Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Adenoma hipofisis atau disebut juga dengan adenoma hipofise merupakan
tumor yang jinak, dengan pertumbuhan yang lambat, yang berasal dari sel-sel
kelenjar hipofisis. Adenoma ini diklasifikasikan berdasarkan produk
sekretorinya. Tumor fungsional (endocrine-active) termasuk hampir 70% dari
tumor hipofisis yang menghasilkan 1 atau 2 hormon. Adenoma nonfungsional
adalah tumor endocrine-inactive. Karena efek fisiologis dari hormon yang
dikeluarkan, tumor fungsional biasanya tampak lebih awal daripada adenoma
nonfungsional. Sebaliknya, efek massa dari adenoma hipofisis yang besar
(seringnya karena tumor endocrine-inactive) dapat berakibat gejala-gejala
penekanan seperti sakit kepala, defek lapangan pandang (kehilangan
penglihatan perifer), defisit saraf kranial, hipohipofisissme (kompresi dari
kelenjar hipofisis normal), apopleksi hipofisis (perdarahan tiba-tiba atau
infark perdarahan dari tumor yang meluas) atau disfungsi stalk.
Pada akhir tahun 2012, diperkirakan terdapat 2800 kasus tumor system saraf
pusat (SSP) yang didiagnosa di Kanada, dan 1850 kematian dari tumor SSP
yang akan terjadi dalam periode yang sama. Adenoma hipofisis merupakan
kelompok tumor yang berasal dari kelenjar hipofisis dan tercatat lebih kurang
6,6 - 9,1 % dari semua kanker primer SSP.
Tumor hipofisis adalah neoplasma intrakranial yang paling sering ditemukan.
Prevalensi dari tumor ini pada laporan autopsi adalah 5-20%. Hal menarik
yang ditemukan pada saat autopsi yaitu tumor yang kecil atau mikroadenoma.
Penggunaan MRI pada individu yang sehat secara tidak sengaja menemukan
adenoma hipofisis. Kemajuan dalam pemeriksaan biokimia dan
neeuroimaging dalam 20 tahun terakhir memfasilitasi penemuan dari tumor
hipofisis dan mengubah penatalaksanaannya.

Dalam makalah ini akan dibahas mengenai adenoma hiposis, patofisiologi


dan penatalaksanaan serta asuhan keperawatannya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana anatomi dan fisiologo kelenjar hipofisis ?
2. Apakah pengertian adenoma hipofisis ?
3. Bagaimana epidemiologi dari adenoma hipofisis ?
4. Bagaimana etiologi dari adenoma hipofisis ?
5. Bagaimana klasifikasi dari adenoma hipofisis ?
6. Bagaimana patofisiologi dari adenoma hifofisis ?
7. Bagaimana manifestasi dari adenoma hipofisis ?
8. Bagaimana pemeriksaan diagnostik dari adenoma hipofisis ?
9. Bagaimana penatalaksanaan adenoma hipofisis ?
10. Bagaimana asuhan keperawatan adenoma hipofisis ?
1.3 Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk lebih mengetahui pengertian,
manifestasi klinis, patofisiologi adenoma hipofisis dan asuhan keperawatan
yang tepat untuk pasien yang menderita adenoma hipofisis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Fisiologi Kelenjar Hipofisis

Secara Anatomi
Hypofisis cerebri atau glandula pituitari adalah struktur lonjong kecil
yang melekat pada permukaan bawah otak melalui infundibulum. Lokasinya
sangat terlindungi baik yaitu terletak pada sella turcica ossis sphenoidalis.
Disebut master endocrine gland karena hormon yang dihasilkan kelenjar ini
banyak mempengaruhi kelenjar endokrin lainya.
Dibagi menjadi 2 lobus :
1) Lobus anterior ( adenohypofisis), dibagi lagi menjadi:
a. Pars anterior ( pars distalis )
b. Pars intermedia
Dipisahkan oleh suatu celah, sisa kantong embrional. Juluran dari pars
anterior yaitu pars tuberalis meluas keatas sepanjang permukaan anterioar
dan lateral tangkai hypofisis.
2) Lobus posterior (neurohypofisis)
Vascularisasi
Arteri carotis interna bercabang a. Hypophysialis superior dan
inferior. Vena bermuara kedalam sinus intercavernosus.
Kelenjar hipofisis dibagi menjadi:

1. Hipofisis Anterior (Adenohipofisis)


Hormon yang dikeluarkan oleh hipofisis anterior berperan utama dalam
pengaturan fungsi metabolisme di seluruh tubuh. Hormon-hormonnya
yaitu:
a) Hormon Pertumbuhan (GH)
Somatotropin adalah hormon pertumbuhan yang dikeluarkan oleh
kelenjar pituitary yang terletak dibagian bawah otak manusia.
Somatotropin adalah hormone polipeptida yang berasal dari protein
berupa 191 rantai asam amino yang disintesis, disimpan dan disekresi
oleh sel somatotroph. Somatotropin disingkat GH untuk hewan dan
rhGH untuk manusia karena factor DNA dan RNA rekombinan.
Somatotropin bertanggung jawab atas pertumbuhan otot, tulang serta
mempengaruhi kecepatan pertumbuhan tubuh dengan memberikan
stimulasi kepada hati untuk mensekresi hormon somatomedin (sebuah
hormon perkembangan yang memberikan stimulasi lebih lanjut
terhadap sel untuk berkembangbiak). Somatotropin bukan saja dapat
melambatkan atau menghentikan bahkan Somatotropin mampu
menterbalikan proses penuaan.
b) Adrenokortikotropin (Kortikotropin)
Mengatur sekresi beberapa hormon adrenokortikal, yang selanjutnya
akan mempengaruhi metabolism glukosa, protein dan lemak.
c) Hormon perangsang Tiroid (Tirotropin)
Mengatur kecepatan sekresi tiroksin dan triiodotironin oleh kelenjar
tiroid, dan selanjutnya mengatur kecepatan sebagian besar reaksi kimia
diseluruh tubuh.
d) Prolaktin

Meningkatkan pertunbuhan kelenjar payudara dan produksi air susu.


e) Hormon Perangsang Folikel dan Hormon Lutein (FSH)
Mengatur pertumbuhan gonad sesuai dengan aktivitas reproduksinya.
2. Hipofifs Posterior (Neurohipofisis)
Ada 2 jenis hormon:
a. Hormon Antideuretik (disebit juga vasopresin)
Mengatur kecepatan ekskresi air ke dalam urin dan dengan cara ini akan
membantu mengatur konsentrasi air dalam cairan tubuh.
b. Oksitosis
Membantu menyalurkan air susu dari kelenjar payudara ke putting susu
selama pengisapan dan mungkin membantu melahirkan bayi pada saat
akhir masa kehamilan.
3. Pars Intermedia
Daerah kecil diantara hipofisis anterior dan posterior yang relative
avaskular, yang pada manusia hamper tidak ada sedangkan pada bebrapa
jenis binatang rendah ukurannya jauh lebih besar dan lebih berfungsi.
Pembuluh darah yang menghubungkan hipotalamus dengan sel- sel
kelenjar hipofisis anterior. Pembuluh darah ini berkhir sebagai kapiler
pada kedua ujungnya, dan makanya disebut system portal.dalam hal ini
system yang menghubungkan hipotalamus dengan kelenjar hipofisis
disebut juga system portal hipotalamushipofisis.

2.2 Pengertian Adenoma Hipofisis

Kelenjar hipofisis medula kelenjar yang sangat penting bagi tubuh manusia,
kelenjar inimengatur fungsi dari kelenjar tiroid, kelenjar adrenal, ovarium dan
testis, kontrol laktasi, kontraksi uterine sewaktu melahirkan dan tumbuh
kembang yang linear, dan mengatur osmolalitas dan volume dari cairan
intravascular dengan memelihara resorpsi cairan diginjal.Kelenjar hipofisis
terdiri dari 2 lobus, lobus anterior dan lobus posterior, pada lobusanterior
kelenjar ini terdapat 5 tipe sel yang memproduksi 6 hormon peptida.
Sedangkan pada lobus posterior dilepaskan 2 macam hormon peptida.
Pituitary tumor, pertumbuhan abnormal yang berkembang di kelenjar
hipofisis di otak, hampir selalu noncancerous (jinak).
Sebagian besar tumor hipofisis (adenomas) tidak menyebar di luar tengkorak
(nonmetastatic) dan biasanya masih terbatas pada kelenjar pituitari atau di
dekatnya jaringan otak. Pituitary tumor cukup umum dan sering didiagnosis
melalui scan MRI yang dilakukan untuk alasan lain.
2.3 Epidemiologi
Sekitar 10% dari seluruh tumor intrakranial merupakan tumor hipofisis,
terutama terdapat pada usia 20-50 tahun, dengan insiden yang ditemukan
seimbang pada laki-laki dan wanita. Tumor hipofisis terutama timbul pada
lobus anterior hipofisis, sedangkan pada lobus posterior (neurohipofisis)
jarang terjadi. Tumor ini biasanya bersifat jinak.
2.4 Etiologi
Penyebab tumor hipofisis tidak diketahui. Sebagian besar diduga tumor
hipofisis hasil dari perubahan pada DNA dari satu sel, menyebabkan
pertumbuhan sel yang tidak terkendali. Cacat genetik, sindroma neoplasia
6

endokrin tipe multiple dikaitkan dengan tumor hipofisis. Namun, account


cacat ini hanya sebagian kecil dari kasus-kasus tumor hipofisis. Selain itu,
tumor hipofisis didapat dari hasil penyebaran (metastasis) dari kanker situs
lain.Kanker payudarapada wanita dan kanker paru-paru pada pria merupakan
kanker yang paling umum untuk menyebar ke kelenjar pituitari. Kanker
lainnya yang menyebar kekelenjar pituitari termasuk kanker ginjal, kanker
prostat, melanoma, dan kanker pencernaan.
2.5 Klasifikasi
Klasifikasi dibedakan berdasarkan hormon yang diproduksi oleh kelenjar
hipofisis dandibedakan menjadi 2 jenis yaitu :
1. Adenoma hipofisis non fungsional (tidak memproduksi hormon)
Tumor ini berkisar sekitar 30% dari seluruh tumor pada hipofisis.
Biasanya muncul pada dekade ke 4 dan ke 5 dari kehidupan, dan biasanya
lebih sering ditemukan pada laki-laki dari pada wanita. Nama lain dari
tumor ini yaitu Null cell tumor,undifferentiated tumor dan non hormon
producing adenoma. Karena tumor ini tidak memproduksi hormon, maka
pada tahap dini seringkali tidak memberikan gejala apa-apa. Sehingga
ketika diagnose ditegakkan umumnya tumor sudah dalam ukuran yang
sangat besar, atau gejala yang timbul karena efek masanya. Tumor
biasanya solid walaupun bias ditemukan tumor dengan campuran solid dan
kistik.
2. Adenoma hipofisis fungsional yang terdiri dari :
a. Adenoma yang bersekresi prolaktin
b. Adenoma yang bersekresi growth hormon (GH)
c. Adenoma yang bersekresi glikoprotein (TSH, FSH, LH)
d. Adenoma yang bersekresi adrenokortikotropik hormon (ACTH)
Pada penelitian dari 800 pasien yang menderita tumor hipofisis, 630
pasien merupakan tipe functioning pituitary tumors yang terdiri dari 52%
merupakan tumor yang mengsekresikan prolactin, 27% tumor yang
mengsekresikan GH, 20% tumor yang mengsekresikan ACTH, 0, 3%
tumor yang mengsekresikan TSH kelenjar hipofisis bagian anterior
berperan dalam sekresi dan pengaturan dari berbagai hormon peptida dan

stimulating factor. Tumor yang berasal dari bagian ini akan memproduksi
secara berlebihan beberapa atau salah satu dari hormone poptida, jika ini
terjadi maka dinamakan fungsional atau secreting adenoma.
Adanya adenoma kelenjar hipofisis anterior bisa dideteksi dengan
melihat aktifitas endokrin dan dengan immune histo chemical staining.
Ada juga klasifikasi dari buku medikAl bedah yaitu Eusinofil Basofil
Kromopom
Klasifikasi berdasarkan gambaran radiology
1. Grade 0 : tumor tidak terlihat secara radiologi
2. Grade I dan II: adenoma yang terbatas dalam sella turcica
3. Grade III dan IV: adenoma yang menginvasi ke jaringan sekitarnya.
Berdasarkan penyebarannya tumor ke extrasellar maka dibagi lagi dalam sub
klasifikasi berikut :
a. A, B, C yaitu penyebaran langsung ke suprasellar
b.

D yaitu perluasan secara asimetrik ke sinus kavernosus

c.

E yaitu perluasan secara asimetrik ke sinus intracranial

2.6 Manifestasi Klinis


Manifestasi klinis adenoma hipofisis non fungsional:
a. Nyeri kepala
b. Karena perluasan tumor ke area supra sella, maka akan menekan chiasma
optikum,timbul gangguan lapang pandang bitemporal. Karena serabut
nasal inferior yangterletak pada aspek inferior dari chiasma optik melayani
lapang pandang bagiantemporal superior (Wilbrands knee), maka yang
pertama kali terkena adalah lapang pandang quadrant bitemporal superior.
Selanjutnya kedua papil akan menjai atrophi.
c. Jika tumor meluas ke sinus cavernosus maka akan timbul kelumpuhan
NIII, IV, VI,V2, V1, berupa ptosis, nyeri wajah, diplopia. Oklusi dari sinue
akan menyebabkan proptosis, chemosis dan penyempitan dari a. karotis
(oklusi komplit jarang)
d. Tumor yang tumbuh perlahan akan menyebabkan gangguan fungsi
hipofisis yang progressif dalam beberapa bulan atau beebrapa tahun
berupa :
1.
Hypotiroidism, tidak tahan dingin, myxedema, rambut yang kasar
8

2.
3.

Hypoadrenalism, hipotensi ortostatik, cepat lelah


Hypogonadism, amenorrhea (wanita), kehilangan libido dan

kesuburan
4.
Diabetes insipidus, sangat jarang
Walaupun gangguan lapang pandang bitemporal dan hypopituitarism
yang berjalan progresif merupakan gejala klinik yang khas pada tumor ini,
kadang-kadang adenomahipofisis yang besar memberikan gejala yang akut
akibat adanya perdarahan atau Infark. Tumor intrakranial yang paling sering
menimbulkan perdarahan adalah adenoma hipofisis. Adanya perdarahan yang
besar ke dalam tumor hipofisis akan menyebabkan gejala nyeri kepala yang
tiba-tiba, penurunan kesadaran gangguan penglihatan dan insufisiensi adrenal
yang akut. Pasien yang menderita abcess pada hipofisis akan memberi gejala
yang sama disertai demam. Menurut Wilson sekitar 3% makro adenoma
menunjukkan Pituitary apoplexi.
Manifestasi Klinis Adenoma Fungsional
1. Adenoma yang bersekresi Prolaktin
a. Hyperprolactinemia pada wanita didahului amenorhoe, galactorhoe,
kemandulan dan osteoporosis.
b. Pada laki-laki biasanya asimptomatik atau timbul impotensi atau daya
sexualyang menurun. Karena perbedaan gejala tersebut maka tumor ini
pada laki-laki biasanya ditemukan jika sudah menibulkan efek kompresi
pada struktur yang berdekatan.
2. Adenoma yang bersekresi growth hormon
Gejala timbul secara gradual karena pengaruh meningginya kadar GH
secara kronik.Dari sejumlah kasus menunjukkan bahwa gejala yang timbul
lebih karena efek kompresi lokal dari masa tumor, bukan karena gangguan
somatiknya. Gejala dini berupa:
a. Ukuran sepatu dan baju membesar
b. Lalu timbul visceromegali
c. Hiperhidrosis,
d. Macroglossia,
e. Muka yang kasar dan skin tags yaitu perubahan pada cutis dan jaringan
subcutisyang lambat berupa fibrous hyperplasia terutama ditemukan

pada jari-jari, bibir,telinga dan lidah. Adanya skin tags ini penting
karena hubungannya dengankeganasan pada kolon.
3. Adenoma yang bersekresi glikoprotein (TSH, FSH, LH)Kecuali untuk
tumor yang bersekresi TSH, yang menunjukkan gejala :
a. Hypertiroidism glycoprotein secreting adenoma tidak memberikan
gejala yang spesifik sehubungan dengan hipersekresinya, sehingga
adenoma ini biasanya baru ditemukan sesudah memberikan efek
kompresi pada struktur didekatnya seperti chiasma optikum atau
tangkai hipofisis.
b. Hipertiroid yang disebabkan oleh TSH adenoma berbeda dengan graves
disease, graves disease merupakan penyakit yang diturunkan, dimana
terdapat resistensi yang efektif terhadap hormon tiroid yang
menyebabkan pengaruh umpan balik negatif dari hormon tiroid atau
TSH lemah, sehingga timbul hipersekresi TSH.Kelainan ini sering
bersamaan dengan bisu tuli, stipled epiphyse dan goiter, ini yang
membedakan dengan hipertiroid akibat adanya adenoma.
c. Pada hipertiroid akibat TSH adenoma, biasanya lebih banyak mengenai
wanita,gejala lainnya yaitu gangguan lapang pandang, pretibial edema
dan kadar serum immunoglobulim stimulasi tiroid jumlahnya sedikit.
4. Adenoma yang bersekresi ACTH
a. Biasanya menyerang wanita sekitar usia 40 tahun
b. Khas ditandai dengan truncal obesity, hipertensi, hirsutisme (wanita),
hyperpigmentasi, diabetes atau glukosa intoleran, amenorrhea, acne,
striaeabdominal,

buffallo

hump

dan

moon

facies.

Kelainan

endokrinologik yang berat ini sudah muncul pada tahap sangat dini dari
tumornya yang menyulitkan dalam mendeteksi dan identifikasi
sumbernya.

2.7 Pemeriksaan Diagnostik


Ketika melakukan diagnosis, pemeriksa akan bertanya tentang riwayat
keluarga apakah sebelumnya ada yang pernah mengalami tumor kelenjar
pituitary,

hiperparatiroidisme(kelenjar

paratiroid

yang

terlalu

aktif),

hipoglikemia (gula darah rendah) atau tumor kelenjar pankreas.Pada


pemeriksaan fisik mengidentifikasi tanda-tanda tumor hipofisis danmasalah
kesehatan

lainnya.

Sebuah

ujian

neurologis

meliputi

cek
10

penglihatan, pendengaran, keseimbangan, koordinasi dan reflex.Dengan


adanya tanda-tanda yang disebutkan muncul pada pasien pemeriksa
dapatmencurigai pasien tersebut mengalami adanya tumor dan ditambah lagi
pada pemeriksaan berikut :
a. Pengujian biokimia
Kadar hormon dapat diukur dalam darah atau sampel urin melalui tes
laboratorium yang mendeteksi kelebihan produksi atau kekurangan.
Seringkali, kelebih hormon stimulasi .
b. Scan Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI, standar tes pencitraan untuk tumor hipofisis, menggunakan medan
magnet dan gelombang radio untuk menghasilkan gambar. MRI scan
sangat berguna dalammendiagnosis tumor hipofisis. Kadang-kadang cairan
khusus disuntikkan ke dalam alirandarah untuk membedakan tumor dari
jaringan sehat.MRI dapat dengan mudah mengidentifikasi tumor besar
(macroadenomas) dari kelenjar hipofisis maupun untuk mengidentifikasi
tumor yang paling kecil (microadenomas). TapiMRI mungkin tidak
mendeteksi banyak microadenomas lebih kecil dari 3 milimeter (kira-kira
delapan inci). Antara 5 persen dan 25 persen dari orang sehat memiliki
beberapa minor abnormal pada kelenjar hipofisis yang muncul di MRI
scan.
c. Biopsi
Sebuah biopsi (mengambil contoh tumor dan memeriksanya di bawah
mikroskop) mungkin kadang-kadang dianjurkan untuk verifikasi definitif.
Pituitary tumor dapat diperiksa di bawah mikroskop sebelum atau setelah
pembedahan untuk menentukan jenis tumor.

2.8 Penatalaksanaan
a. Pengobatan
Pengobatan adenoma hipofisis dimulai dengan koreksi elektrolit disfungsi
dan penggantian hormon hipofisis, jika perlu, segera setelah spesimen
darah diagnostik telah terkirim. Penggantian hormon tiroid atau adrenal
adalah sangat penting. Steroid penggantian harus cukup untuk situasi stres,
termasuk periode perioperatif.Tujuan perawatan berbeda sesuai dengan
aktivitas fungsional tumor. Untuk tumor endokrinaktif, pendekatan yang
agresif terhadap normalisasi hipersekresi sangat penting sekaligus
11

mempertahankan fungsi hipofisis normal. Hal ini biasanya dapat dicapai


dengan bedah eksisi, tetapi beberapa prolaktinoma lebih baik dikontrol
secara medis. Untuk nonsecreting tumor, pengobatan diarahkan bedah
pengurangan efek massa bertanggung jawab atas gejala, dengan tetap
menjaga fungsi hipofisis. Meskipun bedah reseksi lengkap diinginkan,
yang radio sensitivity tumor ini mengundang subtotal debulking diikuti
dengan terapi radiasi untuk mengurangi risiko kekambuhan atau
keganasan. Adenomas asimtomatik insidentil tidak memerlukan intervensi
tetapi harus diikuti dengan pemeriksaan secara berkala bidang visual dan
MRI. Timbulnya gejala atau MRI dokumentasi pertumbuhan indikasi
untuk perawatan.
b. Pembedahan
Keberhasilan

dan

keselamatan

pendekatan

transsphenoidal

membuat prosedur pilihan untuk menghilangkan adenomas. Kebanyakan


tumor lunak dan gembur, dan transsphenoidal akses, meskipun terbatas,
memungkinkan untuk penghapusan lengkap bahkan jika ada suprasellar
signifikan ekstensi atau sella tidak diperbesar. Tingkat kematian kurang
dari 1%. Mayor morbiditas, termasuk stroke, kehilangan penglihatan,
meningitis, CSF bocor, atau cranial palsy, kurang dari 3,5%. Diabetes
insipidus permanen muncul setelah operasi dalam 2 sampai 5% dari pasien
dan diperlakukan oleh penggantinya.
c. Terapi radiasi :
Terapi radiasi melengkapi operasi dalam mencegah perkembangan atau
kekambuhan. Standar teknik radiasi melibatkan penggunaan tiga bidang
(bidang menentang sejajar dengan bidang koronal) atau teknik rotasi untuk
menghindari dosis yang tidak perludi lobus temporal. Dosis 4.500-5.000
cGy disampaikan dalam pecahan 180-cGydisarankan. Secara umum,
pasien dengan tumor subtotally resected diberikan terapi radiasi. Walaupun
radiasi mengurangi risiko kekambuhan atau penundaan kambuhnya setelah
brutototal reseksi, kita ikuti serial pasien dengan MRI scan dan
pemeriksaan bidang visual danmenahan radiasi kecuali ada tumor
didokumentasikan regrowth.Untuk tumor termasuk kelenjar pituitary
adenoma hipofisis, prolactinoma dan penyakit Cushings, keputusan yang

12

berkaitan dengan pengobatan untuk tumor kelenjar hipofisis bergantung


pada pemahaman lengkap tentang risiko bersaing vs manfaat untuk
pengobatanyang berbeda. Pilihan untuk perawatan tumor kelenjar pituitari
dapat mencakup operasi, radiosurgery dan gamma pisau.
2.9 Prognosis
Pituitary tumor biasanya dapat disembuhkan. Hipofisis adenomas yang
mengeluarkan adrenocorticotropic hormon sering memiliki komplikasi yang
kuat untuk kambuh. Sekitar 5% dari hipofisis adenomas menginvasi jaringan
terdekat dan tumbuh dalam ukuran besar. Metastasis tumor hipofisis sangat
jarang terjadi. Namun, karsinoma hipofisis dapat bermetastasis dan
berhubungan dengan prognosis yang buruk.
2.10 Komplikasi
Komplikasi akan muncul jika adenoma hipofisis tidak ditangani segera
walaupun sesungguhnya adenoma hipofisis ini bersifat jinak, namun karena
tidak mendapatkan penanganan yang baik, adenoma akan bermetastasi pada
organ lain yang akan mennimbulkan kanker dan organ yang terdekat dapat
diserang adalah otak yang mengakibatkan menjadi tumor ataupun kanker
otak. Komplikasi pada pembedahan hemoragik, peningkatan CSS, diabetes
insipidus, infeksi pasca oprasi.

13

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas Klien
Terjadi pada wanita dan pada laki-laki dengan pefalensi seimbang dan
mempunyai insiden puncak antara usia 20 dan 30 tahun.
b. Keluhan Utama
Klien mengeluhkan sakit kepala pada satu atau keduanya, atau di tengah
dahi kabur atau penglihatan ganda; kehilangan samping (perifer) visi, ptosis
yang disebabkan oleh tekanan pada saraf yang menuju ke mata, perasaan
mati rasa pada wajah, demensia, perasaan mengantuk, kepala membesar,
makan berlebih atau berkurang. Namun ada beberapa keluhan berdasarkan
bagian hipofisis yang terserang oleh adenoma, yaitu:
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

Klien mengeluh pandangannya ganda dan kabur


Klien mengeluh nyeri wajah
Klien mengeluh cepat lelah
Klien mengeluh menstruasi berhenti sebelum waktunya
Klien mengalami penurunan libido
Lapang pandang klien berkurang
Pupil athropi
Klien tampak lemah
Klien tampak pucat
Klien tampak mengalami gigantisme atau akromegali
Klien mengalami moon face, buffalo hump
Klien mengalami hipertensi
14

o
o
o
o
o

Kulit klien tampak gosong


Tampak striae abdominal
Tinggi badan klien melebihi normal
Semua proporsi tubuh klien tampak membesar
Klien tampak tidak mampu mengangkat tangan dan kaki (kelemahan

otot)
o Rambut klien tampak halus dan jarang
o Kulit klen tampak kering dan lunak
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien mengatakan kepalanya sering mengalami sakit pada kepalanya, dan
pandangan kabur.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Kaji apakah sebelumnya klien pernah mengalami tumor pada bagian tubuh,
Kaji apakah klien pernah mengalami cedera kepala berat ataupun ringan.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Kaji apakah keluarga pernah menderita penyakit tumor hipofisis.
2. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi :
- klien tampak mengalami pembesaran yang abnormal pada seluruh bagian
-

tubuh (jika timbul saat usia dini)


Klien tampak mengalami akromegali atau pembesaran yang abnormal pada
ujung-ujung tubuh seperti kaki, tangan, hidung, dagu (timbul pada saat usia

dewasa)
Kulit klien tampak pucat
Terdapat penumpukan lemak di punggung, wajah.
Klien tampak mengalami diplopia (pandangan ganda)
Tampak atropi pada pupil Klien tampak susah membedakan warna
Klien tampak susah menggerakkan organ-organ tubuh karena kelemahan
otot.

Palpasi :
-

Terdapat nyeri kepala


Terdapat kelemahan otot tonus otot
Ekstremitas atas 444 dan ekstremitas bawah 444.

15

3. NANDA NOC NIC

No
Diagnosa
Tujuan
1
Nyeri
akut Setelah dilakukan
b/d
agen Asuhan
injuri fisik
keperawatan .
jam
tingkat
kenyamanan
klien meningkat,
dengan KH:
a. klien dapat
melaporkan
nyeri
berkurang
level nyeri
pada scala 2-3,
b. klien
menyatakan
kenyamanan
fisik dan
psikologis
c. ekspresi wajah
rileks dan
dapat istirahat
dan tidur

Intervensi
Manajemen nyeri :
a. Kaji tingkat nyeri secara komprehensif termasuk
lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas
dan faktor presipitasi.
b. Observasi
reaksi
nonverbal
dari
ketidaknyamanan.
c. Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk
mengetahui pengalaman nyeri klien sebelumnya.
d. Kontrol faktor lingkungan yang mempengaruhi
nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan,
kebisingan.
e. Kurangi faktor presipitasi nyeri.
f. Pilih
dan
lakukan
penanganan
nyeri
(farmakologis/non farmakologis)..
g. Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi,
distraksi dll) untuk mengetasi nyeri.
h. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.
i. Evaluasi tindakan pengurang nyeri/kontrol nyeri.
j. Kolaborasi dengan dokter bila ada komplain
tentang pemberian analgetik tidak berhasil.
k. Monitor penerimaan klien tentang manajemen
nyeri.
Administrasi analgetik :.
a. Cek program pemberian analogetik; jenis, dosis,
dan frekuensi.
b. Cek riwayat alergi..
c. Tentukan analgetik pilihan, rute pemberian dan
dosis optimal.
d. Monitor TV
e. Berikan analgetik tepat waktu terutama saat
nyeri muncul.
f. Evaluasi efektifitas analgetik, tanda dan gejala
efek samping.

Risiko
Setelah dilakukan Kontrol infeksi :
infeksi
b/d asuhan
a. Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien
imunitas
keperawatan .
lain.
tubuh
jam
tidak b. Pertahankan teknik isolasi.
menurun,
terdapat faktor c. Batasi pengunjung bila perlu.
prosedur
risiko
infeksi d. Intruksikan kepada keluarga dan pengunjung
invasive,
pada klien dengan
untuk mencuci tangan saat berkunjung dan
16

adanya luka

Perfusi
cerebral tidak
efektif
b/d
edema
serebral,
penyumbatan
aliran darah

KH:
sesudahnya.
a. status imune e. Gunakan sabun anti miroba untuk mencuci
klien adekuat
tangan.
b. tdk ada tanda f. Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah
infeksi
tindakan keperawatan.
c. AL dbn
g. Gunakan baju dan sarung tangan sebagai alat
d. V/S dbn
pelindung.
h. Pertahankan lingkungan yang aseptik selama
pemasangan alat.
i. Lakukan perawatan luka dan dresing infus dan
kateter/ hari
j. Tingkatkan intake nutrisi dan cairan yang
adekuat
k. Berikan antibiotik sesuai program.

Setelah dilakukan
asuhan
keperawatan .
jam
klien
menunjukan
status cirkulasi
dan
tissue
perfustion
cerebral
membaik dengan
KH:
a. TD dalam

Proteksi terhadap infeksi


a. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan
lokal.
b. Monitor hitung granulosit dan WBC.
c. Monitor kerentanan terhadap infeksi..
d. Pertahankan teknik aseptik untuk setiap
tindakan.
e. Pertahankan teknik isolasi bila perlu.
f. Inspeksi kulit dan mebran mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase.
g. Inspeksi kondisi luka, insisi bedah.
h. Ambil kultur, dan laporkan bila hasil positip
i. Dorong masukan nutrisi dan cairan yang
adekuat.
j. Dorong istirahat yang cukup.
k. Dorong peningkatan mobilitas dan latihan.
l. Instruksikan klien untuk minum antibiotik sesuai
program.
m. Ajarkan keluarga/klien tentang tanda dan gejala
infeksi.
n. Laporkan kecurigaan infeksi.
Monitoring tekanan intrakranium:
a. Monitor tekanan perfusi serebral
b. Monotor balance cairan
c. Catat respon pasien terhadap stmulasi
d. Berikan informasi kepada keluarga
e. Monitor respon neurology terhadap aktivitas
f. Monitor drainase jika perlu
g. Posisikan pasien kepala lebih tinggi dari badan
(30-40 derajat)
h. Minimalkan stimulasi dari luar.
i. Monitor v/s
j. Monitor tanda-tanda TIK

17

rentang
k. Monitor adanya parese
normal
l. Batasi gerakan leher dan kepala
(120/80
m. Monitor adanya tromboplebitis
mmHg)
n. Diskusikan mengenahi perubahan sensasi.
b. Tidak ada
tanda
peningkatan
TIK
c. Klien mampu
bicara dengan
jelas,
menunjukkan
konsentrasi,
perhatian dan
orientasi baik
d. Fungsi sensori
motorik
cranial utuh :
kesadaran
membaik
(GCS 15, tidak
ada gerakan
involunter)
Sindrom
Setelah dilakukan Bantuan perawatan diri
defisit
self asuhan
a. Monitor
kemampuan
pasien
terhadap
care
b/d keperawatan .
perawatan diri
kelemahan
jam klien mampu b. Monitor kebutuhan akan personal hygiene,
Perawatan
diri:
berpakaian, toileting dan makan
Activity
Daly c. Beri bantuan sampai klien mempunyai
Living
(ADL)
kemapuan untuk merawat diri
dengan KH :
d. Bantu klien dalam memenuhi kebutuhannya.
a. Pasien dapat e. Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas
melakukan
sehari-hari sesuai kemampuannya
aktivitas
f. Pertahankan aktivitas perawatan diri secara
sehari-hari
rutin
(makan,
g. Evaluasi kemampuan klien dalam memenuhi
berpakaian,
kebutuhan sehari-hari.
kebersihan,
h. Berikan reinforcement atas usaha yang
toileting,
dilakukan dalam melakukan perawatan diri
ambulasi)
sehari hari.
b. Kebersihan
diri
pasien
terpenuhi
Cemas
b/d Setelah dilakukan Penurunan Kecemasan
ancaman
asuhan
a. Bina hubungan saling percaya
biologis,
keperawatan . b. Gunakan pendekatan yang menenangkan klien
kurang
jam klien mampu c. Jelaskan emua prosedur dan apa yang
pengetahuan mengontrol cemas
dirasakan selama prosedur

18

tentang
Dengan KH :
penyakit dan a. Klien
perawatannya
mengatakan
cemas
berkurang
b. Monitor
intensitas
kecemasan
c. Pasien rileks
dan tengang
serta
bisa
istirahat dan
tidur

d. Temani pasien dan libatkan keluarga untuk


memberikan keamanan dan rasa takut
e. Berikan informasi tentang penyakit dan
perawatannya pada keluarga / klien
f. Dengarkan keluhan klien
g. Identifikasi tingkat kecemasan klien
h. Bantu
Klien
mengenal
situasi
yang
menimbulkan kecemasan
i. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
j. Ajarkan dan anjurkan klien untuk relaksasi
k. Kolaborasi pemberian obat ubtuk mengurangi
kecemasan

19

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Adenoma pituitary adalah pertumbuhan abnormal yang berkembang di
kelenjar hipofisis di otak, hampir selalu noncancerous (jinak).
Sebagian besar tumor hipofisis (adenomas) tidak menyebar di luar tengkorak
(nonmetastatic) dan biasanya masih terbatas pada kelenjar pituitari atau di
dekatnya jaringan otak. Namun dapat berkembang menjadi karsinoma jika
tidak ditangani. Pituitary tumor cukup umum dan sering didiagnosis melalui
scan MRI yang dilakukan untuk alasan lain.
Tanda gejala nya bermacam-macam tergantung bagian kelenjar yang terkena
serangan tumor tersebut.
Diagnosa yang dapat muncul adalah nyeri akut, perfusi jaringan serebral tidak
efektif, resiko infeksi, dll

4.2 Saran
Sebagai tenaga kesehatan, perawat tidak hanya mengetahui apa itu
adenoma hipofosis namun di harapkan dapat memahaminya penyakit ini agar
dapat melakukan asuhan keperawatan yang sesuai

20

DAFTAR PUSTAKA
Sjamsuhidajat, R dan De Jong, W., 2004. Buku-Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta:
EGC.
Smeltzer, S. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner Suddarth.
Volume 2 Edisi 8. Jakarta: EGC.
Alief. M, dkk, (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: FKUI.
Brunner & Suddarth, (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Alih bahasa
Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta: EGC.
Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan intervensi
NIC dan Kriteria Hasil NOC. Jakarta: EGC.
http://search.proquest.com/docview/1518121146/E53607760FAA4F27PQ/1?
accountid=50268 diakses pada 11 Mei 2016
http://search.proquest.com/docview/199046422/fulltext/57AF96F5B53C4F1APQ/
1?accountid=50268 diakses pada 11 Mei 2016

21