Db. Rekening nasabah

1.500.000

1.700.000

Kr. Pendapatan sewa

1/8/XA

Db. Beban penyusutan aset ijarah

1.700.000

1.500.000

Kr. Akumulasi penyusutan aset ijarah

1/8/XA

Db. Rekening nasabah/kas

1.500.000

1.700.000

Kr. Pendapatan sewa

1.700.000

H. Penyajian
Berdasarkan PSAK no 107 pendapatan ijarah disajikan secara neto setelah dikurangi bebanbeban yang terkait, misalnya beban penyusutan, beban pemeliharaan dan perbaikan, dan
sebagainya.

I.

Pengungkapan

Berdasarkan PSAK no 107, hal-hal yang harus diungkap dalam catatan atas laporan keuangan
tentang transaksi ijarah antara lain tetapi tidak terbatas, pada:
(1) penjelasan umum isi akad yang signifikan yang meliputi tetapi tidak terbatas pada:
a. keberadaan waad pengalihan kepemilikan dan mekanisme yang digunakan (jika ada
waad pengalihan kepemilikan);
b. pembatasan-pembatasan, misalnya ijarah lanjut;
c. bagunan yang digunakan (jika ada);
(2) nilai perolehan dan akumulasi penyusutan untuk setiap kelompok aset ijarah;
(3) keberadaan transaksi jual-dan-ijarah (jika ada).

Beri Nilai